Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trematoda disebut sebagai cacing hisap karena cacing ini memiliki alat
pengisap. Alat pengisap terdapat pada mulut di bagian anterior, alat hisap (Sucker)
ini untuk menempel pada tubuh inangnya maka disebut pula cacing hisap.
Pada saat menempel cacing ini mengisap makanan berupa jaringan atau
cairan tubuh inangnya. Ciri khas cacing ini adalah terdapat dua batil isap yaitu
batil isap mulut dan batil isap perut ada juga spesies yang memiliki batil isap
genital. Trematoda memiliki saluran pencernaan berbentuk huruf Y terbalik dan
pada umumnya tidak memiliki alat pernapasan khusus karena hidup secara
anaerob.
Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian posterior.
Susunan saraf dimulai dengan ganglion di bagian dorsal esofagus, kemudian
terdapat saraf yang memanjang di bagian dorsal, ventral dan lateral badan.
Dengan demikian maka Trematoda merupakan hewan parasit karena merugikan
dengan hidup di tubuh organisme hidup dan mendapatkan makanan di tubuh
inangnya. Trematoda dewasa pada umumnya hidup di dalam hati, usus, paru-paru,
ginjal, dan pembuluh darah vertebrata ternak , Ikan, manusia. Trematoda
berlindung di dalam tubuh inangnya dengan melapisi permukaan
tubuhnya dengan kutikula. Permukaan tubuhnya tidak memiliki silia.
Contoh Trematoda adalah cacing hati (Fasciola hepatica).

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian trematoda ?


2. Bagaimana struktur trematoda ?
3. Seperti apa ukuran, bentuk, dan susunan sel trematoda ?
4. Bagaimana perkembangbiakan trematoda ?
5. Apa saja macam-macam trematoda ?

1.3 Tujuan

Mahasiswa dapat memahami pengertian dari trematoda, susunan dan bentuk


trematoda, cara perkembangbiakan trematoda, dan mengetahui macam-macam
trematoda yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

1.4 Manfaat penulisan

Dari tujuan di atas, manfaat yang dapat diambil untuk para pembaca dan
mahasiswa khususnya yaitu untuk meningkatkan ilmu pengetahuan tentang
trematoda, mencegah penyakit, dan berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan
khususnya pada daging.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kajian Teori

Cacing daun adalah cacing yang termasuk kelas Trematoda filum


Platyhelminthes dan hidup sebagai parasit. Pada umumnya cacing ini bersifat
hemafrodit kecuali cacing Schistosoma, mempunyai batil isap mulut dan batil isap
perut (asetabulum). Spesies yang merupakan parasit pada manusia termasuk
subkelas Digenea, yang hidup sebagai endoparasit.

Berbagai macam hewan dapat berperan sebagai hospes definitive cacing


trematoda, antara lain: kucing, anjing, kambing, sapi, babi, tikus, burung, luak,
harimau dan manusia. Berdasarkan tempat hidupnya cacing dewasa dalam tubuh
hospes, maka trematoda dapat dibagi dalam:

a) Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Opisthorchis felineus, Opisthorchis


viverrini, dan Fasiola.
b) Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma tidae, dan
Heterophyidae
c) Trematoda paru: Paragonimus westermani
d) Trematoda darah: Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni, dan
Schistosoma haematobium

Pada umumnya cacing trematoda ditemukan di RRC, Korea, Jepang, Filipina,


Thailand, Vietnam, Taiwan, India , dan Afrika. Beberapa spesies ditemukan di
Indonesia seperti Fasciolopsis buski di Kalimantan, Echinostoma di Jawa dan
Sulawesi, Heterophyidae di Jakarta dan Schiostosoma japonicum di Sulawesi
Tengah.

3
Daur Hidup Trematoda

Cacing dewasa hidup didalam tubuh hospes definitive. Telur diletakan


disaluran hati, rongga usus, paru, pembuluh darah atau di jaringan tempat cacing
hidup dan telur biasanya keluar bersama tinja, dahak atau urine. Pada umumnya
telur berisi sel telur, hanya pada beberapa spesies telur sudah mengandung
mirasidium ( M ) yang pemmpunyai bulu getar. Didalam air telur menetasbila
sudah mengandung mirasidium ( Telur matang ).

Pada spesies trematoda yang mengeluarkan telur berisi sel telur, telur akan
menjadi matang dalam waktu kurang lebih 2-3 minggu. Pada beberapa spesies
trematoda, telur matang menetas bila ditelan siput (hospes pelantara) dan
keluarlah mirasidium yang masuk kedalam jaringan siput atau telur dapat
langsung menetas dan mirasidium berenang di air dalam waktu 24 jam
mirasidium harus sudah menemukan siput air agar dapat melanjutkan
perkembanganya. Siput air disini berfungsi sebagai hospes perantara pertama (HP
1). Dalam siput air tersebut mirasidium berkembang menjadi sebuah kantung yang
berisi embrio disebut sporokista (S). sporokista ini dapat mengandung sporokista
lain atau redia ( R) bentuknya berupa kantung yang sudah mempunyai mulut,
faring dan sekum. Didalam sporokista 2 atau redia larva berkembang menjadi
serkaria (SK).

Kemudian serkaria keluar dari siput air dan mencari hospes perantara 2
yang berupa ikan, tumbuh-tumbuhan air, ketam, udang batu, dan siput air lainnya,
atau dapat menginfeksi hospes definif secara langsung seperti pada Schistosoma.
Dalam hospes perantara 2 serkaria berubah menjadi metaserkariayang berbentuk
kista. Hospes definitif mendapat infeksi bila makan hospes perantara 2 yang
mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik. Infeksi cacing
Schistosoma terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes defintif, yang
kemudian berubah menjadi skistosomula, lalu berkembang menjadi cacing dewasa
yang hidup dalam tubuh hospes.

