Anda di halaman 1dari 22

BAB II

DASAR TEORI

Pengangkutan (hauling) adalah kegiatan memindahkan material galian dari


tempat pemuatan (loading point) ke tempat peremukan (crusher) atau tempat
penimbunan (ROM stockpile maupun waste dump) dengan alat angkut. Penentu
metode ini bukan hanya berpedoman pada besarnya produksi peralatan mekanis
(unit hauler) yang dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin supaya hasilnya
maksimal. Namun, kondisi di lapangan juga sangat mempengaruhi kemampuan
produksi alat angkut yang digunakan.
2.1 Waktu Edar (Cycle Time) Alat Angkut
Setiap alat berat yang bekerja akan mempunyai kemampuan memindahkan
material per siklus. Siklus kerja adalah proses gerakan dari suatu alat dari gerakan
mulanya sampai kembali lagi pada gerakan mula tersebut. Adapun waktu yang
diperlukan untuk melakukan satu siklus kegiatan diatas disebut waktu siklus/edar
atau cycle time (lihat Gambar 2.1). (Nurhakim, 2004)
Waktu edar dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

CT=+ HLT + SDT + DT + RT + SDT

.........................(2.1)

Di mana:
CT

= Waktu edar

(detik)

LT

= Waktu pemuatan material

(detik)

HLT

= Waktu pergi bermuatan

(detik)

SDT

= Waktu manuver sebelum menumpahkan muatan

(detik)

DT

= Waktu menumpahkan muatan

(detik)

RT

= Waktu membali tanpa muatan

(detik)

SLT

= Waktu manuver sebelum diisi muatan

(detik)

Waktu menumpahkan muatan

Waktu manuver sebelum menumpahkan muatan

Waktu kembali tanpa muatan

Cycle Time Dump Truck


Waktu pergi bermuatan

Waktu manuver sebelum diisi muatan

Gambar 2.1 Kegiatan dalam satu siklus Dump Truck


Waktu pemuatan material

2.2 Analisis Tempat Kerja

Dalam August (2009: 25-33), medan kerja sangat berpengaruh terhadap


keberlangsungan aktivitas peralatan mekanis (unit hauler) karena apabila medan
kerja buruk akan mengakibatkan peralatan mekanis sulit untuk dapat dioperasikan
secara optimal. Supaya dapat membuat rencana kerja yang realistis, rapi dan
teratur, maka harus dipelajari dan diamati dengan teliti keadaan lapangan kerja
(tempat kerja) nya.
Komponen-komponen lapangan kerja yang perlu diperhatikan dan dicatat
adalah sebagai berikut:
2.2.1 Jalan dan Sarana Pengangkutan yang Ada
Yang harus diamati di lapangan dan dicatat adalah cara pengangkutan yang
dapat dipakai untuk mengangkut alat-alat mekanis dan logistik lainnya ke tempat
kerja. Ada beberapa kemungkinan yang mungkin ada di lapangan, yaitu:
1) Tempat itu dilalui atau dekat dengan jalan umum yang sudah ada.
2) Tempat itu dilalui atau dekat jalur kereta api atau sungai besar.
3) Tempat itu dekat lapangan terbang atau pelabuhan.
4

4) Belum ada jalan umum ataupun jalur kereta api, maka harus dibuat jalan baru.
2.2.2 Tumbuh-tumbuhan
Keadaan tanaman atau pepohonan yang tumbuh di tempat kerja perlu diteliti,
apakah terdiri dari hutan belukar, semak-semak, rawa-rawa, pohon-pohon besar
yang kuat akarnya dan lain sebagainya. Sehingga kan dapat ditetapkan jenis dan
tipe alat-alat yang perlu akan dipakai, berapa jumlahnya, bagaimana cara
membersihkannya, berapa lama dan berapa besar biayanya.
2.2.3 Daya Dukung Material
Daya dukung material adalah kemampuan material untuk mendukung alat
yang terletak di atasnya. Apabila suatu alat berada di atas tanah atau batuan, maka
alat tersebut akan menyebabkan terjadinya daya tekan (ground pressure),
sedangkan tanah atau batuan itu akan memberikan reaksi atau perlawanan yang
disebut data dukung (load capacity). Bila daya tekan lebih besar dari pada daya
dukung materialnya, maka alat tersebut akan terbenam.
Nilai daya dukung tanah dapat diketahui dengan cara pengukuran langsung di
lapangan. Alat yang biasa dipergunakan untuk menentukan atau pengukuran daya
dukung material disebut cone penetro meter.
2.2.4 Iklim (Climate)
Di Indonesia hanya dikenal dua musim, yaitu musim hujan dan musim
kering. Yang sering menghambat pekerjaan adalah pada musim hujan, sehingga
hari kerja menjadi pendek. Kalau hujan sangat lebat, kebanyakan tanah akan
menjadi becek dan lengket, sehingga alat-alat mekanis tidak dapat bekerja dengan
baik (terhambat) dan perlu dibuatkan sistem penirisan (drainage system) yang
baik. Sebaliknya pada musim panas/kemarau akan timbul banyak debu.
Selanjutnya panas atau dingin yang keterlaluan juga akan mengurangi efisiensi
mesin-mesin atau alat-alat yang digunakan.
2.2.5 Syarat-syarat Penimbunan (Fill Specifications)

