Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KEGIATAN


1. Ruang Lingkup Pengadaan Barang/Jasa
a. Bagaimana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dengan
menggunakan Pinjaman Hibah Luar Negeri (PHLN)?
Penggunaan PHLN untuk belanja Kementerian, Lembaga, Pemerintah Daerah dan
Instansi lainnya (K/L/D/I) dapat dilakukan bilamana memberikan manfaat dan benefit
langsung untuk masyarakat. Dalam hal ini perlu dicermati hasil dan kegiatan yang
dibiayai dari PHLN harus menjadi milik Pemerintah Indonesia bukan menjadi milik
negara/lembaga donor. Bilamana ada ketentuan dan persyaratan dalam pemberian
PHLN tersebut memberatkan Negara Indonesia dan bertentangan dengan ketentuan
dan prinsip-prinsip pengadaan, maka sebaiknya PHLN tersebut tidak diterima.
Dalam pemberian hibah sering dilakukan pembuatan desain dan peralatan yang tidak
sesuai dengan kemampuan Penyedia di Indonesia atau barang-barang yang tidak ada
di Indonesia. Padahal paket pekerjaan tersebut bilamana disesuaikan dengan
kompetensi Penyedia Indonesia akan banyak dipenuhi oleh Penyedia Indonesia,
termasuk spesifikasi barang-barang dapat disesuaikan dengan produk dalam negeri
Indonesia dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Negara donor harus menghormati kebijakan umum pemerintah Indonesia termasuk
ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, tidak diperkenankan
dalam perjanjian hibah atau pinjaman menetapkan persyaratan yang sudah diarahkan
sehingga yang dapat memenuhi hanya Penyedia yang berasal dari negara donor.
K/L/D/I penerima PHLN sedapat mungkin memperjuangkan kepentingan Penyedia dan
Produk dalam negeri ketika perjanjian tersebut ditandatangani dengan cara membuat
paket pengadaan tidak dalam bentuk paket pengadaan yang besar. Disamping itu,
K/L/D/I diharapkan tidak tergesa-gesa menandatangani perjanjian PHLN dengan donor
sebelum mengkaji dengan benar, bahwa perjanjian PHLN tersebut menguntungkan
negara dan masyarakat. Demikian juga dalam membuat tanggapan atas hasil kajian
lembaga/negara donor, tidak dibuat dengan tergesa-gesa sehingga merugikan negara
dan masyarakat.
b. Bagaimana pelaksanaan pengadaan pekerjaan konstruksi dengan dana hibah
dengan pemberian dana langsung kepada penerima hibah?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Pasal 31 huruf c dan huruf
d jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 Pasal 31 huruf c dan huruf d,
pengadaan secara swakelola oleh kelompok masyarakat pelaksana swakelola
dilaksanakan untuk pengadaan Pekerjaan Konstruksi hanya dapat berbentuk
rehabilitasi, renovasi dan konstruksi sederhana. Sedangkan konstruksi bangunan
baru yang tidak sederhana, dibangun oleh K/L/D/I Penanggung Jawab Anggaran
untuk selanjutnya diserahkan kepada kelompok masyarakat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan;

2. Hibah yang dilakukan dengan pengalihan dana secara langsung kepada penerima
hibah, proses pengadaannya dapat dikelola langsung oleh penerima hibah sesuai
dengan rencana kerja yang telah ditetapkan. Apabila penerima hibah merasa tidak
mampu melakukan sendiri proses pengadaan tersebut, maka dapat meminta
bantuan kepada instansi teknis terkait untuk melakukan proses pengadaan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan;
3. Meskipun demikian, diharapkan proses pengadaan yang dilakukan tetap mengikuti
prinsip-prinsip pengadaan sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden
Nomor 54 Tahun 2010 Pasal 5 yang efisien, efektif, transparan, terbuka, bersaing,
adil/tidak diskriminatif, dan akuntabel. Dengan demikian PA/KPA yang memiliki
kegiatan dimaksud harus dapat mempertanggungjawabkan baik dari aspek teknis
maupun aspek administratif;
4. Untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang bersumber dari hibah, baik kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, maupun pengawasan harus dilakukan oleh orang
perseorangan atau badan usaha yang memiliki sertifikat, klasifikasi, dan kualifikasi
perusahaan jasa konstruksi, dan memiliki tenaga ahli dan tenaga terampil yang
bersertifikat, sebagaimana diatur dalam Pasal 8 Undang-undang Nomor 18 Tahun
1999 dan Pasal 9 ayat (2) huruf d Peraturan Pemerintah No.29 Tahun 2000.
Mengingat pihak tersebut nantinya harus bertanggung jawab bilamana terjadi
kegagalan bangunan dalam kurun waktu tertentu sebagaimana diatur dalam
ketentutan perundang-undangan. B734
5. Mengacu pada Permendagri 32 tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan
Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Pasal 1, dinyatakan bahwa hibah adalah pemberian uang/barang atau jasa dari
pemerintah daerah kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, perusahaan
daerah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, yang secara spesifik telah
ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara
terus menerus yang bertujuan untuk menunjang penyelenggaraan urusan
pemerintah daerah;
6. Pengadaan barang dan jasa dalam rangka hibah sebagaimana dimaksud pada butir
1) di atas berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Permendagri 32 tahun
2011 Pasal 15). Mengingat hibah dalam bentuk pemberian uang, maka proses
pengadaan barang/jasa pada yayasan tidak harus mengikuti Peraturan Presiden
Nomor 54 Tahun 2010 jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 namun tetap
mengakomodir prinsip-prinsip pengadaan sebagaimana tercantum dalam Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2010 jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012
sehingga pelaksanaan kegiatan dimaksud dapat dipertanggungjawabkan baik dari
aspek teknis maupun administratif. B2388
c. Bagaimana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa untuk kegiatan Bantuan
Sosial yang akan diserahkan kepada masyarakat/pihak ketiga?
1. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005
Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah penjelasan pasal 27 ayat (g), bantuan
sosial adalah pemberian bantuan yang sifatnya tidak secara terus menerus dan
selektif dalam bentuk uang/barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk
peningkatan kesejahteraan masyarakat;
2. Mengacu kepada uraian di atas dan ruang lingkup Peraturan Presiden No.54 Tahun
2010 jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 mengenai Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah, maka Pengadaan Barang/Jasa di lingkungan K/L/D/I yang

pembiayaannya baik sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBN/APBD


dan/atau yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari pinjaman atau hibah
dalam negeri yang diterima oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah, harus
mengacu kepada peraturan ini;
3. Proses Pengadaan Barang untuk Kegiatan Belanja Bantuan Sosial yang akan
diserahkan kepada masyarakat/pihak ketiga dapat dilakukan sesuai dengan bidang
usaha penyedia. Metode pemilihan sesuai bidang usaha dapat menggunakan
Pengadaan Langsung bilamana sampai dengan Rp100.000.000,- (seratus juta
rupiah), Pelelangan Sederhana bilamana bernilai sampai dengan Rp200.000.000,(Dua Ratus Juta Rupiah), atau Pelelangan Umum bilamana bernilai lebih dari
Rp200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) yang tahapannya mengacu pada
Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 Pasal 57 jo Peraturan Presiden Nomor 70
Tahun 2012 Pasal 57. Cara pembayarannya dapat menggunakan kontrak harga
satuan. Metode pembayarannya dilakukan sesuai dengan barang yang terjual.
B1909
d. Bagaimana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa yang diselenggarakan di
Luar Negeri?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang
Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah :
a. Pasal 38 dan Pasal 44 ketentuan mengenai kriteria Penunjukan Langsung
terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa;
b. Pasal 114 ketentuan mengenai pengadaan barang/jasa di luar negeri;
c. Pasal 129 ayat (3) ketentuan mengenai pengaturan lain tentang pengadaan
barang/jasa yang dibiayai APBN yang ditindaklanjuti dengan keputusan
menteri harus tetap berpedoman serta tidak boleh bertentangan dengan
ketentuan peraturan presiden ini;
2. Berdasarkan Peraturan Menteri Luar Negeri No. 06 Tahun 2011 Tentang
Pedoman dan Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Republik
Indonesia Di Luar Negeri :
Pasal 11, Pasal 13 dan Pasal 14 ketentuan mengenai pengadaan barang/jasa
melalui Pelelangan/Seleksi Umum dan Pengadaan Langsung;
3. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut diatas maka bersama ini disampaikan
sebagai berikut :
a.

Ketentuan/kriteria mengenai Penunjukan Langsung tidak diatur dalam


Peraturan Menteri Luar Negeri No. 06 Tahun 2011, sehingga
ketentuan/kriteria mengenai Penunjukan Langsung tersebut harus sesuai
dengan Pasal 38 dan Pasal 44 Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010;

b.

Sesuai dengan Pasal 38 dan Pasal 44 Peraturan Presiden No. 54 Tahun


2010, tidak ditemukan kriteria yang memungkinkan dilakukannya
Penunjukan Langsung karena alasan keterbatasan waktu pelaksanaan
pekerjaan dihadapkan pada rencana kunjungan Presiden RI;

c.

Sesuai dengan Pasal 13 dan Pasal 14 Peraturan Menteri Luar Negeri No.
06 Tahun 2011, maka Pengadaan Barang/Jasa Konsultansi/Jasa Lainnya
yang bernilai di atas Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)

dan Pengadaan Pekerjaan Konstruksi yang bernilai di atas Rp


500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah), harus dilakukan melalui
Pelelangan/Seleksi Umum atau tata cara lain yang bersifat kompetitif sesuai
dengan peraturan di negara setempat. Untuk pengadaan barang/jasa yang
bernilai sampai dengan seperti tersebut di atas dapat dilakukan melalui
Pengadaan Langsung;
d.

Sesuai dengan Pasal 11 Peraturan Menteri Luar Negeri No. 06 Tahun 2011,
dalam hal pengadaan barang/jasa Pemerintah Republik Indonesia yang
dilaksanakan di luar negeri tidak dapat menggunakan Peraturan Presiden
No. 54 Tahun 2010 jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang
Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah karena perbedaan peraturan dengan
negara setempat, maka pengadaan barang/jasa tersebut dapat
menyesuaikan dengan peraturan negara tersebut dengan tetap
mengutamakan kepentingan nasional dan berpedoman pada Tata Nilai
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang tercantum dalam Peraturan
Presiden No. 54 Tahun 2010 jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010
Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
. Penyesuaian peraturan
tersebut ditetapkan oleh Kepala Perwakilan Republik Indonesia dalam
bentuk Petunjuk Teknis.B2011

e. Bagaimana pelaksanaan pembangunan Gedung Kantor


menggunakan anggaran transfer yang berasal dari APBD?

BUMD

yang

1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah pasal 2 ayat (1) huruf b dinyatakan bahwa ruang
lingkup Peraturan Presiden ini meluputi Pengadaan Barang/Jasa untuk investasi
di lingkungan Bank Indonesia, Badan Hukum Milik Negara dan Badan Usaha
Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah yang pembiayaannya sebagian atau
seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD;
2. Pada penjelasan ayat tersebut diatas, dijelaskan yang dimaksud dengan
Pengadaan Barang/Jasa untuk investasi adalah pengadaan untuk belanja modal
dalam rangka penambahan aset dan/atau peningkatan kapasitas sebagaimana
tercantum dalam DPA. Penggunaan APBD dalam bentuk Penyertaan Modal
Daerah dalam bentuk transfer rekening yang digunakan oleh BUMD baik untuk
operasional maupun untuk investasi tidak wajib berpedoman kepada Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2010 jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
3. Dengan demikian, proses pembangunan Gedung Kantor BUMD yang
menggunakan anggaran transfer yang berasal dari APBD mengacu kepada
peraturan pengadaan yang ditetapkan direksi perusahaan dan bilamana ada
juga mengacu kepada peraturan daerah yang mengatur pengadaan di
BUMD.B1787

2. Perencanaan

a. Apakah paket pelelangan yang tidak ditayangkan dalam RUP dapat dilanjutkan
prosesnya dan PA yang tidak mengumumkan RUP diberikan sanksi?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 25 ayat (1) jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun
2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010
Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 25 ayat (1), PA mengumumkan
Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa di masing-masing K/L/D/I secara terbuka
kepada masyarakat luas setelah rencana kerja dan anggaran K/L/D/I disetujui oleh
DPR/DPRD. Pengumuman dilakukan sekurang-kurangnya di website KLDI, di
samping portal pengadaan nasional, dan papan pengumuman resmi. Jangka waktu
penayangan di website K/L/D/I dan portal pengadaan dilakukan sepanjang tahun;
2. Mengingat tugas mengumumkan secara luas Rencana Umum Pengadaan
merupakan tugas dan kewenangan Pengguna Anggaran, maka Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang tidak mengumumkan RUP dikenakan
sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan. Sedangkan pelelangan yang
dilakukan sebelum Pengumuman Rencana Umum Pengadaaan dilakukan dapat
dilanjutkan ke tahap berikutnya, sepanjang pelelangan yang dilakukan oleh ULP
sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku;
3. Bila terdapat perubahan yang tidak signifikan terhadap RUP yang sudah ditetapkan
(antara lain perubahan waktu pelaksanaan pekerjaan), cukup disesuaikan pada
pengumuman pelelangan/seleksi dan disesuaikan dengan kebutuhan dan ruang
lingkup pekerjaan. Untuk perubahan rencana umum pengadaan yang pada
pengumuman sebelumnya belum diumumkan, maka PA memiliki kewajiban untuk
mengumumkan perubahan tersebut, sebelum melakukan pelelangan.
b. Bagaimana apabila Pokja ULP hanya menayangkan pengumuman di papan
pengumuman resmi dan website K/L/D/I saja dan tidak menayangkan
pengumuman di LPSE?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 17 ayat (2) huruf d jo Peraturan Presiden Nomor 70
Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010
Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 17 ayat (2) dinyatakan bahwa
Salah satu tugas pokok dan kewenangan ULP/Pejabat Pengadaan yaitu
mengumumkan pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa di website K/L/D/I masingmasing dan papan pengumuman resmi untuk masyarakat serta menyampaikan ke
LPSE untuk diumumkan dalam Portal Pengadaan Nasional;
2. Mengacu pada butir 1 (satu) diatas, bilamana proses pengadaan hanya diumumkan
di Papan pengumuman dan/atau website, tidak termasuk diumumkan di LPSE, maka
proses pengadaan tersebut tidak sesuai dengan salah satu prinsip pengadaan yaitu
transparan. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai
Pengadaan Barang/Jasa bersifat jelas dan dapat diketahui secara luas oleh
Penyedia Barang/Jasa yang berminat serta oleh masyarakat pada umumnya.
(Penjelasan Pasal 5 huruf c);
3. Selanjutnya PA/KPA bersama Inspektorat agar meneliti proses pelelangan, apakah
terjadi pengaturan lelang sehubungan dengan tidak diumumkan di LPSE. Bilamana

