Anda di halaman 1dari 24

Trauma pada Mata

Pembimbing :
Dr. Yogyarso Budi W, Sp.M

Penyusun:
Yehezkiel Edward
11-2014-338

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA
KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT MATA
PERIODE 30 NOVEMBER 2015 02 JANUARI 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas referat saya yang berjudul Trauma pada Mata.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dalam kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Umum Daerah Koja.
Dalam usaha penyelesaian tugas ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada dr.Yogyarso Budi W,Sp.M, selaku pembimbing dalam penyusunan makalah
ini,m paramedic serta seluruh staf di SMF Ilmu Penyakit Mata, dan semua pihak yang turut
membantu dalam peyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa didalam penulisan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu dengan segala kerendahan hati saya menerima semua saran dan kritik yang membangun
guna penyempurnaan tugas referat ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Jakarta, 14 Desember 2015

Penyusun

BAB 1
PENDAHULUAN
Mata merupakan salah satu panca indra yang mempunyai fungsi yang begitu kompleks,
dengan ukuran yang kecil. Kelainan-kelainan yang terjadi pada organ ini akan menyebabkan
berbagai manifestasi klinis dan apa bila tidak dapat ditangani dengan baik, akan
mengakibatkan kebutaan ataupun gangguan yang lain yang bersifat permanen. Kelainan
tersebut tidak hanya terjadi pada bola mata, namun terjadi pada seluruh kesatuan dari indra
ini yang meliputi kelopak mata, bola mata, bahkan sampai pada tempat di mana bola mata
tersebut berada.
Trauma pada mata akan mengakibatkan kerusakan mata serta menyebabkan timbulnya
penyulit yang dapat menyebabkan menurunnya fungsi penglihatan. Trauma pada mata dapat
disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya trauma tumpul, trauma tembus bola mata, trauma
kimia serta trauma radiasi.
Trauma mata merupakan penyebab umum kebutaan unilateral pada anak dan dewasa muda.
Menurut penelitian, dewasa muda khususnya pria, memiliki resiko yang tinggi untuk
mengalami trauma tembus mata. Trauma pada mata yang berat dapat menyebabkan cedera
multipel pada palpebral, bola mata, dan jaringan lunak pada orbita.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI MATA
Konjungtiva adalah lapisan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang.
Bermacam macam obat dapat diserap melalui konjungtiva ini. Konjungtiva mengandung
kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata
terutama kornea.1
Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu:1
Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari
tarsus.

Konjungtiva bulbi menutupi sclera dan mudah digerakkan dari sclera di

bawahnya.
Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat
peralihan konjungtiva tarsal dan konjungtiva bulbi.

Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di
bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak
Gambar 1. Potogan membujur palpebral.1
.

Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan
jaringan terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sclera disebut kornea yang
bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan
kornea lebih besar dibanding sclera. Sklera berhubungan erat dengan kornea dalam bentuk
lingkaran yang disebut limbus. Sklera berjalan dari papil saraf optic sampai kornea.
Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput
mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan.
Secara anatomi, kornea terdiri atas lima lapisan yaitu lapisan epitel kornea (bersambungan
dengan epitel konjungtiva bulbaris), membrana bowman, stroma, membran Descemet, dan
lapisan endotel. Epitel merupakan lapisan pertahanan kornea terhadap infeksi, sehingga
apabila terdapat jejas pada epitel maka kornea akan mudah sekali terinfeksi dan meradang.2
Lapisan-lapisan anatomis kornea :2
1. Epitel

Tebalnya 50m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.

Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan
mejadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel
basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di
depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat
pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier.

Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila
terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.

Epitel berasal dari ektodrm permukaan.

2. Membran Bowman

Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang
tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3. Stroma

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan
lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer
serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan
waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel
5

stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen


stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam
perkembangan embrio atau sesudah trauma.
4. Membran Descement

Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea


dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya.

Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal
40 m

5. Endotel

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 m.


Endotel melekat pada membran Descement melalui hemidesmosom dan zonula
okluden.

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf
nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea,
menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh saraf epitel
dipersarafi sampai kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi
dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus
terjadi dalam waktu 3 bulan.2

Gambar 1. Anatomi kornea.3

Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel
terganggu sehingga terjadi dekompensaasi endotel dan edema kornea. Endotel tidak
mempunyai daya regenerasi.
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutupi bola mata di sebelah
depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri
pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.

Pemeriksaan awal pada trauma mata.


