Anda di halaman 1dari 23

RESUME PADA KLIEN Ny S DENGAN GANGGUAN

SISTEM PERSEPSI SENSORI TUMOR MATA (PALPEBRA)


DI RUANG POLI MATA RSUD SYEKH YUSUF
KAB. GOWA

OLEH
MAWAR HANDAYANI
113781202

CI LAHAN

Ns. YUYUN, S.Kep

CI INTITUSI

Ns. ROSMINA SITUNGKIR, S.KeP., SKM

PROGRAM SI. KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN (STIK) FAMIKA MAKASSAR
TA. 2014

BAB I
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Kekerapan tumor di mata sangat kecil dibandingkan tumor di bagian tubuh yang
lain, sekitar satu persen saja. Tapi hal ini sangat penting karena mata alat vital dan
pengobatannya terkadang sulit sehingga harus mengorbankan penglihatan. Karena itu,
sering terjadi tawar-menawar antara dokter dengan pasien untuk mengangkat tumor
tersebut karena setiap pengangkatan tumor ganas mengharuskan tepi sayatan bebas dari
sel-sel tumor, artinya sayatan harus dilakukan beberapa milimeter sampai beberapa
centimeter di luar jaringan tumor.
Bisa dibayangkan, betapa sulit mengatur sayatan yang bebas tumor tanpa harus
mengorbankan bola mata. Kebanyakan pasien tidak ingin kehilangan matanya, sehingga
yang diangkat hanya sebagian, hal inilah yang menimbulkan kekambuhan dan akhirnya
membawa kematian.
II. TUJUAN
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka tujuan penulisan makalah ini antara
lain sebagai berikut :
A. Untuk mengetahui landasan teoritis tumor mata
B. Untuk mengetahui landasan teoritis asuhan keperawatan tumor mata
C. Untuk mengetahui pendidikan kesehatan yang tepat untuk pasien tumor mata

LAPORAN PENDAHULUAN
TUMOR MATA
(PALPEBRA)
A. KONSEP DASAR MEDIS
I.

DEFINISI
Tumor adalah pertumbuhan atau tonjolan abnormal di tubuh. Tumor sendiri
dibagi menjadi jinak dan ganas. Tumor ganas disebut sebagai kanker.
Tumor pada mata disebut juga tumor orbita. Tumor orbita adalah tumor yang
menyerang rongga orbita (tempat bola mata) sehingga merusak jaringan lunak mata,
seperti otot mata, saraf mata, dan kelenjar air mata. Rongga orbital dibatasi sebelah
medial oleh tulang yang membentuk dinding luar sinus ethmoid dan s fenoid. Sebelah
superior oleh lantai fossa anterior, dan sebelah lateral oleh zigoma, tulang frontal dan
sayap sfenoid besar. Sebelah inferior oleh atap sinus maksilari.

II.

ETIOLOGI
a. Mutasi gen pengendali pertumbuhan (kehilangan kedua kromosom dari satu pasang
b.
c.
d.
e.
f.

alel dominan protektif yang berada dalam pita kromosom 13q14).


Malformasi congenital.
Kelainan metabolism.
Penyakit vaskuler.
Inflamasi intraokuler.
Neoplasma. dapat bersifat ganas atau jinak Neoplasma jinak tumbuh dengan batas
tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi menekan jaringan disekitarnya dan

biasanya tidak mengalami metastasis.


g. Trauma

III.

KLASIFIKASI
Berdasarkan posisinya tumor mata/orbita dikelompokkan sebagai berikut:
a. Tumor eksternal yaitu tumor yang tumbuh di bagian luar mata seperti:

Tumor palpebra, yaitu tumor yang tumbuh pada kelopak mata


Misalnya : Tumor Adeneksa, tumor menyerang kelopak mata (bagian kulit
yang dapat membuka dan menutup).
Tumor konjungtiva, yaitu tumor yang tumbuh pada lapisan konjungtiva
yang melapisi mata bagian depan
b. Tumor intraokuler yaitu tumor yang tumbuh di dalam bola mata.
Contoh : Retinoblastoma(RB). Jenis ini adalah tumor ganas retina dan
merupakan tumor primer bola mata terbanyak pada anak.
c. Tumor retrobulber yaitu tumor yang tumbuh di belakang bola mata.
IV.

