Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH TUGAS KEPANITRAAN ILMU BEDAH MULUT

ODONTEKTOMI

Disusun oleh:
Shintatika Erlagista
09/ 280735/ KG/ 8422

Bagian Ilmu Bedah Mulut


Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
BAB I
PENDAHULUAN
Odontektomi adalah metode pengambilan gigi dari soktetnya setelah
pembuatan flap dan mengurangi sebagian tulang yang mengelilingi gigi
tersebut. Beberapa indikasi odontektomi menurut Fragiskos (2007) antara
lain : gigi RA atau RB dengan morfologi akar gigi yang tidak biasa, akar
yang mengalami delaserasi, impaksi dan semi-impaksi, akar gigi yang

ditemukan dibawah garis gusi dan gigi molar desidui yang akarnya
memeluk mahkota gigi premolar permanen.
Impaksi merupakan gigi yang terpendam dalam tulang alveolar
yang tidak dapat erupsi. Gigi impaksi paling sering dan mudah
didiagnosis ketika gigi mengalami keterlambatan erupsi yang lama. Kasus
impaksi pada umumnya terjadi pada gigi molar ketiga rahang bawah,
kaninus rahang atas, molar ketiga rahang atas, premolar kedua rahang
atas dan rahang bawah dan insisif sentral rahang atas. Meskipun faktor
herediter memegang peranan penting pada gigi impaksi, faktor etiologi
yang umum pada gigi impaksi adalah malposisi benih gigi, persistensi
gigi sulung, lesi patologis, dan pendeknya lengkung rahang. Sebelum
dilakukan pembedahan untuk mengexpose gigi impaksi, sangat penting
untuk mengetahui posisi gigi tersebut secara tepat. Radiografi panoramik
biasanya dilakukan untuk mengetahui letak gigi impaksi. Radiografi
oklusal dan periapikal terbukti lebih membantu dalam menentukan posisi
gigi impaksi dengan tepat, yang mungkin posisi gigi impaksi dapat
overlap terhadap akar gigi yang sudah erupsi. Dalam pelaksanaannya,
proses eksodonsi gigi khususnya odontektomi perlu dilakukan dengan
prosedur yang tepat. Pada makalah ini akan dijabarkan mengenai proses
odontektomi .

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI GIGI IMPAKSI
Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi normalnya
terhalang atau terhambat, biasanya oleh gigi di dekatnya atau jaringan
patologis sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna
mencapai oklusi yang normal di dalam deretan susunan gigi geligi

lain yang sudah erupsi atau akar gigi yang tidak terangkat saat pecabutan
sebelumnya.
Umumnya gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi
posterior dan jarang pada gigi anterior. Namun gigi anterior yang
mengalami impaksi terkadang masih dapat ditemui. Pada gigi posterior
yang sering mengalami impaksi adalah sebagai berikut :
1) Gigi molar tiga (48 dan 38) mandibula
2) Gigi molar tiga (18 dan 28) maksila
3) Gigi premolar (44,45,34 dan 35) mandibula
4) Gigi premolar (14,15,24 dan 25) maksila
Sedangkan gigi anterior yang dapat ditemui mengalami
impaksi adalah sebagai berikut :
1) Gigi kaninus maksila dan mandibula (13,23,33 dan 43)
2) Gigi incisivus maksila dan mandibula (11,21,31 dan 41)
B. KLASIFIKASI
Klasifikasi dilakukan bertujuan untuk membantu operator
dalam memastikan dan membuat rencana kerja serta memperkirakan
kesulitan- kesulitan yang mungkin ditemuinya pada saat melalukan
pencabutan gigi tersebut. Klasifikasi menurut Pell dan Gregory yang
meliputi sebagian klasifikasi dari George B. Winter:
Hubungan Gigi Dengan Tepi Ramus Antara Mandibula Dan Tepi
Distal Molar Kedua
1) Kelas I: Ada cukup ruangan antara ramus dan batas
distal molar kedua untuk lebar mesiodistal molar tiga
2) Kelas II: Ruangan antara distal molar kedua dan ramus
lebih kecil daripada lebar mesiodistal molar ketiga
3) Kelas III: Sebagian besar atau seluruh molar ketiga
terletak di dalam ramus

Gambar 1 . Klasifikasi Impaksi berdasarkan hubungan distal M2 dengan Ramus


Mandibula
a. Berdasarkan Letak Molar Ketiga Di Dalam Rahang
1. Posisi A: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada setinggi garis
oklusal.
2. Posisi B: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada di bawah garis
oklusal tapi masih lebih tinggi daripada garis servikal molar kedua
3. Posisi C: Bagian tertinggi gigi molar ketiga berada dibawah garis
servikal molar kedua.

