Anda di halaman 1dari 29

Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 1

BAB I
PENDAHULUAN
Laringitis adalah peradangan yang terjadi pada pita suara karena terlalu banyak
digunakan, karena iritasi atau karena adanya infeksi.
Pita suara adalah suatu susunan yang terdiri dari tulang rawan, otot dan membran mukosa
yang membentuk pintu masuk dari batang tenggorok (trachea). Di dalam kotak suara terdapat
pita suara dua buah membran mukosa yang terlipat dua membungkus otot dan tulang rawan.
Biasanya pita suara akan membuka dan menutup dengan lancar, membentuk suara
melalui pergerakan dan getaran yang terbentuk. Tapi bila terjadi laringitis, pita suara akan
meradang atau terjadi iritasi pada pita suara. Pita suara tersebut akan membengkak,
menyebabkan terjadinya perubahan suara yang diproduksi oleh udara yang lewat melalui celah
diantara keduanya. Akibatnya, suara akan terdengar serak. Pada beberapa kasus laringitis, suara
akan menjadi sangat lemah sehingga tidak terdengar.
Laringitis dapat berlangsung dalam waktu singkat (akut) atau berlansung lama (kronis).
Meskipun laringitis akut biasanya hanya karena terjadinya iritasi dan peradangan akibat virus,
suara serak yang sering terjadi dapat menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius.
Laringitis akut biasanya biasanya sembuh sendiri dan diobati dengan terapi konservatif,
morbiditas dan mortalitas tidak dapat diperhitungkan. Pasien dengan laringitis akut yang berasal
dari etiologi infeksi dari pada yang disebabkan oleh trauma vocal pada akhirnya dapat melukai
plika vokalis. Ketidaksempurnaan produksi suara pada pasien dengan laringitis akut dapat
diakibatkan oleh penggunaan kekuatan aduksi yang besar atau tekanan untuk mengimbangi
penutupan yang tidak sempurna dari glottis selama episode laringitis akut. Tekanan ini
selanjutnya menegangkan lipatan-lipatan (plika) vocal dan mengurangi produksi suara. Pada
akhirnya menunda kembalinya fonasi normal.
Laringitis akut memiliki onset yang cepat dan biasanya sembuh sendiri. Jika pasien
memiliki gejala laringitis lebih dari 3 minggu, keadaan ini diklasifikasikan sebagai laringitis
kronik. Etiologi larigitis akut dapat berupa penyalahgunaan suara, pemaparan dengan agen yang
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 2

berbahaya atau agen infeksius lainnya yang menyebabkan infeksi traktus respirasi bagian atas.
Agen infeksius paling banyak adalah virus, akan tetapi kadang-kadang bakteri.
Biasanya laringitis akut dapat sembuh spontan dalam beberapa hari. Serak dapat menetap
bila sekresi normal belum pulih. Pemeriksaan tindak lanjut menunjukkan laring yang normal,
akan tetapi hampir tanpa suara. Rujukan kepada ahli patologi suara akan dapat mengatasi
keadaan tersebut.


BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI LARING


Anatomi Laring
Laring merupakan bagian terbawah dari saluran napas bagian atas. Bentuknya
menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar dari bagian bawah. Batas
atas laring adalah aditus laring, sedangkan batas bawahnya ialah bidang yang melalui pinggir
bawah kartilago krikoid. Batas depannya ialah permukaan belakang epiglotis, tuberkulum
epiglotik, ligamentum tiroepiglotik, sudut antara kedua belah lamina kartilago tiroid dan arkus
kartilago krikoid. Batas lateralnya ialah membran kuadrangularis, kartilago aritenoid, konus
elastikus dan arkus kartilago krikoid, sedangkan batas belakang ialah m.aritenoid transversus dan
lamina kartilago krikoid.

Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 3


Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare,
maka terbentuklah plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikukaris (pita suara palsu).
Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan, disebut rima glotis, sedangkan diantara kedua plika
ventrikularis, disebut rima vestibuli. Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi rongga laring
dalam 3 bagian, yaitu vestibulum laring, glotik dan subglotik. Vestibulum laring ialah rongga
laring yang terdapat diatas plika ventrikularis. Daerah ini disebut supraglotik. Antara plika
vokalis dan plika ventrikularis, pada tiap sisinya disebut ventrikulus laring Morgagni.
Rima glotis terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian interkartilago.
Bagian intermembran ialah ruang antara kedua plika vokalis, dan terletak di bagian anterior,
sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago aritenoid, dan terletak di
bagian posterior.
Daerah subglotik adalah rongga laring yang terletak di bawah plika vokalis. Ligamentum
yang membentuk susunan laring adalah ligamentum seratokrikoid (anterior, lateral dan
posterior), ligamentum krikotiroid medial, ligamentum krikotiroid posterior, ligamentum
kornikulofaringeal, ligamentum hiotiroid medial, ligamentum hiotiroid lateral, ligamentum
hioepiglotika, ligamentum ventrikularis, ligamentum vokale yang menghubungkan kartilago
aritenoid dengan kartilago tiroid, dan ligamentum tiroepiglotika.
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 4

Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hioid, dan beberapa
tulang rawan. Tulang hioid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya dihubungkan
dengan lidah, mandibula dan tenggorok oleh tendo dan otot-otot. Sewaktu menelan, kontraksi
otot-otot ini akan menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-
otot ini bekerja untuk membuka mulut dan membantu menggerakkan lidah. Tulang rawan yang
menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago aritenoid,
kartilago komikulata, kartilago kuneiformis dan kartilago tritisea. Kartilago krikoid dihubungkan
dengan kartilago tiroid oleh ligamentum krikotiroid. Bentuk kartilago krikoid berupa lingkaran.
Terdapat 2 buah (sepasang) kartilago aritenoid yang terletak dekat permukaan belakang laring,
dan membentuk sendi dengan kartilago krikoid, disebut artikulasi krikoaritenoid. Sepasang
kartilago kornikulata melekat pada kartilago aritenoid di daerah apeks, sedangkan sepasang
kartilago kuneiformis terdapat di dalam lipatan ariepiglotik, dan kartilago tritisea di dalam
ligamentum hiotiroid lateral. Pada laring terdapat 2 buah sendi yaitu, artikulasi krikotiroid dan
artikulasi krikoaritenoid. Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan
otot-ototinstrinsik. Otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan,
sedangkan otot-otot instrinsik menyebabkan gerak bagian-bagian laring tertentu yang
berhubungan dengan gerakan pita suara. Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas
tulang hioid (suprahioid), seperti m.digastrikus, m.geniohioid, m.stilohioid dan m.milohioid.
Sedangkan otot-otot ekstrinsik laring yang terletak di bawah tulang hioid (infrahioid) ialah
m.sternohioid, m.omohoid dan m.tirohioid. Otot-otot ekstrinsik suprahioid berfungsi untuk
menarik laring ke bawah, sedangkan otot-otot ekstrinsik infrahioid menarik laring ke atas. Otot-
otot instrinsik yang terletak di bagian lateral laring ialah m.krikoaritenoidlateral,
m.tiroepiglotika, m.vokalis, m.tiroaritenoid, m.ariepiglotika dan m.krikotiroid. Sedangkan otot-
otot instrinsik yang terletak di bagian posterior laring adalah m.aritenoid transversum,
m.aritenoid oblik, m.krikoaritenoid posterior.
Sebagian besar otot-otot instrinsik adalah otot-otot aduktor (kontraksinya akan
mendekatkan kedua pita suara ke tengah) kecuali m.krikoaritenoid posterior yang merupakan
otot abduktor (kontraksinya akan menjauhkan kedua pita suara ke lateral).
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 5




Gambar Pita suara

a. Anatomi Laring Bagian Dalam
Cavum laring dapat dibagi menjadi sebagai berikut :
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 6

1. Supraglotis (vestibulum superior),
yaitu ruangan diantara permukaan atas pita suara palsu dan inlet laring.
2. Glotis (pars media),
yaitu ruangan yang terletak antara pita suara palsu dengan pita suara sejati serta
membentuk rongga yang disebut ventrikel laring Morgagni.
3. Infraglotis (pars inferior),
yaitu ruangan diantara pita suara sejati dengan tepi bawah kartilago krikoidea. Beberapa
bagian penting dari dalam laring :
Aditus Laringeus
Pintu masuk ke dalam laring yang dibentuk di anterior oleh epiglotis, lateral oleh
plika ariepiglotika, posterior oleh ujung kartilago kornikulata dan tepi atas m.
aritenoideus.
Rima Vestibuli.
Merupakan celah antara pita suara palsu.
Rima glottis
Di depan merupakan celah antara pita suara sejati, di belakang antara prosesus
vokalis dan basis kartilago aritenoidea.
Vallecula
Terdapat diantara permukaan anterior epiglotis dengan basis lidah, dibentuk oleh
plika glossoepiglotika medial dan lateral.
Plika Ariepiglotika
Dibentuk oleh tepi atas ligamentum kuadringulare yang berjalan dari kartilago
epiglotika ke kartilago aritenoidea dan kartilago kornikulata.
Sinus Pyriformis (Hipofaring)
Terletak antara plika ariepiglotika dan permukaan dalam kartilago tiroidea.
Incisura Interaritenoidea
Suatu lekukan atau takik diantara tuberkulum kornikulatum kanan dan kiri.
Vestibulum Laring
Ruangan yang dibatasi oleh epiglotis, membrana kuadringularis, kartilago aritenoid,
permukaan atas proc. vokalis kartilago aritenoidea dan m.interaritenoidea.
Plika Ventrikularis (pita suara palsu)
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 7

