Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

PEMERIKSAAN FISIK TANDA TANDA VITAL

OLEH :

NURMAYA FEBRIANTI
NIM: 032001D13032

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


DINAS KESEHATAN
AKADEMI PERAWAT KESEHATAN
SAKRA
2016

BAB 1
PEMBAHASAN
A. Tanda Tanda Vital
Tanda tanda vital merupakan cara yang cepat dan efisien dalam memantau kondisi
klien atau mengidentifikasi masalah dan mengevaluasi respons terhadap intervensi yang
diberikan. Penggunaan tanda tanda vital memberikan data dasar untuk mengetahui
respons terhadap stress fisiologi/psikologi, respons terapi medis dan keperawatan. Hal ini
sangatlah penting sehingga disebut tanda tanda vital.
Waktu untuk mengukur tanda tanda vital:
Saat klien pertama kali masuk ke fasilitas
Saat memeriksa klien pada kunjungan rumah
Di rumah sakit/fasilitas kesehatan dengan jadwal rutin sesuai program
Sebelum dan sesudah prosedur bedah atau diagnostic invasif
Sebelum, saat, dan setelah transfuse darah
Saat keadaan umum klien berubah
Sebelum, saat, dan sesudah pemberian obat.
Sebelum dan sesudah intervensi keperawatan yang mempengaruhi tanda tanda vital
Saat klien mendapat gejala fisik yang non spesifik
Menggigil adalah respon tubuh terhadap perbedaan suhu dalam tubuh.
1. Jenis Jenis Tanda Tanda Vital
A. TEKANAN DARAH
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri.
Darah mengalir karena adanya perubahan tekanan, dimana terjadi perpindahan
dari area bertekanan tinggi ke area bertekanan rendah. Tekanan puncak terjadi
saat ventrikel berkonstraksi dan disebut tekanan sistolik. Tekanan darah
sistemik atau arterial merupakan indicator yang paling baik untuk kesehatan
kardiovaskuler. Tekanan diastolic adalah tekanan terendah yang terjadi saat
jantung beristirahat. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio
tekanan sistolik terhadap tekanan diastolic, dengan nilai dewasa normalnya
berkisar dari 100/60 140/90. Rata rata tekanan darah normal biasanya
120/80.
Untuk mengukur tekanan darah maka perlu dilakukan pengukuran darah
secara rutin.
a. Pemeriksaan tekanan darah
Alat yang digunakan
1. Tensi meter
2. Stetoskop
3. Buku catatan

Pelaksanaan
1. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan
2. Mendekatkan alat kesamping klien
3. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
4. Mengatur posisi klien
5. Membuka pakaian yang menutupi lengan atas
6. Membalutkan kantong tensi meter pada lengan atas kira kira 3
cm di atas fosa cubiti, dengan tinta karet di sebelah luar lengan,
balutkan tapi jangan terlalu kencang.
7. Memakai stetoskop
8. Meraba detik arteri brakialis dengan ujung tengah dan jari telunjuk.
Pastikan tidak diperkenankan menggenggamkan tangan atau
menempelkan tangannya.
9. Meletakkan piringan stetoskop diatas arteri brakialis.
10. Mengunci skrup balon karet
11. Memompakan udara kedalam kantong dengan cara memijat balon
berulang ulang, air raksa didalam pipa naik, dipompa terus
sampai denyut arteri tidak terdengar lagi
12. Membuka sekrup balon dengan menurunkan tekanan dengan
perlahan lahan
13. Mendengar denyut dengan teliti dan memperhatikan sampai angka
berapa pada skala mulai terdengar denyut pertama dan mencatat
sebagai tekanan sistole.
14. Meneruskan membuka skrup tadi perlahan lahan sampai suara
nadi terdengar lambat dan menghilang, dicatat sebagai tekanan
diastole.
15. Membuka kantong karet, digulung dengan rapi.
16. Mengunci tensi meter ke arah
17. Merapikan pasien
18. Membereskan alat
19. Mencuci tangan
20. Mendokumentasikan
b. Batasan normal tekanan darah
Umur
1 bulan
6 bulan
1 tahun
2 tahun
4 tahun
6 tahun
8 tahun
10 tahun
12 tahun
14 tahun

Tekanan sistolik/diatolik (mmHg)