Pada anamnesis, penting untuk mengetahui ketajaman penglihatan pasien sebelum dan sesaat
setelah cedera.1 Penurunan ketajaman penglihatan juga harus dibedakan apa terjadi mendadak
atau turun secara perlahan. Pada kasus trauma dengan riwayat mengasah, memalu, dan
ledakan, penting untuk dicari apakah ada benda asing di intraokular.
Pada pemeriksaan fisik, pertama kali lakukan pengukuran ketajaman penglihatan. Lakuakan
pemeriksaan tajam penglihatan sampai dengan metode proyeksi sinar bila pasien mengalami
penurunan ketajaman penglihatan yang parah. Periksa pergerakan bola mata, sensasi kulit
periorbital, dan palpasi bagian tepi tulang orbita bila mencurigai adanya diskontinuitas pada
tepi tulang orbita.1
Dalam menilai permukaan kornea, penting untuk mengatahui apakah ditemukan benda asing,
luka, atau abrasi pada permukaan kornea. Pada kasus trauma tembus, enoftalmus dapat dilihat
dengan melihat permukaan kornea dari atas alis. Pada pemeriksaan bilik mata depan,
tentukan kejernihan dan kedalamannya. Ukuran dan bentuk pupil, serta reaksi terhadap
cahaya harus dibandingkan dengan mata lain untuk mengetahui apakah terdapat defek pupil
aferen pada mata yang mengalami cedera. Pada kasus rupture bola mata, dapat ditemukan
adanya penurunan visus sampai hanya melihat lambaian tangan, mata dengan konsistensi
lembek, defek pupil aferen, dan perdarahan pada vitreus. Pemeriksaan pada palpebral dan
konjungtiva harus lebih teliti pada kasus trauma yang tidak merusak bola mata.
Prinsip penanganan segera pada trauma mata
Tindakan manipulasi harus dibatasi pada keadaan rupture bola mata berat. Pemeriksa yang
bukan ahli dalam bidang oftalmologi harus membatasi manipulasi ataupun pmeriksaan,
karena resiko kerusakan lebih lanjut dapat terjadi. Obat-obat siklopegik ataupun topical

jangan diberikan sebelum pembedahan, karena dapat menimbulkan resiko toksisitas pada
jaringan luka yang terpajan. Bagian mata yang mengalami trauma harus diberikan pelindung.
Pemberian antibiotik oral spektrum luas harus segera dilakukan. 3
Secara umum trauma mata dibedakan menjadi 2 bagian besar, yaitu trauma mekanik dan
trauma non mekanik.
I. TRAUMA MEKANIK
Insiden trauma mekanik meningkat akibat adanya peningkatan aktivitas industri dan
peningkatan aktivitas lalu lintas. Trauma mekanik dapat dikelompokkan menjadi:2
A. Benda asing ekstraokuler
B. Trauma tumpul
C. Trauma tembus

Klasifikasi trauma mekanik terbaru dijabarkan oleh American Ocular Trauma Society,
dimana trauma mata mekanik dibagi menjadi trauma mata terbuka dan trauma mata tertutup.3
Luka

Bola mata tertutup

Kontusio

Bola mata terbuka

Laserasi lamelar

Penetrasi

Laserasi

Benda Asing

Ruptur

Perforasi

Bagan 1. BETT. Istilah pada kotak dengan garis ganda menunjukkan diagnosis yang
digunakan pada praktek.3

A. Benda asing ekstraokuler


Kasus benda asing ekstraokular banyak ditemukan pada daerah-daerah industri. Pada kasus
benda asing intraokular diperlukan anamnesis yang baik untuk mengetahuin terjadinya
riwayat trauma dengan baik. Benda asing ekstraokuler dapat tertanam pada :3

Konjungtiva. Benda asing ini dapat tertanam pada konjungtiva tarsal, sulkus

subtarsalis, konjungtiva forniks, atau konjungtiva bulbi


Kornea. Benda asing sering tertanam pada lapisan superfisial seperti epitelium dan
jarang sampai menembus lapisan stroma.

Gambar 3. Benda asing ekstraokuler di konjungtiva.1

Gejala klinis
Gejala klinis dari benda asing di konjungtiva adalah didapatkan tanda khas berupa
blefarospasme dan injeksi konjungtiva. Dengan pemeriksaan slit lamp, benda asing di kornea
dapat terlihat sejauh mana benda itu menembus lapisan kornea. 3 Adanya abrasi dan benda
asing pada permukaan kornea akan memberikan sensasi nyeri dan iritasi sewaktu mata dan
palpebra digerakkan. Uji fluorescein akan membantu mewarnai membran basal yang defek
dan dapat memperjelas kebocoran aquos pada trauma tembus.

Gambar 4. Benda asing ekstraokuler di kornea1


Tatalaksana
9

Penatalaksanaan benda asing ekstraokuler ialah mengambil benda asing tersebut secepatnya.
Pada kasus benda asing di konjungtiva tarsal atau forniks, dapat menggunakan swab kapas.
Bila benda asing terdapat pada konjungtiva bilbi, pengangkatan menggunakan jarum kecil
dengan bantuan anestesi topikal.2
Pada kasus benda asing di kornea, mata terlebih dahulu dianestesi topikal dengan xylocaine 2
%. Pengangkatan dapat menggunakan jarum kecil dengan bantuan slit lamp. Defek epitel
kornea yang ringan diterapi dengan salep antibiotik dan balut tekan untuk mengimobilisasi
palpebral. Luka harus diperiksa setiap harinya untuk mencari tanda-tanda infeksi sampai luka
sembuh sempurna. Pada pengeluaran benda asing, dapat diberikan anestetik topikal dan
jarum berukuran kecil sewaktu pemeriksaan dengan slit lamp. Bila terdapat fragmen yang
tertanam dalam di kornea, tindakan pengambilan harus dilakukan dengan teknik bedah mikro
dalam kamar operasi.2
Jangan pernah memberikan larutan anestetik topikal pada pasien untuk dipakai ulang setelah
cedera kornea karena hal ini dapat memperlambat penyembuhan, menutupi kerusakan lebih
lanjut, dan dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut kornea yang permanen.
Pemakaian steroid harus dihindari bila masih ada defek epitel.
Komplikasi
Konjungtivitis bacterial dapat terjadi pada kasus benda asing di konjugtiva, sedangkan ulkus
kornea dapat terjadi pada kasus benda asing di kornea.

