Anda di halaman 1dari 8

Menuju Sekolah Berbasis Ramah

Lingkungan
Untuk SMA Alfa Centauri Bandung
Dibuat oleh: Anggita Larasati, Aulia Ulfatunnisa, Farhan Nuagi, Sophie Anggita,
dan Venettia Olga

Latar Belakang
Masalah lingkungan, kini sudah biasa terjadi di Bandung. Kini pemandangan sampah
berserakan di jalan, banjir, pencemaran udara, pencemaran sungai, sudah menjadi
pemandangan yang lumrah untuk warga Kota Bandung. Selain itu, rendahnya anggaran untuk
infrastruktur lingkungan pun menghambat fasilitas yang menunjang untuk penyelesaian
masalah lingkungan. Menyadari hal tersebut, kini pemerintah dan komunitas lingkungan
gencar melakukan usaha untuk menyebarkan gaya hidup ramah lingkungan seperti
penyuluhan, pembentukan peraturan untuk meminimalisir permasalahan lingkungan, dan
masih banyak lagi. Namun kami menyadari dampak yang ditimbulkan dari usaha tersebut
kurang menghasilkan perubahan yang signifikan terhadap kondisi lingkungan Kota Bandung,
karena nyatanya masih banyak pihak yang tidak peduli tentang permasalahan lingkungan.
Sementara pencemaran terus terjadi yang membuat kondisi lingkungan Kota Bandung kian
memburuk. Bila kondisi lingkungan semakin buruk, kesehatan masyarakat Kota Bandung
pun kian terancam.
Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap permasalahan lingkungan
diperlukan pendidikan dan pembiasaan hidup ramah lingkungan sejak dini, salah satunya di
lingkungan sekolah. Sekolah adalah tempat yang tepat untuk menciptakan generasi yang
peduli akan lingkungan. Diharapkan siswa yang telah memiliki gaya hidup ramah lingkungan
akan membawa kebiasaan tersebut kepada orang disekitarnya sehingga terjadi ripple effect
atau efek berantai. Bila hal ini terjadi, maka permasalahan lingkungan pun dapat diatasi,
sehingga kesehatan masyarakat pun dapat semakin meningkat.

Tujuan
Menciptakan generasi yang peduli akan lingkungan dengan membiasakan hidup ramah
lingkungan sejak dini.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka usaha-usaha yang dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan karakter dari SMA Alfa Centauri adalah sebagai berikut:

1. Gerakan Pungut Sampah


Gerakan Pungut Sampah (GPS) merupakan gerakan pembiasaan untuk memungut
sampah yang terdapat di lingkungan sekitar. GPS bertujuan untuk mengubah kultur
masyarakat agar lebih menjaga kebersihan di lingkungannnya. Kegiatan yang sederhana ini
sangat mungkin dilakukan di sekolah karena tidak diperlukan sarana prasarana khusus
sebagai penunjang. GPS dapat dilakukan 1 kali dalam seminggu secara bersama-sama
sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Gerakan Pungut Sampah diharapkan dapat
menjadi sebuah kultur yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui GPS, dapat
dibangun pola pikir bahwa aksi nyata nan sederhana seperti memungut sampah dapat
memberikan manfaat bagi banyak orang. Kontribusi sederhana dari masing-masing orang
ternyata dapat memberikan dampak yang besar dalam menciptakan lingkungan yang bersih
dan nyaman bagi semua orang.
Di lingkup sekolah, GPS dapat memberikan beberapa dampak yang positif bagi para
siswa. Pertama, GPS yang dilakukan secara bersama-sama dapat membantu siswa dalam
menumbuhkan rasa sikap gotong-royong. Kedua, GPS juga dapat meningkatkan rasa
tanggung jawab masing-masing siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan di sekitar
mereka. Melalui GPS, siswa dapat lebih tersadarkan bahwa kebersihan lingkungan bukan
hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan saja, tetapi merupakan tanggung jawab
semua pihak yang berada di lingkungan tersebut. Siswa menjadi dapat lebih memahami
bahwa siswa wajib menjaga kebersihan sekolah karena siswa juga merupakan bagian dari
sekolah. Dengan demikian, rasa kecintaan siswa terhadap sekolah juga dapat meningkat.
Selain itu, melalui GPS siswa dapat memberikan contoh dan pengaruh yang baik kepada
warga sekitar untuk lebih peduli terhadap lingkungannya.
2. Diet Kantong Plastik
Diet Kantong Plastik merupakan sebuah gerakan untuk mengajak masyarakat agar
lebih bijak dalam menggunakan kantong plastik. Gerakan ini muncul didasari oleh
kekhawatiran mengenai semakin banyaknya jumlah sampah plastik yang dihasilkan oleh
setiap orang. Padahal, sampah berupa kantong plastik biasanya tidak didaur ulang kembali.
Sedangkan, plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai . Akibatnya
sampah plastik yang sulit terurai akan menyebabkan pencemaran tanah, air tanah, dan
makhluk tanah. Bentuk pencemaran tanah dari sampah plastik adalah berkurangnya
kesuburan dari tanah akibat terhambatnya gerakan mahluk hidup yang berfungsi