Gambar 2. Klasifikasi Impaksi Berdasarkan Letak M3 di


dalam Rahang

C. KLASIFIKASI IMPAKSI GIGI M3 ATAS


Didasari Pada Posisi Anatomi (Menurut Pell And Gregory)

Berdasarkan kedalaman relatif impaksi gigi M3 atas dalam


tulang,yaitu:
1) Klas A : Bagian terbawah dari mahkota gigi impaksi
M3 atas berada segaris dengan oklusal gigi M2
disebelahnya.
2) Klas B : Bagian terbawah mahkota gigi impaksi M3 atas
berada diantara dataran oklusal dan garis servikal gigi
M2 disebelahnya
3) Klas C : Bagian terbawah dari mahkota gigi impaksi
M3 atas berada pada atau terletak diatas servikal gigi
M2 disebelahnya.

Gambar 3. Klasifikasi Impaksi M3 Rahang Atas berdasarkan kedalaman realtif


dalam tulang
D. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI ODONTEKTOMI
Odontektomi adalah pengambilan gigi dengan prosedur bedah
dengan pengangkatan mukoperiosteal flap dan membuang tulang yang
ada diatas gigi dengan chisel, bur, atau rongeurs.
Indikasi Odontektomi
a. Perikoronitis
Perikoronitis merupakan peradangan pada jaringan lunak
disekeliling gigi yang akan erupsi, paling sering terjadi pada molar 3
bawah. Perikoronitis merupakan suatu kondisi yang umum terjadi pada
molar impaksi dan cenderung muncul berulang, bila molar belum
erupsi sempurna. Akibatnya, dapat terjadi destruksi tulang di antara

gigi molar dan geraham depannya. Odontektomi dapat dilakukan


sebagai tindakan pencegahan dari terjadinya pericoronitis akibat gigi
erupsi sebagian.Perikoronitis dengan gejala-gejala :
1) rasa sakit di regio tersebut
2) pembengkakan
3) mulut bau
4) pembesaran limfenode submandibular.
b. Mencegah Berkembangnya Folikel Menjadi Kista Odontegenik
Suatu gigi yang impaksi mempunyai daya untuk merangsang
pembentukan kista atau bentuk patologi terutama pada masa
pembentukan gigi. Benih gigi tersebut mengalami rintangan sehingga
pembentukannya terganggu menjadi tidak sempurna dan dapat
menimbulkan premordial kista dan folikular kista.

Gambar 2. Gambaran Radiologis Impaksi gigi M3 RB yang berpotensi


menimbulkan premordial kista
c. Pencegahan Karies
Gigi yang impaksi juga bertendensi menimbulkan infeksi atau karies pada
gigi di dekatnya. Cukup banyak kasus karies pada gigi molar dua karena gigi molar
ketiga mengalami impaksi. Gigi molar ketiga merupakan penyebab
tersering karies pada molar kedua karena retensi makanan. Karies

distal molar kedua yang disebabkan oleh karies posisi gigi molar
ketiga.

