Anda di halaman 1dari 16

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAHAN DAN SISTEM KEUANGAN

NEGARA/DAERAH

A. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat


Penerapan sistemakuntansi pemerintahan dari suatu negara akan sangat bergantung
kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku pada negara yang bersangkutan.
Ciri-ciri terpenting atau persyaratan dari sistem akuntansi pemerintah menurut PBB
dalam bukunya A Manual for Government Accounting, antara lain disebutkan bahwa:
Sistem akuntansi pemerintah harus dirancang sesuai dengan konstitusi dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku pada suatu negara.
1. Sistem akuntansi pemerintah harus dapat menyediakan informasi yang akuntabel dan
auditabel (artinya dapat dipertanggungjawabkan dan diaudit).
2. Sistem akuntansi pemerintah harus mampu menyediakan informasi keuangan yang
diperlukan untuk penyusunan rencana/program dan evaluasi pelaksanaan secara fisik
dan keuangan.
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah sistem akuntansi yang mengolah semua transaksi keuangan, aset, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah pusat, yang
menghasilkan informasi akuntansi dan laporan keuangan yang tepat waktu dengan mutu
yang dapat diandalkan, baik yang diperlukan oleh badan-badan di luar pemerintah pusat
seperti DPR, maupun oleh berbagai tingkat manajemen pada pemerintah pusat (Mahmudi,
2011).
Sistem Akuntansi Pemerintahan adalah rangkaian sistematik dari prosedur,
penyelenggara, peralatan, danelemen lain untuk mewujudkan fungsi akuntansi sejakanalisis
transaksi sampai dengan pelaporan keuangan dilingkungan organisasi pemerintah (PP No.71
Tahun 2010).
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah serangkaian prosedur, baik
manual maupu terkomputerisasi, mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran,
sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pemerintah pusat.
Ruang lingkup SAPP adalah pemerintah pusat (dalam hal ini lembaga tinggi negara
dan lembaga tinggi eksekutif) serta pemda yang mendapat dana dari APBN (terkait dana
dekonsentrasi dan tugas pembantuan). Oleh karena itu SAPP tidak dapat diterapkan untuk
lingkungan pemda (yang menggunakan APBD), lembaga keuangan negara, serta
BUMN/BUMD.

Tujuan dari SAPP adalah :


1.

Menjaga aset (safegurding asset), agar aset pemerintah dapat terjaga melalui serangkaian
proses pencatatan, pengolahan, dan pelaporan keuangan yang konsisten sesuai dengan
standar.

2.

Memberikan informasi yang relevan (relevance), menyediakan informasi yang akurat


dan tepat waktu tentang anggaran dan kegiatan keuangan pemerintah pusat, baik secara
nasional maupun instansi yang berguna sebagai dasar penilaian kinerja, untuk
menentukan ketaatan terhadap otorisasi anggaran dan tujuan akuntabilitas.

3.

Memberikan informasi yang dapat dipercaya (reliability), tentang posisi keuangan suatu
instansi dan pemerintah pusat secara keseluruhan.

4.

Menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk perencanaan, pengelolaan, dan


pengendalian kegiatan dan keuangan pemerintah secara efisien (feedback and
predictability).

Untuk mencapai tujuan tersebut, SAPP memiliki karakteristik sebagai berikut :


1.

Basis Akuntansi
SAPP menggunakan basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan basis
akrual untuk neraca. Dengan basis kas, pendapatan diakui dan dicatat pada saat kas
diterima oleh Kas Umum Negara (KUN) dan belanja diakui dan dicatat pada saat kas
dikeluarkan dari KUN. Sedangkan aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat
pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan
berpengaruh pada keuangan pemerintah.

2.

Sistem Pembukuan Berpasangan


Sistem pembukuan berpasangan (double entry system) didasarkan atas persamaan dasar
akuntansi, yaitu : aset = utang + ekuitas dana. Setiap transaksi dibukukan dengan
mendebit suatu perkiraan dan mengkredit perkiraan yang lain.

