Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM TEKNIK LISTRIK


SAKLAR TUNGGAL

K3-IV A

Kelompok 1 :
Ahmad Fahmi Hoirunnisam

(0514040021)

Daniel Febri Kurniawan

(0514040025)

Khairunnisa Ghina Salsabila

(0514040031)

Olla Mitasari

(0514040032)

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan perkembangan teknologi dewasa ini,maka kita dituntut
untuk bisa mengikuti perkembangannya. Dalam kehidupan sehari hari kita
tidak

pernah

lepas dengan

namanya

Listrik. Listrik

sudah

menjadi

kebutuhan pokok, seperti kita tahu bahwa dalam segala bentuk kebutuhan
rumah tangga sudah tidak terlepas dari namanya Energi listrik, untuk itu
dalam rangka untuk kenyamanan dan keamanan perlu adanya system
pemasangan dan pengamanan yang baik. Dalam kehidupan sehari-hari kita
sering mendengar kata saklar. Saklarpun sering kita jumpai dirumah kiita
ataupun di kosan kita saat ini. Saklar merupakan salah satu komponen listrik
yang berfungsi untuk memutuskan dan menghubungkan arus listrik, terutama
pada rangkaian yang dihubungkan dengan hambatan berupa lampu. Adapun
jenisjenis saklar itu sendiri yaitu saklar tunggal, saklar ganda dan reversing
switch. Khususnya untuk saklar tunggal, saklar tunggal adalah saklar yang
digunakan untuk menghidupkan dan mematikan satu buah atau satu kelompok
beban listrik pada lampu atau penerangan.Dengan adanya Praktikum ini
diharapkan Mahasiswa dapat mengenal dan mempelajari permasalahan
yang muncul dalam pemasangan instalasi listrik.

1.2 Rumusan Masalah


Berikut adalah rumusan masalah pada praktikum saklar tunggal kali ini :
1. Bagaimana merencanakan, memasang, memperbaiki dan mengetes
rangkaian instalasi penerangan saklar tunggal ?
2. Bagaimana menggunakan alat ukur instalasi listrik sesuai dengan standard
keselamatan kerja ?

1.3 Tujuan
Berikut adalah tujuan pada praktikum saklar tunggal kali ini :
1. Mampu dapat merencanakan, memasang, memperbaiki dan mengetes
rangkaian instalasi penerangan saklar tunggal ?
2. Mampu menggunakan alat ukur instalasi listrik sesuai dengan standard
keselamatan kerja ?

BAB II
DASAR TEORI
Pada bagian ini akan dipelajari sistem instalasi penerangan dengan
menggunakan satu buah saklar seri, dua buah lampu pijar dan dilengkapi dengan
dua buah kotak - kontak.
Satu buah saklar seri dalam instalasi penerangan pada umumnya
digunakan untuk mengoperasikan dua buah atau beberapa lampu secara terpisah
pada satu tempat, baik lampu pijar maupun lampu tabung.
Kotak-kontak

dipasang

dalam

sistem

instalasi

berfungsi

untuk

menyediakan sumber tegangan listrik pada beban yang tidak tetap atau beban
yang dapat dipindah - pindah.
Saklar adalah komponen listrik yang berfungsi sebagai pemutus dan
penyambung arus listrik dari sumber arus ke beban listrik dari sumber arus ke
beban listrik pada rangkainan listrik tertutup. Berbagai jenis saklar tersedia sesuai
dengan fungsi, jenis dan cara pemsangannya. Salah satunya adalah saklar tunggal
yang digunakan untuk menghidupkan dan mematikan satu buah atau satu
kelompok beban listrik. Dalam hal ini beban penerangan atau lampu listrik.

Gambar 2.1 Simbol Saklar Tunggal


Saklar tunggal memiliki dua titik kontak. Masing masing titik kontak
dihubungkan ke saluran fasa dan saluran beban.

Gambar 2.2 Instalasi Saklar Tunggal

Berikut ini gambar pemasangan saklar tunggal dengan satu titik cahaya.

