0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
228 tayangan4 halaman

FR Pelvis

Prosedur standar operasi penanganan fraktur pelvis di IGD meliputi evaluasi klinis pasien, penanganan status hemodinamik, pemeriksaan radiologi, dan edukasi pasien mengenai kondisi dan tindakan yang akan dilakukan serta komplikasinya. Tujuannya untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta memfasilitasi proses rujukan antar unit pelayanan kesehatan.

Diunggah oleh

Rizka Amalia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
228 tayangan4 halaman

FR Pelvis

Prosedur standar operasi penanganan fraktur pelvis di IGD meliputi evaluasi klinis pasien, penanganan status hemodinamik, pemeriksaan radiologi, dan edukasi pasien mengenai kondisi dan tindakan yang akan dilakukan serta komplikasinya. Tujuannya untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta memfasilitasi proses rujukan antar unit pelayanan kesehatan.

Diunggah oleh

Rizka Amalia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENANGANAN FRAKTUR PELVIS DI IGD

No. Dokumen
...................
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SMF ) BEDAH
TULANG

Pengertian

No. Revisi
..................

Halaman
1/5
Ditetapkan
Direktur,

Tanggal terbit
.....................

Dr. AGUNG BASUKI, M.Kes


NIP. 19600504 198902 1 002
1. Prosedur yang mengatur tentang penatalaksanaan fraktur pelvis
di IGD.
2. Fraktur pelvis terjadi akibat trauma tumpul dan berhubungan
cidera berkekuatan tinggi..
3. Kira-kira 1530% pasien dengan cedera pelvis berkekuatantinggi tidak stabil secara hemodinamik,.
4. Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pada pasien
dengan fraktur pelvis, dengan keseluruhan angka kematian
antara 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi rangkaian
besar.
5. Klasifikasi fraktur pelvis terbagi menjadi dua versi, yaitu
berdasarkan Tile Classification dan Young and Burgess
Classification.
6. Tile Classification terdiri atas:
- Tipe A (Pelvic Ring Stable)
A1: fractures not involving the ring (i.e., avulsions, iliac
wing, or crest fractures)
A2: stable minimally displaced fractures of the pelvic
ring
- Tipe B (Pelvic Rotationally Unstable, Vertically Stable)
B1: open book
B2: lateral compression, ipsilateral
B3: lateral compression, contralateral, or bucket handletype injury
- Tipe C (Pelvic Ring Rotationally and Vertically
Unstable
PENANGANAN FRAKTUR PELVID DI IGD
No. Dokumen
...................

No. Revisi
...................

C1: unilateral
C2: bilateral
C3: associated with acetabular fracture
7. Young and Burgess Classification terdiri atas:

Halaman
2/5

Tujuan

Kebijakan

LC: anterior injury =rami fractures


LC I: sacral fracture on side of impact
LC II: crescent fracture on side of impact
LC III: type I or II injury on side of impact with
contralateral open book injury
Anterior-Posterior Compression (APC): anterior injury
= symphysis diastasis/rami fractures
APC I: minor opening of symphysis and SI joint
anteriorly
APC II: opening of anterior SI, intact posterior SI
ligaments
APC III: complete disruption of SI joint
Vertical shear (VS) type
Vertical displacement of hemipelvis with symphysis
diastasis or rami fractures anteriorly, iliac wing, sacral
facture, or sacroiliac dislocation posteriorly
Combined Mechanism (CM) type
Any combination of above injuries

1. Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas.


2. Pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan prosedur
yang berlaku di RSUD Bangil.
3. Memperlancar proses pelayanan antara Instalasi Gawat Darurat
dengan Unit Rawat Inap RSUD Bangil.
A. Standar Pelayanan Minimal RSUD Bangil.
PENANGANAN FRAKTUR PELVIS DI IGD
No. Dokumen
...................

No. Revisi
...................

Halaman
3/5

B. Wewenang untuk melakukan prosedur adalah :


1. Dokter spesialis Bedah Tulang.
2. PPDS Bedah Tulang.
3. Dokter IGD.
4. Dokter Umum yang bekerja di bagian Bedah Tulang.
Prosedur

Evaluasi Klinis:
Lakukan primary assessment pada pasien yang meliputi A(airway),
B(breathing), C(circulation), D(disability), dan E(exposure).
1. Identifikasi semua cedera pada extremitas dan pelvis serta
lakukan assessment dengan hati-hati pada distal neurovascular.
2. Ketidakstabilan pada pelvis bias menyebabkan perubahan pada
ukuran panjang kaki yang meliputi shortening pada sis yang
cidera atau bisa juga terdapat internal atau external rotasi pada
extremitas bawah.
3. Lakukan test AP-LC untuk mengetahui kestabilan pelvis

