PENGUKURAN TOTAL SOLID
(Laporan Praktikum Rekayasa Pengolahan Limbah)
Oleh :
Sukron Mahmud
1414071093
LABORATORIUM REKAYASA SUMBER DAYA AIR DAN LAHAN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagian besar penyusun tubuh manusia adalah air. Air juga diperlukan manusia
sebagai sumber air minum, mencuci, mandi dan lainnya. Didalam air pasti terdapat
partikel lain yang terkandung misalnya tanah, ataupun partikel yang lainnya. Hanya
saja partikel tersebut sangat kecil sehingga tidak terlihat. Namun pada tingkat partikel
tertentu, air akan terlihat keruh dan kotor atau bias saja bersifat racun. Misalnya air
limbah, didalamnya terdapat banyak partikel yang dianggap kotoran sehingga air
limbah terlihat keruh.
Secara sederhana kualitas air dapat dilihat dengan mata tanpa alat bantu berasarkan
keruh atau tidak air tersebut. Jika air terlihat jernih maka dapat disimpulkan air
tersebut sedikit mengandung limbah, tapi jika air terlihat keruh maka air tersebut
banyak menandung limbah baik dalam bentuk padatan (solid) ataupun cairan. Partikel
padatan yang terkandung didalam air lama kelamaan akan turun kebawah dan
mengendap didasar yang berampak akan menyebabkan pendangkalan disungai,
danau, bendungan dan lain-lain. Oleh karena itu penting dilakukan praktikum
pengukuran total solid untuk mengetahui jumlah padatan yang terkandung.
1.2 Tujuan
Tujuan dari diadakannya praktikum ini adalah sebagai berikut
-
Mampu mengukur padatan yang terkandung didalam air kolam,
Mampu mengukur padatan yang terkandung didalam air sungai
Mampu mengukur padatan yang terkandung didalam air limbah tempe
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Jika kita tinjau dari segi kualitas, air bersih yang digunakan harus memenuhi syarat
secara fisik, kimia, dan mikrobiologi. Persyaratan secara fisik meliputi air harus
jernih, tidak berwarna, tidak berasa/tawar, tidak berbau, temperatur normal dan tidak
mengandung zat padatan (dinyatakan dengan TS, TSS dan TDS). Persyaratan secara
kimia meliputi derajat keasaman, kandungan oksigen, bahan organik (dinyatakan
dengan BOD, COD, dan TOC), mineral atau logam, nutrien/hara, kesadahan dan
sebagainya (Kusnaedi, 2002).
Zat padat yang berada dalam air (solid) dapat didefinisikan sebagai materi yang
tersisa (residu) jika contoh air diuapkan dan dikeringkan pada temperature 103 105
Untuk senyawa-senyawa yang mudah menguap pada waktu penguapan ataupun pada
waktu pengeringan pada temperature tersebut tidak termasuk dalam definisi diatas.
Residu dari penguapan dan pemanasan tersebut dapat berupa senyawa organik atau
anorganik, baik dalam bentuk terlarut ataupun yang tersuspensi dalam air. Adapun
pengukuran solid dalam air dibedakan atas : Total Solid (TS), Total Suspended Solid
(TSS), Total Dissolved Solid (TDS), Fixed Total Solid (FTS), Fixed Suspended Solid
(FSS), Fixed Dissolved Solid (FDS), Volatile Total Solid (VTS), Volatile Suspended
Solid (VSS), Volatile Dissolved Solid (VDS). Total Solid (TS), Total Suspended Solid
(TSS), Total Dissolved Solid (TDS) (Sutrisno, 2002)
Total padatan (total solids) adalah semua bahan yang terdapat dalam contoh air
setelah dipanaskan pada suhu 103-105C selama tidak kurang dari 1 jam. Bahan ini
tertinggal sebagai residu melalui proses evaporasi. Total solid pada air terdiri dari
total padatan terlarut (total dissolved solids) dan total zat padat tersuspensi (total
suspended solids) (kusnaedi, 2002).
III.METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Mata kuliah Rekayasa Pengolahan Limbah tentang Pengukuran Total Solid
dilaksanakan pada Hari jumat, 30 September 2016, Pukul 10.00-11.40 di
Laboratorium Rekayasa Sumber Daya Air Dan Lahan, Jurusan Teknik Pertanian,
Universitas Lampung.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam Praktikum Mata kuliah Rekayasa Pengolahan Limbah
tentang Pengukuran Total Solid antara lain gelas ukur, cawan, Oven, timbangan
analitik, penjepit, dan desikator. Dan bahan yang digunakan antara lain air limbah
tempe, air sungai dan air kolam.
3.3 Diagram Alir
Prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut.