Gambar 2.3 Instalasi Saklar Tunggal dengan Satu Titik Cahaya


(a) Gambar Kerja

(b) Gambar Hubungan

Karena fungsinya sebagai pemutus dan penyambung arus listrik, saklar juga
dapat digunakan sebagai komponen pengaman manual pada sistem instalasi
listrik. Dalam melakukan perbaikan instalasi beban, seluruh sistem instalasi tidak
perlu dimatikan, cukup mematikan saklar bebannya saja. Dengan catatan, saklar
beserta instalasinya terpasang dan bekerja dengan baik dan benar.
Kasus yang sering ditemukan dilapangan, pemasangan instalasi saklar justru
terbalik. Saklar terpsang pada saluran netral beban dan beban terhubung langsung
kesaluran fasa seperti pada gambar 4.

Gambar 2.4 Instalasi Saklar Tunggal dengan Satu Titik Cahaya yang Salah
Pada gambar (4) dalam keadaan sistem bekerja normal atau tidak ada
gangguan listrik maka ketika saklar pada posisi mati (off ), terhadap arus listrik
pada saluran dan titik kontak saklar sampai ketitik kontak lampu yang terhubung
ke saluran fasa. Sedangkan saluran kontak saklar yang terhubung ke saluran netral
tidak terdapat arus listrik. Namun ketika saklar pada posisi hidup (on), saluran
dari titik kontak netral beban sampai ke titik kontak saklar hingga saluran netral
tidak terdapat arus listrik.
Pemasangan yang salah memang tidak menimbulkan kegagalan kerja
(hubungan singkat/ korsleting) pada sistem tersebut. Lampu dapat menyala dan
mati sesuai saklar kerja. Tapi hal ini dapat membahayakan orang lain (bukan si
pemasang saklar/ instalasi) yang menganggap sistem instalasi tersebut sudah
terpasang dengan baik dan benar serta aman. Misalnya, orang lain tersebut
memperbaiki instalasi fitting lampu secara langsung tanpa memutus arus listrik
dari sumber (PLN). Walaupun saklar tersebut sudah dimatikan, pada saluran
lampu sampai ke saklar masih terdapat arus listrik.
Untuk memeriksa apakah saklar ini terpasang dengan instalasi yang benar,
anda dapat memeriksanya dengan menggunakan testpen. Dengan saklar pada
posisi hidup (on), periksalah kedua titik kontak saklar. Bila kedua titik kontak
saklar terdapat arus listrik, maka instalasi saklar yang terpasang sudah benar.
Namun bila kedua titik kontak saklar tidak terdapat arus listrik, maka instalasi
saklar yang terpasang salah.

Gambar 1 adalah merupakan salah satu contoh penggunaan satu buah


saklar tunggal untuk mengoperasikan satu buah lampu pijar pada satu tempat dan
dilengkapi dengan dua buah kotak - kontak yang terdiri dari :

Gambar penempatan alat

(material arrangement)

Gambar diagram garis tunggal

(single line diagram)

Gambar diagram garis ganda

(wiring diagram)

Gambar diagram aliran arus

(current flow diagram)

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


Peralatan dan komponen yang dipakai dalam percobaan ini adalah sebagai
berikut :
Tabel 3.1 Alat dan Bahan
Jumlah
No

Nama

Spesifikasi

Angka

Huruf

Satuan

1.

KWH meter

220V/50Hz/450VA

Satu

Buah

2.

MCB

1 phasa 6 A

Satu

Buah

3.

Saklar tunggal

MK, setara

Satu

Buah

4.

Kotak-kontak

220V / 6 A

Dua

Buah

5.

Lampu pijar

25 W / TL 1x20 W

Satu

Buah

6.

Kotak penghubung

MK, setara

Tiga

Buah

7.

Kotak saklar /

MK, setara

Tiga

Buah

kotak-kontak
8.

Pipa PVC

3/4", Maspion

Dua

Lonjor

9.

Klem pipa PVC

3/4", Maspion

28

Dua puluh

Buah

Delapan
10. Sekrup

5/8"

28

Dua puluh

Buah

Delapan
11. Tool set
12. AVO meter

Sanwa, setara

13 Kabel

NYA,NYM

Satu

Box

Satu

Buah

Ket.