4
Gambar 2.1 daur hidup trematoda

2.2 Pembahasan

2.2.1 Pengertian Trematoda

Trematoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata Trematode yang artinya
bentuk yang dipenuhi lubang. Trematoda disebut juga cacing isap. Sebagian besar
cacing dewasa bersifat endoparasit pada vertebrata, yaitu dalam darah, saluran
pencernaan. Termasuk dalam Filum Platyhelminthes, yang secara morfologi
berbentuk pipih seperti daun. Umumnya hidup sebagai parasit pada vertebrata.
parasit yang hidup di dalam tubuh organisme atau inang disebut sebagai
endoparasit atau parasit internal. Mereka terjadi di berbagai filum hewan dan
protista. Parasit ini dapat hidup di lingkungan yang baik intraseluler atau
ekstraseluler dalam inang. Pada saat menempel cacing ini menghisap makanan
berupa jaringan atau cairan tubuh inangnya. Dengan demikian maka Trematoda
merupakan hewan parasite, karena merugikan dengan hidup ditubuh organisme
hidup dan mendapatkan makanan dari inangnya. Trematoda dewasa umumnya
hidup di dalam hati, usus, paru-paru, dan pembuluh darah vertebrata, trematoda
memiliki alat hisap yang dilengkapi kait yang berfungsi melekatkan diri pada
inangnya karena golongan ini hidup secara parasit pada manusia dan hewan.
Contoh Trematoda adalah Fasciola (cacing hati), Clonorchis, dan Schistosoma.

5
2.2.2 Struktur Tubuh Trematoda

 Tubuh bagian luar ditutupi oleh kutikula (untuk menjaga agar tubuhnya
tidak tercerna oleh inangnya)
 Tidak memiliki silia
 Sistem reproduksi ada yang hermafrodit. Hermaprodit adalah hewan atau
tumbuhan yang biasanya memiliki sistem reproduksi jantan dan betina,
baik memproduksi telur dan sperma. Banyak hewan tingkat rendah,
terutama spesies bergerak, adalah hermaprodit; dalam beberapa, seperti
cacing tanah, dua hewan bersanggama dan melakukan fertilisasi satu sama
lain. Beberapa spesies parasit, misalnya, cacing pita, melakukan fertilisasi
sendiri serta hermafrodit, menjamin reproduksi di mana parasit mungkin
satu-satunya anggota dari spesies dalam inang.
 Mempunyai satu sucker (alat penghisap) dimulut dan satu atau lebih pada
permukaan ventral. Sucker berfungsi untuk menghisap cairan tubuh
inangnya.
 Ukuran panjang cacing dewasa sangat beraneka ragam dari 1mm sampai
kurang lebih 75mm.

6
2.2.3 Ukuran, bentuk, dan susunan Trematoda

Pada umumnya bentuk badan cacing dewasa pipih dorsoventral dan


simetris bilateral, tidak mempunyai rongga badan.ukuran panjang cacing dewasa
sangat beraneka ragam dari 1 mm sampai kurang lebih 75 mm. Tanda khas
lainnya adalah terdapat 2 buah batil isap, yaitu batil isap mulut dan batil isap
perut. Beberapa spesies mempunyai batil isap genital. Saluran pencernaan
menyerupai huruf Y terbalik yang dimulai dengan mulut dan berakhir buntu pada
sekum. Pada umumnya trematoda tidak mempunyai alat pernafasan khusus,
karena hidup secara anaerob. Saluran sekresi terdapat simetris bilateral dan
berakhir dibagian posterior. Susunan saraf dimulai dengan ganglion dibagian
dorsal esophagus, kemudian terdapat syaraf yang panjang dibagian dorsal, ventral
dan lateral badan cacing ini bersifat hemafrodit dengan alat reproduksi yang
kompleks.

2.2.4 Perkembangbiakan Trematoda

trematoda berkembangbiak dengan cara membelah diri (aseksual), pembelahan


tubuh dimulai dengan penggentingan belakang faring dan memisah menjadi dua
hewan, dapat juga apabila dari satu individu dipotong menjadi beberapa bagian
maka setiap bagiannya akan mampu membentuk individu baru. Selain secara
aseksual, cacaing ini juga dapat berkembangbiak dengan cara seksual karena
hewan ini pada umumnya bersifat hemaprodit tetapi akan terjadi perkawinan
silang, cacing ini biasanya memiliki dua testis, dengan saluran sperma yang
bergabung bersama di bawah tubuh bagian tengah depan. Sistem ini bervariasi
secara struktur di antara spesies, tetapi sistem ini biasanya sudah mencakup
kantung penyimpanan sperma dan kelenjar aksesori, sebagai tambahan organ
kopulasi, baik yang reversible (disebut sebagai cirrus), atau non-eversible (disebut
sebagai penis). Biasanya Trematoda hanya memiliki ovarium tunggal, yang
terhubung melalui sepasang saluran menuju ke sejumlah kelenjar vitelline di
kedua sisi tubuh, yang menghasilkan sel kuning telur (yolk cell). Telur lepas dari
ovarium menuju ke dalam wadah yang disebut ootype atau kelenjar Mehlis

7
(kelenjar di mana pembuahan terjadi). Kelenjar membuka menjadi uterus
memanjang yang membuka ke luar, berdekatan dengan organ jantan. Ovarium
sering juga dikaitkan dengan kantung penyimpanan sperma dan saluran kopulasi
yang disebut kanal Laurer.