3.

Sistem yang Terpadu dan Terkomputerisasi


SAPP terdiri atas subsistem subsistem yang saling berhubungan dan merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan, serta proses pembukuan dan pelaporannya sudah
dikomputerisasi.

4.

Desentralisasi Pelaksanaan Akuntansi


Dalam pelaksanaannya, kegiatan akuntansi dan pelaporan dilakukan secara berjenjang
oleh unit unit akuntansi, baik di pusat maupun daerah.

5.

Bagan Perkiraan Standar


2

SAPP menggunakan perkiraan standar yang ditetapkan oleh menteri keuangan yang
berlaku untuk tujuan penganggaran maupun akuntansi.

SAPP terbagi menjadi dua subsistem, yaitu :


1.

Sistem Akuntansi Pusat (SiAP), merupakan bagian dari SAPP yang dilaksanakan oleh
Direktorat Informasi dan Akuntansi (DIA) yang akan menghasilkan laporan keuangan
pemerintah pusat untuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. SiAP sendiri terbagi
menjadi dua subsistem, yaitu Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) dan Sitem
Akuntansi Umum (SAU).

2.

Sistem Akuntansi Instansi (SAI), merupakan bagian SAPP yang akan menghasilkan
laporan keuangan untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan anggaran instansi. SAI
sendiri terbagi menjadi dua subsistem, yaitu Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan
Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN) (Nordiawan, 2007).

B. Perkembangan Sistem Akuntansi Pemerintah di Indonesia


Pengembangan Sistem Akuntansi Pemerintah sudah beberapa kali dilakukan
perubahan dan penyempurnaan dengan beberapa kali dikeluarkannya peraturan-peraturan
pemerintah khususnya Keputusan Menteri Keuangan. Pengembangan dan implementasi
Sistem Akuntansi Pemerintah dapat kita telusuri sejak dikeluarkannya Keputusan Menteri
Keuangan RI Nomar 476/ KMK.01/1991 pada tanggal 21 Mei 1991 tentang Sistem
Akuntansi Pemerintah, sampai pada tahun 2005, Menteri Keuangan mengeluarkan
Peraturan Nomor 59/PMK.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Pemerintah Pusat.
Selanjutnya Sistem Akuntansi Pemerintah dikembangkan lagi dengan diterbitkannya
Peraturan Pemerintah nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, yang
menerapkan Standar Akuntanasi Pemerintahan berbasis Akrual. Dan dalam pelaksanaannya
Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Peraturan nomor 64 tahun 2013 tentang Penerapan
Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah.
Sejarah teori dan praktek akuntansi di Indonesia menunjukkan bahwa sebelum
pendidikan akuntansi diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1950an, pada masa itu hanya
dikenal tata buku warisan Belanda yang disebut sistem continental. Akibat perubahan
hubungan politik dengan Belanda, banyak guru besar berkebangsaan Belanda kembali ke
negerinya.Hal ini berakibat adanya perubahan kurikulum pendidikan akuntansi dan sistem
continental ke sistem Anglo Saxis(sistem Amerika).Perkembangan selanjutnya, ternyata
3

