Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

PERSPECTIVE ORTHOPEDIC TRAUMATOLOGI IN NURSING


disusun guna memenuhi tugas pada Program Pendidikan Profesi Ners (P3N)
Stase Keperawatan Medikal Bedah

Oleh
Ria Rohma Wati, S. Kep
NIM 112311101015

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

TINJAUAN TEORI
Pengertian trauma
Trauma adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami cedera karena
salah satu sebab. Penyebab trauma adalah kecelakaan lalu lintas, industri,
olahraga, dan rumah tangga (Nurbaeti, 2012).
Trauma adalah kerusakan jaringan karena kekuatan mekanik dari luar dan
menyebabkan kecacatan bahkan kematian (Bobbi, 2015). Jadi trauma ialah suatu
keadaan cedera yang menyebabkan kerusakan jaringan akibat terkena kekuatan
mekanik dari luar.
Mekanisme trauma
Mekanisme terjadinya trauma merupakan suatu hal yang penting untuk
diketahui karena dapat membantu tenaga kesehatan dalam menduga kemungkinan
trauma yang mungkin saja tidak segera timbul setelah kejadian. Trauma
musculoskeletal bisa saja terjadi oleh beberapa sebab, berikut ini beberapa macam
mekanisme trauma menurut Nurbaeti (2012) diantaranya:
a. Direct injury
Dimana terjadi fraktur pada saat tulang berbenturan langsung dengan benda
keras seperti dashboard atau bumper mobil.
b. Indirect injury
Terjadi fraktur atau dislokasi karena tulang mengalami benturan yang tidak
langsung seperti frkatur pelpis yang disebabkan oleh lutut membentur
dashboard mobil pada saat terjadi tabrakan.
c. Twisting injury
Menyebabkan fraktur, sprain, dan dislokasi, biasa terjadi pada pemain sepak
bola dan pemain sky, yaitu bagian distal kaki tertinggal ketika seseorang
menahan kaki ke tanah sementara kekuatan bagian proksimal kaki meningkat
sehingga kekuatan yang dihasilkan menyebabkan fraktur.
d. Powerfull muscle contraction
Seperti terjadinya kejang pada tetanus yang mungkin bisa merobek otot dari
tulang atau bisa juga membuat fraktur.
e. Fatique fracture

Disebabkan oleh penekanan yang berulang-ulang dan umumnya terjadi pada


telapak kaki setelah berjalan terlalu lama atau berjalan dengan jarak yang
sangat jauh.
f. Pathologic fracture
Dapat dilihat pada pasien dengan penyakit kelemahan pada tulang seperti
kanker yang sudah metastase.
Menurut Cole (2009), mekanisme trauma dapat dibagi menjadi empat
macam antara lain:
1. Tumpul
Trauma tumpul adalah mekanisme cedera yang paling umum terjadi dan
merupakan hasil transfer energi yang mengarah pada kompresi jaringan.
Trauma tumpul terjadi akibat kejadian:
a. Kecelakaan lalu lintas dengan posisi pasien dalam kendaraan
b. Kurangnya kewaspadaan pejalan kaki
c. Kecelakaan sepeda dan motor
d. Serangan tindakan kejahatan
e. Keceakaan di area air terjun
2. Tembus
Luka tembus merupakan mekanisme cedera akibat luka tembak, luka tusuk.
Keparahan cedera akan tergantung pada kecepatan kekuatan tembusan
diantaranya:
a. luka tusuk yaitu kecepatan rendah
b. luka tembak yaitu kecepatan menengah
c. senapan yaitu kecepatan tinggi.
3. Ledakan
Ledakan memiliki potensi untuk menyebabkan multi-sistem, cedera akibat
ledakan kebanyakan mengancam nyawa dalam satu atau lebih korban
sehingga diperlukan manajemen dan pengkajian yang cermat. Klasifikasi
cedera akibat ledakan terdiri dari:
a. Cedera ledakan primer

