Anda di halaman 1dari 20

I. II. III.

Nomor Percobaan Nama Percobaan Tujuan Percobaan protein.

:3 : Reaksi Uji Protein : Untuk menguji kandungan yang terdapat di dalam

IV.

Landasan Teori Protein adalah salah satu biomolekul raksasa yang berperan sebagai

komponen utama penyusun makhluk hidup. Protein membawa kode-kode genetik berupa DNA dan RNA. Beberapa makanan yang dapat menjadi sumber protein adalah: daging, telur, ikan, susu, biji-bijian, kentang, kacang, dan polongpolongan. Protein merupakan polimer alam yang tersusun dari asam-asam aminomelaluiikatan peptida, sehingga protein juga disebut sebagai polipeptida.Di dalam tubuh kitaprotein berfungsi sebagai zat pembangun, pengatur pertahanan, dan sebagai sumber energi setelah karbohidrat dan lemak.Protein dapat digolongkan berdasarkanstrukturnya, bentuknya, dan fungsinya. Protein Menunjukkan Berbagai Fungsi Biologi Deret asam amino dari berjenis-jenis protein memungkinkan molekul ini menjalankan berbagai fungsi, antara lain : 1. Enzim Protein yang paling bervariasi dan mempunyai kekhususan tinggi adalah protein yang mempunyai aktivitas katalisa, yakni enzim. Hampir semua reaksi kimia biomolekul organic didalam sel dikatalisa oleh enzim. Lebih dari 2000 jenis enzim, masing-masing dapat mengkatalisa reaksi kimia yang berbeda, telah ditemukan didalam berbagai bentuk kehidupan. 2. Protein Transport Protein transport didalam plasma darah mengikat dan membawa molekul atau ion spesifik dari satu organ ke organ lain. Hemoglobin pada sel darah merah mengikat oksigen ketika darah melalui paru-paru, dan membawa oksigen ini ke jaringan periferi. Disini oksigen dilepaskan untuk melangsungkan oksidas nutrien yang menghasilkan energi. Plasma darah mengandung lipoprotein, yang membawa lipid dari hati ke ogan lain. Protein tranport lain terdapat didalam

membran sel dan menyesuaikan

strukturnya untuk mengikat dan membawa

glukosa, asam amino, dan nutrien lain melalui membran menuju kedalam sel. 3. Protein Nutrien dan Penyimpan Biji berbagai tumbuhan menyimpan protein nutrien yang dibutuhkan untuk perumbuhan embrio tanaman. Terutama, contoh yang telah dikenal adalah protein biji dari gandum, jagung, dan beras. Ovalbumin protein utama putih telur, dan kasein, protein utama susu merupakan contoh lain dari protein nutrien. Ferritin jaringan hewan merupakan protein penyimpan besi. 4. Protein Kontraktil atau Motil Beberapa protein memberikan kemampuan kepada sel dan organisme untuk berkontraksi, mengubah bentuk atau bergerak. Aktin dan miosin adalah protein filamen yang berfungsi didalam sistem kontraktil otot kerangka dan juga didalam banyak sel bukan otot. Contoh lain adalah tubulin, protein pembentuk mikrotubul. Mikrotubul merupakan komponen penting dari fagela dan silia, yang dapat menggerakkan sel. 5. Protein Struktural Banyak protein sebagai filamen, kabel, atau lembaran penyanggah untuk memberikan struktur biologi kekuatan atau proteksi. Komponen utama dari urat dan tulang rawan adalah protein serabut kolagen, yang mempunyai daya tenggang yang amat tinggi. Hampir semua komponen kulit adalah kolagen murni. Persendian menganmdung elastin, suatu protein struktural yang mampu meregang ke dua dimensi. Rambut, kuku, dan bulu burung/ayam terdiri terutama dari protein tidak larut, yang liat, keratin. Komponen utama dari serat sutra dan jaring labahlabah adalah protein fibroin. 6. Protein Pertahanan Banyak protein mempertahankan organism dalam melawan serangan oleh spesies lain atau melindungi organisme tersebut dari luka. Imunoglobulin atau antibody pada vertebrata adalah protein khusus yang dibuat oleh limposit yang dapat mengenali dan mengendapkan atau menetralkan serangan bakteri, virus, atau protein asing dari spesies lain. Fibrinogen dan trombin merupakan protein penggumpal darah yang menjaga kehilangan darah jika system pembuluh terluka.

