Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini negara Indonesia mengalami perkembangan ekonomi yang cukup pesat.
Masyarakat Indonesia semakin maju dalam memilih berbagai hal seperti halnya makanan.
Masyarakat pandai memilih makan yang berkualitas baik, namu tak jarang pula masih
memilih makan berkualitas buruk hanya karena harganya yang murah. Masyarakat hanya
mementingkan harga makanan tanpa melihat kualitas makanan tersebut. Makanan yang
berkualitas buruk atau tidak di jaga kebersihannya bisa saja terkontaminasi bakteri atau jamur
yang merugikan bagi tubuh. Salah satunya adalah bakteri Salmonella Tiphy.
Bakteri Salmonella Tiphy merupakan salah satu penyebab penyakit infeksi tersering
di daerah tropis. Manusia terinfeksi Salmonella typhi secara fecal-oral, biasanya melalui
makanan yang kurang higienis dan atau kurang masak. Tidak selalu Salmonella typhi yang
masuk ke saluran cerna akan menyebabkan infeksi. Karena untuk menimbulkan infeksi,
Salmonella typhi harus dapat mencapai usus halus. Salah satu faktor penting yang
menghalangi

Salmonella typhi mencapai usus halus adalah keasaman lambung.

Bila

keasaman lambung berkurang atau makanan terlalu cepat melewati lambung, maka hal ini
akan memudahkan infeksi Salmonella typhi.
Setelah masuk ke saluran cerna dan mencapai usus halus, Salmonella typhi akan
ditangkap oleh makrofag di usus halus dan memasuki peredaran darah, menimbulkan
bakteriemia primer. Selanjutnya, Salmonella typhi akan mengikuti aliran darah hingga
sampai di kandung empedu. Bersama dengan sekresi empedu ke dalam saluran cerna,
Salmonella typhi kembali memasuki saluran cerna dan akan menginfeksi Peyers patches,
yaitu jaringan limfoid yang terdapat di ileum, kemudian kembali memasuki peredaran darah,
menimbulkan bakteriemia sekunder. Pada saat terjadi bakteriemia sekunder, dapat ditemukan
gejala gejala klinis dari demam tifoid. Oleh karena itu bakteri Salmonella Tiphy biasanya
penyebab utama dari demam tifoid atau tifus.
Demam tifoid adalah penyakit infeksi sistemik yang bisa disebabkan oleh
Salmonella typhi. Bakteri ini ditularkan melalui konsumsi makanan atau minuman yang
terkontaminasi atau dari feces dan urin orang yang terinfeksi. Awalnya dimulai dengan
demam ringan tetapi akan progresif dan sering berkelanjutan sehingga 39 C sampai 40 C.
Demam tifoid biasanya ditandai dengan demam insidious yang lama, sakit kepala, badan

lemah, mual dan muntah, anoreksia, bradikardia relative, serta splenomegaly, dan juga
merupakan kelompok penyakit yang mudah menular serta menyerang banyak orang sehingga
dapat menibulkan wabah.
Obat yang paling banyak digunakan dalam pengobatan demam tifoid adalah
Kloramfenikol, obat ini digunakan sejak tahun 1948 dan sampai saat ini masih digunakan
sebagai obat pilihan di Indonesia, karena efektvitasnya terhadap Salmonella typhi masih
tinggi disamping harga obat yang relatif murah (Musnelina, 2004). Dari kajian tingkat
molekuler dikemukakan bahwa bakteri Salmonella typhi

menjadi resisten terhadap

Kloramfenikol akibat adanya plasmid yang memproduksi enzim Chloramphenicol


Acetyltransferase (CAT) yang mengaktivasi Kloramfenikol (Balbi, 2004).
Pemberian Klorampenikol melalui sediaan tablet kurang efektif dalam menangani
infeksi bakteri Salmonella Typhi dikarenakan lambung dari pasien mengalami masalah.
Sehingga, absorbsi obatnya menjadi tergangu dan mengurangi efek terapi dari
Klorampenikol. Untuk itu Klorampenikol dalam bentuk suspensi menjadi solusinya. Zat aktif
yang dalam bentuk larutan dapat mudah di absorbsi dan cepat memberikan efek terapi.
Sehingga pasien demam tifoid dapat segera di tangani.
Klorampenikol merupakan golongan obat antibakteri yang digunakan untuk terapi
infeksi bakteri, sistemik dan topical dengan berbagai gejala sakit atau kondisi patologi baik
klinik maupun nonklinik. Sering digunakan dalam mengobati demam tifoid (tifus), infeksi
yang disebabkan Salmonella SPP, H, influenza, rickettsia, Lymphogranuloma-psittacosi,
bakteri gram negative penyebab bacteremia, meningitis. Dosis Klorampenikol palmitat setara
dengan Klorampenikol base 125 mg/5 ml yang biasa di berikan adalah untuk dewasa 4 X
sehari, 2 4 sendok teh, sedangkan untuk anak anak, sehari 50 mg/ kg berat badan dalam
dosis terbagi 3 4 X sehari.
Dengan cara menentukan formulasi yang benardalam pembuatan suspense
klorampenikol untuk mengatasi demam tifoid sebagai ahli madya farmasis berharap agar
masyarakat mampu menerima dengan baik dan dapat memberika efek terapi yang sesuai
dalam mengatasi demam tifoid karena infeksi dari Salmonella Typhi.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum

1; Dapat memproduksi suspensi yang di tujukan untuk mengatasi demam tifoid yang

di sebabkan oleh Salmonella Typhi.


2; Memudahkan pasien demam tifoid mengonsumsi obat dan mengalami efek terapi

yang cepat.
1.2.2 Tujuan Khusus
1; Mahasiswa dapat mengetahui tentang Formula sediaan liquid yaitu dalam

Pembuatan suspense klorampenikol untuk mengatasi demam tifoid.


2; Mahasiswa dapat mengetahui cara memproduksi suspense klorampenikol.
3; Mahasiswa dapat melakukan evaluasi tentang sediaan suspense klorampenikol.
1.3 Manfaat
1.3.1; Masyarakat
1; Dapat mengatasi permasalah demam tifoid.
2; Dapat memberikan Efek terapi untuk mernyembuhkan demam tifoid sesuai yang

diharapkan.
1.3.2; Praktikan
1; Praktikan atau Mahasiswa mampu mengaplikasikan tentang sediaan liquid yaitu

Pembuatan suspense klorampenikol.


2; Praktikan mampu membuat sediaan suspense klorampenikol dengan baik dan

benar.
3; Praktikan mampu mengevaluasi hasil pembuatan suspense klorampenikol.
4; Praktikan mampu meningkatkan kompetensi dalam pembuatan suspense
klorampenikol.

1.3.3; Institusi
1; Dapat memberikan Image yang positif bagi institusi dalam bersaing di dunia
2

pendidikan
Untuk memperluas cakrawala pengetahuan suspense klorampenikol sebagai obat
yang efektif untuk mengatasi demam tifoid.

1.3.4; Industri.
1; Dapat memenuhi

permasalah yang terjadi pada semua orang yang


mengalamidemam tifoid atau unfeksi dari Salmonella SPP.
2; Dapat memproduksi suspense klorampenikol yang berindikasi untuk demam
tifoid atau infeksi dari bakteri Salmonella SPP.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan tentang Penyakit
2.1.1 Definisi Penyakit

Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau typoid fever.
Demam tipoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran
pencernaan (usus halus) dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai
gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.
Merupakan penyakit infeksi sistemik akut pada manusia yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi dengan tanda-tanda demam,

roseole, splenomegali, intestinal

limphadenophati dan disertai komplikasi intestinal seperti perdarahan usus dan


komplikasi non intestinal berupa komplikasi paru, komplikasi kardiovaskuler.
Masuknya bakteri ke dalam tubuh melalui mulut merupakan fakta yang tidak dapat
dibantah kebenarannya. Bakteri masuk melalui makanan atau minuman yang
dikonsumsi.
2.1.2

Penyebab Demam Tifoid


Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella

paratyphi dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatip, tidak
membentuk spora, motil, berkapsul dan mempunyai flagella (bergerak dengan rambut
getar). Bakteri ini dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di
dalam air, es, sampah dan debu. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu
600C) selama 15 20 menit, pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi.
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia
melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh
asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak. Bila
respon imunitas humoral mukosa IgA usus kurang baik maka kuman akan menembus
sel-sel epitel terutama sel M dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia
kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag.

Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya
dibawa ke plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening
mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam
makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah mengakibatkan bakterimia pertama
yang asimtomatik dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama
hati dan limpa. Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian
berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam
sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya.
2.1.3 Gejala dan Akibat Demam Tifoid
2.1.3.1; Gejala Demam Tifoid

Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding
dengan penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 20 hari. Setelah masa inkubasi
maka ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri,
kepala, pusing dan tidak bersemangat. Kemudian menyusul gejala klinis yang biasa
ditemukan, yaitu :
a. Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remiten
dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur angsur
meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore
dan malam hari. Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam keadaan demam.
Dalam minggu ketiga suhu tubuh beraangsur-angsur turun dan normal kembali pada
akhir minggu ketiga.
b. Ganguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden) . Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya,
kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut
kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan.
Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat
terjadi diare.

c. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu
apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah.
d. Splenomegali
Splenomegali adalah pembesaran limpa, keadaaan ini biasanya terjadi akibat
proliferasi limfosit dalam limpa karena infeksi di tempat lain tubuh.

