Anda di halaman 1dari 18

TUGAS

PATOFISIOLOGI, DIAGNOSIS, DIAGNOSIS BANDING,


PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN PENATALAKSANAAN
PADA SUARA SERAK (Hoarseness)

Oleh:
Arga Scorpianus
Renardi
G99142112
Pembimbing :
dr. Antonius Christanto, M.Kes., Sp.THT-KL
KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
RSUD PANDAN ARANG
BOYOLALI
2015
PENDAHULUAN
Suara merupakan produk akhir akustik dari suatu sistem yang lancar,
seimbang, dinamis dan saling terkait, melibatkan respirasi, fonasi, dan
resonansi. Tekanan udara subglotis dari paru, yang diperkuat oleh otot-otot
perut dan dada, dihadapkan pada plika vokalis. Suara dihasilkan oleh
pembukaan dan penutupan yang cepat dari pita suara, yang dibuat bergetar oleh

gabungan kerja antara tegangan otot dan perubahan tekanan udara yang cepat.
Tinggi nada terutama ditentukan oleh frekuensi getaran pita suara.
Bunyi yang dihasilkan glotis diperbesar dan dilengkapi dengan kualitas
yang khas (resonansi) saat melalui jalur supraglotis, khususnya faring.
Gangguan pada sistem ini dapat menimbulkan gangguan suara. Setiap keadaan
yang menimbulkan gangguan dalam getaran, ketegangan serta gangguan dalam
pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan akan menimbulkan suara parau.
(Hermani dan Kartosoediro, 2010)
Hampir sepertiga dari populasi telah mengalami gangguan produksi suara
pada saat yang bersamaan. Serak lebih sering terjadi pada kelompok-kelompok
tertentu seperti guru dan orang tua, tetapi semua kelompok umur dan jenis
kelamin dapat terkena dan sangat berdampak pada status kesehatan serta
kualitas hidup seseorang. Serak menyebabkan kunjungan perawatan kesehatan
lebih seringdan beberapa miliardolar hilang akibat menurunya produktivitas
kerja yang berkaitan dengan absensi. Serak sering disebabkan oleh keadaankeadaan yang ringan dan dapat sembuh sendiri, namun dapat juga merupakan
gejala dari kondisi yang berat dan memerlukan diagnosis dan penatalaksanaan
segera. Suara serak dan disfonia adalah istilah yang sering digunakan secara
bergantian, meskipun suara serak adalah gejala dari perubahan kualitas suara
sementara disfonia adalah diagnosis. (Schwartz et al., 2009)

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Hoarseness/Dysphonia (suara serak) didefinisikan sebagai kelainan yang
ditandai oleh perubahan kualitas suara, tinggi-rendahnya, kenyaringannya
ataupun

upaya

memproduksi

suara

yang

menyebabkan

gangguan

berkomunikasi yang berkaitan dengan penurunan kualitas hidup. (Schwartz,


2009)
B. Anatomi,

Fisiologi,

dan

Mekanisme

Patofisiologi

Suara

Parau

(Hoarseness)
Terdapat 3 sistem organ pembentuk suara yang saling berintegrasi untuk
menghasilkan kualitas suara yang baik, yaitu : sistem pernapasan, laring, dan
traktus vokalis supraglotis.
Sistem respirasi berfungsi sebagai pompa yang menghasilkan aliran udara
spontan dan terus-menerus melalui glotis. Hal ini didukung oleh otot-otot dada,
perut, diafragma yang berperan dalam pernapasan. Selama bersuara, udara
yang terpompa menghasilkan perbedaan takanan melalui celah glottis yang
sempit yang menandai suatu efek Bernaulli. Mengikuti inhalasi, otot dinding
perut berkontrasi untuk memudahkan aliran udara yang tetap melalui glottis.
Sistem pernapasan menghasilkan sebuah aliran udara tetap yang
mendukung sebuah nada suara biasa dan ketika meningkat akan mengahasilkan
volume suara yang lebih keras. Lemahnya otot dinding perut, penyakit pada
paru atau sebab umum lain dapat mempengaruhi pengaturan kapasitas sistem
pernapasan yang nantinya akan mempengaruhi kualitas dari suara yang
dihasilkan.
1. Anatomi
Laring merupakan organ pembentuk suara yang kompleks yang terdiri
dari beberapa tulang rawan serta jaringan otot yang dapat menggerakan pita
suara. Laring merupakan bagian terbawah dari saluran napas bagian atas.
Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih
besar daripada bagian bawah. Batas atas laring adalah aditus laring, batas
bawah adalah kaudal kartilago krikoid. Bangunan kerangka laring tersusun
dari satu tulang, yaitu tulang hioid, dan beberapa buah tulang rawan.
Tulang hioid berbentuk seperti huruf U, permukaan atas dihubungkan
dengan lidah, mandibular, dan tengkorak oleh otot dan tendo. Sewaktu
menelan, kontraksi otot-otot ini menarik laring ke atas, sedangkan jika diam,
maka otot ini bekerja membuka mulut dan membantu menggerakan lidah.

Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis,


kartilago krikoid, kartilago aritaenoid, kartilago kornikulata, dan kartilago
tyroid. Kartilago krikoid dihubungkan dengan kartilago tiroid dengan
ligamentum krikotiroid. Bentuk kartilago krikoid berupa lingkaran
membentuk sendi dengan kartilago tiroid membentuk artikulasi krikotiroid.
Terdapat 2 buah (sepasang) kartilago aritenoid yang terletak dekat
permukaan belakang laring, dan membentuk sendi dengan kartilado krikoid,
disebut artikulasi krikoaritenoid. Sepasang kartilago kornikulata (kiri dan
kanan) melekat pada kartilago aritenoid di daerah apeks, sedangkan
sepasang kartilago kuneiformis terdapat di dalam lipatan ariepiglotik, dan
kartilago triticea terletak di dalam ligamentum hiotiroid lateral.

Gambar 1 A. Gambaran posterior laring


B. Gambaran superior laring
Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum
seratokrikoid (anterior, lateral, dan posterior), ligamentum krikotiroid
medial, ligamentum krikotiroid posterior, ligamentum kornikulofaringeal,
ligamentum hiotiroid lateral, ligamentum hiotiroid medial, ligamentum
hioepiglotika,

ligamentum

ventrikularis,

ligamentum

vokale

yang

menghubungkan kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid, dan ligamentum


tiroepiglotika.
Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot ekstrinsik dan
intrinsik. Otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara
keseluruhan, sedangkan otot-otot intrinsik menyebabkan gerak bagianbagian laring sendiri. Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas
tulang hioid (suprahioid) dan ada yang terletak di bawah tulang hioid
(infrahioid). Otot-otot ekstrinsik yang suprahioid adalah m.digastrikus,
m.geniohioid, m.stilohioid, m.milohioid. Otot-otot yang infrahioid adalah
m. sternohioid, m.omohioid, m.tirohioid. Otot-otot ekstrinsik laring yang
suprahioid berfungsi menarik laring ke bawah, sedangkan yang infrahioid
berfungsi menarik laring ke atas.
Otot-otot

intrinsik

laring

adalah

m.krikoaritenoid

lateral,

m.

tiroepiglotika, m. vokalis, m. tiroaritenoid, m. ariepiglotika, dan m.


krikotiroid. Otot-otot ini terletak pada bagian lateral laring. Otot-otot
intrinsik laring yang terletak di posterior, adalah m. aritenoid transversum,
m. aritenoid oblik, m. krikoaritenoid posterior.
Rongga laring. Batas atas rongga laring (cavum laringeus) adalah
aditus laringeus, batas bawahnya adalah bidang yang melalui pinggir bawah
kartilago krikoid. Batas depannya adalah permukaan belakang epiglotis,
tuberkulum epiglotik, ligamentum tiroepiglotik, sudut antara kedua belah
lamina kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya adalah
membrana kuadrangularis, kartilago aritenoid, konus elastikus, dan arkus
kartilago krikoid, sedangkan batas belakangnya adalah M.Aritenoid
transversus dan lamina kartilago krikoid. Dengan adanya lipatan mukosa
pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare, maka terbentuklah
plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara palsu).
Dalam menilai tingkat pembukaan

rima glotis dibedakan dalam 5

posisi pita suara, yaitu posisi median, posisi paramedian, intermedian,


abduksi ringan dan abduksi penuh. Pada posisi median kedua pita suara
terdapat di garis tengah, pada posisi paramedian pembukaan pita suara

