Anda di halaman 1dari 9

Nama Peserta : Bumi Zulheri Herman

Nama Wahana : RSUD Massenrempulu Enrekang


Topik : Kejang Demam Sederhana
Tanggal (kasus) : 8 Maret 2015
Nama Pasien : An Putra Wiryawan Hisyam

No. RM : 067363

Tanggal Presentasi : 1 Mei 2015

Nama Pendamping : Dr. Hj. Nurhidayati M.Kes

Tempat Presentasi : Aula RSUD Massenrempulu


Obyektif Presentasi :

Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Neonatus

Deskripsi : Seorang anak laki laki usia 4 tahun datang dengan demam didahului kejang

Tujuan : Menegakkan diagnosis kejang demam sederhana dan melakukan penanganan awal dan lanjutan

Bahan bahasan:

Tinjauan Pustaka

Cara membahas:

Diskusi

Data pasien :

Nama: An. Putra Wiryawan Hisyam

Riset
Presentasi dan
diskusi

Kasus

Audit

Email

Pos

Nomor Registrasi : 067363

Bumil

Nama klinik : RSUD Massenrempulu

Telp :

Terdaftar sejak : Maret 2015

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/Gambaran Klinis: Pasien dibawa ke RSUD Massenrempulu dengan keluhan kejang didahului demam dialami sejak 1 jam
sebelum masuk rumah sakit, kejang diperhatikan pada seluruh tubuh tampak kaku kelonjotan. Frekuensi kejang satu kali dan durasi
kurang dari 5 menit. Demam dialami sejak 2 hari sebelum masuk UGD naik turun dan berespon dengan penurun panas. Menggigil (-)
batuk (-) sesak (-) Mual (+) muntah (-) BAB dan BAK kesan cukup
2. Riwayat Pengobatan: Riwayat pengobatan sebelumnya hanya parasetamol syrup 3x1 sendok teh
3.

Riwayat kesehatan/Penyakit: - Status gizi baik


- Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (-)
- Riwayat trauma kepala (-)
4. Riwayat keluarga: Riwayat penyakit serupa dalam keluarga disangkal
5.

Riwayat pekerjaan: -

6.

Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN) : Pasien tinggal dalam lingkungan yang sehat

7.

dengan sanitasi baik


Lain lain (-)

Daftar Pustaka:
a. Mansjoer, A., dkk. Kejang Demam. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2000 : 434-437
b. ocw.usu.ac.id/course/...brain.../bms166_slide_kejang_demam.pdf
c. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/02/kejang_pada_anak.pdf
Hasil Pembelajaran:

1
2
3

Menegakkan diagnosis kejang demam


Melakukan tatalaksana awal
Manajemen tatalaksana lanjutan

RANGKUMAN PEMBELAJARAN PORTOFOLIO


1. Subjective
Pasien dibawa ke RSUD Massenrempulu dengan keluhan kejang didahului demam dialami sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit,
kejang diperhatikan pada seluruh tubuh tampak kaku kelonjotan. Frekuensi kejang satu kali dan durasi kurang dari 5 menit. Demam
dialami sejak 2 hari sebelum masuk UGD naik turun dan berespon dengan penurun panas. Menggigil (-) batuk (-) sesak (-) Mual (+)
muntah (-) BAB dan BAK kesan cukup
2. Objective
Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh, N = 125 kali/menit, P = 32 kali/menit, S = 38.8 C.
Kepala
: bibir sianosis (-), tanda-tanda trauma (-)
Leher
: Nyeri tekan (-), Massa tumor (-), kaku kuduk (-) tanda brudzinski (-) Faring tampak hiperemis
Dada
: dalam batas normal
Jantung
: Dalam batas normal
Abdomen : dalam batas normal
Ekstremitas : dalam batas normal
Genital
: tidak ada kelainan
3. Assessment
Kejang merupakan suatu manifestasi klinis yang sering dijumpai di ruang gawat darurat. Hampir 5% anak berumur di bawah 16
tahun setidaknya pernah mengalami sekali kejang selama hidupnya. Kejang penting sebagai suatu tanda adanya gangguan neurologis.
Keadaan tersebut merupakan keadaan darurat. Kejang mungkin sederhana, dapat berhenti sendiri dan sedikit memerlukan pengobatan
lanjutan, atau merupakan gejala awal dari penyakit berat, atau cenderung menjadi status epileptikus.Tatalaksana kejang seringkali tidak
dilakukan secara baik. Karena diagnosis yang salah atau penggunaan obat yang kurang tepat dapat menyebabkan kejang tidak

