Anda di halaman 1dari 115
PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN

1

II. KONSEP DASAR LIGHTNING ARRESTER

2

2.1

Sejarah Teknologi Lightning Arrester

2

2.1.1

Periode 1892-1908: Sela Udara Air Gaps dengan Modifikasi

2

2.1.2

Periode 1908-1930: Nonlinear Resistors, Puncturing & Reforming Film

4

2.1.3

Periode 1920-1930: Arrester dengan Lapisan Film Oksida

4

2.1.4

Periode 1930-1954: Resistor Non Linier SiC dengan Gap Nonactive

4

2.1.5

Periode 1954-1976: Resistor Non Linier SiC dengan Active Gaps

5

2.1.6

Periode 1976-sekarang: Zinc Oxide Arresters

5

2.2

Standar Internasional

7

2.3

Konsep Dasar Lightning Arrester

8

2.3.1

Ragam Over Voltage (Tegangan Lebih)

8

2.3.2

Resistor SiC (Silicon Carbide) dan ZnO (Zinc Oxide)

9

2.3.3

Parameter Arrester Metal Oksida

10

2.3.4

Pertimbangan Pemasangan Arrester

12

2.3.5

Proses Gelombang Berjalan

13

2.3.6

Drop Tegangan Induktif

15

2.3.7

Discharge Current Lebih Tinggi daripada Nominal

15

2.4

Desain Konstruksi Metal Oksida

17

2.5

Konfigurasi Lightning Arrester

23

2.5.1

Pemilihan Nilai Tegangan Operasi Kontinu dan Tegangan Rated

26

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

2

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.5.2

Pemilihan Nilai Nominal Discharge Current

28

2.5.3

Pemilihan Line Discharge Class

29

2.5.4

Pemilihan dan Review Level Proteksi

31

2.5.5

Pemilihan Housing/ Kompartemen

33

2.5.6

Kondisi Operasi

38

2.6

Ragam Lightning Arrester

38

2.6.1

Berdasarkan Level Tegangan Peralatan yang dilindungi

38

2.6.2

Berdasarkan Letak Pemasangan

39

2.7

FMEA Lightning Arrester

42

2.7.1

Sub Sistem Pemotong Surja

42

2.7.2

Sub Sistem Isolasi

42

2.7.3

Sub Sistem Counter & Meter Petunjuk

43

2.7.4

Sub Sistem Pentanahan

44

2.7.5

Sub Sistem Pengaman Tekanan Lebih Internal

44

2.7.6

Sub Sistem Konstruksi Penyangga

46

2.7.7

Sub Sistem Konektor

46

2.7.8

Sub Sistem Asesoris

47

FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA)

48

III.

PEDOMAN PEMELIHARAAN LIGHTNING ARRESTER

54

3.1

Pemeliharaan Preventif

54

3.2

Pemeliharaan Rutin

55

3.2.1

In Service Visual Inspection

56

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

3

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

3.2.2

Shutdown Function Check

61

3.3

Predictive Maintenance

62

3.3.1

In Service Measurement

63

3.3.1.1

Pengukuran Thermovisi

63

3.3.1.2

Pengujian Korona

67

3.3.1.3

Pengukuran Arus Bocor Resistif dengan LCM

70

3.3.1.3.1

Model MOSA

71

3.3.1.3.2

Metode 1: Pengukuran Arus Bocor Total

73

3.3.1.3.3

Metode 2: Pengukuran Arus Bocor Resistif Langsung

73

3.3.1.3.4

Metode 3: Analisis Harmonisa Arus Bocor

74

3.3.1.3.5

Metode 4: Analisis Harmonisa Orde Ke-3 dengan Kompensasi

75

3.3.1.3.6

Konsep Pengukuran

76

3.3.1.3.7

Konsep Perhitungan

77

3.3.1.3.8

Alat Uji LCM II

80

3.3.1.3.9

Pengukuran dengan Alat Uji LCM II

82

3.3.1.4

Pengukuran Arus Bocor Total menggunakan CT Clip ON

83

3.4

Shutdown Measurement

83

3.4.1

Pengukuran Wattloss menggunakan Tan Delta

83

3.5

Pengukuran Tahanan Isolasi (Megger)

87

3.6

Corrective Maintenance

90

3.6.1

Planned Corrective Maintenance

90

3.6.2

Unplanned Corrective Maintenance

90

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

4

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

IV

EVALUASI HASIL PEMELIHARAAN LIGHTNING ARRESTER

91

4.1

Standar Evaluasi Hasil Pemeliharaan LA

92

4.2

Evaluasi Hasil Inspeksi Level-1

93

4.3

Evaluasi In-Service Measurement

97

4.3.1

Pengukuran Thermovisi

97

4.3.2

Pengukuran Korona

98

4.3.3

Pengukuran Watt Loss menggunakan Alt Uji Tan Delta

99

4.3.4

Pengukuran LCM

100

4.3.4.1

Proses Pembacaan Data Hasil Ukur

100

4.3.4.2

Kurva Koreksi

100

V

REKOMENDASI

103

5.1

Rekomendasi Hasil Pemeliharaan Rutin

103

5.2

Evaluasi In-Service Measurement

105

5.2.1

Rekomendasi Hasil Pengukuran Tan Delta (Watt Loss)

106

5.2.2

Rekomendasi Hasil Pengukuran LCM

106

5.2.1

Rekomendasi Hasil Pengukuran Tan Delta (Watt Loss)

106

5.2.1

Rekomendasi Hasil Pengukuran Tan Delta (Watt Loss)

106

DAFTAR ISTILAH

DAFTAR PUSTAKA

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

5

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

BAB 1

PENDAHULUAN Dalam Perusahaan Tenaga Listrik pemeliharaan sarana instalasi memegang peranan

sangat penting dalam menunjang kualitas dan keandalan penyediaan tenaga listrik kepada

konsumen. Pemeliharaan sarana instalasi adalah salah satu proses kegiatan yang bertujuan

menjaga kondisi peralatan, sehingga dalam pengoperasiannya peralatan dapat selalu

berfungsi sesuai dengan karakteristik desainnya.

Selama ini pemeliharaan sarana instalasi listrik yang dilaksanakan di PT PLN (Persero)

mengacu pada Buku Pedoman Pemeliharaan Sistem Tenaga Tahun 1984 sesuai SE_032

/PST/1984 beserta revisi-revisinya dan petunjuk pemeliharaan pada manual books masing-

masing peralatan yang masih menggunakan pola Pemeliharaan Berbasis Waktu (Time

Based Maintenance). Seiring dengan perjalanan waktu, perkembangan teknologi dan

dimulainya penerapan pola Pemeliharaan Berbasis Kondisi (Condition Based Maintenance)

di PT PLN (Persero), maka dirasa perlu adanya Buku Pedoman Pemeliharaan dan Asesmen

Kondisi Peralatan Sistem Tenaga baru yang dapat mengakomodasi perubahan-perubahan

yang terjadi.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

6

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Buku Pedoman Pemeliharaan dan Asesmen Kondisi Peralatan Sistem Tenaga ini mencakup Komponen dan Fungsi Peralatan, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), Pedoman Pemeliharaan SUTT & SUTET dan Evaluasi Hasil Pemeliharaan sebagai dasar asesmen kondisi peralatan serta Rekomendasi untuk acuan tindak lanjut kondisi peralatan. Dengan terbitnya buku ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari kegiatan pemeliharaan itu sendiri serta merubah pola pemeliharaan di PT PLN (Persero) yang tadinya menggunakan Time Based Maintenance 80% dan Corrective Maintenance 20% menjadi pola pemeliharaan yang menggunakan Time Based Maintenance 40%, Condition Based Maintenance 50% dan Corrective Maintenance 10% sehingga mempunyai nilai lebih untuk menjadi sistem pemeliharaan yang berstandar nasional.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

7

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

BAB 2

KONSEP DASAR LIGHTNING ARRESTER

Surge Arrester merupakan peralatan yang didesain untuk melindungi peralatan lain dari tegangan surja (baik surja hubung maupun surja petir) dan pengaruh follow current. Sebuah arrester harus mampu bertindak sebagai insulator, mengalirkan beberapa miliampere arus bocor ke tanah pada tegangan sistm dan berubah menjadi konduktor yang sangat baik, mengalirkan ribuan ampere arus surja ke tanah, memiliki tegangan yang lebih rendah daripada tegangan withstand dari peralatan ketika terjadi tegangan lebih, dan menghilangan arus susulan mengalir dari sistem melalui arrester (power follow current) setelah surja petir atau surja hubung berhasil didisipasikan.

2.1 Sejarah Teknologi Lightning Arrester

Sejak sistem listrik AC mulai diimplementasikan sekitar 100 tahun lalu di saluran transmisi, teknologi proteksi petir sudah mulai dikembangkan, mulai dari teknologi yang hanya memanfaatkan sela udara (gap), kemudian berkembang dengan memanfaatkan kombinasi antara sela udara dan resistor non linear, serta yang terakhir menggunakan resistor non linear tanpa gap (teknologi terakhir ini mulai diimplementasikan mulai 20 tahun silam). Mayoritas Arrester pada Sistem Transmisi di PLN saat ini telah menggunakan arrester dengan teknologi terakhir yg memanfaatkan keping ZnO tanpa gap.

Perkembangan teknologi Arrester dapat dilihat sebagai berikut:

1892

– 1908

: Penggunaan Air Gaps

1908

– 1930

: Multiple gaps dengan resistan

1920

– 1930

: Lead Oxide dengan resistor

1930

– 1960

: Passive Gapped Silicon Carbide

1960

– 1982

: Active Gapped Silicon Carbide

1976

– skrg

: MOSA tanpa gap

1985

– skrg

: MOSA tanpa gap dengan polymer housings

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

8

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.1.1 Periode 1892 - 1908: Sela Udara Air Gaps dengan Modifikasi

Proteksi selama periode awal ini hanya menggunakan sela udara sederhana dari line ke

ground. Gap dapat didesain agar terjadi spark over pada tegangan yang cukup rendah untuk

menyediakan perlindungan petir yang baik, tanpa tegangan discharge. Akan tetapi, sela

udara tidak mampu menghilangkan power follow current kecuali sebuah resistansi dipang

seri untuk membatasi magnitude arus dan meningkatkan nilai power factor dari sirkuit

interrupting. Sekalipun demikian, sela udara membutuhkan operasi CB atau fuse untuk

memadamkan power follow current.

Beberapa pengembangan teknologi dilaksanakan pada periode ini, dimana dikembangkan

apa yang dinamakan dengan elektroda-elektroda “nonarcing” terbuat dari tembaga atau

brass, dan pengembangan multiple gap dengan bertingkat; walau demikian derajat

pengamanan petir terbatasi oleh erratic sparkovers yang tergantung pada tekanan udara

dan kelembaban, dan follow current yang besar menghasilkan erosi pada elektroda-

elektroda.

yang besar menghasilkan erosi pada elektroda- elektroda. Gambar 1. Multi Spark Air Gap Proteksi selama periode

Gambar 1. Multi Spark Air Gap

Proteksi selama periode awal ini hanya menggunakan sela udara sederhana dari line ke

ground. Gap dapat didesain agar terjadi spark over pada tegangan yang cukup rendah untuk

menyediakan perlindungan petir yang baik, tanpa tegangan discharge. Akan tetapi, sela

udara tidak mampu menghilangkan power follow current kecuali sebuah resistansi dipasang

seri untuk membatasi magnitude arus dan meningkatkan nilai power factor dari sirkuit

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

9

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

interrupting. Sekalipun demikian, sela udara membutuhkan operasi CB atau fuse untuk

memadamkan power follow current.