Gambar 3. Gambaran radiologis Impaksi gigi M3 yang bisa menimbulkan karies


dikarenakan posisi M3 mendesak distal M2

d. Untuk Keperluan Terapi Ortodontik


Pencabutan gigi impaksi pada perawatan ortodontik dapat menjadi
suatu indikasi apabila ruangan yang dibutuhkan kurang untuk ekspansi
lengkung gigi atau juga dikhawatirkan akan menjadi faktor relapse
setelah dilakukannya perawatan ortodontik.
e. Menimbulkan Kerusakan Pada Akar Gigi Yang Berdekatan.
Gigi impaksi dapat menyebabkan tekanan pada akar gigi
sebelahnya sehingga mengalami resorpsi akar. Pencabutan gigi
impaksi dapat menyelamatkan gigi terdekat dengan adanya perbaikan
pada sementumnya.
f. Terdapat keluhan rasa sakit atau pernah merasa sakit.
Rasa sakit dapat timbul bila gigi impaksi menekan syaraf atau
menekan gigi tetangga dan tekanan tersebut dilanjutkan ke gigi
tetangga lain di dalam deretan gigi, dan ini dapat menimbulkan rasa
sakit. Rasa sakit dapat timbul karena gigi impaksi langsung menekan
nervus alveolaris inferior pada kanalis mandibularis.
g. Diperkirakan Akan Mengganggu Pembuatan Protesa.

Pencabutan gigi impaksi dilakukan apabila berada dalam denture


bearing area

yang dapat menghambat adaptasi landasan dan

mengganggu retensi serta stabilitas dari protesa yang akan dibuat.


Kontraindikasi Odontektomi
a. Tidak Ada Keluhan.
Apabila tidak ada keluhan dari pasien yang mengalami gigi impaksi
maka tidak diperlukan tindakan odontektomi yang dapat memakan waktu,
biaya dan resiko pembedahan yang dapat terjadi.
b. Kemungkinan Menyebabkan Gigi Terdekat Rusak Atau Struktur penting
Lainnya.
Tindakan odontektomi beresiko tinggi untuk merusak jaringan dengan
membuka flap dan juga merusak tulang yang menghalangi akses terhadap
gigi yang impaksi. Apabila dikhawatirkan kerusakan yang akan
diakibatkan oleh tindakan odontektomi tidak sebanding dengan manfaat
yang didapatkan, maka sebaiknya odontektomi tidak dilakukan.
c. Penderita Usia Lanjut
Pada pasien yang berusia lanjut, tulang yang menutupi gigi impaksi
akan sangat termineralisasi dan padat sehingga akan menyulitkan
dilakukan odontektomi. Selain itu perlu diperhatikan juga keadaan umum
pasien yang mungkin akan menghambat keberhasilan penyembuhan
setelah dilakukannya odontektomi.
d. Kondisi Fisik Atau Mental Terganggu.
Pada pasien dengan kesehatan umum yang terganggu misalnya
mengidap penyakit sistemik maka diperlukan konsultasi terlebih dahulu
kepada dokter yang bersangkutan sebelum melakukan tindakan bedah.
Sedangkan untuk pasien dengan keadaan mental yang terganggu dapat
mengganggu tingkat kooperatif pasien selama melakukan tindakan
pembedahan.
Menurut Pedersen (1996) indikasi odontektomi antara lain :

a. Kegagalan pencabutan dengan tang.


- Adaptasi tang yang tidak tepat/gagal (mahkota/akar rusak /malposisi)
- Mahkota fraktur.
- Tidak berhasil mengekspansi alveolus.
b. Kemungkinan terjadinya fraktur akar.
- Akar yang panjang dan kecil.
- Akar yang mengalami dilaserasi.
- Gigi yang dirawat endodontic (getas).
- Tulang pendukung yang padat.
- Celah ligament periodontal yang sempit.
c. Kedekatan dengan struktur disekitarnya.
- Gigi yang lain (arah pengeluaran terhalang gigi lain).
- Sinus maxilaris.
- Canalis mandibularis.
d. Untuk mempertahankan tulang alveolus yang mendukungnya.
- Gigi kaninus atas.
- Gigi ankilosis.
Menurut Fragiskos (2007) indikasi odontektomi antara lain :
a. Gigi RA atau RB dengan morfologi akar gigi yang tidak biasa.
b. Hipersementosis akar, akar tipis dan akan yang membulat.
c. Akar yang mengalami delaserasi.
d. Gigi ankilosis atau gigi-geligi yang mengalami abnormalitas (contoh : dens in
dente).
e. Gigi impaksi.
f. Gigi yang fusi dengan gigi disebelahnya, gigi yang fusi pada daerah apical
dengan gigi tetangganya.
g. Akar gigi yang ditemukan dibawah garis gusi.
h. Akar dengan lesi periapkal.
i. Gigi molar desidui yang akarnya memeluk mahkota gigi premolar permanen.
E. Prosedur Tindakan Odontektomi
Prinsip dan langkah-langkah untuk menghilangkan gigi impaksi
sama dengan surgical extraction lain. Ada 5 teknik dasar :
1. Mendapatkan exposure yang cukup ke area gigi impaksi ini berarti
pengangkatan flap jaringan lunak harus memberikan dimensi yang
cukup bagi operator untuk melakukan pembedahan yang perlu.
2. Mendapatkan akses yang diperlukan untuk pembuangan tulang agar
gigi terlihat untuk dilakukan pemotongan atau pengangkatan.

