Anda di halaman 1dari 39

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Wong (2008) menyebutkan beberapa dasar teoritik untuk perkembangan anak yaitu
perkembangan kepribadian (diantaranya perkembangan psikoseksual, perkembangan
psikososial), perkembangan mental (diantaranya perkembangan mental,
perkembangan kognitif, perkembangan bahasa), dan perkembangan konsep diri.
Namun, secara umum perkembangan pada anak mencakup perkembangan motorik
halus, perkembangan motorik kasar, perkembangan bahasa, dan perkembangan
perilaku atau adaptasi sosial (Hidayat, 2008). Depkes (2005) juga menyebutkan
bahwa aspek-aspek perkembangan yang dipantau adalah gerak kasar atau motorik
kasar, gerak halus atau motorik halus, kemampuan bicara dan bahasa, sosialisasi dan
kemandirian (Depkes, 2005).

Perkembangan psikososial terdiri dari delapan tahapan perkembangan. Anak usia 3-6
tahun sedang dalam tahapan ketiga perkembangan psikososial yaitu inisiatif versus
rasa bersalah. Pada masa usia 3-6 tahun atau yang lebih sering disebut dengan istilah
anak prasekolah, anak mempelajari dasar-dasar perkembangan sosial sebagai
persiapan untuk memasuki kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk
penyesuaian diri pada waktu mereka masuk sekolah (Hurlock, 2002).

Masa prasekolah juga merupakan masa yang sangat peka terhadap lingkungan dan
masa ini berlangsung sangat singkat serta tidak dapat diulang lagi, oleh karena itu
masa prasekolah disebut masa keemasan (golden period), jendela kesempatan
(window of opportunity) dan masa kritis (critical period) (Depkes, 2005)

Pada usia prasekolah, perkembangan sosial anak sudah tampak jelas karena mereka
sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya. Tanda-tanda perkembangan
psikososial pada tahap ini adalah anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di
lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan bermain, sedikit demi sedikit anak
sudah mulai tunduk pada peraturan, anak mulai menyadari hak atau kepentingan
orang lain, dan anak mulai dapat bermain bersama teman sebayanya (Yusuf, 2004).

Menurut Erik Erikson (1950 dalam Santrock, 2002) pada usia 3-6 tahun anak
memasuki tahap perkembangan psikososial inisiatif dan guilt. Pada masa ini, terjadi
perkembangan fisik, intelektual serta rasa percaya diri untuk melakukan sesuatu,
sehingga anak menjadi lebih mampu mengontrol tubuhnya. Anak mulai memahami
bahwa orang lain memiliki perbedaan dengan dirinya, baik menyangkut persepsi

1
maupun motivasi (keinginan), dan mereka menyukai kemampuan dirinya untuk
melakukan sesuatu.
Pada tahap inisiatif, anak sudah siap dan berkeinginan untuk belajar dan bekerja sama
dengan orang lain untuk mencapai tujuannya (Yusuf, 2004). Selain itu pada tahap
inisiatif, anak-anak ini dengan gembira beralih ke suatu dunia sosial yang lebih luas.
Pengatur utama inisiatif adalah kata hati. Anak-anak sekarang tidak hanya merasa
takut, tetapi mereka juga mulai mendengar suara batin pengawasan diri sendiri,
membimbing diri sendiri, dan menghukum diri sendiri (Santrock, 2002).

Pada tahap inisiatif, jika energi yang mendorong anak untuk aktif (dalam rangka
memenuhi kebutuhannya) tidak tersalurkan akibat mengalami hambatan atau
kegagalan, maka anak mengalami guilt (rasa bersalah). Rasa bersalah ini dapat
menimbulkan harga diri rendah pada anak (Santrock, 2002; Yusuf, 2004). Tahap ini
dapat tercapai jika anak berhasil mengatasi rasa bersalahnya dan hal ini sangat
bergantung pada bagaimana orang tua tanggap terhadap kegiatan-kegiatan yang
dilakukan anak atas dasar inisiatif mereka sendiri. Rasa inisiatif juga didukung bila
orang tua memberikan respon atas pertanyaan-pertanyaan anak dan tidak
mencemoohkan atau menghambat kegiatan fantasi atau permainan anak. Sebagai
contoh, anak-anak yang diberikan kebebasan dan peluang untuk berinisiatif dalam
melakukan permainan motorik seperti berlari dan bergulat, maka anak cenderung
memiliki rasa inisiatif yang didukung. Sebaliknya bila anak-anak merasa bahwa
kegiatan motorik mereka jelek, pertanyaan-pertanyaan mereka mengganggu, maka
anak seringkali mengembangkan rasa bersalah atas kegiatan-kegiatan yang mereka
lakukan atas inisiatif sendiri yang dapat berlangsung terus menerus sepanjang
kehidupannya (Santrock, 2002).

Perkembangan psikososial merupakan proses sepanjang hayat, apa yang dipelajari


dalam tahun-tahun pertama kehidupan akan membentuk perkembangan di masa yang
akan datang. Perkembangan psikososial yang lengkap sangat diperlukan karena anak
dengan perkembangan psikososial yang lengkap akan memiliki personality yang baik,
memiliki sifat sifat yang positif seperti percaya pada diri dan orang lain, autonomi,
bersikap inisiatif, dapat membina hubungan yang erat dengan orang lain, serta
mencapai kesempurnaan ego. Sebaliknya jika anak memiliki perkembangan
psikososial yang kurang lengkap, anak akan memiliki sifat-sifat yang negatif seperti
tidak percaya pada diri sendiri dan orang lain, merasa dirinya memalukan, merasa
ragu-ragu, selalu merasa bersalah, rendah diri, mengasingkan diri dari orang lain dan
merasa dirinya tidak berguna (Potter & Perry, 2005).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Coplan (2004) terhadap 32 anak, dari usia 4-5
tahun sampai dewasa awal menunjukkan adanya perilaku prososial atau disposisi,
yang muncul di awal kehidupan dan relatif stabil seumur hidup. Anak prasekolah
yang lebih simpatik dan spontan berbagi dengan teman sekelas cenderung
menunjukkan pemahaman prososial dan perilaku empati sampai 17 tahun kemudian.

2
Disposisi prososial mungkin sebagian disebabkan temperamen dan sebagian genetis,
karena hal ini melibatkan pengendalian inhibitori (pengendalian diri atau
penyanggahan diri). Anak prasekolah yang pemalu dan menarik diri cenderung untuk
kurang prososial mungkin karena mereka enggan untuk berhubungan dengan orang
lain (Papalia, 2009).

Perkembangan psikososial merupakan perkembangan yang tidak bisa diabaikan,


karena apabila diabaikan akan memberikan dampak negatif untuk perkembangan
psikososial selanjutnya. Dampak negatif yang mungkin akan timbul adalah anak
merasa rendah diri, anak merasa bersalah terus menerus, dan anak merasa tidak
berguna. Untuk menghindari dampak tersebut, gambaran perkembangan psikososial
diperlukan untuk mengantisipasi dampak tersebut.

Merupakan peran utama perawat yaitu memberikan pelayanan keperawatan kepada


individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai dengan masalah yang terjadi
mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai yang kompleks. Sebagai client
advokat perawat bertanggung jawab untuk membantu klien dan keluarga dalam
menginterprestasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan informasi yang
diperlukan untuk mengambil persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan
kepadanya. Perawat bertanggung jawab dalam hal pendidikan dan pengajaran ilmu
keperawatan kepada klien dan keluarga karena perubahan tingkah laku merupakan
salah satu sasaran pelayanan keperawatan. Kemudian perawat perlu mengidentifikasi
perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya. Konseling diberikan
dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman masa lalu.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk menyusun makalah tentang
gambaran perkembangan psikososial sehat pada anak usia pra sekolah.

1.2 Tujuan Penulisan

a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran perkembangan psikososial sehat pada anak usia
pra sekolah.
b. Tujuan Khusus
Memberikan Asuhan Keperawatan pada Anak A dengan perkembangan
psikososial sehat.

3
BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Anak usia prasekolah


2.1.2 Definisi

Dari sekian banyak sebutan untuk usia 3-6 tahun, sebutan anak prasekolah
adalah yang paling sering digunakan. Periode anak prasekolah adalah periode
usia anak dengan rentang 3 sampai 6 tahun dengan tugas perkembangan yang
harus diselesaikannya (Keliat, 2008). Sedangkan Ramli (2005) mengemukakan
bahwa usia prasekolah adalah masa usia taman kanak-kanak, yang merupakan
masa-masa dalam kehidupan manusia sejak usia 4 sampai 6 tahun.

Anak usia prasekolah atau yang dikenal dengan masa kanak-kanak awal (early
childhood) berada dalam rentang usia antara 3-5 tahun. Disebut masa prasekolah
karena anak mulai mempersiapkan diri memasuki dunia sekolah memalui
kelompok bermain dan taman kanak-kanak (Gustian, 2001).

Anak usia pra sekolah merupakan fase perkembangan individu sekitar 3-6 tahun,
ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria dan wanita,
dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training) dan mengenal beberapa hal
yang dianggap berbahaya atau mencelakakan dirinya (Yusuf, 2001).

Anak usia prasekolah adalah anak yang berusia 3-6 tahun (Supartini, 2004).
Anak usia prasekolah ini menunjukkan perkembangan motorik, verbal, dan
ketrampilan sosial secara progresif. Pada masa ini adalah meningkatnya
antisiasme dan energi untuk belajar dan manggali banyak hal.

Usia prasekolah adalah usia anak pada masa prasekolah dengan rentang tiga
hingga enam tahun (Potter dan Perry, 2009). Pengertian yang sama juga
dikemukakan oleh Hockenberry dan Wilson (2009) bahwa usia prasekolah
merupakan usia perkembangan anak antara usia tiga hingga lima tahun. Pada
usia ini terjadi perubahan yang signifikan untuk mempersiapkan gaya hidup
yaitu masuk sekolah dengan mengkombinasikan antara perkembangan biologi,
psikososial, kognitif, spiritual dan prestasi sosial. Anak pada masa prasekolah
memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, dapat
mengatur diri dalam toilet training dan mengenal beberapa hal yang berbahaya
dan mencelakai dirinya (Mansur, 2011).

