Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. I
Umur
: 55 tahun
Alamat
: Kp. Seuseupan, Kec. Ciranjang
Pekerjaan
: IRT
Agama
: Islam
Status Pernikahan: Menikah
No. RM
: 61XXXXX
B. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Luka disertai benjolan di payudara kanan
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak + 1 tahun yang lalu, pasien mengeluh adanya benjolan pada payudara kanan.
Benjolan sebesar kelereng kemudian semakin lama semakin membesar. Lalu
dilakukan operasi pengambilan sampel benjolan. Luka operasi tidak dikontrol oleh
pasien ke RS melainkan ke mantri. Oleh mantri pasien diberikan obat berupa salpe dan
pil, tetapi pasien lupa obat apa saja yang diberikan. Semakin lama luka berkembang
menjadi besar, gatal dan mengeluarkan nanah dan darah.
Riwayat Penyakit Dahulu
o Riwayat penyakit yang sama disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
o Riwayat penyakit yang sama disangkal
o Riwayat penyakit keganasan disangkal
Riwayat Operasi
o Operasi biopsi insisi November 2013

Riwayat Alergi
o Alergi makanan disangkal
o Alergi obat ibu disangkal
Riwayat Menstruasi
Menarche saat usia 14 tahun, haid teratur dengan siklus 30 hari, lama haid 7 hari. Saat
ini pasien sudah menopause sejak + 1 tahun yang lalu.
Riwayat Obstetri

1.
2.
3.
4.
5.

Th 1982. BB lahir 3300 gram (meninggal usia 2 bulan)


Th 1983. BB lahir 4000 gram
Th 1986. BB lahir 3800 gram (meninggal usia 4 tahun)
Th 1991. BB lahir 3000 gram
Th 2009. BB lahir 3300 gram

Riwayat Perkawinan
Pasien menikah usia 17 tahun. Perkawinan ke-1. Lama menikah 24 tahun
Riwayat KB
Paisen mengaku mulai menggunakan KB setelah melahirkan anak ke-3, dan pasien
mengaku hanya pernah menggunakan satu jenis alat KB, yaitu KB implant
Riwayat Psikososial
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga. Pasien mengaku kebiasaan mengonsumsi
makanan asin seperti ikan asin dan lalapan.

C. PEMERIKSAAN FISIK UMUM


KU
: Tampak sakit ringan
Kesadaran
: compos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi
: 76 x/menit
Pernapasan
: 17 x/menit
Suhu
: 36 0C
Status generalis
Kepala

: Normoceephale

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Mulut

: Mukosa bibir lembab (+)

Gigi

: caries (-)

Leher

: kelenjar tiroid membesar (-)

Dada

: asimetris

Jantung

: Bunyi jantung 1 dan bunyi jantung 2 normal, murmur (-) gallop (-)

Paru paru

: Suara paru vesikuler (+/+),

Abdomen

Inspeksi

: Tampak datar

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Perkusi

: Timpani pada seluruh lapang abdomen

Palpasi

: nyeri tekan (-), defans muskular (-)

ronkhi

(-/-) wheezing (-/-)

Ekstremitas

Atas

: edema (-/-), hangat (+/+)

Bawah

: edema (-/-), hangat (+/+)

Status lokalis
Regio mammae dextra
Inspeksi

Pada payudara dextra terdapat nodul (+), ulkus (+), discharge (+), hiperemis
(+)
Palpasi

Teraba massa di payudara kanan berdiameter + 5 cm, konsistensi keras (+),


berbatas tegas, terfiksir, nyeri tekan (-)

RESUME
Seorang perempuan usia 55 tahun MRS dengan keluhan adanya luka dan benjolan
pada payudara kanan. Benjolan dirasakan sejak + 1 tahun yang lalu. Benjolan awalnya
sebesar kelereng kemudian semakin lama semakin membesar. Lalu dilakukan operasi
pengambilan sampel benjolan. Luka operasi tidak dikontrol oleh pasien ke RS

melainkan ke mantri. Oleh mantri pasien diberikan obat berupa salep dan pil, tetapi
pasien lupa obat apa saja yang diberikan. Semakin lama luka berkembang menjadi
besar, gatal dan mengeluarkan nanah dan darah.

Pada pemeriksaan fisik regio mammae dextra,


Inspeksi

Pada payudara dextra terdapat nodul (+), ulkus (+), discharge (+), hiperemis
(+)
Palpasi

Teraba massa di payudara kanan berdiameter + 5 cm, konsistensi keras (+),


berbatas tegas, terfiksir, nyeri tekan (-)

D. ASSESSMENT
Tumor mammae dextra suspek Carsinoma mammae dextra (T4bN0Mx)

E. RENCANA
Usulan radical mastektomi, kemoterapi, radioterapi

F. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad fungsionam
Ad sanationam

