Anda di halaman 1dari 19

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap biologi dasar dengan judul Pengaruh pH Terhadap Aktivitas


Enzim yang disusun oleh :
nama

: Sarda

NIM

: 1414040006

kelas

: Pendidikan Biologi

kelompok

: IV (empat)

telah diperiksa dan dikonsultasikan oleh Asisten dan Koordinator asisten, maka
dinyatakan diterima.
Makassar,
Asisten

Koordinator Asisten

Djumarirmanto, S.Pd.

Januari 2015

Sutriadi
NIM :1214140002

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Drs. H. Hamka L.,M.S


NIP : 1921231 198702 1005

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan, kita tidak pernah luput dari masalah-masalah umum
yang telah kita tahu permasalahnnya maupun yang tidak kita ketahui selukbeluknya, sebagaia manusia, kita di tunut untuk menyelesaikan masalah tersebut
yang belum pernah terungkap. Seperti yang telah dilakukan oleh para ilmuan dan
para orang terdahulu. Penemuan-penemuan yang mereka dapatkan tersebut
merupakan hasil dari ketekunan mereka untuk selalu berfikir dalam memecahkan
masalah tersebut menjadi suatu yang sangat berharga dalam kehidupan kita.
Banyak hal yang bisa kita pelajari dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti
dalam tubuh makhluk hidup yang terjadi reaksi-reaksi kimia. Reaksi tersebut
terjadi pada suhu 27oC, misalnya pada tubuh tumbuhan. Atau suhu 39 0C misalnya
pada tubuh hewan berdarah panas. Agar reaksi berjakan lebih cepat diperlukan
katalisator . Katalisator adalah zar yang dapat mempercepat reaksi tetapi zat itu
sendiri tidak ikur bereaksi. Katalisator di dalam sel makhluk hidup disebut
biokatalisator atau enzim.
Peran enzim disini pun sangat penting karena tanpa adanya enzim
kehidupan yang kita kenal tidak mungkin ada. Sebagai katalisator tersebut enzim
memegang peranan utama dalam kesehatan dan penyakit. Meskipun dalam
keadaan sehat, semua proses fisiologis akan berlangsung dengan cara yang
tersusun secara teratur sementara hemoestatis akan dipertahankan, namun
keadaan homeostatis dapat mengalami gangguan yang berat dalam keadaan
patologis.
Oleh karena enzim adalah biokatalisator atau zat yang mempercepat reaksi
sedangkan enzim sendiri tidak ikut bereaksi, maka jumlahnya tidak perlu banyak.
Satu molekul enzim dapat bekerja berkali-kali, selama enzim tersebut tidak rusak
Akitivitas atau nmekanisme kerja enzim sangat dipengaruhi oleh suhu dan pH.
Enzim dapat bergerak secara efektif pada pH dan suhu tertentu. Enzim ini tidak

dapat bekerja pada secara efektif jika pada jika berada pada suhu di bawah
optimum dan akan rusak apabila bekerja pada suhu tinggi. Untuk mengetahui
seberapa besar pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kerja enzim, dimana
dalam percobaan ini diambil pH sebagai faktor yang diamati. Maka kami
melakukan percobaan dengan judul pengaruh pH terhadap aktivitas enzim
B. Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah membuktikan pengaruh pH
terhadap aktivitas enzim amilase.
C. Manfaat
Adapun manfaat dari percobaan ini adalah kita dapat mengetahui mekanisme
kerja suatu enzim dan juga mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kerja
enzim.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Setiap sel hidup yang selalu terlibat dalam metabolisme yang merupakan
semua reaksi kimiawi terarah yang berlangsung di dalam sel. Proses metabolisme
terdiri atas : perombakan senyawa-senyawa kimia di dalam sel atau katabolisme yang
disertai pembebasan energi dan proses pembentukan komponen sel atau anabolisme