terdapat pengaturan
gagal.B2110

lelang

maka

PA/KPA

dapat

menyatakan

pelelangan

3. Penganggaran
a. Bagaimana apabila dalam proses pelelangan terdapat pemotongan anggaran?
Bilamana perubahan anggaran dilakukan sebelum pemasukan penawaran, maka
dilakukan addendum dokumen pengadaan. Jika dilakukan adendum dokumen
pengadaan, maka jadwal pemasukan penawaran juga harus disesuaikan dengan
waktu yang dibutuhkan untuk melakukan adendum. Agar tersedia waktu yang cukup
bagi penyedia untuk melakukan perubahan/perubahan penawaran. Namun bilamana
pemotongan tersebut dalam tahap evaluasi penawaran maka proses pengadaan
dibatalkan dan pelelangan dinyatakan gagal. Karena sesuai dengan Peraturan
Presiden 54/2010 Pasal 13 yaitu PPK dilarang mengadakan ikatan perjanjian atau
menandatangani kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa apabila belum tersedia
anggaran atau tidak cukup tersedia anggaran yang dapat mengakibatkan
dilampaunya batas anggaran yang tersedia untuk kegiatan yang dibiayai dari
APBN/APBD.
b. Apa yang harus dilakukan bilamana terdapat pemotongan anggaran setelah
kontrak, apakah dimungkinkan adanya negosiasi ulang kontrak?
Untuk kontrak harga satuan, dapat dilakukan adendum volume. Namun harus
dilakukan secara hati-hati karena keterkaitan dengan volume yang dihasilkan dan
apa yang tercantum dalam DIPA. Bilamana output yang dihasilkan sama, maka
dapat dikurangkan untuk pekerjaan minor. Adendum kontrak tersebut dilakukan
setelah perubahan DIPA/DPA disahkan.
Untuk kontrak lump sum sebaiknya tidak dilakukan perubahan. Bilamana terpaksa
maka perubahan hanya dimungkinkan terjadi pada volume pekerjaan namun tidak
dimungkinkan terjadinya penyesuaian harga serta adanya pekerjaan tambah/kurang
(Peraturan Presiden 54/2010 Pasal 51 ayat (1)).
c. Bagaimana bila pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari 2 (dua) mata anggaran
yang berbeda pada PPK yang sama?
Apabila pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari 2 (dua) mata anggaran yang
berbeda pada PPK yang sama, maka pelelangan dapat dilakukan menjadi 1 (satu)
paket, namun pada pengumuman dicantumkan keterangan bahwa kegiatan tersebut
menggunakan 2 (dua) mata anggaran yang berbeda. Sedangkan untuk pelaksanaan
kegiatan yang dibiayai dari 2 (dua) mata anggaran yang berbeda dari PPK yang
berbeda, maka pelelangan dapat dilakukan menggunakan kontrak bersama antara
beberapa PPK dengan 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa untuk menyelesaikan
pekerjaan dalam waktu tertentu, sesuai dengan kebutuhan masing-masing PPK
yang menandatangani Kontrak (Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang
Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 53 ayat (2));

Kontrak Pengadaan Bersama merupakan Kontrak antara beberapa PPK dengan 1


(satu) Penyedia Barang/Jasa untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu tertentu,
sesuai dengan kebutuhan masing-masing PPK yang menandatangani Kontrak.
d. Bagaimana apabila dalam Pengadaan Barang/Jasa terdapat perubahan pagu
anggaran?
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah pasal 66 ayat (5) jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun
2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010
Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 66 ayat (5) dinyatakan bahwa
HPS digunakan sebagai dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang
sah untuk Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya dan Pengadaan
Jasa Konsultansi yang menggunakan metode Pagu Anggaran;
Dengan demikian, bilamana perubahan anggaran menghasilkan pagu anggaran
yang lebih kecil dari HPS maka dinyatakan pelelangan gagal, karena nilai HPS
diatas pagu anggaran. PA/KPA menyatakan pelelangan gagal dengan tindak lanjut
pelelangan baru dengan HPS baru sesuai dengan pagu anggaran yang tersedia;
Untuk pengurangan anggaran pada masa kontrak tidak dapat dilakukan, kecuali
terjadi gangguan industri lainnya sebagaimana dinyatakan melalui keputusan
bersama Menteri Keuangan dan menteri teknis terkait dan hanya dapat dilakukan
untuk kontrak harga satuan. Untuk kontrak lumpsum tidak dapat dilakukan
pemotongan anggaran. B1573
e. Bagaimana mengumumkan HPS kepada Penyedia agar tidak melampaui batas
yang telah ditetapkan mengingat pagu anggaran untuk masing-masing item
sudah dirinci?
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 66 ayat (2) jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun
2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010
Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 66 ayat (2) dinyatakan bahwa
ULP/Pejabat Pengadaan mengumumkan nilai total HPS berdasarkan HPS yang
ditetapkan oleh PPK;
Mengacu kepada ketentuan diatas, ULP/Pejabat Pengadaan hanya mengumumkan
nilai total HPS, sedangkan rincian harga satuan dalam perhitungan HPS bersifat
rahasia (penjelasan Pasal 66 ayat (3)). Penawaran yang tidak diperkenankan
melebihi HPS adalah total penawaran bukan rincian penawaran;
Dalam hal pagu anggaran untuk masing-masing item sudah ditetapkan secara rinci
didalam dokumen anggaran, maka PPK/Pokja ULP harus mengumumkan pagu
tersebut kepada peserta lelang karena penawaran masing-masing item pekerjaan
tersebut tidak diperkenankan melebihi pagu anggaran yang tercantum didalam
dokumen anggaran. B1469
f.

Apabila terdapat sisa anggaran, apakah diperbolehkan untuk digunakan pada


pekerjaan tambah pada paket yang bersangkutan?
Berdasarkan Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 Pasal 87 ayat (2) jo Peraturan
Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden
No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 87 ayat (2)

dinyatakan bahwa perubahan kontrak dengan menambah volume pekerjaan dapat


dilakukan dengan ketentuan tidak melebihi 10% (sepuluh perseratus) dari kontrak
awal serta anggarannya masih tersedia dan ada ijin dari DPRD untuk menggunakan
sisa anggaran. Dalam hal akibat pekerjaan tambah dimaksud dibutuhkan dan
melebihi 10% (sepuluh perseratus) dari kontrak awal, maka terhadap sisa anggaran
tersebut dapat dilakukan revisi DIPA dan menetapkannya sebagai paket terpisah
(paket baru). Selanjutnya, proses pemilihan penyedia untuk paket baru dimaksud
dilakukan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 jo
Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas
Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah. B2543

BAB II
PERSIAPAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH
1. Para Pihak Dalam Pengadaan Barang/Jasa
a. PA/KPA dan PPK
1. Apakah PA/KPA dapat bertindak sebagai PPK?
Untuk K/L/D/I, PA/KPA dapat bertindak sebagai PPK sesuai ketentuan pada UU
No.1 Tahun 2004 Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 6 ayat (2).
2. Apakah PA/KPA wajib bersertifikat?
PA/KPA yang bertindak sebagai PPK, maka PA/KPA dimaksud tidak wajib
bersertifikat.
3. Apakah PPK wajib ditunjuk oleh PA/KPA?
Berdasarkan UU No 1/ 2004 PA/KPA berwewenang untuk melakukan tindakan
yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja atau menandatangani
kontrak. Menurut Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah, PPK merupakan salah satu perangkat organisasi yang
harus dibentuk. PA/KPA menetapkan PPK (Pasal 8 ayat (1)) huruf c. dan
mendelegasikan kewenangan tersebut antara lain menandatangani kontrak
kepada PPK untuk memudahkan check and balance dalam proses pengadaan.
Penunjukan PPK dilakukan untuk mendukung terjadinya check and balance,
sehingga tidak terjadi pemusatan kekuasaan. Pengguna anggaran sebaiknya
melakukan pekerjaan yang jauh lebih visioner dan bermanfaat bagi stakeholders.
Bila Pengguna Anggaran sudah mendelegasikan sebagian kewenangannya
kepada PPK, maka PPK bertanggungjawab atas pelaksanaan pengadaan
barang/jasa.
4. Apakah PPK wajib bersertifikat dan berpendidikan minimal S1?
Menurut Pasal 12 ayat (1), PPK merupakan pejabat yang ditetapkan oleh PA/KPA
untuk melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa. Untuk ditetapkan sebagai PPK
harus memenuhi persyaratan diantaranya adalah memiliki Sertifikat Keahlian
Pengadaan Barang/Jasa (Pasal 12 ayat (2) g.). PPK pada Pemerintah
Provinsi/Kabupaten/Kota wajib memiliki sertifikat keahlian Pengadaan Barang/Jasa
paling lambat 1 Januari 2012 (Pasal 127 huruf c.). Penetapan PPK dilakukan
melalui SK Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Pasal 8 ayat (1)
huruf c dan pasal 12 ayat 1). PPK yang ditunjuk harus memenuhi persyaratan
manajerial dimana berpendidikan paling kurang Sarjana S1 dan memiliki
pengalaman paling kurang 2 (dua) tahun terlibat secara aktif dalam kegiatan yang
berkaitan dengan pengadaan barang/jasa. Dalam hal jumlah PNS yang memenuhi
persyaratan tersebut terbatas, maka dapat diganti dengan paling kurang golongan
IIIa atau disetarakan dengan golongan IIIa (Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun
2012 Pasal 12 ayat (4)).
5. Bagaimana solusinya jika SKPD tidak memiliki SDM yang memenuhi
persyaratan sebagai PPK sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan?
Bilamana tidak ada SDM yang memenuhi persyaratan sebagai PPK, maka
PA/KPA:

a. Mencari pejabat/staf dari SKPD lain yang memenuhi persyaratan untuk


ditetapkan sebagai PPK; atau;
Dalam hal tidak dapat dilakukan seperti huruf a di atas, maka PA/KPA
melakukan sendiri tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban
anggaran belanja dan mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam
batas anggaran yang telah ditetapkan (Untuk K/L/D/I, PA/KPA dapat bertindak
sebagai PPK sesuai ketentuan pada UU No.1 Tahun 2004 Pasal 4 ayat (2) dan
Pasal 6 ayat (2). Dengan demikian PA/KPA tersebut tidak wajib bersertifikat.
b. Untuk menghindari adanya perangkapan jabatan, diwajibkan agar pejabat/staf
di Instansi tersebut mengikuti ujian sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa
pemerintah atau ujian sertifikat berbasis komputer yang diselenggarakan oleh
Bina Sertifikasi Profesi, Deputi Bidang PPSDM. Informasi lebih lanjut mengenai
ujian sertifikasi dapat dilihat pada situs www.lkpp.go.id.
6. Apakah PPK harus merupakan pejabat struktural?
Personil yang dapat diangkat sebagai PPK adalah personil yang memenuhi
persyaratan sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden No.54 Tahun
2010 Pasal 12 jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 Pasal 12. Dengan
demikian, personil yang akan diangkat sebagai PPK tidak harus berasal dari
pejabat struktural.
7. Dapatkah PPK ditunjuk lebih dari 1 (satu) orang dalam 1 (satu) instansi?
Jumlah PPK diperkenankan lebih dari satu orang pada suatu satker bergantung
pada kebutuhan dan beban kerja, tetapi tidak perlu untuk setiap pengadaan
ditunjuk PPK baru.
8. Dalam menandatangani kontrak apakah PPK harus menunggu pendelegasian
dan pengesahan dari PA/KPA?
Dalam menandatangani kontrak PPK tidak perlu menunggu surat pendelegasian
dari PA, karena wewenang tersebut sudah didelegasikan oleh PA kepada PPK
(untuk menandatangani kontrak), sehingga PA tidak perlu lagi ikut
menandatangani kontrak.
9. Apakah fungsi PPTK? Dapatkah PPTK ikut menandatangani kontrak?
Berdasarkan Surat Edaran Bersama Menteri dalam Negeri Republik Indonesia
Nomor : 027/824/SJ dan Kepala LKPP nomor : 1/KA/LKPP/03/2011 tanggal 16
Maret 2011, Khusus untuk pemerintahan Daerah Kedudukan, Tugas Pokok, dan
wewenang Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Pengguna Anggaran (PA), dan
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), serta Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
(PPTK), sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010
tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Peraturan Pemeritah Nomor 58
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah jo. Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun
2007, maka disampaikan hal-hal sebagai berikut :
a. Dalam hal PA belum menunjuk dan menetapkan PPK, maka PA menunjuk
KPA yang ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk bertindak sebagai PPK. KPA
sebagai PPK dapat dibantu oleh PPTK;
b. Dalam hal kegiatan SKPD tidak memerlukan KPA seperti Kecamatan atau
Kelurahan, maka PA (Kepala Desa/Lurah/Camat) bertindak sebagai PPK
sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. Dengan

demikian Pengguna anggaran yang dapat menandatangani kontrak adalah PA


untuk tingkat kecamatan/kelurahan. Sedangkan penandatanganan kontrak
untuk unit kerja di pemerintah daerah didelegasikan kepada PPK atau KPA,
bukan dilakukan oleh PA.
c. Untuk Pengadaan Barang/Jasa yang sudah dilaksanakan sebelum terbitnya
surat edaran bersama ini, PA/KPA yang telah menunjuk dan menetapkan PPK
sesuai dengan tugas pokok dan kewenangannya dalam pengadaan
barang/jasa, maka:
a. PPK tetap melaksanakan tugas dan wewenang PA/KPA untuk menandatangai
kontrak sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun
2005
b. PPK dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh PPTK sesuai dengan
tugas dan kewenangannya sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 58 tahun 2005.
10. Apakah PPTK dapat merangkap sebagai panitia pengadaan atau PPK?
PPTK diperkenankan sebagai panitia pengadaan karena didalam Peraturan
Presiden No 54 Tahun 2010 PPTK tidak termasuk kedalam organisasi pengadaan.
PPTK dilarang menjadi panitia pengadaaan bila pejabat tersebut ditunjuk pula
menjadi PPK, yaitu pejabat berhak melakukan tindakan yang mengakibatkan
pengeluaran anggaran belanja yang menandatangani kontrak dan bukti
pembayaran.
11. Dapatkah PPK yang sudah ditetapkan oleh PA/KPA mengundurkan diri?
Bagaimana jika PPK dimaksud cuti, apakah tugas dan kewenangannya dapat
digantikan oleh orang lain?
PPK di satker pemerintah yang mengundurkan diri, dapat diganti dengan pejabat
lainnya oleh PA/KPA. Masing masing pejabat tersebut bertanggung jawab
terhadap proses pengadaan sesuai dengan masa waktu penugasan yang
ditetapkan oleh PA/KPA. Jika PPK berhalangan tetap, maka penandatanganan
kontrak dapat dilakukan oleh PA/KPA. Namun jika PPK tersebut cuti, maka
penandatanganan kontrak menunggu sampai PPK tersebut selesai melaksanakan
cuti, atau dapat dilakukan oleh PA/KPA yang mengangkat PPK tersebut.
12. Apakah penetapan pemenang merupakan hal yang dapat didelegasikan PA
kepada KPA?
Kewenangan PA yang dapat dilimpahkan kepada KPA terkait dengan pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah adalah kewenangan PA sebagaimana
ditetapkan Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 pasal 8. PA dapat melimpahkan
seluruh atau sebagian kewenangan tersebut kepada KPA.
Kewenangan yang dapat dilimpahkan PA kepada KPA termasuk kewenangan
untuk penetapan pemenang paket Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa
Lainnya dengan nilai diatas Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah) atau
paket Pengadaan Jasa Konsultansi dengan nilai diatas Rp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah). Pelimpahan kewenangan tersebut dapat ditindaklanjuti
dengan ketentuan setingkat Keputusan Menteri.
b. Pokja ULP
1. Apakah PNS yang sedang mendapat tugas belajar diperbolehkan untuk menjadi

anggota Kelompok Kerja ULP?


Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 17 ayat (1) jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun
2012 Pasal 17 ayat (1), dinyatakan bahwa Anggota Kelompok Kerja ULP/Pejabat
Pengadaan memenuhi persyaratan antara lain memiliki integritas, disiplin dan
tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;
Dalam hal seorang PNS sedang melakukan tugas belajar, maka PNS dimaksud tidak
dapat ditunjuk menjadi Anggota Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan apabila
yang bersangkutan ditugaskan diluar kantor atau dibebastugaskan selama tugas
belajar tersebut. Hal ini mengingat Anggota Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan
harus selalu berada ditempat untuk kemudahan koordinasi proses pengadaan
barang/jasa. B1112
2. Apakah ULP dapat dibentuk lebih dari 1 (satu) unit?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 1 angka 8 jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun
2012 Pasal 1 angka 8, Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut ULP
adalah unit organisasi pemerintah yang berfungsi melaksanakan Pengadaan
Barang/Jasa di K/L/D/I yang bersifat permanen, dapat berdiri sendiri atau melekat
pada unit yang sudah ada;
2. ULP dibentuk oleh Pimpinan K/L/I dan Kepala Daerah (Pasal 14 ayat (2)). Unit ini
dimaksudkan untuk melayani seluruh unit kerja yang ada di K/L/I dan Pemerintah
Daerah. Mengingat ULP merupakan unit layanan yang berbasis pada keahlian dan
fungsi, maka disarankan pembagian POKJA ULP berdasarkan jenis pengadaan
yang terdiri dari: pengadaan barang, pekerjaan konstruksi, jasa lainnya, dan jasa
konsultansi. POKJA-POKJA tersebut dapat diklasifikasi lebih rinci menjadi bidang
pekerjaan dari masing-masing jenis pengadaan, bilamana memungkinkan;
3. K/L/D/I diwajibkan mempunyai ULP yang dapat memberikan pelayanan/pembinaan
dibidang Pengadaan Barang/Jasa (Pasal 14 ayat (1)). Yang berhak membentuk
ULP pada suatu Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah (Pasal 14 ayat (2)).
Jadi setiap SKPD tidak harus membentuk ULP. SKPD yang ada di daerah dapat
menunjuk ULP yang telah dibentuk Kepala Daerah untuk melaksanakan
pengadaan Barang/Jasa;
4. Mengacu pada butir (3) di atas, ULP yang dibentuk oleh Kepala Daerah sebaiknya
hanya berjumlah 1 (satu) unit. Meskipun demikian jumlah ULP di masing-masing
Pemerintah Daerah dapat disesuaikan dengan rentang kendali dan kebutuhan.
ULP dapat dibentuk setara dengan eselon II, eselon III atau eselon IV sesuai
dengan kebutuhan dalam mengelola Pengadaan Barang/Jasa (penjelasan Pasal
14 ayat (2));
5. Peraturan terkait Unit layanan Pengadaan dapat menggunakan Peraturan Kepala
LKPP No: 05 Tahun 2012 tentang Unit Layanan Pengadaan (ULP).B962

BAB III
PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA MELALUI SWAKELOLA
1. Pelaksanaan Swakelola Oleh Kelompok Masyarakat Pelaksana Swakelola.
a. Apakah pekerjaan konstruksi pembangunan sekolah dapat dilakukan dengan
swakelola oleh pihak sekolah?
1.

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Pasal 31 huruf b, c, dan d : pengadaan secara swakelola
oleh kelompok masyarakat pelaksana swakelola diserahkan kepada kelompok
masyarakat pelaksana swakelola yang mampu melaksanakan pekerjaan, dan untuk
pengadaan pekerjaan konstruksi hanya dapat berbentuk rehabilitasi, renovasi, dan
konstruksi sederhana. Sedangkan untuk konstruksi bangunan baru yang tidak
sederhana dibangun oleh K/L/D/I penanggungjawab anggaran untuk selanjutnya
diserahkan kepada kelompok masyarakat sesuai dengan peraturan perundangundangan. Dijelaskan dalam pasal tersebut bahwa bangunan baru yang tidak
sederhana antara lain konstruksi bangunan gedung yang melebihi 1 (satu) lantai.

2.

Berdasarkan UU No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi Pasal 9 ayat (1) dan
(2), dinyatakan bahwa perencana dan pengawas konstruksi orang perseorangan
harus memiliki sertifikat keahlian dan pelaksana konstruksi orang perseorangan harus
memiliki sertifikat keterampilan kerja dan sertifikat keahlian kerja.

3.

Berdasarkan peraturan-peraturan tersebut di atas, pelaksanaan pekerjaan konstruksi


secara swakelola harus diserahkan kepada kelompok masyarakat pelaksana
swakelola yang mampu melaksanakan kegiatan konstruksi tersebut. Pelaksana
swakelola pekerjaan konstruksi yang dianggap mampu melaksanakan kegiatan
adalah yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud di butir 2 tersebut di atas.
Selain itu rehabilitasi ruang kelas rusak berat dan/atau pembangunan ruang
perpustakaan berupa bangunan gedung sederhana yang dapat dilakukan secara
swakelola oleh kelompok masyakarat adalah bangunan sederhana yang tidak lebih
dari 1 (satu) lantai. Dalam hal rehabilitasi ruang kelas rusak berat dan/atau
pembangunan ruang perpustakaan lebih dari 1 (satu) lantai maka dilakukan melalui
penyedia pekerjaan konstruksi.

4.

Selain hal-hal tersebut di atas, berdasarkan Pasal 22 Peraturan Presiden No. 54


Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah maka pengadaan
barang/jasa dilaksanakan berdasarkan Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa
yang telah disusun oleh PA. Rencana tersebut sebagaimana tercantum dalam
dokumen anggaran K/L/D/I yang bersangkutan. Dalam hal pelaksanaan kegiatan
secara swakelola maka struktur anggaran dalam dokumen anggaran harus dirinci dan
diberi keterangan untuk dilakukan secara swakelola sesuai dengan Pasal 22 ayat (3)
c 2) Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah dan aturan tentang dokumen anggaran. Dalam hal dokumen anggaran
menyebutkan belanja modal (berdasarkan kode mata anggaran kegiatan yang tertulis
di dokumen anggaran) dan diberi keterangan satuan berupa paket, maka
pengadaannya harus dilakukan melalui penyedia pekerjaan konstruksi. B 2552

b. Bagaimana apabila swakelola tersebut bukan merupakan kompetensi K/L/D/I,


seperti pelaksanaan pekerjaan konstruksi pada DAK Pendidikan?

1. Swakelola dilakukan bilamana pekerjaan tersebut bertujuan untuk meningkatkan


kemampuan dan/atau memanfaatkan kemampuan teknis sumber daya manusia
sesuai dengan tugas pokok K/L/D/I (Peraturan Presiden 54/2010 Pasal 26 ayat (2)a).
Berdasarkan hal itu, swakelola yang dilakukan oleh K/L/D/I yang bukan merupakan
kompetensi K/L/D/I maka bisa dengan pola Swakelola Tipe II atau Swakelola Tipe III
atau melalui penyedia;
2. Untuk pekerjaan konstruksi pada DAK Pendidikan, dapat diswakelolakan kepada
komite sekolah apabila memiliki kemampuan secara teknis dan sesuai dengan PP 29
Tahun 2000 dan UU 18/1999;
3. Bilamana dilakukan swakelola oleh Komite Sekolah dan posisi Kepala Sekolah
sebagai KPA maka pekerjaan tersebut tidak dapat disubkontrak kepada pihak lain.

2. Pelaksanaan Swakelola oleh Instansi Pemerintah Lain.


Bagaimanakah tahapan swakelola untuk kegiatan pelatihan K/L/D/I dengan instansi
pemerintah lain?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 26 ayat (1) jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun
2012 Pasal 26 ayat (1), dinyatakan bahwa swakelola merupakan kegiatan Pengadaan
Barang/Jasa dimana pekerjaannya direncanakan, dikerjakan dan/atau diawasi sendiri
oleh K/L/D/I sebagai penanggung jawab anggaran, instansi pemerintah lain dan/atau
kelompok masyarakat;
2. Mengacu kepada ketentuan di atas, pengadaan pendidikan dan pelatihan bagi
pegawai yang bekerjasama dengan Pusdiklat yang merupakan K/L/D/I dapat
dilakukan dengan Swakelola tipe 2 yaitu dilaksanakan oleh instansi pemerintah lain.
Kepala K/L/D/I melakukan (Memorandum Of Understanding) dengan Kepala Pusdiklat
dan PPK K/L/D/I membuat perjanjian (kontrak) dengan Pejabat Penanggung jawab
Kegiatan di Pusdiklat untuk proses pengadaan tersebut. Para pihak dalam pekerjaan
swakelola tidak diperkenankan menambahkan unsur keuntungan;
3. Bilamana dalam kegiatan swakelola tersebut terdapat kegiatan pengadaan
barang/jasa lainnya yang bernilai sampai dengan Rp.100.000.000,00 (seratus juta
rupiah) dan Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) untuk jasa konsultansi, maka
proses pengadaannya dilakukan melalui pengadaan langsung oleh pejabat
pengadaan, sedangkan jika melebihi nilai tersebut dilakukan dengan
pelelangan/seleksi. Mengenai pembayaran biaya pendidikan kepada lembaga
pendidikan dilakukan secara at cost sesuai tarif yang diberlakukan lembaga tersebut
kepada masyarakat luas. Bilamana belum ada tarif resmi maka semua bukti
pengeluaran disampaikan kepada PPK K/L/D/I untuk pertanggungjawaban keuangan.
B1867

BAB IV
PENGADAAN BARANG/JASA MELALUI PENYEDIA BARANG/JASA
1. Persiapan Pengadaan
a. Spesifikasi Teknis
i. Dapatkah Penyedia mengganti nomor SNI suatu barang yang telah ditetapkan,
hal ini dilakukan mengingat tidak adanya perbedaan fungsi antara barang
tersebut?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Lampiran II.A.2.3) b) (4), penetapan spesifikasi teknis
merupakan tugas pokok dan kewenangan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Dalam hal terdapat hal-hal yang kurang jelas, maka dapat berkonsultasi kepada
instansi teknis yang memiliki memiliki kompetensi di bidang tersebut;
2. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan spesifikasi teknis, antara lain
spesifikasi teknis benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna/ penerima
akhir; tidak mengarah kepada merek/produk tertentu, kecuali untuk pengadaan
suku cadang; memaksimalkan penggunaan produksi dalam negeri; dan
memaksimalkan penggunaan Standar Nasional Indonesia (SNI);
3. Di samping itu dalam menetapkan spesifikasi teknis barang/jasa, PPK harus
menetapkan spesifikasi teknis minimal yang rinci dan terukur untuk memastikan
barang yang diserahkan nantinya sesuai dengan kebutuhan. B964
ii.

Dapatkah Penyedia menawarkan barang dengan tahun prosuksi yang lebih


muda dari yang telah ditetapkan Pokja ULP?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Lampiran I.B bahwa PA mengidentifikasi kebutuhan
barang/jasa yang diperlukan untuk instansinya dengan terlebih dahulu
menelaah kelayakan barang/jasa yang telah ada/dimiliki/dikuasai atau riwayat
kebutuhan barang/jasa dari kegiatan yang sama untuk memperoleh kebutuhan
riil;
2. Mengacu kepada ketentuan tersebut, apabila setelah dilakukan identifikasi
kebutuhan bahwa persyaratan pencantuman tahun pembuatan sesuai dengan
kebutuhan pekerjaan dan kondisi lapangan, maka hal tersebut dapat dituangkan
dalam Dokumen Pengadaan;
3. Dalam hal dituangkan dalam Dokumen Pengadaan tahun pembuatan yang
ditetapkan adalah Tahun 2008, maka apabila terdapat peserta yang
menawarkan alat dengan tahun pembuatan yang lebih muda (setelah Tahun
2008) dapat diterima dan apabila diatas tahun tersebut maka penawarannya
dapat digugurkan. B2604

