Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA (BPH) DENGAN TINDAKAN


OPERATIF TRANSURETHRAL RESECTION
OF PROSTATIC (TUR-P)

oleh:
Armita Iriyana Hasanah, S.Kep

NIM. 122311101051

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF


PROGRAM PROFESI NERS
UNIVERSITAS JEMBER
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan pendahuluan pada pasien dengan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) di
ruang Instalasi Bedah Sentral telah disetujui dan disahkan pada:
Hari, tanggal :

Oktober 2015

Tempat: Ruang Instalasi Bedah Sentral RSD dr. Soebandi Jember

Jember,
Mahasiswa

Oktober 2015

(Armita Iriyana Hasanah, S.Kep)


NIM 122311101051

Mengetahui,
Pembimbing Klinik,

(H.Mustakim, S.Kep, Ns.,MMKes)


NIP 19750225 199703 1 003

Pembimbing Akademik,

(Ns. Muhammad Zulfatul Ala, M.Kep)


NIP 19880510 201504 1 002

LAPORAN PENDAHULUAN
KONSEP DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN BENIGNA
PROSTAT HIPERPLASIA (BPH)
Oleh: Armita Iriyana Hasanah, S.Kep

A. Konsep Teori tentang Penyakit


1. Pengertian
Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) merupakan perbesaran kelenjar
prostat, memanjang ke atas kedalam kandung kemih dan menyumbat
aliran urin dengan menutupi orifisium uretra akibatnya terjadi dilatasi
ureter (hidroureter) dan ginjal (hidronefrosis) secara bertahap (Smeltzer
dan Bare, 2002). Price & Wilson (2006) menjelaskan bahwa BPH
merupakan pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa majemuk dalam

prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai


proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal
yang tersisa, prostat tersebut mengelilingi uretra dan, dan pembesaran
bagian periuretral menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan uretra
parsprostatika (Price dan Wilson, 2006).
BPH sering terjadi pada pria umur 50 tahun atau lebih yang ditandai
dengan prostat mengalami atrofi dan menjadi nodular, pembesaran dari
beberapa bagian kelenjar ini dapat mengakibatkan obstruksi urine
(Baradero dan Dayrit, 2007). Dari beberapa pernyataan di atas dapat
disimpulkan, bahwa Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) adalah suatu
penyakit yang diakibatkan oleh pembesaran kelenjar prostat yang dapat
menyumbat aliran urin dengan menutupi orifisium uretra akibat terjadinya
dilatasi ureter dan ginjal, sehingga menghambat pengosongan kandung
kemih dan menyebabkan gangguan perkemihan.

Gambar 1. Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)


Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi
4 stadium:
1. Stadium I
Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan
urine sampai habis.
2. Stadium II
Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan
urine walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150
cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria dan menjadi nocturia.
3. Stadium III
Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.

4. Stadium IV
Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine
menetes secara periodik (over flowin continent).
Pembagian berdasarkan tingkat keparahan penderita BPH dapat
diukur dengan skor IPSS (Internasional Prostate Symptom Score) untuk
membantu diagnosis dan menentukan tingkat beratnya penyakit.

Tabel 1 Tingkatan Keparahan BPH


N
o

Keluhan pada bulan


terakhir

Tidak
perna
h

<1x
dala
m5
kali

<dari
setenga
h

Kadang
-kadang
sekitar
(50%)

>dari
setenga
h

Hampir
Selalu

Seberapa sering anda


merasa tidak puas saat
selesai berkemih?
Seberapa sering
anda harus kencing dalam
waktu <2 jam setelah
selesai berkemih?
Seberapa sering
anda mendapatkan
kencing anda terputus-putus?
Seberapa sering
anda mendapatkan bahwa
anda sulit menahan kencing?
Seberapa sering pancaran
kencing anda lemah?
Seberapa sering anda
harus mengedan untuk
mulai berkemih?
Seberapa sering anda
harus bangun untuk
berkemih sejak mulai

5
6

tidur pada malam hari


hingga bangun di pagi
hari?

Total IPSS Score :


1. Ringan (Mild) : 0 7
2. Sedang (Moderate) : 8-19
3. Berat (Severe) : 20 35
2. Patofisiologi
Hiperplasi prostat adalah pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa
majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian
periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan
kelenjar normal yang tersisa. Jaringan hiperplastik terutama terdiri dari
kelenjar dengan stroma fibrosa dan otot polos yang jumlahnya berbedabeda. Proses pembesaran prosta terjadi secara perlahan-lahan sehingga
perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada
tahap awal setelah terjadi pembesaran prostad, resistensi pada leher bulibuli dan daerah prostatmeningkat, serta otot destrusor menebal dan
merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan
destrusor disebut fase kompensasi, keadaan berlanjut, maka destrusor
menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu
lagi untuk berkontraksi/terjadi dekompensasi sehingga terjadi retensi urin.
Pasien tidak bisa mengosongkan vesika urinaria dengan sempurna, maka
akan terjadi statis urin. Urin yang statis akan menjadi alkalin dan media
yang baik untuk pertumbuhan bakteri (Baradero et al, 2007).
Obstruksi urin yang berkembang secara perlahan-lahan dapat
mengakibatkan aliran urin tidak deras dan sesudah berkemih masih ada
urin yang menetes, kencing terputus-putus (intermiten), dengan adanya
obstruksi maka pasien mengalami kesulitan untuk memulai berkemih
(hesitansi). Gejala iritasi juga menyertai obstruksi urin. Vesika urinarianya
mengalami iritasi dari urin yang tertahan tertahan didalamnya sehingga
pasien merasa bahwa vesika urinarianya tidak menjadi kosong setelah
berkemih yang mengakibatkan interval disetiap berkemih lebih pendek

(nokturia dan frekuensi), dengan adanya gejala iritasi pasien mengalami


perasaan ingin berkemih yang mendesak/ urgensi dan nyeri saat
berkemih /disuria (Purnomo, 2011).
Tekanan vesika yang lebih tinggi daripada tekanan sfingter dan
obstruksi, akan terjadi inkontinensia paradox (keadaan dimana tekanan
vesika urinaria menjadi lebih tinggi daripada tekanan sfingter dan terjadi
obstruksi). Retensi kronik menyebabkan refluk vesika ureter, hidroureter,
hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila
terjadi infeksi. Pada waktu miksi pasien harus mengejan sehingga lama
kelamaan menyebabkan hernia atau hemoroid. Karena selalu terdapat sisa
urin, dapat menyebabkan terbentuknya batu endapan didalam kandung
kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan
hematuria. Batu tersebut dapat juga menyebabkan sistitis (peradangan
kandung kemih) dan bila terjadi refluk akan mengakibatkan pielonefritis
(inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang disebabkan karena
adanya infeksi oleh bakteri) (Sjamsuhidajat 2005; De jong, 2004).
3. Tanda dan Gejala
Manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan oleh BPH salah satunya
adalah adanya obstuksi. Obstruksi prostat ini dapat menimbulkan keluhan
pada saluran kemih maupun keluhan diluar saluran kemih. Purnomo (2011)
mengatakan bahwa manifestasi klinis BPH adalah keluhan pada saluran
kemih bagian bawah dan gejala pada saluran kemih bagian atas.
a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
1) Gejala obstruksi meliputi retensi urin (urin tertahan dikandung
kemih sehingga urin tidak bisa keluar), straining/harus mengejan,
hesitansi (sulit memulai miksi), pancaran miksi lemah, Intermiten
(kencing terputus-putus), dan miksi tidak puas (menetes setelah
miksi/terminal dribling).
2) Gejala iritasi meliputi frekuensi, nokturia, urgensi (perasaan ingin
miksi yang sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat miksi).
b. Gejala pada saluran kemih bagian atas

Keluhan akibat hiperplasi prostat pada sluran kemih bagian atas berupa
adanya gejala obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan dipinggang
(merupakan tanda dari hidronefrosis), atau demam yang merupakan
tanda infeksi atau urosepsis.

