Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

PROYEK ANATOMI DAN FISIOLOGI HEWAN


(BI-2103)

SISTEM RESPIRASI
Tanggal Praktikum : Rabu, 17 September 2014
Tanggal Pengumpulan: Rabu, 24 September 2014
Disusun oleh :
Vina Alpiani
10613023
Kelompok 2
Asisten :
Rika Mustika
10612004

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bernapas merupakan salah satu ciri dari makhluk hidup yang mempunyai
peranan penting untuk kelangsungan kehidupan. Bernapas adalah proses memasukan
oksigen ke dalam tubuh dan mengeluarkan karbondioksida dari dalam tubuh.
Oksigen yang masuk ke dalam tubuh dengan melalui sistem pernapasan akan
digunakan untuk proses oksidasi biologi, yaitu proses yang menghasilkan energi
dengan memecah molekul yang kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana.
Energi yang dihasilkan akan digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas hidup
seperti bergerak, melakukan proses pertumbuhan dan perkembangan, proses
reproduksi, mengatur suhu tubuh, serta aktivitas lainnya.
Respirasi atau pernapasan terdiri dari dua macam, yaitu respirasi eksternal dan
respirasi internal. Respirasi Eksternal adalah pertukaran antara oksigen dari udara
dan karbondioksida dari kapiler darah dalam alveolus, sedangkan respirasi internal
yaitu pertukaran oksigen dan karbondioksida dari kapiler darah menuju sel sel
tubuh. (Raven, 2002).
Respirasi sangat berkaitan dengan metabolisme tubuh yang membutuhkan
oksigen untuk menghasilkan energi. Oleh karena itu, pengukuran laju respirasi
menjadi penting baik untuk menentukan tingkat metabolisme yang tinggi atau rendah
pada suatu organisme maupun sebagai data pendukung saat melakukan pengukuran
laju metabolisme.
Dalam praktikum ini, akan dilakukan percobaan mengukur laju konsumsi
oksigen pada mencit dengan menggunakan respirometer dan mengukur laju
konsumsi oksigen pada ikan dengan menggunakan metode Winkler. Prinsip kerja dari
respirometer adalah dengan mengamati banyaknya oksigen yang di gunakan dalam
satu waktu. Sedangkan prinsip kerja dari metode Winkler adalah menentukan kadar
oksigen yang terlarut dalam air dengan titrasi oleh larutan thiosulfat.
1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu antara lain :
a. Menentukan laju konsumsi oksigen pada mencit
b. Menetukan laju konsumsi oksigen pada ikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Respirasi

Respirasi atau pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang
mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak
mengandung karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar tubuh. Penghisapan
udara disebut inspirasi dan proses menghembuskan udara disebut ekspirasi.
(Syaifuddin, 2006).
Respirasi bertujuan untuk menghasilkan energi. Energi hasil respirasi tersebut
sangat diperlukan untuk aktivitas hidup, seperti mengatur suhu tubuh, pergerakan,
pertumbuhan dan reproduksi. (Lestari, 2006)
Menurut Martini (2012) fungsi dari sistem pernapasan yaitu diantaranya
sebgai berikut.
a. Menyiapkan permukaan yang luas untuk pertukaran gas antara udara dan
peredaran darah.
b. Mengatur proses pertukaran udara dari luar paru paru dan ke permukaan
paru paru,
c. Melindungi permukaan membran respirasi dari dehidrasi, perubahan
temperatur, dan perubahan lingkungan lainnya serta menjada sistem rspirasi
dari invasi patogen.
d. Menghasilkan suara / bunyi termasuk bicara.
e. Memberikan sensasi olfaktori (pembauan/penciuman) ke sistem saraf.
2.2. Mekanisme Respirasi Hewan Terestial dan Akuatik
Beberapa jenis hewan telah mempunyai organ untuk pernapasan. Organ
pernapasan tersebut berperan dalam proses pertukaran oksigen dan karbondioksida di
dalam tubuh. Organ pernapasan antara hewan yang satu dengan lainnya berbeda
beda sesuai dengan perkembangan struktur tubuh dan tempat hidupnya. Pada hewan
hewan tingkat tinggi terdapat alat untuk proses pernapasan, yakni berupa paru
paru, insang atau trakea, sementara pada hewan hewan tingkat rendah dan
tumbuhan proses pertukaran udara tersebut dilakukan secara langsung dengan difusi
melalui permukaan selsel tubuhnya. Dari alat pernafasan, oksigen masih harus di
angkut oleh darah atau cairan tubuh ke seluruh sel tubuh yang membutuhkan.
Selanjutnya oksigen tersebut akan dimanfaatkan untuk oksidasi di dalam sel guna
menghasilkan energi.
Pertukaran gas antara tubuh hewan dan lingkungannya terjadi pada lingkungan
aquatik maupun terestrial. Dalam proses pernapasan, hewan terestial lebih mudah
mendapatkan oksigen dari pada hewan akuatik. Hal ini disebabkan karena kandungan
oksigen di dalam air yang lebih rendah yaitu 10 ml oksigen per liter, sedangkan
kandungan oksigen di udara 200 ml per liter. Namun, hewan akuatik lebih mudah