Beberapa pengembangan teknologi dilaksanakan pada periode ini, dimana dikembangkan

apa yang dinamakan dengan elektroda-elektroda “nonarcing” terbuat dari tembaga atau

brass, dan pengembangan multiple gap dengan bertingkat; walau demikian derajat

pengamanan petir terbatasi oleh erratic sparkovers yang tergantung pada tekanan udara

dan kelembaban, dan follow current yang besar menghasilkan erosi pada elektroda-

elektroda.

2.1.2

Periode 1908 - 1930: Nonlinear Resistors berdasarkan Puncturing dan

Reforming Film Arrester yang pertama kali menggunakan elemen valve nonlinear adalah sel alumunium, pertama diperkenalkan di tahun 1908. Sebuah arrester sel alumunium comprised bola atau horn gap dipasang seri dengan tanki yang berisi sel alumunium. Setiap sel memiliki level tegangan 300 Volt. Elektrolit ditabur di dalam cone untuk memishkan antar sel, beberapa cone dimasukkan ke dalam tanki berisi minyak. Lapisan film yang berada di dalam plat dapat punctured oleh lightning discharge, namun akan membentuk kembali atau “heal” rapidly setelah proses discharge. SEcara fisik, arrester ini berukuran besar dan memerlukan pemeliharaan khusus, seperti kebutuhan pengecekan plat film harian.

2.1.3 Periode 1920 - 1930: Arrester dengan Lapisan Film Oksida

Tipe ini terus diproduksi hingga tahun 1955. Arester jenis ini terdiri dari gap yang dipasang seri dengan sejumlah sel yang berisi lead peroksida. Pada ujung pelat sel dibungkus dengan lapisan film insulasi. Ketika lapisan film insulasi mengalami surge, nilai resistansi benjadi rendah dan arus mengalir. Lead peroksida menjadi bersifat high resistan untuk memadamkan follow current. Arrester dapat beroperasi sekian kali sebelum sel memerlukan rekondisi.

2.1.4 Periode 1930 - 1954: Resistor Non Linier Silicon Carbide dengan Gap Nonactive

Blok resistor non linear terbuat dari Silicon Carbide pertama diperkenalkan di tahun 1930 dan bertahan dalam penggunaan sampai hamper 50 tahun. Nilai tegangan pada blok secara kasar didefinisikan sebagai V=Ki dengan range nilai K bervariasi 3 – 6 tergantung pada bijih Silicon Carbide dan proses bonding dan pembakaran selama pabrikasi. Ukuran arrester ini

80% lebih kecil bila dibandingkan dengan generasi Film Oksida. Higga akhir era 1940, dilakukan reduksi lebar gap sparkover menggunakan gap preionizasi, juga penggunaan material gasket karet untuk menghindari masuknya moisture.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

10

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.1.5 Periode 1954 - 1976: Resistor Non Linier Silicon Carbide dengan Active Gaps

Gap arrester active diatur sehingga medan magnetis dihasilkan oleh koil (atau komponen lain dengan fungsi sama) mengerakka power follow current arc dari titik inisiasi menuju tempat pada struktur gap dimana proses pemadaman berlangsung.

2.1.6 Periode 1976 - sekarang : Zinc Oxide Arresters

Elemen valve, terbuat dari Zinc Oksida dengan sejumlah komponen additive untuk memenuhi karakteristik sesuai dengan yang diinginkan. Material dasar penyusun keping blok MOSA adalah ZnO (~90% berat), sementara zat aditif lain terdiri dari: MnO, B 2 O 3 , NiO, Sb 2 O 3 , Cr 2 O 3 (~10% berat).

, NiO, Sb 2 O 3 , Cr 2 O 3 (~10% berat). Gambar 2. Keping
, NiO, Sb 2 O 3 , Cr 2 O 3 (~10% berat). Gambar 2. Keping

Gambar 2. Keping Blok Metal Oksida

Senyawa ZnO memiliki kemampuan konduktivitas sangat baik ketika dilewati arus kerja

discharge-nya pada interval arus 1-100 kA, namun akan berlaku sebagai kapasitor atau

resistansi tinggi ketika dilewati arus di bawah nilai tersebut. Hal ini terkait dengan

Karakteristik Tegangan – Arus (V-I Characteristics) dari Senyawa Metal Oksida. Untuk

elemen ZnO dengan diameter 3 inchi, arus yang dapat dialirkan dari kondisi normal ke

kondisi surja dari 0,1 Ampere mencapai 10000 Ampere.

Kemampuan disipasi energi dari ZnO pun jauh lebih baik bila dibandingkan dengan

kemampuan Silikon Karbida. Sebuah Keping Metal Oksida dengan diameter 3 inchi dan

tinggi 2,1 inchi memiliki kemampuan disipasi yang sama dengan keping SIlikon Karbida plus

gap berdiameter 3 inchi dengan ketinggian masing-masing 2,2 inchi. Desain tanpa gap ini

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

11

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

memungkinkan desain arrester metal oksida menjadi lebih pendek dengan rating pressure

relief mencapai 65 000 Ampere RMS Simeteris.

rating pressure relief mencapai 65 000 Ampere RMS Simeteris. Gambar 3. Kurva Karakteristik V-I dari Keping

Gambar 3. Kurva Karakteristik V-I dari Keping Blok Metal Oksida

Tidak mungkin membandingkan setiap teknologi dari sejak 100 ataupun 50 tahun silam secara detail oleh karena perbedaan teknik pelaksanaan tes dan perbedaan cara penggunaan informasi. Akan tetapi table di bawah ini menunjukkan perbandingan nilai sparkover, discharge voltage, dan tinggi (ukuran) arrester.

Tabel 2.1. Perubahan Level Proteksi 1930 – 1985

tinggi (ukuran) arrester. Tabel 2.1. Perubahan Level Proteksi 1930 – 1985 Listrik untuk kehidupan yang lebih

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

12

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.2 Standar Internasional

Dalam penyusunan buku pedoman ini, digunakan beberapa standar yang mengacu pada Standar Eropa (IEC), Amerika (IEEE/ ANSI), juga beberapa batasan yang diperoleh secara spesifik dari pabrikan (sebagai contoh batasan nilai arus bocor resistif yang diperkenankan pada arrester). Beberapa standar yang dijadikan rujukan adalah sebagai berikut:

IEC 60099-1, 1999 IEC 60099-3, 1990 IEC 60099-4, 2001 IEC 60099-5, 2000

IEC 60507, 1991 : Artificial Pollution Test on High-Voltage Insulators to be used in AC

: Non-linear resistor type gapped surge arresters for a.c. systems : Artificial Pollution Testing of Arrester : Metal Oxide Surge Arresters without Gaps for AC Systems : Selection and Application Recommendations

systems

ANSI/IEEE Std C62.2-1987:

Guide for the Application of Gapped Silicon-Carbide Surge Arresters for Alternating Current Systems

IEEE C62.1-1989:

Standard for Gapped Silicon-Carbide Surge Arresters for AC Power Circuits

IEEE Std C62.22-1997:

Guide for the Application of Metal-Oxide Surge Arresters for Alternating-Current Systems

IEEE Std C62.11™-2005:

Standard for Metal-Oxide Surge Arresters for AC Power Circuits (>1 kV)

Selain standar-standar di atas, implementasi arrester di sebuah gardu induk ataupun pada saluran transmisi juga perlu mempertimbangkan keterkaitan koordinasi isolasi, sebagai berikut:

IEC 60071-1, 1993 IEC 60071-2, 1996

: Insulation Coordination – Part1: Definition, Principles, Rules : Insulation Coordination – Part2: Application Guide

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

13

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.3 Konsep Dasar Lightning Arrester

Lightning Arrester/ Arrester/ Surge Arrester memiliki peran penting di dalam koordinasi

isolasi peralatan di gardu induk. Fungsi utama dari Lightning Arrester adalah melakukan

pembatasan nilai tegangan pada peralatan gardu induk yang dilindunginya. Panjang lead

yang menghubungkan arrester pun perlu diperhitungkan, karena inductive voltage pada lead

ini ketika terjadi surge akan mempengaruhi nilai tegangan total paralel terhadap peralatan

yang dilindungi. Untuk memahami kerja sebuah arrester, maka akan dijelaskan lebih rinci di

bawah melalui contoh kasus yang diperoleh dari Siemens Handbook – Metal Oxide Arrester.

2.3.1

Ragam Over Voltage (Tegangan Lebih)

 

Pada

kurva

di

bawah

ini

menunjukkan

bagaimana

arrester

melakukan

pemotongan

tegangan lebih terhadap beragam jenis surja:

pemotongan tegangan lebih terhadap beragam jenis surja: Gambar4. Skematik diagram yang menggambarkan level tegangan

Gambar4. Skematik diagram yang menggambarkan level tegangan yang mungkin timbul pada peralatan gardu induk, bila diinstall LA ataupun tanpa diinstall Lightning Arrester (1.p.u.=2.Us/3 )

Melalui kurva tersebut terlihat bahwa durasi overvoltage berbeda satu sama lain, yaitu:

1. Lightning Overvoltage – fast front overvoltage (Durasi Microseconds)

2. Switching Overvoltages – slow front overvoltage (Durasi Milliseconds)

3. Temporary Overvoltages – TOV (Durasi seconds), missal akibat gangguan sistem

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

14

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.3.2 Resistor SiC (Silicon Carbide) dan ZnO (Zinc Oxide)

Sekalipun Arrester jenis ber-gap dengan resistor non linear SiC (Silicon Carbide) masih

terpasang pada sebagian kecil Gardu Induk, namun mayoritas Arrester yang kini terpasang

adalah jenis tanpa gap, dimana Varistor Metal Oksida (ZnO) digunakan sebagai komponen

resistor non linear. Keunggulan dari Arrester Metal-Oksida adalah karakteristik tegangan-

arus non-linear (V-I) yang ekstrim.

Pada Arrester yang masih menggunakan komponen SiC, diperlukan gap untuk melakukan

discharge overvoltages. Peristiwa arcing pada gap arrester ini mungkin menimbulkan panas

berlebih pada kedua titik gap.

ini mungkin menimbulkan panas berlebih pada kedua titik gap. Gambar 5. Perbandingan Karakteristik V-I antara Arrester
ini mungkin menimbulkan panas berlebih pada kedua titik gap. Gambar 5. Perbandingan Karakteristik V-I antara Arrester

Gambar 5. Perbandingan Karakteristik V-I antara Arrester jenis Metal Oksida dan jenis Silicon Carbida

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

15

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.3.3 Parameter Arrester Metal Oksida

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa keistimewaan arrester jenis metal oksida adalah memiliki karakteristik V-I yang ekstrim, sehingga tidak memerlukan gap udara tambahan dalam proses pemotongan tegangan surja. Pada kasus ini, diberikan contoh arrester yang terpasang pada sebuah sistem 420 kV, dimana arrester memiliki residual voltage (10kA) sebesar 823 kV. Kurva V-I arrester tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. di bawah ini:

arrester tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. di bawah ini: Gambar 6. Kurva Karakteristik V-I dari

Gambar 6. Kurva Karakteristik V-I dari Arrester Jenis Metal Oksida

Tegangan

power

frequency

merupakan

besaran

tegangan

fasa

ke

tanah

yang

dioperasikan secara kontinu terhadap arrester. Pada kurva di atas, nilainya adalah:

terhadap arrester. Pada kurva di atas, nilainya adalah: Di saat yang bersamaan mengalir besaran arus bocor

Di saat yang bersamaan mengalir besaran arus bocor (leakage current) yang sebagian besar mengandung komponen kapasitif, dengan sebagian kecil komponen resistif. Pada kurva V-I di atas Gambar 6., nilai arus yang direpresentasikan merupakan besaran nilai arus resistif.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

