Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOLOGI

Pemeriksaan Spesifisitas Antisera

Oleh : Rizka Alfitri (1001085) Kelompok : II B(ganjil)

Tanggal praktikum : 11 November 2013 Dosen: Dra. Sylvia Hasti, M.farm.,Apt Asisten : Thariani Cania Ulvatuhrohmah

Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Farmasi Riau 2013

PEMERIKSAAN SPESIFISITAS ANTISERA


1. Tujuan Percobaan Untuk mengetahui cara pemeriksaan spesifisitas antisera

2. Tinjauan Pustaka Antiserum adalah produk yang berasal dari darah yang dapat digunakan untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh seseorang yang telah terkena patogen atau toksin sehingga sistem kekebalan tubuh dapat menghilangkannya. Antisera digunakan bila pengobatan lain tidak tersedia, atau sebagai salah satu garis pertahanan dalam rencana pengobatan, tergantung pada spesifikasi situasi. Banyak perusahaan memproduksi antiserum untuk penggunaan medis dan penelitian, dan aplikasi yang paling umum dari antiserum adalah sebagai produk antivenin digunakan untuk mengobati paparan ular berbisa dan binatang beracun lainnya.

Antiserum terdiri dari serum darah, bentuk dimurnikan plasma darah yang sarat dengan antibodi poliklonal yang dihasilkan oleh organisme inang. Antibodi poliklonal klon sel induk yang menghasilkan antibodi terhadap satu atau lebih antigen. Ketika antibodi memasuki tubuh pasien, mereka menempel pada antigen mereka mengenali dan sistem kekebalan tubuh melihat mereka sehingga bisa menyerang. Pada dasarnya, tindakan antiserum seperti bendera, menempel ke antigen dan penandaan mereka sehingga mereka dapat dilihat oleh sistem kekebalan tubuh. Beberapa racun dan patogen mengandalkan menyerang sementara sistem kekebalan tubuh yang tersisa aktif. Mereka relatif lemah, dan ketika sistem kekebalan

tubuh terbangun dengan infus antiserum, dapat menghilangkan penyerbu yang bermusuhan. Sumber Antiserum bervariasi, tergantung pada jenis patogen atau toksin seseorang yang telah terkena. Salah satu sumber adalah manusia yang berhasil bertahan hidup dari terinfeksi atau serangan berbisa. Misalnya, dengan Ebola, penyakit yang berbahaya yang menolak semua bentuk lain dari perawatan, antiserum yang dimurnikan dari darah dari beberapa korban beruntung telah digunakan untuk berhasil mengobati orang-orang yang telah terkena penyakit. Antibodi yang berasal dari korban manusia kadang-kadang digunakan pada tahap awal epidemi, sementara peneliti masih mengidentifikasi penyakit dan mengembangkan pendekatan untuk pengobatan. Secara komersial, antiserum dapat dihasilkan dari hewan yang membawa infeksi, tetapi tidak sakit, atau dari hewan yang terkena jumlah kecil dari patogen dari waktu ke waktu. Eksposur tersebut memberikan sistem kekebalan tubuh dari waktu hewan untuk merespon dan mengembangkan antibodi, dan darah dapat diambil dan diproses untuk mengembangkan antiserum. Antisera dapat berlangsung singkat, dan mungkin cukup mahal karena jumlah pekerjaan yang terlibat dalam produksi, sehingga mereka biasanya disimpan ditebar di pusat medis utama saja, dengan rumah sakit dan klinik membuat permintaan ketika mereka membutuhkan antiserum spesifik yang lebih kecil. Senyawa atau zat-zat kimia yang larut dalam cairan darah antara lain sebagai berikut: 1. Sari makanan dan mineral yang terlarut dalam darah, misalnya monosakarida, asam lemak, gliserin, kolesterol, asam amino dan garam-garam mineral. 2. Enzim, hormon dan antibodi sebagai zat-zat hasil produksi sel-sel 3. Protein yang terlarut dalam darah, molekul-malekul ini berukuran cukup besar sehingga tidak dapat menembus dinding kapiler. Contoh: a. Albumin, berguna untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik darah b. Globulin, berperan dalam pembentukan globulin, merupakan komponen pembentuk zat antibodi. c. Fibrinogen, berperan penting dalam pembekuan darah. 4. Urea dan asam urat, sebagai zat-zat sisa hasil metabolisme 5. CO2,O2 dan N2 sebagai gas-gas utama yang terlarut dalam plasma.