untuk melepas karbondioksida ke lingkungan dari pada hewan terestial, karena


kelarutan karbondioksida dalam air lebih tinggi dari pada kelarutannya di udara.
Hewan akuatik bernapas dengan menggunakan kulit atau insang, contohnya
pada ikan. Mekanisme pernapasan pada ikan diatur oleh mulut dan tutup insang.
Pada waktu tutup insang mengembang, membran brankiostega menempel rapat pada
tubuh, sehingga air masuk lewat mulut. Sebaliknya jika mulut ditutup, tutup insang
mengempis, rongga faring menyempit, dan membran brankiostega melonggar
sehingga air keluar melalui celah dari tutup insang. Air dengan oksigen yang larut di
dalamnya membasahi filamen insang yang penuh kapiler darah dan karbon dioksida
ikut keluar dari tubuh bersama air melalui celah tutup insang. Ikan juga mempuyai
gelembung renang yang berfungsi untuk menyimpan oksigen dan membantu gerakan
ikan naik turun.
Pada hewan terestial, organ untuk pernapasan adalah paru paru dan trakea.
Pengaturan respirasi secara kimiawi pada hewan terestrial lebih banyak dirangsang
oleh adanya peningkatan kadar CO2 dalam darah dari pada oleh penurunan kadar
oksigen. Pada hewan terestrial terdapat beberapa jenis organ respirasi yaitu paruparu, trachea,dan kulit. Salah satu contoh mekanisme pernapasan pada hewan
terestial misalnya yaitu pada katak. Katak mempunyai sepasang paru-paru yang
berbentuk gelembung tempat bermuaranya kapiler darah. Permukaan paru-paru
diperbesar oleh adanya bentuk- bentuk seperti kantung sehingga gas pernapasan
dapat berdifusi. Paru - paru dengan rongga mulut dihubungkan oleh bronkus yang
pendek. Dalam paru-paru terjadi mekanisme inspirasi dan ekspirasi yang keduanya
terjadi saat mulut tertutup. Fase inspirasi adalah saat udara (kaya oksigen) yang
masuk lewat selaput rongga mulut dan kulit berdifusi pada gelembung-gelembung di
paru - paru. Mekanisme inspirasi adalah sebagai berikut. Otot Sternohioideus
berkonstraksi sehingga rongga mulut membesar. Setelah itu koane menutup dan otot
rahang bawah dan otot geniohioideus berkontraksi sehingga rongga mulut mengecil.
Mengecilnya rongga mulut mendorong oksigen masuk ke paru-paru lewat celahcelah. Dalam paru-paru terjadi pertukaran gas, oksigen diikat oleh darah yang berada
dalam kapiler dinding paru-paru dan sebaliknya, karbon dioksida dilepaskan ke
lingkungan. Mekanisme ekspirasi adalah sebagai berikut. Otot-otot perut dan
sternohioideus berkontraksi sehingga udara dalam paru-paru tertekan keluar dan
masuk ke dalam rongga mulut. Celah tekak menutup dan sebaliknya koane
membuka. Bersamaan dengan itu, otot rahang bawah berkontraksi yang juga diikuti

