Anda di halaman 1dari 8

Teori Evolusi Biologi

Menurut Jean Baptiste Lamarck (1990) proses evolusi biologi meliputi:


I ) Kelompok I
Pada kelompok I ini bagian di kanan dan kiri dari mesoderma membentuk
benjolan yang kemudian meluas sehingga mengisi ruangan di antara ektoderma dan
endoderma. Ruang yang terbentuk disebut coelom, karena coelom bentuk asalnya dari
endoderma maka disebut enterocoelomata. Contohnya: Echinodermata dan
Chordata.
2) Kelompok II
Pada kelompok II mesoderma berasal derri ektoderma. Ektoderma melepaskan
kelompok-kelompok sel dalam ruangan di antara endoderma dan ektoderma, sehingga
mesodermanya kompak dan tidak dijumpai coelom. Hewan yang tidak memiliki coelom
termasuk dalam acoelomata. Contohnya: cacing pipih dan cacing pita.
3) Kelompok III
Pada kelompok III ini mesoderma terbentuk dari endoderma maupun ektoderma,
hanya saja setelah mesoderma terbentuk maka terjadi celah yang kemudian berkembang
menjadi coelom. Coelom tersebut dinamakan schizocoel, hewan yang memiliki schizocoel
disebut schizocoelomata. Contohnya, Annelida, Mollusca, dan Arthropoda (Crustacea,
Insekta, labah-labah).
4) Kelompok IV
Pada kelompok IV, mesoderma dibentuk oleh ektoderma, hanya saja mesoderma tak
memenuhi ruangan seluruhnya, sehingga dengan demikian ruangan tidak dibatasi oleh
mesoderma tetapi oleh ektoderma. Oleh karena itu, coelom tersebut dinamakan pseudocoel.
Hewan yang memiliki pseudocoel termasuk dalam pseudocoelomata.Contohnya: Rotifera dan
cacing gilik atau Nematoda.
Pada masa embrio, Annelida yang hidup di laut dan Mollusca sangat serupa, sehingga
sulit sekali untuk dibedakan. Demikian juga antara insekta dan cacing tanah bentuk
embrionya sulit sekali dibedakan meskipun bentuk dewasa mereka berbeda sama sekali.
Hewan-hewan triploblastik pada dasarnya adalah simetri bilateral. Ada anggapan bahwa pada
waktu terjadi perubahan bentuk dari diploblastik ke triploblastik terjadi juga perubahan
bentuk simetrinya, yaitu dari simetri radial ke simetri bilateral.



Teori Evolusi pada Kelompok Modern
Evolusi invertebrata yang terdiri dari 30 filum dimulai dari nenek moyang berupa
protista yang hidup di laut. Protista bercabang tiga, dimulai dari filum Porifera, filum
Cnidaria, dan filum Plathyhelminthes. Filum Plathyhelminthes bercabang menjadi tiga.
Cabang pertama bercabang lagi menjadi tiga dimulai dari filum Mollusca, filum Annelida,
dan filum Arthropoda. Cabang kedua menjadi filum Nematoda. Sedang cabang ketiga
menjadi dua, yaitu filum Echinodermata dan filum Chordata. Dari evolusi invertebrata dapat
kita ketahui bahwa evolusi vertebrata berasal dari nenek moyang berupa Echinodermata.
Echinodermata akan berkembang menjadi Echinodermata modern (contohnya bintang laut,
dan bulu babi), Hemichordata, Chordata primitif (yang terdiri dari Tunicata dan Lancelets),
vertebrata modern yang terdiri dari tujuh kelas yaitu: Agnata, Chondrichtyes, Osteichthyes,
Ampibia, Reptilia, Aves, dan Mammalia. (Anonim: 2011)
Chordata mencakup lebih dari 44.000 spesies. Semuanya simetri bilateral, agak
bersegmentasi dan mempunyai kerangka internal. Akan tetapi, mereka berbeda dengan yang
lainnya karena mempunyai 3 ciri khas (Kymball: 1999):
1. Pada tahap perkembangannya semua Chordata mempunyai struktur mirip batang yang
lentur, yaitu notokorda, teretak di sebelah dorsal slaurn pencernaan dan menunjang tubuh
dari dalam. Pada sebagian besar Chordata sebelum mencapai dewasa, notokorda ini
diganti dengan kolumna vertebralis atau tulang belakang.
2. Pada tahap perkembangan, semua Chordata mempunyai pasangan kantung insang.
Kantung-kantung ini adalah pelipatan keluar dari tengggorokan. Di bagian luar dari
tenggorokan ini, diimbangi dengan pasangan lekukan. Pada Chordata air,kantung insang
ini menembus lekukan bagian luar dan membentuk celah insang. Celah ini merupakan
jalan keluar bagi air yang masuk melalui insang. Pada Chordata darat kantung insang ini
tidak menembus, tetapi mengalami perubahan besar pada tahapan perkembangan
selanjutnya.
3. Semua Chordata mempunyai tali saraf berongga yang berkembang di sebelah dorsal
tubuh di atas notokorda. Pada ujung anterior, tali saraf ini membesar untuk membentuk
otak.