B. Trauma tumpul
Trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan oleh benda yang keras atau benda yang tidak
keras, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan keras atau dengan lambat.
Tingkatan dari rudapaksa mata ini tergantung dari besar, berat, energi kinetik dari obyek.
Gelombang tekanan akibat dari rudapaksa mata menyebabkan :2
1. Tekanan yang sangat tinggi dan jelas dalam waktu yang singkat didalam bola
mata.
2. Perubahan yang menyolok dari bola mata.
3. Tekanan dalam bola mata akan menyebar antara cairan vitreous yang kental
dan jaringan sclera yang tidak elastis.

10

4. Akibatnya terjadi peregangan dan robeknya jaringan pada tempat dimana ada
perbedaan elastisitas, mis: daerah limbus, sudut iridocorneal, ligamentum
Zinii, corpus ciliare.
Respon dari jaringan terhadap rudapaksa mata tumpul :4
1. Vasokonstriksi dari pembuluh darah perifer, sehingga terjadi iskemia dan
nekrosis lokal.
2. Diikuti dengan vasodilatasi, hiperpermeabilitas, aliran darah yang menurun.
3. Dinding pembuluh darah robek maka cairan jaringan dan isi sel akan
menyebar menuju jaringan sekitarnya sehingga terjadi edema dan
perdarahan.

Karena tiap-tiap jaringan mempunyai sifat-sifat dan respon khusus terhadap trauma maka
akan dibicarakan satu-persatu.
a. Kelopak Mata
Hematoma kelopak
Hematoma merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak
akibatnya pecahnya pembuluh darah palpebral. Trauma dapat disebabkan pukulan tinju atau
benda tumpul yang keras lainnya. Bentuk hematoma kelopak yang paling berbahaya ialah
hematoma kacamata atau yang biasa disebut Racoon Eye. Pada hematoma kacamata, arteri
ophtalmica rupture dan merupakan pertanda dari fraktur basis kranii. Pada hematoma ringan,
dapat diberikan kompres air dingin untuk menghentikan perdarahan dan menghilangkan rasa
sakit. Kompres hangat dapat diberikan pada hematoma yang belum kunjung diabsorbsi. 2

Gambar 5. Hematoma kacamata6

11

b.Konjungtiva
Edema konjungtiva
Edema konjungtiva disebut juga kemotik konjungtiva. Kemotik yang berat dapat
mengakibatkan palpebral tidak dapat menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap
konjungtiva. Pada keadaan kemotik ringan, dapat diberikan dekongestan untuk mencegah
pembendungan cairan didalam selaput lendir konjungtiva. 2

Gambar 6. Hematoma subkonjungtiva6


Hematoma subkonjungtiva terjadi akibatnya pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada
atau di bawah konjungtiva, seperti arteri konungtiva dan arteri episklera. Pecahnya pembuluh
darah ini dapat disebabkan oleh batuk rejan, trauma tumpul pada basis kranii, atau pada
keadaan pembuluh darah yang rentan dan mudah pecah. Pengobatan dini pada hematoma
subkonjungtiva adalah dengan kompres hangat. Perdarahan subkonjungtiva akan hilang dan
diabsorbsi dalam 1-2 minggu tanpa diobati.
c.Kornea
Adanya abrasi dan benda asing pada permukaan kornea akan memberikan sensasi nyeri dan
iritasi sewaktu mata dan palpebra digerakkan. Uji fluorescein akan membantu mewarnai
membrane basal yang defek dan dapat memperjelas kebocoran aquos pada trauma tembus.
Defek epitel kornea yang ringan diterapi dengan salep antibiotik dan balut tekan untuk
mengimobilisasi palpebral. Luka harus diperiksa setiap harinya untuk mencari tanda-tanda
infeksi sampai luka sembuh sempurna.