akuntansi keuangan untuk sektor swasta maju pesat, sedangkan akuntansi di sektor
pemerintah masih mengikuti konsep-konsep yang diterapkan sejak zaman Belanda.
Meskipun ada perbaikan dalam akuntansi pemerintah di atas, penyempurnaan yang
bersifat mendasar belum pernah dilakukan, sedangkan sistem tersebut mempunyai
kelemahan yaitu:
1. Pada Pemerintah, sebagian aktivitasnya dibiayai melalui anggaran yang setiap tahun
ditetapkan dengan undang-undang. Pencatatan pelaksanaan anggaran tersebut
terpisah-pisah dan tidak terpadu karena berdasarkan sistem tata buku tunggal (single
entry bookeping).Akuntansi yang terpisah-pisah tersebut semakin mengakibatkan
pelaporannya menjadi tidak bersesuaian satu dengan yang lain karena tidak
menggunakan bagan perkiraan yang standar.
2. Pengelompokan perkiraan yang digunakan pemerintah dirancang hanya untuk
memantau dan melaporkan realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran saja;
tidak dirancang untuk menganalisis efektivitas pembiayaan suatu program atau
memberikan informasi yang cukup untuk pengendalian pengeluaran suatu program.
3. Pada akuntansi aset tetap, kelemahannya selain tidak terintegrasi dengan
keuangannya juga dalam perencanaan maupun pelaksanaan anggaran tidak
dibedakan secara tegas antara belanja modal dan belanja operasional.
4. Penyusunan pertanggungjawaban pemerintah atas pelaksanaan APBN yang
dituangkan dalam bentuk Perhitungan Anggaran Negara (PAN) semula berdasarkan
Sumbangan Perhitungan Anggaran/SPA dari seluruh Departemen atau Lembaga.
5. Tidak

ada

standar

dan

prinsip

akuntansi

pemerintah

untuk menjagake-

wajarandankeseragarnanperlakuanakuntansidanpelaporankeuanganpcrncrintah.Tetap
ipadatahun 2010 Pemerintah mengeluarkan Standar Akuntansi Pemerintahan yang
penerapannya paling lambat mulai tahun anggaran 2015.
6. Khusus dalam pengelolaankeuangan Negara, semakin tahun jumlah APBN yang
harus dikelola semakin besar dan masalah yang harus ditangani pemerintah
scmakin kompleks dan beragam, sedangkan dalam sistem akuntansi pemerintah
yang lama tersebut terdapat banyak kelemahan. Hal ini berakibat pada praktek
akuntasi pemerintah yang belum mampu memberikan informasi yang sesuai dengan
peningkatan transaksi keuangan negara yang semakin kompleks. Praktek akuntansi
pemerintah hanya dapat memenuhi tujuan pertanggungjawaban, namun tidak
menyediakan informasi yang cukup untuk kepentingan manajerial.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka dilakukan pengembangan sistem akuntansi


pemerintah pusat dengan tujuan utama untuk:
1. Merancang sistem akuntansi pemerintah yang baru,
2. Menyusun standar dan prinsip akuntansi pemerintah, dan
3. Membentuk pusat akuntansi di Departemen Keuangan

Dari tujuan utama di atas, penyusunan sistem akuntansi pemerintah pusat telah
dilaksanakan dan dilakukan implementasi secara bertahap. Penyusun standar dan prinsip
telah dilakukan seiring dengan penyusunan sistem akuntansi dan pembentukan pusat
akuntansi juga telah terselenggara dengan diresmikannya Badan Akuntansi Keuangan
Negara (BAKUN) pada Departemen Keuangan RI berdasarkan Keputusan Presiden Nomor
35/1992 tanggal 7 Juli 1992. Untuk mengembangan usaha yang telah ada, maka
dikeluarkan Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 295/KMK.012/2001 tentang Tata
Pelaksanaan Pembukuan dan Pelaporan Keuangan pada Departemen/Lembaga dan
diimplementasikan tahun 2001.
Meski sudah ada BAKUN, pelaksanaan implementasi system dimaksud bukannya
tidak mengalami hambatan. Karena tak ada kewajiban dari peraturan perundang-undangan,
maka sistem akuntansi pemerintah pusat, departemen dan nondepartemen masih
menggunakan

sistem

pembukuan

tunggal

yang

dalam

banyak

hal

sulit

dipertanggungjawabkan kualitasnya. Dalam dunia akuntansi, sistem yang lebih dapat


