Anda di halaman 1dari 21

Bahan Tambah

Bahan tambah (admixture) adalah bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam campuran


beton pada saat atau selama percampuran berlangsung. Fungsi dari bahan ini adalah untuk
mengubah sifat-sifat dari beton agar menjadi lebih cocok untuk pekerjaan tertentu, atau
untuk menghemat biaya.
Admixture atau bahan tambah yang didefinisikan dalam Standard Definitions of
Terminology Relating to Concrete and Concrete Aggregates (ASTM C.125-1995:61) dan
dalam Cement and Concrete Terminology (ACI SP-19) adalah sebagai material selain air,
agregat dan semen hidrolik yang dicampurkan dalam beton atau mortar yang ditambahkan
sebelum atau selama pengadukan berlangsung. Bahan tambah digunakan untuk
memodifikasi sifat dan karakteristik dari beton misalnya untuk dapat dengan mudah
dikerjakan, mempercepat pengerasan, menambah kuat tekan, penghematan, atau untuk
tujuan lain seperti penghematan energi.
Bahan tambah biasanya diberikan dalam jumlah yang relatif sedikit, dan harus dengan
pengawasan yang ketat agar tidak berlebihan yang justru akan dapat memperburuk sifat
beton.
Di Indonesia bahan tambah telah banyak dipergunakan. Manfaat dari penggunaan bahan
tambah ini perlu dibuktikan dengan menggunakan bahan agregat dan jenis semen yang
sama dengan bahan yang akan dipakai di lapangan. Dalam hal ini bahan yang dipakai
sebagai bahan tambah harus memenuhi ketentuan yang diberikan oleh SNI. Untuk bahan
tambah yang merupakan bahan tambah kimia harus memenuhi syarat yang diberikan
dalam ASTM C.494, Standard Spesification for Chemical Admixture for Concrete.

A. BAHAN TAMBAH KIMIA (ADMIXTURE)


Chemical admixture (ASTM C 494), yaitu bahan tambah cairan kimia yang
ditambahkan untuk mengendalikan waktu pengerasan (memperlambat atau mempercepat),
mereduksi kebutuhan air, menambah kemudahan pengerjaan beton, meningkatkan nilai
slump dan sebagainya.
Chemical Admixture:
Biasanya digunakan dalam jumlah yang sedikit pada campuran beton. Tujuan
penggunaannya adalah untuk memperbaiki sifat-sifat tertentu dari campuran.
Penggunaan admixture harus mengikuti spesifikasi yang ditetapkan produsennya.
Trial Mix sebelum penggunaan sangat dianjurkan.

Menurut standar ASTM. C. 494 (1995: .254) dan Pedoman Beton 1989 SKBI.1.4.53.1989
(Ulasan Pedoman Beton 1989: 29), jenis bahan tambah dibedakan menjadi tujun tipe
bahan tambah, yaitu :

a. Tipe A Water-Reducing Admixtures


Water-Reducing Admixtures adalah bahan tambah yang mengurangi air
pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu.
Water-Reducing Admixtures digunakan antara lain untuk dengan tidak
mengurangi kadar air semen dan nilai slump untuk memproduksi beton dengan nilai
perbandingan atau rasio factor air semen (wer) yang rendah.
Bahan tambah yang berfungsi untuk mengurangi penggunaan air pengaduk
untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu. Bahan tambah dengan
fungsi water reducing digunakan dengan tujuan utama sesuai kebutuhan, sebagai
berikut :
o

mengurangi kadar air (fas) dengan tidak mengurangi semen dan slump

meningkatkan slump dengan tidak mengurangi semen dan kadar air (fas) yang
digunakan

mengurangi semen yang digunakan dengan tidak mengurangi slump dan kadar air
(fas) -- harus memperhatikan ketentuan pemakaian semen minimum sesuai
peraturan
Bahan tambah ini pada umumnya mengurangi pemakaian air sebanyak 5% 12% dari pemakaian pada desain mix beton normal.
Penggunaan bahan tambah ini harus memperhatikan pengaruhnya pada waktu
ikat (setting) beton segar yang pada umumnya akan menjadi lebih cepat dari beton
normal -- pelaksanaan finishing harus dipersiapkan dengan baik supaya tidak
terlambat dimulai dan diselesaikan.

Dengan menggunakan jenis bahan tambah ini akan dapat dicapai tiga hal, yaitu
:

Hanya menambah/meningkatkan workability. Dengan menambahkanWRA


ke dalam beton maka dengan fas (kadar air dan semen) yang sama akan

didapatkan beton dengan nilai slump yang lebih tinggi. Dengan slump yang
lebih tinggi, maka beton segar akan lebih mudah dituang, diaduk dan
dipadatkan. Karena jumlah semen dan air tidak dikurangi dan workability
meningkat maka akan diperoleh kekuatan tekan beton keras yang lebih besar
dibandingkan beton tanpa WRA.

Menambah kekuatan tekan beton. Dengan mengurangi/memperkecil fas


(jumlah air dikurangi, jumlah semen tetap) dan menambahkan WRA pada
beton segar akan diperoleh beton dengan kekuatan yang lebih tinggi. Dari
beberapa hasil penelitian ternyata dengan fas yang lebih rendah tetapi
workability tinggi maka kuat tekan beton meningkat.

Mengurangi biaya (ekonomis). Dengan menambahkan WRA dan


mengurangi jumlah semen serta air, maka akan diperoleh beton yang
memiliki workability sama dengan beton tanpa WRA dan kekuatan tekannya
juga sama dengan beton tanpa WRA. Dengan demikian beton lebih
ekonomis karena dengan kekuatan yang sama dibutuhkan jumlah semen
yang lebih sedikit.

Bahan tambah pengurang air dapat berasal dari bahan organic ataupun campuran
anorganik untuk beton tanpa udara (non-air-entrained) atau dengan udara dalam hal
mengurangi kendungan air campuran. Selain itu bahan tambah ini dapat digunakan
untuk memodifikasi waktu pengikatan beton atau mortar sebagai dampak perubahan
factor air semen.
Bahan tambah ini biasa disebut water reducer atau plasticizer. Komposisi dari
campuran bahan tambah ini diklasifikasikan secara umum menjadi 5 kelas :
1)
2)
3)
4)
5)

Asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam.


Modifikasi dan turunan asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam.
Hydroxylated carboxylic acids dan kandungan garamnya.
Modifikasi hydroxylated carboxylic acids dan kandungan garam-garamnya.
Materi lain seperti :
a) Materi inorganic seperti seng, garam-garam, barak, pospat, klorida.
b) Asam amino dan turunannya.
c) Karbohidrat, polisakarin, dan gula asam.
d) Campuran polimer, seperti eter, turunan melamic, neptan, silicon,
hidrokarbon-sulfat.