berkisar 3-5 mm dan pada posisi intermedian 7 mm. Pada posisi abduksi
ringan pembukaan pita suara kira-kira 14 mm dan pada abduksi penuh kirakira 18-19 mm.
Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan, disebut rima glotidis,
sedangkan antara plika ventrikularis, disebut rima vestibuli. Plika vokalis
dan plika ventrikularis membagi rongga laring dalam 3 bagian, yaitu
vestibulum laring, glotik dan subglotik. Vestibulum laring adalah rongga
laring yang terdapat di atas plika ventrikularis. Daerah ini disebut daerah
supraglotik. Antara plika vokalis dan plika ventrikularis, pada tiap sisinya
disebut ventrikulus laring morgagni. Rima glottis terdiri dari 2 bagian, yaitu
bagian intermembran dan bagian interkartilago. Bagian intermembran
adalah ruang antara kedua plika vokalis, dan terletak di bagian anterior,
sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago
aritenoid, dan terletak di bagian posterior. Daerah subglotik adalah rongga
laring yang terletak di bawah pita suara (plika vokalis). Pada orang dewasa
dua pertiga bagian pita suara adalah membran sedangkan pada anak-anak
bagian membran ini hanya setengahnya. Membran pada pita suara terlibat
dalam pembentukan suara dan bagian kartilago terlibat dalam proses
penapasan. Jadi kelainan pada pita suara akan berefek pada proses bersuara
dan atau pernapasan, tergantung lokasi kelainannya.
Traktus vokalis supraglotis merupakan organ pelengkap yang sangat
penting karena suara yang dibentuk pada tingkat pita suara akan diteruskan
melewati traktus vokalis supraglotis. Di daerah ini suara dimodifikasi oleh
beberapa struktur oral faringeal (seperti lidah, bibir, palatum dan dinding
faring), hidung dan sinus. Organ tersebut berfungsi sebagai articulator dan
resonator. Perubahan pada posisi, bentuk, atau kekakuan pada dinding
faring, lidah, palatum, bibir dan laring akan merubah dari produksi kualitas
suara.
Persarafan

laring. Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus

vagus, yaitu n. laringis superior dan n. laringis inferior. Kedua saraf ini
merupakan campuran saraf motorik dan sensorik. Nervus laringis superior

mempersarafi m. krikotiroid, memberikan sensasi pada mukosa laring di


bawah pita suara.
Saraf ini mula-mula terletak di atas m. konstriktor faring medial, di
sebelah medial a. karotis interna dan eksterna, kemudian menuju ke kornu
mayor tulang hioid, dan setelah menerima hubungan dengan ganglion
servikal superior, membagi diri menjadi 2 cabang, yaitu ramus eksternus
dan ramus internus. Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar m.
konstriktor faring inferior dan menuju ke m. krikotiroid, sedangkan ramus
internus tertutup oleh m. tirohioid terletak di sebelah medial a. tiroid
superior, menembus membrane hiotiroid dan bersama-sama a. laringis
superior menuju ke mukosa laring.
Nervus laringis inferior merupakan lanjutan dari n. rekuren setelah saraf
itu memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren
merupakan cabang dari n. vagus. Nervus rekuren kanan akan menyilang a.
subklavia kanan di bawahnya, sedangkan n. rekuren kiri akan menyilang
arkus aorta. Nervus laringis inferior berjalan di antara cabang-cabang a.
tiroid inferior, dan melalui permukaan mediodorsal kelenjar tiroid akan
sampai pada permukaan medial m. krikofaring. Di sebelah posterior dari
sendi krikoaritenoid, saraf ini bercabang 2 menjadi ramus anterior dan
ramus posterior. Ramus anterior akan mempersarafi otot-otot intrinsik laring
bagian lateral, sedangkan ramus posterior mempersarafi otot-otot intrinsik
laring bagian superior dan mengadakan anastomose dengan n. laringis
superior ramus internus.
Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a.laringis superior
dan a. laringis inferior. Arteri laringis superior merupakan cabang dari a.
tiroid superior. Arteri laringis superior berjalan agak mendatar melewati
bagian belakang membrana tirohioid bersama-sama dengan cabang internus
dari n.laringis superior kemudian menembus membrana ini untuk berjalan
ke bawah di submukosa dari dinding lateral dan lantai dari sinus pirifomis,
untuk mempendarahi mukosa dan otot-otot laring. Arteri laringis inferior
merupakan cabang dari a.tiroid inferior dan bersama-sama dengan n.