dengan berkontraksinya geniohioideus sehingga rongga mulut mengecil. Dengan


mengecilnya rongga mulut maka udara yang kaya karbon dioksida keluar. (Isnaeni,
2003)
2.3. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Laju Respirasi
Menurut Winasasmita (2001:190) ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi laju respirasi, baik faktor internal maupun eksternal yaitu
diantaranya:
1. Umur
Pada manusia, umumnya semakin bertambah umur seseorang, irama
pernapasannya semakin lambat. Hal ini berkaitan dengan makin berkurangnya
kebutuhan energi. Usia balita atau anak-anak remaja merupakan masa
pertumbuhan fisik yang sangat membutuhkan banyak energi, yang berarti laju
metabolisme dalam tubuh juga akan lebih cepat, sehingga membutuhkan
banyak oksigen dan juga mengeluarkan lebih banyak karbondioksida.
2. Jenis kelamin
Laki-laki umumnya beraktivitas lebih banyak dan bekerja lebih keras
dari pada perempuan. Hal ini mengakibatkan semakin tingginya kebutuhan
energi, sehingga membutuhkan banyak oksigen untuk meningkatkan laju
metabolisme tubuh.
3. Suhu tubuh
Semakin rendah suhu semakin cepat pernapasan, sebaliknya semakin
tinggi suhu semakin lambat pernapasan, akan tetapi hal ini tidak berlangsung
secara linier. Apabila suhu tubuh terus meningkat, maka pada suhu tertentu
laju irama pernapasan akan semakin cepat. Contohnya saat tubuh demam.
4. Posisi tubuh
Posisi tubuh menentukan banyaknya otot dan organ tubuh yang
bekerja. Hal ini berarti menentukan kebutuhan energi untuk mendukungnya.
Sebagai contoh pada saat berdiri otot-otot kaki banyak yang berkontraksi,
juga otot-otot tubuh yang ikut menjaga agar posisi tubuh tegak berdiri ikut
berkontraksi. Di samping itu, agar tubuh dapat berdiri maka organ dan pusat
saraf keseimbangan bekerja untuk mengendalikan posisi tubuh. Karena itu
irama pernapasan pada posisi berdiri lebih cepat dari pada orang yang duduk
atau orang yang berbaring.
5. Kegiatan atau aktivitas tubuh
Semakin banyak organ tubuh yang bekerja dan semakin berat kerja
organ tersebut, semakin tinggi kebutuhan energi yang diperlukan, sehingga
laju metabolisme dan irama pernapasan semakin cepat.
6. Kadar O2 dan CO2 dalam tubuh
Kekurangan O2 dapat menyebabkan kecepatan pernapasan bertambah,