PATOPISIOLOGI
Tumor orbita dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor genetik
yang diyakini ikut berpengaruh terhadap tumbuhnya tumor. Sebagian besar tumor orbita
pada anak-anak bersifat jinak dan karena perkembangan abnormal. Tumor ganas pada
anak-anak jarang, tetapi bila ada akan menyebabkan pertumbuhan tumor yang cepat dan
prognosisnya jelek.
Tumor Orbita meningkatkan volume intraokular dan mempengaruhi masa.
Meskipun masa secara histologis jinak, itu dapat mengganggu pada struktur orbital
atau yang berdekatan dengan mata. Dan bisa juga dianggap ganas apabila mengenai
struktur anatomis. Ketajaman visual atau kompromi lapangan, diplopia, gangguan
motilitas luar mata, atau kelainan pupil dapat terjadi dari invasi atau kompresi isi
intraorbital sekunder untuk tumor padat atau perdarahan. Tidak berfungsinya katup
mata atau disfungsi kelenjar lakrimal dapat menyebabkan keratopati eksposur,
keratitis, dan penipisan kornea.
Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor
melalui nervus optikus ke otak, melalui sklera ke jaringan orbita dan sinus paranasal,
dan metastasis jauh ke sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat
bercak kuning mengkilat, dapat menonjol ke dalam badan kaca. Di permukaan terdapat
neovaskularisasi dan pendarahan. Warna iris tidak normal.

V.

MANIFESTASI KLINIS
a. Nyeri orbital
Jelas pada tumor ganas yang tumbuh cepat, namun juga merupakan gambaran
khas 'pseudotumor' jinak dan fistula karotid-kavernosa.

b.

Proptosis
Pergeseran bola mata kedepan adalah gambaran yang sering dijumpai, berjalan
bertahap dan tak nyeri dalam beberapa bulan atau tahun (tumor jinak) atau cepat
(lesi ganas).

c.
d.

Arah bola mata tidak lurus kedepan


Turunnya penglihatan sampai buta
Penglihatan terganggu akibat terkenanya saraf optik atau retina, atau tak langsung
akibat kerusakan vaskuler.

e.
f.
g.
h.

Penglihatan ganda
Nyeri
Merah
Pembengkakan kelopak atau terlihatnya massa tumor
Mungkin jelas pada pseudotumor, eksoftalmos endokrin atau fistula karotidkavernosa.

i.

Palpasi
Bisa menunjukkan massa yang menyebabkan distorsi kelopak atau bola mata,
terutama dengan tumor kelenjar lakrimal atau dengan mukosel.

j.

Pulsasi
Menunjukkan

lesi

vaskuler;

fistula

karotidkavernosa

atau

malformasi

arteriovenosa, dengarkan adanya bruit.


k.

Gerak mata
Sering

terbatas oleh sebab mekanis,

namun bila nyata, mungkin akibat

oftalmoplegia endokrin atau dari lesi saraf III, IV, dan VI pada fisura orbital
(misalnya sindroma Tolosa Hunt) atau sinus kavernosus.

VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN DIAGNOSTIK


Sebagian tumor orbita dapat dengan mudah diidentifikasi, namun ada tumor
orbita yang tidak terihat sampai berkembang membesar sehingga menimbulkan
kelainan di orbita. Tumor orbita sering didiagnosa dengan bantuan CT-Scan atau
MRI, sementara itu diagnosa pasti melalui pemeriksaan patologi anatomi.

a.