laringis inferior berjalan ke belakang sendi krikotiroid, masuk laring melalui


daerah pinggir bawah dari m.konstriktor faring inferior.
Di dalam laring arteri itu bercabang-cabang, mempendarahi mukosa
dan otot serta beranastomosis dengan a.laringis superior. Pada daerah
setinggi membran krikotiroid a.tiroid superior juga memberikan cabang
yang berjalan mendatari sepanjang membrane itu sebagai sapai mendekati
tiroid. Kadang-kadang arteri ini mengirimkan cabang yang kecil melalui
membrane krikotiroid untuk mengadakan anastomosis dengan a.laringis
superior. Vena laringis superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar
dengan a.laringis superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan
vena tiroid superior dan inferior.
Pembuluh limfe untuk laring banyak, kecuali di daerah lipatan vocal. Di
sini mukosanya tipis dan melekat erat dengan ligamentum vokale. Di daerah
lipatan vocal pembuluh limfa dibagi dalam golongan superior dan inferior.
Pembuluh eferen dari golongan superior berjalan lewat lantai sinus
piriformis dan a.laringis superior, kemudian ke atas, dan bergabung dengan
kelenjar dari bagian superior rantai servikal dalam. Pembuluh eferen dari
golongan inferior berjalan ke bawah dengan a.laringis inferior dan
bergabung dengan kelenjar servikal dalam, dan beberapa di antaranya
menjalar sampai sejauh kelenjar supraklavikular.

Gambar 2. Pembuluh darah dan persyarafan laring


2. Fisiologi
Laring berfungsi untuk proteksi, respirasi, sirkulasi, menelan, emos
serta fonasi, dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Fungsi Proteksi
Adalah untuk mencegah makanan dan benda asing masuk kedalam
trakea, dengan jalan menutup aditus laring dan rima glottis secara
bersamaan.

Terjadinya

penutupan

aditus

laring

ialah

karena

pengangkatan laring keatas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring.


Dalam hal ini kartilago aritenoid bergerak kedepan akibat kontraksi m.
tiroaritenoid dan m. aritenoid. Selanjutnya, m. ariepiglotika berfungsi
sebagai sfingter. Penutupan rima glottis terjadi karena adduksi plika
vokalis. Kartilago aritenoid kiri dan kanan mendekan karena adduksi
otot-otot ekstrinsik. Selain itu dengan reflek batuk, benda asing yang
telah masuk kedalam trakea dapat dibatukkan keluar. Demikian juga
dengan bantuan batuk, sekret yang berasal dari paru dapat dikeluarkan.

2. Fungsi Respirasi
Adalah

dengan

mengatur

besar

kecilnya

rima

glottis.

Bila

m.krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus


vokalis kartilago aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glotis
terbuka.
3. Fungsi Sirkulasi
Dengan

terjadinya

perubahan

tekanan

udara

didalam

traktus

trakebronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus,


sehingga mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Dengan demikian
laring berfungsi juga sebagai alat pengatur sirkulasi darah.
4. Fungsi laring dalam membantu proses menelan
Dengan 3 mekanisme, yaitu gerakan laring bagian bawah keatas,
menutup aditus laringis dan mendorong bolus makanan turun ke
hipofaring dan tidak mungkin masuk ke dalam laring.
5. Fungsi untuk mengekspresikan emosi
Seperti berteriak, mengeluh, menangis, dan lain-lain.
Untuk fonasi, membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada.
Tinggi rendahnya nada diatur oleh peregangan plika vokalis. Bila plika
vokalis dalam aduksi, maka m. krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid
ke bawah dan depan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang
bersamaan m. krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago
aritenoid ke belakang. Plika vokalis kini dalam keadaan yang efektif untuk
berkontraksi. Sebaliknya kontraksi m. krikoaritenoid akan mendorong
kartilago aritenoid ke depan, sehingga plika vokalis akan mengendor.
Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan menentukan tinggi
rendahnya nada.
3. Patofisiologi Suara Serak
Suara serak (hoarsness) merupakan istilah yang biasa digunakan sehari
hari untuk mengungkapkan disfonia. Disfonia adalah istilah untuk gangguan
suara yang disebabkan karena adanya kelainan pada organ-organ fonasi,