Pada pengeluaran benda asing, dapat diberikan

anestetik topikal dan jarum berukuran kecil sewaktu pemeriksaan dengan slit lamp. Bila
terdapat fragmen yang tertanam dalam di kornea, tindakan pengambilan harus dilakukan
dengan teknik bedah mikro dalam kamar operasi. Jangan pernah memberikan larutan
12

anestetik topikal pada pasienj untuk dipakai ulang setelah cedera kornea karena hal ini dapat
memperlambat penyembuhan, menutupi kerusakan lebih lanjut, dan dapat menyebabkan
pembentukan jaringan parut kornea yang permanen.5 Pemakaian steroid harus dihindari bila
masih ada defek epitel.
Edema kornea
Trauma tumpul yang keras atau cepat mengenai mata, dapat mengakibatkan edema kornea
bahkan sampai ruptur membrane descement. Edema kornea akan memberikan keluhan
penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi disekitar cahaya yang dilihat pasien. Pengobtan
yang diberikan adalah larutan hipertonik seperti NaCl 5% atau larutan garam hiperrtonik 28%, glukosa 40%, dan larutan albumin.
Erosi kornea
Erosi kornea merupakan keadaaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat diakibatkan oleh
gesekan keras pada epitel kornea. Pasien akan merasa sangat kesakitan akibat erosi merusak
kornea yang mempunyai serat sensible yang banyak, mata berair, dengan blefarospasme,
lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan akan terganggu akibat media kornea yang keruh.
d.Bilik mata depan
Hifema
Hifema atau darah dalam bilik mata depan, dapat terjadi akibat adanya trauma tumpul yang
merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Pasien akan mengeluh sakit disertai epifora
dan blefarospasme. Bila apsien duduk, hidema akan terlihat berkumpul dibagian bawah bilik
mata depan, dan hifema dapat memnuhi seluruh ruang bilik mata depan. Pasien akan dirawat
dengan posisi tidur dengan posisi kepala yang ditinggikan 30 derajat. Biasanyan hifema akan
hilang sempurna, bila tidak demikian, pasien harus dirujuk.

13

Gambar 7. Hifema.7
Respon vaskuler yang terkena adalah Arteri Ciliaris Anterior, perdarahan vena di Schlemm
kanal dan adanya hipotoni, seperti pada siklodialisis. Pada umumnya 70 % kasus penyerapan
terjadi dalam waktu 5-6 hari.
Bila perdarahan luas koagulasi dibilik mata depan akan luas dimana terjadi gumpalan fibrin
dan darah merah. Hal ini akan memperlambat penyerapan ditambah lagi hambatan mekanis
terhadap outflow humor aquos disudut iridocorneal.
Pada beberapa produk darah menempel pada bagian anterior pigmen membran dari iris
didaerah pupil dan sudut iridocorneal.Walaupun sepintas bilik mata depan jernih, tetapi iritis
cukup kuat untuk membentuk sinekia anterior dan posterior. Hifema sekunder pada umumnya
nampak antara hari ke 2 dan ke 5. biasanya diikuti dengan ancaman iritis.6
Pada hifema ringan dapat terjadi glaukoma sekunder dengan meningkatnya tekanan
intraokuler. Hal ini dari adanya edema di trabekuler meshwork, sehingga terjadi gangguan
outflow humor aquos. Tekanan intraokuli kadang baru terjadi beberapa hari setelah trauma,
ini adalah akibat adanya perdarahan sekunder. Frekuensi perdarahan sekunder tanpa kenaikan
tekanan intraokuler 30%. Frekuensi perdarahan sekunder dengan kenaikan tekanan
intraokuler 50%.
PERAWATAN KONSERVATIF/TANPA OPERASI

Tirah baring sempurna (bed rest total)

Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala diangkat (diberi alas
bantal) dengan elevasi kepala 30 - 45. Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada
pembuluh darah iris serta memudahkan kita mengevaluasi jumlah perdarahannya. Ada
banyak pendapat dari banyak ahli mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan
pertama yang harus dikerjakan bila menemui kasus traumatik hifema. Bahkan Darr dan
Rakusin menunjukkan bahwa dengan tirah baring sempurna absorbsi dari hifema
dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya komplikasi perdarahan sekunder.5
Istirahat total ini harus dipertahankan minimal 5 hari mengingat kemungkinan perdarahan
sekunder. Hal ini sering sukar dilakukan, terlebih-lebih pada anak-anak, sehingga kalau
perlu harus diikat tangan dan kakinya ke tempat tidur dan pengawasan dilakukan dengan
sabar.

14

Bebat mata

Mengenai pemakaian bebat mata, masih belum ada persesuaian pendapat di antara para
ahli. Edward- Layden lebih condong untuk menggunakan bebat mata pada mata yang
terkena trauma saja, untuk mengurangi pergerakan bola mata yang sakit. Selanjutnya
dikatakan bahwa pemakaian bebat pada kedua mata akan menyebabkan penderita gelisah,
cemas dan merasa tak enak, dengan akibat penderita (matanya) tidak istirahat Akhirnya
Rakusin mengatakan bahwa dalam pengamatannya tidak ditemukan adanya pengaruh
yang menonjol dari pemakaian bebat atau tidak terhadap absorbsi, timbuInya komplikasi
maupun prognosa bagi tajam penglihatannya:5

