Askep ISK
Askep ISK
PENDAHULUAN
1.
A.
Latar Belakang
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi sepanjang saluran kemih,
terutama masuk ginjal itu sendiri akibat proliferasi suatu organisme.
Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan
adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto,
2001). Faktor resiko yang umum pada UTI mencakup ketidakmampuan atau
kegagalan kandung kemih untuk mengosongkan isisnya secara lengkap, penurunan
mekanisme pertahanan alamiah dari pejamu, peralatan yang dipasang pada traktus
urinarius, seperti kateter dan prosedur sistokopi.
Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua
umur baik pada anak-anak remaja, dewasa maupun pada umur lanjut. Akan tetapi, dari
dua jenis kelamin ternyata
wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umur, kurang lebih 515%.Infeksi
traktus urinarius adalah satu dari masalah paling umum yang ditemui oleh tenaga
kesehatan, terhitung 6-7 juta dari kunjungan klinik pertahun. Mayoritas kasus di
dominasi oleh wanita. seperti infeksi selama kehamilan harus di tangani dengan tepat.
Meskipun gejala tidak tampak, karena terdapat peningkatan resiko untuk terjadinya
pielonefritis akut dan kelahiran frematur angka kejadian bakteriuri pada wanita
meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dan aktifitas seksual. Prevalensi selama
periode sekolah (school girls) 1% meningkat menjadi 5% selama periode aktif
seksual. Ini dibuktikan dengan banyaknya temuan yang menunjukkan kelompok
wanita yang tidak menikah angka kejadian ISK lebih rendah dibandingkan dengan
kelompok yang sudah menikah (Sukandar, 2006). Menurut Journal of Oxford
prevalens infeksi saluran kemih meningkat dari 0,47% pada tahun 2000 menjadi 1,7%
pada tahun 2003 (Calbo, 2006). Prevalensi ISK di masyarakat makin meningkat
seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia 4060 tahun mempunyai angka
prevalensi 3,2 %. Sedangkan pada usia sama atau diatas 65 tahun kira-kira
mempunyai angka prevalensi ISK sebesar 20%. Infeksi saluran kemih dapat mengenal
baik laki-laki maupun wanita dari semua umur baik anak-anak, remaja, dewasa
maupun lanjut usia.
Infeksi saluran kemih terjadi pada wanita dibandingkan dengan rasio 10 : 1 sampai
50 : 1. Insiden tahunan UTI diantara wanita yang masih aktif secara seksual adalah 3
10% .
Satu dari setiap lima wanita di Amerika Serikat mengalami UTI selama kehidupan
mereka.meskipun kebanyakan episode UTI pada wanita adalah sederhana, infeksi non
komplikasi (90%),
Berdasarkan data dari medical record RSU Mokopido Tolitoli jumlah penderita ISK
pada tahun 2011 adalah 132(14,7%) lebih banyak terjadi pada umur 21 30 tahun
sebanyak 37 (28%) dan yang terendah pada umut 71 80 tahun dengan jumlah
penderita 4 (3%), tahun 2012 periode bulan Januari Juli berjumlah 79 (8,8%) lebih
banyak terjadi pada umur 41- 50 tahun sebanyak 21(26,6%) dan yang terendah umur
7180 berjumlah 4(5%)
Meningkatnya penderita ISK seperti yang dijelaskan diatas maka diperlukan asuhan
keperawatan untuk mencegah infeksi yang lebih berat yang dapat menimbulkan
kerusakan pada berbagai macam organ, mencegah atau menghentikan deseminasi
kuman dan produk yang dihasilkan oleh kuman pada sirkulasi sistemik .
1.
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :Asuhan Keperawatan Pada Kasus Dengan Diagnosa Medis
Infeksi Saluran Kemih(ISK). Di Ruang Teratai Interna RSUD Mokopido Tolitoli
1.
C.
1.
Tujuan umum
Untuk memperoleh pengalaman tentang penerapan asuhan keperawatan gangguan
sistim urogenital Pada Tn H. dengan Infeksi Saluran Kencing (ISK) di Ruang Teratai
Interna RSUD mokopido Tolitoli.
1.
Tujuan khusus
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
2.
D.
Metode Penulisan
2.
Observasi yaitu dengan cara mengamati langsung pada saat melakukan asuhan
keperawatan
3.
4.
5.
1.
1.
E.
Manfaat Penulisan
Bagi peneliti
1.
Bagi pasien/masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana informasi dan menambah
pengetahuan tentang penyakit ISK di masyarakat sehingga dapat
mengurangi/menekan angka kejadian penderita ISK.
BAB II
TINJAUAN TEORI
1.
A.
1.
Pengertian
2.
3.
4.
Infeksi saluran kencing (ISK) sama dengan sistitis adalah inflamasi akut
pada mukosa kandung kemih akibat infeksi oleh bakteri yang disebabkan oleh
penyebaran infeksi dari bakteri (Nursalam,2006)
5.
6.
7.
1.
2.
2.
Factor predisposisi
1)
Etiologi
1.
a)
b)
c)
Kateterisasai /instrumentasi
d)
Infeksi ginjal
2)
a)
Fistula Vesikoureter
b)
1. Neisseria gonorhoe
2.
3.
4.
1.
3.
Manifestasi klinik
Cystitis akut
1)
2) Disuria karena epithelium yang meradang tertekan, rasa nyeri pada daerah
suprapubik atau perineal.
3)
4)
Hematuria
a) Pada wanita, biasanya timbul setelah adanya infeksi saluran pernafasan atau
setelah diare
b)
1.
Sama dengan sistitis akut tetapi berlangsung lama dan sering tidak begitu menonjol.
(Depkes,1995) (Reeves J. Charlinr,2001)
1.
1.
4.
Pemeriksaan
Pada wanita
1)
Urine porsi tengah (mid strim) untuk mikroskopik, kultur dan sensivitas
2)
a)
Kultur darah
b)
Hitung darah lengkap, hitung jenis leukosit, dan laju endapan darah (LED)
c)
d)
e)
Cystoscopy
f)
1.
IVP.
Pada pria
1) Swab uretra : untuk pewarnaan gram dan kultur pada media khusus untuk
gonokokus.
2)
Menurut Purnomo B. Basuki pemeriksaan klinik untuk Infeksi Saluran Kemih adalah
sebagai berikut :
1.
Pemeriksaan urine
Pemeriksaan urine merupakan salah satu pemeriksaan yang sangat penting pada
infeksi saluran kemih. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan urinalisis dan
pemeriksaan kultur urine.
1.
Pemeriksaan darah
Pencitraan
1.
2.
3.
4.
5.
5.
Patofisiologi
Masuknya mikroorganisme kedalam saluran kemih dapat melalui. Dua jalur utama
terjadinya ISK ialah hematogen dan escending, tetapi darai kedua cara ini acendinglah
yang paling sering terjadi.