terutama laring. Suara tersebut mungkin terdengar lemah, berat, kasar, atau
terjadi perubahan volume atau pitch (tinggi rendah suara). Setiap keadaan
yang menimbulkan gangguan dalam getaran, gangguan dalam ketegangan
serta gangguan dalam pendekatan (aduksi) kedua pita suara kiri dan kanan
akan menimbulkan suara serak.
Perubahan dari suara biasanya berkaitan dengan gangguan pada pita
suara yang merupakan bagian pembentuk suara yang terdapat di larynx.
Selama bernafas, pita suara saling menjauh (gambar 3). ketika berbicara
atau bernyanyi, pita suara saling mendekat (gambar 4), dan udara keluar dari
paru, getaran udara menghasilkan suara. Semakin tebal dan semakin kecil
ukuran pita suara, getaran yang dihasilkan semakin cepat. Semakin cepat
getaran suara yang dihasilkan semakin tinggi. Pembengkakan pada pita
suara dapat mengakibatkan tidak menyatunya kedua pita suara sehingga
dapat terjadi perubahan pada suara.

Gambar 3. Keadaan pita suara pada saat bernafas.

Gambar 4. Keadaan pita suara pada saat berbicara.


C. Etiologi dan Diagnosis Banding Suara Parau (Hoarseness)

Penyebab suara parau dapat bermacam macam yang prinsipnyamenimpa


laring dan sekitarnya. Penyebab ini dapat berupa:
1. Kelainan Kongenital
a. Laringomalasia merupakan penyebab tersering suara serak saat bernafas
pada bayi baru lahir.
b. Laringeal webs merupakan suatu selaput jaringan pada laring yang
sebagian menutup jalan udara. 75 % selaput ini terletak diantara pita
suara, tetapi selaputini juga dapat terletak diatas atau dibawah pita suara.
c. Cri du chat syndrome dan Down syndrome merupakan suatu kelainan
genetik pda bayi saat lahir yang bermanifestasi klinis berupa suara serak
atau stridor saat bernafas.
d. Paralisis pita suara bisa terjadi saat lahir, baik mengenai satu atau kedua
pita suara.Tumor pada rongga dada ( mediastinum ) atau trauma saat lahir
dapatmenyebabkan kerusakan saraf pada laring yang mempersarafi pita
suara.
2. Infeksi
a. Infeksi virus adalah infeksi paling banyak yang menyebabkan suara serak
dikarenakanoleh infeksi virus. Virus penyebab yang paling sering yaitu
rinovirus ( common cold virus) , adenovirus, influenza virus dan para
influenza virus.
b. Infeksi bakteri seperti epiglottitis bakterial oleh Hemophilus influenzae
type B (HiB) merupakan salah satu yangsering terjadi dan kadang dapat
menimbulkan infeksi yang fatal. Bakteri penyebab yang lain yaitu
Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae tetapi jarang.
c. Infeksi jamur seperti candida pada mulut dan tenggorokan kadang bisa
menyebabkan suara serak pada anak yang sehat, tetapi ini merupakan
komplikasi yang jarang terjadi kecuali anak dengan imunosupresi
(kemoterapi, HIV, atau Immune deficiency syndrome ).
3. Inflamasi
Berkembangnya nodul, polip atau granuloma pada pita suara
dapatdiakibatkan oleh iritasi dan inflamsi yang kronis pada pita suara
yang berasal dari merokok, batuk, penyalahgunaan suara dan terpapar
racundari lingkungan.