Foto polos orbit


Menunjukkan erosi lokal (keganasan), dilatasi foramen optik (meningioma,
glioma saraf optik) dan terkadang kalsifikasi (retinoblastoma, tumor kelenjar
lakrimal). Meningioma sering menyebabkan sklerosis lokal.

b.

CT scan orbit
Menunjukkan lokasi tepat patologi intraorbital dan memperlihatkan adanya setiap
perluasan keintrakranial.

c.

Venografi orbital
Mungkin membantu.

d.

Pencitraan tomografi terkomputer pada tumor orbita

Tomografi terkomputer ini sangat membantu karena dengan alat itu dapat terlihat
dengan jelas seluruh jaringan lunak orbita dan tulang-tulangnya sekalipun. Dengan
tomografi terkomputer diperoleh kesehatan nilai akurasi sampai sekitar 80-85 %, hal
ini dapat dicapai, oleh karena dengan pemeriksaan tomografi terkomputer tampak
perbedaan densitas jaringan yang rnembentuk jenis tumor tersehut Untuk lesi yang
terletak di retrobulbair dengan pemeriksaan tomografi terkomputer didapatkan nilai
akurasi 99.4 %. Hasil pemeriksaan tomografi terkomputer yang negatif palsu dapat
terjadi bila lesi terbatas di daerah bulbus okuli.
Pemeriksaan diagnostik pada mata secara umum sebagai berikut :
a. Kartu mata Snellen/ mesin telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan) ; mungkin terganggu dengan kerusaakan kornea, lensa, aqueus atau
vitreus Humour, kesalahan refraksi atau penyakit system saraf atau penglihatan
ke retina atau jalan optic.
b. Lapang penglihatan ; penurunanan yang disebabkan oleh CSV, massa tumor
pada hipofisis/ otak, karotis atau patologis arteri serebral atau Glaukoma.
c. Tonografi ; mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)
d. Gonioskopi ; membantu membedakan sudut terbuka dan sudut tertutup pada
glaukoma.
e. Oftalmoskopi ; mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optic,
papiledema, perdarahan retina dan mikroanurisme.
Pemeriksaan darah lengkah, laju sedimentasi (LED) ; menunjukkan anemia
sistemik / infeksi.

VII.

PENATALAKSANAAN
Penanganan tumor orbita bervariasi bergantung pada ukuran, lokasi, dan tipe
tumor. Sebagian tumor orbita hanya membutuhkan terapi medis (obat-obatan) dan
sebagian membutuhkan tindakan yang lebih radikal yaitu mengangkat secara total
massa tumor, sebagian lainnya tidak membutuhkan terapi. Kadang-kadang setelah
pengangkatan massa tumor pasien masih membutuhkan terapi tambahan seperti
radioterapi (sinar) dan kemoterapi.
a.

Tumor jinak
Memerlukan eksisi, namun bila kehilangan penglihatan merupakan hasil yang tak
dapat dihindarkan, dipikirkan pendekatan konservatif.

b.

Tumor ganas
Memerlukan biopsi dan radioterapi. Limfoma juga berreaksi baik dengan
khemoterapi. Terkadang

lesi terbatas (misal karsinoma kelenjar lakrimal)

memerlukan reseksi radikal.


Pendekatan operatif :
Pengobatan tumor mata umumnya bersifat operatif. Kadang-kadang diperlukan
pemberian obat antikanker (sitostatika) atau penyinaran. Organ mata relatif kecil,
sehingga operasi tumor sering sulit dilakukan tanpa mengorbankan mata, apalagi jika
datang pada stadium lanjut. Selain itu, penanganan tumor harus tuntas, operasi tidak
bersih menyebabkan kekambuhan.
a. Orbital medial, untuk tumor anterior, terletak dimedial saraf optik.
b. Transkranial-frontal, untuk tumor dengan perluasan intrakranial atau terletak
posterior dan medial dari saraf optik.
c. Lateral, untuk tumor yang terletak superior, lateral, atau inferior dari saraf optik.