4
Anak usia pra sekolah merupakan usia perkembangan anak dari usia tiga tahun
sampai dengan lima tahun. Pada anak dalam usia tiga sampai dengan lima tahun
terjadi perubahan yang signifikan terhadap perkembangan biologis, psikososial,
kognitif, spiritual, dan sosialnya (Hockenberry & Wilson, 2009).

2.1.2 Karakteristik anak usia sekolah

Karakteristik anak usia prasekolah adalah sebagai berikut (Laili, 2005):


a. Usia.
Usia prasekolah merupakan saat yang tepat bagi anak untuk tumbuh
mencapai puncak kemampuan anak-anak. Usia 3-5 tahun merupakan
masa usia prasekolah. Usia prasekolah merupakan usia yang paling
penting dalam tahap perkembangan manusia, sebab usia tersebut
merupakan periode diletakkannya dasar struktur kepribadian yang
dibangun untuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu perlu pendidikan
dan pelayanan yang tepat (Laili, 2005)
b. Jenis Kelamin.
Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anak laki-laki
memiliki motivasi belajar yang lebih rendah apabila dibandingkan
dengan anak perempuan (Laela, 2008).

Karakter anak usia prasekolah menurut Yusriana (2012) adalah sebagai berikut:
a. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
Anak usia prasekolah sangat ingin tahu tentang dunia sekitarnya. Pada
usia 3-5 tahun anak sering membongkar pasang segala sesuatu untuk
memenuhi rasa ingin tahunya. Anak juga mulai gemar bertanya meski
dalam bahasa yang masih sangat sederhana.
b. Merupakan pribadi yang unik.
Meskipun banyak kesamaan dalam pola umum perkembangan anak usia
prasekolah, setiap anak memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat,
minat, gaya belajar, dan sebagainya. Keunikan ini berasal dari faktor
genetis dan juga lingkungan.
c. Suka berfantasi dan berimajinasi.
Fantasi adalah kemampuan membentuk tanggapan baru dengan
pertolongan tanggapan yang sudah ada. Imajinasi adalah kemampuan
anak untuk menciptakan obyek atau kejadian tanpa didukung data yang
nyata. Anak usia prasekolah sangat suka membayangkan dan
mengembangkan berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata.
d. Masa paling potensial untuk belajar.
Masa itu sering juga disebut sebagai “golden age” atau usia emas.
Karena pada rentang usia itu anak mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat pesat di berbagai aspek.

5
e. Menunjukkan sikap egosentris.
Pada usia ini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya
sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Hal itu
terlhat dari perilaku anak yang masih suka berebut mainan, menangis
atau merengek sampai keinginannya terpenuhi.
f. Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek.
Anak usia prasekolah memiliki rentang perhatian yang sangat pendek.
Pehatian anak akan mudah teralih pada hal lain terutama yang menarik
perhatiannya.
g. Sebagai bagian dari makhluk sosial.
Anak usia prasekolah mulai suka bergaul dan bermain dengan teman
sebayanya. Ia mulai belajar berbagi, mau menunggu giliran, dan
mengalah terhadap temannya. Melalui interaksi sosial ini anak
membentuk konsep dirinya. Ia mulai belajar bagaimana caranya agar ia
bisa diterima lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini anak mulai belajar
untuk berperilaku sesuai tuntutan dari lingkungan sosialnya karena ia
mulai merasa membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.

2.2 Perkembangan
2.2.1 Definisi

Menurut Wong (2008) perkembangan adalah perubahan dan perluasan secara


bertahap, perkembangan tahap kompleksitas dari yang lebih rendah ke yang
lebih tinggi, peningkatan dan perluasan kapasitas seseorang melalui
pertumbuhan, maturasi serta pembelajaran. Potter & Perry (2005) menjelaskan
bahwa perkembangan adalah aspek progresif adaptasi terhadap lingkungan yang
bersifat kualitatif. Contoh dari perubahan kualitatif ini adalah peningkatan
kapasitas fungsional, dan penguasaan terhadap beberapa keterampilan yang
lebih kecil. Perubahan kualitatif yang dapat dilihat untuk anak prasekolah adalah
anak ikut serta dalam percakapan dengan orang tua mereka (Potter & Perry,
2005).

Selain itu, Maslow (1988, dalam Supartini 2004) mendefinisikan perkembangan


sebagai peningkatan keterampilan dan kapasitas anak untuk berfungsi secara
bertahap dan terus menerus. Jadi, yang dimaksud dengan perkembangan adalah
suatu proses untuk menghasilkan peningkatan kemampuan untuk berfungsi pada
tingkat tertentu. Oleh karena itu, perkembangan secara luas memperlihatkan
keseluruhan proses dari kemampuan yang dimiliki individu dan terlihat dalam
kualitas kemampuan, sifat, dan ciri-ciri yang baru (Hawadi, 2001).

6
2.2.2 Faktor yang mempengaruhi perkembangan

Wong (2008) menyebutkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi


perkembangan, yaitu:
a. Keturunan
Karakteristik yang diturunkan mempunyai pengaruh besar pada
perkembangan. Jenis kelamin anak, yang ditentukan oleh seleksi acak
pada waktu konsepsi, mengarahkan pola pertumbuhan dan perilaku orang
lain terhadap anak. Kebanyakan karakteristik fisik termasuk pola dan
bentuk gambaran, bangun tubuh, dan keganjilan fisik, diturunkan dan
dapat mempengaruhi cara pertumbuhan dan integrasi anak dengan
lingkungannya. Banyak dimensi kepribadian seperti temperamen, tingkat
aktivitas, dan kecenderungan ke arah rasa malu, diyakini dapat
diturunkan.

b. Faktor neuroendokrin
Kemungkinan semua hormon mempengaruhi perrtumbuhan dalam
beberapa cara. Tiga hormon yaitu hormon pertumbuhan, hormon tiroid,
dan androgen, ketika diberikan pada individu yang kekurangan hormon
ini, merangsang anabolisme protein dan karenanya menghasilkan retensi
elemen esensial untuk pembangunan protoplasma dan jaringan bertulang.
Tampak bahwa setiap hormon yang mempunyai pengaruh bermakna
pada pertumbuhan memanifestasikan efek utamanya pada periode
pertumbuhan yang berbeda.

c. Nutrisi
Nutrisi mungkin merupakan satunya-satunya pengaruh paling penting
pada pertumbuhan. Selama masa bayi dan kanak-kanak, kebutuhan
terhadap kalori relatif besar, seperti yang dibuktikan oleh peningkatan
tinggi dan berat badan. Nutrisi yang adekuat berkaitan erat dengan
kesehatan yang baik seumur hidup, dan perbaikan menyeluruh dalam
nutrisi dibuktikan oleh bertambahnya ukuran secara bertahap dan
maturasi anak secara dini. Pengaruh nutrisi yang baik juga
mempengaruhi perkembangan, terutama untuk perkembangan kognitif
anak, untuk perkembangan IQ anak. Pada usia 3-6 tahun perkembangan
syaraf-syaraf anak sedang berkembang untuk penyempurnaan
perkembangan selanjutnya anak (Depkes, 2005).

d. Hubungan interpersonal
Hubungan dengan orang terdekat memainkan peran penting dalam
perkembangan, terutama dalam perkembangan emosi, intelektual, dan
kepribadian. Individu yang menjadi pengasuh tidak diragukan lagi adalah
satu-satunya individu yang paling berpengaruh selama awal masa bayi.

7
Individu ini dapat memenuhi kebutuhan dasar bayi yaitu, makanan,
kehangatan, kenyamanan, dan kasih sayang. Individu ini (pria atau
wanita) menstimulasi indra anak dan memfasilitasi pengembangan
kemampuan anak. Melalui individu ini anak belajar untuk mempercayai
dunia dan merasa aman untuk menjelajahi hubungan yang semakin luas,
dengan kata lain pengasuh yang paling dekat dengan akan adalah orang
tua.

Secara umum, orang tua paling berpengaruh dalam membantu anak


menemukan identifikasi peran seksual. Apabila tidak ada model peran
seksual yang tepat dalam lingkungan keluarga, anak dapat mengadopsi
beberapa karakteristik orang tua atau saudara kandung yang memiliki
jenis kelamin berbeda. Saudara kandung adalah teman sebaya pertama
anak, dan cara mereka belajar untuk saling berhubungan mempengaruhi
interaksi selanjutnya dengan teman sebaya di luar kelompok keluarga.

Ketika anak gagal untuk mempunyai hubungan interpersonal yang


berkualitas dengan individu yang menjadi contoh, mereka mengalami
deprivasi emosi. Gambaran paling menonjol dari deprivasi emosi,
terutama selama tahun pertama, adalah keterlambatan perkembangan.
Contohnya dari deprivasi emosi ini adalah bayi-bayi yang tidak
mendapatkan perawatan dari figur ibu yang konsisten, gagal untuk
menambah berat badan walaupun mendapat nutrisi yang cukup, tapi
bayi-bayi ini tampak pucat, malas, dan tidak mau bergerak, dan tidak
responsif terhadap rangsang yang biasanya menimbulkan respon seperti
tersenyum atau tertawa pada bayi normal.

e. Tingkat sosioekonomi
Tingkat sosioekonomi keluarga anak mempunyai dampak signifikan
pada pertumbuhan dan perkembangan. Pada semua usia anak dari
keluarga kelas atas dan menengah mempunyai tinggi badan lebih dari
anak dari keluarga dengan strata sosioekonomi rendah. Keluarga dari
kelompok sosio ekonomi rendah mungkin kurang memiliki pengetahuan
atau sumber daya yang diperlukan untuk memberikan lingkungan yang
aman, menstimulasi, dan kaya nutrisi membantu perkembangan optimal
anak.

f. Penyakit
Perubahan pertumbuhan dan perkembangan adalah salah satu manifestasi
klinis dalam sejumlah gangguan herediter. Gangguan pertumbuhan
terutama terlihat pada gangguan skeletal. Gangguan apa pun yang
dicirikan dengan ketidakmampuan untuk mencerna dan mengabsorpsi