2. Penetapan Metode Pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya


a. Pengadaan Kendaraan Bermotor
1. Bagaimana bila pengadaan kendaraan bermotor harus segera dilaksanakan
namun daftar harga kendaraan yang dipublikasikan via INAPROC belum
ditayangkan? dapatkah dilakukan dengan pelelangan umum dengan
mengkompetisikan main dealer?
Sesuai ketentuan pasal 38 ayat (5) huruf e beserta penjelasannya, penunjukan
langsung kendaraan bermotor dapat dilakukan ketika harganya sudah

dipublikasikan secara luas pada portal penyedia dan portal pengadaan nasional.
Apabila publikasi belum ditayangkan, maka penunjukan langsung tidak dapat
dilaksanakan. Pengadaan dapat dilaksanakan dengan cara pelelangan umum,
dengan mengkompetisikan antar merk kendaraan.
2. Mengacu kepada Perka
LKPP No. 6 Tahun 2011. Apakah prosedur
penunjukan langsung dilakukan melalui LPSE atau manual saja ?
Pengadaan kendaraan bermotor dilaksanakan dengan penunjukan langsung
dengan harga khusus pemerintah sepanjang sudah dipublikasikan pada portal
penyedia dan portal pengadaan nasional. Jadwal penunjukan langsung diserahkan
sepenuhnya kepada Pokja ULP. Penunjukan langsung dimaksud dilaksanakan
melalui aplikasi sistem penunjukan langsung kendaraan pemerintah, melalui LPSE
terdekat.
2. Dapatkah pengumuman dilakukan melalui LPSE namun prosesnya manual
(bukan lpse)?
Mengacu pada Perka LKPP No. 6 Tahun 2011 (khususnya pasal 1 angka 13 dan
pasal 4 ayat (2)), maka proses penunjukan langsung kendaraan bermotor
dilaksanakan secara elektronik melalui aplikasi yang sudah tersedia dan dapat
diakses melalui LPSE.
3. Apakah HPS kendaraan mengacu pada SPK PL pengadaan kendaraan
pemerintah dan harga on the road?
HPS disusun dengan mengacu pada acuan HPS yang terdapat pada katalog
kendaraan (apabila sudah ditayangkan), dan HPS tersebut adalah on the road plat
merah.
4. Apakah kendaraan alat berat seperti traktor, truk, eksavator milik pemda
dapat dilakukan Penunjukan Langsung?
Penunjukan langsung kendaraan dapat dilakukan karena adanya publikasi harga
pada website penyedia dan portal pengadaan nasional. Untuk pengadaan alat
berat, apabila masih dapat dilakukan kompetisi, maka prosesnya tetap harus
dilaksanakan dengan cara pelelangan umum, dengan mengkompetisikan antar
merk
5. Bagaimana dengan pengadaan motor trail? Dapatkah langsung menyebut
merk motor?
Bila motor trail sudah masuk dalam Inaproc maka dapat dilakukan penunjukkan
langsung, bila motor trail tidak termasuk kedalam daftar kendaraan yang
pengadaannya dapat dilaksanakan dengan penunjukan langsung (pihak pabrikan
tidak berminat dalam proses kontrak payung). Proses pengadaaan dilaksanakan
dengan cara pelelangan umum, pelelangan sederhana, atau pengadaan langsung,
tergantung nilai total HPS nya.
Spesifikasi teknis tidak dapat mengarah pada merk tertentu, sehingga menyebut
merk kendaraan juga tidak diperkenankan. dalam proses pelelangan, spesifikasi

disusun sehingga sekurang kurangnya terdapat tiga penyedia yang dapat mengikuti
pelelangan.
6. Bagaimana apabila dealer resmi di kota yang bersangkutan tidak
menyediakan harga GSO untuk kendaraan roda dua sementara barang yang
diadakan hanya 4 unit. Apakah penunjukan langsung ke dealer atau dapatkah
langsung kepada pihak ke tiga?
Penunjukan langsung hanya dapat dilaksanakan kepada penyedia yang tertayang
pada portal pengadaan nasional beserta dengan merk dan tipe kendaraannya.
Untuk pabrikan/atpm/main dealer/dealer yang tidak mengikuti kontrak payung,
maka pengadaannya dilaksanakan dengan cara pelelangan umum, dengan peserta
para pabrikan/atpm/main dealer/dealer tersebut. pengadaan kendaraan tidak dapat
dilaksanakan oleh pihak ketiga (rekanan)
7. Penunjukan langsung dilakukan dengan harga dari portal pengadaan nasional
dengan tidak merubah bentuk. Bagaimana apabila mengingankan kendaraan
diluar spesifikasi yang telah ditentukan? misalnya spesifikasi mobil memiliki
AC single blower, namun menginginkan AC double blower ?
Salah satu acuan penunjukan langsung kendaraan pemerintah adalah Peraturan
Kepala LKPP Nomor 6 Tahun 2011. Dalam Perka tersebut, salah satu persyaratan
penunjukan langsung adalah kendaraan yang spesifikasinya ditetapkan dalam surat
perjanjian. Dengan demikian, penunjukan langsung hanya dapat dilakukan untuk
kendaraan yang spesifikasi teknisnya sudah ditetapkan/ditayangkan pada portal
pengadaan nasional. Penambahan spesifikasi diluar spesifikasi standar, dilakukan
sesuai ketentuan pengadaan (pengadaan langsung/pelelangan)
8. Dalam proses pengadaan kendaraan bermotor terdapat tahap negosiasi,
apakah dimungkinkan untuk terjadi pengurangan harga?
Apabila harga sudah dapat dilihat pada portal pengadaan nasional maka harga
yang ditayangkan merupakan acuan dalam penyusunan hps, sehingga dalam
pelaksanaan penunjukan langsung, tetap harus dilakukan negosiasi. Harga setelah
negosiasi harus lebih rendah dari harga plat hitam untuk merk dan tipe yang sama,
pada periode tersebut.
9. Apakah data yg sudah diupload di portal pengadaan nasional sudah fix atau
masih dimungkinkan terjadinya perubahan?
Data yang sudah ditayangkan adalah data hasil konfirmasi dan negosiasi harga,
perubahan harga dimungkinkan apabila terjadi kebijakan pabrikan / atpm dalam hal
harga, atau akibat dari negosiasi yang akan dilakukan dalam interval tiga bulan
sekali.
10. Dapatkah pengadaan kendaraan bermotor dilakukan oleh penyedia usaha
kecil karena nilai pengadaannya di bawah Rp. 500 juta?
Peserta pelelangan/pengadaan langsung untuk pengadaan kendaraan bermotor
adalah dealer atau main dealer, bukan penyedia golongan kecil.

b. Pengadaan pengacara
Bagaimanakah metode pemilihan penyedia yang tepat untuk pengadaan
pengacara?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Pasal 44 ayat (1), dinyatakan bahwa Penunjukan Langsung terhadap 1
(satu) Penyedia Jasa Konsultansi dapat dilakukan dalam keadaan tertentu. Menurut
Pasal 44 ayat (2) e., salah satu kriteria keadaan tertentu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), meliputi pekerjaan jasa konsultansi di bidang hukum meliputi
konsultan hukum/advokat atau pengadaan arbiter yang tidak direncanakan
sebelumnya, untuk menghadapi gugatan dan/atau tuntutan hukum dari pihak
tertentu kepada Pemerintah, yang sifat pelaksanaan pekerjaan dan/atau
pembelaannya harus segera dan tidak dapat ditunda;
2. Mengacu pada ketentuan butir 1 (satu) di atas, Pengadaan Jasa Konsultan
Hukum/Advokat dapat dilaksanakan melalui penunjukan langsung jika memenuhi
kriteria sebagaimana tercantum dalam Pasal 44 ayat (2) e. Penunjukan langsung
dilakukan melalui proses prakualifikasi terhadap 1 (satu) Penyedia Jasa Konsultansi
(Pasal 44 ayat (3));
3. Dalam melakukan proses penunjukan langsung harus dilakukan negosiasi baik
teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat
dipertanggungjawabkan (Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 Pasal 38 ayat (3)),
mengingat dalam penunjukan langsung tidak terjadi kompetisi.B1609
c. Pengadaan makan minum tidak rutin
Bagaimanakah metode pemilihan penyedia yang tepat untuk pengadaan makan
minum yang sifatnya tidak rutin/tidak dapat diprediksi volumenya?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah pasal 36 ayat (1), dinyatakan bahwa Pemilihan Penyedia
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya pada prinsipnya dilakukan melalui
metode Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi;
2. Mengacu kepada ketentuan butir (1) diatas, pengadaan konsumsi bernilai diatas
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan sifatnya rutin seperti makan minum
para pegawai dilakukan dengan pelelangan umum/sederhana;
3. Dalam hal ini, Saudara dapat mencantumkan jenis-jenis menu dan penyajian yang
diinginkan dalam Dokumen Pengadaan. Kontrak yang digunakan adalah Kontrak
Harga Satuan mengingat pelaksanaan disesuaikan dengan kebutuhan dan
pembayarannya sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan;
4. Sedangkan untuk pengadaan konsumsi yang sifatnya tidak rutin seperti jamuan
makan untuk acara tertentu, dapat dilakukan dengan pengadaan langsung bila
nilainya paling tinggi Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).B996

d. Pengadaan Oli/Minyak Pelumas


Bagaimanakah metode pemilihan penyedia yang tepat untuk pengadaan
oli/minyak pelumas yang sifatnya tidak rutin/tidak dapat diprediksi volumenya?

1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah pasal 36 ayat (1) dinyatakan bahwa pemilihan Penyedia
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya pada prinsipnya dilakukan melalui
metode Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi;
2. Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) diatas, pengadaan minyak pelumas
yang pada dasarnya dapat dilakukan oleh banyak Penyedia dilakukan dengan
Pelelangan Umum. Bilamana minyak pelumas harus berasal dari merek tertentu
sesuai dengan alasan kompatibilitas dengan kendaraan/alat berat yang dinyatakan
oleh pabrikan, maka Pokja ULP dapat melakukan pelelangan umum/sederhana
untuk minyak pelumas merek dimaksud. Bilamana harga untuk minyak pelumas
merek tersebut sama untuk seluruh Penyedia, maka dapat dilakukan dengan
Penunjukan Langsung kepada salah satu Penyedia terdekat.B1864

e. Pengadaan Orchestra/Artis
Bagaimanakah metode pemilihan penyedia yang tepat untuk pengadaan
orchestra/artis tertentu
1. Dalam menentukan pihak pengisi acara kegiatan rapat paripurna istimewa
dimaksud, Saudara harus melakukan identifikasi kebutuhan terhadap keperluan
kegiatan tersebut. Hasil identifikasi kebutuhan riil barang/jasa tersebut dituangkan
dalam rencana kerja pengadaan, spesifikasi, HPS dan draf Kontrak;
2. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 38 ayat (4) huruf d bahwa Penunjukan Langsung
terhadap 1 (satu) Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya dapat
dilakukan dalam hal pengadaan Barang khusus/Pekerjaan Konstruksi khusus/Jasa
Lainnya yang bersifat khusus yang spesifik dan hanya dapat dilaksanakan oleh 1
(satu) Penyedia Barang/Jasa Lainnya karena 1 (satu) pabrikan, 1 (satu) pemegang
hak paten, atau pihak yang menjadi pemenang pelelangan untuk mendapatkan izin
dari pemerintah;
3. Mengacu kepada butir (2) diatas, mengingat pengadaan orkestra dan penyanyi
yang akan mengisi acara tersebut hanya dapat dipenuhi oleh 1 (satu) penyedia,
maka pengadaannya dapat dilakukan penunjukan langsung dengan klarifikasi dan
negosiasi kewajaran harga.B1978
f.

Pekerjaan Kesatuan Konstruksi


Dapatkah Penyedia yang telah dinyatakan wanprestasi pada suatu paket
pekerjaan konstruksi dapat ditunjuk menjadi Penyedia kembali untuk pekerjaan
lanjutan mengingat pekerjaan tersebut merupakan Kesatuan Konstruksi?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah pasal 93 ayat (1) huruf b dinyatakan bahwa PPK dapat
memutuskan Kontrak secara sepihak apabila Penyedia Barang/Jasa lalai/cidera

janji dalam melaksanakan kewajibannya dan tidak memperbaiki kelalaiannya


dalam jangka waktu yang telah ditetapkan;
2. Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) diatas, PPK dapat melakukan
pemutusan Kontrak terhadap Penyedia yang melakukan tindakan wanprestasi.
Penyedia dimaksud juga harus membayar denda sesuai yang dinyatakan dalam
kontrak dan dikenakan sanksi Daftar Hitam;
3. Sisa pekerjaan yang belum selesai dilakukan dapat dilelangkan kembali pada
tahun anggaran berikutnya. Namun demikian tidak dapat dilakukan dengan
Penunjukan Langsung kepada Penyedia sebelumnya, karena Penyedia dimaksud
sudah melakukan tindakan wanprestasi;
4. Peraturan Pemerintah No.29 Tahun 2000 pasal 12 ayat (1).a.5 yang menyatakan
bahwa Penunjukan Langsung pelaksana konstruksi berlaku untuk pekerjaan
lanjutan yang secara teknis merupakan kesatuan konstruksi yang sifat
pertanggungannya terhadap kegagalan bangunan tidak dapat dipecah-pecah dari
pekerjaan yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Penetapan suatu pekerjaan
memiliki suatu kesatuan konstruksi didasarkan pada justifikasi teknis dari instansi
teknis terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum atau Balai Teknis Pekerjaan Umum;
5. Namun demikian, Penunjukan Langsung pekerjaan yang memiliki kesatuan
konstruksi tidak dapat dilakukan kepada Penyedia yang sudah melakukan tindakan
wanprestasi. Dengan demikian, pelaksanaan pekerjaan lanjutan dimaksud, harus
dilakukan dengan Pelelangan Umum (pasal 36 ayat (1)).
g. Pekerjaan Konstruksi Terintegrasi
Dalam Pekerjaan Konstruksi terintegrasi, apakah dimungkinkan apabila
menggunakan Kontrak Berbasis Kinerja (Performance Based Contract)?
1. Mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi Pasal 13, pekerjaan yang dapat dilakukan dengan layanan jasa
konstruksi secara terintegrasi adalah pekerjaan yang bersifat kompleks,
memerlukan teknologi tinggi, mempunyai risiko tinggi dan memiliki biaya besar;
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria pekerjaan yang dilakukan secara
terintegrasi ditentukan oleh Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang
konstruksi- dalam hal ini Menteri Pekerjaan Umum RI;
3. Mengacu pada PP No. 29 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Pasal 30
dinyatakan bahwa ketentuan keteknikan yang meliputi persyaratan keselamatan
umum, konstruksi bangunan, mutu hasil pekerjaan, mutu bahan dan atau
komponen bangunan, dan mutu peralatan sesuai dengan standar atau norma yang
berlaku diatur oleh Menteri teknis yang bersangkutan;
4. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 54 dan penjelasannya dinyatakan bahwa kontrak
pengadaan pekerjaan terintegrasi merupakan kontrak pengadaan pekerjaan
konstruksi yang bersifat kompleks dengan menggabungkan kegiatan perencanaan,
pelaksanaan dan/atau pengawasan. Salah satu model kontrak pekerjaan
terintegrasi adalah kontrak berbasis kinerja (Performance Based Contract). Proses
pemilihan penyedia barang/jasa untuk pekerjaan terintegrasi dengan kontrak
berbasis kinerja dimungkinkan sepanjang memenuhi prinsip bersaing dan adil/tidak

diskriminatif dengan tetap memperhitungkan segala resikonya termasuk pada


masa pemeliharaannya;
5. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka Menteri Pekerjaan Umum RI
memiliki kewenangan untuk menentukan jenis/model kontrak pekerjaan
terintegrasi maupun menentukan besaran masa jaminan pemeliharaan dalam
rangka menjamin terwujudnya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.B778

h. Pekerjaan Kompleks
Dapatkah pekerjaan konstruksi yang merupakan pekerjaan kompleks dilkakukan
dengan metode pascakualifikasi mengingat waktu yang tidak mencukupi?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 56 ayat (9) a., dinyatakan bahwa pascakualifikasi
dilaksanakan untuk pelelangan umum, kecuali pelelangan umum untuk pekerjaan
kompleks;
2. Mengacu pada ketentuan di atas, apabila pada pekerjaan konstruksi yang bersifat
kompleks, maka pekerjaan tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan
pascakualifikasi. Untuk pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa
Lainnya yang bersifat kompleks dilaksanakan dengan prakualifikasi;
3. Bilamana waktu untuk pengadaan barang/jasa tidak mencukupi, maka PPK dan
Panitia Pengadaan dapat mempercepat jadwal pelelangan. Hal ini dapat dilakukan
dengan mempersingkat proses pembukaan dokumen penawaran, evaluasi
dokumen penawaran, penilaian dan pembuktian kualifikasi, usulan calon
pemenang, penetapan pemenang, dan pengumuman pemenang, yang semua
prosesnya dapat dilakukan percepatan;
4. Dalam hal tidak dapat dilaksanakan sebagaimana tercantum dalam butir 3 (tiga) di
atas, maka PPK dapat meminta kesanggupan Penyedia untuk mempercepat
penyelesaian pekerjaan tersebut dengan memaksimalkan sumber daya yang
dimilikinya. Kesepakatan perubahan ini dilakukan sebelum penandatanganan
kontrak dan harus dengan persetujuan pihak penyedia.B1981
i.

