Anda di halaman 1dari 37

ASKEP PNEUMOKONIOSIS

LATAR BELAKANG
Bidang kedokteran Okupasi dan Industri erat kaitannya
dengan peran bidang kedokteran yang berfokus pada kesehatan
para pekerja di lingkungan pekerjaannya, diantaranya bertujuan
agar pekerja memperoleh derajat setinggi-tingginya , baik secara,
fisik, mental maupun sosial. Ini bisa berarti bahwa sedapat mungkin
para pekerja mendapatkan kelayakan yang memuaskan di
lingkungan pekerjaannya. Jadi, bukan berarti pekerja hanya sebagai
bagian dari sistem produksi semata tanpa diperhatikan
kesejahteraan dan kesehatannya, namun lebih dari itu pekerja juga
diperhatikan masalah kesejahteraan khususnya kenyamanan dan
kesehatan di lingkungan kerjanya.
Kedokteran Okupasi juga melingkupi usaha-usaha strategis
baik preventif dan kuratif, menangani penyakit-penyakit yang
mungkin terjadi diakibatkan lingkungan pekerjaan yang memiliki
potensi berbahaya, mengancam keselamatan jiwa dan raga pekerja.
Keselamatan jiwa dan raga meliputi keselamatan hidup pekerja
dilingkungan pekerjaan & kesehatan pekerja. Dalam prakteknya,
para ahli kedokteran okupasi melakukan pengukuran/ pengujian /
analisa tertentu sehingga dapat melakukan koreksi pada lingkungan
pekerja, maupun memberikan saran terbaik untuk lingkungan
pekerja yang lebih kondisif, sehat, aman dan nyaman.
Perkembangan Industri di Indonesia memiliki dampak positif
dan negatif. Kemajuan perekonomian dan meningkatnya taraf hidup
masyarakat di sekitar perindustrian merupakan salah satu dampak
positif, namun dampak negatif yang ditimbulkan untuk beberapa
jenis industri tertentu justru mengkhawatirkan, karena mengancam
kesehatan dan lingkungan, diantaranya pencemaran udara ataupun

proses pengolahan bahan baku tertentu yang berpotensi bahaya


seperti debu batu bara, semen, kapas, asbes, zat-zat kimia, gas-gas
beracun, dan lainnya. Tergantung jenis paparan yg terhisap,
berbagai penyakit paru dapat timbul pada seseorang/pekerja.
Pengetahuan tentang dampak debu-debu berbahaya terhadap paru,
penting untuk dapat mengenali kelaianan/ gejala yang mungkin
terjadi serta jika memungkinkan dapat dilakukan usaha
pencegahan.
Maksud dan Tujuan
Untuk mengkaji tentang debu-debu berbahaya pada pekerja di
lingkungan pekerja sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan
dengan langkah-langkah yang tepat serta mengenali gejala-gejala
awal akibat debu-debu berbahaya tersebut, sehingga tindakan
kuratif yang lebih dini dapat diusahakan.
PEMBAHASAN
Saluran pernapasan pada manusia berhubungan dengan
udara yang dihirup. Udara yang dihirup tentu berasal dari
lingkungan sekitar manusia berada. Udara juga membawa partikelpartikel
kecil (debu) yang mungkin memiliki potensi berbahaya.
Dalam hal ini pekerja dengan lingkungan pekerjaan yang berdebu,
baik debu yang berbahaya dan tidak berbahaya, berikut ini akan
dikaji karakteristik debu. Debu Industri yang terdapat di udara
dibagi 2, yaitu partikel debu yang hanya sementara berada di udara
(deposit particulate matter) dan debu yang tetap berterbangan
bersama udara dan tidak mudah mengendap (Suspended
particulate matter). Sedang partikel yang dapat dihirup manusia
berukuran atara 0,1 hingga 10 mikron. Debu dengan ukuran 5-10
mikron bila terhirup akan tertahan dalam saluran napas bagian atas.
Untuk debu ukuran 3-5 mikron akan tertimbun dalam saluran napas

bagian tengah. Partikel debu dengan ukuran 1-3 mikron (debu


respirable) adalah yang paling berbahaya karena dapat tertahan
dan tertimbun mulai dari bronkiolus terminalis sampai alveoli. Debu
< 1 mikron tidak mudah mengendap di alveoli, debu dengan ukuran
0,1-0,5 mikron berdifusi dengan gerak Brown keluar masuk alveoli,
bila membentur alveoli dapat tertimbun juga. Meskipun batas debu
respirable adalah 5 mikron, namun debu ukuran 5-10 mikron
dengan kadar berbeda dapat masuk dalam alveoli. Debu berukuran
> 5 mikron akan dikeluarkan semuanya bila jumlahnya kurang dari
10 partikel/mm udara. Bila jumlahnya 1.000 partikel/mm udara,
maka 10%-nya akan tertimbun dalam paru.
Debu yang non-fibrogenik (tidak menimbulkan reaksi jaringan
paru) contohnya debu besi, kapur, timah. Debu debu ini dulunya
dianggap tidak merusak paru, di sebut juga debu inert. Namun
akhir-akhir ini diketahui bahwa tidak ada debu yang benar-benar
inert. Dalama jumlah banyak semua debu bersifat merangsang dan
menimbulkan reaksi walau ringan. Reaksi itu dapat berupa produksi
lendir yang berlebih, bila terus menerus berlangsung dapat terjadi
hiperplasia kelenjar mukus. Jaringan paru juga dapat berubah
dengan terbentuknya jaringan ikat retikulin. Penyakit ini disebut
pneumokoniosis non-kolagen. Sedang debu fibrogenik dapat
menimbulkan reaksi jaringan paru sehingga terbentuk fibrosis
(jaringan parut). Penyakit ini disebut Pneumokoniosis kolagen.
Termasuk debu fibrogenik adalah debu silika bebasm debu batu
bara, dan asbes.
Debu-debu yang masuk ke dalam saluran pernapasan
menyebabkan timbulnya reaksi pertahanan non-spesifik, antara lain
batuk, bersin, gangguan transport mukosilier dan fagositosis oleh
makrofag. Otot polos disekitar jalan napas dapat terangsang
sehingga menimbulkan penyempitan bronkus. Keadaan ini terjadi
bila kadar debu melebihi nilai ambang batas. Sistem mukosilier juga

mengalami gangguan dan menyebabkan produksi lendir bertambah.


Bila lendir makin banyak & mekanisme pengeluaran tidak
sempurna, dapat menyebabkan obstruksi saluran napas, sehingga
resistensi jalan napas meningkat. Sedangkan apabila partikel debu
masuk ke dalam alveoli akan membentuk fokus dan berkumpul, lalu
dengan sistem limfatika terjadi proses fagositosis debu oleh
makrofag. Debu yang bersifat toksik terhadap makrofag seperti
silika bebas menyebabkan terjadinya autolisis. Makrofag yang lisis
bersama silika bebas merangsang terbentuknya makrofag baru.
Makrofag baru memfagositosis silika bebas lagi terjadi autolisis lagi,
keadaan ini terjadi berulang-ulang. Pembentukan dan destruksi
makrofag yang terus menerus berperan penting pada pembentukan
jaringan ikat kolagen dan pengendapan hialin pada jaringan ikat
tersebut. Fibrosis ini terjadi pada parenkim paru, yaitu pada dinding
alveoli dan jaringan interstisial. Akibat fibrosis, paru menjadi kaku
sehingga dapat menyebabkan gangguan pengembangan paru,
kelaianan fungsi paru yang restriktif.
Penyakit paru yang dapat timbul karena debu selain
tergantung dari sifat-sifat debu, juga jenis debu, lama paparan dan
kepekaan individu. Pneumokoniosis biasanya timbul setelah
paparan bertahun-tahun. Apabila kadar debu tinggi / kadar silika
bebas tinggi dapat terjadi silikosis akut yang menimbulkan
manifestasi setelah terpapar 6 bulan. Dalam masa paparan yang
sama, kelainan yang timbul pada pekerja yang berbeda, dampaknya
bisa berbeda pula. Hal ini karena perbedaan kepekaan tubuh antar
para pekerja. Beberapa penyakit akibat debu antara lain adalah
asma kerja, bronkitis industri, pneumokoniosis batubara, silikosis,
asbestosis dan kanker paru.
Penyakit paru yang disebabkan oleh debu- debu berbahaya
disebut Pneumokoniosis. Nama dari setiap pneumokoniosis
tergantung dari debu yang memapar pekerja.

