Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
Veruka vulgaris sering dikenal sebagai kutil atau common wart adalah
proliferasi jinak dari kulit dan mukosa yang disebabkan infeksi human papilloma
virus (HPV). Penyakit veruka mempunyai beberapa bentuk klinis yaitu veruka
vulgaris, veruka plana juvenilis, veruka plantaris, veruka akuminatum (kandiloma
akuminatum). Kutil tidak bersifat kanker, namun memiliki kemungkinan menular dari
orang ke orang, dan dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain pada orang yang
sama.1,2
Veruka vulgaris dapat terjadi pada seluruh kelompok usia, namun insiden
tertinggi terjadi diantara anak-anak berumur 5-20 tahun dan hanya 15% terjadi setelah
usia 35 tahun. Seseorang yang sering merendam tangannya di air, sering tergores
(terjadi trauma) dan tukang daging memiliki insiden yang lebih tinggi untuk terkena
veruka vulgaris. Penyakit ini juga sering timbul pada pasien dengan sistem imun yang
turun.3
Karena banyaknya insiden dari veruka vulgaris ini dan karena adanya
kemungkinan menular ke orang lain serta menyebar ke bagian tubuh lain pada orang
yang sama, diperlukan pemahaman dan penanganan yang tepat mengenai veruka
vulgaris ini. Berdasarkan hal tersebut, penulis memilih veruka vulgaris ini sebagai
laporan kasus.
Ada 100 lebih genom dari human papilloma virus (HPV) dan yang
menyebabkan veruka vulgaris antara lain HPV tipe-1, -2, -4, -27, -57, dan -63.
Tempat predileksi veruka vulgaris terutama terletak pada jari, tangan, lutut, siku atau
lainnya pada situs trauma. Walaupun demikian penyebaran dapat ke bagian yang lain
dari tubuh termasuk mukosa mulut dan hidung.3
Lesi dimulai dari papul kecil yang kemudian membesar, dan menjadi bentuk
verukosa dengan diameter beberapa milimeter sampai sentimeter. Kutil ini berbentuk
bulat berwarna abu-abu, besarnya lentikular atau kalau berkonfluensi berbentuk
plakat, permukaan kasar (verukosa). Dengan goresan dapat timbul autoinokulasi
sepanjang goresan (fenomena kobner). Veruka vulgaris sebagian besar asimtomatik
1

dan memiliki manifestasi klinis yang spesifik. Pemeriksaan histopatologi dapat


digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis, dengan ditemukannya gambaran
berbatas jelas, tampak papilomatosis, hiperkeratosis, parakeratosis, akantosis, dan sel
koilosit pada pemeriksaan ini.1,4,5
Adapun berbagai macam terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi veruka
vulgaris baik terapi bedah dan non bedah namun belum ada yang terbukti 100%
efektif. Selain itu juga disebutkan bahwa veruka vulgaris seringkali mengalami remisi
spontan sehingga ada pendapat yang menggolongkan veruka vulgaris sebagai
penyakit yang sembuh sendiri tanpa pengobatan. Meskipun demikian, veruka vulgaris
termasuk penyakit residif, meskipun telah menggunakan terapi yang adekuat. 3,4,6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Veruka Vulgaris
Veruka vulgaris atau sering dikenal sebagai kutil merupakan suatu proliferasi
jinak atau hiperplasia pada kulit dan mukosa di bagian epidermis yang
disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe tertentu. Tipe virus ini
sering menimbulkan veruka vulgaris adalah HPV tipe 2, 4, 27, 29 dan tipe yang
jarang adalah HPV tipe 1. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi yang sering
dijumpai pada anak, dewasa, dan orang tua. Cara penyebaran virus ini adalah
dengan kontak langsung atau inokulasi. Tempat predileksi terutama di
ekstremitas bagian ekstensor dan tempat yang sering terjadi trauma contohnya
tangan, jari, dan lutut. Penyakit ini bersifat residif walaupun pengobatan yang
telah diberikan adekuat.1,2,4
2.2 Epidemiologi
Veruka vulgaris dapat terjadi pada seluruh kelompok usia, namun insiden
tertinggi terjadi diantara anak-anak berumur 5-20 tahun dan hanya 15% terjadi
setelah usia 35 tahun. Peneletian lain mengatakan bahwa diperkirakan sekitar 7
sampai 12% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Insiden tertinggi terjadi
diantara anak-anak berumur 12-16 tahun dengan prevalensi antara 10-12%.
Penyakit ini juga sering timbul pada pasien dengan sistem imun yang menurun
dan pasien yang sedang mendapat terapi imunosupresif. Insiden terjadi pada pria
dan wanita sama. Pasien yang sering berenang pada kolam renang umum, sering
merendam tangannya di air, sering tergores (terjadi trauma) dan tukang daging
memiliki insiden yang lebih tinggi untuk terkena veruka vulgaris. Perkembangan
menjadi keganasan jarang terjadi, namun beberapa kasus telah dilaporkan dan
diberi nama verukus karsinoma.3,4,7