dipertanggungjawabkan adalah sistem akuntansi berpasangan yang mewajibkan semua
catatan akuntansi dimulai dengan teknologi penjurnalan debit-kredit selalu seimbang
berpasangan.
Patut dicatat, pada kebanyakan pandangan pakar akuntansi, sistem pembukuan
tunggal belum pantas disebut sebagai suatu akuntansi.Yang disebut laporan keuangan
berfokus hanya pada laporan realisasi anggaran semata.
Catatan pemerintah pusat tentang investasi jangka panjang dan utang dilakukan
secara tak terstruktur atau informal. Di dalamnya termasuk catatan pengeluaran yang
menggunakan dana luar negeri, seperti bantuan, hibah dan utang. Karena standar akuntansi
kepemerintahan RI saat itu belum ada, praktek akuntansi pemerintah juga belum sesuai
prinsip akuntansi kepemerintahan yang berlaku umum, kode rekening akuntansi baku dan
berlaku bagi semua departemen/lembaga belum ada, serta neraca tak mungkin disusun
apalagi diterbitkan.

Pada tahun 1995, sebagai lanjutan dari pinjaman Bank Dunia dikembangkan lagi
sistem akuntansi pemerintah berbasis komputer yang open system melalui Proyek
Pengembangan Sistem Akuntansi Pemerintah tahap II dan implementasinya dilaksanakan
secara bertahap. Pada tahun 1999 telah dilakukan implementasi sistem akuntansi instansi
untuk seluruh Departemen/lembaga yang dapat menghasilkan Laporan Realisasi Anggaran
dan Neraca. Namun demikian masih menghadapi masalah enforcement-nya, karena pada
saat itu masih belum ada ketentuan perundangan yang mewajibkan penyusunan laporan
keuangan yang Iengkap.
Paket Bantuan IMF tahun 1997/1998 berisi persyaratan good governance umumnya,
reformasi manajemen keuangan, lebih khusus lagi tentang reformasi akuntansi
pemerintahan. Reformasi akuntansi pemerintah mendapat momentumnya dengan terbitnya
UU Nomor 17 tahun 2003 tentang, Keuangan Negara yang mewajibkan adanya suatu
Standar Akuntansi Pemerintahan sebagai basis penyusunan laporan keuangan instansi
pemerintah, diperkuat dengan UU Pemeriksaan Keuangan Negara. UU tersebut menyatakan
kebutuhan mendesak akan Standar Akuntansi sebagai basis penyusunan dan audit laporan
keuangan instansi pemerintah oleh BPK. Tanpa standar BPK tidak dapat menerbitkan opini
audit.
UU Perbedaharaan Negara Nomor 1 tahun 2004 mempunyai implikasi jadwal kerja
amat ketat dan bersanksi.Bentuk pertanggungjawaban APBN/APBD adalah laporan
keuangan yang harus sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. Agar dalam
penyusunan standar akuntansi pemerintahan objektif maka dalam tahun 2002 (sebelum
disahkan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara) menteri keuangan
membentuk Komite Standar Akuntansi Pemerintah Pusat dan Pernerintah daerah.
Menurut ketentuan UU No. 1 Tahun 2004 Menteri atau pimpinan lembaga selaku
pengguna anggaran menyusun laporan keuangan dan disampaikan paling lambat 2 bulan
setelah tahun anggaran berakhir. Menteri Keuangan menyusun laporan keuangan pmerintah
pusat untuk disampaikan kepada presiden dalam tiga bulan setelahtahun anggaran yang lalu
berakhir setidak-tidaknya meliputi Laporan realisasi APBN.neraca, laporan arus kas dan
catatan atas lapuran keuanganyang dilampiri laporan keuangan perusahaan negara.
Selanjutnya, BPK membuat laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan dilengkapi
dengan opini seperti umumnya dilakukan auditor eksternal (Mahmudi, 2011).

