1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kualitas suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kemampuan
produktifitas fitoplankton, penurunan kualitas perairan akan mnyebabkan
penurunan kelimpahan fitoplankton yang pada akhirnya akan berpengaruh
terhadap kelayakan suatu perairan untuk kegiatan perikanan.
Masing-masing habitat mempunyai ciri-ciri tersendiri dan adanya
perubahan lingkungan dimana habitat itu tinggal, maka akan menyebabkan jumlah
jenis dari kelimpahan organisme yang hidup di dalamnya berbeda-beda.
Walaupun mempunyai lingkungan hidup yang berbeda-beda, tetapi pada masingmasing habitat tersebut terdapat interaksi antara factor biotik dan abiotik
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma, dan dapat pula
dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat akuatik. Dalam prakteknya, suatu
habitat akuatik apabila mediumnya baik eksternal maupun internalnya adalah air.
Benthos adalah organisme yang hidup di bahagian dasar perairan dan
menetap di sana. Berdasarkan ukurannya, benthos diklasifikasikan menjadi tiga,
yakni Microfauna, Mesofauna, dan Macrofauna.
Benthos selalu terdapat dalam suatu group yang mempunyai sifat-sifat
yang khas yang lebih dikenal sebagai komunitas yang berhubungan dengan
kondisi lingkungan hidup yang spesifik. Komunitas ini biasanya didominasi oleh
satu atau dua jenis hewan yang disertai oleh organisme yang bersifat sub
dominan.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan diadakan praktikum ini adalah agar mahsiswa dapat mengetahui
jenis dan kelimpahan benthos, indeks keragaman, dominasi dan keseragaman
benthos di waduk buatan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan yang diambil
pada tanggal 8 April 2014 yang lalu. Sehingga nantinya setiap mahasiswa
memiliki pengetahuan tentang beberapa jenis benthos.
Adapun manfaat dari praktikum ini yaitu setiap mahasiswa dapat langsung
terjun kelapangan serta dapat langsung melihat atau mempraktekan bagaimana
cara mengambil benthos dan menghitung kelimpahannya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Benthos
Benthos adalah organisme (nabati / fitobenthos atau hewani / zoobenthos)
yang tinggal di dalam dan atau di atas sedimen di dasar suatu perairan. (Penuntun
praktikum ekoper 2010)
Organisme benthos ini meliputi jenis-jenis dari kelompok Protozoa,
Sponge, Coelenterate, Rotifera, Nematode, Bryozoa, Decapoda, Ostracoda,
Cladocera, Cpopoda, Pelecypoda, Gastropoda, Insekta, dan Lintah. Keberadaan
hewan ini dipengaruhi oleh kondisi fisika (substrat, kekeruhan, arus, kedalaman,
dan suhu), disamping juga dipengaruhi oleh factor kimia ( pH, O2, dan bahanbahan toksik ) dan factor biologi (predator dan kompetitor).
Bentos adalah organisme perairan yang hidupnya berasosiasi dengan dasar
perairan. Dia dapat hidup pada dan didalam dasar perairan. Gerakannya sangat
terbatas pada perairan sehingga dia sangat baik dijadikan indikator biologi untuk
menerangkan atau menunjukkan kondisi perairan apakah perairan itu tercemar
atau tidak.
Hehanusa (2001) Bentos adalah organisme yang hidup di permukaan atau
di dalam sedimen dasar di suatu badan air. Hewan-hewan benthos dalam
memanfaatkan detritus dengan cara suspension feeder yakni dengan cara
menyaring partikel-partikel yang masih melayang-layang di air yang ada di
sekitarnya dan dengan deposit feeders yakni mengumpulkan detritus yang telah
menetap di dasar.
III. METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakasanakan pada hari Jumat tanggal 7 April 2014 pada
pukul 15.00 17.00 WIB di Laboratorium Ekologi Perikanan.
3.2. Alat dan bahan
Pada praktikum analisis parameter benthos ini menggunakan beberapa
peralatan, diantaranya pipa paralon, saringan, cawan petri, mikroskop disetting.
