Anda di halaman 1dari 13

BLOK HARD TISSUE SURGERY

SELF LEARNING REPORT


JIGSAW CASE STUDY 3
KOMPLIKASI EKSTRAKSI

DOSEN PEMBIMBING/ TUTOR:

DISUSUN OLEH:
CITRA VEONY FINASTIKA
NIM. G1G012034

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO
2015
A. SKENARIO
Seorang pasien laki-laki berusia 27 tahun datang kembali ke klinik Anda
dengan keluhan nyeri yang luar biasa hebat pada gigi 46 yang telah anda cabut

dua hari yang lalu. Pencabutan gigi 46 dilakukan dengan prosedur ekstraksi
sederhana. Tidak ditemukan kelainan sistemik pada pasien. Vital sign dalam
batas normal. Hasil pemeriksaan intra oral terlihat soket gigi terlihat kosong
tanpa adanya jendalan darah yang menutupi. Terlihat debris di sekitar soket
gigi.
B. ANALISIS KASUS SKENARIO
1. Identitas Pasien:
a. Jenis Kelamin
: Laki-laki
b. Usia
: 27 tahun
2. Pemeriksaan Subyektif
a. Keluhan Utama (CC): nyeri yang luar biasa hebat pada gigi 46 yang
telah anda cabut dua hari yang lalu.
b. Riwayat Penyakit Saat ini (PI): nyeri yang luar biasa hebat pada gigi
46.
c. Riwayat Sistemik (PMH): pasien tidak diindikasikan memiliki riwayat
penyakit sistemik.
d. Riwayat Dental (PDH): telah melakukan pencabutan gigi 46 dua hari
yang lalu dengan prosedur ekstraksi sederhana.
e. Riwayat Keluarga (FH): tidak ada keterangan.
f. Riwayat Sosial (SH): tidak ada keterangan.
3. Pemeriksaan Obyektif
a. Pemeriksaan Vital Sign: dalam batas normal.
b. Pemeriksaan Intra Oral: terlihat soket gigi 46 kosong tanpa adanya
jendalan darah yang menutupi dan debris di sekitar soket gigi.
4. Diagnosis
Diagnosis pasien ini adalah komplikasi ekstraksi berupa dry socket.
C. RENCANA PERAWATAN (PENATALAKSANAAN)
a. Pemantuan
b. Apabila pasien tidak dapat menahan rasa sakit, maka dapat dilakukan
anestesi topikal atau lokal.
a. Irigasi pada bagian yang mengalami alveolitis dengan larutan salin
yang hangat dan kuretase semua bekuan darah degenerasi, kemudian
diperiksa. Soket yang diirigasi dengan larutan salin sebaiknya disedot
dengan hati-hati agar bagian yang utuh dapat dipertahankan.
b. Penghalusan tulang yang tajam dengan bone file.

c. Palpasi dengan hati-hati menggunakan aplikator kapas untuk


membantu menentukan sensitivitas.
d. Membuat pendarahan pada soket untuk merangsang terjadinya bekuan
darah.
e. Penutupan dengan pembalut (dressing) obat-obatan yang dimasukkan
ke dalam alveolus.
f. Mengganti pembalut setiap 24-48 jam, sebelumnya diirigasi terlebih
dahulu dengan larutan salin dan diperiksa lagi, tergantung keparahan
rasa sakit pasien.
g. Melepas kasa dapat untuk mempercepat penyembuhan luka, jika rasa
sakit pasien sudah berkurang.
h. Peresepan obat antibiotik dan analgesik.
R/ Amoxicillin mg 500 capl. No. XV
S. 3.d.d. capl. I p.c
R/ Asam Mefenamat mg 500 capl. No. XIII
S. p.r.n (4.d.d) tab. I. aggred. dol. p.c
i. Edukasi pemeliharaan oral hygiene.
D. PEMBAHASAN KASUS
1. Definisi Dry Socket
Dry socket atau alveolitis merupakan komplikasi pasca pencabutan
berupa keluhan rasa sakit yang sangat hebat. Biasanya keluhan ini dimulai
pada hari ke 3-5 setelah operasi. Pada pemeriksaan terlihat alveolus yang
terbuka, terselimuti kotoran, dan dikelilingi berbagai tingkatan inflamasi
gingiva. Frekuensi terjadinya dry socket sekitar 5-30% dari kasus impaksi
gigi molar ketiga bawah. Daerah yang paling sering terserang yaitu regio
molar bawah (Pedersen, 2013).
Dry socket terjadi karena adanya gangguan pembentukan bekuan
darah normal pada tahap proliferasi sehingga menyebabkan terjadinya
infeksi. Dry socket dikenal juga dengan alveolar osteitis, alveolitis,
localized alveolitis, alveolitis sicca dolorosa, localized alveolar osteitis,
localized osteitis, postoperative osteitis, localized acute osteomyelitis,
septic socket, fibrinolytic alveolitis, necrotic socket, alveolagia (Cadoso,
dkk., 2010).
2. Etiologi
Dry socket disebabkan oleh multifaktorial dan belum diketahui
secara jelas. Penyebab yang telah diketahui yaitu hilangnya bekuan darah