Timbunan mungkin perlu diratakan dan dipadatkan dengan alat-alat khusus


dan harus dilakukan pada kelembaban tertentu agar tidak mudah terjadi amblasan
(surface subsidence) serta kemantapan lereng (slope stability) nya terjamin.
Mungkin juga timbunan itu diminta harus rapih dan dapat segera ditanami serta
diberi pagar di tempat-tempat tertentu, atau harus memiliki kemiringan tertentu.
Hal ini akan menambah waktu kerja, peralatan dan ongkos. Oleh karena itu harus
pula diperhitung-kan dengan teliti.
2.2.6 Efisiensi Kerja (Operating Efficiency)
Pekerja atau mesin tidak mungkin selamanya bekerja selama 60 menit dalam
sejam, karena hambatan-hambatan kecil akan selalu terjadi, misalnya menunggu
alat, pemeliharaan, pelumasan mesin-mesin (service & adjustment) dan lain-lain.
Ini perlu dibedakan dari hambatan-hambatan karena kerusakan alat-alat atau
pengaruh iklim.
Efisiensi kerja adalah perbandingan antara waktu produktif dengan waktu
kerja yang tersedia. Menurut pengalaman di lapangan, besarnya persentase
efisiensi kerja jarang didapati lebih dari 83 %.
.............(2.2)
Waktu kerja produktif
100
Waktu kerja tersedia
Pekerjaan pemindahan tanah pada umumnya harus diselesaikan dalam jangka

2.2.7 Waktu (Time


Element)
Efisiensi
Kerja ( )=

waktu yang sudah ditetapkan. Oleh sebab itu kapasitas harian yang sudah
ditentukan harus dipenuhi. Untuk itu perlu pengaturan dan data yang cukup
lengkap untuk memperkirakan kemampuan alat-alat yang akan dipakai, sehingga
jumlahnya cukup untuk memenuhi kapasitas harian itu.
Kalau pekerjaan pemindahan tanah itu dikontrakkan dan selesai sebelum
batas waktu yang telah disetujui, kontraktor berhak menerima premi. Sebaliknya
kalau terlambat, maka kontraktor harus membayar ganti rugi (denda).
2.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Alat Angkut
Salah satu tolok ukur yang dapat dipakai untuk mengetahui baik buruknya
hasil kerja (keberhasilan) suatu alat pemindahan tanah mekanis adalah besarnya