2.3 Etiologi
Etiologi dari veruka vulgaris ialah Human Papilloma Virus (HPV). HPV
merupakan

virus berantai DNA ganda, berukuran 55 nm, dan memiliki

ikosahedral nukloekapsid. Virus ini merupakan anggota dari famili papovavirus.


Terdapat paling sedikit 100 tipe HPV. Veruka vulgaris dapat disebabkan oleh
HPV tipe 1, 2, 4, 26, 27, 29, 57, 65, dan 77. Virus ini memiliki gen E6 dan E7
yang memiliki peranan dalam replikasi dan karsinogenesis. Gen ini berperan
dalam menginaktivasi tumor suppressor genes pada sel manusia.4
2.4 Patogenesis
Inokulasi virus terjadi dikarenakan adanya defek pada epitel epidermis.
Setelah inokulasi veruka biasanya muncul dalam waktu 2 sampai 9 bulan. Virus
yang masuk dan menginfeksi epitel epidermis (partikel virus dapat ditemukan
pada stratum basalis) lalu memproduksi sitoplasmik vakuola. Proses ini disebut
dengan koilositosis, yang merupakan hallmark pada infeksi virus. Untuk dapat
terus bereplikasi, HPV perlu memblok diferensiasi terminal dan menstimulasi
pembelahan sel. HPV memiliki protein yang dapat mengubah proliferasi sel dan
menggangu kematian sel lewat apoptosis. Gen E6 dan gen E7 pada virus ini
dapat menginaktivasi tumor suppressor genes pada manusia sehingga proliferasi
sel ini terus terjadi sehingga menghasilkan hiperplasia dari epitel kulit.2,7
2.5 Presentasi Klinis
Veruka biasa muncul pada 2-9 bulan setelah inokulasi. Terdapat periode
infeksi subklinik yang panjang dan mungkin awal terjadinya infeksi tidak
tampak. Permukaan veruka yang kasar mungkin mengganggu kulit yang
berdekatan sehingga dapat terjadi inokulasi pada bagian kulit yang berdekatan
tersebut, timbulnya veruka baru berlangsung beberapa pekan hingga beberapa
bulan. Gambaran klinis yang muncul juga tergantung dari tipe HPV yang
menginfeksi. Veruka vulgaris atau kutil disebabkan oleh infeksi HPV tipe 2 dan

sebagian kecil berasal dari HPV tipe 1,4,7 serta tipe HPV lainnya juga mungkin
bisa menyebabkan veruka vulgaris.
Biasanya veruka vulgaris berlokasi pada tangan terutama pada jari dan
telapak tangan. Meskipun sebenarnya dapat terjadi di bagian tubuh manapun
dimana penyebarannya secara kontak langsung atau autoinokulasi. Biasanya
muncul tanpa gejala. Jika mengenai lipatan kuku ataupun bagian bawah kuku
maka dapat merusak pertumbuhan kuku. Periungual warts lebih sering terjadi
pada orang yang suka menggigit kukunya lesi biasanya konfluen dan melibatkan
lipatan kuku bagian proksimal dan lateral dan mungkin dapat menyebar ke bibir
dan lidah biasanya pada separuh bagian tengah. Jika tumbuh di dekat mata maka
berhubungan dengan terjadinya konjungtivitis dan keratitis. Dapat pula berlokasi
disekitar genitalia, tetapi hanya sekitar 1-2%. Pada laki-laki hampir selalu
menyerang batang penis.4,8
Pada veruka vulgaris terjadi hiperplasia semua lapisan epidermis, dapat
terlihat hiperkeratosis dengan area parakeratosis, serta lapisan malpighi dan
granular menebal. Lesi berupa papul atau nodul berduri, bersisik, kasar yang
dapat ditemukan pada permukaan kulit di berbagai tempat di tubuh, dapat
tunggal maupun berkelompok, ukuran bervariasi mulai dari pinpoint hingga lebih
dari 1 cm, tetapi rata-rata 5 mm. Bertambahnya ukuran lesi berlangsung beberapa
pekan hingga beberapa bulan. Lesi berwarna abu-abu dengan permukaan yang
kasar sehingga disebut verukus. Pada beberapa kasus didapatkan mother wart
yang berkembang dan tumbuh lambat dalam waktu yang lama. Dan kemudian
secara tiba-tiba muncul veruka yang baru. Pada permukaan veruka tersebut,
terlihat titik-titik hitam yang kecil, yang merupakan bekuan darah akibat dilatasi
kapiler.2,4,8
2.6 Diagnosis
Diagnosis veruka vulgaris ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Pada anamnesis didapatkan keluhan bintil pada kulit yang teraba kasar,
dapat menyebar ke tempat lain, dan tidak terasa nyeri. Didapat riwayat keluhan
5

