Anda di halaman 1dari 13

A.

Rumusan Masalah
Berdasarkan judul diatas, rumusan masalah yang diangkat dari
praktikum ini antara lain:
1. Bagaimana pengaruh AIA terhadap proses absisi daun Coleus sp?
B. Tujuan
Tujuan yang dapat diperoleh dari praktikum ini antara lain:
1. Untuk mengetahui pengaruh AIA terhadap proses absisi daun Coleus sp.
C. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka hipotesis dalam praktikum
ini adalah:
Ha = Ada pengaruh AIA terhadap proses absisi daun Coleus sp.
Ho = Tidak ada pengaruh AIA terhadap proses absisi daun Coleus sp.
D. Kajian Pustaka
1. Absisi Daun
Secara etimologis, absisi berasal dari ab yang artinya jauh dan
scindere yang artinya memotong. Proses absisi ini mengacu pada gugurnya
satu atau lebih bagian organ tanaman, seperti daun, buah, bunga, atau biji.
Tumbuhan akan mengalami absisi pada organ yang tidak lagi dibutuhkan untuk
membantunya

bertahan

hidup secara

efektif

sekaligus

meningkatkan

produktivitas (Salisbury, 1992), misalnya absisi daun saat musim gugur, absisi
bunga untuk kepentingan polinasi ataupun absisi buah untuk pemencaran biji.
Tumbuhan evergreen, seperti Gymnospermae umumnya menggugurkan
daunnya secara teratur sedangkan tumbuhan semusim menggugurkan daunnya
sebelum musim dingin. Mekanisme struktural terjadinya absisi adalah sebagai
berikut :
a. Kekurangan Klorofil
Reduksi jumlah klorofil pada daun akibat paparan sinar matahari
menyebabkan daun menguning. Berkurangnya jumlah pigmen hijau daun
turut memegang peran dalam proses absisi
b. Mekanisme Kimiawi
Tumbuhan menghasilkan beberapa oksigen reaktif, misalnya hydrogen
peroksida (H2O2), akibat tekanan biotik dan abiotik, termasuk sinar UV,
temperatur rendah, pathogen, parasit, ataupun salinitas yang tinggi. Produksi

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

hidroksil radikal ini akan menyebabkan gangguan homeostasis pada


metabolism seluler dan perusakan dinding sel (Sakamoto, 2008).
c. Pengaruh Hormon
Auksin sebagai hormon tumbuh (disebut juga AIA atau asam indol
asetat) dan etilen berpengaruh terhadap regulasi sinyal absisi. Dua senyawa
ini bekerja dalam mekanisme yang sinergis. Saat AIA menurun, fluks AIA
yang menuju zona absisi berkurang. Berkurangnya suplai AIA ini
menyebabkan zona absisi menjadi sensitif terhadap etilen.
Saat

tumbuhan

terkonsentrasi

pada

hormon

etilen,

gen

mengekspresikan enzim selulose dan poligalakturonase yang berfungsi


mendegradasi dinding sel. Enzim yang mengaktifkan etilen ini ditemukan
berada dalam area promoter (Sakamoto, 2008). Hormon asam absisat yang
diyakini menstimulasi absisi terbukti tidak memegang peranan dominan
dalam proses ini.

Gambar 1. Daerah Absisi


2. Hormon Auksin
Hormon nabati yang paling dulu dikenal dan paling banyak diteliti
termasuk ke dalam kelompok auksin. Auksin adalah merupakan salah satu dari
zat pengatur tumbuh yang didefinisikan sebagai senyawa yang dicirikan oleh
kemampuannya

dalam

mendukung

terjadinya

perpanjangan

sel

(cell

elongation) pada pucuk dengan struktur kimia dicirikan oleh adanya indole ring
(Abidin, 1983).