Gambar 2. Tanda dan Gejala BPH


4. Komplikasi
Sjamsuhidajat (2005) dan De Jong (2004) menyebutkan bahwa komplikasi
BPH adalah sebagai berikut:
a. retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi;
b. infeksi saluran kemih;
c. involusi kontraksi kandung kemih;
d. refluk kandung kemih;
e. hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi karena produksi urin terus
berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung
urin yang akan mengakibatkan tekanan intravesika meningkat;
f. gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi;
g. hematuri, terjadi karena selalu terdapat sisa urin, sehingga dapat
terbentuk batu endapan dalam buli-buli, batu ini akan menambah keluhan

iritasi. Batu tersebut dapat pula menibulkan sistitis, dan bila terjadi
refluks dapat mengakibatkan pielonefritis; hernia atau hemoroid lamakelamaan dapat terjadi dikarenakan pada waktu miksi pasien harus
mengedan.
5. Pemeriksaan penunjang
Untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain
sebagai berikut (Sjamsuhidajat 2005; De jong, 2004).
a. Anamnesa.
Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary Tract
Symptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi,
terminal dribbling, terasa adasisa setelah miksi disebut gejala obstruksi
dan gejala iritatif dapat berupa urgensi, frekuensi serta disuria.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Rectal touch atau pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk
menentukan konsistensi sistem persarafan unit vesiko uretra dan
besarnya prostat. Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari
a)
b)
c)
d)
e)

BPH, yaitu :
0 1 cm . = grade 0
1 2 cm . = grade 1
2 3 cm . = grade 2
3 4 cm . = grade 3
> 4 cm = grade 4

Gambar 3. Colok dubur


2) Clinical grading

Patokan banyaknya sisa urine dilakukan dengan cara pagi hari pasien
bangun tidur disuruh kencing sampai selesai kemudian masukkan
kateter VU mengukur sisa urine
a) Sisa urine 0 cc . = normal
b) Sisa urine 0 50 cc = grade 1
c) Sisa urine 50 150 cc. = grade 2
d) Sisa urine > 150 cc . = grade 3
c. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar
gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien.
2) Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
3) PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai
kewaspadaan adanya keganasan. Distribusi konsentrasi PSA dalam
sampel yang berbeda. Prostat spesifik antigen konsentrasi (PSA)
dalam serum pasien dengan PC, BPH dan pria sehat diukur dengan
ELISA. PSA lebih tinggi terdeteksi pada serum pasien kelompok (PC
dan BPH) dibandingkan dengan orang yang sehat. Konsentrasi ratarata PSA pada pasien PC sedikit lebih tinggi dibandingkan pasien
BPH (p <0,03) (Habibagahi et al, 2009).

Gambar 4. Pemeriksaan Prostatik Spesific Antigen


d. Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara
objektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan
penilaian:
1) Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif.

2) Flow rate maksimal 10 15 ml / dtk = border line.


3) Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif.

Gambar 5. Pemeriksaan uroflowmetri

e. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik


1) BOF (buik overzich foto) untuk melihat adanya batu.

Gambar 6. BOF batu buli


2) USG (ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi,
volume dan besar prostat juga keadaan bulibuli termasuk residual
urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal, transuretral dan
suprapubik. Pada pemeriksaan USG akan ditemukan volume prostat >
30 ml.

Gambar 7. Hasil USG pada pasien BPH


3) IVP (Pielografi Intravena), digunakan untuk melihat fungsi ekskresi
ginjal dan adanya hidronefrosis.

Gambar 8. IVP pada pasien BPH

6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan tergantung dengan penyebab,
keparahan obstruksi, dan kondisi pasien (Smeltzer dan Bare, 2002).
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Observasi

Observasi biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan. Pasien


dianjurkan untuk mengurangi minum setelah makan malam yang
ditujukan agar tidak terjadi nokturia, menghindari obat-obat dekongestan
(parasimpatolitik), mengurangi minum kopi, dan tidak diperbolehkan
minum alkohol agar tidak terlalu sering miksi. Pasien dianjurkan untuk
menghindari mengangkat barang yang berat agar perdarahan dapat
dicegah. Anjurkan pasien agar sering mengosongkan kandung kemih
(jangan menahan kencing terlalu lama) untuk menghindari distensi
kandung kemih dan hipertrofi kandung kemih. Pasien dianjurkan untuk
melakukan kontrol keluhan, pemeriksaan laboratorium, sisa kencing dan
pemeriksaan colok dubur (Purnomo, 2011). Pemeriksaan derajat
obstruksi prostat menurut Purnomo (2011) dapat diperkirakan dengan
mengukur residual urin dan pancaran urin.
1) Residual urin: jumlah sisa urin setelah miksi. Sisa urin dapat diukur
dengan cara melakukan kateterisasi setelah miksi atau ditentukan
dengan pemeriksaan USG setelah miksi.
2) Pancaran urin (flow rate): dapat dihitung dengan cara menghitung
jumlah urin dibagi dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik) atau
dengan alat urofometri yang menyajikan gambaran grafik pancaran
urin.
b. Terapi medikamentosa
Baradero et al (2007) megatakan bahwa tujuan dari obat-obat yang
diberikan pada pasien BPH adalah sebgai berikut:
1) mengurangi pembesaran prostat dan membuat otot-otot berelaksasi
untuk mengurangi tekanan pada uretra;
2) mengurangi resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan golongan
alfa blocker (penghambat alfa adrenergenik);
3) mengurangi volum prostat dengan menentuan kadar hormone
testosterone atau disebut dengan dehidrotestosteron (DHT).
Adapun obat-obatan yang sering digunakan pada pasien BPH, menurut
Purnomo (2011) diantaranya adalah sebagai penghambat adrenergenik
alfa, penghambat enzin 5 alfa reduktase, dan fitofarmaka.
1) Penghambat adrenergenik alfa