DEFINISI
Pneumokoniosis adalah penyakit paru-paru kronis yang disebabkan karena menghirup berbagai
bentuk partikel debu, khususnya di tempat kerja industri, untuk jangka waktu yang lama. Oleh
karena itu juga dikatakan penyakit paru kerja, yang merupakan bagian tertentu dari penyakit
terkait kerja yang terkait terutama untuk yang terkena zat berbahaya, apakah mereka gas atau
debu, di tempat kerja, dan gangguan paru yang mungkin Hasil dari itu. Tingkat keparahan dan
jenis pneumokoniosis tergantung pada apa partikel debu terdiri dari, misalnya, sejumlah kecil zat
tertentu, seperti asbes dan silika, dapat menyebabkan reaksi yang serius, sementara yang lain
mungkin tidak berbahaya.
Pneumokoniosis Pekerja Tambang Batu Bara
Penyakit terjadi akibat penumpukan debu batubara di paru
dan menimbulkan reaksi jaringan terhadap debu tersebut. Penyakit
ini terjadi bila paparan cukup lama , biasanya setelah pekerja
terpapar > 10 tahun. Berdasarkan gambaran foto Thorax dibedakan
atas bentuk simple dan complicated.
Simple Coal Workers Pneumoconiosis (Simple CWP) terjadi karena
inhalasi debu batubara saja. Gejalanya hampir tidak ada, dan bila
paparan tidak berlanjut maka penyakit ini tidak akan memburuk.
Penyakit ini dapat berkembang menjadi bentuk complicated.
Kelainan foto thorax pada simple CWP berupa perselubungan halus
bentuk lingkar, perselubungan dapat terjadi di bagian mana saja
pada lapangan paru, yang paling sering di lobus atas. Sering
ditemukan perselubungan bentuk p dan q. Pemeriksaan Faal Paru
biasanya tidak menunjukkan kelainan. Nilai VEP dapat sedikit
menurun sedangkan kapasitas difusi biasanya normal.
Complicated Coal Workers Pneumoconiosis atau Fibrosis Masif
Progresif (PMF) ditandai adanya daerah fibrosis yang luas hampir
selalu terdapat di lobus atas. Fibrosis biasanya terjadi karena satu
atau lebih faktor berikut :

1. Terdapat silika bebas dalam debu batubara.


2. Konsentrasi debu yang sangat tinggi.
3. Infeksi Mycobacterium tuberculosis atau atipik
4. Imunologi penderita buruk.
Pada daerah fibrosis dapat timbul kavitas dan ini bisa menyebabkan
pneumotoraks; foto thorax pada PMF sering mirip tuberkulosis,
tetapi sering ditemukan bentuk campuran karena terjadi emfisema.
Tidak ada korelasi antara kelainan faal paru dan luasnya lesi pada
foto thorax. Gejala awal biasanya tidak khas. Batuk dan sputum
menjadi lebih sering, dahak berwarna hitam (melanoptisis).
Kerusakan yang luas menimbulkan sesak napas yang makin
bertambah, pada stadium lanjut terjadi kor hipertensi pulmonal,
gagal ventrikel kanan dan gagal napas.
Penelitian pada pekerja tambang batubara di Tanjung Enim
tahun 1988 menemukan bahwa dari 1735 pekerja ditemukan 20
orang / 1,15% , foto thoraxnya menunjukkan gambaran
pneumokoniosis.
Silikosis
Penyakit ini terjadi karena inhalasi dan retensi debu yang
mengandung kristalin silikon dioksida atau silika bebas. Pada
berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan silika, penyakit
silikosis ini dapat terjadi , seperti pada pekerja :
1. Pekerja tambang logam dan batubara
2. Penggali terowongan untuk membuat jalan
3. Pemotongan batu seperti untuk patung, nisan
4. Pembuat keramik dan batubara
5. Penuangan besi dan baja
6. Industri yang memakai silika sebagai bahan, misalnya pabrik
amplas & gelas
7. Pembuat gigi enamel

8. Pabrik semen
Usaha untuk menegakkan diagnosis silikosis secara dini sangat
penting, oleh karena penyakit dapat terus berlanjut meskipun
paparan telah dihindari. Pada penderita silikosis, insidensi
tuberkulosis lebih tinggi dari populasi umum.
Secara klinis terdapat 3 bentuk silikosis, yakni silikosis akut, silikosis
kronik, silikosis terakselerasi.
*Silikosis Akut*
Penyakit dapat timbul dalam beberapa minggu, bila pekerja
terpapar dengan konsentrasi sangat tinggi. Perjalanan penyakit
sangat khas, yaitu gejala sesak napas yang progresif, demam,
batuk dan penurunan berat badan setelah paparan silika
konsentrasi tinggi dalam waktu relatif singkat. Lama paparan silika
berkisar antara beberapa minggu hingga 4 atau 5 tahun. Kelainan
Faal paru yang timbul adalah restriksi berat dan hipoksemia disertai
penurunan kapasitas difusi.
*Silikosis Kronik*
Kelainan pada penyakit ini mirip dengan pneumokoniosis pekerja
tambang batubara, yakni terdapat nodul yang biasanya dominan di
lobus atas. Bentuk silikosis kronik paling sering ditemukan, terjadi
setelah paparan 20 hingga 45 tahun oleh kadar debu yang relatif
rendah. Pada stadium simple, nodul di paru biasanya kecil dan
tanpa gejala/ minimal. Walaupun paparan tidak ada lagi, namun
kelainan paru dapat menjadi progresif sehingga terjadi fibrosis yang
masif.
Pada silikosis kronik yang sederhana, foto Thorax menunjukkan
nodul terutama di lobus atas dan mungkin disertai kalsifikasi. Pada
bentuk lanjut terdapat massa yang besar yang tampak seperti
sayap malaikat (angels wing). Sering terjadi reaksi pleura pada lesi

besar yang padat. Kelenjar hilus biasanya membesar dan


membentuk bayangan egg shell calcification. Jika fibrosis masif
progresif terjadi, volume paru berkurang dan bronkus mengalami
distorsi. Faal paru menunjukkan gangguan restriksi, obstruksi atau
campuran. Kapasitas difusi dan komplian menurun. Timbulnya
gejala sesak napas, biasanya disertai batuk dan produksi sputum.
Sesak pada awalnya terjadi saat aktivitas, kemudian pada waktu
istirahat dan akhirnya timbul gagal kardiorespirasi.
Di pabrik semen daerah cibinong (1987) dari 176 pekerja yang
diteliti ditemukan silikosis sebanyak 1,13% dan diduga silikosis
1,7%. Pada tahun 1991 penelitian pada 200 pekerja pabrik semen
ditemukan dugaan silikosis sebanyak 7%. Perbedaan angka yang
didapat, diduga karena perbedaan kualitas foto thorax, dan kadar
silika bebas dalam debu yang memapari pekerja.
*Silikosis Terakselerasi*
Bentuk kelainan ini serupa dengan silikosis kronik, hanya saja
perjalanan penyakit lebih cepat dari biasanya, menjadi fibrosis
masif, sering terjadi infeksi mikobakterium tipikal / atipik. Setelah
paparan 10 tahun sering terjadi hipoksemia yang berakhir dengan
gagal napas.
Asbestosis
Penyakit ini terjadi akibat inhalasi debu asbes, menimbulkan
pneumokoniosis yang ditandai dengan fibrosis paru. Paparan dapat
terjadi di daerah industri dan tambang, atau daerah yang udaranya
terpolusi debu asbes. Pekerja yang dapat terkena asbestosis adalah
pekerja tambang, penggilingan, trransportasi, pedagang, pekerja
kapal dan pekerja penghancur asbes.
Pada stadium awal mungkin tidak ada gejala meskipun foto Thorax
menunjukka gambaran asbestosis / penebalan pleura. Gejala utama