produksi yang dapat dicapai oleh alat tersebut. Oleh karena itu usaha dan upaya
untuk dapat mencapai produksi yang tinggi selalu menjadi perhatian yang khusus.
Untuk memperkirakan dengan lebih teliti produksi alat-alat mekanis yang
dipakai, maka perlu dipelajari dan dipahami faktor-faktor yang langsung
mempengaruhi hasil kerja alat-alat tersebut. Faktor-faktor yang akan dibicarakan
disini yang diperkirakan akan mempengaruhi kinerja alat adalah:
2.3.1 Tahanan Gali (Digging Resistance)
Yaitu tahanan yang dialami oleh alat gali muat pada waktu melakukan
penggalian tanah. Tahanan itu disebabkan oleh :
1) Gesekan antara alat gali dan tanah. Pada umumnya semakin besar
kelembaban dan kekasaran butiran tanah, maka akan semakin besar pula
gesekan yang terjadi.
2) Kekerasan tanah yang umumnya bersifat menahan masuknya alat gali ke
dalam tanah.
3) Kekasaran (roughness) dan ukuran butiran tanah.
4) Adanya adhesi antara tanah dengan alat gali dan kohesi antara butiran-butiran
tanah itu sendiri.
5) Berat jenis tanah; hal ini terutama sangat berpengaruh terhadap alat gali yang
juga berfungsi sebagai alat muat (seperti power shovel, clamshell dan
dragline).
Besarnya tahanan gali tersebut sangat sukar ditentukan angka rata-ratanya,
oleh karena itu sebaiknya ditentukan langsung di tempat kerjanya.
2.3.2 Rimpull
Rimpull/Tractive Pull/Tractive Effort/Draw Bar Pull yaitu besarnya kekuatan
tarik (pulling force) yang dapat diberikan oleh mesin suatu alat kepada permukaan
roda atau ban penggeraknya yang menyentuh permukaan jalur jalan. Bila
coefficient of traction cukup tinggi untuk menghindari terjadinya selip, maka
rimpull (RP) maksimum adalah fungsi dari tenaga mesin (HP) dan gear ratios
(versnelling) antara mesin dan roda-rodanya. Tetapi jika selip, maka rimpull

maksimum akan sama dengan besarnya tenaga pada roda penggerak dikalikan
coefficient of traction.
Rimpull biasanya dinyatakan dalam pounds (lbs) dan dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
................................(2.3)
Dimana:

RP=

HP 375 Efisiensi Mesin


Kecepatan , mph
(lbs)

RP

Rimpull

HP

Tenaga mesin

37

Angka konversi

(HP)

5
Menurut Caterpillar Performance Handbook, tahanan gulir adalah ukuran
gaya yang harus diatasi untuk menggelindingkan atau menarik roda di atas tanah.
Hal ini dipengaruhi oleh kondisi tanah dan beban yang menyebabkan roda
tenggelam ke dalam tanah, sehingga tahanan gulir semakin tinggi (lihat Gambar
2.2). Kemudian Total Resistance (total tahanan) adalah efek kombinasi atau
jumlah dari tahanan gulir (pada ban dump truck) dan tahanan kemiringan dengan
rumus sebagai berikut:
...(2.4)
Dimana:
Total Resistance=Rolling Resistance+Grade Resistance
TR = Total resistance
(%)

RR

Rolling resistance

(%)

GR

Grade resistance

(%)

Gambar 2.2 Grafik rimpull, kecepatan, tahanan gulir dan berat CAT 777D
Menentukan nilai rimpull

pada gambar graik diatas dilakukan dengan

panduan (lihat Gambar 2.3) sebagai berikut:

Gambar 2.3 Panduan menentukan nilai rimpull dan kecepatan unit CAT 777D
1) Tentukan nilai total resistance (grade plus rolling) dari data yang diketahui
dalam satuan persen.
2) Dimulai dari poin A pada grafik ikuti garis diagonal total resistence sampai
pada perpotongan dengan B, yaitu garis vertikal yang menyatakan berat kotor
unit.
3) Bentuk garis horizontal lurus hasil perpotongan di B ke poin C yaitu skala
rimpull.
2.3.3 Tahanan Gulir atau Tahanan Gelinding (Rolling Resistance)
Tahanan gulir adalah jumlah rimpull atau tractive effort yang diperlukan
untuk mengatasi efek perlambatan antara ban dan permukaan tanah. Tahanan gulir
ini tergantung dari banyak hal, diantaranya adalah:
1) Keadaan jalan, yaitu kekerasan dan kemulusan permukaannya, semakin keras
dan mulus atau rata jalan tersebut maka akan semakin kecil tahanan gulirnya.
2) Keadaan bagian kendaraan yang bersangkutan dengan permukaan jalur jalan,
antara lain:
a. Kalau memakai ban karet, yang akan berpengaruh adalah ukuran ban,
tekanan dan keadaan permukaan bannya apakah masih baru atau sudah
gundul dan macam kembangan pada ban tersebut.

