Anda di halaman 1dari 7

Pendidikan kesehatan apa yang dapat anda berikan pada masyarakat terkait penyakit

tropis dan infeksi dan jelaskan alasannya?

Pendidikan kesehatan terkait penyakit tropis


a. Faktor penyabaranya
1. Lingkungan
Merupakan faktor penting yang mempengaruhi dalam penyabaranya Lingkungan
terdiri dari faktor fisik dan non fisik.
Lingkungan fisik meliputi:
- Keadaan geografis
- Kelembaban udara
- Temperatur
- Lingkungan tempat tingga
Lingkungan non fisik, meliputi:
- Sosial (pendidikan, pekerjaan)
- Budaya (adat kebiasaan turun menurun)
- Ekonomi(kebijakan mikro dan kebijakan lokal)
- Politik (suksesi kepemimpinan yang mempengaruhi kebijakan pencegahan
dan penanggulangan suatu penyakit)
b. Penyebab
Faktor penyebab penyakit:
- Bahan kimia, mekanik, stress (Psikologis), dan biologis (infeksi bakteri,
virus,parasit,
Salah satu sifat agen penyakit adalah virulensi, virulensi merupakan kemampuan atau
keganasan suatu agen penyebab penyakit untuk menimbulkan kerusakan pada sasaran

c. orang yang berpotensi terkena penyakit


Hal yang perlu diperhatikan tentang horang yang berpotensi terkena penyakit
meliputi:
- Karakteristik (umur, jenis kelamin, pekerjaan, keturunan, ras, gaya hidup)
- gizi atau daya tahan
- pertahanan tubuh
d.Cara penularanya
1.Kontak Langsung (hubungan seks, kulit, varisela)
2. Udara (percikan ludah, dahak atau bersin)
3. Makanan dan Minuman
4. Vektor (nyamuk, pinjal, anjing, kucing, kera)

e. cara pencegahan dan penanggulanganya


1. Tindakan terpenting: memutus rantai penularan (menghentikan kontak penyebab
penyakit denganorang yang berpotensi )
2. Menitikberatkan penanggulangan faktor resiko

penyakit (lingkungan dan

perilaku)

Pendidikan Kesehatan menurut Jenis Penyakit Tropis


Pendidikan Kesehatan TBC
Pencegahan
1) Tahap pencegahan
Berkaitan dengan perjalanan alamiah dan peranan Agent, Host dan Lingkungan dari TBC,
maka tahapan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
a.

Pencegahan Primer
Dengan promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling efektif,
walaupun hanya mengandung tujuan pengukuran umum dan mempertahankan standar
kesehatan sebelumnya yang sudah tinggi.
Proteksi spesifik dengan tujuan pencegahan TBC yang meliputi ; (1) Imunisasi Aktif,
melalui vaksinasi BCG secara nasional dan internasional pada daerah dengan angka kejadian
tinggi dan orang tua penderita atau beresiko tinggi dengan nilai proteksi yang tidak absolut
dan tergantung Host tambahan dan lingkungan, (2) Chemoprophylaxis, obat anti TBC yang
dinilai terbukti ketika kontak dijalankan dan tetap harus dikombinasikan dengan pasteurisasi
produk ternak, (3) Pengontrolan Faktor Prediposisi, yang mengacu pada pencegahan dan
pengobatan diabetes, silicosis, malnutrisi, sakit kronis dan mental.

b. Pencegahan Sekunder
Dengan diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan kasus TBC
yang timbul dengan 3 komponen utama ; Agent, Host dan Lingkungan.
Kontrol pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan aplikasi modern
kemoterapi spesifik, walau terasa berat baik dari finansial, materi maupun tenaga. Metode
tidak langsung dapat dilakukan dengan indikator anak yang terinfeksi TBC sebagai pusat,
sehingga pengobatan dini dapat diberikan. Selain itu, pengetahuan tentang resistensi obat dan
gejala infeksi juga penting untuk seleksi dari petunjuk yang paling efektif.

Langkah kontrol kejadian kontak adalah untuk memutuskan rantai infeksi TBC,
dengan imunisasi TBC negatif dan Chemoprophylaxis pada TBC positif. Kontrol lingkungan
dengan membatasi penyebaran penyakit, disinfeksi dan cermat mengungkapkan investigasi
epidemiologi, sehingga ditemukan bahwa kontaminasi lingkungan memegang peranan
terhadap epidemi TBC. Melalui usaha pembatasan ketidakmampuan untuk membatasi kasus
baru harus dilanjutkan, dengan istirahat dan menghindari tekanan psikis.
c.

