Anda di halaman 1dari 24

YOGA SEBAGAI TERAPI KOMPLEMENTER

disusun guna memenuhi Tugas Mata Kuliah Terapi Komplementer


Dosen Pengampu : Ns.Siswoyo, M. Kep

oleh:
Chrisnina
Wahyu Elok Pambudi
Dewa Ayu Dwi Chandra Y.S
Akhmat Robi Tricahyono

112310101041
112310101043
112310101046
112310101061

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Era abad dua puluh ini perkembangan pengetahuan dan teknologi maju
begitu pesatnya. Kemajuan ini juga diikuti kebutuhan manusia yang semakin
kompleks. Salah satu kebutuhan tersebut adalah kebugaran dan kesehatan tubuh
manusia. Kebutuhan ini juga yang membuat banyak berdirinya pusat-pusat
kebugaran dengan fasilitas dan sarana yang memadai untuk tercapainya kebugaran
tersebut. Setiap manusia selalu berusaha untuk menjaga kesehatan tubuhnya.
Salah satu cara untuk menjaga kesehatan yaitu dengan berolahraga atau ke pusatpusat kebugaran. Salah satu tujuan kegiatan ini untuk menjaga tekanan darah agar
tetap stabil bahkan diharapkan juga dengan mengikuti program latihan yang sudah
ditentukan dapat menurunkan tekanan darah yang mengalami kenaikan di usia tua.
Tekanan darah adalah kekuatan yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan
luas dinding pembuluh. Kekuatan ini ditimbulkan oleh jantung yang berkontraksi
seperti pompa sehingga darah dapat terus mengalir dalam pembuluh darah dan
melawan gravitasi serta hambatan dalam dinding arteri (Guyton, 1997). Dinding
aorta dan arteri yang berdiameter besar relatif banyak mengandung jaringan
elastik (Ganong, 2003). Ketika jantung berkontraksi dan tekanan darah
meningkat, arteri meregang dan menyimpan energi potensial; ketika jantung
relaksasi, tekanan darah menurun dan arteri teregang dikendorkan kembali
(Agamemnon, 2000). Tekanan darah merupakan salah satu faktor penting dalam
kesehatan. Pada usia lanjut pembuluh darah cenderung menjadi kaku dan
elastisitasnya berkurang. Yoga merupakan salah satu latihan senam pernafasan
yang cukup terkenal saat ini. Ini dibuktikan dengan berdirinya tempat-tempat
latihan yoga di beberapa kota besar di Indonesia. Salah satu aspek penting dari
yoga adalah meditasi yang menimbulkan beberapa perubahan fisiologis yang
disebut respons relaksasi. Untuk menjaga agar tubuh tetap sehat di usia yang tidak
muda lagi, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah tekanan darah. Untuk
menjaga tekanan darah ini agar tetap seimbang terutama di usia yang sudah tua,
orang-orang banyak datang ke pusat kebugaran yang salah satunya ke tempat

pelatihan yoga. Dengan latar belakang tersebut maka penulis ingin mengetahui
lebih dalam tentang Terapi Yoga.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulis dalam makalah ini adalah :
1.2.1

Memahami konsep Terapi Yoga

1.2.2

Menerapkan konsep penerapan Yoga dalam keperawatan

1.2.3

Memahami peran perawat dalam pelaksanaan terapi Yoga

BAB 2. TINJAUAN TEORI


2.1 Pengertian Yoga
Secara harafiah kata yoga berarti bersatu atau bergabung. Berarti arti secara
luas terapi atau latihan yoga adalah menggabungkan dan menyatukan pikiran dan
tubuh kedalam satu kesatuan yang saling melekat dan seimbang. Yoga adalah
salah satu sistem perawatan kesehatan yang menyeluruh yang berfokus pada
pikiran dan tubuh (Lalvani, 2010). Yoga adalah sebuah kata Sansekerta kuno.
Kata ini mempunyai dua arti yang berbeda, yaitu arti umum dan arti teknis. Dalam
arti umum, kata yoga berasal dari asal kata Yujiryoge, yang berarti bergabung,