KOMENTAR TEORI EVOLUSI ECHINODERMATA MENUJU CHORDATA
Echinodermata dan Chordata sama-sama mempunyai sejumlah ciri yang tidak
dimiliki oleh filum hewan lain, hal ini terutama tampak sekali pada perkembangan embrio
mereka. Pada Echinodermata dan Chordata, gastrulasi dimulai pada bagian embrio menjadi
anus pada hewan dewasa. Lubang kedua kemudian berkembang menjadi mulut. Akan tetapi,
pada filum lain dengan saluran pencernaan yang lengkap, gastrulasi dimulai di bagian akhir
yang menjadi mulut; menjadi lubang untuk mulut yang berkembang lebih dahulu. Meskipun
ini hanya merupakan salah satu dari banyak ciri yang membedakan kedua kelompok
organisme ini, hal ini begitu penting sehingga dipakai sebagai dasar dalam pemberian nama
untuk membedakan kedua kelompok tersebut. Echinodermata dan Chordata dikelompokkan
bersama dalam deuterostomia (mulut kedua). Sedangkan filum lainnya dikelompokkan
dalam protostomia (mulut pertama). (Pratiwi, 2000)
Sejumlah ciri lain membedakan deuterostomia dari protostomia. Alur belahan
(cleavege) pada telur Chordata terdapat pada bidang-bidang teratur, yaitu tegak lurus atau
sejajar satu sama lain. Hal ini juga terdapat pada telur Echinodermata. Akan tetapi, pada
Arthropoda memiliki cara pembelahan tidak biasa, bidang belahan tersebut makin sering
saling mendekati sehingga terjadi belahan spiral.
Pada telur Echinodermata dan telur Chordata sel-sel yaang dihasilkan oleh belahan
pertama atau kedua mampu untuk berkembang menjadi embrio yang sempurna jka
dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu kedua kelompok hewan tersebut kembar identik
dapat dan memang terjadi. Sebaliknya, belahan protostomia menghasilkan sel-sel yang
kehilangan sebagian dari potensialitasnya. Kembar identik tidak akan terjadi.
Pada deuterostomia maupun protostomia mempunyai coelom, tetapi mekanisme
pembetukannya sangat berbeda. Pada Annelida, Arthropoda, dan Mollusca, coelom terbentuk
melalui pembelahan suatu massa sel mesoderm yang berasal dari embrio. Pada
Echinodermata dan Chordata, coelom berkembang di dalam suatu lapisan sel yang mendesak
ke dalam selama gastrulasi.
Perbedaan lain antara deuterostomia dan protostomia yang patut disebut adalah
perbedaan kimiawi. Senyawa kreatin fosfat otot manusia berfungsi sebagai persediaaan fosfat
berenergi tinggi. Senyawa itu mempunyai fungsi yang sama pada verebrata lain dan pada
sejumlah besar Chordata invertebarata (misalnya: Amphioxus) dan beberapa Echinodermata
(misalnya bintang ular). Sebagian besar invetebrata lain yang telah diperiksa mempunyai zat
yang sejenis, arginin fosfat yang diperkirakan mempunyai fungsi yang sama bagi hewan-
hewan tersebut. Bulu babi, cacing biji dan Tunicata mempunyai salah satu atau kedua zat
tesebut. (Kymball: 1999 dan Haryono: 2009)
Adanya perbedaan-perbedaan tajam yang begitu banyak antara deuterostomia dan
protostomia membantu bahwa kita tidak dapat mengharapkan untuk menemukan bukti-bukti
asal usul evolusi kita dengan mempelajari hewan-hewan yang sudah begitu maju dan
berkerabat begitu jauh seperti Mollusca dan Arthropoda. Lalu, bagaimana kita dapat
menjelaskan asal usul vertebrata dan asal usul kita sendiri? Fosil Echinodermata terdapat
dalam zaman kambrium, dan dengan demikian kita tahu bahwa deuterostomia tumbuh
sebelum zaman itu. Kita tidak tahu dari kelompok yang lebih primitif dari hewan tersebut.
Satu kelompok yang dikemukakan sebagai kemungkinan nenek moyang Echinodermata dan
Chordata adalah Nemertina. Filum ini yang belum dibicarakan ini, mempunyai sekelompok
kecil cacing memipih yang bersilia yang umumnya dianggap berkerabat dengan cacing pipih.
Tetapi satu ciri yang penting membedakannya dengan cacing pipih adalah bahwa gastrulasi
mengasilkan saluran pencernaan satu arah dengan mulut dan anus. Akan tetapi, pada
beberapa Nemertina tempat gastrulasi (blastopor) tidak menjadi mulut atau anus. Malah
perkembangan embrio selanjutnya ditutup rapat , dan pembentukan mulut dan anus terjadi di