C. Sistem Akuntansi Pusat


SiAP merupakan serangkaian prosedur manual maupun terkomputerisasi, mulai dari
pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai pelaporan posisi dan operasi keuangan
pada Kementerian Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). SiAP memproses data
transaksi KUN dan Akuntansi Umum.
SAPP dan bagian bagiannya
SAPP
(Sistem Akuntansi
Pemerintah Pusat)

SiAP
(Sistem Akuntansi
Pusat)

SAI
(Sistem Akuntansi
Instansi)

SAKUN
(Sistem Akuntansi
Kas Umum Negara)

SAU
(Sistem Akuntansi
Umum)

SAK
(Sistem Akuntansi
Keuangan)

SABMN
(Sistem Akuntansi
Barang Milik Negara)

LAK dan Neraca


KUN

LRA dan Neraca

LRA, Neraca, dan


CALK K/L

Laporan BMN di
K/L

SiAP terdiri atas :


1. SAKUN, yaitu subsistem SiAP yang menghasilkan laporan arus kas dan neraca KUN.
2. SAU, yaitu subsistem SiAP yang akan menghasilkan LRA Pemerintah Pusat dan
Neraca.

Dalam pelaksanaannya, SiAP dilakukan oleh :


1. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) yang memproses data transaksi
penerimaan dan pengeluaran.

2. KPPN khusus untuk memproses data transaksi pengeluaran yang berasal dari Bantuan
Luar Negeri (BLN).
3. Direktorat Pengelolaan Kas Negara (DPKN) untuk memproses data transaksi penerimaan
dan pengeluaran BUN melalui kantor pusat.
4. DIA yang melakukan proses data APBN, serta melakukan verifikasi dan akuntansi untuk
data transaksi penerimaan dan pengeluaran BUN melalui kantor pusat.

Proses pembuatan laporan yang dihasilkan SiAP adalah sebagai berikut :


1.

KPPN menyususn Laporan Arus Kas, Neraca KUN, dan LRA di wilayah kerjanya.
Laporan tersebut disampaikan ke Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan
setiap bulan.
KPPN Khusus memproses data transaksi pengeluaran yang berasal dari BLN. KPPN
Khusus menyampaikan laporan tersebut beserta data transaksi ke DIA setiap bulan.

2.

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan menyususn laporan keuangan


berupa Laporan Arus Kas, Neraca KUN, dan LRA SAU di tingkat wilayah yang
merupakan hasil penggabungan laporan keuangan seluruh KPPN di wilayah kerjanya.
Laporan keuangan tersebut disampaikan ke Direktorat Jenderal Perbendaharaan, dalam
hal ini DIA setiap bulan.

3.

Direktorat Jenderal Perbendaharaan menyusun laporan keuangan berupa Laporan Arus


Kas, Neraca KUN, dan LRA yang merupakan hasil penggabungan laporan keuangan
seluruh unit Dirjen Perbendaharaan, baik di tingkat pusat maupun daerah (Nordiawan,
2007).

D. Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah


Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah merupakan bagian dari pengelolaan keuangan
daerah secara keseluruhan. Adanya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah dan
UU No. 33 Tahun 2004 tentang Pertimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemda
memberikan kewenangan yang cukup besar bagi daerah untuk mengelola sumber daya yang
dimilikinya. Akan tetapi selain mempunyai kewenangan, pemda juga mempunyai kewajiban
untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber dayanya tersebut.
Oleh karena itu sistem akuntansi menjadi suatu tuntutan sekaligus kebutuhan bagi setiap
pemda.
Praktek selama ini menunjukkan banyak kebijakan akuntansi disusun dengan
menuliskan kembali hamper seluruh isi standar akuntansi pemerintahan. Praktek seperti ini
8