Pemberlakuan Surat Izin


1) SIUJK dan Gred
Bagaimana ketentuan persyaratan surat izin untuk pekerjaan konstruksi dan
penggunaan gred?
1. Berdasarkan Undang Undang No.18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi pasal
8 dinyatakan bahwa perencana konstruksi, pelaksana konstruksi dan pengawas
konstruksi yang berbentuk badan usaha harus memenuhi ketentuan tentang
perizinan usaha dibidang jasa konstruksi dan memiliki sertifikat, klasifikasi dan
kualifikasi perusahaan jasa konstruksi;
2. Berdasarkan Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah pasal 19 ayat (1) huruf a dinyatakan bahwa Penyedia
Barang/Jasa dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa wajib memenuhi
persyaratan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan untuk
menjalankan kegiatan/usaha. Penyedia juga wajib memiliki kemampuan pada
bidang pekerjaan yang sesuai untuk Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Koperasi

Kecil serta kemampuan pada subbidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha non
kecil (pasal 19 ayat (1) huruf g);
3. Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) dan (2) diatas, Penyedia jasa
konstruksi berbentuk badan usaha yang mengikuti proses pelelangan harus
memiliki SIUJK (Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi);
4. Persyaratan Kualifikasi Penyedia Jasa Konstruksi/Gred dalam pelelangan Jasa
Konstruksi harus mengacu kepada Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum
No.16/SE/M/2010 yang mengatur bahwa Gred 2 s.d. 4 termasuk usaha kecil dan
Gred 5 s.d. 7 termasuk usaha non kecil. Paket pekerjaan sampai dengan
Rp.2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) hanya diperuntukan bagi
usaha kecil, kecuali untuk paket pekerjaan yang menuntut kompetensi teknis
yang tidak dapat dipenuhi oleh Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil
(pasal 100 ayat (3));
5. Penjelasan lebih lanjut mengenai kualifikasi usaha berdasarkan Gred, dapat
dikonsultasikan dengan instansi teknis terkait yang memiliki kewenangan dalam
hal ini yaitu Kementerian Pekerjaan Umum. B1610
2) SBU
1. Berdasarkan
Barang/Jasa
Pengadaan
diskriminatif
Presiden ini;

Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Pemerintah Pasal 56 ayat (10), dinyatakan bahwa ULP/Pejabat
dilarang menambah persyaratan kualifikasi yang bertujuan
serta diluar yang telah ditetapkan dalam ketentuan Peraturan

2. Mengacu pada butir 1 (satu) di atas, ULP/Pejabat Pengadaan tidak dapat


mempersyaratkan Sertifikat Badan Usaha (SBU) dalam persyaratan kualifikasi
untuk semua pekerjaan jasa konsultansi non konstruksi, kecuali jika terdapat
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dari Peraturan Presiden No.54
Tahun 2010 yang mengatur hal tersebut;
3. Untuk menilai kompetensi dan spesialisasi dari konsultan tersebut, dapat diminta
referensi atau berita acara serah terima pekerjaan dari Pejabat Pembuat
Komitmen sebelumnya mengenai pengalaman dari konsultan terhadap
pekerjaan-pekerjaan yang sudah dilaksanakan sebelumnya.B1000
3) Surat Uji Kelaikan
Dalam hal pengadaan kendaraan untuk sampah, dapatkah Penyedia
melampirkan surat pernyataan uji kelaikan perpanjangan? Hal ini mengingat
surat izin yang lama sudah habis masa berlakunya?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Lampiran V B. 1. f. 7) c), Penawaran yang memenuhi
syarat adalah penawaran yang sesuai dengan ketentuan, syarat-syarat dan
spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan, tanpa ada
penyimpangan yang bersifat penting/pokok atau penawaran bersyarat;
2. Mengacu pada butir (1) di atas, maka surat pernyataan lulus uji kelaikan
kendaraan harus masih berlaku saat pemasukan penawaran. Peserta yang tidak
dapat memenuhi persyaratan dalam dokumen pengadaan tidak dapat

memperbaiki/merubah dokumen
penawaran (post bidding).B869
j.

penawarannya

dalam

tahap

evaluasi

Pemilihan Jasa Konsultansi


Bagaimana proses seleksi jasa konsultansi yang menggunakan Kontrak Tahun
Jamak?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 52 ayat (2), Kontrak Tahun Jamak merupakan
Kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya untuk masa lebih dari 1 (satu) Tahun
Anggaran atas beban anggaran. Kontrak tersebut dilakukan setelah mendapatkan
persetujuan Kepala Daerah untuk pengadaan yang dibiayai APBD;
2. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
Pasal 54A ayat (3), yang menyatakan bahwa penganggaran kegiatan tahun jamak
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berdasarkan atas persetujuan DPRD yang
dituangkan dalam nota kesepakatan bersama antara Kepala Daerah dan DPRD.
Pada ayat (6) dinyatakan bahwa Jangka waktu penganggaran kegiatan tahun jamak
tidak melampaui akhir tahun masa jabatan Kepala Daerah berakhir;
3. Pekerjaan yang menggunakan kontrak tahun jamak harus diumumkan pada saat
proses seleksi dimulai. Proses seleksi tersebut baru dapat dimulai setelah
mendapatkan persetujuan alokasi dana untuk tahun jamak dari pejabat yang
berwenang sebagaimana butir 1 (satu) di atas. Seleksi Penyedia dilakukan 1 (satu)
kali untuk seluruh nilai pekerjaan yang dilaksanakan dalam beberapa tahun
anggaran. Besaran anggaran yang disediakan pada DPA di masing-masing Tahun
Anggaran disesuaikan dengan besaran rencana pembayaran pertahunnya dari
kontrak tahun jamak tersebut;
4. Persetujuan Seleksi dengan Kontrak Tahun Jamak harus didapatkan sebelum proses
Seleksi dilakukan, dengan demikian bilamana proses Seleksi sudah dilakukan
dengan Kontrak Tahun Tunggal namun tidak dapat dilakukan karena keterbatasan
waktu, maka tidak dapat dilanjutkan sebagai Kontrak Tahun Jamak;
5. Bilamana Seleksi pada tahun anggaran yang bersangkutan menggunakan kontrak
tahun tunggal dan tidak terlaksana karena keterbatasan waktu, maka Seleksi tersebut
dinyatakan gagal karena tidak berlanjut hingga kontrak dan masa tahun anggaran
telah selesai. ULP dapat melelangkan kembali paket pekerjaan tersebut untuk tahun
anggaran berikutnya. B-501
Apakah Jasa konsultan Perencana dapat diserahterimakan?
Pekerjaan jasa konsultan perencana dapat diserahterimakan ketika pekerjaan konstruksi
tidak/belum dilaksanakan. Pembayaran tidak dilakukan 100% namun sesuai Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum No.45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan
Bangunan Gedung Negara. Selanjutnya bilamana pekerjaan konstruksi akan
dilaksanakan, konsultan tersebut dapat ditunjuk langsung mengingat pekerjaan ini masih
merupakan tanggung jawab atas pekerjaan konsultan tersebut. B1616

k. Daftar Kuantitas dan Harga

Apakah Daftar Kuantitas dan Harga harus disampaikan dalam Dokumen


Penawaran?

l.

1.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah pasal 64 ayat (3) dinyatakan bahwa Dokumen Pemilihan
paling kurang terdiri dari undangan/pengumuman kepada calon Penyedia
Barang/Jasa, instruksi kepada peserta Pengadaan Barang/Jasa, syarat-syarat umum
Kontrak, syarat-syarat khusus Kontrak, daftar kuantitas dan harga, spesifikasi teknis,
KAK dan/atau gambar, bentuk surat penawaran, rancangan Kontrak, bentuk Jaminan
dan contoh-contoh formulir yang perlu diisi;

2.

Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) diatas, Daftar Kuantitas dan Harga harus
disampaikan dalam Dokumen Penawaran. Daftar Kuantitas dan Harga meliputi Mata
Pembayaran Umum, Mata Pembayaran Utama dan Daftar Rekapitulasi. Bilamana
didalam Dokumen Pengadaan beserta addendumnya dinyatakan harus
mencantumkan Daftar Mata Pembayaran Umum, maka Penyedia yang tidak
mencantumkan Daftar Mata Pembayaran Utama digugurkan. Namun bilamana
ketentuan tersebut tidak dicantumkan dalam Dokumen Pengadaan, maka Penyedia
dimaksud tidak digugurkan. B579
Penyesuaian Harga
Dapatkah dilakukan penyesuaian harga dalam Kontrak Tahun Jamak?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 92 ayat (1) dinyatakan bahwa penyesuaian Harga
dilakukan dengan ketentuan penyesuaian harga diberlakukan terhadap Kontrak
Tahun Jamak berbentuk Kontrak Harga Satuan berdasarkan ketentuan dan
persyaratan yang telah tercantum dalam Dokumen Pengadaan dan/atau perubahan
Dokumen Pengadaan, tata cara perhitungan penyesuaian harga harus dicantumkan
dengan jelas dalam Dokumen Pengadaan, penyesuaian harga tidak diberlakukan
terhadap Kontrak Tahun Tunggal dan Kontrak Lump Sum serta pekerjaan dengan
Harga Satuan timpang;
2. Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) di atas, Pekerjaan Konstruksi dengan
Kontrak Tahun Jamak dapat diberlakukan penyesuaian harga bilamana memenuhi
persyaratan sebagaimana Pasal 92 ayat (2) dan perhitungannya dinyatakan dalam
Pasal 92 ayat (3);
4. Ketentuan mengenai penyesuaian harga dituangkan dalam dokumen lelang dan
dalam ketentuan yang diatur pada pokok kontrak bukan pada addendum kontrak.
5. Nilai besaran rupiah akibat penyesuaian harga ditentukan berdasarkan perubahan
indeks harga. Nilai total rupiah tersebut tidak ditetapkan dalam kontrak;
6. Perubahan nilai kontrak akibat penyesuaian harga dituangkan dalam addendum
kontrak. Addendum kontrak/perubahan kontrak dapat diberlakukan secara berkala
(setiap 3 bulan atau 6 bulan) setelah bulan ke-13.
7. Bilamana tidak tersedia tambahan dana untuk membayar tambahan biaya kontrak
akibat eskalasi, maka dilakukan optimasi kontrak dengan mengurangi volume
pekerjaan pada kontrak tersebut.B1883

m. Penetapan HPS
1) Bagaimana penyusunan hps yang benar?

1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Lampiran II Bagian A.3.2) dinyatakan bahwa PPK
menyusun Rencana Pelaksanaan Pengadaan sesuai dengan hasil kajian Rencana
Umum Pengadaan Spesifikasi Teknis dan Gambar dan HPS. Data yang dipakai
untuk menyusun HPS berdasarkan pada data harga pasar setempat yang diperoleh
berdasarkan hasil survei menjelang dilaksanakan pengadaan dengan
mempertimbangkan informasi yang meliputi informasi harga dari BPS, asosiasi,
daftar harga pabrikan, biaya kontrak sebelumnya, inflasi dan informasi lainnya.
Dalam menyusun HPS diperhitungkan PPN, keuntungan yang wajar dan biaya
overhead maksimal 15%.
2. Harga pabrikan yang dipublikasikan dapat dijadikan salah satu referensi untuk
menyusun HPS, disamping referensi lain yang dijelaskan pada butir (1) diatas. Untuk
survey harga pada pabrikan yang merupakan harga dasar, maka perlu ditambahkan
komponen keuntungan dan biaya overhead, bilamana yang mengikuti pelelangan
bukan pabrikan. Namun, bilamana survey harga dilakukan kepada pengecer yang
sudah merupakan harga pasar, maka tidak perlu dilakukan penambahan
keuntungan dan biaya overhead;
3. HPS bukan sebagai dasar untuk menentukan besaran kerugian negara (pasal 66
ayat (6)), sepajang proses pelelangan dilakukan sesuai dengan prosedur yang
berlaku, maka ketidaktepatan dalam menetapkan HPS tidak dapat dijadikan dasar
perhitungan kerugian negara. Ketidaktepatan PPK dalam menetapkan HPS tidak
menjadikan pelelangan tersebut tidak benar. Namun bilamana dalam proses
pengadaan ditemukan adanya bukti tindak pidana korupsi atau pelanggaran hukum
lainnya, maka para pihak yang terlibat dapat dikenakan sanksi;
4. Biaya pengangkutan atau transportasi lainnya dapat diperhitungkan dalam HPS,
sehingga penetapan HPS akhir merupakan gabungan harga dasar, keuntungan,
overhead bilamana dibutuhkan dan PPN.B886
2) Bagaimana perlakuan terhadap HPS yang dinyatakan timpang?
1. Berdasarkan Lampiran III bagian B.1.f.10) a) (2) Peraturan Presiden Nomor 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah disebutkan bahwa harga
satuan penawaran timpang yang nilainya lebih besar dari 110% (seratus sepuluh
perseratus) dari harga satuan yang tercantum dalam HPS;
2. Mengacu pada butir 1 (satu) di atas, apabila setelah dilakukan klarifikasi harga
satuan tersebut timpang, maka harga tersebut hanya berlaku untuk volume sesuai
dengan dokumen pemilihan;
3. Bilamana dikarenakan adanya harga satuan timpang sehingga nilai total penawaran
menjadi di atas HPS, maka penawaran dinyatakan gugur. Namun apabila nilai total
penawaran tidak melebihi HPS maka tidak digugurkan;
4. Dalam hal terdapat addendum, maka harga satuan timpang tidak dapat dijadikan
dasar perhitungan addendum. Harga yang menjadi dasar perhitungan addendum
adalah sesuai dengan harga pasar setempat yang berlaku pada saat itu dan telah
diklarifikasi dan dinegosiasi oleh panitia peneliti pelaksanaan kontrak.B2580
n. Pemutusan Kontrak
Apakah penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan yang tidak dapat dibayarkan
harus dilakukan pemutusan Kontrak?