Obat-obat

yang

sering

dipakai

diantaranya

adalah

prazosin,

doxazosin,terazosin,afluzosin atau yang lebih selektif alfa 1a


(Tamsulosin). Dosis dimulai 1mg/hari sedangkan dosis tamsulosin
adalah 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaaan antagonis alfa 1 adrenergenik
karena secara selektif dapat mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa
merusak kontraktilitas detrusor. Obat ini menghambat reseptorreseptor yang banyak ditemukan pada otot polos di trigonum, leher
vesika, prostat, dan kapsul prostat sehingga terjadi relakasi didaerah
prostat. Obat-obat golongan ini dapat memperbaiki keluhan miksi dan
laju pancaran urin. Hal ini akan menurunkan tekanan pada uretra pars
prostatika sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-gejala
berkurang. Biasanya pasien mulai merasakan berkurangnya keluhan
dalam 1-2 minggu setelah ia mulai memakai obat. Efek samping yang
mungkin timbul adalah pusing, sumbatan di hidung dan lemah. Ada
beberapa obat-obat yang menyebabkan ekasaserbasi retensi urin maka
perlu dihindari seperti antikolinergenik, antidepresan, transquilizer,
dekongestan, obatobat ini mempunyai efek pada otot kandung kemih
dan sfingter uretra.
2) Penghambat enzim 5 alfa reduktase
Obat yang dipakai adalah finasteride (proscar) dengan dosis 1X5
mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT
sehingga prostat yang membesar akan mengecil. Namun obat ini
bekerja lebih lambat dari golongan alfa bloker dan manfaatnya hanya
jelas pada prostat yang besar. Efektifitasnya masih diperdebatkan
karena obat ini baru menunjukkan perbaikan sedikit atau 28 % dari
keluhan pasien setelah 6-12 bulan pengobatan bila dilakukan terus
menerus, hal ini dapat memperbaiki keluhan miksi dan pancaran
miksi. Efek samping dari obat ini diantaranya adalah libido, impoten
dan gangguan ejakulasi.
3) Fitofarmaka atau fitoterapi
Penggunaan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain eviprostat.
Substansinya misalnya pygeum africanum, saw palmetto, serenoa

repeus. Efeknya diharapkan terjadi setelah pemberian selama 1- 2


bulan dapat memperkecil volum prostat.
c. Terapi bedah
Pembedahan adalah tindakan pilihan, keputusan untuk dilakukan
pembedahan didasarkan pada beratnya obstruksi, adanya ISK, retensio
urin berulang, hematuri, tanda penurunan fungsi ginjal, ada batu saluran
kemih dan perubahan fisiologi pada prostat. Waktu penanganan untuk
tiap pasien bervariasi tergantung pada beratnya gejala dan komplikasi.
Smeltzer dan Bare (2002) mengatakan bahwa intervensi bedah yang
dapat dilakukan meliputi pembedahan terbuka dan pembedahan
endourologi.
1) Pembedahan terbuka
Beberapa teknik operasi prostatektomi terbuka yang biasa digunakan
adalah sbegai berikut:
a) Prostatektomi suprapubik
Adalah salah satu metode mengangkat kelenjar melalui insisi
abdomen. Insisi dibuat dikedalam kandung kemih, dan kelenjar
prostat diangat dari atas. Teknik demikian dapat digunakan untuk
kelenjar dengan segala ukuran, dan komplikasi yang mungkin
terjadi ialah pasien akan kehilangan darah yang cukup banyak
dibanding dengan metode lain, kerugian lain yang dapat terjadi
adalah insisi abdomen akan disertai bahaya dari semua prosedur
bedah abdomen mayor.
b) Prostatektomi perineal
Adalah suatu tindakan dengan mengangkat kelenjar melalui suatu
insisi dalam perineum. Teknik ini lebih praktis dan sangat berguan
untuk biopsy terbuka. Pada periode pasca operasi luka bedah
mudah terkontaminasi karena insisi di lakukan dekat dengan
rektum. Komplikasi yang mungkin terjadi dari tindakan ini adalah
inkontinensia, impotensi dan cedera rectal.
c) Prostatektomi retropubik
Adalah tindakan lain yang dapat dilakukan, dengan cara insisi
abdomen rendah mendekati kelenjar prostat, yaitu antara arkus
pubis dan kandung kemih tanpa memasuki kandung kemih. Teknik

ini sangat tepat untuk kelenjar prostat yang terletak tinggi dalam
pubis. Meskipun jumlah darah yang hilang lebih dapat dikontrol
dan letak pembedahan lebih mudah dilihat, akan tetapi infeksi
dapat terjadi diruang retropubik.

Gambar 9. Terapi bedah


2) Pembedahan endourologi
Pembedahan endourologi transurethral dapat dilakukan dengan
memakai tenaga elektrik diantaranya:
a) Transurethral Prostatic Resection (TURP): tindakan operasi yang
paling banyak dilakukan, reseksi kelenjar prostat dilakukan
dengan transuretra menggunakan cairan irigan (pembilas) agar
daerah yang akan dioperasi tidak tertutup darah. Indikasi TURP
ialah gejala-gejala sedang sampai berat, volume prostat kurang
dari 90 gr.Tindakan ini dilaksanakan apabila pembesaran prostat
terjadi dalam lobus medial yang langsung mengelilingi uretra.
Setelah TURP yang memakai kateter threeway. Irigasi kandung
kemih secara terus menerus dilaksanakan untuk mencegah
pembekuan darah. Manfaat pembedahan TURP antara lain tidak
meninggalkan atau bekas sayatan serta waktu operasi dan waktu
tinggal dirumah sakit lebih singkat.Komplikasi TURP adalah rasa

tidak enak pada kandung kemih, spasme kandung kemih yang


terus menerus, adanya perdarahan, infeksi, fertilitas (Baradero et
al, 2007).
b) Transurethral Incision of the Prostate (TUIP): tindakan ini
dilakukan apabila volume prostat tidak terlalu besar atau prostat
fibrotic. Indikasi dari penggunan TUIP adalah keluhan sedang
atau berat, dengan volume prostat normal atau kecil (30 gram atau
kurang). Teknik yang dilakukan adalah dengan memasukan
instrument kedalam uretra. Satu atau dua buah insisi dibuat pada
prostat dan kapsul prostat untuk mengurangi tekanan prostat pada
uretra dan mengurangi konstriksi uretral. Komplikasi dari TUIP
adalah pasien bisa mengalami ejakulasi retrograde (0-37%)
(Smeltzer dan Bare, 2002).
c) Terapi invasive minimal: dilakukan pada pasien dengan resiko
tinggi terhadap tindakan pembedahan. Terapi invasive minimal
diantaranya Transurethral Microvawe Thermotherapy (TUMT),
Transuretral Ballon Dilatation (TUBD), Transuretral Needle
Ablation/Ablasi jarum Transuretra (TUNA), Pemasangan stent
uretra atau prostatcatt (Purnomo, 2011).
d) Transurethral Microvawe Thermotherapy (TUMT): dilakukan
dengan cara pemanasan prostat menggunakan gelombang mikro
yang disalurkan ke kelenjar prostat melalui transducer yang
diletakkan di uretra pars prostatika, yang diharapkan jaringan
prostat menjadi lembek.
e) Transuretral Ballon Dilatation (TUBD): tehnik ini dilakukan
dilatasi (pelebaran) saluran kemih yang berada di prostat dengan
menggunakan balon yang dimasukkan melalui kateter. Teknik ini
efektif pada pasien dengan prostat kecil, 23 kurang dari 40 cm3.
Meskipun dapat menghasilkan perbaikan gejala sumbatan, namun
efek ini hanya sementar, sehingga cara ini sekarang jarang
digunakan.
f) Transuretral Needle Ablation (TUNA): teknik ini memakai energy
dari frekuensi radio yang menimbulkan panas mencapai 100

derajat selsius, sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat.