sedangkan jika konsentrasi CO2 bertambah, kecepatan pernapasan bertambah


pula.
2.4. Metode Winkler
Penentuan kadar oksigen dalam air berdasarkan yodometri diperkenalkan oleh
Winkler pada tahun 1888 (Murray et al. 1967). Menurut Horas P.Hutagalung et al.
(1985), prinsip penentuan kadar oksigen berdasarkan metode Winkler yaitu sebagai
berikut : dalam larutan yang bersifat basa kuat, MnSO4 bereaksi dengan basa (OH)
membentuk endapan Mn(OH)2 yang berwana putih. Endapan Mn(OH)2 dalam
larutan yang bersifat basa kuat, merupakan senyawa yang tidak stabil, sehingga
segera dioksidasi oleh oksigen yang terdapat dalam larutan contoh menjadi
Mn(OH)3.
MnSO4 + 2 OH2 Mn(OH)3 . . . (1)
2 Mn(OH)2 + O2 + H2O
Mn(OH)2 + SO4 . . . (2)
Reaksi oksidasi ini bersifat kuantitatif, yang berarti banyaknya Mn (OH)3 yang
terbentuk adalah ekivalen dengan banyaknya O2 yang terdapat dalam larutan sampel.
Setelah proses pengendapan sempurna, larutan diasamkan dengan H2SO4. Dalam
suasana asam kuat, endapan Mn(OH)3 larut kembali dan melepaskan Mn. Ion Mn2+
yang dilepaskan ini bersifat oksidator kuat, sehingga akan mengoksidasi ion Iodida
menjadi I2 bebas. I2 yang dibebaskan dari garam NaI atau KI ini dititrasi dengan
natrium tiosulfat (Na2S2O3).
8OH- + 4Mn2+ +O2 + 2 H2O
2 Mn(OH)3 + 2 I- + 6 H+
I2 + I I3- . . . (4)

4 MnOH3
2 Mn2+ + I2 + 6 H2O . . . (3)

Larutan tiosulfat dioksidasi menjadi tetrationat dan I2 direduksi menjadi I.


Untuk menentukan titik akhir titrasi dipakai indikator amilum. Iodium (I2) bereaksi
dengan amilum membentuk senyawa kompleks yang berwarna biru.
I3- + 2 S2O323 I- + S4O62- . . . (5)
Ikatan antara I2 dengan amilum tidak begitu kuat, I2 mudah lepas dan bereaksi
dengan tiosulfat. Titrasi dihentikan pada saat warna biru hilang dan larutan berubah
menjadi tidak berwarna. Banyaknya O2 adalah ekivalen dengan banyaknya I2 yang

dilepaskan. Banyaknya I2 yang dilepaskan adalah ekivalen dengan banyaknya


larutan baku Na2S2O3 yang diperlukan untuk titrasi. Oleh karena itu kadar oksigen
dalam larutan sampel dapat dihitung dari banyaknya larutan baku tiosulfat yang
terpakai untuk titrasi.
Reagen yang digunakan dalam metode Winkler yaitu sebagai berikut.
a. Larutan thiosulfat (Na2S2O3) yang berfungsi untuk mengetahui jumlah
b.
c.
d.
e.
f.

iodin
Larutan KOH berfungsi mengubah larutan menjadi basa
Larutan MnSO4 berfungsi untuk mengikat oksigen yang terlarut
Larutan amilum berfungsi untuk mengetahui adanya iodin
Larutan KI sebagai sumber iodium
Larutan H2SO4 berfungsi untuk membebaskan molekul iodium menjadi
iodin

2.5. Respirometer
Respirometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur rata rata
pernapasan organisme dengan mengukur rata rata pertukaran oksigen dan
karbondioksida. Prinsip dari metode ini yaitu dalam proses pernapasan terdapat
oksigen yang masuk ke dalam tubuh dan karbondioksida yang dikeluarkan. Jika
organisme yang bernapas itu disimpan dalam ruang tertutup dan karbondioksida yang
di keluarkan organisme dalam ruang tertutup tersebut diikat, maka akan terjadi
penyusustan udara. Kecepatan penyusustan udara dalam ruang tertutup tersebut dapat
diukur dengan pipa kapiler berskala.
Reaksi kimia yang terjadi :
2 KOH + CO2
H2CO3 + H2O (Chang, 1996)
KOH berfungsi sebagai pengikat CO2 yang dikeluarkan oleh organisme.