16

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Untuk mendapatkan gambaran besaran arus komponen kapasitif, dapat dilihat pada grafik osiloskop seperti pada Gambar 7 di bawah ini :

Pada tegangan power frequency 343 kV, besaran arus resistif menurut kurva V-I (Gambar 6) bernilai 100 µA, sementara kurva yang ditunjukkan melalui osiloskop ditunjukkan dalam kurva di bawah ini memiliki nilai puncak 0,75 mA yang merupakan arus bocor total, dimana mayoritas mayoritas arus memiliki komponen kapasitif :

mayoritas mayoritas arus memiliki komponen kapasitif : Gambar 7. Grafik Osiloskop Arus bocor pada Arrester

Gambar 7. Grafik Osiloskop Arus bocor pada Arrester

Continuous Operating Voltage, disimbolkan Uc (bila merujuk pada standar IEC), sama artinya dengan MCOV (Maximum Continuous Operating Voltage) bila mengacu ANSI/ IEEE, merupakan nilai tegangan power-frequency dimana arrester dapat terus beroperasi tanpa batasan tertentu. Seluruh bagian arrester, yang telah diujikan pada type test, mampu bekerja dengan baik level tegangan kontinu ini. Parameter ini sering salah diartikan dengan Rated Voltage.

menghadapi

Temporary Overvoltage. Rated voltage ini hanya boleh dialami oleh arrester selama durasi tertentu, yaitu 10 detik. (beberapa pabrikan memberikan durasi hingga 100 detik). Pada saat mencapai rated voltage (lihat kurva V-I pada Gambar 6.) besar arus bocor (komponen resistif) menjadi 1 mA. Nilai arus tersebut cukup besar untuk menghasilkan panas di dalam kompartemen arrester dalam waktu panjang. Umumnya relasi antara Ur dan Uc, ditunjukkan oleh nilai: Ur = 1,25 x Uc.

Rated

Voltage.

Nilai

rated

mencerminkan

kemampuan

arrester

dalam

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

17

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Lightning Impulse protective Levels. Merupakan parameter yang paling penting pada

Lightning Arrester. Nilai ini menunjukkan besar tegangan diantara kedua ujung arrester

ketika nominal discharge current mengalir melalui arrester. Lightning current impulse

bervariasi dari 1,5 kA hingga 20 kA (IEC 60099-4). Utk Arrester HV (Us>= 123 kV),

umumnya hanya terdapat kelas 10kA dan 20 kA.

Pada contoh kurva V-I Gambar 6 di atas, dipilih arrester dengan kelas 10kA. Pernyataan

“lightning impulse protective level = 823 kV” berarti tegangan pada saat arrester dialiri arus

impulse 8/20 µs dengan peak 10 kA maka besar tegangan di antara kedua terminal arrester

adalah sebesar 823 kV. UNtuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 8. Contoh Residual Voltage pada

Gambar 8. Contoh Residual Voltage pada Arrester pada nominal discharge current

Tentu nilai peak dari residual voltage akan berbeda, bila arus nominal lightning yang

diinjeksikan bukan arus ideal.

2.3.4 Pertimbangan Pemasangan Arrester

Setiap peralatan di gardu induk memiliki Standard Lightning Impulse With-stand Voltage

(juga dikenal sebagai nilai BIL) sesuai desain. Pada sistem 420 kV nilai ini sebesar 1425 kV,

sementara pada banyak GITET miliki PLN, untuk sistem 500kV memiliki nilai BIL bervariasi

antara 1550 – 1800 kV. Menurut IEC 60071-2, tegangan tertinggi yang diperbolehkan pada

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

18

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

peralatan beroperasi dengan non-self-restoring (contoh Transformator), merupakan nilai

Standard Lightning Impulse withstand Voltage dibagi dengan safety factor 1,15.

Sehingga untuk sistem 420 kV, tegangan tertinggi yang diperbolehkan pada peralatan ketika

mengahadapi surja adalah sebesar 1239 kV. Tidak jarang nilai batas aman ini terlampaui.

Hal-hal yang memungkinkan batas ini terlampaui adalah sebagai berikut:

2.3.5 Proses Gelombang Berjalan

Kenaikan secara cepat nilai over voltage akan menyebar dalam bentuk gelombang berjalan

(travelling wave) pada line. Pada kondisi demikian, dimana nilai surge impedance (surge

impedance: impedansi relevan selama proses terjadinya gelombang berjalan di dalam

saluran transmisi) berubah, terjadi peristiwa refraksi dan refleksi (lihat gambar di bawah ini).

Ketika gelombang berjalan mencapai sebuah ujung saluran tanpa terminasi, maka

gelombang tersebut akan dipantulkan ke arah balik. Level tegangan pada setiap titik secara

instan di saluran merupakan penjumlahan dari nilai instan yang berbeda dari setiap

gelombang tegangan individual. Sehingga pada ujung saluran, nilai tegangan menjadi dua

kalinya.

pada ujung saluran, nilai tegangan menjadi dua kalinya. Gambar 9. Skema Proses Gelombang Berjalan Sebuah trafo,

Gambar 9. Skema Proses Gelombang Berjalan

Sebuah trafo, merupakan ujung tidak terminasi oleh karena induktivitas belitan pada gejala

transien merupan resistansi yang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan impedansi surja

dari saluran. Pada skema di atas, gelombang berjalan bergerak dengan kecepatan cahaya

yaitu 300.000 km/ detik. Dalam contoh ini pula, arrester dianggap sebagai arrester ideal,

dimana arrester akan tetap bersifat sebagai insulator hingga beda potensial diantara kedua

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

19

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

ujungnya mencapai 823 kV, juga tegangan lebih tinggi akan dibatasi pada nilai tersebut (prosos pemotongan tegangan surja). Oleh karena jarak antara arrester dan trafo adalah 30 meter, maka surja akan mencapai trafo dalam waktu 0,1 µs kemudian. Pada saat gelombang berjalan mencapai trafo, tegangan di arrester mencapai nilai: 1000kV/ µs . 0,1 µs = 100kV (arrester masih bersifat sebagai insulator)

Gelombang berjalan akan dipantulkan kembali setelah mencapai transformator. Superimpose (penjumlahan) dari gelombang datang dan pergi menyebabkan steepness meningkat menjadi 2 kali lipat yaitu: 2000 kV/ µs. Dalam durasi 0,1 µs kemudian, gelombang tersebut akan mencapai arrester sehingga tegangan di arrester mencapai 200 kV. Pada kondisi ini arrester masih bersifat sebagai insulator. Situasi pada arrester tidak berubah hingga tegangan pada terminal-terminalnya mencapai nilai 823 kV.

Berdasarkan asumsi awal, bahwa pada LA ideal, nilai tegangan yang lebih tinggi daripada residual voltage tidak akan mampu dilalui oleh arrester. Sesuai dengan aturan proses gelombang berjalan, maka nilai 823 kV hanya dapat dicapai jika terdapat surja tegangan dengan polaritas negative yang memiliki kecuraman 2000 kV/ µs menyebar menuju kedua sisi dari arrester.

Pada saat tegangan arrester “tertahan” pada 823 kV, 0.1 µs kemudian sebelum gelombang berjalan negative mencapai trafo, tegangan di arrester telah mencapai 1023 kV. Hanya saja, dalam kondisi demikian tegangan 823 kV telah dibumikan melalui arrester, sehingga hanya 200 kV yang berjalan menuju transformator.

Contoh di atas memberikan gambaran bahwa mungkin saja, tegangan pada peralatan akan lebih tinggi di arrester itu sendiri ketika terjadi surja. Seberapa besar tegangan pada peralatan tergantung pada:

1. Jarak antara Arrester dan peralatan yang dilindungi

2. Nilai front steepness dari surja tegangan

Sebagai contoh pada perhitungan di atas, bila jarak antara arrester dan transformator ditingkatkan menjadi 2x dan nilai steepness meningkat 10%, maka berdasarkan perhitungan gelombang berjalan tegangan pada transformator menjadi > 1239 kV. Hal ini berarti juga

bahwa arrester memiliki zona proteksi yang terbatas.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

20

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.3.6 Drop tegangan induktif

Pemasangan arrester dalam contoh di atas, digambarkan dalam gambar di bawah ini:

dalam contoh di atas, digambarkan dalam gambar di bawah ini: Gambar 10. Skema pemasangan Lightning Arrester

Gambar 10. Skema pemasangan Lightning Arrester

Jarak dari Over Head Line Conductor menuju bumi adalah 10 meter. Bila diasumsikan

bahwa nilai induktansi konduktor adalah 1 µH/ m, maka total nilai induktansi untuk jarak 10

meter adalah 10 µH. Bila dalam kasus ekstrim, arus steepness yang menuju arrester

sebesar 10kA/s, maka akan terdapat tegangan sebesar 100kV pada arrester yang akan

mensumperimpose tegangan discharge arrester.

2.3.7 Discharge Current lebih tinggi daripada nominal discharge current pada arrester

Level proteksi dari sebuah arrester didefinisikan sebagai nilai residual voltage pada arrester

ketika arrester tersebut dialiri oleh arus nominal discharge standar. Arrester memiliki

kemampuan untuk dialiri arus discharge yang lebih tinggi, namun semua tergantung pada

kurva V-I keping metal oksidanya sendiri.

Oleh karena itu dalam memasang arrester perlu dipertimbangkan beberapa detil, seperti:

jarak dari arrester dan peralatan yang dilindungi, karakteristik surja di GI/ GITET. Umumnya

digunakan factor pembagi 1,4 antara nilai Standard Lightning Impulse Withstand Voltage

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

21

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

(dikenal juga dengan istilah BIL) dan nilai Lightning Impulse Protective Level dari Arrester itu sendiri.

Selain mempertimbangkan agar arrester beroperasi stabil pada kondisi operasi tegangan kontinu, dan memilih nilai level proteksi serendah mungkin (Karakteristik V-I pada nilai arus tinggi), namun juga perlu mempertimbangkan kemampuan absorpsi energi. Kemampuan absorbs pada setiap individu arrester sangat terkait pada hal sebagai berikut:

1. Energi yang diinjeksi secara instan. (single Impulse Energy Absorption Capability). Selama Arrester mengalami pukulan single dari surja, maka akan timbul panas yang tinggi dalam keping metal oksida, panas ini memungkinkan kerusakan pada keping metal oksida, belum lagi, bila distribusi material penyusun Keping MO tidak sempurna akibat keterbatasan kemampuan proses pabrikasi. Selain panas, stress pukulan mekanis pun dihasilkan pada keping metal oksida, hal ini dapat merusak fungsi arrester. Besaran batasan kemampuan terhadap Impulse tunggal ini perlu didefinisikan oleh pabrikan.

Impulse tunggal ini perlu didefinisikan oleh pabrikan. Gambar 11. Kerusakan keping Metal Oksida 2. Kemampuan

Gambar 11. Kerusakan keping Metal Oksida

2. Kemampuan Absorpsi Energi Thermal, (Thermal Energy Abosorption Capability). Merupakan level energi maksimum yang diinjeksikan ke dalam arrester, dimana arrester masih mampu melakukan proses pendinginan secara otomatis ke suhu normal operasinya.