1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah pasal 93 ayat (1) huruf a dinyatakan bahwa PPK dapat
memutuskan Kontrak secara sepihak apabila denda keterlambatan pelaksanaan
pekerjaan akibat kesalahan Penyedia Barang/Jasa sudah melampaui 5% (lima
perseratus) dari nilai Kontrak;
2. Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) diatas, PPK dapat melakukan pemutusan
kontrak bilamana denda keterlambatan sudah melampaui 5% dari nilai kontrak.
Namun, bilamana Penyedia tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat pada
waktunya, Penyedia dimaksud atas ijin PPK dapat menyelesaikan pekerjaannya
namun harus membayar denda. Batas waktu penyelesaian pekerjaan dilakukan
hingga denda keterlambatannya melampaui 5% dari nilai kontrak atau sekitar 50 hari
keterlambatan;
3. Namun demikian, PPK dapat memutuskan kontrak sebelum denda melampaui 5%
dari nilai Kontrak, bilamana Penyedia tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan
pekerjaannya;
4. Bilamana pemutusan kontrak dilakukan sebagaimana dijelaskan pada butir (2) dan
(3) diatas, maka Jaminan Pelaksanaan dicairkan, sisa Uang Muka harus dilunasi
oleh Penyedia Barang/Jasa atau Jaminan Uang Muka dicairkan, Penyedia
Barang/Jasa membayar denda dan/atau Penyedia Barang/Jasa dimasukkan dalam
Daftar Hitam (pasal 93 ayat (2));
5. Bilamana penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan dimungkinkan dilakukan dan
dapat dilakukan pembayaran sesuai dengan ketentuan anggaran Pemerintah
Daerah, maka Penyedia dapat diberikan kesempatan untuk menyelesaikan
pekerjaannya. Namun, bilamana pelaksanaan sisa pekerjaan tersebut tidak mungkin
dibayarkan sesuai dengan ketentuan anggaran Pemerintah Daerah, maka kontrak
diputus sebagaimana butir (4).B585
o. Addendum Kontrak
Apakah dapat dilakukan penyesuaian dengan dilakukan addendum kontrak untuk
penyedia yang tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah pasal 118 dinyatakan bahwa perbuatan atau tindakan
Penyedia Barang/Jasa yang dapat dikenakan sanksi adalah tidak dapat
menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan Kontrak secara bertanggung jawab;
2. Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) diatas, Penyedia yang tidak dapat
menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam kontrak,
maka dikenakan sanksi. Namun demikian, Penyedia tersebut dapat melanjutkan
pekerjaannya, namun tetap dikenakan denda 1/1000 dari nilai Kontrak untuk setiap
harinya dan tidak melampaui besarnya Jaminan Pelaksanaan;
3. Bilamana PPK dan Penyedia menyepakati, maka dapat dilakukan addendum kontrak
untuk mengurangi volume pekerjaan sejauh kontrak yang digunakan adalah kontrak
harga satuan;
4. Bilamana kontrak diputus karena kesalahan Penyedia, maka Jaminan Pelaksanaan
dicairkan sisa Uang Muka harus dilunasi oleh Penyedia Barang/Jasa atau Jaminan
Uang Muka dicairkan, Penyedia Barang/Jasa membayar denda dan/atau Penyedia
Barang/Jasa dimasukkan dalam Daftar Hitam (pasal 93 ayat (2)).b589

p. Penandatangan Kontrak
1). Perubahan jadwal
1.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Lampiran III A. 10. c. 2) s) (2), dinyatakan bahwa
perubahan kontrak bisa dilaksanakan apabila disetujui oleh para pihak dan
salah satunya disebabkan adanya perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan
akibat adanya perubahan pekerjaan;

2.

ULP/Panitia Pengadaan dalam melakukan klarifikasi dan negosiasi terhadap


perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan tidak diperkenankan mengubah hasil
yang akan dicapai sesuai dengan penawaran teknis yang diajukan peserta,
misalnya kegiatan pengawasan pekerjaan konstruksi;

3.

Mengacu pada uraian di atas, bilamana perubahan jadwal pelaksanaan tidak


berdampak pada hasil yang akan dicapai, maka PPK melakukan kesepakatan
dengan Penyedia yang bersangkutan untuk menyesuaikan jadwal dengan
kondisi di lapangan sebelum kontrak ditandatangani. Jika Penyedia bersedia
mempercepat proses penyelesaian pekerjaan tanpa mengubah hasil yang akan
dicapai, maka dapat dilakukan penandatanganan kontrak. Jika Penyedia tidak
bersedia, maka proses pengadaan dihentikan karena tidak dapat diselesaikan
sebelum batas akhir pelaksanaan tahun anggaran berjalan.B2549

2). Apakah yang dimaksud dengan Ahli Hukum Kontrak? Sampai batas manakah
kewenangannya?
1.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Pasal 86 ayat (4), dinyatakan bahwa
Penandatanganan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang kompleks dan/atau
bernilai diatas Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah) dilakukan setelah
memperoleh pendapat ahli hukum Kontrak;

2.

Ahli Hukum Kontrak adalah orang yang menguasai/mengetahui tentang hukum,


teknis pengadaan barang/jasa pemerintah dan perikatan/kontrak. Bilamana
tidak terdapat orang yang menguasai ketiga aspek tersebut, maka dapat
dibentuk tim (sekelompok orang) dengan menguasai ketiga aspek tersebut.
Keterlibatan ahli hukum kontrak dalam proses pengadaan barang/jasa dimulai
pada saat penyusunan rancangan kontrak sampai dengan penandatanganan
kontrak. B1691

3). Siapakah yang berhak menandatangani Surat Kuasa? Mengingat terdapat


perbedaan pernyataan antara Peraturan Presiden 54.2010 dan UU PT No. 40
Tahun 2007.
1.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 pasal 1 angka 4


dinyatakan bahwa Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
yang selanjutnya disebut LKPP adalah lembaga Pemerintah yang bertugas
mengembangkan dan merumuskan kebijakan Pengadaan Barang/Jasa
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2007
tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

2.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Lampiran II Bagian B.1.d.1) dan 2) yang menyatakan

bahwa metode pemasukan dan tata cara pembukaan Dokumen Penawaran


harus mengikuti ketentuan yang dipersyaratkan dalam Dokumen Pengadaan.
Dokumen Penawaran diantaranya meliputi surat kuasa dari pemimpin/direktur
utama perusahaan kepada penerima kuasa yang namanya tercantum dalam
akta pendirian atau perubahannya (apabila dikuasakan)b1060
3.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Lampiran II Bagian B.1.d.1) dan 2) yang menyatakan
bahwa metode pemasukan dan tata cara pembukaan Dokumen Penawaran
harus mengikuti ketentuan yang dipersyaratkan dalam Dokumen Pengadaan.
Dokumen Penawaran diantaranya meliputi surat kuasa dari pemimpin/direktur
utama perusahaan kepada penerima kuasa yang namanya tercantum dalam
akta pendirian atau perubahannya (apabila dikuasakan);

4.

Berdasarkan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 103


bahwa Direksi dapat memberi kuasa tertulis kepada 1 (satu) orang karyawan
Perseroan atau lebih atau kepada orang lain untuk dan atas nama Perseroan
melakukan perbuatan hukum tertentu sebagaimana yang diuraikan dalam surat
kuasa. Pada Penjelasan UU No. 40 Tahun 2007 menerangkan bahwa yang
dimaksud kuasa adalah kuasa khusus untuk perbuatan tertentu sebagaimana
disebutkan dalam surat kuasa;

5.

Berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan


peraturan Peundang-Undangan Pasal 7 menyatakan bahwa Kekuatan hukum
Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki. Dalam
ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah penjenjangan setiap jenis
Peraturan Perundang-undangan vang didasarkan pada asas bahwa peraturan
perundangundangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan
Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Maka Peraturan Presiden
tidak dapat bertentangan dengan Undang-Undang. Dalam hal terdapat
pertentangan maka produk hukum yang lebih tinggi yang dijadikan acuan;

6.

Dalam hal pemberian kuasa untuk menandatangani dokumen penawaran, Akta


Kuasa Notaris yang ditandatangani oleh Direktur Perseroan Terbatas dihadapan
Notaris memiliki ketetapan hukum yang sama dengan Surat Kuasa. B2247

4). Apakah diperbolehkan personil yang melakukan pendaftaran tidak terdaftar


di akte perusahaan?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Lampiran II/III/IV bagian B. 1. G. 3) c) dinyatakan
bahwa peserta dinyatakan memenuhi persyaratan kualifikasi apabila
menyampaikan pernyataan/pengakuan tertulis bahwa perusahaan yang
bersangkutan dan manajemennya tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak
bangkrut dan tidak sedang dihentikan kegiatan usahanya;
2. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan terbatas
Pasal 1 angka 6 dinyatakan bahwa Dewan Komisaris adalah organ perseroan
yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai
dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada Direksi;

3. Mengacu pada ketentuan di atas, apabila komisaris tersebut tidak ikut


mengendalikan perusahaan sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar
atau Anggaran Rumah Tangga, maka komisaris tersebut tidak termasuk dalam
manajemen perusahaan. Namun apabila komisaris tersebut ikut mengendalikan
perusahaan, maka komisaris tersebut termasuk dalam manajemen perusahaan;
4. Dengan demikian, perlu dilakukan klarifikasi untuk mengetahui komisaris
tersebut termasuk dalam manajemen perusahaan atau tidak agar dapat
mengambil keputusan berdasarkan hasil klarifikasi.B963
q. Bagian Kontrak
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 120 dinyatakan bahwa Penyedia Barang/Jasa
yang terlambat menyelesaikan pekerjaan dalam jangka waktu sebagaimana
ditetapkan dalam Kontrak, dapat dikenakan denda keterlambatan sebesar
1/1000 (satu perseribu) dari harga Kontrak atau bagian Kontrak untuk setiap hari
keterlambatan;
2. Bagian Kontrak adalah bagian dari pekerjaan yang diperjanjikan yang berdiri
sendiri dan tidak mempengaruhi pencapaian fungsi dari keseluruhan output
pekerjaan. Bagian Kontrak dimaksud harus dicantumkan dalam Kontrak. Jika
tidak diatur dalam Kontrak maka pengenaan sanksi mengacu kepada harga
Kontrak secara keseluruhan. B1113
r. Pelaksanaan Kontrak
Apakah pekerjaan tidak kompleks dapat dilakukan dengan kontrak terima jadi?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah pasal 6 huruf e dinyatakan bahwa para pihak yang terkait
dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa harus mematuhi etika yang
diantaranya menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para
pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses
Pengadaan Barang/Jasa. Yang dimaksud dengan peran ganda dalam pekerjaan
konstruksi, diantaranya konsultan perencana bertindak sebagai pelaksana pekerjaan
atau konsultan pengawas pekerjaan yang direncanakannya, kecuali dalam
pelaksanaan Kontrak Terima Jadi (turn key contract) dan Kontrak Pengadaan
Pekerjaan terintegrasi;
2. Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) diatas, pekerjaan yang tidak kompleks
tidak diperkenankan melakukan Kontrak Terima Jadi atau Kontrak Pengadaan
Pekerjaan Terintegrasi. Dengan demikian, pengadaan lift tersebut tidak dapat
dilakukan dengan menggabungkan design and built. Namun demikian, pengadaan
perencanaan dan pengawasan dapat mengalokasikan anggaran dari konstruksi lift,
mengingat konstruksi tidak hanya pelaksanaan pekerjaan namun juga perencanaan
dan pengawasan;
3. Tim pendukung atau tim teknis dapat berasal dari pegawai negeri maupun non
pegawai negeri. Tim pendukung hanya menunjang dan membantu pelaksanaan
pekerjaan PPK maupun Pokja ULP. Untuk pekerjaan konsultan perencana dapat
dilakukan oleh konsultan, atau bilamana memiliki tenaga ahli dapat dilakukan
dengan Swakelola.B922

1) Kontrak pengadaan bersama


1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 53 ayat (2) dinyatakan bahwa Kontrak Pengadaan
Bersama merupakan kontrak antara beberapa PPK dengan 1 (satu) Penyedia
Barang/Jasa untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu tertentu, sesuai dengan
kebutuhan masing-masing PPK yang menandatangani kontrak;
2. Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) di atas, bilamana pelaksanaan
Pembangunan Pasar dilakukan secara bersama dengan sumber anggaran yang
berbeda, maka dapat dilakukan dengan Kontrak Pengadaan Bersama. Proses
pelelangan dilakukan pada satu pelelangan, namun dalam Dokumen Pengadaan
dinyatakan sumber anggaran yang digunakan. Dalam kontrak seluruh PPK
menandatangani kontrak sesuai dengan sumber anggaran yang digunakan sesuai
dengan yang tercantum dalam Dokumen Pengadaan;
4. Penjelasan mengenai tanggung jawab dan pembagian beban anggaran diatur dalam
kontrak disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan (penjelasan Pasal 53 ayat (2));
5. Jaminan Penawaran diberikan oleh Penyedia Barang/Jasa kepada Pokja ULP.
Sedangkan Jaminan Pelaksanaan diberikan kepada PPK sebelum dilakukan
penandatanganan kontrak (Lampiran III A. 10. c. 2) f) (3)). Jaminan pelaksanaan
dibuat menjadi 2 (dua) dan ditujukan kepada masing-masing PPK sesuai dengan
lingkup pekerjaan dan anggaran dari masing-masing PPK.B941
2). Kontrak melebihi HPS
1.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah pasal 51 ayat (1) dinyatakan bahwa Kontrak Lump Sum
merupakan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan
dalam batas waktu tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Kontrak, dengan
ketentuan jumlah harga pasti dan tetap serta tidak dimungkinkan penyesuaian
harga, semua risiko sepenuhnya ditanggung oleh Penyedia Barang/Jasa,
pembayaran didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang dihasilkan sesuai
dengan isi Kontrak, sifat pekerjaan berorientasi kepada keluaran (output based),
total harga penawaran bersifat mengikat dan tidak diperbolehkan adanya pekerjaan
tambah/kurang;

2.

Mengacu kepada ketentuan pada butir (1) diatas, kontrak lumpsum merupakan
kontrak harga pasti yang mengikat harga total penawaran, sedangkan harga
satuannya tidak mengikat. Perbedaan volume dalam spesifikasi dan volume dalam
HPS pada kontrak lumpsum memiliki potensi kerugian bilamana volume yang
dinyatakan dalam penyusunan HPS lebih besar dari volume pekerjaan yang
dinyatakan dalam spesifikasi. Semestinya PPK yang memiliki tugas dan
kewenangan menetapkan spesifikasi dan HPS tidak melakukan kesalahan tersebut;

3.

Bilamana kontrak yang terjadi melebihi nilai HPS yang sebenarnya (volume 26),
maka APIP agar melakukan perhitungan kerugian. Bilamana dari perhitungan APIP
terdapat kerugian negara, maka harus disetorkan ke kas negara. B1841

3). Kontrak Lumpsum


1.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang


Penyelenggaraan Jasa Konstruksi pasal 21 ayat (1) dinyatakan bahwa kontrak kerja
konstruksi dengan bentuk imbalan Lump Sum sebagaimana dimaksud dalam Pasal

20 ayat (3) huruf a angka 1 merupakan kontrak jasa atas penyelesaian seluruh
pekerjaan dalam jangka waktu tertentu dengan jumlah harga yang pasti dan tetap
serta semua risiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan yang
sepenuhnya ditanggung oleh penyedia jasa sepanjang gambar dan spesifikasi tidak
berubah;
2.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 pasal 51 ayat (1) Kontrak
Lump Sum merupakan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa atas penyelesaian seluruh
pekerjaan dalam batas waktu tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Kontrak,
dengan ketentuan jumlah harga pasti dan tetap serta tidak dimungkinkan
penyesuaian harga,
semua risiko sepenuhnya ditanggung oleh Penyedia
Barang/Jasa, pembayaran didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang
dihasilkan sesuai dengan isi Kontrak, sifat pekerjaan berorientasi kepada keluaran
(output based), total harga penawaran bersifat mengikat dan tidak diperbolehkan
adanya pekerjaan tambah/kurang;

3.