3.2 Prosedur Keselamatan


Adapun prosedur keselamatan yang dapat dilakukan pada praktikum
ini adalah sebagai berikut :
1. Perhatikan setiap langkah kerja yang akan saudara kerjakan, semua harus
sesuai dengan SOP (standart operation procedur).
2. Sebelum merangkai pastikan power dalam keadaan off atau mati.
3. Periksa semua peralatan dan komponen dalam keadaan aman digunakan.
4. Dalam melakukan pekerjaan rangkaian dilarang bercanda dan bercakap
yang tidak ada hubungannya dengan modul praktikum.
5. Sebelum mencoba pastikan dicek terlebih dahulu dengan menghubungi
instruktur bengkel/laboratorium.
3.3 Langkah Kerja
Adapun langkah-langkah percobaan yang ada dalam praktikum ini
adalah sebagai berikut :
1. Merangkai peralatan yang tersedia seperti pada gambar diagram garis
ganda dan power supply dalam keadaan terbuka.
2. Mengecek kembali hubungan terminal masing-masing peralatan dan
sambungan apakah sudah baik dengan peralatan ukur AVO meter.
3. Sebelum power supply di on - kan, meyakinkan bahwa rangkaian sudah
benar dengan menanyakan kepada instruktur.

3.4 Gambar Rangkaian


Berikut adalah gambar rangkaian percobaan yang dipraktikan dalam
praktikum saklar tunggal :

Gambar Penempatan Alat

Gambar Diagram Garis Tunggal

Gambar Diagram Garis Ganda

Gambar Diagram Aliran Arus

BAB IV
HASIL PRAKTIKUM

4.1 TABEL HASIL PERCOBAAN


Tabel 4.1 Pengukuran Tanpa Tegangan

No.

Hubungan Instalasi

Hasil

Semua Saklar OFF

Pengukuran

1.

L1 terhadap N

2.

L1 terhadap PE

3.

N terhadap PE

Keterangan :
0 = Tidak ada hubungan

Semua Saklar ON
4.

L1 tehadap N

5.

L1 terhadap PE

6.

N terhadap PE

7.

L1 terhadap sakelar

8.

Sakelar terhadap lampu

9.

Lampu terhadap N

1 = Ada hubungan

Tabel 4.2 Pengukuran Dengan Tegangan

No.

Hubungan

Hasil

Instalasi

Pengukuran (V)

Spesifikasi alat :
1.Multimete : Kyoritsu Digital Clam

1.

L1 tehadap N

222.0

2.

L1 terhadap PE

125.0

Meter Tipe KEW SNAP2007 A


2.Stop kontak: MKUK 16A 250 Volt
3.Saklar : Clipsal 10A 250 Volt

3.

N terhadap PE

86.7

4.

Kotak-kontak 1

222.2

5.

Kotak-kontak 2

222.2

4.Lampu : Philiph 100W , 220-240V

BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Analisa Data


Dari data hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa ketika
dilakukkan pengukuran tanpa tegangan dan semua saklar dalam keadaan OFF,
tidak ada hubungan instalasi antar masing-masing line. Sedangkan ketika saklar di
ON-kan semua instalasi ada hubungan kecuali L1 dengan sakelar dan sakelar
dengan lampu. Jika terdapat hubungan berarti rangkaian tersebut tidak aman
karena terjadi hubungan singkat atau short, hal ini akan mengakibatkan MCB
akan trip ketika diberi tegangan.
Ketika dilakukan pengukuran dengan tegangan semua instalasi memiliki
tegangan, tetapi besar tegangan ini tidak sama, seperti yang ditunjukkan oleh
hubungan instalasi L1 terhadap PE dan N terhadap PE, hal ini disebabkan karena
pengaruh adanya induksi tegangan oleh L1 terhadap PE dan N.
Penurunan tegangan paling besar yaitu saat pengkuran antara L1 dengan
PE dan N dengan PE, karena saat melewati PE tegangan disalurkan ke tanah
sehingga saat pengukuran terjadi penurunan cukup besar.

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
1. Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan ketika memasang
instalasi listrik harus diperiksa terlebih dahulu apakah terdapat instalasiinstalasi yang

short atau terjadi hubungan singkat, sehingga instalasi

tersebut dipastikan aman sebelum dioperasikan.


2. Pada pemasangan suatu instalasi harus dilakukan dengan benar yang mana
seharusnya dipasang dengan keadaan L1 tidak terhubung dengan N, L1
tidak terhubung dengan PE, dan N tidak terhubung dengan PE. Karena jika
terjadi kesalahan pemasangan dapat menyebabkan terjadinya hubung
singkat yang sangat berbahaya.