Cedera ini merupakan hasil dari efek langsung tekanan gelombang yang
akan merusak organ yang mengandung udara seperti gendang telinga
(tympanum), paru-paru dan usus. Kondisi yang sering ditemui pada cedera
primer yaitu memar, edema dan pecahnya jaringan paru-paru, hingga
kadang kala menyebabkan terjadinya pneumotoraks, pecahnya pembuluh
darah di alveoli sehingga menyebabkan potensi terjadinya emboli udara,
selain itu juga dapat terjadi perdarahan intraokular dan gangguan retina.
b. Cedera ledakan sekunder
Cedera ini terjadi akibat hantaman benda yang terbang akibat ledakan
sehingga terjadi pukulan terhadap korban. Cedera yang terjadi tergantung
pada sifat, lokasi dan kekuatan ledakan, dan biasanya cedera yang terjadi
ialah kombinasi dari cedera tumpul dan tembus pada bagian tubuh.
c. Cedera ledakan tersier
Cedera ini terjadi ketika korban terlempar akibat kekuatan ledakan,
sehingga terbentur pada bangunan atau tanah. Cedera yang biasanya
terjadi ialah luka tumpul dan tembus dan keparahan cedera ini tergantung
pada sifat dari ledakan. Cedera ledakan tersier ini biasanya terjadi pada
kasus ledakan energi tinggi dan umumnya menyebabkan trauma amputasi.
4. Panas
Cedera yang diakibatkan karena paparan suhu yang panas.
Pengelolaan Pre hospital Trauma
A. Primary survey
Pengelolaan trauma memerlukan kejelasan dalam menetapkan prioritas.
Tujuannya adalah untuk mengenali cedera yang mengancam jiwa dengan
dilakukan Survey Primer yakni deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi
yang mengancam jiwa, seperti :
a. Obstruksi jalan nafas
b. Cedera dada dengan kesukaran bernafas
c. Perdarahan berat eksternal dan internal
d. Cedera abdomen

Pada kejadian trauma, apabila ditemukan lebih dari satu orang korban maka
pengelolaan dilakukan berdasar prioritas (triage) Hal ini tergantung pada
pengalaman penolong dan fasilitas yang ada.
Prioritas triase berdasarkan kegawatan daruratan harus dipilih secara cepat
dan ditentukan pengelompokannya, untuk itu bisa diberi tanda dengan pita.
1. Merah prioritas tinggi dan segera memerlukan pertolongan (karena ada
masalah respirasi dan sirkulasi)
2. Kuning prioritas kedua yang mana korban bisa menunggu sebelum di
transport (45 minutes)
3. Hijau bisa jalan dan bisa menunggu beberapa jam sebelum di transport
4. Hitam mati atau tidak mungkin ditolong karena beratnya cedera
Menurut konsensus terbaru American Heart Association 2010, penanganan
dalam Basic Life Support menjadi D-R-C-A-B.
D- danger

(bahaya)

R- response

(respon)

C- circulation (sirkulasi + kontrol perdarahan)


A- airway

(jalan nafas) + servical control

B- breathing (oksigenasi)
a. Danger Do No Further Harm, jangan membuat cedera lebih lanjut.
Keamanan merupakan hal pertama yang harus diperhatikan. Prioritasnya
adalah keamanan diri sendiri, lingkungan dan terakhir korban. Korban memang
menjadi prioritas terakhir, sebab korban memang sudah cedera dari awal.
Prinsipnya jangan menambah cedera pada korban. Langkah-langkah mengkaji
bahaya:
1. Perkenalkan diri dan memakai pelindung diri
2. Membubarkan kerumunan dan memastikan lokasi aman
3. Aktifkan respons emergency yaitu dengan menelfon ambulan (118) atau
polisi

b. Response

Langkah-langkah yang harus dilakukan ketika mengkaji respon korban yaitu:


1. Respon panggil : Pak, Pak, bagaimana keadaan Bapak?
2. Respon sentuh: Lakukan dengan menepuk pundak atau pipi (jika keadaan
memungkinkan), jangan menggoyang-goyangkan bahu jika curiga terdapat
cedera tulang belakang.
3. Respon nyeri : tekan daerah antara kuku jari tangan korban dan kulitnya,
atau tekan daerah sternum (taju pedang) korban dengan jari tangan.
Penilaian pengkajian respon dinilai melalui A-V-P-U
1.
2.
3.
4.