bersatu, atau persatuan dari dua benda atau lebih. Arti teknik dari istilah yoga
diperoleh dari Yuj yang artinya bukan persatuan, melainkan keadaan stabil, diam,
dan damai (Savitri, 2009).
Yoga merupakan sistem kesehatan menyeluruh (holistik) yang terbntuk dari
kebudayaan India kuno sejak 3000 SM yang lalu. Yoga atau Yuj dalam bahasa
Sansekerta kuno berarti union (penyatuan). Intinya melalui yoga seseorang akan
lebih baik mengenal tubuhnya, mengenal pikirannya dan mengenal jiwanya.
Semakin ia mengenal seluruh aspek dirinya itulah maka semakin dekat pula ia
dengan Sang Penciptanya. Yoga bisa juga disebut sebagai sebuah alat terapi.
Banyak penyakit dan gangguan tubuh yang dapat dilepaskan melalui berbagai
posisi tubuh tertentu dan latihan pernafasan dibawah bimbingan pelatih yoga
terlatih. Dan setiap orang dapat melakukan yoga tanpa memandang usia, ukuran,
kelenturan, ataupun kesehatan (Lalvani, 2010).
Diibaratkan tubuh adalah sebuah kesadaran

dan

pikiran

sebagai

pengemudinya. Saat mengemudikan tubuh, pikiran terpengaruh oleh tiga hal


yakni emosi, akal, dan aksi. Agar tubuh terus beroperasi dengan baik, ketiga hal
yang mempengaruhi pikiran ini harus dijaga agar selalu dalam keadaan yang
paling seimbang. Para yogi (praktisi yoga) masa lampau memahami keterkaitan
antara tubuh dan pikiran ini dan akhirnya menciptakan sebuah sistem yoga yang
merupakan kombinasi unik antara gerakan yang bermanfaat untuk meningkatkan
kesehatan fisik dan cara bernapas serta meditasi yang memberikan ketenangan
pikiran. Dengan berlatih yoga, seseorang bagaikan pemilik kendaraan yang
mampu merawat dan memperbaiki sendiri kendaraannya apabila terjadi kerusakan
sehingga ia tetap berada dalam kondisi yang prima dari waktu ke waktu (Sindhu,
2006).
2.2 Jenis-jenis Yoga
Menurut Rohimawati (2009) Ada beberapa jenis yoga yang terkenal, tetapi
yang perlu diingatkan dari tiap-tiap sistem yoga ini melibatkan banyak hal dalam
hidup dan kedisiplinan serta latihan yang sangat teratur. Adapun beberapa jenis
yoga diantaranya yaitu :
a. Hatha yoga adalah suatu sistem atau aktivitas yang memberikan perhatian
pada postur tubuh dan pengendalian napas yang benar. Hatha yoga juga

menitikberatkan pada pelatihan tubuh fisik serta kelenturan sehingga


memudahkan tubuh fisik merespon dorongan kehadiran Illahi atau Tuhan
didalam diri. Banyak praktisi menekankan nilai self healing (penyembuhan
diri) dari hatha yoga karena jika dilatih secara terus-menerus akan
meningkatkan kesejahteraan fisik dan inilah yang akan menunjang
pertumbuhan spiritual yang lebih dewasa.
b. Mantra yoga adalah sistem yang bertujuan menyelaraskan sifat pribadi
dengan nada gelombang kesadaran yang jauh lebih tinggi dan lebih halus
sifatnya dari kesadaran kehari-hari. Illahi atau Tuhan dalam diri kita bukan
melalui mekanisme fisik, tetapi melalui rohani.
c. Bakti yoga adalah jalan pengabdian hidup. Sistem ini menekankan cinta
kasih, penyerahan diri pada spirit Illahi. Dengan didasari hati yang positif
dan ikhlas, kita dapat menempatkan Sang Illahi sebagai arah tujuan hidup.
d. Karma yoga adalah sistem yang melibatkan segala tindakan dengan tujuan
melalui tindakan yang benar akan mencapai penyatuan dengan Yang Maha
Kuasa.