8
nutrisi tubuh akan memberikan efek merugikan pada pertumbuhan dan
perkembangan.
Sebagai contoh anak menderita penyakit kanker, anak akan sedikit
terganggu dengan perkembangannya, antara lain perkembangan
psikososialnya. Anak yang menderita kanker akan memiliki waktu yang
kurang untuk bertemu dengan teman sebayanya, dikarenakan anak
menjalani pengobatan yang rutin.

g. Bahaya lingkungan
Bahaya di lingkungan adalah sumber kekhawatiran pemberi asuhan
kesehatan dan orang lain yang memperhatikan kesehatan dan keamanan.
Sebagai contoh anak-anak yang tinggal di daerah industri, dari segi
kesehatan anak akan mengirup udara yang kurang bersih karena udara
sudah tercemar oleh asap-asap pabrik menyebabkan anak-anak menjadi
jarang untuk keluar rumah dan sulit untuk bertemu teman-teman sebaya.

h. Stres pada masa kanak-kanak


Stres adalah ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dan sumber
koping individu yang mengganggu ekuilibrium individu tersebut
(Masten, 1988 dalam Wong, 2008). Meskipun semua anak mengalami
stres, beberapa anak muda tampak lebih rentan dibandingkan yang lain.
Usia anak, temperamen, situasi hidup, dan status kesehatan
mempengaruhi kerentanan, reaksi, dan kemampuan mereka untuk
mengatasi stres. Respon terhadap stresor juga dapat berupa perilaku,
psikologis, atau fisiologis. Orang tua dan pemberi asuhan lain dapat
mencoba untuk mengenali tanda stres untuk membantu anak menghadapi
stres sebelum menjadi berat. Respon untuk mengatasi stress tersebut
disebut koping.

Koping adalah tahapan khusus dari reaksi individu terhadap stresor,


suatu reaksi terhadap stresor yang menghapus, mengurangi, atau
menggantikan status emosi yang diklasifikasikan sebagai penuh stres.
Strategi koping adalah cara khusus anak mengatasi stresor yang
dibedakan dari gaya koping, yang relatif tidak mengubah karakteristik
keprbadian atau hasil koping (Ryan-Wenger, 1992 dalam Wong, 2008).

i. Pengaruh media masa


Media dapat memberikan pengaruh besar pada perkembangan anak.
Tidak diragukan lagi bahwa media memberikan anak suatu cara untuk
memperluas pengetahuan mereka tentang dunia tempat mereka hidup dan
berkontribusi untuk mempersempit perbedaan antar kelas. Citra perilaku
berisiko yang ditampilkan oleh media dapat berperan dalam membentuk
atau menguatkan persepsi anak tentang lingkungan sosial mereka.

9
Anak-anak dapat mengidentifikasi secara dekat orang atau karakter yang
digambarkan dalam materi bacaan, film, video, dan program televisi
serta iklan. Anak-anak masa kini cenderung memilih media dan figure
olah raga sebagai model peran ideal mereka, sedangkan di masa lalu
mayoritas anak memilih orang tua atau wali orang tua mereka sebagai
orang yang paling ingin mereka contoh (Duck, 1990 dalam Wong, 2008).
Ada beberapa hal yang mempengaruhi media masa, yaitu:
1) Materi bacaan.
Buku, koran, dan majalah adalah bentuk media masa paling tua.
Materi ini berkontribusi pada kompetensi anak dalam hampir
setiap arah dan juga memberikan kesenangan. Dongeng diyakini
sebagai media terbaik untuk menjelaskan topik yang penting dan
penuh teka-teki seperti kematian, orang tua tiri, perasaan, dan
gejolak dalam diri. Meskipun tidak memberikan solusi, cerita
dongeng menghadapkan anak pada situasi emosi yang sulit dan
memberikan gambaran untuk menghadapinya. Buku komik dan
materi bacaan lain telah popular dalam setiap generasi, biasanya
anak mendapatkan buku komik dan materi bacaan dari orang tua,
sekolah atau perputakaan. Bacaan yang menarik, mudah dipahami
oleh anak, serta cerita yang penuh petualangan tampak memenuhi
kebutuhan anak untuk memahami orang lain dan diri mereka
sendiri.

2) Film
Film yang tidak terikat erat pada kenyataan dan sering
menggambarkan berbagai perilaku yang disukai secara sosial
mungkin memberikan kontribusi pada sistem nilai anak dan
memberikan kesempatan untuk pembelajaran sosial yang
diinginkan. Di lain pihak, anak khususnya remaja, menggemari
film “macho” dan film yang pahlawannya mengatasi masalah
dengan cara kekerasan, seperti karate dan kejar-kejaran mobil
yang liar. Pembawaan pengaruh ini ke dalam kehidupan sehari-
hari dan hubungannya dapat menyebabkan peningkatan perilaku
kekerasan pada individu muda. Penelitian menunjukkan bahwa
video dapat menurunkan sensitivitas penonton terhadap perilaku
kekerasan (Rowitz, 1992 dalam Wong, 2008). Anak-anak dapat
ditakuti oleh beberapa film seperti Snow White dan Cinderella,
yang menggambarkan hubungan ibu dan anak, ibu tiri sebagai
orang jahat, dan merusak. Gambaran seperti ini dapat
memberikan pengaruh buruk pada hubungan anak dengan ibu tiri
atau membingungkan pada anak yang telah membina hubungan
baik dengan ibu tiri.

10
3) Televisi
Televisi telah menjadi salah satu agen penyosialisasi paling
penting dalam kehidupan anak anak. Isi program dan iklan
merupakan sumber untuk mendapat informasi, mencontoh
perilaku, dan melihat orientasi nilai. Televisi selalu mempunyai
program acara yang menarik untuk ditayangkan, sehingga anak
menyukai menghabiskan waktu dengan menonton. Selain itu
tayangan yang diberikan belum tentu sepenuhnya cocok untuk
dinikmati oleh anak-anak, menyebabkan anak akan melihat
tayangan yang seharusnya ditonton oleh orang dewasa.
Kontroversi terus berlangsung mengenai pengaruh televisi yang
dapat mengganggu perkembangan dan perilaku anak.
Kebanyakan peneliti telah menyimpulkan bahwa menonton
televisi yang berlarut-larut memiliki efek menyimpang pada anak.
Peningkatan perilaku agresif secara verbal dan fisik, penurunan
kemampuan pemecahan masalah, stereotip peran seksual yang
lebih besar, dan penurunan kreativitas telah banyak dikeluhkan.

Pada sisi positif, televisi telah terbukti memberikan pengaruh


posistif pada kemampuan anak untuk mengahadapi berbagai
masalah sosial seperti perceraian, adanya adik baru, diskriminasi,
kejujuran, dan tolong menolong. Anak yang menonton program
pendidikan untuk periode waktu lama menjadi lebih menyenangi,
penuh pertimbangan, kooperatif, dan siap membentu teman
bermain mereka. Banyak orang tua dikhawatirkan oleh efek
menonton televisi pada anak mereka. Orang tua perlu mengawasi
jumlah dan tipe program televisi yang ditonton anak mereka dan
mengajarkan anak mereka tentang cara menonton televisi.

4) Komputer atau internet


Penggunaan komputer baik di ruang kelas dan di rumah telah
memengaruhi pembelajaran dan perkembangan di masa kanak-
kanak. Meskipun teknologi komputer telah meningkatkan banyak
bentuk pembelajaran dan rekreasi, terdapat potensi bahaya untuk
anak. Perawat harus dilibatkan dalam mendorong orang tua untuk
mengetahui aktivitas internet anak mereka sambil memberikan
aktivitas belajar yang tepat dengan komputer.

11
2.2.3 Aspek-aspek perkembangan yang dipantau pada anak adalah:

a. Gerak kasar atau motorik kasar


Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan
pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti
duduk, berdiri, melompat, merangkak, dan sebagainya.
b. Gerak halus atau motorik halus
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan
yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-
otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati
sesuatu, menjimpit, menulis, menggambar, makan sendiri, minum dari
cangkir dengan bantuan, dan sebagainya.

c. Kemampuan bicara dan bahasa


Aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan
respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah,
dan sebagainya.

d. Perkembangan psikososial
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan
sendiri, membereskan mainan selesai bermain), mudah berpisah dengan
ibu atau pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya, dan sebagainya.

2.2.4 Tugas perkembangan anak prasekolah

Hurlock (2005) menyebutkan setiap individu dalam setiap jenjang kehidupannya


memiliki tugas perkembangannya masing-masing. Anak prasekolah memilki
tugas perkembangan yang harus dipenuhi pada masanya. Tugas perkembangan
anak prasekolah di antaranya:
a. Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan yang
umum.
b. Membangun sikap yang sehat mengenal diri sendiri sebagai mahluk yang
sedang tumbuh.
c. Belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya.
d. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat.
e. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca,
menulis dan berhitung.
f. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk
kehidupan sehari-hari.
g. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral dan tingkatan nilai.
h. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan
lembaga-lembaga.

12
i. Mencapai kebebasan pribadi.

2.2.5 Tahapan atau tingkatan perkembangan pada anak

Tahapan tumbuh kembang manusia yang paling memerlukan perhatian dan


menentukan kualitas seseorang di masa mendatang adalah pada masa anak
(Ridha, 2014). Berikut merupakan perkembangan anak pada usia pra sekolah
yaitu:
a. Perkembangan fisik
Perkembangan fisik anak usia pra sekolah dimulai dari tiga tahun,
empat tahun dan lima tahun. Pertumbuhan tinggi badan dengan rata-
rata 6,75 cm sampai 7,5 cm per tahun dan umumnya terjadi pada
perpanjangnan tungkai kaki. Pada usia tiga tahun adalah 95 cm, pada
usia empat tahun 103 cm, dan pada usia lima tahun adalah 110 cm
(Wong, 2008). Pertambahan berat badan rata-rata per tahun adalah
2,225 kg dan pertambahan panjang badan anak rata-rata 5-7,5 cm
setiap tahun (James & Ashwill, 2007).

b. Perkembangan psikologis
Pada masa usia pra sekolah rasa ingin tahu (corious) dan daya
imaginasi anak berkembang, sehingga anak banyak bertanya tentang
segala hal di sekelilingnya yang tidak diketahuinya. Anak belum
mampu membedakan hal yang abstrak dan konkret sehingga orang
tua sering menganggap anak berdusta padahal anak tidak bermaksud
demikian. Anak juga akan mengidentifikasi figur atau perilaku orang
tua sehingga mempunyai kecendrungan untuk meniru tingkah laku
orang dewasa (Ridha, 2014).

c. Perkembangan kognitif
Anak pada usia pra sekola berada dalam masa peralihan antara fase
preconceptual dan fase intuitive thought. Saat anak berada pada fase
preconceptual anak akan lebih menggunakan satu istilah untuk
beberapa hal yang memiliki kemiripan atau memiliki ciri-ciri yang
sama, misalnya menyebut nenek atau kakek kepada orang yang sudah
tua, sudah bongkok, keriput, dan memakai tongkat, sedangkan anak
yang berada pada fase 12 intuitive thought, mereka sudah bisa
memberikan alasan terhadap tindakan yang mereka lakukan. Anak
usia pra sekolah memiliki asumsi bahwa setiap orang memiliki
pemikiran yang sama seperti mereka, sehingga perlu menggali
pemikiran mereka dengan pendekatan non verbal. (Supartini, 2002).