a. Nodules paling sering didapatkan pada anak-anak dan wanita. Pada lakilaki jarang. Ada hubungannya dengan penyalahgunaan suara dan nodulini
timbul bilateral, lembut, lesinya bulat terletak pada sepertigaanterior dan
dua pertiga posterior dari pita suara.
b. Polipslebih sering didapatkan pada laki-laki dan sangat kuat berhubungan
dengan merokok. Polips berupa massa yang lembut, bisatunggal atau
multipel dan paling sering unilateral.
c. Kistalaringeal biasanya berupa sumbatan

kelenjar

mukus

atau

kistainklusi epitel dan akan menyebabkan perubahan suara jika terdapat


atau dekat dengan tepi bebas pita suara.
d. Gastroesophageal reflux disease.
4. Tumor Jinak
a. Papilloma merupakan tumor jinak yang sering didapatkan pada
saluran pernapasan. Disebabkan oleh Human papilloma virus ( HPV).
Ibumungkin

terinfeksi

virus

dengan

didapatkan

lesi

berupa

condyloma pada vulva. Bayi mungkin mendapat infeksi ini saat lahir baik
melaluikontaminasi pada cairan amnion sebelum lahir atau saat lahir
melaluivagina.
b. Hemangioma merupakan tumor jinak pembuluh darah, mungkin timbul
pada daerah jalan nafas dan menyebabkan suara parau atau lebih sering
stridor.
c. Limphagioma ( higroma kistik) merupakan tumor pembuluh limfa.
Sering timbul didaerah kepala dan leher dan dapat mengenai pada jalan
nafas yang menyebabkan stridor atau suara serak.
5. Tumorganas
6. Trauma.
a. Endotracheal intubasi
Fraktur pada laring. Trauma langsung pada laring dapat menyebakan
fraktur kartilago laring yang menyebabkan lokal hematoma atau
mengenai saraf.
b. Benda asing
7. Penyakit sistemik
a. Endokrin: hypothyroidisme, acromegaly
b. Rheumatoid arthritis berdampak pada kaitan antar sendi pada laring
c. Penyakit Granulomatous contoh. sarcoid, Wegener's, syphilis, TB

D. Skema penanganan pasien dengan keluhan suara serak


Jika pasien datang dengan keluhan suara serak maka dilakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik baik umum (status generalis) maupun pemeriksaan fisik THT
terutama pemeriksaan laring indirek atau melalui laringoskop. Visualisasi
laring mungkin diperlukan untuk menentukan kondisi dari pita suara apakah
ada lesi atau gerakan yang abnormal yang mendasari kelainan suara. Secara
umum, pemeriksaan laring harus dilakukan jika suara serak menetap selama
lebih dari 2 minggu.
a. Anamnesis
Setiap pasien dengan suara parau yang menetap lebih dari 2 minggu
tanpa adanya infeksi saluran napas atas memerlukan pemeriksaan. Sangat
penting untuk mengetahui durasi dan karakter perubahan suara. Riwayat
merokok dan minum alkohol, dimana dapat mengiritasi mukosamulut dan
laring dan beresiko kanker kepala leher Riwayat pekerjaan, pola/ tipe
pemakaian suara seperti menyanyi berteriak. Riwayat penyalahgunaan suara
(voice abuse) Keluhan yang berhubungan meliputi nyeri, disfagia, batuk,
susah bernapas Keluhan refluks gastroesofageal seperti merasakan asam di
mulut pada apgihari Penyakit sinonasal (rhinitis alergi atau sinusitis kronik)
Kelainan neurologis. Riwayat trauma atau pembedahan. Riwayat pemakaian
obat-obatan seperti ACE inhibitor.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan kepala dan leher secara keseluruhan, meliputi penilaian
pendengaran, mukosa saluran napas atas, mobilitas lidah dan fungsi saraf
kranial. Pemeriksaan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Pemeriksaan laringoskopi
Untuk mengidentifikasi setiap lesi dari pita suara seperti kanker,
singers node, polip tuberkulosis atau sifilis. Selain itu dapat menilai
adanya paralisis pita suara, yang berhubungan dengan kanker paru,
aneurisma aorta dan lain-lain.
2. Pemeriksaan kelenjar getah bening
Jika terdapat kelainan dapat menunjukkan neuropati perifer, sindrom
Guillain-Barre, tumor otak atau penyakit serebrovaskuler.
c. Pemeriksaan Penunjang Lainnya.