10

b. Jika memakai rantai ban besi (clawler track), maka keadaan dan macam
track kurang berpengaruh, tetapi yang lebih berpengaruh dalam keadaan
jalannya.
Besar tahanan gulir dinyatakan dalam pounds (lbs) dari tractive pull yang
diperlukan untuk menggerakkan tiap gross ton berat kendaraan beserta isinya pada
jalur jalan mendatar dengan kondisi jalur jalan tertentu.
.....................................................(2.3.1)
Dimana:
RR

P
W

Tahanan gulir

(lbs/gross ton)

P
RR=
W
Gaya tarik pada kabel penarik

Berat kendaraan

(gross ton)

(lbs)

Kemudian, hubungan antara tahanan gulir dengan rimpull pada jalaur


mendatar adalah sebagai berikut:
..................(2.3.2)
Dimana:
RP/TP/TE/DB

Rimpull/Tractive
pull/Tractive
RP/TP/TE/DBP
Berat Kendaraan
effort/Draw
bar pull RR

(lbs)

Tahanan Gulir

(lbs/gross ton)

P
RR

Beberapa angka rata-rata dari tahanan gulir untuk bermacam-macam keadaan


jalan dan roda telah diperoleh dari pengalaman di lapangan. Harus juga diingat
bahwa untuk menentukan tahanan gulir yang tepat bagi setiap macam jalan itu
sukar dilakukan, karena ukuran ban, tekanan ban dan kecepatan gerak kendaraan
pun sebenarnya dapat mempengaruhi tahanan gulir. Oleh karena itu yang dapat
diperoleh adalah angka rata-ratanya saja. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.1 dan
Tabel 2.2 di bawah ini.
Tabel 2.1 Angka-angka tahanan gulir untuk berbagai macam jalan
N
o
1.
2.
3.

Macam Jalan
Smooth concrete
Good aspalt

Crawler
type, lbs/ton
55
60 70

11

Tekanan ban karet, lbs/ton


Tinggi
Rendah Rata-rata
35

45

40

40 - 65

50 60

45 - 60

Hard earth,smooth,well
4.

60 80

40 - 70

50 70

45 - 70

70 100

90 - 100

80 - 100

85 - 100

80 110

100 - 140

70 - 100

85 - 120

140 180

180 - 220

150 - 220

165 - 210

Loose sand and gravel

160 200

260 - 290

220 - 260

240 - 275

Earth, very muddy and soft

200 240

300 - 400

280 - 340

290 - 370

maintained
Dirt road, average

5.
6.
7.
8.

constructionroad, little
maintenance
Dirt road, soft, rutted, poorly
maintained
Earth, muddy, rutted, no
maintenance

Tabel 2.2 Angka rata-rata tahanan gulir untuk berbagai macam jalan
No
1.
2.
3.
4.
5.

Macam Jalan

RR (untuk ban karet),


lbs/ton
40

Hard, smooth surface, well maintained


Firm but flexible surface, well maintained

65

Dirt road, average construc. road, little maintenance

100

Dirt road, soft or rutted

150

Deep, muddly surface or loose sand

250 400

Tabel 2.3 Angka-angka tahanan gulir dinyatakan dalam satuan persen


No

Macam Jalan

RR (% berat kendaraan
dlm, lbs)
Ban karet Crawler track
2%
-

1.
2.

Concrete, rough and dry

3.

maintened, no tire penetration

4.

Compacted dirt and gravel, well

2%

3%

5%

2%

Soft dirt fills, tire penetration approx. 4

8%

4%

Loose sand and gravel

10 %

5%

Depply rutted dirt, spongly base tire

16 %

7%

Dry dirt, fairly compacted, slight tire


penetration

5.
6.
7.

Firm, rutted dirt, tire penetration


approx. 2

12

penetration approx. 8
2.3.3 Tahanan Kemiringan (Grade Resistance)
Tahanan kemiringan adalah besarnya gaya berat yang melawan atau
membantu gerak kendaraan karena kemiringan jalur jalan yang dilaluinya. Kalau
jalur jalan itu naik disebut kemiringan positif (plus slope), maka tahanan
kemiringan atau grade resistance (GR) akan melawan gerak kendaraan, sehingga
memperbesar tractive effort atau rimpull yang diperlukan. Sebaliknya jika jalur
jalan itu turun disebut kemiringan negatif (minus slope), maka tahanan
kemiringannya akan membantu gerak kendaraan, berarti akan mengurangi rimpull
yang dibutuhkan.
Tahanan kemiringan itu terutama tergantung dari dua faktor, yaitu :
1) Besarnya kemiringan yang biasanya dinyatakan dalam persen (%).
Kemiringan jalan berhubungan dengan kemampuan alat angkut dalam
mengatasi tanjakan maupun dalam pengereman saat alat berisi muatan
maupun kosong. Kemiringan jalan angkut dinyatakan dalam persen (%).
Dalam pengertiannya kemiringan () 1% berarti jalan tersebut naik atau turun
1 meter atau 1 ft untuk setiap jarak mendatar sebesar 100 meter atau 100 ft
(Gambar 2.4). Kemiringan (grade) dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:

Di mana:

( h)
Grade ( ) =
100
( x )

...................................(2.4)

Beda tinggi antara dua titik yang diukur

(m)

Jarak datar antara dua titik yang diukur

(m)

Kemiringan maksimum berdasarkan undang-undang berkisar antara 8-15%


tetapi mengingat pengangkutan menanjak, serta menurunnya keselamatan kerja,
kemiringan optimum untuk kebanyakan situasi adalah sekitar 8% (Hartman,
1992). Akan tetapi untuk jalan naik maupun turun pada bukit, lebih aman
kemiringan jalan maksimum sebesar 8% (Wahyudi, 2006).

13

Gambar 2.4 Kemiringan (Grade) Jalan Angkut 1 % (Dani, 2011)


Kemudian, hubungan antara tahanan kemiringan beserta kemiringan dengan
rimpull pada jalaur mendatar adalah sebagai berikut:
...........(2.4.1)
Dimana:

RP/TP/TE/DBP

Berat Kendaraan GR Grade


RP/TP/TE/DB = Rimpull/Tractive pull/Tractive

(lbs)

effort/Draw bar pull

GR

Tahanan Kemiringan

Kemiringan

(lbs/gross ton)

Grade

Tabel 2.4 Kriteria desain jalan yang direkomendasikan (Surface Mining,


E.P. Pfleder, halaman 678, tabel 10.4-1
Rencana Kecepatan, mph
Kemiringan maksimum
Radius belokan minimum, ft
Superelevation

<10
9%
50
0,0

10-20
8%
150
0,05

20-30
8%
300
0,06

30-40
7%
600
0,06

4
2) Berat kendaraan itu sendiri dinyatakan dalam gross ton.

14

40-50
6%
1000
0,05

Besarnya tahanan kemiringan rata-rata dinyatakan dalam 20 pounds (lbs) dari


rimpull atau tractive effort untuk tiap gross ton berat kendaraan beserta isinya
pada tiap kemiringan 1 %. Kalau jalur jalan naik atau kemiringan positif, maka
akan menambah rimpull atau tractive effort, sedangkan kalau turun atau
kemiringan negatif

maka akan mengurangi rimpull atau tractive effort.

Besarnya rimpull untuk mengatasi tahanan kemiringan ini harus dijumlahkan


secara aljabar dengan rimpull untuk mengatasi tahanan gulir.
Tabel 2.5 Pengaruh kemiringan jalan terhadap tahanan kemiringan
Kemiringan
(%)

GR
(lb/ton)

Kemiringan
(%)

GR
(lb/ton)

Kemiringan
(%)

GR
(lb/ton)

20,0

179,2

20

392,3

40,0

10

199,0

25

485,2

60,0

11

218,0

30

574,7

80,0

12

238,4

35

660,6

100,0

13

257,8

40

742,8

119,8

14

277,4

45

820,8

139,8

15

296,6

50

894,4

159,2

2.3.4 Lebar Jalan Angkut Pada Tambang Terbuka


Lebar jalan angkut di tentukan oleh jenis dan ukuran dari peralatan dan
kecepatan yang diinginkan. Pertimbangan khusus harus diberikan pada sepanjang
jalan angkut dengan kemiringan yang dapat merugikan dan di tempat-tempat
tertentu yang dapat menyebabkan terganggunya penglihatan operator. (Long,
1968)
Tabel 2.6 Lebar minimum jalan angkut pada tambang terbuka, Galina (2007)
Lebar Minimum Jalan Angkut pada Tambang Terbuka
Jumlah Jalur
Factor * Lebar Maximum Kendaraan
1
2,0
2
3,5
3
5,0

