Anda di halaman 1dari 19

Seluk-beluk buku yang disebut

Injil Barnabas
oleh Drs. B.F. Drewes dan Drs. J. Slomp

KATA PENGANTAR

Pembaca yang budiman,

Kabar angin atau gossip atau desas-desus dan semacamnya merupakan sesuatu yang
cepat berkembang dan terkenal memiliki daya yang mematikan, apalagi bila terdapat
pihak yang memancing di air keruh. Banyak orang terdampar, tidak sempat atau tidak
mampu lagi melihat apa benarnya, atau memahami duduk persoalannya. Dan, aah,
andai setiap orang mampu melihat persoalannya; andai ada orang yang mampu
memberikan pegangan yang kuat dan dapat diandalkan, semua jadi lega; semua
bilang "ah hanya omong kosong belaka."

Buku ini; "Seluk-beluk Buku yang disebut Injil Barnabas", bermaksud memberikan
kelegaan, khususnya bagi kita umat Kristen. Buku ini merupakan informasi; yang
digali dari studi, sehingga isinya bisa diandalkan, bisa menjadi penerang kita dalam
kesimpangsiuran dan kekalutan mengenai Buku yang disebut injil Barnabas tersebut.
Syukurlah, akhirnya jelas dan menjadi terang duduk persoalannya siapa Barnabas,
kapan buku ini ditulis, perkembangannya, dan apakah bisa disebut Injil dalam
pengertian kita; semuanya jelas.

Semoga buku ini memberikan kelegaan dan nafas yang lapang.

Penerbit

Seluk Beluk Buku Yang Disebut Injil Barnabas


oleh Drs. B.F. Drewes dan Drs. J. Slomp
Cetakan Pertama 1983
PENERBIT YAYASAN KANISIUS
Jl. P. Senopati 24, Telepon 2309. Telex 25143, Yogyakarta
Nihil obstat: F. Heselaars SJ
Imprimatur: A. Djajasiswaja Pr. Vik.
PENDAHULUAN

Sering ada orang bertanya, "Apa sih itu injil Barnabas, yang disebut-sebut orang?
Kalau kita buka kitab suci Perjanjian Baru, ternyata injil itu tidak dimuat!"

Buku kecil ini ditulis dengan maksud untuk memberi jawaban atas pertanyaan
tersebut di atas. Dalam buku kecil ini akan diuraikan pokok-pokok sebagai berikut:

• Bagaimanakah "injil" itu ditemukan? Terjemahan manakah yang kini beredar,


dan naskah-naskah kuno manakah yang dipakai oleh para penterjemahnya?
(Bab 1 );
• Kapan "injil" itu dikarang? (Bab 2);
• Siapakah pengarangnya dan di manakah "injil" itu ditulis? (Bab 3);
• Selanjutnya akan ditinjau isi "injil" itu dalam garis besarnya (Bab 4);
• Akhirulkalam akan dikemukakan beberapa kesimpulan (Bab 5), disusul
dengan daftar kepustakaan.

Buku kecil ini disusun oleh Drs. B.F. Drewes berdasarkan bahan-bahan penelitian
ilmiah yang sebagian besar dikerjakan oleh Drs. J. Slomp. Alihbahasa ditangani Galih
Resi.

Untuk selanjutnya akan digunakan singkatan Barn kalau dimaksudkan kitab "injil"
Barnabas. Dan bila kitab itu disebut injil, kata itu akan ditempatkan antara tanda kutip
("injil"), karena kitab itu bukan Injil dalam arti kitab-kitab Injil yang terdapat dalam
kitab suci Perjanjian Baru. Sebab Barn jauh lebih muda usianya, dan dikarang oleh
seseorang berdasarkan kitab-kitab Injil yang asli yang terdapat daIam kitab suci
Perjanjian Baru.

Besar harapan kami semoga buku kecil ini dapat memberikan jawaban atas berbagai
pertanyaan yang timbul di sana-sini sekitar kitab '"injil" Barnabas.

Seluk Beluk Buku Yang Disebut Injil Barnabas


oleh Drs. B.F. Drewes dan Drs. J. Slomp
Cetakan Pertama 1983
PENERBIT YAYASAN KANISIUS
Jl. P. Senopati 24, Telepon 2309. Telex 25143, Yogyakarta
Nihil obstat: F. Heselaars SJ
Imprimatur: A. Djajasiswaja Pr. Vik.
BAB 1.

NASKAH-NASKAH KUNO MANAKAH YANG KITA MILIKI


TENTANG "INJIL BARNABAS"?

Terbitan Barn dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan Barn yang sudah
beredar dalam bahasa asing. Menurut penelitian kami ada tiga terbitan Barn dalam
bahasa Indonesia:

• Indjil Barnaba terdjemahan J. Bachtiar Affandie, Djilid ke-I (1969)1;


• Indjil Barnabas, terdjemahan dari bahasa Arab, oleh Husein Abubakar dan
Abubakar Basjmeleh2; yang berisi a.l. banyak catatan pinggir ayat-ayat
Alkitab, yang diambil dari terjemahan Lonsdale and Laura Ragg (lihat di
bawah);
• Terjemah Injil Barnabas, dengan diberi notasi ayat-ayat Qur'an, oleh Rahnip
M, B.A.3

Berhubung terjemahan Barn yang dilakukan oleh J. Bachtiar Affandie tidak dapat
kami peroleh, penelitian kami secara khusus diarahkan pada kedua terjemahan yang
lain. Terlebih dahulu perlu dikemukakan bahwa terjemahan Husein Abubakar dan
Abubakar Basjmeleh jauh lebih baik dibandingkan dengan terjemahan Rahnip
(periksa Catatan nomor 2 dan 3).

Jelaslah buku-buku tersebut merupakan terjemahan dari bahasa asing. Karena kami
berusaha untuk mencari naskah Barn yang paling tua, kami bertanya-tanya terbitan
Barn manakah yang dipakai sebagai dasar terjemahan Indonesia.

Abubakar/Basjmeleh menggunakan terbitan Barn dalam bahasa Arab. Tentu saja


terbitan bahasa Arab itu pun merupakan terjemahan pula. Bagaimanakah terjadinya
terjemahan bahasa Arab ini? Besar kemungkinannya terbitan bahasa Arab merupakan
terjemahan dari terbitan Barn dalam bahasa Inggris. Dan terbitan bahasa Inggris itu
pun merupakan terjemahan dari naskah Barn dalam bahasa Italia yang kita miliki.
Yang belum jelas bagi kita ialah apakah untuk terjemahan bahasa Arab dipakai juga
naskah bahasa Italia.

Terjemahan Rahnip didasarkan atas terbitan Barn dalam bahasa Inggris yang
merupakan terjemahan dari naskah bahasa Italia, seperti dikemukakan dalam "Kata
Pengantar" dari buku Rahnip.