akibat peningkatan aktivitas fibrinolisis. Fibrinolisis merupakan proses


fisiologis normal untuk mengurangi deposit fibrin oleh enzim pencernaan
menjadi fragmen mudah larut yang lebih kecil. Faktor penyebab
peningkatan aktivitas fibrinolisis antara lain penggunaan vasokonstriktor
yang berlebihan, obat-obatan sistemik, aktivator cairan tubuh, aktivator
jaringan dan bakteri. Penggunaan vasokonstriktor yang berlebihan
menyebabkan suplai darah ke tulang dan daerah pencabutan terhambat,
sehingga bekuan darah sulit terbentuk (Bowe, dkk., 2011). Fibrinolisis
dapat disebabkan tanpa bakteri dan dengan keterlibatan bakteri (Pedersen,
2013).
a. Fibrinolisis tanpa bakteri
Kerusakan bekuan darah disebabkan oleh mediator yang dilepaskan
selama inflamasi oleh sel tulang alveolar yang secara langsung maupun
tidak langsung mengaktifkan plasminogen ke dalam darah.
Plasminogen berubah menjadi plasmin dan memisahkan benangbenang fibrin yang menyebabkan kerusakan bekuan darah (Bowe,
dkk., 2011).
b. Fibrinolisis dengan keterlibatan bakteri
Bakteri yang dapat menyebabkan peningkatan aktivitas fibrinolisis
antara lain Treponema denticola, Actinomyces viscosus dan
Streptococcus mutans. Treponema denticola merupakan bakteri
anaerob penyebab periodontitis. Actinomyces viscosus dan
Streptococcus mutans diketahui dapat menghambat penyembuhan luka
pasca pencabutan gigi (Larsen, 1992).
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan insidensi dry socket, antara
lain:
c. Trauma pada saat pencabutan
Trauma bedah yang cukup besar menyebabkan tulang alveolar
melepaskan aktivator-aktivator jaringan dan mengubah plasminogen
menjadi plasmin yang menghancurkan bekuan fibrin, sehingga soket
kering dan terasa sangat nyeri (Birn, 1973).
d. Usia
Sebagian besar kasus dry socket terjadi pada usia 31-40 tahun dengan
persentase sebanyak 36,6%. Banyaknya kasus yang terjadi pada
kelompok usia ini disebabkan oleh pembentukan tulang alveolar telah
3