Bagian plasma darah yang mempunyai fungsi penting adalah serum. Serum merupakan plasma darah yang dikeluarkan atau dipisahkan fibrinogennya dengan cara memutar darah dalam sentrifuge. Serum tampak sangat jernih dan mengandung zat antibodi. Antibodi ini berfungsi untuk membinasakan protein asing yang masuk ke dalam tubuh. Protein asing yang masuk ke dalam tubuh disebut antigen. 3. Bahan dan Alat a. Bahan yang dipakai o Eritrosit murni gol A, B, AB, O o Larutan NaCL fisiologis o Plasma murni gol A,B,AB dan O b. Alat yang digunakan Pipet tetes Objek glass Tabung reaksi Tusuk gigi Kaca pembesar

4. Cara Kerja A. Pembuatan eritrosit 5 % Masukkan kedalam tabung reaksi larutan NaCL sebanyak 19 tetes. Dengan menggunakan pipet tetes yang sama, masukkan kedalam tabung reaksi diatas 1 tetes eritrosit golongan B. Aduk hingga homogen dengan cara memutar-mutar menggunakan kedua telapak tangan sehingga diperoleh larutan 5 %. Tandai larutan tersebut. B. Uji spesifitas antisera a. Teteskan diatas 4 buah objek glass bersih larutan antisera (plasma golongan B yang telah dimurnikan) masing-masing sebanyak 1 tetes. b. Pada objek glass pertama ditambahkan 1 tetes eritrosit 5% golongan A, lalu amati reaksi yang terjadi c. Pada objek glass kedua ditambahkan 1 tetes 5% golongan eritrosit B, lalu amati reaksi yang terjadi

d. Pada objek glass ketiga tambahkan 1 tetes eritrosit 5 % golongan AB , lalu amati reaksi yang terjadi. e. Dan pada objek glass keempat ditambahkan 1 tetes eritrosit 5% golongan O, lalu amati reaksi yang terjadi. f. Pengerjaan yang sama juga dilakukan terhadap plasma golongan A, B, AB. Dan O g. Tabelkan hasil reaksi yang terjadi, Bila terjadi aglutinasi ditnnyatakan dengan tanda (+) dan bila reaksi negatif dinyatakan dengan tanda negatif (-).

5. Hasil dan Pembahasan a. Hasil Pembuatan eritrosit 5 %

Eritrosit B 5% Uji spesifitas antisera

Plasma A1 Eritrosit 5% A Eritrosit 5% B Eritrosit 5% AB Eritrosit 5% O -

Plasma A5 + + -

Plasma AB2 + + + -

Plasma AB3 + + + -

Plasma O -

Plasma B b. Pembahasan

plasma AB

Pembuatan suspensi sel darah bertujuan untuk membuat kepekatan sel darah menjadi enceran tertentu guna mengoptimalkan reaksi antigen pada sel darah merah terhadap antibodi. Pada percobaan ini plasma AB2 tidak menunjukkan penggumpalan ketika diberikan eritrosit O dan menggumpal ketika diberikan ertrosit A,B,dan AB.

Golongan darah AB yang tidak memiliki aglutinin A dan aglutinin B, dapat bersifat recipient universal, dimana golongan ini hanya mampu menerima darah yang ditransfusikan dari berbagai golongan darah termasuk golongan darah AB itu sendiri. Karena golongan ini mempunyai dua macam aglutinogen (A&B), maka ketika darah dari golongan lain (A,B, dan O) ditransfusikan ke golongan ini, pada saat itu golongan AB akan mempertemukan satu macam aglutinogen (misalnya B) yang terdapat di dalam sel darah merah tertentu dengan aglutinogen yang bersangkutan (B) yang terdapat di dalam sel darah merah dari golongan di luar AB (A, B, dan O). ini berarti bila aglutinin tidak terdapat di dalam plasma darah, maka aglutinogen yang bersangkutan harus ada di dalam sel darah merah. Golongan darah AB hanya dapat mentransfusikan darah ke sesama golongannya. Sebalumnya terjadi kesalahan ketika digunakan plasma golongan B. Dimana tidak terdapat penggumpalan atau aglutinasi ketika dicampurkan dengan eritrosit 5% A,B,AB dan O. Kesalahan ini bisa dikeranakan banyak factor, seperti: penggunaan reagen inaktif yang terkontaminasi, sampel sentrifugasi yang tidak lengkap, inkubasi yang kurang baik, atau masalah pada darah pasien.

6. Kesimpulan
Pemeriksaan spesifisitas antisera dilakukan dengan mereaksikan antisera (serum) dengan sel darah merah. Hasil yang di dapat dari percobaan pemeriksaan spesifisitas antisera ini plasma AB tidak memberi gumpalan setelah diberi eritrosit O.

DAFTAR PUSTAKA
Nanny, K H. et all.1990. Isolasi imunogamaglobulin anti-T4 dari antisera. Seminar Pendayagunaan Reaktor Nuklir untuk Kesejahteraan Masyarakat, PPTN- BATAN. Bandung. Sinnott, E.W. 1958. Principles Of Genetics. 5th edition. McGraw-Hill Book Company Inc. New York. Suryo. 1996. Genetika. Departemen P dan K Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta. Yovita Lisawati. 1993. Pembuatan dan Evaluasi Antisera Penentuan Golongan Darah ABO. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, Padang