2.1.3.2; Akibat Demam Tifoid

Akibat dari demam tifoid merupakan efek janka panjang dari demam tifoid itu
sendiri, berikut merupakan efek janka penjang dari demam tifoid :
a; Efek pendarahan gasroitestinal

Efek ini merupakan efek yang berbahaya untuk penderita penyaki


demam tifoid. Pendarahan gastriotestinal ini merupakan efek penyakit tipus
yang tidak perlu untuk diobati. Namun, penderita demam tifoid ini harus
menjaga pola makan dan jenis jenis makanan apa saja yang dapat di
konsumsi.
b; Infeksi pada organ tubuh

Penyakit demam tifoid berkepanjangan dapa t menyebabkan infeksi infeksi


yang menyerang organ dalam manusia. Penyakit ini menyebabkan peradangan
organ tubuh manusia seperti otot jantung, otak, dan yang lainnya. Jika
peradangan pada jantung idak diatasi, kesehatan penderita akan semakin
buruk sehingga dapat menyebabkan kemtian. Selain itu, efek yang dapat
ditimbulkan dari infeksi ini dapat menyerang selaput dan cairan yang berada
di sekeliling otak dan sumsum tulang belakang. Dengan seperti ini, system
saraf penderita penyakit demam tifoid akan terganggu. Penyakit yang
menyerang system saraf ini sering disebut dengan meningitis.
c; Usu berlubang
Masalah yang sering ditimbulkan dari penyakit demam tifoid yang
berkepanjangan adalah usus berlubang. ,asalah berbahaya ini dapat muncul
setelah tiga minggi jika penyakit demam tifoid tidak segera di tangani dan
diobati.
d; Masalah Kejiwaan Penderita
Penyakit ini dapat menyebabkan maslah kejiwaan. Penderita akan
mengalami masalah kejiwaan permanen yang meliputi halusinasi, delirium,
dan paranoia dalam waktu yang cukup lama.

2.1.4

Penularan Demam Tifoid


Penularan terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi kuman

S. typhi dari tinja dan urine penderita atau carier. Di beberapa negara pencemaran
terjadi karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang berasal dari air yang tercemar,
buah-buahan dan sayur-sayuran mentah yang dipupuk dengan kotoran manusia. Lalat
dapat juga berperan sebagai perantara penularan memindahkan mikroorganisme dari
tinja ke makanan. Di dalam makanan mikrorganisme berkembang biak memper
banyak diri mencapai dosis infektif.
Penularan tersering terjadi melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh
kotoran manusia yang mengandung Salmonella typhi. Organisme yang tertelan tadi
masuk ke dalam lambung untuk mencapai usus halus. Asam lambung tampaknya
kurang berpengaruh terhadap kehidupannya. Organisme secara cepat mencapai usus
halus bagian proksimal, melakukan penetrasi ke dalam lampisan epitel mukosa S.
typhi telah sampai di kelenjar getah bening regional atau KGB mesenterium dan
kemudian terjadi bakteremia dan kuman sampai di hati, limpa, juga sumsum tulang
dan ginjal. S. typhi segera difagosit oleh sel-sel fagosit mononukleus yang ada di
organ tersebut. Di sini kuman berkembang biak memperbanyak diri. Inilah
karakteristik dari S. typhi yang akan menentukan perjalanan penyakit yang
ditimbulkannya.
Setelah periode multiplikasi intraseluler. Organisme akan dilepaskan lagi ke
dalam aliran darah dan terjadi bakteremia kedua. Pada saat ini penderita akan
mengalami panas tinggi. Bakteremia ini menyebabkan dua kejadian kritis yaitu
masuknya kuman ke dalam kantung empedu dan

plaque Peyer. Bila dengan

masuknya kuman tadi terjadi reaksi radang yang hebat sekali maka akan terjadi
nekrosis jaringan yang secara klinik ditandai dengan kolesistitis nekrotikans, dan
perdarahan perforasi usus. Masuknya kuman di kantung empedu dan plaque Peyer
menyebabkan kultur tinja positif, dan invasi ke dalam kantung empedu sendiri dapat
menyebabkan terjadinya carrier kronik.
2.1.5

Penanganan Demam Tifoid

Pengobatan penderita demam tifoid di rumah sakit terdiri dari pengobatan


suportif meliputi istirahat dan diet, medikamentosa, terapi penyulit (tergantung
penyulit yang terjadi)
a; Istirahat

Istirahat bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat


penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas
demam atau kurang lebih 14 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai
dengan pulihnya kekuatan pasien. Pasien dengan kesadaran yang menurun,
posisi tubuhnya harus diubah-ubah pada waktu-waktu tertentu untuk
menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitu. Defekasi dan
buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi obstipasi dan
retensi air kemih.
b; Diet dan Terapi

Diet dan terapi penunjang dilakukan dengan pertama, pasien diberikan


bubur saring kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat
kesembuhan pasien. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa
pemberian makanan tingkat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa
(pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman.
c; Obat

Obat yang digunakan untuk demam tifoid adalah antibiotic. Anti


mikroba

(antibiotik)

segera

diberikan

bila

diagnosa

telah

dibuat.

Kloramfenikol masih menjadi pilihan pertama, berdasarkan efikasi dan harga.


Kekurangannya adalah jangka waktu pemberiannya yang lama, serta cukup
sering menimbulkan karier dan relaps. Kloramfenikol tidak boleh diberikan
pada wanita hamil, terutama pada trimester III karena dapat menyebabkan
partus prematur, serta janin mati dalam kandungan. Oleh karena itu obat yang
paling aman diberikan pada wanita hamil adalah ampisilin atau amoksilin.
2.2 Tinjauan Zat Aktif
2.2.1 Definisi Kloramfenikol

Kloramfenikol adalah salah satu jenis antibiotika turunan amfenikol yang


secara alami diproduksi oleh Streptomy-ces venezuelae (Reynolds, 1982). Melalui
pengembangan teknologi fermentasi, kloramfenikol dapat diisolasi, disemisintesis
menjadi antibitoka turunannya, antara lain tiamfenikol dan turunan lain melalui
berbagai reaksi kimia dan enzimatis. Senyawa dengan rumus molekul C 11H12Cl2N2O5
dan

nama

kimia

D(-)

treo-2-dikloroasetamido-1-p-notrofenilpropana-1,3-diol.

Struktur bangun memberi informasi bahwa kloramfenikol memiliki dua atom karbon
asimetrik, sehingga menghasilkan 4 stereoisomer.
Kloramfenikol pada awalnya diisolasi dari Streptomyces venezuelae yang
pertama kalinya diisolasi oleh Burkholder pada tahun 1947 dari contoh tanah yang
diambil dari Venezuela, sekarang telah dapat dibuat melalui sintesis total, yang
metodenya relatif lebih sederhana dan biayanya lebih murah. Diperkenalkan dalam
pengobatan klinis pada tahun 1949. Kloramfenikol efektif terhadap riketsia dan
konjungtivitis akut yang disebabkan oleh mikoroorganisme, termasuk Pseudomonas
sp kecuali Pseudomonas aeruginosa. Senyawa ini juga efektif untuk pengobatan
infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan gram negative.
2.2.2

Mekanisme
Mekanisme kerja kloramfenikol sebagai anti bakteri bersifat stereospesifik,

karena hanya satu stereoisomer yang memiliki aktivitas anti bakteri, yaitu D(-) treoisomer. Kloramfenikol bekerja pada spektrum luas, efektif baik terhadap Gram positif
maupun Gram negatif. Mekanisme kerja kloramfenikol melalui penghambatan
terhadap biosintesis protein pada siklus pemanjangan rantai asam amino, yaitu
dengan menghambat pembentukan ikatan peptida. Antibiotika ini mampu mengikat

subunit ribosom 50-S sel mikroba target secara terpulihkan, akibatnya terjadi
hambatan pembentukan ikatan peptida dan biosintesis protein. Kloramfenikol
umumnya bersifat bakteriostatik, namun pada konsentrasi tinggi dapat bersifat
bakterisid terhadap bakteri-bakteri tertentu (Ganiswarna, 1995).
Spektrum antibakteri kloramfenikol meliputi D. pneumoniae, Str. pyogenes,
Str. viridans, Neisseria, Haemophilus, Bacillus spp, Listeria, Bartonella, Brucella, P.
multocida, C. diphtheriae, Chlamydia, Mycoplasma, Rickettsia, Treponema dan
kebanyakan mikroba anaerob. Senyawa ini juga efektif terhadap kebanyakan galur E.
coli, K. pneumoniae, dan Pr. Mirabilis (Ganiswara, 1995). Kloramfenikol efektif
mengobati riketsia dan konjungtivitas akut yang disebabkan oleh mikroorganisme,
termasuk Pseudomonas sp. Kecuali Pseudomonas aeruginosa, senyawa ini juga
efektif untuk pengobatan infeksi berat yang disebabkan oleh Bacteroides fragilis
(infeksi kuman anaerob di bawah diafragma), Haemophylus influenzae (meningitis
purulenta), Streptococcus pneumoniae (pneumoniae) (Soekardjo et al., 2000). Akhirakhir ini, makin sering dilaporkan adanya resistensi S. typhi terhadap kloramfenikol,
namun secara generik kloramfenikol masih dianggap sebagai obat pilihan untuk
mengobati demam tifoid.
2.2.3

Dosis Kloramfenikol
Untuk pengobatan demam tifoid diberikan dosis 4 kali 500 mg sehari sampai