(dilakukan hanya boleh 1 kali)


4. Adanya memar yang masif pada sisi flank atau pantat disertai
pembengkakan merupakan indikasi adanya perdarahan yang
signifikan.
5. Pada palpasi pada posterior pelvis dapat mengetahui adanya
hematoma yang besar, defek yang menunjukkan fraktur, atau
dislokasi dari sendi sacroiliaca. Palpasi pada simfisis juga bisa
menunjukan hal yang sama.
6. Perineum harus diinspeksi dengan hati-hati untuk mengetahui
adanya lesi yang menandakan fraktur terbuka.
7. Pemeriksaan digital rectal dan vaginal (pada wanita) wajib
dilakukan pada pasien dengan curiga trauma pada pelvis.
Penanganan Status Hemodinamik
1. Penanganan status hemodinamik pasien fraktur pelvis
tergantung dari jenis status hemodinak dan kestabilan fraktur
pelvis.

PENANGANAN FRAKTUR PELVIS DI IGD


No. Dokumen
...................

No. Revisi
...................

Halaman
4/5

2. Pada pasien dengan status hemodinamik yang tidak


stabil(kondisi pelvis stabil/tidak stabil), perlu pemasangan iv.
line dengan menggunakan jarum ukuran besar (18-16) dan set
transfusi.
3. Tentukan keadaan status hemodinamik pasien dan berikan
penangan sesuai dengan derajat syok hipovolemik.
4. Pada kasus fraktur pelvis, sering terjadi syok hipovolemik
grade III (EBL 1500-2000 ml) dan grade IV (EBL>2000 ml).
5. Untuk terapi cairan, bias diberikan cairan kristaloid dengan
rumus 3:1 (3 ml kristaloid untuk setiap 1 ml darah).
6. Cek tekanan darah dan nadi setiap pemberian 1 liter cairan.
7. Pada syok hipovolemik grade III/IV, cairan yang diberikan
dapat sejumlah 1000 ml kristaloid, 1000 ml koloid, dan 2 unit
darah. Atau bisa juga langsung diberikan 3000 ml kristaloid
dan 2 unit darah.
8. Pemasangan military antishock trouser (MAST)
9. Wrapping pelvic binder secara melingkar di sekitar pelvic
setinggi trochanter atau pemasangan C-Clamp.
10. Selain itu bisa dipertimbangkan untuk melakukan laparotomi
eksplorasi(tergantung indikasi)
11. Pada pasien yang dengan pelvis yang tidak stabil, rencanakan
untuk pemasangan external fixator.
Neurologic Injury
Cedera plexus lumbosacral dan nerve root bisa terjadi, tetapi
biasanya tidak terlihat pada pasien yang tidak sadar.
Cidera pada UT dan GIT

1. Bladder Injury (terjadi sekitar 20% dari trauma pelvis)


- Extraperitoneal
Diterapi dengan kateter foley suprapubic
pemasangan tube.
- Intraperitoneal

atau

PENANGANAN FRAKTUR PELVIS DI IGD


No. Dokumen
...................

No. Revisi
...................

Halaman
5/5

Memerpelukan operasi
2. Uretheral Injury (terjadi sekitar 10% dari fraktur pelvis)
- Cek apakah terdapat darah meatus uretra
- Cek apakah terdapat floating prostate pada saat RT
- Apabila ada kecurigaan klinis, maka harus dilakukan
retrograde urethrogram.
3. Bowel Injury
- Perforasi rectum atau anus yang disebabkan osseous
fragment termasuk dalam kategori fraktur terbuka.
- Entrapment of bowel di lokasi fraktur dengan gejala
obstruksi GIT bisa terjadi sehingga perlu colostomy.
Radiographic Evaluation
Pemeriksaan standar untuk pasien dengan trauma pelvis meliputi
Thoraks AP, lateral cervical spine, dan Pelvis AP. Pemeriksaan FAST,
CT-Scan, dan MRI dapat dilakukan tergantung indikasi.
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah biasanya yang dilakukan adalah pemeriksaan darah
rutin dan pemeriksaan darah untuk persiapan operasi.
1. Menjelaskan kepada pasien/keluarga pasien tentang kondisi
pasien dan tindakan yang akan dilakukan
Edukasi

2. Menjelaskan komplikasi (infeksi, malunion,


tromboemboli, syok) pada pasien/keluarga pasien.

nonunion,

Unit terkait

Instalasi Gawat Darurat, SMF Bedah Tulang, Instalasi Kamar


Operasi, Unit Rawat Inap.

Kepustakaan

M. Court-Brown, D. HeckMan, et al. 2015. Rockwood and Greens


Fractures in Adult 8th edition. Philadelpia: Wolters Kluwers.

Anda mungkin juga menyukai