13
d. Perkembangan spiritual
Pemahaman anak usia pra sekolah mengenai spiritualitas dipengaruhi
oleh tingkat kognitif, pengetahuan tentang keyakinan, dan agama
yang dipelajari dari keyakinan orang tuanya. Berdasarkan
perkembangan rasa bersalah anak sering mempunyai persepsi yang
kurang tepat mengenai suatu penyakit dianggap sebagai hukuman.
Pengalaman keikutsertaan dalam kegiatan keagamaan dapat
membantu koping anak dalam menghadapi penyakit dan hospitalisasi
(Hockenberry & Wilson, 2009).

e. Perkembangan sosial
Perkembangan sosial anak pada usia pra sekolah yaitu anak akan
makin ingin untuk melakukan berbagai macam kegiatan yang
disukainya. Pada masa ini anak akan dihadapkan dengan tuntutan
sosial yang baru. (Gunarsa, 2008). Anak usia pra sekolah sudah
mampu mengatasi banyak kecemasan yang berhubungan dengan
orang asing dan ketakutan akan perpisahan dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya. Anak usia pra sekolah dapat berhubungan dengan orang-
orang yang tidak dikenal dengan mudah dan mentoleransi perpisahan
singkat dari orang tuanya dengan sedikit atau tanpa protes. Namun
anak usia pra sekolah masih membutuhkan perlindungan dari orang
tua, bimbingan, dan persetujuan ketika memasuki masa pra sekolah
(Wong, 2008).

f. Perkembangan psikososial anak usia 3-6 tahun


Anak usia 3-6 tahun. Banyak sebutan untuk anak usia 3-6 tahun ini.
Beberapa nama yang diberikan untuk masa ini adalah:
1) Preschool age
yang menunjukkan bahwa harapan dan tekanan yang
diharapkan pada masa ini sangat berbeda dari yang akan
dialami saat anak masuk sekolah.
2) Pregang age
anak mulai belajar pada hal-hal yang berkaitan dengan
perilaku sosial.
3) Exploratory age
memperlihatkan minat anak untuk bertanya apa saja yang ada
di sekitarnya.
4) Imitative age
anak mulai mengikuti cara bicara atau perilaku apa saja yang
ada di sekitarnya.
5) Creative age
memperlihatkan bahwa setiap anak tampak lebih kreatif
(Hawadi, 2001).

14
Hurlock (2005) mengemukakan ada beberapa tingkat perkembangan anak
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Perkembangan fisik anak prasekolah
Perkembangan fisik dipandang penting untuk dipelajari karena baik
secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi perilaku
anak sehari-hari. Secara langsung perkembangan fisik seorang anak
akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak, sedangkan
secara tidak langsung pertumbungan dan perkembangan fisik akan
mempengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri dan
bagaimana anak memandang orang lain (Hurlock, 2005).

Aspek fisik setiap anak akan mengalami pertumbuhan dan


perkembangan sejalan bertambahnya usia mereka. Kemudian terjadi
peningkatan fungsi dari berbagai aspek fisik tersebut. Dengan ini
terjadi perkembangan yang bersifat psikis yang meliputi aspek
psikologis dan sosial. Indikatornya adalah anak lebih bertanggung
jawab, mandiri, mampu beradaptasi, keinginan berkreasi,
mengembangkan kemampuan diri hingga kebutuhan untuk
mengaktualisasikan diri serta keinginan untuk dihargai (Murmanto,
2007).

b. Perkembangan emosi anak prasekolah


Perkembangan emosi terkait erat dalam proses perkembangan social.
Respon yang nyaman menimbulkan penerimaan social yang baik,
begitu pula sebaiknya. Kemampuan anak dalam perkembangan
mental juga dipengaruhi oleh berbagai factor yang sebenarnya adalah
bagian dari dimensi perkembangan sosial (Bahiyatun, 2008). Karena
emosi sangat berperan penting dalam kehidupan, maka penting
diketahui bagaimana perkembangan dan pengaruh emosi terhadap
penyesuaian pribadi dan social (Hurlock, 2005).

Hurlock (2004) mengemukakan emosi yang umum pada awal masa


kanak-kanak adalah sebagai berikut :
1) Amarah.
Penyebab amarah yang paling umum adalah pertengkaran
mengenai permainan tidak tercapainya keinginan dan serangan
yang hebat dari anak lain. Anak mengungkapkan rasa amarah
dengan ledakan amarah yang ditandai dengan menangis,
berteriak, mengerlak, menendang, melompat-lompat atau
memukul.

15
2) Takut
Pembiasaan, peniruan dan ingatan tentang pengalaman yang
kurang menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan
rasa takut seperti cerita - cerita, gambar - gambar.
Pada mulanya reaksi rasa takut adalah panik, kemudian
menjadi lebih khusus seperti lari, menghindar dan
bersembunyi, menangis dan menghindari situasi yang
menakutkan.
3) Cemburu.
Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan
perhatian orangtua beralih kepada oranglain didalam keluarga,
biasanya adik yang baru lahir. Anak yang cemburu dapat
menunjukan perilaku seperti mengompol, pura-pura sakit atau
menjadi nakal. Perilaku itu semua untuk menarik perhatian.
4) Ingin tahu.
Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru yang
dilihatnya. Juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh
oranglain. Reaksi pertama adalah dalam bentuk penjelajahan
sensomotorik, kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial
dan hukuman, ia bereaksi dengan bertanya.
5) Iri hati.
Iri hati diungkapkan dalam bermacam-macam cara yang
paling umum adalah mengeluh tentang baranngnya sendiri
dengan mengungkapkan keinginannya untuk memiliki barang
yang dimiliki orang lain.
6) Gembira.
Anak mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum,
tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat, atau memeluk
benda atau orang yang membuatnya bahagia.
7) Sedih.
Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan
menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan
normalnya termasuk makan
8) Kasih sayang.
Anak-anak mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila
sudah besar tetapi ketika masih kecil anak menyatakannya
secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium obyek
kasih sayangnya.

16
c. Perkembangan kognitif anak prasekolah
Perkembangan kognitif atau proses berpikir adalah proses menerima,
mengolah sampai memahami informasi yang diterima. Perkembangan
kognitif ditandai dengan kemampuan intelegensi, kemampuan
memecahkan masalah serta kemempuan berpikir logis (Hurlock,
2005).

d. Perkembangan psikososial anak prasekolah


Perkembangan psikososial dimulai pada awal bayi. Bayi tersenyum
dapat dianggap sebagai respon sosial. Pada usia prasekolah anak
mempunyai minat yang nyata untuk melihat anak lain dan melakukan
kontak sosial dengan anak. Anak akan melakukan komunikasi yang
lebih sering dengan orang tua (Hurlock, 2005).

2.3 Perkembangan Psikososial

Menurut Bastable (2002) perkembangan psikososial adalah proses penyesuaian


psikologis dan sosial sejalan dengan perkembangan seseorang sejak bayi sampai
dewasa berdasarkan delapan tahap kematangan psokologis dan sosial manusia. Erik
Erikson menyatakan bahwa pada usia 3-6 tahun, anak sedang dalam tahapan
perkembangan yang ketiga dari delapan tahap perkembangan. Tahap perkembangan
tersebut disebut inisiatif versus rasa bersalah (initiative versus guilt) (Papalia, 2009).

Perkembangan inisiatif adalah perkembangan yang muncul dimana anak mulai


mendengarkan kata hati, ketika akan melakukan sesuatu, dan memiliki keinginan
untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya perkembangan rasa bersalah adalah perasaan
bersalah yang muncul ketika anak mengalami hambatan, tidak mampu atau gagal
dalam melakukan sesuatu (Santrock, 2002).

Pada tahap perkembangan inisiatif versus rasa bersalah anak-anak akan belajar
berfantasi dan juga mulai belajar ada orang lain selain dirinya. Tahap ini merupakan
pondasi anak untuk menjadi kreatif. Anak-anak mulai mengenal identitas dirinya,
terutama yang berkaitan dengan jenis kelamin mereka. Anak mulai mengenal identitas
dirinya bukan hanya dari alat kelamin yang dimilikinya tetapi juga dari perlakuan
sekelilingnya. Kemampuan menggunakan bahasa semakin meningkat, dan anak-anak
mulai belajar melibatkan diri dalam aktifitas bersama dengan teman-temannya.

Pada tahap inisiatif versus rasa bersalah, anak terlihat tumbuh dan memiliki banyak
kepandaian. Anak belajar berfantasi dan hal ini menjadi dasar bagi anak untuk
menjadi kreatif. Oleh karena itu anak tidak perlu dibebani dengan tugas dan pekerjaan
di luar kemampuannya, karena jika anak-anak tidak mampu belajar sesuai dengan
tugas yang diberikan, akan menimbulkan rasa bersalah pada diri anak. Gangguan pada
perkembangan tahap inisiatif dapat menyebabkan anak menjadi sulit belajar, pasif,

17
kurang inisiatif, selalu takut mencoba hal yang baru, dan terkadang mempunyai
masalah dalam bergaul dengan teman-temannya (Sunarti, 2004).