15

6,5

Kemudian secara lebih khusus untuk lebar jalan angkut oleh Aasho Manual
Rural High-Way membagi lebar jalan angkut sebagai berikut:
1) Lebar Jalan Angkut Lurus
Lebar jalan angkut minimum yang dipakai sebagai jalur ganda atau lebih.
Lebar jalan angkut disesuaikan dengan alat angkut terbesar yang digunakan pada
suatu operasi penambangan (lihat Gambar 2.5). (Ady, 2014)
Menurut Aasho Manual Rural High-Way pada jalan lurus adalah :

Dimana:

1
L ( m)=n Wt +(n+ 1)( Wt )
2

Lebar minumum jalan angkut

Jumlah jalur

W(t)

Lebar alat angkut

.............................(2.5)

(m)
(m)

Gambar 2.5 Posisi truk berhadapan pada jalan lurus terhadap kelebaran jalan
3,5 kali (Wahyudi, 2006)
2) Lebar Jalan Angkut Tikungan

16

Lebar jalan angkut pada tikungan selalu lebih besar dari pada jalan lurus.
Untuk jalur ganda (lihat gambar 2.6), lebar minimum pada tikungan dihitung
berdasarkan :
1)
2)
3)
4)

Lebar jejak ban


Lebar tonjolan alat angkut bgian depan dan belakang pada saat membelok
Jarak antar alat angkut pada saat bersimpangan
Jarak alat angkut terhadap tepi jalan

Perhitungan terhadap lebar jalan angkut pada tikungan dapat menggunakan


Rumus:
.....................................(2.6)
W =n (U + Fa+ Fb+ Z ) +C
....................................(2.7)
W =n (U + Fa+ Fb+ Z ) +Z

Dimana:

1
C=Z = (U + Fa+ Fb)
2

.........................................(2.8)

Lebar jalan angkut pada tikungan

Jumlah jalur

Jarak jejak roda kendaraan

(m)

Lebar juntai depan (meter) atau Jarak as roda depan

(m)

Fa =

(m)

dengan bagian depan truk x sin (meter)


F

Lebar juntai belakang (meter) atau Jarak as roda belakang

(m)

dengan bagian belakang truk x sin (meter)


=

Sudut penyimpangan roda depan

(m)

Jarak antara dua truk yang akan bersimpangan (meter)

(m)

Jarak sisi luar truk ke tepi jalan (meter)

(m)

17

Gambar 2.6 Lebar Jalan Angkut Tikungan Dua Jalur (August, 2009)
2.3.5 Ketinggian dari Permukaan Air Laut atau Elevasi (Altitude/Elevation)
Ketinggian letak suatu daerah ternyata berpengaruh terhadap hasil kerja
mesin-mesin, karena mesin-mesin tersebut bekerjanya dipengaruhi oleh tekanan
dan temperatur udara luar. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa semakin rendah
tekanan udaranya, sehingga jumlah oksigennya pun semakin sedikit. Berarti
mesin-mesin tersebut kurang sempurna bekerjanya. Berdasarkan pengalaman,
tenaga diesel yang hilang karena semakin tingginya tempat kerja dari permukaan
air laut adalah 3 % setiap naik 1.000 ft. Ini akan menyebabkan turunnya produksi
alat dan akan dapat menambah ongkos gali untuk tiap satuan volume atau berat.
2.3.6 Efisiensi Operator (Efficiency Operator)
Salah satu hal yang mempengaruhi produksi dari alat angkut dalam operasi
penambangan adalah masalah ketersediaan (availability) alat. Kesediaan alat
merupakan faktor yang menunjukan kondisi alat angkut yang digunakan dalam
melakukan pekerjaan dengan memperhatikan kehilangan waktu selama waktu
kerja dari alat yang tersedia. Untuk itu perlu diperhatikan faktor faktor sebagai
berikut:
1) Kesediaan Mekanis (Mechanical Availability)
Kesediaan mekanis adalah faktor yang menunjukan kesediaan alat untuk
melakukan pekerjaan dengan memperhitungkan waktu yang hilang karena

18

kerusakan atau gangguan yang terjadi pada alat tersebut (mechanical reason).
Kesediaan mekanis merupakan perbandingan waktu kerja alat dengan jumlah
waktu kerja alat dan waktu perbaikan alat. Persamaan untuk kesediaan mekanis
(mechanical availability) adalah sebagai berikut:
....................................(2.9)
Dimana :
MA

W
MA ( )= availability
100
Mechanical
W +R
Working hours

(%)