Yaitu pita suara palsu yang bergerak bersama-sama dengan kartilago aritenoidea
untuk menutup glottis dalam keadaan terpaksa, merupakan dua lipatan tebal dari
selaput lendir dengan jaringan ikat tipis di tengahnya.
Ventrikel Laring Morgagni (sinus laringeus)
Yaitu ruangan antara pita suara palsu dan sejati. Dekat ujung anterior dari ventrikel
terdapat suatu divertikulum yang meluas ke atas diantara pita suara palsu dan
permukaan dalam kartilago tiroidea, dilapisi epitel berlapis semu bersilia dengan
beberapa kelenjar seromukosa yang fungsinya untuk melicinkan pita suara sejati,
disebut appendiks atau sakulus ventrikel laring.
Plika Vokalis (pita suara sejati)
Terdapat di bagian bawah laring. Tiga per lima bagian dibentuk oleh ligamentum
vokalis dan celahnya disebut intermembranous portion, dan dua per lima belakang
dibentuk oleh prosesus vokalis dari kartilago aritenoidea dan disebut
intercartilagenous portion.

Perdarahan Laring
Pendarahan umtuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a.laringis superior dan
a.laringis inferior. Arteri laringis superior merupakan cabang dari a.tiroid superior. Arteri
laringis superior berjalan agak mendatar melewati bagian belakang membran tirohioid
bersama-sama dengan cabang internus dari n.laringis superior kemudian menembus
membran ini untuk berjalan ke bawah di submukosa dari dinding lateral dan lantai dari
sinus piriformis, untuk memperdarahi mukosa dan otot-otot laring. Arteri laringis inferior
merupakan cabang dari a.tiroid inferior dan bersama-sama dengan n.laringis inferior
berjalan ke belakang sendi krikotiroid, masuk laring melalui daerah pinggir bawah dari
m.konstriktor dari faring inferior. Di dalam laring arteri itu bercabang-cabang,
memperdarahi mukosa dan otot serta beranastomosis dengan a.laringis superior. Pada
daerah setinggi membran krikotiroid, a.tiroid superior juga memberikan cabang yang
berjalan mendatari sepanjang membran itu sampai mendekati tiroid. Kadang-kadang
arteri ini mengirimkan cabang yang kecil melalui membran krikoiroid untuk mengadakan
anastomosis dengan a.laringis superior. Vena laringis superior dan vena laringis inferior
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 8

letaknya sejajar dengan a.laringis superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan
vena tiroid superior dan inferior.

Pembuluh Limfa
Pembuluh limfa untuk laring banyak, kecuali daerah lipatan vokal. Disini mukosanya
tipis dan melekat erat dengan ligamentum vokale. Di daerah lipatan vocal pembuluh
limfa dibagi dalam golongan superior dan inferior. Pembuluh eferen dari golongan
superior berjalan lewat lantai sinus piriformis dan a.laringis superior, kemudian ke atas
dan bergabung dengan kelenjar dari bagian superior rantai servikal dalam. Pembuluh
eferen dari golongan inferior berjalan kebawah dengan a.laringis inferior dan bergabung
dengan kelenjar servikal dalam, dan beberapa diantaranya menjalar sampai sejauh
kelenjar supraklavikular.



Persarafan Laring
Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n.laringis superior dan
n.laringis inferior. Kedua saraf ini merupakan campuran saraf sensorik dan motorik.
Nervus laringis superior mempersarafi m.krikotiroid, sehingga memberikan sensasi pada
mukosa laring di bawah pita suara. Saraf ini mula-mula terletak di atas m.konstriksor
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 9

faring medial, di sebelah medial a.karotis interna dan eksterna, kemudian menuju ke
kornu mayor tulang hioid, dan setelah menerima hunungan dengan ganglion servikal
superior, membagi diri dalam 2 cabang, yaitu ramus eksternus dan ramus internus.
Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar m.konstriksor faring inferior dan menuju
ke m.krikotiroid, sedangkan ramus internus tertutup oleh m.tirohioid terletak disebelah
medial a.tiroid superior, menembus membran hiotiroid, dan bersama-sama dengan
a.laringis superior menuju ke mukosa laring. Nervus laringis inferior merupakan lanjutan
dari n.rekuren setelah saraf itu memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior.
N.rekuren merupakan cabang dari n.vagus. Nervus rekuren kanan akan akan menyilang
a.subklavia kanan di bawahnya, sedangkan n.rekuren kiri akan menyilang arkus aorta.
Nervus laringis inferior berjalan diantara cabang-cabang a.tiroid inferior, dan melalui
permukaan mediodorsal kelenjar tiroid akan sampai pada permukaan medial
m.krikofaring. Di sebelah posterior dari sendi krikoaritenoid, saraf ini bercabang 2
menjadi ramus anterior dan ramus posterior. Ramus anterior akan mempersarafi otot-otot
instrinsik laring bagian lateral, sedangkan ramus posterior mempersarafi otot-otot
instrinsik laring bagian superior dan mengadakan anastomosis dengan n.laringis superior
ramus internus.



Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 10

Histologi Laring
Mukosa laring dibentuk oleh epitel berlapis silindris semu bersilia kecuali pada daerah
pita suara yang terdiri dari epitel berlapis gepeng tak bertanduk. Diantara sel-sel bersilia
terdapat sel goblet.
Laryngeal Mucosa

Membrana basalis bersifat elastis, makin menebal di daerah pita suara. Pada daerah pita
suara sejati, serabut elastisnya semakin menebal membentuk ligamentum tiroaritenoidea.
Mukosa laring dihubungkan dengan jaringan dibawahnya oleh jaringan ikat longgar
sebagai lapisan submukosa. Kartilago kornikulata, kuneiforme dan epiglotis merupakan
kartilago hialin. Plika vokalis sendiri tidak mengandung kelenjar. Mukosa laring
berwarna merah muda sedangkan pita suara berwarna keputihan.

Fisiologi Laring

Laring berfungsi sebagai proteksi, batuk, sirkulasi, respirasi, menelan, emosi dan fonasi.
Fungsi laring untuk proteksi adalah untuk mencegah agar makanan dan benda asing
masuk kedalam trakea dengan jalan menutup aditus laring dan rima glotis yang secara
bersamaan. Terjadi penutupan aditus laring ialah karena pengangkatan laring keatas
akibat kontraksi otot otot ekstrinsik laring. Dalam hal ini kartilago aritenoid bergerak
kedepan akibat kontraksi m. tiroaritenoid dan m. aritenoid. Selanjutnya m. ariepiglotika
berfungsi sebagai sfingter. Fungsi respirasi laring dengan mengatur besar kecilnya rima
glotis. Selain itu dengan refleks batu, benda asing yang telah masuk kedalam trakea dapat
dibatukkan ke luar. Demikian juga dengan batuk, sekret yang berasal dari paru dapat
dikeluarkan. Dengan terjadinya perubahan tekanan udara maka didalam traktus trakeo-
bronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Oleh karena itu laring juga
mempunyai fungsi sebagai alat pengatur sirkulasi darah. Fungsi laring dalam proses
menelan mempunyai tiga mekanisme yaitu gerakan laring bagian bawah keatas, menutup
aditus laringeus, serta mendorong bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkin
masuk kedalam laring. Laring mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi seperti
berteriak, mengeluh, menangis dan lain-lain yang berkaitan dengan fungsinya untuk
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 11

fonasi dengan membuat suara serta mementukan tinggi rendahnya nada. Tinggi
rendahnya nada diatur oleh ketegangan plika vokalis. Bila plika vokalis dalam aduksi,
maka m. krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid kebawah dan ke depan , menjauhi
kartilago aritenoid. Pada saat yang bersamaan m. krikoaritenoid posterior akan menahan
atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Plika vokalis ini dalam keadaan yang
efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya kontraksi m. krikoaritenoid akan mengendor.
Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan menentukan tinggi rendahnya nada.
























Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 12

BAB III
PEMBAHASAN
KELAINAN LARING
KELAINAN KOGENITAL
Kelianan ini dapat berupa laringomalasi, stenosis subglotik, selaput dilaring, kista
kogenital, hemangioma dan fistel laringotrakeaesofagus.
Pada bayi dengan kelianan kogenital laring dapat menyebabkan gejala tersumbat jalan
napas, suara tangis melemah sampai tidak ada sama sekali, serta kadang-kadang terdapat juga
disfagia.
1. Laringomalasi
Kelianan ini paling sering ditemukan. Pada stadium awal ditemukan epiglottis
lemah, sehingga pada waktu ispirasi epiglottis ditarik kebawah dan menutup rima glottis.
Dengan demikian bila pasien bernapas, napasnya berbunyi (stridor).
Gejalanya :
Gejala awal : stridor ( dapat hilang timbul karena lemahnya kerangka laring).
Tanda sumbatan : Jalan napas terlihat dengan adanya cekungan (retraksi) di
daerah suprasternal, epigastrium, intercostal dan supraklavikular.
Orang tua pasien dinasehatkan lekas datang bila ada pradangan disaluran napas.



Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 13

2. Stenosis Subglotik
Pada daerah subglotik 2-3cm dari pita surara sering terdapat penyempitan (stenosis).
Yang dapat menyebabkan stenosis subglotik adalah ;
1. Penebalan jaringan submukosa dengan hyperplasia kelenjar mucus dan fibrosis.
2. Kelainan bentuk tulang rawan krikoid dengan lumen yang lebih kecil.
3. Bentuk tulang rawan krikoit normal dengan ukuran lebih kecil.
4. Pergeseran cincin trakea pertama kearah atas belakang kedalam lumen krikoid.
Gejalanya adalah :
o Stridor, dyspnea, retraksi di suprasternal, epigastrium, intercostal serta
subclavikula.
o Pada stadium selanjutnya dapat ditemukan: sianosis dan apnea, sebagai akibat
sumbatan jalan napas sehingga dapat terjadi sumbatan jalan napas.
Terapinya tergantung dari pada penyebab kelainannya yaitu stenosis subglotis disebabkan
oleh :
o kelainan submukosa yaitu dengan dilatasi atau dengan laser CO2.
o Kelainan Tulang rawan krikoid dilakukan terapi bedah (rekonstruksi).

Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 14



3. Selaput dilaring (Laringeal web)
Selaput transparan (web) dapat tumbuh didaerah glottis, supraglotik atau
subglotik. Selaput ini terbanyak tumbuh didaerah glottis (75%), subglotik (13%) dan
disupraglotik sebanyak (12%).
Gejalanya : adanya sumbatan laring.
Terapinya dilakukan bedah mikro laring dan membuang selaput itu dengan memakai
laringoskop suspense.



4. Kista Kongenital
Sering tumbuh di pangkal lidah atau plika ventrikularis.
Terapi : Bedah mikro untuk mengangkat kista
5. Hemangioma
Biasanya timbul di daerah subglotik dan leher.
Gejala : Hemoptisis dan sumbatan laring (bila tumor itu besar)
Terapi : Bedah laser, kortikosteroid atau obat-obat skleroting.
6. Fistel Laringotrakea-Esofagal
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 15

Terjadi oleh karena kegagalan penutupan dindingg posterior kartilago kricoid.
Gejala : Aspirasi Pneumonia karena aspirasi cairan dari esofagus, sumbatan laring.

LARINGITIS
A. Definisi
Laringitis adalah suatu radang laring yang disebabkan terutama oleh virus dan
dapat pula disebabkan oleh bakteri.
B. Kalsifikasi Laringitis
Berdasarkan onset dan perjalanannya, laringitis dibedakan menjadi laringitis akut
dan kronis.
1. LARINGITIS AKUT
a. Definisi
Laringitis akut adalah radang akut laring yang disebabkan oleh virus dan bakteri
yang berlangsung kurang dari 3 minggu dan pada umumnya disebabkan oleh
infeksi virus influenza (tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1,2,3), rhinovirus dan
adenovirus .
b. Etiologi
Penyakit ini sering disebabkan oleh virus. Biasanya merupakan perluasan radang
saluran nafas bagian atas oleh karena bakteri Haemophilus Influenzae,
Staphylococcus, streptococcus, atau pneumococcus. Timbulnya penyakit ini
sering dihubungkan dengan perubahan cuaca atau suhu, gizi yang
kurang/malnutrisi, imunisasi yang tidak lengkap dan pemakaian suara yang
berlebihan. Penyakit ini dapat terjadi karena perubahan musim / cuaca
Menurut Rahul K shah etiologi dari laringitis akut adalah :
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 16

1) Infeksi (biasanya infeksi virus dari saluran pernafasa atas)
o Rhinovirus
o Parainfluenza virus
o Respiratory syncytial virus
o Adenovirus
o Influenza virus
o Measles virus
o Mumps virus
o Bordetella pertusis
o Varicella-zozter virus
2) Gastroesophageal reflukx disease
3) Environmental insults (polusi)
4) Vocal trauma
5) Komsumsi alkohol berlebihan
6) Alergi
7) Penggunaan suara yang berlebihan
8) Iritasi bahan kimia atau bahan lainnya
c. Patofisiologi
Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri
mungkin sekunder. Laringitis biasanya disertai rinitis atau nasofaringitis.
Awitan infeksi mungkin berkaitan dengan pemajanan terhadap perubahan
suhu mendadak, defisiensi diet, malnutrisi, dan tidak ada immunitas.
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 17

Laringitis umum terjadi pada musim dingin dan mudah ditularkan. Ini
terjadi seiring dengan menurunnya daya tahan tubuh dari host serta
prevalensi virus yang meningkat. Laringitis ini biasanya di dahului oleh
faringitis dan infeksi saluran nafas bagian atas lainnya. Hal ini akan
mengakibatkan iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang kelenjar
mucus untuk memproduksi mucus secara berlebihan sehingga menyumbat
saluran nafas. Kondisi tersebut akan merangsang terjadinya batuk hebat
yang bisa menyebabkan iritasi pada laring. Dan memacu terjadinya
inflamasi pada laring tersebut. Inflamasi ini akan menyebabkan nyeri
akibat pengeluaran mediator kimia darah yang jika berlebihan akan
merangsang peningkatan suhu tubuh.



Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 18

d. Gejala Klinis
Gejala lokal seperti suara parau dimana digambarkan pasien sebagai suara yang kasar
atau suara yang susah keluar atau suara dengan nada lebih rendah dari suara yang
biasa / normal dimana terjadi gangguan getaran serta ketegangan dalam pendekatan
kedua pita suara kiri dan kanan sehingga menimbulkan suara menjadi parau bahkan
sampai tidak bersuara sama sekali (afoni).
Sesak nafas dan stridor.
Nyeri tenggorokan seperti nyeri ketika menelan atau berbicara.
Gejala radang umum seperti demam, malaise.
Batuk kering yang lama kelamaan disertai dengan dahak kental
Gejala commmon cold seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit menelan,
sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk dan demam dengan
temperatur yang tidak mengalami peningkatan dari 38 derajat celsius.
e. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik akan tampak mukosa laring yang hiperemis, membengkak
terutama dibagian atas dan bawah pita suara dan juga didapatkan tanda radang
akut di hidung atau sinus paranasal atau paru. Pada pemeriksaan laringoskopi
indirek akan ditemukan mukosa laring yang sangat sembab, hiperemis dan tanpa
membran serta tampak pembengkakan subglotis yaitu pembengkakan jaringan
ikat pada konus elastikus yang akan tampak dibawah pita suara.
f. Pemeriksaan Penunjang
o Foto rontgen leher AP : bisa tampak pembengkakan jaringan subglotis
(Steeple sign). Tanda ini ditemukan pada 50% kasus.
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 19


o Pemeriksaan laboratorium : gambaran darah dapat normal. Jika disertai infeksi
sekunder, leukosit dapat meningkat.
g. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
h. Diagnosis Banding
o Benda asing pada laring
o Faringitis
o Bronkiolitis
o Bronkitis
o Pnemonia
i. Penatalaksanaan
Umumnya penderita penyakit ini tidak perlu masuk rumah sakit, namun ada
indikasi masuk rumah sakit apabila :
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 20

Usia penderita dibawah 3 tahun
Tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau axhausted
Diagnosis penderita masih belum jelas
Perawatan dirumah kurang memadai
Terapi:
o Jika pasien sesak dapat diberikan O2 2 l/ menit
o Menghirup udara lembab
o Istirahat berbicara dan bersuara selama 2-3 hari. Menghindari iritasi faring
dan laring, misalnya merokok , makanan pedas, atau minum es.
o Medikamentosa : Parasetamol atau ibuprofen / antipiretik jika pasien ada
demam, bila ada gejala pain killer dapat diberikan obat anti nyeri / analgetik,
hidung tersumbat dapat diberikan dekongestan nasal seperti
fenilpropanolamin (PPA), efedrin, pseudoefedrin, napasolin dapat diberikan
dalam bentuk oral
ataupun spray. Pemberian antibiotika apabila perdangan berasal dari paru .
Antibiotika golongan penisilin anak 50 mg/kg BB dibagi dalam 3 dosi, dewasa 3
x 500 mg perhari.
Menurut Reveiz L, Cardona AF, Ospina EG dari hasil penelitiannya
menjelaskan dari penggunaan penisilin V dan eritromisin pada 100 pasien
didapatkan antibiotik yang lebih baik yaitu eritromisin karena dapat mengurangi
suara serak dalamsatu minggu dan batuk yang sudah dua minggu. Kortikosteroid
diberikan untuk mengatasi edema laring.
Pengisapan lendir dari tenggorok atau laring, bila penatalaksanaan ini tidak
berhasil maka dapat dilakukan endotrakeal atau trakeostomi bila sudah terjadi
obstruksi jalan nafas.

Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 21

j. Prognosis
Prognosis untuk penderita laringitis akut ini umumnya baik dan
pemulihannya selama satu minggu. Namun pada anak khususnya pada usia 1-3
tahun penyakit ini dapat menyebabkan oedem laring dan oedem subglotis
sehingga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas dan bila hal ini terjadi dapat
dilakukan pemasangan endotrakeal atau trakeostomiaik
2. LARINGITIS KRONIS
Radang kronis laring yang disebabkan oleh sinusitis kronis, deviasi septum yang
berat, polip hidung atau bronkhitis kronis.
Pada peradangan ini seluruh mukosa laring hiperemis dan menebal, dan kadang-
kadang ada pemeriksaan patologik terdapat metaplasia skuamosa.
Gejalanya :
o Suara parau yang menetap
o Rasa tersangkut ditenggorokan pasien sering mendeham tanpa
mengeluarkan secret, karena mukosa yang menebal.
Pada pemeriksaan tampak:
o Mukosa menebal
o Permukaan tidak rata dan hiperemis
o Dan bila curiga tumor dilakukan biopsy
Terapi
o Mengobati radang dari hidung, faring serta bronkus
o Pasien diminta untuk tidak bnyk berbicara
Kalsifikasi
Laringitis kronik dapat dibedakan menjadi laringitis kronik non spesifik dan
laringitis kronik spesifik ( laringitis tuberkulosa dan laringitis luetika)
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 22