adalah sesak napas yang pada awalnya terjadi pada waktu


aktivitas. Pada stadium akhir gejala yang umum adalah sesak napas
pada saat istirahat, batuk, dan penurunan berat badan. Sesak napas
terus memburuk meskipun penderita dijauhkan dari paparan asbes,
15 tahun sesudah awal penyakit biasanya terjadi kor pulmonal dan
kematian. Penderita sering mengalami infeksi saluran napas,
keganasan pada bronkus, gastrointestinal dan pleura sering menjadi
penyebab kematian.
Pada stadium awal, pemeriksaan fisik tidak banyak menunjukkan
kelainan, akibat fibrosis difus dapat terdengar ronki basah di lobus
bawah bagian posterior. Bunyi ini makin jelas bila terjadi
bronkiektasis (penyakit yang ditandai dengan adanya dilatasi
bronkus yang bersifat patologis dan berlangsung kronik) akibat
distorsi paru yang luas karena fibrosis. Jari tabuh (Clubbing finger)
sering ditemukan pada penderita asbestosis.
Perubahan pada foto Thorax lebih jelas pada bagian tengah dan
bawah paru, dapat berupa bercak difus atau bintik-bintik putih,
bayangan jantung sering menjadi kabur. Diafragma dapat meninggi
pada stadium lanjut larena paru yang mengecil. Penebalan pleura
biasanya terjadi bilateral, terlihat di daerah tengah dan bawah
terutama bila timbul kalsifikasi. Bila proses lanjut, terlihat gambaran
sarang tawon di lobus bawah. Mungkin ditemukan keganasan
bronkus atau Mesothelioma ( Kanker pleura ). Berbeda dengan
pneumokoniosis batubara dan silikosis yang penderitanya dapat
mempunyai gejala sesak napas tanpa kelainan foto Thorax.
Pemeriksaan faal paru menunjukkan kelainan restriksi meskipun
tidak ada gejala ,pada sebagian penderita terdapat kelainan
obstruksi. Kapasitas difusi dan komplians paru menurun, pada tahap
lanjut terjadi hipoksemia.
Biopsi paru mungkin perlu pada kasus tertentu untuk menegakkan
diagnosis. Biopsi paru transbronkial hendaknya dilakukan untuk

mendapatkan jaringan paru. Pemeriksaan bronkoskopi juga berguna


menyingkirkan atau mengkonfirmasi adanya karsinoma bronkus
yang dapat terjadi bersamaan dengan kejadian asbestosis.
ETIOLOGI
Pneumokoniosis bisa disebabkan oleh terhirupnya debu logam besi, perak/kaleng dan barium.
Siderosis terjadi sebagai akibat dari terhirupnya oksida besi, baritosis terjadi karena menghirup
barium dan stannosis terjadi karena terhisapnya unsur-unsur perak. Pemaparan debu besi terjadi
pada proses penambangan, penggilingan dan pemotongan logam.
Terhirupnya debu besi, perak maupun barium, menyebabkan perubahan struktur paru yang
sangat ringan sehingga hanya menimbulkan sedikit gejala. Tetapi reaksi jaringan ini bisa terlihat
pada rontgen dada sebagai sejumlah besar daerah-daerah kecil yang tidak tembus cahaya. Selama
proses inspirasi (menghirup udara), partikel debu di udara yang memiliki garis tengah lebih dari
10 mm, disaring oleh bulu-bulu di hidung. Partikel debu lainnya, yang masuk melalui mulut,
disimpan di dalam saluran pernafasan bagian atas.
Partikel debu yang berdiameter 5-10 mm, cenderung akan tinggal di dalam lendir yang
menyelimuti bronkus dan bronkiolus, kemudian disapu ke arah tenggorokan oleh rambut-rambut
lembut (silia). Dari tenggorokan mereka akan dibatukkan atau dibuang, tetapi beberapa
diantaranya ada yang tertelan. Partikel berdiameter kurang dari 5 mm, lebih mudah mencapai
jaringan paru-paru.
Jenis Etiologi
Coal Worker Pneumokoniosis
(CWP) Batu Bara
Silikosis Silika
Asbestosis Asbes
Siderosis Besi
Berryliosis Berilium

MANIFESTASI KLINIS
a. Dispnea,pada pasien yang mengalami dispnea menjadi buruk serta progresif
b. Pneumoconiosis umumnya Batuk nonproduktif kecuali apabila terjadi bronchitis kronis
c. Restriksi hebat volume inspirasi serta nadi cepat dan bersambung
d. Dapat terjadi sianosis akibat penurunan ventilasi disertai penurunan kecepatan difusi

PATOFISIOLOGI
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Partikel infeksius difiltrasi
di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas.
Bila suatu partikel (virus/bakteri) dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan
dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Pada saat
tubuh mengalami perubahan pertahanan anatomis dan fisiologis, maka partikel infeksius tersebut
dapat mencapai paru, kemudian menyebar dan menyebabkan pneumonia. Lebih dari 40 mineral
dihirup menyebabkan lesi paru-paru dan kelainan x-ray. Sebagian besar, seperti timah, barium,
dan besi, relatif berbahaya dan menumpuk di paru-paru dalam cara yang sama seperti batu bara,
tetapi tidak menghasilkan atau fungsional kelainan morfologi. Debu asbes masuk ke dalam tubuh
melalui berbagai cara. Antara lain dengan mengisap debu ketika bernapas, menelannya bersama
ludah dan dahak, atau mengonsumsi makanan serta minuman yang mengandung sejumlah kecil
serat-serat tersebut. Sebagian serat yang tertelan diduga menembus dinding usus, tetapi migrasi
selanjutnya dalam tubuh tidak diketahui. Setelah masa laten yang panjang, antara 20-40 tahun,
serat tersebut bisa menimbulkan kanker paru.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Penyakit paru akibat debu industri mempunyai gejala dan
tanda yang mirip dengan penyakit paru lain yang tidak disebabkan
oleh debu dilingkungan kerja. Untuk menegakan diagnosis perlu
dilakukan anamnesis yang teliti meliputi riwayat pekerjaan, dan halhal
yang berhubungan dengan pekerjaan, karena penyakit biasanya