R
= Repair hours
Working hours didefinisikan sebagai waktu yang dihitung dari operator/crew
berada pada suatu alat dan alat tersebut berada dalam kondisi operable (siap
digunakan untuk beroperasi), dan termasuk di dalamnya adalah delay time yaitu
waktu - waktu untuk pulang pergi ke front kerja, pindah tempat, pelumasan dan
pengisian bahan bakar, waktu untuk menunggu peledakan dan lain-lain.
Repair hours atau jumlah jam untuk perawatan merupakan waktu untuk
perbaikan dan waktu yang hilang karena menunggu saat perbaikan termasuk juga
waktu untuk penyediaan suku cadang (spare parts) serta waktu untuk perawatan
preventif.
2) Kesediaan Fisik (Phisical Availability)
Dalam Dani (2011: 39-41), kesediaan fisik merupakan catatan operasional
dari alat, dan menunjukan apa yang sudah dilakukan selama waktu - waktu yang
lampau. Kesediaan fisik merupakan perbandingan waktu kerja yang tersedia
dengan waktu kerja yang telah dijadwalkan. Di mana waktu kerja yang tersedia
mencakup waktu kerja alat (working hours) dan standby hours. Kemudian waktu
kerja yang telah direncanakan mencakup working hours dan repair hours
ditambah dengan standby hours. Persamaannya adalah sebagai berikut:

Dimana :

W +S
PA ( ) =
100
W + R +S

19

..............................(2.10)

PA

Physical availability

Working hours

Repair hours

Standby hours

(%)

Standby hours adalah waktu di mana alat siap dipakai (tidak rusak), tetapi
karena satu dan lain hal tidak dipergunakan ketika operasi penambangan sedang
berlangsung. Waktu standby hours adalah waktu ketika hujan deras, ketika terjadi
kabut dan adanya kerusakan pada crusher.
3) Used of Availability
Menunjukan berapa persen waktu yang digunakan oleh suatu alat untuk
beroperasai pada saat dapat digunakan (available). Persamaannya adalah sebagai
berikut:
W
UA ( ) =
100
W +S

Dimana :
UA

Used of availability

Working hours

Standby hours

......................................(2.11)

(%)

Dari used of availability dapat diketahui apakah suatu pekerjaan berjalan


dengan efisien atau tidak dan pengelolaan alat berjalan dengan baik atau tidak.
4) Effective Utilization
Penggunaan efektif menunjukan berapa persen dari waktu yang digunakan
oleh alat untuk bekerja dalam seluruh waktu kerja yang telah dijadwalkan.
Effective utilization merupakan faktor kerja atau efisiensi alat, semakin tinggi nilai
dari penggunaan efektif maka pemakaian alat akan semakin baik. Persamaan dari
faktor ini adalah sebagai berikut:
W
EU ( )=
100
W + R+ S
20

................................(2.12)

Dimana :
EU

Effective utilization

Working hours

Repair hours

Standby hours

(%)

2.3.7 Faktor-faktor Pengembangan Material


Material di alam diketemukan dalam keadaan padat dan terkonsolidasi
dengan baik, sehingga hanya sedikit bagian-bagian yang kosong atau ruanganruangan yang terisi udara (voids) diantara butir-butirnya, lebih-lebih kalau butirbutir itu halus sekali. Akan tetapi bila material tersebut digali dari tempat aslinya,
maka akan terjadi pengembangan atau pemuaian volume (swell). Jadi 1,00 cuyd
tanah liat di alam bila telah digali dapat memiliki volume kira-kira 1,25 cuyd. Ini
berarti terjadi penambahan volume sebesar 25 % dan dikatakan material tersebut
mempunyai faktor pengembangan (swell factor) sebesar 0,80 atau 80 %.
Faktor pengembangan tersebut perlu diketahui karena volume material yang
diperhitungkan pada waktu penggalian selalu apa yang disebut pay yard atau bank
yard atau volume aslinya di alam. Sedangkan yang harus diangkut adalah material
yang telah mengembang karena digali, dan alat angkut itu sanggup membawa
material tersebut sesuai kapasitasnya (heaped capacity). Jadi kalau kapasitas
vessel dikalikan dengan faktor pengembangan material yang diangkutnya akan
diperoleh pay yard capacity nya.
Untuk menghitung faktor-faktor tersebut di atas dipakai rumus-rumus sebagai
berikut:
.................(2.13)
V loose
Percent Swell=
1 100
V undisturbed
......................(2.14)
V undisturbed
Swell Factor =
100
V loose
.............(2.15)
V compacted
Shrinkage Factor = 1
100
V undisturbed