: dubia at bonam
: dubia at malam
: dubia at bonam

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Payudara
Payudara perempuan atau kelenjar mammae terletak pada dinding anterior thorax
jaringan subkutaneus (fascia superficial). Ukuran payudara atau kelenjar mammae setiap
individu bervariasi, batas-batas payudara atau kelenjar mammae, yaitu batas superior :
costa 2, batas inferior : costa 6, batas medial : sternum, dan batas lateral : linea mid
axillaris. Duktus lactiferus menyatu kearah radial untuk membuka puting susu. Jaringan
fibrous menghubungkan dermis dari kulit ke fascia, dan untuk menjaga tonjolan payudara
muda, payudara yang atrofi pada menjadi pendulus, penyebab pitting kulit pada karsinoma.
Antara jaringan kapsul dengan fascia pectoralis mayor disebut dengan ruang
retromammary. Dilalui oleh percabangan limfatik dan vaskularisasi. Kelenjar getah bening
axillaris dipisahkan menjadi tiga tingkatan berdasarkan muskulus pectoralis minor, yaitu
tingkat 1 Kelenjar limfe dari muskulus pectoralis lateral, tingkat 2 nodus dibawah otot,
tingkat 3 nodus medial yang berasal dari muskulus pectoralis minor. Kelenjar limfe

interpectoralis axillaris anterior terletak diantara muskulus pectoralis mayor dan muskulus
pectoralis minor.

Gambar 2. Anatomi Payudara

A. Vaskularisasi Payudara
1. Arteri
Suplai darah berasal dari arteri thoracic lateralis dengan percabangan disekitar perbatasan
pektoralis mayor dan percabangan lainnya. Arteri thoracic interna juga mempunyai
percabangan melalui ruang intercostalis. Pasokan darah payudara didapatkan dari rami
perforans arteriae thoracicae internae dan arteriae intercostales. Arteri axillaris juga
mengalir darah ke glandula mammae, yaitu melalui cabang-cabangnya, arteri thoracica
lateralis dan arteria thoracoacromialis.
2. Vena

Vena mengikuti arteri, pada aksilla, pada internal thorakalis dan aliran vena pada kelenjar
payudara terdapat di intercosta 3 sampai intercosta 5

a.axillary

a.mammary interna

a.intercostal posterior
a.thoracic lateral

Gambar 3. Vaskularisasi Payudara


B. Aliran Limfe
Pembentukan kelenjar limfe terjadi tidak tetap dan bervariasi, banyak kelenjar yang sangat
kecil. Pembagian aliran kelenjar mammae yaitu
1) Pembuluh getah bening
a. Pembuluh getah bening aksila : Pembuluh getah bening aksila ini mengalirkan
getah bening dari daerah-daerah sekitar areola mammae, kuadran lateral bawah
dan kudran lateral atas payudara
b. Pembuluh getah bening mamaria interna : Saluran limfe ini mengalirkan getah
bening dari sebagian dalam dan medial payudara. Pembuluh ini berjalan di atas
fascia pektoralis lalu menembus fascia tersebut dan masuk ke dalam m.
Pectoralis mayor. Lalu jalan ke medial bersama-sama dengan perforantes
menembus m. Interkostalis dan bermuara ke dalam kelenjar getah bening
mamaria interna. Dari kelenjar mamaria interna, getah bening mengalir melalui
trunckus limfatikus mamaria interna. Sebagian akan bermuara pada v. Kava.
Sebagian akan bermuara ke duktus Torasikus dan duktus limfatikus dekstra.
c. Pembuluh getah bening di daerah tepi medial bawah payudara. Pembuluh ini
berjalan bersama-sama vasa epigastrika superior, menembus fascia rektus dan
masuk ke dalam m. Rektus abdominis. Saluran ini bermuara ke dalam kelenjar
getah bening preperikardial anterior yang terletak di tepi atas diafragma diatas

ligamentum falsiforme. Kelenjar getah bening ini juga menampung getah


bening dari diafragma, ligamentum falsiforme dan bagian anterosuperior hepar.
Dari kelenjar ini, limfe mengalir melalui trunkus limfatikus mammaria interna
2) Kelenjar kelenjar getah bening
a. Kelenjar getah bening aksila
1. Kelenjar getah bening mammaria eksterna. Kelenjar ini terletak dibawah
tepi lateral m. Pektoralis mayor, sepanjang tepi medial aksila. Grup ini
dibagi dalam dua kelompok :
a. Kelompok superior
Kelompok kelenjar getah bening ini terletak setinggi interkostal II-III
b. Kelompok inferior
Kelompok kelenjar getah bening ini terletak setinggi interkostal IV-V-VI
2. Kelenjar getah bening skapula
Kelenjar

getah

torakodorsalis,

bening
mulai

terletak
dari

sepanjang

percabangan

vasa

v.

suskapularis

Aksilaris

dan

menjadi

v.

Subskapularis, sampai ke tempat masuknya v. Torako-dorsalis ke dalam m.


Latissimus dorsi.
3. Kelenjar getah bening sentral (central nodes)
Kelenjar getah bening ini terletak di dalam jaringan lemak di pusat axillaris.
Kelenjar getah bening ini adalah kelenjar yang relatif paling mudah diraba.
Dan merupakan kelenjar aksila yang terbesar dan terbanyak jumlahnya.
4. Kelenjar getah bening interpektoral (Rotters node)
Kelenjar getah bening ini terletak diantara m. Pektoralis mayor dan minor,
sepanjang rami pektoralis v. Thorako-akromialis.
5. Kelenjar getah bening v. Aksilaris. Kelenjar-kelenjar ini terletak sepanjang
v. Aksilaris bagian lateral, mulai dari white tendon m. Latissimus dorsi
sampai

ke

sedikit

medial

dari

percabangan

v. Aksilaris

v.