atau biosintesis yang memerlukan energi. Dalam kedua proses tersebut berlangsung
reaksi-reaksi biokimia yang kompleks dengan bantuan enzim. Dengan demikian
enzim merupakan unit fungsi dalam metabolism sel (Ristiati, 2000).
Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme sel. Bekerja dengan
urutan-urutan yang terataur, enzim mengkatalis ratusan reaksi bertahap yang
menguaraikan molekul nutrien, reaksi yang menyimpan dan mengubah energi
kimiawi,dan yang membuat makromolekul sel dari precursor sederhana. Di antara
sejumlah enzim yang berpartisipasi di dalam metabolism, terdapat sekelompok
khusus yang dikenal sebagai enzim pengatur , yang dapat mengenali berbagai isyarat
metabolik dan mengubahb kecepatan kataliknya sesuai dengan isyarat yang diterima.
Melalui aktivitasnya, sistem enzim terkoordinasi dengan baik, menghasilkan suatu
hubungan yang harmonis di antara sejumlah aktivitas metabolik yang berbeda, yang
diperlukan untuk menunjang kehidupan (Lehninger, 1982).
Enzim amilase merupakan salah satu jenis enzim yang mampu memustuskan
ikatan glikosida. Enzim adalah katabilisatir sejati. Molekul ini meningkatkan
kecepatan reaksi kimia spesifik, yang tanpa enzim akan berlangsung amat lambat.
Enzim tidak dapat mengubah titik keseimbangan reaksi yang dikatalisisnya dan
enzim juga tidak akan habis dipakai atau di ubah secara permanen. Enzim amilase
juga merupakan kelompok enzim yang memiliki kemampuan memutuskan ikatan
glikosida yang terdapat pada senyawa polimer karbohidrat. Hasil molekul amilum ini
akan menjadi monomer-monomer yang lebih sederhana, seperti maltosa, dekstrin dan
terutama molekul glukpsa sebagai unit terkecil. Amilase dihasilkan oleh berbagai
jenis organisme hidup, mulai dari tumbuhan, hewan, manusi bahkan mikroorganisme
seperti bakteri dan fungi. Kelompok enzim ini memiliki banyak variasi dalam
aktivitasnya, sangat spesifik tergantung pada sumber organismenya dan tempatnya
bekerja. Pemanfaatn enzim dalam bidang industri harus memperhatikan faktor
penting yang sangat mempengaruhi efisiensi dan evektivitas kerja enzim yang
digunakan (Hartati, 2008).

Mikroorganisme yang paling banyak menghasilkan enzim amilase dan paling


banyak digunakan adalah jamur dan bakteri seperti Aspergillus Orizae, Bacillus
Omyloliquefaciens, dan bacillus licheniformis. Cara kerj aenzim amilase melaui dua
tahap yaitu pertama degrasi amilosa menjadi maltosa dan maltotriosa yang terjadi
secara acak. Degrasi ini terjadi dengan cepat dan diikuti menurunnya viskositas
dengan cepat. Tahap kedua relatif lambat yaitu pembentukan glukosa dan maltosa
sebagai hasil akhir secara tidak acak. Keduanya merupakan kerja enzim amilase pada
molekul amilosa saja, kerja enzim amilase pada molekul amilopektin akan
menghasilkan glukosa, glukosa maltosa dan berbagai jenis limit dekstrin yaitu
oligosakarida yang terdiri dari 4 atau lebih residu gula yang semuanya mengandung
1,6 glikosidik (Jayanti, 2012).
Setiap enzim dapat membedakan substratnya dari senyawa yang sangat dekat
sekalipun hubungannya, seperti isomer, sedemikian rupa sehingga setiap jenis enzim
mengkatalisis suatu reaksi tertentu, misalnya sukrase hanya akan bekerja pada
sukrosa dan akan menolak disakarida lainnya.Hanya daerah tertentu dari molekul
enzim itu yang sesungguhnya berikatan dengan substrat. Daerah ini disebut tempat
aktif, yang merupakan kantong atau lekukan yang khas pada permukaan protein.
Umumnya, tempat aktif dibentuk oleh beberapa asam amino pada molekul enzim itu,
dan sisanya adalah molekul protein yang memberikan suatu kerangka kerja yang
menggunakan konfigurasi tempat aktif itu. Enzim menggunakan berbagai mekanisme
untuk menurunkan energi aktivasi dan mempunyai reaksi. Pada reaksi yang
melibatkan dua atau lebih reaktan, tempat aktif memberikan suatu cetakan bagi
substrat agar bisa ikut bersama dalam suatu orientasi yang tepat dalam reaksi yang
terjadi diantara substrat-substrat tersebut (Campbell, 2002).
Aktivtas enzim sangat terpengaruh oleh keadaan suhu dan pH. Masing-masing
enzim dapat bekerja dengan efektif pada suhu dan pH tertentu pada aktvitasnya
berkurang dalam keadaan di bawah dan di atas titik tersebut. Enzim pepsin bekerja
paling efektif pada pH 1-2, sedangkan enzim proteolik lainnya, tripsin pada pH
tersebut menjadi tidak aktif, tetapi sangat efektif pada pH 8. Peranan penting dari