Mungkin anda agak bingung dengan segala macam terjemahan Barn, karena itu pada
bagan di bawah ini digambarkan apa yang diuraikan lebih dahulu:
Naskah "injil Barnabas" dalam bahasa Italia
| |
| |
|? Terjemahan Inggris
| | |
| | |
Terjemahan Arab <----------+ |
| |
| |
Terjemahan Indonesia Terjemahan Indonesia
| |
| |
Abubakar/Basjmeleh Rahnip

Jadi jelaslah terbitan-terbitan bahasa Indonesia tersebut merupakan terjemahan dari


terjemahan. Semua terbitan itu bersumber pada naskah bahasa Italia dan
terjemahannya dalam bahasa Inggris yang turut dibubuhkannya. Terbitan naskah
bahasa Italia dan terjemahan bahasa Inggris dilakukan oleh Lonsdale Ragg dan Laura
Ragg pada tahun 1907 (di Oxford, At the Clarendon Press). Memang baru sesudah
tahun 1907 banyak orang menaruh perhatian kepada Barn.

Dengan demikian semua terbitan yang kita kenal bersumber pada naskah bahasa Italia
yang dicetak pada tahun 1907 dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris, disertai
kata pengantar yang kritis, dalam mana dibuktikan kepalsuan "injil Barnabas". (Yang
menarik, meskipun terbitan Lonsdale Ragg dan Laura Ragg tersebut digunakan oleh
berbagai pihak sebagai dasar terjemahan mereka, namun kata pengantar yang kritis
itu tidak ikut diterjemahkan). Naskah Barn bahasa Italia yang dipakai oleh Lonsdale
Ragg dan Laura Ragg kini disimpan di dalam perpustakaan negara di Wina, Austria.

Marilah kita tinjau naskah Barn tersebut. Naskah itu terdiri dari 222 fasal. Kalau
diperiksa cara penulisannya, kertas yang dipakai dan cara naskah itu dijilid ternyata
naskah itu tidak lebih tua dari pertengahan kedua abad ke-16 sesudah Masehi, karena
cara menulis, macam kertas yang dipakai dan cara menjilid tidak dikenal sebelum
masa itu.

Bahasa Italia yang digunakan memperlihatkan banyak kesalahan. Sering kali huruf
"h", misalnya, ditambahkan; padahal sebetulnya dalam bahasa Italia sama sekali tidak
perlu. Contoh: "anno" (tahun) menjadi "hanno". Demikian pula kata "Chrissto" ditulis
dengan dua huruf "s" padahal cukup satu saja. Boleh dikata bahasa yang dipakai
dalam naskah itu merupakan campuran dari dua dialek Italia, yakni dialek Tuska dan
dialek Venezia. Lagipula terdapat banyak salah ejaan yang tak dapat dibenarkan, baik
dari sudut dialek Tuska maupun dialek Venezia. Kedua dialek tersebut digunakan di
kota universitas Bologna (Italia). Di kota itu ada mahasiswa yang berasal dari
Spanyol. Seorang cendekiawan Spanyol, Prof. M. de Epalza, membuktikan bahwa
banyaknya kesalahan ejaan dalam "injil Barnabas"' adalah khas bagi seseorang yang
menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa ibu. Selanjutnya masih dapat
dikemukakan bahwa kemungkinan besar Barn bukan terjemahan ke dalam bahasa
Italia dari bahasa lain. Sebab apabila suatu buku diterjemahkan sering kali bahasa
aslinya masih nampak samar-samar dalam susunan kalimatnya, gaya bahasanya, dan
lain-lain. Hal itu tidak kelihatan pada Barn, sehingga boleh dikatakan bahwa naskah
"injil Barnabas" yang asli dikarang dalam bahasa Italia. (Bahasa Italia sendiri belum
ada pada masa hidup Yesus, dan baru pada abad ke-13 merupakan bahasa tulisan).

Selanjutnya yang menyolok ialah bahwa pada pinggiran banyak halaman naskah
tersebut di sana-sini dibubuhi catatan dalam bahasa Arab. Mutu bahasa Arabnya pun
buruk, lagipula pengarang membuat banyak kesalahan. Jelaslah bahwa catatan itu
ditulis oleh orang yang sama yang mengarang naskah Barn tersebut.4

Bagaimanakah naskah itu sampai tersimpan di perpustakaan negara di Wina. Untuk


mengetahui asal-usulnya kita harus kembali dalam sejarah. Pada tahun 1718,
diterbitkan buku karangan John Toland berjudul "Nazarenus". Dalam buku itu ditulis:

"Dalam karangan ini terlebih dahulu dimuat sejarah singkat tentang injil yang baru,
yang saya temukan di kota Amsterdam pada tahun 1709, yakni sebuah Injil Islam
yang belum pernah dikenal dan diketahui di antara orang Kristen. Adapun orang yang
memberitahukannya kepada saya (Tuan Cramer, konsul raja Prusia yang tinggal di
Amsterdam), menerimanya dari perpustakaan pribadi seorang yang mulia dan
berwibawa di kota tersebut, yang selama hidupnya sering mengemukakan
penghargaannya atas kitab tersebut."

Siapakah gerangan orang yang "mulia dan berwibawa" itu? Yang menarik perhatian
ialah bahwa sejarawan berkebangsaan Italia, Gregorio Leti (meninggal tahun 1701),
pernah tinggal dan bekerja di Amsterdam. Dia adalah penulis biografi Paus Sixtus V
(1585-1590). Leti berganti agama dan memeluk agama Kristen Protestan, kemudian
melarikan diri ke negeri Belanda dan menjadi sejarawan kota Amsterdam.
Menantunya, seorang ahli teologi bernama Jean le Clerc (1637-1736), dalam tahun
1718 menulis analisis tentang Barn yang dimuatnya dalam kumpulan karangan yang
diterbitkannya.

Gregorio Leti inilah yang dimaksudkan oleh Toland dengan "orang yang mulia dan
berwibawa". Setelah Leti meninggal perpustakaannya dilelang. Dari ungkapan
negarawan Cramer dia memperoleh kitab Barn dari perpustakaan seorang yang baru
meninggal. Cramer kemudian menjual kitab itu kepada Pangeran Eugene dari
Savoye. Dan dari perpustakaan Pangeran Eugene kitab Barn akhirnya pindah ke
perpustakaan negara di Wina dan tersimpan sampai hari ini.
Tentang sejarah naskah Barn dari akhir abad ke-16 sampai tahun 1700 tidak diketahui
orang.