Bisa ular, toksin bakteri, dan protein tumbuhan beracun, seperti risin, juga tampaknya berfungsi didalam pertahanan tubuh. 7. Protein Pengatur Beberapa protein membantu mengatur aktivitas seluler atu fisiologi. Diantara jenis ini terdapat sejumlah hormon, seperti insulin, yang mengatur metabolisme gula, dan kekurangannya, menyebabkan penyakit diabetes, hormon pertumbuhan dari pituitary dan hormon paratiroid, yang mengatur transport Ca2+ dan fosfat. Protein pengatur lain, yang disebut repressor mengatur biosintesa enzim oleh sel bakteri. 8. Protein Lain Terdapat banyak protein lain yang fungsinya agak eksotik dan tidak mudah diklasifikasikan. Monelin, suatu protein tanaman dari afrka mempunyai rasa yang amat manis. Protein ini sedang dipelajari sebagai pemanis makanan yang tidak menggemukkan dan tidak beracun, untuk manusia. Plasma darah beberapa kan Antartika mengandung protein antibeku yang melindungi darah ikan dari pembekuan. Persendian sayap beberapa insekta dibuat dari protein resilin, yang bersifat sempurna elastis.

Struktur Protein Protein merupakan polipeptida yaitu hasil dari kondensasi dua molekul asam amino. Asam amino mengandung gugus amino (-NH2) dan karboksil (COOH). Gugus karboksil bersifat asam karena dapat melepas proton (H+), sedangkan gugus amino bersifat basa karena dapat mengikat proton (H+) membentuk NH3+. Oleh karena itu, asam amino bersifat amfoter. Dalam larutan asam amino membentuk ion zwitter (bermuatan ganda). Denaturasi Protein Denaturasi protein merupakan perubahan struktur protein akibat pengaruh dari perubahan suhu, perubahan pH, radiasi, deterjen, dan perubahan jenis pelarut. Protein yang terdenaturasi hamper selalu mengalami kehilangan fungsi biologis. Hal ini paling mudah diperlihatkan oleh sifat protein. Jika larutan protein secara

perlahan-lahan dipanaskan sampai kira-kira 60 atau 70oC, larutan tersebut lambat laun akan menjadi keruh dan membentuk koagulasi berbentuk seperti tali. Produk yang terjadi tidak akan melarut lagi dengan pendinginan dan tidak membentuk larutan jernih seperti semula sebelum dipanaskan. Pengaruh panas terjadi pada semua protein globular, tanpa memandang ukuran atau fungsi biologinya, walaupun suhu yang tepat bagi fenomena ini mungkin bervariasi . Protein dalam keadaan alamiahnya disebut protein asli (natif); setelah perubahan menjadi protein terdenaturasi. Denaturasi protein dapat diakibatkan bukan hanya oleh panas, tetapi juga pH ekstrim; oleh beberapa pelarut organic seperti alcohol atau aseton; oleh zat terlarut tertentu seperti urea; oleh detergen; atau hanya dengan pengguncangan intensif larutan protein dan bersingungan dengan udara sehingga berbentuk busa.

Protein Homolog dari Berbagai Spesies Mengandung Deret Homolog Protein homolog adalah protein yang menjalankan fungsi yang sama pada berbagai spesies; contohnya hemoglobin yang berfungsi melangsungkan transport oksigen pada berbagai jenis vertebrat. Protein homolog dari berbagai spesies biasanya mempunyai rantai polipeptida yang identik atau hamper identik panjangnya. Banyak posisi di dalam deret asam amino dari protein homolog yang ditempati oleh asam amino yang sama pada semua spesies, dan karenanya di sebut residu tetap. Pada posisi lain, terdapat variasi asam amino yang cukup besar dari spesies satu ke yang lain; asam amino ini disebut residu tak tetap. Serangkaian persamaan di dalam deret asam amino pada protein homolog seperti itu disebut homologi deret; hal ini menunjukkan bahwa hewan yang mengandung protein homolog tersebut mungkin mempunyai asal usul yang sama, tetapi mengalami perubahan pada saat spesies berkembang selama evolusi. Kesimpulan yang serupa diperoleh dari hasil penelitian spesifisitas antibody terhadap antigen dari spesies homolog.