struktur tersier yaitu bentuk di dalam fungsi enzim dan peranan dari daya yang lemah
seperti ikatan hidrogen dan ikatan ion dalam pembentukan struktur tersier, dapat
diketahui bahwa mengapa enzim itu begitu peka terhadap suhu dan pH. Ikatan
hidrogen mdah rusak dengan kanaikan suhu. Hal ini selanjutnya akan merusak
bagian-bagian dari struktur tersier enzim yang esensial untuk mengikat substrat.
Perubahan pH, mengubah keadaan ionisasi dari asam amino yang bermuatan yaitu
asam aspartiat Lisiana yang dapat mempunyai peranan penting dalam pengikatan
substrat dan proses katalitik. Tanpa gugus -COOH dari Glu- 35 yang tidak terion dan
gugus COO- dari ASP- 52 yang terion, proses katalik dari lisozim tersebut akan
terhenti (Kimball, 1991).
Salah satu contoh aktivitas enzim yakni dalam suatu penelitian mengatakan
bahwa aktivitas enzim dari kecambah tertinggi diperoleh pada pH 9 dengan aktivitas
0,0207 detik-1. Aktivitas enzim berkaitan erat dengan strukturnya, perubahan struktur
akan menyebabkan perubahan aktivitas enzim. Pada pH optimum konformasi enzim
berada pada kondisi yang ideal. Hal ini menyebabkan interaksi antara enzim dan
substrat menjadi maksimal. Pada suasana yang terlalu asam atau basa, kanformasinya
berubah sehingga aktivitas enzim akan terganggu. Perubahan tingkat keasaman akan
meyebabkan terjadinya penurunan aktivitas. Hasil analisis sidik ragam menunjukan
bahwa pH mempunyai pengaruh sangat nyata terhadap aktivitas enzim amilase. Hasil
uji BNJ taraf kritis 5% (tabel 3) menunjukkan bahwa pH 9 berbeda nyata dari pH
lainnya. Dari hasil penelitiannya tersebut dapat dia simpulkan bahwa isolasi enzim
amilase dari kecambah biji jagung ketan (Zea mays ceratina L.) dapat dilakukan
dengan metode salting out menggunakan amonium sulfat teknis pada kejenuhan 55%
dan enzim amilase dari kecambah biji jagung ketan (Zea mays ceratina L.)
dipengaruhi oleh waktu perkecambahan, dan waktu perkecambahan 36 jam adalah
waktu yang terbaik dengan aktivitas 0,0557 detik-1, serta Karakteristik enzim amilase
dari kecambah biji jagung ketan (Zea mays ceratina L.) adalah optimum pada pH 9,
konsentrasi substrat maksimum 12,5% dan temperatur optimum 70 oC (Bahri, 2012).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari / tanggal
: Rabu, 07 Januari 2015
Waktu
: Pukul 7.30 s/d 9.30 WITA
Tempat
: Green House FMIPA UNM
B. Alat Dan Bahan
1. Alat
a. Centrifuge dan tabung centrifuge
b. Mortar dan pistilium
c. Tabung reaksi 10 buah
d. Pipet tetes
e. Corong kecil
f. Rak tabung reaksi
g. Lampu spiritus
h. Penjepit tabung
2. Bahan
a. Kecambah kacang hijau
b. Larutan amilum
c. Larutan fehling A dan B
d. Larutan HCl (10%)
e. Larutan NaOH (1%)

f. Kertas lakmus / pH ukur


g. Kertas saring
h. Aquades
i. Label
j. Korek api
C. Prosedur Kerja
1. Mengambil segenggam kecambah kacang hijau. Kemudian memasukkan ke
dalam mortar kemudian di gerus. Terus menambahkan 30 ml sambil digerus.
2. Menyaring cairan yang di dapat dari kacang hijau tersebut, kemudian
memasukkan ke dalam tabung cebtrifuge. Memutar pada centrifuge selama
15 menit dengan kecepatan sedang.
3. Menuangkan cairan bening yang di peroleh pada tabung rekasi.
4. Mengisi tabung reaksi dengan larutan amilum 1 mL kemudian memberikan
label pada tabung rekasi tersebut yaitu A,B,C,D dimana pada tabung A,B,C
terdiri atas 3 tabung. Ukur pH sebagai pH awal.
5. Memasukkan ekstrak kecambah pada setiap tabung kecuali pada tabung D.
6. Pada tabung B tambahkan masing-masing 3 tetes HCL encer dan 3 tetes
larutan NaOH pada masing-masing tabung C.
7. Cek pH pada tabung B dan C sebagai pH akhir, kemudian tambahkan fehling
A dan B
8. Catat warna awal yang terjadi pada setiap tabung.
9. Setelah 5 menit didihkan tabung A1, B1, dan C1, 10 menit kemudian didihkan
tabung A2, B2 dan C2. Dan setelah 15 menit didihkan tabung A3, B3, C3 dan D
10. Membandingkan warna yang terjadi pada setiap tabung dan mencatat
hasilnya pada tabel pengamatan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Table hasil pengamatan pengaruh pH terhadap aktivitas enzim amilase
Tabung