1) Laringitis Kronik Spesifik
a) Laringitis Tuberkulosa
Definisi
Penyakit ini hampir selalu sebagai akibat tuberkulosis paru. Sering kali setelah diberi
pengobatan, tuberkulosis parunya sembuh tetapi laringitis tuberkulosis menetap. Hal
ini terjadi karena struktur mukosa laring yang sangat lekat pada cartilago serta
vaskularisasi yang tidak sebaik paru, sehingga bila infeksi sudah mengenai kartilago,
pengobatannya lebih lama.
Patogenesis
Infeksi kuman ke laring dapat terjadi melalui udara pernapasan, sputum yang
mengandung kuman, atau penyebaran melalui aliran darah atau limfa.
Tuberkulosis dapat menimbulkan gangguan sirkulasi. Edema dapat timbul di fossa
interaritenoid, kemudian kearitenoid, plika vokalis, plika ventrikularis, epiglottis,
serta terakhir ialah dengan subglotik.

Gambaran Klinis
Secara klinis, Laringitis tuberkulosis terdiri dari 4 stadium
1. Stadium Infiltrasi :
Yang pertama-tama mengalami pembengkakan dan hiperemis ialah mukosa laring
bagian posterior. Kadang-kadang pita suara terkena juga. Pada stadium ini mukosa
laring bewarna pucat. Kemudian di daerah submukosa terbentuk tuberkel, sehingga
mukosa tidak rata, tampak bintik-bintik yang berwarna kebiruan. Tuberkel itu makin
membesar, serta beberapa tuberkel yang berdekatan bersatu sehingga mukosa di
atasnya meregang. Pada suatu saat, karena sangat meregang maka akan pecah dan
timbul ulkus.
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 23

2. Stadium ulserasi ulkus :
yang timbul pada akhir stadium infiltrasi membesar. Ulkus ini dangkal, dasarnya
ditutupi oleh perkijuan, serta sangat dirasakan nyeri oleh pasien.
3.stadium perikondritis:
Ulkus makin dalam, sehingga mengenai kartilago laring, dan paling sering terkena
adalah kartilago aritenoid dan epiglotis. Dengan demikian terjadi kerusakan tulang
rawan sehingga terbentuk nanah yang berbau. Proses ini akan berlanjut dan terbentuk
sekuester. Pada keadaan ini keadaan umum pasien sangat buruk dan dapat meninggal
dunia. Bila pasien dapat bertahan maka proses ini berlanjut dan masuk dalam stadium
terakhir yaitu stadium fibrotuberkulosis.
4. Stadium fibrotuberkulosis
Pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara dan
subglotik
o Gejala klinis tergantung pada stadiumnya, disamping itu terdapat gejala
sebagai berikut:
-Rasa kering, panas dan tertekan di daerah laring
-Suara parau yang berlangsung berminggu-minggu dan pada stadium
lanjut dapat timbul afoni
-Hemoptisis
-Nyeri waktu menelan yang lebih hebat bila dibandingkan dengan nyeri
karena radang lainnya, merupakan tanda yang khas
-Tanda sistemik TB paru
-Pada pemeriksaan paru (secara klinis dan radiologik) terdapat proses aktif
(biasanya pada stadium eksudatif atau pada pembentukan kaverne)
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 24


Hasil pemeriksaan laringoskopi pada tuberkulosis laring (A) Tipe ulseratif, pada
rongga laring (B) Tipe granulomatosa, pada bagian posterior glotis (C) Tipe
polipoid, pada pita suara palsu kanan (D) Tipe nonspesifik, pada pita suara
kanan.
o Diagnosis
Dapat ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan klinis
3. Laboratorium : LED, BTA
4. Laringoskopi langsung atau tak langsung
- Aritenoid, plica vocalis, epiglottis merah, bengkak
- Nodul kekuningan pada interaritenoid & epiglotis
-Kombinasi ulserasi, edema,granulasi, pembentukan tuberkuloma
5. Foto rontgen toraks
6. Pemeriksaan patologi anatomi: biopsi
o Diagnosis Banding
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 25

1. Laringitis Leutika
2. Karsinoma Laring
3. Aktinomikosis Laring
4. Lupus Vulgaris Laring
o Penatalaksanaan
1. Obat anti tuberculosis
2. Istirahatkan suara


Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 26

o Prognosis
Tergantung pada keadaan social ekonomi pasien , kebiasaan hidup
sehat serta ketekunan berobat. Bila didiagnosis dapat ditegakkan
b) Laringitis Leutika
Etiologi
Treponema pallidum, bakteri yang berasal dari family spirochaetaceae
Gambaran Klinik
Dalam hubungan penyakit dilaring yang perlu dibicarakan ialah luas stadium
tertier ( ketiga) yaitu pada stadium pembentukan guma. Bentuk ini kadang kadang
menyerupai keganasan laring.
Apabila guma pecah maka timbul ulkus. Ulkus ni mempunyai sifat yang khas
yaitu sangat dalam bertepi dengan dasar yg keras. Ulkus ini Tidak menyebabkan nyeri
dan menjalar dengan cepat.
1. Stadium Primer
Kelainan pada stadium primer terdapat pada lidah , palatum mole, tonsil
dan dinding posterior faring seperti juga penyakit luas diorgan lain.
Gambaran kliniknya tergantung pada penyakit primer, sekunder, atau
tersier.
2. Stadium Sekunder
Jarang ditemukan . terdapat eritema pada dinding faring yang menjalar
kearah laring.
3. Stadium Tersier
Pada stadium ini terdapat guma. Predileksinya pada tonsil dan palatum.
Jarang pada dinding posterior faring. Guma pada dinding posterior pharing
dapat meluas ke vertebra servikal dan bila pecah dapat menyebabkan
Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 27

kematian., bila sembuh terbentuk jaringan parut yang dapat menimbulkan
gangguan fungsi palatum secara permanen.
Gejala Klinik
Suara Parau dan batuk kronik. Disfagia timbul bila ada gumma dekat introitus
osepagus. Diagnosis ditegakkan selain pemeriksaan laringoskopik juga dengan
pemeriksaan serologik.
Pemeriksaan Diagnosis sifilis
-Pemeriksaan Treponema pallidum
-Tes Serologik Sifilis (STS)
Komplikasi
Stenosi laring karena terbentuk jaringan parut
Terapi
1. Pinisilin dosis tinggi
Benzatin penisilin G dengan dosis tergantung stadium
Std I dan II : 4,8 juta unit
Std laten : 7,2 juta unit
Cara : injeksi intramuskular 2,4 juta unit/ kali dengan interval 1 minggu
2. Pengangkatan skuester
3. Bila Terdapat sumbatan laring karena stenosis dilakukan Trakeostomi



Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 28

BAB IV
KESIMPULAN
Banyak penyakit infeksi pada laring yang dapat berakibat sumbatan pada jalur
pernafasan, maka dari itu penyakit-penyakit ini harus cepat terdiagnosa dengan cara melakukan
pemeriksaan-pemeriksaan yang tepat, termasuk pemeriksaan penunjang dan laboratorium untuk
mencegah komplikasi- komplikasi dari sumbatan tersebut termasuk kematian.
Manifestasi klinis laringitis sangat tergantung pada beberapa faktor seperti sebabnya,
besarnya edema jaringan, regio laring yang terlibat secara primer dan usia pasien. Pasien
biasanya datang dengan berbagai macam keluhan seperti rasa tidak nyaman pada tenggorok,
batuk, perubahan kualitas suara, disfagia, odinofagia, batuk, kesulitan bernafas dan juga stridor.
Diagnosa laringitis kronis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan diberikan sesuai dengan etiologi yang mendasari.
Biasanya disebabkan oleh iritasi asap rokok, sehingga pasien diminta untuk berhenti merokok
dan menghindari asap rokok disekitarnya.
Prognosis dapat ditentukan berdasarkan stadium atau keparahan penyakit, diagnosa dini,
dan tepatnya penatalaksanaan.










Referat Laringitis Stevany M 40627018 Page 29

DAFTAR PUSTAKA
Hermani B, Kartosudiro S & Abdurrahman B, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga,
Hidung ,Tenggorokan, Kepala -Leher, edisi ke 5, Jakarta: FK UI 2003
Abdurrahman MH, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak , Edisi ke 2, Jakarta: FK UI,
2003
Anonim . Laringitis Akut. Diakses dari
http://www.scribd.com/doc/39720287/Belibis-A17-Laringitis-Akut. [ Diakses 29 Juli
2012 ]
Anonim. Laingitis Kronis. Diakses dari
http://www.scribd.com/doc/52923642/laringitis-kronis. [ Diakses 29 Juli 2012 ]
Anonim. Laringitis Tuberkulosa.
http://www.scribd.com/doc/98400907/LARINGITIS-TUBERKULOSIS. [ Diakses 29
Januari 2012 ]
Anonim. Medical Journal: Laringitis.
http://dinarhealth.blogspot.com/2010/06/laringitis.html. [ Diakses 31 juli 2012]
Banovetz JD, GAngguan Laring Jinak. Dalam BOIES-Buku Ajar THT.Edisi 6.
Jakarta: EGC, 1997.
Cohen JL, Anatomi dan Fisiologi Laring. Dalam BOIES- Buku Ajar THT . Edisi 6.
Jakarta: EGC, 1997.