menimbulkan inefisiensi karena adanya pengulangan (redundancy) antara SAP yang diatur
oleh peraturan pemerintah dan kebijakan akuntansi yang diatur oleh peraturan kepala daerah.
Oleh karena itu Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota yang mengatur kebijakan akuntansi
pemerintah daerah dapat mengambil unsur-unsur pokok dari SAP, lalu mengembangkan
dalam pilihan-pilihan metode, baik dalam pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan.
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) adalah serangkaian prosedur, mulai
dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan
keuangan dalam rangka mempertanggungjawabkan pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan
secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Sistem akuntansi pemerintah
daerah(SAPD) merupakan suatu instrument penting yang harus disiapkan dalam rangka
implementasi SAP berbasis akrual. SAPD sebagai alat untuk mewujudkan prinsip-prinsip
dasar yang telah ditetapkan oleh SAP dan kebijakan akuntansi menjadi serangkaian prosedur
pencatatan dengan menggunakan akuntansi double entry melalui alat-alatnya berupa buku
jurnal, buku besar, neraca saldo, dan laporan keuangan itu sendiri.

SAPD memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan Sistem Akuntansi


Pemerintah Pusat (SAPP), yaitu :
1. Basis Akuntansi
SAPD menggunakan basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan basis akrual
untuk neraca. Dengan basis kas, pendapatan diakui dan dicatat pada saat kas diterima oleh
rekening Kas Daerah serta belamja diakui dan dicatat pada saat kas dikeluarkan dari
rekening Kas Daerah. Aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat saat terjadinya
transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan
pemerintah.
2. Sistem Pembukuan Berpasangan
Sistem pembukuan berpasangan (double entry system) didasarkan atas persamaan dasar
akuntansi, yaitu : aset = utang + ekuitas dana. Setiap transaksi dibukukan dengan mendebit
suatu perkiraan dan mengkredit perkiraan yang lain.

SAPD sekurang kurangnya meliputi prosedur akuntansi penerimaan kas, prosedur


akuntansi pengeluaran kas, prosedur akuntansi aset tetap/barang milik daerah, dan prosedur
akuntansi selain kas. Seperti halnya SAPP, SAPD juga terdiri atas dua subsistem yaitu :
1. Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah

Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah dilaksanakan oleh PPKD, yang akan mencatat
transaksi transaksi yang dilakukan oleh level pemda, seperti pendapatan dana
perimbangan, belanja bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan
keuangan, belanja tidak terduga, transaksi transaksi pembiayaan, pencatatan investasi, dan
utang jangka panjang.
2. Sistem Akuntansi Satuan Kerja Perangkat Daerah
Sistem Akuntansi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dilaksanakan oleh Pejabat
Penatausahaan Keuangan (PPK) SKPD. Transaksi transaksi yang terjadi di lingkungan
satuan kerja harus dicatat dan dilaporkan oleh PPK SKPD.

Dalam konstruksi keuangan negara terdapat dua jenis satuan kerja, yaitu SKPD dan
Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD). Dalam pelaksanaan anggaran transaksi
yang terjadi di SKPKD diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Transaksi transaksi yang dilakukan oleh SKPKD sebagai satuan kerja.
2. Transaksi transaksi yang dilakukan oleh SKPKD pada level pemda.

Dengan demikian, SKPKD akan menjalankan sistem akuntansi SKPD dan juga sistem
akuntansi pemerintah daerah (Nordiawan, 2007).

Meskipun ada dua basis akuntansi yaitu kas (LRA) dan akrual (LO dan Neraca),
namun hanya satu persamaan akuntansi yang digunakan. Karena unsure ekuitas terbentuk
dari transaksi kas(realisasi anggaran) dan transaksi yang bersifat akrual. Sehingga persamaan
yang digunakan untuk dasar pencatatan adalah :
Aset = Kewajiban + Ekuitas + (Pendapatan Beban)

Dalam Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah diuraikan mengenai sistem akuntansi