1.
Infeksi hematogen
Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada psien dengan daya tahan tubuh yang
rendah, karena menderita suatu penyakit kronik, atau pada pasien yang sementara
mendapatkan pengobatan imunosupresi. Penyebaran hematogen bisa juga timbul
akibat adanya focus infeksi di tulang, kulit, endotel atau ditempat lain. Salmonella,
pseudomonas, kandida, dan proteus termasuk jenis bakteri yang dapat menyebar
secara hematogen.
E.Coli, akan mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal yang dapat meningkatkan
kepekaan ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen. Hal iini dapat terjadi
pada keadaan sebagai berikut :
1)
4)
5)
Pijat ginjal
6)
7)
Penyandang DM
1.
Infeksi asending
1)
2)
Factor anatomi
b)
c)
Manipulasi urettra
6.
Penatalaksanaan
Amoksisilin
2)
3)
Sulfamoksasol 2 gram
4)
Trimetropin 400 mg
5)
6)
1.
1)
2)
3)
4)
5)
1.
1.
1.
Trimetripin-sulfametaksasol 40 200 mg
2)
3)
Nitrofuration 100 mg
4)
5)
Penisilin G 500 mg
6)
7)
Pada pria dilakukan pengobatan dengan pemberian profilaksis selama enam bulan .
dan setelah penghentian obat obatan dan ternyata masih timbul rekurens . maka
diberikan profilaksis dua sampai tiga tahun atau lebih. Pasien dengan obstrukasi
saluran kemih sering terjadi relaps, pemberian antimikroba dilanjutkan sampai enam
minggu. Bilaman belum terjadi eradikasi kuman, sedangkan tindakan untuk
menghilangkan obstruksi belum dapat dilakukan, diberikan pengobatan supresi.
Dosis untuk pengobatan untuk supresi ini sama dengan dosis pengobatan biasa. farrar
memberikan obat obat untuk pengobatan supresi sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
1.
7.
Komplikasi
1.
Epididimo-orkitis
2.
Sindrom reiter
3.
1.
1.
Pengkajian keperawatan
Pengkajian yang dilaksanakan pada pasien dengan gangguan / penyakit urogenital
meliputi :
1.
1.
Identitas pasien
1)
Nama
2)
Umur
3)
Jenis kelamin
4)
Agama
5)
Pekerjaan
6)
Pendidikan
7)
Status perkawinan
8)
Alamat
2)
1.
a)
Poliuri
b)
Oliguri
c)
d)
Urgency
e)
Nocturi
f)
g)
h)
i)
Incontinentia urine
2)
a)
Disuri
b)
c)
Hematuri
d)
Piuri
e)
lithuri
3)
Apakah rasa sakit terdapat pada daerah setempat atau secara umum :
a)
b)
c)
d)
Bagaimana keadaan urinenya ( volume, warna, bau, berat jenis, jumlah urine
selama 24 jam )
1.
e)
f)
g)
h)
i)
Riwayat persalinan
j)
Riwaya perdarahan
Data fisik
Inspeksi :
Secara umum da secara khusus pada daerah genetalia.
Palpasi :
Pada daerah abdomen, buli-buli, lipat paha
Auskultasi : daerah abdomen
Perkusi : daerah abdomen, ginjal
Keadaan umum pasien :
1)
Tingkat kesadaran
2)
3)
1.
Data psikologis
Keluhan dan reaksi pasien terhadap penyakit
Tingkat adaptasi pasien terhadap penyakit
Persepsi pasie terhadap pasien
Penanggulangan masalah
1.
Umum
Hubungan dengan orang lain, kepercayaan yang dianut dan keaktifannya, kegiatan
dan kebutuhan sehari hari
a) Nutrisi ( kebiasaan makan, jenis makanan, makanan pantangan, kebiasaan minum,
jenis minuman )
b) Aliminasi / kebiasaan BAB dan BAK. ( konsistensi, warna, bau, jumlah)
c) Olahraga ( jenis, teratur atau tidak )
d) Ustarah / tidur ( waktu, lamanya )
e) Personal hygiene, ( mandi, gosok gigi, cuci rambut, ganti pakaian, kebersihan
kuku, kebersihan genetalia )
f) Ketergantungan ( rokok, makanan, minuman, obat )
2)
Khusus
Hal-hal yang berhubungan dengan panyakit yang diderita oleh pasien ( keluarga dan
lingkungannya ).
3)
1.
1.
2.
2.
Diagnose Keperawatan
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
Perencanaan Keperawatan
Tujuan :
Rasa nyaman pasien meningkat ditandai dengan :
1)
2)
Pasien tenang
3)
4)
Rasional :Penjelasan tentang penyebab rasa nyeri dapat memberikan informasi positif
kepada klien dan keluarga sehingga dapat menurunkan kecemasan dan turut aktif
dalam tindakan pengobatan
2)
Rasional :Untuk mengurangi impuls nyeri melalui medulla spinalis sehingga nyeri
yang dirasakan berkurang.
6)
Rasional :Lingkungan terapeutik yang tenang dan nyaman dapat mengurangi stress
sehingga hormone cortisol tidak disekresikan yang mana jika cortisol tersekresi maka
akan meningkatkannyeri
7)
2)
Pasien tenang
Rasional :Penjelasan tentang penyebab rasa nyeri dapat memberikan informasi positif
kepada klien dan keluarga sehingga dapat menurunkan kecemasan dan turut aktif
dalam tindakan pengobatan
3)
Rasional :Untuk mengetahui factor penyebab peningkatan suhu tubuh dan untuk
menetapkan program terapi selanjutnya
4)
Beri pasien banyak minum 3 -4 liter sehari, tidak ada kontra indikasi
Rasional :Minum bayak akan merangsang peningkatan sekresi urin sehingga pada saat
BAK bakteri akan terbawa oleh urin.
5)
Lakukan kompres dingin atau hangan pada tubuh sampai suhu normal
Rasional :Intake dan out put yang kurang dapat merangsang perkembangan bakteri
dalam vesica urinaria
1.
Rasional :Untuk mengetahui kesiapan pasien dan keluarga serta untuk mengetahui
tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit yang diderita
2)
2)
3)
Rasional :Untuk memberikan rasa nyaman dan meningkatkan perhatian kepada klien
sehingga klien merasa nyaman
4)
Tujuan :
1) Kebutuhan istrahat tidur terpenuhi
Intervensi dan Rasional :
1)
Rasinal
3)
Rasional :Mengurangi gangguan pada saat tidur, sehingga kebutuhan tidur terpenuhi
1.
Rasional :Untuk mengetahui masalah eliminasi dan menentukan tindakan yang tepat
2)
Anjurkan pasien untuk minum cukup bila tidak ada kontra indikasi
Rasional :Untuk rehidrasi cairan dan untuk pengeluaran bakteri dan mikroorganisme
lainnya
4)
1.