Torakoakromialis.
6. Kelenjar getah bening subklavikula. Kelenjar ini terletak sepanjang v.
Aksilaris, mulai dari sedikit medial percabangan v. Aksilaris v. Torakoakromialis sampai v. Aksilaris menghilang dibawah tendon m. Subklavius.
Kelenjar ini merupakan kelenjar tertinggi dan kelenjar yang letaknya paling
medial.

7. Kelenjar getah bening prepektoral. Kelenjar getah bening ini merupakan


kelenjar tunggal yang kadang-kadang terletak di bawah kulit atau di dalam
jaringan payudara kuadran lateral atas disebut prepektoral karena terletak
di atas fascia pektoralis
8. Kelenjar getah bening mamaria interna. Kelenjar-kelenjar ini tersebar
sepanjang trunkus limfatikus mamaria interna, kira-kira 3 cm dari pinggir
sternum. Terletak di dalam lemak di atas fascia endotorasika, pada
intercostalis.

Gambar 3. Kelenjar Limfe Payudara


C. Persyarafan
Pada pembedahan harus diperhatikan persarafan pada payudara, karena jika terjadi defisit
fungsional pada saraf yang terkena akan meyebabkan kelaianan.

Nervus
N. torasikus (of Bell)

Persarafan
Serratus anterior

Defisit fungsional
Winging scapula

N. torakodorsalis

Latissimus dorsi

Sulit bangun dari posisi

N. pektoralis medial dan lateral


N. interkostobrakhial

duduk ke posisi berdiri


Pektoralis mayor dan minor
Kelemahan otot pektoralis
Menyebrang axilla secara Anestesi pada bagian dalam
transversal

menuju

bagian lengan

dalam lengan
Tabel 1. Persyarafan Payudara
2.2 Fisiologi Payudara
Payudara terdiri dari stroma fibrosa padat dan dilapisi oleh epitel yang sangat padat. Di
Amerika Serikat, puberitas ditentukan dari perkembangan payudara dan pertumbuhan
rambut kemaluan biasanya terjadi pada usia 9 tahun dan 12 tahun selain itu juga di tandai
dengan menarche (awal siklus haid/menstruasi) biasanya terjadi pada usia 12 tahun sampai
13 tahun. Pembentukan dan pertumbuhan payudara bergantung pada hormon estrogen,
hormon progesteron, dan hormon prolaktin yang sangat penting dalam perkembangan
fungsi payudara. Hormon esterogen sebagai perkembangan duktus, hormon progesteron
sebagai perkembangan lobus dan kelenjar epitel pada payudara. Hormon prolaktin hormon
yang merangsang laktogenesis post partum, hormon adrenal, hormon pituitari, hormon
oxytosin, hormon tiroid, hormon kortisol, hormon pertumbuhan. Istilah prapubertas
ginekomastia mengacu pada masa perkembangan pada anak perempuan sebelum usia 12
tahun dan disertai dengan perubahan pubertas yang lain. Pasca pubertas payudara
mengandung lemak, stroma, duktus laktiferus, dan unit lobular. Selama siklus menstruasi
berlangsung hormon ekstrogen, stroma dan kelenjar epitel berstimulasi.

2.3 Definisi Karsinoma Mammae


Karsinoma mammae merupakan penyakit keganasan yang paling banyak menyerang
perempuan, disebabkan karena terjadinya pembelahan sel-sel tubuh secara tidak teratur
sehingga pertumbuhan sel tidak terkendali dan akan tumbuh menjadi benjolan tumor
(cancer) di payudara.
2.4 Epidemiologi
Kanker payudara adalah kematian neoplasma terbanyak umumnya pada perempuan.
American Cancer Society (ACS) memperkirakan bahwa kanker payudara merupakan 29%
dari semua neoplasma maligna baru dan 16% kematian dari kanker pada perempuan.
Kejadian tahunan kanker payudara di Amerika Serikat meningkat secara dramatis seiring
usia (5/100.000, populasi di usia 25 tahun, meningkat 150/100.000 di usia 50 tahun, dan
lebih dari 200/100.000 di usia 75 tahun). Usia merupakan faktor risiko pada kanker
mammae. Data lain memaparkan bahwa kanker payudara jarang terjadi pada orang muda
usia 20 tahun hanya 2%. Insiden meningkat menjadi 1 dari 93 kasus pada usia 40 tahun, 1
dari 50 kasus pada usia 50 tahun, 1 dari 24 kasus pada usia 60 tahun, 1 dari 14 kasus pada
usia 70 tahun, dan 1 dari 10 kasus pada usia 80 tahun. Atau menyatakan prevalensi
tahunan kanker payudara pada dekade kedelapan hidup lebih besar dari 300/100.000.
Gender juga merupakan faktor risiko pada kanker payudara, laki-laki juga berisiko untuk
terkena kanker payudara, meskipun prevalensi pada pria kurang dari 1% dari pada
prevalensi perempuan. Dengan 1.720 kasus kanker payudara invasif diantisipasi pada
tahun 2006 (total kasus diperkirakan 215.000). Data lain menjelaskan bahwa kejadian
kanker payudara pada laki-laki adalah sekitar 2,5/100.000 populasi. Namun, benjolan pada
pria biasanya jinak.
2.5 Faktor Risiko
Banyak faktor yang terkait dengan peningkatan kanker payudara, termasuk usia, riwayat
keluarga, paparan hormon (antara endogen dan eksogen), faktor makanan, tumor jinak
payudara, dan faktor lingkungan. Sebagian dari faktor-faktor tersebut menyatakan
peningkatan risiko untuk setiap perempuan. Diperkirakan bahwa sekitar 50%