1. Laringoskopi fibreoptik.
2. Stroboskopi (videolaryngostroboscopy)

Pemeriksaan

ini

dapat

memperlihatkan gambaran dari pergerakan laring


3. Pemeriksaan untuk mengukur produksi suara seperti amplitudo, range,
pitch dan efisiensi aerodinamik
4. Pemeriksaan darah,Meliputi hitung jenis dan LED, fungsi tiroid, nilai C1
esterase inhibitor untuk pembengkakan pita suara dan diduga
angioedema, serta pemeriksaan reseptor asetilkolin untuk suara parau
yang diduga disebabkan miastenia gravis.
5. Kultur hidung dan sputum
6. Foto torak x ray jika ditemukan paralisis pita suara pada pemeriksaan
laringoskopi
7. CT scan dada
8. Ct scan dan MRI jika ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologis
9. USG tiroid untuk mendeteksi kanker tiroid yang menyebabkan paralisis
pita Suara
Secara skematis penangangan pasien datang dengan keluhan suara serak
adalah sebagai berikut :

E. Obat-obat untuk keluhan utama suara serak


Berikut beberapa obat yang dapat meringankan atau menghilangkan keluhan
suara serak :
a. Anti inflamasi steroid
1) Dexamethasone
Dosis dewasa: 0,5 9 mg / hari, anak : 0,006 0,04 mg/kgBB/hari
atau 0,2351,35mg/m2 luas permukaan tubuh

Merk dagang: Dexamethasone, Camidexon, Corsona, Cortidex,


Dexa-M, Etason, Indexon, Kalmethasone, Lanadexon, Licodexon,
lanadexon/
2) Metilprednisolone
Dosis dewasa: 4 mg - 48 mg per hari. Anak : Oral 0,117 mg/kgBB
atau 3,33 mg per m2 luas pemukaan tubuh sehari dalam dosis
terbagi tiga
Merk dagang: Methylprednisolone, Carmeson, Cortesa, Depo
Medrol, Flameson, Hexilon, Indrol, Intidrol, Lexcomet, Medixon,
Medrol, Meproson, Metasolon, Methylon
b. Anti Inflamasi non steroid
1) Diklofenak
Dosis dewasa: 100-150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis
2) Parasetamol
Dosis anak-anak: 6-12 tahun 2-4 sendok teh atau 250-500mg tiap 4-6
jam, 1-5 tahun 1-2 sendok teh atau 120mg-250mg tiap 4-6 jam. <1tahun
-1 sendok the atau 60mg-120mg tiap 4-6 jam. Dosis dewasa: -1
gram/kali, max 4 gram/hari.
3) Asam Mefenamat

Dosis: 2-3x 250-500mg/hari


4) Ibuprofen
Dosis anak: 30-40 mg/kgBB/hari
Dosis dewasa: 4-6X 200-400 mg/hari
c. Antibiotik
1) Antibiotik golongan penisilin
a) Amoksisilin
Dosis dewasa: 250 sampai 500 mg diberikan tiga kali sehari selama 3
sampai 7 hari.
b) Ampisilin
Dosis dewasa: 250 500 mg tiap 6 jam
Dosis anak: 50 mg/kg BB/hari
2) Antibiotik golongan sefalosporin generasi I
a) Cefradin
Dosis dewasa: 250 mg/6 jam atau 500 mg/ 12 jam
Dosis anak: 25-100 mg/kg BB/hari dalam dosis terbagi 4
b) Cefalexin
Dosis dewasa: 250-500 mg / 6 jam
Dosis anak: 25-50 mg/kBB/ hari dalam dosis terbagi 4
c) Cefadroxil

Dosis dewasa: 500 mg 2 gram/ hari dalam dosis terbagi 2


Dosis anak: 30 mg/kb BB/ hari dalam dosis terbagi 2
3) Antibiotik golongan makrolit
a) Eritromisin (E- mycin) dosis dewasa: 250 -500 mg / 6 jam, dosis anak:
30-50 mg/kg BB/ hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.
b) Klaritromisin dosis dewasa: 250 mg 3-4 jam, 500 mg 5-7 jam.
c) Azitromisin dosis dewasa: 500 mg / hari, dosis anak: 10 mg/kg BB/
hari.

DAFTAR PUSTAKA
Hermani B, Kartosoediro S. (2010). Suara Parau. Dalam: Soepardi EA, Iskandar
HN (editors). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher Edisi ke VI. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 190-94.
Schwartz SR, Cohen SM, Dailey SH. (2009). Clinical Practice Guidelines :
Hoarseness (dysphonia). In : Otolaryngology Head And Neck Surgery. Vol
141.
Raymond HF and Shahram NM (2009). Hoarseness in adult. Am Fam Physician;
80(4):363-370.