4.
Implementasi
1.
5.
Evaluasi Keperawatan
6.
Catatan Perkembangan
Pada tahap ini ada dua evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh perawat, yaitu evaluasi
formatif yang bertujuan untuk menilai hasil implementasi secara bertahap sesuai
dengan kegiatan yang dilakukan secara kontrak. Dan pada tahapan catatan
perkembangan dilakukan secara evaluasi sumatif yang bertujuan menilai secara
keseluruhan terhadap pencapaian diagnosis keperawatan apakah rencana diteruskan,
diteruskan sebahagian, diteruskan dengan perubahan intervensi, atau dihentikan.
BAB III
APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN
No Rekaman Medik
:070114
Diagnose Medis
: ISK
A. Pengkajian
1.
Data Umum
2.
Identitas klien
Nama
: Tn. H
Umur
Jenis kelamin
Agama
57 thn
Laki-laki
Islam
Suku/bangsa
Pekerjaan
: Tani
Pendidikan
Alamat
1.
Bugis/Indonesia
SD
:
Desa Bilo
: Tn.A
Umur
Jenis kelamin
30 thn
Laki-Laki
Agama
islam
Pendidikan
Pekerjaan
: Tani
Alamat
SD
Desa Bilo
2.
Riwayat Keperawatan
2.
Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama
Klien mengatakan susah saat BAK dialami sejak 2 hari yang lalu sebelum klien
masuk Rumah Sakit. Sering BAK tapi sedikit-sedikit, BAK berdarah 1 minggu yang
lalu. Nyeri perut bagian bawah tembus ke bagian belakang, nyeri terus menerus,
dengan skala nyeri 9, saat dikaji klien menangis dan meringis kesakitan, memegang
perut bagian bawah. Klien menanyakan tentang penyakit yang dideritanya, oleh
karena klien sudah tidak tahan dengan nyeri yang dirasakannya dan pada saat palpasi
dirasakan adanya akumulasi cairan pada vesica urinarian, vesiva urinaria teraba keras.
klien nampak gelisah klien dan keluarga menanyakan tentang penyakitnya, klien
tegang serta klien menanyakan sudah pernah berobat tetapi tidak ada perubahan.
4) Riwayat kesehatan masa lalu
Klien mengatakan sebelumnya pernah mengalami penyakit seperti yang diderita saat
ini tapi hanya berobat ke Puskesmas tetapi belum pernah di rawat di Rumah Sakit.
Data Demografi
Genogram 3 generasi
Ket:
= laki-laki
= perempuan
= penderita
=bersaudara
- -= tinggal serumah
x
= meninggal
Nutrisi
Di rumah
Dirumah sakit
-Pola makan
Nasi,sayur, ikan
Bubur,sayur, ikan
-frekuensi
3 x 1 sehari
2 x 1 sehari
-nafsu makan
Baik
Baik
-makanan kesukaan
Nasi putih
Nasi putih
-makanan pantangan
Tidak ada
Tidak ada
Frekuensi
Setiap haus
Setiap haus
volume
7 8 gelas/ hari
5 6 gelas/hari
Air putih
Air putih
Frekuensi
2 x sehari
Konsisten
Lunak
Warna
Kuning
bau
Khas makanan
Cairan ( minum )
Eliminasi
1.
BAB
1.
BAK
Frekuensi
3 4 x sehari
Warna
Kuning
Bau
Pesing
Hanya dilap
Tidak perna
Personal hygiene
Tidak perna
Mandi
2 x sehari
Kusut. Tidak rapi
Cuci rambut
1 minggu 3x
Memotong kuku
1 kali seminggu
Penampilan
Cukup bersih
11.00 -12.00
21.0 -24.00
13.00 15.00
Tidur malam
21.00 05.00
1.
Keadaan umum
: Lemah
Tingkat kesadaran
: Composmentis
:TD : 130 / 60 mmHg, ND : 88 x/mnt, SB : 37,5oc, RR : 20
Vital sign
x/mnt
1.
3.
1.
Inspeksi
Palpasi
Tidak teraba adanya nyeri tekan, tidak teraba adanya
massa/benjolan
1.
1.
Wajah
Inspeksi
Bentuk wajah oval,simetris kiri dan kanan,tidak ada edema, wajah
meringis pada saat dilakukan palpasi di bagian abdomen, klen gelisah dan tegang
Palpasi
benjolan.
1.
1.
Mata
Inspeksi
tidak anemis
Palpasi
Telinga
Inspeksi
Bentuk telinga kira dan kanan simetris,tidak ada serumen, fungsi
pendengaran baik, bersih
Palpasi
benjolan
1.
Hidung
Inspeksi
Hidung simetris kira dan kanan, tidak ada peradangan, fungsi
penciuman baik, septum deviasi (-), pasase udara kuat
Palpasi
1.
1.
Leher
Inspeksi
Tidak ada pembengkakan pada vena jungularis, tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid
Palpasi
1.
Dada
Inspeksi
Bentuk dada simetri kiri dan kanan,tidak ada pembesaran
dada,tidak ada lesi,frekuensi pernapasan teratur 20 x /mnt.
Palpasi
Auskultasi
pada dinding
1.
Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
Inspeksi
Palpasi
Teraba nyeri tekan dengan skala 9, nyeri yang dirasakan seprti
tertusuk-tusuk jarum di daerah supra pubis tembus kebagian belakang, teraba adanya
cairan divesica urinaria, tidak ada lesi
Auskultasi
1.
Ekstermitas
Superior
Inspeksi
Kulit kering, tangan kiri terpasang infuse RL 28tts/tpm,tidak ada lesi,
tangan kana memegang abdomen yang sakit
Palpasi
Tidak ada nyeri tekan,kekuatan oto skala 5 yaitu dapat melakukan
gerakan kesegala arah
Inferior
1.
Inspeksi
Palpasi
arah
4.
Pemeriksaan Diagnostik :
Jenis pemeriksaan
Hasil
Satuan
Nilai normal
WBC
8,3 H
103/ml
5,0 10,0
RBC
3,95
106/ml
4,00 5,50
HGB
13,1 H
g/dl
12,0 15,0
HCT
38,3
40,0 48,0
MCV
37,0 H
Fl
80,0 95,0
MCH
33,2 H
p/g
25,0 34,0
MCHC
34,2
g/dl
32,0 36,0
PLT
2,2
103/ml
150 400
(%)
(103/ml)
(%)
F2
2,5
11,0 49,0
Ly
MO
F2
0,6
0,0 9,0
GR
F4
10,8
42,0 85,0
RDW
12,2
10,0 16,5
0,10 1,00
PCT
1.
MPV
4,5
PL
5,0 10,0
PDW
12,0 18,0
5.