yang

didiagnosa kanker payudara karena faktor risiko usia dan jenis kelamin, karena kanker
payudara sebagian besar diderita oleh perempuan, gender sering kali tidak dilihat sebagai

faktor risiko. Faktor risiko usia seringkali diabakaikan. Banyak perempuan, khususnya
perempuan muda dengan risiko tinggi kanker payudara. Usia faktor risiko utama pada
kanker payudara. Pada perempuan usia dibawah 30 tahun, kanker payudara sangat jarang.
Dari tahun 1992 sampai 1996, kejadian kanker payudara pada perempuan usia 35 tahun
sampai 39 tahun per 100.000. Namun pada perempuan usia 55 tahun sampai 59 tahun
296/100.000
2.6 Etiologi
Kanker payudara adalah hasil mutasi dalam satu atau lebih critical genes. Dua gen pada
perempuan dalam kromosom 17 terlibat. Gen paling penting disebut BRCA-1 (di 17q21);
lainnya adalah gen p53 (di 17p13). Gen ketiga adalah BRCA-2 gen pada kromosom 13.
Gen keempat yang terlibat pada etiologi kanker payudara adalah gen reseptor androgen,
ditemukan di kromosom Y. Mutasi gen telah dikaitkan dengan beberapa kasus kanker
payudara laki-laki tetapi tidak pada kanker payudara perempuan.
Hasil penelitian dan kejadian epidemiologi yang berpengaruh kuat terhadap patogenesis
kanker payudara adalah pengaruh hormonal dan konsumsi makanan.
a. Faktor Hormonal
Perkembangan kanker payudara pada perempuan berkaitan dengan hormon. Menurut
epidemiologi faktor risiko kanker payudara dikaitkan dengan peningkatan paparan
estrogen dan endogen. Usia saat menarche, usia saat pertama kali melahirkan, usia
menopause semuanya mencakup faktor risiko kanker payudara. Pada perempuan
potsmenopause, obesitas dan post terapi hormon, keduanya berhubungan dengan tingkat
estrogen plasma dan tingkat estradiol plasma merupakan faktor risiko kanker payudara.
Angka kejadian kanker payudara meningkat tajam sampai usia menopause. Usia saat
menarche dan pembentukan siklus ovulasi sangat terkait dengan faktor risiko kanker
payudara. Pada perempuan yang mengalami menarche dini maka hormonnya lebih tinggi
dari pada perempuan yang terlambat menarche. Dari data tentang menarche dan
menopause, paparan hormon terhadap estrogen endogen merupakan faktor risiko kanker
payudara.
Pada perempuan yang hamil di usia lebih dari 30 tahun dan perempuan yang melahirkan di
usia kurang dari 18 tahun merupakan faktor risiko kenaker payudara. Pada nulipara selama
kehamilan, terjadi proliferasi, pertumbuhan, dan pematangan sel payudara untuk perisapan

laktasi mengarah ke pengembangan laktasi. Setelah itu, sel-sel ini akan lebih banyak
waktu untuk perbaikan DNA di G1. Efek dari hormon eksogen dalam bentuk terapi
hormon dan kontrasepsi oral, penelitian menunjukkan bahwa perempuan postmenopause
memiliki risiko lebih besar terkena kanker payudara dibanding dengan perempuan dengan
tingkat estrogen yang lebih rendah.
b. Asupan Makanan
Asupan makanan di negara-negara Barat biasanya tinggi lemak dan gula. Asupan makanan
dengan kandungan lemak dan total kalori berhubungan erat dengan kejadian kanker
payudara. Perempuan di negara maju 6 kali berisiko dibanding perempuan negara
berkembang di Asia. Rendahnya tingkat kanker payudara pada perempuan Asia
berhubungan dengan tingginya asupan phytoestrogen di Asia dibanding Amerika Serikat
dan Eropa.
Risiko peningkatan yang progresis pada kanker payudara terkait dengan usia kecuali
negara dengan asupan rendah lemak, dimana risikonya lebih stabil dan cenderung menurun
pada perempuan tua.
c. Hubungan Asupan Makanan dan Hormonal
Perbedaan kadar estrogen dan progestin pada populasi perempuan berhubungan dengan
perbedaan dalam konsumsi lemak. Diet tinggi lemak berhubungan dengan peningkatan
hormon sekresi. Obesitas berhubungan dengan meningkatnya produksi adrenal dari
androstenedione, yang akan diubah menjadi estrogen dalam jaringan lemak, dan sumber
produksi akan terus berubah setelah menopause. Dan akhirnya, Tumor promoting steorid
hormon akan larut lemak dan akan terakumulasi di jaringan payudara.
d. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga kanker payudara telah lama diakui sebagai faktor risiko pada kanker
payudara. Mayoritas dari perempuan yang didiagnosa kanker payudara tidak memiliki
riwayat penyakit keluarga, dan hanya 5% sampai 10% memiliki riwayat penyakit keluarga.
Banyak perempuan dengan riwayat keluarga positif berisiko kanker payudara, dan
perempuan mempertimbangkan tes genetik untuk mengetahui adanya mutasi gen.
Keseluruhan, faktor risiko meningkat dari 1,5 sampai 3,0 jika ibu atau saudara
perempuannya memiliki riwayat kanker payudara.