Protein Globular Dalam protein globular, rantai polipeptida berlipat menjadi suatu bentuk globular yang kompak. Konformasi globular lebih kompleks dibandingkan dengan golongan protein serat, fungsi biologinya lebih beragam, dan aktivitasnya pun tidak statis, tetapi bersifat dinamis. Hampir semua dari 2000 atau lebih enzim merupakan protein globular. Protein globular yang lain berfungsi di dalam transport oksigen, sari makanan dan ion inorganic di dalam darah; beberapa protein globular bekerja sebagai antibody, yang lain merupakan hormone dan yang lain lagi sebagai komponen membrane dan ribosom. Terdapat dua bukti penting yang menunjukkan bahwa rantai polipeptida protein globular berlipat-lipat dengan erat dan bahwa konformasi yang berlipatlipat itu penting bagi fungsi biologinya, yaitu: 1. Bahwa protein natif mengalami denaturasi dengan pemanasan, di dalam lingkungan pH yang ekstrim, atau dengan penambahan urea. Jika suatu protein globular mengalami denaturasi, struktur kerangka kovalen tetap utuh, tetapi rantai polipeptidanya membuka membentuk acak, tidak teratur, dan mengalami perubahan konformasi dalam ruang. 2. Berlipatnya protein globular dating dari perbandingan panjang rantai polipeptida dengan ukuran makromolekular sebenarnya seperti diperlihatkan oleh pengukuran fisiokimia. Untuk menguji keberadaan protein dapat ditunjukkan dengan beberapa uji reaksi sebagai berikut: Uji Biuret : menunjukkan adanya ikatan peptide Uji Xantoproteat: menunjukkan adanya gugus fenil atau inti benzene Uji Millon: menunjukkan adanya gugus fenol Uji Belerang: menunjukkan adanya belerang dalam protein Struktur protein tidak stabil karena mudah mengalami denaturasi yaitu keadaan dimana protein terurai menjadi struktur primernya, baik reversibel maupun ireversibel. Faktor-faktor yang menyebabkan denaturasi adalah pH, panas, pelarut, kekuatan ion, terlarut, dan radiasi.Protein ada yang reaktif karena

asam amino penyusunnya mengandung gugus fungsi yang reaktif, seperti SH, OH, NH2, dan COOH. Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam- amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning. Protein mengandung asam amino berinti benzen, jika ditambahkan asam nitrat pekat akan mengendap dengan endapan berwarna putih yang dapat berubah menjadi kuning sewaktu dipanaskan. Senyawa nitro yang terbentuk dalam suasana basa akan terionisasi dan warnanya akan berubah menjadi lebih tua atau jingga. Reaksi ini didasarkan pada uji nitrasi inti benzena yang terdapat pada mulekul protein menjadi senyawa intro yang berwarna kuning Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolut, maka protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini disebabkan etanol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molkeul protein. Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda. Titik Isoelektrik (TI) adalah daerah pH tertentu dimana protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik. Pada pH isoelektrik (pI), suatu protein sangat mudah diendapkan karena pada saat itu muatan listriknya nol.