sempurna dan banyak terjadi penyakit peridontal, sehingga adanya


trauma pencabutan kemungkinan dapat menimbulkan dry socket
(Bowe, dkk., 2011).
e. Jenis kelamin dan penggunaan kontrasepsi
Dry socket terjadi lebih banyak pada wanita dibandingkan pria, dengan
persentase sebesar 4,1%. Banyaknya kasus pada wanita disebabkan
oleh faktor hormonal (Sweet dan Butler, 1978). Selain itu, penggunaan
tablet kontrasepsi juga menunjukkan peningkatan terhadap terjadinya
dry socket. Hal ini dikarenakan tablet kontrasepsi mengandung
estrogen yang memiliki peran terhadap terjadinya dry socket, sehingga
mengakibatkan level plasminogen meningkat dan menstimulasi
aktivitas fibrinolisis. Aktivitas fibrinolisis meningkat pada pertengahan
siklus tablet kontrasepsi dan menurun mendekati normal pada masa
tidak aktif. Penggunaan tablet kontrasepsi dijadwalkan selama 21 hari
dengan diikuti masa aktif selama 7 hari, hari ke 2-3 setelah
penggunaan tablet kontrasepsi dihentikan terjadi penurunan siklus,
sehingga risiko dry socket dapat diperkecil dengan melaksanakan
pencabutan gigi pada minggu terakhir dari siklus yaitu hari 22-28
(Catellani, dkk., 1980).
f. Kebiasaan merokok
Tembakau yang digunakan sebagai bahan dasar rokok mengandung tar,
nikotin, karbon monoksida (CO) dan hidrogen sianida. Nikotin, CO
dan hidrogen sianida diketahui dapat mengganggu suplai oksigen yang
menyebabkan berkurangnya aliran darah pada jaringan, sehingga risiko
dry socket semakin besar (Mechan, dkk., 1988).
g. Gigi yang dicabut
Pencabutan molar mandibula relatif lebih tinggi risiko terjadinya dry
socket, karena mandibula memiliki tulang yang padat dan vaskularisasi
yang lebih sedikit dibandingkan maksila (Bowe, dkk., 2011).
h. Penggunaan anestesi lokal
Penggunaan anestesi lokal lebih tinggi risiko terjadinya dry socket
dibandingkan anestesi umum. Xylocaine dengan vasokonstriktor
(ephineprine) meningkatkan risiko dry socket dibandingkan dengan
citanest (Bowe, dkk., 2011).
i. Oral hygiene yang buruk

Mikroorganisme pada pasien dengan oral hygiene yang buruk dapat


berperan menyebabkan infeksi pada luka pencabutan gigi. Hal ini
dapat menyebabkan inflamasi dan meningkatkan risiko terjadinya dry
socket (Larsen, 1992).
3. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang dapat timbul dari dry socket, antara lain (Pedersen,
2013):
a. Sakit yang hebat menyebar hingga telinga.
b. Tulang alveolus yang terbuka dan kosong, biasanya dipenuhi oleh
debris.
c. Tulang alveolar di soket bekas pencabutan diselimuti oleh lapisan
jaringan nekrotik berwarna kuning keabu-abuan.
d. Inflamasi margin gingiva di sekitar soket bekas pencabutan.
e. Mukosa sekitar biasanya berubah warna menjadi lebih kemerahan
dibandingkan dengan jaringan sekitarnya.
f. Limfadenopati disertai dengan demam ringan.
g. Bau mulut dan rasa tidak enak.
4. Patofisiologi
Proses perbaikan jaringan setelah terjadi luka secara fisiologis
terdiri dari tiga fase, yaitu:
a. Fase inflamasi/ reaktif
Fase ini berlangsung sejak terjadinya luka hingga hari kelima yang
terdiri dari fase vaskuler dan seluler. Pada fase vaskuler terjadi
perdarahan dari pembuluh darah yang ruptur pada luka dan tubuh
memiliki mekanisme menghentikan perdarahan ini melalui
vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh darah yang putus, dan
reaksi hemostasis. Selain itu, terjadi fase seluler yang ditandai dengan
pergerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah (diapedesis)
menuju luka karena daya kemotaksis. Leukosit mengeluarkan enzim
hidrolitik yang membantu menghancurkan bakteri dan debris pada
luka. Selanjutnya, beberapa jam setelah luka terjadi invasi sel
inflamasi. Sel polimorfonuklear (PMN) bermigrasi menuju daerah luka
dan mengalami transisi menjadi sel mononuklear atau makrofag
setelah 24-48 jam. Luka yang terjadi pada fase ini dibentuk oleh
jalinan fibrin yang lemah. Selanjutnya, dimulai fase proliferasi
(Lawrence, 2002 dalam Suryadi, 2013).
b. Fase proliferasi

Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi hingga akhir minggu
ketiga yang ditandai dengan peningkatan proliferasi fibroblas,
sehingga disebut juga dengan fase fibroplasia. Fibroblas memproduksi
matriks ekstraseluler, kolagen primer dan fibronektin untuk migrasi
dan proliferasi sel. Proses angiogenesis terjadi ditandai dengan
terbentuknya pembuluh darah baru dan pertumbuhan saraf pada ujung
luka. Keratinosit berproliferasi dan bermigrasi dari tepi luka untuk
melakukan epiteliasasi menutup permukaan luka dan membentuk
barier alami terhadap kontaminan serta infeksi dari luar. Sel basal dari
epitel luka, terlepas dan bermigrasi mengisi permukaan luka. Tempat
sebelumnya akan diisi oleh sel baru yang terbentuk dari proses mitosis.
Fase ini akan terhenti saat sel epitel saling menyentuh dan menutup
seluruh permukaan luka. Selanjutnya, terjadi fase remodelling
(Lawrence, 2002 dalam Suryadi, 2013).
c. Fase remodelling/ pematangan
Fase ini berlangsung dari minggu ketiga hingga enam bulan atau dua
tahun. Pada fase ini terjadi perubahan bentuk, kepadatan dan kekuatan
luka. Proses ini menghasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, lemas
dan mudah digerakkan dari dasarnya. Fase ini berakhir saat semua
tanda inflamasi telah hilang (Lawrence, 2002 dalam Suryadi, 2013).
Penyembuhan luka pada soket pencabutan hampir sama dengan
penyembuhan luka secara umum. Tahap penyembuhan soket setelah
pencabutan, yaitu:
a. Sesaat setelah pencabutan terjadi pembentukan bekuan darah pada
soket alveolar. Selanjutnya, 24-48 jam kemudian terjadi dilatasi
pembuluh darah, migrasi leukosit dan pembentukan fibrin.
b. Minggu pertama setelah pencabutan, bekuan darah akan membentuk
tahanan sementara bersamaan dengan migrasi sel-sel inflamasi. Epitel
mulai terbentuk di tepi luka dan osteoklas menumpuk pada puncak
tulang alveolar yang akan menyebabkan resorbsi tulang, serta terjadi
angiogenesis pada sisa ligamen periodontal.
c. Minggu kedua setelah pencabutan, pembuluh darah yang baru
terbentuk mulai masuk ke dalam bekuan darah, trabekula osteoid

meluas dari alveolar ke bekuan darah, serta resorbsi margin kortikal


soket alveolar terlihat jelas.
d. Minggu ketiga setelah pencabutan, soket telah terisi jaringan
granulasi, epitel permukaan telah terbentuk sempurna, dan
remodelling tulang terus berlanjut sampai beberapa minggu berikutnya
hingga 4-6 bulan.
Dry socket terjadi apabila pada proses penyembuhan tersebut, tidak
terbentuk bekuan darah dan kondisi ini dapat memperlambat penyembuhan
luka. Bekuan darah yang tidak terbentuk disebabkan oleh peningkatan
aktivitas fibrinolisis dari pelepasan mediator selama inflamasi oleh
aktivitas plasminogen ke dalam darah yang akan berubah menjadi fibrin
dan menyebabkan disintegrasi fibrin (Bowe, dkk., 2011). Rasa sakit yang
timbul pada dry socket berkaitan dengan pembentukan senyawa kinin
dalam alveolus. Kinin mengaktifkan terminal nervus primer afferen yang
peka terhadap mediator inflamasi dan substansi allogenik lainnya yang
pada konsentrasi 1mg/ml dapat menyebabkan rasa sakit yang hebat.
Plasminogen menyebabkan perubahan kalikrein menjadi kinin dalam
sumsum tulang alveolar, sehingga adanya plasmin memungkinkan
terjadinya dry socket dalam berbagai aspek (neuralgia dan disintegrasi
bekuan darah) (Birn, 1973). Treponema denticola merupakan bakteri
anaerob yang diketahui berkembang biak dan menghancurkan bekuan
darah tanpa menghasilkan gejala klinis yang khas pada infeksi, seperti
kemerahan, bengkak atau terbentuknya pus. Treponema denticola
menghasilkan bau busuk yang khas dan aktivitas fibrinolisis seperti
plasmin pada dry socket (Nitzan, 1983).

