Anda di halaman 1dari 21

TEHNIK PEMASANGAN

PUNKSI SUPRAPUBIK

Oleh:
Akrom Fasich W

(010216A003)

Arif Puji Slamet

(010216A008)

Clara Tyas E

(010216A013)

Danar Khodariyanto

(010216A014)

Dewi Respati Arumsari

(010216A018)

Dwi Hendra Pratiwi

(010216A021)

Faridah Qurrota A

(010216A025)

Heru Setianto

(010216A028)

Kurniawan Prasetya

(010216A033)

Nurfitriana Agustina D

(010216A036)

Retno Purnaningsih

(010216A039)

Rhendy Anvar H

(010216A040)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO UNGARAN
2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti sering mendengar istilah urine. Bukan hanya
mendengar namun kita selalu menemui dan melakukan pembuangan urine atau metabolisme
tubuh melalui urine yang biasa kita sebut buang air kecil (BAK). Buang air kecil merupakan
suatu hal yang normal namun kenormalan tersebut dapat menjadi tidak normal apabila urine
yang kita keluarkan tidak seperti biasanya. Mengalami perubahan warna atau merasakan
nyeri saat melakukan proses buang air kecil. Jika hal itu terjadi maka yang perlu kita
lakukan adalah dengan cara melakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan urine merupakan pemeriksaan yang menggunakan bahan atau specimen
urine. Pemeriksaan pada urine dapat menentukan penyakit apa yang sedang diderita oleh
seseorang. Oleh sebab itu dalam makalah ini kami akan membahas bagaimana proses
pengumpulan urine.
B. Tujuan
1. Menguraikan dan menjelaskan cara pengambilan spesimen urine.
2. Menambah pengetahuan mengenai spesimen urine.
3. Memahami cara pengambilan spesimen urine yang benar pada pasien.
4. Memberikan intervensi terhadap penyakit yang dialami pasien.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana prosedur yang baik dan benar untuk pengambilan spesimen urine pada
klien ?
2. Bagaimana proses mengidentifikasi adanya kelainan yang dialami pasien melalui tes
urine?
3. Bagaimana memutuskan tindakan yang diberikan perawat kepada pasien penderita
kelainan?
D. Manfaat
1. Untuk mengetahui kelainan yang ada di dalam tubuh pasien.
2. Untuk mengetahui kandungan yang terdapat dalam urine.
3. Untuk mengetahui tindakan selanjutnya atas penyakit yang diderita pasien.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian.
Suatu tindakan mengambil sejumlah urine sebagai sampel untuk pemeriksaan
laboratorium. Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin
diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan
untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter
menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
B. Komposisi dan Fungsi Urine.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam
terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan
interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting
bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan
yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih
atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin
dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber
nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan
kompos.
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari
dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang "kotor". Hal ini berkaitan
dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi,
sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan
saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang
dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan zat yang
steril.
Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan
mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan mengeluarkan urin
berwarna kuning pekat atau cokelat. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi

melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan
ditemukan dalam urin orang yang sehat.
C. Pemeriksaan Urine.
Hasil pemeriksaan urine tidak hanya dapat memberikan informasi tentang ginjal dan
saluran kemih, tetapi juga mengenai faal berbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu,
pancreas, dsb. Namun, untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang akurat, diperlukan
specimen yang memenuhi syarat. Pemilihan jenis sampel urine, tehnik pengumpulan sampai
dengan pemeriksaan harus dilakukan dengan prosedur yang benar.

Jenis pengambilan sampel urine :


a. Urine sewaktu/urine acak (random)
Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan setiap saat dan tidak ditentukan secara
khusus. Mungkin sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin mengandung sel
darah putih, bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan. Jenis sampel ini cukup
baik untuk pemeriksaan rutin tanpa pendapat khusus.
b. Urine pagi
Pengumpulan sampel pada pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum makan atau
menelan cairan apapun. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan
yang lama, sehingga unsur-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Urine pagi baik
untuk pemeriksaan sedimen dan pemeriksaan rutin serta tes kehamilan berdasarkan
adanya HCG (human chorionic gonadothropin) dalam urine.
c. Urine tampung 24 jam
Urine tampung 24 jam adalah urine yang dikeluarkan selama 24 jam terus-menerus dan
dikumpulkan dalam satu wadah. Urine jenis ini biasanya digunakan untuk analisa
kuantitatif suatu zat dalam urine, misalnya ureum, kreatinin, natrium, dsb. Urine
dikumpulkan dalam suatu botol besar bervolume 1.5 liter dan biasanya dibubuhi bahan
pengawet, misalnya toluene.