Pasien yang menjalani TUNA sering kali mengeluh hematuri,
disuria, dan kadang-kadang terjadi retensi urine (Purnomo, 2011).
g) Pemasangan stent uretra atau prostatcatth yang dipasang pada
uretra prostatika untuk mengatasi obstruksi karena pembesaran
prostat, selain itu supaya uretra prostatika selalu terbuka, sehingga
urin leluasa melewati lumen uretra prostatika. Pemasangan alat
ini ditujukan bagi pasien yang tidak mungkin menjalani operasi
karena resiko pembedahan yang cukup tinggi.

7. Transurethral Resection of Prostatic (TUR-P)


a. Pengertian
Transurethral Resection of Prostatic (TURP) adalah prosedur
bedah yang paling umum dan dapat dilakukan malalui endoskopi pada
pasien dengan BPH (Smaltzer dan Bare, 2002). TURP merupakan
tindakan operasi yang paling banyak dilakukan, reseksi kelenjar prostat
dilakukan dengan transuretra menggunakan cairan irigan (pembilas)
agar daerah yang akan dioperasi tidak tertutup darah (Marzalek dkk,
2009). TURP adalah sebuah sebuah penghilangan bagian dari prostat
yang menekan uretra, dengan cara pembedahan yang dilakukan oleh
dokter bedah dengan memasukkan instrument up penis melalui uretra
dan memotong jaringan prostat sampai bagian ini terbuka dengan baik,
serta jaringan yang dipotong akan mengalir keluar melalui kateter.
Tidak ada sayatan yang dibuat dalam operasi ini, dan akan sembuh
dengan membutuhkan waktu 8-12 minggu (Quinte Health Care, ____ ).
Dari beberapa pengertian diatas dpat disimpulkan bahwa
Transurethral Resection of Prostatic (TURP) adalah sebuah prosedur
bedah yang paling sering dilakukan pada pasien BPH, tanpa
pembedahan dengan menggunakan cairan irigan yang dimasukkan

menggunakan instumen up penis melalui uretra dan memotong jaringan


prostat sampai terbuka dan mengalirkannya melalui kateter.

Gambar 10. TUR P


b. Indikasi
Indikasi dilakukannya TURP adalah gejala-gejala BPH sedang sampai
gejala yang berat, volume prostat kurang dari 90 gr. Tindakan ini
dilaksanakan apabila pembesaran prostat terjadi dalam lobus medial
yang langsung mengelilingi uretra. Setelah TURP selesai dilakukan
maka pengalirannya menggunakan kateter threeway.
c. Efektivitas TUR P
Saat ini tindakan TURP merupakan standar tindakan operasi yang
paling banyak dikerjakan di seluruh dunia. Selama 20 tahun terakhir
perkembangan kesehatan khususnya pilihan tindakan TURP banyak
dipilih

oleh

dokter

bedah

di

Eropa

dibandingkan

prosedur

Transurethral Microwave Thermotherapy (TUMT) atau prosedur laser,


dan terjadi penurunan jumlah kasus komplikasi pembedahan di
Amerika Serikat akibat pilihan operasi dengan menggunakan TURP.
Adapun keuntungan dan kerugian TURP menurut Smeltzer dan Bare
(2002) adalah sebagai berikut.
1) Keuntungan menggunakan TURP
1. Menghindari insisi pembedahan
2. Lebih aman pada pasien dengan risiko bedah
3. Hospitalisasi dan pemulihan lebih singkat

4. Angka morbiditas lebih rendah yaitu 0,99%.


5. Nyeri yang ditimbulkan relative sedikit
6. Prostat fibrous mudah diangkat
7. Perdarahan mudah dilihat dan dikontrol
2) Kerugian menggunakan TURP
1. Membutuhkan dokter bedah yang ahli
2. Risiko merusak uretra
3. Tidak dianjurkan untuk BPH besar
4. Alat yang digunakan mahal
5. Obstruksi kambuhan trauma uretral dapat terjadi striktur
uretral (dysuria, mengejan, aliran urin lemah).
d. Persiapan Alat
Peralatan yang perlu dipersiapkan untuk prosedur TUR P adalah
sebagai berikut.
1) Cold light fountain standard (lampu endoskopi)
2) Kabel cahaya fiber optic
3) Pipa air dengan luerlock
4) Alat koagulasi dan reseksi listrik
5) Working element yang terdiri dari :
Sheath : No.24 F atau 27 F Teleskope : Optik 0 atau 30
Obturator : No. 24 F atau 27 F Cutting loop : No. 24 F atau 27 F
6) urethral Bougie ukuran 25 F,27 F, dan 29 F
7) Desinfeksi klem
8) Sarung tangan steril 2 pasang
9) Linen set terdiri dari : penutup meja instrumen, sarung kaki 2
buah, duk besar berlubang, baju dan skort operasi.
e. Prosedur pelaksanaan TUR P
1) Persiapan Pre Operasi
a) Mengkaji kecemasan klien, memberikan informasi yang akurat
pada klien terkait kondisi saat ini dan pentingnya tindakan
operasi

b) Klien dilarang merokok beberapa minggu sebelum operasi dan


klien

dianjurkan

untuk

makan-makanan

bergizi,

dan

menghindari makanan berlemak.


c) Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula
darah, Elektrolit
d) Pemeriksaan EKG
e) Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG
f) Pemeriksaan Uroflowmetri bagi penderita yang tidak memakai
kateter.
g) Pemasangan infus dan puasa
h) Pencukuran rambut pubis dan lavemen.
i) Pemberian Antibiotik
j) Surat Persetujuan Operasi (Informed Consent).
2) Prosedur Operasi
a) Pasang foto pada light box
b) Lakukan SGG (Scrubbing, Gowning, dan Gloving)
c) Setelah dilakukan anestesi general pasien diletakkan dalam
posisi lithotomi
d) Untuk menghindari komplikasi orchitis dilakukan vasektomi
tanpa Pisau (VTP)
e) Dilakukan desinfeksi dengan povidone jodine di daerah penis
scrotum dan sebagian dari kedua paha dan perut sebatas
umbilicus
f) Persempit lapangan operasi dengan memasang sarung kaki dan
duk panjang berlubang untuk bagian supra pubis ke kranial.
g) Dilatasi uretra dengan bougie roser 25 F sampai 29 F
h) Sheath 24F / 27F dengan obturator dimasukkan lewat uretra
sampai masuk buli-buli.
i) Obturator dilepas, diganti optik 30 dan cutting loop sesuai
dengan ukuran sheatnya.