Seri
A1
A2
A3
B1
B2
B3
C1
C2
C3
D1
D2

A
B
C
D

pH Awal

pH Akhir

13

PerubahanWarna
Sebelum
Setelah
dipanaskan dipanaskan
Ungu muda
Orange
Ungu muda
Orange +
Ungu +
Orange +
Hijau +
Hijau toska
Hijau muda Hijau susu
Hijau toska Hijau susu
Ungu +
Orange +
Ungu +
Orange +
Ungu
Orange
Biru
Merah bata
Putih susu
Putih susu

Keterangan :
Tabung A : Amilum 1mL + Ekstrak Kecambah + Fehling A&B
Tabung B : Amilum 1mL + HCl 3 tetes + Ekstrak Kecambah + Fehling A&B
Tabung C : Amilum 1mL + NaOH 3 tetes + Ekstrak Kecambah + Fehling A&B
Tabung D : - D1 : Amilum + Fehling A&B
+

D2 : Amilum + Ekstrak Kecambah


: Lebih tua

B. Foto Hasil Pengamatan


1. Penambahan amilum 1 ml pada setiap tabung

2. Tabung A, B, dan C sebelum penambahan ekstrak kecambah


Keterangan :
Tabung A : Amilum
Tabung B : Amilum + HCl 3 tetes
Tabung C : Amilum + NaOH 3 tetes

3.

pH akhir pada tabung B dan tabung C

4. Keadaan tabung setelah penambahan ekstrak kecambah.

Keterangan :
Tabung A1, B1, C1 : diamkan selama 5 menit
Tabung A2, B2, C2: diamkan selama 10 menit
Tabung A3, B3, C3: diamkan selama 15 menit
5. Keadaan tabung setelah penambahan fehling A & B, dan setelah dipanaskan

6. Keadaan tabung D setelah penambahan fehling A & B sebelum dipanaskan dan


setelah dipanaskan.

C. Pembahasan
Berdasarkan percobaan, tabung A, B, dan C terdiri dari 3 tabung reaksi, yaitu
tabung A1, A2, A3, B1, B2, B3, C1, C2, dan C3. Masing-masing tabung mendapat
perlakuan yang berbeda, sehingga data yang dihasilkan juga bisa berbeda. Adapun
hasil percobaan yang kami lakukan dapat dilakukan perbandingan dari masingmasing tabung, yaitu :
1. Perbandingan berdasrakan waktu saat didiamkan.
a) Tabung A1, B1, C1.
Masing-masing tabung diberikan larutan amilum sebanyak 1 mL,
kemudian untuk tabung A, langsung dilakukan pengukuran pH larutan
sebagai pH awal dan pH akhir, yakni diperoleh pH 6. Hasil pengukuran pH
pada tabung A merupakan pH awal pada semua tabung reaksi. Berbeda
dengan tabung B, setelah dimasukkan amilum dilakukan penambahan HCl
sebanyak 3 tetes, kemudian mengukur pH-nya sebagai pH akhir yaitu 2.