baru timbul setelah paparan yang cukup lama. Anamnesis


mengenai riwayat pekerjaan yang akurat dan rinci sangat
diperlukan, apabila penderita sering berganti tempat kerja.
Berbagai faktor yang berhubungan dengan pekerjaan dan
lingkungan perlu diketahui secara rinci. Karena menunjang
penegakan diagnosa penyakit paru yang mungkin diakibatkan oleh
pekerjaan / lingkungan pekerjaan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG/ DIAGNOSTIK
Pemeriksaan penunjang yang penting untuk menegakkan
diagnosis dan menilai kerusakan paru akibat debu adalah
Pemeriksaan Radiologis dan Pemeriksaan Faal Paru dengan
Spirometri. Pemeriksaan foto thorax sangat berguna untuk melihat
kelainan yang ditimbulkan oleh debu pada Pneumokoniosis.
Klasifikasi Standar menurut ILO dipakai untuk menilai kelainan yang
timbul. Pembacaan foto Thorax pneumokoniosis perlu dibandingkan
dengan foto standar untuk menentukan klasifikasi kelainan. Kualitas
foto harus baik atau dapat diterima untuk dapat
menginterpretasikan kelainan paru lewat foto Rontgen.
Pemeriksaan penunjang lain yang bisa digunakan untuk keperluan
penegakan diagnosis adalah CT Scan, BronchoAlveolar Lavage
(BAL), Biopsi.
Pemeriksaan Faal Paru
Pemeriksaan faal paru yang sederhana, cukup sensitif dan
bersifat reprodusibel serta digunakan secara luas adalah
Pemeriksaan Kapasitas Vital Paru dan Volume Ekspirasi Paksa pada
detik pertama. Selain berguna untuk menunjang diagnosis juga
perlu untuk melihat laju penyakit, efektivitas pengobatan dan
menilai prognosis. Pemeriksaan sebelum seseorang bekerja dan
pemeriksaan berkala setelah bekerja dapat mengidentifikasi

penyakit dan perkembangannya, pada pekerja yang sebelumnya


tidak memiliki gejala.
Pemeriksaan faal paru lain yang lebih sensitif untuk
mendeteksi kelainan di saluran napas kecil adalah pemeriksaan
Flow Volume Curve dan Volume of Isoflow. Pengukuran kapasitas
difusi paru (DLCO) sangat sensitif untuk mendeteksi kelainan di
interstisial, tetapi pemeriksaan ini rumit dan memerlukan peralatan
yang lebih canggih, dan tidak dianjurkan digunakan secara rutin.
Pekerja yang pada pemeriksaan awal tidak menunjukkan kelainan,
kemudian menderita kelainan setelah bekerja dan penyakitnya
terus berlanjut, dianjurkan untuk menukar pekerjaannya. Ini bisa
berarti beralih pekerjaan, atau pindah pada bagian/divisi yang lain
di dalam komunitas para pekerja.

PENATALAKSANAAN
a. Pengobatan ditujukan untuk mengurangi parmasalahan lebih lanjut dan factor aktif lain,
seperti merokok
b. Pencegahan dan pengobatan untuk komplikasi misalnya pneumonia dengan antibiotic juga
perlu dilakukan.
c. Penekanan debu dengan pengendalian teknis dimana Pekerja harus memakai masker, tutup
kepala bertekanan.
d. Pemberian oksigen jika terjadi komplikasi lebih lanjut.
e. Bila terjadi gagal nafas, berikan nutrisi dengan kalori yang cukup.

PRINSIP-PRINSIP /ASPEK LEGAL ETIK


a.

Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu
membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat

sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang
lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai
persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian
dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan
otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan
dirinya.
b.

Berbuat

baik

(Beneficience)

Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan
dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan
oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara
prinsip

ini

dengan

c.

otonomi.

Keadilan

(Justice)

Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek
profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan
keyakinan
d.

yang

benar
Tidak

untuk

memperoleh
merugikan

kualitas

pelayanan

kesehatan.

(Nonmaleficience)

Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.
e.

Kejujuran

(Veracity)

Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan
kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien
sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan
kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk
memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya
kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani
perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk
kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya

hubungan paternalistik bahwa doctors knows best sebab individu memiliki otonomi, mereka
memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan
dasar
f.

dalam

membangun

hubungan

Menepati

saling

janji

percaya.
(Fidelity)

Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang
lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia klien.
Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang
dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan
bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah
penyakit,
g.

memulihkan

kesehatan
Karahasiaan

dan

meminimalkan

penderitaan.
(Confidentiality)

Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien.
Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam
rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali
jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan,
menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus
dihindari.
h.

Akuntabilitas

(Accountability)

Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat dinilai
dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

PERAN ADVOKASI PERAWAT


Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antar klien dengan tim kesehatan
lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan membantu klien
memahami semua informasi dan upeya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan
pendekatan tradisional maupun professional. Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat
bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya

kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam menjalankan peran sebagai advokat, perawat
harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan
keperawatan.
Selain itu, perawat juga harus dapat mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, antara lain
:
a. Hak atas informasi ; pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan
yang berlaku di Rumah Sakit/ sarana pelayanan kesehatan tempat klien menjalani perawatan
b. Hak mendapat informasi yang meliputi antara lain; penyakit yang dideritanya, tindakan medic
apa yang hendak dilakukan, alternative lain beserta resikonya, dll.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PNEUMOCONIOSIS


Pengkajian Data Dasar
1.

Data yang perlu di kaji :

a.

Identitas klien meliputi ( Nama, umur, alamat, agama, dan jenis kelamin )

b.

Keluhan utama atau alas an

c.

Riwayat keluarga

d.

Pola aktivitas

e.

Mekanisme koping

f.

Pengetahuan

2.

Kaji faktor faktor yang menyebapkan pneumoconiosis :

Faktor - factor pencetus :


a.

Allergen (serbuk, debu, kulit, serbuk sari atau jamur)

b.

Stress emosional

c.

Aktivitas fisik yang berlebihan

d.

Polusi udara

e.

Infeksi saluran nafas

f.

Kegagalan program pengobatan yang dianjurkan

Faktor faktor penunjang :


a. Merokok produk tembakau sebagai factor penyebab utama
b. Tinggal atau bekerja daerah dengan polusi udara berat
c. Riwayat alergi pada keluarga
3.

Pemeriksaan fisik berdasarkan focus pada system pernafasan yang meliputi :


a.

Kaji frekuensi dan irama pernafasan

b.

Inpeksi warna kulit dan warna menbran mukosa

c.

Auskultasi bunyi nafas

d.

Pastikan bila pasien menggunakan otot-otot aksesori bila bernafas :


1. Mengangkat bahu pada saat bernafas
2. Retraksi otot-otot abdomen pada saat bernafas
3. Pernafasan cuping hidung

4. Kaji bila ekspansi dada simetris atau asimetris


5. Kaji bila nyeri dada pada pernafasan
6. Kaji batuk (apakah produktif atau nonproduktif). Bila produktif tentukan warna sputum.
7. Tentukan bila pasien mengalami dispneu atau orthopneu
8. Kaji tingkat kesadaran.
Pemeriksaan diagnostik meliputi :
a.

Gas darah arteri (GDA) menunjukkan PaO2 rendah dan PaCO2 tinggi

b.

Sinar X dada memunjukkan peningkatan kapasitas paru dan volume cadangan

c.

Klutur sputum positif bila ada infeksi

d.

Esei imunoglobolin menunjukkan adanya peningkatan IgE serum

e.

Tes fungsi paru untuk mengetahui penyebab dispneu dan menentukan apakah fungsi

abnormal paru ( obstruksi atau restriksi).


f.

Tes hemoglobolin.

g.

EKG ( peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF dan aksis vertikal.

Kaji persepsi diri pasien


Cara pengkajian persepsi pneumoconiosis :

a.

Deskriptif verbal tentang penyakit pneumoconiosis.

b.

Informasi yang di perlukan harus mengambarkan pneumoconiosis individual.

Diagnosa Keperawatan
Beberapa diagnose keperawatan yang mungkin muncul pada pasien pneumoconiosis :
1.

Tak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret atau

sekresi kental.
2. Ansietas berhubungan dengan sulit bernafas dan ketakutan akan sufokasi
3.

Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan batuk, ketidakmampuan melakukan posisi

terlentang, rangsang lingkungan


4.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hilangnya nafsu makan

dan mual muntah


5.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas

6.

Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan proses penyakit kronis

7.

Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim paru

8.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan

Kesalahan interpretasi
9.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan

oksigen
10. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam, berkeringat,
muntah

Rencana Keperawatan
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen Dan Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan
berhubungan dengan Kesalahan interpretasi
Tujuan :
-

Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas

Menyatakan pemahaman kondisi,proses penyakit dan pengobatan

Kriteria hasil :
- Tidak adanya dispnea, kelemahan dan tanda vital dalam rentang normal.
- Melakukan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan
NO.
1.

INTERVENSI
Kaji fungsi normal paru,patologi kondisi

RASIONA
-

Menin

Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.

Memi

Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal

Kelem

2.
medic
3.
Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif / latihan pernafasan

Setela

Upay

Identifikasi tanda/gejala yang memerlukan pelaporan pemberian perawatan


4.

kesehatan.

5.

SATUAN ACARA PENYULUHAN


(SAP)

Tema

: Penyakit Pneumokoniosis
Sub Tema

: Perawatan Penyakit Pneumokoniosis

Sasaran

: Ny. E

Tempat

: Bangsal Di rumah sakit

Hari/Tanggal

: Rabu, 14 Oktober 2011

Waktu

A.

: 20 Menit

Tujuan Instruksional Umum


Setelah mengikuti penyuluhan selama 20 menit, diharapkan Ny. E dapat menjelaskan penyakit
Pneumokoniosis.

B.

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mengikuti penyuluhan selama 20 menit, diharapkan Klien Dapat:

Menjelaskan pengertian penyakit Pneumokoniosis dengan benar

Menyebutkan faktor penyebab yang dapat menimbulkan penyakit Pneumokoniosis

Menyebutkan tanda/gejala dari penyakit Pneumokoniosis

Menjelaskan penatalaksanaan penyakit Pneumokoniosis

C.

Materi

1.

Pengertian penyakit Pneumokoniosis

2.

Patofisiologi penyakit Pneumokoniosis

3.

Faktor penyebab dari penyakit Pneumokoniosis

4.

Tanda/gejala penyakit Pneumokoniosis

5.

Penatalaksanaan penyakit Pneumokoniosis

D.

Metode

1.

Ceramah

2.

Tanya jawab

E.

Kegiatan Penyuluhan
No
1.

Kegiatan
Pembukaan

Penyuluh
Salam pembuka

Peserta
Menjawab salam

Menyampaikan tujuan

Menyimak,

penyuluhan
2.

Kerja/ isi

Mendengarkan, menjawab
pertanyaan
pengertian,
Mendengarkan

Penjelasan
penyebab,

5 Menit

dengan

gejala, penuh perhatian

penatalaksanaan

dan

patofisiologi penyakit

Menanyakan

hal-hal

yang belum jelas

Pneumokoniosis
Memberi

Waktu

Memperhatikan jawaban

10 menit

kesempatan dari penceramah

peserta untuk bertanya

Menjawab pertanyaan

Menjawab pertanyaan
Evaluasi
3.

Penutup

Menyimpulkan

Mendengarkan

Salam penutup

Menjawab salam

F.

Media

1.

Leaflet : Tentang penyakit Pneumokoniosis

G.

Sumber/Referensi

a.

Doenges, E. Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3. EGC : Jakarta.

b.

Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.

c.

FKUI. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1. FKUI : Jakarta.

d.

Griffith. 1994. Buku Pintar Kesehatan. Arcan : Jakarta.

5 Menit

H.

Evaluasi
Formatif

: Klien dapat menjelaskan pengertian penyakit Pneumokoniosis

Klien mampu menjelaskan faktor penyebab dari penyakit


Pneumokoniosis
Klien dapat menjelaskan tanda/gejala penyakit
Pneumokoniosis
Klien mampu menjelaskan penatalaksanaan penyakit
Pneumokoniosis
Sumatif

: Klien dapat memahami penyakit penyakit Pneumokoniosis

Yogyakarta, Rabu 13 Oktober 2011


`

Penyuluh

(Windayona Hadi Prasetya)

Pengobatan dan Pencegahan


Tidak ada pengobatan spesifik dan efektif pada penyakit paru
yang disebabkan oleh debu industri. Penyakit biasanya memberi
gejala bila kelainan telah lanjut. Pengobatan umumnya bersifat
simtomatis, yaitu hanya mengobati gejala saja. Obat-obat yang
diberikan bersifat suportif. Tindakan pencegahan merupakan
tindakan yang paling penting pada penatalaksanaan penyakit paru

akibat debu industri.

JURNAL
Title:Extraction of features for diagnosing pneumoconiosis from chest radiographs
obtained with a CCD scanner
Author(s):Koji Abe , Masahide Minami and Munehiro Nakamura
Source:Journal of Digital Information Management. 8.3 (June 2010): p147.From Gale Art and
Engineering Lite Package.
Document Type:Report
Abstract:
This paper presents a computer-aided diagnosis forpneumoconiosis radiographs obtained with a
common CCD scanner. Since the existing diagnosis systems for pneumoconiosis extract
abnormalities of pneumoconiosis from images obtained with a special scanner which can
appropriately apply for chest radiographs, it is difficult to apply the systems to images obtained
with a CCD scanner due to unclear shadow and the systems are not practical for medical doctors
due to high costs. In the unclear images, the abnormal levels ofpneumoconiosis could depend on
density distribution in each of intercostal and rib areas. Therefore, the proposed method measures
the abnormalities by extracting characteristics of the distribution in the areas. Besides, using the
abnormalities, the proposed method classifies the images into the three categories
of pneumoconiosis. Experimental results of the classifications for 51 right-lung images
including 6pneumoconiosis images have shown that the proposed abnormalities are well
extracted according to the standards of pneumoconiosiscategories.
Categories and Subject Descriptors
J 3 [Medical Information Systems]; I.4 [Image Processing and Computer Vision]: Segmentation
General Terms: Image classification, Medical image segmentation
Keywords: Computer-aided diagnosis, Pneumoconiosis, Chest radiographs, Medical image
processing

Full Text:
1. Introduction
Pneumoconiosis is interstitial lung disease caused by inhaling fine particles (e.g.,
coal pneumoconiosis). In recent years, in addition to coal workers, dental technicians are
suffered from the disease. However, since it is difficult for even experts on pneumoconiosis to
diagnose pneumoconiosis, disagreement between medical doctors is often happened. Besides,
educations of the diagnosis for inexperienced doctors have been conducted based on only
experience of the experts. For the reasons, CAD (computer-aided diagnosis) systems for
evaluatingpneumoconiosis have been required as a second opinion for medical doctors.
CAD systems for pneumoconiosis have been reported since 1970s [1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9]. Their
measurements of abnormalities forpneumoconiosis are broadly distinguished into two ways: the
one measures the abnormalities extracting features obtained by texture analysis [1, 2, 3, 4, 5],
another one extracts small round opacities from lung images and measures their size and number
as well as the real diagnosis by doctors [6, 7, 8, 9]. All the systems have been proposed to images
obtained with a special scanner such as a drum scanner or a film scanner. Therefore, in the case
when the systems are applied in general hospitals, it is necessary to put the special scanner, or to
order scanning chest radiographs to a printing company in spite of high cost. And, since the size
of the special scanner for chest radiographs is not small, the scanner has no mobility. Hence, if
there is a CAD system forpneumoconiosis which can be applied for images obtained with a
common CCD scanner, the CAD system could be significantly managed in hospitals. However,
since clearness of the shadow in lungs obtained with a CCD scanner is far worse than lungs
obtained with the special scanners and the small round opacities are also not appeared clearly, the
existing CAD systems cannot be applied to images obtained with a CCD scanner.
To enhance cost-performance and mobility of CAD forpneumoconiosis, this paper proposes a
method for extracting abnormalities of pneumoconiosis from images obtained with a common
CCD scanner. In addition, using the abnormalities, the proposed method diagnoses the images by
classifying

the

images

into

the

categories

ofpneumoconiosis defined

in

the

Japanese Pneumoconiosis Law. The proposed CAD system is composed with a CCD scanner
and a tablet PC. The abnormalities are measured by extracting characteristics of density
distribution in each of intercostal and rib areas. The tablet PC is used to draw edges of ribs on the

images, i.e., boundaries between intercostal and rib areas are input manually. And
then, pneumoconiosis treated in this paper means silicosis as well as all the existing literatures
on CAD for pneumoconiosis.
In