menyuburkan tanah. Sampah plastik juga dapat menyebabkan terhambatnya aliran air di
dalam tanah dan menghambat sirkulasi udara dalam tanah.
Untuk itu, perlu dilakukan suatu pembiasaan agar masyarakat bisa mengurangi
penggunaan kantong plastik. Sehingga, sampah plastik tidak terus menumpuk menjadi
sampah yang membebani lingkungan.
Di lingkungan sekolah, gerakan diet kantong plastik juga sangat mungkin dilakukan.
Sama halnya seperti GPS, kebijakan ini tidak memerlukan sarana prasarana khusus. Diet
kantong plastik dapat dilakukan dengan tidak menyediakan kantong plastik di kantin sekolah.
Sehingga, para siswa dihimbau untuk membawa kotak bekal apabila hendak membeli
makanan yang biasanya dibungkus dengan plastik. Sekolah juga dapat menghimbau para
siswa untuk membawa reusable bag sebagai pengganti kantong kresek. Diet kantong plastik
pun dapat didukung dengan kebijakan plastik berbayar yang akan membuat siswa lebih
memilih cara yang ekonomis dan ramah lingkungan dengan membawa kotak bekal atau
menggunakan reusable bag.
Diet kantong plastik memiliki suatu manfaat besar, yaitu dapat meningkatkan kesadaran
siswa akan bahayanya penggunaan kantong plastik yang berlebihan. Rasa cinta lingkungan
juga dapat terus ditumbuhkan dalam diri para siswa. Mereka bisa semakin memahami bahwa
menjaga lingkungan bisa dimulai dari diri sendiri, dengan cara yang paling sederhana.
3. Pemilahan Sampah
Kualitas infrastruktur persampahan di Kota Bandung masih sangatlah rendah,
sehingga perlu dilakukan usaha untuk meminimalisir sampah yang dihasilkan, agar sampah
yang terkumpul di TPA tidak melebihi batas daya dukung infrastruktur yang ada. Salah satu
cara untuk meminimalisir volume sampah yang dihasilkan adalah dengan melakukan
pemilahan sampah di sumber. Hal ini bertujuan untuk memastikan material yang dapat didaur
ulang masih dalam kondisi baik dan tidak ada yang tercampur dengan sampah organik.
Jenis pengelompokan sampah yang dapat diterapkan secara sederhana adalah botol,
kertas, dan lain-lain. Hasil pengumpulan sampah botol dan kertas dapat di salurkan ke
pemulung. Hal ini pun dapat menjadi ladang amal bagi sekolah karena telah membantu
meningkatkan penghasilan para pemulung, terutama banyak pemulung yang sudah berada di
usia renta namun masih bekerja keras demi mendapat penghasilan. Terdapat pula opsi lain
bila ingin melakukan pemilahan sampah yang lebih baik, yaitu dengan bekerja sama dengan

pihak bank sampah, misalnya bank sampah hijau lestari yang berada di kawasan Tubagus
Ismail. Bila sekolah menjadi nasabah dari bank sampah, sekolah akan mendapat keuntungan
dari hasil pilahan sampah yang disalurkan. Pengelompokan sampah yang dilakukan pun dapat
lebih detail yaitu plastik, kertas, logam, beling, dan lain-lain. Semakin detail pengelompokan
sampah, maka jumlah sampah yang di daur ulang akan semakin banyak dan sampah yang di
salurkan ke TPA akan semakin sedikit.
Memilah sampah merupakan hal yang sangat edukatif bagi para siswa, yaitu untuk
memberikan pengetahuan bahwa banyak jenis sampah yang masih bisa dimanfaatkan,
sehingga sampah tidak dipandang menjadi hal buangan belaka. Akan lebih baik bila siswa
memiliki pengetahuan dalam hal daur ulang sampah, seperti mengolah karya dari sampah,
mendaur ulang kertas, atau membuat kompos dari sampah organik. Hal ini dapat memacu
kreativitas dari para siswa serta membentuk gaya hidup ramah lingkungan.