Alert: sadar baik


Verbal: respon erhadap panggilan
Painful: memberi respon pada nyeri
Unresponsif: tidak respon dengan semua rangsangan

c. Circulation
Bila korban mengalami henti jantung, segera lakukan RJPO-Resusitasi
Jantung Paru Otak sebagai pertolongan awal. Jika ada denyut nadi namun
tidak ada napas, berikan pernapasan buatan sambil terus mengecek denyut
nadi Carotis.
Lakukan Kontrol Perdarahan
Hanya perdarahan hebat yang diutamakan selama pemeriksaan primer.
Ingatlah bahwa korban mungkin mengalami cedera tulang belakang atau
mungkin cedera lain yang lebih serius. Jika ada perdarahan hebat, hentikan
dengan prinsip 4T (Tekan langsung, Tekan tidak langsung, Tinggikan,
Torniket).
Resusitasi Jantung Paru Otak
1. Saat melihat korban, segeralah mengaktifkan sistem kegawatdaruratan
call 118.
2. Jika korban tidak bernapas/bernapas tidak normal (hanya mengerang)
segera lakukanlah RJP.
3. Look, listen and feel dieliminasi dari algoritma.
4. Lakukan RJP yang berkualitas (pijat jantung yang cukup, dengan
kedalaman yang cukup) dan tiap pijatan biarkan dada kembali
mengembang dan hindari ventilasi berlebih.

5. Untuk 1 penolong, lebih utama melakukan pijat jantung 30x, baru


memberi bantuan napas 2x.
6. Pijat jantung minimal 100x/menit.
7. Kedalaman pijat jantung dewasa kurang lebih 5 cm.
Teknik Resusitasi Jantung Paru
a. 1 (satu) orang penolong: memberikan pemafasan buatan dan pijat jantung
luar dengan perbandingan 30:2
b. 2 (dua) orang penolong: memberikan pernafasan buatan dan pijat jantung
luar yang dilakukan oleh masing-masing penolong secara bergantian
dengan perbandingan sama dengan 1 penolong 15:2
Tindakan oleh 1 (satu) penolong
1. Pada korban tidak sadar, cek respons (verbal, sentuh, nyeri).
2. Sekaligus atur posisi korban, terlentangkan di atas alas yang keras. Hatihati dengan adanya patah tulang belakang.
3. Berusaha segera minta bantuan.
4. Jika nafas korban tidak normal atau korban tidak bernapas, segera lakukan
RJP
Menentukan titik tumpuh pijat jantung: dengan menyusuri tulang rusuk paling
bawah sampai ke ulu hati tambahkan dua jari di atasnya.
Posisi penolong pada saat melakukan pijat jantung

Kedua lutut penolong merapat, lutut menempel bahu


korban. Kedua lengan tegak lurus. Pijatan dengan cara

30:2

menjatuhkan berat badan ke sternum, titik tumpu pijat


jantung sedalam 4 5 cm.
5. Lengkapi tiap siklus 30 x pijat jantun dan 2 x bantuan
napas.
6.

Lakukan evaluasi denyut nadi karotis tiap 4 siklus.

7.

Bila denyut nadi karotis belum teraba, lanjutkan resusitasi jantung paru
hingga korban membaik atau hentikan jika penolong kelelahan.

Tindakan oleh 2 (dua) penolong


Langkah 1 - 7 di atas tetap dilakukan oleh penolong
pertama

hingga

penolong

kedua

datang.

Saat

penolong pertama memeriksa denyut nadi karotis dan


nafas, penolong kedua mengambil posisi untuk
menggantikan pijat jantung.
Bila denyut nadi belum teraba, penolong kedua melakukan pijat jantung sebanyak
15 kali, kemudian penolong pertama memberikan nafas buatan dua kali secara
perlahan sampai dengan dada korban terlihat terangkat. Demikian seterusnya,
Lanjutkan siklus pertolongan dengan perbandingan 15 kali pijat jantung (oleh
penolong kedua) dan 2 kali nafas buatan (oleh penolong pertama). Evaluasi tiap 4
siklus.