Mengacu pada ketentuan pada butir (1) dan (2) diatas, Kontrak Lumpsum tidak
dimungkinkan adanya tambah kurang pekerjaan, dengan demikian penambahan
lantai gedung tidak dapat dilakukan dengan addendum kontrak. Namun demikian,
penambahan pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan membuat kontrak baru
dengan Penyedia pelaksana pekerjaan dan dilakukan dengan Penunjukan Langsung
sepanjang memenuhi Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 pasal 12 dan
sisa dana efisiensi pelelangan dapat digunakan. B2329

s. Persyaratan Dukungan
Apakah persyaratan dukungan mutlak dibutuhkan?
1.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Pasal 19 ayat (1) huruf a. dan b. dinyatakan bahwa
Penyedia Barang/jasa dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa wajib memenuhi
persyaratan antara lain memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan untuk
menjalankan kegiatan/usaha dan memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis
dan manajerial untuk menyediakan Barang/Jasa;

2.

Dalam hal penyedia Barang/Jasa memerlukan persyaratan dukungan, maka peserta


yang merupakan supplier dapat menyampaikan dukungan dari principal
(pabrikan/produsen/agen tunggal), sepanjang memenuhi kriteria penyedia
sebagaimana disebut pada Pasal 19 ayat (1) huruf a sampai dengan o;

3.

Berdasarkan Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Lampiran II Bagian B.2.c.16.i), dinyatakan bahwa peserta
dinyatakan memenuhi persyaratan kualifikasi diantaranya memiliki izin usaha sesuai
dengan peraturan perundang-undangan diantaranya memiliki Sertifikat Manajemen
Mutu ISO atau memiliki Sertifikat Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3), apabila diperlukan;

4.

Mengacu kepada ketentuan pada butir (3) diatas, panitia/pokja ULP diperkenankan
mempersyaratkan Penyedia harus memiliki Sertifikat Manajemen Mutu ISO dan SNI
dari pabrikan apabila diperlukan. Didalam menentukan perlu atau tidaknya kedua
sertifikat tersebut, ULP dapat dibantu oleh tenaga ahli yang memahami kebutuhan

Sertifikat ISO dan SNI pada paket pekerjaan yang akan dilelangkan, sehingga
pemberlakuan persyaratan tersebut dilakukan karena memang dibutuhkan;

t.

5.

Dukungan pabrikan tidak bertentangan dengan monopoli barang dan persaingan


sehat, terbuka dan transparan selama dukungan pabrikan diberikan kepada
penyedia yang memenuhi kriteria.b1335

6.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah penjelasan Pasal 6 huruf e., afiliasi adalah keterkaitan
hubungan, baik antar Penyedia Barang/Jasa, maupun antara Penyedia Barang/Jasa
dengan PPK dan/atau anggota ULP/Pejabat Pengadaan, antara lain meliputi
hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik langsung maupun
tidak langsung oleh pihak yang sama yaitu lebih dari 50% (lima puluh perseratus)
pemegang saham dan/atau salah satu pengurusnya sama;

7.

Mengacu pada ketentuan di atas, para pihak tidak boleh memiliki/melakukan peran
ganda atau terafiliasi. Bilamana para pihak memiliki/melakukan peran ganda atau
terafiliasi maka penawaran tersebut dinyatakan gugur;

8.

Untuk pekerjaan pengadaan barang, dalam hal ini Pengadaan Peralatan Olahraga
Dirgantara dan Pengadaan Peralatan Olahraga Bahari, boleh ada pemenang yang
sama untuk dua pekerjaan tersebut, karena pengadaan barang tidak perlu ada
persyaratan Kemampuan Dasar (KD) dan Sisa Kemampuan Paket (SKP). Selama
penyedia tersebut memenuhi evaluasi dan kualifikasi, maka penyedia tersebut boleh
mendaftar dan menang dilebih dari satu paket pekerjaan.B1419

Jaminan Penawaran
1.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Pasal 108 ayat (1) disebutkan bahwa LKPP
mengembangkan Sistem Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah secara elektronik.
Ketentuan lebih lanjut mengenai Standar Dokumen Pengadaan (Standard Bidding
Document) termasuk Standar Dokumen Pengadaan Secara Elektronik diatur
dengan Peraturan Kepala LKPP (Pasal 134 ayat 1);

2.

Berdasarkan Perka LKPP No. 1 Tahun 2011 tentang Tata Cara E-Tendering
sebagaimana tercantum pada Bab VI angka 3 dinyatakan bahwa dalam hal
penyedia barang/jasa hanya mengirimkan softcopy jaminan penawaran dan tidak
mengirimkan jaminan penawaran asli, maka penyedia barang/jasa tersebut tidak
dapat digugurkan jika hasil konfirmasi kepada penerbit jaminan menyatakan bahwa
jaminan tersebut dapat dicairkan;

3.

Berdasarkan Perka LKPP No. 5 Tahun 2011 tentang Standar Dokumen Pengadaan
Secara Elektronik Bab III huruf C.22. poin 22.3 dinyatakan bahwa jaminan
penawaran asli disampaikan melalui pos tercatat/jasa pengiriman kepada Pokja ULP
dan sudah harus diterima sebelum batas akhir pemasukan penawaran;

4.

Mengacu pada Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Pasal 79 ayat 1 dinyatakan
bahwa dalam melakukan evaluasi penawaran, ULP harus berpedoman pada tata
cara/kriteria yang ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan. Dengan demikian,
bilamana ketentuan dalam dokumen pengadaan untuk paket pekerjaan yang sedang
dilakukan proses pemilihan penyedianya mengacu kepada ketentuan butir 3) di atas,
maka pada tahap evaluasi administrasi ULP/Panitia Pengadaan dapat
menggugurkan penawaran yang tidak melampirkan atau terlambat menyampaikan
jaminan penawaran asli sampai batas akhir pemasukan penawaran.B2542

Jaminan penawaran dikirim langsung ke Pokja ULP


Didalam standar bidding document, Jaminan Penawaran asli disampaikan
melalui pos tercatat/jasa pengiriman kepada Pokja ULP dan sudah harus
diterima sebelum batas akhir pemasukan penawaran. Apabila penawaran
disampaikan secara langsung kepada Pokja ULP apakah Pokja ULP berhak
menolak? Apakah hal tersebut dapat menggagalkan pelelangan?
Sebaiknya jaminan penawaran tetap dikirim melalui pos/jasa pengiriman, agar tidak
terjadi kontak penyedia dengan pokja ULP.
Jaminan tersebut sudah harus diterima sebelum batas akhir pemasukan penawaran.
atau pengiriman dilihat dari tanggal pengiriman yang dibuat oleh Kantor pos/jasa
pengiriman (apakah tanggalnya melebihi batas akhir pemasukan dokumen)
Ada tambahan di Perka LKPP 1/2011 adalah, jaminan penawaran asli dititipkan ke
LPSE. Jadi tidak diantarkan ke panitia sehingga kekhawatiran adanya tatap muka
bisa dihindari. Hal ini dituangkan dalam Dokumen Pengadaan.
Untuk mempermudah penyedia yang jaraknya jauh serta terkendala pengiriman pos
yang terlambat, maka kalimat "Jaminan yang dikirim via pos sudah harus diterima
sebelum batas akhir" biasanya saya ubah menjadi "Jaminan yang dikirim via pos
dapat tiba melewati batas akhir pemasukan selama dikirim sebelum batas akhir
pemasukan yang dibuktikan dengan bukti pengiriman dan di fax ke nomor ...
sebelum batas akhir pemasukan" khalidmustafa
u. Hitungan Waktu Sanggah
Sanggah dalam masa prakulaifikasi ada 5 hari kerja.
Sanggah dalam masa pascakualifikasi atau masa memasukkan penawaran sebagai
berikut :
1. Sanggahan = 5 hari kerja setelah pengumuman pemenang
2. Jawaban sanggahan = 5 hari kerja setelah sanggahan diterima
3. Sanggahan Banding = 5 hari kerja setelah Jawaban Sanggahan diterima
4. Jawaban Sanggah Banding = 15 hari kerja setelah sanggahan banding diterima
Jadi kalau ada sanggah menyanggah diperlukan waktu 30 hari kerja. Tentunya hari
kalender bisa lebih lama.
Bagaimana bila menggunakan Eproc-LPSE, jadi berapa hari ?
Jaminan Sanggah Banding disampaikan terlambat
Pasal 82
(2) Penyedia Barang/Jasa yang mengajukan sanggahan banding wajib
menyerahkan Jaminan Sanggahan Banding yang berlaku 20 (dua puluh) hari kerja
sejak pengajuan Sanggahan Banding.

(3) Jaminan Sanggahan Banding ditetapkan sebesar 20/00 (dua perseribu) dari nilai
total HPS atau paling tinggi sebesar Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(4) Sanggahan Banding menghentikan proses Pelelangan/Seleksi

Waktu sanggah banding ?


Pasal 82 ayat 1 , Penyedia Barang/Jasa yang tidak puas dengan jawaban sanggahan dari ULP
dapat mengajukan sanggahan banding kepada Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala
Daerah/Pimpinan Institusi paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah diterimanya jawaban
sanggahan.
Pada tanggal 27 Juni 2012. ada pertanyaan sbb :
Misal batas sanggah banding waktu berakhir tanggal 5 Juni 2012, penyedia PT Rajin
memasukkan sanggah banding di tanggal 5 Juni 2012 tapi tidak disertai jaminan sanggahan
banding tetapi tanggal 8 Juni 2012 penyedia memberikan jaminan sanggahan banding,
kepada pokja ULP, jaminan tersebut bertanggal 6 Juni 2012. Masa Jaminan s.d. 4 Juli 2012.
Kami sebagai bupati, baru melihat 27 Juni 2012. Bagaimana tindakan kami ?
Apabila jaminan sanggahan banding diterima diluar masa sanggah banding (sanggah banding
berakhir tgl 5 Juni 2012), maka dianggap tidak ada sanggah banding, karena tidak memenuhi
pasal 82 tersebut. Namun tetap ditindaklanjuti sebagai pengaduan dan jaminan sanggah
banding dikembalikan.
Sanggahan banding beda
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah pasal 81 ayat (1) dinyatakan bahwa peserta pemilihan Penyedia Barang/Jasa
yang merasa dirugikan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan peserta lainnya
dapat mengajukan sanggahan secara tertulis apabila menemukan penyimpangan, rekayasa
dan penyalahgunaan wewenang oleh ULP dan/atau Pejabat yang berwenang lainnya. Pasal
82 ayat (1) Penyedia Barang/Jasa yang tidak puas dengan jawaban sanggahan dari ULP
dapat mengajukan sanggahan banding kepada Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala
Daerah/Pimpinan Institusi paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah diterimanya jawaban
sanggahan;
Seharusnya materi sanggahan banding sama dengan materi sanggahan yang dikirimkan
sebelumnya, namun bilamana ada penambahan materi substansi dalam materi sanggahan
banding maka panitia sebaiknya juga menjawab sanggahan banding tersebut;b2548

BAB V
PERAN SERTA USAHA KECIL
Dapatkah usaha kecil mengikuti pelelangan diatas 2,5 m?
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah pasal 100 ayat (3), Nilai paket pekerjaan Pengadaan Barang/Pekerjaan
Konstruksi/Jasa Lainnya sampai dengan Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah), diperuntukan bagi Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil, kecuali untuk
paket pekerjaan yang menuntut kompetensi teknis yang tidak dapat dipenuhi oleh Usaha
Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil;
Mengacu pada ketentuan di atas, kualifikasi usaha non kecil tidak dapat mengikuti paket
Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang ditujukan kepada usaha kecil.
Namun usaha kecil dapat mengikuti pelelangan yang bernilai di atas Rp.2.500.000.000,00
(dua miliar lima ratus juta rupiah), bilamana memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan dan dokumen pengadaan. Khusus untuk Pekerjaan
Konstruksi dan Jasa Lainnya yang bernilai di atas Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus
juta rupiah) ditambahkan persyaratan Kemampuan Dasar (KD), ketersediaan personil
(SKA/SKT) dan ketersediaan peralatan. Perhitungan KD mengacu kepada nilai pengalaman
perusahaan yang sesuai dengan sub bidang pekerjaan, nilai kontrak dan status peserta pada
saat menyelesaikan kontrak sebelumnya dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir (Lampiran III
bagian B.1. g.3).l)).b1316

BAB V
PENGENDALIAN, PENGAWASAN, PENGADUAN DAN SANKSI
a. Blacklist
Dapatkah penyedia yang telah ditetapkan dalam blacklist oleh instansi pemerintah
lain mengikuti pelelangan?
1.

2.

3.

4.