Data pengobatan
1.
6. Klasifikasi Data
1.
Data Subjektif :
1)
2)
3)
4)
Klien mengatakan jika BAK terasa nyeri dirasakan sejak satu minggu yang lalu
5) Klien mengatakan 2 hari sebelum masuk RS pada saat klien BAK keluar darah
campur urin
6)
7)
1.
Data Objektif :
1)
Klien meringis
2)
3)
Klien lemah
4)
Klien gelisah
5)
Klien tegang
6)
= 130 / 60 mmHg, ND
= 88 x/mnt, RR
= 20
1.
7.
Analisa Data
Tgl/Jam
Pengelompokan Data
Etiologi
Problem
Peradangan
Nyeri pada
daerah uterus
dan sekitarnya
1. Data Subjektif
26/07/2012
09.00
2. Data Objektif
a.Klien meringis
b.Klien memegang bagian
bawah perut yang sakit
c.Klien lemah
d.Klien tegang : sulit tidur &
melakukan aktivitas lainnya
d.Pada palpasi daerah abdomen :
Teraba adanya akulumulasi
cairan di bagian vesica urinaria
e.Pemeriksaan laboratorium
tanggal 26 Juli 2012 : HCT =
38,3%; MPV = 4,5 PL, PLT =
2,2 103/ml, HCT=
e. Observasi vital sign :
TD
= 130 / 60 mmHg
ND = 88 x/mnt
RR = 20 x/mnt
SB
= 37oc
1. Data Subjektif :
26/07/2012
09.10
Peradangan
a.Klien mengatakan jika BAK
terasa nyeri dirasakan sejak satu
minggu yang lalu
Perubahan pola
eliminasi urine
disuria &
hematuria
2. Data Objektif :
a. Hematuri (+)
b.Pada palpasi daerah abdomen :
Teraba adanya akulumulasi
cairan di bagian vesica urinaria
1. Data Subjektif :
26/07/2012
09.20
Penggunaan
kateter dalam
waktu yang lama
& keluarnya
cairan terus
menerus dari
Resiko tinggi
terjadinya
infeksi sekunder
kemaluan
b. Klien mengatakan 2 hari
sebelum masuk RS pada saat
klien BAK keluar
c.Klien mengatakan
sakit
perut bagian
darah campur
urin bawah.
2.Data Objektif :
1.
Hematuria
2.
3.
Klien meringis
4.
Pemeriksaan
laboratorium tanggal 26 Juli
2012 : HCT = 38,3%; MPV =
4,5 PL, PLT = 2,2 103/ml,
WBC=8,3 103/ml, RBC=3,95
106/ml, HGB=13,1 g/dl, HCT =
38,3, MCV = 37,0 FI, MCH d/g,
MCHC= 34,2 gr/dl, PLT=2,2
103/ml
5.
= 88 x/mnt
RR
= 20 x/mnt
= 37oc
26/07/2012 1.
09.20
Data Subjektif :
1.
Klien dan
keluarga menanyakan penyakit
yang diderita
2.
Klien
mengatakan sudah pernah
berobat tetapi tidak ada
perubahan
3.
Data Objektif
1.
Klien
kuranganya
onformasi
Kurang
pengetahuan
tentang
penyakit,
perawatan dan
pengobatannya
nampak gelisah
2.
Klien
tegang
1.
8.
Setelah melakukan analisis terhadap data subjektif dan data objektif, dan dampak
masalah keperawatan klien terhadap kesehatan pasien, maka penulis melakukan
prioritas terhadap masalah actual dan mengancam kehidupan klien serta masalah yang
nanti akan mengancam kesehatan klien (resiko tinggi).
Adapun susunan diagnose prioritas tersebut adalah sebagai berikut :
1.
9.
Rencana Tindakan
Tabel 3.5 : Rencana Tindakan Pada Tn. H,Tanggal 26 Juli 2012 di Ruang Teratai
Interna RSU Mokopido Tolitoli
Diagnose
Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Nyeri pada
daerah uterus
dan sekitarnya
berhubungan
dengan
Inflamasi.
.
1.
Penjelasan
tentang penyebab
rasa nyeri dapat
memberikan
informasi positif
kepada klien dan
keluarga sehingga
dapat menurunkan
kecemasan dan turut
aktif dalam tindakan
pengobatan
2.
Akan
mengurangi nyeri
dan meningkatkan
keinginan tidur
pasien.
3.
Tehnik
relaksasi dapat
megalihkan
perhatian pasien dari
perasaan nyeri
sehingga klien
merasa nyaman
Rasa nyeri
berkurang
1.
Pasien
tenang
.
2.
Ekspresi
wajah cerah
3.
Pasien dapat
menyebutkan
penyebab dan cara
mengatasi nyeri
4.
Nilai
laboratorium normal
:
1.
a.
HCT = 80,0
95,0%
b. MPV = 5,0 10,0
1.
PL
c. PLT = 150 400
103/ml
1.
1.
Mengatur posisi
4.
Kompres
tidur yang menyenangkan
hangat dapat
meningkatkan
vasodilatasi
pembuluh darah
Observasi
vital sign :
TD =
1.
Untuk
110 / 90 mmHg
2.
ND =
80 x/mnt
3.
1.
RR
= 16 x/mnt
4.
Mengajarkan cara
mengurangi rasa nyeri
(relaksasi ) dan
memberikan kegiatan
2.
positif.
SB
= 36oc
5.
Beri
penjelasan tentang
penyebab rasa nyeri.
1.
2.
Memberikan
kompres hangat pada
daerah yang terasa nyeri
dan Menganjurkan untuk
meminum air hangat
Massage daerah
pinggang untuk
mengurangi nyeri
3.
mengurangi impuls
nyeri melalui
medulla spinalis
sehingga nyeri yang
dirasakan berkurang.
Lingkungan
terapeutik yang
tenang dan nyaman
dapat mengurangi
stress sehingga
hormone cortisol
tidak disekresikan
yang mana jika
cortisol tersekresi
maka akan
meningkatkannyeri
Analgetik
dapat mengurangi
nyeri dan antibiotic
mengurangi dan
menghilangkan
factor penyebab
1.
Ciptakan
lingkungan terapiutik yang
nyaman
1.
Melaksanakn
program terapi : Analgetik
dan antibiotic:
2.
Asam mefenamat 3
x1
b. Cotrimokcacol 2 x 3
Perubahan pola
Pola eliminasi urine
1.
Kaji keluhan
eliminasi urine
kembali normal,
buang air kacil
disuria &
dengan criteria :
hematuria
Disuria (-)
berhubungan 1.
dengan
2.
Hematuria (-)
Inflamasi
3.
4.
5.
Pada palpasi
daerah abdomen :
Tidak teraba adanya
akulumulasi cairan di
bagian vesica
urinaria
Frekuensi
BAK 4 5 kali
sehari
Nilai
laboratorium
normal :
1.