Efek pompa pada jantung

d. Airway
Korban sadar dan dapat berbicara biasanya airwaynya baik. Untuk korban tidak
sadar, penilaian airway dapat dilakukan dengan Lihat, Dengar, Rasakan (Look,
Listen, Feel).
Perbaikan Airway:
1. Buka jalan nafas
Membuka jalan nafas dapat dilakukan dengan beberapa manuver,
diantaranya : head-tilt, head-tilt chin-lift, head-tilt neck-lift, dan jaw-thrust.

Head-tilt chin-lift

manuver jaw-thrust

2. Hilangkan sumbatan
Menghilangkan sumbatan yang disebabkan oleh benda asing, dapat
dilakukan beberapa cara:
a. Heimlich Manouver - Abdominal thrust
Untuk penderita sadar dengan sumbatan jalan nafas parsial boleh
dilakukan tindakan "Adominal thrust" (pada pasien dewasa).
Langkah-langkahnya ialah:

- Bantu / tahan penderita tetap berdiri atau condong ke depan dengan


merangkul dari belakang.

- Lakukan hentakan mendadak dan keras pada titik silang garis antar
belikat dan garis punggung tulang belakang (Back Blow).

- Rangkul korban dari belakang dengan kedua lengan dengan


mempergunakan kepalan kedua tangan, hentakan mendadak pada
ulu hati (abdominal thrust).

- Ulangi hingga jalan nafas bebas atau hentikan bila korban jatuh
tidak sadar, ulangi tindakan tersebut pada penderita terlentang.

- Segera panggil bantuan.


-

Tersedak

Tersedak

Back blows

Back blows

Heimlich Maneuver-Abdominal Thrust pada posisi berdiri


Penderita tidak sadar:
a.

Tidurkan penderita terlentang.

b.

Lakukan back blow dan chest thrust.

c.

Tarik lidah dan dorong rahang bawah untuk melihat benda asing

- Bila terlihat ambil dengan jari-jari.


- Bila tidak terlihat jangan coba-coba dicari dengan jari.
d. Usahakan memberikan nafas (meniupkan udara).
e. Bila jalan nafas tetap tersumbat, ulangi langkah tersebut di atas.
f. Segera panggil bantuan setelah pertolongan pertama dilakukan 1
menit.

Back blows pada korban tidak sadar


Heimlich-Abdominal Thrust korban tidak sadar
b. Back blows (untuk bayi):
Penderita sadar:
1.

Bila penderita dapat batuk keras, observasi ketat.

2.

Bila nafas tidak efektif/berhenti, lakukan Back blows 5


kali (hentakan keras mendadak pada punggung korban di titik
silang garis antar belikat dengan
tulang punggung/vertebra).

c. Chest thrust
Untuk bayi, anak, orang gemuk, dan wanita hamil.
Penderita sadar:

- Penderita anak lebih dari satu tahun:


- Lakukan "chest thrust" 5 kali (tekan tulang dada dengan
jari kedua dan ketiga kira-kira satu jari di bawah garis
imajinasi antar puting susu).

Penderita tak sadar:

- Tidurkan terlentang.
- Lakukan chest thrust.
- Tarik lidah dan lihat adakah
-

benda asing.
Berikan pemafasan buatan.

d. Membersihkan jalan nafas dengan sapuan jari (finger sweep)

Pada sumbatan jalan nafas di rongga mulut belakang/hipofaring oleh


adanya benda asing (gumpalan darah, muntahan, benda asing lainnya)
dan tak terdapat hembusan udara pemafasan maka lakukan teknik
"sapuan jari".
Cara:
Miringkan kepala pasien, buka mulutnya dengan "jaws thrust dan
tekan dagu ke bawah bila otot rahang lemas (emarasi manouver)
gunakan 2 jari kita yang bersih (bungkus dengan kassa/kain/sarung
tangan) korek/gaet semua benda asing dalam mulut dan keluarkan.
Setelah bersih pasang pipa orofanng.