Hal ini menunjukkan bahwa larutan tersebut bersifat asam. Dan tabung C
ditambahkan NaOH sebanyak 3 tetes, dengan pH akhir sebesar 13 (bersifat
basa). Setelah itu, setiap tabung diberikan ektrak kecambah lalu didiamkan
selama 5 menit disetiap tabung, hasilnya warna larutan terbentuk. Tabung A
berwarna ungu muda, tabung B brewarna hijau tua, dan tabung C berwarna
ungu tua. Setelah ditambahkan fehling lalu dipanaskan, warnanya berubah.
Tabung A berwarna orange, tabung B berwarna hijau toska, dan tabung C
berwarna orange tua.
b) Tabung A2, B2, C2
Perlakuan yang sama dilakukan pada tabung A2, B2, C2, hanya saja
ketiga tabung ini didiamkan selama 10 menit. seperti yang terlihat pada
tabel pengamatan, warna awal larutan ketiga tabung ini berbeda walaupun
ketiganya sama-sama didiamkan selama 10 menit. Tabung A2 berwarna
ungu muda, tabung B2 berwarna hijau muda, tabung C2 berwarna ungu tua.
Setelah ditambahkan fehling dan dipanaskan, tabung A2 berubah warna
menjadi orange tua, tabung B2 menjadi hijau susu, dan tabung C2 berwarna
orange.
c) Tabung A3, B3, C3
Ketiga tabung ini juga mendapat perlakuan yang sama, namun waktu
yang digunakan saat didiamkan lebih lama dari tabung-tabung sebelumnya,
yaitu selama 15 menit. Hasil yang diperoleh setelah didiamkan yaitu,
tabung A3 berwarna ungu tua, tabung B3 berwarna hijau tosca, dan pada
tabung C3 warnanya menjadi ungu. Berdasarkan tabel, setelah dilakukan
pengamatan warna pada masing-masing tabung juga berubah ketika
ditambahkan fehling A & B yang kemudian dipanaskan. Adapun hasilnya,
pada tabung A3 yang warna awalnya ungu tua berubah menjadi orange tua,
sementara tabung B3 yang sebelumnya berwarna hijau tosca menjadi hijau
susu, dan pada tabung C3 berubah warna menjadi orange, yang sebelumnya
berwarna ungu.
2. Perbandingan berdasarkan jenis tabung.

a) Tabung A1, A2, A3


Tabung A1, A2, dan A3 yang masing-masing berbeda waktunya,
mengahsilkan warna yang tidak jauh beda dari ketiganya. Sebelum
dipanaskan, tabung A1 dan A2 menunjukkan warna ungu muda, sementara
tabung A3 berwarna ungu tua. Setelah dipanaskan, tabung A1 berubah warna
menjadi orange, dan pada tabung A2 dan A3 menunjukkan perubahan warna
menjadi orange tua. Perbedaan warna awal dan akhir larutan yang awalnya
berwarna ungu berubah menjadi orange, menandakan bahwa enzim belum
dapat bekerja secara maksimal. Hal tersebut dikarenakan pH tidak berada
dalam keadaan stabil sehingga glukosa yang dihasilkan sedikit. Dalam hal
ini, glukosa diperoleh dari ektrak kecambah.
b) Tabung B1, B2, B3
Berdasarkan data yang diperoleh, warna larutan pada tabung B1, B2, B3
menghasilkan warna yang berbeda, hal ini dikarenakan waktu dari masingmasing tabung juga berbeda. Sebelum dipanaskan, tabung B1 berwarna
hijau tua, tabung B2 berwarna hijau muda, dan tabung B3 berwarna hijau
tosca. Setelah dipanaskan, tabung B1 berubah warna menjadi hijau tosca.
Sementara tabung B2 dan B3 menghasilkan warna yang sama yaitu hijau
susu. Terlihat bahwa perubahan warna akhir tidak jauh beda dengan warna
awal larutan, kemungkinan itu disebabkan karena enzimnya tidak dapat
bekerja karena berada dalam keadaan asam yang ditandai dengan pH akhir
di bawah 7, dan juga karena HCl yang memang bersifat asam.
c) Tabung C1, C2, C3
Berdasarkan hasil pengamatan, Tabung C1, C2, dan C3 juga
memperlihatkan hasil yang berbeda dari rentang waktu yang berbeda pula.
Warna larutan pada tabung C1 dan C2 sebelum dipanaskan menghasilkan
warna yang sama yaitu ungu tua, tetapi tabung C3 berwarna ungu. Setelah
ketiga tabung ini dipanaskan, warna yang dihasilkan yakni tabung C1
berwarna orange tua, sementara tabung C2 dan C3 menghasilkan perubahan
warna yang sama yaitu orange. Hal ini menandakan bahwa larutan tersebut