4. Memelihara Tanaman
Indonesia memiliki keanekaragaman flora yang sangat tinggi. Kelestarian flora,
merupakan salah satu kunci dari kesehatan lingkungan. Kehidupan manusia tidak lepas dari
kebergantungannya dari sumber alam, terutama tumbuhan, untuk memenuhi kebutuhannya
mulai dari yang mendasar, seperti kesehatan, pangan, dan keindahan. Kesadaran akan
pentingnya menjaga kelestarian tumbuhan dapat dimulai dari sekolah. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara sekolah memiliki tanaman yang wajib dirawat oleh para siswa. Kegiatan ini
dapat melatih rasa tanggung jawab para siswa terhadap apa yang di milikinya.
Kini metode penanaman pun dapat dilakukan dengan konsep yang tidak memakan
banyak tempat, seperti vertikal garden. Botol pun dapat digunakan sebagai alternatif dari pot,
hal ini pun memberi pendidikan kepada siswa bahwa sampah masih dapat dimanfaatkan
menjadi barang yang lebih berguna.

Gambar 1. Vertikal garden

Kegiatan ini pun dapat menjadi ajang pengetahuan bagi para siswa. Materi tanaman
yang dipelajari di mata pelajaran biologi dapat dilihat wujud aslinya pada tanaman yang
dirawat siswa disekolah. Sehingga siswa akan lebih mudah memahami, tidak hanya sekadar
menghafal tanaman yang di pelajarinya di kelas. Selain itu, hadirnya tanaman dapat
meningkatkan nilai estetis dari sekolah serta membuat suasana sekolah menjadi lebih asri.

5. Menggunakan Kertas pada Dua Sisi


Seperti telah disebutkan sebelumnya, pada tahun 2001, Indonesia memproduksi 1,6
juta ton sampah kertas setiap tahunnya (Wahyono, 2001). Pertumbuhan penduduk serta
peningkatan gaya hidup cenderung akan menaikkan angka ini. Sampah kertas yang sudah
dipilah dapat diolah kembali menjadi kertas daur ulang. Namun, sebelum daur ulang, juga
diperlukan upaya untuk mengurangi jumlah sampah kertas itu sendiri. Mencegah produksi 1
ton sampah kertas dapat menyelamatkan 15 hingga 17 pohon dewasa (National Wildlife
Federation, 2016), yang mampu memenuhi kebutuhan oksigen 60 hingga 68 orang (Evans,
2002).
Pengurangan jumlah sampah kertas dapat dilakukan dengan hemat kertas. Di sekolah,
hemat kertas dapat dilakukan dengan penggunaan kertas pada dua sisi. Dengan ini, jumlah
buangan kertas dapat berkurang. Siswa pun dapat belajar menghargai kertas dan mencegah
sifat boros.

6. Membawa Tumblr
Salah satu kegiatan ramah lingkungan lainnya yang dapat dilakukan ialah dengan
membawa botol minum sendiri ke sekolah. Hal ini didasari oleh semakin banyaknya jumlah
sampah plastik yang dihasilkan oleh setiap orangnya. Padahal, plastik membutuhkan waktu
yang sangat lama untuk dapat terurai. Untuk itu, perlu dilakukan suatu pembiasaan agar siswa
dapat mengurangi penggunaan plastik. Sehingga, sampah plastik tidak terus menumpuk
menjadi sampah yang membebani lingkungan. Himbauan untuk selalu mebawa botol minum
ini semestinya tidak akan merepotkan siswa. Hal ini akan memberi dampak positif, baik bagi
siswa itu sendiri maupun bagi lingkungan.
Membawa botol minum ke sekolah merupakan kebiasaan yang baik untuk kesehatan
para siswa. Para siswa menjadi terbiasa untuk minum air putih setiap harinya, sehingga siswa
dapat hidup lebih sehat. Kualitas air minum yang dibawa dari rumah masing-masing juga