BAB III
METODOLOGI
3.1. Alat dan Bahan
Tabel 1 Alat dan Bahan Pada Pengamatan Respirasi Mencit
Alat

Bahan

Timbangan Hewan
Stopwatch
Respirometer
Pipet Tetes
Syringe

Mencit
Kapas
Vaseline
Larutan Eosin
Larutan KOH 20 %

Tabel 2 Alat dan Bahan Pada Pengamatan Respirasi Ikan


Alat

Bahan

Timbangan hewan

Ikan

Stopwatch

Vaseline

Buret

Larutan thiosulfat (Na2S2O3)

Statif

Larutan H2SO4

Klemp

Larutan KOH KI

Penjepit

Larutan MnSO4

Pipet tetes

Larutan Amilum 1 %

Sumbat karet

Deterjen / sabun

Selang plastik
Gelas Ukur 100 ml
Labu Erlenmayer 2L
Labu Erlenmayer 250 ml
Botol Winkler 250 ml

3.2. Cara Kerja


3.2.1. Respirometer
Kapas dimasukkan ke dalam tabung respirometer, lalu diteteskan larutan
KOH 20 % hingga jenuh. Mencit yang telah ditimbang massanya dimasukkan
ke dalam tabung kawat. Pipa berskala dipasang dan celah pada penutup tabung
repirometer ditutup dengan menggunakan vaselin. Kemudian eosin
dimasukkan pada ujung pipa berskala dengan menggunakan syringe. Waktu
yang diperlukan eosin untuk berpindah sebesar 0,9 skala dihitung dan dihitung
pula laju konsumsi oksigennya. Pengamatan dilakukan duplo.
Perhitungan :
a
Laju konsumsi oksigen mencit = b t
Keterangan : a = volume O2 (ml)
b = massa mencit (gram)
t = waktu
3.2.2. Metode Winkler
Labu Erlenmeyer 2 L disusun dengan dua selang. Salah satu selang
dihubungkan dengan kran air untuk saluran masuk, sedangkan selang lainnya
digunakan sebagai saluran keluar.Labu Erlenmayer 2 L diisi dengan air
secukupnya, lalu ikan yang telah ditimbang dimasukkan kedalam Erlenmeyer

tersebut. Botol ditutup dan air dialirkan. Apabila terbentuk gelembung, air
terus dialirkan hingga gelembung tersebut hilang. Ikan didiamkan beberapa
saat untuk penyesuaian diri di dalam botol percobaan dan air dibiarkan tetap
mengalir.
Saat pengamatan, air yang keluar dari SK ditampung dalam botol
Winkler 250ml. Penampungan air dilakukan dengan cara air dimasukkan
perlahan melalui mulut botol agar percikan air dan gelembung udara dapat
dihindari. Botol Winkler ditutup, kemudian saluran masuk dan saluran keluar
di jepit dengan menggunakan klip penjepit.
Selanjutnya dilakukan proses titrasi. Untuk tahap titrasi, botol Winkler
dibuka lalu ditambahkan 1ml larutan MnSO4. Pipet tetes digunakan untuk
menambahkan larutan tersebut. Lakukan dengan hati-hati, yaitu ujung pipet
didekatkan ke permukaan air. Setelah itu, ditambahkan 1 mL larutan KOH-KI
dengan cara yang sama. Botol ditutup kembali dan hindari pembentukan
gelembung udara. Kemudian botol dibolak-balik perlahan selama kurang lebih
lima menit hingga O2 terikat dengan sempurna. Botol didiamkan selama 20
menit hingga terbentuk endapan di dasar botol.
Setelah 20 menit dan terbentuk endapan, botol di buka dan sebanyak 2
ml larutan dibuang dari permukaan botol dengan menggunakan pipet, hindari
masuknya endapan ke dalam pipet. Selanjutnya ditambahkan 1 ml H2SO4
pekat dengan pipet ukur. Botol ditutup, lalu di bolakbalik lagi hingga larutan
berwarna kuning kecoklatan dan seluruh endapan larut. Labu Erlenmeyer
250ml disiapkan. Sebanyak 100ml larutan dari botol Winkler dipindahkan ke
dalam Erlenmeyer dengan menggunakan gelas ukur. Larutan lalu dititrasi
dengan menggunakan larutan thiosulfat (Na2S2O3) hingga berwarna kuning
muda. Ditambahkan Amilum 1% sebanyak 4-5 tetes sehingga larutan
berwarna biru tua. Titrasi dilanjutkan dengan larutan thiosulfat hingga warna
biru pada larutan tepat menghilang. Pemakaian larutan thiosulfat dicatat.
Setelah ikan didiamkan selama satu jam dalam erlenmeyer, dilakukan
perhitungan ulang laju konsumsi oksigen. Pengamatan dilakukan duplo,
namun untuk pengamatan kedua, air kran diganti dengan menggunakan air
sabun.
Perhitungan :

Laju konsumsi oksigen

mL O 2
)
jam . gram =

1
4

volume t h iosulfat
waktu massa

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
4.1.1. Perhitungan Laju Respirasi Mencit Dengan Respirometer
Mencit Betina
Massa mencit = 15,1 gram
Waktu perpindahan zat
warna/ ml
t1 = 216 detik = 0,06 jam
t2 = 75 detik = 0,0208 jam
t rata rata = 145,5 detik =
0,0404 jam
Volume O2 = 0,9 mL
Laju rata-rata konsumsi

Mencit Jantan
Massa mencit = 23 gram
Waktu perpindahan zat
warna/ ml
t1= 252 detik = 0,07 jam
t2= 249 detik = 0,069jam
t rata rata = 250,5 detik =
0,0695 jam
Volume O2 = 0,9 mL
Laju rata-rata konsumsi

oksigen mencit

oksigen mencit

Vrata-rata =

Vrata-rata =

0,9
15,1 0,0404

= 1,475 ml/gram.jam

0,9
23 0,0695

0,563 ml/gram.jam

4.1.2. Perhitungan Laju Respirasi Ikan Dengan Metode Winkler

Air Kran
Massa ikan = 7,46 gram
Volume thiosulfat t0
V1 = 1,2 ml
V2 = 2,2 ml
Vrata-rata = 1,7 ml
Volume thiosulfat t30
V1 = 1,6 ml
V2 = 1,8 ml
Vrata-rata = 1,7 ml

Air Sabun
Massa ikan = 7,81 gram
Volume thiosulfat t0
Dengan penambahan H2SO4
V1 = 1,8 ml
V2 = 1,7 ml
Dengan penambahan Amilum
V1 = 0,3 ml
V2 = 0,2 ml
Vtotal = 4 ml
Vrata-rata = 2 ml

Laju konsumsi oksigen ikan =

Volume thiosulfat t12


Dengan penambahan H2SO4
V1 = 1,5 ml
V2 = 1,9 ml
Dengan penambahan Amilum
V1 = 0,1 ml
V2 = 0,2 ml
Vtotal = 3,7 ml
Vrata-rata = 1,85 ml
Laju konsumsi oksigen ikan =

(2,21,8)
1

4 7,46 gram 0,5 jam


= 0,0262 ml/gram.jam

(21,85)
1

4 7,81 gram 0,21 jam


= 0,02286 ml/gram.jam

Hasil Pengamatan Ikan Pada Air Kran di Beberapa Kelompok


Pemakaian Thiodulfat (ml)
Kelompok

Massa (gr)

Awal

Akhir

Laju
Respirasi

keterangan

(ml/gr.jam)
9

6,53

5,6

3,1

2,5

0,0964

11

7,4

0,0675

13

7,9

3,05

2,9

0,15

0,02475

14

5,9

2,885
Rata rata

2,775

0,11

0,0127
0,05034

T Akhir =
0,99 jam
T akhir =
0,767 jam

Hasil Pengamatan Ikan Pada Air Sabun di Beberapa Kelompok


Pemakaian Thiosulfat (ml)
Kelompok

Massa (gr)