2 minggu bebas demam. Bila terjadi relaps biasanya dapat diatasi dengan
memberikan terapi ulang. Untuk anak-anak diberikan dosis 50-100mg/kg BB/sehari
dibagi dalam beberapa dosis selama 10 hari. Biasanya di berikan dosis dewasa, anak
dan bayi >2 minggu, sehari 50 mg/KgBB dalam 3-4 dosis. Bayi <2 minggu, sehari 25
mg/KgBB dalam 4-6 dosis. Bayi premature sehari 25 mg/KgBB dalam 2 dosis.
Efek Samping
2.2.4.1 Reaksi Hematologik
Terdapat dalam 2 bentuk. Yang pertama ialah reaksi toksik dengan manfestasi
2.2.4

depresi sumsum tulang belakang. Kelainan ini berhubungan dengan dosis, progresif
dan pulih bila pengobatan dihentikan. Kelainan darah yang terlihat anemia,

retikulositopenia, peningkatan serum iron, dan iron binding capacityserta vakuolisasi


seri eritrosit muda. Reaksi ini terlihat bila kadar kloramfenikol dalam serum
melampaui 25 g/ml. Bentuk ke dua adalah anemia aplastik dengan pansitopenia
yang irreversibel dan memiliki prognosis yang sangat buruk. Timbulnya tidak
tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan. Insiden berkisar antara 1:
24000 50000. efek samping ini diduga efek idiosinkrasi dan mngkin disebabkan
oleh kelainan genetik.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa kloamfenikol yang diberikan secara
parenteral jarang menimbulkan anemia aplastik namun hal ini belum dapat dipastikan
kebenarannya. Kloramfenikol dapat menimbulkan hemolisis pada pasien defisiens
enzim G6PD bentuk mediteranean. Hitung sel darah yang dilakukan secara berkala
dapat memberi petunjuk untuk mengurangi dosis atau menghentikan terapi.
Dianjurkan untuk hitung leukosit dan hitung jenis tiap 2 hari. Pengobatan terlalu lama
atau berulang kali perlu dihindari. Timbulnya nyeri tenggorok dan infeksi baru
selama pemberian kloramfenikol menunjukkan adanya kemungkinan leukopeni.
2.2.4.2 Reaksi Saluran Cerna
Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare, dan enterokolitis.
2.2.4.3 Reaksi Alergi
Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan
anafilaksis. Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada
pengobatan demam Tifoid walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai.
2.2.4.4 Sindrom Gray
Pada neonatus, terutama pada bayi prematur yang mendapat dosis tinggi
(200mg/kg BB) dapat timbul sindrom Gray, biasanya antara hari ke-2 sampai hari ke9 masa terapi, rata-rata hari ke 4. Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusu,
pernapasan cepat dan tidak teratur, perut kembung, sianosis, dan diare dengan tinja
berwarna hijau dan bayi tampak sakit berat. Pada hari berikutnya tubuh bayi menjadi
lemas dan berwarna keabu-abuan; terjadi pula hipotermia. Angka kematian kira-kira
40%, sedangkan sisanya sembuh sempurna. Efek toksik ini diduga disebabkan oleh;

(1) sistem konjugasi oleh enzim glukoronil transferase belum sempurna dan, (2)
kloramfenikol yang tidak terkonjugasi belum dapat diekskresi dengan baik oleh
ginjal. Untuk mengurangi kemungkinan terjadimya efek samping ini maka dosis
kloramfenikol untuk bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak boleh melebihi 25
mg/kgBB sehari. Setelah umur ini dosis 50 mgKg/BB biasanya tidak menimbulkan
efek samping tersebut
2.2.4.5 Reaksi Neurologik
Dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.
2.2.5

Interaksi Kloramfenikol
Susu mempunyai sifat dapat menghambat absorpsi zat-zat aktif tertentu terutama

antibiotika. Jika obat kurang diabsorbsi, berarti daya khasiat atau kemanjurannya juga akan
berkurang, sehingga penyembuhan mungkin tidak akan tercapai. Oleh sebab itu, jika kita
sedang mengkonsumsi antibiotika, misalnya kloramfenikol, sebaiknya jangan minum susu,
apalagi minum obat antibiotika tersebut bersama dengan susu.

Kloramfenikol

menghambat

enzim

sitokrom

P450

irreversibel

memperpanjang T untuk obat seperti dicumarol, phenytoin, chlorpopamide, dan


tolbutamide. Mengendapkan berbagai obat lain dari larutannya, merupakan antagonis
kerja bakterisidal penisilin dan aminoglikosida. Phenobarbital dan rifampin
mempercepat eliminasi dari kloramfenikol.
Kloramfenikol menghambat biotransformasi senyawa lain oleh enzim
mikrosoma hati. Interaksi kloramfenikol dengan obat lain:
Obat Lain

Akibat

Sefalosporin

Kerja sefalosporin turun

Siklofosfamid

Kerja sitostatika naik efek samping naik

Dikumarol

Antikoagulan Naik

As. Nalidiksat

Kerja as.nalidiksat turun

Penisilin

Kerja penisilin turun

Fenitoin

Kerja anti konvulsi dan efek samping naik

Tolbutamid

Kerja antidiabetes naik

2.3 Tinjauan Sediaan


2.3.1 Definisi Sediaan Suspensi

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat dalam bentuk halus
yang tidak larut tetapi terdispersi dalam cairan. Zat yang terdispersi harus halus dan
tidak boleh cepat mengendap, jika dikocok perlahan-lahan endapan haris segera
terdispersi kembali. Suspensi umumnya mengandung zat tambahan untuk menjamin
stabilitasnya, sebagai stabilisator dapat dipergunakan bahan-bahan disebut sebagai
emulgator (joenoes, 1990). Suspensi juga dapat didefenisikan sebagai preparat yang
mengandung partikel obat yang terbagi sevara halus (dikenal sebagai suspensoid)
disebarkan secara merata dalam pembawa dimana obat menunjukan kelarutan yang
sangat minimum. Beberapa suspensi resmi diperdagangkan tersedi dalam bentuk siap
pakai, telah disebarkan dalam cairan pembawa dengan atau tanpa penstabil dan bahan
tambahan farmasetik lainnya (Ansel, 1989).
Bahan obat yang diberikan dalam bentuk suspensi untuk obat minum,
mempunyai keuntungan bahwa (oleh karena partikel sangat halus) penyarapan zat
berkhasiatnya lebih cepat dari pada bila obat diberikan dalam bentuk kapsul atau
tablet, bioavailabilitasnya pun baik. Suspensi dapat dibagi dalam dua jenis yaitu:
suspensiyang siap digunakan atau suspensi yang dikonstitusikan dengan jumlah air
untuk injeksi atau pelarut lain yang sesuai sebelum digunakan. Suspensi tidak boleh
diinjeksikan secara intevena. Pada bentuk sediaan suspensi harus diperhatikan
bahawa obatnya betul diminum denagn sendok yang sesuai, sehingga obat diminum
dengan dosis yang tepat (loenoes, 1990).
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan
tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh
cepat mengendap, dan bila digojok perlahanlahan, endapan harus segera terdispersi kembali.
Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan
suspensi harus menjamin sediaan mudah digojok dan dituang. Suspensi sering disebut pula
mikstur gojog (mixtura agitandae). Bila obat dalam suhu kamar tidak larut dalam pelarut
yang tersedia maka harus dibuat mikstur gojog atau disuspensi. (Anief, 2006)

Menurut FI IV, suspense adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat
tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.

2.3.2 Keuntungan dan Kerugian Suspensi


2.3.2.1 Keuntungan Bentuk Sediaan Suspensi

Keuntungan dari suspense adalah sebagi berikut :


1; Baik digunakan untuk orang yang sulit mengkonsumsi tablet, pil, kapsul.
2;
3;
4;
5;

terutama untuk anak-anak


Memiliki homogenitas yang cukup tinggi
Lebih mudah di absorpsi daripada tablet, karna luas permukaan kontak dengan
permukaan saluran cerna tinggi
Dapat menutupi rasa tidak enak/pahit dari obat
Dapat mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air

2.3.2.2 Kerugian Bentuk Sediaan Suspensi :

Kerugian dari suspense adalah sebagai berikut :


1; Memiliki kestabilan yang rendah
2; Jika terbentuk caking maka akan sulit terdispersi kembali, sehingga

homogenisitasnya menjadi buruk


3; Aliran yang terlalu kental menyebabkan sediaan sulit untuk dituang
4; Ketepatan dosis lebih rendah dibandingkan sediaan larutan
5; Suspensi harus dilakukan pengocokan sebelum digunakan
6; Pada saat penyimpanan kemungkinan perubahan sistem dispersi akan

meningkat apabila terjadi perubahan temperatur pada tempat penyimpanan


Persyaratan Suspensi
Menurut FI Edisi III, persyaratan sediaan suspensi adalah sebagai berikut:
2.3.3

Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap.