Tindakan

dalam

karma

yoga

dilakukan

dengan

tanpa

mengharapkan imbalan (selfless service). Ini adalah jalan bagi mereka


yang digerakkan dengan rasa welas asih yang tulus terhadap penderitaan
orang lain.
e. Jnana yoga adalah sistem yang menggunakan jalur ilmu pengetahuan dan
kebijaksanaan untuk mencapai tujuan kebenaran hidup.
f. Raja yoga, biasa disebut sebagai bentuk yoga yang paling tinggi. The
Science of The Kings menggabungkan aspek-aspek utama dari sistem yoga
lainnya. Ini untuk melatih kedisiplinan dan pelatihan memurnikan emosi
secara personalitas sehingga timbul kesadaran bahwa diri kita kekal dapat
menyatu dengan Sang Illahi.
2.3 Tujuan dan Manfaat
Secara umum terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari
sistem-sistem tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh
dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita
sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri,
asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan respon dengan asupan
nutrisi yang baik dan lengkap serta perawatan yang tepat. Di masa kini yoga

dipandang sebagai suatu teknik yang bermanfaat untuk mencapai kebugaran


dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah serta menyembuhkan berbagai macam
penyakit atau gangguan tertentu (Savitri, 2009).
Menurut Sindhu (2006), secara umum dengan melakuka latihan yoga secara
teratur memiliki manfaat yang besar, antara lain sebagai berikut:
a. Meningkatkan fungsi kerja kelenjar endokrin (hormonal) di dalam tubuh
b. Meningkatkan sirkulasi darah ke seluuh sel tubuh dan otak
c. Membentuk postur tubuh yang lebih tegap, serta otot yang lebih lentur
d.
e.
f.
g.
h.

dan kuat
Meningkatkan kapasitas paru-paru saat bernapas
Membuang racun dari dalam tubuh (detoksifikasi)
Meremajakan sel-sel tubuh dan memperlambat penuaan
Memurnikan saraf pusat yang terdapat di tulang punggung
Mengurangi ketegangan tubuh, pikiran, mental, serta membuatnya lebih

kuat saat menghadapi stres


i. Memberikan kesempatan untuk merasakan relaksasi yang mendalam
j. Meningkatakan kesadaran pada lingkungan
k. Meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan untuk berpikir positif
Menurut Lewis (2006) Yoga dilakukan untuk melatih otot serta
meningkatkan kekuatan dan stamina melalui peregangan. Menggunakan
pernapasan yang tepat selama latihan peregangan ini membuat pikiran dan tubuh
harmonis. Adapun manfaat utamanya yaitu:
a. Meningkatkan mobilitas persendian dan otot
b. Memperkuat koordinasi otot
c. Meningkatkan kewaspadaan pikiran dan tubuh
d. Meningkatkan stamina
e. Meningkatkan kekuatan
f. Membantu relaksasi
Sedangkan menurut Savitri (2009), manfaat dari melakukan terapi yoga
adalah:
1.

Pembaruan Energi
a. Mengurangi penuaan
Berbagai posisi yoga dapat mengakibatkan anti penuaan dan anti gravitasi.
Berbagai proses tersebut dapat mengurangi pengeriputan organ atau otot
yang ditimbulkan oleh proses penuaan dan pengaruh proses gravitasi yang
terus-menerus. Latihan yoga yang teratur dapat meningkatkan kelenturan
dan mempertahankan kelenturan dan meremajakan tulang punggung.

Berbagai posisi tersebut juga dapat mengembangkan koordinasi dan juga


keseimbangan dalam proses penuaan. Yoga dapat memperbaiki postur
tubuh dan dapat pula untuk meningkatkan mekanisme tubuh.
b. Menjadi tetap bugar
Yoga merupakan cara yang baik untuk membentuk postur tubuh. Berbagai
posisi yoga dapat menyehatkan berbagai organ dan membentuk otot-otot
yang panjang dan langsing. Latihan menekuk tubuh kedepan, kebelakang,
dan berbagai posisi menyamping atau berpilin dan posisi terbalik dapat
menyeimbangkan dan melatih setiap otot, tulang, sendi-sendi, dan organorgan tubuh.
2.

Perbaikan Sirkulasi
Posi-posi yoga akan membawa perbaikan sirkulasi darah dan kelenjar getah
bening diseluruh tubuh. Tekanan dari ruang abdomen terdapat diafragma yang
dapat melatih otot-otot diafragma dan jantung. Posisi-posisi terbalik dapat
meningkatkan kualitas tidur karena posisi tersebut membantu proses relaksasi
sistem syaraf simpatik, memampukan respon relaksasi untuk masuk.