sisi yang berhadap dengannya. Kemungkinan cacing-cacing ini merupakan keturunan dari
suatu kelompok yang tempat gastrulasinya berada dalam peralihan dari ujung mulut pada
arkenteron (protostomia) ke ujung anus (deuterostomia). Hipotesis ini didukung oleh
penemuan dua lusin struktur pada Nemertina yang tampaknya homolog denagn struktur yang
terdapat pada salah satu vertbrata yang paling primitif, ikan Hag (Hagfish=sejenis ikan air
asin yang memyerupai belut).
Jika kita menganggap bahwa deuterostomia adalah keturunan dari moyang Nemertina,
kita sekarang harus berusaha untuk menguraikan hubungan evolusi di dalam kelompok itu.
Semua Chordata simetri bilateral. Sebaliknya, Echinodermata simetri radial. Tetapi, simetri
radial mereka tidak boleh mengelabuhi kita, karena larva Echinodermata simetri bilateral.
Sesuai dengan keyakinan kita bahwa ciri-ciri embrio yang lebih primitif, kita dapat menarik
kesimpulan bahwa simetri radial Echinodermata dewasa adalah penyesuaian sekunder
terhadap cara hidup sesil atau lamban. Catatan fosil-fosil menunjukkan bahwa Echinodermata
yang paling awal adalah hewan sesil yang terpaut dengan tangkai. Beberapa keturunan masa
kini, Echinodermata awal ini (lili laut) masih sesil, dan semuanya paling tidak melalui suatu
tahapan bertangkai. (Haryono: 2009)
Keberhasilan echinodemata dalam habitat lautan yang terbatas hanya sedang-sedang
saja. Dari anggota bertangkai yang paling awal berkembanglah kelas lain misalnya bulu babi,
bintang ular, bintang laut, dan habitat lautan yang mengakibatkan adanya catatan fosil yang
sangat lengkap tentang evolusi mereka.
Kedudukan cacing biji dalam kisah ini masih merupakan teka-teki. Adanya struktur
mirip notokorda, celah insang, dan apa yang dianggap sistem saraf pusat dorsal menyebabkan
mereka dimasukkan ke dalam Chordata para ahli biologi. Akan tetapi, persamaan mereka
dengan Echinodermata tidak dapat dibantah lagi. Larva cacing biji boleh dikatakan tidak
dapat dibedakan dengan larva ketimun laut. Cacing biji seperti halnya bulu babi mempunyai
baik kreatin fosfat maupun arginin fosfat. Akhirnya, hasil serologi perbandingan menggaris
bawahi argumentasi tersebut. Antibodi yang tumbuh sebagai respon terhadap protein cacing
biji juga bereaksi kuat dengan protein ketimun laut.
Meskipun Amphioxus agak mirip dengan ikan, tetapi mencari asal usul vertebrata
perhatian kita tujukan pada Tunicata (sub filum Tunicata). Sebenarnya pemeriksaan seekor
Tunicata dewasa seperti sea peach, Halocynthia, tidak tampak sebagai calon nenek moyang
vertebrata. Organisme sesil yang makan dengan cara menyaring dengan Tunica yang
mengandung selulosa ini tidak mempunyai notochorda dan hanya mempunyai susunan saraf
yang rudimenter. Akan tetapi, larva yang dihasilkan organisme ini sangat berbeda bentuknya.
Larva berenang bebas ini merupakan berudu, simetri bilateral dengan celah insang, sistem
saraf pusat tubular dorsal, dan sebuah ekor, yang padanya terdapat notochorda. Dan memang,
jika kita mencoba membayangkan bagaimana rupa seekor Chordata primitif yang sempurna,
maka kita akan mendapatkan gambaran suatu organisme tidak banyak berbeda dengan larva
Tunicata.
Tetapi masih ada satu masalah. Bukti-bukti fosil memberikan kesan bahwa vertebrata
timbul dalam air tawar, sedangkan Tunicata hanya terdapat di laut. Meskipun begitu,
Tunicata memang hidup di dekat pantai dan larva mereka dapat masuk ke dalam muara
sungai. Selain itu, arus satu arah air sungai yang terus menerus mungkin dapat mengubah
tekanan seleksi yang menguntungkan dari bentuk simetri bilateral yang aktif. Jadi moyang
larva Tunicata mungkin meninggalkan metamorfosis menjadi dewasa dan menjadi awal
mulainya evolusi vertebrata. Peristiwa metamorfosis yang ditinggalkan bukan merupakan hal
yang asing. Ini mengingatkan kita pada axolotl yang mencapai dewasa kelamin sebagai larva
yang bernapas dengan insang. Keadaan lingkungan (kekurangan yodium) telah mengadakan
seleksi untuk mempertahankan ciri-ciri juvenil. (Kymball: 1999)