terkontrol, depresi nafas dan rawat inap yang tidak perlu. Langkah awal dalam menghadapi kejang adalah memastikan apakah gejala
saat ini kejang atau bu kan. Selanjutnya melakukan identifikasi kemungkinan penyebabnya.
Kejang Demam
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 38C) yang disebabkan oleh
suatu proses ekstrakranium. Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures (1980), kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau
anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pemah terbukii adanya infeksi intrakranial
atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam
harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.
Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf seperti meningitis, ensefalitis atau ensefalopati. Kejang pada
keadaan ini mempunyai prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadaan yang mendasarinya mengenai sistem susunan saraf
pusat. Dahulu Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan, yaitu kejang demam sederhana (simple febrile convulsion) dan
epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsi triggered of by fever). Defmisi ini tidak lagi digunakan karena studi prospektif
epidemiologi membuktikan bahwa risiko berkembangnya epilepsi atau berulangnya kejang tanpa demam tidak sebanyak yang
diperkirakan.
Akhir-akhir ini, kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan, yaitu kejang demam sederhana, yang berlangsung kurang dari 15
menit dan umum, dan kejang demam kompleks, yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal, atau multipel (lebih dari 1 kali kejang dalam
24 jam). Di sini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurologi atau riwayat kejang demam atau kejang tanpa demam dalam
keluarga.
Epidemiologi.

Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Di Asia dilaporkan lebih tinggi.
Kira-kira 20% kasus merupakan kejang demam kompleks. Umumnya kejang demam timbul pada tahun kedua kehidupan (17-23 bulan).
Kejang demam sedikit lebih sering pada laki-laki.
Faktor Risiko
Faktor risiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Selain itu terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang tua
atau saudara kandung, perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah.
Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi atau lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3
kali rekurensi atau lebih, Risiko rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur
yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi.
Etiologi
Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi saluran pemapasan atas, otitis media, pneumonia,
gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang demam yang tidak begitu
tinggi dapat menyebabkan kejang.
Manifestasi Klinis
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonik-klonik bilateral. Bentuk kejang yang lain
dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului
kekakuan, atau hanya sentakan atau kekakuan fokal. Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8%
berlangsung lebih dari 15 menit. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk
sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti

hemiparesis sementara (hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat
diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang
pertama. Pada bayi-bayi kecil seringkali gejala meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang
dari 6 bulan, dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan. Elektroensefalografi (EEG) ternyata kurang mempunyai nilai
prognostik. EEG abnormal tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi atau kejang demam berulang di
kemudian hari. Saat ini pemeriksaan EEG tidak dianjurkan untuk pasien kejang demam sederhana. Pemeriksaan laboratorium rutin tidak
dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi.
Diagnosis Banding
Penyebab lain kejang yang disertai demam harus disingkirkan, khususnya meningitis atau ensefalitis. Pungsi lumbal terindikasi bila
ada kecurigaan klinis meningitis. Adanya sumber infeksi seperti otitis media tidak menyingkirkan meningitis dan jika pasien telah
mendapatkan antibiotika maka perlu pertimbangan pungsi lumbal.
Penatalaksanaan
Ada 3 hal yang perlu dikerjakan, yaitu: (1) pengobatan fase akut; (2) mencari dan mengobati penyebab; dan (3) pengobatan profilaksis
terhadap berulangnya kejang demam.
1. Pengobatan fase akut. Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkah untuk mencegah aspirasi ludah atau
muntahan. Jalan napas harus bebas agar oksigenisasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu,
pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air dingin dan pemberian antipiretik.

Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan intravena atau intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,30,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg. Bila kejang berhenti sebelum diazepam habis,
hentikan penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut. Bila diazepam intravena tidak tersedia atau
pemberiannya sulit, gunakan diazepam intrarektal 5 mg (BB < 10 kg) atau 10 mg (BB > 10 kg). Bila kejang tidak berhenti dapat diulang
selang 5 menit kemudian. Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan 1
mg/kgBB/menit. Setelah pemberian fenitoin, hams dilakukan pembilasan dengan NaCl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan
menyebabkan iritasi vena. Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital diberikan langsung setelah kejang
berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan-1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun ke atas 75 mg secara intramuskular. Empat jam kemudian
berikan fenobarbital dosis rumat. Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk bari-hari
berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama keadaan belum membaik, obat diberikan secara suntikan dan setelah
membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total tidak melebihi 200 mg/hari. Efek sampingnya adalah hipotensi, penurunan kesadaran,
dan depresi pernapasan. Bila kejang berhenti dengan fenitoin, lanjutkan fenitoin dengan dosis 4-8 mg/kgBB/ hari, 12-24 jam setelah
dosis awal.
2.

Mencari dan mengobati penyebab. Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis,
terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus
yang dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila ada gejala meningitis atau bila kejang demam berlangsung lama.

3. Pengobatan profilaksis. Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten saat demam dan (2) profilaksis terus-menerus dengan
antikonvulsan setiap hari.
Untuk profilaksis intermiten diberikan diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis saat pasien
demam. Diazepam dapat pula diberikan secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg (BB < 10 kg) dan 10 mg (BB > 10 kg) setiap pasien
menunjukkan suhu lebih dari 38,5C. Efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk, dan hipotonia. Profilaksis terus-menerus

berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah
terjadinya epilepsi di kemudian hari. Profilaksis terus-menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5 mg/ kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis terus menerus
diberikan selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan.
Profilaksis terus-menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau 2) yaitu:
1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau perkembangan (misalnya serebral palsi atau mikrosefal).
2. Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologis sementara atau menetap.
3. Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung.
4. Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multipel dalam satu epidose demam.
Bila hanya memenuhi satu kriteria saja dan ingin memberikan pengobatan jangka panjang, maka berikan profilaksis intermiten yaitu
pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau rektal tiap 8 jam di samping antipiretik.
Prognosis
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan kematian. Frekuensi berulangnya kejang
berkisar antara 25-50%, umumnya terjadi pada 6 bulan pertama. Risiko untuk mendapatkan epilepsi rendah.

4. Plan
Diagnosis

: Kemungkinan keluhan pada pasien akibat mengalami Kejang demam Sederhana dengan sumber infeksi ekstrakranial
berasal dari faring. Upaya diagnosis sudah optimal.

Pengobatan :

Oksigen 1 lpm via nasal kanul


IVFD D5% 16 tpm
Injeksi diazepam 3,9 mg per IV bolus pelan bila kejang
Parasetamol drips 13 cc / 8 jam intra vena
Cefotaxime 650 mg/12 jam/IV
Kompres NaCl 0,9%

Pendidikan :
-

Kepada pasien dan keluarganya dijelaskan penyebab timbulnya kejang dan bagaimana cara memberikan obat antipiretik sederhana
karena kejang ini didahului oleh demam serta mencegah infeksi yang mungkin memicu terjadinya kejang

Konsultasi : Kegiatan
Kontrol post opname

Periode
Hasil yang diharapkan
Tiga hari setelah pulang dari rumah sakit, - Kejang tidak muncul lagi dan orang tua
dan jika diperlukan kunjungan lagi tiga
memahami penangan awal bila anaknya
hari berikutnya
menderita demam