j) Evaluasi buli-buli apakah ada tumor, batu, trabekulasi dan


divertikel buli
k) Working element ditarik keluar untuk mengevaluasi prostat
(panjangnya prostat yang menutup uretra, leher buli dan
verumontanu )
l) Selanjutnya

dilakukan

reseksi

prostat

sambil

merawat

perdarahan
m) Sebaiknya adenoma prostat dapat direseksi semuanya, waktu
reseksi paling lama 60 menit (bila menggunakan irigan
aquades) dan waktu bisa lebih lama bila menggunakan irigan
glisin. Hal ini untuk menghindari terjadinya Sindroma TUR.
n) Bila terjadi pembukaan sinus, operasi dihentikan, untuk
menghindari sindroma TUR
o) Chips

prostat

dikeluarkan

dengan

menggunakan

ellik

evakuator sampai bersih, selanjutnya dilakukan perawatan


perdarahan.
p) Setelah selesai, dipasang three way kateter 24F dan dipasang
Spoel NaCl 0,9% atau Aquades.
3) Perawatan post Operasi
a) Pasien akan ditempatkan di recovery room selama kurang lebih
1-2 jam untuk memonitor efek anastesi
b) Asupan cairan dan obat-obatan diberikan melalui infus
c) perawat perlu melakukan Continuous Bladder Irrigation (CBI)
untuk mencegah terjadinya bekuan darah
d) Lakukan manajemen nyeri dengan teknik rekalsasi nafas dalam
dan lakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret pada
saluaran nafas
e) Lakukan latihan ankle pump (10 kali per jam)
f) Hari pertama post operasi klien dperbolehkan duduk namun
dalam waktu singkat, anjurkan klien untuk banyak minum,
anjurkan klien untuk melakukan ankle pump.

g) Klien tidak diperbolehkan untuk minum-minuman beralkhohol


dan makanan pedas
h) Klien dianjurkan untk banyak minum dan makan makanan
yang tinggi serat untuk menghindari sembelit
i) Hindari berolahraga selama 4-6 minggu
j) Hindari bekerja berat seperti mengangkat beban berat kurang
lebih 10 kg selama satu bulan
k) Lakukan latihan dengan mengencangkan otot-otot paha dan
pantat lalu menariknya ke atas kemudian tahan dan 2-3 detik,
ulangi 10 kali sehari.
f. Komplikasi
TURP merupakan tindakan non-invasif, namun dapat menimbulkan
beberapa komplikasi. Komplikasi tersebut diantaranya adalah sebagi
berikut:
1) Ejakulasi retrograde (60-90%)
2) Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh kolonisasi bakteri pada
prostat (2%)
3) Persistent urinary retention ketika pulang dari rumah sakit dengan
terpasang kateter (2.5%)
4) Striktur bladder (2- 10%)
5) Striktur uretra (10%) dan komplikasi kardiovaskuler misalnya
Acute Myocardial Infarction (AMI).
6) Sindrom TURP (Sindrom TURP adalah sindrom yang disebabkan
karena kelebihan volume cairan irigasi sehingga menyebabkan
hiponatremia.

B. Clinical Pathway
Perubahan keseimbangan antara hormon
testosteron dan estrogen
Testosterone bebas + enzim 5 reduktase

Proses menua
Ketidakseimbangan
hormon

Peningkatan
sel stem

Dehidrotestosteron (DHT)
Diikat reseptor (dalam sitoplasma sel
prostat
Mempengaruhi inti sel (RNA)
Proliferasi sel

Interaksi sel epitel


dan stroma

Hiperplasia pada epitel dan


stroma pada kelenjar prostat

Gangguan
Eliminasi Urin
Retensi urin

Penyempitan lumen uretra


pars prostatika

Statis urin

Menghambat aliran urin

Media bekembangnya
bakteri

Bendungan vesica urinaria

Risiko infeksi

Peningkatan tekanan intra vesikal


Hiperiritabel pada bladder
Peningkatan kontraksi otot
destrusor dan buli-buli
Kontraksi otot suprapubik
Tekanan mekanis
Merangsang nosiseptor
PersepsiPembedahan
nyeri
Nyeri akut

Inflamasi

Intra operasi

Pre Operasi
Kurang informasi
akan kondisi
penyakit dan
pembedahan

Khawatir akan
prosedur
pembedahan
Ansietas
Kurang
Pengetahuan

Tindakan invasif

Post operasi
Efek anastesi

Pendarahan

Efek anastesi
hilang
Sakit pada
bekas reseksi

Menumpuknya
sekret di jalan
Tidak terkontrol
nafas
Bersihan
Resiko Syok
Nyeri akut
jalan nafas
Resiko Cedera
tidak efektif
Pemasangan kateter
Anastesi
Risiko Kekurangan
Bekuan darah
Regional (RA)
volume cairan
Penggunaan baju
operasi yang tipis dan
suhu lingkungan berAC

Vasodilatasi
Pembuluh darah
Hipotermi

Retensi urin
Risiko infeksi

C. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Fokus
1. Anamnesa
a) Data demografi
Dikaji terkait data nama, umur, usia, jenis kelamin (laki-laki),
pekerjaan (pekerjaan berisiko tinggi terjadinya BPH adalah orang
yang pekerjaanya mengangkat barang-barang berat), ras (Orang dari
ras kulit hitam memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk terjadi BPH
dibanding ras lain), penddikan, dan status perkawinan
b) Riwayat Penyakit Klien

Kumpulan gejala yang ditimbulkan oleh BPH: pancar urin lemah,


intermitensi, terasa ada sisa setelah selesai miksi, urgensi, frekuensi
dan disuria. Perlu ditanyakan mengenai permulaan timbulnya
keluhan, hal-hal yang dapat menimbulkan keluhan dan ketahui pula
bahwa munculnya gejala untuk pertama kali atau berulang.
Dikaji riwayat penyakit dahulu klien yaitu penyakit yang dapat
menyebabkan BPH salah satunya adalah pasien pernah mengalami
ISK atau pembedahan prostat atau hernia sebelumnya
c) Keluhan Utama
Keluhan utama yang biasa muncul pada klien BPH adalah sering
miksi pada siang hari dan nokturia, urgensi, disuria, dan rasa tidak
puas saat miksi.
d) Pola Fungsi Kesehatan
Pengkajian pada klien dengan BPH menurut 11 Pola Fungsional Gordon
adalah sebagai berikut :
1. Pola persepsi dan Manajemen kesehatan
Biasanya kasus BPH terjadi pada pasien laki-laki yang sudah tua, dan
pasien biasanya tidak memperdulikan hal ini, karena sering
mengatakan bahwa sakit yang dideritanya pengaruh umur yang sudah
tua. Perawat perlu mengkaji apakah klien mengetahui penyakit apa
yang dideritanya? Dan apa penyebab sakitnya saat ini?
2. Pola nutrisi dan metabolik
Terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu karena efek
penekanan/nyeri pada abomen (pada preoperasi), maupun efek dari
anastesi pada postoperasi BPH, sehingga terjadi gejala: anoreksia,
mual, muntah, penurunan berat badan, tindakan yang perlu dikaji
adalah awasi masukan dan pengeluaran baik cairan maupun
nutrisinya.
3. Pola eliminasi
Gangguan eliminasi merupakan gejala utama yang seringkali dialami
oleh pasien dengan preoperasi, perlu dikaji keragu-raguan dalam
memulai aliran urin, aliran urin berkurang, pengosongan kandung

kemih inkomplit, frekuensi berkemih, nokturia, disuria dan hematuria.