Di samping naskah Barn dalam bahasa Italia ada juga naskah dalam bahasa Spanyol.
Apakah yang kita ketahui tentang naskah itu? Pada tahun 1734 diterbitkan Qur'an
dalam bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Sale. Dalam kata pengantar dan catatan
oleh Sale antara lain disebut Barn. Ia tahu tentang buku karangan John Toland yang
kami sebut di atas. Dan dari Dr. Holmes dipinjamnya Barn dalam terjemahan bahasa
Spanyol. (Dari karangan Dr. White kami tahu sedikit tentang terjemahan bahasa
Spanyol itu). Lama sekali kami mengetahui adanya terjemahan Barn dalam bahasa
Spanyol hanya dari kutipan-kutipan yang diberikan oleh Sale dan Holmes. Namun
beberapa tahun yang lampau diketemukan naskah Barn dalam bahasa Spanyol, yakni
di Sydney (Australia), yang berisi sebagian besar dari "injil" Barnabas. Naskah
tersebut berasal dari abad ke-18, dan entah dipakai oleh Sale, entah merupakan
salinan dari naskah yang dipergunakan oleh Sale5. Naskah bahasa Spanyol adalah
terjemahan dari bahasa Italia yang dilakukan oleh seorang Muslim berkebangsaan
Spanyol bernama Mustafa de Aranda. Dalam kata pendahuluan naskah bahasa
Spanyol dikemukakan bahwa naskah bahasa Italia oleh seorang rahib Kristen
bernama Fra Marino diketemukan dan dicuri dari perpustakaan Paus Sixtus V (1585-
1590), ketika Paus sedang tidur sejenak di perpustakaannya. Setelah naskah itu
dibacanya, Fra Marino menganut agama Islam. Ada alasan untuk menduga bahwa
ceritera tentang diketemukannya dan dicurinya naskah itu hanya merupakan isapan
jempol belaka, sebab dalam Barn sendiri dimuat ceritera semacam itu, yakni fasal 191
dan 192. Dalam fasal-fasal tersebut oleh seorang ahli taurat diceriterakan kepada
Yesus bahwa ia pernah melihat kitab yang sungguh-sungguh merupakan kitab Musa,
ditulis oleh Musa dan Yosua, yang di dalamnya dinyatakan bahwa Ismael adalah ayah
Sang Mesias; akan tetapi imam agung yang menyaksikan percakapan itu melarangnya
untuk membaca kitab tersebut. Ada kemungkinan bahwa fasal 191 dan 192
memberikan gambaran pribadi tentang pengarang Barn! Apalagi pengarang kitab
Barn adalah seorang kelahiran Spanyol dan dalam kata pendahuluan naskah bahasa
Spanyol disinggung tentang Paus Sixtus V (akhir abad ke-16), jadi besar
kemungkinannya kedua naskah tersebut dikarang oleh orang yang sama.

Kesimpulannya ialah: ada dua naskah kuno Barn; yang satu isinya lengkap, dikarang
dalam bahasa Italia dan berasal dari abad ke-16; yang lain tidak lengkap dan
merupakan terjemahan dalam bahasa Spanyol dari abad ke-18.

Perlu kita perhatikan bahwa dari kitab-kitab yang terkumpul dalam Perjanjian Baru,
kita miliki ratusan naskah dalam bahasa Yunani yang jauh lebih-tua dari kedua
naskah Barn itu!
Setelah kita selidiki penanggalan naskah-naskah Barn, dalam bab yang berikut akan
dijawab pertanyaan: Kapankah Barn dikarang?

BAB 2.

KAPAN "INJIL" BARNABAS DIKARANG?

Para pembaca tentu mengerti bahwa dengan ditetapkannya penanggalan naskah-


naskah Barn yang dikenal itu, belum dijawab secara tuntas pertanyaan kapan
sebenarnya naskah aslinya dikarang. Sebab ada kemungkinan naskah Barn yang
tertua yang kita kenal berasal dari abad ke-16, sedangkan naskah aslinya lebih tua
lagi. Karena itu dalam bab ini akan dicari jawaban atas pertanyaan apakah dapat
diselidiki kapan Barn dikarang?

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sesudah keempat Injil yang dimuat dalam
Perjanjian Baru, beredarlah bermacam-macam kitab di dalam Gereja Purba yang
dalam beberapa hal menyerupai Injil-Injil, akan tetapi tidak diakui oleh Gereja
sebagai kitab berwibawa (kitab kanonik). Kitab-kitab itu disebut injil apokrif.
misalnya injil Thomas, injil Petrus, dan sebagainya. Kitab-kitab tersebut tidak
dikarang oleh Thomas" Petrus" dan lain-lain. Kitab-kitab itu ditulis jauh kemudian
daripada keempat Injil dan tidak diakui oleh Gereja. Begitulah dalam Gereja Purba
pernah disebut adanya sebuah "injil Barnabas". "Injil" itu untuk pertama kalinya
dicantumkan dalam apa yang disebut Decretum Pseudo-Gelasianum (Decretum =
surat keputusan Paus; pseudo = yang tidak asli). Dalam surat keputusan Paus itu
dicantumkan daftar buku-buku yang oleh Gereja tidak diakui sebagai kanonik (=
berwibawa); dalam daftar itu disebut juga "'injil" Barnabas. Daftar itu berasal dari
abad keenam sesudah Masehi. Berita yang lebih tua tentang "injil" itu tidak ada!1

Lagipula dari zaman Gereja Purba tidak pernah diketemukan satu ayat pun atau
sebagian dari "injil" Barnabas. Dalam suatu tulisan2 hanya terdapat ungkapan: "Rasul
Barnabas bersabda: dalam pertikaian yang buruk, pihak yang menanglah yang paling
menderita, sebab ia meninggalkan pertempuran dengan dibebani dosa yang lebih
besar." Namun tidak dinyatakan bahwa ungkapan itu berasal dari sebuah "'injil"
Barnabas. Ungkapan tersebut dapat pula merupakan tradisi lisan yang turun-temurun.
Apalagi ungkapan itu sama sekali tidak terdapat dalam Barn! Bahkan beberapa ahli
meragukan tentang adanya sebuah "injil apokrif Barnabas". Tidak ada tanda bahwa
sebuah "injil" Barnabas dipakai di Gereja sampai masa Dekrit Gelasius. Apalagi perlu
kita ingat bahwa bahasa Italia pada waktu itu belum ada. Memang ada sebuah "surat
apokrif Barnabas" yang menurut para ahli tidak berasal dari Barnabas. Ada pula kitab
apokrif "Kisah Rasul Barnabas", suatu pemalsuan dari abad kelima, yang ditulis
dengan maksud untuk memuliakan pulau Siprus, di mana menurut keyakinan para
penduduknya terdapat makam rasul Barnabas.
Sebagaimana tadi dikemukakan ada ahli yang meragukan apakah dalam Gereja Purba
memang pernah ada sebuah injil apokrif Barnabas. Mungkin pada masa silam timbul
gagasan tentang sebuah injil apokrif Barnabas, karena di dalam kitab "Kisah Rasul
Barnabas" terdapat ungkapan yang diartikan salah. Dalam "Kisah Rasul Barnabas"
kita baca: "Sesudah Barnabas mengabar injil yang diterimanya dari kawan
sepelayanannya Matius, ia mulai mengajar orang-orang Yahudi." Menurut legenda
yang muncul kemudian uskup-uskup Siprus menemukan kembali jenazah Barnabas
dengan Injil Matius yang disalin oleh Barnabas di atas dadanya. Kalau ceritera itu
dituturkan tanpa menyebut nama Matius, timbullah kesan seolah-olah Barnabas
sendiri mengarang sebuah Injil.3

Jadi tidak terdapat bukti apa pun bahwa injil apokrif Barnabas, yang tercantum dalam
dekrit Pseudo-Gelasianum itu, sama dengan Barn!