Pemakaian obat-obatan

Pemberian obat-obatan pada penderita dengan traumatik hifema tidaklah mutlak, tapi
cukup berguna untuk menghentikan perdarahan, mempercepat absorbsinya dan menekan
komplikasi yang timbul. Untuk maksud di atas digunakan obat-obatan seperti :
Koagulansia
Golongan obat koagulansia ini dapat diberikan secara oral maupun parenteral, berguna
untuk menekan/menghentikan perdarahan, Misalnya : Anaroxil, Adona AC, Coagulen,
Transamin, vit K dan vit C.
Pada hifema yang baru dan terisi darah segar diberi obat anti fibrinolitik (Dipasaran obat
ini dikenal sebagai transamine/ transamic acid) sehingga bekuan darah tidak terlalu cepat
diserap dan pembuluh darah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dahulu sampai
sembuh. Dengan demikian diharapkan terjadinya perdarahan sekunder dapat dihindarkan.
Pemberiannya 4 kali 250 mg dan hanya kira-kira 5 hari jangan melewati satu minggu oleh
karena dapat timbulkan gangguan transportasi cairan COA dan terjadinya glaukoma juga
imbibisio kornea. Selama pemberiannya jangan lupa pengukuran tekanan intra okular.
Midriatika Miotika
Masih banyak perdebatan mengenai penggunaan obat-obat golongan midriatika atau
miotika, karena masing-masing obat mempunyai keuntungan dan kerugian sendirisendiri: Miotika memang akan mempercepat absorbsi, tapi meningkatkan kongesti dan
midriatika akan mengistirahatkan perdarahan. Gombos menganjurkan pemberian
15

midriatika bila didapatkan komplikasi iridiocyclitis. Akhirnya Rakusin membuktikan


bahwa pemberian midriatika dan miotika bersama-sama dengan interval 30 menit
sebanyak dua kali sehari akan mengurangi perdarahan sekunder dibanding pemakaian
salah satu obat saja. Darr menentangnya dengan tanpa menggunakan kedua golongan obat
tersebut pada pengobatan hifema traumatik.
Ocular Hypotensive Drug
Semua para ahli menganjurkan pemberian acetazolamide (Diamox) secara oral sebanyak
3x sehari bilamana ditemukan adanya kenaikan tekanan intraokuler. Bahkan Gombos dan
Yasuna menganjurkan juga pemakaian intravena urea, manitol dan gliserin untuk
menurunkan tekanan intraokuler, walaupun ditegaskan bahwa cara ini tidak rutin.5
Pada hifema yang penuh dengan kenaikan tekanan intra okular, berilah diamox, glyserin,
nilai selama 24 jam :
Bila tekanan intra okular tetap tinggi atau turun, tetapi tetap diatas normal, lakukan
parasentesa yaitu pengeluaran darah melalui sayatan di korneaBila tekanan intra okular
turun sampai normal, diamox terus diberikan dan dievaluasi setiap hari. Bila tetap normal
tekanan intra okularnya dan darahnya masih ada sampai hari ke 5-9 lakukan juga
parasentesa.
Kortikosteroid dan Antibiotika
Pemberian hidrokortison 0,5% secara topikal akan mengurangi komplikasi iritis dan
perdarahan sekunder dibanding dengan antibiotika. Yasuna menganjurkan pemberian
prednison 40 mg/hari secara oral segera setelah terjadinya hifema traumatik guna
mengurangi perdarahan sekunder.
PERAWATAN OPERASI
Perawatan cara ini akan dikerjakan bilamana ditemukan glaukoma sekunder, tanda imbibisi
kornea atau hemosiderosis cornea dan tidak ada pengurangan dari tingginya hifema dengan
perawatan non-operasi selama 3 - 5 hari.5
Untuk mencegah atrofi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata
maksimal > 50 mmHg selama 5 hari atau tekanan bola mata maksimal > 35 mmHg selama 7
hari. Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata ratarata > 25 mmHg selama 6 hari atau bila ditemukan tanda-tanda imbibisi kornea. Untuk

16

mencegah sinekia anterior perifer dilakukan pembedahan bila hifema total bertahan selama 5
hari atau hifema difus bertahan selama 9 hari.
Intervensi bedah biasanya diindikasikan pada atau setelah 4 hari. Dari keseluruhan
indikasinya adalah sebagai berikut :
a. Empat hari setelah onset hifema total
b. Microscopic corneal bloodstaining (setiap waktu)
c. Hifema total dengan dengan Tekanan Intra Okular 50 mmHg atau lebih
selama 4 hari (untuk mencegah atrofi optic)
d. Hifema total atau hifema yang mengisi lebih dari COA selama 6 hari
dengan tekanan 25 mmHg (untuk mencegah corneal bloodstaining)
e. Hifema mengisi lebih dari COA yang menetap lebih dari 8-9 hari
(untuk mencegah peripheral anterior synechiae)
f. Pada pasien dengan sickle cell disease dengan hifema berapapun
ukurannya dengan Tekanan Intra Ocular lebih dari 35 mmHg lebih dari
24 jam.Jika Tekanan Inta Ocular menetap tinggi 50 mmHg atau lebih
selama 4 hari, pembedahan tidak boleh ditunda. Suatau studi mencatat
atrofi optic pada 50 persen pasien dengan total hifema ketika
pembedahan terlambat. Corneal bloodstaining terjadi pada 43% pasien.
Pasien dengan sickle cell hemoglobinopathi