3.3. Metode Praktikum
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah dengan menggunakan
metode mengambil data langsung dilapangan, kemudian dianalisis dan
diidentifikasi di laboratorium untuk menentukan nilai dari parameternya.
3.4. Prosedur Praktikum
Para Praktikan terjun langsung ke lapangan dengan mengamati lingkungan
di sekitar waduk dan mengambil sampel air dan diamati langsung di lapangan
tersebut. Apabila ada pengamatan yang tidak bisa dilaksanakan dilapangan, maka
air sampel dibawa dan praktek akan dilaksanakan di laboratorium.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Perhitungan Kelimpahan
Diketahui :
Luas alat yang digunakan
588,75 cm2
Banyak ulangan penyamplingan
3 kali
No.
Nama Species
Jumlah ditemukan
Hasil kelimpahan
1.
Pomatrofisis sp
34
2.
Varichaetadrilus sp
17
51
Total
4.1.2. Indeks keanekaragaman jenis organisme
No.
Nama Species
Kelimpahan
Pi
Log pi
=ni/N
Log2
Pi log2 pi
pi
Pomatrofisis sp
34
0,67
-0,17
-0,56
-0,38
Varichaetadrilus
17
0,33
-0,48
-1,59
-0,52
N = 45,45
-0,65
-2,15
= -0,90
sp
Total
Nilai indeks H = - pi log2 pi
= - (0,90)
= 0,90
4.1.3. Indeks
Dominasi
Jenis
organisme
menurut
Simpson
yang
disimbolkan C
No.
Nama Species
Kelimpahan
Pi = ni/N
Pi2 = (ni/N)2
Pomatrofisis sp
34
0,67
0,43
Varichaetadrilus sp
17
0,33
0,11
Total
N = 51
= 0,54
Maka, nilai indeks C = - (ni/N)2
Maka nilai indeks C = 1
4.1.4. Indeks keseragaman/ kesamaan jenis Organisme yang disimbolkan
dengan E
No.
Nama Species
Srygocapitella subterranea
Peraclis apicifulla
Total = 2 jenis
Nilai H =
0,90
, maka nilai S = 2
Nilai S =
2, maka log S = 0,30
Maka nilai E = H/log 2 S = 0,90/0,99 = 0,90
4.1. Pembahasan
Benthos adalah organisme (nabati/fitobenthos atau hewani/zoobenthos)
yang tinggal di dalam dan atau di atas sedimen di dasar suatu perairan. (Penuntun
praktikum ekoper 2010)
Organisme benthos ini meliputi jenis-jenis dari kelompok Protozoa,
Sponge, Coelenterate, Rotifera, Nematode, Bryozoa, Decapoda, Ostracoda,
Cladocera, Cpopoda, Pelecypoda, Gastropoda, Insekta, dan Lintah. Keberadaan
hewan ini dipengaruhi oleh kondisi fisika (substrat, kekeruhan, arus, kedalaman,
dan suhu), disamping juga dipengaruhi oleh factor kimia (pH, O2, dan bahanbahan toksik) dan factor biologi (predator dan kompetitor).
Peranan hewan benthos di perairan :
1. Mampu mendaur ulang bahan organik.
2. membantu proses mineralisasi.
3. Menduduki posisi penting dalam rantai makanan.
4. Indikator pencemaran, karena siklus hidupnya yang penjang dan sifat
pergerakannya yang terbatas.
Hehanusa (2001) Bentos adalah organisme yang hidup di permukaan atau
di dalam sedimen dasar di suatu badan air.
Menurut Asriyanto (1986) makrozobenthos adalah hewan benthos yang
tidak lolos dari ayakan dengan luas mata saring 1 mm2. Selanjutnya Odum (1971)
menyatakan bahwa yang termasuk kedalam makrozobenthos antara lain insekta,
annelida, bivalve, dan gastropoda.