1.
Untuk
rehidrasi cairan
dan untuk
pengeluaran
bakteri dan
mikroorganisme
lainnya
2.
Mencega
h perkembangan
bakteri
3.
Untuk
mengetahui
agen penyebab
gangguan ISK
1.
Mencega
h terjadinya
Jelaskan
penyebab perubahan
pola eliminasi
1.
HCT =
komplikasi
80,0 95,0%
2.
MPV =
5,0 10,0 PL
3.
PLT =
150 400 10 /ml
1.
Anjurkan pasien
untuk minum cukup
bila tidak ada kontra
indikasi
1.
Kosongkan
kandung kemih tiap 23 jam
1.
Tampung urine
24 jam untuk
pemeriksaan dan kaji
pengeluaran urine
( jmulah, waran, bau)
1.
Observasi sedini
mungkun tanda-tanda
gagal ginjal
2.
Untuk
mengetahui masalah
eliminasi dan
menentukan tindakan
yang tepat
3.
Mengurangi
kecemasan klien
Kurang
Kurang pengetahuan
1.
Kaji
pengetahuan
teratasi dengan
kemampuan belajar
tentang
criteria :
pasien misalnya :
penyakit,
Menyatakan
tingkat kecemasan,
perawatan dan 1.
pemahaman tentang
perhatian, kelelahan,
pengobatannya
proses penyakit
tingkat partisipasi,
berhubungan
lingkungan belajar,
dengan
2.
Melakukan
tingkat pengetahuan,
kuranganya
perilaku/perubahan
media, orang yang
onformasi
pola hidup untuk
dipercaya.
memperbaiki
kesehatan umum
3.
4.
Mengidentifik
asi gejala yang
memerlukan
evaluasi/intervensi.
Menerima
1.
Meningka
tkan partisipasi
pasien
mematuhi aturan
terapi dan
perawatan yang
sedang dijalani
1.
Untuk
mengurangi
kecemasan klien
& meningkatkan
partisipasi klien
& keluarga
dalam tindakan
perawatan kesehatan
adekuat.
pengobatan
1.
Jelaskan
penatalsanaan obat :
1.
Pengetah
dosis, frekuensi,
uan yang cukup
tindakan dan perlunya
dapat membantu
terapi dalam jangka
pasien dalam
waktu lama.
tindakan
pengobatan serta
meningkatkan
kesehatan klien
1.
Anjurkan
keluarga untuk
berpartisipasi aktif
dalam proses
pemberian informasi
yang actual bagi kien
Resiko tinggi
terjadinya
infeksi
sekunder
berhubungan
dengan
Penggunaan
kateter dalam
waktu yang
lama &
keluarnya
cairan terus
menerus dari
kemaluan
Tidak
ditemukan tanda
tanda radang
2.
Tanda vital
1.
Review
pengetahuan pasien &
keluarga tentang
penyakit ISK.
2.
Kemampuan
belajar berkaitan
dengan keadaan emosi
dan kesiapan fisik,
keberhasilan
tergantung pada
kemampuan pasien.
1.
stabil
1.
TD =
110 / 90 mmHg
2.
ND =
80 x/mnt
2.
Untuk
mengetahu
adanya infeksi
serta
mempermudah
dalam
pemberian
tindakan
selanjutnya
Infeksi
dapat
menunjukan
peningkatan
3.
RR =
suhu tubuh
16 x/mnt
4.
1.
36 c
1.
H
CT = 80,0 95,0%
3.
Mencega
h penyebaran
infeksi dan
perkembangan
debris bakteri
4.
Untuk
mencegah
terjadinya
infeksi
nasokomial
Nilai
laboratorium
normal :
2.
3.
tubuh
5.
Monitor suhu
M
PV = 5,0 10,0 PL 1.
W
BC=5,0 10,0 10 /m
3
4.
Beri penjelasan 5.
Untuk
tentang kebersihan diri
mengurangi
/ genetalia
penyebaran
kuman penyakit
R
BC=4,00 5,50
106/ml
5.
H
GB=12,0 15,0 g/dl
6.
H
CT = 40,0 48,0
7.
1.
M
CV = 80,0 95,0FI
8.
M
CH = 25,0 34,0 d/g
9.
M
CHC= 32,0 36,0
Bekerjalah
dengan prinsip aseptic
dan antiseptic
gr/dl,
10.
P
1.
LT=150 400 10 /ml
3
11.
K
aji tanda tanda
radang
1.
Laksanakan
program pengobatan :
Antibiotik
Kotrimokcacol 2 x 3
10. mplementasi
Tabel 3.6 : Implementasi Keperawatan Tn.M tanggal 26 Juli 2012 di Ruang
Teratai Interna RSUD Mokopido Tolitoli
No
Dx
Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam
Tindakan
Nyeri pada
daerah uterus
dan sekitarnya
berhubungan
dengan
Inflamasi.
26/07/2012 1.
09.00 09.15
wita
1.
09,15 09.17
wita
3.
4.
09,17 10.00
wita
10,00 11.00
wita
11.00 11. 30
5.
wita
11.30 11.35
wita
6.
1.
12.00 12.15
wita
Perubahan pola
eliminasi urine
disuria &
hematuria
berhubungan
dengan
Inflamasi
26/07/12
Menciptakan lingkungan
terapiutik yang nyaman dengan cara :
Membatasi pengunjung & mengurangi
kebisingan
09.00 09.15
wita
09,15 09.17
1.
wita
Menjelaskan penyebab
perubahan pola eliminasi
Kurang
pengetahuan
tentang
penyakit,
perawatan dan
pengobatannya
berhubungan
dengan
kuranganya
onformasi
26/07/12
1.
2.
Menjelaskan penatalaksanaan
obat : dosis, frekuensi, tindakan dan
perlunya terapi dalam jangka waktu
lama.
3.
09.00 09.15
wita
09,15 09.17
wita
09,17 10.00
wita
10,00 11.00
wita
kien
Resiko tinggi
terjadinya
infeksi
sekunder
berhubungan
dengan
Penggunaan
kateter dalam
waktu yang
lama &
keluarnya
cairan terus
menerus dari
kemaluan
26/07/12
4.
1.
09.00 09.15
wita
1.
36 C
09,15 09.17
wita
09,17 10.00
1.
wita
10,00 11.00
1.
wita
12.00 12.15
wita
1.
Laksanakan program
pengobatan :Antibiotik Kotrimocacol
1.
11.
Evaluasi Keperawatan
Tabel 3.7 : Evaluasi Keperawatan Tn.M Tanggal 26 Juli 2012 di Ruang Rawat
Teratai Interna RSUD Mokopido Tolitoli
No
Dx
Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam
Evaluasi
Nyeri pada
daerah uterus
dan sekitarnya
berhubungan
dengan
Inflamasi.