Gambar 1. Patofisiologi dry socket

5. Pencegahan

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya


dry socket, antara lain:
a. Pencabutan gigi pada waktu yang tepat
Pencabutan gigi dilakukan pada saat kondisi daerah sekitar pencabutan
tidak terjadi inflamasi. Pencabutan saat terjadi inflamasi menyebabkan
suplai darah ke tulang dan daerah pencabutan terhambat, karena
dinding alveolus terdapat jaringan yang meradang. Pencabutan gigi
dapat ditunda hingga inflamasi sembuh dengan memberikan obatobatan.
b. Teknik pencabutan yang tepat
Trauma yang besar terhadap tulang dapat menyebabkan penurunan
resistensi infeksi dan enzim bakteri menghancurkan bekuan darah.
Pencabutan gigi yang sulit dianjurkan menggunakan teknik
pembedahan dengan flap untuk meminimalkan trauma dan
mempercepat penyembuhan primer (Pedersen, 2013).
c. Sterilisasi yang baik
Sterilisasi alat-alat yang digunakan pada pencabutan gigi dapat
menghambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga memperkecil
risiko dry socket (Pedersen, 2013).
d. Anestesi yang cukup
Anestesi dengan vasokonstriktor harus diberikan dengan dosis yang
cukup untuk mencegah alveolus kering dan rasa sakit setelah
pencabutan (Bowe, dkk., 2011).
e. Penggunaan antibiotik
Antibiotik seperti penicillin, clindamycin, erythromycin dan
metronidazole dapat mencegah infeksi pada luka pencabutan gigi,
sehingga efektif untuk mencegah dry socket (Torres, dkk., 2005).
f. Penggunaan chlorhexidin
Penggunaan chlorhexidin digluconate untuk obat kumur maupun
irigasi efektif mengurangi soket yang kering. Chlorhexidin digluconate
0,2% dapat mengganggu aktivitas bakteri serta efektif melawan bakteri
gram negatif (-) maupun positif (+) yang dapat mengakibatkan dry
socket (Bowe, dkk., 2011 ).
g. Penggunaan salin isotonik (NaCl 0,9%)
Saline isotonik (NaCl 0,9%) digunakan sebagai antiseptik untuk
membebaskan rongga mulut secara menyeluruh dari bakteri penyebab

dry socket, tidak menghambat penyembuhan dan tidak menimbulkan


alergi pada soket pencabutan (Pedersen, 2013).
6. Penatalaksanaan
Syarat perawatan pada pasien dry socket yaitu tindakan tenang, halus, dan
hati-hati. Perawatan yang dapat dilakukan pada kasus dry socket yaitu
sebagai berikut (Pedersen, 2013):
a. Pemantuan
b. Apabila pasien tidak dapat menahan rasa sakit, maka dapat dilakukan
anestesi topikal atau lokal.
c. Irigasi pada bagian yang mengalami alveolitis dengan larutan saline
yang hangat dengan tujuan untuk membersihkan sisa jaringan nekrotik
pada soket bekas pencabutan gigi, kemudian diperiksa. Soket yang
diirigasi dengan larutan saline sebaiknya disedot dengan hati-hati agar
bagian yang utuh dapat dipertahankan.
d. Palpasi dengan hati-hati menggunakan aplikator kapas untuk membantu
menentukan sensitivitas.
e. Buatlah pendarahan pada soket untuk merangsang terjadinya bekuan
darah.
f. Penutupan dengan pembalut (dressing) obat-obatan yang dimasukkan
ke dalam alveolus. Pembalut obat-obatan yang dapat digunakan dapat
dilihat pada tabel di bawah ini:

Salep benzocaine
Benzocaine 6%
Minyak cengkeh 6%
Hyd. wool fat 25%
Petrolatum 63%

Salep acrithesin
Eugenol 5%
Chrolobutanol 8%
Benzocaine 4%
Aquaphor 83%

Pasta BIPP
Benzocaine 1%
Bismuth subnitrate
20%
Iodoform 40%
Pertrolatum 39%

Preparat komersial:
a. Pasta Sultans Dry Socket: guaiacol, balsam Peru, eugenol, dan
chlorobutanol.
b. Pembalut Dry Socket: kasa radiopak dijenuhkan dengan

eugenol dalam petrolatum putih.