Jika dikocok harus segera terdispersi kembali.
Dapat mengandung zat dan bahan menjamin stabilitas suspensi.
Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar mudah dikocok atau
dituang.
e; Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari
suspensi tetap agak konstan untuk jangka penyimpanan yang lama.
a;
b;
c;
d;

Menurut FI Edisi IV, persyaratan sediaan suspensi adalah sebagai berikut:


a; Suspensi tidak boleh di injeksikan secara intravena dan intratekal.
b; Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan untuk cara tertentu harus

mengandung anti-mikroba.
c; Suspensi harus dikocok sebelum digunakan.
2.3.4

Penggolongan Suspensi

Suspense dalam dunia farmasi terdapat dalam berbagai macam bentuk, hal ini
terkait dengan cara dan tujuan penggunaan sediaan suspense tersebut. Beberapa
bentuk sediaan suspense antara lain :
1; Suspense Injeksi terkonstitusi

Adalah sediaan kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk


membentuklaruatan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril
setelah penambahan bahan yang sesuai.
2; Suspense tetes telinga

Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikelpartikel halus yang ditujukan untuk diteteskan telinga bagian luar.
3; Suspense optalmik

Suspensi optalmik adalah sedaan cair steril yang mengandung partikelpartikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata.
Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak
menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Supensi obat mata tidak boleh
digunakan bila terjadi massa yang mengeras atau menggumpal.
4; Suspensi Per Oral

Suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel dapat yang


terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan
ditujukan untuk penggunaan oral. Beberapa suspensi yang diberi etiket
sebagai susu atau magma termasuk dalam golongan ini. Beberapa suspensi
dapat langsung digunakan sedangkan yang lain berupa campuran padat yang
harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera
sebelum digunakan.
5; Suspense Injeksi

Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam


medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam
larutan spinal.
6; Suspense Topikal

Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang


terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk pengguanan pada kulit.
Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai lotio termasuk dalam kategori
ini.
2.4 Praformula dan Formula
2.4.1 Praformula
2.4.1.1 Definisi Praformula

Adalah bagian dari kegiatan formulasi, dimana menitikberatkan pada kegiatan


investigasi karakteristik bahan yang menjadi keunggulan bahan untuk kemudian
dijadikan dasar dalam pemilihan bahan tersebut dalam suatu formula.
Studi praformulasi adalah tahap pertama dalam pengembangan bentuk sediaan
obat yang rasional, serta investigasi sifat-sifat fisik dan kimia zat aktif tunggal atau di
gabung dengan eksipien dengan sasaran pemilihan formulasi sediaan dalam
komposisi yang optimal. Tujuannya adalah untuk menghasilkan informasi bagi
formulator dalam mengembangkan bentuk sediaan yang stabil dan ketersediaan
hayati yang dapat diproduksi dalam skala besar, serta untuk menetapkan formula
akhir yang sebenarnya dan arah kerja untuk pembuatan produk.
Praformulasi merupakan langkah awal dalam proses pembuatan sediaan
farmasi dengan mengumpulkan keterangan-keterangan dasar tentang sifat kimia
fisika dari zat aktif bila dikombinasikan dengan zat atau bahan tambahan menjadi
suatu bentuk sediaan farmasi yang stabil, efektif dan aman. Penelitian atau
pemeriksaan sifat-sifat fisika dan kimia zat aktif tersendiri dan jika dikombinasikan
dengan zat lain merupakan data-data studi praformulasi. Data-data tersebut meliputi:
a; Uraian Fisik

Uraian fisik dari suatu obat sebelum pengembangan bentuk sediaan


penting untuk dipahami, kebanyakan zat obat yang digunakan sekarang
adalah bahan padat. Kebanyakan obat tersebut merupakan senyawa kimia
murni yang berbentuk amorf atau kristal. Obat cairan digunakan dalam
jumlah yang lebih kecil, gas bahkan lebih jarang lagi.
b; Pengujian Mikroskopik.

Pengujian mikroskopik dari zat murni (bahan obat) merupakan suatu


tahap penting dalam kerja (penelitian) praformulasi. Pengujian ini

memberikan indikasi atau petunjuk tentang ukuran partikel dari zat murni
seperti juga struktur kristal.
c; Ukuran Partikel.

Salah satu pertimbangan penting dalam formulasi suspense adalah


ukuran partikel obat. Dimana [engendapan obat yang tidak larut, distribusi
yang tidak merata dapat terlihat. Tujuan formulator adalah memperlambat
atau mencegah pengendapan dari partikel obat. Partikel pengendapan dapat
menjadi caking, pendispersian kembali suspense yang telah cake sulit
bahkan tidak mungkin. Pasien akan menerima dosis berlebih jika diberikan
dari suspense yang mengandung partikel yang rusak tapi sebelumnya obat
mengendap membentuk cake.
d; Koefisien Partisi dan Konstanta Disosiasi.
Untuk memproduksi suatu respon biologis molekul obat pertama-tama
harus melewati suatu membrane biologis yang bertindak sebagai pembatas
lemak. Kebanyakan obat yang larut lemak akan lewat dengan proses difusi
pasif sedangakn yang tidak larut lemak akan melewati pembatas lemak
dengan transport aktif. Karena hal ini maka perlu mengetahui koefisien partisi
dari suatu obat.Khusus untuk obat yang bersifat larut air maka perlu pula
diketahui konstanta disosiasi agar diketahui bentuknya molekul atau
ion.Bentuk molekul lebih muda terabsorpsi daripada bentuk ion.
e; Polimerfisme.
Suatu formulasi yang penting adalah bentuk kristal atau bentuk amorf
dari zat obat tersebut. Bentuk-bentuk polimorfisme biasanya menunjukkan
sifat fisika kimia yang berbeda termasuk titik leleh dan kelarutan. Bentuk
polimorfisme ditunjukkan oleh paling sedikit sepertiga dari senua senyawasenyawa organik.
f; Kelarutan.
Suatu sifat kimia fisika yang penting dari suatu zat obat adalah
kelarutan, terutama kelarutan sistem dalam air. Suatu obat harus memiliki
kelarutan dalam air agar manjur dalam terapi. Agar suatu obat masuk kedalam
sistem sirkulasi dan menghasilkan suatu efek terapeutik, obat pertama-tema
harus berada dalam bentuk larutan. Senyawa-senyawa yang relative tidak larut
seringkali menunjukkan absorpsi yang tidak sempurna atau tidak menentu.
2.4.1.2 Uji Studi Praformulasi Sediaan
2.4.1.2.1 Organoleptis

Program studi praformulasi harus di awali dengan pemerian zat aktif,


meliputi warna, aroma, rasa dan bentuk. Hal ini bertujuan untuk menghindari
kebingungan dari karakteristik bahan.

2.4.1.2.2

Analisis Fisikokimia
Analisis ini bertujuan untuk penetapan kadar dan identitas zat aktif.

Uji yang di gunakan di ambil dari data kualitatif dan data kuantitatif. Untuk
penetapannya

biasanya

digunakan

kromatografi

lapis

tipis,

spektrum,

spektrofotometri dan titrasi.


2.4.1.2.3

Sifat-sifat Fisikokimia / Karakteristik Fisik


Sifat-sifat fisikokimia mencangkup ukuran partikel, luas permukaan,

pembasahan, higroskopis, viskositas, kapilaritas. Pengujian ini bertujuan untuk


mengetahui karakteristik bahan yang digunakan sehingga dapat mempengaruhi uji
mutu fisik yang sesuai standart.
2.4.1.2.4

Sifat Kristal
Terkadang zat aktif terdiri atas lebih dari satu bentuk kristal, dengan

pengaturan ruang kisi-kisi yang berbeda. Sifat ini dikenal sebagai polimorfisa.
Bentuk kristal berbeda disebut polimorf. Banyak solid dapat di buat dalam bentuk
polimorfisa tertentu melalui perlakuan kondisi kristalisasi yang tepat.kondisi ini
mencakup sifat pelarut, suhu, kecepatan pendinginan, dan berbagai faktor lain.
Penetapan dan pemantauan terhadap bentuk polimorf yang berbeda untuk
menghindari masalah stabilitas, ketersediaan hayati dan masalah pengolahan.
2.5;
2.5.1

Karakteristik bahan

Kloramfenikol
Merupakan serbuk hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang,

putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan, tidak berbau; rasa sangat pahit
larutan praktis netral dalam kertas lakmus P, stabil dalam larutan netral atau agak
asam. Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dalam propilen glikol, dalam
aseton dan dalam etil asetat. Berkhasiat sebagai anti biotikum. Alasan pemilihan
bahan ini adalah karena kloramfenikol stabil dalam bentuk suspense dan sukar larut
dalam air.
2.5.2

Propylenglikol

Merupakan cairan kental jernih tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak manis
higroskopis. Kelarutan dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan dengan
kloroform p, larut dengan 6 bagian eter, tidak dapat campur dengan eter minyak tanah
dan dengan minyak lemak. Biasanya digunakan sebagai zat tambahan atau pelarut.
Alasan penggunaan adalah karena propyleneglikol tidak memiliki efek samping,
higroskopis dan tidak berwarna.
2.5.3

Syrup Simplex
Merupakan cairan jernih tidak berwarna. Digunakan sebagai pemanis,

pembuatan larutan ini 65 bagian sakarosa dalam larutan metil paraben 0,25%. Hingga
diperoleh 100 bagian sirop. Biasanya digunakan sebagai pemanis. Alasan pemilihan
bahan adalah karena tidak memiliki efek samping, rasa manis dan tidak berwarna.

2.5.4

Nipagin
Merupakan kristal tdak berwarna atau serbuk kristal berwarna putih; tidak

berbau atau hamper tidak berbau dan sedikit mempunyai rasa panas. Larut dalam 5
bagian propilenglikol; 3 bagian etanol 95%; 60 bagian gliserin; dan 400 bagian air.
Stabilitas, larutan metilparaben pada pH 3-6 dapat disterilkan dengan autoklaf pada
suhu 120 C selama 20 menit, tanpa penguraian. Larutan ini stabil selama kurang
lebih 4 tahun dalam suhu kamar, sedangkan pada pH 8 atau lebih dapat meningkatkan
laju hidrolisis. Memiliki inkompatibilitas aktivitas antimikroba dari metilparaben atau
golongan paraben yang lain sangat dapat mengurangi efektivitas dari surfaktan
nonionik, seperti polysorbate 80. Tetapi adanya propilenglikol (10%) menunjukkan
peningkatan potensi aktivitas antibakteri dari paraben, sehingga dapat mencegah
interaksi antara metilparaben dan polysorbate. Inkompatibel dengan beberapa
senyawa, seperti bentonit, magnesium trisilicate, talc, tragacanth, sodium alginate,
essential oils, sorbitol dan atropine. Antimicrobial preservative (oral solutions 0.015
0.2 %)
2.5.5

CMC Na

Merupakan Serbuk granul berwarna putih sampai krem, sifat higroskopis.