Jadi melalui jalan ini tidak dapat diteliti kapan Barn ditulis. Kita harus menyelidiki isi
Barn untuk menelusuri apakah ada tanda-tanda yang dapat menerangkan tanggal
terjadinya Barn. Apakah yang menarik perhatian kita kalau isinya diselidiki?

1. Pengarang Barn pasti bukan orang semasa Yesus, yang mengikuti Yesus sebagai
murid. Hal itu terbukti antara lain sebagai berikut:

a) Dalam judul Barn, dan juga di tempat-tempat lain Yesus disebut "Kristus", akan
tetapi dalam fasal 96 Yesus menolak bahwa Dia adalah Mesias. Jadi pengarang tidak
mengetahui bahwa "Kristus" adalah terjemahan bahasa Yunani dari kata Ibrani/Aram
"Messias" yang sama artinya!4

b) Menurut fasal 3 Yesus dilahirkan pada waktu Pilatus memerintah atas Yudea,
namun sebenarnya Pilatus menjadi gubernur pada tahun 26 atau 27 sesudah Masehi"
ketika Yesus berusia ± 30 tahun

c) Dalam fasal 20 diceriterakan bahwa Yesus "berlayar" ke Nazaret; itu mustahil,


sebab Nazaret tidak dapat dicapai dengan kapal.

d) Dalam fasal 91 dikemukakan bahwa di wilayah Yudea ada 600.000 tentara; hal itu
pun mustahil, sebab di seluruh daerah jajahan Romawi jumlah tentaranya tidak
melebihi 300.000 orang.

e) Selama 40 hari Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke bukit Sinai untuk melakukan
syariat puasa 40 hari; dikemukakan seolah-olah masa puasa semacam itu sudah
menjadi adat-istiadat (fasal 91 dan 92). Padahal pada waktu Yesus hidup puasa 40
hari itu belum merupakan kebiasaan.
2. Jelaslah pengarang bukan orang sejaman dengan Yesus. Bahkan dapat kita
buktikan bahwa pengarang hidup sesudah Nabi Muhammad. Muhammad yang hidup
beberapa abad sesudah Yesus, oleh Yesus disebut dan ditunjuk sebagai Mesias. Hal
itu nampak dalam dua fasal. Dalam fasal 44 kita baca ungkapan Yesus:

"Ya Muhammad, semoga Allah besertamu dan menjadikan aku layak untuk
membuka tali kasutmu, karena apabila aku memperoleh itu, aku akan menjadi
seorang nabi yang besar serta seorang kudus Allah."

Dalam fasal 97 kita baca percakapan antara seorang imam dengan Yesus sebagai
berikut:

"Maka imam itu bertanya, 'Bagaimanakah Mesias itu akan dinamakan, dan tanda
apakah yang akan menunjukkan kedatangannya?'

Yesus menjawab, 'Sesungguhnya nama Mesias itu terpuji; karena nama itu diberikan
oleh Allah sendiri, tatkala rohnya diciptakan Allah dan diletakkan-Nya dalam
kemegahan surgawi. Allah berfirman: Sabarlah Muhammad; karena untukmu Aku
akan menciptakan firdaus, dunia dan sejumlah besar makhluk, yang Kuhadiahkan
kepadamu, sehingga barangsiapa yang memberkati engkau akan diberkati; dan
barangsiapa yang mengutuk engkau akan dikutuk. Apabila Aku mengutus engkau ke
dunia engkau akan menjadi rasul keselamatan-Ku dan firmanmu itu benar,
bahwasanya langit dan bumi akan gagal, tetapi imanmu tidak pernah akan gagal.'
Muhammad adalah namanya yang diberkati."

Ayat-ayat semacam itu (juga fasal 54) membuat Yesus semacam Yohanes Pembaptis,
yang memaklumkan Sang Mesias. Karena itu Yohanes Pembaptis tidak pernah
disebut-sebut dalam Barn!

Sebagaimana kita tahu nubuat-nubuat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak
memberikan ramalan yang terperinci sambil menyebut nama-nama oknum yang kelak
akan datang; nama-nama orang tidak pernah diramalkan. Jadi Barn dikarang sesudah
datangnya Muhammad!

Juga dalam fasal-fasal lain terlihat pengaruh Agama Islam. Menurut fasal 39 kalimat
syahadat ("Tiada Tuhan melainkan Allah" dan "'Muhammad Rasul Allah") ditulis
pada kedua kuku ibu jari tangan Adam, setelah kalimat syahadat itu dilihatnya tertulis
di angkasa.

Dalam hal-hal lain pun ada hubungan yang menyolok antara Barn dengan pandangan
Islam. Menurut Barn Yesus bukan Anak Allah (fasal 48, 98 dan 222). Yesus diutus
hanya kepada Israel saja, sedangkan amanat Muhammad adalah untuk segala bangsa
(fasal 82). Barn menegaskan pandangan Islam bahwa kelak akan dikarang kitab suci
yang akan membersihkan kitab suci yang lebih dulu ditulis dari segala kerusakan
(fasal 124, bandingkan fasal 44, 191 dan 192). Anak Abraham yang harus
dipersembahkannya sebagai korban penyembelihan adalah Ismael dan bukan Ishak
(fasal 44). Pada bagian akhir Barn kita baca bahwa Yudaslah yang disalibkan,
bukannya Yesus. Soal ini perlu ditekankan oleh Barn (fasal 221).

Dengan demikian jelaslah bahwa pengarang Barn hidup sesudah Muhammad yang
wafat tahun 632 itu.

3. Bahkan kita dapat melangkah lebih jauh lagi dan dapat kita tegaskan bahwa Barn
pasti dikarang sesudah tahun 1300. Apakah buktinya?