RANGKUMAN

1. Teori lama: asal-usul Chordata adalah Metazoa paling primitif pada tingkatan
Coelenterata.
2. Teori baru: asal-usul Chordata adalah Echinodermata.

Asal usul evolusioner hewan tidak diketahui. Mungkin hewan bemula dari moyang protozoa.
Kekerabatan evolusioner di antara berbagai filum hewan itu tidak jelas. Spons (Parazoa)
ternyata tidak berkerabat dekat dengan filum manapun. Sisanya hanya dijadikan dua kategori
utama, yaitu: Deuterostomia (Echinodermata dan Chordata) dan Protostomia. Perbedaan di
antara keduanya secara mendasar, termasuk: 1) pola belahan dalam embrio, 2) kesanggupan
berkembang sel-sel yang dihasilkan pada awal belahan, 3) siklus terjadinya gastrulasi, 4) cara
berkembangnya coelom, 5) senyawa-senyawa yang menyimpan fosfat berenergi tinggi dalam
otot.

Beberapa alasan:
1. Pembentukan mesoderm Amphioxus seperti pada Echinodermata,
2. Larva Hemichordata seperti larva Echinodermata,
3. Protein serum darah Chordata sama dengan protein serum darah Echinodermata,
4. Adanya kesamaan protein otot, yaitu:
- Echinodermata memiliki kreatinin dan arginin,
- Chordata: pada Tunicata memiliki arginin, sedangkan pada Hemichordata terdapat
kreatinin dan arginin

Beberapa alasan yang menghubungkan dan memberatkan bahwa Chordata berasal dari
Echinodermata meliputi:
1. Echinodermata memiliki ciri simetri radial, dan memiliki lempeng-lempeng,
2. Echinodermata aktif bergerak. Tetapi keberatan bahwa Chordata berasal dari
Echinodermata dapat dihilangkan karena larva Echinodermata adalah tidak dapat bergerak,
misal pada larva Crinoidea. Crinoidea dapat dikatakan dekat (mirip) dengan Pterobranchia
yaitu kelompok yang dipandang berkerabat dengan moyang Vertebrata.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Phylum Chordata. Jakarta.
(http://organisasi.org/pengertian_arti_definisi_evolusi_serta_jenis_dan_macam_evolusi_evol
usi_kosmik_dan_evolusi_organik_pengetahuan_sains_biologi , diakses pada tanggal 14
September 2011 serial on line)
Kymball, John W. 1999. Biologi. Jakarta: PT. Erlangga Mahameru (disadur oleh:
Tjitrosomo, Siti Soetarmi dan Sugiri, Nawangsari)
Haryono, Tjipto dkk. 2009. Hand Out Taksonomi Hewan II. Surabaya: Jurusan
Biologi
Lamarck, Jean Baptiste. 1990. Amerika Serikat. Philosophie zoologique.
(http://organisasi.org/teori_evolusi_jean_baptiste_lamarck_dari_buku_philosophie_zoologiqu
e_asal_prancis_dengan_paham_gagal_use_and_disuse_biologi, diakses pada tanggal 14
September 2011 serial on line)
Pratiwi, dkk. 2000. Asal Usul Kehidupan. Jakarta: PT. Erlangga



















EVOLUSI AVERTEBRATA MENUJU CHORDATA
















Oleh:

Mochammad Yasir (093204011)




UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2011