Anda di halaman 1dari 11

ASIDOSIS METABOLIK

Disusun oleh:
Desi

(A101.19.006)

Dewi Sekar

(A101.19.007)

Dina Fitri Astuti

(A101.19.008)

Ela Kusumawati

(A101.19.009)

Fatoni Aditya O

(A101.19.010)

Febriana Ramadhani (A101.19.011)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL


TAHUN 2016/2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmatNya sehingga makalah ini dapat kami selesaikan tepat waktu. Tidak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Indah selaku dosen mata kuliah Biokimia yang
sudah membimbing kami didalam penyusunan tugas ini.
Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas mata kuliah Biokimia. Topik
pembahasan mengenai asidosis metabolik. Kami berharap makalah asidosis metabolic
ini dapat menambah pengetahuan juga wawasan dari pembaca. Dalam penyusunan
makalah ini, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, oleh sebab itu kami
mengharap kritik dan saran dari pembaca. Terima kasih.

Surakarta, Oktober 2016


Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................I
DAFTAR ISI....................................................................................................II
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................2
BAB II ISI
2.1 Pengertian Asidosis Metabolik........................................................3
2.2 Mekanisme Asidosis Metabolik......................................................6
BAB III: PENUTUP
3.1Kesimpulan.......................................................................................8
3.2Saran.................................................................................................8
Daftar Pustaka...................................................................................................8

II

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asidosis metabolik adalah suatu keadaan terjadi peningkatan
keasaman di dalam darah yang disebabkan oleh berbagai keadaan dan
penyakit tertentu dimana tubuh tidak bisa mengeluarkan asam dalam
pengaturan keseimbangan asam basa. Hal ini penting untuk menjaga
keseimbangan fungsi sistem organ tubuh manusia. Ginjal dan paru merupakan
dua organ yang berperan penting dalam pengaturan keseimbangan ini.
Untuk mempertahankan pH antara 7,38-7,42, tubuh menetralkan dan
membuang kuantitas volatile acid (dari pembakaran selular karbohidrat dan
lemak) dan nonvolatile acid (hasil metabolisme protein). Asam-asam tersebut
dibuffer segera setelah diproduksi, sehingga akan mencegah perubahan pH
secara mendadak. Sistem buffer yang pokok dalam tubuh adalah protein dan
fosfat dalam kompartemen intra seluler, system bikarbonat-asam karbonik
dalam kompartemen ekstra seluler, dan hemoglobin di dalam sel darah merah.
Dalam praktek sehari hari di klinik, sistem bikarbonat-asam karbonik
dipakai untuk analisis, karena dengan mudah komponen bagian dapat diukur.
Sebagian besar diagnosis gangguan asam basa dapat ditegakan dengan data
laboratorium, seperti pH, PCO2, konsentrasi bikarbonat natrium (biknat),
klorida urin, dan perhitungan kesenjangan anion. Walaupun demikian, untuk
akurasi diagnosis, data laboratorium harus dikaitkan dengan klinik pasien.
Kelainan komponen respirasi ditentukan oleh pengukuran PCO2
arterial, kadar dibawah 40 mmHg menunjukan terjadinya ventilasi pulmonary
yang berlebihan dan kadar diatas 40 mmHg menunjukan keadaan
hipoventilasi. Apakah perubahan ventilasi disebabkan oleh kelainan primer
(asidosis atau alkalosis respiratorik) atau akibat kompensasi gangguan
metabolik (asidosis atau alkalosis metabolik) tergantung dari penilaian klinik.

Komponen metabolik dievaluasi dengan pengukuran CO2 content atau CO2


combining power. Suatu perubahan konsentrasi bikarbonat dapat merupakan
kelainan metabolik primer atau sekunder akibat kelainan respirasi. Cara
membedakan kedua hal ini adalah dengan cara mencocokan data laboratorium
dengan kondisi klinik pasien.
Pengobatan asidosis metabolik tergantung pada penyebabnya. Sebagai
contoh, diabetes tipe II IDDM (Insulin Dependen Diabetic Mellitus)
dikendalikan dengan insulin atau keracunan diatasi dengan membuang racun
tersebut dari dalam darah. Kadang-kadang perlu dilakukan dialisa untuk
mengobati overdosis atau keracunan yang berat. Asidosis metabolik juga bisa
diobati secara langsung tanpa kecuali. Apabila terjadi asidosis ringan, yang
diperlukan hanya cairan intravena dan pengobatan terhadap penyebabnya.
Apabila terjadi asidosis berat, diberikan bikarbonat mungkin secara intravena;
namun bikarbonat hanya memberikan kesembuhan sementara dan dapat
membahayakan pasien. Pemilihan terapi memang seharusnya mengutamakan
keselamatan jiwa pasien, sehingga harus dipertimbangkan dengan tepat risiko
dan manfaat terapi berdasarkan data ilmiah yang terpercaya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pengertian asidosis metabolik?
2. Bagaimana mekanisme asidosis metabolik?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian asidosis metabolik
2. Untuk mengetahui mekanisme asidosis metabolik