Disiapkan sampel
Diberi label pada 6 buah cawan dan dioven pada suhu 1050C selama 15 menit
Diambil cawan dari oven dengan penjepit dan didinginkan dalam desikator
Dituangkan air limbah ke dalam cawan masing-masing sebanyak 25 ml
Ditimbang
timbangan
analitik dansebanyak
dicatat
Dituangkan
airmasing-masing
kolam ke dalamcawan
cawandengan
K1, K2,
K3 masing-masing
25 ml
Dioven semua cawan berisi sampel pada suhu sekitar 900C selama 24 jam
Diambil cawan dari oven dengan penjepit dan didinginkan dalam desikator
Ditimbang masing-masing cawan dengan timbangan analitik dan dicatat
Dihitung total solid dengan rumus
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
Sa
Berat
cawa
n
(W1)
(gr)
Berat cawan +
padatan
(W2) (gr)
T1
2,7376
3,2306
26.924
T2
3,4525
2,9079
27.805
K1
2,6288
2,6262
130
K2
2,8981
2,9064
-405
S1
3,20689
3,24849
28.416
S2
2,9101
2,8964
685
m
p
e
l
Kadar total
solid
(TS)
(mg/L)
4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini menggunakan sampel air sungai, air limbah tempe dan air kolam
yang masing-masing dituangkan kedalam 2 cawan sehingga menjadi 6 cawan sampel
dengan 2 cawan air limba, 2 cawan air sungai dan 2 cawan air kolam. Pertama, 6
cawan kosong dioven untuk mendapatkan cawan dengan berat sebenarnya kemudian
ditimbang masing-masing cawan untuk mendapatkan berat cawan (W1). Lalu
ditambahkan air kolam dan air limbah kedalam masing-masing cawan yang telah
diberi label terlebih dahulu sebanyak 20 ml dengan gelas ukur dan dioven kembali
selama 24 jam untuk menguapkan kandungan airnya sehingga hanya tersisa padatan
pada cawan sampel. Selanjutnya cawan ditimbang untuk mendapatkan berat cawan
ditambah dengan padatan yang tersisa (W1). Jadi, untuk mendapatkan jumlah padat
hanya tinggal mengurangkan W2 dengan W1 dibagi dengan volume sampel. Dan
setelah dihitung didapatkan data jumlah total solid seperti ditabel hasil.
limbah tempe lebih besar dari pada total solid air kolam dan sungai. Selisih data hasil
perhitungan yang terlalu besar. Pada air kolam yaitu pada K2 yang memiliki selisih
terlalu jauh dengan K1 dan K2 dapat disebabkan karena tidak meratanya partikel
padatan yang terkandung didalam air kolam tersebut walaupun telah diaduk. Total
Solid merupakan ukuran penentu dalam proses stabilisasi pH dan pada kontrolkorosi,
sebagaimana alkalinitas dan suhu. Total solid dapat digunakan untuk mengukur
tingkat pencemaran didalam air yang diukur. Semakin tinggi kadar total solid berarti
semakin banyak padatan yang terkandung didalam air tersebut.
I.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Dari hasil perhitungan, kadar total solid pada air limbah tempe lebih tinggi
daripada kadar total solid pada air kolam
2. Kadar total solid sebelum dirata-rata dapat memiliki selisih yang tinggi
dikarenakan padatan terkandung tidak tersebar secara merata
DAFTAR PUSTAKA
Kusnaedi. 2002. Mengolah Air Gambut dan Air Kotor untuk Air Minum. Swadaya.
Jakarta.
Sutjianto, R. 2003. Biodiversitas Plankton sebagai Indikator Kualitas Perairan.
FMIPA UNHAS. Makassar.
Sutrisno, T., & Suciastuti, E. 2002. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Rineka Cipta.
Jakarta.
LAMPIRAN
Perhitungan :
T 1=
W 2W 1
V
T 1=
3,23062,7376
0,02
T 1=24,65 gr / L
T 1=24.650 mg / L
T 2=
W 2W 1
V
T 2=
3,45252,9079
0,02
T 2=27,805 gr / L
T 2=27.805 mg/ L
K 1=
W 2W 1
V
K 1=
2,62882,6262
0,020
K 1=0,13 gr /L
K 1=130 mg/ L
K 2=
W 2W 1
V
K 2=
2,89812,9064
0,020
K 2=0,405 gr /L
K 2=405 mg/ L
S 1=
W 2W 1
V
S 1=
3,248493,20689
0,020
S 1=2,08 gr /L
S 1=2080 mg/ L
S 2=
W 2W 1
V
S 2=
2,91012,8964
0,020
S 2=0,685 gr / L
S 2=685 mg/ L