Section

2,

we

introduce

the pneumoconiosis categorization

defined

in

Japanese Pneumoconiosis Law. In Section 3, we examine difference of shadow clearness in


lungs between images obtained with a drum scanner and a CCD scanner. In Section 4, we
propose a method for extracting abnormalities of pneumoconiosis. And then, in Section 5, we
confirm performance of the proposed method from experimental results obtained by
classifications of the images according to thepneumoconiosis categorization.
2. Pneumoconiosis Categorization
The severity of pneumoconiosis is indicated by profusion of small round opacities, where
categories 0-4 have been established. Normal radiographs belong to category 0, where the
opacities are not observed visually. And, abnormal ones belong to category 1, 2, 3, or 4, where
the most serious level is category 4 and the opacities are observed most in category 4. Although
medical

doctors

diagnose pneumoconiosisaccording

to

the

criteria

and

the

standard pneumoconiosis radiographs prepared to every category, their own experience much
depends on the diagnosis because they need to observe subtle difference between a target and the
standard radiographs visually in the diagnosis.
The criteria are defined in the Japanese Pneumoconiosis Law in accordance with criteria
of pneumoconiosis in ILO (The International Labour Organization) and the Japanese
standard pneumoconiosisradiographs have been provided by the Ministry of Health, Labor and
Welfare, Japan.
3. Visual Difference between Pneumoconiosis Radiographs Obtained with CCD Scanner and
Drum Scanner
Figure 1 shows a chest radiograph image obtained with a drum scanner and a histogram of pixel
values in the part shown in the image. On the other hands, Figure 2 shows a chest image obtained
with a CCD scanner and a histogram of pixel values in the part shown in the image, where the
chest radiograph for the image is the same one shown in Figure 1 and the location of the part is
also the same as Figure 1. From both of the histograms, we can see their distributions are quite

different. Thus, since CCD scanner can not accurately reproduce permeable films such as
radiographs, the visibility of lung in the image obtained with CCD scanner is considerably lower
than drum scanner. For the reason, it is suggested that the existing systems [6, 7, 8, 9] can not
extract small round opacities from chest radiograph images obtained with CCD scanner.
Similarly, since the texture analysis is significantly affected by the image quality, texture analysis
[1, 2, 3, 4, 5] could not effectively extract features from the images. Therefore, it would be
necessary to propose a novel method to design a CAD for pneumoconiosis in radiograph images
obtained with CCD scanner.
[FIGURE 1 OMITTED]
[FIGURE 2 OMITTED]

4. Proposed Method
4.1 Determination of Target Areas for Extracting the Abnormalities
Although most of the small round opacities have been disappeared in chest radiograph images
obtained with CCD scanner, we could perceive characteristics of pneumoconiosis radiographs in
each category. In images of category 0, opacities are not found. In images of category 1, a few
opacities are observed around rib edges. And, in images of category 2, numerous opacities are
observed in rib areas. Besides, in images of category 3, the opacities are much observed than
category 2 in both of intercostal and rib areas. As other characteristics ofpneumoconiosis images
obtained with CCD scanner by the observation: 1) density in outside of the lung area is higher
and inside of the lung area is lower than drum scanner, and, 2) the opacities tend to appear
around rib edges since the contrast is extremely high near the edges. Thus, for the sake of a CAD
for pneumoconiosis obtained with CCD scanner, it could be effective to obtain boundaries
between intercostal and rib areas and extract characteristics ofpneumoconiosis from the areas. In
this paper, since images of category 4 can be clearly distinguished at a glance, we deal with only
categories 0-3.
In the proposed CAD system, the diagnosis is conducted with a CCD scanner and a tablet PC,
where the tablet PC is used to draw rib edges manually. First, the user draws the 10 rib edges on
the images obtained with the CCD scanner with the tablet PC and images where the edges were

drawn are prepared. Next, using the images, the proposed abnormalities of pneumoconiosis are
measured based on the density distribution in each of intercostal and rib areas. Finally, using the
abnormalities, the pneumoconiosis categorization is performed.
4.2 Preprocessing
The CCD scanner converts chest radiographs into digital images with 8 bits of gray level. And
since the whole density of the images is very low an d the range of their gray level is not
maximally used as shown in Figure 2, a normalization such as moving normalization [9] would
be needed. However, the moving normalization could emphasize harmful parts such as vessel's
shadows. Hence, the normal normalization is applied to the images. After then, to reduce noises
in the images, the selective local averaging is repeated twice.
[FIGURE 3 OMITTED]

4.3 Determination of Target Areas for Extracting the Abnormalities


In order to extract characteristics of pneumoconiosis from the density distribution in the lung
area, considering characteristics of lung images obtained with CCD scanner shown above, it is
necessary to extract intercostal and rib areas separately. Regarding the extraction, an automatic
segmentation of ribs in chest radiographs was reported [10]. However, this method would not be
appropriate for the extraction because the segmented ribs would include unnecessary parts for
the extraction such as heart shadow, and the method has not been examined as an application for
images obtained with CCD scanner.
In the proposed CAD, the areas are extracted by drawing boundaries between intercostal and rib
areas manually using the tablet PC as shown in Figure 3(a). Concretely, the image is displayed
on the tablet PC and the user draws 10 rib edges on the image with the tablet PC according to a
rule for drawing we prepared. Pixel values of the drawn rib edges are quantized as 255 (white)
and the other parts are quantized between 0 and 254 in advance. Then, only the edges are
extracted by the labeling for pixel value of 255 as shown in Figure 3(b). Next, a curve is obtained
by B-spline functions with the ten coordinates located at the most outside of the rib edges as
shown in Figure 3(c). It means the curve is obtained along the outside of a lung. And, shifting the
curve to the inside of the lung horizontally, both of side boundaries in the rib and intercostal

areas are obtained as shown in Figure 3(d). Figure 3(d) shows target areas for extracting
abnormalities of pneumoconiosis, where R1, R2, R3, and R4 are the rib areas, and I1, I2, I3, and
I4 are the intercostal areas. Among the areas extracted by the 10 edges, the most upper area is not
used (as R0) because the shadow of the collarbone appears in the area depending on participants.
[FIGURE 4 OMITTED]
4.4 Extraction of Abnormalities
Resulting from examinations of density distribution in the target areas, we obtained the following
characteristics: 1) the lung field keeps bright only at the outside, where we can
distinguish pneumoconiosis from normal chests, 2) the density of rib edges is specially high and
pixels around the edges have lower values as distance between the pixels and the edges is much,
and 3) the opacities are appeared randomly. The four pixel values shown in Figure 4 represent
these characteristics. Considering the characteristics, the abnormalities of pneumoconiosisare
extracted from each of the rib and intercostal areas as below.