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

Auksin adalah salah satu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari
proses pertumbuhan dan perkembangan (growth and development) suatu
tanaman. Kata Auksin berasal dari bahasa Yunani auxein yang berarti
meningkatkan. Sebutan ini digunakan oleh Frits Went (1962) untuk senyawa
yang belum dapat dicirikan tetapi diduga sebagai penyebab terjadinya
pembengkokan koleoptil kearah cahaya (Yox, 2008).
Auksin bukan hanya terbentuk pada pucuk yang sedang tumbuh tetapi
juga pada daerah lain termasuk beberapa yang terlibat pada tahap reproduksi,
misalnya serbuk sari, buah, dan biji. Salah satu gejala yang terkenal yang
diperantarai, setidak-tidaknya sebagianoleh auksin ialah dormansi ujung. Akar
lateral seperti halnya kuncup lateral juga dipengaruhi oleh auksin dan
pemakaian zat-zat ini dari luar sangat mendorong pembentukan akar lateral.
Penggunaan praktis yang sangat penting gejala ini adalah dalam menggalakkan
pembentukan akar pada perbanyakan tanaman dengan setek. Salah satu hasil
utama penyerbukan bunga adalah peningkatan kandungan auksin dalam bakal
buah. Pemberian auksin sintetik telah lama dikenal untuk mendorong proses
yang sama tanpa penyerbukan dan menghasilkan buah tanpa biji (Loveless,
1991).
Pengaruh auksin terhadap berbagai aspek perkembangan tumbuhan
(Heddy, 1989), yaitu:
a. Pemanjangan Sel
IAA atau auksin lain merangsang pemanjangan sel, dan juga akan berakibat
pada pemanjangan koleoptil dan batang. Distribusi IAA yang tidak merata
dalam batang dan akar menimbulkan pembesaran sel yang tidak sama
disertai dengan pembengkokan organ. Sel-sel meristem dalam kultur kalus
dan kultur organ juga tumbuh berkat pengaruh IAA. Auksin pada umumnya
menghambat pemanjangan sel-sel jaringan akar.
b. Tunas ketiak
IAA yang dibentuk pada meristem apikal dan ditranspor ke bawah
menghambat perkembangan tunas ketiak (lateral). Jika meristem apikal
dipotong, tunas lateral akan berkembang.
c. Absisi daun
Daun akan terpisah dari batang jika sel-sel pada daerah absisi mengalami
perubahan kimia dan fisik. Proses absisi dikontrol oleh konsentrasi IAA
dalam sel-sel sekitar atau pada daerah absisi.

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

d. Aktivitas Kambium
Auksin merangsang pembelahan sel dalam daerah kambium.
e. Tumbuh akar
Dalam akar, pengaruh IAA biasanya mengahambat pemanjangan sel,
kecuali pada konsentrasi yang sangat rendah.
Di dalam jaringan yang tumbuh aktif terdapat dua macam auksin,
yaitu auksin bebas yang dapat berdifusi, dan auksin terikat yang tak dapat
berdifusi. Dengan pelarut seperti eter dapat dipisahkan kedua macam auksin
tersebut. Auksin yang terikat merupakan pusat dari kegiatan hormon di dalam
sel, sedangkan auksin bebas adalah kelebihan di dalam keseimbangannya.
Maka auksin yang terikat adalah zat yang aktif di dalam proses pertumbuhan
(Kusumo, 1984).
Hasil penelitian terhadap metabolisme auksin menunjukkan bahwa
konsentrasi auksin di dalam tanaman berpengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi IAA (Abidin,
1983) adalah :
a. Sintesis auksin.
b. Pemecahan auksin.
c. Inaktifnya IAA sebagai akibat proses pemecahan molekul.
Mengenai hubungan antara absisi dengan zat tumbuh auksin, Addicot
et all (1955) mengemukakan bahwa absisi akan terjadi apabila jumlah auksin
yangada di daerah proksimal sama atau lebih dari jumlah auksin yang terdapat
didaerah distal. Tetapi apabila junlah auksin berada di daerah distal lebih besar
dari daerah proksimal maka tidak akan terjadi absisi. Dengan kata lain proses
absisi ini akan terlambat. Teori lain (Biggs dan Leopld 1957, 1958)
menerangkan bahwa pengaruh auksin terhadap absisi ditentukan oleh
konsentrasi auksin itu sendiri. Konsentrasi auksin yang tinggi akan
menghambat terjadinya absisi, sedangkan auksin dengan konsentrasi rendah
akan mempercepat terjadinya absisi. Teori terakhir ditentukan oleh Robinstein
dan Leopold (1964) yang menerangkan bahwa respon absisi pada daun
terhadap auksin dapat dibagi ke dalam dua fase jika perlakuan auksin diberikan
setelah auksin terlepas. Fase pertama, auksin akan menghambat absisi dan fase
kedua auksin dengan konsentrasi yang sama akan mendukung terjadinya absisi
(Lakitan 2001).
E. Variabel Penelitian
Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