S:
26/07/2012
1.
2.
09.00 wita
3.
1.
2.
Klien meringis
Klien memegang bagian bawah
perut yang sakit
3.
Klien lemah
4.
6.
Pemeriksaan laboratorium
tanggal 26 Juli 2012 : HCT = 38,3%;
MPV = 4,5 PL, PLT = 2,2 103/ml.
7.
1.
2.
3.
4.
Resiko tinggi
pola eliminasi
urine disuria &
hematuria
berhubungan
dengan
Inflamasi
5.
6.
7.
26/07/12
1.
2.
09.0 wita
O:
1.
2.
Hematuri (+)
Pada palpasi daerah abdomen :
Teraba adanya akulumulasi cairan di
bagian vesica urinaria
A:
Perubahan pola eliminasi urine disuria
& hematuria
P:
1.
Kurang
pengetahuan
tentang
penyakit,
perawatan dan
pengobatannya
berhubungan
dengan
kuranganya
onformasi
2.
3.
4.
5.
6.
26/07/12
1.
09.20 10.00
Wita
1.
2.
3.
Klien tegang
A:
Kurang pengetahuan tentang penyakit,
perawatan dan pengobatannya
P:
Resiko tinggi
terjadinya
infeksi
sekunder
berhubungan
dengan
1.
2.
3.
4.
26/07/12
09.20 10.00
Wita
1.
Penggunaan
kateter dalam
waktu yang
lama &
keluarnya
cairan terus
menerus dari
kemaluan
Hematuria
Pada palpasi daerah abdomen :
Teraba adanya akulumulasi cairan di
bagian vesica urinaria
3.
Klien meringis
4.
Pemeriksaan laboratorium
tanggal 26 Juli 2012 : HCT = 38,3%;
MPV = 4,5 PL, PLT = 2,2 103/ml,
WBC=8,3 103/ml, RBC=3,95 106/ml,
HGB=13,1 g/dl, HCT = 38,3, MCV =
37,0 FI, MCH d/g, MCHC= 34,2
gr/dl, PLT=2,2 103/ml
5.
= 37oc
A:
Potensial terjadinya infeksi sekunder
P:
1.
1.
2.
3.
4.
5.
Laksanakan program
pengobatan : Antibiotik
Kotrimoksasol 2 x 3.
No
Dx
Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam
Evaluasi
Nyeri pada
daerah uterus
dan sekitarnya
berhubungan
dengan
Inflamasi.
S:
26/07/2012
10,00 11.00
wita
1.
2.
09.00 3.
09.15wita
09,15 09.17
wita
1.
12.00 12.15 2.
Klien memegang bagian bawah
wita
perut yang sakit
3.
Klien lemah
4.
5.
6.
Pemeriksaan laboratorium
tanggal 26 Juli 2012 : HCT = 38,3%;
MPV = 4,5 PL, PLT = 2,2 103/ml.
7.
RR
= 20 x/mnt, S
= 37oc
A:
Nyeri pada daerah uterus dan
sekitarnya
P:
1.
2.
3.
1.
2.
3.
R:
Perubahan pola
eliminasi urine
disuria &
hematuria
berhubungan
dengan
Inflamasi
1.
2.
3.
4.
Menciptakan lingkungan
terapiutik yang nyaman dengan cara :
Membatasi pengunjung & mengurangi
kebisingan
5.
26/07/12
1.
2.
10,00 11.00
wita
O:
1.
2.
Hematuri (+)
Pada palpasi daerah abdomen :
Teraba adanya akulumulasi cairan di
bagian vesica urinaria
A:
Perubahan pola eliminasi urine disuria
& hematuria
09.00 09.15
wita
P:
09,15 09.17 1.
wita
2.
14.00 wita
3.
1.
2.
Menjelaskan penyebab
perubahan pola eliminasi
3.
Kurang
pengetahuan
tentang
penyakit,
perawatan dan
pengobatannya
berhubungan
dengan
kuranganya
onformasi
1.
2.
26/07/12
10,00 11.00
wita
09.00 09.15
wita
09,15 09.17
wita
1.
09,17 10.00 2.
wita
10,00 11.00
wita
2.
3.
4.
1.
Menjelaskan penatalaksanaan
obat : dosis, frekuensi, tindakan dan
perlunya terapi dalam jangka waktu
lama.
3.
4.
Resiko tinggi
terjadinya
infeksi
sekunder
1.
2.
26/07/12
10,00 11.00
1.
berhubungan
dengan
Penggunaan
kateter dalam
waktu yang
lama &
keluarnya
cairan terus
menerus dari
kemaluan
yang lalu.
wita
2.
3.
O:
1.
2.
09.00 3.
09.15wita
4.
09,15 09.17
wita
12.00 12.15
wita
5.
Hematuria
Pada palpasi daerah abdomen :
Teraba adanya akulumulasi cairan di
bagian vesica urinaria
Klien meringis
Pemeriksaan laboratorium
tanggal 26 Juli 2012 : HCT = 38,3%;
MPV = 4,5 PL, PLT = 2,2 103/ml,
WBC=8,3 103/ml, RBC=3,95 106/ml,
HGB=13,1 g/dl, HCT = 38,3, MCV =
37,0 FI, MCH d/g, MCHC= 34,2
gr/dl, PLT=2,2 103/ml
Observasi vital sign :ND
88 x/mnt, RR = 20 x/mnt
S = 37oc
A:
2.
3.
Laksanakan program
pengobatan : Antibiotik
Kotrimoksasol 22.
I:
1.
2.
36 C
3.
Memberikan Kotrimocacol 2
tab
E:
Masalah belum teratasi
R:
1.
2.
Tabel 3.8 : Catatan Perkembangan Tn.M Tanggal 26 Juli 2012 di Ruang Teratai
Interna Teratai Interna RSUD Mokopido Tolitoli
No
Dx
Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam
Evaluasi
Nyeri pada
daerah uterus
dan sekitarnya
berhubungan
dengan
Inflamasi.
S:
27/07/2012
10,00
11.00 wita
1.
2.
3.
1.
2.
Klien meringis
Klien memegang bagian bawah
perut yang sakit
3.
Klien lemah
4.
5.
6.
09.00
09.15wita
A:
Nyeri pada daerah uterus dan
sekitarnya
09,15
09.17 wita
P:
09,17
10.00 wita 1.
12.00
12.15 wita 2.
3.
4.
Kotrimoksasol 23
I:
1.
2.
3.
4.
1.
2.
Menciptakan lingkungan
terapiutik yang nyaman dengan cara :
Membatasi pengunjung & mengurangi
kebisingan
3.
Perubahan pola
eliminasi urine
disuria &
hematuria
berhubungan
dengan
Inflamasi
S:
27/07/12
1.
2.