2.7 Patologi
a. Kanker payudara noninvasif
Neoplasma noninvasif dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : LCIS dan DCIS (atau karsinoma
intraductal). LCIS pernah dianggap sebagai lesi ganas, tetapi sekarang dianggap sebagai
faktor risiko pengembangan kanker payudara.LCIS adalah morfologi lesi yang bersifat
heterogen dan dapat dikenali dengan empat kategori, yaitu : papiler, cribriform, padat dan
comedo. Tipe papiler dan cribriform dapat berubah menjadi invasive dalam waktu yang
lama sedangkan pada tipe solid dan comedo dapat berubah dengan cepat dan menjadi
invasive dan stadium yang tinggi. DCIS dikelilingi oleh membran basal dengan sel-sel
ganas. Basally terletak pada sel lapisan yang terdiri dari sel-sel mioepitel yang normal.
b. Kanker payudara invasif
Kanker invasif disebabkan oleh sejumlah variabel stroma yang mengalami infiltrasi sel-sel
atau pembentukan sel secara terus-menerus dan sel tanpa bentuk dapat mengganggu fungsi
kelenjar payudara. Berdasarkan ilmu kedokteran dari segi histologi kanker payudara dibagi
menjadi kanker payudara invasif lobular dan duktal.
Non Invasive Ephitelial Invasive Ephitelial Cancer
Cancer
- Lobular

Carcinoma In Situ

Carcinoma

(LCIS)

15%)

Ductal Carcinoma

In Situ (DCIS)
-

Invasive

Tipe

papillar,

cribriform,

solid

Invasive

(10%Ductal

NOS (50%-70%)

Tubular

carsinoma

(2%-3%)
Mucinous/colloid
carsinoma (2%-3%)
-

Medullary carcinoma
(5%)

Invasive

and
tumor

benign
malignant

Connective

Epithelial Tumor
Lobular
- Phyllodes

Carcinoma

dan comedo

Mixed

cribriform

Carcinosarcoma

Angiocarcinoma

and

carcinoma (1%-2%)
-

Adenoid

cystic

carcinoma (1%)
-

Metaplastic

carcinoma (1%)
Tabel 4. Klasifikasi Kanker Payudara Primer
Penyebaran kanker payudara
1. Invasi lokal
Penyebaran kanker payudara terjadi dengan invasi langsung ke parenkim payudara,
sepanjang duktus mammae, dan meluas ke jaringan limfatik payudara.
2. Metastasis kelenjar limfe regional
Kelenjar limfe regional yang terlibat adalah kelenjar aksilaris, mammae interna dan
kelenjar supraklavikular.
3. Metastasis hematogen
Sel kanker dapat bermetastasis melalui saluran limfatik kemudian masuk ke pembuluh
darah dan menginvasi kemudian masuk ke pembuluh darah melalui vena kava atau sistem
vena interkostal-vertebral. Lokasi metastasis tersering adalah paru, tulang, hati, pleura, dan
adrenal
Ukuran Tumor (cm)

Pasien dengan 4 kel.limfe (+) (%)

<1

25

1-2

35

2-3

50

>3

55-65

Tabel 5. Hubungan antara tumor dengan metastasis kelenjar limfe


2.8 Pemeriksaan untuk diagnosis kanker payudara (ICD: C50)
a. Identitas Pasien
Dengan mencatat nama, umur, jenis kelamin, agama, bangsa, pendidikan, pekerjaan yang
rinci, alamat lengkap, dan status perkawinan.
b. Anamnesis
Alur diagnostik pada penderita kanker payudara diawali dengan anamnesis dengan pasien,
yang perlu ditanyakan dan dapat membantu mendiagnosa kanker payudara yaitu tanyakan