Prioritas Keperawatan
a. Mencegah penyimpangan penglihatan lanjut
b. Meningkatkan adaptasi terhadap perubahan / penurunan ketajaman penglihatan
c.
Mencegah komplikasi
d. Memberikan informasi tentang proses penyakit/ prognosis dan kebutuhan pengobatan

KOMPLIKASI
a. Glaukoma, adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal atau lebih

VIII.

tinggi dari pada normal yang mengakibatkan kerusakan saraf penglihatan dan
kebutaan.
b. Keratitis ulseratif, yang lebih dikenal sebagai ulserasi kornea yaitu terdapatnya destruksi
(kerusakan) pada bagian epitel kornea.
c. Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea
yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


I.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
a. Aktivitas/ Istirahat
Gejala: Perubahan aktivitas biasanya / hobi sehubungan dengan gangguan
penglihatan
b. Makanan/ cairan
Mual / muntah (glaucoma akut)
c. Neurosensori
Gejala: Gangguan penglihatan (kabur/ tak jelas), sinar terang menyebabkan silau
dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan

kerja dengan dekat/ merasa di ruang gelap. Penglihatan berawan/ kabur,


tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan
perifer, fotofobia. Perubahan kacamata / pengobatan tidak memperbaiki
penglihatan.
Tanda: Tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil (katarak). Pupil menyempit
dan merah / mata keras dengan kornea berawan (glaucoma akut).
Peningkatan air mata.
d. Nyeri/ kenyamanan
Gejala: Ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis). Nyeri tiba-tiba/
berat menetap atau tekanan pada sekitar mata, sakit kepala (glaucoma
akut).
II.

DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN


a. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan
sensori dari organ penerima.
b. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d adanya massa pada mata.
c. Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan b.d kurangnya
informasi

III.

PATOFLODIAGRAM

DAFTAR PUSTAKA
Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification
(NIC). St. Louis :Mosby Year-Book.
Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby
Year-Book
Juall,Lynda,Carpenito

Moyet.

(2003).Buku

Saku

Diagnosis

Keperawatan

edisi

10.Jakarta:EGC
Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah :
Brunner Suddarth, Vol. 3. EGC : Jakarta.
Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2009-2011,
NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd
Singapore

National

Eye

Centre.

(2010).

kondisi

mata

http://www.snec.com.sg/. Diakses tanggal 16 September 2011


http://www.dexamedica.com, Tumor Orbita

dan

perawatan

http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/Orbita.html, Tumor Orbita


http://cyberwoman.cbn.net.id, Waspadai kanker mata
http://digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail....
http://www.klinikmatanusantara-manado.com/file/859.pdf
http://ocw.usu.ac.id/course/download/...special.../sss155_slide_tumor_orbita.pdf

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny S DENGAN GANGGUAN


SISTEM PERSEPSI SENSORI TUMOR MATA (PALPEBRA)
DI RUANG POLI MATA RSUD SYEKH YUSUF
KAB. GOWA
RM : 367191
I.

DATA UMUM
a. Identitas Klien
Inisial

: Ny S

Umur

: 34 Thn

Jenis Kelamin

: Perempuan

Status Perkawinan

: Kawin

Agama

: Islam

Pendidikan

: D3

Pekerjaan

: Guru Honorer

Alamat

: Bonto Ramba

Tgl Masuk RS

: 23 Juni 2014

Tgl pengkajian

:23 Juni 2014

b. Penanggung Jawab (diisi lengkap)


Inisial

: Musdalifah

Umur

: 22 Thn

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMK (Kuliah)