Peringatan: Tidak boleh dilakukan pada dugaan trauma leher


Posisi Terbaik Menjaga Airway
Pada orang dewasa yang tidak sadar, posisi terbaik pada keadaan ini adalah
posisi pulih (recovery position). Prosedur :
1. Berlutut disamping korban, kepala ditarik ke bawah dan dagu
diangkat untuk membuka jalan nafas. Kedua kaki lurus.
Lengan korban yang paling dekat dengan penolong ditekuk
membuat sudut siku-siku dengan badannya, siku ditekuk dan
telapak tangan membuka keatas.
2. Lengan korban yang jauh disilangkan pada dadanya, telapak
tangannya memegang pipi. Tangan penolong yang lain
memegang paha korban yang jauh, lutut korban ditekuk ke
atas, kakinya menginjak lantai.

3. Tangan korban dipegang supaya terus memegangi pipi. Tarik badannya ke


arah penolong melalui tangan yang memegang paha.
4. Kepala korban ditarik kebelakang supaya jalan napas selalu terbuka. Bila
perlu atur tangannya agar tetap menopang kepala. Kaki korban yang ada
diatas diatur agar panggul dan lututnya membentuk siku-siku. Periksa nadi
dan pernapasannya secara teratur.
e. Breathing
Look Listen Feel dan pengelolaan pada jalan nafas telah dilakukan tetapi tetap
tidak didapatkan adanya pernafasan, artinya masalah ada disini.
Tindakan:
Tanpa alat:

- Memberikan pernafasan buatan dan mulut ke mulut atau dari mulut ke


hidung sebanyak 2 (dua) kali tiupan dan diselingi ekshalasi.
Dengan menggunakan alat:

- Memberikan pemafasan buatan dengan alat "ambu bag" (self inflating


bag). Pada alat tersebut dapat pula ditambahkan oksigen.

Bantuan nafas
B. Secondary Survey (Detailed / Rapid Trauma)
Tindakan ini, dilakukan setelah semua keadaan yang mengancam jiwa
telah ditangani. Jangan menambah pasien trauma yang gawat di lapangan untuk
menanyakan riwayat trauma dan atau pemeriksaan fisik. Pada secondary survey
yang dilakukan adalah pemeriksaan lebih teliti mulai dari kepala sampai ke kaki
(head to toe) dengan memperhatikan adanya DCAP-BTLS
D: Deformities (pemendekan tulang)
C: Contusions (cedera pada jaringan lunak akibat trauma tumpul)
A: Abrasions (jejas)
P: Penetrating (perembesan)

I: Injuries (robeknya kulit)


B: Burns (panas)
T: Tenderness (nyeri tekan)
L: Lacerations (robekan)
S: Swelling (bengkak)
Perhatikan juga keluhan pasien, karena keluhan pasien menunjukkan
cedera yang dideritanya. Supaya tidak ada yang kelewatan maka tanyakan riwayat
AMPLE (Allergies, medications, past medical history, last oral intake dan events
leading up to incident). Pemeriksaan ekstremitas meliputi pulse, warna kulit,
temperature, capillary refill dan fungi motorik dan sensorik.
C. Penanganan definitive di lapangan
Hanya dilakukan pada pasien stabil, diantaranya dilakukan packaging

- Bandaging: balutan luka


- Splinting: pemasangan bidai
Bila pasien gawat, semua fraktur distabilitasi bersamaan saat pasien telah
dipindahkan ke spine board. Penanganan faktur ekstremitas adalah melakukan
imobiliasi baik dengan bidai, vacuum imobilisasi ataupun traksi, penutupan luka
dan Realignment. Manfaat splinting/pemasangan bidai adalah mengurangi nyeri,
mengurangi perdarahan, mencegah kerusakan jaringan dan neurovascular lebih
berat, mencegah emboli, facilitate packaging. Teknik imobilisas fraktur
ekstremitas adalah sebelumnya lakukan pemeriksaan avaskular nekrosis (AVN)
ialah hilangnya suplai darah ke tulang akibat rusaknya pembuluh darah, kemudian
lakukan traksi manual, imbolisasi dengan bidai atau splint, dan evaluasi kembali
AVN. Bila baik pertahankan, bila jelek kembalikan pada posisi semula dan pasang
bidai pada posisi tersebut. Semua temuan pemeriksaan AVN baik sebelum atau
setelah tindakan harus dicatat pada dokumen medik.
D. Transport
Pasien stabil tetap perlu diperhatikan sebelum di transport. Lakukan
penilaian kembali secara periodik. Bila pasien menjadi tidak stabil setiap saat,