Hal-hal yang perlu di infeksi dalam pemeriksaan urine:


1. Volume urine
Banyaknya urine yang dikeluarkan oleh ginjal dalam 24 jam. Dihitung dalam gelas ukur. Volume
urine normal : 1200-1500 ml/24 jam. Volume urine masingmasing orang bervariasi tergantung
pada luas permukaan tubuh, pemakaian cairan, dan kelembapan udara / penguapan.
2. Bau
Bau urine yang normal, tidak keras. Bau urine yang normal disebabkan dari sebagian oleh asamasam organik yang mudah menguap.
3. Buih
Buih pada urine normal berwarna putih. Jika urine mudah berbuih, menunjukkan bahwa urine
tersebut mengandung protein. Sedangkan jika urine memiliki buih yang berwarna kuning, hal
tersebut disebabkan oleh adanya pigmen empedu(bilirubin) dalam urine.
4. Warna urine
Warna urine ditentukan oleh besarnya dieresis. Makin besar dieresis, makin muda warna urine itu.
Biasanya warna urine normal berkisar antara kuning muda dan kuning tua. Warna itu disebabkan
oleh beberapa macam zat warna, terutama urochrom dan urobilin. Jika didapat warna abnormal
disebabkan oleh zat warna yang dalam keadaan normal pun ada, tetapi sekarang ada dalam jumlah
besar.
Kemungkinan adanya zat warna abnormal, berupa hasil metabolism abnormal, tetapi mungkin juga
berasal dari suatu jenis makanan atau obat-obatan. Beberapa keadaan warna urine mungkin baru
berubah setelah dibiarkan.
5. Kejernihan
Cara menguji kejernihan sama seperti menguji warna yaitu jernih, agak keruh, keruh atau sangat
keruh. Tidak semua macam kekeruhan bersifat abnormal. Urine normal pun akan menjadi keruh
jika dibiarkan atau didinginkan. Kekeruhan ringan disebut nubecula dan terjadi dari lender, sel-sel
epitel, dan leukosit yang lambat laun mengendap.

D. Proses Pengambilan Urine.


Persiapan alat

Botol yang telah disterilkan(tempat penampung spesimen)

Label spesimen

Sarung tangan sekali pakai

Larutan anti septik

Kapas sublimat

Formulir Laboratorium

Urinal (Pispot) jika klien tidak dapat berjalan

Baskom air hangat

Waslap

Sabun

Handuk

Prosedur plaksanaan
Beritahu klien tujuan prosedur pelaksanaan
Untuk klien yang dapat berjalan
-

Antar klien ke kamar kecil

Antar klien untuk membasuh dan mengelap daerah ginetal dan parineal dengan
sabun dan air

Untuk klien wanita


Bersihkan daerah parineal dari depan kebelakang dengan menggunakan kapas
desinfektan steril hanya sekali pakai
Untuk klien laki laki
-

Tarik perlahan kulit penis sehingga saluran penis tertarik

Dengan gerakan memutar, bersihkan saluran kencing. Gunakan steril hanya sekali
pakai kemudian buang. Bersihkan area beberapa inci dari penis

Untuk klien yang memerlukan bantuan


-

Siapkan klien dan peralatannya

Bersihkan daerah parineal dengan sabun kemudian keringkan

Posisikan klien setegak mungkin jika di perbolehkan

Buka peralatan, hati hati jangan sampai mengontaminasi tempat sampel

Pakai sarung tangan

Bersihkan saluran kencing seperti yang dijelaskan di atas

Ambil sampel dari klien yang tidak dapat berjalan atau ajarkan klien yang dapat
berjalan bagaimana mengambil sampel.
-

Perintah klien untuk BAK

Tempatkan wadah di tempat aliran urine dan ambil sampel, jangan sampai wadah
tersentuh penis

Ambil 30 60 ml urine di dalam wadah

Tutup wadah sentuh hanya dalam luar wadah

Jika perlu, bersihkan wadah dengan disinfektan

Untuk pengambilan urine aliran tengah anjurkan, klien kencing dulu kemudian
menahannya dan kencing kembali, lalu urine dimasukkan kedalam botol +_ 30 60
cc, kemudian klien di anjurkan mengeluarkan urine/ mengosongkan kandung kemih
secara keseluruhan.