Berfungsi sebagai suspending agent, stabilizing agent, viscosity increasing agent,
water absorbing agent. Kelarutan, Praktis tidak larut dalam aseton, etanol, eter dan
toluene. Memiliki konsentrasi 0,1 1 %. Dan pH = 6 10

2.6;
2.6.1

Formula
Definisi Formula
Salah satu kegiatan dalam pembuatan sediaan dimana menitikberatkan pada

kegiatan merancang komposisi bahan baik bahan aktif maupun bahan tambahan yang
diperlukan untuk membuat sediaan tertentu yang meliputi nama dan takaran bahan,
dimana penentuan bahan harus selalu melewati proses studi praformulasi.
Komposisi Bahan
2.6.2.1 Zat aktif
2.6.2

Merupakan zat yang memang terbukti memberikan efek farmakologis pada


tubuh manusia atau hewan dalam dosis tertentu.
2;

Suspending Agent
Merupakan bahan yang dapat meningkatkan viskositas dari suspensi sehingga

pengendapan dapat diperlambat.


Zat Tambahan
Zat tambahan suspense adalah sebagai berikut :
3;

1; Pengawet

Menurut Boylan (1994) ada tiga kriteria pengawet yang ideal yaiu:
a; Pengawet harus efektif terhadap mikroorganisme spektrum luas.
b; Pengawet harus stabil fisika kimia dan mikribiologisselama masa berlaku

produk tersebut.
c; Pengawet harus tidak toksis, mensesitasi, larut dengan memadai, dapat

bercampur dengan komponen-komponen formulasi lain dan dapat diterima


dilihat dari rasa dan bau pada konsentrasi yang digunakan (Boylan, 1994).
Adapun pengawet yang umum digunakan dalam sediaan farmasi yaitu: asam
benzoat 0,1%, Natrium benzoat 0,1%, atau kombinasi dari metilparaben
(0,05%) dan propilparaben (0,03) (Jenkins dkk, 1995).

2; Larutan dapar (Buffer)

Menurut Boylan (1994) untuk dapat menjaga kelarutan obat, maka suatu
sistem harus didapar secara memadai. Pemilihan suatu dapar harus konsisten dengan
kriteria sebagai berikut:
a; Dapar harus mempunyai kappasitas memadai dalam kisaran pH yang

diinginkan.
b; Dapar harus aman secara biologis untuk penggunaan yang dimaksud.
c; Dapar hanya mempunyai sedikit atau tidak mempinyai efek merusak terhadap
stabilitas produk akhir.
d; Dapar harus memberikan rasa dan warna yang dapat diterima produk.
3; Zat Pembasah (wetting agent)

Dalam pembuatan suspensi penggunaan zat basah sangat berguna dalam


penurunan tegangan antar muka partikel padat dan cairan pembawa (Anief, 1994).
Zat pembasah yang sering digunakan dalam pembuatan suspensi adalah air, alkohol,
gliserin (Ansel, 1989). Zat-zat hidrofilik (sukar pelarut) dapat dibasahi dengan mudah
oleh air atau cairan-cairan polar lainnya sehingga dapat meningkatkan viskositas
suspensi-suspensi air dengan besar. Sedangkan zat-zat hidrofobik (tidak sukar
pelarut) menolak air, tetapi dapat dibasahi oleh cairan-cairan nonpolar. Zat pada
hidrofilik biasanya dapat digabungmenjadi suspensi tanpa zat pembasah (Patel dkk,
1994).
4; Zat Penambah Rasa

Ada empat rasa sensasi dasar yaitu: asin, pahit, manis dan asam. Suatu
kombinasi zat pemberi rasa biasanya diperlukan untuk menutupi sensasi rasa ini
secara efektif. Menthol kloroform dan berbagai garam sering kali digunakan sebagai
zat pembantu pemberi rasa (Patel dkk, 1994).
Menurut Aulton (1989), ada tiga tipe penambahan rasa yaitu:
a; Zat pemanis, contohnya: sorbitol, saccharin dan invert syrup.
b; Syrup Berasa, contohnya: blackcurant, rasoberry dan chererry.
c; Minyak Beraroma / Aromatic Oils, contohnya: anisi, cinnamon lemon dan

pepermint.
d; Penambahan Rasa Sintetik, contohnya: kloroform, vanillin, benzaldehid, dan

berbagai senyawa organik lain (alkohol, aldehid, ester dan keton).

5; Zat Penambah Warna

Ada beberapa alasan mengapa farmasi perlu ditambahkan zat pewarna yaitu
menutupi penampilan yang tiadak enak dan untuk menambah daya tarik pasien. Zat
pewarna harus aman, tidak berbahaya dan tidak memilikiefek farmakologi. Selain itu
tidak bereaksi dengan zat aktif dan dapat larut baik dalam sediaan (Ansel, 1989).
Pemilihan warna biasanya dibuat konsisten dengan rasa misalnya merah untuk
strawbery dan warna kuning untuk rasa jeruk (Ansel, 1989). Beberapa contoh yang
bisa digunakan yaitu Tartazin (kuning), amaranth (merah), dan patent blue V (biru).
Clorofil (hijau) (Aulton, 1989).
6; Zat Penambah Bau

Tujuan penambahan bau adalah untuk dapat menutupi bau yang tidak enak
yang ditimbulkan oleh zat aktif atau obat. Bau sangat mempengauhi rasa dari suatu
preparat pada bahan makan (Ansel, 1989). Dapat digunakan penambah bau berupa
essense dari buah-buahan yang disesuaikan dengan rasa dan warna sediaan yang akan
dibuat.
7;

Zat Pembawa
Zat pembawa yang bisa digunakan dalam pembuatan suspensi oral adalah air

murni (Ansel, 1989).


2.7;
2.7.1

Tinjauan Produksi
Definisi Produksi
Produksi merupakan suatu kegiatan untuk memproduksi, membuat, dan

menciptakan suatu produk atau barang dengan suatu bahan bahan yang telah
ditentukan khususnya memproduksi suspense kloramfenikol.
2.7.2

Tujuan Produksi

Tujuan produksi adalah untuk Memenuhi kebutuhan manusia. Manusia


memiliki beragam kebutuhan terhadap barang dan jasa yang harus dipenuhi dengan
kegiatan produksi. Apalagi jumlah manusia terus bertambah.
2.7.3 Komponen Produksi
2.7.4.1 Ruang

Ruang produksi adalah suatu ruang yang dirancang dengan khusus sebagai
tempat dilaksanakan kegiatan produksi dimana di dalamnya mengakomodasi berbagai
macam kebutuhan produksi ( alat, bahan, personal, manajemen ) dengan spesifikasi
khusus. Ruang produksi untuk pembuatan sediaan farmasi memiliki beberapa
karakteristik yaitu sebagai berikut:
a; Kontruksi bangunan tahan terencana

Maksudnya adalah sejak awal sudah ditentukan konsep awal untuk


pembuatan bangunan yang akan digunakan untuk pembuatan sediaan farmasi.
Kontruksi untuk bangunan ini harus bisa tahan gempa dan ditempatkan ditempat
yang aman, sehingga tidak akan mengganggu produksi. Jadi kontruksi bangunan
harus di rencanakan sejak awal secara matang dan juga terencana sehingga tidak
akan mengganggu proses produksi kelak.
b; Mendukung alur produksi one way

Maksud dari alur one way adalah ruang produksi harus memiliki alur
produksi secara berurutan tanpa ada pemutaran kembali sediaan ke tahap awal.
Misalnya dalam ruang produksi pencampuran bahan dilakukan dari sebelah barat
ke sebelah timur ruangan, ruangan harus memiliki tempat yang cukup mulai dari
pencampuran bahan disebelah barat kemudian berurutan hingga proses akhir
produksi berada di paling timur ruangan.
c; Terdapat pengaturan suhu, cahaya, tekanan dan higienitas

Pengaturan suhu, cahaya, tekanan dan higienitas sangat penting untuk


ruangan produksi. Hal ini dikarenakan untuk menghindari tumbuhnya
mikroorganisme dalam ruangan tersebut. Selain itu juga ada sediaan yang dalam
proses produksinya harus dalam suhu dan tekanan tertentu. Jadi memang penting
jika ruang produksi memiliki pengatur suhu, cahaya, tekanan dan higienitas.
d; Ruang tidak bersudut

Ruang yang tidak bersudut akan lebih mudah dibersihkan sehingga tidak
akan ada debu, kotoran atau mikroorganisme yang akan bersarang disana. Dengan
tidak adanya debu, kotoran dan mikroorganisme maka proses produksi akan lebih
higienis.

e; Berlapiskan epoksi

Pori-pori dinding adalah tempat yang biasanya terdapat banyak bakteri atu
mikroorganisme. Epoksi adalah sejenis cat yang digunakan untuk menutupi poripori permukaan dinding. Dengan memberikan epoksi pada dinding, berarti tidak
akan ada pori-pori di lubang tembok dan tidak ada tempat lagi untuk bakteri atau
mikroorganisme.
f;

Terdapat interlock door


Maksud dari interlock door adalah jika pintu masuk dibuka, maka pintu
keluar akan terkunci secara otomatis sehingga tidak bisa dibuka. Hal ini dilakukan
agar sirkulasi udara dalam ruangan dapat terjaga sehingga tidak mudah
terkontaminasi oleh bakteri yang terbawa dari luar.