Bentos adalah organisme perairan yang hidupnya berasosiasi dengan dasar
perairan. Dia dapat hidup pada dan didalam dasar perairan. Gerakannya sangat
terbatas pada perairan sehingga dia sangat baik dijadikan indikator biologi untuk
menerangkan atau menunjukkan kondisi perairan apakah perairan itu tercemar
atau tidak.
Dilihat dari segi makanannya, Cummins (1974) menyatakan bahwa makro
zoobentahos dapat bersifat autochthonous (misalnya vegetasi meti, periphiton, dan
makrophita) dan bersifat allotochthonous (misalnya vegetasi tepian sungai, limbah
dan sampah dari aktivitas manusia). Sumber makanan oirganik berasal dari
vegetasi tepian sungai yang jatuh dan langsung masuk ke dalam sungai, maupun
yang telah diproses di darat dan langsung masuk ke dalam sungai melalui air
permukaan dan melalui air tanah.
Menurut Odum (1971) benthos adalah berbagai jenis organisme yang
mendiami suatu perairan. Benthos yang hidup diatas dasar perairan disebut
epifauna, sedangkan benthos yang hidup membenamkan diri atau membuat
lubang dalam lumpur pada substrat lunak disebut infauna.
a. Indeks Keanekaragaman Jenis Organisme menurut Shannon Wienner
Nilai H pada perairan waduk bernilai 0,90. Angka tersebut tergolong
dalam kategori rendah, artinya sebaran individu tidak merata (keragaman rendah)
berarti lingkungan perairan tersebut telah mengalami gangguan yang cukup besar,
atau struktur komunitas organisme di perairan tersebut jelek.
b. Indeks Dominasi Jenis Organisme Menurut Simpson
Nilai C (indeks dominasi) pada perairan waduk adalah bernilai 0.56 dan
nilainya mendekati 1, berarti ada jenis yang mendominasi pada perairan tersebut.
C. Indeks Keseragaman Jenis Organisme Menurut Pilou
Nilai E adalah 0.90, mendekati 1 berarti keseragaman organisme dalam
suatu perairan keadaan seimbang, berarti tidak terjadi persaingan baik terhadap
tempat maupun terhadap makanan.
10
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Sebaran individu tidak merata, berarti lingkungan perairan tersebut telah
mengalami pencemaran ringan, selain itu ada jenis dominan yang muncul di
perairan tersebut. Keseragaman organisme dalam keadaan seimbang berarti tidak
terjadi persaingan baik terhadap tempat maupun terhadap makanan
5.2. Saran
Di harapkan kondisi waduk agar menjadi perhatian yang serius oleh
segenap warga yang ada di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Karena dari
hasil data, kelimpahan datanya sangat sedikit. Ini berarti akan mempengaruhi
kondisi organisme yang ada di perairan waduk. Kemudian setiap praktikan
diharapkan serius dalam pengambilan data
11
DAFTAR PUSTAKA
Adriman, 2006. Penuntun pratikum ekologi perairan. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru
Alearts, G. dan S. Santika, 1984. Metode Pengukuran Kualitas Air. Usaha
Nasional. Surabaya.
Boyd, C. E. 1982. Water Qualitas in Warn Water Fish Pond Agriculture
Experimen Stasion Aurburh University. Albana. 3591 pp.
Dahril, T. 1998. Reformasi di Bidang Perikanan Menuju Perikanan Indonesia
Yang Tangguh Abad ke-21, hal 25-34. Dalam Feliatra (editor) Strategi
Pembangunan Perikanan dan Kelautan Nasional Dalam Meningkatkan
Devisa Negara. Universitas Riau Press. Pekanbaru.
Davis, C. C., 1955. The marine and Fresh Water Plankton Michigan States
University Press. New York 561 p
Efawani. 2006. Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Riau. Pekanbaru.
Effendi,H., 2000. Telaahan Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan
Lingkungan Perairan. IPB Press. Bogor.
Pembangunan Pertanian. Jakarta, 80 hal.
UNESCO.Ntac, 1986. Water Quality Criteria. FWPCA. Washington. DC.23