Pekerjaan

: Pelajar/Mahasiswi

Alamat

: Bumi Batara

Hubungan

: Adik kandung

II. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI


a. Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri pada mata sebelah kiri tepatnya pada palpebra.
b. Alasan MRS
Klien mengatakan teraba benjolan keras pada daerah mata sejak 2 minggu terakhir,
pusing, dan ada perasaan tidak nyaman akibat benjolan tersebut.
c. Riwayat Penyakit
P
: Klien mengatakan nyeri
Q
: Klien mengatakan nyeri seperti tertusuk.
R
: Daerah mata sebelah kiri
S
: Nyeri Skala 4
T
: Klien mengatakan nyeri timbul ketika bangun tidur saat membuka mata.
III.RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU
a. Penyakit yang pernah dialami: Gastritis akut
Penyebab
: Jarang sarapan dan makan malam
Riwayat perawatan
: Klien mengatakan tidak pernah dirawat
Riwayat operasi
: Klien mengatakan tidak pernah di operasi
Riwayat pengobatan
: Klien mengatakan setiap sakit klien rutin memeriksakan
diri ke dokter puskesmas
Riwayat alergi
: Klien mengatakan alergi ikan kering.
b. Riwayat imunisasi
:Klien mengatakan sudah lupa mengenai imunisasinya
c. Lain-lain
:-

IV.

RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Genogram

34

Keterangan :
= Laki-laki
= Perempuan
= Pasien
X= Meninggal
---------= Tinggal serumah
G1: Klien mengatakan bahwa kedua orang tuanya masih hidup.

GII: Klien mengatakan anak pertama dari 4 bersaudara, dan sekarang menderita tumor
palpebra.
GIII: Klien memiliki 1 orang anak dan sekarang dalam keadaan sehat.

V.

RIWAYAT PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL


a. Pola koping
Klien mengatakan jika ada masalah klien selalu menceritakan kepada keluarga
terutama masalah kesehatan.
b. Harapan klien terhadap keadaan penyakitnya
Klien berharap tumor yang ada pada matanya segera di operasi.
c. Factor stressor
Klien mengatakan khawatir kalau kondisi yang dialami sekarang berlangsung cukup
lama.
d. Konsep diri
Klien mengatakan menerima atas kondisinya dan mungkin yang terjadi sekarang
adalah cobaan dari Allah SWT.
e. Pengetahuan klien mengenai penyakitnya
Klien mengatakan tidak tahu dengan penyebab penyakitnya.
f. Adaptasi
Klien dapat beradaptasi terhadap lingkungan sekitar.
g. Hubungan dengan anggota keluarga
Klien mangatakan Hubungan dengan anggota keluarga sangat baik.
h. Hubungan dengan masyarakat
Klien mengatakan hubungan dengan masyarakat disekitar tempat tinggalnya baik.
i. Perhatian terhadap orang lain & lawan bicara
Klien kooperatif bila diajak berkomunikasi dan dapat mempertahankan kontak
mata, terfokus pada isi pembicaraan.
j. Aktivitas social
Klien mengatakan mampu melakukan aktivitas social
k. Bahasa yang biasa dilakukan
Bahasa Indonesia (60%) bahasa daerah (40%)
l. Keadaan lingkungan
Klien mengatakan bahwa keadaan lingkungan sekitar rumahnya tenang dan bersih
begitupun lingkungan selama diRS.
m. Kegiatan keagamaan/pola ibadah
Klien mengatakan rajin melaksanakan ibadah pada waktu sehat tetapi ketika sakit
hanya bias berdoa.

n. Kenyakinan tentang kesehatan


Klien mengatakan bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya walaupun tidak
sembuh total, selama mendengarkan instruksi dokter dan perawata.
VI.

KEBUTUHAN DASAR/POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI


a. Makan
Klien Makan biasa 2 x/hari dengan nasi, lauk dan sayur dan jarang sarapan.
b. Minum
Minum air putih 6-7 gelas/hari
c. Tidur
Klien mangatakan kadang tidur siang, dan pada malam hari jam tidurnya teratur
(22.00)
d. Eliminasi fekal/BAB
BAB : 1-2x/hari konsistensi kadang keras kadang lembek.
e. Eliminasi urine/BAK
BAK : 4-5 x/hari (tergantung)
f. Aktivitas dan latihan
Klien setiap hari melakukan aktivitas dengan mengajar sekolah dasar dan sebagai
IRT.
g. Personal hygiene
Mandi 2 x/hari, ganti baju dan gosok gigi serta keramas hamper setiap hari.