usia pasien, tanyakan riwayat reproduksi pasien termasuk tanyakan pada usia berapa pasien
menarche, selain itu tanyakan juga menstruasi pasien teratur atau tidak, dan pada usia
berapa saat menopause. Tanyakan apakah pernah melakukan operasi payudara sebelumnya,
khususnya biopsi payudara dan apa saja temuan patologisnya jika pasien pernah
melakukan biopsi payudara. Tanyakan apakah pernah histerektomi. Tanyakan tentang
riwayat kehamilan dan menyusui. Riwayat penggunaan alat kontrasepsi oral dan HRT pada
menopasue. Tanyakan tentang riwayat keluarga pasien, apakah ada yang menderita kanker
payudara dikeluarga pasien. Menggali keluhan utama yang dirasakan pasien terutama yang
berkaitan pada bagian payudara, apakah pasien merasakan nyeri di payudara, teraba masa
atau tidak di bagian payudara jika teraba sejak kapan teraba benjolan atau masa di bagian
payudara pasien, pernah keluar cairan dari puting payudara, tanyakan apakah ada
perubahan siklus haid. Apabila keluhan-keluhan yang dijelaskan pasien mengarah pada
kanker, segera lakukan pemeriksaan tentang gejala konstitusional seperti nyeri pada tulang,
penurunan berat badan dan perubahan pernapasan.
c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada pasien kanker payudara pada posisi duduk tegak dengan
inspeksi visual untuk melihat apakah terdapat masa, asimetris, untuk mengetahui asimetris
atau tidak dapat dilakukan dengan manuver sederhana yaitu dengan cara peregangan
tangan ke atas kepala atau menegangkan otot pectoralis dengan cara ini dapat menilai
kesimetrisan payudara dan dimpling, pada saat pasien mengangkat lengan dapat pula
dilakukan palpasi pada axillaris untuk mendeteksi adanya pembesaran kelenjar getah
bening axilla yaitu dengan cara supraklavikula dan infraklavikularis diraba secara
bersamaan untuk mengetahui adanya pembesaran kelnjar limfe. Apabila teraba masa
deskripsikan lokasi, ukuran, bentuk, konsistensi, mobile atau terfiksir, nyeri atau tidak.dan
perubahan warna kulit. Puting susu di inspeksi apakah ada retraksi atau tidak, keluar cairan
atau tidak, apabila keluar cairan pada puting susu, cairan yang keluar dari puting susu
berwarna apa dan perhatikan apakah ada retraksi payudara, perubahan warna pada
payudara misalnya perubahan warna menjadi kemerahan, raba pada daerah axilla apakah
teraba adanya massa dan kelainan pada otot sekitar payudara. Pemeriksaan fisik sebaiknya
dilakukan ditenpat yang terang dan pencahayaan yang cukup sehingga dapat
mengobservasi adanya dimpling halus dari kulit atau puting susu yang disebabkan oleh
neoplasma yang menarik ligamen Cooper. Edema kulit, sering disertai dengan eritema
yang biasa dikenal dengan peau dorange. Tetapi apabila terdapat peradangan dapat keliru

dengan mastitis akut. Inflamasi dan edema pada kanker disebabkan oleh obstruksi saluran
limfatik subkutis oleh emboli sel karsinoma. Nodul satelit disebabkan karena adanya
obstruksi saluran getah bening.
1) Pemeriksaan payudara (sadari)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan posisi telentang, duduk atau berdiri.
a. Berbaring telentang dengan sebuah bantal dibawah bahu kanan. Tempatkan
lengan kanan di bawah kepala
b. Gunakan permukaan ventral tiga jari (telunjuk, jari tengah, dan jari manis) dari
tangan kiri untuk meraba benjolan pada payudara kanan. Permukaan ventral jari
tangan merupakan finger pads (bantalan jari) pada bagian sepertiga distal setiap
jari tangan
c. Lakukan penekanan yang cukup kuat untuk mengetahui adanya benjolan pada
payudara
d. Tekan kuat-kuat pada payudara dan gerakkan jari-jari tangan sambil terus
menekan dengan pola naik-turun atau pola garis-garis atau dengan pola sirkuler
atau pasak, lakukan keseluruh daerah payudara
e. Ulangi pemeriksaa pada payudara kiri dengan cara yang sama
f. Tekan puting susu untuk melihat apakah ada cairan yang keluar
2) Fine-Needle aspirasi
Fine-Needle aspirasi merupakan bagian rutin yang harus dilakukan pada diagnosis fisik
apabila ditemukan massa ditangani dengan menggunakan jarum 22 gauge atau disesuaikan
ukurannya dan persiapan alkohol pad. Keuntungan dari FNA adalah untuk membedakan
massa yang solid dari massa kistik jika ditemukan massa pada payudara. Penundaan
prosedur sederhana ini dilakukan jika evaluasi radiografi meragukan dan perlu mamografi.
Dalam pemeriksaan rutin payudara menggunakan FNA, dapat terhindar biopsi terbuka
kecuali dibutuhkan pemeriksaan penunjang yang lain. Karsinoma tidak terdeteksi jika
biopsi bedah dilakukan saat cairan dan massa tidak teraspirasi, cairan yang kental dan
bercampur darah, dan terdapat cairan namun tidak terdapat massa.
Sensitivitas kanker payudara dengan FNA 90-99% dan spesifitasnya 98%

Biopsy Ultrasound

Teknik ini dilakukan oleh ahli bedah sebagai alternatif dengan biopsy terbuka tetapi
prosedur ini masih sangat jarang digunakan

Biopsy terbuka (eksisi)

Setelah dilakukan biopsi terbuka specimen harus segera dikirim ke laboratorium untuk
dilakukan pemeriksaan histologi.
d. Pemeriksaan Penunjang
1) Mamografi
Skrining mamografi dilakukan pada perempuan dengan gejala asimptomatik untuk
mendeteksi kanker payudara yang belum terbukti secara klinis. Dengan dilakukannya
skirining mamografi prognosis kanker payudara lebih baik. Indikasi mamografi yaitu :
a) Skrining pada perempuan yang mempunyai faktor risiko tinggi kanker payudara
b) Teraba adanya masa atau benjolan pada payudara
c) Teraba adanya benjolan pada kelenjar getah bening, seperti pada aksila dan
supraklavikula
d) Untuk usia 40-50 tahun dilakukan 2x setahun

Gambar 7. Pemeriksaan Mammografi

Gambar 8. Hasil Mammografi

2) MRI
MRI

mendeteksi

adanya

kanker mammae

sama

seperti

mamografi.