2.2.5 Macam-macam Trematoda


A. Trematoda Hati
1. Fasciola hepatica

a) Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Kelas : Trematoda

Ordo : Echinostomida

Genus : Fasciola

Spesies : Fasciola hepatica

Gambar 2.2 Fasiola hepatica

8
Hospes cacing ini adalah kambing dan sapi, dan kadang-kadang parasit ini
ditemukan pada manusia. Fasciola hepatica merupakan penyakit fascioliasis.
Fascioliasis banyak ditemukan di negara-negara Amerika Latin dan negara-
negara sekitar Laut Tengah

b) Morfologi
 Telur
 Ukuran : 130 – 150 mikron x 63 – 90 mikron
 Warna : kuning kecoklatan
 Bentuk : Bulat oval dengan salah satu kutub mengecil, terdapat overculum
pada kutub yang mengecil, dinding satu lapis dan berisi sel-sel granula
berkelompok.
 Cacing dewasa
 Ukuran 30 mm x 13 mm
 Bersifat hermaprodit
 Sistem reproduksinya ovivar
 Bentuknya menyerupai daun
 Mempunyai tonjolan konus pada bagian anteriornya
 Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut, uterus pendek berkelok-
kelok.
 Testis bercabang banyak, letaknya di pertengahan badan berjumlah 2 buah.
 Ovarium sangat bercabang

c) Ciri umum :

1. Bentuk tubuh seperti daun


2. Bentuk luarnya tertutup oleh kutikula yang resisten merupakan modifikasi
dari epidermis
3. Cacing dewasa bergerak dengan berkontraksinya otot-otot tubuh,
memendek, memanjang dan membelok

9
4. Dalam daur hidup cacing hati ini mempunyai dua macam inang
yaitu: inang perantara yakni siput air dan inang menetapnya yaitu hewan
bertulang belakang pemakan rumput seperti sapi dan domba
5. Merupakan entoparasit yang melekat pada dinding duktusbiliferus atau
pada epithelium intestinum atau pada endothelium venae dengan alat
penghisapnya
6. Makanan diperoleh dari jaringan-jaringan, sekresi dan sari-sari makanan
dalam intestinum hospes dalam bentuk cair, lendir atau darah.
7. Di dalam tubuh, makanan dimetabolisir dengan cairan limfa, kemudian
sisa-sisa metabolisme tersebut dikeluarkan melalui selenosit.
8. Perbanyakan cacing ini melalui auto-fertilisasi yang berlangsung pada
Trematoda bersifat entoparasit, namun ada juga yang secara fertilisasi
silang melalui canalis laurer.

d) Hospes

a) Hospes definitif : Manusia, kambing, sapi dan biri – biri

b) Hospes perantara I : Keong air / siput

c) Hospes perantara II : Tumbuhan air

e) Siklus Hidup

Pada spesies F. hepatica, cacing dewasa bertelur di dalam saluran empedu dan
kantong empedu hewan ruminansia dan manusia. Kemudian telur keluar ke alam
bebas bersama feses domba. Bila mencapai tempat basah, telur ini akan menetas
menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium akan mati bila tidak
masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea auricularis-rubigranosa).

Di dalam tubuh siput ini, mirasidium tumbuh menjadi sporokista (menetap


dalam tubuh siput selama + 2 minggu). Sporokista akan menjadi larva berikutnya
yang disebut Redia. Hal ini berlangsung secara partenogenesis. Redia akan
menuju jaringan tubuh siput dan berkembang menjadi larva berikutnya yang

10
disebut serkaria yang mempunyai ekor. Dengan ekornya serkaria dapat menembus
jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air.

Di luar tubuh siput, larva dapat menempel pada rumput untuk beberapa lama.
Serkaria melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. Metaserkaria
membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput
atau tumbuhan air sekitarnya. Perhatikan tahap perkembangan larva Fasciola
hepatica. Apabila rumput tersebut termakan oleh hewan ruminansia dan manusia,
maka kista dapat menembus dinding ususnya, kemudian masuk ke dalam hati,
saluran empedu dan dewasa disana untuk beberapa bulan. Cacing dewasa bertelur
kembali dan siklus ini terulang lagi.

Penjelasan Singkat

Telur → larva mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea → sporokista →


berkembang menjadi larva (II): redia → larva (III): serkaria yang berekor,
kemudian keluar dari tubuh keong → kista yang menempel pada tumbuhan air
(terutama selada air Nasturqium officinale) kemudian termakan hewan ternak
(dapat tertular ke orang, apabila memakan selada air) → masuk ke tubuh dan
menjadi cacing dewasa menyebabkan Fascioliasis.

f) Gejala, diagnosis, dan pengobatan

 Gejala

Migrasi cacing Fasciola hepatica ke saluran empedu menimbulkan kerusakan


pada parenkim hati. Saluran empedu mengalami peradangan, penebalan dan
sumbatan sehingga menimbulkan Sirosis Periportal.

11
 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja, cairan duodenum


atau cairan empedu. Reaksi serologi sangat membantu dalam menegakkan
diagnosis

g) Pengobatan

Pengobatan yang dapat diberikan antara lain:

 Heksakloretan
 Heksaklorofan
 Rafoxamide
 Niklofolan
 Bromsalan yang disuntikkan di bawah kulit

h) Epidemiologi dan Pencegahan


 Epidemiologi
Banyak kasus yang masyarakatnya sering mengkonsumsi ikan
mentahyang diolah kurang matang, sering ditemukan di Cina, Jepang,
Korea, dan Vietnam.

 Pencegahan

Tidak memakan ikan mentah, apabila mengkonsumsi harus sudah dimasak


secara sempurna dan memakai cuka khusus yang dapat mematikan parasit,
sehingga bisa dihindari dari ifeksi yang sisebabkan oleh metaserkaria
dalam ikan. Pengobatan sempurna pada penderita dengan prazikuantel.