BAB II
ISI
2.1 Pengertian Asidosis Metabolik
Asidosis metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, ditandai
dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman
melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam.
Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan
lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam
darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal
juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan
lebih banyak asam dalam urin. Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa
berlebihan jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam,
sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma.
Asidosis metabolik dapat disebabkan oleh beberapa penyebab
kelompok utama, yaitu :
1. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu
asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar bahan
yang menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun. Contohnya
adalahzat anti beku (etilen glikol) dan metanol (alkohol kayu). Overdosis
aspirin juga dapat menyebabkan asidosis metabolik.
2. Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang
asam dalam jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang
normalpun bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara
normal. Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis,
yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang
mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam.
3. Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme.
Tubuh dapat menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari
beberapa penyakit; salah satu diantaranya adalah diabetes melitus tipe I.
3

Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh akan memecah lemak
dan menghasilkan asam yang disebut keton. Asam yang berlebihan juga
ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana asam laktat dibentuk dari
metabolisme gula.
Asidosis di tubulus ginjal
Akibat dari gangguan ekskresi ion hidrogen atau reabsorbsi bikarbonat oleh
ginjal atau kedua-duanya. Gangguan reabsorbsi bikarbonat di tubulus ginjal
menyebabkan hilangnya bikarbonat dalam urin atau ketidakmampuan
mekanisme sekresi hidrogen di tubulus ginjal untuk mencapai keasaman urin
yang normal menyebabkan eksresi urin yang alkalis.
Diare
Diare berat merupakan penyebab asidosis yang paling sering. Penyebabnya
adalah hilangnya sejumlah besar natrium bikarbonat melalui feses karena
sekresi gastrointestinal yang secara normal mengandung sejumlah besar
bikarbonat dan diare ini menyebabkan hilangnya ion bikarbonat dari tubuh.
Bentuk asidosis metabolik ini berlangsung berat dan dapat menyebabkan
kematian terutama pada anak-anak.
Diabetes Melitus(DM)
Diabetes melitus disebabkan oleh tidak adanya sekresi insulin oleh pankreas
yang menghambat penggunaan glukosa dalam metabolisme. Hal ini terjadi
karena adanya pemecahan lemak menjadi asam asetoasetat dan asam ini
dimetabolisme oleh jaringan untuk menghasilkan energi, menggantikan
glukosa. Pada DM yang berat kadar asetoasetat dalam darah meningkat sangat
tinggi sehingga menyebabkan asidosis metabolik yang berat.
Penyerapan Asam
Jarang sekali sejumlah besar asam diserap dari makanan normal akan tetapi
asidosis metabolik yang berat kadang-kadang dapat disebabkan oleh keracuan
asam tertentu antara lain aspirin dan metil alkohol.
Gagal Ginjal Kronis
Saat fungsi ginjal sangat menurun terjadi pembentukan anion dari asam lemak
dalam cairan tubuh yang tidak eksresikan oleh ginjal. Selain itu penurunan
4

laju filtrasi glomerulus mengurangi eksresi fosfat dan NH yang mengurangi


jumlah bikarbonat.
Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang
asam dalam jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang normal bisa
menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal. Kelainan
fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis, yang bisa terjadi
pada penderita gagal ginjal atau penderita dengan kelainan yang
mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam.
KASUS
Wanita 40 tahun datang ke IGD dengan keluhan sakit pinggang bawah,
demam, mual, muntah, menggigil, pusing dan sesak napas. Pasien
menyatakan kalau kencing rasa panas (disuria) dia juga mempunyai
riwayat diabetes militus yang tidak tergantung insulin tetapi
menyangkal masalah medis lain. Hasil lab menunjukan hitung sel
darah putih 20.000/mm3, hb dan hematokrit normal. Kadar glukosa
darah 200 mg/dl dan kadar bikarbonat serum rendah. Hasil AGD
menunjukkan pH darah arterial 7,28 dan diduga asidosis metabolic.
Urinalisannya menunjukkan jumlah abnormal batang gram negative