Variabel kontrol:
1. Jenis tanaman (Tanaman Coleus sp)
2. Pot dan media tanam berupa tanah dan pasir
3. Kondisi tanaman (tinggi dan perkiraan umur)
4. Letak lamina
5. Konsentrasi AIA (1 ppm)
Variabel manipulasi:
1. Jenis perlakuan yang diberikan (pemberian lanolin dan pemberian lanolin
+ AIA)
2. Tempat pengolesan hormon
Variabel respon:
1. Kecepatan absisi daun
F. Definisi Operasional Variabel
Variabel manipulasi pada percobaan ini adalah jenis perlakuan yang
diberikan. Sebelumnya menyiapkan 2 pot tanaman Coleus sp. Pada pot 1 dipotong
satu pasang lamina yang terletak paling bawah, sedangkan pada pot 2 dipotong
satu pasang lamina yang terletak tepat diatas lamina yang paling bawah.
Kemudian dioleskan bekas potongan tersebut, yang satu dengan lanolin, sedang
yang lain dengan 1 ppm AIA dalam lanolin.
Variabel respon pada praktikum ini adalah kecepatan absisi daun.
Dimana pot 1 dan pot 2 setelah diberikan perlakuan, didiamkan selama 7 hari.
Selanjutnya diamati tiap hari dan dicatat waktu gugurnya daun.
G. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum, antara lain:
Alat :
1. Pisau atau silet
2. Label
Bahan :
1. 2 pot tanaman Coleus sp. yang memiliki kondisi yang sama.
2. Lanolin
3. AIA 1 ppm dalam Lanolin (4 ml AIA 1 ppm dicampur dengan 10 gram
lanolin)
H. Rancangan Percobaan

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

Disiapkan dua buah tanaman Coleus sp.

Dipotong satu pasang lamina yang terletak


paling bawah dan lamina yang terletak tepat di
atas lamina paling bawah
Disiapkan dua buah tanaman Coleus sp.

Dioleskan bekas potongan tersebut, yang satu


dengan lanolin, sedang yang lain dengan 1
ppm AIA dalam lanolin
I. Langkah Kerja
Langka kerja yang dilakukan ialah sebagai berikut:
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Diambil 2 buah pot tanaman Coleus sp. kemudian memotong satu pasang
lamina yang terletak paling bawah dan memotong satu pasang lamina yang
terletak tepat di atas lamina paling bawah.

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

3. Diolesi satu tangkai bekas potongan lamina dengan lanolin dan tangkainya
dengan 1 ppm AIA dalam lanolin.
4. Diberi tanda pada tangkai-tangkai tersebut agar tidak tertukar.
5. Diamati waktu gugurnya tangkai daun.
6. Dicatat perbedaan waktu gugurnya daun pada dua pot tersebut.
J. Rancangan Tabel Pengamatan
Berdasarkan praktikum pengaruh AIA terhadap proses absisi daun
Coleus sp yang telah dilakukan, maka didapatkan hasil berupa tabel sebagai
berikut
Tabel 1. Pengaruh Hormon terhadap Pemanjangan Jaringan
Absisi hari ke No

Letak Daun

Pot 1
1.

Lamina
terbawah
Pot 2

2.