Kurva di bawah ini menunjukkan titik-titik suhu dimana arrester beroperasi. Pada titik “stable operation point”, panas yang dihasilkan oleh arrester masih mampu didisipasikan keluar dari arrester. Titik “thermal stability limit” merupakan batas atas dari suhu maksimum yang dapat diterima oleh Lightning Arrester, selama keping metal oksida

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

22

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

belum mencapai titik suhu tersebut maka suhu dari keping metal oksida masih dapat diturunkan ke suhu normal operasi. Nilai typical pada titik ini adalah 170 – 200 O C

Nilai typical pada titik ini adalah 170 – 200 O C Gambar 12. Kurva Stabilitas Thermal

Gambar 12. Kurva Stabilitas Thermal

2.4 Desain Konstruksi Metal Oksida

Dalam sub bab ini akan dijelasakan beberapa bagian yang menjadi konstruksi dari arrester khusunya Arrester dengan Metal Oksida.

Active Part dari Arrester terdiri dari Kolom Varistor Metal Oksida yang dipasang dengan konstruksi supporting. Keping metal oksida dibuat dalam bentuk silinder yang besaran diameter keping tergantung pada kemampuan absorbsi energi dan nilai discharge arus. Nilai diameter bervariasi dari 30 mm untuk arrester kelas distribusi hingga 100 mm untuk arrester HV/EHV. Setiap keping blok memiliki tinggi bervariasi dari 20 hingga 45 mm. Semakin tinggi keping blok metal oksida akan semakin sulit proses produksinya.

Nilai residual voltage untuk setiap keping block metal oksida pada saat dilewatkan arus impulse standar 10 kA tergantung pada diameter keping itu. Sebagai contoh pada MO dengan diameter 32 mm nilai residual voltagenya adalah 450 V/ mm, sementara untuk diameter 70 mm nilai residual voltage menurun menjadi 280 V/mm.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

23

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 13. Keping Metal Oksida Arrester dengan diameter 70 mm ini

Gambar 13. Keping Metal Oksida

Arrester dengan diameter 70 mm ini memiliki tinggi 45 mm, maka untuk satu keping blok metal oksida, mampu memberikan residual voltage sebesar 12, 5 kV. Bila arrester ini hendak memilikiresidual voltage sebesar 823 kV, maka diperlukan setidaknya 66 keping blok dipasang tersusun ke atas. Tinggi arrester akan mencapai 3 meter. Oleh karena ketinggian 3 meter dinilai tidak pratis, dan tidak memiliki kestabilan mekanis yang baik, maka arrester ini dibuat setidaknya 2 tumpuk.

yang baik, maka arrester ini dibuat setidaknya 2 tumpuk. Gambar 14. Struktur Lightning Arrester Material Metal

Gambar 14. Struktur Lightning Arrester

Material Metal Oksida ditaruh dalam tabung yang terbuat dari aluminium. Tabung ini memiliki kemampuan menahan mekanis, juga sebagai pendingin keping. TUmpukan keping metal oksida ditaruh dalam sangkar rod, terbuat dari FRP (Fiber Glass Reinforced Plasctic).

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

24

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Compression Ring dipasang pada ujung kolom active part untuk memastikan susunan berada dalam posisi tetap di dalam kompartemen housing. Kompartemen housing sendiri saat ini terbuat dari porcelain, walau beberapa sudah mulai beralih ke polimer. Alumunium flange direkatkan dengan menggunakan semen sebagai dudukan. Untuk bahan alumunium sendiri, menurut IEC 60672-3, terdapat 2 jenis yaitu: Porselin Quartz dan Porselin Alumina. Porselin Alumina memiliki daya tahan yang lebih baik. Proses glasur preselin tidak hanya pada sisi dalam dari arrester, namun juga pada sisi luar dari arrester.

dari arrester, namun juga pada sisi luar dari arrester. Gambar 15. Struktur Pressure Relief Sealing Ring

Gambar 15. Struktur Pressure Relief

Sealing Ring dan Pressure Relief Diaphragm dipasang di kedua ujung arrester. Material sealing ring harus memiliki daya tahan terhadap kondisi ozone, agar tetap mampu melakukan seal dengan baik. Material yang sering dipilih adalah dari jenis material sintetis, jenis karet biasa tidak mampu digunakan untuk hal ini. Sementara untuk Pressure Relief Diapraghm, dipilih material dari jenis steel kualitas tinggi, atau nikel. Keduanya harus mampu tahan hingga 30 tahun, Pressure relief dan clamping ring disatukan dengan clamping ring yang dipasang pada flange menggunakan baud.

Pada saat terjadi proses discharge yang dibarengi dengan peningkatan suhu yang sangat tinggi, maka, akan terjadi pemuain suhu di dalam kompartemen arrester, kelebihan tekanan inilah yang perlu dilepas dari dalam kompartemen, pressure relief bekerja sebagai katup pelepasan.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

25

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 16. Arrester Porselain dengan 2 Kompartemen Grading ring penting diperlukan

Gambar 16. Arrester Porselain dengan 2 Kompartemen

Grading ring penting diperlukan untuk arrester dengan ketinggian 1,5 – 2 meter (atau arrester yang ditumpuk menjadi beberapa unit). Grading Ring berfungsi sebagai control distribusi tegangan dari ujung atas arrester (bagian bertegangan) menuju bagian bawah, hal ini diperlukan oleh karena earth capacitance berpengaruh pada Lightning Arrester. Pemilihan ukuran grading ring pun perlu mempertimbangkan jarak antar fasa. Jarak aman antar konduktor sama dengan jarak antar grading ring antar fasa dari arrester.

Pada Arrester yang terpasang pada GI/ GITET umumnya dilengkapi dengan peralatan monitoring, apakah berupa counter, monitoring spark gap ataupun meter arus bocor. Arrester tidak langsung dibumikan, namun dilewatkan terlebih dahulu pada peralatan monitoring tersebut, sehingga dibutuhkan juga insulating feet/ insulator dudukan.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

26

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 17. Counter Arrester dan Meter Arus Bocor Total Surge Counter
PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 17. Counter Arrester dan Meter Arus Bocor Total Surge Counter

Gambar 17. Counter Arrester dan Meter Arus Bocor Total

Surge Counter berfungsi untuk menghitung jumlah kerja dari arrester melakukan proses discharge, sementara leakage cureent detector berfungsi untuk memberikan besaran arus bocor pada arrester pada tegangan operasi kontinu, nilai arus bocor ini merupakan arus bocor total yang umumnya merupakan arus kapasitif, arus bocor ini juga bergantung pada besar arus bocor permukaan yang nilainya tergantung pada kebersihan housing dari arrester. Arus bocor dari kapasitansi bocor peralatan gardu induk lain juga memungkinkan untuk turut terukur oleh meter ini.

Spark Over detector memiliki fungsi yang serupa dengan surge counter, hanya saja, untuk melihat apakah arrester tersebut telah melakukan proses discharge kompartemen SparOver perlu dibuka dan dilakukan pengecekan apakah terdapat tanda bekas discharge diantara kedua pelat tersebut.

tanda bekas discharge diantara kedua pelat tersebut. Gambar 18. Peralatan Monitoring Spark Gap Listrik untuk

Gambar 18. Peralatan Monitoring Spark Gap

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

27

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Teknologi terakhir dari arrester adalah dengan memanfaatkan polimer sebagai kompartemen housing. Konstruksi desainnya tidak jauh berbeda dengan arrester dengan kompartemen terbuat dari porselin. Pada arrester kelas distribusi, polimer dicetak menempel dengan kolom metal oksida (molded), hal ini memberikan keuntungan: bebas void, ikatan yang kuat serta posisi permanen. Kelebihan lain yang diberikan adalah polimer memiliki kemampuan hydrophobicity yang baik, mudah dibawa, serta menurunkan biaya produksi.

yang baik, mudah dibawa, serta menurunkan biaya produksi. Gambar 19. Arrester Polymer Kelas Distribusi (Molded) Namun

Gambar 19. Arrester Polymer Kelas Distribusi (Molded)

Namun untuk arrester kelas HV/ EHV, desain mold tersebut tidak dapat dilakukan dengan pertimbangan kekuatan mekanis serta daya tahan elektris. Sehingga desainnya sama dengan arrester porselin, hanya saja menggunakan kompartemen polimer, seperti dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

polimer, seperti dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 20. Desain Arrester dengan Polymer Housing

Gambar 20. Desain Arrester dengan Polymer Housing di Kelas HV/ EHV

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

28

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.5 Kofigurasi Lightning Arrester

Sebelum memahami lebih lanjut tentang proses konfigurasi arrester, perlu dipahami terlebih dahulu bagaimana requirement dan parameter-parameter yang mempengaruhi performa dari arrester. Secara mendasar, terdapat 2 kebutuhan dasar dari arrester, yang pertama adalah mampu memeberikan level proteksi yang memenuhi safety margin bagi peralatan yang dilindungi, dan yang kedua adalah bahwa arrester tersebut harus mampu bekerja dengan baik dalam tegangan operasional secara kontinu serta mampu menahan pengaruh transien ataupun setiap tegangan lebih yang muncul di dalam system, tanpa terpengaruh baik karakteristik elektris maupun thermalnya.

Kedua kebutuhan dasar tersebut saling terkait. Pada saat kita menurunkan level proteksi di sebuah peralatan, itu juga berarti semakin tinggi stress yang dialami oleh arrester selama tegangan operasi kontinu. Secara ringkas pemilihan arrester dapat dilihat dalam bagan pada halaman berikut ini:

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

29

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Listrik untuk kehidupan yang lebih baik Gambar 21. Diagram Pemilihan Arrester

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

Gambar 21. Diagram Pemilihan Arrester

30

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

31

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Persyaratan tambahan arrester meliputi karakteristik elektris dari sebuah arrester: mereka tidak

boleh berubah sepanjang rentang waktu tertentu, tidak berubah akibat pengaruh lingkungan,

seperti polusi, radiasi sinar matahari ataupun pengaruh mekanis. Pendekatan seperti bagan di

atas akan dijelaskan dalam sub-sub bab berikut di bawah ini.

2.5.1 Pemilihan nilai Tegangan Operasi Kontinu dan Tegangan Rated

Langkah pertama adalah menentukan nilai tegangan operasi kontinu minimum terlebih dahulu,

yaitu Uc, min. Nilai ini merupakan nilai tegangan system fasa ke tanah ditambah 5% dari nilai

tersebut. Nilai kontinu yang dimaksud disini merupakan nilai tegangan yang berlangsung secara

terus menerus (konstan) dalam kurun waktu lebih dari 30 menit. Namun nilai ini bergantung

pada tipe pentanahan titik netral. Pada system netral terisolasi atau resonant earthed,

tegangan phasa terhadap ground merupakan nilai fasa ke fasa dalam kasus gangguan 1fasa

ke tanah. Dalam hal ini, nilai minimum tegangan operasi kontinu yang dipilih sama dengan nilai

Tegangan system (Us).

kontinu yang dipilih sama dengan nilai Tegangan system (Us). Nilai tegangan rated diperoleh dengan men-kalikan nilai

Nilai tegangan rated diperoleh dengan men-kalikan nilai tegangan kontinu ini dengan factor

1,25, sehingga diperoleh nilai Ur1 = 1,25 x Uc,min. Sehingga diperoleh nilai tegangan rated

untuk arrester sebagai berikut:

nilai tegangan rated untuk arrester sebagai berikut: Dalam hal titik netral ditanahkan solid, Temporary Over

Dalam hal titik netral ditanahkan solid, Temporary Over Voltage mungkin mencapai nilai 1,4 kali

dari nilai maksimum tegangan fasa ke tanah dari system dengan periode bervariasi dari 1/10

hingga beberapa detik. Tegangan power frequency yang nilainya berada di atas nilai tegangan

operasi kontinu arrester hanya boleh dioperasikan selama beberapa saat saja. Semakin tinggi

nilai tegangan, maka akan semakin pendek rentang waktu yang diperbolehkan. Nilai ini dapat

ditunjukkan dalam kurva U-t. Kurva ini menunjukkan nilai rasio antara tegangan power

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

32

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

frequency dan tegangan rated (keduanya dalam rms) terhadap waktu. Rasio tersebut dilambangkan k tov .

terhadap waktu. Rasio tersebut dilambangkan k t o v . Gambar 22. Kurva rasio TOV (U/

Gambar 22. Kurva rasio TOV (U/ Ur) terhadap waktu

Dari kurva di atas nampak bahwa tegangan rated hanya boleh dioperasikan selama 100 detik, sementara untuk nilai tegangan rated lebih tinggi 7,5% di atas tegangan operasi kontinu hanya dapat dioperasikan selama 10 detik saja.