2.2 Mekanisme Asidosis Metabolik


Pada keadaan normal, pH darah dipertahankan dalam rentang yang
sempit (7,35-7,45) agar sel tubuh dapat bekerja dengan baik. Ini
dimungkinkan dengan adanya sistem buffer yang dibantu mekanisme
kompensasi dan koreksi fisiologis oleh paru-paru dan ginjal. Bila pH darah
meningkat dari normal disebut alkalemia dan sebaliknya pH darah menurun
disebut asidemia. Sedangkan istilah osis (asidosis atau alkalosis) merupakan
proses yang menyebabkan perubahan kadar asam atau basa dalam darah
(asidemia atau alkalemia). Demikian juga, istilah - osis tidak selalu berarti ada
perubahan pH darah. Misalnya, pada asidosis metabolik tidak selalu ada
5

asidemia. Karena penumpukan asam dapat dinetralisir oleh sistem buffer yang
dibantu mekanisme kompensasi dan koreksi oleh paru-paru dan ginjal.
Dari

persamaan

Henderson-Hasselbalch:

pH

pK

log

HCO3/H2CO3
Terlihat pH dipengaruhi oleh rasio kadar bikarbonat (HCO3-) dan
asam karbonat darah (H2CO3) sedangkan kadar asam karbonat darah
dipengaruhi oleh tekanan CO2 darah (pCO2). Bila rasio ini berubah, pH akan
naik atau turun. Penurunan pH darah di bawah normal yang disebabkan
penurunan kadar bikarbonat darah disebut asidosis metabolik. Sebagai
kompensasi penurunan bikarbonat darah, akan dijumpai pernafasan cepat dan
dalam (pernafasan Kussmaul) sehingga tekanan CO2 darah menurun
(hipokarbia). Selain itu ginjal akan membentuk bikarbonat baru (asidifikasi
urine) sehingga pH urine akan menjadi asam. Penurunan kadar bikarbonat
darah bisa disebabkan oleh hilangnya bikarbonat dari dalam tubuh (keluar
melalui saluran cerna atau ginjal) ataupun disebabkan oleh penumpukan
asam-asam organik, -baik endogen maupun eksogen-, yang menetralisir
bikarbonat. Berdasarkan hukum elektroneutral, jumlah kation harus sama
dengan jumlah anion dalam satu larutan, pada asidosis metabolik di mana
terjadi penurunan kadar bikarbonat plasma akibat penumpukan asam organik
dalam plasma (anion yang tidak terukur meningkat), dijumpai kadar klorida
darah normal. Keadaan ini disebut asidosis metabolik dengan anion gap
(kesenjangan anion) meningkat atau asidosis metabolik normokloremia.
Sebaliknya bila asidosis metabolik terjadi karena penurunan kadar bikarbonat
plasma akibat hilangnya bikarbonat dari tubuh, akan dijumpai peninggian
kadar klorida darah. Ini disebut dengan asidosis metabolik dengan anion gap
(kesenjangan anion) normal ataupun asidosis metabolik hiperkloremia. Anion
gap (kesenjangan anion) dihitung dengan cara mengurangi kadar natrium
darah dengan jumlah bikarbonat dan klorida darah atau anion gap = Na+(HCO3 + Cl). Normalnya antara 816 mEq/L. Karena itu pemeriksaan kadar
6

klorida darah, disamping kadar bikarbonat dan natrium darah diperlukan


untuk membedakan kedua jenis asidosis metabolik tersebut di atas.
Diagnosis asidosis dapat dilakukan dari analisis gas darah karena dapat
memberikan gambaran homeostasis dari keseimbangan asam basa, perbedaan
basa, dan oksigenasi darah.
Nilai pH kurang dari 7,4.
Konsentrasi PCO2
plasma akan meningkat dari 44 mmHg.
Konsentrasi bikarbonat kurang dari 22 mEq/L.
Selain dari AGD dapat diperlukan pemeriksaan tambahan untuk membantu
menentukan penyebabnya. Misalnya kadar gula darah yang tinggi dan adanya
keton dalam urin biasanya menunjukkan suatu diabetes yang tidak terkendali.
Adanya bahan toksik dalam darah menunjukkan bahwa asidosis metabolik
yang terjadi disebabkan oleh keracunan atau kelebihan dosis. Kadang-kadang
dilakukan pemeriksaan urinalisa secara mikroskopis dan pengukuran pH urin
serta kadar elektrolit serum.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Asidosis metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, ditandai
dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman
melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam.
Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan
lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam
darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal
juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan
lebih banyak asam dalam urin. Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa
berlebihan jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam,
sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma.
Dapat disimpulkan penyebab utama dari asidosis metabolik yaitu :
gagal ginjal, kelainan bentuk ginjal (Asidosis Tubulus Renalis), Ketaoasidosis
Dieabetikum, Betambahnya asam laktat (Asidosis Laktat), Kehilangan basa
(misalnya bikarbonat) melalui saluran pencernaan karena diare, ileostomi atau
kolostomi, dan Bahan beracun seperti etilen glikol, overdosis salisilat,
metanol, paraldehid, asetazolamid atau amonium klorida.
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Latief, Abdul. 2005. Asidosis Metabolik. Jakarta; Departement Ilmu Kesehatan Anak
FKUI/RS-Cipto Mangunkusumo