VII.

PEMERIKSAAN FISIK
Hari: Senin, 23/06/2014, Jam: 12.35
a. Keadaan umum
Kehilangan berat badan
:Kelemahan
: Klien tampak gelisah.
Tinggat kesadaran
: Composmentis
Cirri-ciri
: tinggi, kulit sawo matang, berisi.
Tanda-tanda vital
: - TD : 110/70 mmHg
S
- N : 80x/menit

: 36,2 C
: 20x/menit

b. Head to Toe
1. Kepala : Bentuk Ovall, tidak ada lesi, tidak ada hematoma, tidak ada nyeri
tekan
2. Mata

: Pengelihatan kurang jelas pada mata kiri, sclera tampak merah,

konjungtiva anemis, tampak benjolan pada palpebra mata kiri.


3. Hidung : Bentuk simertis, tidak ada perdarahan, tidak ada secret
4. Telinga : Bentuk normal, pendengaran normal, tidak ada secret,
tidak ada perdarahan.
5. Mulut dan gigi : mukosa kering, mulut dan gigi bersih

6. Leher

: tidak ada pembesaran tyroid, nadi karotis teraba, tidak ada

pembesaran limfoid
7. Thorax : Pemeriksaan

Jantung

Paru- paru

I : Tidak ada pembesaran , tidak ada bekas luka

Frekuensi nafas teratur.

P :Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan.


A : Bunyi S1dan S2 normal.
8. Abdomen
:
I : bentuk simetris, tidak ada benjolan, tidak ada bekas luka
A : bising usus 6 x/menit,
P : hepar tidak teraba, ginjal tidak teraba, tidak ada nyeri tekan
9. Eksteremitas : kekuatan otot masih berfungsi dengan normal.
c. Pengkajian Data Fokus
Sistem Persepsi Sensori
Inspeksi
: Bentuk mata tidak simetris, alis tampak tegang dengan ujung tertarik
keatas, tampak benjolan pada palpebra mata kiri dengan ketinggian
0.7 cm lebar 1.2 cm, sclera tampak merah, pupil tidak berfungsi
dengan baik akibat tertutupi tumor.
Palpasi
: Terdapat nyeri tekan pada palpebra mata sebelah kiri.
d. Pemeriksaan Penunjang Medis
Rencana Operasi.
Visus: VOD : 2/20
Slit Lamp : VOS : 2/20
e. Pelaksanaan/Terapi
Aletron

KLASIFIKASI DATA

Data Subjektif

Klien mengatakan mata kirinya terasa nyeri


Klien mengatakan pusing.
Klien mengatakan pandangannya tidak jelas pada jarak tertentu.
Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya.
Klien mengatakan kurang mengetahui mengenai penyakitnya karena tidak pernah
mengalami sebelumnya begitupun keluarga tidak ada yang pernah atau menderita
penyakit yang sama

Data Objektif

Klien terlihat menahan sakit dan menutupi mata kirnya dengan telapak tangan
Klien terlihat mengeluarkan air mata saat nyeri datang
Klien kurang merespon gerakan lawan bicara
Klien tampak banyak mengajukan pertanyaan.
Klien tampak cemas
Skali 4
Visus
: VOD : 2/20
Slit Lamp
: VOS : 2/20

ANALISA DATA

N
O

DATA

ETIOLOGI

DS:
Klien mengatakan

MASALAH
Basalioma

pandangannya tidak
jelas pada jarak
tertentu.

Kerusakan pada nervus


Optikus

DO:
Klien kurang merespon
gerakan lawan bicara.
Visus: VOD: 2/20
Slit Lamp: VOS : 2/20

Gangguan Persepsi
Sensori Penalihatan
Devek lapang pandang

Gangguan persepsi sensori

DS:
Klien mengatakan mata
kirinya terasa nyeri
Klien mengatakan
pusing.