Anak usia prasekolah mencoba untuk menjadi asertif selama berinteraksi dengan
orang lain dan lingkungan. Persetujuan dari orang lain akan meningkatkan inisiatif.
Jika tindakan tindakan anak usia prasekolah tidak diizinkan atau tidak mendapat
persetujuan dari orang lain, maka akan timbul rasa bersalah (Christensen, 2009).
Perkembangan inisiatif diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan melalui
kemampuan inderanya. Anak mengembangkan keinginan dengan cara melakukan
eksplorasi terhadap apa yang ada disekelilingnya. Hasil akhir yang diperoleh adalah
kemampuan untuk menghasilkan sesuatu sebagai prestasi. Perasaan bersalah akan
timbul apabila anak tidak mampu berprestasi sehingga merasa tidak puas atas
perkembangan yang tidak dicapai (Papalia, 2009).

2.3.1 Karakteristik perkembangan psikososial

Karakteristik perkembangan psikososial usia 3-6 tahun Menurut Erikson


pada tahap inisiatif versus rasa bersalah, anak menunjukkan karakteristik
sebagai berikut:
a. Memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua.
b. Menguasai perasaan otonomi, dengan dukungan orang tua dalam
imajinasi dan aktivitas, dan anak berupaya menguasai perasaan
inisiatif.
c. Mengembangkan perasaan bersalah ketika orang tua menjadikan anak
merasa bahwa imajinasi dan aktivitasnya tidak dapat diterima.
d. Memiliki perasaan ansietas dan ketakutan ketika pemikiran dan
aktivitasnya tidak sesuai dengan harapan orang tua (Muscari, 2005).

Beberapa karakteristik perkembangan psikososial anak usia 3-6 tahun antara


lain (Erikson, 1950 dalam Keliat, 2008):
a. Karakteristik sosial
Memiliki hubungan dengan orang lain selain orang tua, yang meluas
kepada hubungan anak dengan kakek-nenek, saudara kandung dan
guru-guru di sekolah.
Memerlukan interaksi yang teratur dengan teman sebaya untuk
membantu mengembangkan keterampilan sosial.

b. Karakteristik perilaku
Sesuai dengan tugas perkembangannya, anak usia 3-6 tahun
memperlihatkan perilaku sebagai berikut (Keliat, 2008; Kozier, 1995;
Papalia, 2009):
1) Perilaku inisiatif
a) Mengkhayal dan kreatif

18
Merupakan bagian penting dari tahapan perkembangan
anak usia prasekolah. Anak usia prasekolah memiliki
imajinasi atau khayalan yang aktif dan kreatif.
Imajinasi atau khayalan anak usia prasekolah terjadi
ketika anak-anak sedang bermain. Sebagai contoh,
sebuah kursi akan menjadi indah apabila diduduki oleh
raja dan ratu, anak mampu merealisasikan
imajinasinya melalui sebuah gambar (Kozier, 1995).

b) Berinisiatif bermain dengan benda-benda di sekitarnya


Bermain merupakan kegiatan anak yang utama. Ketika
anak sudah mulai bosan dengan mainan yang
dimilikinya, anak berusaha untuk mendapatkan objek
permainan yang baru. Untuk menemukan objek
mainan yang baru, anak melihat di lingkungan
sekitarnya apakah ada objek atau benda lain yang
dapat digunakan untuk bermain. Selain itu rasa ingin
tahu akan hal baru yang belum diketahui anak, akan
memicu anak untuk bermain menggunakan benda-
benda yang ditemukan di lingkungan sekitarnya,
misalnya ketika anak berada di meja makan melihat
piring, sendok, gelas dan kemudian anak berinisiatif
untuk memukul-mukul benda tersebut.

c) Belajar keterampilan fisik baru


Anak usia 3-6 tahun, merupakan masa-masa dimana
anak sedang bergerak aktif. Pemanfaatan gerak aktif
ini memudahkan untuk belajar berbagai macam
keterampilan, terutama keterampilan secara fisik.
Keterampilan yang diberikan dapat diberikan ketika
bermain dan keterampilan fisik baru lebih
menggunakan kemampuan motorik kasar anak, seperti
melompat, melempar, berdiri satu kaki (Nugroho,
2009).

d) Menikmati bermain bersama dengan anak seusianya


Anak-anak sering berkumpul bersama untuk bermain.
Saling menjalin hubungan satu sama lain, bertukar
barang mainan yang mereka miliki. Anak-anak
prasekolah terlibat dalam permainan asosiatif, dimana
anak terlibat dalam kegiatan yang terpisah, tetapi
mereka masih dapat berinteraksi dengan bertukar
mainan atau mengomentari perilaku anak-anak yang

19
lain dan anak terlihat senang ketika bermain bersama
teman-temannya, anak terlihat berbagi mainan dengan
temannya (Kozier, 1995).

e) Mudah berpisah dengan orang tua


Anak usia prasekolah sudah mulai dapat mengontrol
emosinya. Kemampuan anak usia sekolah mengontrol
emosinya tergantung pada masukan sensori yang
diterima anak. Sebagai contoh, ibu mengatakan akan
pergi sebentar dan akan kembali lagi, anak yang
mampu mengontrol emosinya akan meyakinkan
dirinya sendiri bahwa ibu akan datang kembali, selain
itu anak terlihat tenang ketika akan ditinggal oleh
orang tua/orang terdekat anak (Berk, 2000).

f) Mengetahui hal-hal yang salah dan benar, dan


mengikuti aturan
Anak prasekolah dapat mengetahui hal yang salah dan
benar, karena pada masa ini anak sudah mulai
mengikuti perintah, nasihat, aturan yang diberikan
padanya. Anak mudah menyerap perintah yang
diberikan, sehingga ketika anak mengetahui bahwa hal
yang dilakukannya salah, maka anak tidak akan
melakukan hal tersebut lagi. Selain itu, anak juga
mulai mengetahui aturan-aturan yang berlaku.
Contohnya, anak mampu mengikuti permainan yang
memakai aturan seperti, bermain ular tangga, bermain
petak umpet (Berk, 2000).

g) Mengenal minimal 4 warna


Perkembangan otak pada anak prasekolah terjadi
sangat cepat. Berkaitan dengan hal tersebut, dengan
mengenalkan warna-warna dapat membantu untuk
perkembangan otak sebagai penyerapan daya ingat
anak, terhadap hal-hal yang sudah diajarkan dan dilihat
oleh anak (Nugroho, 2009).

h) Merangkai kata-kata dalam bentuk kalimat


Perkembangan bahasa anak prasekolah sudah mulai
jelas, dan dapat dimengerti. Anak mulai mencoba kosa
kata baru yang didapat dari lingkungan sekitarnya.
Anak-anak mulai menerapkan kata-kata yang
didapatnya untuk berkomunikasi.

20
Maka dari itu perlu dukungan dari lingkungan untuk
menggunakan kalimat baik, karena anak dapat dengan
cepat menyerap kosa kata yang didengarnya.
Contohnya, “Ingin pipis”, “Lapar, mau makan”
(Papalia, 2009).

i) Mampu mengerjakan pekerjaan yang sederhana


Anak prasekolah juga sudah mulai dapat melakukan
pekerjaan yang sederhana. Berkaitan dengan gerak
aktif anak, anak dapat diajarkan untuk melakukan
suatu pekerjaan yang sederhana, seperti mengajarkan
anak untuk membereskan piring dan gelas yang telah
dipergunakan, membereskan mainan yang telah
digunakan (Nugoho, 2009).

j) Mengenal jenis kelamin


Anak usia 3-6 tahun mulai diajarkan untuk mengetahui
perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan
perempuan. Jenis kelamin perlu dikenalkan sejak dini
untuk menghindari kebingungan jenis kelamin. Secara
bertahap mulai diperkenalkan bahwa ibu adalah
seorang perempuan atau wanita, ayah adalah seorang
laki-laki atau pria (Papalia, 2009).

b. Perilaku rasa bersalah


1) Tidak percaya diri, malu untuk tampil di depan umum
Pada masa usia prasekolah, anak juga mengalami rasa tidak
percaya diri, malu untuk tampil. Jika anak tidak dibiasakan
untuk tampil di depan umum, anak cenderung untuk menjadi
pemalu dan tertutup. Orang tua atau pengasuh harus mampu
menanamkan rasa percaya diri anak sejak dini. Sebagai
contoh, ketika anak bertanya jawablah dengan bahasa yang
mudah, jangan melarang anak untuk bertanya, karena jika
sekali dilarang dapat menimbulkan rasa tidak percaya untuk
bertanya kembali dan dapat menimbulkan rasa bersalah karena
telah bertanya (Santrock, 2002).

2) Pesimis, tidak memiliki cita-cita


Pesimis merupakan pandangan negatif terhadap suatu hal.
Anak merasa tidak mampu melakukan hal yang sama dengan
anak-anak yang lain, atau menjadi bingung ketika ditanya
sesuatu, selain itu anak lebih sering menangis saat menghadapi
permasalahan atau kesulitan kecil, menyerah lebih cepat saat

21
dihadapkan pada tantangan baru, kurang tekun berusaha
menyelesaikan sebuah permainan. Saat diberikan pertanyaan
“kalau sudah besar, mau jadi apa?” anak akan diam saja
terlihat bingung. Contoh lain ketika anak sedang bermain
puzzle, anak terlihat tidak berusaha untuk menyelesaikannya
(Berk, 2000; Woolfson, 2005).

3) Takut salah dalam melakukan sesuatu


Rasa bersalah merupakan tahapan perkembangan psikososial
anak usia 3-6 tahun. Anak prasekolah mampu dan ingin
melakukan hal yang lebih banyak. Pada saat yang sama, anak-
anak belajar bahwa untuk melakukan sesuatu harus
mendapatkan persetujuan agar tujuan yang diinginkan
tercapai. Namun, apabila tidak mendapatkan persetujuan, anak
akan diliputi rasa bersalah atau ketakukan (Santrock, 2002).