yang sama pada keluarga atau teman. Gambaran klinis veruka vulgaris adalah
papul yang membesar secara perlahan dengan ukuran yang bervariasi,
hiperkeratotik, dengan permukaan filiformis, berbatas tegas, dan tampak red or
brown dots yang merupakan patogmonik dari penyakit ini. Pemeriksaan
histopatologi dapat digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis jika gambaran
klinis tidak jelas. Dapat ditemukan gambaran berbatas jelas, tampak
papilomatosis, hiperkeratosis, parakeratosis, akantosis, dan sel koilosit pada
pemeriksaan ini.1,2,4

Gambar 1. Gambaran Klinis Veruka Vulgaris3

Gambar 2. Histopatologi Veruka Vulgaris2


2.7 Diagnosis Banding
Moluskum Kontagiosum
Moluskum Kontagiosum adalah penyakit yang disebabkan oleh virus poks yang
klinisnya berupa papul, pada permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang
mengandung badan moluskum. Pada anamnesis didapatkan keluhan bintil pada
kulit yang bertambah banyak dan menyebar, asimtomatik, terkadang disertai rasa
gatal. Didapatkan riwayat keluhan yang sama pada keluarga atau teman.
Penyakit ini biasa ditemukan pada anak-anak namun juga dapat terdapat pada
6

orang dewasa. Lokalisasi penyakit ini di daerah muka, badan, dan ekstremitas,
sedangkan pada orang dewasa di daerah pubis dan genitalia. Pada pemeriksaan
histopatologi terdapat badan moluskum yang mengandung partikel virus.1
2.8 Penatalaksaan
Penatalaksanaan veruka vulgaris melibatkan medikamentosa dan nonmedikamentosa. Penatalaksanaan medikamentosa meliputi elektrokauterisasi,
krioterapi, laser, bedah skalpel, dan bahan kaustik. Sedangkan terapi nonmedikamentosa meliputi komunikasi, informasi, dan edukasi terhadap pasien
mengenai penyakit, tindakan, prognosis, pencegahan penularan ataupun
penyebaran. Adapun edukasi yang dilakukan meliputi menjaga kebersihan diri
dan lingkungan termasuk rajin mencuci tangan dengan cara yang benar dan
menjaga kebersihan kulit.
Penatalaksanaan medikamentosa meliputi :
1.

Elektrokauterisasi.
Elektrokauterisasi ini efektivitasnya tinggi dalam menghancurkan jaringan
yang terinfeksi dan HPV, serta kontraindikasi untuk pasien dengan cardiac
pacemakers. Tehnik ini diawali dengan anestesi lokal. Rasa sakit setelah
operasi dapat diatasi dengan narkotik analgesik dan analgesik topikal pada
beberapa pasien sangat bermanfaat seperti lidocaine jelly.

1.

Krioterapi
Merupakan pilihan utama untuk hampir semua veruka vulgaris. veruka
seharusnya dibekukan secara adekuat dimana dalam waktu 1-2 hari akan
timbul lepuh sehingga akan menjadi lebih lunak. Proses krioterapi biasanya
menggunakan likuid nitrogen (temperatur -196 C). Idealnya pengobatan
dilakukan setiap dua atau tiga pekan sampai lepuh terkelupas. Komplikasi dari
krioterapi diantaranya terjadinya hipopigmentasi dan timbul jaringan parut
(skar).

2.

Laser karbondioksida dapat digunakan untuk pengobatan beberapa variasi dari


veruka baik pada kulit maupun mukosa. Pengobatan ini efektif untuk
7

3.

4.

menghilangkan beberapa jenis veruka, seperti kutil periungual dan subungual.