Tumor

Fisik

Gangguan Nyaman
nyeri

DO:
Klien terlihat menahan
sakit dan menutupi mata
kirnya dengan telapak

Pelepasan mediator kimia


(prostaklandin)

tangan.
Klien terlihat
mengeluarkan air mata

Thalamus

saat nyeri dating.


Skala nyeri 4

Cortex cerebri

Nyeri dipersepsikan

DS:
Klien mengatakan

Tumor
Kurang
Pengetahuan

kurang mengetahui
mengenai penyakitnya
karena tidak pernah

Psikologis

mengalami sebelumnya
begitupun keluarga
tidak ada yang pernah

Penurunan konsep diri

atau menderita penyakit


yang sama.
DO:
Klien tampak banyak

Kurang terpajang informasi

mengajukan pertanyaan.

4.

DS:
Klien mengatakan
khawatir dengan

Kurang pengetahuan
Tumor mata

kondisinya
DO:

Klien tampak cemas.

Perubahan status kesehatan


Ansietas
Rasa takut

Cemas

INTERVENSI KEPERAWATAN

N
O

DX.
KEPERAWATAN
Gangguan persepsi
sensori penglihatan
b/d gangguan
penerimaan sensori
dari organ
penerima d/d:
DS:
Klien
mengatakan
pandangannya
tidak jelas pada
jarak tertentu.
DO:
Klien kurang
merespon

TUJUAN
Mempertahankan
ketajaman lapang
ketajaman
penglihatan tanpa
kehilangan lebih
lanjut.
Kriteria hasil:
Berpartisipasi
dalam program
pengobatan.
Mengenal
gagguan sensori
dan berkompensasi
terhadap

INTERVENSI

RASIONAL

1. Kaji ketajaman
penglihatan/visus.

1. Untuk mengetahui
berapa jauh gangguan
pada sensori persepsi
penglihatan klien.

2. Orientasikan klien
terhadap lingkungan,
dan orang lain di
areanya.

2. Memberikan
peningkatan,
kenyamanan dan
kekeluargaan, serta
mampu menurunkan
cemas.

3. Letakkan barang
yang dibutuhkan
atau posisi bell
dalam jangkauan.

3. Memungkinkan klien
melihat objek lebih
muda dan

gerakan lawan
bicara.
Visus: VOD:
2/20
Slit Lamp:
VOS : 2/20

pengobatan.
Mengidentifikasi
/ memperbaiki
potensial bahaya
dalam
lingkungan.

memudahkan
pemanggilan
pertolongan bila
dibutuhkan.
4. Dorong
mengekspresikan
perasaan tentang
kehilangan/kemungk
inan kehilangan
penglihatan.

4. Sementara intervensi
dini mencegah
kebutaan, klien
kemungkinan
menghadapi/mengala
mi pengalaman
penglihatan
sebagian /total.
Meskipun kehilangan
penglihatan telah
terjadi dan tidak dapat
diperbaiki,
kehilangan lebih
lanjut dapat dicegah.

5. Lakukan tindakan
untuk membantu
klien mengalami
keterbatasan
penglihatan.

2.

Gangguan rasa
nyaman nyeri b.d
adanya massa pada
mata d/d:
DS:
Klien
mengatakan
mata kirinya
terasa nyeri
Klien
mengatakan
pusing.
DO:
Klien terlihat
menahan sakit

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
1x24 jam klien
diharapkan tidak
mengalami nyeri lagi
dengan KH:
Skala nyeri
menurun
Rasa pusing
berkurang
Air mata
berhenti
mengalir

1.

Kaji tingkat nyeri.

5. Menurunkan bahaya,
keamanan,
berhubungan dengan
pperubahan lapang
pandang atau
kehilangan dan
akomodasi pupil
terhadap sinar
lingkungan.
1. Untuk mengetahui
tingkat nyeri

2.