Berdasarkan kurva di atas, maka pertimbangan nilai untuk nilai tegangan rated yang kedua adalah :

nilai untuk nilai tegangan rated yang kedua adalah : Dengan catatan bahwa nilai tegangan TOV dan

Dengan catatan bahwa nilai tegangan TOV dan durasinya telah diketahui sebelumnya. Bila informasi tersebut tidak diketahui, maka dalam kasus system netral yang ditanahkan solid, maka digunakan nilai ktov = 1,4 dan durasi 10 detik.

Berdasarkan bagan penentuan arrester yang telah disampaikan sebelumnya, setelah diperoleh nilai U r1 dan U r2 , maka nilai tegangan rated yang dipilih adalah nilai maksimum diantara keduanya dibulatkan ke atas sebagai kelipatan ketiga (IEC 60099-4)

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

33

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Jika ternyata nilai U r 2 lebih besar daripada nilai U

Jika ternyata nilai U r2 lebih besar daripada nilai U r1 , maka nilai tegangan operasi kontinu perlu

didefinisikan ulang sebagai:

tegangan operasi kontinu perlu didefinisikan ulang sebagai: 2.5.2 Pemilihan nilai Nominal Discharge Current Nilai

2.5.2 Pemilihan nilai Nominal Discharge Current

Nilai nominal discharge current pada Metal Oksida yang mengacu pada arrester MO, menurut

IEC 60099-4 dipesifisikasikan ke dalam 5 nilai yang berbeda, masing-masing merujuk pada

range nilai rated voltage yang berbeda:

Tabel 2.2 Spesifikasi Nominal Discharge Current

berbeda: Tabel 2.2 Spesifikasi Nominal Discharge Current Pembagian kelas nilai arus discharge ini lebih ditujukan

Pembagian kelas nilai arus discharge ini lebih ditujukan pada kebutuhan pengujian lebih lanjut

dari arrester.

Untuk arrester tegangan tinggi, HV, hanya terdapat 2 kelas yakni 10kA dan 20 kA. Walau dalam

table di atas, kelas 5 kA juga dimungkinkan untuk arrester terpadang pada tegangan rated 170

kV, namun hal ini tidak umum. IEC 60099-5 menyatakan bahwa nilai 5kA hanya dipergunakan

sampai dengan Us=72,5 kV.

Perbedaan utama antara kelas 10 kA dan 20 kA adalah pada nilai Line Discharge Classnya,

pada arrester kelas 10 kA, nilai Line Discharge Class pada kelas 1 sampai 3. Sementara untuk

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

34

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

arrester kelas 20 kA, nilai Line Discharge Class berada pada kelas 4 sampai 5 (akan dijelaskan

pada sub-sub bab pemilihan line discharge class).

2.5.3 Pemilihan Line Discharge Class

Line Discharge Class merepresentasikan kondisi karakteristik actual dari arrester. Parameter ini

merepresentasikan kemampuan arrester dalam melakukan absorpsi energi (berdasarkan IEC

60099-4).

Definisi line discharge class berawal dari asumsi bahwa ada sebuah saluran transmisi yang

panjang, mengalami overvoltage selama proses operasi switching dan akan terjadi discharge

pada arrester yang berada di Gardu Induk melalui proses gelombang berjalan. Dengan

mengasumsikan bahwa diagram sirkuit ekivalen merupakan jaringan iterative terdiri dari

element π yang banyak, terdiri dari induktansi dan kapasitansi, arus akan mengalir yang

besarnya tergantung pada nilai tegangan dan surge impedance dari line.

Durasi yang diperlukan gelombang berjalan sepanjang saluran transmisi merupakan pembagian

dari panjang saluran dibagi dengan kecepatan rambat gelombang elektromagnetik. Proses ini

disimulasikan dalam laboratorium berupa pengujian line discharge. Dalam hal ini, digunakan

impuls generator distributed constant impulse generator. Standar IEC 60099-4 membagi line

discharge class menjadi 5 kelompok, dimana system pengujian telah siap untuk dilaksanakan

saat ini. Pembagiannya adalah sebagai berikut:

Tabel 2.3. Spesifikasi Kelas Line Discharge Class

adalah sebagai berikut: Tabel 2.3. Spesifikasi Kelas Line Discharge Class Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

35

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Dalam tabel di atas tidak dapat ditunjukkan stress energi yang dialami oleh arrester sepanjang proses pengujian. Untuk kebutuhan tersebut, dalam IEC 60099-4 dilampirkan diagram tambahan energi terkonversi pada sebuah objek, dengan direferensikan pada nilai rated voltagenya, yang terjadi selama proses injeksi single discharge. Semakin tinggi nilai residual voltage, maka semakin kecil energi yang diabsorpsi selama proses discharge.

kecil energi yang diabsorpsi selama proses discharge. Gambar 23. Contoh Klasifikasi Kelas Arrester Sebagai contoh

Gambar 23. Contoh Klasifikasi Kelas Arrester

Sebagai contoh untuk penjelasan kurva di atas: Ketika menggunakan arrester, yang mampu mengabsorb energi 2kJ/kV per line discharge, maka arrester memiliki kelas line discharge 2 pada rasio Ures/Ur = 2. Walau demikian, dengan arrester yang sama dapat dikategorikan sebagai line discharge 3 pada rasio Ures/Ur = 2,35. Sekalipun Arrester tersebut nampak baik untuk line discharge kelas 3, namun memiliki rasio lebih tinggi, sehingga lebih baik dioperasikan sebagai line discharge kelas 2. Bila keping metal oksida hendak dioperasikan

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

36

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

sebagai line discharge kelas 3, maka keping metal oksida harus mampu mengabsorpsi energi

sekita 6kJ/kV, yang berarti pula membutuhkan diameter yang lebih besar.

Pembagian line discharge class berdasarkan level tegangan system adalah sebagai berikut:

Tabel 2.4. Line Discharge Class berdasarkan tegangan Sistem

Tabel 2.4. Line Discharge Class berdasarkan tegangan Sistem Sementara pembagian line discharge class berdasarkan

Sementara pembagian line discharge class berdasarkan diameter dari Metal Oksida adalah

sebagai berikut:

Tabel 2.5. Line Discharge Class berdasarkan diameter keeping Metal Oksida

Discharge Class berdasarkan diameter keeping Metal Oksida Dengan pemilihan level tegangan dan diameter arrester, dapat

Dengan pemilihan level tegangan dan diameter arrester, dapat ditentukan karakteristik proteksi

dari arrester.Tahap berikutnya adalah menentukan apakah karakteristik proteksi memenuhi

prasyarat yang dibutuhkan.

2.5.4 Pemilihan dan Review Level Proteksi

Karakteristik proteksi dari arrester secara khusus identik dengan lightning impulse protection

level. Maksudnya berapa besar nilai residual voltage pada arrester ketika dilewati nominal

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

37

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

discharge current. Berdasarkan IEC 60071-2, factor safety margin sebesar 1,15 (Ks) perlu dimasukkan sebagai factor pengali antara nilai BIL pada peralatan serta nilai tegangan tertinggi yang diperbolehkan pada suatu peralatan.

Level proteksi dari arrester besarnya sama dengan nilai standard lightning impulse withstand voltage dari peralatan yang diproteksi dibagi dengan factor 1,4 . Namun aturan ini tidak selalu menjadi standar, pada kasus-kasus khusus, penjelasan lebih detil tercantum di dalam IEC 60071-1 dan 60071-2 serta rekomendasi aplikasi arrester IEC 60099-5.

Pada system EHV, karakteristik proteksi dari arrester lebih ditentukan oleh nilai switching impulse protective levelnya. Merujuk pada IEC 60099-4, kelas Arrester berdasarkan Switching impulse di EHV adalah sebagai berikut:

Tabel 2.6. Line Discharge

di EHV adalah sebagai berikut: Tabel 2.6. Line Discharge Secara tipikal nilai switching impulse residual voltage

Secara tipikal nilai switching impulse residual voltage berada pada nilai 75-90% dari nilai residual voltage bila bekerja pada arus discharge 10 kA. Sama seperti pada lightning impulse, nilai tegangan switching yang diperkenankan pada peralatan merupakan nilai kemampuan peralatan terhadap switching (switching impulse withstand voltage) dibagi dengan safety factor (Ks) = 1,15.

Dalam beberapa kasus juga perlu dipertimbangkan nilai dari steep current impulse protective level (level proteksi terhadap kecuraman arus impulse). Nilai residual voltage satu keping metal oksida selama durasi steep voltage (< 1µs) lebih tinggi sekitar 5% daripada nilai residual

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

38

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

voltage yang didefinisikan selama proses discharge impulse petir. Setidaknya ada 2 faktor yang

mempengaruhi nilai residual voltage selama proses steep, yaitu: perilaku temporer keeping

metal oksida selama periode transisi dari non-conducting menuju conducting, yang kedua

adalah induktivitas dari pemasangan arrester (perhitungan jarak dari konduktor menuju bumi,

seperti telah dijelaskan dalam contoh sebelumnya). Pengaruh yang terakhir ini mampu

meningkatkan nilai residual voltage hingga 5% atau bahkan lebih.

2.5.5 Pemilihan Housing/ Kompartemen

Pertimbangan dalam memilih housing pada umumnya terkait dengan persyaratan dielektrik dan

mekanik. Panjang, creepage distance, shed profile, diameter dan jenis material harus

ditentukan. Pada awalnya, panjang housing minimal dipastikan sesuai dengan hasil MO resistor

column (bagian aktif). Panjang bagian ini ditentukan dari data elektrik yang didapatkan selama

tahap pemilihan sampai tahap ini. Tetapi secara normal langkah ini bukan merupakan

persyaratan penentuan dimensi. Kebutuhan lebih lanjut menyebabkan panjang housing lebih

besar dari bagian aktifnya.

Langkah pertama, clearance yang didapatkan dari persyaratan withstand voltage harus

ditentukan. Menurut IEC 60099-4, housing arrester harus memenuhi persyaratan uji berikut:

Tabel 2.7. Pengujian Housing Arrester

 

I n = 10 kA dan 20 kA

In 5 kA dan High Lightning Duty Arresters (1 kV U s 52 kV)

Pengujian

   

dengan tegangan

 

1.3 · level proteksi impuls petir

impuls petir

   

Pengujian

 

1.25 · level proteksi impuls switching

   

dengan tegangan

-

-

impuls switching

 

Pengujian

       

dengan tegangan

power-frequency

-

1.6 · level proteksi

0.88 · level proteksi impuls petir

( ;
(
;

durasi

1

impuls switching

menit)

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

39

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Nilai tegangan pada persyaratan pengujian di atas besarnya di bawah nilai tegangan untuk peralatan lain di sistem, seperti pada contoh lightning impulse withstand voltage berikut: sebuah arrester pada sistem 420 kV memiliki level proteksi impuls petir 823 kV (Lihat Gambar 2). Tetapi housing-nya harus diuji dengan tegangan impuls petir sebesar 1.3 · 823 kV = 1070 kV, yang hanya mencakup 75 % dari standar lightning impulse withstand voltage sebesar 1425 kV, karena angka ini yang diterapkan pada sistem ini. Hal ini dibuktikan secara jelas karena housing arrester merupakan isolasi yang paling terlindungi dalam sistem. Tidak ada tegangan lebih tinggi yang muncul di sini selain drop tegangan yang langsung melalui resistor MO yang tertutup.