Bedah scalpel yang merupakan operasi yang menggunakan pisau bedah untuk
mengeksisi jaringan veruka vulgaris.
Bahan kaustik yang dapat berupa asam salisilat, glutaral dehida, dan
cimetidin.1,2,4

2.9 Prognosis
Prognosis penyakit ini baik, namun sering residif walaupun mendapat
pengobatan yang adekuat.1

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1

Identitas Pasien
Nama

: WAW

Umur

: 17 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Hindu

Suku

: Bali

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Pelajar

Status

: Belum menikah

Alamat

: Sukawati, Gianyar

Tgl pemeriksaan : 23 April 2015


3.2

Anamnesis
Keluhan Utama : Timbul benjolan di pipi kanan.
Pasien datang ke RS Indera Provinsi Bali dengan keluhan utama timbul
benjolan di pipi kanannya. Benjolan tersebut dikatakan timbul sejak kurang
lebih 3 bulan yang lalu. Awalnya benjolan tersebut berukuran kecil, sebesar
kepala jarum pada pipi kanannya, dan kemudian semakin lama semakin
membesar, dengan ukuran sebesar biji jagung dan permukaannya menjadi kasar.
Benjolan tersebut disertai dengan rasa gatal, sehingga pasien sering menggaruk
pipinya tersebut. Nyeri pada benjolan dikatakan tidak ada. Pasien tidak
memakai salep, krim, atau obat wajah lainnya untuk mengurangi keluhan
tersebut.
Benjolan pada tempat lain seperti pada daerah pubis dan genitalia disangkal
oleh pasien. Keluhan benjolan tersebut tidak disertai dengan batuk lama,
demam, ataupun penurunan berat badan yang drastis dalam 3 bulan terakhir.
Riwayat alergi makanan dan obat dikatakan tidak ada oleh pasien.
9

Riwayat Pengobatan : Penggunaan salep, krim, atau pun obat wajah lainnya
disangkal oleh pasien.
Riwayat Penyakit Sebelumnya : Pasien sebelumnya pernah mengalami
keluhan serupa, berupa benjolan pada pipi kanannya pada tempat yang sama.
Keluhan yang serupa tersebut terjadi kurang lebih 1 tahun yang lalu. Benjolan
tersebut dikatakan sudah diangkat dan baru kambuh 3 bulan yang lalu.
Riwayat Penyakit Keluarga : Keluarga pasien tidak ada yang mengalami
keluhan yang serupa dengan keluhan pasien.
Riwayat Pribadi dan Sosial : Pasien merupakan laki-laki berusia 17 tahun,
belum menikah, dan saat ini masih bersekolah tingkat SMA. Teman-teman
pasien tidak ada yang mengalami keluhan yang serupa dengan pasien. Pasien
mengkonsumsi rokok kurang lebih 5 batang sehari. Riwayat konsumsi alkohol
disangkal.
3.3

Pemeriksaan Fisik
Status present
Keadaan umum : Baik
Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah : 120/80 mmHg


Nadi

: 76 x/menit

RR

: 18 x/menit

Temperatur

: 36,5oC

Status general
Kepala

: Normocephali.

Mata

: Anemis (-/-), ikterus (-/-), Reflek pupil (+/+)

Thorax

: Cor: S1S2 tunggal reguler, murmur (-)


Pulmo: Ves +/+, Rh -/-, Wh -/-

Abdomen

: distensi (-), bising usus (+) normal

Extremitas

: dalam batas normal


10

Status Dermatologis
Lokasi

: Pipi kanan.

Efloresensi

: Papul soliter, batas tegas, bentuk bulat, berukuran 0,5 cm,


keras, permukaan kasar, dan kulit sekitarnya normal.

Gambar 3. Lesi Pada Pipi Kanan Pasien


Stigmata atopik : Tidak ada
Mukosa

: Dalam batas normal

Rambut

: Dalam batas normal

Kuku

: Dalam batas normal

Fungsi keringat : Dalam batas normal


Kelenjar limfe : Dalam batas normal
Saraf
3.4

: Dalam batas normal

Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada

3.5

Resume
Pasien laki-laki, 17 tahun, pelajar SMA, belum menikah, beragama Hindu,
datang dengan keluhan utama benjolan pada pipi kanan sejak 3 bulan yang lalu.
11