4) Sangat membatasi aktivitasnya, sehingga terkesan malas dan


tidak mempunyai inisiatif Berhubungan dengan rasa bersalah,
pada saat anak diliputi rasa bersalah atau ketakukan karena hal
yang diinginkan tidak mendapatkan persetujuan, anak menjadi
membatasi aktivitasnya, sehingga anak terlihat tidak memiliki
aktivitas. Oleh karena anak mengingat tujuan yang pernah
diajukan ditolak, maka anak tidak mau meminta persetujuan
lagi untuk tujuan berikutnya yang ingin dicapai (Santrock,
2002).

5) Perilaku agresif.
Perilaku agresif adalah perilaku bermusuhan yang ditujukan
untuk melukai atau menyakiti. Para psikolog mendefinisikan
perilaku agresi sebagai perilaku yang ditujukan untuk
menyakiti atau menghancurkan. Perilaku agresi dapat secara
verbal maupun fisik. Objek untuk menunjukkan perilaku
agresi ini biasanya pada manusia, hewan atau benda-benda di
sekitarnya (Craig, 1992).

2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan psikososial anak


usia 3-6 tahun berdasarkan Santrock (2002, 2011) dan Papalia (2009)
adalah:

a. Diri (Self)
Diri merupakan pemahaman seorang anak terhadap diri mereka
sendiri, tentang cara anak menggambarkan diri mereka. Dalam diri
anak-anak usia 3-6 tahun berkembang beberapa pemahaman, yaitu:

22
b. Pemahaman Diri
Pada masa kanak-kanak awal, anak berpikir bahwa diri mereka dapat
dijelaskan melalui banyak karakteristik material, seperti ukuran,
bentuk, dan warna. Selain itu, anak-anak juga sering menggambarkan
diri mereka dalam bentuk aktivitas permainan (Santrock, 2011).

c. Harga Diri
Harga diri adalah bagian dari evaluasi konsep diri, penilaian yang
dibuat anak mengenai seberapa berhargannya mereka. Harga diri pada
masa kanak-kanak awal bersifat tidak ada perbedaan “saya baik” atau
“saya jahat” (Papalia, 2009).

d. Pemahaman dan Pengaturan Emosi


Pemahaman dan pengaturan emosi akan meningkatkan kemampuan
sosial anak dan kemampuan untuk menjalin hubungan baik dengan
orang lain. Hal ini membantu anak dalam mengatur perilaku dan
mengungkap tentang perasaan-perasaan mereka (Santrock, 2011).
Pemahaman diri anak-anak menjadi sangat penting, karena terkait
dengan pertumbuhan selanjutnya. Apabila anak memahami diri
mereka, maka anak akan mampu untuk mendeskripsikan diri mereka
sesuai dengan tapahan perkembangannya.

e. Gender
Identitas gender (gender identity) adalah kesadaran yang berkembang
pada masa kanak kanak awal bahwa seseorang adalah laki-laki atau
perempuan (Papalia, 2009). Identitas gender melibatkan kesadaran
gender seseorang, termasuk pengetahuan, pemahaman, dan
penerimaan sebagai laki-laki atau perempuan. Salah satu aspek
identitas gender adalah adanya pengetahuan bahwa apakah dirinya
seorang anak perempuan atau laki-laki. Pada umumnya anak dapat
mengetahui setelah usia 2,5 tahun (Blakemore, Berenbaum, & Liben,
2009 dalam Santrock, 2011).

Maccoby (2002, dalam Santrock, 2011) menyatakan anak-anak sudah


menunjukkan gambaran bahwa mereka menghabiskan waktu bersama
teman bermain berjenis kelamin sama sejak anak berusia sekitar
tahun. Dari usia 4-12 tahun, gambaran untuk bermain bersama dalam
kelompok yang berjenis kelamin sama meningkat, dan selama tahun-
tahun sekolah dasar, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu
luang mereka bersama anak-anak yang berjenis kelamin sama. Faktor
gender ini dipengaruhi oleh:

23
1) Pengaruh Biologis
Efek biologis yang berpengaruh adalah kromosom, dan
hormon. Manusia memiliki 46 kromosom yang tersusun dalam
pasangan, yaitu kombinasi kromosom X dan Y. Pada anak
perempuan dua kromosom X, sedangkan pada anak laki-laki
kombinasi kromosom X dan Y. Laki-laki mulai berbeda
dengan perempuan ketika pada kromosom Y dalam embrio
laki-laki memicu perkembangan testis bukan ovarium. Testis
mensekresi sejumlah hormon yang dikenal sebagai androgen
yang menuntun pada perkembangan organ seks laki-laki.
Rendahnya tingkat androgen di embrio perempuan
memungkinkan terjadinya perkembangan normal organ seks
perempuan (Santrock, 2011).

2) Pengaruh Sosial
Pengaruh sosial memiliki peranan dalam membentuk gender.
Anak biasanya memilih model yang dianggap kuat, dalam hal
ini biasanya orang tua menjadi model paling kuat selain teman
sepermainan (Papalia, 2009). Untuk memberikan pemahaman
tentang gender kepada anak, orang tua memerlukan model
untuk menjelaskan hal tersebut. Penjelasan ini diperlukan
untuk menghindari kebingungan peran gender ketika anak
dewasa nanti. Jika sejak usia prasekolah anak sudah dijelaskan
mengenai gendernya, maka ketika dewasa anak akan mampu
untuk menempatkan posisinya.
Sebagai contoh, untuk memberikan pemahaman mengenai
gendernya, anak perempuan dicirikan mengenakan kerudung,
sedangkan anak laki-laki mengenakan peci, sehingga ketika
anak berada dilingkungan sosial sudah bisa dibedakan laki-
laki dan perempuan.

3) Permainan
Permainan adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan
dengan terlibat di dalamnya, ketika fungsi serta bentuknya
bervariasi (Santrock, 2011).
Bermain adalah pekerjaan seorang anak, dan hal ini
berkontribusi terhadap seluruh aspek perkembangan. Melalui
bermain, anak merangsang indera, belajar menggunakan otot-
otot mereka, mengkoordinasikan penglihatan dan gerakan,
memperoleh penguasaan tubuh, dan memperoleh berbagai
keterampilan baru (Papalia, 2009).

24
Penelitian Hastuti (2009) yang bertujuan untuk menganalisis
penyelenggaraan stimulasi psikososial pada anak di kelompok
bermain dan pengaruhnya terhadap tumbuh kembang,
menyatakan bahwa kelompok bermain memberikan pengaruh
terhadap perkembangan sosial emosi. Anak yang mengikuti
kelompok bermain, anak dapat menceritakan perasaannya,
memberitahu tentang hal yang ditakutkan, mengenal etiket
makan, menjadi pendengar yang baik, mampu membereskan
alat-alat permainan, tidak membalas memukul apabila dipukul
temannya, serta mau bermain dan ramah dengan orang yang
baru dikenalnya, mampu memilih baju sendiri, mulai mahir
menggunakan toilet, sudah dapat ditinggalkan orang tua, dan
mudah bermain dengan siapa saja. Tetapi, hampir semua anak
akan menangis dan marah apabila permintaannya tidak
dikabulkan.

Penelitian Rudiati (2010) yang bertujuan untuk menganalisa


perbedaan perkembangan psikososial anak TK dengan
playgroup dan tanpa playgroup, dan hasilnya terdapat
perbedaan perkembangan psikososial antara anak TK dengan
kelompok bermain dan tanpa kelompok bermain.
Perkembangan psikososial anak TK dengan kelompok
bermain berada dalam katagori baik sedangkan anak TK tanpa
kelompok bermain dalam katagori kurang baik.

4) Pengasuhan
Salah satu faktor dalam keluarga yang mempunyai peranan
penting dalam pembentukan perkembangan psikososial anak
adalah praktik pengasuhan anak. Keluarga adalah lingkungan
yang pertama kali menerima kehadiran anak. Dalam
mengasuh anaknya orang tua dipengaruhi oleh budaya yang
ada di lingkungannya. Disamping itu, orang tua juga diwarnai
oleh sikap-sikap tertentu didalam memelihara, membimbing,
dan mengarahkan anak-anaknya.
Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada
anaknya yang berbeda-beda, karena orang tua mempunyai
pola pengasuhan tertentu (Soetjiningsih, 1998).

Pola pengasuhan atau perawatan anak sangat bergantung pada


nilai-nilai yang dimiliki keluarga. Pada budaya timur seperti
Indonesia, peran pengasuhan atau perawatan lebih banyak
dipegang oleh istri atau ibu meskipun mendidik anak

25
merupakan tanggung jawab bersama pada dasarnya tujuan
utama pengasuhan adalah:
a) Mempertahankan kehidupan fisik anak dan
meningkatkan kesehatnnya.
b) Memfasilitasi anak untuk mengembangkan
kemampuan sejalan dengan tahapan
perkembangannya.
c) Mendorong peningkatan kemampuan berperilaku
sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakini
(Supartini, 2004 dalam Utami, 2008). Seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya, orang tua memiliki cara
yang berbeda-beda dalam mengasuh anak-anaknya.

Baumrind (1971 dalam Santrock, 2011) menggambarkan


empat jenis pengasuhan yaitu:
a) Pengasuhan otoriter (authoritarian parenting) adalah
gaya membatasi dan menghukum ketika orang tua
memaksa anak-anak untuk mengikuti arahan dari
orang tua dan di paksa untuk menghormati pekerjaan
serta upaya orang tua.
b) Pengasuhan otoritatif (authoritative parenting) adalah
gaya pengasuhan yang mendorong anak-anak untuk
menjadi mandiri, tetapi masih ada batasan dari orang
tua dan orang tua masih mengontrol tindakan anak-
anak.
c) Pengasuhan lalai (neclectful parenting) merupakan
gaya pengasuhan dimana orang tua sangat tidak terlibat
dalam kehidupan anak-anaknya.
d) Pengasuhan permisif (indulgent parenting) merupakan
gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat
dengan kehidupan anak-anaknya, dan orang tua
memberikan tuntutan pada anak-anak mereka.

2.3.3 Kompetensi pskososial anak prasekolah

Kompetensi psikososial anak prasekolah Menurut Bredekamp & Copple


(1997 dalam Ramli 2005) anak usia prasekolah memiliki perkembangan
psikososial sebagai berikut:
a. Anak usia 3 tahun, memiliki kompetensi sebagai berikut:
1) Memahami dirinya sebagai seorang individu.
2) Bermain dengan diri sendiri dan orang lain.
3) Belajar berbagi mainan dengan teman sebaya.
4) Tidak dapat berbagi tempat kerja.

26
5) Menunggu giliran.
6) Menyukai berpakaian.
7) Menyukai humor sederhana.
8) Menyukai permainan lantai.
9) Bangga pada sesuatu yang dibuat sendiri.
10) Membantu orang dewasa dengan aktivitas rumah.
11) Berperan sebagai orang dan objek (Ramli, 2005).

b. Anak usia 4 tahun, kompetensi psikososial yang dicapainya adalah:


1) Masih melakukan permainan yang bersifat asosiatif tetapi
mulai melakukan permainan kerjasama dan saling memberi
dan menerima
2) Menunjukkan kesulitan berbagi tempat tetapi mulai
memahami arti giliran dan melakukan permainan sederhana
dalam kelompok kecil
3) Lebih senang bermain dengan orang lain
4) Mulai menawarkan segala sesuatu kepada orang lain secara
spontan
5) Menunjukkan kemarahan tetapi mulai memperbaiki tindakan
agresif
6) Semakin mengerti tentang perilaku pengaturan diri
7) Menunjukkan kemampuan yang lebih besar untuk
mengendalikan perasaan (Ramli, 2005)

c. Anak usia 5 tahun, kemampuan psikososialnya adalah:


1) Menikmati permainan drama dengan anak-anak lain
2) Bekerjasama dengan baik
3) Memahami kekuatan penolakan terhadap orang lain
4) Menyukai orang lain dan dapat bertindak dengan cara hangat
dan empatik
5) Menunjukkan sedikit perilaku agresif secara fisik
6) Dapat mengikuti permainan
7) Berpakaian dan makan dengan sedikit pengawasan
8) Memadankan dan memberikan nama pada 4 warna dasar
(Ramli, 2005).

d. Anak usia 6 tahun, kompetensi psikososial yang dicapai adalah:


1) Bermaksud menyenangkan orang tua dan orang dewasa
lainnya dalam kelompok keluarga
2) Melindungi saudara kandung atau teman bermain yang lebih
muda
3) Bersemangat untuk berteman

27
4) Memiliki keterampilan sosial untuk memberi, menerima dan
berbagi
5) Memiliki tingkah laku lebih mandiri
6) Mempelajari hubungan antar benda (Ramli, 2005)

2.4 Asuhan keperawatan untuk meningkatkan kesehatan optimal pada anak


usia prasekolah (3-6 tahun)

a. Pertumbuhan lambat dan stabil selama masa ini. Tugas perkembangan yang
harus selesai dengan baik adalah:
1) Kontrol dari sistem tubuh
2) Pengalaman tentang perpisahan
3) Kemampuan untuk berinteraksi dan bekerjasama dengan anak lain dan
dewasa
4) Meningkatnya cakupan perhatian dan ingatan ---- menurut teori Piaget
masa prasekolah merupakan fase intuitive thought. Mereka belajar
mencoba-coba dan sering bingung karena pada saat itu mereka hanya
punya satu ide.

b. Perkembangan biologi
1) Proporsi : Langsing, kokoh, gemulai, cerdas dan gesit. Antara perempuan
dan wanita sedikit berbeda dalam karakteristik fisik.
2) Perkembangan motorik : Meningkatnya kekuatan dan perbaikan keahlian
sebelumnya seperti jalan, lari, lompat. Perkembangan tulang masih jauh
dari mature
3) Fisik cenderung bertambah tinggi ekstremitas tumbuh lebih cepat ---- tidak
tampak proposional. Perubahan berat lambat, hanya bertambah sekitar 3-5
kg dari berat mereka sejak umur 3 tahun. Aktivitas berlebihan dapat
mengakibatkan injury
4) Untuk pertumbuhan sistem muskuloskeletal perlu : postur/sikap tubuh yang
baik, latihan yang tepat, nutrisi yang adequat dan istirahat

c. Nutrisi
Suka dengan makanan kesukaan dan rasa yang kuat. 4 tahun : periode rewel
dalam makan tingkah laku melawan. 5 tahun : mencoba makanan baru
terutama jika ikut membantu menyiapkan masakan dan eksperimen dengan
rasa baru dan hidangan yang berbeda porsi makanan > toddler ---- 1/2 dari
porsi orang dewasa.

d. Tidur dan aktivitas


American Academy Of Pediatric (1992): kesiapan anak untuk mengikuti
olahraga seharusnya ditentukan tiap individu (anak itu dan bukan orang tua)
sesuai motivasi dan kesenangannya. Meningkatkan permainan bebas, variasi

28
dan aktivitas fisik, suasana non kompetitif, ditekankan pada rasa
aman/keamanan.

e. Masalah tidur
Sulit tidur, jika: terlalu banyak aktivitas/stimulasi seharian. Takut tidur, bangun
pada malam hari, mimpi buruk, teror tidur.
Terlambat ke tempat tidur, diatasi dengan: kebiasaan waktu tidur yang sesuai
ditekankan pada tipe normal. Menjaga lampu tetap hidup di kamar.
Menyediakan obyek transisi.
Ketidakmauan untuk tidur: membatasi kebiasaan yang merupakan tanda
kesiapan untuk tidur

f. Ciri penyimpangan perkembangan anak prasekolah


1) Tidak percaya diri , malu untuk tampil didepan umum
2) Pesimistis, tidak memilik cita – cita
3) Takut salah melakukan sesuatu
4) Malas melakukan kegiatan dan tidak mempunyai inisiatif

g. Hal yang dapat dilakukan keluarga jika terjadi penyimpangan perkembangan anak
prasekolah
1) Memberi waktu kepada anak untuk bermain
2) Mengajarkan anak untuk bermain yang sederhana
3) Memberikan harapan yang sesuai dengan kemampuan anak
4) Tidak memaksakan kehendak kepada anak
5) Memberi pujian terhadap keberhasilan yang telah dicapai
6) Menjadi pendengar yang baik
7) Bersikap positif dan mendorong usaha anak untuk mandiri
8) Tidak menentang tindakakn yang dilakukan anak
9) Tidak melarang anak menggunakan bahasa yang mudah dimengerti

h. Tujuan tindakan keperawatan anak prasekolah


1) Anak prasekolah mengidentifikasi peran gender
2) Anak prasekolah mencapai keterampilan motorik kognitif peran tertentu
3) Anak prasekolah mengidentifikasi peran dikeluarga

i. Tindakakan keperawatan anak Prasekolah


1) Perkembangan Yang Normal ( Inisatif )

29
a) Beri kesempatan kepada anak untuk memcapai kemampuan tertentu yang
dapat dipelajarinya sperti naik sepeda , menulis , menggambar , menyusun
balok puzzle
b) Dukung anak untuk bermain kelompok
c) Beri kesempatan pada anak untuk bermain peran menggunakan alat – alat
yang sesuai (memasak, sekolah, berperan sebagai orang tua)
d) Beri tugas sesuai kemampuan anak
e) Jadi role model bagi anak mengenai cara menerima keunikan orang lain

2) Perkembangan Penyimpangan ( Rasa Bersalah )


a) Beri waktu pada anak untuk bermain / beraktifitas secara berkelompok
b) Ajarkan anak mengenai permainan sederhana yag membutuhkan kerja
sama dan koordinasi ( puzzle , susun balok )
c) Sampaikan harapan yang sesuai dengan kemampuan anak
d) Beri pujian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh anak
e) Dengarkan seluruh keluhan anak dan diskusikan cara mengatasi rsa tidak
mampu yang dialami anak

j. Tujuan tindakan keperawatan keluarga


1) Keluarga mampu menjelaskan perilaku yang menggambarkan perkembangan
yang normal dan menyimpang
2) Keluarga mampu menjelaskan cara menstimulasi perkembangan anaknya
3) Keluarga mampu mendemonstrasikan dan melatih cara memfasilitasi
perkembangan anak
4) Keluarga mampu merencanakan tindakan untuk menstimulasi perkembangan
anaknya

k. Tindakakan keperawatan keluarga


1) Perkembangan Yang Normal ( Inisatif )
a) Informasikan kepada keluarga mengenai cara yang dapat dilakukan
keluarga untuk memfasilitasi perkembangan psikososial anak
b) Bersikap positif dan dorong usaha nak untuk mandiri
c) Dukung anak untuk bermain dan sediakan alat bermain
d) Bantu anak menyelesaikan masalah yang dialami jika tindakan yang
dilakukan anak bersikap negative
e) Tidak menentang tindakan yang dilakukan anak

30
f) Berikan pendapat yang positif terhadap perilaku yang ditampilkan
g) Beri pujian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh anak
h) Berikan suasana disiplin dirumah
i) Diskusikan dengan keluarga mengenai cara yang akan digunakan
keluarga untuk menstimulasi inisiatif anak
j) Latih keluarga untuk melakukan cara tersebut dan dampingi keluarga
menstimulasi inisiatif anak

2) Perkembangan Penyimpangan ( Rasa Bersalah )


a) Beri waktu pada anak untuk bermain
b) Ajarkan anak mengenai permainan sederhana
c) Berikan harapan sesuai dengan kemampuan anak
d) Tidak memaksakan kehendak kepada anak
e) Beri pujian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh anak
f) Jadi pendengar yang baik
g) Bersikap positif terhadap kemampuan anak dan dorong anak untuk
mandiri
h) Tidak menentang tindakan yang dilakukan anak
i) Tidak melarang anak

l. Masalah kesehatan yang sering muncul pada anak prasekolah seperti; diare,
cacar air, difteri, dan campak.