Sedangkan pada postoperasi BPH yang terjadi karena tindakan invasif
serta prosedur pembedahan sehingga perlu adanya obervasi drainase
kateter untuk mengetahui adanya perdarahan dengan mengevaluasi
warna urin. Evaluasi warna urin, contoh : merah terang dengan bekuan
darah, perdarahan dengan tidak ada bekuan, peningkatan viskositas,
warna keruh, gelap dengan bekuan. Selain terjadi gangguan eliminasi
urin, juga ada kemugkinan terjadinya konstipasi. Pada post operasi
BPH, karena perubahan pola makan dan makanan.
4. Pola latihan- aktivitas
Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah dan
terpasang traksi kateter selama 6 24 jam. Pada paha yang dilakukan
perekatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan,
klien juga merasa nyeri pada prostat dan pinggang. Klien dengan BPH
aktivitasnya sering dibantu oleh keluarga.
5. Pola istirahat dan tidur
Pada pasien dengan BPH biasanya istirahat dan tidurnya terganggu,
disebabkan oleh nyeri pinggang dan BAK yang keluar terus menerus
dimana hal ini dapat mengganggu kenyamanan klien.
6. Pola konsep diri dan persepsi diri
Pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu integritas
egonya karena memikirkan bagaimana akan menghadapi pengobatan
yang dapat dilihat dari tanda-tanda seperti kegelisahan, kacau mental,
perubahan perilaku.
7.

Pola kognitif- perseptual


Klien BPH umumnya adalah orang tua, maka alat indra klien biasanya
terganggu karena pengaruh usia lanjut. Namun tidak semua pasien
mengalami hal itu.

8. Pola peran dan hubungan

Pada pasien dengan BPH merasa rendah diri terhadap penyakit yang
diderita nya. Sehingga hal ini menyebabkan kurangnya sosialisasi
klien dengan lingkungan sekitar. Perawat perlu mengkaji bagaimana
hubungan klien dengan keluarga dan masyarakat sekitar? apakah ada
perubahan peran selama klien sakit?
9. Pola reproduksi- seksual
Pada pasien BPH baik preoperasi maupun postoperasi terkadang
mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan
seksualnya, takut inkontinensia/menetes selama hubungan intim,
penurunan kekuatan kontraksi saat ejakulasi, dan pembesaran atau
nyeri tekan pada prostat.
10. Pola pertahanan diri dan toleransi stres
Klien dengan BPH mengalami peningkatan stres karena memikirkan
pengobatan dan penyakit yang dideritanya menyebabkan klien tidak
bisa melakukan aktivitas seksual seperti biasanya, bisa terlihat dari
perubahan tingkah laku dan kegelisahan klien.
11. Pola keyakinan dan nilai
Pasien BPH mengalami gangguan dalam hal keyakinan, seperti
gangguan dalam beribadah shalat, klien tidak bisa melaksanakannya,
karena BAK yang sering keluar tanpa disadari.
2. Pemeriksaan fisik
1) Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat
meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai
syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik.
2) Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual

untuk

mengetahui adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra


simfiser padakeadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya
ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk
mengetahui ada tidaknya residual urin.
2) Rectal touch atau pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan
konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat.
Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :

a) 1. 0 1 cm . = grade 0
b) 2. 1 2 cm . = grade 1
c) 3. 2 3 cm . = grade 2
d) 4. 3 4 cm . = grade 3
e) 5. > 4 cm = grade 4
3) Clinical grading
Patokan banyaknya sisa urine dilakukan dengan cara pagi hari pasien
bangun tidur disuruh kencing sampai selesai kemudian masukkan
kateter VU mengukur sisa urine
1. Sisa urine 0 cc . = normal
2. Sisa urine 0 50 cc = grade 1
3. Sisa urine 50 150 cc. = grade 2
4. Sisa urine > 150 cc . = grade 3
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula
digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien.
b. Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
c. PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan
adanya keganasan.
d. Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara
objektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan
penilaian:
1) Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif.
2) Flow rate maksimal 10 15 ml / dtk = border line.
3) Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif.
e. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik
1) BOF (Buik Overzich Foto ): untuk melihat adanya batu dan
metastase pada tulang.
2) USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi,
volume dan besar prostat juga keadaan bulibuli termasuk residual

urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal, transuretral


dan suprapubik.
3) IVP (Pielografi Intravena), digunakan untuk melihat fungsi ekskresi
ginjal dan adanya hidronefrosis.
2. Diagnosa keperawatan
Menurut NANDA (2015), diagnose yang mungkin muncul pada
klien dengan BPH, antara lain.
a. Pre Operasi
1) Retensi urin berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran
prostat, dekompensasi otot destrusor, ketidakmampuan kandung
kemih untuk berkontraksi dengan adekuat.
2) Nyeri akut berhubungan dengan peregangan dari terminal saraf,
distensi kandung kemih, infeksi urinaria, efek mengejan saat
miksi sekunder dari pembesaran prostat dan obstruksi uretra.
3) Ansietas/cemas berhubungan dengan krisis situasi, perubahan
status kesehatan, kekhawatiran tentang pengaruhnya pada ADL
atau menghadapi prosedur bedah.
4) Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya informasi.
5) Resiko infeksi berhubungan dengan statis urin.
b. Intra Operatif
1) Resiko cedera berhubungan dengan tindakan operasi.
2) Resiko syok berhubungan dengan tindakan operasi.
3) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan tindakan
operasi.
c. Pasca Operasi
1) Retensi urin berhubungan dengan obstruksi mekanik: bekuan
darah, edema, trauma, prosedur bedah, tekanan dan iritasi kateter.
2) Nyeri berhubungan dengan insisi bedah, pemasangan kateter, dan
spasme kandung kemih

3) Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan


anastesi GA
4) Hipotermi berhubungan dengan vasodilatasi pembuluh darah
akibat efek anastesi RA, pakaian tipis, dan suhu lingkungan berAC
5) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih.

3. Perencanaan keperawatan
a. Pre Operatif
No
1.

Diagnosa
keperawatan
Retensi urin
berhubungan
dengan obstruksi
mekanik,
pembesaran
prostat,
dekompensasi
otot destrusor,
ketidakmampuan
kandung kemih
untuk
berkontraksi
dengan adekuat.

Tujuan
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama x24
jam diharapkan
nyeri dapat
berkurang
NOC
Kontinensi Urin
Eliminasi Urin

Kriteria hasil
Pasien menunjukkan
residu pasca berkemih
kurangdari 50 ml,
dengan tidak adanya
tetesan atau kelebihan
cairan.