12
2. Clonorchis sinensis

a) Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Kelas : Trematoda

Ordo : Opisthorchiida

Family : Opisthorchiidae

Genus : Clonorchis

Spesies : Clonorchis sinensis

Gambar 2.3 Clonorchis

Clonorchis sinensis ini tinggal di hati manusia, dan ditemukan terutama di


umum saluran empedu dan kantong empedu, makan pada empedu . Hewan ini
yang diyakini menjadi lazim parasit cacing yang paling ketiga di dunia adalah
endemik untuk Jepang, Cina, Taiwan, dan Asia Tenggara, saat ini menginfeksi
suatu manusia diperkirakan 30.000.000. Clonorchis sinesnsis
adalah parasit Opisthorchid trematoda yang menginfeksi kucing dan manusia di
negara-negara tropis dan subtropis di Asia.

13
b) Morfologi

Clonorchis sinensis dewasa memiliki bagian-bagian tubuh utama: pengisap


oral, faring, usus buntu, pengisap ventral, vitellaria, rahim, ovarium, kelenjar
mehlis, testis, kandung kemih exretory. Telur dari Clonorchis sinensis yang berisi
mirasidium yang berkembang ke dalam bentuk dewasa, mengapung di air tawar
sampai dimakan oleh siput.

 Telur
 Bentuk seperti botol ukuran 25–30 µm
 Warna kuning kecoklatan
 Kulit halus tetapi sangat tebal
 Pada bagian ujung yg meluas terdapat tonjolan
 Berisi embrio yg bersilia (mirasidium)
 Operculum mudah terlihat
 Infektif untuk siput air

 Cacing Dewasa
 Ukuran 12 – 20 mm x 3 – 5 mm
 Ventral sucker < oral sucker
 Usus (sekum) panjang dan mencapai bagian posterior tubuh
 Testis terletak diposterior tubuh & keduanya mempunyai lobus
 Ovarium kecil terletak ditengah (anterior dari testis)

c) Hospes

a) Hospes definitif : manusia, kucing dan anjing

b) Hospes perantara 1 : siput/keong air

c) Hospes perantara 2 : ikan sungai

14
d) Siklus Hidup

Siput merupakan pejamu perantara yang pertama. Sekitar 40 spesies ikan


sungai berperan sebagai pejamu sekunder. Manusia, anjing, kucing dan banyak
spesies mamalia pemakan ikan yang lain merupakan pejamu akhir. Cara penularan
dan manusia terinfeksi karena memakan ikan air tawar. Contohnya daging ikan
yang mentah atau dimasak tidak matang yang di dalamnya terdapat larva
berbentuk kista (metaserkaria). Pada saat dicerna larva cacing akan terbebas dari
dalam kista dan bermigrasi melalui Duktus Koledokus ke dalam pecabangan
empedu.

Telur dalam empedu diekskresikan melalui tinja. Pada tempat yang sesuai,
telur yang fertil (telah dibuahi) akan menetas menjadi larva bersilia yang
disebut mirasidium. Jika telur ini termakan oleh siput (lymnea) sebagai pejamu
pertama yang rentan, maka akan menetas dalam usus siput. Larva atau mirasidium
ini dalam 2 minggu akan berubah bentuk menjadi sporosista.

Sporosista yang tidak bersilia, kemudian tumbuh dan akhirnya pecah


menghasilkan larva kedua disebut redia. Redia masuk kejaringan siput. Didalam
tubuh siput redia akan tumbuh dan berkembang menghasilkan larva ketiga
disebut serkaria. Jadi jika diringkas perkembangan larva dalam keong air adalah
sebagai berikut:

Mirasidium → sporokista →redia → serkaria

Serkaria ini kemudian bermigrasi atau meningglkan tubuh siput dan masuk
ke dalam air. Jika mengenai pejamu kedua (ikan), serkaria akan menembus tubuh
ikan dan biasanya masuk ke dalam daging ikan atau biasa juga di bawah sisik
(kulit). Saat itu membentuk metaserkaria (kista). Kemudian melepaskan ekornya.
Ikan yang mengandung metaserkaria akan termakan oleh manusia, jika ikan
tersebut tidak dimasak dengan matang. Metaserkaria dalam bentuk kista akan
masuk ke dalam sistem pencernaan, kemudian berpindah kehati melalui saluran

15
empedu dan tumbuh menjadi cacing dewasa, dan mengulang kembali siklus
hidupnya.

e) Patologi dan Gejala klinis

Perubahan patologi terutama terjadi pada sel epitel saluran empedu.


Pengaruhnya terutama bergantung pada jumlah cacing dan lamanya menginfeksi,
untungnya jumlah cacing yang menginfeksi biasanya sedikit. Pada daerah
endemik jumlah cacing yang pernah ditemukan sekitar 20-200 ekor cacing.
Infeksi kronis pada saluran empedu menyebabkan terjadinya penebalan epitel
empedu sehingga dapat menyumbat saluran empedu. Pembentukan kantong-
kantong pada saluran empedu dalam hati dan jaringan parenkim hati dapat
merusak sel sekitarnya. Adanya infiltrasi telur cacing yang kemudian dikelilingi
jaringan ikat menyebabkan penurunan fungsi hati.

Gejala asites sering ditemukan pada kasus yang berat, tetapi apakah ada
hubungannya antara infeksi C. sinensis dengan asites ini masih belum dapat
dipastikan. Gejala joundice (penyakit kuning) dapat terjadi, tetapi persentasinya
masih rendah, hal ini mungkin disebabkan oleh obstruksi saluran empedu oleh
telur cacing. Kejadian kanker hati sering dilaporkan di Jepang, hal ini perlu
penelitian lebih jauh apakah ada hubungannya dengan penyakit Clonorchiasis.

Cacing ini menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding
saluran dan perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati. Gejala dibagi 3
stadium:

 Stadium ringan tidak ada gejala


 Stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan, diare,
edema, dan pembesaran hati.
 Stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal terdiri
dari pembesaran hati, edema, dan kadang-kadang menimbulkan keganasan
dalam hati, dapat menyebabkan kematian.

16
f) Diagnosis

Diagnosa didasarkan pada isolasi feses telur C. sinensis bersama dengan


adanya tanda-tanda pankreatitis atau primary. Beberapa kucing mungkin
menunjukkan penyakit kuning dalam kasus-kasus lanjutan dengan parasit beban
berat. Sejumlah cacing hati lain yang mempengaruhi kucing, seperti Viverrini
opisthorchis dan Felineus opisthorchis, dapat dibedakan dengan pemeriksaan
mikroskopik atau yang lebih baru tes PCR. Konfirmasi biasanya dibuat
pada laparotomi eksplorasi dan visualisasi cacing dalam pohon bilier atau
kandung empedu dari kucing yang terkena dampak.

g) Pengobatan

Pengobatan untuk parasit ini adalah sama dengan trematoda lainnya, terutama
melalui penggunaan praziquantel sebagai obat pilihan pertama. Obat diberikan
pada 5 mg/kg stat, atau mingguan. Obat yang digunakan untuk mengobati
infestasi mencakup triclabendazole, praziquantel, bithionol, albendazole dan
mebendazol

B. Trematoda Darah

1) Scistosoma japonicum

Nama penyakit : skistosomiasis japonica, demam keong

Hospes definitif : manusia, anjing, kucing, rusa, dll

Hospes perantara : keong air tawar

a) Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Class : Trematoda

Subclass : Digenea

17
Order : Strigeidida

Genus : Schistosoma

Species : S. japonicum

Gambar 2.4 Scistosoma japonicum

Cacing ini dapat menyerang manusia apabila mereka menyentuh atau mencuci
dengan air yang mengandung larva cacing ini yang biasanya datang dari kotoran
babi yang masuk ke dalamnya. Cacing ini dapat membakar kulit manusia serta
dapat menyelinap ke dalam darah, paru, dan hati. Cacing ini berkembang sangat
cepat, dalam sehari bisa mencapai lebih dari 20000 telur, yang dapat membakar
kulit, lambung dan hati, terkadang dapat menyerang otak dan saraf tulang
belakang yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan kematian.

b) Morfologi
 Telur
 Ukuran 70-80 µm
 Bentuk oval, berhialin
 Warna transparan atau kuning pucat
 Spina sukar dilihat, terletak dilateral dan sangat kecil dapat jadi tertutup
butiran-butiran yang biasanya ditemukan pada permukaan telur
 Berisi embrio besar bersilia

18
 Serkaria
 Bentuk badan ovoid memanjang
 Memiliki ekor bercabang
 Cacing dewasa
 Cacing jantan panjang ± 1,5cm , gemuk, integumen duri-duri sangat halus
dan lancip, memiliki batil isap perut dan kepala serta kanalis ginekoporik,
memliki 6-8 buah testis
 Cacing betina panjang ± 1,9cm, langsing, ovarium ditengah tubuh, uterus
merupakan saluran yang panjang dan lurus berisi 50-100 butir telur,
 kelenjar vitellaria di posterior terletak dalam kanalis ginekoporus cacing
jantan.

c) Siklus Hidup

Siklus hidup Schistosoma japonicum dan Schistosoma mansoni sangat mirip.


Secara singkat, telur dari parasit dilepaskan dalam tinja dan jika mengalami
kontak dengan air mereka menetas menjadi larva yang berenang bebas, yang
disebut mirasidium. Larva kemudian harus menginfeksi keong dari genus
Oncomelania seperti jenis Lindoensis oncomelania dalam satu atau dua hari. Di
dalam keong, larva mengalami reproduksi aseksual melalui serangkaian tahapan
yang disebut sporokista. Setelah tahap reproduksi aseksual, serkaria yang
dihasilkan dalam jumlah besar, yang kemudian meninggalkan keong dan harus
menginfeksi inang vertebrata yang cocok. Setelah serkaria menembus kulit tuan
rumah kehilangan ekornya dan menjadi sebuah schistosomule, cacing kemudian
bermigrasi melalui sirkulasi, berakhir di pembuluh darah mesenterika dimana
mereka kawin dan mulai bertelur. Setiap pasangan desposits sekitar 1500 – 3500
telur per hari dalam dinding usus. Telur menyusup melalui jaringan dan terdapat
dalam tinja.

19
d) Patologi dan Gejala Klinis

Kelainan tergantung dari beratnya infeksi. Kelainan yang ditemukan pada


stadium I adalah gatal-gatal (uritikaria). Gejala intoksikasi disertai demam
hepatomegali dan eosinofilia tinggi. Pada stadium II ditemukan pula sindrom
disentri. Pada stadium III atau stadium menahun ditemukan sirosis hati dna
splenomegali; biasanya penderita menjadi lemah (emasiasi). Mungkin terdapat
gejala saraf, gejala paru dan lain-lain.

e) Diagnosis dan Epidemiologi

 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau jaringan


biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu
menegakkan diagnosis. Reaksi serologi dapat dipakai adalah COPT (Circumoval
precipitin test), IHT (Indirect Haemagglutation test), CFT (Complement fixation
test), FAT (Fluorescent antibody test) dan ELISA (Enzyme linked immuno
sorbent assay).

 Epidemiologi

Di Indonesia penyakit ini ditemukan endemi di dua daerah di Sulawesi


Tengah, yaitu di daerah danau Lindu dan lembah Napu. Di daerah danau Lindu
penyakit ini ditemukan pada tahun 1937 dan di lembah Napu pada tahun 1972.
Sebagai sumber infeksi, selain manusia ditemukan pula hewan-hewan lain sebagai
hospes reservoar yang terpenting adalah berbagai spesies tikus sawah (rattus).
Selain itu rusa hutan, babi hutan, sapi, dan anjing dilaporkan juga mengandung
cacing ini. Hospes perantaranya, yaitu keong air Oncomelania hupensis
lindoensis baru ditemukan pada tahun 1971 (Carney dkk, 1973).

Habitat keong di daerah danau Lindu ada 2 macam, yaitu:

1. Fokus di daerah yang digarap seperti ladang, sawah yang tidak dipakai
lagi, atau di pinggir parit di antara sawah.

20
2. Fokus di daerah hutan di perbatasan bukit dan dataran rendah.

Cara penanggulangan skistomiasis di Sulawesi Tengah, yang sudah diterapkan


sejak tahun 1982 adalah pengobatan masal dengan prazikuantel yang dilakukan
oleh Departemen Kesehatan melalui Subdirektorat Pemberantasan Penyakit
Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Subdit, P2M dan PLP) dengan
hasil cukup baik. Prevalensi dari kira-kira 37% turun menjadi kira-kira 1,5%
setelah pengobatan.

 Pencegahan

Memberi penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis tentang cara-cara


penularan dan cara pemberantasan penyakit ini. Buang air besar dam buang air
kecil dijamban yang saniter agar telur cacing tidak mencapai badan-badan air
tawar yang mengandung keong sebagai inang antara. Pengawasan terhadap hewan
yang terinfeksi S. japonicum perlu dilakukan tetapi biasanya tidak praktis.

Memperbaiki cara-cara irigasi dan pertanian; mengurangi habitat keong


dengan membersihkan badan-badan air dari vegetasi atau dengan mengeringkan
dan mengalirkan air. Memberantas tempat perindukan keong dengan moluskisida
(biaya yang tersedia mungkin terbatas untuk penggunaan moluskisida ini).

Untuk mencegah pemajanan dengan air yang terkontaminasi (contoh :


gunakan sepatu bot karet). Untuk mengurangi penetrasi serkaria setelah terpajan
dengan air yang terkontaminsai dalam waktu singkat atau secara tidak sengaja
yaitu kulit yang basah dengan air yang diduga terinfeksi dikeringkan segera
dengan handuk. Bisa juga dengan mengoleskan alkohol 70% segera pada kulit
untuk membunuh serkaria.

Persediaan air minum, air untuk mandi dan mencuci pakaian hendaknya
diambil dari sumber yang bebas serkaria atau air yang sudah diberi obat untuk
membunuh serkariannya. Obati penderita di daerah endemis dengan praziquantel
untuk mencegah penyakit berlanjut dan mengurangi penularan dengan

21
mengurangi pelepasan telur oleh cacing. Para wisatawan yang mengunjungi
daerah endemis harus diberitahu akan risiko penularan dan cara pencegahan.

 Pengobatan

Obat Niridazol (1-Nitro-2, thiazoyl-2 imidazolidnone) (Ambilhar, Ciba-32,


644, Ba). Niridazol agak lambat diserap dari traktus intestinalis dan diuraikan di
dalam hati menjadi metabolit yang tidak toksik. Pengobatan infeksi S.japonicum
dengan Niridazol telah dilakukan di Jepang, Filipina, dan Indonesia.

Dosis yang dipakai adalah 25 mg/kg berat badan/hari selama 10 hari berturut-
turut dan mendapatkan hasil 20% masih positif 2 bulan setelah pengobatan, 13%
masih positif 6 bulan setelah pengobatan 21,8% positif 11 bulan setelah
pengobatan. Efek samping yang pernah dilaporkan adalah keluhan gastrointestinal
seperti mual, muntah, tidak nafsu makan dan diare. Obat Prazikuantel (Embay®
8440; Droncit®, Biltricide®) Bayer, A.G. dan Merck Darmstadt. Di Indonesia
prazikuantel dipakai untuk pertama kali sebagai pengobatan percobaan pada
infeksi S.japonicum (Joesoef dkk, 1980). Dosis yang dipakai adalah 35 mg per kg
berat badan, diberikan 2 kali dalam satu hari sehingga dosis total adalah 70 mg/kg
berat badan per hari. Efek samping adalah mual (3,7%), pusing (6,1%), demam
(2,4%) dan disentri (1,8%).

Dari hasil pengobatan yang diuraikan diatas ternyata obat ini cukup baik
dengan hasil penyembuhan cukup besar serta efek samping dapat dikatakan
ringan, sehingga prospek obat ini cukup baik untuk dipakai dalam pengobatan
masal sebagai obat anti Schistosoma di daerah Danau Lindu dan Napu, Sulawesi
Tengah.

2) Schistosoma mansoni

Nama penyakit : skistosomiasis usus

Hospes definitif : manusia, kera, baboon

Hospes perantara : keong air tawar

22
a) Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Class : Trematoda

Subclass : Digenea

Order : Strigeidida

Genus : Schistosoma

Species : S. Mansoni

b) Morfologi

 Telur
 Ukuran 150 µm
 Bentuknya oval , dengan salah satu kutubnya membulat dan yang lain
lebih meruncing
 Spina lateral terletak dekat dengan bagian yang membulat besar dan
berbentuk segitiga
 Kulit tipis sangat halus
 Berwarna kuning pucat
 Berisi embrio besar bersilia, diliputi membran (kulit dalam)

 Serkaria

23
 Bentuk badan ovoid memanjang
 Memiliki ekor bercabang

 Cacing dewasa
 Cacing jantan panjang ±1 cm, gemuk, memiliki 6-9 buah testis, pinggir
lateral saling mengunci oleh duri acuminate, dimana pada tempat ini lebih
panjang dari tempat lain, memiliki kanalis ginekoporus
 Cacing betina panjang ±1,4 cm, langsing, integumen terdapat duri-duri
terutama pada ujung tubuh, letak ovariumdi anterior pertengahan tubuh,
kelenjar vitellaria memenuhi pinggir lateral dari pertenganhan tubuh,
uterus merupakan saluran yang pendek berisi 1-4 butir telur.

c) Patologi dan Gejala Klinis

Kelainan dan gejala yang ditimbulkannya kira-kira sama seperti pada S.


japonicum, akan tetapi lebih ringan. Pada penyakit ini splenomegali dilaporkan
dapat menjadi berat sekali.