lebih terjamin. Selain itu, kebiasaan ini juga efektif untuk mengurangi jumlah sampah plastik
yang dihasilkan dan lebih ekonomis. Jika diasumsikan setiap siswa biasanya membeli 1 botol
air mineral per hari seharga Rp 2.500, maka siswa tersebut akan menghasilkan kira-kira 2025 botol dalam 1 bulan seharga sekitar Rp 60.000,00. Padahal jika menggunakan botol
minum, tidak ada sampah yang dihasilkan dan tidak ada uang yang dikeluarkan. Melalui
kebijakan ini, siswa dapat belajar bahwa langkah sederhana yang mereka lakukan ternyata
bisa berdampak besar bagi lingkungan dan diri mereka sendiri.
7. No Styrofoam
Kebijakan lain yang bisa diterapkan adalah berupa larangan penggunaan styrofoam.
Styrofoam merupakan material yang tidak bisa diuraikan oleh alam. Pembuatan styrofoam
pun sangat berbahaya, styrofoam dapat menghasilkan bau yang tak sedap dan melepaskan 57
zat berbahaya ke udara. EPA (Enviromental Protection Agency) mengategorikan proses
pembuatan styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia.
Selain itu styrofoam bersifat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Beberapa
laporan penelitian dan riset ilmuwan pangan menunjukkan bahwa styrofoam memiliki potensi
yang sangat membahayakan kesehatan manusia, karena dapat memicu sel tumor dan
kanker. Makanan panas yang dimasukan ke dalam styrofoam menyebabkan material
styrofoam meleleh. Ketika makanan masuk ke dalam tubuh, material plastik ikut terbawa dan
terakumulasi di dalam tubuh sehingga meimbulkan kanker. Pada plastik pembungkus
makanan dan styrofoam juga ditemukan zat pengawet mayat. Zat racun tersebut baru akan
luruh ke dalam makanan bila dalam kondisi panas, seperti saat terkena air atau minyak
panas.
8. Sustainability
Upaya-upaya sederhana dalam rangka menyelamatkan lingkungan tentu baru akan
berdampak jika dilakukan secara berkelanjutan. Maka diperlukan seorang penanggung jawab
dan suatu tim yang berasal dari para siswa, yang akan berperan membantu mengawasi dan
menegakan kebijakan-kebijakan yang diterapkan. Tim ini pula yang nantinya diharapkan
dapat menjadi role model di kalangan para siswa dalam melaksanakan gaya hidup ramah
lingkungan. Apabila sistem pengawasan yang dijalankan oleh tim ini sudah baik, maka
kebijakan-kebijakan sekolah diharapkan dapat terus diterapkan secara berkelanjutan.
Tentunya dukungan dari para guru dan pihak sekolah sangat dibutuhkan demi
menciptakan sekolah berbasis ramah lingkungan. Dukungan dapat dilakukan dengan menjadi

role model untuk para siswa, serta memberikan pengertian dan penekanan betapa gaya hidup
ramah lingkungan memiliki pengaruh yang besar demi diri sendiri dan juga lingkungan
sekitar.
Selama ini masalah lingkungan memang kurang menjadi perhatian bagi masyarakat.
Namun di luar sana banyak masyarakat yang hidupnya terancam akibat permasalahan
lingkungan yang diakibatkan oleh manusia lainnya yang tidak bertanggug jawab. Banyak
siswa yang belum mengetahui seberapa parah permasalahan lingkungan yang terjadi di
sekitar mereka, dan banyak pula siswa yang belum menyadari bahwa kegiatan kecil yang
mereka lakukan dapat menimbulkan masalah yang besar bagi makhluk lainnya bahkan diri
mereka sendiri. Gaya hidup ramah lingkungan merupakan hal dasar yang dapat dilakukan
siswa untuk lebih peka terhadap masalah lingkungan yang terjadi dan berperan aktif dalam
membantu mencegah terjadinya permasalahan lingkungan yang terjadi di kemudian hari.
Karena peran kecil dapat menjadi sangat berarti bagi lingkungan besar di sekitarnya.