Dalam fasal 82 Yesus berbicara dengan wanita Samaria tentang tahun Yobel, yang
dirayakan sekali dalam 100 tahun. Soal ini disinggung juga dalam fasal 83. Menurut
Perjanjian Lama (Imamat 25:8-55 dan 27:16-25) tahun Yobel dirayakan sekali dalam
50 tahun. Ketentuan itu tidak diubah oleh Yesus. Baru pada tahun 1300 sesudah
Masehi oleh Paus Bonifacius VIII diperintahkan bahwa tahun Yobel akan dirayakan
sekali dalam 100 tahun! Akan tetapi oleh Paus Clemens VI pada tahun 1343
ditetapkan bahwa tahun Yobel akan dirayakan tiap 50 tahun. Jadi pengarang Barn
tahu tentang ketentuan masa 100 tahun untuk merayakan tahun Yobel, dan dengan
tidak disadarinya dinyatakannya seolah-olah oleh Yesus sendiri ditetapkan bahwa
tahun Yobel harus dirayakan sekali dalam 100 tahun. Jadi dapat kita pastikan bahwa
Barn dikarang sesudah tahun 1300!5

Kesimpulan itu sesuai dengan ciri-ciri lain dalam Barn, yang mengingatkan kita akan
jaman sekitar tabun 1000-1500, antara lain:

Dalam sembahyang di malam hari (fasal 61) Yesus memakai ungkapan dari 1 Petrus
5:8 "... si Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari
orang yang dapat ditelannya", sebagaimana sudah lazim dipakai dalam sembahyang
malam pada Abad Pertengahan.

Dalam fasal 3 kita baca bahwa Yesus dilahirkan oleh Maria "tanpa merasa sakit"; ini
tidak tertulis dalam Perjanjian Baru, namun mendapat perhatian besar pada Abad
Pertengahan.

Dalam fasal 194 Lazarus dan kedua adiknya perempuan digambarkan memiliki dua
desa. Hal itu pun merupakan gambaran keadaan masa Abad Pertengahan, akan tetapi
pada jaman Yesus mustahil seorang memiliki desa.
Tambahan pula masih dapat ditunjuk panjang dan sifat Barn. Kitab Barn dapat
disebut semacam Diatessaron, artinya sebuah kitab yang menyatukan bahan-bahan
dari keempat Injil Perjanjian Baru, sehingga isinya lebih tebal dibandingkan dengan
Injil-Injil yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Adapun usaha untuk menyatukan dan
menggabungkan keempat Injil mulai timbul pada abad kedua sesudah Masehi. Kita
kenal beberapa Diatessaron dalam bahasa Italia dari Abad Pertengahan. Satu di
antaranya berasal dari abad ke-14 yang mengandung ciri-ciri dialek TuskaVenezia
(jadi dialek vang sama seperti Barn), dan di dalamnya terdapat bermacam-macam
ceritera dalam urutan yang sama seperti dalam Barn; dan urutan yang sama itu tidak
terdapat dalam keempat Injil Perjanjian Baru.

Jadi dapat kita pastikan bahwa Barn dikarang antara tahun 1300 dan akhir abad ke-16
yakni waktu naskah berbahasa Italia ditulis. Dengan demikian jauh lebih muda
usianya dibandingkan dengan Injil-Injil Perjanjian Baru.

Apakah waktu penulisan Barn dapat kita tentukan lebih tepat lagi? Besar
kemungkinan Barn dikarang semasa Paus Sixtus V (1585-1590). Coba perhatikan
hal-hal sebagai berikut: sudah kita lihat bahwa pada tahun 1300 ditentukan agar tahun
Yobel dirayakan sekali dalam 100 tahun; kemudian pada tahun 1349 diambil
keputusan untuk merayakannya sekali dalam 50 tahun; dan pada tahun 1470
diputuskan untuk merayakannya sekali dalam 25 tahun. Pada tahun 1585 Paus Sixtus
V merayakan tahun Yobel, bukannya karena sudah tiba waktunya, melainkan karena
pada tahun itu ia dipilih sebagai Paus dan ingin memberikan perhatian khusus kepada
tahun tersebut. Apakah kejadian itu menjadi alasan bagi pengarang Barn --yang
masih ingat bahwa sesudah 1300 tahun Yobel dirayakan sekali dalam 100 tahun--
untuk menyatakan bahwa pada masa Mesias tiap tahun merupakan tahun Yobel?

Selanjutnya, dalam kata pendahuluan naskah berbahasa Spanyol dikemukakan bahwa


kitab Barn ditemukan dalam perpustakaan Paus Sixtus V meskipun kebenaran
ceritera itu masih dipersoalkan. Memang Barn cocok dengan suasana penindasan
yang merajalela di Spanyol dan Italia Utara pada akhir abad ke-16, ketika orang
Yahudi dan penganut agama Islam dianiaya oleh Inkuisisi. Apakah mungkin kitab itu
ditulis semasa Paus Sixtus V oleh seorang yang dalam hatinya bersikap pro-Islam,
akan tetapi tidak dapat mempraktekkannya?

Soal tersebut akan dibahas dalam bab berikut. Namun sekarang sudah dapat ditarik
kesimpulan bahwa Barn dikarang antara tahun 1300 dan akhir abad ke-16, dan
kemungkinan besar pada masa Paus Sixtus V.
BAB 3.

SIAPAKAH PENGARANG BARN DAN DI MANAKAH DITULIS?

Sekarang harus kita selidiki siapakah gerangan pengarang Barn. Bahan-bahan


keterangan apakah yang tersedia? Kita harus mencari seorang yang hidup antara
tahun 1300 dan 1600. Orang itu mengenal isi baik Perjanjian Lama maupun
Perjanjian Baru, meskipun pengetahuannya tidak sempurna.1

Agaknya orang itu mengenal juga ajaran agama Islam. Hal itu antara lain terbukti
bukan saja karena disebutnya nama Nabi Muhammad, tetapi juga karena
dikemukakannya pandangan-pandangan yang dianut oleh agama Islam
(bandingkanlah Bab 2).

Keterangan yang penting pula adalah tentang bahasanya, yakni dialek Tuska-Venezia
(jadi dari wilayah Italia bagian Utara), dengan kesalahan-kesalahan yang disebabkan
oleh pengaruh bahasa Spanyol. Agaknya pengarang hidup di Spanyol dan di Italia
dan mempunyai hubungan dengan Gereja dan dengan agama Islam.

Apakah di samping bahan-bahan yang agak samar itu masih ada keterangan lain yang
lebih jelas? Dapatkah ditunjuk keadaan, dalam mana kitab semacam itu dikarang oleh
seorang yang mengetahui seluk-beluk Gereja dan agama Islam?

Marilah kita lihat keadaan pada zaman itu di Spanyol dan di Italia. Pada masa itu
keadaan orang Yahudi dan orang Islam sangat menyedihkan karena penganiayaan
dari pihak Gereja Katolik Roma yang dilaksanakan oleh inkuisisi. Banyak orang
Yahudi dan penganut agama Islam dipaksa menjadi Kristen. Dan mereka itu diawasi
pula apakah memang berganti agama secara serius. Penganiayaan itu mencapai
puncaknya pada akhir abad ke-16!