Lakukan
pendekatan dengan
klien dan keluarga.

2. Agar pasien dan


keluarganya lebih
kooperatif dalam
tindakan
keperawatan.

3.

Menciptakan
lingkungan yang
nyaman.

3. Untuk
memberikan
ketenangan kepada

dan menutupi
mata kirnya
dengan telapak
tangan.
Klien terlihat
mengeluarkan
air mata saat
nyeri dating.
Skala nyeri 4

Kurang pengetahuan
tentang penyakit,
prognosis dan
pengobatan b.d
kurangnya informasi
d/d:
DS:
Klien
mengatakan
kurang
mengetahui
mengenai
penyakitnya
karena tidak
pernah
mengalami
sebelumnya
begitupun

pasien.
4.

5.

Setelah dilakukan
tindakan perawatan
selama 1x24 jam
diharapkan klien
dapat mengetahui dan
memahami tentang
penyakitnya dengan
KH:
Klien
mengatakan
mengetahui
tentang
penyakitnya
Klien tidak
tampak
bertanyatanya lagi

Ajarkan teknik
distraksi dan
relaksasi.

4. Untuk mengurangi
rasa nyeri.

Kolaborasi
dengan tim medis
dalam memberikan
analgesik

5. Untuk mengurangi
rasa nyeri

1. Kaji pengetahuan
klien.

1. Agar perawat dapat


mengetahui seberapa
jauh pengetahuan
klien tentang
penyakitnya.

2. Jelaskan kepada
klien hal-hal yang
perlu
diperhatikan/dihinda
ri.

2. Agar proses
penyembuhan lebih
cepat.

3. Jelaskan kepada

3. Agar klien dapat

klien tentang
pentingnya
pengobatan

mengikuti pengobatan
dan perawatan yang
diberikan

keluarga tidak
ada yang
pernah atau
menderita
penyakit yang
sama.
DO:
Klien tampak
banyak
mengajukan
pertanyaan.

Ansietas b/d
perubahan status
kesehatan d/d:
DS:
Klien
mengatakan
khawatir dengan
kondisinya
DO:
Klien tampak
cemas

Setelah dilakukan
tindakan perawatan
selama 1x24 jam
diharapkan ansietas
berkurang/terkontrol
dengan KH:
klien melaporkan
tidak ada
manifestasi
kecemasan
secara fisik.
Tidak ada
manifestasi
perilaku akibat
kecemasan

1. Kaji dan
dokumentasikan
tingkat kecemasan
klien.

1. Memudahkan
intervensi.

2. Lakukan pendekatan 2. Pendekatan dan


dan berikan motivasi
motivasi membantu
kepada klien untuk
klien untuk
mengungkapkan
mengeksternalisasikan
pikiran dan
kecemasan yang
perasaan.
dirasakan.
3. Motivasi klien untuk
memfokuskan diri
pada realita yang ada
saat ini, harapanharapan yang positif
terhadap terapy yang
di jalani.
4. Berikan penguatan
yang positif untuk
meneruskan aktivitas
sehari-hari meskipun
dalam keadaan
cemas.

3. Alat untuk
mengidentifikasi
mekanisme koping
yang dibutuhkan untuk
mengurangi
kecemasan.

4. Menciptakan rasa
percaya dalam diri
klien bahwa dirinya
mampu mengatasi
masalahnya dan
memberi keyakinan
pada diri sendri yang
dibuktikan dengan
pengakuan orang lain
atas kemampuannya.

5. Anjurkan klien
untuk menggunakan
teknik relaksasi.
6. Sediakan informasi
factual (nyata dan
benar) kepada klien
dan keluarga
menyangkut
diagnosis, perawatan
dan prognosis.
7. Kolaborasi
pemberian obat anti
ansietas.

5. Menciptakan perasaan
yang tenang dan
nyaman.
6. Meningkatkan
pengetahuan,
mengurangi
kecemasan.

7. Mengurangi ansietas
sesuai kebutuhan