diperlukan operasi jika

tekanan intra ocular tidak terkontrol dalam 24 jam.6


e.Uvea
Iridoplegia
Trauma tumpul pada uvea dapat mengakibatkan kelumpuhan otot sifingter pupi sehingga
pupil menjadi lebar atau midriasis. Pasien akan menjadi sukar untuk melihat jarak dekat
karena gangguan akomodasi, silau akibat gangguan pengaturan masuknya sinar pada pupil.
Pupil akan terlihat anisokor dan bentuk pupil menjadi ireguler. Iridoplegia akibat trauma akan
berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Pasien iridoplegia sebaiknya diberi
istirahat untuk mencegah kelelahan sifingter.2
Iridodialisis
Iridodialisis terjadi pada iris yang mengalami robekan pada pangkal iris. Pupi akan berubah
bentuk akibat robekan pada pangkal iris. Pasien akan mengeluh penglihatannya menjadi
ganda. Pasien iridodialisis sebaikanya dilakukan pembedahan degan melakukan reposisi
pangkal iris yang terlepas.
17

Gambar 8. Iridodialisis.2

F.Lensa
Subluksasi
Terjadi akibat putusnya sebagian zonula zinn sehingga lensa berpindah tempat. Subluksasi
lensa dapat juga terjadi spontan akibat pasien menderita kelainan pada zonula zinn yang
rapuh (sindrom Marphan). Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang.
Subluksasi lensa akan memberikan gambaran pada iris berupa iridodonesis. Akibat pegangan
lensa pada zonula tidak ada maka lensa yang elastic akan menjadi cembung, dan mata akan
menjadi lebih miopik. Lensa yang menjadi sangat cembung mendorong iris ke depan
sehingga sudut bilik mata tertutup. Bila sudut bilik mata menjadi sempit pada mata ini mudah
terjadi glaucoma sekunder.2
Luksasi
Bila seluruh zonula zinn ruptur, lensa akan terdorong ke arah bilik mata depan. Akibat lensa
terletak didalam bilik mata depan ini, maka akan terjadi gangguan pengeluaran cairan akuos
dan akan menimbulkan glaukoma sekunder. Pada luksasi lensa, sebaiknya pasien dirujuk ke
dokter mata secepatnya dengan terlebih dahulu menurunkan tekanan bola matanya.
i.

Luksasi Lensa Anterior. Bila seluruh zonula zinn di sekitar ekuator putus akibat
trauma maka lensa dapat masuk ke dalam bilik mata depan. Akibat lensa terletak
dalam bilik mata depan ini maka akan terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik
mata sehingga akan timbul glaucoma kongestif akut dengan gejala-gejalanya. Pasien
akan mengeluh penglihatan menurun mendadak, disertai rasa sakit yang sangat,
18

muntah, mata merah dengan blefarospasme. Terdapat injeksi siliar yang berat, edema
kornea, lensa di dalam bilik mata depan. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang
lebar. Tekanan bola mata sangat tinggi.
Luksasi Lensa Posterior. Pada trauma tumpul yang keras pada mata dapat terjadi

ii.

luksasi lensa posterior akibat putusnya zonula zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa
sehingga lensa jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah polus
posterior fundus okuli. Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang
pandangannya akibat lensa mengganggu kampus. Mata ini akan menunjukkan gejala
mata tanpa lensa atau afakia. Pasien akan melihat normal dengan lensa +12.0 dioptri
untuk jauh, bilik mata depan dalam dan iris tremulans. Lensa yang terlalu lama berada
dalam polus posterior dapat menimbulkan penyulit akibat degenerasi lensa, berupa
glaucoma fakolitik ataupun uveitis fakotoksik
g. Fundus oculi
Trauma tumpul yang mengenai mata dapat mengakibatkan kelainan pada retina, koroid, dan
saraf optik. Perubahan yang terjadi dapat berupa edema retina, perdarahan retina, ablasi
retina, maupun atrofi saraf optik.
i.

Edema Retina dan Koroid


Trauma tumpul pada retina dapat mengakibatkan edema retina, penglihatan akan sangat
menurun. Edema retina akan memberikan warna retina yang lebih abu-abu akibat
sukarnya melihat jaringan koroid melalui retina yang sembab. Berbeda dengan oklusi
arteri retina sentral dimana terdapat edema retina kecuali macula, sehingga pada keadaan
ini akan terlihat cherry red spot yang berwarna merah. Edema retina akibat trauma tumpul
juga mengakibatkan edema makula sehingga tidak terdapat cherry red spot.2
Pada trauma tumpul yang paling ditakutkan adalah terjadi edema macula atau edema
berlin. Pada keadaan ini akan terjadi edema yang luas sehingga seluruh polus posterior
fundus okuli berwarna abu-abu.
Umumnya penglihatan akan normal kembali setelah beberapa waktu, akan tetapi dapat
juga penglihatan berkurang akibat tertimbunnya daerah macula oleh sel pigmen epitel.

ii.