3. Membelah/membagi gigi dengan bur atau chisel (pisau bedah) agar


ekstraksi gigi dapat dilakukan tanpa pembuangan tulang berlebihan.
4. Mengangkat potongan gigi dari prosesus alveolar dengan elevator.
5. Pembersihan dengan irigasi dan pembersihan mekanis dengan
kurettase dan ditutup dengan simple interrupted suture.
Meskipun pendekatan bedahnya mirip dengan ekstraksi dengan
bedah gigi lainnya, namun perlu perhatian khusus karena pengangkatan gigi
memerlukan pembuangan tulang, kadang memerlukan pembelahan gigi,
dan karena tulang yang dibuang relative keras maka alat dan teknik
melakukannya harus sangat baik. Gigi sebenarnya bisa diangkat tanpa
dilakukan pembelahan namun harus dengan membuang sejumlah besar
tulang. Hal ini akan memperlama penyembuhan dan melemahkan rahang.
Namun pemotongan gigi menjadi banyak bagian juga tidak terlalu baik
karena akan memperlama waktu operasi. Jadi buanglah tulang dan
potonglah gigi sesuai dengan kebutuhan untuk menyingkat waktu bedah dan
proses penyembuhan.
Sebelum melakukan suatu tindakan pembedahan pada gigi impaksi,
perlu dilakukan beberapa hal untuk menghindari komplikasi seminimal
mungkin. Tindakan yang perlu dilakukan sebelum pembedahan :
1) Pemeriksaan keadaan umum penderita, dengan anamnesa dan
pemeriksaan klinis.
2) Pemeriksaan penunjang

dengan

foto

rontgen,

sehingga

dapat

mengevaluasi dan mengetahui kepadatan dari tulang yang mengelilingi


gigi, sebaiknya didasarkan pada pertimbangan usia penderita, hubungan
atau kontak dengan gigi molar kedua, hubungan antara akar gigi
impaksi dengan kanalis mandibula, dan morfologi akar gigi impaksi,
serta keadaan jaringan yang menutupi gigi impaksi, apakah terletak
pada jaringan lunak saja atau terpendam didalam tulang.
3) Menentukan tahapan perencanaan pembedahan yang

meliputi

perencanaan bentuk, besarnya dan tipe flap, menentukan cara


mengeluarkan gigi impaksi, perkiraan banyaknya tulang akan dibuang
untuk mendapatkan ruang yang cukup untuk mengeluarkan gigi

10

impaksi, perencanaan penggunaan instrumen yang tepat, menentukan


arah yang tepat untuk pengungkitan gigi dan menyebabkan trauma yang
seminimal mungkin (Archer, 1975; Peterson, 2002)
Fragiskos (2007) mengemukakan bahwa tahapan odontektomi baik pada
akar tunggal maupun akar multiple adalah sama. Tahapan tersebut meliputi :
a. Pembuatan Flap
b. Pengurangan tulang dan pemaparan tulang
c. Ekstraksi gigi atau akar gigi dengan elevator atau tang.
d. Suturing dan perawatan post operasi.
Flap dibuat untuk mendapatkan jalan masuk ke struktur tulang atau
gigi (Pedersen, 1996). Tipe flap menurut Fragiskos (2007) antara lain :
a. Trapezoid
- Dibentuk dengan membuat insisi horizontal sepanjang gingival dan dua
insisi melintang pada mukosa bukal
- Dasar flap yang lebih lebar sangat dibutuhkan untuk suplai darah yang
baik dan adekuat
- Flap tipe ini dibutuhkan untuk prosedur operatif yang luas

b.Triangular
- Dibentuk dengan membuat insisi bentuk L dan insisi horizontal sepanjang
gingival
- Diindikasikan untuk pengambilan ujung akar, kista kecil dan apikoektomi