2.7.4.2 Macam macam ruang produksi

Macam ruang produksi dapat dibedakan menjadi dua. Menurut warna dan
menurut kelas, juga menurut nomor area. Macam macam dari ruang produksi
adalah sebagai berikut :
1;
a

Berdasarkan Kelas
Ruang kelas I
Biasanya ruangan digunakan untuk pembuatan sediaan steril yang
memiliki tingkatan kelas tertinggi. Terdapat empat ruang filter yaitu prefilter,
medium filter, hipofilter dan LAF.

Ruang kelas II
Biasanya ruangan digunakan untuk penyiapan peralatan yang akan
digunakan di ruang kelas I.
Ruang kelas III
Biasanya ruangan digunakan untuk pembuatan sediaan semi solid
yang mudah terkontaminasi dengan bakteri atau mikroorganisme.

Ruang kelas IV
Biasanya ruangan yang digunakan untuk pembuatan sediaan serbuk
dan kapsul.
Berdasarkan Label Warna
Berikut merupakan ruang produksi yang dibedakan dengan laberl warna :

2;
a
b

Ruang kelas White


Ruangan kelas White biasanya diberikan untuk ruang kelas I.
Ruang Kelas Grey

Ruangan kelas Grey biasanya diberikan untuk ruang kelas II dan III.
Ruangan kelas Black
Ruangan kelas Black biasanya diberikan untuk ruang kelas IV.
Berdasarkan Nomor Area
Berikut merupakan ruang produksi yang dibedakan dengan berdasarkan

3;

nomor area produksi :


a

Ruang kelas 100


Ruang kelas 100 diartikan bahwa hanya boleh ada 100 mikroorganisme non

patogen dan 10 mikroorganisme patogen dalam ruangan itu.Biasanya ruang kelas


100 diberikan untuk ruang kelas I.
b

Ruang kelas 1.000


Ruang kelas 1.000 diartikan bahwa hanya boleh ada 1.000 mikroorganisme

non patogen dan 100 mikroorganisme patogen dalam ruangan itu.Biasanya ruang
kelas 1.000 diberikan untuk ruang kelas II.
c

Ruang kelas 10.000


Ruang kelas 10.000 diartikan bahwa hanya boleh ada 10.000 mikroorganisme

non patogen dan 1.000 mikroorganisme patogen dalam ruangan itu.Biasanya


ruangan kelas 10.000 diberikan untuk kelas III.
d

Ruang kelas 100.000


Ruang kelas 100.000

diartikan

bahwa

hanya

ada

boleh

10.000

mikroorganisme non patogen dan lebih dari 100.000 mikroorganisme patogen


dalam ruangan itu.Biasanya ruangan kelas 100.000 diberikan untuk kelas IV.
2.7.4.3 Alat

Alat prosuksi adalah seperangkat instrument yang digunakan untuk membuat,


mengolah ataupun memodifikasi suatu bahan awal menjadi sediaan ruahan maupun
sediaan jadi dengan fungsi dan standar tertentu. Alat produksi memiliki beberapa
spesifikasi yaitu sebagai berikut:
a; Timbangan neraca dan analitik

Neraca analitik adalah neraca dengan tingkat ketelitian tinggi, mampu


menimbang zat atau benda sampai batas 0,0001 g.

b; Perkamen

Kertas perkamen merupakan kertas yang tembus pandang (transparan) tetapi


kertas jenis perkamen ini mempunyai tekstur yang lebih kasar jika dibandingkan
dengan kertas glasin dan minyak, permukaan yang licin, dan jika terdekorasi
mempunyai efek pewarnaan yang baik.Kertas perkamen biasanya digunakan sebagai
kemasan mentega, keju dalam bentuk bungkusan, dan juga dapat digunakan sebagai
label. Kertas jenis ini dibuat dengan proses sulfiric acid serta proses pengelantangan
(bleaching) sehingga kertas jenis ini mempunyai sifat yang tahan dalam keadaan
basah, mempunyai ketahanan yang baik terhadap lemak, tidak terang (baur).
c; Spatel

Alat yang digunakan untuk mengaduk


d; Sendok

Alat yg digunakan sebagai pengganti tangan dalam


mengambil sesuatu , bentuknya bulat, cekung, dan bertangkai.
e; Gelas ukur

Gelas ukur merupakan suatu alat yang di gunakan untuk mengukur volume
larutan yang bentuknya seperti corong ataupun gelas yang mempunyai ukuran
volume mililiter yang berfariasi.
f;

Beaker glass
Beaker Glass atau gelas piala merupakan wadah yang terbuat dari

borosilikat.Gelas piala yang digunakan untuk bahan kimia yang bersifat korosif
terbuat dari PTPE.Untuk mencegah kontaminasi atau hilangnya cairan dapat
digunakan gelas arloji sebagai penutup.
g; Thermometer

Adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu suatu


bahan.

h; Blender

Blender dilengkapi dengan pengadukan pisau, melalui


pengadukan dengan kecepatan tinggi akan memberikan energi
kinetik yang dapat menggerakkan cairan dalam wadah
sehingga dapat mendispersikan fase dispersi ke dalam medium
dispersinya. Selain itu blender juga dapat menghomogenkan campuran dan
memperkecil ukuran partikel. Dengan adanya pengadukan mengakibatkan terjadinya
tumbukan antar partikel dispers. Bila tumbukan terjadi terus-menerus maka terjadi
transfer massa sehingga ukuran partikel menjadi semakin kecil. Ukuran partikel yang
kecil biasanya sukar homogen karena gaya kohesivitasnya tinggi sehingga cendrung
memisah. Namun kelemahan alat ini adalah muah terbentuk buih/ busa yang dapat
menggangu pengamatan selanjutnya. Penggunaan emulgator hidrokarbon akan
membuat makromolekul dari hidrokarbon terpotong-potong sehingga dapat
mempengaruhi kestabilan emulsi yang terbentuk.
i;

Piknometer
Untuk menghitung massa jenis cairan/ larutan.
j;

Pipet Tetes
Untuk menambahkan larutan secara perlahan setetes demi

setetes.

2.7.4.4 Personal

Personal

adalah

proses

manajemen

yang

bertanggung jawab terhadap prencanaan (aktifitas)


produksi, distribusi atau manajemen proyek yang
dijalankan oleh sebuah organisasi. Meliputi, Perencanaan

(desain)

produksi, Pengendalian (berkaitan dengan persediaan) produksi, Pengawasan


Produksi (berkaitan dengan mutu/quality control)Sumber daya manusia

(SDM)

sangat penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian mutu yang

memuaskan dan pembuatan obat yang baik dan benar. Oleh karena itu industri
farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan personil yang terkualifikasi dalam
jumlah yang memadai untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.
1; Syarat-syarat personalia dalam produksi :
a; Personalia hendaknya mempunyai pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan

kemampuan yang sesuai dengan tugas dan fungsinya dan tersedia dalam
jumlah yang cukup.
b; Personalia hendaklah dalam keadaan sehat dan mampu menangani tugas yang
dibebankan kepadanya.
2; Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh personalia adalah:
a; Persyaratan teknis (pra produksi meliputi pakaian dan kesehatan kulit serta
lain-lain)
b; Persyaratan teknis adalah persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan dan
harus dilakukan oleh karyawan, misalnya tidak cacat fisik dan mental, mampu
melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh perusahaan dan mempunyai
kemampuan yang cukup pada bidangnya.
c; Sebelum melaksanakan pekerjaannya, terlebih dahulu para pekerja juga harus
memperhatikan persiapan yang benar untuk meminimalkan terjadinya
kecelakaan kerja, meliputi:
1; Pencucian tangan

Sebelum dikeringkan dengan handuk bebas serat. Dan sebaiknya tidak


menggunakan cincin karena dapat meningkatkan jumlah bakteri pada
tangan, mengganggu pencucian tangan, serta dapat merobek sarung tangan
yang akan dipakai. Kemudian menghindari faktor-faktor lain yang dapat
mengurangi keefektifan pencucian tangan seperti kuku palsu dan cat kuku.
2; Memakai sarung tangan
Saat menggunakan sarung tangan, pemilihan sarung tangan harus
didasarkan pada jenis peracikan yang akan dilakukan. Selama melakukan
tugas peracikan dalam waktu yang panjang, karyawan harus mensanitasi
ulang sarung tangan secara berkala dengan isopropil alkohol 70%.
3. Memakai pakaian yang tepat
Dalam menggunakan pakaian harus dipilih kain sesuai dengan konstruksi
kain dan sifat perintang kain. Yang termasuk dalam konstruksi kain
meliputi lipatan jahitan di tepi kain, penutup leher, pergelangan kaki dan
pergelangan tangan. Selain itu kain juga harus dapat merintangi partikel
yang sangat kecil seperti virus dan bakteri.
4. Jas
Jas laboratorium yang terbuat dari bahan berpartikulat rendah (misalnya,