10,00
11.00 wita
O:
1.
2.
Hematuri (+)
Pada palpasi daerah abdomen :
Teraba adanya akulumulasi cairan di
bagian vesica urinaria
A:
Perubahan pola eliminasi urine disuria
& hematuria
09.00
09.15 wita
P:
14.00 wita
1.
2.
I:
1.
2.
Kurang
pengetahuan
tentang
penyakit,
perawatan dan
pengobatannya
1.
2.
3.
26/07/12
1.
2.
10,00
11.00 wita
berhubungan
dengan
kuranganya
onformasi
menerima keadaanya
09.00
09.15 wita
O:
1.
Klien rileks
2.
09,15
09.17 wita
A:
Kurang pengetahuan tentang penyakit,
perawatan dan pengobatannya
P:
1.
2.
1.
2.
Masalah teratasi
R:-
Resiko tinggi
terjadinya
infeksi
sekunder
berhubungan
dengan
Penggunaan
kateter dalam
waktu yang
lama &
keluarnya
cairan terus
menerus dari
kemaluan
S:
27/07/12
1.
2.
3.
10,00
11.00 wita
O:
1.
2.
Hematuria
Pada palpasi daerah abdomen :
Teraba adanya akulumulasi cairan di
bagian vesica urinaria
3.
09.00
09.15wita 4.
Klien meringis
Observasi vital sign :ND
x/mnt, RR = 20 x/mnt
= 88
SB = 37oc
09,15
09.17 wita
09,17
A:
Potensial terjadinya infeksi sekunder
10.00 wita
P:
12.00 1.
12.15 wita
2.
3.
4.
Laksanakan program
pengobatan : Antibiotik Kotrimoksasol
22.
I:
1.
2.
36 C
3.
4.
R:
1.
2.
Laksanakan program
pengobatan : Antibiotik Kotrimoksasol
23.
Tabel 3.8 : Catatan Perkembangan Tn.M Tanggal 28 Juli 2012 di Ruang Rawat
Teratai Interna RSUD Mokopido Tolitoli
No
Dx
Diagnose
Keperawatan
Tgl/Jam
Evaluasi
Nyeri pada
daerah uterus
dan sekitarnya
berhubungan
dengan
Inflamasi.
S:
28/07/2012
1.
2.
09.00 wita
09.00
09.15wita
09,15 3.
09.17 wita
1.
12.00
2.
12.15 wita
Klien meringis
Klien memegang bagian bawah
perut yang sakit
3.
Klien lemah
4.
5.
6.
1.
2.
3.
2.
Menciptakan lingkungan
terapiutik yang nyaman dengan cara :
Membatasi pengunjung & mengurangi
kebisingan
3.
Perubahan pola
eliminasi urine
disuria &
hematuria
berhubungan
dengan
Inflamasi
S:
28/07/12
10,00
11.00 wita
09.00
1.
2.
09.15 wita 1.
09,15
09.17 wita
2.
14.00 wita
Hematuri (-)
Pada palpasi daerah abdomen :
Tidak teraba adanya akulumulasi cairan
di bagian vesica urinaria
A:
Perubahan pola eliminasi urine disuria
& hematuria
P:
1.
2.
3.
1.
2.
1.
Resiko tinggi
terjadinya
infeksi
sekunder
berhubungan
dengan
Penggunaan
kateter dalam
waktu yang
lama &
keluarnya
cairan terus
menerus dari
kemaluan
S:
28/07/12
1.
10,00
11.00 wita
1.
O:
1.
2.
Hematuria (-)
Pada palpasi daerah abdomen :
Tidak teraba adanya akulumulasi cairan
di bagian vesica urinaria
3.
4.
Klien meringis
Observasi vital sign :ND
x/mnt, RR = 22 x/mnt
= 84
S = 36oc
09.00
09.15wita
A:
Potensial terjadinya infeksi sekunder
09,15
09.17 wita
P:
1.
1.
2.
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang kesenjangan antara tinjauan kasus
nyata pada Tn. H kasus Infeksi Saluran Kencing (ISK) yang dirawat diruang Teratai
Interna RSU Mokopido Tolitoli. Dibawah ini dijelaskan sesuai tahapan proses
keperawatan:
1.
A.
Pengkajian
1.
Gejala
2.
3.
4.
5.
Klien mengatakan jika BAK terasa nyeri dirasakan sejak satu minggu yang lalu
6.
Klien mengatakan 2 hari sebelum masuk RS pada saat klien BAK keluar darah
campur urin
7.
8.
1.
Tanda :
2.
Klien meringis
3.
4.
Klien lemah
5.
6.
7.
8.
9.
Hematuri (+)
10.
11.
Klien tegang
= 130 / 60 mmHg, ND
= 88 x/mnt, RR
Dari data yang penulis dapatkan tidak ada kesenjangan melalui hasil pengkajian
dengan teori tentang gejala dan tanda pada klien dengan infeksi saluran kemih (ISK) ,
1.
B.
Diagnosa keperawatan
Berdasarkan analisa data yang penulis lakukan pada kasus Tn.H didapatkan diagnosa
keperawatan :
1.
2.
3.
4.
1.
2.
Gangguan rasa nyama : nyeri pada daerah uterus dan sekitarnya, sehubungan
dengan akibat adanya peradangan.
Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan akibat adanya infeksi
3.
4.
5.
6.
7.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa infeksi saliran kemih (ISK)
adalah reaksi inflamasi sel sel urotelium melapisi saluran kemih (Purnomo B.
Basuki,2003) atau inflamasi kandung kemih yang dapat bersifat akut/kronis. Keadaan
ini paling sering disebabkan oleh infeksi E. Coli(Depkes, 2000) diman dapat
disebabkan oleh antara lain Factor predisposisi yang terdiri dari Infeksi saluran kemih
bagian atas disebabkan oleh : Obstruksi (hipertropi) prostat, katup (striktur uretra) ,
Gangguan pengosongan kandung kemih (neuropatik, divertikula), Kateterisasai
/instrumentasi, Infeksi ginjal. Untuk Infeksi saluran kemih bagian bawah disebabkan
oleh : Fistula Vesikoureter, Obstruksi (misalnya, batu, striktur) serta dapat disebabkan
juga oleh mikrobiologis antara lain Mikroorganisme penyebab E.Coli,Enterocoli,
Proteus spp, Stafilokokus aureus, klebsiela spp, koliform lainnya, Enterococcus
faecalis, S. Saprophyciccus, S. Epidermidis, Pseudumonas Aeruginosa,Mycobaterium
tuberculosis(Nursalam,2006), (B.K., Mandal dkk,2011)
Pada laki laki infeksi saluran kemih disebabkan oleh :Neisseria gonorhoe, Uretritis
non-gonokokal (NGU), Clamiydia menyebabkan 30 50% kasus, Ureplasma
urealyticum, Mycoplasma gentilium, Trchomonas Vaginalis, HSV, Candida, Neisseria
meningtidis, striktur uretra, dan benda asing berperan pada sebagian kecil kasus
(Depkes,1995). Keadaan tersebut dapat menyebabkan terjadinya inflamasi pada
kandung kemih sehingga mengakibatkan pelepasan pirogen endogen seperti
bradikinin, serotonin, prostaglandin dan histamine. Akibat pelepasan zat-zat kimia
tersebut sehingga mengakibatkan terjadinya permiabilitas kapiler dan mengakibatkan
vasodilatasi dan vasokontriksi di daerah radang sehingga mengakibatkan timbulnya
nyeri.