21

Dimana:
V undisturbed

Material insitu

(m3)

V loose

Material lepas/berai

(m3)

V compacted

Material dipadatkan

(m3)

2.4 Dump Truck


Dump truck yang digunakan untuk operasi penambangan berbeda dengan truk
biasa, baik dalam bentuk, kapasitas maupun tenaganya dan umumnya disebut OffHighway Truck. Truk tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga tipe, yaitu:
1) Conventional Rear Dump Truck.
2) Tractor-Trailer, Bottom, Side, dan Rear Dump.
3) Integral Bottom Dump.
Produksi dan jumlah armada Truk yang diperlukan dipengaruhi banyak
faktor, yaitu rencana penambangan, kondisi jalan, alat angkut, target produksi,
kinerja dan waktu edar Truk, metoda operasi, keseimbangan Truk-Loader, dan
availabilitas serta utilitas Truk-Loader. Metode yang digunakan untuk
mengestimasi dan mengevaluasi pun bervariasi dari yang sederhana sampai
simulasi komputer yang kompleks. Seperti telah disinggung di atas bahwa
evaluasi Truk-Loader dititikberatkan untuk meng-eliminir waktu tunggu Truk
maupun alat muatnya.
2.4.1 Keseimbangan Truk dan Alat Muat
Untuk menghitung jumlah Truk, disamping berdasarkan target seperti pada
persamaan (2.2), dapat pula dihitung berdasarkan data waktu edar tanpa
komponen waktu tunggu. Jadi rumusnya adalah:

Dimana:

...................................................(2.16)
Ttc
Nt=
Ttl

Nt

= Jumlah truk

Ttc

= Total waktu edar Truk teoritis tanpa waktu tunggu

(menit)

Ttl

= Waktu pemuatan termasuk manuver Truk

(menit)

Perlu dicatat bahwa harga Ttl adalah lama waktu sebuah Truk dimuati
material termasuk manuver atau spoting time Truk agar siap diisi. Jadi, Ttl adalah
22

waktu edar alat muat ditambah waktu manuver atau spoting time Truk.
Keseimbangan atau sinkronisasi kerja antara Truk dengan alat muat, misalnya
Power Shovel atau Loader, dapat diukur dengan menggunakan Faktor Keseimbangan atau Match Factor (MF) yang dirumuskan sebagai berikut:

nH Ctl
MF=
Dimana:
nL Cth
nH = Jumlah alat angkut
nL

Jumlah alat muat

Ct

Waktu edar alat angkut

Waktu edar alat muat

..............................................(2.17)
(menit)
(menit)

Ctl
Dari persamaan di atas akan muncul 3 (tiga) kemungkinan, yaitu:

MF = 1 Jumlah alat angkut dan alat muat seimbang atau sinkron, hampir

dipastikan tidak ada waktu tunggu. Alat muat dan angkut sama-sama sibuk.
MF < 1 Jumlah alat angkut kurang, akibatnya alat muat banyak menunggu,

sementara alat angkut sibuk.


MF > 1 Jumlah alat angkut lebih, sehingga muncul waktu tunggu dimuat
untuk alat angkut, sementara alat muat sibuk.
Untuk mendapatkan MF = 1 memang tidak mudah, namun harga MF ini

hendaknya diupayakan mendekati angka satu dengan melakukan berbagai


percobaan dan dengan mempertimbangkan target produksi yang telah ditetapkan
perusahaan.
2.5 Produksi Alat Angkut
Kemampuan produksi penambangan batubara dapat diketahui dengan
melakukan perhitungan kemampuan produksi alat-alat mekanis yang ada.
Semakin besar hasil produksi suatu alat berarti produksi alat tersebut juga
semakin baik. Berikut ini adalah rumus yang digunakan untuk menghitung
produksi dari alat angkut.

23

3600
Q=Ca
Fc
CT

Di mana:

..........................................(2.18)

Kemampuan produksi alat angkut

(ton/jam)

Ca

Kapasitas Vessel DT

(ton)

CT

Cycle time

(detik)

Fc

Faktor koreksi

24