86/54
90/60
96/65
99/65
99/65
100/60
105/60
110/60
115/60
118/60

16 tahun

120/65

B. NADI
Nadi adalah gerakan atau aliran darah pada pembuluh darah arteri yang
dihasilkan oleh kontraksi dari ventrikel kiri jantung. Denyut nadi adalah
rangsangan kontraksi jantung yang dimulai dari NODES SINOURI atau
NODUS SINOS ATRIAL yang merupakan bagian atas serambi kanan jantung.
Salah satu indikator kesehatan jantung adalah terjadinya peningkatan denyut
nadi pada saat beristirahat. Pemeriksaan nadi sangat penting dilakukan agar
petugas kesehatan yang melakukan pemeriksaan nadi dapat mengetahui keadaan
nadi (frekuensi irama dan kuat lemah nadi ). Mengukur denyut nadi yang terasa
pada pembuluh darah arteri yang disebabkan oleh gelombang darah yang
mengalir di dalamnya sewaktu jantung memompa darah ke dalam aorta atau
arteri.
Tujuan pemeriksaan nadi adalah :
1. Untuk mengetahui kerja jantung
2. Untuk menegetahui jumlah denyut jantung yang terasa pada pembuluh
darah.
3. Untuk menentukan denyut nadi normal atau tidak.
Kecepatan denyut jantung bereaksi terdapat rangsangan yang
ditimbulkan oleh system saraf simpatis dan saraf parasimpatis, beberapa hal
yang mempengaruhi jumlah denyut: emosi, nyeri, aktivitas, dan obat-obatan.
Kecepatan denyut nadi bertambah bila tekanan darah turun karena jantung
berusaha meningkatkan keluarnya darah.
a) Masalah Yang Harus Dikaji Pada Pemeriksaan Nadi
Kecepatan Nadi (Pulse Rate)
Pulse Rate (jumlah denyutan perifer yang dirasakan selama 1 menit)
dihitung dengan menekan arteri perifer dengan menggunakan ujung jari

Tachycardia

oksigenasi sel tidak adequat


Palpitasi
: perasaan berdebar-debar, sering menyertai tachycardi
Bradycardia : denyut nadi < 60 x/mnt kejadian lebih sedikit

: nadi >100 -150 x/mnt jantung overwork

dibandingkan tachycardia
b) batasan normal nadi
Usia

Denyut nadi (x/permenit)

Balita
Anak
Pra sekolah
Sekolah
Remaja
Dewasa

120-160
90 140
80 110
75 100
60 90
60-100

C. PERNAFASAN
Pernafasan atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar
yang mengandung O2 (oksigen) ke dalam tubuh, serta menghembuskan udara
yang banyak mengandung CO2 (karbon dioksida) sebagai sisa dari oksidasi
keluar tubuh. Penghisapan ini disebut inspirasi dan menghembuskan disebut
ekspirasi. Secara normal orang dewasa bernafas kira kira 16 20 x/menit,
sementara bayi dan anak kecil lebih cepat daripada orang dewasa. Naiknya
kecepatan bernafas disebut polypnea. Pemeriksaan pernafasan merupakan
pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai proses pengambilan oksigen dan
pengeluaran karbon dioksida. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai
frekuensi, irama, kedalaman dan tipe atau pola pernafasan.
1. Masalah yang harus dikaji pada pernafasan
a) Ritme pernafasan

Eupnea : irama normal

Kusmaul : cepat dan dalam

Hiperventilasi : pernafasan dalam, kecepatan normal

BiotS : Cepat dan dalam, berhenti tiba2, kedalaman sama


(kerusakan saraf)

Cheyne stoke : bertahap dangkal lebih cepat dan dalam lambat


apnea (kerusakan saraf)

2. Suara Tambahan
a) Ronchi (ronchi kering)
Suara yang tidak terputus, akibat adanya getaran dalam lumen saluran
pernafasan karena penyempitan : ada sekret kental/lengket
b) Rales (ronchi basah)
Suara yang terputus, akibat aliran udara melewati cairan dan terdengar
pada saat inspirasi
c) Wheezes wheezing

Suara terdengar akibat obstruksi jalan napas, terjadi penyempitan


sehingga ekspirasi dan inspirasi terganggu, sangat jelas terdengar saat
ekspirasi.
3. Batasan Normal Pernafasan
Usia
Balita
Anak
Pra sekolah
Sekolah
Remaja
Dewasa