3.

Menghilangkan Penyakit Kronis dan Mengurangi Stress


Berbagai penyakit kronis pada umumnya, atritis, osteoporosis, obesitas, asma,
penyakit jantung, dapat disembuhkan dengan latihan program yoga secara
teratur. Yoga dapat menanggulangi stress dengan menanfaatkan kesadaran,
pemusatan dan berbagai teknik pernapasan.

4.

Membantu Menjadikan Rileks


Teknik pernafasan tertentu dapat mengendalikan pernafasan dan pikiran.
Teknik pernafsan dapat membuat tubuh terasa lebih sehat. Sistem pernafasan
dan sistem saraf menjadi tenang dan kuat, dan seluruh sel menerima kekuatan
hidup dan makanan dari pernafasan. Teknik pernafasan yang baik dapat
membuat energi vital dari tubuh dapat menjadi seimbang, kelelahan dapat
berkurang, pikiran dan emosi dapat berkurang. Teknik relaksasi alam sadar
secara sistematis membimbing kedalam keadaan rileks yang mendalam.
Begitu suara-suara dalam pikiran menghilang, tubuh akan mampu untuk
melepaskan tegangan otot.

5.

Peningkatan Kepadatan Tulang


Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Steven A. Hawkinsdan yang
bekerjasama dengan 12 wanita dari usia 18-65 tahun yang tidak memiliki
pengalaman berlatih yoga. Setengah dari kelompok tersebut mengikuti dua
kelas yoga selama seminggu dan juga berlatih sendiri tiga kali seminggu.
Pemeriksaan kepadatan tulang dilakukan pada awal penelitian dan kembali
dilakukan enam bulan kemudian. Setelah enam bulan kelompok yoga yang
kepadatan tulang punggungnya meningkat, sementara pada kelompok yang
lain tidak terdapat perubahan dalam tingkat kepadatan tulang mereka.

6.

Keseimbangan Emosi
Yoga berdampak bagi kehidupan sseseorang. Gerakan menekuk tubuh ke
depan adalah posisi tubuh yang berpusat pada diri sendiri, dan karena itu
memiliki dampak menenangkan dan kegelisahan. Menekuk punggung ke
belakang adalah gerakan yang berorientasi pada keadaan di luar tubuh yang
membawa kegembiraan, membantu membuka tubuh dan melepas emosiemosi yang tertahan seperti kesedihan dan rapatan. Latihan pernafasan
tertentu dapat dapat dilakukan untuk menggerakkan atau memberikan
memberika energi pada individu.

7.

Peningkatan Kehidupan Seksual


Gerakan-gerakan fisik dari yoga merangsang dan menguatkan tubuh atau
meningkatkan sirkulasi darah. Organ-organ pinggul dan otot yang menopang
khhususnya otot-otot perineal dan bagian dasar dari tulang pinggul menjadi
lebih sehat, mendapatkan asupan oksigen, dan didorong oleh darah segar dan
makanan. Daerah yang terjepit seperti bahu, pinggul urat-urat lutut, daerah
kemaluan dan punggung bagian bawah menjadi mengendur dan lebih lentur.

2.4 Indikasi dan Kontraindikasi


2.4.1 Indikasi
a. low back pain;
b. cemas;
c. stres;
d. nyeri haid;

e.

hipertensi.

2.4.2 Kontraindikasi
a. sakit dada persisten;
b. gejala/tanda syok kardiogenik;
c. suhu di atas 38 derajat celcius;
d. gagal jantung belum stabil;
e. kehamilan dengan penyakit jantung;
f. riwayat persalinan kurang 2 bulan;
g. plasenta previa;
h. kecederaan pada lutut, bahu, dan leher.
2.5 Implikasi Dalam Bidang Keperawatan
Perawat adalah salah satu profesi yang berperan

penting dalam

penyelenggaraan upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pada


standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu dijelaskan bahwa pelayanan
keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan
terus-menerus melibatkan diri. Implikasi dari terapi yoga di bidang keperawatan
itu sendiri sangat membantu dimana di dalam terapi yoga itu sendiri terdapat
teknik-teknik yang dapat membantu dalam peningkatan kesehatan tubuh, seperti
teknik relaksasi pernapasan dan latihan-latihan otot yang sangat membantu
meningkatkan kesehatan tubuh. Oleh karena itu penting bagi kita seorang perawat
untuk ikut serta belajar dan memperoleh ilmu dan melibatkan diri didalam
meningkatkan derajat kesehatan.

BAB 3. PEMBAHASAN
Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel
jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Masalah yang terjadi pada klien
dengan kanker setelah kemoterapi adalah kelelahan atau fatigue. Kelelahan atau
fatique adalah keluhan subyektif yang lazim dialami penderita kanker yang
semakin bertambah kualitas kelelahannya ketika menjalani program kemoterapi.
Fatique mempengaruhi bagaimana perasaan individu, bentuk aktivitas harian,
hubungan sosial dan keberlanjutan terapi kanker. Rasa lelah dapat diakibatkan
oleh penyakit kanker itu sendiri atau oleh karena dampak intervensi medis seperti
pembedahan dan kemoterapi. Perubahan fisik akibat kemoterapi menyebabkan
penderita merasa lelah sehingga berhenti bekerja, menghindari sahabat, lebih
banyak tidur dan pada banyak kasus tidak mampu melakukan aktivitas fisik.
Berdasarkan jurnal Danismaya (2009), kemoterapi secara teori disebutkan
akan menyebabkan timbulnya fatique terkait terjadinya myelosupressi. Richardson
dalam Otto (2001) melaporkan bahwa keluhan fatique. dapat terjadi dalam 48 jam
pertama pasca kemoterapi. Pada kelompok intervensi ada sebanyak 13 orang
(65%) yang menjalani kemoterapi kurang dari 5 kali, sedangkan pada kelompok
kontrol ada 6 orang (30%). Sementara responden yang menjalani kemoterapi lebih
dari 5 kali pada kelompok intervensi sebanyak 7 orang (35%) dan pada kelompok
kontrol sebanyak 14 orang (70%). Kelelahan dalam istilah kesehatan disebut
fatique untuk menggambarkan keadaan penderita yang mengalami intoleransi
aktivitas, kehilangan energi atau kelemahan. Kelelahan merupakan keluhan umum
dan pengalaman tersering yang dialami penderita dengan kanker. Ironisnya
seringkali penderita tidak menyampaikan kelelahannya tersebut karena mereka
menyakini bahwa hal ini merupakan efek dari penyakit yang tidak dapat
diintervensi. Petugas kesehatan juga cenderung menganggapnya biasa bahwa
kelelahan pada penderita kanker memang lazim terjadi.

Fatique mempengaruhi bagaimana perasaan individu, bentuk aktivitas


harian, hubungan sosial dan keberlanjutan terapi kanker. Rasa lelah dapat
diakibatkan oleh penyakit kanker itu sendiri atau oleh karena dampak intervensi
medis seperti pembedahan dan kemoterapi. Perubahan fisik akibat kemoterapi
menyebabkan penderita merasa lelah sehingga berhenti bekerja, menghindari
sahabat, lebih banyak tidur dan pada banyak kasus tidak mampu melakukan
aktivitas fisik. Teknik relaksasi dapat dicobakan sebagai salah satu intervensi
alternatif dalam mengurangi atau menghilangkan rasa lelah terkait penyakit
kanker yang sedang diderita. Kimbrough (2005) menyatakan bahwa relaksasi
pada hakikatnya merupakan pengalaman dari tubuh dan pikiran ketika energi yang
dikonsumsi sedikit atau bahkan tidak ada. Banyak ragam teknik relaksasi yang
telah diketahui, namun demikian prinsip dasarnya sama yaitu menyelaraskan
energi yang dimiliki dengan aktivitas yang dilakukan. Keefektifan Yoga dalam
mengurangi penderitaan akibat penyakit kanker telah dibuktikan oleh banyak
pakar di bidang ini.
Secara keseluruhan teknik relaksasi Yoga pada 4 (empat) dimensi Fatique
dari Piper cukup bermanfaat untuk menurunkan tingkat fatique responden. Teknik
relaksasi Yoga dalam Postur Savasana yang dilakukan kelompok intervensi
mampu menimbulkan perasaan rileks secara fisik dan pikiran. Individu yang
melakukannya akan terbebas dari tekanan dan kecemasan serta akan mendapatkan
ketenangan pikiran. Teknik relaksasi Yoga disimpulkan mempunyai pengaruh
untuk mengurangi keluhan fatique penderita kanker pasca kemoterapi di Rumah
Sakit Hasan Sadikin Bandung sehingga teknik tersebut hendaknya dijadikan
protap baku dalam pelayanan keperawatan di ruangan kemoterapi. Karena
banyaknya faktor yang diketahui berkontribusi terhadap kualitas fatique maka
penelitian lanjutan direkomendasikan agar dilakukan dengan jumlah sampel yang
lebih banyak dengan metodologi penelitian yang lebih beragam.

Tabel 3.1 Analisis Perbedaan Tingkat Fatique Pada Kelompok


Intervensi dan Kelompok Kontrol Pada Hari Ke-1 sampai
Ke-5 Di R.S. Hasan Sadikin Bandung
Kelompok
Hari ke-1
Klp Intervensi
Klp Kontrol
Selisih
Hari ke-2
Klp Intervensi
Klp Kontrol
Selisih
Hari ke-3
Klp Intervensi
Klp Kontrol
Selisih
Hari ke-4
Klp Intervensi
Klp Kontrol
Selisih
Hari ke-5
Klp Intervensi
Klp Kontrol
Selisih

Mean

SD

6.4773
6.6705
0.1932

0.38442
0.34582
0.11562

6.4818
6.6159
0.1341

0.36939
0.35408
0.11442

6.0273
6.4477
0.4205

0.35498
0.36610
0.11403

p Value
0.103

0.249

0.001

0.000
5.3364
6.2205
0.8841

0.30274
0.31536
0.09775

4.5932
6.0682
1.4750

0.32225
0.28615
0.09637

0.000

Hasil yang didapatkan dari

penelitian yang dilakukan adalah sebagai

berikut.
1. Tingkat fatique di hari kesatu sebelum teknik relaksasi Yoga dilakukan pada

kelompok intervensi dan kelompok kontrol menurut skala fatique dari Piper
termasuk dalam kategori tingkat fatique berat.
2. Tingkat fatique tertinggi berdasarkan dimensi fatique dari Piper adalah

dimensi perilaku (severity) yaitu dimensi yang merefleksikan seberapa besar


derajat fatique dalam mempengaruhi aktivitas sehari-hari penderitanya.
3. Nilai mean tingkat fatique pada kelompok intervensi menurun secara

bermakna dengan perbedaan nilai mean terbesar terjadi di hari kelima


sesudah melakukan teknik relaksasi Yoga.

4. Nilai mean tingkat fatique pada kelompok kontrol menurun secara bermakna

dengan perbedaan mean terbesar terjadi di hari kelima meskipun tidak


melakukan teknik relaksasi Yoga.
5. Tidak ada perbedaan yang bermakna perubahan tingkat fatique di hari kesatu

sebelum latihan relaksasi Yoga dan pada hari kedua sesudah latihan relaksasi
Yoga, baik pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.
6. Ada perbedaan yang bermakna perubahan tingkat fatique sesudah melakukan
teknik relaksasi Yoga pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada hari
ketiga, hari keempat dan kelima.

BAB 4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Yoga adalah salah satu sistem perawatan kesehatan yang
menyeluruh yang berfokus pada pikiran dan tubuh (Lalvani, 2010). Jenis-jenis
yoga diantaranya yaitu hatha yoga, karma yoga, mantra yoga, bakti yoga, jnana
yoga dan raja yoga. Yoga memiliki tujuan dan manfaat dimana pada intinya
memberikan kesehatan jiwa dan fisik bagi pelakunya. Yoga dalam manfaat
praktisnya juga bermanfaat dalam beberapa penyakit. Seperti yang telah
dijelaskan pada jurnal Danismaya (2009), bahwa yoga berpengaruh signifikan
terhadap penurunan fatique pada pasien kanker. Oleh karena itu perawat perlu
mengenal dan mendalami terapi komplementer yoga untuk meningkatkan
profesionalisme perawat.
4.2 Saran
4.2.1 Bagi Mahasiswa Keperawatan
Diharapkan mahasiswa dapat terus mengaplikasikan dan mengembangkan
konsep yoga pada kehidupan.
4.2.2 Bagi Masyarakat
Adanya terapi komplementer yoga diharapkan masyarakat dapat lebih
berperan aktif dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal utamanya untuk
meningkatkan status kesehatan dengan aplikasi yoga.
4.2.3 Bagi keperawatan
Diharapkan keperawatan terus mengembangkan konsep ilmu terapi
komplementer khususnya yoga demi meningkatkan profesionalisme perawat.

Lampiran 1 : Standart Operational Procedure (SOP)

TERAPI YOGA
PSIK
UNIVERSITAS JEMBER
PROSEDUR TETAP

NO. DOKUMEN:
TANGGAL

NO. REVISI: HALAMAN:


DITETAPKAN OLEH:

TERBIT:
1.

PENGERTIAN

Merupakan suatu terapi yang memfokuskan


keterampilan spiritual yang mengolah fisik dan
jiwa. Gerakan yoga menyeimbangkan energi dan
memberi kenyamanan tubuh bahkan juga
meremajakan sel-sel kulit (Dalimartha, 2008)

2.

TUJUAN

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

meningkatkan stamina
memperkuat tubuh
mengencangkan otot
memberikan efek perasaan yang tenang dan rileks
meningkatkan daya ingat
meningkatkan kapasitas paru-paru saat bernapas
membuang racun yang ada di dalam tubuh

h. Melancarkan aliran darah


3.

INDIKASI

4.

KONTRAINDIKASI

5.
6.

PERSIAPAN KLIEN
PERSIAPAN ALAT

7.

CARA KERJA

a. Semua orang
b. Atau individu yang terindikasi:
low back pain
cemas
stres
nyeri haid
hipertensi
a. sakit dada persisten
b. gejala/tanda syok kardiogenik
c. suhu di atas 38 C
d. gagal jantung belum stabil
e. kehamilan dengan penyakit jantung
f. riwayat persalinan kurang 2 bulan
g. plasenta previa
h. kecederaan pada lutut, bahu, dan leher
Pastikan kondisi klien siap untuk melakukan senam
a.
matras
b.
tempat yang tenang
Orientasi

a. Memberi salam terapeutik dan bina hubungan


saling percaya
b. Evaluasi/validasi: menanyakan perasaan dan
kesiapan klien saat ini
c. Kontrak: tujuan dan waktu
Tahap Kerja
AWALAN

a. SIKAP TUBUH:
Berdiri setegak mungkin dengan kedua kaki
rapat. Pastikan bahu tetap turun dan perut
serta tulang ekor ditarik masuk.

Angkat tumit dan jaga keseimbangan dengan


jari-jari kaki. Apabila anda tidak jatuh
berarti anda berada dalam sikap tubuh
sempurna.

Bersujudlah dengan bertumpu di atas tumit.


Letakkan tangan di atas lutut lalu tegakkan
punggung hingga siku anda lurus.

Duduklah bersila dan tegakkkan punggung


semampu anda. Gerakan ini memusatkan
keseimbangan dan menciptakan perilaku
mental yang positif

b. BERNAFAS:
Letakkan kedua tangan pada perut. Lalu
tarik nafas perlahan dan teratur. Rasakan

perut
yang
mengembung
membesarnya diafragma.

seiring

Hembuskan nafas secara perlahan dan


teratur. Rasakan perut mengecil saat
bernafas dan jaga bahu dan dada agar tidak
bergerak
c. PEMANASAN:
Bernafaslah dengan normal sambil berdiri.
Lalu angkat kedua lengan ke samping badan
dengan perlahan.

Posisikan kaki dibuka 15-20 cm. Kedua


tangan menggenggam di depan tubuh lalu
mulailah menarik nafas sambil mengangkat

tangan.

Sambil menarik nafas, regangkan dan tarik


tangan ke atas setinggi mungkin.
Kencangkan pinggul dan tarik tulang ekor
ke dalam

Buang nafas dan turunkan kedua lengan


sejajr dengan bahu. Angkat lutut dengan
menggunakan kekuatan otot di atas

tempurung lutut (Lalvani, 2010).