TRANSPORT pada fasilitas terdekat dan APPROPRIATE (sesuai dengan


cederanya). Lakukan evaluasi di perjalanan mengenai status Ventilasi dan perfusi,
tanda vital setiap lima menit, lanjutkan penanganan masalah yang ada dan lakukan
pemeriksaan ulang untuk menemukan masalah yang belum terdeteksi.
Trauma muskuloskeletal
a. Fraktur
Fraktur adalah patah tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan ditentukan sesua jenis dan luasnya (Suratun, 2008). Kebanyakan fraktur
disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang,
baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.
Etiologi
a. Fraktur terjadi karena tekanan yang menimpa tulang kebih besar daripada
daya tulang akibar trauma
b. Fraktur karena penyakit tulang seperti Tumor Osteoporosis yang disebut
Fraktur Patologis.
c. Fraktur Stress/ Fatique (akibat dari penggunaan tulang yang berulangulang).

Tanda dan Gejala Fraktur


Gejala yang paling umum pada fraktur adalah rasa nyeri yang terlokalisir
pada bagian fraktur. Biasanya pasien mengatakan ada yang menggigitnya atau
merasakan ada tulang yang patah, adanya perembesan, bengkak deformitas,
krepitasi, tenderness. Apa yang dikatakan pasien merupakan sumber
informasi yang akurat.
Jenis Fraktur
a. Fraktur Tertutup (Simple Fracture)

Fraktur tertutup adalah keadaan patah tulang tanpa disertai hilangnya


integritas kulit. Fraktur tertutup biasanya disertai dengan pembengkakan
dan hematom. Strain dan sprain mungkin akan memberikan gejala seperti
fraktur tertutup.
b. Fraktur Terbuka (Compound Fracture)
Fraktur terbuka adalah keadaan patah tulang yang disertai gangguan
integritas kulit. Hal ini biasanya disebabkan oleh ujung tulang yang
menembus kulit atau akibat laserasi kulit yang terkena benda-benda dari
luar pada saat cedera.

Prinsip Penatalaksanaan Fraktur


Kejadian fraktur jarang yang mengancam nyawa, meskipun
demikian penanganan pada kejadian yang mengancam nyawa telah
dilaksanakan sampai kondisi pasien stabil. Pertahankan jalan napas,
control perdarahan, tutup luka terbuka pada dada dan lakukan resusitasi
cairan. Jika telah selesai barulah identifikasi dan imobilisasi semua fraktur
dan siapkan untuk transportasi
a) Penatalaksanaan Fraktur
- Stabilkan jalan napas.
- Kontrol perdarahan.
- Tutup sucking chest wound (luka terbuka pada dada).
- Resusitasi cairan.
- Jika ada fraktur terbuka, balut luka sebelum melakukan
pembidaian dan jangan mendorong kembali tulang yang terlihat.

- Jangan pernah berusaha untuk meluruskan fraktur termasuk sendisendi, meskipun ada beberapa tulang pada fraktur yang dapat

diluruskan.
Tourniket tidak dianjurkan pada fraktur terbuka kecuali pada
trauma amputasi atau anggota gerak yang sudah tidak dapat

diselamatkan lagi.
Imobilisasi ekstremitas

sebelum

memindahkan

pasien

dan

imobilisasi sendi bagian atas dan bawah dari tulang yang fraktur.
b) Tujuan Imobilisasi
- Untuk menjaga fraktur tertutup agar jangan menjadi fraktur
terbuka. Hal ini mungkin terjadi jika ujung tulang yang fraktur

masih dapat bergerak bebas ketika pasien dipindahkan.