 Diagnosis

Sama seperti pada S. japonicum yaitu menemukan telur dalam tinja

 Pencegahan

Menghindari kontak langsung dengan air yang terkontaminasi oleh larva cacing,
terapi untuk penderita, pengendalian hospes perantara dan perbaikan sanitasi.

 Pengobatan

 Emetin (Tartras emetikus)

Pada tahun 1918 Chistopherson mengobati penyakit kala azar dengan tartars
emetikus. Tartars emetikus atau antimon kalium tartrat dapat dikatakan sebagai
obat schistosomisida yang cukup efektif, akan tetapi mempunyai efek amping
yang agak berat, antara lain: mual, muntah, batuk, pusing, sakit kepala, nyeri

24
pada tubuh, miokarditis yang tampak pada EKG, bradi atau takikardia, syok dan
kadang-kadang mati mendadak.

 Fuadin Stibofen, Reprodal, Neo-antimosan (Antimony-bispyrocatechin-


disulfonic-Na Compound)

Obat ini pertama kali diperkenalkan di Mesir pada tahun 1929. Obat ini
merupakan trivalent antimony salt yang dapat disuntikkan secara intramuscular
sebagai larutan 7%. Efek sampingnya adalah syok, neuritis retrobulbar, skotoma
sentralis dan buta warna. Sering pula dilaporkan efek samping muntah-muntah,
tidak nafsu makan, nyeri tubuh, sakit kepala, reaksi alergi, syok dan anuria. Hasil
penyembuhan adalah 40-47%.

3) Schistosoma Haematobium

Nama penyakit : skistosomiasis kandung kemih

Hospes definitif : manusia, baboon

Hospes perantara : keong air tawar

a) Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Class : Trematoda

Subclass : Digenea

Order : Strigeidida

Genus : Schistosoma

Species : S. haematobiu

25
b) Morfologi

 Telur

Telur berukuran ±145 x 60 mikron, duri di ujung, berisi mirasidium, telur


berwarna coklat kekuningan.

 Serkaria
 Bentuk badan ovoid memanjang
 Memiliki ekor bercabang

 Cacing dewasa
 Cacing jantan panjang ±1,3 cm, gemuk, memiliki 3-4 buah testis, memiliki
kanalis ginekoporus, memiliki 2 batil isap berotot yang ventral lebih besar.
 Cacing betina panjang ± 2 cm, langsing, batil isap kecil, ovarium terletak
posterior dari pertengahan tubuh, uterus panjang berisi 20-30 telur.

c) Siklus Hidup

Cacing dewasa berada dalam vena kandung kemih. Telur dikeluarkan bersama
urin dan tinja. Telur dalam air menetas menjadi mirasidium. Mirasidium masuk ke
dalam tubuh keong (hospes perantara). Mirasidium berkembang menjadi serkaria.
Serkaria menginfeksi manusia dalam air. serkaria menjadi skistosomula.
Kemudian menjadi cacing dewasa dalam hati.

26
d) Patologi dan Gejala Klinis

Kelamin terutama ditemukan pada dinding kandung kemih. Gejala yang


ditemukan adalah hematuria dan disuria bila terjadi sistitis. Sindroma disentri
ditemukan bila terjadi kelainan di rekrum.

 Pencegahan

Pengendalian efektif yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan


pendidikan masyarakat yang disertai perbaikan sanitasi untuk mencegah ekskreta
yang mencemari persediaan air bersih atau dengan memperbaiki tata cara
penyediaan air bersih untuk keperluan sehar-hari.

 Pengobatan

Astiban TW 56 (Stibocaptate atau antimony-dimercaptosuccinate, garam Na


dan K). Obat ini diperkenalkan pada tahun 1954 oleh Friedheim dkk., dengan
angka penyembuhan pada infeksi S.haematobium yang hampir mencapai 100%.
Astiban diberikan secara intramuscular dalam bentuk larutan 10%. Dosis
tergantung dari beberapa faktor seperti: umur, keadaan umum penderita, spesies
parasit, pengobatan perorangan atau masal dan pengobatan radikal atau supresif.

Dosis total untuk dewasa adalah 30-50 mg/kg berat badan, dengan dosis
maksimum 2,5 gram. Dosis total ini harus dibagi dalam 5 kali suntikan. Pada
anak-anak dengan berat badan kurang dari 20 kg, dosis total adalah 40-60 mg/kg
berat badan. Efek samping hampir sama dengan obat antimon lainnya, akan tetapi
lebih ringan seperti pada pengobatan dengan tartras emetikus.

C. Trematoda Paru
Penyakit dari cacing ini adalah Penyakit Paragonimiasis.
1) Klasifikasi
 Kingdom : Animalia

27
 Filum : Platyhelminthes
 Kelas : Trematoda
 Ordo : Plagiorchiida
 Famili : Troglotrematidae
 Genus : Paragonimus
 Spesies : Paragonimus Westermani

2) Morfologi Telur

 Bentuk : lonjong
 Ukuran : 80-118 x 40-60 μ
 Dinding tebal, warna kuning kecoklatan
 Terdapat penebalan pada ujung kutub
 Punya operkulum yang agak tertekan ke dalam
 Isi : sel ovum yang belum membelah
 Matang dalam waktu 16 hari

3) Morfologi Dewasa

• Bentuk :bundar lonjong, tebal, seperti biji kopi.