Regarding the curve shown in Figure 3(c) as the initial scanning line for all the target areas, the
value 1 is put into the scanning number k, which increases 1 whenever the curve once shifts 1
pixel to the inside of the lung. And then, when the central pixel of the curve segment between
two edges which determine a rib area R is regarded as c1, the abnormality of pneumoconiosis in
the first scanning is defined as
[MATHEMATICAL EXPRESSION NOT REPRODUCIBLE IN ASCII.] (1)

where diamtr[1] is the number of pixels which form the curve segment between [c.sub.1] and
one of the intersections at which the curve and the edges cross each other (i.e., diamtr[1] is half
of the length of the curve segment); u[1 j] and l[1 j] are pixel values of they th scanning spots
when a scanning is conducted from [c.sub.1] to each of the upper intersection and the lower one
along the curve. abn(R[1]) represents mean of [[absolUte value of u [1, f] - l [1, j]].sup.2] in the

first scan for the rib area. By shifting the curve horizontally toward the inside of the lung by 1
pixel until the another side boundary of the rib area, the abnormality in a rib area [R.sub.m] (m =
1, 2, 3, or 4) is given by
[MATHEMATICAL EXPRESSION NOT REPRODUCIBLE IN ASCII.] (2)
where [lenght.sub.m] is the number of the shifts in [R.sub.m], diam r[k] is the number of pixels
which form the curve segment between [c.sub.k] and one of the intersections at which the kth
scanning curve and the edges cross each other, and then, w[k, j], and l[k, j] are pixel values of the
jth scanning spots when the kth scanning is conducted from [c.sub.k] to each of the upper
intersection and the lower one along the k th scanning curve, respectively. Abn([R.sub.m])
represents the mean of abn obtained from all the scanning curves in [R.sub.m]. Since the number
of the rib areas is 4, the abnormality obtained from all the rib areas [Abn.sub.R] is defined as

[MATHEMATICAL EXPRESSION NOT REPRODUCIBLE IN ASCII.] (3)

where diamtr[m, k], w[m, k, j], and l[m, k, j] are diamtr[k], w[k, j], and l[k, j] in [R.sub.m],
respectively, and
[L.sub.R] = [4.summation of (m-1)] [length.sub.m] (4)
Similarly, the abnormality in one of the intercostal areas [I.sub.m] is given by
[MATHEMATICAL EXPRESSION NOT REPRODUCIBLE IN ASCII.] (5)

where [leng.sub.m] is the number of the shifts in [I.sub.m], inter[k] is the number of pixels which
form the curve segment between [C.sub.k] and one of the intersections at which the kth scanning
curve and the edges cross each other, and then, v[k, j], and w[k, j] are pixel values of the jth
scanning spots when the kth scanning is conducted from [C.sub.k] to each of the upper
intersection and the lower one along the kth scanning curve, respectively. [C.sub.k] is the central
point of the curve segment between two edges which determine [I.sub.m]. Besides, the
abnormality obtained from all the intercostal areas [Abn.sub.I] is defined as

[MATHEMATICAL EXPRESSION NOT REPRODUCIBLE IN ASCII.] (6)


where inter[m, k], v[m, k, j], and w[m, k, j] are inter[k], v[k, j], and w[k, j] in [I.sub.m],
respectively, and
[L.sub.I] = [4.summation over(m-1)[leng.sub.m] (7)
Thus, the abnormalities of pneumoconiosis are extracted from a lung in a chest radiograph as
[Abn.sub.R] and [Abn.sub.I].
5. Experimental Results
We applied the proposed abnormalities to 51 chest radiographs (35cmx35cm). The radiographs
were scanned with a CCD scanner (EPSON GT-X750) and only the right lung in every of the
radiographs was obtained (resolution: 400dpi, gray level: 8 bits). In the radiographs, the number
of images which are in category 0 is 45, the number in category 1 is 4, the number in category 2
is 1, and the number in category 3 is 1. The 6 pneumoconiosis radiographs are the
standard pneumoconiosis radiographs provided by the Ministry of Health, Labor and Welfare in
Japan. To obtain the target areas, a medical doctor drew 10 rib edges in all of the 51 lung images
with a tablet PC (HP Compaq TC400).
Table 1 shows the mean value of the two abnormalities extracted from the images in each
category. And then, Table 2 shows the standard deviation of the abnormalities in categories 0 and
1. As shown in two of the tables, we can confirm both of the abnormalities have been increased
gradually according to increase of the category level.
Next, to examine performances of the two abnormalities as features for an automated
categorization of pneumoconiosis categories, random trees (RT), a neural network (NN), and a
supports vector machine (SVM) categorized the images into the pneumoconiosis categories
regarding the abnormalities as two features of pneumoconiosis, respectively. In all the
categorizations, training set and test set were chosen by cross validation [11]. In fact, every
categorization was conducted as the following procedure:
1. Choose one from all the data as test data, and use the other data as training set.
2. Conduct the categorization for discriminating the test data between category 0 and the other
categories.

3. Conduct the categorization for discriminating the test data between category 0 or 1 and
category 2 or 3.
4. Conduct the procedure from (1) to (3) to every data changing the test data.
5. Repeat the procedure from (1) to (4) 100 times.
Figure 5 shows a trial of the cross validation.
Thus, the categorizations twice discriminated the images between images of category 0 and the
others, and then between category 0-1 (0 or 1) and category 2-3 (2 or 3). In the 100 trials, every
of the categorizations does not always output the same result. In RT, the values of the optimal
segmentation are randomly selected in every tree, and, in NN and SVM, the discriminant
functions differ in every trial since perceptron selects training data randomly.
[FIGURE 5 OMITTED]
Table 3 and Table 4 show the means and standard deviations (STD) of correct ratios in the 100
trials by each categorization between category 0 and the others, and between category 0-1 and
category 2-3 respectively. Table 3 represents the mean of recognition ratio for images in category
0 is more than 90% in every categorization. Similarly, Table 4 represents the mean for images in
category 0-1 is more than 90% in every categorization. According to the results shown in the two
tables, in the categorizations of pneumoconiosis using the proposed abnormalities, the
abnormalities are most effective in the categorizations by SVM.
Figure 6 (left) shows an image in category 1 which was discriminated into category 2-3 as an
error (error case) and Figure 6 (right) shows the image in category 3. Table 5 shows the
abnormalities Abn (refer to Eqs. (2) and (5)) of every rib and every intercostal area in the two
images and the standard deviations obtained from all of abn (refer to Eqs. (1), (2), and (5)) in
each of the target areas in the two images. In Figure 6, we can observe that the left image of error
case does not show the opacities so much comparing with the right image. However, most of the
abnormalities for error case are higher than image of category 3. Figure 7 (right) shows the target
areas of [I.sub.4] and [R.sub.4] in the error case (left). Figure 7 (left) is the image of error case
attaching edges drawn by the participant. The abnormalities in the [I.sub.4] and [R.sub.4] and
their standard deviations are especially high, and we can observe the drawn curves are off the
true edges. Besides, other ribs appear in the target areas like a gradation and the density

distribution in the areas vary widely. Considering the calculation way of the proposed
abnormalities, the abnormalities in areas such as this could be calculated higher than real
situation.
[FIGURE 6 OMITTED]
[FIGURE 7 OMITTED]
For the reason, to extract the abnormalities more accurately, i.e., to draw the edges more
accurately, it would be necessary to design a manual for drawing rib edges or to prepare an
interface for drawing the edges easy and exactly.
6. Conclusions
To enhance cost-performance and mobility in CAD systems forpneumoconiosis, this paper has
presented a method for extracting abnormalities of pneumoconiosis from chest radiographs
obtained with a CCD scanner. The abnormalities are extracted from each of the ribs and
intercostal areas by examining density distribution in the areas, and the edges are manually
drawn with a tablet PC. Then, regarding the abnormalities as features of the categorization
of pneumoconiosis, this paper has examined performance of the abnormalities by three
automated categorizations. Experimental results of the categorizations have shown that the
proposed abnormalities are most effective in the categorization by SVM among the three ways.
Considering the cases of categorization failure, we would like to design a manual or prepare an
interface for drawing the edges more accurately as a future work. Besides, we need to examine
performance of the proposed method to pneumoconiosis radiographs provided by the ILO as
well.
Received: 28 July 2009, Revised 29 October 2009, Accepted 18 November 2009
References
[1] Kruger, R. P., Thompson, W. B. (1974). Computer diagnosis ofpneumoconiosis. Trans. on
Systems. Man and Cybernetics, SMC-4 (1) 40-49.
[2] Huang, H., Ledley, R., Rotola, L. (1975). A texture analysis method in classification of
coal workers pneumoconiosis. Comput. Biol. Med, 5, 53-67.