Untuk mencegah kerusakan sekitar nervus, pembuluh darah dan

jaringan yang lain dari ujung tulang yang fraktur.


Untuk meminimalkan perdarahan dan bengkak.
Untuk mengurangi nyeri

b. Dislokasi
Dislokasi adalah keluarnya pangkal tulang dari permukaan articular,
kadang-kadang disertai dengan robeknya ligament yang seharusnya menahan
pangkal tulang agar tetap berada pada tempatnya. Persendian yang biasanya
terkenal adalah bahu, siku, panggul dan pergelangan.
Etiologi
Etiologi tidak diketahui dengan jelas tetapi ada beberapa faktor predisposisi,
diantaranya :

Akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.


Trauma akibat kecelakaan
Trauma akibat pembedahan ortopedi
Terjadi infeksi di sekitar sendi

Tanda dan gejala


- Nyeri
- Deformitas
- Paralisis
- Hilangnya pulsasi (jika tekan nervus dan pembuluh darah).
Pada kebanyakan kasus pada pasien dengan fraktur atau dislokasi selalu
cek nadi, kekuatan otot dan sensasi (pulsasi, motorik dan sensorik) pada
bagian distal daerah yang terluka. Hilangnya pulsasi berarti ekstremitas dalam
keadaan yang membahayakan dan transportasi ke rumah sakit seharusnya
tidak ditunda.
Penatalaksanaan Dislokasi
Penatalaksanaan pada pasien dengan dislokasi adalah imobilisasi pasien
pada posisinya saat pertama kali ditemukan. Jangan coba meluruskan atau
mengurangi dislokasi kecuali jika ada seorang ahli. Lakukan imobilisasi pada
bagian atas dan bawah sendi yang dislokasi untuk menjaga kestabilan waktu
transport.

Pada menolong pasien dengan dislokasi lutut dan tidak ada pulsasi pada
bagian distal. Maka harus dikoreksi dalam waktu 1 atau 2 jam setelah terjadi
trauma. Dan seharusnya waktu sejak terjadinya kecelakaan hingga sampai ke
rumah sakit tidak lebih dari 1 jam.
c. Sprain
Sprain adalah injuri dimana sebagian ligament robek, biasanya
disebabkan memutar secara mendadak dimana sendi bergerak melebihi batas

normal. Organ yang sering terkena biasanya lutut, dan pergelangan kaki, cirri
utamanya adalah nyeri, bengkak dan kebiruan pada daerah injuri. Hal yang
membedakan sprain dengan fraktur dan dislokasi ialah sprain biasanya tidak
disertai deformitas.

Etiologi

- Sprain terjadi ketika sendi dipaksa melebihi lingkup gerak sendi yang
normal, seperti melingkar atau memutar pergelangan kaki.

- Sprain dapat terjadi di saat persendian anda terpaksa bergeser dari posisi
normalnya karena anda terjatuh, terpukul atau terkilir.
Tanda dan Gejala

Nyeri
Inflamasi/peradangan
Ketidakmampuan menggerakkan tungkai.
Sama dengan strain (kram) tetapi lebih parah.
Edema, perdarahan dan perubahan warna yang lebih nyata
Ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot dan tendon.Tidak dapat
menyangga beban, nyeri lebih hebat dan konstan

Penatalaksanaan
a. Pembedahan.
Mungkin diperlukan agar sendi dapat berfungsi sepenuhnya; penguranganpengurangan perbaikan terbuka terhadap jaringan yang terkoyak.
b. Elektromekanis.
- Penerapan dingin dengan kantong es 24 0C
- Pembalutan / wrapping eksternal. Dengan pembalutan, cast atau
pengendongan (sung)

- Posisi ditinggikan. Jika yang sakit adalah bagian ekstremitas.