11

c. Envelope
- Flap tipe ini adalah hasil perluasan insisi horizontal sepanjang garis servikal
gigi
- Biasa digunakan untuk pembedahan gigi insisivus, premolar dan molar

d.Semilunar
- Insisi flap berbentuk kurva
- Memberikan fasilitas jalan masuk ke apical
- Melindungi terkoyaknya tepi gingival

Pengambilan Tulang Diatas Gigi Impaksi. Setelah soft tissue diangkat,


surgeon harus menentukan bagian tulang mana yang akan diambil. Pada beberapa

12

kasus, gigi bisa langsung dipotong dengan chisel tanpa harus dilakukan
pengambilan tulang. Pengamilan tulang dilakukan dengan menggunakan drill.
Alat yang biasa digunakan handpiece with adequate speed, high torque, round bur
no.8, dan telah disterilkan dengan steam autoclave.

Tulang yang diatas

permukaan oklusal, bukal, dan distal dibuang lebih dulu . Jarang dilakukan pada
bagian lingual karena membahayakan lingual nerve. Untuk gigi maksila, tulang
yang pertama diambil bagian bukal kebawah sampai servikal line dan terlihat
mahkota klinisnya. Karena tulang di maksila tipis, pengambilan tulang bisa
dengan chisel atau hand instrumen. Pemotongan Gigi. Dilakukan dengan bur atau
chisel. Bur jangan digunakan untuk memotong dalam arah lingual. Impaksi gigi
maksila jarang dilakukan pemotongan gigi, karena lapisan tulang biasanya tipis
dan relative elastis. Secara umum impaksi gigi dimanapun berada, pemotongan
biasanya dilakukan pada servikal line. Hal ini akan memudahkan pengambilan
bagian mahkota, mendorong bagian akar ke ruang yang ditempati bagian
mahkota, kemudian mengangkat bagian akar. Pada kasus mesioangular yang
cenderung sulit, pemotongan dilakukan pada bagian distal setengah mahkota gigi
sampai ke bawah cervical line dari aspek distal. Setelah bagian distal diangkat,
small straight elevator disisipkan ke purchase point pada mesial aspek M3, dan
gigi diangkat dengan gerakan rotasi dan lever dengan elevator. Pada kasus
horizontal impaksi setelah tulang yang diinginkan diambil, gigi dipotong tepat di
servikal line, kemudian pengangkatan bagian gigi sama dengan pengambilan gigi
secara umum. Pada kasus vertical impaksi gigi dipotong menjadi bagian mesial
dan distal. Pengambilan Potongan Gigi dengan Elevator. Setelah tulang
dibersihkan dan gigi dipotong, langkah selanjutnya adalah mengangkat potongan
gigi dengan dental elevator. Pada mandibula elevator yang biasa digunakan adalah
straight elevator, the paired Cryer elevator, dan Crane pick. Perbedaan
pengambilan gigi impaksi dengan ekstraksi biasa adalah pada pengambilan gigi
impaksi hampir tidak diperlukan luksasi gigi untuk tujuan ekspansi bucal or
linguocortical plate. Karena tulang telah dibuang dan gigi telah dipotong.
Pemberian tekanan yang eksesive malah akan membahayakan gigi M2 sebelahnya
dan keseluruhan mandibula. Elevator didesain bukan untuk memberikan tekanan

13

berlebih pada gigi akan tetapi untuk mencungkil gigi atau akar gigi kearah yang
diinginkan dengan tekanan yang sesuai. Debridement of