[3] Stark, H., Lee, D. (1976). An optical-digital approach to the pattern recognition of
coalworkers 'pneumoconiosis. IEEE Trans. Syst., Man Cybern, SMC-6, 788-793.
[4] Jagoe, J. (1979). Gradient pattern coding-an application to the measurement
of pneumoconiosis in chest x-rays. Comput. Biomed. Res, 12, 1-15.
[5] Ohishi, K., Kobatake, H., Miyauchi, J. (1987). Automatic diagnosis ofpneumoconiosis by
texture analysis of chest x-ray images, In: Proc IEEE Int. Conf. Acoust. Speech Signal Process,
610-613.
[6] Li, C., Savol, A. M., Hoy, R. J., (1980). Computer-aided recognition of small
rounded pneumoconiosis opacities in chest x-rays. IEEE Trans Pattern Anal. Mach. Intell, 2 (5)
479-482.
[7] Hasegawa, J., Xuan, C., Toriwaki, J. (1988). Quantitative diagnosis of pneumoconiosis based
on recognition of small rounded opacities in chest x-ray images. In: Proc. the 9th ICPR, 462-464.
[8] Wei, J., Kobatake, H. (1999). Detection of rounded opacities on chest radiographs using
convergence index filter. In: Proc. ICIAP, 757-761.
[9] Kouda,T., Kondo, H. (2001). Computer-aided diagnosis forpneumoconiosis using neural
network. Biomed. Soft Comput. Hum. Sci, 7 (1) 13-18.
[10] Loog, M., Van Ginneken, B. (2006). Segmentation of the posterior ribs in chest radiographs
using iterated contextual pixel classification. IEEE Trans. on Medical Imaging, 25 (5) 602-611.
[11] Mosteller, F. (1948). A k-sample slippage test for an extreme population. The Annals of
Mathematical Statistics, 19 (1) 58-65.
Munehiro Nakamura (1), Koji Abe (2), Masahide Minami (3)
(1) Graduate School of Natural Science and Technology Kanazawa UniversityKakuma
Kanazawa 920-1192 Japan gm.nakamura@gmail.com
(2) Interdisciplinary Graduate School of Science and Engineering Kinki University3-4-1
Kowakae, Higashi-Osaka Osaka 577-8502, Japan koji@info.kindai.ac.jp
(3) Graduate School of Medicine The University of Tokyo7-3-1 Hongo, Bunkyo-ku Tokyo 1130033, Japan maminami@dream.com

Authors Biographies
Munehiro Nakamura received his B.E. and M.E. from Kinki University, Japan, in 2008 and
2010, respectively. Currently, he is a Ph.D. candidate in Graduate School of Natural Science and
Technology, Kanazawa University, Japan. His research interests include medical image
processing and pattern recognition. He is a member of IEICE (Japan).
Koji Abe received his B.S. and M.S. degrees from Kogakuin University, Japan, in 1996 and
1998, respectively. And, he received his Ph.D. degree in Engineering from Kanazawa University,
Japan, in 2001. After that, he affiliated in the Institute for Image Data Research, University of
Northumbria at Newcastle, UK, as an honorary research fellow in 2002. He was an assistant
professor in Kanazawa Institute of Technology, Japan, in 2003. Currently, he is an associate
professor in the Dept. of Informatics, School of Science and Engineering, Kinki University,
Japan. His research interests include pattern recognition, medical image processing, CBIR,
multimedia database, and artificial intelligence. He is a member of IEEE, IEICE (Japan), IPSJ
(Japan), and IEEJ (Japan).
Masahide Minami received his M.D. degree from University of Tsukuba, Japan, in 1989. And, he
received his Ph.D. from Kanazawa University, Japan, in 1990. He affiliated in Dept. of 2nd
Surgery, Kanazawa University in 1990 and Kanazawa Social Insurance Hospital in 1996,
respectively. Besides, he received his LL.M. degree from Waseda University in 2002. Currently,
he is the Head Physician in Health Control Department, Komatsu Ltd. Also, he is currently a
Ph.D. candidate in Grad. Sch. of Medicine, the University of Tokyo. His research interests
include cancer diagnostics and treatment, public health, and industrial hygiene. He is a member
of Japan Surgical Society, Japanese Cancer Association, Japan Society for Occupational Health,
and Japanese Society of Public Health.
Table 1. The mean value of the abnormalities extracted from the 51
data in each category
Category level [Abn.sub.R] [Abn.sub.I]
0(45 images)

7.9

9.6

1(4 images)

18.4

17.2

2(1 image)

17.9

13.9

3(1 image)

20.6

18.4

Table 2. The standard deviation of the abnormalities


extracted from the 49 data in categories 0 and 1
Category level [Abn.sub.R] [Abn.sub.I]
0 (45 images)

2.4

3.5

1(4 images)

1.7

3.7

Table 3. Mean and standard deviation of correct ratios


in the categorizations (Discrimination between category
0 and the other categories)
Category

1-3

Mean STD Mean

STD

RT

97.5% 1.3

38.7% 12.8

NN

97.3% 1.1

48.3% 13.2

SVM

98.9% 1.1 100.0%

0.0

Table 4. Mean and standard deviation of correct ratios in the


categorizations (Discrimination between category 0 or 1 and
category 2 or 3)
Category

Mean STD

1-3
Mean

STD

RT

98.1% 1.3

NN

95.1% 2.0 100.0%

SVM

74.5% 29.6

98.9% 1.1 100.0%

0.0
0.0

Table 5. Parameters Abn(x) in the abnormalities for the images of


categorization failure and the standard deviation for all of abn
in the target area x
Abn(x)
x

[R.sub.1] [R.sub.2] [R.sub.3] [R.sub.4]

category 3

14.2

13.9

19.3

20.4

error case

14.9

22.0

23.8

23.6

[I.sub.1] [I.sub.2] [T.sub.3] [I.sub.4]


category 3

26.7

19.4

19.0

error case

13.0

19.6

11.0

19.4
28.4

standard deviation for all of abn in area x


x

[R.sub.1] [R.sub.2] [R.sub.3] [R.sub.4]

category 3

41.6

25.1

55.5

79.9

error case

39.6

89.2

191.7

177.1

[I.sub.1] [I.sub.2] [T.sub.3] [I.sub.4]


category 3

95.5

72.8

69.7

42.4

error case

31.1

57.1

17.8

139.1

Nakamura, Munehiro^Abe, Koji^Minami, Masahide


Source Citation
Abe, Koji, Masahide Minami, and Munehiro Nakamura. "Extraction of features for diagnosing
pneumoconiosis from chest radiographs obtained with a CCD scanner." Journal of Digital
Information Management 8.3 (2010): 147+. Gale Art and Engineering Lite Package. Web. 26
Oct. 2011.
Document
http://go.galegroup.com/ps/i.do?&id=GALE
%7CA250885756&v=2.1&u=kpt05106&it=r&p=GPS&sw=w
Gale Document Number: GALE|A250885756
DAFTAR PUSTAKA
- Kuliah Kedokteran Okupasi dan Industri
- http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/14DampakDebuIndustripada
ParuPekerja115.pdf/14DampakDebuIndustripadaParuPekerja115.
html
- http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/29bae5b3c08395cf2
0b0562ac209b1996ea04507.pdf

URL