- Latihan ROM. Tidak dilakukan latihan pada saat terjadi nyeri hebat
dan perdarahan. Latihan pelan-pelan dimulai setelah 7-10 hari
tergantung jaringan yang sakit.
Penyangga beban. Menghentikan

penyangga

beban

dengan

penggunaan kruk selama 7 hari atau lebih tergantung jaringan yang


sakit.
d. Strain
Strain adalah tarikan otot akibat penggunaan berlabihan, peregangan
berlebihan, atay stres yang berlebihan. Strain adalah robekan mikroskopis
tidak komplet dengan perdarahan kedalam jaringan (Brunner & Suddart,
2001).

Etiologi

- Strain terjadi ketika otot terulur dan berkontraksi secara mendadak, seperti
-

pada pelari atau pelompat.


Pada strain akut : Ketika otot keluar dan berkontraksi secara mendadak.
Pada strain kronis : Terjadi secara berkala oleh karena penggunaaan yang
berlebihan/tekanan berulang-ulang,menghasilkan tendonitis (peradangan
pada tendon).

Tanda dan gejala


Gejala pada strain otot yang akut bisa berupa:

- Nyeri

Spasme otot
Kehilangan kekuatan
Keterbatasan lingkup gerak sendi.
Strain kronis adalah cidera yang terjadi secara berkala oleh karena

penggunaan berlebihan atau tekakan berulang-ulang, menghasilkan :


Tendonitis (peradangan pada tendon). Sebagai contoh, pemain tennis bisa
mendapatkan tendonitis pada bahunya sebagai hasil tekanan yang terusmenerus dari servis yang berulang-ulang.

Penatalaksanaan

- Meninggikan bagian yang sakit,tujuannya peninggian akan mengontrol


-

pembengkakan.
Pemberian kompres dingin. Kompres dingin basah atau kering diberikan
secara intermioten 20-48 jam pertama yang akan mengurangi perdarahan

edema dan ketidaknyamanan.


Kelemahan biasanya berakhir sekitar 24 72 jam sedangkan mati rasa
biasanya menghilang dalam 1 jam. Perdarahan biasanya berlangsung
selama 30 menit atau lebih kecuali jika diterapkan tekanan atau dingin
untuk menghentikannya. Otot, ligament atau tendon yang kram akan
memperoleh kembali fungsinya secara penuh setelah diberikan perawatan
konservatif.

e. Kontusio
Kontusio adalah cedera jaringan lunak, akibat kekerasan tumpul,
misalnya pukulan, tendangan atau jatuh (Brunner dan Suddart, 2001).
Kontusio adalah cedera yang disebabkan oleh benturan atau pukulan pada
kulit. Jaringan di bawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil
pecah, sehingga darah dan cairan seluler merembes ke jaringan sekitarnya
Etiologi
- Benturan benda keras.
- Pukulan.
- Tendangan/jatuh

Tanda dan gejala


- Perdarahan pada daerah injury (ecchymosis) karena rupture pembuluh

darah kecil, juga berhubungan dengan fraktur


Nyeri, bengkak dan perubahan warna.
Hiperkalemia mungkin terjadi pada kerusakan jaringan yang luas dan
kehilangan darah yang banyak (Brunner & Suddart, 2001).

Penatalaksanaan
- Mengurangi/menghilangkan rasa tidak nyaman.
- Tinggikan daerah injury.
- Berikan kompres dingin selama 24 jam pertama (20-30 menit setiap
pemberian) untuk vasokonstriksi, menurunkan edema, dan menurunkan

rasa tidak nyaman.


Berikan kompres hangat disekitar area injury setelah 24 jam prtama (20-

30 menit) 4 kali sehari untuk melancarkan sirkulasi dan absorpsi.


Lakukan pembalutan untuk mengontrol perdarahan dan bengkak.
Kaji status neurovaskuler pada daerah extremitas setiap 4 jam bila ada
indikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart. 2011. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Cole, elaine. 2009. Trauma Care. British Library.

Nurbaeti. 2012. Trauma Muskuluskeletal. Jakarta: Universitas Muhammadiyah


Suratun et, all. 2008. Asuhan keperawatan
muskuloskeletal. Jakarta: EGC.

klien

gangguan

sistem