Apakah ada kemungkinan pemalsuan injil itu dikarang oleh seorang yang dipaksa
masuk agama Katolik Roma serta harus mengikuti pendidikan Katolik Roma, dan
dengan demikian ia "membalas dendam" atas segala sesuatu yang dideritanya dari
pihak Gereja Katolik Roma? Anggapan tentang bentuk pemalsuan itu tidak begitu
jauh dari sasarannya. Sebab pada akhir abad ke-16 beberapa pemalsuan injil beredar
di Spanyol. Kitab-kitab itu dikarang dalam bahasa Arab dan dikatakan berasal dari
rasul-rasul Yesus. Spanyol digemparkan oleh kitab-kitab tersebut, akan tetapi ternyata
pemalsuan belaka!

Naskah-naskah itu dikarang oleh dua orang, yakni Alonso de Castillo dan Miguel de
Luna, kedua-duanya juru bahasa dari golongan Morisko2. Kelompok Morisko adalah
pemeluk agama Islam yang dipaksa berganti agama dan masuk agama Katolik Roma.
Namun hal itu dilakukannya lahiriah saja, tidak dalam lubuk hatinya. Di samping
kelompok Morisko terdapat pula golongan Marrano, yakni orang-orang Yahudi yang
dipaksa masuk agama Katolik Roma, namun secara batin tidak dianutnya.

Perlu dikemukakan juga bahwa banyak orang di Spanyol, yang pada akhir abad ke-16
dipaksa berganti agama, melarikan diri ke Italia. Dapat ditambahkan pula bahwa Fra
Felice Peretti de Montalto yang kemudian menjadi Paus Sixtus V, sangat giat
menganiaya orang yang belum berganti agama di Venezia (Italia) pada tahun-tahun
1558-1568. Apakah mungkin pengarang Barn berasal dari golongan Morisko atau
Marrano?

Adapun latar belakang pengarang yang berbau Spanyol jelas terbukti dari Barn fasal
54. Dalam fasal itu dikemukakan tentang sekeping uang "denarius"
(Abubakar/Basjmeleh: "sekeping emas", Rahnip: "sepotong emas") yang terbagi
dalam 60 "minuti" (Abubakar/ Basjmeleh: "filis", Rahnip: "bagian"). Yang dimaksud
adalah sekeping mata uang Spanyol kuno!

Selanjutnya harus kita lihat apakah yang diungkapkan di dalam Barn fasal 191 dan
192. Dalam fasal-fasal itu diceriterakan bagaimana kitab Musa yang benar
diketemukan oleh Nikodemus di perpustakaan Bait Allah. Dalam kitab Musa itu
"tersurat bahwa Ismael adalah ayah Mesias, dan Ishak adalah "ayah utusan Mesias",
dan seterusnya. Kemudian Nikodemus mengemukakan", "Kitab itu tidak sempat saya
baca seluruhnya, karena Imam Agung --saya berada di ruang perpustakaannya--
melarang saya, sambil berkata bahwa kitab itu dikarang oleh seorang Ismaeli."

Dari ayat itu jelas pula pengaruh agama Islam atas Barn. Menarik sekali kalau bagian
Barn tersebut dibandingkan dengan bagian kata pendahuluan naskah berbahasa
Spanyol. Dalam kata pendahuluan naskah yang berbahasa Spanyol (yang tidak
termasuk Barn) dikemukakan bahwa naskah Barn bahasa Italia dicuri oleh seorang
rahib bernama Fray Marin (atau Fra Marino) dari perpustakaan Paus Sixtus V (1585-
1590). Menurut ceritera Fray Marin adalah teman Paus Sixtus V. Ketika mereka
berdua sedang bekerja bersama-sama di perpustakaan Vatikan Roma, tertidurlah Paus
dan Fray Marin menemukan Barn. Kemudian Barn disembunyikannya dalam lengan
bajunya dan dibawanya ke luar perpustakaan. Sesudah dibacanya dia memeluk agama
Islam. Menurut kata pendahuluan tersebut Barn diterjemahkan oleh Mustafa de
Aranda dari bahasa Italia ke dalam bahasa Spanyol.

Apabila kita pertimbangkan bahwa a) Barn mempunyai latar belakang Spanyol


seperti terbukti oleh nama sekeping mata uang; b) ejaan bahasa Italia dipengaruhi
oleh bahasa Spanyol: c) orang-orang yang berganti agama dan memeluk agama Islam
sering kali menggantikan namanya; dan d) banyak orang Marrano dan Morisko
melarikan diri dari Spanyol ke Italia, sehingga kemungkinan besar Fray Marin dan
Mustafa de Aranda adalah orang yang sama. Dan orang itulah pengarang Barn,
sehingga hal itu patut dipertimbangkan. Memang kepastiannya tak dapat dikuatkan.
Namun dapat dikemukakan bahwa Paus Sixtus V sangat giat menganiaya orang yang
belum masuk agama Katolik Roma; dan pada akhir abad ke-16 beredar beberapa
pemalsuan Injil. Jadi ada kemungkinan kitab Barn dikarang oleh orang tersebut
karena kegeramannya atas penganiayaan dan dengan demikian secara diam-diam
mendukung agama Islam.

Dalam naskah bahasa Spanyol diungkapkan pula bahwa Mustafa de Aranda


melarikan diri ke Istambul (Turki). Peristiwa itu mungkin dapat memberi kejelasan
atas fakta bahwa catatan-catatan dalam bahasa Arab yang terdapat pada pinggiran
naskah yang berbahasa Italia memperlihatkan pengaruh Turki, sebagairnana
ditetapkan oleh para ahli.

Apakah dalam keseluruhannya masih dapat ditempatkan juga unsur-unsur Yahudi


yang terdapat dalam Barn? Salah satu unsur Yahudi ialah penyangkalan bahwa Yesus
adalah Mesias (Barn fasal 42 dan 96). Bahwa Yesus adalah Mesias (Almasih) tidak
disangkal dalam Alkitab dan tidak disangkal dalam Quran, melainkan oleh orang
Yahudi. Kisahnya mungkin begini: seorang Yahudi berkebangsaan Spanyol dipaksa
memeluk agama Katolik Roma dan harus mengikuti pendidikan Katolik Roma,
kemudian ia berkenalan dengan agama Islam lalu memeluk agama ini; sebagaimana
banyak orang lainnya dia meninggalkan Spanyol dan pergi ke Bologna (Italia), dan di
kota itu dikarangnya Barn baik dalam bahasa Italia maupun dalam bahasa Spanyol. 3
Walaupun uraian di atas tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara mutlak" namun
bermacam-macam unsur dalam Barn dapat dijelaskan olehnya.

BAB 4.

ISI "INJIL" BARNABAS

Kitab Barn tebal sekali bila dibandingkan dengan kitab-kitab Injil yang terdapat
dalam Perjanjian Baru. Jumlah fasalnya adalah 222. Banyaknya fasal itu
mengingatkan kita akan kitab-kitab Diatessaron yang timbul sepanjang sejarah
Gereja. Dalam kitab Diatessaron bahan-bahan dari keempat Injii digabungkan dan
dijadikan satu. Dan memang ada kitab-kitab Diatessaron yang dikarang dalam bahasa
Venezia dan dalam dialek Tuska. Nah, Barn pun untuk sebagian terdiri dari bahan-
bahan yang terdapat dalam keempat Injil Perjanjian Baru. Kaitannya dengan beberapa
Diatessaron bahasa-bahasa Italia sangat jelas kalau kita periksa isi Barn fasal 1-9.
Dalam Barn 1-9 berturut-turut kita baca tentang: -- pemberitahuan tentang kelahiran
Yesus -- mimpi Yusuf -- sensus penduduk -- kelahiran Yesus -- para gembala --
Yesus disunat -- para majus -- mimpi para majus -- Yesus diserahkan kepada Tuhan
di Bait Allah -- pembunuhan kanak-kanak di Betlehem -- pengungsian ke Mesir --
tindakan Yesus di Bait Allah.

Para pembaca yang mengenal isi Perjanjian Baru melihat bahwa bahan-bahan
tersebut merupakan gabungan dari Injil Matius dan Injil Lukas Yang menarik
perhatian ialah bahwa dalam sebuah Diatessaron dialek Tuska (fasal 3; 5-9; 12)
peristiwa-peristiwa tersebut di atas diceriterakan dalam urutan yang sama; sedangkan
peristiwa-peristiwa dalam Barn fasal 3-9 sejajar dengan fasal 6-11 dalam Diatessaron
dialek Venezia. Demikian juga masih dapat ditunjuk persamaan lain antara Barn
dengan kedua Diatessaron tersebut.

Dalam fasal 9 kita baca tentang segala macam kejadian lain dari hidup Yesus dan
ajaran Yesus dengan tekanan pada ajaran Yesus. Isinya kurang lebih dua pertiga
diambil dari keempat Injil. Misalnya, Yesus menyembuhkan seorang kusta (fasal 11);
Yesus memilih 12 rasul (fasal 14); Perlukah membayar pajak (fasal 31); dan
seterusnya.

Ada juga bagian-bagian yang sama sekali tidak mempunyai ikatan dengan Injil-Injil
Perjanjian Baru" misalnya judul fasal 22 yang berbunyi, "Keadaan yang menyedihkan
dari orang yang tidak disunat: seekor anjing lebih baik daripada mereka", atau
percakapan antara Abraham dengan ayahnya (fasal 26). Dalam fasal 35 kita baca
tentang terjadinya pusat: setan meludahi manusia, dan Gabriel membuang ludah itu
dan terjadilah pusat.

Peranan Ismael amat menonjol pula: di antara 10 orang kusta yang disembuhkan
terdapat seorang Ismaeli (fasal 19); Abraham harus mengorbankan anaknya Ismael
(fasal 44); kitab Torah dikarang oleh seorang Ismaeli (fasal 192), dan Allah adalah
Allah Abraham, Ishak dan Ismael (fasal 212).

Isi fasal-fasal terakhir banyak bedanya dengan keempat Injil. Sesudah perjamuan
Paskah dan pengkhianatan Yudas, Yesus mau ditangkap. Ketika serdadu-serdadu
mendekati Yesus "tibalah para malaikat kudus dan diambilnya Yesus dari jendela
yang menghadap ke sebelah selatan. Diangkatnya Yesus dan diletakkannya di surga
yang ketiga di tengah-tengah para malaikat yang memuji-muji Allah untuk selama-
lamanya" (fasal 215). "Dan berubahlah wajah Yudas menjadi wajah Yesus, sehingga
Yudas ditangkap dan disalibkan, padahal disangka Yesus yang dibunuh! Ketika
Yudas meninggal dan dikubur, para murid Yesus datang dan mencari mayat Yudas,
karena disangkanya tubuh Yesus" (fasal 218). Dalam fasal 219 Yesus menampakkan
diri kepada ibunya dan beberapa orang lain. Dalam fasal yang berikutnya (fasal 220)
Yesus berbicara kepada Barnabas, katanya, "Meskipun aku tiada bersalah di dunia,
aku disebut 'Allah' dan 'Anak Allah', maka supaya aku tidak akan diejek oleh setan-
setan pada hari kiamat, Allah berkehendak agar aku diejek oleh manusia dengan
matinya Yudas yang dikira akulah yang telah mati di kayu salib. Dan ejekan itu akan
terus berlangsung sampai datangnya Muhammad Rasul Allah, yang apabila ia datang
akan mengungkapkan penipuan kepada mereka yang percaya akan syariat Allah".
(Ayat ini aneh sekali. Andaikata Barn dikarang pada abad pertama, pengarangnya
sudah tahu bahwa kitabnya akan tersembunyi sampai datangnya Muhammad. Lalu
mengapa kitabnya itu ditulisnya?) Yesus diangkat ke surga oleh empat malaikat (fasal
221). Fasal 222 merupakan fasal terakhir yang berisi serangan atas mereka yang
menyebut Yesus Anak Allah seperti dilakukan oleh Paulus.

Yang menyolok dalam isinya ialah bahwa Yohanes Pembaptis sebagai perintis jalan
Yesus (periksalah dalam keempat Injil: Matius 3, Markus 2, Lukas 3 dan Yohanes 1)
sama sekali tidak disebut-sebut dalam Barn. Mungkin hal itu disebabkan karena
Yesus, yang dalam Barn disebut Mesias, bertindak sebagai perintis jalan, semacam
Yohanes Pembaptis bagi Muhammad. Padahal Yohanes Pembaptis disebut dalam Al-
Quran (Surah 19:12-15). Tentu saja timbul berbagai-bagai pertanyaan apa sebabnya
Barn membungkam tentang Yohanes Pembaptis.

Menyolok pula bahwa, berbeda dengan isi Injil-Injil, Barnabas merupakan salah
seorang dari 12 murid (fasal 14:100), bahkan seorang murid yang dengannya Yesus
mengadakan percakapan-percakapan khusus (fasal 112:221). Dalam Perjanjian Baru
Barnabas tidak termasuk orang-orang di sekitar Yesus. Baru dalam kitab Kisah Para
Rasul (4:36, dan seterusnya) sesudah kebangkitan Yesus, kita dengar tentang seorang
bernama Barnabas, namun orang itu tidak disebut dalam keempat Injil. Jadi di sini
pun kita lihat adanya kekeliruan sejarah dalam Barn.

BAB 5.