Protein merupakan biopolymer polipeptida yang tersusun dari sejumlah asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida.Protein merupakan biopolymer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur. Ada berbagai cara dalam pengujian terhadap protein yaitu dengan reaksi uji asam amino dan reaksi uji protein. Reaksi uji asam amino sendiri terdiri dari 6 macam uji yaitu: uji millon, uji hopkins cole, uji belerang, uji xantroproteat, dan uji biuret. Sedangkan untuk uji protein, berdasarkan pada pengendapan oleh garam, pengendapan oleh logam dan alkohol.Serta uji koagulasi dan denaturasi protein. Pada uji asam amino terdapat uji bersifat umum dan uji bersifat uji berdasakan jenis asam aminonya. Seperti halnya uji millon bersifat spesifik terhadap tirosin, uji Hopkins cole terhadap triptofan, uji belerang terhadap sistein, uji biuret bereaksi positif terhadap pembentukan senyawa kompleks Cu gugus CO dan NH dari rantai peptida dalam suasana basa.

V.

Alat dan Bahan Alat: Tabung reaksi Rak tabung reaksi Pipet tetes Beker gelas Erlenmeyer Gelas ukur Batang pengaduk Corong Kertas saring Porselin Bunsen Bahan: Larutan NaOH Larutan Protein Larutan CuSO4 0,01 M Larutan HgCl2 0,2 M Larutan Timbal asetat 0,2 M Larutan (NH4)2SO4 Reagen Millon Reagen untuk uji biuret Larutan asam asetat 1 M Larutan albumin Gelatin Sistein Kuning telur, putih telur Bufer asetat pH 4,7 (1 M) Larutan HCl 0,1 M Larutan NaOH 0,1 M Larutan BaCl2 Serbuk albumin telur Fuxion Mixture (3 bagian natrium karbonat anhidris dengan 2 bagian kalium nitrat )

VI.

Prosedur Percobaan A. Pengendapan dengan Alkohol Tabung Larutan Albumin HCl 0,1 M NaOH 0,1 M Bufer asetat, pH 4,7 Etil Alkohol 95 % 1 5 ml 1 ml 6 ml 2 5 ml 1 6 ml ml 1 ml 1 ml 6 ml 3

Tabung-tabung mana yang menunjukkan protein yang tidak larut.Apakah kelarutan albumin dalam air pada titik isoelektriknya ? B. Denaturasi Tabung Larutan albumin Buffet Asetat pH 4,7 (1 M) HCl 0,1 M NaOH 0,1 M 1 9 ml 1 ml 2 9 ml 1 ml 3 9 ml 1 ml -

Tempatkan ketiga tabung dalam air mendidih selama 15 menit dan dinginkan pada temperature kamar. Dalam tabung mana yang kelihatan mengendap. Untuk tabung-tabung (1) dan (2) tambahkan 10 ml buffer asetat pH 4,7. tulis hasilnya. C. Uji Sulfur dalam Protein Campur 0,5 gram serbuk albumin dengan dua kali berat dari fusion mixture, panaskan dalam cawan porselin sampai tak berwarna. Dinginkan dan dilarutkan dalam air panas. Saring jika perlu. Asamkan filtrat dengan HCl. Panaskan hingga mendidih dan tambahkan beberapa tetes larutan BaCl2.

VII.

Hasil Pengamatan

A. Pengendapan dengan alkohol Jenis larutan Larutan Putih Telur Pengamatan 1. Lar. putih telur (bening) + HCl (bening) + etil alcohol (bening) Larutan bening, endapa putih 2. Lar. putih telur (bening) + NaOH (bening) + etil alcohol (bening) Larutan bening, tidak terdapat endapan 3. Lar. putih telur (bening) + buffer asetat (bening) + etil alcohol (bening) Larutan bening, endapan putih Larutan Albumin 1. Lar. Albumin (kuning bening) + HCl (bening) + etil alcohol (bening) Larutan kuning bening, endapan putih 2. Lar. Albumin (kuning bening) + NaOH (bening) + etil alcohol (bening) Larutan kuning bening, tidak terdapat endapan 3. Lar. Albumin (kuning bening) + buffer asetat (bening) + etil alcohol (bening) Larutan kuning bening, endapan putih Larutan Kuning Telur 1. Lar. kuning telur ( kuning) + HCl (bening) + etil alcohol (bening) Larutan kuning, endapan putih 2. Lar. kuning telur ( kuning) + NaOH (bening) + etil alcohol (bening) Larutan kuning, Tidak terdapat endapan 3. Lar. kuning telur ( kuning) + buffer asetat (bening) + etil alcohol (bening) Larutan kuning, endapan putih

10

Larutan susu bubuk

1. Lar. susu bubuk (putih) + HCl (bening) + etil alcohol (bening) Larutan bening, endapan putih 2. Lar. susu bubuk (putih) + NaOH (bening) + etil alcohol (bening) Larutan bening, tidak terdapat endapan 3. Lar. susu bubuk (putih) + buffer asetat (bening) + etil alcohol (bening) Larutan bening, endapan putih

Larutan Susu Cair

1. Lar. susu cair ( putih) + HCl (bening) + etil alcohol (bening) Larutan bening, terdapat endapan putih 2. Lar. susu cair ( putih) + NaOH (bening) + etil alcohol (bening) Larutan bening, tidak erdapat endapan 3. Lar. susu cair ( putih) + buffer asetat (bening) + etil alcohol (bening) Larutan bening, terdapat endapan putih

Larutan Ikan

1. Lar. Ikan ( coklat keruh) + HCl (bening) + etil alcohol (bening) Larutan keruh, terdapat endapan putih 2. Lar. Ikan ( coklat keruh) + NaOH (bening) + etil alcohol (bening) Larutan keruh, tidak erdapat endapan 3. Lar. Ikan ( coklat keruh) + buffer asetat (bening) + etil alcohol (bening) Larutan keruh, terdapat endapan putih

11

B. Denaturasi protein

Jenis larutan Larutan Putih Telur

Pengamatan 1. Lar. putih telur (bening) + HCl (bening) Protein mengendap / terkoagulasi (putih) + buffer asetat (bening) endapan bertambah, larutan bening 2. Lar. putih telur (bening) + NaOH (bening) larutan bening, tidak terbentuk endapan + buffer asetat (bening) larutan bening, terbentuk endapan 3. Lar. putih telur (bening) +buffer asetat (bening) Protein mengendap / terkoagulasi (putih)

Larutan Susu Bubuk

1.

Lar. susu bubuk (putih) + HCl (bening) Protein mengendap / terkoagulasi (putih) + buffer asetat (bening) endapan bertambah, larutan bening

2. Lar. susu bubuk (putih) + NaOH (bening) larutan bening, tidak terbentuk endapan + buffer asetat (bening) larutan bening, terbentuk endapan putih 3. Lar. susu bubuk (putih) HCl (bening) Protein mengendap / terkoagulasi (putih) Larutan Susu Cair 1. Lar. susu cair (putih) + HCl (bening) Protein mengendap / terkoagulasi (putih) + buffer asetat (bening) endapan bertambah, larutan

12

bening 2. Lar. susu cair (putih) + NaOH (bening) larutan bening, tidak terbentuk endapan + buffer asetat (bening) larutan bening, terbentuk endapan 3. Lar. susu cair (putih) + HCl (bening) Protein mengendap / terkoagulasi (putih) Larutan Albumin 1. Lar. albumin (kuning bening) + HCl (bening) Protein mengendap / terkoagulasi (putih) + buffer asetat (bening) endapan bertambah, larutan bening 2. Lar. albumin (kuning bening) + NaOH (bening) lar. kuning bening, tidak terdapat endapan + buffer asetat (bening) endapan bertambah, larutan bening 3. Lar. albumin (kuning bening) + HCl (bening) Protein mengendap / terkoagulasi (putih) Larutan Kuning Telur 1. Lar. kuning telur (kuning) + HCl (bening) Protein mengendap / terkoagulasi (putih) + buffer asetat (bening) endapan bertambah, larutan kuning bening 2. Lar. kuning telur (kuning) + NaOH (bening) lar. kuning bening, tidak terdapat endapan + buffer asetat (bening) endapan kuning, larutan kuning keruh 3. Lar. kuning telur (kuning) + HCl (bening) ) Protein mengendap / terkoagulasi (putih) Larutan ikan 1. Lar.ikan (coklat keruh) + HCl (bening) )

13

Protein mengendap / terkoagulasi (putih) + buffer asetat (bening) endapan putih, larutan bening 2. Lar.ikan (coklat keruh) + NaOH (bening) lar. bening, tidak terdapat endapan + buffer asetat (bening) larutan bening 3. Lar.ikan (coklat keruh) + HCl (bening) ) Protein mengendap / terkoagulasi (putih)

C. Uji Sulfur dalam protein

Jenis bahan Albumin

Pengamatan 1. Albumin (kuning) + fusion mixture (putih) serbuk putih kekuningan, dilarutkan dalam air panas larutan kuning muda Filtrat + HCl (bening) pH 3, warna kuning jernih + BaCl2 terdapat endapan kuning

Susu Bubuk

1. Susu bubuk (putih) + fusion mixture (putih) kuning kecoklatan, dilarutkan dalam air panas larutan kuning kecoklatan Filtrat + HCl (bening) pH 6, warna bening keruh + BaCl2 terdapat endapan kuning

Larutan ikan

1. Larutan ikan (keruh) + fusion mixture (putih) serbuk putih kecoklatan, dilarutkan dalam air panas larutan kuning keruh Filtrat + HCl (bening) pH 4, warna kuning keruh + BaCl2 terdapat endapan kuning

14

VIII.

Persamaan Reaksi

PENGENDAPAN DENGAN ALKOHOL Reaksi dengan HCl 0,1 M dan dilanjutkan dengan alkohol

Reaksi dengan NaOH 0,1 M dan dilanjutkan dengan alkohol

Reaksi dengan Buffer Asetat pH 4,7 dan dilanjutkan alkohol

DENATURASI PROTEIN Reaksi protein dengan HCl yang di lanjutkan dengan pemanasan selama 15 menit membuat protein terdenaturasi

COO 15

COOH

H3N+ - C H + H+ R asam

H3N+ - C H R

COO H3N+ - C H + OHR basa

COO H2N C H + H2O R

UJI SULFUR Pb2+ + 4OH PbO22- + 2H2O S 2- + 2H2O + PbO2 2PbS

+ 4OH

IX.

Pembahasan Pada pengendapan dengan alcohol, tabung yang pertama ditambahkan HCl

0,1 ml lalu ditambahkan etanol, tabung yang kedua ditambahkan NaOH 0,1 M lalu ditambahkan etanol, dan tabung yang ketiga ditambahkan larutan buffer asetat lalu ditambahkan etanol dengan volume yang sama pada ketiga tabung. Ketika kedalam larutan protein ditambahkan HCl 0,1 M, ion H+ dari asam kuat akan berikatan dengan gugus - COO- dari asam amino sehingga membentuk suatu kation
+

H3NRCHCOOH. Penambahan HCl pada larutan protein ini akan

membuat kesetimbangan asam-basa bergeser sedemikian rupa sehingga muatan netto negatif pada asam amino berkurang dan pH larutan menjadi lebih rendah. Sedangkan pada penambahan NaOH akan membuat ion OH- dari basa bereaksi dengan NH3+ dari asam amino pada protein sehingga membentuk suatu anion, H2NRCHCOO-, sehingga asam amino mengemban muatan negatif netto dengan pH larutan lebih besar daripada titik isoelektriknya.

16

Penambahan larutan buffer asetat yang mempunyai pH 4,7 membuat larutan protein yang mengandung asam amino berada pada titik isoelektriknya. Hal ini dapat dikaitkan dengan sifat larutan buffer itu sendiri yang dapat mempertahankan pH nya saat ditambahkan asam, basa, atau dilakukan pengenceran. Sehingga ketika larutan buffer ini ditambahkan kedalam asam amino, pH larutan cenderung tetap atau hanya berkurang sangat sedikit. Hal ini ditunjukkan juga dengan data yang terlihat pada literatur bahwa pada sampel albumin, titik isoelektriknya adalah 4,6 sehingga ketika ditambahkan buffer asetat asam amino pada sampel protein terutama albumin berada pada titik isoelektriknya. Pada proses denaturasi terjadi perubahan sifat-sifat dari protein. Karena larutan protein secara perlahan-lahan dipanaskan larutan tersebut lambat laun akan menjadi keruh dan membentuk koagulasi berbentuk seperti tali. Dimana albumin tersebut berkoagulasi menjadi padatan putih dengan pemanasan. Produk yang dihasilkan tidak dapat melarut kembali dengan pendinginan. Perubahan sifat fisik dapat disebabkan oleh suhu, pemanasan, reagen yang digunakan. Perubahan kimia yang berhubungan dengan denaturasi protein adalah protein dapat diakibatkan bukan hanya adanya pemanasan tetapi juga pH dan pelarut organik. Protein yang dipanaskan pada suhu minimal 60oC dan dengan penambahan asam atau basa akan menyebabkan protein tersebut terdenaturasi. Dimana susunan tiga dimensi khas dari rantai polipeptida terganggu dan molekul ini terbuka menjadi struktur acak yang kita lihat seperti berbentuk tali, namun tidak menyebabkan kerusakan pada struktur kovalennya. Pada percobaan uji sulfur, serbuk albumin, susu bubuk, dan serbuk ikan dicampurkan dengan fussion mixture dan dipanaskan dalam bentuk padatan menghasilkan padatan yang berwarna hitam dengan bau sulfur yang menyengat. Sedangkan filtratnya diasamkan dengan larutan HCl dan dipanaskan

menghasilkan larutan berwarna kuning, setelah ditetesi dengan BaCl2 larutan tersebut terdapat endapan putih.

17

X.

Kesimpulan 1. Dengan penambahan alkohol, maka terjadi penetralan muatan oleh alkohol, dimana pengendaan akan terjadi bila protein berada dalam bentuk isoelektrik yang bermuatan negatif. 2. Molekul protein mempunyai daya kelarutan minimum pada pH isoelektriknya. Pada pH isoelektriknya beberapa protein akan mengendap dari larutan. 3. Denaturasi protein dipengaruhi oleh perubahan suhu, pemanasan, pH. 4. Uji sulfur dapat dikatakan positif bila protein berupa padatan yang dipanaskan mempunyai bau khas belerang, sedangkan bila protein berupa larutan akan menghasilkan warna kuning.

XI.

Daftar Pustaka Anonim.2011. Uji Kualitatif Protein dan Asam Amino, (Online), (http://www.faperta.ugm.ac.id/newbie/.../PengantarBiokim.ppt, diakses tanggal 4 Maret 2012). Fessenden, JR & Fessenden, JS.1986. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga. Hawab, HM. 2004. Pengantar Biokimia. Jakarta : Bayu Media Publishing. Lehninger, Albert L. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Poedjiyadi, Anna dkk. 2006. Dasar-DasarBiokimia. Jakarta : UI-Press.

18

XII.

Gambar Alat

19

XIII.

Jawaban Pertanyaan Uji Pengendapan pada Alkohol a. Protein yang tidak larut ditunjukkan pada tabung I dan III b. Kelarutan albumin dalam air terjadi pada titik isoelektrik \

Uji Denaturasi Protein c. Sifat fisik yang dapat mempengaruhi kelarutan protein dalam percobaan adalah perubahan suhu, pH atau karena terjadinya suatu reaksi dengan senyawa lain, maka keaktifan biokimianya berkurang d. Metode lain yang dapat digunakan pada denaturasi protein adalah metode pemanasan, metode kromatografi dan metode pemurnian enzim. e. Perubahan-perubahan kimia yang berkaitan dengan proses denaturasi protein adalah perubahan suhu, pH, dan pelarut organic.

Uji Sulfur f. Protein memberikan uji positif untuk sulfur karena protein dengan sulfur menghasilkan endapan PbS yang berasal dari Pb asetat dan sulfur. Sehingga protein memberikan uji positif terhadap uji sulfur. g. Unsur-unsur yang terdapat dalam protein tetapi tidak terdapat dalam lipid dan karbohidrat.

20