Frekuensi (x/menit)
30 60
30 50
25 32
20 30
16 19
12 20

D. SUHU
Pemeriksaan suhu merupakan salah satu pemeriksaan yang digunakan
untuk menilai kondisi metabolisme dalam tubuh , dimana tubuh menghasilkan
panas secara kimiawi melalui metabolisme darah. Suhu tubuh perlu dijaga
keseimbangannya, yaitu antara jumlah panas yang hilang dengan jumlah panas
yang diproduksi. Proses pengaturan suhu terletak pada hypothalamus dalam
sistem saraf pusat. Bagian depan hypothalamus dapat mengatur pembuangan
panas dan bagian hypothalamus belakang mengatur upaya penyimpanan panas.
Perubahan suhu tubuh diluar kisaran normal akan mempengaruhi titik
pengaturan hypothalamus. Perubahan ini berhubungan dengan produksi panas
berlebihan, kehilangan panas minimal, atau kombinasi hal di atas. Sifat
perubahan akan mempengaruhi jenis masalah klinis yang dialami klien
1. Masalah yang harus dikaji pada pemeriksaan suhu
a) Demam
Demam merupakan mekanisme pertahanan yang penting.
Peningkatan ringan suhu sampai 39C meningkatkan sistem imun tubuh.
Demam juga meruapakan bentuk pertarungan akibat infeksi karena virus
menstimulasi interferon (substansi yang bersifat melawan virus).
b) Hipertermia
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan
ketidakmampuan tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas atau
menurunkan produksi panas.
c) Hipotermia
Hipotermia diklasifikasikan melalui pengukuran suhu inti:

Ringan: 33-36.

Sedang: 30-33.

Berat: 27-30.

Sangat berat: <30.

d) Kelelahan Akibat Panas


Kelelahan akibat panas terjadi akibat kehilangan cairan dan
elektrolit secara berlebihan. Disebabkan oleh lingkungan yang terlalu
panas. Tanda dan gejala kurang volume cairan adalah hal yang umum
selama kelelahan akibat panas.
e) Heat Stroke
Lingkungan dengan suhu tinggi dapat memengaruhi mekanisme
pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heat stroke. Penderita heat stroke
tidak berkeringat karena kehilangan elektrolit sangat berat dan malfungsi
hipotalamus. Heat stroke dengan suhu yang lebih besar dari 40,5C
mengakibatkan kerusakan jaringan pada sel dari semua organ tubuh.
2.. Batasan normal pemeriksaan suhu
Usia
3 bulan
1 tahun
3 tahun
5 tahun
7 tahun
9 tahun
13 tahun

Suhu (Derajat
Celcius)
37,5
37,7
37,2
37,0
36,8
36,7
36,6

BAB 2
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah memahami tentang tanda-tanda vital. Dan kesimpulannya adalah
kesehatan pada tubuh kita itu sangat penting. Terutama bagi tanda-tanda vital seperti
denyut nadi, tekanan darah, pernapasan, suhu badan, dan berat badan. Bagaimana
prosedur pelaksanaan yang berperan penting kepada masyarakat atau pun pasien dan
bertujuan untuk menambah pengetahuan. Seperti pada tekanan darah, seiring dengan
bertambahnya umur seseorang maka tekanan darah akan meningkat. Dan emosi ataupun
rasa nyeri yang di alami oleh seseorang itu juga berpengaruh terhadap meningkatnya
tekanan darah.
Dengan demikian Suhu tubuh dapat menunjukkan keadaan metabolisme dalam
tubuh, denyut nadi dapat menunjukkan perubahan pada sistem kardiovaskular, frekuensi
pernapasan dapat menunjukkan fungsi pernapasan, dan tekanan darah dapat menilai
kemampuansistem kardiovaskuler, yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi.

DAFTAR PUSTAKA
Alimul H. A. Aziz. 2009. Kebutuhan Dasar Manusia Jilid 1. Jakarta: Salemba Medika.
.2009. Kebutuhan Dasar Manusia Jilid 2. Jakarta: Salemba Medika.
Yuni Kusmiati. 2010. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Keperawatan. Yogyakarta:
Fitramaya .
Depkes RI.1994. Prosedur Perawatan Dasar. Jakarta.
http://www.deherba.com Keterampilan Dasar Praktik Klinik
Keperawatan./.html#ixzz2N9JXTth