bersifat basa yang ditandai dengan pH yang dipeoleh diatas pH netral yakni
13. Sehingga enzim amilase tidak bekerja secara maksimal karena pHnya
yang tidak stabil.
d) Tabung D1 dan D2
Tabung D ini digunakan sebagai tabung kontrol yang hanya terdiri dari
dua tabung. Tabung D1 diisi dengan amilum 1 mL dan fehling A & B, dan
tabung D2 hanya diisi dengan amilum 1 mL dan ekstrak kecambah.
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh data bahwa tabung D1 yang
sebelumnya didiamkan selama 15 menit dan ditambahkan fehling,
menghasilkan warna awal sebelum pemanasan adalah biru, dan setelah
dipanaskan warna larutan berubah menjadi merah bata. Hal ini
menandakan bahwa enzim pada larutan ini bereaksi yang ditandai dengan
perubahan warna akhir yaitu merah bata. Selain enzim, larutan ini juga
mengandung glukosa. Hal ini, terjadi karena pada tabung D1 ini hanya
diberikan tambahan larutan fehling A dan B, dimana fehling ini berfungsi
untuk menguji larutan yakni mengandung enzim dan glukosa. Sementara
pada tabung D2, warna awal dan warna akhir setelah pemanasan
mengahilkan warna yang sama atau tetap yaitu putih susu. Hal tersebut
membuktikan bahwa enzim amilase tidak bekerja. Hal ini terjadi karena
pengaruh dari penambahan ektrak kecambah.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukakan dapat disimpulkan
bahwa Enzim adalah suatu kelompok protein yang menjalankan dan mengatur
perubahan-perubahan kimia dalam sistem biologi. Zat ini dihasilkan oleh organorgan seperti tanaman, yang secara katalistik menjalankan berbagai reaksi.
Berdasarkan data yang diperoleh, suhu dan pH sangat berpengaruh terhadap
aktivitas enzim. Beberapa Hal itu juga menandakan bahwa enzim tersebut tidak
dapat bekerja dengan maksimal pada keadaan asam dan basa. Hal ini terbukti
ketika percobaan pada larutan yang ditambahkan dengan HCl dan NaOH,
memperlihatkan bahwa enzim tidak bekerja secara maksimal.
B. Saran
Adapun saran untuk praktikum selanjutnya adalah sebagai berikut :
1. Untuk praktikan, agar lebih teliti dalam melakukan pengamatan sehingga data
yang diperoleh lebih akurat.

2. Untuk asisten, pada praktikum kali ini asisten sangat baik dan aktif dalam
membantu dan mengontrol praktikan sehingga praktikan tidak kewelahan
dalam melakukan pengamatan.
3. Kepada laboran, seabiknya menyiapkan terlebih dahulu bahan yang
seharusnya disiapkan agar praktikum bisa berjalan tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA
Bahri, Syaiful, Moh. Mirzan, dan Moh. Hasan. 2012. Karakterisasi Enzim Amilase
Dari Kecambah Biji Jagung Ketan. Jurnal. Tadulako.
Campbell, Neil A., Reece, Jane B., Mitchell, Lawrence G.. 2002. Biologi jilid 1.
Erlangga. Jakarta.
Hartati, Dessy. 2008. Enzim Amilase. http://www.e-jurnal.com/2013/09/enzimamilase.html. Makassar.
Jayanti, Risha Tiara. 2012. Pengaruh pH Suhu Terhadap Hidrolisis Enzim Amilase.
Jurnal. Surakarta.
Kimball, John W. 1991. Biologi Jilid 1 Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Ristiati, Ni Putu. 2000. Pengantar Biologi Umum. Jakarta: Proyek Pengembangan
Guru Sekolah Menengah.

LAMPIRAN
A. Pertanyaan
1. Apa guna larutan fehling A dan B dan JKJ ?
2. Mengapa kecambah perlu dicentifuge terlebih dahulu ?
3. Apa fungsi HCl dan NaOH pada percobaan di atas ?
B. Jawaban
1. Pada percobaan tersebut, fehling A dan B berguna sebagai indikator bahwa
ada tidaknya glukosa yang terkandung pada ekstrak kecambah yang ditandai
dengan perubahan warna. Guna JKJ yaitu juga sebagai indikator yang
memperlihatkan ada tidaknya glukosa dan karbohidrat pada ekstrak
kecambah.
2. Ekstrak enzim dari biji kecambah dicentrifuge agar dapat memisahkan antara
ektrak kecambah dengan endapan kecambah.
3. Fungsi HCl dan NaOH pada percobaan ini adalah sebagai larutan yang
menjadikan larutan pada tabung reaksi menjadi asam dan basa. HCl
menandakan larutan asam, dan NaOH menandakan larutan bersifat basa.