Wound and Wound

Closure. Setelah gigi impaksi diangkat, langkah berikutnya adalah pembersihan


wound (soket) dari semua debris yang mungkin ada dari pecahan tulang dan
lainnya. Pembersihan dengan irigasi salin sterile dan pembersihan mekanis
dengan periapikal kuretase. Tulang hasil kuretase harus halus dan pinggirannya
tidak tajam. Sebuah mosquito hemostat dapat digunakan untuk mengambil sisa
dental folikel. Penutupan insisi adalah penutupan yang dilakukan pertama kali.
Jika disain flap baik dan tidak traumatized maka flap akan dengan mudah
dikembalikan ke tempat asalnya. Penjahitan awal dibuat melalui attach tissue /
perlekatan jaringan pada aspek posterior dari M2, jahitan tambahan dilakukan ke
belakang dari posisi tersebut dan kedepan melalui papila pada sisi mesial dari M2.
Biasanya 3-4 jahitan diperlukan untuk menutup flap bedah.
F. Tindakan sesudah pencabutan gigi
Sesudah gigi impaksi berhasil dikeluarkan dengan baik, sisa-sisa
folikel dibersihkan seluruhnya. Kegagalan untuk melakukan hal ini bisa
mengakibatkan penyembuhan yang lama atau perkembangan patologis dari
sisa epitel odontogenik. Setelah folikel dibersihkan, alveolus diirigasi dengan
saline dan diperiksa dengan teliti. Pada rahang atas terutama perhatikan
adanya kemungkinan perforasi sinus. Yang penting berkenaan dengan
pembedahan impaksi gigi bawah adalah kondisi bundle neurovascular
alveolari inferior yang sering terlihat pada kedalaman alveolus. Semua
potongan gigi atau serpihan tulang juga serpihan periosteum dan mukosa
harus dihilangkan. Tepi-tepi tulang dihaluskan dengan bur dan kikir tulang.
Penjahitan dilakukan terutama untuk menstabilkan jaringan terhadap prosesus
alveolaris dan terhadap efek distobukal M2 di dekatnya. Foto sinar X segera
sesudah operasi dibuat untuk kasus-kasus yang sulit di mana ada kemungkinan
terjadi fraktir menadibula / cedera struktur sekitarnya (permukaan akar).
Kemudian diletakkan tampon di atas bekas operasi dan pasien dianjurkan
untuk tetap menggigitnya paling tidak 1- 1 jam.
Instruksi pasca-bedah

14

Tekankan perlunya minum analgesic sebelum rasa sakit timbul, seperti


juga aplikasi dingin untuk mengontrol pembengkakan. Puncak rasa
sakit sesudah pembedahan impaksi adalah selama kembalinya sensasi
daerah operasi sedangkan pembengkakan maksimal biasanya terjadinya
24 jam pasca-pencabutan.
Tindak lanjut
Control dijadwalkan pada waktu melepas jahita, baisanya hari
keempat / kelima sesuah operasi. Pada kunjungan ini daerah yang
dioperasi diperiksa dengan teliti yaitu mengenai penutupan mukosa dan
keberadaan beku darah. Yang hampir selalu terjadi adalah kebersihan
mulut yang jelek karena penyikatan gigi masih sakit. Tekankan anjuran
untuk

menggunakan

larutan

kumur

secara

efektif,

sedangkan

penggunaan alat pulsasi air sebaiknya ditunda karena dikhawatirkan


dapat melukai atau melepas bekuan darah.
G. Contoh kasus prosedur odontektomi akar terpendam

15

16

17

18

19

DAFTAR PUSTAKA

Fragiskos, Fragiskos D. . Oral Surgery. New York : Springer-Verlag


Berlin Heidelberg, 2007.
Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta : EGC.
th

Peterson L.J.,2003.Contemporary Oral Maxillofacial Surgery.4


Ed.St.Louis: Mosby

Peterson. 2004. Principle of Oral and Maxillofacial Surgery. London : BC


Decker Inc.
Riawan, Lucky. 2007. Materi Kuliah Bedah Dento Alveolar.
Universitas Padjadjaran Bandung

20