KESIMPULAN-KESIMPULAN

Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Barn sudah pasti tidak dikarang oleh seorang yang mengenal Yesus atau salah
seorang Rasul. Kitab Barn pasti tidak berasal dari abad-abad pertama sesudah
Masehi. Dari Gereja Purba, yakni abad-abad pertama sesudah Masehi, kita sama
sekali tidak memiliki satu naskah pun dari Barn, dan tidak ada bukti bahwa naskah
Barn pernah dikenal oleh Gereja Purba. Karena kurun jaman antara Barn dengan abad
pertama sesudah Masehi sedemikian jauhnya, tidak ada satu alasan pun untuk
menempatkan Barn sederajat bahkan melebihi Injil-Injil Perjanjian Baru.

Pengarang Barn hidup lebih dari sepuluh abad sesudah Masehi, sekurang-kurangnya
sesudah tahun 1300 dan kemungkinan besar dalam abad ke-16.
Ada kemungkinan sebagai orang Yahudi yang menjadi korban inkuisisi Gereja
Katolik Roma dan dipaksa hidup sebagai orang Kristen, Kemudian dia berkenalan
dengan agama Islam dan agaknya merasa tertarik kepada agama ini. Lalu
dikarangnya Barn untuk menunjukkan kepada orang akan arti Muhammad.1

Jadi meskipun Barn mengandung banyak bahan dari Injil-Injil Perjanjian Baru,
jelaslah arah pokoknya dan tujuan utama Barn berlainan sekali dengan arah dan
tujuan keempat Injil.

Catatan kaki:
1 Periksa Jan Slomp. Pseudo Barnabas in the context of Muslim-Christian
Apologetics, dalam Al-Mushir XVl (1474). hlm. 123-126.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dalam daftar ini dimuat judul-judul buku dalam bahasa Indonesia, Inggris dan
Belanda. Melalui kepustakaan tersebut orang dapat memperoleh lebih banyak bahan
bacaan dalam bahasa lain.

Dengan dicantumkannya judul-judul dalam daftar ini sama sekali tidak berarti bahwa
kedua pengarang buku ini menyetujui isinya.

Terbitan naskah-naskah

Ragg, Lonsdale and Laura, The Gospel of Barnabas, edited and translated from the
Italian Ms. in the Imperial Library at Vienna, Oxford, 1907.
Dalam buku ini dimuat juga seluruh naskah asli dalam bahasa Italia, dengan
terjemahannya dalam bahasa Inggris, dan kata pengantar yang panjang lebar.

J. Bachtiar Affandie, Indjil Barnaba, Djilid ke-I, Djakarta, 1969.

Husein Abubakar -- Abubakar Basjmeleh, Indjil Barnabas, terjemahan dalam bahasa


Indonesia, Bandung, 1970. Dengan Mukaddimah yang panjang lebar oleh Dr. Khalil
Saadah, dari tahun 1908, dan Mukaddimah oleh Sajid Muhammad Rasjid Ridha,
kedua-duanya dari Kairo.

Rahnip M, B.A., Terjemah Injil Barnabas, dengan diberi notasi ayat-ayat Qur'an,
Surabaya" 1980.
Bacaan-bacaan lain

C. Abbas, "Mahmud al 'Aqqad, The Gospel of Barnabas", Al-Akhbar, Cairo, 26-10-


1959; dicetak ulang dalam Al-Sharq wa-l-Gharb, Vol. 56, no. 10, December 1959,
hlm. 364-368; diterjemahkan oleh K. Cragg dalam The News Bulletin of the Near
East Christian Council, Eastertide 1961, hlm. 9-12.

Ali Ya'kub Matondang, Injil Barnaba benarkah merupakan suatu fitnah? Suara
Muhammadiyah, tahun ke-57, no. 6, 7, 8 (1977).

Bergema, H. Het 'evangelic naar Barnabas', dalam Christus prediking in de wereld,


studies op het terrein van de zendingswetenschap gewijd aan de nagedachtenis van
Prof. Drk Johan Herman Bavinck, Kampen, 1965.

Durrani, M.H., The Gospel versus the Gospels, Muslim News International, 1975,
Januari, hlm. 14-17 dan Februari, hlm. 25-28.

End, Th.v.d., Sejarah perjumpaan gereja dengan Islam, STTh Jakarta, 1976, hlm.
115-121.

Fletcher, J.E., The Spanish Gospel of Barnabas, Novum Testamentum, Vol. XVIII
(1976), hlm. 314-320.

Kritzingerk, J.W.J., A critical study of the Gospel of Barnabas, Religion in Southern


Africa, Vol. 1, no. 1, 1980. hlm. 49-65 Mirza Masum Beg, The Gospel of Barnabas,
Rawalpindi, 1973

Musaddad, K.H.A., Kedudukan Injil Barnabas menurut pandangan Islam, Bandung,


1970.

The Muslim World, Vol. XIII, no. 3, July 1923, hlm. 277-281, editor The Epiphany.

Peerbhai, Adam, Missing documents from the Gospel of Barnabas, Islamic Institute,
Durban (sekitar 1973).

Pines, Shlomo, The Jewish Christians of the Early Centuries of Christianity according
to a New Source, The Israel Academy of Science and Humanities Proceedings, Vol.
II, no. 13, Jerusalem, 1966.

Selim abd-ul Ahad and Temple Gairdner, Gospel of Barnabas, An Essay and
Enquiry, Madras, 1908. Terbitan baru buku ini dikerjakan oleh J. Slomp dan
diterbitkan oleh Henry Martin Institute of Islamic Studies, Hyderabad, India, 1975.
Sjalaby, Dr. Ahmad, Perbandingan Agama, Bahagian Agama Masehi, Djakarta, 1961,
hlm. 104-111.

Slomp, J., Pseudo-Barnabas in the context of Muslim-Christian Apologetics,


Christian Study Centre, 1974.

Slomp, J., The Pseudo-Gospel of Barnabas, Muslim and Christian evaluations,


Bulletin, Secretariatus Pro non Christianis, 1976, XI/I (1976), hlm. 68-77, Roma.
Karangan tersebut diterbitkan juga dalam Encounter, Documents for Muslim-
Christian Understanding, No. 18, Oct. 1977, Roma

Slomp, J., The Gospel in Dispute, A critical evaluation of the first French translation
with the Italian text and introduction of the so-called Gospel of Barnabas,
Islamochristiana IV, 1978, hlm. 67-111, Roma.

Suasso, H., S.J., Sekedar tjatatan mengenai "Indjil Barnabas". Orientasi, tahun III,
Djanuari 1971, himk 78-86, Jogjakarta.

Syrjanen, S., Dialogue between Muslims and Christians, Obstacles in the Pakistani
Situation, Temenos, Studies in Comparative Religion, presented by Scholars in
Denmark, Finland, Norway and Sweden, Vol. 12, 1976, hlm. 117-124.