Contoh produk plasticizer:


a. Plastiment NS
Produk ini dikeluarkan oleh Sika, dengan bahan dasar polimer padat.
Plastiment NS memenuhi standar ASTM C-494 Tipe A dan AASHTO M194 Tipe A. Plastiment NS direkomendasikan untuk digunakan pada
aplikasi beton kualitas tinggi dengan peningkatan kuat tekan awal dan
waktu ikatan normal. Produk ini dapat mengurangi air sampai dengan 10%
untuk memperoleh beton yang mudah dikerjakan dengan kuat tekan dan
kuat lentur yang lebih tinggi. Dosis yang digunakan adalah 130 265 ml
untuk tiap 100 kg semen.
b. Plastocrete 161W
Merupakan produk Sika dengan bahan polimer dan telah memenuhi
persyaratam ASTM C-494 Tipe A. Direkomendasikan untuk digunakan
pada beton kualitas tinggi dengan workabilitas sangat baik dan waktu ikatan
cepat. Plastocrete 161W memberikan hasil yang optimal apabila
dikombinasikan dengan fly ash (abu terbang). Dosis yang digunakan adalah
195 650 ml/100 kg semen.
c. Plastocrete 169
Produk Sika dengan tujuan ganda, yaitu sebagai reducer dan retarder.
Produk ini telah memenuhi syarat ASTM C-494 Tipe A. Digunakan untuk
beton normal dan memerlukan retarder. Tujuan ganda Plastocrete 169
sebagai water reducer normal dan set retarder memberikan fleksibilitas
yang tinggi pada penggunaannya dan dapat dikombinasikan untuk
meningkatkan kualitas maupun nilai ekonomis. Apabila digunakan untuk
reducer, digunakan dosis 261-391 ml/100 kg semen. Apabila digunakan
sebagai set retarder, dosis 390-520 ml/100 kg berat semen.
d. Viscocrete 4100
Merupakan produk Sika yang digunakan sebagai high range water reducer
dan superplasticizer. Produk ini telah memenuhi syarat ASTM C-494 Tipe
A dan F. Bahan tambah ini dapat digunakan dengan dosis rendah untuk
mengurangi air antara 10-15% dan apabila digunakan dengan dosis tinggi
mampu mengurangi air hingga 40%. Produk ini dapat digunakan untuk Self
Compacting Concrete (SCC) karena dapat memberikan workabilitas yang
tinggi. Viscocrete 4100 tidak mengandung formaldehid dan kalsium klorida
serta tidak menyebabkan korosi pada tulangan baja. Untuk tujuan umum
dosis yang direkomendasikan sebanyak 195-520 ml/100 kg semen. Apabila

diinginkan pengurangan air secara maksimum, dosisnya dapat mencapai


780 ml/100 kg semen.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahan tambah ini adalah air
yang dibutuhkan, kandungan air, konsistensi, bleeding, dan kehilangan air pada saat
beton segar, laju pengerasan, kekuatan tekan, dan lentur, ketahanan terhadap
perubahan volume, susut pada saat pengeringan. Berdasarkan hal tersebut, menjadi
hal penting untuk melakukan pengujian sebelum pelaksanaan pencampuran
terhadap bahan tambah tersebut.
Pengaruhnya pada beton:
1. Kekuatan Tekan: Tegangan tekan beton bertambah karena adanya
pengurangan air, hal ini dikarenakan faktor a/s (air semen) berkurang.
Penambahan kekuatan diperkirakan 10%.
2. Setting Time: Dengan adanya water reducing admixture, setting time dari
campuran beton tidak berubah.
3. Workability: Bila tidak ada perubahan faktor air semen (a/s), water
reducing menambah workability beton. Untuk slump awal 25-75 mm dapat
ditambah dengan 50-60 mm.
4. Loss Slump: Tingkat kecepatan penurunan slump beton yang berisi air
water reducing admixture umumnya sama atau lebih besar dari beton biasa.
Dimana bila digunakan water reducing admixture (WRA) akan menambah
workability dan waktu pencampuran.
5. Air Entrainment: Dengan bahan dasar Lignosulphonate cenderung
meningkatkan jumlah kadar udara tapi tidak melampaui 2%. Bahan
dasar Salt hydroxy carboxylic dan Polysacharides tidak menambah kadar
udara dan bahkan sering mengurangi kadar udara.
6. Panas Hidrasi: Panas hidrasi tidak terpengaruh dengan adanya penggunaan
WRA.
7. Perubahan Bentuk: Perubahan bentuk (volume change) tidak terpengaruh
dengan adanya WRA.
8. Durability: Durabilitas tidak terpengaruh dengan adanya WRA kecuali
airnya dikurangi yang menyebabkan beton lebih padat dan impermeabel.

b. Tipe B Retarding Admixtures


Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi untuk menghambat
waktu pengikatan beton. Penggunaanya untuk menunda waktupengikatan beton
(setting time) misalnya karen kondisi cuaca yang panas, atau memperpanjang

waktu untuk pemadatan untuk menghindari cold joints dan menghindari dampak
penurunan saat beton segar pada saat pengecoran dilaksanakan.
Bahan tambah dengan fungsi retarding digunakan dengan tujuan utama menunda
waktu initial dan final setting dari adukan beton segar, dan mempertahankan
workability beton pada cuaca panas, pada umumnya digunakan jika :

pelaksanaan pengecoran mempunyai tingkat kesulitan cukup tinggi sehingga


memerlukan waktu pelaksanaan yang lebih lama dari waktu setting beton
normal

lokasi batching plant yang cukup jauh

kondisi lalu lintas yang dilalui oleh mobile mixer tidak lancar

pengecoran dengan kondisi cuaca panas yang berpotensi mengakibatkan


kehilangan kelembaban lebih cepat

proses finishing yang memerlukan waktu yang lebih lama sehingga waktu
setting beton yang lebih lama diperlukan

Penggunaan bahan tambah ini harus memperhatikan waktu penutupan permukaan


beton (sealing dan troweling) tidak boleh terburu-buru karena proses initial setting
dan bleeding yang lebih lambat dari beton normal, supaya memastikan proses
bleeding sudah sepenuhnya selesai sebelum dilakukan penutupan permukaan beton
(sealing
dan
trowelling).
Efek dari penggunaan retarding admixture yang perlu diwaspadai, antara lain :

beberapa retarder mempunyai sifat menimbulkan gelembung udara dalam


beton

beberapa retarder menyebabkan kehilangan slump yang lebih cepat walaupun


menyebabkan waktu setting yang lebih lambat memperbesar resiko susut
pengeringan dan rangkak yang lebih tinggi

c. Tipe C Accelerating Admixtures


Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang berfunsi untuk
mempercepat pengikatan dan pengembangan kekuatan awal beton. Bahan ini
digunkan untuk mengurangi lamanya waktu pengeringan (hidrasi), dan
mempercepat pencapaian kekuatan beton.

Bahan tambah dengan fungsi accelerating digunakan dengan tujuan utama


mendapatkan kekuatan awal yang lebih tinggi pada beton yang dikerjakan, misalkan
jika elemen struktur beton yang diperlukan untuk segera dibebani oleh pekerjaan
berikutnya dalam kaitan dengan waktu pelaksanaan yang ketat.
Penggunaan bahan tambah ini harus memperhatikan kadar ion klorida terlarut
dalam beton keras yang disyaratkan, tidak boleh terlewati -- karena beresiko
menimbulkan korosi pada besi atau baja tulangan.
Penggunaan bahan tambah ini harus memperhatikan dengan seksama waktu setting
yang lebih cepat dan curing yang dilakukan harus sesempurna mungkin untuk
mencapai kekuatan awal yang diinginkan lebih tinggi.
Secara umum, kelompok bahan tambah ini dibagi menjadi tiga:
1) Larutan garam organic
2) Larutan campuran organic
3) Material miscellaneous
Yang termasuk jenis accelerator adalah : kalsium klorida, bromide, karbonat dan
silikat. Pada daerah-daerah yang menyebabkan korosi tinggi tidak dianjurkan
menggunakan accelerator jenis kalsium klorida. Dosis maksimum yang dapat
ditambahkan pada beton adalah sebesar 2 % dari berat semen.
Admixture yang mempercepat proses pengerasan atau pertumbuhan kekuatan pada
umur dini dari beton. Admixture ini sebenarnya tidak mempunyai efek tertentu
terhadap setting time sekali pun demikian, dalam praktek, setting time juga
berkurang.
Yang biasa digunakan sebagai accelerator : Calcium Chlorida (CaCl 2 )
CaCl 2 mungkin bertindak sebagai katalisator di dalam proses hidrasi C3S dan C 2
S atau berfungsi sebagai pereduksi sifat alkalinitas dari larutan sehingga
mempercepat hidrasi silikat. Dengan menggunakan CaCl 2 proses hidrasi C 3A
diperlambat , tetapi proses hidrasi normal dari semen tidak berubah. CaCl 2 dapat
ditambahkan untuk digunakan bersama semen tipe III (rapid hardening) dan juga
semen biasa/ Ordinary Portland Cement (tipe I). CaCl 2 tidak boleh digunakan
dengan semen yang mempunyai kandungan alumina yang tinggi. Jumlah CaCl 2
yang ditambahkan pada campuran harus dikontrol secara hati-hati. Asumsi :
Penambahan 1 % CaCl 2 (terhadap massa semen) mempengaruhi kecepatan
pengerasan seperti kenaikan temperatur sebesar 6 C. Penambahan 1- 2% CaCl 2
umumnya cukup. CaCl 2 harus terdistribusi secara seragam pada campuran di
larutkan pada air pencampur. Pengaruh CaCl 2 menurunkan daya tahan terhadap
serangan sulfat terutama untuk campuran kurus (lean mix) dan meningkatkan resiko

reaksi alkali agregat bagi agregat yang reaktif. Kemungkinan korosi tulangan pada
beton bertulang menjadi besar dengan adanya ion chlorida Cl
pada campuran.
Accelerator yang tidak mempunyai resiko ini: Calcium formate.
d. Tipe D Water Reducing and Retarding Admixtures
Water Reducing and Retarding Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi
ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan
beton dengan konsistensi tertentu dan menghambat pengikatan awal.
Jenis bahan tambah yang berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi jumlah air
pengaduk yang diperlukan pada beton tetapi tetap memperoleh adukan dengan
konsistensi tertentu sekaligus memperlambat proses pengikatan awal dan
pengerasan beton. Dengan menambahkan bahan ini ke dalam beton, maka jumlah
semen dapat dikurangi sebanding dengan jumlah air yang dikurangi. Bahan ini
berbentuk cair sehingga dalam perencanaan jumlah air pengaduk beton, maka berat
admixture ini harus ditambahkan sebagai berat air total pada beton.

e. Tipe E Water Reducing and Accelerating Admixtures


Water Reducing and Accelerating Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi
ganda yaitu mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan
beton dengan konsistensi tertentu dan menghambat pengikatan awal.
Jenis bahan tambah yang berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi jumlah air
pengaduk yang diperlukan pada beton tetapi tetap memperoleh adukan dengan
konsistensi tertentu sekaligus mempercepat proses pengikatan awal dan pengerasan
beton. Beton yang ditambah dengan bahan tambah jenis ini akan dihasilkan beton
dengan waktu pengikatan yang cepat serta kadar air yang rendah tetapi tetap
workable. Dengan menggunakan bahan ini diinginkan beton yang mempunyai kuat
tekan tinggi dengan waktu pengikatan yang lebih cepat (beton mempunyai kekuatan
awal yang tinggi).
Bahan kimia tambahan berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi air dan
mempercepat proses ikatan. Pengaruhnya pada beton:
1. Kekuatan. Pada saat accelerator mencapai peningkatan kekuatan awal
beton, pengaruh kekuatan beton dapat diabaikan. Jika bahan water reducing
dicampur accelerator, keuntungan kekuatan jangka panjang akan diapat
berhubungan langsung dengan penurunan rasio air-semen (a/s).
2. Setting Time. Setting time beton yang mengandung accelerator lebih pendek
daripada beton biasa yang tidak mengandung accelerator. Pengaruh kalsium
klorida pada setting time lebih besar daripada kalsium format.

3. Workability. Baik kalsium klorida dan kalsium format memberikan sedikit


peningkatan dalam workabilitas. Peningkatan yang lebih besar dalam
workabilitas dapat diperoleh dengan kombinasi accelerator dengan bahan
water reducing.
4. Air Entrainment. Hampir semua accelerator tidak mengandung derajat air
entrainment.
5. Bleeding. Admixture accelerator tidak mempengaruhi bleeding.
6. Panas Hidrasi. Accelerator meningkatkan tingkatan panas yang dihasilkan
dan memberikan kenaikan temperature yang lebih besar daripada campuran
bahan biasa. Total panas hidrasi tidak mempengaruhi.
7. Perubahan Volume. Kalsium klorida meningkatkan creep maupun drying
shrinkage. Kalsium format meningkatkan drying shrinkage tetapi data yang
ada menunjukkan ada sedikit pengaruh pada creep.
8. Durability. Kalsium klorida mempunyai kemampuan memecahkan pasivity
alamiah yang diberikan beton dengan menggunakan semen portland,
dengan demikian akan memperbesar korosi pada baja atau logam tertanam.
Bahan tambah dengan fungsi water reducing + retarding digunakan dengan tujuan
utama untuk menambah kekuatan beton karakteristik jangka panjang. Penggunaan
bahan tambah ini pada umumnya tidak mengubah kadar semen dan komposisi
agregat yang digunakan pada desain mix untuk beton normal yang direncanakan
f. Tipe F Water Reducing High Range Admixtures
Water Reducing High Range Admixtures adalah bahan tambah yang berfungsi
untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan
beton dengan kondisi tertentu, sebanyak 12% atau lebih.
Bahan tambah dengan fungsi HRWR digunakan untuk mendapatkan tingkat
konsistensi yang diinginkan atau ditetapkan spesifikasi dengan mengurangi berat
air sebesar 12% atau lebih (sampai 40%). Tujuan dan penggunaannya sama dengan
bahan tambah tipe A dengan pengurangan berat air > 12%. HRWR atau bahan
tambah tipe F pada umumnya diaplikasikan atau dicampurkan di lokasi
pengececoran.
Dengan menmbahkan bahan ini ke dalam beton, diinginkan untuk mengurangi
jumlah air pengaduk dalam jumlah yang cukup tinggi sehingga diharapkan
kekuatan beton yang dihasilkan tinggi dengan jumlah air sedikit, tetapi tingkat
kemudahan pekerjaan (workability beton) juga lebih tinggi. Bahan tambah jenis ini
berupa superplasticizer. Yang termasuk jenis superplasticizer adalah : kondensi
sulfonat melamine formaldehyde dengan kandungan klorida sebesar 0,005 %,
sulfonat nafthalin formaldehyde, modifikasi lignosulphonat tanpa kandungan
klorida. Jenis bahan ini dapat mengurangi jumlah air pada campuran beton dan

meningkatkan slump beton sampai 208 mm. Dosis yang dianjurkan adalah 1 % - 2
% dari berat semen.
Superplasticizer adalah zat-zat polymer organik yang dapat larut dalam air yang
telah dipersatukan dengan menggunakan proses polymerisasi yang komplek untuk
menghasilkan molekul-molekul panjang dari massa molecular yang tinggi.
Molekul-molekul panjang ini akan membungkus diri mengelilingi partikel semen
dan memberikan pengaruh negatif yang tinggi sehingga antar partikel semen akan
saling menjauh dan menolak. Hal ini akan menimbulkan pendispersian partikel
semen sehingga mengakibatkan keenceran adukan dan meningkatkan workabilitas.
Perbaikan workabilitas ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan beton dengan
workability yang tinggi atau menghasilkan beton dengan kuat tekan yang tinggi.
Bahan ini merupakan sarana untuk menghasilkan beton mengalir tanpa terjadi
pemisahan (segregasi/ bleeding) yang umumnya terjadi pada beton dengan jumlah
air yang besar, maka bahan ini berguna untuk pencetakan beton di tempat-tempat
yang sulit seperti tempat pada penulangan yang rapat.
Superplasticizer dapat memperbaiki workabilitas namun tidak terpengaruh besar
dalam meningkatkan kuat tekan beton untuk faktor air semen yang diberikan.
Namun kegunaan superplasticizer untuk beton mutu tinggi secara umum sangat
berhubungan dengan pengurangan jumlah air dalam campuran beton. Pengurangan
ini tergantung dari kandungan air yang digunakan, dosis dan tipe dari
superplasticizer yang dipakai. (L.J. Parrot, 1998).
Superplasticizer tidak akan menjadikan encer semua campuran beton dengan
sempurna, oleh karenanya campuran harus direncanakan untuk disesuaikan.
Untuk
meningkatkan
workability
campuran
beton,
penggunaan
dosis superplasticizer secara normal berkisar antara 1-3 liter tiap 1 meter kubik
beton. Larutan superplasticizer terdiri dari 40% material aktif. Ketika
superplasticizer digunakan untuk mengurangi jumlah air, dosis yang digunakan
adalah lebih besar, 5 sampai 20 liter tiap 1 meter kubik beton. (Neville, 1995)
Menurut (Edward G Nawy, 1996). Superplasticizer dibedakan menjadi 4 jenis:
1. Koondensasi sulfonat melamin formaldehyde (SMF) dengan kandungan
klorida sebesar 0,005%.
2. Sulfonat nafthalin formaldehid (SNF) dengan kandungan klorida yang dapat
diabaikan.
3. Modifikasi lignosulfonat tanpa kandungan klorida.
4. Carboxyl acrylic ester copolymer.
Keempat jenis bahan tambahan ini terbuat dari sulfonat organik dan disebut
superplasticizer karena bahan ini dapat mengurangi air pada campuran beton
sementara slump beton bertambah sampai 8 in (208 mm) atau lebih. Bahan-bahan
ini digunakan untuk menghasilkan beton mengalir tanpa terjadinya pemisahan
yang tidak diinginkan dan umumnya terjadi pada beton dengan jumlah air yang

besar untuk meningkatkan kekuatan beton, karena memungkinkan pengurangan


kadar air guna mempertahankan workabilitas yang sama.
Jenis SMF dan SNF yang disebut garam sulfonik lebih sering digunakan karena
lebih efektif dalam mendispersikan butiran semen, juga mengandung unsur-unsur
yang memperlambat pengerasan.

g. Tipe G Water Reducing, High Range Retarding Admixtures


Water Reducing, High Range Retarding admixtures adalah bahan tambah yang
berfungsi untuk mengurangi jumlah air pencampur yang diperlukan untuk
menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu, sebanyak 12 % atau lebih
sekaligus menghambat pengikatan dan pengerasan beton. Bahan ini merupakan
gabungan superplasticizer dengan memperlambat waktu ikat beton. Digunakan
apabila pekerjaan sempit karena keterbatasan sumberdaya dan ruang kerja.
Bahan tambah dengan fungsi HRWR + retarding digunakan untuk mendapatkan
efek serupa dengan bahan tambah tipe D dengan pengurangan berat air yang
digunakan sebesar 12% atau lebih (sampai 40%). Tujuan dan penggunaannya sama
dengan bahan tambah tipe D. Pencampuran bahan tambah tipe G dapat dilakukan di
batcing plant atau di lokasi proyek. Beberapa jenis superplasticizer mempunyai
klasifikasi sebagai bahan tambah tipe G.

Latar belakang penggunaan Bahan Tambah (admixture) untuk Campuran Beton


Untuk keperluan tertentu terkadang campura n beton tersebut masih ditambahkan
bahan tambah berupa zat-zat kimia tambahan (chemical additive) dan mineral/material
tambahan. Zat kimia tambahan tersebut biasanya berupa serbuk atau cairan yang secara
kimiawi langsung mempengaruhi kondusi campuran beton. Sedangkan mineral/material
tambahan yang berupa agregat yang mempunyai karakteristik tertentu. Penambahan zat-zat
kimia atau mineral tambahan ini diaharapkan dapat merubah performa dan sifat-sifat
campuran beton sesuai dengan kondisi dan tujuan yang diinginkan, serta dapat pula
sebagai bahan pengganti sebagian dari material utama penyusun beton. Standar pemberian
bahan tambahan beton ini pun sudah diatur dalam SNI S-18-1990-03 tentang Spesifikasi
Bahan Tambahan pada Beton.
Bahan tambah (admixture) adalah suatu bahan berupa bubuk atau cairan, yang
ditambahkan ke dalam campuran adukan beton selama pengadukan, dengan tujuan untuk
mengubah sifat adukan atau betonnya. (Spesifikasi Bahan Tambahan pada Beto, SK SNI
S-18-1990-03).

Berdasarkan ACI (American Concrete Intitute), bahan tambah adalah material


selain air, agregat, dan semen hidrolik yang dicampurkan dalam beton atau mortar yang
ditambahkan sebelum atau selama pengadukan berlangsung.
Penambahan bahan tambah dalam sebuah campuran beton atau mortar tidak mengubah
komposisi yang besar dari bahan lainnya, karena penggunaan bahan tambah ini cenderung
merupakan pengganti atau substitusi dari dalam campuran beton itu sendiri. Karena
tujuannya memperbaiki atau mengubah sifat dan karakteristik tertentu dari beton atau
mortar yang akan dihasilkan, maka kecenderungan perubahan komposisi dalam beratvolume tidak terasa secara langsung dibandingkan dengan komposisi awal beton tanpa
bahan tembah.
Pengunaan bahan tambah dalam sebuah campuran beton harus memperhatikan
standar yang berlaku seperti SNI, ASTM (American Society for Testing and Materials)
atau ACI (American Concrete Intitute) dan yang paling utama memperhatikan petunjuk
dalam manual dagang.
Tujuan Penggunaan Bahan Tambah (admixture) untuk campuran pada beton
Berdasarkan tujuan yang diharapkan terdapat beberapa tujuan pengunaan zat kimia
diantaranya yaitu:
a. Water Reduction. (Zat Kimia untuk mengurangi penggunaan air pada beton)
hal ini dimaksudkan agar diperoleh adukan dengan nilai fas yang tetap dengan
kekentalan yang sama atau dengan fas tetap, tapi didapatkan adukan beton yang
lebih encer. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh kuat tekan yang lebih tinggi, engan
tidak mengurangi kekentalannya, atau diperoleh beton dengan kuat tekan yang
sama, tapi adukan dibuat menjadi lebih encer agar lebih memudahkan dalam
penuangan.
b. Redater (Zat kimia untuk memperlambat proses ikatan campuran beton)
Biasanya diperlukan untuk beton yang tidak dibuat dilokasi penuangan beton.
Proses pengikatan campuran beton sekitar 1 jam. Sehingga apabila sejak beton
dicampur sampai penuangan memerlukan waktu lebih dari 1 jam, maka perlu
ditambahkan zat kimia ini. Zat tambahan ini berupa gula, sucrose, sodium
glukonate, glucose, citric acis, dan tartaric acid.
c. Accelerators (zat kimia untk mempercepat ikatan dan pengerasa campuran beton)
Diperlukan untuk mempercepat proses pengerjaan konstruksi beton, pencampuran
beton dilakukan di tempat atau dekat dengan penuangannya. Zat tambahan yang
diperlukan adlah CaCl2, Ca(NO3)2 dan NaNO3. Namun demikian lebih dianjurkan

menggunakan yang nitrat, karena penggunaan khlorida dapat mempercepat


terjadinya karat pada penulangan.
Pada kenyataan di lapangan terkadang diperlukan kondisi kombinasi dari ketiga
perilaku penambahan zat kimia tersebut yaitu untuk mengurangi penggunaan air
dan memperlambat proses ikatan campuran beton, atau untuk menguarangi air dan
mempercepat waktu pengikatan serta pengerasan campuran beton.

B. BAHAN TAMBAH MINERAL (ADDITIVE)


Jenis bahan tambah mineral (additive) yang ditambahkan pada beton dimaksudkan untuk
meningkatkan kinerja kuat tekan beton dan lebih bersifat penyemenan. Beton yang
kekuarangan butiran halus dalam agregat menjadi tidak kohesif dan mudah bleeding.
Untuk mengatasi kondisi ini biasanya ditambahkan bahan tambah additive yang berbentuk
butiran padat yang halus. Penambahan additive biasanya dilakukan pada beton kurus,
dimana betonnya kekurangan agregat halus dan beton dengan kadar semen yang biasa
tetapi perlu dipompa pada jarak yang jauh. Yang termasuk jenis additive adalah :
pozzollan, fly ash, slag dan silica fume.
Adapun keuntungan penggunaan additive adalah (Mulyono T, 2003) :
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Memperbaiki workability beton


Mengurangi panas hidrasi
Mengurangi biaya pekerjaan beton
Mempertinggi daya tahan terhadap serangan sulfat
Mempertinggi daya tahan terhadap serangan reaksi alkali-silika
Menambah keawetan (durabilitas) beton
Meningkatkan kuat tekan beton
Meningkatkan usia pakai beton
Mengurangi penyusutan
Membuat beton lebih kedap air (porositas dan daya serap air pada beton rendah)

Pengaruh Bahan Tambah Mineral Pembantu


Bahan mineral pembantu saat ini banyak ditambahkan ke dalam campuran beton dengan
berbagai tujuan, antara lain untuk mengurangi pemakaian semen, mengurangi temperatur
akibat reaksi hidrasi, mengurangi atau menambah kelecakan beton segar. Cara
pemakaiannya pun berbeda-beda, sebagai bahan pengganti sebagian semen atau sebagai
tambahan pada campuran untuk mengurangi pemakaian agregat. Pembuatan beton dengan
menggunakan bahan tambah akan memberikan kualitas beton yang baik apabila pemilihan

kualitas bahannya baik, komposisi campurannya sesuai dan metode pelaksanaan


pengecoran, pemeliharaan serta perawatannya baik.
Bahan tambahan mineral ini merupakan bahan padat yang dihaluskan yang ditambahkan
untuk memperbaiki sifat beton agar beton mudah dikerjakan dan kekuatan serta
keawetannya meningkat.
Chemical Admixture (Additive) :
Bahan-bahan admixture yang dapat larut dalam air digolongkan sebagai chemical
admixture
Mineral Admixture :
Bahan-bahan admixture yang tidak dapat larut dalam air digolongkan sebagai mineral
admixture
Ada 4 jenis bahan additive, yaitu:
1. Air-Entraining (AEA)
Penerapan:
o Untuk meningkatkan ketahanan beku/cair
o Untuk meningkatkan workabilitas
Pengaruh:
o Menghasilkan butiran-butiran udara kecil yang banyak dalam beton
Keterangan:
Efisiensi semakin berkurang seiring dengan meningkatnya suhu, kadar semen tinggi
dan kehadiran fly ash
2.

Water-Reducing
Penerapan:
o Untuk meningkatkan workabilitas
o Untuk meningkatkan kekuatan pada tingkat workabilitas yang sama
o Untuk memperbaiki sifat beton yang menggunakan agregat bergradasi jelek
Pengaruh:
o Memisahkan partikel-partikel semen dan meningkatkan fluiditas beton
o Mengurangi kebutuhan air pencampur
o Dapat mempengaruhi waktu setting beton
Keterangan:
Kandungan klorida harus dibatasi, overdosis lignosulphonates dapat menyebabkan
penundaan pengerasan yang berlarut-larut. Selanjutnya hal ini dapat mempengaruhi
kekuatan dan porositas beton.

3.

High Range water Reducer Superplasticizers (HRWR)


Penerapan:
o Untuk memfasilitasi penempatan dan pemadatan (contoh pada elemen beton
bertulang yang ditulangi dalam jumlah banyak)
o Untuk meningkatkan kekuatan
o Untuk menghasilkan bentuk permukaan yang berkualitas tinggi
o Untuk memfasilitasi pumping
Pengaruh:
o Meningkatkan fluiditas beton dengan pengaruh yang kecil pada waktu setting
Keterangan:
Kecocokan dengan zat tambahan lain dalam campuran harus diperiksa, penambahan
kembali air pada beton lebih dari sekali untuk mengembalikan slump dapat
menyebabkan reduksi kekuatan ultimate.

4.

Permeability Reducing
Penerapan:
o Untuk mengurangi perpindahan uap air
Pengaruh:
o Mengisi pori-pori dengan bahan-bahan yang reaktif, atau bahan penolak air
(water-repellent)
Keterangan:
Tidak akan mengubah beton kualitas rendah menjadi beton kedap air. Pengurangan
permeabilitas disebabkan oleh meningkatnya workabilitas dan pengerjaan yang lebih
baik

Sebenarnya masih ada tipe additive-additive lain, tapi pemanfaatannya sendiri untuk
industri readymix di Indonesia belum maksimal. Additive-additive tersebut yaitu:
a. VMA (viscosity-modifying admixtures)
b. SRA (shrinkage reducing admixture)
c. AWA (anti washout agent)

Tipe-tipe Mineral Admixture yaitu:


1.
Material cementitious
Dapat bereaksi langsung dengan air. Bahan ini mengandung silikat dan kalsium
aluminosilikat. Contoh: Blast Furnace Slag, yaitu bahan buangan industri baja yang
menggunakan tanur pijar.
2.
Material pozzolanic
Material yang dapat bereaksi dengan kapur bebas (Ca(OH)2) plus air. Komposisinya
didominasi oleh siliceous dan aluminous. Contoh: Abu Terbang kelas F, yaitu sisa

buangan Industri Pembangkit Listrik yang menggunakan batubara jenis bituminous


atau anthracite. Selain itu, silica fume (hasil sampingan produksi elemen silicon), juga
bahan pozzolanic. Komposisinya didominasi oleh unsur amorphous silica.
3.
Material pozzolanic dan cementitious
Material ini dapat bereaksi dengan air saja atau dengan kapur bebas (Ca(OH)2) plus
air. Komposisinya didominasi oleh siliceous, aluminous dan kapur. Contoh: Abu
Terbang kelas C, yaitu sisa buangan Industri PLTU yang menggunakan barubara jenis
lignite atau subbituminous.
4.
Material inert
Material ini tidak bereaksi secara kimiawi dengan unsur-unsur semen. Contoh: bahan
buangan pabrik batu marmer, bahan kuarsa yang sudah dihaluskan dan lain-lain.
Jenis-Jenis bahan tambah mineral adalah :

1. Pozzolan
Yang termasuk dalam Mineral Admixture adalah Pozzolan Pozzolan : Adalah bahan
yang mengandung senyawa silica dan Alumina dimana bahan pozzolan itu sendiri tidak
mempunyai sifat seperti semen, akan tetapi dengan bentuknya yang halus dan dengan
adanya air, maka senyawa-senyawa tersebut akan bereaksi secara kimiawi dengan Kalsium
hidroksida (senyawa hasil reaksi antara semen dan air) pada suhu kamar membentuk
senyawa Kalsium Aluminat hidrat yang mempunyai sifat seperti semen.
Bahan Pozzolan terbagi 2 yaitu :
a. Pozzolan Alam (Natural) : Tufa, abu vulkanis dan tanah Diatomae. Di Indonesia
Pozzolan alam dikenal dengan nama TRASS.
b. Pozzolan Buatan (sintetis) : yang termasuk dalam jenis ini adalah hasil
pembakaran tanah liat dan hasil pembakaran batu bara (Fly Ash)
Mineral pembantu yang digunakan umumnya mempunyai komponen aktif yang bersifat
pozzolanik (disebut juga mineral pozzolan). Pozzolan adalah bahan alam atau buatan yang
sebagaian besar terdiri dari unsur-unsur silikat dan aluminat yang reaktif (Persyaratan
Umum Bahan Bangunan di Indonesia, PUBI-1982). Pozzolan sendiri tidak memiliki sifat
semen, tetapi dalam keadaan halus (lolos ayakan 0,21 mm) bereaksi dengan air dan kapur
padam pada suhu normal 24-27oC menjadi suatu massa padat yang tidak larut dalam air.
Pozzolan dapat dipakai sebagai bahan tambah atau pengganti sebagai semen portland. Bila
pozzolan dipakai sebagai bahan tambah akan menjadikan beton lebih mudah diaduk, lebih
rapat air, dan lebih tahan terhadap serangan kimia. Beberapa pozzolan dapat mengurangi
pemuaian akibat proses reaksi alkali-agregat (reaksi alkali dalam semen dengan silika
dalam agregat), dengan demikian mengurangi retak-retak beton akibat reaksi tersebut.
Pada pembuatan beton massa pemakaian pozzolan sangat menguntungkan karena

menghemat semen, dan mengurangi panas hidrasi (Kardiyono, 1996)


Berlawanan dengan reaksi hidrasi dari semen dengan air yang berlangsung cepat dan
kemudian membentuk gel kalsium silikat hidrat dan kalsium hidroksida, reaksi pozzolanik
ini berlangsung dengan lambat sehingga pengaruhnya lebih kepada kekuatan akhir dari
beton. Panas hidrasi yang dihasilkan juga jauh lebih kecil daripada semen portland
sehingga efektif untuk pengecoran pada cuaca panas atau beton masif.
Material pozzolan dapat berupa material yang sudah terjadi secara alami ataupun yang
didapat dari sisa industri. Masing-masing mempunyai komponen aktif yang berbeda.
komponen aktif mineral pembantu yang berasal dari material alami dan material sisa
proses industri. Umumnya material pozzolan ini lebih murah daripada semen portland
sehingga biasanya digunakan sebagai pengganti sebagian semen. Persentase maksimum
pengantian ini harus diperhatikan karena dapat menyebabkan penurunan kekuatan beton.
Kebutuhan air pada beton dapat meningkat untuk kelecakan yang sama karena ukuran
partikel meterial pozzolan yang halus. Namun bentuk partikel material ini akan
mempengaruhi
kebutuhan
akan
airnya.
Dengan semakin banyaknya pemakaian beton di dalam industri konstrukstermasuk jalan
beton maka semakin banyak pula usaha untuk membuatnya semakin canggih dan semakin
ekonomis. Namun, seiring meningkatnya industri beton juga berdampak pada lingkungan
karena meningkatnya pemakaian energi untuk produksi beton.
Mineral pada campuran beton biasanya berupa pozzolan dan material lain pengganti
agregat, seperti agregat ringa dan berat, serat. Pozzolan merupakan bahan alami atau
buatan yang mempunyai sifat pozzolanik dengan unsure silika dan aluminat yang aktif.
Silika dan aluminat aktif ini akan bereaksi dengan kapur bebas, yang merupakan sisa
reaksi hidrasi air dengan semen, untuk menjadi tubermorite lagi yang sama dengan hasil
hidrasi air dengan semen sebelumnya, sehingga akan meningkatkan kuat tekan beton.

2. Fly Ash (Abu Batu Bara)


Abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) merupakan limbah padat yang dihasilkan
dari pembakaran batubara pada pembangkit tenaga listrik. Limbah padat ini terdapat
dalam jumlah yang cukup besar. Jumlah tersebut cukup besar, sehingga memerlukan
pengelolaan agar tidak menimbulkan masalah lingkungan, seperti pencemaran udara,
perairan dan penurunan kualitas ekosistem.
Salah satu penanganan lingkungan yang dapat diterapkan adalah memanfaatkan limbah
tersebut untuk keperluan bahan bangunan seperti batako dan paving blok serta pembenah
lahan pertanian. Namun, hasil pemanfaatan tersebut belum dapat dimasyarakatkan, karena
berdasarkan PP No. 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 18
Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, abu terbang dan
abu dasar dikategorikan sebagai limbah B3 karena terdapat kandungan oksida logam berat
yang akan mengalami pelindian secara alami dan mencemari lingkungan.

Pada ASTM C.618 ditetapkan 2 jenis Fly ash yaitu Fly ash Kelas F dan Fly ash kelas C,
perbedaan utama diantara dua jenis fly ash ini adalah jumlah kalsium,Silika, Alumina dan
kadar Besi, sifat kimia dari fly ash tersebut sangat dipengaruhi oleh kandungan kimia dari
batubara dibakar (yaitu, antrasit, bituminous, dan lignit).

Fly-ash atau abu terbang yang merupakan sisa-sisa pembakaran batu bara, yang
dialirkan dari ruang pembakaran melalui ketel berupa semburan asap, yang telah
digunakan sebagai bahan campuran pada beton. Fly-ash atau abu terbang di kenal di
Inggris sebagai serbuk abu pembakaran. Abu terbang sendiri tidak memiliki kemampuan
mengikat seperti halnya semen. Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran partikelnya yang
halus, oksida silika yang dikandung oleh abu terbang akan bereaksi secara kimia dengan
kalsium hidroksida yang terbentuk dari proses hidrasi semen dan menghasilkan zat yang
memiliki kemampuan mengikat.
Menurut ACI Committee 226 dijelaskan bahwa, fly-ash mempunyai butiran yang
cukup halus, yaitu lolos ayakan N0. 325 (45 mili mikron) 5-27%, dengan spesific gravity
antara 2,15-2,8 dan berwarna abu-abu kehitaman. Sifat proses pozzolanic dari fly-ash
mirip dengan bahan pozzolan lainnya. Menurut ASTM C.618 (ASTM, 1995:304) abu
terbang (fly-ash) didefinisikan sebagai butiran halus residu pembakaran batubara atau
bubuk batubara. Fly-ash dapat dibedakan menjadi dua, yaitu abu terbang yang normal
yang dihasilkan dari pembakaran batubara antrasit atau batubara bitomius dan abu terbang
kelas C yang dihasilkan dari batubara jenis lignite atau subbitumes. Abu terbang kelas C
kemungkinan mengandung zat kimia SiO2 sampai dengan dengan 70%.
Tingkat pemanfaatan abu terbang dalam produksi semen saat ini masih tergolong amat
rendah. Cina memanfaatkan sekitar 15 persen, India kurang dari lima persen, untuk
memanfaatkan abu terbang dalam pembuatan beton. Abu terbang ini sendiri, kalau tidak

