Anda di halaman 1dari 2

BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR


A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian Primer
Setiap pasien luka bakar harus dianggap sebagai pasien trauma, karenanya harus dicek
Airway, breathing dan circulation-nya terlebih dahulu.
a. Airway
Apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi, maka segera pasang Endotracheal Tube
(ET). Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah: terkurung dalam api, luka bakar
pada wajah, bulu hidung yang terbakar, dan sputum yang hitam.
b. Breathing
Eschar yang melingkari dada dapat menghambat pergerakan dada untuk bernapas, segera
lakukan escharotomi. Periksa juga apakah ada trauma-trauma lain yang dapat menghambat
pernapasan, misalnya pneumothorax, hematothorax, dan fraktur costae.
c. Circulation
Luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan edema, pada luka bakar
yang luas dapat terjadi syok hipovolumik karena kebocoran plasma yang luas. Manajemen
cairan pada pasien luka bakar, dapat diberikan dengan Formula Baxter.
Formula Baxter
a) Total cairan: 4cc x berat badan x luas luka bakar
b) Berikan 50% dari total cairan dalam 8 jam pertama, sisanya dalam 16 jam berikutnya.
2. Pengkajian sekunder
1. Identitas pasien
Resiko luka bakar setiap umur berbeda: anak dibawah 2 tahun dan diatas 60 tahun
mempunyai angka kematian lebih tinggi, pada umur 2 tahun lebih rentan terkena infeksi.
(Doengoes, 2000)
2. Riwayat kesehatan sekarang
a)

Sumber kecelakaan

b)

Sumber panas atau penyebab yang berbahaya

c)

Gambaran yang mendalam bagaimana luka bakar terjadi

d)

Faktor yang mungkin berpengaruh seperti alkohol, obat-obatan

e)

Keadaan fisik disekitar luka bakar

f)

Peristiwa yang terjadi saat luka sampai masuk rumah sakit

g)

Beberapa keadaan lain yang memeperberat luka bakar


3. Riwayat kesehatan dahulu

Penting untuk menentukan apakah pasien ,mempunyai penyakit yang merubah kemampuan
utuk memenuhi keseimbangan cairan dan daya pertahanan terhadap infeksi (seperti DM,
gagal jantung, sirosis hepatis, gangguan pernafasan). (Doengoes, 2000)