Anda di halaman 1dari 2

Muhammad Nabil Ar-Ridho, 13/349606/EK/19534

Executive Summary Chapter 5


Activity Based Costing Systems
Sistem pembebanan biaya merupakan hal yang penting karena mempengaruhi keputusankeputusan penting seperti penyuplaian barang, product mix, penetapan harga jual, penerimaan order,
dan hubungan dengan konsumen. Apabila perusahaan ingin mengendalikan biayanya, perusahaan
perlu mengetahui hubungan antara volume dan mix setiap produk yang dibuat. Sistem pembebanan
biaya yang tradisional biasanya hanya melibatkan biaya bahan-bahan baku dan biaya tenaga kerja
saja. Kedua biaya tersebut dijumlahkan kemudian dibebankan kepada setiap produk yang siap dijual.
Namun, perlu diketahui juga bahwa terdapat biaya-biaya tidak langsung yang perlu dipertimbangkan
untuk dibebankan pada produk. Biaya-biaya tersebut bukanlah biaya yang tidak berkontribusi
langsung pada kegiatan produksi, tetapi sangat dibutuhkan agar kegiatan produksi tersebut berjalan,
seperti biaya supervisor, quality controller, pembelian, pemeliharaan, dan utilitas lainnya. Biaya-biaya
tidak langsung ini biasa disebut overhead. Biaya overhead tersebut biasanya dihitung dengan rate
(driver) yang diperkirakan muncul setiap kegiatan tersebut dikerjakan, biasanya rate tersebut
mengikuti jam tenaga kerja atau jam mesin produksi.
Seiring berjalannya waktu, banyak perusahaan yang mengalihkan tenaga dari manusia ke
mesin yang lebih otomatis. Hal tersebut menyebabkan semakin rendahnya biaya tenaga dan semakin
tingginya biaya overhead. Hal ini membuat biaya overhead semakin material dan perlu dicari
perhitungan detilnya sehingga pembebanan biaya lebih akurat dari metode yang tradisional. Selain itu,
perusahaan juga tidak bisa lagi menggunakan driver biaya overhead yang dikaitkan pada kegiatan
operasional seperti jam tenaga kerja dan jam mesin produksi. Jawaban dari masalah ini adalah
penerapan Time-Based Activity Based Costing (ABC). Sistem ABC ini memiliki 2 parameter yang
harus dipenuhi agar dapat diterapkan dengan baik. Parameter yang pertama yaitu rate biaya untuk
setiap jenis sumber daya tidak langsung, sedangkan parameter yang kedua yaitu perkiraan berapa
kapasitas sumber daya tidak langsung yang digunakan untuk memproduksi bermacam-macam produk
atau jasa. Untuk mempermudah pemahaman, maka dibawah ini adalah rumus perhitungan ABC.

Cost of using resource i by product j=


Capacity cost rate of resourcei x Quantity of capacity resource iused by product j
Dengan adanya sistem ABC, perusahaan dapat menghindari overcosting produk yang
volumenya tinggi dan undercosting produk yang volumenya rendah. Selain itu, sistem ABC juga
mempermudah perusahaan untuk merombak sistem kerjanya sehingga dapat mengurangi biaya yang
timbul dari aktivitas yang ada. Sistem ABC memang pada dasarnya sangat dibutuhkan bagi
perusahaan manufaktur, tetapi tidak menutup kemungkinan perusahaan jasa dapat menggunakannya
pula. Sebagian besar biaya yang muncul pada perusahaan jasa merupakan biaya tidak langsung dan
bersifat tetap. Meskipun sistem ABC merupakan sistem yang paling akurat untuk membebankan biaya
ke produk, tetapi terdapat beberapa kelemahan yang dimilikinya yaitu kurang jelasnya tujuan
perusahaan, kurangnya komitmen manajer senior, pendelegasian projek kepada konsultan yang tidak

berpengalaman, desain model ABC yang buruk, resisten karyawan untuk berubah, dan anggapan ABC
tersebut sebagai ancaman.