Anda di halaman 1dari 11

BAB 10 KOMPENSASI EKSEKUTIF

OVERVIEW
Executive compensation plan adalah sebuah
kontrak agensi antara perusahaan dan
managernya yang berusaha untuk
menyelaraskan kepentingan masing-masing
yang berdasarkan kompensasi manager pada
satu atau lebih pengukurannya yang diukur
dari kinerja manager dalam mengoperasikan
perusahaan.

ARE INCENTIVE CONTRACTS


NECESSARY?
Fama (1980) berargumen bahwa kontrak insentif tidak
diperlukan, karena manajerial pasar tenaga kerja mengatur
moral hazard dengan pengawasan secara internal.
Arya, Fellingham dan Glover (1997), masing-masing
manager mementingkan penambahan pendapatan atas
andil mereka, dan memikirkan utilitas marginal mereka
sebaik ketika manager lain memutuskan langkah
memungkinkan untuk selanjutnya, sehingga morald hazard
berkurang
Wolfson (1985), menyatakan perlu, dikarenakan walaupun
kekuatan pasar dapat menurunkan problema moral hazard
manajer, tetapi tidak bisa mengeliminasinya, pasar tenaga
kerja juga tidak secara efektif penuh mengontrol moral
hazard.

MANAGERIAL COMPENSATION PLAN


Jangka pendek berdasarkan pada performa
perusahaan dan pemikiran eksekutif sendiri.
Semakin rendah peringkat eksekutif, semakin
rendah performa perusahaan yang bertumpu
pada insentif jangka pendek
Kompensasi jangka panjang di BCE terdiri dari
opsi saham dan unit saham, yang didasarkan
pada nilai pasar..

THE THEORY OF EXECUTIVE


COMPENSATION
Teori executive compensation menggambarkan
bahwa terdapat beberapa aspek sebagai
pertimbangan ketika membuat suatu rencana
kompensasi, diantaranya adalah efisiensi,
harga saham vs net income akuntansi, agency
costs, keputusan horizontal, dan risiko.

EMPIRICAL COMPENSATION
RESEARCH
Rajgopal & Shevlin
Rencana kompensasi riil di desain seperti yang disarankan teori

Lambert & Larcker (1987)


Variabel akuntansi tidak terlihat menjelaskan komponen opsi
kompensasi manajer
Walau hadiah insentif jangka pendek didasarkan pada
pencapaian individual & Laba bersih, hadiah opsi saham tidak
demikian

Baber, Kang & Kumar (1999)


Komite kompensasi menilai laba persisten lebih tinggi untuk
tujuan kompensasi daripada laba dari harga yang tidak relevan

Indjejikian & Nanda (2002)


Kompensasi insentif berbasis akuntansi akan menjadi lebih
besar relatif pada bentuk lain kompensasi kerancuan (noice)
lebih rendah dalam laba

THE POLITICS OF EXECUTIVE


COMPENSATION
Jensen dan Murphy (1990) melakukan penelitian
untuk menentukan apakah CEO dibayar lebih
atau tidak, korelasi antara kinerja CEO dan
kompensasi sangat rendah. Kemudian diketahui
bahwa CEO tidak memiliki cukup risiko yang
melekat dalam rencana kompensasi mereka
untuk memotivasi perilakunya.
Secara keseluruhan, di dunia nyata kinerja
manajemen berkorelasi positif dengan
kompensasi, bukti empiris menunjukkan bahwa
korelasi sangat rendah.

THE POWER OF THEORY EXECUTIVE


COMPENSATION
Bebchuk, Fried, dan Walker (2002)
berpendapat bahwa manajer memiliki
kekuatan yang cukup untuk mempengaruhi
kompensasi mereka sendiri dan juga mereka
menggunakan kekuatan ini untuk
menghasilkan pembayaran exessive, dengan
mengorbankan nilai pemegang saham

THE SOCIAL SIGINIFICANCE OF


MANAGERIAL LABOUR MARKETS
THAT WORK WELL
Lebih banyak pengukuran kinerja yang informatif
memungkinkan kontrak kompensasi yang lebih
efisien, pelayanan dalam pelaporan yang lebih
baik, operasional yang lebih baik dari manajerial
pasar tenaga kerja, melaporkan kenaikan
produktivitas perusahaan dan kesejahteraan
sosial. Akuntan bisa berkontribusi dalam keinformasian dengan suatu kelayakan pertukaran
antara sensitivitas dan ketepatan dari net income
dan full disclosure.

CONCLUSION ON EXECUTIVE
COMPENSATION
Secara keseluruhan, rencana kompensasi
harus efisien, memiliki proporsi dari laba
bersih dan harga saham sebagai dasar untuk
mengukur kinerja manajemen dan untuk
mempromosikan cakrawala keputusan
tertentu dan harus melibatkan risiko, sambil
mempertimbangkan biaya agensi yang terlibat
dalam membuat rencana kompensasi itu
sendiri.