Lamina nomor
2 dari bawah

Perlakuan
1

AIA +
Lanolin

Lanolin

AIA +
Lanolin

Lanolin

Pada praktikum ini, juga didapatkan hasil berupa grafik yang


menunjukkan adanya hubungan pengaruh AIA terhadap proses absisi daun Coleus
sp sebagai berikut

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

Gambar 5. Histogram pengaruh AIA terhadap proses absisi daun Coleus sp


K. Rencana Analisis Data
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum pengaruh AIA terhadap
proses absisi daun Coleus sp, didapatkan hasil pada Tabel 1 bahwa pada kedua pot
yang diberi dua perlakuan berbeda yaitu pemberian lanolin dan pemberian AIA
dalam lanolin mengalami perbedaan waktu absisi daun. Indikasi proses absisi
daun ini ditandai dengan gugurnya tangkai daun yang laminanya telah dipatahkan
sehingga ujungnya dapat diolesi dengan larutan sesuai perlakuan, terhitung sejak
waktu dimana tangkai tersebut diberi dua perlakuan yang berbeda.
Pada pot pertama, Lamina paling bawah yang diolesi lanolin gugur pada
hari pertama setelah pengolesan, sedangkan yang diolesi dengan AIA dalam
lanolin gugur pada hari kedua setelah pengolesan. Pada pot kedua, tangkai no. 2
dari bawah, lamina yang di olesi lanolin gugur pada hari kedua setelah
pengolesan, sedangkan lamina yang diolesi dengan AIA dalam lanolin gugur pada
hari ketiga setelah pengolesan.
Menurut perbandingan waktu absisi daun tersebut, kedua pot
menunjukkan bahwa tangkai yang diolesi campuran AIA dalam lanolin gugur
dalam waktu yang lebih lambat daripada tangkai yang hanya diolesi lanolin.
Perbandingan antara lamina paling bawah dan lamina no 2 dari bawah
menunjukkan bahwa lamina paling bawah pada pot 1 yaitu pada daun yang usia
nya lebih tua mengalami pengguguran daun yang lebih cepat daripada lamina

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

nomor dua dari bawah pada pot 2, hal ini menunjukkan semakin tua daun maka
semakin cepat proses absisi daun.
L. Hasil Analisis Data
Berdasarkan analisis data dan grafik, dapat diketahui bahwa pada kedua
pot yang diberi dua perlakuan berbeda yaitu pemberian lanolin dan pemberian
AIA dalam lanolin mengalami perbedaan waktu absisi daun. Indikasi proses absisi
daun ini ditandai dengan gugurnya tangkai daun yang laminanya telah dipatahkan
sehingga ujungnya dapat diolesi dengan larutan sesuai perlakuan, terhitung sejak
waktu dimana tangkai tersebut diberi dua perlakuan yang berbeda.
Absisi adalah suatu proses secara alami terjadinya pemisahan
bagian/organ tanaman dari tanaman, seperti ; daun, bunga, buah atau batang.
Dalam proses absisi ini faktor alami seperti ; dingin, panas, kekeringan, akan
berpengaruh terhadap absisi. Dalam hubungannya dengan hormon tumbuh,
mungkin hormon ini akan mendukung atau menghambat proses tersebut. Di
dalam proses absisi (gugur), akan terjadi perubahan-perubahan metabolisme
dalam dinding sel dan perubahan secara kimia dari pektin dalam midle lamella.
Disini sel-sel baru akan berdiferensiasi ke dalam periderm dan membentuk suatu
lapisan pelindung (Weaver, 1972). Mengenai hubungan antara absisi dengan zat
tumbuh auksin, Addicot et al (1955) mengemukakan : Absisi akan terjadi apabila
jumlah auksin yang ada di daerah proksimal (proximal region) sama atau lebih
dari jumlah auksin yang terdapat di daerah distal (distal region). Tetapi apabila
jumlah auksin yang berada di daerah distal lebih besar dari daerah proximal, maka
tidak akan terjadi absisi. Dengan kata lain proses absisi ini akan terlambat.
Pemotongan Lamina Coleus sp. bertujuan untuk menghentikan produksi
auksin alami, yaitu AIA yang dihasilkan oleh pelepasan gugus amino dan gugus
karboksil akhir dari rantai triphtofan. Enzim yang paling aktif diperlukan untuk
mengubah tripthofan menjadi AIA terdapat di jaringan muda seperti meristem
pucuk, daun, serta buah yang sedang tumbuh. Dengan memotong lamina,
diasumsikan bahwa produksi auksin endogen terhenti, sehingga auksin eksogen
yang diberikan dalam campuran lanolin pada perlakuan ke-dua dapat berpengaruh
secara signifikan dan reliabel terhadap kecepatan absisi daun Coleus sp.