Karena itu jika

dalam pemeriksaan fisik dan

mamografi tidak

terlihat adanya kanker, maka

saat

pemeriksaan

kemungkinan

MRI

dilakukan

ditemukan adanya kanker pun

sangat

Biasanya

untuk screening

MRI

digunakan

pada perempuan muda yang

rendah.

mempunyai

riwayat genetik kanker mammae dan evaluasi dengan mamografi terbatas disebabkan
peningkatan densitas jaringan mammae, pada perempuan yang baru saja didiagnosis
kanker mammae dan pada perempuan yang punya riwayat kanker mammae kontralateral.
3) Duktografi
Indikasi utama untuk duktografi adalah keluarnya cairan dari puting termasuk jika
mengandung darah. Sebelumnya kontras disuntikan ke salah satu atau lebih duktus kelenjar
mammae kemudian lakukan mammografi dengan posisi supinasi. Kanker akan terlihat
sebagai massa irregular atau multipel filling defect intraluminal.
4) Ultrasonografi
USG merupakan pemeriksaan penunjang kedua yang paling sering digunakan selain
mamografi. USG sangat penting dalam memcahkan masalah temuan equivocal pada
mamografi, medefinisikan kista dan menunjukan keabnormalan lesi solid secara spesifik.
Pada USG kista mammae digambarkan dengan batas halus dengan gambaran echoic.
Massa benigna digambarkan dengan kontur halus, berbentuk lingkaran atau oval, echoic
dan batas jelas. Kanker mammae digambarkan sebagai massa dengan dinding yang
irregular dan batas halus tetapi tidak bisa mendeteksi massa < 1 cm. Usg juga digunakan
sebagai guide FNA.
5) Tumor Marker
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan tumor marker. Untuk
kanker mammae, tumor marker yang paling spesifik adalah CEA dan CA 15-3, digunakan
untuk mengetahui perjalanan penyakit dan respon terhadap therapi. Normalnya bernilai <
35 /ml dan bisa meningkat pada kehamilan menjadi 50 /ml.

2.9 Stadium Kanker Payudara


Stadium kanker payudara ditentukan oleh hasil reseksi bedah dan
pencitraan. Kanker payudara diklasifikasikan berdasarkan sistem klasifikasi TNM sesuai
dengan yang telah ditentukan oleh American Joint Community on Cancer (AJCC). Sistem
ini ditentukan pada deskripsi dari tumor primer (T), status kelenjar getah bening regional
(N), dan adanya metastasis jauh (M). Pengelompokan terbaru telah memasukkan
penggunaan sentinel node biopsi dan termasuk klasifikasi ukuran deposit metastasis pada
kelenjar sentinel, serta jumlah dan lokasi node metastasis regional disertai angka harapan 5
tahun

Tumor Primer (T)


TxT0

Tumor pimer tidak dinilai

Tis

Carcinoma in situ (LCIS atau DCIS) atau pagets disease pada puting tanpa
tumor

T1

Tumor 2 cm

T1a

Tumor 0.1 cm, 0.5 cm

T1b

Tumor >0.5 cm, 1 cm

T1c

Tumor >1 cm, 2 cm

T2

Tumor >2 cm, 5 cm

T3

Tumor >5 cm

T4

Tumor dalam berbagai ukuran dengan perluasan sampai ke dinding dada atau
kulit

T4a

Tumor meluas sampai dinding dada (kecuali m. pectoralis)

T4b

Tumor meluas ke kulit dengan ulserasi, edema dan nodul satelit

T4c

Gabungan T4a dan T4b

T4d

Karsinoma inflamatory

Pembuluh Limfe/Node (N)


N0

Tidak ada keterlibatan kel.limfe regional, tidak diteliti lebih jauh

N0 (i-)

Tidak ada keterlibatan kel.limfe regional, IHC (-)

N0 (i+)

Keterlibatan kel.limfe mencakup <0.2 mm

N0

Tidak ada keterlibatan kel.limfe, PCR (-)

(mol-)
N0

Tidak ada keterlibatan kel.limfe, PCR (+)

(mol+)
N1

Metastasis ke kel.limfe axilla 1-3 dan atau int. mammary (+) dari biopsy

N1(mic) Micrometastasis (>0.2 mm, none >2.0 mm)


N1a

Metastasis ke kel.limfe axilla 1-3

N1b

Metastasis ke kel.limfe int. mammary dengan biopsy sentinel

N1c

Metastasis ke kel.limfe axilla 1-3 dan kel. limfe int. Mammary dengan biopsy

N2

Metastasis ke kel.limfe axilla 4-9 atau int. mammary disertai klinik (+) tanpa
metastasis ke axilla

N2a

Metastasis ke kel.limfe axilla 4-9 paling tidak 1 >2.0 mm

N2b

Int. mammary klinik nampak, kel.limfe axilla (-)