dimanfaatkan juga bisa menjadi ancaman bagi lingkungan. Karenanya dapat dikatakan,
pemanfaatan abu terbang akan mendatangkan efek ganda pada tindak penyelamatan
lingkungan, yaitu penggunaan abu terbang akan memangkas dampak negatif kalau bahan
sisa ini dibuang begitu saja dan sekaligus mengurangi penggunaan semen Portland dalam
pembuatan beton.
Sebagian besar abu terbang yang digunakan dalam beton adalah abu kalsium rendah (kelas
F ASTM) yang dihasilkan dari pembakaran anthracite atau batu bara bituminous. Abu
terbang ini memiliki sedikit atau tida ada sifat semen tetapi dalam bentuk yang halus dan
kehadiran kelambaban, akan bereaksi secara kimiawi dengan kalsium hidrosida pada suhu
biasa untuk membentuk bahan yang memiliki sifat-sifat penyemenan. Abu terbang kalsium
tinggi (kelas ASTM) dihasilkan dari pembakaran lignit atau bagian batu bara bituminous,
yang memiliki sifat-sifat penyemenan di samping sifat-sifat pozolan.
Hasil pengujian yang dilakukan oleh Poon dan kawan-kawan, memperlihatakan dua
pengaruh abu terbang di dalam beton, yaitu sebagai agregat halus dan sebagai pozzolan.
Selain itu abu terbang di dalam beton menyumbang kekuatan yang lebih baik dibanding
pada pasta abu terbang dalam komposisi yang sama. Ini diperkirakan lekatan antara
permukaan pasta dan agregat di dalam beton. More dan kawan-kawan, Mendapatkan
workabilitas meningkat ketika sebagian semen diganti oleh abu terbang.
Beton yang mengandung 10 persen abu terbang memperlihatkan kekuatan awal lebih
tinggi yang diikuti perkembangan yang signifikan kekuatan selanjutnya. Kekuatan
meningkat 20 persen dibanding beton tanpa abu terbang. Penambahan abu terbang
menghasilakan peningkatan kekuatan tarik langsung dan modulus elastis. Kontribusi abu
terbang terhadap kekuatan di dapati sangat tergantung kepada faktor air-semen, jenis
semen dan kualitas abu terbang itu sendiri.
Dalam suatu kajian, abu terbang termasuk ke dalam kategori kelas F dengan kandungan
CaO2 rendah sebesar 1,37 persen lebih kecil daripada 10 persen yang menjadi persyaratan
minimum kelas C. Namun demikian kandungan SiO2 sukup tinggi yaitu 57,30 persen. Abu
terbang ini, selain memenuhi kriteria sebagai bahan yang memiliki sifat pozzolan, abu
terbang juga memiliki sifat-sifat fisik yang baik, yaitu jari-jari pori rata-rata 0,16 mili
mikron, ukuran median 14,83 mili-mikron, dan luas permukaan spesifik 78,8 m2/gram.
Sifat-sifat tersebut dihasilkan dengan menggunakan uji Porosimeter.
Hasil-hasil pengujian menunjukkan bahwa abu terbang memiliki porositas rendah dan
pertikelnya halus. Bentuk partikel abu terbang adalah bulat dengan permukaan halus,
dimana hal ini sangat baik untuk workabilitas, karena akan mengurangi permintaan air atau
superplastiscizer.

Tidak semua fly ash memenuhi persyaratan ASTM C.618

3. Slag
Kerak (slag),Blast Furnace slag : adalah bahan non metalik hasil samping dari pabrik
pemurnian besi dalam tanur yang mengandung campuran antara kalsium silikat dan
kalsium alumina silikat dan beberapa pengotor.

4. Bahan Tambah Lainnya


a. Air entraining
Bahan tambah ini membentuk gelembung-gelembung udara berdiameter 1mm atau
lebih kecil di dalam beton atau mortar selama pencampuran, dengan maksud
mempermudah pengerjaan beton pada saat pengecoran dan menambahkan
ketahanan awal beton.
b. Beron tanpa slump
Beton tanpa slump didefinisikan sebagai beton yang mempunyai slump sebesar 1
inch (25.4 mm) atau kurang, sesaat setelah pencampuran. Pemilihan bahan tembah
ini tergantung pada sifat-sifat beton yang diinginkan terjadi, seperti sifat plastisnya,
waktu pengikat dan pencapaian kekuatan, efek beku cair, kekuatan dan harga dari
beton tersebut.
c. Polimer
Ini adalah produk bahan tambah yang baru yang dapat menghasilkan kekutan tekan
beton yang tinggi sekitar 15000 psi (1.00 psi = 6.9 Mpa) atau lebih, dan kekuatan
belah tariknya sekitar 1.500 psi atau lebih. Beton dengan kekuatan tinggi ini
biasanya diproduksi dengan menggunakan polimer dengan cara :
1) Memodifikasi sifat beton dengan mengurangi air di lapangan
2) Menjenuhkan dan memancarkannya pada temperature yang sangat tinggi di
laboratorium.
d. Bahan pembantu untuk mengeraskan permukaan beton
Permukaan beton yang harus menanggung beban-beban yang berat dan hidup serta
selalu dalam keadaan berputar atau berpindah-pindah, seperti lantai untuk bengkelbengkel alat-alat berat(heavy equipment) dan lainnya. Pembebanan ini akan
menyebabkan pengausan pada permukaan beton, yang sering bertambahnya
menyebabkan rusaknya permukaan beton tersebut. Unutk menghindari hal ini dapat
digunakan dua jenis bahan untuk mengeraskan beton, yaitu:
1) Agregat beton terbuat dari bahan kimia
2) Agregat metalik, terdiri dari butiran-butiran yang halus.
e. Bahan pembantu kedap air (water proofing)
Jika beton terletak di dalam air atau berada di dekat permukaan air tanah (misalnya
beton yang digunakan pada permukaan tunnel) maka beton tersebut tidak boleh
mengalami rembesan sehingga harus diusahakan agar kedap air. Salah satu bahan
yang dapat digunakan adalah bahan yang mempunyai pertikel-pertikel halus dan

gradaso yang menerus dalam pencampuran beton. Bahan-bahan semacam itu akan
mengurangi permeabilitas.
f. Bahan tambah pemberi warna
Beton yang dieksposes permukaannya biasanya memerlukan keindahan bahan yang
digunakan untuk member warna pada permukaan beton ini cat (coating), yang
dilapiskan setelah pengerjaan beton selesai. Cara lain adalah menambahkan bahan
warna, misalnya oker masih segar. Bahan-bahan ini biasanya dicampurkan dalam
suatu adukan yang mutunya terjamin baik. Cara ini merupakan cara yang terbaik.
Selain itu dapat pemeberian warna pula dilakukan dengan cara menaburkan pasir
silica atau agregat metalik selagi permukaan beton dalam keadaan segar.
g. Bahan tambah untuk memperkuat ikatan beton lama dengan beton baru (bonding
agent for concrete)
Penuangan beton segar di atas permukaan beton lama sering mengalami kesulitan
dalam pengikatan (penyatuannya). Untuk mengatasinya, perlu ditambahkan suatu
bahan tambah agar terjadi ikatan yang menyatu atara permukaan yang lama dengan
permukaan yang baru, jenis bahan tambah tersebut biasanya disebut bonding agent
yang merupakan larutan polimer.