poliester) memadai untuk peracikan sediaan berisiko rendah. Pakaian


terusan dan pakaian penutup seluruh tubuh Pakaian yang digunakan harus
terbuat dari bahan berpartikulat rendah yang dapat melindungi dari lintasan
bakteri dan permeabilitas obat. Semakin rapat tenunan kain, maka akan
semakin banyak partikel yang tertahan.
5. Sepatu ganti
Sepatu digunakan sebagai pengganti alas kaki yang dikenakan pada saat
berangkat ke tempat. Sepatu pengganti tersebut harus tertutup sehingga
tidak ada kaki yang terlihat untuk mewaspadai terjadi kecelakaan kerja,
selain itu sepatu tidak boleh berhak dan licin.
6. Penutup sepatu
Penutup sepatu harus digunakan sebelum kaki menginjak lantai pada
bagian bersih meja kerja atau garis batas pemisah.
7. Masker
Masker harus dikenakan sesaat sebelum bekerja pada meja kerja, masker
harus diganti setiap kali pegawai meninggalkan area peracikan dan apabila
masker tidak utuh lagi sepenuhnya.
8. Scrub
Scrub digunakan untuk menahan keringat yang keluar, agar tidak
mengganggu pada saat peracikan.
9. Penutup kepala
Penutup kepala digunakan untuk menutupi rambut, agar rambut tidak
rontok pada saat proses peracikan. Sebelum menggunakan penutup
tersebut, terlebih dahulu rambut harus dirapikan agar tidak ada yang keluar
dari penutup.
10. Urutan pemakaian pakaian
Sebelum memasuki ruang antara (atau ruang bersih) pekerja harus
melepaskan pakaian bagian luar, perhiasan, membersihkan riasan, serta
harus mencuci tangan dengan cara menggosok tangan dan lengan sampai
siku dengan benar. Selanjutnya tangan dikeringkan dengan handuk bebas

serat. Kemudian rambut harus ditutup dengan penutup rambut berbentuk


sasak untuk menahan partikel yang terlepas dari rambut dan menjaga
rambut agar tidak menjulur ke area peracikan, setelah itu menggunakan
masker, menggunakan sepatu ganti dan penutup sepatu untuk menahan
partikel-partikel pada sepatu, selanjutnya memakai pakaian terusan atau
jas tertutup, scrub dan yang terakhir menggunakan sarung tangan.
Apabila pekerja perlu meninggalkan ruang bersih, jas harus dilepaskan
secara hati-hati pada pintu masuk dan digantung terbalik untuk digunakan
kembali ketika akan masuk kembali, tetapi hanya selama periode
pengerjaan yang sama. Penutup rambut, masker, penutup sepatu, dan
sarung tangan harus dibuang dan perlengkapan yang baru dikenakan
sebelum masuk kembali.
2.7.4 Metode
2.7.4.1 Metode Pembuatan Suspensi

Metode dalam pembuatan suspense adalah sebagai berikut :


1; Metode disperse

Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang


telah terbentuk kemudian baru diencerkan. Perlu diketahui bahwa kadangkadang terjadi kesuka-ran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle, hal
tersebut karena adanya udara, lemak, atau kontaminan pada serbuk. Serbuk
yang sangat halus mudah kemasukan udara sehingga sukar dibasahi. Mudah
dan sukarnya serbuk terbasahi tergantung besarnya sudut kontak antara zat
terdispers dengan medium. Bila sudut kontak 90o serbuk akan mengambang
diatas cairan. Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob. Untuk
menurunkan tegangan antar muka antara partikel zat padat dengan cairan
tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent.
2; Metode praesipitasi.

Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik


yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik

diencer- kan dengan larutan pensuspensi dalam air. Akan terjadi endapan
halus dan tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut
adalah : etanol, propilenglikol, dan polietilenglikol
2.7.4.2 Sistem Pembentukan Suspensi

System pembentukan suspense adalah sebagai berikut :


1; Sistem flokulasi

Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah,cepat mengendap


dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali.
Sifat sifat partikel Flokulasi :
a.

Partikel merupakan agregat yang bebas.

b. Sedimentasi terjadi cepat.


c.

Sedimen terbentuk cepat.

d.

Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah

terdispersi kembali seperti semula


e.

Ujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi terjadi cepat dan

diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata.


2;

Sistem deflokulasi
Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan
akhirnya membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk
cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. Secara umum sifat-sifat dari
partikel deflokulasi adalah :
a. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
b.

Sedimentasi yang terjadi lambat masing - masing partikel mengendap

terpisah dan ukuran partikel adalah minimal


c.

Sedimen terbentuk lambat

d. Akhirnya sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi
lagi
e.

Ujud suspensi menyenangkan karena zat tersuspensi dalam waktu relatif

lama. Terlihat bahwa ada endapan dan cairan atas berkabut.

2.8; Evaluasi
2.8.1 Definisi

Suatu pemeriksaan terhadap pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan dan


yang akan digunakan untuk memperhitungkan dan mngendalikan pelaksanaan
kegiatan kedepannya agar jauh lebih baik. Evaluasi lebih bersifat melihat kedepan
dari pada melihat kesalahan-kesalahan dan ditujukan untuk peningkatan kesempatan
demi keberhasilan kegiatan. Dengan demikian evaluasi adalah perbaikan atau
penyempurnaan di masa mendatang atas suatu kegiatan.
Tujuan
Tujuan dilakukannya evaluasi pada sediaan adalah sebagai berikut:
b; Pemastian mutu sediaan
2.8.2

Evaluasi bertujuan untuk memastikan mutu dari sediaan yang diproduksi, baik
itu dimulai dari pemilihan bahan sampai dengan hasil jadi sediaan tersebut. Dengan
melakukan evaluasi kita dapat mengetahui kualitas mutu dari sediaan yang kita buat.
Jika kita memiliki sediaan yang memiliki kualitas baik, maka kita kemungkinan besar
sediaan kita akan diterima dengan baik dipasaran.

c; Estimasi efek terapi bisa diketahui

Dengan melakukan evaluasi, biasanya ddengan melakukan evaluasi sediaan


yang sudah diprosuksi, kita akan mengetahui seberapa besar efek terapi yang akan
dihasilkan oleh sediaan kita terhadap tubuh pasien. Kita akan mengetahui bahwa
sediaan kita sudah memenuhi dosis yang tepat atau belum. Jika kita tidak melakukan
evaluasi terhadap sediaan, dikhawatirkan obat akan memberikan efek samping yang
berbahaya akibat ketidaktahuan akan efek terapi yang diberikan.
d; Dasar tindakan reformulasi

Dengan dilakukan evaluasi, kita akn mengetahui kekurangan-kekurangan


sediaan yang kita buat. Sehingga kita akan bisa melakuka reformulasi untuk
memperbaiki sediaan kita. Jika kita tidak melakukan evaluasi, kita tidak akan tahu
letak kesalahan kita dan kita tidak tahu solusi untuk memperbaiki sediaan kita.

e; Dasar pengembangan produk

Bukan hanya kekrangan yang akan kita ketahui saat melakukan evaluasi,
kelebihan dari suatu sediaan pun akan kita ketahui. Dengan mengetahui kelebihan
dari sediaan kita, misalnya saat pemilihan bahan, kita bisa mengaplikasikan kelebihan
itu kepada sediaan lainnya, sehingga kita dapat melakukan pengembangan produk
farmasi menjadi lebih baik lagi.
Penggolongan
Secara umum, penggolongan evaluasi dibagi menjadi 3 yaitu:
2.8.3.1; Berdasarkan tahapan produksi
2.8.3

Evaluasi yang dilakukan berdasarkan tahapan produksi adalah evaluasi yang


menekankan pada tahapan atau proses yang dilakukan sebelum produksi, saat
produksi dan setelah produksi.
a; Pre produksi

Evaluasi pada tahap pre produksi adalah evaluasi yang dilakukan pada bahan
yang akan dibuat. Biasanya meliputi identifikasi bahan, interaksi bahan terhadapa
bahan lain dan stabilitas fisik dari bahan. Misalnya pada tahap praformulasi
terdapat kendala-kendala untuk pemilihan bahan sehingga kita harus
mengevaluasi karakteristik bahan.
b; In Process Control

Evaluasi pada saat proses produksi adalah evaluasi yang lebih menekankan pada
saat pembuatan sediaan. Jadi kita mengevaluasi dari cara-cara atau prosedur saat
melakukan produksi. Misalnya keakuratan penimbangan bahan dan kinerja alat
produksi.
c; Post produksi

Evaluasi ini adalah evaluasi yang menekankan evaluasi pada sediaan yang sudah
jadi. Misalnya pada uji organolepttis, keseragaman bobot dan kekentalan.
2.8.3.2; Berdasrkan objek sediaan

Berdasarkan pada objek sediaan, maka evaluasi dibagi menjadi tiga yaitu
sebagai berikut:
a; Bahan awal

Evaluasi yang dilakukan pada bahan awal adalah evaluasi yang menekankan pada
objek bahan yang digunakan, mulai dari karakteristik bahan sampai dengan

tingkat kelarutan dan titik didih bahan yang akan digunakan. Hal ini untuk
mencegah adanya bahan yang rusak karena memiliki karakteristik yang tidak
sesuai dengan sediaan yang akan dibuat.
b; Ruahan

Evaluasi pada objek sediaan ruahan adalah evaluasi bahan saat sedang dibuat
menjadi bentuk sediaan setengah jadi. Untuk sediaan suspensi, evaluasi pada
tahap ruahan atau sediaan setengah jadi adalah saat bahan-bahan obat bercampur
membentuk mucilago. Saat dalam fase mucilago inilah dilakukan evaluasi
terhadap kesesuaian terhadap syarat-syarat mucilago yang baik.
c; Sediaan jadi

Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi yang ditekankan pada bentuk sediaan
jadinya, seperti pada suspensi evaluasi sediaan jadi yang dilakukan adalah
homogenitas, viskositas dan juga kecepatan terdispersi kembali.
2.8.3.3; Berdasarkan tujuan evaluasi

Berdasarkan tujuan evaluasinya, evaluasi dibagi menjadi 4 yaitu sebagai


berikut:
a; Efektivitas

Evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas adalah evaluasi yang


dilakukan dengan berfokus pada efektivitas atau kemampuan obat untuk
memberikan efek terapi terhadap tubuh.
b; Mutu fisik