Pencegahan Tersier
Rehabilitasi merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan
diagnosis kasus berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara psikis,
rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien, kemudian rehabilitasi
pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya, pelayanan kesehatan kembali dan
penggunaan media pendidikan untuk mengurangi cacat sosial dari TBC, serta penegasan
perlunya rehabilitasi.

2). Pengobatan
Pengobatan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan tahap lanjutan.
Lama pengobatan 6-8 bulan, tergantung berat ringannya penyakit. Penderita harus minum
obat secara lengkap dan teratur sesuai jadwal berobat sampai dinyatakan sembuh. Dilakukan
tiga kali pemeriksaan ulang dahak untuk mengetahui perkembangan kemajuan pengobatan,
yaitu pada akhir pengobatan tahap awal, sebulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir
pengobatan.

Cara penularan
TB menular melalui udara, sewaktu pasien batuk, bersih, meludah atau berbicara
kuman keluar melalui percikan dahaknya. Kuman tersebut terhirup oleh orang sekitarnya. TB
tidak menular lewat transfusi darah, air susu ibu dan alat makan dan minum yang telah
dicuci.
DIARE
Cara pencegahan

1. Mencuci tangan setelah buang air besar, sebelum memasak, mengolah makanan dan
makan, sebelum memberi makan pada anak-anak.
BAB pada tempatnya.
Jangan makan di sembarang tempat.
Menggunakan air matang untuk minum.
Memperkuat daya tahan tubuh : ASI minimal 2 tahun pertama, meningkatkan status

2.
3.
4.
5.

gizi,dan imunisasi.
6. Meletakkan makanan di tempat tertutup
HEPATITIS
Hepatitis A
Pencegahan :
Untuk menghindari terjangkitnya virus Hepatitis A maka di sarankan sebagai berikut :

Diharapkan agar menjaga higene sanitasi lingkungan dan pribadi.


Menjaga higene makanan dan minuman.
Menghindari kontak lansung dengan penderita (dari orang ke orang)
Menghindari mengunakan bekas peralatan makan dan minum penderita, betukar
sikat gigi, bekas pisau cukur penderita, suka makan bersama dalam satu wadah dan

berhubungan seks secara bebas.


Menghindari kontak oral anal pada kelompok homoseksual.
Menghindari pemakaian peralatan yang terkontaminasi virus hepatitis A, seperti

jarum suntik.
Sebelum melakukan transfusi darah harus di lakukan pemeriksaan Hepatitis terhadap

pendonor.
Melakukan upaya pencegahan dengan imunisasi.

Cara Penularan
Penularan hepatitis A yang dominan adalah melalui route fekal oral dan umumnya
penularan dari orang ke orang (kontak lansung), makanan atau minuman yang
terkontaminasi feses misalnya buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau setengah
masak dan makanan kerang yang terinfeksi oleh air limbah di laut.. Mereka yang
biasanya mengunakan bekas peralatan makan dan minum penderita, betukar sikat gigi,
bekas pisau cukur penderita, suka makan bersama dalam satu wadah dan berhubungan
seks secara bebas adalah orang - orang berisiko tinggi terinfeksi HAV. Secara umum

model penularan hepatitis A melalui kontak seksual kurang dari 5%. Hal ini dapat
terjadi pada kelompok homoseksual pria melalui kontak oral anal. HAV jarang
ditularkan melalui jarum suntik yang terkontaminasi atau melalui darah yang tercemar
virus. Hemodialisis tidak
berperan dalam penyebaran infeksi Hepatitis A pada penderita atau staf rumah sakit.
Prevalensi anti-HAV pada mereka yang mendapatkan transfusi darah berulang kali atau
yang tidak sengaja terinokulasi dengan peralatan yang terkontaminasi dengan darah
sipenderita HAV kurang dari 5%.
Hepatitis b
Cara penularan
Penularan virus hepatitis B dapat melalui berbagai cara:
1. melalui kulit (perkutan)
2. melalui selaput lendir (peroral, seksual) atau penularan antara satu orang keorang
lain yang sederajat.penularan dengan cara tersebut diatas dikenal dengan istilah
penularan horizontal
3. masa persalinan (perinatal) penularan dari ibu keanaknya pada masa perinatal
dinamakan juga penularan vertikal.
Pencegahan
Vaksinasi hepatitis B
Vaksin merupakan zat (antigen) yang jika disuntikkan kedalam tubuh kita dapat
merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap antigen
tersebut.
Sesungguhnya masuk, maka dengan gesit system kekebalan tubuh dapat
melawan dan membasminya. Hasilnya tubuh kita terhindar dari hepatitis B.
HBsAg yang terdapat dalam vaksin hepatitis B ini dapat dipeeroleh dari berbagai
sumber. Ada yang mengamblnya dari serum darah penderita (karier) hepatitis B yang
memang kaya akan HBsAg. Tapi, ini tidak bias dipakai langsung, karena masih
mengandung virus HBV yang ganas. Ke dalam otot maupun bawah kulit. Sebulan
setelah suntika ketiga umumnya sudah dapat ditemukan anti HBs didalam darah, salah