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

Penggunaan lanolin dalam eksperimen ini berguna untuk menutup luka


akibat pemotongan lamina daun sehingga jaringan yang terbuka tidak diinfeksi
oleh bakteri. Lanolin merupakan substansi lilin berwarna kuning yang
disekresikan oleh kelenjar sebaseous dari hewan berbulu wool, misalnya domba
domestik. Pemberian lanolin juga diyakini tetap memungkinkan jaringan untuk
melakukan difusi atau pertukaran udara (Barnett, 1986). Efek perlindungan dan
penutupan luka oleh lanolin dapat bertahan dalam lima hari berturut-turut dalam
area olesan 4 mg/cm-2 (Hoppe, 1999) yang mana jangka waktu perlindungan ini
sangat memadai untuk proses absisi daun Coleus sp. yang membutuhkan waktu 4
hari untuk semua perlakuan yang diberikan.
Hormon yang berperan untuk mencegah pengguguran daun adalah
hormon auksin. Hormon auksin merupakan hormon yang dapat merangsang
pertumbuhan. Terutama pada sel target dalam pembelahan dan pemanjangan sel.
Secara kimia, auksin disebut indole acetic acic (IAA). Cara kerja auksin untuk
memanjangkan sel ini dengan cara melunakkan dinding selnya, kemudian diikuti
dengan peningkatan tekanan turgor sel sehingga dinding selnya dapat memanjang.
Auksin berfungsi dalam proses pembesaran sel (perpanjangan koleoptil atau
batang), menghambat mata tunas samping, berperan dalam pengguguran daun,
aktivitas daripada kambium, dan berperan dalam pertumbuhan akar (Fetter, 1998).
Hormon auksin diproduksi secara endogen pada bagian pucuk tanaman.
Dominasi apikal biasanya ditandai dengan pertumbuhan vegetative tanaman
seperti, pertumbuhan akar, batang dan daun. Dominasi apical dapat dikurangi
dengan mendorong bagian pucuk tumbuhan sehingga produksi auksin yang
disintesis pada pucuk akan terhambat bahkan terhenti. Hal ini akan mendorong
pertumbuhan tunas lateral (ketiak daun) (Hopkins, 1995).
Mekanisme pengguguran tangkai daun pada perlakuan pertama lebih
dipengaruhi oleh etilen daripada ABA. Efek etilen dalam absisi daun lebih
dramatis dibandingkan ABA (Salisbury, 1992: 348). Saat proses absisi
berlangsung, maka titik tempat terlepasnya daun merupakan suatu lapisan absisi
yang berlokasi dekat dengan pangkal tangkai daun. Sel parenkhim berukuran kecil
dari lapisan ini mempunyai dinding sel yang sangat tipis, dan tidak mengandung
sel serat di sekeliling jaringan pembuluhnya. Lapisan absisi selanjutnya melemah,
ketika enzimnya menghidrolisis polisakarida di dalam dinding sel. Akhirnya
Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