Mutu fisik menjadi penggolongan evaluasi karena dalam evaluasi mutu fisik kita
bisa mengetahui kualitas sediaan kita secara langsung, mulai dari homogenitas
sampai kekentalan sediaan.
c; Sterilitas

Evaluasi terhadap sterilitas berguna untuk mengetahui tingkat sterilitas sediaan


yang sudah dibuat. Hal ini untuk mengetahui sampai berapa lama obat mampu
bertahan tanpa ditumbuhi oleh mikroorganisme.
d; Kimia

Evaluasi kimia meliputi interaksi antara satu bahan dengan bahan. Dengan
melakukan evaluasi kimia, kita dapat mengertahui rencana kerja obat dalam
tubuhh manusia nantinya. Dengan mengetahui evaluasi ini juga kita bisa
menghindari reaksi-reaksi kimia antara obat satu dengan obat yang lain.
2.8.4 Uji kualitas Mutu
2.8.4.1 Ukuran Partikel

Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut


serta daya tekan keatas dari suspense itu. Hubungan antara ukuran partikel
merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan luas
penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubingan linear, artinya semakin
besar ukuran partikel semakin luas penampangnya sedangkan semakin besar luas
penampang partikel daya tekan ke atas cairan akan semakin memperlambat gerakan
tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel dengan dimixer.
2.8.4.2 Viskositas

Viskositas suatu cairan mempengaruhi kecepatan aliran dari cairan tersebut,


makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Kecepatan aliran
dari cairan tersebut mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat
didalamnya. Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan, gerakan turun
dari partikel yang kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah
dikocok dan dituang. Untuk menaikkan viskositas ditambah zat pengental.
2.8.4.3 Jumlah Partikel

Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka
partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi
benturan antar partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya
endapan dari zat tersebut. Oleh karena itu, makin besar konsentasi partikel, makin
besar terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.
2.8.4.4 Sifat atau Muatan Partikel

Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa campuran


bahan yang sifatnya tidak selau sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi
interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan
karena sifat bahan mempengaruhinya.
2.8.4.5 Penetapan Bobot Jenis

Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, penetapan bobot


jenis digunakanhanya untuk cairan, dan kecuali dinyatakan lain, didasarkan pada
perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25 terhadap bobot air dengan volume dan
suhu yang sama. Bila suhu di tetapkan dalam monografi, bobot jenis adalah
perbandingan bobot zat di udara pada suhu yangtelah ditetapkan terhadap bobot air
dengan volume dan suhu yang sama. Bila pada suhu 25 zat berbentuk padat,
tetapkan bobot jenis pada suhu yang telah tertera pada masing-masingmonografi, dan
mengacu pada air pada suhu 25.
2.8.4.6 Penetapan Bobot Permilimeter

Bobot per milliliter suatu cairan adalah bobot dalam g per ml cairan yang
ditimbang diudara pada suhu 200C, kecuali dinyatakan lain dalam monografi.
(Farmakope Indonesia IV,1995). Bobot per ml zat cair ditetapkan dengan membagi
bobot zat cair di udara yang dinyatakandalam g, dari sejumlah cairan yang mengisi
piknometer pada suhu yang telah ditetapkan dengankapasitas piknometer yang
dinyatakan dalam ml, pada suhu yang sama. Kapasitas piknometer ditetapkan dari
bobot di udara dari sejumlah air yang dinyatakan dalam g, yang mengisi.
2.8.4.7; Redispersi

Waktu Redispersi, daya kocok sedimen dapat dilakukan dengan gerak


membalik susupensi yang mengandung sedimen sebasar 90 0 kemudian dapat diukur
waktunya atau jumlah gerak membalik, yang dibutuhkan untuk mendispersikan
kembali seluruh partikel (Voight, 1995). Kemampuan suspensi untuk menjaga agar
dosis obat terdispersi secara merata diukur berdasarkan kemampuannya untuk
mendispersikan kembali suatu suspensi yang mengendap. Endapan yang terbentuk
selama penyimpanan harus mudah didispersikan kembali bila wadahnya dikocok,
membentuk suspensi yang homogen. Oleh karena itu pemeriksaan kemampuan
redispersi sangat penting dalam evaluasi stabilitas fisik suspensi. Penentuan redispersi
dapat ditentukan dengan cara mengkocok sediaannya dalam wadahnya secara
konstan dengan menggunakan pengocok mekanik. Kemempuan redispersi baik bila
suspensi telah terdispersi sempurna dengan tangan maksimum 15 kali pengocokan.

2.8.4.8; pH

Dalam uji pH berhubungan dengan stabilitas zat aktif yang terkandung dalam
sediaan suspensi tersebut sesuai dengan pH normal dan efektifitas pengawet pada
keadaan kulit sehingga tidak menghambat fungsi fisiologis kulit atau sesuai dengan
syarat suspensi yang baik. Pengukuran pH bertujuan untuk mengetahui derajat
keasaman sediaan suspensi yang telah dibuat sesuai dengan pH standar kulit yang
telah ditetapkan.Cara kerjanya Diambil zat yang akan diuji, dimasukkan diatas beaker
glass, celupkan kertas pH, catat ph.

BAB III

Formula
Kloramfenikol
125 mg

CMC Na

1%

Propylenglikol

10%

Syrup Simplex

20%

Nipagin

0, 1%

Aquadest

ad 5 ml

3.1; Formula
3.2; Perhitungan Dosis

Dosis :

1
2 13
100
100
2

15 00

= 93,75 %
3.3; Perhitungan Bahan

Dalam satu kali minum 5 ml. Terbagi dalam 12 x minum. Sediaan 60 ml


Kloramfenikol

: 125 x 12 = 1,5 g

CMC Na

: 1% x 60 = 0.6 g

Propyleneglikol

: 10% x 60 = 6 g

Nipagin

: 0,1% x 60 = 0,06 g

Syrupus simplex

: 20% x 60 = 12 ml

Aquadest

: 5 x 12 = 60 ml

60 (1,5 0,6 6 0,06 12) = 39,84 ml


Perhitungan air untuk CMC Na : 20 x 0,6 = 12 ml

3.4; Perincian Alat dan Bahan


3.4.1; Alat
1; Timbangan neraca dan analitik
2; Perkamen
3; Spatel
4; Sendok
5; Corong
6; Gelas ukur
7; Beaker glass
8; Botol
9; Motrir+stamper
10; Cawan porcelain
3.4.2;
1;
2;
3;
4;
5;
6;

Bahan
Kloramfenikol
CMC Na
Propylenglikol
Syrup Simplex
Nipagin
Aquadest

3.5; Prosedur Pembuatan

Prosedur kerja dalam pembuatan suspense adalah :


1;
2;
3;
4;
5;
6;
7;
8;
9;

Siapkan alat dan bahan


Kalibrasi botol 60 ml
Timbang 1,5 kloramfenikol, CMC Na, Nipagin dan Propylenglikol
Masukkan air panas sebanyak 12 ml kedalam mortir lalu masukkan CMC Na
kedalamnya gerus halus ad homogen.
Tambahkan kloramfenikol yang telah di timbang, aduk hingga rata dan
homogeny.
Tambahkan Nipagin dan Propylenglikol, aduk hingga merata
Tambahkan syrupus simplex aduk hingga homogeny.
Masukkan air secukupnya hingga 60 ml.
Masukkan kedalam botol dan diberi label.

3.6; Prosedur Kerja Evaluasi


3.6.1; Volume Sedimentasi
1;
Masukkan sediaan yang sudah jadi kedalam beker glass.
2;
Biarkan dan amati pemisahannya / pengendapannya dalam waktu yang
3;

telah ditentukan (15 menit, 30 menit, 1 hari, 3 hari, 5 hari, 7 hari).


Kemudian amati sediaan memisah atau tidak, jika tampak memisah maka
bagian yang bening diukur.

3.6.2; Viskositas

Mengukur viskositas emulsi menggunakan Viskometer Brookfield :


1;
2;
3;
4;

Masukan emulsi kedalam beaker glass


Pasang alat brookfield dan masukan spindel dalam emulsi
Pilih pengatur kecepatan; amati jarum penunjuk pada saat konstan
Catat angka yang ditunjuk jarum; hitung viskositasnya.

3.6.3; Ukuran Partikel


1; Letakan sedikit cairan sebagai sample diatas objectglass lalu encerkan dengan

air
2; Letakkan objectglass di atas meja benda kemudian jepit dengan penjepit

spesimen
3; Cari bagian dari objectglass dengan sekrup vertical dan horizontal sampai
terlihat gambar yang jelas
4; Catat hasil pengukuran diameter minimal 10 partikel lingkaran dan 10 partikel
oval / memanjang yang berbeda beda lalu hitung rata ratanya.
3.6.4; pH

Dengan cara mencelupkan indicator pH ke dalam suspensi, kemudian


bandingakn perubahan warna yang terjadi pada indicator dengan tabel perubahan
warna.
3.6.5; Redispersi
1; Uji Redispersi dilakukan setelah evaluasi volume sedimentasi selesai

dilakukan.
2; Tabung reaksi berisi suspense yang telah dievaluasi volume sedimentasinya

diputar 180 derajat dan dibalikan ke posisi semula.


3; Kemampuan redispersi baik bila suspensi telah terdispersi sempurna dan

diberi nilai 100%.


4; Setiap pengulangan uji redispersi pada sampel yang sama, maka akan

menurunkan nilai redispersi sebesar 5%.


3.6.7

Uji Organoleptis
Keadaan yang di amati yaitu warna, rasa,bau, kelarutan. Pemberian dikatakan

baik jika warna suspensi tidak berubah dan bau tidak hilang.