Intervensi keperawatan

Rasional

1. Dorong pasien untuk berkemih tiap 24 jam atau bila tiba-tiba dirasakan
2. Observasi aliran urin, perhatikan
ukuran dan kekuatan.
3. Awasi dan catat waktu tiap berkemih
dan jumlah tiap berkemih, perhatikan
penurunan haluaran urin dan
perubahan berat jenis.

1. Meminimalkan retensi urin distensi


berlebihan pada kandung kemih
2. berguna untuk mengevaluasi obstruksi
dan pilihan intervensi
3. retensi urine meningkatkan tekanan
dalam saluran perkemihan atas, yang
dapat mempengaruhi fungsi ginjal.
adanya deficit aliran darah keginjal
menganggu kemampuanya untuk
memfilter dan mengkonsentrasi substansi
4. distensi kandung kemih dapat dirasakan
diarea suprapubik
5. peningkatan aliran cairan
mempertahankan perfusi ginjal dan
membersihkan ginjal dan kandung kemih
dari pertumbuhan bakteri
6. kehilangan fungsi ginjal mengakibatkan
penurunan eliminasi cairan dan akumulasi
sisa toksik, dapat berlanjut ke penuruan
ginjal total
7. meningkatkan relaksasi otot, penuruan
edema, dan dapat meningkatkan upaya
berkemih.
8. rasional :
a. supositorial dapat diabsorbsi dengan

4. Lakukan perkusi/palpasi suprapubik


5. Dorong masukan cairan sampai 3000
ml sehari
6. Monitoring tanda-tanda vital, timbang
BB tiap hari, pertahankan pemasukan
dan pengeluaran yang akurat
7. Lakukan rendam duduk sesuai
indikasi
8. Kolaborasi pemberian obat:

a. Supositorial rectal

b. Antibiotic dan antibakteri


c. Fenoksibenzamin (Dibenzyline)
2.

Nyeri akut
berhubungan
dengan
peregangan dari
terminal saraf,
distensi kandung
kemih, infeksi
urinaria, efek
mengejan saat
miksi sekunder
dari pembesaran
prostat dan
obstruksi uretra.

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama x24
jam diharapkan
nyeri dapat
berkurang
NOC:
1. Pain level
2. Pain control
3. Comfort
level

1. Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab
nyeri,
mampu
menggunakan tehnik
nonfarmakologi
untuk mengurangi
nyeri,
mencari
bantuan)
2. Melaporkan bahwa
nyeri
berkurang
dengan
menggunakan
manajemen nyeri
3. Mampu mengenali
nyeri
(skala,
intensitas, frekuensi,
dan tanda nyeri)
4. Menyatakan
rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang

Paint management
a. Kaji nyeri secara komprehensif
(lokasi,
karakteristik,
durasi,
frekuensi, kualitas, dan faktor
presipitasi)
b. Beri penjelasan mengenai penyebab
nyeri
c. Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
d. Segera immobilisasi daerah fraktur
e. Tinggikan dan dukung ekstremitas
yang terkena
f. Ajarkan pasien tentang alternative
lain
untuk
mengatasi
dan
mengurangi rasa nyeri
g. Ajarkan teknik manajemen stress
misalnya relaksasi nafas dalam
h. Kolaborasi dengan tim kesehatan
lain dalam pemberian obat analgeik
sesuai indikasi

mudah melalui mukosa kedalam


jaringan kandung kemih untuk
menghasilkan relaksasi
otot/menghilangkan spasme
b. digunakan untuk melawan infeksi
c. diberikan untuk mempermudah
berkemih dengan merelaksasi otot
polos prostat dan menurunkan tahanan
terhadap aliran urine
a. Mengetahui kondisi umum pasien dan
pertimbangan tindakan selanjutnya
b. Pasien memahami keadaan sakitnya
c. Respon nonverbal terkadang lebih
menggambarkan apa yang pasien rasakan
d. Mempertahankan posisi fungsional tulang
e. Memperlancar arus balik vena
f. Mengatasi nyeri misalnya kompres
hangat, mengatur posisi untuk mencegah
kesalahan posisi pada tulang/jaringan
yang cedera
g. Memfokuskan
kembali
perhatian,
meningkatkan
rasa
kontrol
dan
meningkatkan kemampuan koping dalam
manajemen nyeri yang mungkin menetap
untuk periode lebih lama
h. Mengontrol atau mengurangi nyeri pasien

3.

Ansietas/cemas
berhubungan
dengan krisis
situasi, perubahan
status kesehatan,
kekhawatiran
tentang
pengaruhnya pada
ADL atau
menghadapi
prosedur bedah

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 1 x
30menit,
ansietas
berkurang
NOC :
Anxiety selfcontrol
Anxiety level

a. Mampu
mengidentifikasi
dan mengungkapkan
gejala cemas
b. Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan
menunjukkan teknik
untuk mengontrol
cemas
c. Tanda-tanda vital
dalam rentang
normal
d. Postur tubuh
ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

Anxiety Reduction
a. Identifikasi tingkat kecemasan pasien
b. Jelaskan semua prosedur dan apa yang
dirasakan selama prosedur
c. Pahami perspektif pasien terhadap
kecemasan
d. Dorong keluarga untuk senantiasa
menemani pasien dan memberikan
ketenangan pada pasien
e. Bantu pasien untuk mengenal situasi
yang dapat menyebabkan cemas
f. Berikan informasi mengenai kondisi
penyakit pasien
g. Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, dan persepsi
terhadap rasa sakit yang dialaminya
h. Kolaborasikan pemberian obat untuk
menenangkan pasien

a. Mengidentifikasi seberapa jauh penyakit


menyebabkan kecemasan pada pasien dan
merupakan pedoman dalam menentukan
intervensi yang tepat bagi pasien
b. Memfasilitasi pengetahuan pasien
terhadap tindakan yang akan dilakukan
dan memberi ketenangan pada pasien
c. Membantu menentukan teknik untuk
mengurangi kecemasan pada pasien
d. Mencegah pasien mengalami ansietas
yang berlebihan
e. Mencegah pasien mengalami cemas yang
berulang akibat ketidakmampuan dalam
mengenal situasi
f. Memfasilitasi pengetahuan pasien
mengenai kondisi penyakitnya dan
memberi ketenangan pada pasien
g. Mengurangi beban pasien terhadap
ansietas yang dirasakan
h. Mengurangi ansietas yang dirasakan
pasien

b. Intra Operatif
No

Diagnosa

Tujuan

Kriteria hasil

Intervensi keperawatan

Rasional

1.

keperawatan
Resiko cedera
berhubungan
dengan tindakan
operasi

Resiko syok
berhubungan
dengan
hipovolemia

Setelah dilakukan
tindakan perawatan
sealama 1x24 jam
pasien akan terhindar
dari risiko cedera
NOC
Surgical precaution

Tidak ada komplikasi


pembedahan pada
jaringan daerah sekitar
Risiko cedera berkurang
atau hilang

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
1 x 24 jam, pasien
tidak beresiko syok

a. Tidak ada hematuria


dan hematemesis
b. Kehilangan darah
yang terlihat
c. Tekanan darah dalam
batas normal baik
sistol maupun diastole
d. Tidak ada perdarahan
pervagina maupun
internal bleeding
e. Hemoglobin dan
hematokrit dalam
batas normal

NOC :
- Blood lose severity
- Blood koagulation

NIC
Surgical precaution
1. Tidurkan klien pada meja operasi
dengan posisi sesuai kebutuhan
2. Monitor penggunaan instrumen

1. Mencegah jatuhnya klien.

f.

f.

