Anda di halaman 1dari 7

ESTIMASI POPULASI GASTROPODA DAN MAKROBENTOS

ABDUL AZIZ
14/367376/PN/13837
BUDIDAYA PERIKANAN

Intisari
Gastropoda merupakan hewan avertebrata air dari phylum Mollusca. Kata gastropoda berasal
dari bahasa Yunani yaitu gastro yang berarti perut dan podos yang berarti kaki. Jadi gastro
poda adalah hewan memakai perutnya sebagai kaki. Dilihat dari aktifitas hidupnya memang
benar demikian semua pesies dari phylum Mollusca yang memiliki kelas gastropoda
melakukan aktivitas lokomosi dengan perutnya dalam arti lain perutnya berfungsi sebagai
kaki. Makrobentos(gastropoda) merupakan organisme yang keberadaannya dan
keanekaragamannya menentukan kelangsungan dan keseimbangan ekosistem perairan
khususnya sungai. Tingkat keanekaragaman yang terdapat diperairan sungai termasuk adanya
gastropoda senditi dapat menjadi indikasi adanya pencemaran di perairan sungai tersebut.
penyebaran komunitas brntos gastropoda ini dipengaruhi oleh parameter fisika,kimia dan
biologi. Oleh karenanya dengan mengetahui parameter tempat hidup gastropoda sendiri dapat
dijadikan perbandingan dengan keadaan ekosistem sungai. Praktikum estimasi populasi
gastropoda bertujuan mempelajari penerapan metode tanpa plot(plotless)untuk mengestimasi
gastropoda. Selain itu untuk mempelajari korelasi keberadaan gastropoda(makrobentos)
tengan tolak ukur lingkungan. Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 10 maret 1015
disungai tambak bayan.metode yanga digunakan adalah dengan cara plptless ( tanpa plot)
yaitu dengan mengunakan tongkat sebagai titik acuanpengambilan cuplikan di duapuluh titik
yang berbeda. Dalam pelaksanaan praktikum ini sungai tambak bayan dibagi menjadi empat
stasiun. Dalam praktikum dilakukan pengamatan parameter fisika ,kimia,dan biologi. Nilai
diversitas dari makrobentos yang masih tinggi ini menjadi tolok ukur bahwa keadan
ekosistem perairan di sungai tambak bayan tersebut masih seimbang.
Kata Kunci : Dentitas,deversitas,gastropoda,parameter,plotless
PENDAHULUAN
Sungai di Indonesia umumnya mempunyai sifat multiguna, mulai dari keperluan
rumah tangga, keperluan hewan (mandi, minum), transportasi pengairan, dan sebagainya.
Kebanyakan sungai di Indonesia telah mengalami penurunan fungsi akibat berbagai aktivitas
manusia ini masih merupakan sumberdaya perairan yang kaya akan organisme air
(Widaningroem, 2010). Kehidupan di air dijumpai tidak hanya pada badan air tapi juga pada
dasar air yang padat. Di dasar air, jumlah kehidupan sangat terbatas karena ketersediaan
nutrient yang terbatas. Oleh karena itu, hewan yang hidup di air dalam hanyalah hewanhewan yang mampu hidup dengan jumlah dan jenis nutrient terbatas, sekaligus bersifat
bartoleran (Isnaeni, 2002).

Hewan yang hidup di dasar perairan adalah makrozoobentos. Makrozoobentos


merupakan salah satu kelompok terpenting dalam ekosistem perairan sehubungan dengan
peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring makanan. Selain itu tingkat
keanekaragaman yang terdapat di lingkungan perairan dapat digunakan sebagai indikator
pencemaran. Hewan bentos seringkali digunakan sebagai petunjuk bagi penilaian kualitas air.
Jika ditemukan limpet air tawar, kijing, kerang, cacing pipih siput memiliki operkulum dan
siput tidak beroperkulum yang hidup di perairan tersebut maka dapat digolongkan kedalam
perairan yang berkualitas sedang (Pratiwi dkk, 2004). Saleah satu jenis makrobentos adalah
gastropoda yang merupakan salah satu kelas dalam phylum Mollusca. Gasrtopoda sendiri
adalah salah satukomponen dalam ekosistem peraiaran. Kelompok hewan bertubuh lunak ini
dapat dijumpai didasar perairan mulai perairan laut dan perairan darat / air tawar.
Gastropoda memiliki jumlah spesies yang paling banyak. Gastropoda memiliki lidah
parut dan zat tanduk untuk menghancurkan makanan. Cangkangnya berbentuk kerucut
terpilin. Pada bentuk larva tubuhnya berbentuk simetri bilateral tetapi dalam
perkembangannya mengalami pembengkokan sehingga membentuk lingkaran. Pada waktu
dewasa, anusnya berada di sebelah atas mulutnya. Saat larvanya bernafas dengan insang dan
pada waktu dewasa bernafas dengan paru-paru. Sifatnya hemafrodit. Gastropoda memiliki
bentuk cangkang yang beragam, ada yang conical, biconical, abconical, turreted, fusiform,
patelli form, ovoid, discoidal, involute,obavatus, globase, lenticular, bulloid, cylindrycal, dan
trochoid (Oemarjati dan Wardhana, 1990). Menurut Welch (1980), kecepatan arus
akan mempengaruhi tipe substratum, yang selanjutnya akan berpengaruh
terhadap kepadatan dan keanekaragaman makrobentos.
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan
dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau
persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat
penting diukur untuk menghitung produktifitas dan untuk membandingkan
kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit
tersebut. (Suin.N.M,1989).

Sebagaimana kehidupan biota lainnya, penyebaran jenis dan populasi komunitas


bentos ditentukan oleh sifat fisika, kimia dan biologi perairan. Sifat fisik perairan seperti
kedalaman, kecepatan arus, warna, kecerahan dan suhu air. Sifat kimia perairan antara lain,
kandungan gas terlarut, bahan organik, pH, kandungan hara dan faktor biologi yang
berpengaruh adalah komposisi jenis hewan dalam perairan diantaranya adalah produsen yang
merupakan sumber makanan bagi hewan bentos dan hewan predator yang akan
mempengaruhi kelimpahan bentos (Setyobudiandi, 1997).
Untuk itu praktikum ini dilakukan untk mengetahui untuk mempelajari penetapan
metode tanpa memakai plot untuk mengetimasi gastropoda. Selain itu praktikum ini juga
berfungsi untuk mempelajari korelasi antara parameter lingkungan dengan populasi
makrobentos(gastropoda)
METODOLOGI

Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 10 Maret 2015 disungai Tambak
Bayan,Sleman. Dalam praktikum ini sungai tambak bayan dibagi menjadi 4 stasiun dan setiap
stasiun diisi satu kelompok praktikan. Dalam praktikum ini etimasi (perkiraan ) populasi
gastropoda dilakukan dengan metode plotless( tanpa menggunakan plot. Pengambilan smpel
dilakukan dengan menancapkan tongakt di 20 titik di masing masing stasiun dan dilakuakan
pengamatan disekitar tempat tongkat ditancapkan. Pengamatan dilakuakan dengan
memperkirakan jumlah gastropoda dan makro bentos yang ada di sekitar tempat tancapan.
Bahan yang dipakai dalam praktikum ini adalah kertas Ph (phmeter), larutan
MnSO4,larutan reagen oksigen,larutan H2SO4, ,1/80 N Na2S2O3,larutan 1/50N HCl, KOHKI, 1/40 N Na2S2O3,1/44 N NaOH, indikato amilum, phenolphthalein, indicator methyl
orange, indicator bromcrecol green/methyl red (BCG/MR),larutan 0,01 kalium
permanganate,6N H2SO4, 0,01 asam oksalat dan 4% larutan formalin. Untuk alat yang
dipakai, bola tenis meja, stop watch roll-meter ,penggaris ,thermomete, botol
oksigen,erlemeyer,pipet ukur,gelas ukur,planton net, saringan,mikroburet,pipet tetes,
mikroburet, kayu/tongkat, mikroskop, kertas label dan pensil.
Metode yang digunakan dengan menancapkan tongkat di 20 titik yang berbeda dalam satu
stasiun dan dilakukan pengamatan terhadap jumlah gastropoda yang ada di masing masing
titik tancapan lalu hitung kerapatan dentitas gastropoda antar titik dengan menggunakan
rumus D= D^2/(S-2); D^=(S-1)/Y; Y= Si=1Yi ;

Yi= ( xi)2 . Kemudian dikakukan pula

pengukuran parameter seperti halnya dalam praktikum ekosistem sungai. Keterangan dari
rumus tersebut sebagai berikut:
S= jumlah titik cuplikan yang diambil
D^=etimasi kerapatan densitas gatropoda
X=jarak terdekat gastropoda dengan titik yang ditentukan secara acak.
Y=Luas area kajian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Stasiun
Paramater
1
2
3
4
Suhu Udara (C)
24
28
25
24
Suhu Air (C)
26
28
28
26
Arus Air (m/s)
0,76
0,3
0,89
0,77
Debit Air (m/s)
1,21
1,25
5,82
1,39
DO (ppm)
5,8
5,74
4,9
5,62
CO Bebas
13,5
9
11,8
11,2
(ppm)
Alkalinitas
118
53
110
101
(ppm)
pH
7,13
7,2
7,15
7,1
Diversitas
3,76326
2,54772
4,03999
3,150918
Plankton
Densitas
Plankton
3062,25
26355,42
2158,63
2961,847
(indv/liter)

Vegetasi

Rimbun,
bambu,tida
k ada
limbah

Tidak Rimbun,
Kombinasi
Rumput+Bamb
u

Rimbun,
Kombinasi
Pohon
Pisang+Rumput

Rimbun,
Rerumput
an

Dalam pengamatan kami sungai tambak bayan yang telah dibagi menjadi 4 stasiun .
untuk keadaan setasiun bagian dasarnya detdapay banyak bebatuan,pasisr, dan sedikit lumpur.
Untuk lingkungan sekitarnya masik asri denyan vegetasi yang berbeda dari keempat setasiun
didominasi dengan vegetasi yang rimbun dengan kombinasi pohon,bambu,pisang,rumput.
Dan hanya satu stasiun yang vegetasi sekitarnya tidak rimbun. Dari kesemua stasiun tersebut
keaadaanya masih asri ( belum tercemar sampah).
Berdasarkan pengamatan stasiun III memiliki suhu air 280C dan suhu udara 250C.
Suhu ini memperngaruhi metabolisme organisme akuatik. Suhu udara saat diukur cuacanya
mendung dan baru turun hujan, namun suhu air lebih tinggi daripada suhu udara. Hal ini
terjadi karena untuk menstabilkan suhu air dengan udara membutuhkan waktu cukup lama .
Debit air dan kecepatan arus pada stasiun 3 lebih tinggi jika dibandingkan ketiga stasiun
lainnya sehingga kami tidak dapat menjumpai ikan kecil berenang. DO yang tidak terlalu
tinggi bila disbanding stasiun lainnya mengakibatkan jarangnya organisme yang menempati
sungai tersebut hanya ada beberapa makrobentos. pH juga masih berada pada kisaran netral.
Pada stasiun III ini densitasnya cukup rendah karena oksigen terlarutnya rendah.
Dari data yang diperoleh, untuk suhu udara dibandingkan antara empat stasiun. Yang
memiliki suhu paling tinggi adalah strasiun II. Hal ini terjadi karena di stasiun II keadaan
vegetasinya tidak terlalu lebat sehingga memungkinkan untuk lebih banyak mendapatkan
penyinaran dari matahari. Pada stasiun II menduduki urutan dibawahnya karena disamping
rimbunnya vegetasi masih ada cukupbanuak celah untuk cahaya matahari bias masuk.
Sedangkan pada stasiun I dan IV suhu udara relatif sama. Hal ini dikarenakan kedua stasiun
tersebut mendapat perindangan dari vegetasi yang ada disekitarnya. Stasiun II dn III memiliki
suhu air yang paling tinggi. Pada dua stasiun ini suhu air lebih tinggi jika dibandingkan
dengan suhu udara. Pada saat pengukuran suhu air, di stasiun II dan III di sekitar stasiun juga
terdapat cukup celah untuk memungkinkan lebih mendapat penyinaran dari matahari yang
mengakibatkan ke dua stasiun ini memiliki suhu air yang relative lebih tinggi.

HASIL PENGAMATAN ESTIMASI GASTROPODA DAN


MAKROBENTOS

Pramater
Densitas
Gastropoda
(indvd/m)
Densitas
Makrobentos
(indvd/m)
Diversitas
Makrobentos

Stasiun
1

542706,1

185,7284

1916,314

583,3783

121,875

446,875

43,75

115,625

0,890416

2,114759

0,985228

1,271042

Densitas Makrobentos vs Stasiun

Densitas Makrobentos (indvd /m)

Densitas Makrobentos
(indvd/m)

Stasiun

Densitas Gastropoda vs Stasiun


600000
500000
400000
300000
Densitas Gastropoda (indvd/m)
200000
100000
0
Stasiun

Densitas Gastropoda
(indvd/m)

Diversitas Makrobentos vs Stasiun


2.5
2
Diversitas Makrobentos

Diversitas
Makrobentos

1.5
1
0.5
0

Stasiun

Dari data dan grafik diatas dapat diketahui bahwa h

Keadan sungai tambak bayan masih sangat bagus dan belum tercemar. Yang mempengaruhi
perbedaan data dan grafik hanya disebabkan oleh perbedaan alamiyah dan parameter
linkungan yang berbeda.
KESIMPULAN
Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan bahwa dengan tanpa menggunakan
plot kita dapat melakukan etimasi populasi gastropoda yang ada di lingkungan perairan
khususnya sungai. Dan dari masing masing stasiun memiliki data yang berbeda ini
dipengaruhi dari perbedaan parameter dari masing masing lingkungan stasiun dalam sungai
tambak bayan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Isnaeni,W.2002.Fisiologi Hewan. Universitas Negri Semarang. Semarang.
2. Oemarjati dan Wardhana. 1990. Taksonomi Avertebrata . UI-Press.Jakarta .
3. Pratiwi, N, Krisanti, Nursiyamah, I. Maryanto, R. Ubaidillah, & W. A.
Noerdjito. 2004.
4. Setyobudiandi, I. 1997. Makrozoobentos. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
5. Suin, Nurdin Muhammad.1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara :
Jakarta
6. Welch, S. 1980. Limnology. New York: Mc Graw Hill Book Company.
7. Widaningroem, Retno. 2010. Pengertian, Konsep dan Jenis Sumberdaya
Perikanan. Bahan Ajar Pengantar Ilmu Perikanan. Yogyakarta : Universitas
Gadjah Mada.