PPKD dan sistem akuntansi SKPD yang dapat dijadikan sebagai panduan dalam sistem
akuntansi pemerintah daerah.
1. Sistem Akuntansi PPKD
a. Pencatatan Anggaran pada PPKD
Pencatatan anggaran pada PPKD merupakan tahap persiapan sistem akuntansi
pemerintah daerah. Pada tahap ini dilakukan pencatatan untuk merekam data anggaran
yang akan membentuk estimasi perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL). Estimasi
10

perubahan SAL ini juga merupakan akun antara yang berguna dalam rangka pencatatan
transaksi realisasi anggaran. Di dalam neraca, estimasi perubahan SAL merupakan
bagian ekuitas SAL.
b. Akuntansi Pendapatan PPKD
c. Akuntansi Belanja dan Beban PPKD
d. Akuntansi Aset PPKD
e. Akuntansi Kewajiban PPKD
f. Akuntansi Pembiayaan PPKD
g. Jurnal Koreksi dan Penyesuaian PPKD
h. Jurnal, BukuBesar, dan Neraca Saldo PPKD
i. Penyusunan Laporan Keuangan PPKD

Laporan Keuangan yang dihasilkan pada tingkat PPKD dihasilkan melalui proses
akuntansi yang secara periodik dilakukan oleh Fungsi Akuntansi PPKD. Jurnal dan posting
yang telah dilakukan terhadap transaksi keuangan menjadi dasar dalam penyusunan laporan
keuangan.
Dari 7 Laporan Keuangan wajib yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71
Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, terdapat 5 Laporan Keuangan yang
dibuat oleh PPKD sebagai entitas akuntansi, yaitu:
1) LaporanRealisasiAnggaran (LRA);
2) Neraca;
3) Laporan Operasional (LO);
4) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE); dan
5) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Bagan berikut ini menunjukkan proses penyusunan Laporan Keuangan PPKD:

11

MenyiapkanKertasKerja

Mengisi Neraca
Saldo sebelum
Penyesuaian

Membuat Neraca
Saldo Setelah
Penyesuaian

Membuat Jurnal
Penyesuaian

MenyusunLaporanKeuangan

Menyusun LRA,
membuat jurnal
penutup LRA dan
NS setelah
Penutupan LRA

Menyusun Laporan
Perubahan Ekuitas

Menyusun LO,
membuat jurnal
penutup LO dan NS
setelah Penutupan
LO

Menyusun
Neraca, membuat
jurnal penutup
akhir dan NS
akhir

Menyusun Catatan
atas Laporan
Keuangan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2013

2. Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasian Pemerintah Daerah


Laporan Keuangan Konsolidasian adalah suatu laporan keuangan yang merupakan gabungan
keseluruhan laporan keuangan entitas pelaporan, atau entitas akuntansi, sehingga tersaji
sebagai satu entitas tunggal. Laporan keuangan pemerintah daerah disusun dengan
melakukan proses konsolidasi dari seluruh laporan keuangan entitas akuntansi yang terdapat
pada pemerintah daerah. Neraca saldo dari semua entitas akuntansi SKPD dan entitas
akuntansi PPKD menjadi dasar dalam penyusunan laporan keuangan.
12

Terdapat 7 Laporan Keuangan yang dibuat oleh PPKD, yaitu:


a. Laporan Realisasi Anggaran (LRA);
b. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL);
c. Neraca;
d. Laporan Operasional (LO);
e. Laporan Arus Kas (LAK);
f. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE); dan
g. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

13

Menyiapkan Kertas Kerja Konsolidasi


Mengisi Neraca
Saldo SKPD dan
PPKD

Membuat
Jurnal eliminasi

Membuat Neraca
Saldo Pemda

Menyusun Laporan Keuangan Konsolidasi


Menyusun LRA,
membuat jurnal
penutup LRA dan
NS setelah
Penutupan LRA

Menyusun
Laporan
Perubahan SAL

Menyusun LO,
membuat jurnal
penutup LO dan NS
setelah Penutupan
LO

Menyusun
Laporan
Perubahan Ekuitas

Menyusun
Neraca,
membuat jurnal
penutup akhir
dan NS akhir

Menyusun
Laporan Arus Kas

Menyusun Catatan
atas Laporan
Keuangan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2013