Manajemen Teraupetik Dan Pertimbangan


No Masalah/ Penyakit
Komplikasi Keperawatan
1. Diare Komplikasi: 1.Memberikan
(Gastroenterologi) o Dehidrasi cairan
Agen pembuka: o Renjatan hipovolemik
2,Diatetik
bakteri dan virus. o Hypocalanta
(pemberian makanan)
o Intoleransi laktosa sekunder
Sumber: makanan
o Kejang
basi, beracun, alergi
o Malnutrisi energi protein
terhadap makanan.
Obat:
Masa inkubasi:

31
BAB > 3 x 24 jam o Anti sekresi
o Anti spasmolitik
MK: anak menangis,
o Pengeras tinjs
gelisah, suhu tubuh
o Antibiotik
meninggi, BAB cair
kadang disertai
darah dan lender
2. Varicela (cacar air) Kekhususan: biasanya tidak ada agen 1.Lakukan isolasi
anti viral (ecyclovir) untuk resiko ketat di RS
Agen pembawa:
tinggi anak terinfeksi, Varicella
Variacell Zooster 2.Isolasi anak di
Zooster imonoglobin (VZIG) setelah
rumah sampai vasikel
pembukaan pada anak yang beresiko
Sumber: sekresi
mengering (biasanya
tinggi.
primer saluran
1 minggu setelah
pernafasan dan
Obat: Diphenhidramin, hydoklorida, terinfeksi) dan isolasi
organ terinfeksi,
atau anti histamin untuk anak yang beresiko
pada tingkatan lesi
menghilangkan gatal tinggi infeksi
kulit yang lebih
rendah Perawatan kulit untuk pencegahan 3.Beri perawatan
infeksi bakteri kedua. kulit: mandi dan
Transmisi:
berganti pakaian
terkontaminasi oleh Komplikasi:
setisp hari, oleskan
objek penularan.
lation .
o Infeksi pada tahap kedua
Masa inkubasi: 2-3 (bisu, selulitis, pnemoni,
4.Mengurangi gatal-
minggu/ 13-17 hari sepsis)
gatal
 Encephalitis
Masa penularan:
 Varicela pnemoni 5.Hindari mengupas
biasanya 1 hari
 Peredaran varicela kulit kerak yang
setelah erupsi lesi
 Kronik atau tranesien menggosok dan
(masa awal) sampai
trombositopenia membuat iritasi.
5 hari setelah
banyak muncul
vesikel ketika kerak

32
kulit terbentuk.

MK:

Tahap awal: demam


ringan, malaise,
anoreksia, pertama
kali ruam dan gatal,
muncul makula,
dengan cepat
berkembang
menjadi papula dan
menjadi vesikel
(dikelilingi oleh
dasar eritematosus
menjadi gelembung,
mudah pecah dan
membentuk kerak).
Ketiga tahapan
(papula, vesikel, dan
kerak kulit) hadir
dalam tingkatan
berbeda dalam
waktu yang sama.

Distribusi:
sentrifetal,
menyebar ke wajah
dan tubuh, tapi
jarang pada tungkai
dan lengan.

Gejala: elevasi suhu


dari limfade nopaty,

33
iritasi dari gatal-
gatal.
3 Difhteria  Antitoksin (biasanya melalui 1.Lakukan isolasi
intravena diawali dengan test ketat di rumah
Manifestasi klinis:
kulit dan konjungtiva untuk sakit 2.Berpartisipasi
mengetes sensitifitas terhadap pada test sensitifitas;
Bervariasi menurut
serum) beri epineprin jika
lokasi anatomi
Pseudomembran  Antibiotik (penisillin atau ada
erythromycin).
3. Beri antibiotik,
Nasal :  Bedrest total (pencegahan
amati sensitifitas
miokarditis)
Menyerupai flu, terhadap penisilin
 Tracheostomy untuk
nasal mengeluarkan
penahambatan jalan udara. 4.Gunakan suction
serosan guineous

Perawatan carrier dan kontak jika perlu
mukous purulent
terhadap orang yang terinfeksi.
tanpa gejala-gejala
5.Beri perawatan
pokok: tampak Komplikasi :
komplit untuk
seperti epitaksis.
memperoleh bedrest
Miokarditis (minggu ke 2) Neuritis
Tonsilar pharingeal :
6.Atur kelembaban
untuk pencairan
Malaise, anorexia,
optimum sekresi.
tenggorokan sakit,
sedikit demam,
7.Amati respirasi
pulse meningkat
untuk tanda-tanda
dari yang
penghambatan
diharapkan selama
24 jam, membran
melembut, putih
atau abu-abu;
timbulnya
limfadenitis jika
penyakitnya parah
timbul toximea,

34
septik syok, dan
meninggal dalam 6-
10 hari.

Lharyngeal :

Demam : serak,
batuk, tanpa ada
tanda awal,
potensial
penghambatan jalan
udara, gelisah,
cyanosis, retraksi
dyspniec.
4. Rubeola (campak) Tidak ada perawatan lain yang perlu 1.Yakinkan orangtua
kecuali antipiretik untuk demam dan bahwa vesikel-
Agen pembawa :
analgesik untuk nyeri. vesikel adalah suatu
proses panyakit yang
Virus
Komplikasi :
alami pada anak-anak
Sumber : yang terinfeksi.
Jarang terjadi (arthritis, enchepalitis,
atau purpura); penyakit-panyakit
Sekresi saluran 2. Gunakan sentuhan
menular yang sering dijumpai pada
nafas, darah dan lembut jika
masa anak-anak; bahaya terbesar
urine dari orang diperlukan.
adalah efek teratogenik pada janin.
yang terinfeksi.
3.Jauhkan anak dari
Transisi : wanita hamil

Kontak langsung
dengan orang yang
terinfeksi.

Masa inkubasi :

35
10-20 hari

Periode penularan :

Dari 4-5 hari setelah


ruam-ruam muncul
tetapi terutama
selama tahapan awal
(catharal).

Manifestasi klinis :

Fase prodromal:

Tidak dijumpai pada


anak-anak, namun
dijumpai pada orang
remaja dan dewasa
yang ditandai
dengan demam
ringan, sakit kepala,
malaise, anorexia,
konjungtivitis
ringan, coryza, sakit
kerongkongan,
batuk, dan
limfadenofaty.
Paling sedikit 1-5
hari, menghilang 1
hari setelah
terjadinya ruam.

Ruam :

Pertama kali muncul

36
di wajah dan dengan
segera menyebar ke
leher, lengan batang
tubuh dan kaki.
diakhiri dari
pertama ditutupi
dengan bercak-
bercak kemerahan
makulo pupalar,
biasanya hilang
pada hari ketiga

Tanda dan gejala :

Demam ringan yang


muncul kadang-
kadang, sakit
kepala, malaise dan
limfadenopaty.

37
A. Pengkajian
 Keluarga
a. Pengetahuan keluarga
b. Peran orang tua
 Anak
1. Perkembangan fisik, yang perlu di kaji antara lain :
a. Berat badan anak, biasanya meningkat kira-kira 2.5 kg per tahun. Berat
badan rata-rata pada usia 5 tahun adalah kira-kira 21 Kg terkait dengan
nutrisi anak.
b. Pertumbuhan anak ( tinggi badan 2 – 3 inchi per tahun ).
c. Perkembangan motorik pada anak. Terjadi peningkatan koordinasi otot
besar dan halus, sehingga mereka dapat berlari dengan baik, berjalan
naik dan turun dengan mudah dan belajar untuk melompat.
d. Kebiasaan makan, tidur dan eliminasi anak.

2. Perkembangan kognitif, yang perlu dikaji antara lain :


a. Pengetahuan anak yang berhubungan dengan pengalaman konkret.
b. Perkembangan moral usia anak terkait dengan pemahaman tentang
perilaku yang disadari secara sosial benar atau salah.
c. Perkembangan bahasa anak ternasuk kosakata, yang memungkinkan
penggabungan berbagai personifikasi yang berbeda.

3. Perkembangan psiko-sosial
a. Bagaimana hubungan anak dengan teman sebayanya.
b. Kaji permainan anak. Permainan anak prasekolah menjadi lebih sosial,
mereka berganti dari bermain paralel ke jenis asosiatif.

4. Persepsi kesehatan
Kita mengkaji persepsi kesehatan melalui keluarga, pola hidup mereka,
sensasi pada tubuh anak itu sendiri, dan kemampuan orang tua untuk
melakukan aktivitas sehari-hari yang biasanya membantu anak-anak
mengembangkan perilaku sehat mereka, berpakaian dan makan.

B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul adalah :
1. Resiko keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan;
a. Orang tua kurang pengetahuan
b. Dukungan orang tua yang tidak adekuat, tidak sesuai
c. Stressor yang berkaitan dengan sekolah
d. Keterbatasan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan sosial, bermain atau
pendidikan sekunder, akibat:
1) Kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi
2) Kurang stimulasi

38
3) Sedikitnya orang terdekat
4) Kehilangan teman sebaya.

2. Defisit pengetahuan orang tua berhubungan dengan kurangnya informasi


mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak.
3. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan hambatan bahasa

C. Intervensi keperawatan
1. Diagnosa : Resiko keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.
a. Ajarkan orang tua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan
kelompok usia.
b. Dengan cermat kaji tingkat perkembangan anak dalam seluruh area fungsi,
menggunakan alat pengkajian yang spesifik.
c. Dorong untuk perawatan diri: merias diri sendiri, memakai baju sendiri,
perawatan mulut, perawatan rambut.
d. Beri waktu bermain dengan orang lain yang sering dan dengan berbagai
mainan.
e. Beri waktu untuk bermain sendiri dan menggali lingkungan bermain.
f. Perintahkan untuk memberi respon verbal dan mengajukan permintaan.
g. Beri pujian untuk perilaku yang positif.

2. Diagnosa : Defisit pengetahuan orang tua berhubungan dengan kurangnya


informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak.
a. Ajarkan orang tua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan
kelompok usia.
b. Beri pendidikan kesehatan atau informasi mengenai pertumbuhan dan
perkembangan anak.

3. Diagnosa : Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan hambatan bahasa.


a. Bila ada perilaku antisosial pada anak, bantu untuk:
1) Menggambarkan perilaku yang memengaruhi sosialisasi.
2) Bermain peran sesuai respon.
3) Munculkan umpan balik sebaya untuk perilaku positif dan negatif.

b. Ajarkan orang tua untuk:


1) Menghindari ketidaksetujuan di depan anak
2) Membuat kontak mata sebelum memberi instruksi dan minta anak
untuk mengulangi apa yang dikatakan.

39