c. Alvogyl: iodoform dapat memberikan efek antimikroba,
eugenol atau benzokain dapat memberikan efek analgesik dan
butamben dapat memberikan anastesi moderate yang efektif.
Catatan: kasa biasa berukuran atau inci digunakan dan dianjurkan
untuk pembalut obat-obatan. Iodoform tidak dianggap sebagai bahan
bakterisidal yang efektif dan mempunyai rasa yang sangat tidak enak.
g. Mengganti pembalut setiap 24-48 jam, dengan sebelumnya diirigasi
terlebih dahulu dengan larutan salin dan diperiksa lagi, tergantung
keparahan rasa sakit pasien.
h. Jika rasa sakit pasien sudah berkurang, kasa dapat dilepas untuk
mempercepat penyembuhan luka.
i. Setelah kasa dilepas, instruksikan pasien untuk menjaga kebersihan
rongga mulut dan pemberian obat non steroid anti inflamasi (NSAID)
analgesik, jika pasien tidak memiliki kontraindikasi terhadap obat
NSAID.
Tindak lanjut perawatan yang dapat dilakukan, yaitu apabila tidak
membaik dalam 5-7 hari, dilakukan rontgen karena diperkirakan terjadi
osteomielitis. Proses penyembuhan dinilai secara obyektif dan subyektif.
Penilaian obyektif diperoleh dari granulasi dengan epiteliasasi ulang yang
perlahan, sedangkan penilaian subyektif diperoleh dari berkurangnya rasa
sakit pasien. Apabila terlihat mengeluarkan nanah, maka diperlukan terapi
antibiotik dan kultur bakteri. Apabila terjadi persistensi yang
berkepanjangan yaitu sampai lebih dari 10 hari perlu mendapat perhatian
khusus, salah satunya dengan melakukan radiologi periapikal untuk
memastikan adanya osteomielitis. Gambaran radiologi osteomielitis yaitu
memperlihatkan adanya gambaran kabur pada batas lamina dura
(Pedersen, 2013).

10

DAFTAR PUSTAKA
Birn, H., 1973, Etiology and pathogenesis of fibrinolytic alveolitis (dry socket),
Int J Oral Surg, 2: 215-263.
Bowe, D. C., Rogers, S., Stassen L. F. A., 2011, The Management of Dry Socket/
Alveolar Osteitis, Journal of the Irish Dental Association, 57 (6): 305310.
Cadoso, C. L., Rodrigues, M. T., Ferreira, J. O., Garlet, G. P., de Carvalho, P. S.,
2010, Clinical Concepts of Dry socket. J Oral Maxillofac Surg,
68:1922-1932.
Catellani, J. E., Harvey, S., Erickson, H., Cherkin, D., 1980, Effect of Oral
Contraceptive Cycle on Dry Socket (Localised Alveolar Osteitis).
Journal of the American Dental Association, 101 (5): 777-780.
Larsen, P. E., 1992, Alveolar Osteitis After Surgical Removal of Impacted
Mandibular Third Molars. Identification of The Patient at Risk. Oral
Surg Oral Med Oral Pathol, 73 (4): 393-397.
11

Meechan, J. G., Macgregor, I. D. M., Rogers, S. N., Hobson, R. S., Bate, J. P. C.,
Dennison, M., 1988, The Effect of Smoking on Immediate PostExtraction Socket Filling with Blood and on The Incidence of Painful
Socket. British Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, 26 (5):
402-409.
Nitzan, D. W., 1983, On The Genesis of Dry Socket. J Oral Maxillofac Surg, 41:
706-710.
Pedersen, G. D., 2013, Buku Ajar Bedah Mulut (Oral Surgery), EGC, Jakarta.
Suryadi, I. A., Asmarajaya, A. A. G. N., Maliawan, S., 2013, Proses
Penyembuhan Luka, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana,
Denpasar.
Sweet, D. B., Butler, D. P., 1978, Predisposing and Operative Factors: Effect on
The Incidence of Localized Osteitis in Mandibular Third Molar
Surgery. Oral Surg Oral Med Pathol, 46(2):206-213.
Torres-Lagares D., Serera-Figallo M. A., Romero-Ruiz M. M., Infante-Cossio P.,
Garcia M., Gutierez-Perez J. L., 2005, Update on Dry Socket: a
Review of The Literature, Med Oral Patol Oral Cir Bucal, 10:81-85.

12