Awalnya benjolan berukuran kecil, kemudian semakin membesar. Benjolan


disertai rasa gatal dan tidak disertai rasa nyeri. Benjolan pada daerah pubis dan
genital disangkal. Riwayat batuk lama, demam, dan penurunan berat badan
drastis dikatakan tidak ada. Riwayat pengobatan tidak ada. Sebelumnya pasien
pernah mengalami keluhan serupa 1 tahun yang lalu. Benjolan tersebut sudah
diangkat dan kambuh kembali 3 bulan yang lalu. Tidak ada keluarga dan temantemannya yang mengalami keluhan serupa.
Pada pemeriksaan fisik, status presen dan generalis dalam batas normal.
Pada pipi kanan didapatkan papul soliter, batas tegas, bentuk bulat, berukuran
0,5 cm, keras, permukaan kasar, dan kulit sekitarnya normal.
3.6

Diagnosis Banding
Veruka vulgaris
Moluskum kontagiosum

3.7

Diagnosis Kerja
Veruka vulgaris

3.8

Penatalaksanaan
- Elektrokauterisasi
- KIE mengenai penyakit pasien, tindakan yang akan dilakukan, dan prognosis
dari penyakit tersebut. Selain itu pasien juga diingatkan agar tidak
menggaruk-garuk pada bagian lesi, rajin mencuci tangan secara benar untuk
menghindari penyebaran, dan menjaga kebersihan kulit.

3.9

Prognosis
Dubius ad bonam.

12

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kasus ini didapatkan pasien laki-laki berusia 17 tahun, pelajar SMA,
beragama Hindu, dan belum menikah. Pasien ini datang dengan keluhan
benjolan pada pipi kanannya. Keluhan tersebut dirasakan sejak 3 bulan yang
lalu, di mana pada awalnya benjolan tersebut hanya sebesar kepala jarum.
Kemudian semakin lama, benjolan tersebut semakin membesar hingga
berukuran sebesar biji jagung dan permukaannya menjadi kasar. Benjolan
tersebut disertai dengan rasa gatal, sehingga pasien sering menggaruk pipinya
tersebut. Nyeri pada benjolan dikatakan tidak ada. Selain itu, benjolan pada
tempat lain seperti pada daerah pubis dan genitalia disangkal oleh pasien.
Keluhan benjolan tersebut tidak disertai dengan batuk lama, demam, ataupun
penurunan berat badan yang drastis dalam 3 bulan terakhir. Riwayat alergi
makanan dan obat dikatakan tidak ada oleh pasien. Riwayat penyakit yang sama
pada keluarga dan teman tidak ada.
Berdasarkan studi epidemiologi, usia pasien memiliki epidemiologi yang
tinggi untuk terjadinya veruka vulgaris. Selain itu, pada veruka vulgaris sering
kali didapatkan keluhan berupa benjolan pada kulit yang semakin membesar
dan tidak terasa nyeri, serta riwayat keluhan yang sama pada keluarga atau
teman. Pada kasus ini pasien juga mengeluhkan keluhan yang sama dengan
kepustakaan yakni benjolan pada kulit yang semakin membesar dan tidak nyeri,
namun pada kasus ini tidak didapatkan riwayat yang sama pada keluarga dan
teman-temannya.
Benjolan pada kulit yang semakin menyebar dan terasa gatal ini juga sering
kali didapatkan pada moluskum kontagiosum, sehingga kasus ini memiliki
diagnosis banding moluskum kontagiosum. Moluskum kontagiosum ini sering
didapatkan pada anak-anak, namun terkadang juga didapatkan pada dewasa.
Lokalisasinya di daerah wajah, badan, dan ekstremitas, sedangkan pada dewasa
di daerah pubis dan genitalia. Pada kasus ini tidak didapatkan benjolan pada