INTI YOGA
1. Upward Hand Pose
Cara : berdiri tegak, tarik napas dalam-dalam lalu
ayunkan kedua tangan ke atas. Tarik punggung
kearah dalam hingga membusung saat kedua
tangan mengatup di atas kepala. Gerakan ini
membantu peregangan di tubuh bagian depan
seperti bahu, perut, dada, pinggul

2. Standing Forward Fold


Cara : berdiri tegak, tarik napas lalu keluarkan
secara perlahan sambil membungkuk. Luruskan

tangan ke arah bawah hingga menyentuh lantai.


Jika Anda tidak kuat, maka Anda bisa
menekukkan lutut sedikit. Gerakan ini bisa
meregangkan bagian belakang seperti tulang
belikat, punggung, betis, bokong.

3. Child pose
Berfungsi untuk peregangan pinggul, paha depan,
punggung. Pada posisi seperti hendak tidur ini,
akan membuka pinggul dan membantu
mengurangi sesak

4. Downward Facing Dog pose


Pada teknik ini berfungsi untuk meregangkan
tulang belakang, paha belakang, glutes, betis,
memperkuat deltoids, triceps

5. Tree pose
Pada tree pose akan dilakukan peregangan
pinggul, paha bagian dalam, memperkuat kaki,
dan tulang belakang. Gerakan ini sangat baik pada
saat hari-hari ketika pikiran sedang kacau, yang
bertujuan untuk memusatkan pikiran

6. Fierce pose
Pose ini sangat baik untuk antisipasi terhadap
cidera, karena fierce pose akan memberikan
dukungan kuat di sekitar lutut , sehingga membuat
lutut tahan terhadap akibat dari cedera. Fierce

pose juga bisa memperbaiki postur tubuh yang


kurang baik

PENDINGINAN
1. Duduk bersila dan lakukan tarik nafas dengan
frekuensi 3 kali sambil mengangkat tangan dari
bawah ke atas.
2. Lakukan hingga merasa rileks.
Catatan:
1. Durasi tiap gerakan yoga bervariasi, kita akan
mencoba dengan durasi 2x10 detik.
Tahap Terminasi
Evaluasi
1. Setelah selesai klien ditanya bagaimana hasilnya,
apakah kondisi klien merasa lebih baik dan
nyaman?
2. Memberi pujian atas keberhasilan tindakan yang
dilakukan klien
Rencana Tindak Lanjut

10. EVALUASI
11.

DOKUMENTASI

1. Menganjurkan klien melakukan kembali kegiatan


senam yoga sesuai kondisi yang dibutuhkan
2. Kontrak yang akan datang: menyepakati kegiatan,
waktu, dan tempat (bila diperlukan)
1. Evaluasi respon klien setelah melakukan kegiatan
2. Evaluasi kemampuan klien untuk melakukan
secara mandiri
Dokumentasikan pada catatan keperawatan

DAFTAR PUSTAKA
Agamemnon, D. 2000. Atlas Berwarna dan Teks Fisiologi. Jakarta: Hipokrates.
Dalimartha, S. 2008. Care Your Self: Hipertensi. Jakarta: Penebar Plus.
Danismaya, I. 2009. Pengaruh Teknik Relaksasi Yoga Terhadap Fatique
Penderita Kanker Pasca Kemoterapi Di RS Hasan Sadikin Bandung.
[serialonline].https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0
CCoQFjAB&url=http%3A%2F%2Fwww.jurnal.stikesaisyiyah.ac.id
%2Findex.php%2Fgaster%2Farticle%2Fdownload
%2F10%2F7&ei=DnMtVKGtF4GjugSs2YD4Cw&usg=AFQjCNG4hD
DtHZSVqQL7qeVAi7edbu0mBQ&bvm=bv.76477589,d.c2E.
[02
Oktober 2014].
Ganong, W. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Guyton, H. 1997. Buku ajar fisiologi. Jakarta: EGC.
Lalvani, V. 2010. Dasar-dasar Yoga. Jakarta: Erlangga.
Lewis, S. 2006. Ramping Kembali:Program 10 Minggu Perampingan Setelah
Melahirkan. Jakarta:Erlangga
Rohimawati, R. 2009. Sehat dan Bahagia dengan Yoga. Jakarta: Kawan Pustaka.
Savitri, R. 2009. Asma Mengetahui Penyebab Gejala dan Cara Penanggulangan.
Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Sindhu, P. 2006. Hidup Sehat dan Seimbang Dengan Yoga. Bandung: Qanita.