Pada saat yang sama faktor-faktor yang dikutip dalam tabel telah mempertimbangkan kondisi atmosfer yang berbeda – seperti instalasi pada ketinggian sampai 1000 m –juga mempertimbangkan kemungkinan arus arrester lebih tinggi dari arus discharge nominal. Namun, nilai withstand voltage yang sama sering diminta untuk housing arrester dengan peralatan lainnya, yang konsekuensinya mengarah pada panjang housing yang tidak perlu. Hasilnya adalah ketidakekonomisan dan secara teknik menimbulkan kerugian (dengan menggunakan housing yang lebih panjang, dapat berakibat misalnya kekuatan hubung singkat yang lebih rendah atau kerugian distribusi tegangan sepanjang sumbu arrester).

Jika ketinggian dia atas permukaan laut lebih dari 1000 m – yang menurut definisi IEC terkait tidak lagi dianggap sebagai “kondisi normal” – maka clearance dan panjang housing yang lebih

besar harus dipilih untuk menjaga nilai withstand voltage pada kondisi lebih rendah.

kerapatan udara yang

Alasan lain yang sering muncul untuk housing yang lebih panjang adalah persyaratan creepage distance. Housing terpendek yang mungkin digunakan terkait dengan panjang bagian aktif umumnya hanya untuk desain level polusi I atau II 3 yaitu untuk creepage distance tertentu 16 mm/kV atau 20 mm/kV (dengan referensi terhadap U m ). Untuk keperluan di Eropa tengah nilai ini seringkali sudah mencukupi. Namun secara luas, desain level III dan IV juga memiliki peranan penting. Hal ini mengarah ke persyaratan creepage distances sebesar 25 mm/kV dan 31 mm/kV.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

40

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Selain itu, terdapat beberapa lokasi yang memerlukan creepage distances lebih panjang, misalnya iklim gurun maritim, atau pada beberapa kasus dikombinasikan dangan polusi industri. Pada kondisi-kondisi ekstrim seperti ini harus diingat bahwa seringkali terdapat cara lain yang lebih sesuai untuk meningkatkan keandalan operasi dibandingkan menambah creepage distance. Sebagai contoh, dapat dipilih tegangan operasi kontinyu dan tegangan rating yang lebih tinggi (dengan level proteksi terkait yang lebih tinggi), atau menggunakan resistor MO dengan diameter yang lebih besar, atau housing dengan jarak yang lebih jauh antara bagian aktif dengan dinding housing. Pada rating berapapun, harus diingat bahwa ekstensi “buatan” pada bagian aktif (dengan menyisipkan spacer logam) yang dilakukan dengan ekstensi creepage distance, dapat memiliki efek yang negatif pada perilaku operasi yang lain, seperti telah disebutkan dalam koneksi dengan persyaratan withstand voltage.

Shed profile yang berbeda dan beberapa karakteristiknya dibahas dalam bab “Desain Konstruktif Arrester MO”. Rekomendasi umum untuk shed profile tertentu tidak dapat diberikan di sini.

Setelah parameter housing memenuhi persyaratan elektrik, langkah berikutnya yaitu langkah terakhir adalah memenuhi kriteria mekanik sebagai berikut. Kriteria mekanik ini secara tidak langsung mengarah kepada pemilihan material housing dan diameter housing. Seringkali hanya terdapat gagasan yang kabur tentang tekanan mekanik pada arrester yang beroperasi, dan karena itulah tidak ada persyaratan yang dibuat, atau bahkan diberikan nilai yang terlalu tinggi. Jika tidak terdapat informasi tentang persyaratan aktual, nilai berikut dapat dipakai sebagai panduan untuk kebutuhan static head loads: F stat = 400 N dengan U s = 420 kV sampai F stat = 600 N untuk U s = 550 kV, dan F stat = 800 N untuk U s = 800 kV. Nilai ini merepresentasikan persyaratan minimal absolut dengan asumsi bahwa arrester dihubungkan dengan strain relieving conductor loop dan kecepatan angin tidak melebihi 34 m/s (), yang menurut IEC 60694 termasuk dalam “kondisi normal’.

Selain static head loads, yang normalnya menyebabkan beberapa permasalahan pada arrester, persyaratan dinamik juga harus dipertimbangkan. Hal ini sebagai contoh dapat muncul sebagai

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

41

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

hasil dari arus hubung singkat di saluran atau hembusan angin. Pada kasus ini, arrester dengan porcelain housing can hanya dapat ditarik sampai 40% kekuatan dinamiknya, karena sifat yang rapuh dan perilaku statistik porselen. Di sisi lain, dynamic head loads yang diijinkan paling tidak harus memiliki safety margin 20% terhadap actual breaking values, dipastikan selama pengujian (data sesuai dengan DIN 48113 dan IEC dokumen 37/268/FDIS). Nilai head load yang disebutkan di atas sesuai dengan tabel berikut:

Tabel 2.8. Ketahanan Kompartemen Arrester

Tegangan sistem tertinggi U s (kV)

F min,static (N)

F min,dynamic (N)

Minimum breaking value (N)

420

400

1000

1200

550

600

1500

1800

800

800

2000

2400

Rasio ini tampak sedikit berbeda dengan arrester polymer housed. Namun aturan dan standar yang sesuai belum ditetapkan. Pada rating berapa pun, jarak yang lebih pendek dapat diadopsi antara static dan dynamic loads, karena housing polimer (kecuali housing cast resin, yang memiliki karakteristik kerapuhan yang mirip dengan porselen, sehingga dipertimbangkan dengan cara yang sama) sedikit berbeda dalam karakteristik mekanik. Menurut penemuan terakhir, penggunaan kekuatan statik kurang dari 70% breaking value (di saat yang sama breaking value sulit dibatasi dan ditentukan) masih diperbolehkan. Dibandingkan dengan housing porselen, kerusakan housing polimer karena gaya mekanik dapat terlihat. Secara umum, hal ini bukan merupakan bahan pertimbangan, namun pada kasus-kasus ketika perilaku ini menimbulkan masalah, pemilihan housing yang lebih kuat secara mekanis harus dipertimbangkan.

Nilai yang tercantum pada tabel mengindikasikan kebutuhan minimal relatif kekuatan housing, yang dapat meningkat tajam jika mempertimbangkan persyaratan seismik.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

42

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 24. Skema Pengujian Seismic Untuk arrester dengan housing terbuat dari

Gambar 24. Skema Pengujian Seismic

Untuk arrester dengan housing terbuat dari keramik, maka parameter- parameter sebagai berikut yang akan mempengaruhi kekuatan mekanis dari kompartemen:

1. Diameter kompartemen: semakin lebar berarti semakin handal kekuatan mekanisnya

2. Panjang kompartemen: semakin panjang, semakin lemah daya tahan mekanisnya

3. Ketebalan dinding: semakin tebal, maka akan semakin memiliki daya tahan mekanis yang lebih baik.

4. Material kompartemen: Porselen dengan kualitas “C120” tentunya memiliki kualitas yang lebih baik daripada porselen dengan kualitas “C110”

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

43

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.5.6 Kondisi Operasi

Kondisi normal untuk operasi arrester mengacu pada standar IEC 60099-4 adalah sebagai

berikut:

1.

Temperatur ambient berada dalam rentang -40 O C s.d +40 O C

2.

Radiasi matahari 1,1 kW/ m 2

3.

Ketinggian tidak lebih dari 1000 m di atas permukaan laut

4.

Frekuensi tegangan AC 48 – 62 Hz

5.

Tegangan power frequency yang diaplikasikan pada kedua ujung arrester tidak melebihi

nilai arrester continuous operating voltage.

Sekalipun tidak dicantumkan dalam standar, namun dapat ditambahkan bahwa kondisi angin

tidak melebihi kecepatan 34 m/.detik.

2.6 Ragam Lightning Arrester

Lingkup arrester luas, mulai dari penggunaan elektronika hingga pada system transmisi

Tegangan Tinggi maupun Tegangan Ekstra Tinggi. Buku pedoman ini membatasi arrester pada

level tegangan Lightning Arrester pada Sistem Transmisi secara umum dapat dikelompokkan

berdasarkan beberapa kategori:

2.6.1 Berdasarkan Level Tegangan Withstand Voltage Peralatan yang dilindungi

2.6.2 Mengacu pada IEC 60071-1:

a. Range I (1kV – 245kV)

b. Range II (di atas 245 kV)

Klasifikasi ini didasarkan pada perbedaan karakteristik surja, dimana pada Range II surja akibat

proses switching lebih membahayakan peralatan daripada surja lightning. Oleh karena proses

switching memiliki steepness yang lebih lambat, makadiperlukan pula arrester dengan

karakteristik komponen non linear yang berbeda.

ANSI/ IEEE C62.1 dan C62.11 membedakan lightning arrester ke dalam 4 kelas:

a. Station Class

b. Intermediate Class

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

44

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

c.

Distribusi Class

d.

Secondary Class

2.6.3

Berdasarkan Letak Pemasangan

Arrester pada HV/ EHV menurut pemasangannya dibedakan menjadi sebagai berikut:

a. Arrester GIS

dibedakan menjadi sebagai berikut: a. Arrester GIS b. Arrester Saluran Transmisi Gambar 25. Arrester di GIS

b. Arrester Saluran Transmisi

Gambar 25. Arrester di GIS

Dipasang baik parallel dengan insulator pada tower (umumnya diserikan dengan spark

gap) atau dipasang pada konduktor sebagai pengganti damper dilengkapi dengan

disconnector Switch. Untuk tipe gap, stress akibat tegangan power frekuensi tidak

mempengaruhi kondisi arrester, namun sulit untuk memonitor kondisi arrester karena

tidak dilengkapi dengan counter, yang dapat dilaksanakan adalah monitoring kondisi

tanduk api untuk menentukan apakah telah terjadi proses discharge.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

45

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 26. Arrester di Saluran Transmisi Sementara untuk arrester tanpa gap,
PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 26. Arrester di Saluran Transmisi Sementara untuk arrester tanpa gap,

Gambar 26. Arrester di Saluran Transmisi

Sementara untuk arrester tanpa gap, dipasang pada konduktor terhubung ke ground, dilengkapi dengan disconnector switch (yang akan bekerja bila telah terjadi arus di atas nilai nominalnya), arrester line jenis ini juga dilengkapi dengan counter sehingga memudahkan proses monitoring.

c. Arrester Gardu Induk Merupakan Arrester kebanyakan yang terpasang di Gardu Induk, menurut material penyusun housing, material Gardu Induk dibedakan menjadi:

1. insulator porselen

2. insulator polimer

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

46

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 27. Lightning Arrester di Gardu Induk d. Berdasarkan material penyusun
PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 27. Lightning Arrester di Gardu Induk d. Berdasarkan material penyusun

Gambar 27. Lightning Arrester di Gardu Induk

d. Berdasarkan material penyusun komponen non linear Penjelasan pada sub-bab sebelumnya menjelaskan bahwa komponen non linear yang terakhir digunakan adalah Metal Oksida, sekalipun sedikit sekali (dan sudah tidak diproduksi) arrester menggunakan komponen non linear dari Silikon Karbida (SiC)

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

47

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.7 FMEA pada Lightning Arrester

FMEA (Failure Mode Effect Analysis) merupakan tahapan yang dilaksanakan untuk

mendapatkan gejala kegagalan pada sebuah peralatan dengan menerapkan keterkaitan sebab-

akibat antara kegagalan yang satu dengan penyebab sebelumnya, demikian seterusnya hingga

ditemukan penyebab kegagalan yang paling awal. Penyebab kegagalan paling mula ini, misal,

seal rusak (yang menyebabkan moisture masuk ke dalam kompartemen arrester), perlu

dilaksanakan inspeksi khusus terhadapnya.