6.2 Saran
1. Mempelajari benar-benar prosedur sebelum praktikum berlangsung
2. Check alat sebelum di gunakan dan pastikan alat sudah terkalibrasi

DAFTAR PUSTAKA
Antonius Lipsmeir, Adolf Teml.1989.Friedrich Tabellenbuch Elektrotechnik
Elektronik.Germany: Bronner and Daentler K. G
Horst

Dieter

Tolle-Erhard

Vop.1984.Technical

Drawing

for

Electrical

Engineering.Germany:GTZ GmbH
Michael Neidle, Ir. Sahat Pakpahan.1998.Teknologi Instalasi Listrik, Lembaga
Penerbangan dan Amerika Nasional (LAPAN).Jakarta:Erlangga
P. Van Harten, E Setiawan.1985.Instalasi Listrik Arus Kuat 2.Bandung:Bina Cipta
Tim revisi PUIL 2000.Peraturan Umum Instalasi Listrik Indonesia 2000.LIPI
Jakarta

Pertanyaan dan Tugas


1. Peraturan-peraturan apa yang harus diperhatikan untuk pemasangan
instalasi listrik?
2. Persyaratan apa yang harus dipenuhi peralatan listrik supaya dapat
dipergunakan untuk instalasi listrik?
3. Persyaratan apa yang harus dipenuhi instalasi listrik sebelum boleh
dipergunakan?
4. Gambar-gambar listrik dapat dibagi atas jenis apa saja?
5. Bilamana digunakan diagram lingkaran arus?
6. Bagaimana cara menggambar sakelar dalam diagram?
7. Apa tujuan gambar instalasi dan diagram instalasi?
8. Apa tujuan gambar situasi dan mengapa gambar ini diperlukan?
9. Apa perbedan antara diagram garis ganda dan diagram garis tunggal?

Jawaban :
1. Peraturan yang harus diperhatikan untuk pemasangan instalasi listrik
Undang-undang dan Peraturan Keselamatan Kerja No. 1 tahun 1970.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 18 tahun 1972 tentang
Perusahaan Umum Listrik Negara.
Syarat-syarat Penyambungan Listrik (SPL) Dalam Peraturan Menteri
tahun 1978.
2. Syarat peralatan listrik dapat digunakan dalam instalasi listrik :
Memenuhi ketentuan ketentuan dalam PUIL 2000
Mendapat pengesahan atau ijin dari instansi yang berwenang.

3. Sebelum boleh dipergunakan semua instalasi yang selesai di pasang harus


diperiksa dan diuji lebih dahulu sesuai dengan ketentuan-ketentuan PUIL
2000.

4. Jenis jenis gambar :


a) Menurut tujuannya :

Gambar bersifat menjelaskan :


Diagram dasar
Diagram lingkaran arus
Diagram instalasi

Diagram pelaksanan :
Diagram pengawatan
Diagram saluran

Gambar instalasi

Gambar situasi

b) Menurut cara menggambar :


Diagram garis ganda (wiring diagram)
Diagram garis tunggal (single line diagram)

5. Diagram arus digunakan untuk menjelaskan cara kerja suatu rangkaian


secara terperinci dan digunakan untuk merencanakan rangkaian-rangkaian
yang rumit dan untuk mengatasi kerusakan-kerusakan yang terjadi. Tanpa
diagram ini sering tidak mungkin mendapatkan gambaran yang jelas
tentang cara kerja suatu rangkaian. Hingga bergerak dari kiri ke kanan atau
dari bawah ke atas.
6. Saklar digambar sedemikian sehingga bergerak dari kiri ke kanan atau dari
bawah ke atas.

7. Tujuan gambar instalasi dan diagram instalasi :


b. Dapat mengambil kesimpulan dari keterangan gambar instalasi.
c. Dapat menyusun perkiraan biayanya, karena dalam gambar ini untuk
instalasi yang agak besar, panjang salurannya diukur.
d. Dapat menentukan apakah instalasinya sesuai dengan peraturan atau
tidak.

8. Tujuan gambar situasi untuk menunjukkan dengan jelas letak gedung atau
tempat

dimana

instalasinya

akan

di

pasang

serta

rencana

penyambungannya dengan jaringan PLN untuk dapat menentukan


kemungkinan penyambungan dan biayanya.

9. Perbedaan diagram garis tunggal dan diagram garis ganda :


a. Diagram garis tunggal:
Setiap hantaran sejenis digambar dengan satu garis kecil dengan
beberapa garis lintang kecil. Jumlah garis lintang ini menunjukkan
jumlah hantaran sejenis yang ada.
b. Diagram garis ganda:
Jumlah hantaran digambar sesuai dengan keadaan sebenarnya.