Ablasio Retina.
Trauma diduga merupakan pencetus untuk terlepasnya retina dari koroid pada penderita
ablasi retina. Biasanya pasien telah mempunnyai bakat untuk terjadinya ablasi retina ini
seperti retina tipis akibat retinitis semata, miopia, dan proses degenerasi lainnya.
19

Pada pasien akan terdapat keluhan seperti adanya selaput yang seperti tabir menganggu
lapangan pandangannya. Bila terkena atau tertutup daerah makula maka tajam
penglihatannya akan menurun.
Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang berwarna abu-abu dengan
pembuluh darah yang terlihat terangkat dan berkelok-kelok. Kadang-kadang terlihat
pembuluh darah seperti yang terputus-putus. Pada pasien dengan ablasi retina maka
secepatnya dirawat untuk dilakukan pembedahan oleh dokter mata.
iii.

Ruptur Koroid
Pada trauma keras dapat terjadi perdarahan subretina yang dapat merupakan akibat ruptur
koroid. Ruptur ini biasanya terletak di polus posterior bola mata dan melingkar konsentris
di sekitar papil saraf optik.
Bila ruptur koroid ini terletak atau mengenai daerah makula lutea maka tajam penglihatan
akan turun dengan sangat. Ruptur ini bila tertutup oleh perdarahan subretina agak sukar
dilihat akan tetapi bila darah tersebut telah diabsorpsi maka akan terlihat bagian ruptur
berwarna putih karena sklera dapat dilihat langsung tanpa tertutup koroid.

C. Trauma Tembus
Ruptur bola mata dapat terjadi akibat trauma tembus tajam atau gaya kontusif tumpul.
Trauma tumpul menyebabkan peningkatan tekanan dalam orbita dan intraokuler yang disertai
deformasi bola mata. Terjadi dekompresi cepat sewaktu dinding mata robek atau saat isi
orbita keluar. Limbus superonasal merupakan daerah yang sering mengalami ruptur orbita,
dikarenakan efek counter croup dari kuadran temporal bawah yang merupakan daerah
beresiko tinggi terjadinya trauma. Trauma tumpul memiliki prognosis yang lebih buruk
dikarenakan kemungkinan tingginya terjadi ablasio retina pada trauma tumpul.4
Penurunan visus yang mencolok biasanya terjadi pada trauma tembus. Hal ini sedikit berbeda
pada cedera dari partikel kecil yang berkecepatan tinggi (tindakan menggerinda & memalu),
hanya akan menimbulkan perasaan nyeri dan kekaburan penglihatan.
Gejala klinis yang dapat menyertai adalah kemosis hemoragik, laserasi konjungtiva, bilik
mata depan yang dangkal, dengan atau tanpa dilatasi pupil, hifema, atau perdarahan vitreus.
Bila trauma disebabkan benda tajam atau benda asing yang masuk ke dalam bola mata maka
akan terlihat:

20

Tajam penglihatan yang menurun


Tekanan bola mata yang rendah
Bilik mata depan yang dangkal
Bentuk dan letak pupil yang berubah
Terlihatnya ruptur kornea atau sklera
Konjugtiva kemotis

Bila terlihat salah satu tanda diatas, dapat dicurigai adanya perforasi bola mata dan
secepatnya diberikan antibiotik topikal dan mata ditutup diengan kasa. Selanjutnya pasien
harus dirujuk ke dokter spesialis mata untuk menjalani tindakan pembedahan. Pasien harus
diberikan antibiotika sistemik secara intravena dan dipuasakan untyuk persiapan operasi.
Komplikasi yang dapat timbul adalah endoftalmitis, panoftalmitis, ablasi retina, perdarahan
intraokuler, dan ftisis bulbi.

Gambar 9. Prolaps iris pada luka tembus.6

II. Trauma Non Mekanis


A. Trauma Kimia
Semua luka bakar akibat bahan kimia harus diterapi sebagai kedaduratan mata. Bahan kimia
yang dapat mengakibatkan kelainan pada mata dapat dibedakan dalam bentuk trauma asam
dan trauma basa. Pembilasan dengan air yang mengalir harus segera dilakukan sebelum
pasien dirujuk.3 Semua benda asing yang terlihat juga harus diirigasi. Di ruang gawat darurat,
lakukan anamnesis dan pemeriksaan singkat sebelum permukaan mata diirigasi. Cairan saline
isotonik steril diberikan segera untuk mengirigasi dengan selang intravena ukuran standar.
Untuk menetralisir trauma asam, dapat digunakan larutan natrium bikarbonat 3%, sedangkan
untuk menetralisir trauma basa, digunakan asam borat, asam asetat 0,5%, atau buffer asam
asetat 4,5% untuk menetralisir.5