• Warna : coklat tua
• Ukuran : 8-12 x 4-6 mm2
• Ada batil isap mulut = batil isap perut

28
• Caecum : berkelok-kelok
• ♂ : 2 testis,berlobus, berdampingan, letak antara B.I.P & ekor.
• ♀ : craniolateral dari testis
• Kel. Vitteline disepanjang daerah lateral.

4) Patologi dan Gejala Klinik

 Cacing muda tidak menimbulkan gejala klinis


 Cacing dewasa membentuk kista di paru-paru. Di dalam kista cacing
terdapat dalam bentuk diploid (berpasangan) maupun triploid
 Gejala : batuk dengan sputum bergaris merah (endemic hemoptysis)
disertai nyeri pleura dan sesak napas(dyspnea).
 Cacing dewasa dapat bermigrasi ke alat-alat lain dan menimbulkan abses
pada alat tersebut (hati, limpa, otak, otot, dinding usus).
 Di otak dapat menimbulkan gejala epilepsi tipe Jackson

5) Diagnosis :

 Menemukan telur dalam sputum, juga telur dalam tinja.


 Tes serologis : ELISA dan Western blot

6) Pengobatan
 Praziquantel
 Bitionol
 Triclabendazol

D) Trematoda Usus

1) Heterophyes

a) Klasifikasi

29
Kingdom : animalia

Phylum : platyhelminthes

Class : trematoda

Family : heterophyidae

Ordo : protostomata

Genus : heterophyes

Species : heterephyes heteropyhes

b) Patologi dan gejala klinis

 Biasanya menyebabkan iritasi ringan pada usus halus.

 Pada infeksi berat terjadi diare kronis berlendir disertai nyeri kolik dan rasa
tidak enak pada abdomen dan nyeri tekan.
 Kadang-kadang cacing menembus dinding usus, sehingga telurnya dapat
masuk aliran limfe dan menyangkut di katup-katup jantung payah jantung.
 Hal ini dilaporkan pada infeksi cacing Metagonimus dan Haplorchis
yokogawai.
 Telur cacing dewasa dapat bersarang di jaringan otak & menyebabkan kelainan

30
 Infeksi berat tersebut dapat menimbulkan mulas-mulas/kolik, diare berlendir &
nyeri tekan pada perut.

c) Diagnosis : menemukan telur dalam tinja

d) Pengobatan : Prazikuantel atau tetraklor etilen

e) Epidemiologi: Yang merupakan sumber infeksi :

 Manusia, terutama pedagang ikan dan hewan seperti kucing, anjing bila
menderita infeksi.
 Ikan yang diproses kurang sempurna .

2) Fasciolopsis buski

a) Klasifikasi

Filum : Platyhelminthes

Kelas Trematoda

Subkelas : Digena

Ordo : Prosostomata

Subordo : Distomata

Famili : Fasciolidae

Genus : Fasciolopsis

Spesies : Fasciolopsis Buski

31
b) Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh trematoda usus fasciolopsis buski, di temukan


di RRC, Taiwan, Vietnam, Thailand, dan Indonesia. Menyebabkan penyakit
Fasciolopsiasis.

Cacing trematoda fasciolopsis buski adalah suatu trematoda yang di


dapatkan pada manusia atu hewan. Trematoda tersebut mempunyai ukuran
terbesar di antara treramatoda lain yang di temukan pada manusia.

Cacing ini pertama kali di temukan oleh Busk (1843) pada autopsi seorang
pelaut yang meninggal di London.
Hospes definitif : Manusia, babi, anjing, kucing
Hospes perantara pertama : Keong air tawar (Segmentina, Hippeutis)
Hospes perantara kedua : Tumbuh-tumbuhan air (Morning glory, Elichoris
Eichornia grassipes, Trapa natans, Trapa bicornis,
tuberosa, Zizania)
Habitat : Usus halus
Penyakit : Fasciolopsiasis
Distribusi geografik : China, Taiwan, Thailand, Malaysia, Laos, India,
Vietnam dan Indonesia

32
c) Gejala Klinis : cacing dewasa melekat pada duodenum & yeyunum peradangan,
ulkus, abses, perdaraahan,ileus akut (sumbatan)
d) Infeksi berat : intoksikasi & sensitasi karena metabolit cacing dewasa dapat
menyebabkan kematian
e) Diagnosis : menemukan telur dalam tinja
f) Epidemiologi :
 Infeksi pada manusia tergantung kebiasaan makan tumbuhan air mentah.
 Budidaya tanaman air di daerah tercemar kotoran manusia memperluas penyebaran
penyakit.

33
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Trematoda merupakan golongan dari Platyhelmintes (cacing pipih) yang


memiliki alat hisap yang dilengkapi kait yang berfungsi melekatkan diri pada
inangnya yaitu pada manusia dan hewan. Jenis dari Trematoda adalah fasciola
(cacing hati), Clonorchis, dan Schistosoma, trematoda dewasa hidup dalam usus,
hati, ginjal, paru-paru dan pembuluh darah vertebrata.

3.2 Saran

Setelah mengetahui definisi dan jenis trematoda (cacing isap) yang dapat
mengakibatkan sakit pada manusia yang disebabkan oleh metaserkaria yang
terkandung dalam daging diperlukan ketelitian dalam memilah dan
mengkonsumsi makanan yang tidak dimasak dengan matang.

34
DAFTAR PUSTAKA

https://triyaniuc.wordpress.com/2013/06/02/trematoda-hati-dan-trematoda-darah/

https://fkunand2010.files.wordpress.com/.../trematod-usus-mhs.ppt

Gandahusada, Srisari. 1988. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: FKUI

35
LAMPIRAN

Gambar 1: Daur Hidup Trematoda

Gambar 2: fasiola hepatica

Gambar 3: Clonorchis

36
Gambar 4 Scistosoma japonicum

37