satu tanda tubuh sudah mengenal dan dapat melawan seandainya ada virus hepatitis B
masuk menyerang.
Jika kadar anti HB situ masih kurang dari sekitar 100m IU/ml darah, vasinasi
penguat (booster) perlu disuntikkan lagi sampai kadar zat anti HBs cukup tinggi.
Sesudah itu tiap dua tahun perlu dicek kadar zat anti HBs, jika sudah berkurang,
mungkin perlu disuntikkan booster lagi, terutama mereka yang tergolong beresiko
tinggi.
RABIES
Cara Penularan Rabies
Air liur hewan positif rabies yang mengandung virus menularkan virus melalui
gigitan atau cakaran. Sekitar 70 % anjing yang tertular rabies mengandung virus di
dalam salivanya. Meskipun jarang, infeksi juga dapat terjadi lewat kulit yang lecet
atau konjungtiva yang kontak lewat saliva. Pada gua kelelawar yang mengandung
Utaravirus rabies dalam jumlah sangat tinggi, penyebaran melalui udara pernah
dilaporkan terjadi. Penularan rabies melalui transplantasi organ (kornea) dari orang
yang meninggal karena penyakit sistem saraf pusat yang tidak terdiagnosa
sebelumnya kemungkinan dapat menularkan rabies kepada penerima organ tadi.
Meningitis
Pencegahan
Vaksin Haemophillus influenza tipe B (Hib) saat ini direkomendasikan sebagai
bagian rutin dari vaksin pada anak. Vaksin meningokokkus direkomendasikan pada keadaan
terjangkitnya penyakit, untuk mereka yang melakukan perjalanan di negara yang mengalami
penyakit endemik atau epidemik, meliputi mereka yang pernah mengalami spelenektomi.
Selain itu, petugas kesehatan masyarakat secara umum meresepkan antibiotik profilaksis
untuk pengurus rumah yang anggota keluarganya terjangkit H. Influenza atau meningitis
meningokokkus.
Tujuan profilaksis ini adalah untuk eradikasi pembawa orofaring dari organisme
ini untuk menurunkan risiko terjadinya meningitis. Vaksin pneumokokkus direkomendasikan
untuk pasien dengan supresi imun, orangtua dengan penyakt kronik seperti diabetes, mereka
yang lebih dari 65 tahun dan mereka dengan infek si HIV.
Individu yang kontak langsung dengan pasien harus dipertimbangkan akan
menerima antimikroba profilaksis (rifampin). Kontak langsung diobservasi dan diperiksa

secara langsung bila demam atau tanda dan gejala meningitis lain yang berkembang.
Vaksin

meningokokus

yang

telah

diizinkan

di

Amerika

Serikat mencakup

polisakarida grup A, C, W135 dan Y, dan digunakan terutama dalam perekrutan militer.
Vaksin ini mungkin menguntungkan bagi beberapa pelancong yang mengunjungi daerah yang
mengalami epidemik penyakit meningokokus. Vaksinasi juga harus dipertimbangkan sebagai
tambahan antibiotik kemoprofilaksis untuk beberapa orang yang tinggal dengan pasien yang
mengalami infeksi meningokokus.
Vaksin polisakarida (Haemophillus b polysaccharide vaccine) melawan masuknya
Haemophillus influenzae tipe b yang telah diizinkan penggunaanya di Amerika Serikat dan
sekarang digunakan rutin untuk pencegahan meningitis pada pediatrik. (Widoyo, 2005 )
Sumber : Widoyo, 2005, Penyakit tropis, epidemiologi, penularan, pencegahan dan
pemberantasannya, Penerbit Erlangga
http://web.unair.ac.id/admin/file/f_20025_7j.pdf ( diakses pada tanggal 15
November 2014 )