Awal

Akhir

Laju
Respirasi

keterangan

(ml/gr.jam)
8

6,16

3,5

3,55

0,05

0,014

10

6,88

3,1

2,75

0,35

0,0301

12

6,53

2,95
Rata rata

3,8

0,85

0,06508
0,036393

T Akhir =
0,2 jam
T akhir =
0,42 jam

4.2. Pembahasan
Pada percobaan menghitung laju konsumsi oksigen dengan Respirometer,
digunakan hewan uji coba berupa mencit jantan dan mencit betina. Sedangkan reagen
yang dipakai adalah larutan KOH 20 % serta larutan eosin. Larutan KOH ini
berfungsi sebagai pengikat karbondioksida yang dikeluarkan oleh mencit di dalam
respirometer sehingga pergerakan dari larutan eosin pada pipa berskala benar benar
hanya disebabkan oleh adanya konsumsi oksigen. Larutan eosin sebagai zat pewarna
yang dimasukkan kedalam pipet respirometer berfungsi untuk memudahkan kita
dalam mengamati dan menghitung kecepatan laju konsumsi oksigen pada mencit.
Dari hasil pengamatan, diperoleh data laju rata rata konsumsi oksigen pada
mencit betina sebesar 1,475 ml/gram.jam dan laju rata rata konsumsi oksigen pada
mencit jantan sebesar 0,563 ml/gram.jam . Terdapat beberapa perbedaan antara literatur
dengan hasil pengamatan. Di dalam literatur telah dijelaskan bahwa jenis kelamin
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju respirasi. Jantan lebih banyak
memerlukan oksigen daripada betina karena memiliki laju metabolisme tubuh yang
tinggi, sedangkan pada hasil pengamatan mencit betina yang lebih banyak
mengkonsumsi oksigen. Selain itu fakor lainnya adalah ukuran tubuh. Ukuran tubuh
atau berat badan berbanding lurus dengan laju konsumsi oksigen yaitu semakin besar
berat tubuhnya maka oksigen yang dibutuhkan semakin besar pula. Dari hasil

pengamatan ditunjukkan bahwa berat badan mencit betina lebih kecil daripada berta
badan mencit jantan, namun konsumsi oksigen pada mencit betina lebih besar.
Berdasarkan literatur menurut Gordon (1977), dalam keadaan istirahat, seekor
mencit memiliki laju konsumsi oksigen sebanyak 2,5

ml

/gram.jam sedangkan pada saat

aktif sebesar 20 ml/gram.jam . Hal ini sangat berbeda dengan hasil pengamatan yang
menunjukan laju konsumsi oksigen pada mencit yang cenderung rendah. Pada saat
dilakukan pengamatan, pada beberapa menit pertama setelah kalibrasi alat, tidak ada
tanda tanda pergerakan dari larutan eosin yang ada didalam pipet sehingga
menimbulkan adanya spekulasi bahwa tidak ada oksigen yang dikonsumsi. Setelah
beberpa menit kemudian, barulah larutan eosin tersebut bergerak menuju tabung
respirometer.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya perbedaan antara hasil
pengamatan dengan literatur yaitu diantaranya : Pertama, adanya kemungkinan
terjadinya kebocoran pada celah tabung yang tidak tertutup dengan rapat sehingga
udara luar dapat masuk ke dalam tabung respirometer. Hal ini menyebabkan
kurangnya keakuratan pada penghitungan laju konsumsi oksigen pada mencit
tersebut. Kedua, mencit yang kami gunakan pada pengamatan ini, telah dijadikan
sebagai objek percobaan pada praktikum sebelumnya, sehingga mencit sudah
teradaptasi dengan kondisi pada ruang tertutup respirometer tersebut yang kemudian
akan berpengaruh pada cara mencit bernapas dan bertahan hidup dalam respirometer.
Ketiga, mencit merupakan hewan endoterm. Hewan endoterm lebih banyak laju
konsumsi oksigennya karena dalam menghangatkan tubuhnya membutuhkan energi
yang tinggi melalui proses metabolisme sehingga oksigen yang dibutuhkan lebih
tinggi. Dalam pengamatan ini, mencit betina lebih banyak mengkonsumsi oksigen
hal ini dikarenakan kemungkinan suhu tubuh mencit betina lebih rendah/dingin dari
pada mencit betina, sehingga mencit yang bersuhu dingin lebih banyak
membutuhkan oksigen dalam proses menghangatkan tubuhnya untuk proses
metabolisme.
Selain penghitungan laju konsumsi pada mencit, dalam praktikum ini
dilakukan penghitungan pula laju konsumsi oksigen pada ikan denganmenggunakan
metode Winkler. Reagen yang digunakan pada percobaan ini yaitu larutan tiosulfat
yang berfungsi sebagai indikator untuk mengetahui banyaknya iodin, MnSO4 yang
befungsi untuk mengikat oksigen terlarut, KOH yang berperan dalam mengubah
larutan menjadi basa, KI sebagai sumber iodium, H2SO4 untuk membebaskan
molekul iodium menjadi iodin, dan amilum sebagai indikator untuk mengetahui