N3

Metastasis ke 10 kel.limfe axilla atau kombinasi metastasis kel.limfe axilla


dan int. mammary metastasis

N3a

10 kel.limfe axilla (>2.0 mm), atau kel.limfe infraclavicular

N3b

Klinik int. mammary (+) 1 kel.limfe (+) atau >3 kel.limfe axilla (+) dengan
int. mammary (+) dari biopsy

N3c

Metastasis ke ipsilateral supraclavicular nodes (IAN)

M (Metastasis)
M0

Tidak terdapat metastasi jauh

M1

Terdapat metastasis jauh

Tabel 6. American Joint Committee on Cancer, Stadium Kanker Mammae, 2002


Stage 0
Stage I

Tis N0 M0
T1 N0 M0

DCIS atau LCIS


Invasive karsinoma 2 cm
(termasuk
dengan

karsinoma

insitu

mikroinvasi)

belum

mengenai nodal
Stage II

IIA : T0 N1 M0
T1 N1 M0, T2 N0 M0

dan belum

bermetastasis.
Invasive karsinoma 5 cm
tetapi dengan nodal aksila yang

Stage III

IIB : T2 N1 M0

masih bisa digerakkan, atau

T3 N0 M0

tumor > 5 cm tanpa mengenai

IIIA : T0 N2 M0

nodal dan belum bermetastasis.


Kanker payudara >5 cm

T1 N2 M0, T2 N2 M0

dengan keterlibatan nodal atau

T3 N1 M0, T3 N2 M0

sebagian kanker dengan nodal


aksila

IIIB : T4 anyN M0, anyT N3 M0

yang

tidak

dapat

digerakkan, atau keterlibatan


ipsilateral internal mammae
linfenodus, atau kanker yang
mengenai kulit, pectoral dan
fiksasi dinding dada, edema,
atau

gejala

karsinoma

inflammatory, jika metastasis


Stage IV

anyT anyN M1

jauh tidak ditemukan.


Kanker
payudara
metastasis

jauh

dengan

(termasuk

ipsilateral supraclavikula limfe


nodus)
Tabel 7. Grup Stase Kanker Payudara

Stage
Angka harapan hidup 5 tahun
I
92 %
II
87 %
III
75 %
IV
13 %
Tabel 8. Perkiraan Angka Harapan Hidup % tahun berdasarkan Stase
Untuk mendiagnosis kanker payudara dapat dilakukan biopsi dari lesi yang teraba
massa atau gambar yang sudah dideteksi. FNA juga berguna untuk mendiagnosa lesi pada
payudara, meskipun pada hasil pemeriksaan negatif palsu tinggi dapat dilakukan
pemeriksaan tambahan. FNA biopsi jugaadapat digunakan untuk membedakan lesi
invasive insitu

2.10

Penangan kanker Payudara


a. Pembedahan
1. Mastektomi parsial, mulai dari tilektomi (lumpektomi) sampai pengangkatan
segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena) sampai
kuadrantektomi (pengangkatan seperempat payudara), pengangkatan atau
pengambilan contoh jaringan dari kelenjar getah bening aksila untuk penentuan
stadium
2. Mastektomi total dengan diseksi aksila rendah, eksisi seluruh payudara, semua
kelenjar getah bening di lateral otot pektoralis minor
3. Mastektomi radikal yang dimodifikasi, eksisi seluruh payudara, semua atau
sebagian besar jaringan aksila
4. Mastektomi radikal yang diperluas, eksisi seluruh payudara, otot pektoralis
mayor dan minor dibawahnya, seluruh isi aksila sama seperti mastektomi
radikal ditambah dengan kelenjar getah bening mamaria interna
b. Non pembedahan
1. Penyinaran ke payudara dan daerah dada lain sebagai terapi lokal tambahan
setelah prosedur bedah: ke payudara dan kelenjar getah bening regional yang
tidak dapat direseksi pada kanker lanjut, metastasis tulang, metastasis kelenjar
getah bening aksila, kekambuhan tumor lokal atau regional setelah mastektomi
2. Kemoterapi, terapi sistemik tambahan setelah mastektomi, paliatif pada
penyakit lanjutan
3. Terapi hormon dan endokrin kanker yang telah menyebar, memakai estrogen,
androgen,

progesteron,

hipofisektomi.

antiestrogen,

ooforektomi,

adrenalektomi,

DAFTAR PUSTAKA

Casciato, A.D. and Lowitz B.B. 2000. Manual of Clinical Oncology 4th Ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins
Devita,Jr. Vincent T, et al. 2001. Cancer: Principles and Practice of Oncology 6th Ed. Vol.
2A. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins
Lukitto, Pisi. 2010. Penuntun Diagnostik Dan Tindakan Terapi Tumor Ganas. Bandung: CV.
Sagung Seto
Norton, A. Jefrey, et al. 2001. Surgery: Basic Science and Clinical Evedence. New York:
Springer-Verlag New York
Putz, Reinhard and Pabst Reinhard. 2006. Atlas Anatomi Manusia Ed. 22. Jakarta: EGC
R.M.H. McMinn. 1994. Last anatomy, regional and applied. United Kingdom: Royal
College of Surgeons of England and University of London, UK
Towsend, M. Jr, et al. 2008. The Breast at Sabiston textbook of Surgery. United State of
America: Elsivier