5.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Pasal 118 ayat (2) dan (4), pengenaan sanksi Daftar
Hitam dilakukan oleh PA/KPA setelah mendapat masukan dari PPK/ULP/Pejabat
Pengadaan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 118 ayat (1) dan
peraturan yang berlaku;
K/L/D/I dapat membuat Daftar Hitam yang memuat identitas penyedia barang/jasa
yang dikenakan sanksi oleh K/L/D/I yang sekurang-kurangnya memuat daftar
Penyedia Barang/Jasa yang dilarang mengikuti Pengadaan Barang/Jasa pada
K/L/D/I yang bersangkutan. Selanjutnya K/L/D/I menyerahkan Daftar Hitam kepada
LKPP untuk dimasukan dalam Daftar Hitam Nasional (Pasal 24 ayat (1) dan (3));
Mengacu pada uraian diatas dan penjelasan surat Saudara, apabila KPPU telah
memutuskan melarang satu/beberapa penyedia untuk mengikuti tender yang
menggunakan dana APBN dan APBD di seluruh Indonesia selama 2 (dua) tahun
sejak putusannya memiliki kekuatan hukum tetap, maka seluruh instansi
pemerintah wajib mematuhi keputusan tersebut. Hal ini karena KPPU menjalankan
amanat dalam UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat;
Dengan demikian, penyedia tidak dapat mengikuti tender yang menggunakan dana
APBN dan APBD di seluruh Indonesia selama 2 (dua) tahun sejak putusan KPPU
memiliki kekuatan/penetapan Daftar Hitam dari PA/KPA;
Sebelum dilakukan penetapan pemenang oleh pihak yang berwenang, maka harus
dicari informasi dan dipastikan bahwa calon pemenang tersebut tidak termasuk
dalam Daftar Hitam Nasional (Pasal 19 ayat (1) huruf m) yang dimaksud pada butir
(1) di atas dan calon pemenang tersebut tidak termasuk dalam putusan KPPU yang
melarang mengikuti tender/pelelangan.B878

Kantor cabang
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Lampiran III Bagian B.1.f.8).b).(2).iii dinyatakan bahwa penawaran dinyatakan
memenuhi persyaratan administrasi, apabila surat penawaran ditandatangani oleh kepala
cabang perusahaan yang diangkat oleh kantor pusat yang dibuktikan dengan dokumen
otentik;
Mengacu pada ketentuan pada butir (1) diatas, kepala cabang perusahaan dapat mengajukan
penawaran yang mengatasnamakan cabang perusahaan. Perusahaan yang mengikuti
pelelangan atas nama cabang perusahan, maka yang disampaikan adalah pekerjaan yang
sedang dilakukan oleh cabang perusahaan dimaksud. Namun demikian tidak diperkenankan
menutupi informasi bilamana masuk dalam sanksi Daftar Hitam;
Bilamana Sanksi Daftar Hitam dikenakan kepada Penyedia yang menyampaikan penawaran
atas nama cabang perusahaan, maka pengenaan Sanksi Daftar Hitam kepada cabang
perusahaan tersebut hanya berlaku untuk cabang dimaksud dan tidak berlaku untuk Pusat

dan cabang lainnya. Namun bilamana yang dikenakan Sanksi Daftar Hitam adalah
perusahaan pusat, maka pengenaan Sanksi Daftar Hitam juga berlaku untuk seluruh cabang
perusahaan (Peraturan Kepala LKPP Nomor 7 Tahun 2011 pasal 4 ayat (4) huruf a);
Untuk perhitungan Sisa Kemampuan Paket (SKP) dan Kemampuan Dasar (KD) bilamana
yang mengikuti pelelangan mengatasnamakan cabang perusahaan, maka perhitungan SKP
dan KD hanya menggunakan data yang dimiliki oleh cabang perusahaan.b2060

BAB VI
KEIKUTSERTAAN PERUSAHAAN ASING DALAM PENGADAAN BARANG/JASA
a. Bagaimana persyaratan untuk perusahaan asing untuk mengikuti pengadaan
barang/jasa di Indonesia?
i.
Berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman
Modal :
a. Pasal 5 ayat (2) : Penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan
terbatas berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di dalam wilayah
negara Republik Indonesia, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.
b. Pasal 25 :
Ayat (1)
: Penanam modal yang melakukan penanaman modal di
Indonesia harus sesuai dengan ketentuan Pasal 5 UndangUndang ini.
Ayat (3)
: Pengesahan pendirian badan usaha penanaman modal asing
yang berbentuk perseroan terbatas dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (4)
: Perusahaan penanaman modal yang akan melakukan kegiatan
usaha wajib memperoleh izin sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dari instansi yang memiliki
kewenangan, kecuali ditentukan lain dalam undang-undang.
ii. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 104 ayat (1) dinyatakan
bahwa perusahaan asing dapat ikut serta dalam Pengadaan Barang/Jasa
dengan ketentuan: untuk Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dengan nilai
di atas Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah); untuk Pengadaan
Barang/Jasa Lainnya dengan nilai di atas Rp20.000.000.000,00 (dua
puluh miliar rupiah); dan untuk Pengadaan Jasa Konsultansi dengan nilai
di atas Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);
iii. Perusahaan asing dimaksud adalah perusahaan yang berbadan usaha
dan berkedudukan di luar wilayah hukum Republik Indonesia serta bukan
merupakan perusahaan penanaman modal asing sebagaimana yang
dimaksud pada Pasal 5 dan Pasal 25 Undang-Undang No. 25 Tahun
2007 Tentang Penanaman Modal tersebut di atas. Perusahaan asing
tersebut masuk ke Indonesia hanya dalam rangka mengikuti pengadaan
barang/jasa yang dapat diikuti oleh perusahaan asing berdasarkan
ketentuan Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010.
iv. Sehingga apabila terdapat perusahaan yang sahamnya 100 % dimiliki
oleh pihak asing, namun bentuk badan usaha dan kedudukannya sesuai
dengan Pasal 5 Undang-Undang No. 25 Tahun 2007, maka perusahaan
tersebut tidak termasuk dalam kategori perusahaan asing seperti yang
dimaksudkan pada Pasal 104 Peraturan Presiden No. 54 Tahun
2010.b999
v. Perusahaan asing dapat mengikuti Pengadaan Barang/Jasa yang
diadakan oleh Pemerintah Indonesia. Perusahaan asing yang
melaksanakan pekerjaan, harus melakukan kerja sama usaha dengan
perusahaan nasional dalam bentuk kemitraan, sub kontrak dan lain-lain,
dalam hal terdapat perusahaan nasional yang memiliki kemampuan
dibidang yang bersangkutan (Pasal 104 ayat (2)). Dalam hal bentuk

kemitraan dan sub kontrak, perusahaan asing harus melakukan kerja


sama usaha dengan perusahaan nasional baik sebagai leadfirm maupun
sub kontraktor. b2245
BAB VII
PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK
e-tendering
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Pasal 108 ayat (1) disebutkan bahwa LKPP mengembangkan Sistem Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah secara elektronik. Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis
operasional pengadaan secara elektronik diatur oleh Kepala LKPP (Pasal 134 ayat (2));
Berdasarkan Peraturan Kepala LKPP Nomor 1 Tahun 2011 tentang Tata Cara E-Tendering
Lampiran Bagian V 2.d.4) disebutkan bahwa surat penawaran dan/atau surat lain bagian dari
dokumen penawaran dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik ini
tidak memerlukan tanda tangan basah dan stempel sehingga penyedia barang/jasa tidak
perlu mengunggah (upload) hasil pemindaian dokumen asli, kecuali surat lain yang
memerlukan tanda tangan basah dari pihak lain, contoh: surat dukungan bank, surat
keterangan fiskal (tax clearance);
Mengacu pada ketentuan di atas, dokumen penawaran dalam pelelangan secara elektronik
tidak memerlukan tanda tangan basah sehingga dokumen penawaran yang tidak
ditandatangani tidak dapat digugurkan.b2579

Tanda tangan dalam sistem Eproc (SPSE LKPP)


Apakah surat penawaran dan dokumen lainnya boleh tidak ditandatangani dalam upload
(memasukkan) dokumen atau dokumen penawaran ke dalam sistem pengadaan secara
elektronik.
Berdasarkan Lampiran Perka Nomor 1 Tahun 2011 Bagian V.2.d.4)
disebutkan bahwa Surat Penawaran dan/atau surat lain bagian dari dokumen penawaran
dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik ini tidak memerlukan
tanda tangan basah dan stempel sehingga penyedia barang/jasa tidak perlu mengunggah
(upload) hasil pemindaian dokumen asli, kecuali surat lain yang memerlukan tanda tangan
basah dari pihak lain, contoh surat dukungan bank, surat keterangan fiskal.
Apakah yang ditandatangani digugurkan ? Hal demikian bukanlah substansial, namun
kemudahan dalam sistem hendaknya dapat bermanfaat bagi penyedia dalam mempercepat
proses memasukkan penawaran dan bagi pokja ULP, tidak perlu mengecek tanda tangan
lagi.

Fik
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Pasal 56 ayat (11), Lampiran III bagian A. 5.i) dan Peraturan Kepala Lembaga
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Tata Cara E-Tendering
Lampiran V.2.c. tentang Pemasukan Kualifikasi disebutkan bahwa Data kualifikasi
disampaikan melalui formulir elektronik isian kualifikasi yang tersedia pada aplikasi SPSE
(butir 1).), ULP dilarang meminta penyedia barang/jasa untuk mengupload softcopy lampiran
dokumen yang dipersyaratkan dalam data isian kualifikasi (butir 2).), dan penyedia

barang/jasa dilarang memasukan softcopy data kualifikasi pada fasilitas pengunggahan lain
yang tersedia pada aplikasi SPSE termasuk APENDO (butir 3).);
Mengacu pada ketentuan di atas hasil scan dari dokumen ijin usaha tidak perlu diupload ke
sistem, tapi penyedia wajib mengisi datanya di form isian kualifikasi. Dokumen asli
disampaikan pada saat pembuktian kualifikasi.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Pasal 56 ayat (10) dinyatakan bahwa ULP/Pejabat Pengadaan dilarang
menambah persyararan kualifikasi yang bertujuan diskriminatif serta diluar yang telah
ditetapkan dalam ketentuan Peraturan Presiden ini. Peserta yang dinyatakan memenuhi
persyaratan kualifikasi sesuai dengan Lampiran III Bagian B.1.g.3);
Mengacu pada ketentuan di atas, maka neraca perusahaan tidak menjadi persyaratan yang
harus dipenuhi dalam penilaian kualifikasi. Selain itu sebagaimana Saudara sampaikan
bahwa neraca perusahaan tidak dipersyaratkan dalam Dokumen Pengadaan, maka syarat
neraca perusahaan tidak wajib dipenuhi oleh peserta lelang.b2547

BAB VIII
LAIN-LAIN

Penugasan konsultan
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2012 tentang Penugasan Kepada Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Keuangan, dan Jaksa
Agung untuk Melakukan Penanganan Pengembalian Aset Hasil Tindak Pidana Terkait Kasus
Pt Bank Century, Tbk., yang Berada di Luar Negeri pasal 2 ayat (1) huruf a yang menyatakan
bahwa Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia, diberikan kewenangan untuk melakukan penunjukan langsung
konsultan hukum dalam rangka pengembalian aset hasil tindak pidana terkait kasus PT Bank
Century, Tbk. yang berada di luar negeri;
Mengingat Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2012 merupakan lex specialist untuk
pengadaan jasa Konsultan Hukum dalam rangka pengembalian aset hasil tindak pidana
terkait kasus PT. Bank Century Tbk dibandingkan dengan Peraturan Presiden Nomor 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, maka sesuai dengan ketentuan
pada butir (1) diatas, pengadaannya dapat dilakukan dengan Penunjukan Langsung;
Metode penilaian kualifikasi yang digunakan dapat disesuaikan dengan ketentuan pengadaan
Jasa Konsultansi yang diatur oleh Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. Evaluasi
kualifikasi pada Penunjukan Langsung Jasa Konsultansi dilakukan dengan sistem gugur yaitu
dengan menentukan kriteria Konsultan Hukum yang dibutuhkan, setalah mendapatkan
kandidat yang sesuai kemudian dilakukan negosiasi teknis dan harga. Setelah didapatkan
kesepakatan teknis dan harga kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan kontrak;
Penetapan HPS untuk Konsultan Hukum Asing didasarkan kepada harga pasar internasional
yang berlaku sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Untuk kebutuhan Dokumen

Pengadaan dapat menggunakan bahasa inggris atau bahasa asing lainnya yang digunakan
oleh Konsultan Hukum Asing, sedangkan untuk kontrak harus menggunakan dua bahasa
yaitu bahasa inggris atau bahasa asing yang digunakan Konsultan Hukum Asing dan Bahasa
Indonesia;
Untuk pengadaan Penunjukan Langsung Jasa Konsultansi tidak membutuhkan Jaminan
Penawaran atau Jaminan Pelaksanaan atau Uang Muka. Mata uang yang digunakan dalam
kontrak dapat menggunakan rupiah atau menggunakan mata uang asing. Untuk ketentuan
dan tatacara penggunaan mata uang asing dalam pengadaan dapat dikonsultasikan dengan
Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara;
Penyusunan KAK untuk pengadaan Konsultan Hukum Asing pada prinsipnya sama dengan
KAK untuk pengadaan Jasa Konsultansi pada umumnya. Namun demikian, bilamana
dibutuhkan dapat dilakukan beberapa penyesuaian, misalnya terkait dengan penggunaan
mata uang asing (bilamana menggunakan mata uang asing), pelaksanaan kegiatan diluar
negeri dan penyesuaian lainnya bilamana dibutuhkan;
Penunjukan Langsung Jasa Konsultan hukum dapat menggunakan Dokumen Lelang Standar
(SBD) untuk Penunjukan Langsung Jasa Konsultansi yang diterbitkan oleh LKPP, dengan
beberapa penyesuaian yang dianggap perlu sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan.b2015
TATA CARA PENGELOLAAN
PENGADUAN ORANG DALAM
(WHISTLEBLOWER)
PADA PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

1. Whistleblower menyampaikan pengaduan melalui link whistleblower system; berkomunikasi


dengan verifikator LKPP melalui kotak (box) komunikasi di dalam whistleblower system
disertai dengan alat bukti konkret.

2. Verifikator menerima pengaduan whistleblower melalui sistem elektronik (whistleblower


system);

a. Verifikator menerima laporan dari whistleblower melalui sistem elektronik berupa bukti
permulaan yang dapat mendukung atau menjelaskan adanya penyimpangan ketentuan dan
prosedur, penyalahgunaan wewenang dan/atau KKN, berupa:
1. Data/dokumen;
2. Gambar; dan/atau
3. Rekaman

b. Verifikator membuat resume pengaduan dengan menyembunyikan identitas pengadu.


c. Verifikator meminta tambahan alat bukti kepada whistleblower melalui kotak komunikasi.
Hasil konfirmasi tersebut akan tersimpan dalam kotak komunikasi.

3. Administrator menentukan penelaah resume pengaduan;


a. Hasil resume pengaduan yang telah tersimpan di kotak komunikasi disampaikan kepada
administrator.

b. Administrator menentukan penelaah resume pengaduan.

c. Administrator menyempaikan resume pengaduan kepada penelaah melalui


kotak komunikasi.

4. Penelaah melakukan telaah terhadap resume pengaduan;


a. Penelaah melakukan telaah terhadap materi resume pengaduan yang akan menghasilkan
materi pengaduan.

b. Penelaah mengadakan rapat panel diskusi terhadap resume pengaduan jika penelaah tidak
menemukan jawaban yang tepat atas resume pengaduan tersebut yang dihadiri oleh seluruh
verifikator dan administrator.

c. Penelaah meminta tambahan alat bukti kepada administrator yang akan


disampaikan kepada verifikator melalui kotak komunikasi. Verifikator akan meminta
tambahan alat bukti kepada whistleblower melalui kotak komunikasi.

d. Penelaah memberikan hasil telaahan resume pengaduan kepada Pimpinan LKPP yang
akan diteruskan kepada Kepala LKPP.

5. Kepala LKPP menindaklanjuti hasil telaah resume pengaduan;


Kepala LKPP menyampaikan hasil telaahan yang perlu ditindaklanjuti kepada APIP K/L/D/I
dan/atau instansi berwenang.
Waktu Pelaksanaan:

Total waktu pelaksanaan sejak data lengkap diterima hingga menjadi kertas
kerja dilaksanakan selama 24 hari kerja atau 192 jam kerja.