21

Bila pasien mengalami blefarospasme, lakukan speculum palpebral dan infiltrasi anestetik
local. Analagesik, anestetik local, dan siklopegia hamper selalu diberikan pada kasus trauma
bahan kimia. Pemeriksaaan pH penting dilakukan dengan meletakkan secarik kertas indikator
di konjungtiva forniks. Irigasi diulang bila kadar pH tidak berada di kisaran 7,3 dan 7,7.
Setelah pembilasan berikan salep antibiotik dan dibalut tekan. 4
Trauma basa memiliki tingkat keparahan yang lebih berat bila dibandingkan dengan trauma
cairan asam. Pada trauma basa, cairan basa akan cepat menembus jaringan mata dan akan
terus menimbulkan kerusakan. Diperlukan bilasan jangka panjang dan pemantauan pH secara
berkala. Pada trauma asam, cairan asam akan membentuk suatu sawar presipitat jaringan
nekrotik yang cenderung membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut. Luka bakar alkalis
akan meningkatkan tekanan intraokular dengan cepat karena terjadi kontraksi sklera dan
kerusakan anyaman trabecular. Dalam 2-4 jam berikutnya, akan terjadi peningkatan tekanan
intraokuler sekunder akibat pelepasan prostaglandin yang berpotensi menyebabkan uveitis
berat. 2

Gambar 10 . Erosi kornea akibat trauma asama.7


Penatalaksanaan pada trauma kimia dengan memberikan steroid topikal dalam 2 minggu
pertama, siklopegikm dan antiglaukoma. Pemberian steroid topikal harus diperhatikan karena
obat ini juga akan menghambat reepitelisasi. Tetes matas vitamin C bermanfaat untuk luka
bakar alkalis derajat sedang, tapi kurang bermanfaat pada derajat berat. Komplikasi pada
luka bakar kimia adalah glaucoma sekunder, pembentukan jaringan parut kornea,
simblefaron, entropion dan keratitis sika.

Gambar 11. Gambran erosi kornea akibat trauma basa7

22

Bab III
Penutup
Trauma pada mata dapat terjadi dalam bentuk-bentuk antara lain trauma mekanik
(tumpul dan tajam), trauma kimia (asam dan basa), dan trauma fisik. Pemeriksaan awal pada
trauma mata antara lain meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Anamnesis harus mencakup perkiraan ketajaman penglihatan sebelum dan

segera

sesudah cedera. Harus dicatat apakah gangguan penglihatan bersifat progesif lambat atau
berawitan mendadak. Harus dicurigai adanya benda asing intraocular apabila terdapat riwayat
memalu, mengasah atau ledakan.
Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengukuran dan pencatatan ketajaman penglihatan.
Apabila gangguan penglihatannya parah, maka periksa proyeksi cahaya, diskriminasi duatitik dan adanya defek pupil aferen. Periksa motilitas mata dan sensasi kulit periorbita dan
lakukan palpasi untuk mencari defek pada bagian tepi tulang orbita. Pada pemeriksaan
bedside, adanya enoftalmus dapat ditentukan dengan melihat profil kornea dari atas alis.
Apabila tidak tersedia slit-lamp di ruang darurat, maka senter, kaca pembesar atau
oftalmoskop langsung pada + 10 ( nomor gelap ) dapat digunakan untuk memeriksa adanya
cedera dipermukaan tarsal kelopak mata dan segmen anterior.
Permukaan kornea diperiksa untuk mencari adanya benda asing, luka dan abrasi.
Dilakukan inspeksi konjungtiva bulbaris untuk mencari adanya perdarahan, benda asing atau
laserasi. Kedalaman dan kejernihan kamera anterior dicatat. Ukuran, bentuk dan reaksi
terhadap cahaya dari pupil harus dibandingkan dengan mata yang lain untuk memastikan
apakah terdapat defek pupil aferen di mata yang cedera. Apabila bola mata tidak rusak, maka
kelopak, konjungtiva palpebra dan forniks dapat diperiksa secara lebih teliti, termasuk
inspeksi setelah eversi kelopak mata atas. Oftalmoskop langsung dan tidak langsung
digunakan untuk mengamati lensa, korpus vitreosus, diskus optikus, dan retina. Dokumentasi
foto bermanfaat untuk tujuan-tujuan medikolegal pada semua kasus trauma eksternal. Pada
semua kasus trauma mata, mata yang tampak tidak cedera juga harus diperiksa dengan teliti.

23

DAFTAR PUSTAKA
1

Augsburger, Correa ZM. Ophthalmic Trauma. In: Riordan-Eva P, Cunningham ET


[editor]. Vaughan & Asburys general ophthalmology. 18th ed. New York: The

McGraw-Hill Companies, 2011: 588-94.


Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. Ed. 4. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2013: 276-7.

Kuhn F, Morris R, Witherspoon CD. BETT: The Terminology of Ocular Trauma. In :


Kuhn F, Pieramici DJ (eds). Ocular Trauma. New York: Thieme Medical
Publisher,Inc; 2002

Rao NK, Goldstein MH. Trauma Ocular. In: Yanoff M, Duker JS. Ophthalmology. 4 th

Ed. Philadelphia: Elsevier Saunders, 2014: 296-8.


Kuckelkorn R, Schrage N, Keller G, Redbrake C. Emergency treatment of chemical

and thermal eye burns. Acta Ophthalmol Scand. 2002;4-10.


Dal A. Mechanisms of Corneal Wound Healing and Its Modulation. 2009;22(2):169

78.
James, Bruce, et al. 2006 . Lecture Notes Oftalmologi, 9th eds. Surabaya : Airlangga.

24