Keadaan ini pula akan mengakibatkan keluhan nyeri pada saat BAK seperti disuria
den hematurian, dan yang paling membahayakan jika terjadi refluks (aliran balik) ke
ureter makan akan mengakibatkan gagal ginjal.
1.
C.
Perencanaan
Perencanaan tindakan keperawatan yang diberikan kepada Tn.H tidak jauh berbeda
dengan perencanaan tindakan menurut E. Doengoes, 1999, namun adapun
perencanaan disusun berdasarkan teori disesuaikan dengan kondisi klien dengan
fasilitas yang tersedia di RSU Mokopido Tolitoli.
2.
3.
4.
(E. Doengoes, 1999) sesuai dengan kondisi klien dengan kasus Infeksi Saluran
Kencing (ISK) diruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli.
5.
D.
Implementasi
Pelaksanaan rencana keperawatan mengacu pada rencana yang telah ditetapkan dalam
teori. Namun penulis tidak dapat melaksanakan semua rencana yang ada dalam teori
tapi dapat melaksanakan semua rencana sesuai dengan diagnosa keperawatan pada Tn.
H dengan kasus ISK diruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli.
Pada tahap pelaksanaan ini dalam memberikan asuhan keperawatan penulis tidak
sepenuhnya berada diruangan selama 24 jam. Maka selama penulis tidak berada
diruangan perawatan dilanjutkan oleh perawat yang ada diruangan.
1.
E.
Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan
keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap
tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Dalam melaksanakan evaluasi, penulis
menggunakan evaluasi proses dan evaluasi hasil.
Evaluasi proses dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan. Sedangkan evaluasi
hasil dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan yang telah
ditentukan.
Evaluasi yang penulis lakukan pada asuhan keperawatan Tn.H dengan kasus ISK
dilakukan dengan pendekatan SOAP.
1.
F.
Catatan Perkembangan
Catatan perkembangan merupakan bagian dari evaluasi atau disebut dengan evaluasi
sumatif. Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua aktivitas
proses keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi sumatif ini bertujuan menilai dan
memonitor kualitas asuhan keperawatan yang telah dilakukan.
BAB V
PENUTUP
Setalah melakukan pembahasan bab per bab pada asuhan keperawatan pada
Tn.H dengan kasus ISK diruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli maka
penulis menarik berbagai kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut :
A. Kesimpulan
1.
Data yang diperoleh pada klien merupakan langkah awal yang ditempuh oleh
penulis untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan agar asuhan keperawatan dapat
ditegakkan. Dan hasil dari data pengkajian keperawatan yang timbul pada klien kasus
ISK dalam teori tidak selamanya ditemukan pada Tn.H dengan kasus Infeksi Saluran
Kemih (ISK) diruang Teratai Interna RSU Mokopido Tolitoli.
Dari 7 diagnosa yang ada diteori, yang didapatkan klien pada Tn.H kasus ISK yaitu,
Nyeri pada daerah uterus dan sekitarnya berhubungan dengan Inflamasi, Perubahan
pola eliminasi urine
Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti nutrisi, eliminasi, dan personal hygiene akibat pasien harus bedrest dapat memperburuk kondisi ISK karena kurangnya mobilitas dan higienitas yang mempengaruhi sistem kekebalan dan mikrobiota normal tubuh .
Keluarga berperan penting dalam mendukung pasien dengan infeksi saluran kemih dengan cara mempertanyakan informasi tentang penyakit, mendukung kepatuhan terhadap penatalaksanaan obat, dan berpartisipasi aktif dalam pemberian informasi aktual serta menjaga lingkungan yang mendukung proses penyembuhan .
Evaluasi keperawatan membantu memonitor tanda-tanda vital dan gejala infeksi, seperti nyeri dan demam. Langkah-langkah seperti mengobservasi suhu tubuh, memberikan penjelasan tentang kebersihan diri, dan melakukan program pengobatan dengan antibiotik dan analgesik dapat menurunkan gejala dan mencegah komplikasi lebih lanjut .
Faktor predisposisi untuk infeksi saluran kemih bagian atas meliputi obstruksi seperti hipertropi prostat dan striktur uretra, gangguan pengosongan kandung kemih seperti neuropatik dan divertikula, kateterisasi/instrumentasi, dan infeksi ginjal. Sementara untuk infeksi saluran kemih bagian bawah, faktor predisposisi meliputi fistula vesikoureter dan obstruksi seperti batu dan striktur .
Patient education on personal hygiene significantly impacts UTI management by empowering patients to maintain genital cleanliness, thus reducing bacterial load. Educating patients and their families on proper hygiene practices and catheter care encourages active participation in infection prevention, leading to fewer recurrent infections .
Pemantauan suhu tubuh penting karena demam adalah tanda umum dari sistem tubuh yang sedang melawan infeksi. Dalam konteks ISK, peningkatan suhu tubuh dapat mengindikasikan peradangan atau infeksi yang aktif .
Proper hydration plays a significant role in managing and preventing urinary tract infections by diluting urine, which helps flush out bacteria, reducing the risk of infection. Adequate fluid intake ensures regular urination, preventing bacteria from adhering to the urinary tract lining .
Clinical indicators required to evaluate potential renal impairment in UTI patients include measurement of serum creatinine and urea levels, urine analysis for proteinuria and hematuria, imaging studies like ultrasound or CT scan for structural evaluation, and monitoring of patients for signs such as reduced urine output, flank pain, and systemic symptoms of infection .
Infeksi saluran kemih menyebabkan inflamasi sel urotelium melapisi saluran kemih, yang dapat memicu pelepasan pirogen endogen seperti bradikinin, serotonin, prostaglandin, dan histamin. Zat-zat ini meningkatkan permeabilitas kapiler, menyebabkan vasodilatasi dan vasokonstriksi di area radang, yang memicu nyeri selama buang air kecil (disuria).
Urinalysis and urine culture are crucial for diagnosing urinary tract infections in women because they help identify the presence of bacteria and the type of organism causing the infection. Midstream urine samples are analyzed microscopically and cultured to determine bacterial growth and sensitivity, which guides effective antibiotic treatment .