10

dengan bantuan angin, terjadi suatu pemisahan di dalam lapisan absisi. Sebelum
daun itu jatuh, selapisan gabus membentuk suatu berkas pelindung di samping
lapisan absisi dalam ranting tersebut untuk mencegah patogen yang akan
menyerbu bagian tumbuhan yang ditinggalkannya.
Pada tanaman yang batang bagian bawah lebih cepat mengalami absisi
daun disebabkan pada bagian batang atas dikarenakan dominasi tempat
terbentuknya hormon auksin adalah pada bagian apikal. Pada saat daun masih
muda masih banyak auksi yang terdapat dalam daun tersebut karena masih dalam
fase pertumbuhan. Adanya kadar auksin yang cukup tinggi ini mempengaruhi
kadar etilen yang ada pada daun. Etilen akan terhambat perkembangannya karena
kadar auksin yang tinggi tersebut. Namun, ketika daun sudah menua berangsurangsur jumlah auksin akan terus menurun akibatnya sel-sel pada lapisan absisi
lebih sensitive terhadap etilen. Jika hal itu sampai terjadi maka etilen akan
mempengaruhi pembentukan suatu enzim pektitase dan selulase. Kedua enzim
tersebut akan melarutkan lamela tengah dan dinding pada sel-sel absisi. Akibatnya
sel-sel absisi akan lemah dan tidak mampu lagi menopang daun hingga akhirnya
daun akan gugur.
Pada percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa pada daun
yang usia nya lebih tua mengalami pengguguran daun yang lebih cepat daripada
lamina nomor dua dari bawah pada pot 2. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
tinggi letak bagian tanaman konsentrasi hormon auksin akan semakin banyak.
Dengan semakin tingginya konsentrasi auksin makan akan semakin menghambat
terjadinya absisi daun yang dilakukan oleh hormon etilen. Bagian batang yang
diolesi dengan AIA dalam lanolin paling lambat gugur karena pada bagian batang
yang notabene sudah memiliki kadungan auksin lebih banyak dari bagian bawah
masih mendapat tambahan AIA dari luar, sehingga batang tersebut meiliki
konsentrasi auksin paling banyak dari batang lain. Hal tersebut menyebabkan
semakin lambat pula terjadinya absisi daun.
M. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik
kesimpulan, bahwa:
Ada pengaruh AIA terhadap proses absisi daun Coleus sp. Hormon
auksin berpengaruh terhadap terjadinya absisi daun, dimana lamina yang diolesi
Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

11

hormone auksin (AIA) dalam lanolin mengalami absisi daun lebih lama
dibandingkan dengan lamina yang hanya diolesi lanolin. Umur pada daun juga
mempengaruhi terjadinya absisi daun yakni semakin tua daun maka semakin cepat
proses absisi daun.
N. Daftar Pustaka
Abidin, Ir. Zainal. 1983. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur
Tumbuh. Bandung: Angkasa.
Barnett, G., Lanolin and Derivatives, Cosmetics & Toiletries, 1986, 101, 21-44.
Fetter, 1998, Fisiologi Tumbuhan Dasar, PT Yudhistira, Jakarta.
Heddy, Suwasono. 1989. Hormon Tumbuhan. Jakarta: CV Rajawali.
Hopkins, W. G. 1995. Introduction to Plant Physiology. New York, Toronto,
Singapore: John Wiley & Sons, Inc. pp. 285-321.
Hoppe, Udo. 1999. The Lanolin Book. Published by Beiersdorf AG, Hamburg.
Kusumo, Surachmat. 1984. Pengatur Tumbuh Tanaman. Bogor: CV Yasaguna.
Lakitan, Benyamin. 2001. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Loveless, A. R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik.
Jakarta: Erlangga.
Salisbury, F. B. & Ross, C. W. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing co,
California.
Sakamoto, M., I. Munemura, R. Tomita, & K. Kobayashi. 2008. Reactive oxygen
species in leaf abscission signaling. Plant Signal Behavior, 3(11), 10141015.
Yox, 2008. Agronomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

O. Lampiran

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

12

Tanaman Coleus sp

Lanolin (kiri) dan AIA dalam lanolin


(kanan)

Fisiologi Tumbuhan Absisi Daun

Pemotongan lamina daun

Pemberian tanda dengan kertas label

13