adanya iodin serta bahan lain yaitu vaselin yang berfungsi untuk merekatkan tabung
dengan penutupnya agar tidak ada udara yang masuk.
Pada percobaan ini, ikan ditempatkan pada dua medium yang berbeda yaitu
pada air kran dan air sabun. Dari hasil pengamatan, laju konsumsi oksigen ikan pada
air kran selama 30 menit sebanyak 0,0262 ml/gram.jam sedangkan laju konsumsi oksigen
ikan pada air sabun sebanyak 0,02286 ml/gram.jam dengan waktu selama 12 menit. Ikan
pada air sabun tidak dapat hidup bertahan lama karena jumlah oksigen pada air sabun
sangat rendah. Sedangkan pada air kran jumlah oksigen sangat banyak. Kualitas air
dapat ditentukan oleh jumlah oksigen yang terlarut didalamnya, kualitas air yang
baik adalah yang mengandung banyak oksigen. Selain itu, ikan terkontaminasi oleh
zat zat kimia yang terkandung dalam air sabun sehingga ikan tidak bisa bertahan
hidup lama.

BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini yaitu :

a. Laju rata rata konsumsi oksigen pada ikan yang terdapat dalam air kran sebanyak
0,0262 ml/gram.jam dengan rentangwaktu selama 30 menit, sedangkan laju konsumsi
oksigen ikan pada air sabun sebanyak 0,02286 ml/gram.jam selama 12 menit. Hal ini
dipengaruhi oleh jumlah ketersediaannya oksigen yang terlarut di dalam air.
b. Laju rata rata konsumsi oksigen mencit betina yaitu 1,475 ml/gram.jam sedangkan pada
mencit jantan 0,563 ml/gram.jam .

DAFTAR PUSTAKA
Martini, F.H. 2012. Fundamental of Anatomy & Phisiology 9th Edition.San
Francisco:Pearson

Raven, P.H., Johnson, G.B. 2002. Biology 6 th edition. New York : McGraw-Hill
Companies Inc.
Syaifuddin, 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan.Jakarta :
EGC.
Lestari, Endang Sri dan Idun Kistinnah.2006.BIOLOGI Makhluk Hidup dan
Lingungannya.Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional
Winatasasmita, D.2001. Buku Materi Pokok I Fisiologi Hewan dan Tumbuhan.

Jakarta: Universitas Terbuka.


Murray C.N., P. Riley dan T.R.S. Wilson.1968. The solubility of oxygen in
WINKLER reagents used for the determination of dissolved oxygen. Deep sea research. 15 :
237 -238.
Hutagalung, Horas P.,Abdul Rozak dan Irman Lutan.1985.Beberapa Catatan Tentang
Penentuan Kadar Oksigen Dalam Air Laut Berdasarkan Metode Winkler. Oseana (4) 138149,.
Isnaeni, W. 2003. Fisiologi Hewan. Yogyakarta : Kanisius
Chang, Raymond.2005. Kimia Dasar Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.
Gordon, M. 1977.Buku Ajar Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi UNSOED,
Purwokerto.