2. Dapat mengetahui pemakaian


instrumen, jarum dan kasa.
3. Pastikan tidak ada instrumen
3. Dengan tertinggalnya benda
yang tertinggal dalam tubuh klien
asing dalam tubuh klien dapat
menimbulkan bahaya.
NIC :
Bleeding Precautions
a. Monitor tanda-tanda vital
a. Mengetahui kondisi umum
pasien
b. Monitor ketat tanda-tanda
b. Mencegah terjadinya
perdarahan
perdarahan berlebihan yang
tidak terlihat
c. Monitor kebutuhan cairan pasien c. Untuk mempertahankan
keseimbangan cairan tubuh
pasien
d. Lindungi pasien dari trauma atau d. Prosedur pembedahan
prosesur pembedahan yang dapat
terkadang dapat menyebabkan
menyebabkan perdarahan
perdarahan yang berlebihan
berlebihan
e. Catat nilai Hb dan Ht sebelum
e. Kadar Hb dan Ht menjadi
dan sesudah terjadinya
indikasi berkurangnya volume
perdarahan
darah
Kolaborasi dalam pemberian
transfusi darah

Mengganti volume darah yang


hilang

c. Post Operatif
No
1.

Diagnosa
keperawatan
Nyeri
berhubungan
dengan insisi
bedah,
pemasangan
kateter, dan
spasme kandung
kemih

Tujuan

Kriteria hasil

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
1 x 24 jam, nyeri
yang dirasakan
pasien berkurang.

a. Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab
nyeri, mampu
menggunakan teknik
nonfarmakologi untuk
mengurangi nyeri)
b. Melaporkan bahwa
nyeri berkurang
dengan menggunakan
manajemen nyeri
c. Mampu mengenali
nyeri (skala,
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)
d. Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang

NOC :
-Pain level
-Pain control
-Comfort level

Intervensi keperawatan
NIC :
Pain Management
a. Kaji karakteristik pasien secara
PQRST

b.
c.
d.

e.

f.
g.

Rasional

a. Membantu dalam menentukan


status nyeri pasien dan menjadi
data dasar untuk intervensi dan
monitoring keberhasilan
intervensi
Lakukan manajemen nyeri sesuai b. Meningkatkan rasa nyaman
skala nyeri misalnya pengaturan
dengan mengurangi sensasi
posisi fisiologis
tekan pada area yang sakit
Ajarkan teknik relaksasi seperti
c. Peningkatan suplai oksigen
nafas dalam pada saat rasa nyeri
pada area nyeri dapat membantu
datang
menurunkan rasa nyeri
Ajarkan metode distraksi
d. Pengalihan rasa nyeri dengan
cara distraksi dapat
meningkatkan respon
pengeluaran endorphin untuk
memutus reseptor rasa nyeri
Beri manajemen sentuhan berupa e. Meningkatkan respon aliran
pemijatan ringat pada area sekitar
darah pada area nyeri dan
nyeri
merupakan salah satu metode
pengalihan perhatian
Beri kompres hangat pada area
f. Meningkatkan respon aliran
nyeri
darah pada area nyeri
Kolaborasi dengan pemberian
g. Mempertahankan kadar obat

analgesik secara periodik

2.

Risiko infeksi
berhubungan
dengan insisi
operasi

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
3 x 24 jam, resiko
ineksi terkontrol
NOC :
Risk Control

a. tidak ada tanda infeksi


b. penyembuhan luka baik

a. Monitor tanda dan gejala infeksi a. Untuk mencegah terjadinya


sistenik dan lokal, Monitor
infeksi
kerentanan terhadap infeksi
b. Ispeksi kondisi luka / insisi b. Mendeteksi adanya infeksi
bedah
c. Dorong masukkan nutrisi yang c. Nutrisi yang baik, cairan yang
cukup, masukan cairan, dan
cukup, serta istirahat yang
istirahat
cukup dapat meningkatkan
sistem imun tubuh sehingga
mencegah terjadiny infeksi.
d. Laporkan kecurigaan
Laporkan kultur positif

3.

Hipotermi
berhubungan
dengan
vasodilatasi
pembuluh darah
akibat efek
anastesi RA,
pakaian tipis, dan
suhu lingkungan
ber-AC

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
1 x 24 jam hipotermi
dapat teratasi
NOC:
Termoregulasi

a. Suhu dalam rentang


normal
b. Tekanan darah, nadi,
dan nafas dalam
rentang normal

dan menghindari puncak


periode nyeri

a. Monitor suhu
b. Hindari penggunaan
basah dan dingin

infeksi, d. Agar segera dapat diambil


tindakan untuk mencegah
infeksi semakin buruk.
a. Nilai suhu dapat digunsksn
untuk menentukan intervensi
selanjutnya
pakaian b. Meningkatkan potensi hipotensi

c. Berikan pemanas eksternal aktif c. Menghangatkan tubuh sehingga


(bantalan penghangat, botol yang
suhu meningkat
berisi air hangat, selimut hangat,
dll)
d. Berikan pemanas internal aktif d. Menghangatkan tubuh dari

(cairan IV yang hangat, oksigen


dalam tubuh
humidifer yang hangat, dll)
e. Kolaborasikan dengan tim medis e. Mengatasi hipotermi.
untuk pemberian terapi sesuai
indikasi.

4. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses asuhan keperawatan.
Format evaluasi yang sering dipakai adalah format SOAP, dalam format ini
kita dapat mengetahui perkembangan keadaan pasien. Apakah masalah
keperawatannya sudah terselesaikan atau belum. Evaluasi keperawatan yang
mungkin dicapai dalam pemberian asuhan keperawatan pada kondisi pre
operatif, intra operatif, dan post operatif.
5. Discharge Planning
Menururt Brunner dan Suddarth (2002) ada beberapa hal penting yang harus
diinformasikan kepada klien untuk rencana pemulangan, yaitu:
a. Anjurkan klien agar tidak terlibat dalam segala bentuk aktivitas yang
menyebabkan efek valsava (mengejan saat defekasi, mengangkat benda
berat).
b. Anjurkan agar menghindari perjalanan dengan motor dalam jarak jauh
dan latihan berat, yang dapat meningkatkan kecenderungan perdarahan.
c. Pasien diingatkan untuk minum cukup cairan untuk mencegah dehidrasi,
yang meningkatkan kecenderungan terbentuknya bekuan darah dan
menyumbat aliran urine.
d. Anjurkan untuk menghindari makanan yang pedas, alkohol dan kopi

yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan.