Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Trematoda berasal dari bahasa yunani Trematodaes yang berarti punya
lobang, bentuk tubuh pipih dorso ventral seperti daun. Umumnya semua organ tubuh
tak punya rongga tubuh dan mempunyai Sucker atau kait untuk menempel pada
parasit ini di luar atau di organ dalam induk semang. Saluran pencernaaan
mempunyai mulut, pharink, usus bercabang cabang. tapi tak punya anus. Sistem
eksretori bercabang- cabang, mempunyai flame cell yaitu kantong eksretori yang
punya lubang lubang di posterior. Hermaprodit, kecuali famili Schistosomatidae.
Siklus hidup ada secara langsung (Monogenea) dan tak langsung (Digenea).
Trematoda atau cacing daun yang berparasit pada hewan dapat dibagi menjadi
tiga sub klas yaitu Monogenea, Aspidogastrea, dan Digenea. Pada hewan jumlah jenis
dan macam cacing daun ini jauh lebih besar dari pada yang terdapat pada manusia,
karena pada hewan sub-klas ini dapat dijumpai. Ciri khas cacing ini adalah terdapat
dua batil isap yaitu batil isap mulut dan batil isap perut ada juga spesies yang
memiliki batil isap genital. Trematoda memiliki saluran pencernaan berbentuk huruf
Y terbalik dan pada umumnya tidak memiliki alat pernapasan khusus karena hidup
secara anaerob.
Trematoda disebut sebagai cacing hisap karena cacing ini memiliki alat
pengisap. Alat penghisap terdapat pada mulut di bagian anterior. Alat hisap (Sucker)
ini untuk menempel pada tubuh inangnya yang disebut cacing hisap.
Pada saat menempel cacing ini mengisap makanan berupa jaringan atau
cairan tubuh inangnya. Dengan demikian maka Trematoda merupakan hewan parasit
karena merugikan dengan hidup di tubuh organisme hidup dan mendapatkan
makanan di tubuh inangnya. Trematoda dewasa pada umumnya hidup di dalam
hati,usus,paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah vertebrata, ternak, ikan, manusia.

Trematoda berlindung di dalam inangnya dengan melapisi permukaan tubuhnya


dengan kutikula permukaaan tubuhnya tidak memiliki sila.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja jenis-jenis trematoda yang terdapat pada sapi ?
2. Bagaimanakah morfologi trematoda yang terdapat pada sapi ?
3. Bagaimanakah siklus hidup trematoda yang terdapat pada sapi ?

BAB 2
TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
2.1 Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya paper parasitologi veteriner ini dengan judul
Trematoda pada sapi ini yaitu, untuk mengetahui jenis-jenis trematoda yang
terdapat pada sapi, untuk mengetahui morfologi trematoda yang terdapat pada
sapi, dan untuk mengetahui siklus hidup trematoda yang terdapat pada sapi. Selain
itu, paper ini dibuat untuk memenuhi tugas-tugas dalam parasitologi veteriner.
2.2 Manfaat
Manfaat dari dibuatnya paper parasitologi veteriner dengan judul
Trematoda pada Sapi ini yaitu, diharapkan seluruh mahasiwa kedokteran hewan
khususnya dan pembaca pada umumnya dapat mengetahui jenis-jenis trematoda,
morfologi, dan siklus hidup trematoda yang terdapat pada sapi.

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Gambaran Umum Sapi
Sampai saat ini para ahli belum bisa menentukan secara pasti dimana dan
kapan sapi mulai di jinakkan. Banyak ahli memperkirakan bahwa sapi berasal dari
Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, keseluruh kawasan Asia dan Afrika.
Sedangkan Amerika, Australia dan Selandia Baru yang saat ini merupakan gudang
bangsa sapi potong dan sapi perah tidak terdapat jenis sapi unggul turunan asli dari
induk melainkan hanya mendatangkan dari Eropa. (Y Bambang Sugeng, 1996). Sapisapi yang tersebar di seluruh permukaan bumi berasal dari sapi jenis primitif. Sapisapi jenis primitif tersebut adalah golongan :
a. Bos Sondaicus
Golongan ini adalah sumber asli sapi-sapi di Indonesia
b. Bos Indicus
Golongan inilah yang sekarang berkembang di india dan di Indonesia
c. Bos Taurus
Golongan sapi ini adalah jenis sapi yang menjadi sapi potong dan perah di
Negara Eropa. Golongan ini tersebar di seluruh permukaan bumi termasuk di
Indonesia.
(Aksi Agraris Kanisius, 1991).
Menurut Blakely dan Bade (1991), bangsa sapi mempunyai klasifikasi
taksonomi sebagai berikut :
Kindom

: animalia

fylum

: chordata

class

: mamalia

ordo

: artiodactyla

family

: bovidae

genus

: bos

species

: bos taurus (sapi eropa)

bos indicus (sapi India atau sapi Zebu)


bos sondaicus (banteng atau sapi Bali)
3.2 Trematoda pada sapi
Trematoda atau cacing daun termasuk dalam filum Platyhelminthes dan
hidup sebagai parasit. Banyak sekali macam hewan yang dapat berperan sebagai hospes
definitif bagi cacing trematoda, seperti kucing, anjing, sapi , babi, tikus, burung,
dan harimau. Tidak ketinggalan manusia pun merupakan hospes utama bagi
cacing trematoda. Trematoda menurut tempat hidupnya dibagi menjadi empat
yaitu trematoda hati, trematoda paru, trematoda usus, dan trematoda darah.
(FKUI, 1998).

BAB 4
PEMBAHASAN
5

4.1 Jenis-jenis Trematoda pada Sapi


Trematoda atau disebut juga cacing isap adalah kelas dari anggota hewan
tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Platyhelminthes. Jenis cacing
Trematoda hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Tubuhnya dilapisi
dengan kutikula untuk menjaga agar tubuhnya tidak tercerna oleh inangnya dan
mempunyai alat pengisap dan alat kait untuk melekatkan diri pada inangnya.
Contoh anggota Trematoda adalah Fasciola hepatica (cacing hati).
1. Fasciola Sp
Kingdom

: Animalia

Phylum

: platyhelminthes

Class

: Trematoda

Subclass

: Enoplia

Orde

: Echinostomida

Family

: Fasciolidae

Genus

: Fasciola

Spesies

: F. Hepatica
F. Gigantica

Gambar 1. Fasciola Gigantica


2. Schystosoma Japonicum
Kingdom

: Animalia
6

Phylum

: platyhelminthes

Class

: Trematoda

Subclass

: Digenea

Orde

: Strigeidida

Genus

: Schistosoma

Spesies

: S. Japonicum

Gambar 2. Schystosoma Japonicum


3. Eurytrema pancreaticum
Kingdom

: Animalia

Phylum

: platyhelminthes

Class

: Trematoda

Orde

: Digenea

Family

: Dicrocoelidae

Genus

: Eurytrema

Spesies

: Eurytrema pancreaticum

Predeleksi

: saluran pankrreas

Gambar 3. Eurytrema pancreaticum


4. Paramphistomum cervi
Predeleksi

: reticulum sapi (pemamah biak)

Kingdom

: Animalia

Phylum

: platyhelminthes

Class

: Trematoda

Orde

: Digenea

Family

: Paramphistomatidae

Genus

: Paramphistomum
Cotylophoron
Gastrothylax
Gigantocotyle
gastrodiscus

Gambar 4. Paramphistomum cervi


5. Dicrocoelium Dendriticum
Predeleksi

: Duktus Biliverus

Kingdom

: Animalia

Phylum

: platyhelminthes

Class

: Trematoda

Orde

: Plagiorchiida

Family

: Dicrocoeliidae

Genus

: Dicrocoelium

Spesies

: Dicrocoelium Dendriticum

Gambar 5. Dicrocoelium Dendriticum


4.2 Morfologi Trematoda Pada Sapi
1. Morfologi Fasciola Sp
Cacing dewasa Fasciola sp. berbentuk pipih seperti daun tanpa
rongga tubuh. Perbedaan dari kedua jenis cacing Fasciola gigantica adalah
pada bentuk tubuh dan ukuran telur berkisar antara 156-197m x 90104m. Fasciola Hepatica ukuran telur berkisar antara 130-160m x 6390m (Soulby, 1986). Telur cacing hati (Fasciola sp.) berbentuk oval,
berdinding halus dan tipis berwarna kuning dan bersifat sangat permiabel,
memiliki operkulum pada salah satu kutubnya. Operkulum merupakan
daun pintu telur yang terbuka pada saat telur akan menetas dan larva
miracidium

yang

bersilia

dibebaskan.

Cacing

dewasa

Fasciola

sp.berbentuk pipih, seperti daun tanpa rongga tubuh. (Noble dan Noble,
1989).
Tubuh Fasciola gigantic relatif lebih bundar dimana bagian
posteriornya terlihat lebih mengecil dan ukuran telurnya lebih besar
dibandingkan Fasciola hepatica (Adiwinata,1955). Menurut Brown (1979)
cacing dewasa dapat dibedakan dari Fasciola hepatica karena lebih
panjang, kerucut kepala lebih pendek, alat reproduksi terletak lebih
anterior, batil isap perut lebih besar. Fasciola hepatica mempunyai ciri-ciri:
batil isap mulut dan kepala yang letaknya berdekatan, divertikulum usus,

10

alat kelamin jantan (testis) yang bercabang-cabang dan berlobus.


Sedangkan alat kelamin betina mempunyai kelenjar vitellaria yang
memenuhi sisi lateral tubuh. Memiliki sebuah pharing dan oesphagus yang
pendek, uterus pendek dan bercabang-cabang (Soulsby,1986). Di
Indonesia cacing hati yang selalu terdeteksi adalah yang berspesies
Fasciola gigantica, sedangkan Fasciola hepatica umumnya dapat
ditemukan

dari

ternak-ternak

yang

diimpor

ke

Indonesia

(Kusumamihardja,1992). Kedua cacing ini secara morfologi mempunyai


banyak kesamaan. Perbedaan diantara keduanya terletak pada daya tahan
hidup

terhadap

lingkungan

dan

inang

perantara

(Lymnea

sp),

(Soulsby,1986).
Fasciola hepatica dewasa berukuran 20 mm sampai 50 mm (Noble
dan Noble.1989). Sedangkan Fasciola gigantic mempunyai ukuran yang
lebih besar dari Fasciola hepatica, yaitu 20 mm sampai 75 mm (Soulsby,
1986). Di Indonesia Fasciola gigantica dewasa panjangnya 14 mm sampai
54 mm. Sisi kiri dan kanan hampir sejajar, bahu kurang jelas, alat
penghisap ventral sejajar dengan bahu, besarnya hampir sama dengan alat
penghisap mulut, kutikula dilengkapi dengan sisik. Usus buntunya
bercabang-cabang sejajar dengan sumbu badan, sirus tumbuh sempurna
dan kantung sirus mangandung kelenjar prostat serta kantong semen,
ovarium bercabang terletak di sebelah kanangaris median, kelenjar vitelin
mengisi bagian lateral tubuh (Kusumamiharja 1992).

11

Gambar 6. morfologi telur dan cacing hati dewasa (Anonym, 2006)


2. Morfologi Schystosoma Japonicum
Cacing jantan, panjang 12-20 mm, diameter 0,50-0,55 mm,
integument ditutupi duri-duri sangat halus dan lancip, lebih menonjol pada
daerah batil isap dan kanalis ginekoporik, memiliki (6-8) buah testis.
Cacing betina, panjang 26 mm dengan diameter 0,3 mm. Ovarium
dibelakang pada pertengahan tubuh, kelenjar vitellaria terbatas di daerah
lateral bagian posterior tubuh. Uterus merupakan saluran yang panjang
dan urus berisi 50-100 butir telur.
Telur berhialin, subsperis atau oval dilihat dari lateral, dekat salah
satu kutub terdapat daerah melekuk tempat tumbuh semacam duri
rudimenter (tombol), berukuran (70-100) (50-65) m. khas sekali, telur
diletakkan dengan memusatkannya pada vena kecil pada submukosa atau
mukosa organ yang berdekatan. Tempat telur s. japonicum biasa pada
percabangan vena mesenterika superior yang mengalirkan darah dari usus
halus (Natadisastra, 2005).

12

Telur-telur cacing Schistosoma japonicum lebih besar dan lebih


bulat disbanding jenis lainnya, berukuran panjang 70 100 mm dan
lebarnya 55 64 mm. Tulang belakang di telur S. japonicum lebih kecil
dan kurang mencolok dibandingkan spesies lainnya.
3. Morfologi Eurytrema pancreaticum
Tubuhnya tebal dan berduri atau suckernya besar, oral sucker lebih
besar dari ventral sucker, Faring kecil dan esofagus pendek
4. Morfologi Paramphistomum cervi
Bentuk cacing bulat seperti kerucut, pada bagian ventralnya agak
cekung, bagian dorsalnya cembung, agak tebal dan berwarna merah muda.
Tubuh cacing dewasa berukuran panjang 5-13 mm dan lebarnya 2-3 mm.
Ditemukan adanya batil isap mulut ( oral sucker) berukuran kecil dan
ventrak sucker berkembang sempurna terletak pada ujung posterior. Tidak
memiliki

pharing,

tetapi

memiliki

oesopagus

sedangkan

saluran

pencernaannya sangat sederhana. Cacing ini bersifat hermaphrodit, dimana


porus genitalisnya terletak pada bagian akhir 1/3 anterior tubuhnya. Alat
kelamin betina terdiri dari ovarium kecil yang letaknya dibelakang testis.
Alat kelamin jantan mempunyai testis besar, agak berlobi dan letaknya
disebelah depan dan belakang disebelah anterior ovarium. Seekor cacing
betina dapat bertelur setiap hari sebanyak 75 butir per hari. Telur cacing
berdinding tipis, memiliki operculum, ukuran panjangnya 114 176 X 73
100 mikron.

13

5. Morfologi Dicrocoelium Dendriticum


Tubuh memanjang, dengan panjang 6-10 1,5-2,5 mm. Bagian
anterior sempit di bagian lengan melebar. Diposterior alat kelamin
dipenuhi uterus yang bercabang-cabang. Telur coklat 36-4520-32 mikron.
4.3 Siklus Hidup Trematoda Pada Sapi
1. Siklus Hidup Fasciola Sp
a. Telur Cacing Hati
Telur-telur yang dihasilkan dari proses pembuahan cacing hati akan
disalurkan ke empedu untuk dapat melewati usus dan anus sehingga
bercampur dengan feses atau kotoran sapi. Pada tahap selanjutnya,
sesaat setelah keluar dari pencernaan sapi (kondisi feses masih basah),
telur-telur cacing hati ini kemudian siap menetas dan menjadi larva.
Periode waktu yang dibutuhkan mulai fase inveksi hingga menetasnya
telur adalah sekitar 8 sd 12 minggu.
b. Larva
Larva cacing hati disebut dengan istilah mirasidium. Mirasidium alias
bayi cacing hati yang bergumul bersama kotoran sapi akan terbawa
hujan melalui siklus air hingga sampai ke sungai. Di sungai, mirasidium
akan mencari inang baru. Sasaran utamanya adalah para moluska
terutama siput air dan keong-keongan. Mereka akan masuk ke dalam
tubuh siput, mengalami perkembangan, dan bertransformasi menjadi 3
bentuk yaitu Sporocysts, Rediae, dan Serkaria. Lama yang dibutuhkan
fase larva atau mirasidium ini adalah sekitar 10 sd 12 hari.
c. Serkaria
Di antara ketiga bentuk transformasi mirasidium, serkaria-lah yang
bertugas untuk meneruskan daur hidup Fasciola hepatica. Ia akan
bergerak seperti kecebong menuju rerumputan atau dedaunan di
pinggiran sungai. Di rerumputan sekitar tempat yang lembab dan basah
itulah cercaria tinggal dan bertransformasi membentuk kista atau yang
14

dikenal dengan istilah metaserkaria. Lama periode yang dibutuhkan


serkaria menjadi metaserkaria adalah sekitar 5 sd 7 minggu.
d. Metaserkaria
Metaserkaria yang terdapat di rerumputan merupakan bentuk infeksi
sejati dari cacing hati. Semua mamalia yang memakan rerumputan
(hewan herbivora) tersebut akan terinfeksi cacing ini, termasuk sapi,
kambing, bahkan manusia. Infeksi yang disebut fascioliasis ini dapat
terjadi jika rerumputan tersebut tidak diolah dan dibersihkan terlebih
dahulu sebelum dimakan
e. Cacing Hati Dewasa
setelah masuk ke dalam sistem pencernaan melalui konsumsi
rerumputan, metaserkaria akan keluar dari kista dan berubah menjadi
cacing hati dewasa. Cacing dewasa ini kemudian akan menembus
dinding usus, menuju rongga perut, dan mengincar hati sebagai inang
barunya. Cacing dewasa akan bereproduksi menghasilkan telur-telur
baru yang akan menjadi agen dalam melanjutkan daur hidup Fasciola
hepatica alias si cacing hati.

15

Gambar 7. Siklus hidup cacing trematoda Fasciola sp.(Bennet,1999)


2. Siklus Hidup Schystosoma Japanicum
Schistosoma

hidup

terutama

didalam

vena

mesenterika

superior, dimana tempat ini cacing betina akan menonjolkan tubuhnya


dari yang jantan atau meninggalkan yang jantan untuk bertelur
didalam venula-venula mesenterika kecil pada dinding usus. Telur
berbentuk oval hingga bulat dan memerlukan waktu beberapa hari untuk
berkembang menjadi mirasidium matang didalam kerangka telur. Massa
telur menyebabkan adanya penekanan pada dinding venula yang
tipis, yang biasanya dilemahkan oleh sekresi dari kelenjar histolitik
mirasidium yang masih berada didalam kulit telur. Dinding itu kemudian
sobek, dan telur menembus lumen usus yang kemudian keluar dari tubuh.
Pada infeksi berat, beribu-ribu ditemukan pada pembuluh darah.
16

Selanjutnya jika kontak dengan siput sesuai, larva menembus jaringan


lunak dalam 5-7 minggu, membentuk generasi pertama dan kedua
dari sporokista. Pada perkembangan selanjutnya dibetuk serkaria yang
bercabang. Serkaria ini dikeluarkan jika siput berada pada atau dibawah
permukaan air. Dalam waktu 24 jam, serkaria menembus kulit.
Tertembusnya kulit ini sebagai hasil kerja dari kelenjar penetrasi
yang menghasilkan enzim proteolitik, menuju aliran kapiler, ke dalam
sirkulasi vena menuju jantung kanan dan paru-paru, terbawa sampai ke
jantung kiri menuju sirkulasi sistemik. Tidak sepenuhnya rute perjalanan
ini diambil oleh Schistosoma muda pada migrasi mereka dari paruparu ke hati.Schistosoma merayap melawan aliran darah sepanjang
arteri pulmonalis, jantung kanan dan vena cava menuju kehati melalui vena
hepatica. Infeksi dapat berlangsung dalam jangka waktu yang tidak
terbatas.
Menetasnya telur berlangsung didalam air walaupun dipengaruhi kadar
garam, pH, suhu, dan aspek penting lainnya. Migrasi Schistosoma
joponicum dimulai

dari

masuknya

cacing

tersebut

kedalam

pembuluh darah kecil, kemudian ke jantung dan sistem peredaran


darah. Cacing yang sedang bermigrasi jarang menimbulkan
kerusakan atau gejala, tetapi kadang menimbulkan reaksi hebat pada tubuh
penderita.

17

Gambar 8. Siklus Hidup Schystosoma Japanicum


3. Siklus Hidup Eurytrema pancreaticum
Siklus hidupnya memerlukan 2 inang perantara siput tanah
Bradybaena similaris dan Cathaica ravida siboldtiana. Sporokista terjadi
didalam tubuh siput, serkaria dihasilkan setelah 5 bulan terinfeksi.
Serkaria menempel pada rumput kemudian termakan oleh belalang.
Metaserkaria terjadi di dalam hemocoele dan menjadi infektif setelah 3
minggu didalam tubuh belalang. Inang definitif terinfeksi karena
memakan belalang yang biasanya bersama-sama rumput dimana
belalang tersebut mengandung metaserkaria . Cacing muda migrasi
melalui saluran pankreas.

18

Gambar 9. Siklus Hidup Eurytrema pancreaticum


4. Siklus Hidup Paramphistomum cervi
Telur cacing keluar saat defikasi yang telah mengalami perkembangan
awal dan pada kondisi yang menunjang (air tergenang dan suhu 270 C)
setelah lebih kurang 12 hari melalui operculum akan keluar larva yang
disebut mirasidium. Mirasidium selanjutnya akan berenang di air dan
secara aktif akan mencari hospes intermidier berupa siput dari genus (
Planorbis, Bulinus, Fossaria sp., Gliptanisus dan Fysmanisus ) setelah
masuk dalam tubuh siput mirasidium akan berubah menjadi sporokista.
Dalam waktu 11 hari sporokista akan berkembang dan didalamnya
mengandung maksimal 8-9 redia. Pada hari ke- 21 sporokista akan pecah
dan menghasilkan redia dengan ukuran panjang 0,5 1 mm. Di dalam
tubuh redia ditemukan 15-30 cercaria. Serkaria akan keluar dari dalam

19

tubuh siput terutama pada saat kena sinar matahari. Serkaria yang bebas
memiliki ekor sederhana dan sepasang titik mata, berenang dalam air
beberapa jam, kemudian akhirnya akan mengkista disebut metaserkaria
didalam tumbuhan air yang dapat tahan pengaruh luar sampai 3 bulan.
Infeksi terjadi karena tertelannya rumput yang mengandung metaserkaria,
setelah sampai didalam usus kista akan pecah dan terbebaslah cacing muda.
Cacing muda akan menembus masuk kedalam mukosa usus halus,
kemudian setelah 6-8 minggu cacing muda akan bermigrasi keatas menuju
rumen dan retikulum dan akhirnya berkembang menjadi cacing dewasa.
Pathogenesa : infeksi pada induk semang terjadi akibat memakan
tanaman atau rumput yang tercemar metacercaria. Setelah tertelan didalam
usus halus menjadi cacing muda. Cacing muda ini akan menembus masuk
ke dalam mukosa usus halus , kemudia keluar kepermukaan dan bermigrasi
ke dalam rumen dan retikulum kira-kira satu bulan setelah infeksi.
Cacing muda yang menembus masuk kedalam sub mukosa akan
menyebabkan keradangan usus, nekrose dari sel, dan erosi vili-vili dari
mukosa. Sedangkan cacing dewasa dalam rumen dan retikulum menghisap
bagian permukan mukosa menyebabkan kepucatan pada mukosa, serta
papilla rumen banyak mengalami degenerasi. Adanya cacing muda dalam
jumlah banyak dalam usus halus dapat menyebabkan kematian pada sapi.
Mukosa rumen yang terinfeksi parasit ini terlihat anemi dan nekrose,
sehingga perubahan tersebut akan mengakibatkan gangguan kerja rumen,
sehingga makanan tidak dapat dicerna dengan sempurna.

20

Gambar 10. Siklus Hidup Paramphistomum cervi


5. Siklus Hidup Dicrocoelium Dendriticum
Telur dimakan H.I menetas mirasidium migrasi ke
glandula mesenterika sporosiste sporosiste anak serkaria
bergerombol, satu sama lain dilekat kan oleh subtansi gelatinous yang
disebut SLIME BALLS mengandung 200-400 serkaria dikeluarkan
dari siput melekat ditumbuh-tumbuhan. Slime balls dimakan semut.
Metaserkaria di cavum abdominalis semut 128 per semut. Dapat juga
memasuki otak semut. Induk semang definitif terinfeksi karena makan
semut duktus biliverus hati Cacing yang kecil masuk kecabang
duktus biliverusmenempel dengan perubahan patologi tidak begitu
tampak untuk memproduksi telur yang di butuhkan sekitar 11 minggu
setelah hewan memakan metaserkaria (dibanding Fasciola hepatica)
kecuali ada infeksi berat. Pada infeksi lanjut Cirrhosis hepatica dan
terbentuk pada permukaan hati, duktus biliverus melebar terisi cacing.

21

Gambar 11. Siklus Hidup Dicrocoelium Dendriticum

BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Trematoda atau cacing daun yang berparasit pada hewan dapat dibagi
menjadi tiga sub klas yaitu Monogenea, Aspidogastrea, dan Digenea. Pada

22

hewan jumlah jenis dan macam cacing daun ini jauh lebih besar dari pada
yang terdapat pada manusia, karena pada hewan sub-klas ini dapat dijumpai.
Ciri khas cacing ini adalah terdapat dua batil isap yaitu batil isap mulut dan
batil isap perut ada juga spesies yang memiliki batil isap genital. Trematoda
memiliki saluran pencernaan berbentuk huruf Y terbalik dan pada umumnya
tidak memiliki alat pernapasan khusus karena hidup secara anaerob.
Trematoda disebut sebagai cacing hisap karena cacing ini memiliki
alat pengisap. Alat penghisap terdapat pada mulut di bagian anterior. Alat
hisap (Sucker) ini untuk menempel pada tubuh inangnya yang disebut cacing
hisap.
5.2 Saran
Semoga paper ini dapat menjadi bahan acuan dan referensi bagi
para pembaca khususnya Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas
Udayana dalam matakuliah Parasitologi.

23

DAFTAR PUSTAKA

Rencong Dwi Putra1, Nyoman Adi Suratma2, Ida Bagus Made Oka2. 2014.
Prevalensi Trematoda pada Sapi Bali yang Dipelihara Peternak di Desa
Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung THE PREVALENCE OF
TREMATODES IN BALI CATTLE BREEDERS REARED IN THE
SOBANGAN VILLAGE, MENGWI DISTRICT, BADUNG COUNTIES.
1Mahasiswa Program Profesi Dokter Hewan 2 Laboratorium Parasitologi
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jalan PB Sudirman,
Denpasar, Bali; Email : rencongdwi@gmail.com
Nusa, David Romario, Siswatiana Rahim Taha , Tri Ananda Erwin Nugroho.
Investigasi Keberadaan Cacing Paramphistomum sp. Pada lambung sapi yang
berasal dari Tempat Pemotongan Hewan di Kota Gorontalo. Program Studi S1
Peternakan Jurusan Peternakan Fakultas Ilmu-ilmu Pertanian Universitas
Negeri Gorontalo
ISKANDAR MIRZAI dan KuRNIASIH-. IDENTIFIKASI CACING EURYTREMA
SP.

PADA

TERNAK

SAPI

BERDASARKAN

CIRI-CIRI

MORFOLOGIS(Identification of Eurytrema Sp. in Cattle Based on


Morphological Characteristics). Bali Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)
Banda Aceh 2 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta

24

LAMPIRAN JURNAL

25