13

daerah pubis dan genital. Berdasarkan hal tersebut, kasus ini lebih mengarah
pada veruka vulgaris.
Pada pemeriksaan fisik, status presen dan generalis dalam batas normal.
Pada status dermatologis di pipi kanan didapatkan papul soliter, batas tegas,
bentuk bulat, berukuran 0,5 cm, keras, permukaan kasar, dan kulit sekitarnya
normal. Hal tersebut sesuai dengan tinjauan pustaka, di mana pada veruka
vulgaris didapatkan papul yang membesar secara perlahan dengan ukuran yang
bervariasi, hiperkeratotik, dengan permukaan filiformis, berbatas tegas, dan
tampak red or brown dots.
Pada pemeriksaan dermatologis tersebut juga dapat digunakan untuk
membedakannya dengan moluskum kontagiosum. Pada moluskum kontagiosum
ini didapatkan papul yang pada permukaan tengahnya terdapat lekukan (delle),
berisi massa yang mengandung badan moluskum. Pada pasien ini tidak
didapatkan delle pada bagian tengah papul.
Diagnosis veruka vulgaris ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk membantu
mengkonfirmasi diagnosis bila gambaran klinis tidak jelas. Pada kasus ini
pemeriksaan penunjang tidak dilakukan. Adapun pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan berupa pemeriksaan histopatologi. Pada veruka vulgaris dapat
ditemukan gambaran berbatas jelas, tampak papilomatosis, hiperkeratosis,
parakeratosis, akantosis, dan sel koilosit. Sedangkan pada moluskum
kontagiosum didapatkan badan moluskum yang mengandung partikel virus.
Terapi pada veruka vulgaris disesuaikan dengan lokasi tubuh yang terkena,
usia pasien, status imun pasien, derajat ketidaknyamanan baik secara fisik
maupun emosional dan terapi sebelumnya. Veruka vulgaris yang muncul pada
anak tidak memerlukan pengobatan khusus karena biasanya dapat regresi
sendiri. Adapun terapi yang dapat dilakukan berupa elektrokauterisasi,
krioterapi, laser, bedah scalpel, dan penggunaan bahan kaustik.
Pada kasus ini, penatalaksanaan untuk pasien dilakukan elektrokauterisasi.
Elektrokauterisasi

dikatakan

memiliki

efektivitas

yang

tinggi

dalam
14

menghancurkan jaringan yang terinfeksi dan HPV. Teknik ini diawali dengan
lokal anestesi. Rasa sakit setelah operasi dapat diatasi dengan narkotik analgesik
dan analgesik topical. Selain itu, pemberian edukasi untuk pencegahan juga
harus diberikan kepada pasien. Pada pasien ini telah diberikan edukasi
mengenai penyakitnya, tindakan yang akan dilakukan, prognosis dari penyakit
tersebut, pasien juga diingatkan agar tidak menggaruk-garuk pada bagian lesi,
rajin mencuci tangan secara benar untuk menghindari penyebaran, dan menjaga
kebersihan kulit.
Adapun prognosis dari penyakit ini dubius ad bonam. Meskipun demikian
penyakit ini bersifat residif meskipun telah diberikan terapi yang adekuat. Oleh
karena itu perlu diberitahukan pada pasien bahwa penyakit ini dapat kambuh.

15

BAB V
KESIMPULAN
Veruka vulgaris atau sering dikenal sebagai kutil atau common wart merupakan
suatu proliferasi jinak atau hiperplasia pada kulit dan mukosa di bagian epidermis
yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe tertentu. Tipe virus ini
sering menimbulkan veruka vulgaris adalah HPV tipe 2, 4, 27, 29 dan tipe yang
jarang adalah HPV tipe 1. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi yang sering
dijumpai pada anak, dewasa, dan orang tua, dengan insiden tertinggi pada usia 5
sampai 20 tahun. Cara penyebaran virus ini adalah dengan kontak langsung atau
inokulasi. Tempat predileksi terutama di ekstremitas bagian ekstensor dan tempat
yang sering terjadi trauma contohnya tangan, jari, dan lutut.
Pasien dengan veruka vulgaris sering kali datang dengan keluhan keluhan bintil
pada kulit yang teraba kasar, dapat menyebar ke tempat lain, dan tidak terasa nyeri.
Didapat riwayat keluhan yang sama pada keluarga atau teman. Gambaran klinis
veruka vulgaris adalah papul yang membesar secara perlahan dengan ukuran yang
bervariasi, hiperkeratotik, dengan permukaan filiformis, berbatas tegas, dan tampak
red or brown dots yang merupakan patogmonik dari penyakit ini. Pemeriksaan
histopatologi dapat digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis jika gambaran klinis
tidak jelas. Dapat ditemukan gambaran berbatas jelas, tampak papilomatosis,
hiperkeratosis, parakeratosis, akantosis, dan sel koilosit.
Penatalaksanaan pasien dengan veruka vulgaris melibatkan medikamentosa dan
non-medikamentosa. Tata laksana medikamentosa meliputi elektrokauterisasi,
krioterapi, laser, bedah skalpel, dan bahan kaustik seperti asam salisilat. Sedangkan
terapi non-medikamentosa bertujuan untuk mencegah penyebaran dan mencegah
penularan, termasuk di dalamnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Penyakit
veruka vulgaris merupakan penyakit residif meskipun telah mendapatkan terapi
adekuat.

16