E. Sistem Akuntansi SKPD


1. Pencatatan Anggaran pada SKPD
Pencatatan anggaran pada SKPD merupakan tahap persiapan system akuntansi
pemerintah daerah. Pada tahap ini dilakukan pencatatan untuk merekam data

14

anggaran yang akan membentuk estimasi perubahan SAL. Estimasi perubahan SAL
ini merupakan akun perantara yang berguna dalam rangka pencatatan transaksi
realisasi anggaran.
2. Akuntansi Pendapatan SKPD
Urutan prosedur yang harus dilakukan oleh PPK SKPD dalam melakukan pencatatan
Transaksi pendapatan diatur dalam peraturan pemerintah. Transaksi pendapatan
SKPD merupakan pendapatan yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal instansi pemungut pajak terpisah
dari bendahara umum daerah (BUD), maka pajak daerah dianggarkan dan dicatat pada
instansi tersebut. Sebaliknya apabila pemungutan pajak dilakukan oleh pejabat
pengelolaan keuangan daerah (PPKD) selaku BUD, pajak daerah dianggarkan dan
dicatat oleh PPKD.
3. Akuntansi Belanja dan Beban SKPD
4. Akuntansi Aset SKPD
5. Akuntansi Kewajiban SKPD
6. Jurnal Koreksi dan Penyesuaian SKPD
7. Jurnal, Buku Besar, dan NeracaSaldo SKPD
8. Penyusunan Laporan Keuangan SKPD
Laporan Keuangan yang dihasilkan pada tingkat SKPD dihasilkan melalui proses
akuntansi lanjutan yang dilakukan oleh PPK-SKPD. Jurnal dan posting yang telah
dilakukan terhadap transaksi keuangan menjadi dasar dalam penyusunan laporan
keuangan.
Dari 7 Laporan Keuangan wajib yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71
Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, terdapat 5 Laporan Keuangan
yang dibuat oleh SKPD, yaitu:
a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA);
b) Neraca;
c) Laporan Operasional (LO);
d) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE); dan
e) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
F. STRUKTUR AKUNTANSI
Struktur hubungan entitas dalam akuntansi yang diimplementasikan di Pemerintah
Daerah adalah struktur HOBO (office & Branch Office). Struktur hubungan HOBO lebih
15

tepat untuk menggambarkan hubungan transaksi antara PPKD dan SKPD, dibandingkan
dengan struktur hubungan Induk dan Anak (Parent &Subdiary). Dengan beberapa alasan
sebagai berikut:
1. PPKD-SKPD bukan merupakan entitas yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri,
melainkan merupakan satu kesatuan;
2. Antara PPKD dan SKPD tidak terjadi transfer income (dalam pengertian profit);
3. SKPD dimiliki 100% oleh Pemerintah Daerah.

Transaksi antara PPKD dan SKPD dicatat menggunakan akun reciprocal yaitu RKPPKD (merupakan akun ekuitas di SKPD), dan akun RK-SKPD (merupakan akun aset di
PPKD). Beberapa hal yang kiranya perlu dilakukan dalam rangka penerapan akuntansi
berbasis kas menuju berbasis akrual seutuhnya, yaitu:
1. Laporan keuangan yang perlu dilakukan restatement pada awal tahun 2015 ketika
akan mengimplementasikan SAP berbasis akrual adalah untuk Neraca, karena Neraca
2014ketika disusun belum menerapkan seutuhnya berbasis akrual standar/kebijakan
akuntansi akrual.
2. Restatement dilakukan untuk akun-akun yang kebijakan akuntansinya berbeda atau
belum diterapkan.
3. Tahapannya adalah setiap akun disesuaikan dengan perlakuan akuntansi sesuai
standar/kebijakan akuntansi yang baru.

16