Dalam analisis FMEA, pendekatan yang dilaksanakan bukan melalui pendekatan per komponen

yang menyusun sebuah peralatan, melainkan pendekatan fungsi. Dalam hal ini, sebuah Sistem

Arrester MOSA memiliki sebuah fungsi utama memotong tegangan lebih yang menuju peralatan

yang dilindunginya. Tegangan lebih ini baik berupa surja petir, surja hubung maupun tegangan

lebih di dalam sistem. Sebuah arrester terdiri dari beberapa sub sistem pendukung, yaitu:

2.7.1 Sub Sistem Pemotong Surja

Merupakan sub sistem kritis dari sebuah lightning arrester yang berfungsi memotong tegangan

lebih dari surja. Berupa komponen non linear, umum digunakan adalah ZnO. Mayoritas arrester

saat ini menggunakan tipe Metal Oksida. Parameter utama yang mempengaruhi kualitas ZnO

adalah karakteristik V-I yang dimiliki serta kemampuannya mengabsorbsi energi ketika terjadi

proses surja.

2.7.2 Sub Sistem Isolasi

Merupakan sub sistem yang memiliki sub fungsi memisahkan bagian konduktor bertegangan

dengan ground, terdiri dari kompartemen insulator (housing), baik berupa keramik maupun

polymer, juga insulator dudukan (insulation feet) berada di sisi bawah dari arrester.

Kompartemen perlu diperhatikan tingkat polusinya, semakin tinggi tingkat polusi yang melekat,

memungkinkan nilai arus bocor permukaan menjadi tinggi. Pada insulator jenis keramik, perlu

dilakukan pengecekan apakah telah terjadi cracking pada permukaan kompartemen, sementara

pada insulator jenis polimer, dicek bilamana kondisi polimer utuh/ robek ataupun berlumut.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

48

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

2.7.3 Sub Sistem Counter & Meter Petunjuk

Counter berfungsi untuk menunjukkan jumlah kali surja telah terjadi pada arrester. Sementara

meter petunjuk berfungsi untuk menunjukkan bbesar nilai arus bocor yang mengalir dari ujung

atas arrester menuju ground dalam kondisi operasi tegangan kontinu. Arus bocor total ini

mayoritas bersifat kapasitif dan terpengaruh oleh banyak factor: kebersihan kompartemen luar,

stray capacitance di gardu induk dan kondisi insulating feet. Agar keduanya bekerja baik, maka

arrester harus dipastikan hanya terhubung ke bumi melalui kawat ground, untuk itulah, maka

insulating feet berperan.

Walau demikian, meter petunjuk memberikan besaran nilai arus bocor total, dimana nilai

tersebut kurang akurat bila hendak digunakan untuk merepresentasikan kondisi dari keeping

metal oksida. Pengukuran lain, yang merujuk pada IEC 60099-5, yakni pengukuran arus bocor

resistif dengan kompensasi harmonisa orde ke-3 dinilai lebih akurat untuk memberikan

gambaran kondisi komponen kritis arrester (Metal Oksida) tersebut.

Penelitian internal PLN menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara jumlah kerja counter

arrester dengan besaran arus bocor resistif dari Arrester.

kerja counter arrester dengan besaran arus bocor resistif dari Arrester. Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

49

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Gambar 28. Relasi antara nilai arus bocor resistif dan jumlah kerja counter

2.7.4 Sub Sistem Pentanahan

Merupakan komponen yang berfungsi untuk meneruskan baik arus bocor selama tegangan

operasi kontinu, maupun surja menuju bumi. Kawat pentanahan terbuat dari tembaga. Kawat

pentanahan umumnya dipasang seri dengan peralatan monitoring (counter ataupun meter)

sebelum dibumikan. Kondisi konektor harus dipastikan baik, seperti: tidak terdapat rantas pada

kawat, ataupun koneksi-koneksi baik (mur dan baut), kawat tembaga tidak ditumbuhi lumut

2.7.5 Sub Sistem Pengaman Tekanan Lebih Internal

Memiliki fungsi melepaskan tekanan lebih di dalam arrester yang mungkin timbul ketika terjadi

discharge arus surja tinggi. Fungsinya mirip pressure relief pada transformator. Pada saat

terjadi surja, baik single maupun multiple, suhu keeping metal oksida mampu mencapai 170 O C

– 200 O C, oleh karenanya terjadi pemuaian udara di dalam kompartemen udara, pemuaian ini

perlu dilepas keluar kompartemen untuk menghindari kompartemen (umumnya porselen

menjadi pecah), katup kembali menutup dengan segera untuk menjaga agar tekanan udara di

dalam kompartemen tetap lebih tinggi daripada tekanan udara luar.

Beberapa arrester dilengkapi dengan flag pressure relief, terbuat dari alumunium, terpasang di

ujung venting outlet arrester. Flag ini berfungsi untuk memberikan indikasi, bahwa pernah

terjadi surja yang cukup tinggi (di atas rated pressure relief device), sehingga memungkinkan

kerusakan pressure relief device.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

50

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 29. Sudden Pressure Relief Flag 2.7.6 Sub Sistem Konstruksi Penyangga

Gambar 29. Sudden Pressure Relief Flag

2.7.6 Sub Sistem Konstruksi Penyangga

Memiliki fungsi sebagai penyangga arrester di atas permukaan tanah. Terdiri dari pondasi dan

struktur besi penyangga.

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

51

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 30. Konstruksi Penyangga 2.7.7 Sub Sistem Konektor Memiliki fungsi melakukan

Gambar 30. Konstruksi Penyangga

2.7.7 Sub Sistem Konektor

Memiliki fungsi melakukan koneksi antara kawat konduktor dengan bagian atas arrester, dan

dari arrester ke bagian pentanahan. Bagian ini rawan terjadi kelonggaran yang memungkinkan

timbulnya hot spot, oleh karenanya, perlu dilakukan thermovisi secara berkala pada bagian ini,

selain thermovisi pada kompartemen arrester itu sendiri.

pada bagian ini, selain thermovisi pada kompartemen arrester itu sendiri. Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

52

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 31. Konektor atas dan konektor bawah Arrester 2.7.8 Sub Sistem
PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 31. Konektor atas dan konektor bawah Arrester 2.7.8 Sub Sistem

Gambar 31. Konektor atas dan konektor bawah Arrester

2.7.8 Sub Sistem Asesories/ Grading/Corona Ring

Memiliki fungsi mendistribusikan secara merata medan listrik dan mengurangi efek corona pada

bagian ujung atas LA. Grading ring perlu dipasang pada arrester dengan ketinggian lebih dari

1,5 meter.

pada arrester dengan ketinggian lebih dari 1,5 meter. Gambar 32. Grading Rin Listrik untuk kehidupan yang

Gambar 32. Grading Rin

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

53

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

1. FMEA SUB SISTEM PEMOTONG SURJA

Sub Sistem

Pemotong Surja

Sub Sub

System

Fungsi

Melakukan pemotongan tegangan lebih akibat surja petir/ surja hubung dengan karakteristik tegangan dan arus tertentu

2. FMEA SUB SISTEM ISOLASI

Sub Sistem

Isolasi

Sub Sub

System

Fungsi

Memisahkan bagian yang bertegangan dengan ground

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

Kegagalan

Fungsi

Bersifat Resistif pada tegangan operasi nominal, memiliki arus bocor total di atas nilai standar, tidak melakukan pemotongan arus saat terjadi surja

Kegagalan

Fungsi

Terjadi short antara bagian yang bertegangan dengan ground

F1

Metal Oksida

sudah tidak

berfungsi

sempurna/jenuh

/ rusak

F1

Isolator

dudukan retak

Isolator Arrester

retak

F2

Agein

Terjadi su

atas nilai

F2

Ageing/ r

Agein

Benturan

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

3. FMEA SUB SISTEM COUNTER DAN METER PETUNJUK

Sub Sistem

Monitoring Kerja

Arrester

Sub Sub

System

Monitoring Total

Leakage Current

Monitoring

jumlah kerja

arrester

Fungsi

Menunjukkan besaran arus bocor total dari arrester

Menunjukkan jumlah kali kerja dari arrester

4. FMEA SUB SISTEM PENTANAHAN

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

Kegagalan

Fungsi

Tidak mampu menunjukkan besaran arus bocor arrester dengan benar

Tidak bekerja dengan benar

F1

F2

Seal rusak

Instrusi air ke dalam meter

Kaca pecah

retak

Tidak terbaca

Kaca bura

Terkena aru

Meter Rusak

surja yang

sangat tingg

Counter bekerja

Kumpara

terus

counter sh

Kumpara

Tidak bekerja saat terjadi surja

counter rus

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Sub Sistem

Sub Sub

Fungsi

Kegagalan

F1

System

Fungsi

Pentanahan/

Mengalirkan arus surja petir/ hubung ke bumi

saat terjadi surja, tegangan lebih tidak diteruskan ke bumi

Kabel

pentanahan

putus

Grounding

F2

Ageing

Dicuri

Kabel

Pentanahan

Rantas

Klem-klem

longgar

5. FMEA SUB SISTEM PENGAMAN TEKANAN LEBIH INTERNAL

Sub Sistem

Sub Sub

Fungsi

Kegagalan

F1

System

Fungsi

   

Memberikan

   

Indikasi

indikasi bahwa

Tidak muncul

indikasi saat

Katup

pressure

Tekanan Lebih

internal

telah terjadi

tekanan lebih

internal

terjadi tekanan

lebih internal

relief

terlepas

6.

FMEA SUB SISTEM KONSTRUKSI PENYANGGA

 

Sub Sistem

Sub Sub

Fungsi

Kegagalan

F1

System

Fungsi

       

Korosif

Tempat

pondasi/structure

Besi penyangga

 

Konstruksi

miring

Pencurian

Penyangga

Lightning

 

Arrester

Baut-baut

kendor

Pondasi roboh/

Retak

miring

Amblas

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

F2

Telah

terjadi

tekanan

lebih

sebelumnya

di

dalam

arrester

Korosi baut

pengikat

F2

Perbegeseran

tanah

Erosi

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

7. FMEA SUB SISTEM KONEKTOR

Sub Sistem

Sub Sub

System

Fungsi

Kegagalan

Fungsi

F1

F2

Konektor

Baut

jumperan

kendor

Perbedaan

bahan

Klem

kendor

Over

capacity

Baut Korosif

Ageing

Corona

8. FMEA SUB SISTEM GRADING RING/ CORONA RING

Sub Sistem

Sub Sub

Fungsi

Kegagalan

F1

System

Fungsi

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

F2

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

   

Mendistribusikan secara merata medan listrik

Medan listrik tidak terdistribusi merata pada permukaan isolator

 

Kena

Grading Ring

Deformasi

benturan

Grading Ring/

bentuk

Corona Ring

 

Kotor

Polutan

     

Deformasi

Kena

Corona Ring

Mengurangi efek corona

Terjadinya corona

bentuk

benturan

Kotor

Polutan

BAB 3

PEDOMAN PEMELIHARAAN LIGHTNING ARRESTER

Lightning

pemeliharaan agar tetap mampu berfungsi baik. Sekalipun nilai asetnya tidak mahal,

namun bila arrester tidak bekerja dengan baik, maka kerusakan peralatan lain yang

seharusnya terlindung dari surja tidak dapat terhindarkan. Dalam IEC 60099-5 , section

memerlukan

Arrester

seperti

peralatan

di

gardu

induk

lainnya,

juga

6, disebutkan beragam metode untuk mendiagnosa kondisi arrester, khususnya metal

oksida.

pemeliharaan Arrester.

melaksanakan kegiatan

Standar

ini

dijadikan

salah

satu

acuan

dalam

Kegiatan pemeliharaan pada Lightning Arrester dapat dikategorikan seperti dalam

bagan sebagai berikut:

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER Gambar 33. Skema Metode Pemeliharaan 5.1 PEMELIHARAAN PREVENTIF (PREVENTIVE

Gambar 33. Skema Metode Pemeliharaan

5.1 PEMELIHARAAN PREVENTIF (PREVENTIVE MAINTENANCE)

Merupakan kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan untuk mencegah terjadinya kerusakan secara tiba-tiba dan untuk mempertahankan unjuk kerja yang optimal sesuai umur teknisnya, melalui inspeksi secara periodic dan pengujian fungsi atau melakukan pengujian dan pengukuran untuk mendiagnosa kondisi peralatan.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan berpedoman kepada : instruction manual dari pabrik, standar-standar yang ada ( IEC, IEEE, CIGRE, ANSI, dll ) dan pengalaman serta observasi / pengamatan operasi di lapangan.

Lightning arrester yang dipelihara secara umum dikategorikan menjadi dua, yaitu:

1. Arrester Gardu Induk

2. Arrester di Saluran Transmisi

Pemeliharaan LA di Gardu Induk memiliki poin pengujian/ pemeliharaan yang lebih banyak daripada LA di Saluran Transmisi, hal ini terutama karena factor kemudahan

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

pelaksanaan. Sebagai contoh pengukuran arus bocor resistif dalam kondisi

bertegangan akan sulit dilaksanakan pada Arrester di SUTT, SUTET.

Pemeliharaan preventif ini dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :

1. Pemeliharaan Rutin

2. Pemeliharaan Prediktif

Penjelasan dan implementasi lebih lanjut akan dijelaskan dalam sub bab berikutnya.

5.2 PEMELIHARAAN RUTIN (ROUTINE MAINTENANCE)

Merupakan kegiatan pemeliharaan secara periodik/ berkala dengan melakukan

inspeksi dan pengujian fungsi untuk mendeteksi adanya potensi kelainan atau

kegagalan pada peralatan dan mempertahankan unjuk kerjanya. Berdasarkan

periodenya, pemeliharaan rutin pada Arrester terdiri dari:

-

Pemeliharaan Harian

-

Pemeliharaan Mingguan

-

Pemeliharaan Bulanan

-

Pemeliharaan Tahunan atau Bersamaan dengan padam Bay T/R atau T/L

5.2.1

In Service Visual Inspection

Merupakan pekerjaan pemantauan/ pemeriksaan secara berkala/ periodik kondisi

peralatan saat operasi dengan hanya memanfaatkan 4 (empat) indera dan alat ukur

bantu sederhana sebagai pendeteksi (termasuk thermo visi dan thermogun).

Tujuan In Service Visual Inspection untuk mendapatkan indikasi awal ketidaknormalan

peralatan (anomali) sebagai bahan untuk melakukan Evaluasi Level 1 dan data yang

dapat diolah secara statistik sebagai informasi bagi pengembangan atau tindakan

pemeliharaan.

Tabel 3.1

JADWAL PEMELIHARAAN HARIAN LIGHTNING ARRESTER TIPE GARDU INDUK

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Kondisi

: OPERASI (In service Visual Inspection)

NO

PERALATAN YANG DIPERIKSA

SASARAN

PELAKSANA

PEMERIKSAAN

I

SUBSISTEM

PEMOTONG

   

SURJA

 

-

   

II

SUBSISTEM ISOLASI

   
 

Kompartemen/ Housing

Kebersihan dari debu/ pengotor

Petugas GI/ GITET

Ada/ tidak retak

Petugas GI/ GITET

 

Insulating Feet

Retak/ Berlumut

Petugas GI/ GITET

III

SUBSISTEM MONITORING

   
   

Cek struktur counter tidak boleh menyentuh flange/ support arrester

Petugas GI/ GITET

 

Counter Jumlah Kerja

Kondisi meter, kaca buram/ pecah

Petugas GI/ GITET

Angka penunjukan

Petugas GI/ GITET

   

Cek struktur counter tidak boleh menyentuh flange/ support arrester

Petugas GI/ GITET

   

Kondisi meter, kaca buram/ pecah

Petugas GI/ GITET

Meter Arus Bocor Total

Angka penunjukan

Petugas GI/ GITET

IV

SUBSISTEM PENTANAHAN

   
 

-

   

V

SUBSISTEM TEKANAN LEBIH

PENGAMAN

   
 

Flag Pressure Relief Device

Kondisi Flag, terpasang baik atau tidak atau bahkan sudah terlepas

Petugas GI/ GITET

VI

SUBSISTEM KONSTRUKSI DAN PONDASI

   
 

-

   

VII

SUBSISTEM KONEKTOR

   
 

-

   

VIII

SUBSISTEM

GRADING

RING/

   

CORONA RING

 

-

   
 

Tabel 3.2

 

JADWAL PEMELIHARAAN MINGGUAN LIGHTNING ARRESTER TIPE GARDU INDUK

Kondisi

: OPERASI (In service Visual Inspection)

 

NO

PERALATAN YANG DIPERIKSA

SASARAN

PELAKSANA

PEMERIKSAAN

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

I

SUBSISTEM

PEMOTONG

   

SURJA

 

-

   

II

SUBSISTEM ISOLASI

   
 

-

   

III

SUBSISTEM MONITORING

   
 

-

   

IV

SUBSISTEM PENTANAHAN

   
 

Kawat Grounding

Terdapat rantas atau tidak.

Petugas GI/ GITET

 

Ditumbuhi lumut atau tidak

 

Koneksi

dari

dan

ke

konstruksi penyangga (longgar/ atau tidak)

V

SUBSISTEM TEKANAN LEBIH

PENGAMAN

   
 

-

   

VI

SUBSISTEM KONSTRUKSI DAN PONDASI

   
 

-

   

VII

SUBSISTEM KONEKTOR

   
 

Koneksi ke Bubar

Terpasang baik/ ada korosi atau tidak

Petugas GI/ GITET

 
 

Koneksi ke Kawat Grounding

Terpasang baik/ ada korosi atau tidak

Petugas GI/ GITET

 

VIII

SUBSISTEM

GRADING

RING/

   

CORONA RING

 

Grading Ring

Posisi

pemasangan,

Petugas

Har

di

kondisi

grading

ring

GI/GITET

(bengkok/tidak)

 
 

Tabel 3.3

 

JADWAL PEMELIHARAAN MINGGUAN LIGHTNING ARRESTER TIPE SALURAN TRANSMISI (DI TOWER)

 

Kondisi

: OPERASI (In service Visual Inspection)

 

NO

PERALATAN YANG DIPERIKSA

SASARAN

PELAKSANA

 

PEMERIKSAAN

   

I

SUBSISTEM

PEMOTONG

   

SURJA

 

-

   

II

SUBSISTEM ISOLASI

   
 

-

   

III

SUBSISTEM MONITORING

   
 

-

   

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

IV

SUBSISTEM PENTANAHAN

   
 

Kawat Grounding

Terpasang/ sudah lepas

Petugas Ground Patrol

V

SUBSISTEM TEKANAN LEBIH

PENGAMAN

   
 

-

   

VI

SUBSISTEM KONSTRUKSI DAN PONDASI

   
 

-

   

VII

SUBSISTEM KONEKTOR

   
 

Disconnector Switch

Terpasang/ sudah lepas

Petugas Ground Patrol

VIII

SUBSISTEM

GRADING

RING/

   

CORONA RING

 

-

   
 

Tabel 3.4

 

JADWAL PEMELIHARAAN BULANAN LIGHTNING ARRESTER TIPE GARDU INDUK

Kondisi

: OPERASI (In service Visual Inspection)

 

NO

PERALATAN YANG DIPERIKSA

SASARAN

PELAKSANA

PEMERIKSAAN

I

SUBSISTEM

PEMOTONG

   

SURJA

 

-

   

II

SUBSISTEM ISOLASI

   
 

-

   

III

SUBSISTEM MONITORING

   
 

-

   

IV

SUBSISTEM PENTANAHAN

   
 

-

   

V

SUBSISTEM TEKANAN LEBIH

PENGAMAN

   
 

-

   

VI

SUBSISTEM KONSTRUKSI DAN PONDASI

   
 

Konstruksi

Kondisi besi member, bengkok atau tidak.

Petugas GI/ GITET

Tingkat korosi.

Kondisi baud-baud

 

Pondasi

Temuan Retak atau tidak. Masih baik atau tidak.

Petugas GI/ GITET

VII

SUBSISTEM KONEKTOR

   
 

-

   

VIII

SUBSISTEM

GRADING

RING/

   

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

CORONA RING

-

Tabel 3.5

JADWAL PEMELIHARAAN 6 BULANAN LIGHTNING ARRESTER TIPE GARDU INDUK

Kondisi

: OPERASI (In service Visual Inspection)

NO

PERALATAN YANG DIPERIKSA

SASARAN

PELAKSANA

PEMERIKSAAN

I

SUBSISTEM

PEMOTONG

   

SURJA

 

-

   

II

SUBSISTEM ISOLASI

   
 

-

   

III

SUBSISTEM MONITORING

   
 

-

   

IV

SUBSISTEM PENTANAHAN

   
 

Pengukuran Pentanahan

Mengetahui nilai tahanan pentanahan baik di musim hujan maupun di musim kemarau

Petugas GI/ GITET

V

SUBSISTEM TEKANAN LEBIH

PENGAMAN

   
 

-

   

VI

SUBSISTEM KONSTRUKSI DAN PONDASI

   
 

-

   

VII

SUBSISTEM KONEKTOR

   
 

-

   

VIII

SUBSISTEM

GRADING

RING/

   

CORONA RING

 

-

   

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER

PT PLN (Persero)

LIGHTNING ARRESTER

Tabel 3.6 JADWAL PEMELIHARAAN BULANAN LIGHTNING ARRESTER TIPE SALURAN TRANSMISI (DI TOWER)

Kondisi

: OPERASI (In service Visual Inspection)

NO

PERALATAN YANG DIPERIKSA

SASARAN

PELAKSANA

PEMERIKSAAN

I

SUBSISTEM

PEMOTONG

   

SURJA

 

-

   

II

SUBSISTEM ISOLASI

   
 

-

   

III

SUBSISTEM MONITORING

   
 

Counter Arrester

Jumlah kerja Arrester

Petugas Climb Up/ Petugas Har Unit

IV

SUBSISTEM PENTANAHAN

   
 

-

   

V

SUBSISTEM TEKANAN LEBIH

PENGAMAN

   
 

-

   

VI

SUBSISTEM KONSTRUKSI DAN PONDASI

   
 

-

   

VII

SUBSISTEM KONEKTOR

   
 

-

   

VIII

SUBSISTEM

GRADING

RING/

   

CORONA RING

 

-

   

5.2.2 Shutdown Function Check

Adalah pengujian secara berkala/ periodik yang dilaksanakan pada peralatan listrik saat padam (tidak operasi) untuk mengetahui kerja peralatan apakah

Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

PT PLN (Persero) LIGHTNING ARRESTER
<