Beri label pada botol dan bawa kelaboratorium


-

Pastikan pada label tertera informasi yang sesuai dan benar, letakkan pada botol

Usahakan agar spesiment dapat dibawa ke laboratorium secepatnya

Catat data yang bersangkutan


-

Catat data seperti warna,bau, konsistensi , dan kesulitan yang di alami klien selama
pengambilan sampel

Spesimen kulit periodik(urine tampung)


-

Dapatkan wadah spesimen dengan zat pengawet dari laboratorium , labeli wadah
dengan identitas klien, kapan pengumpulan dimulai dan selesai.

Guanakan tempat yang bersih untuk mengambil sampel

Simpan semua sampel dari setiap pengambilan sampel dalam wadah dan disimpan
wadah dari lemari pendingin. Jagalah sampel agar tidak terkontaminasi dengan
kertas toilet atau feses.

Pada akhir periode pengambilan, perintahkan klien untuk mengosongkan kantong


kemih dan simpan urine sebagai bagian spesimen ,

bawa semua sampel ke

laboratorium
-

Catat dalam dokumen sampel, waktu pengambilan dan waktu selesainya serta hasil
pengamatan lain terhadap urine

Pengambilan spesimen urine dari kateter


-

Gunakan sarung tangan sekali pakai

Jika tidak ada urine dalam kateter , jepit tabung penampung selama +_ 30 menit.hal
ini menyebabkan segera terkumpul di dalam kateter .

Bersihkan daerah penyuntikan jarum dengan menggunakan desinfektan. Daerah


penyuntikan ini sebaiknya agak jauh dari gelembung tabung untuk mencegah
tertusuknya gelembung tersebut. Dengan menyucihamakan jarum , mikroorganisme
akan menghilang pada pembukaan kateter. Jadi , cegahlah kontaminasi jarum dan
masuknya mikroorganisme dalam kateter

Masukkan jarum dengan sudut 30 450

Lepaskan penjepit kateter

Ambil sampel urin secukupnya ( 3cc untuk kultur urine dan 30cc untuk analisis
urine rutin)

Pindahkan urine kedalam wadah, pastikan jarum tidak menyenth luar wadah

Buang jarum dan suntikkan kedalam tempat penampungan

Tutup wadahnya

Lepaskan sarung tangan , dan taruh pada tempat yang disediakan

Beri label dan kirim kelaboratorium secepatnya untuk analisis atau taruh di lemari
pendingin

E.

Catat dan dokumentasikan hasil spesimen dan pengamatan spesimen.

Cara Pengambilan Sampel


Bahan urin untuk pemeriksaaan harus segar dan sebaiknya diambil pagi hari.
Pengambilan spesimen urine dilakukan oleh penderita sendiri (kecuali dalam keadaan yang
tidak memungkinkan). Sebelum pengambilan spesimen, penderita harus diberi penjelasan
tentang tata cara pengambilan yang benar. Bahan urin dapat diambil dengan cara punksi
suprapubik (suprapubic puncture=spp), dari kateter dan urin porsi tengah (midstream
urine). Bahan urin yang paling mudah diperoleh adalah urin porsi tengah yang ditampung
dalam wadah bermulut lebar dan steril.
Punksi Suprapubik.
Pengambilan urin dengan punksi suprapubik dilakukan pengambilan urin langsung dari
kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan jarum steril. Yang
penting pada punksi suprapubik ini adalah tindakan antisepsis yang baik pada daerah

yang akan ditusuk, anestesi lokal pada daerah yang akan ditusuk dan keadaan asepsis
harus selalu dijaga. Bila keadaan asepsis baik, maka bakteri apapun dan berapapun
jumlah koloni yang tumbuh pada biakan, dapat dipastikan merupakan penyebab ISK.
Kateter.
Bahan urin dapat diambil dari kateter dengan jarum dan semprit yang steril. Pada cara
ini juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang akan ditusuk dan keadaan
asepsis harus elalu dijaga. Tempat penusukan kateter sebaiknya sedekat mungkin
dengan ujung kateter yang berada di dalam kandung kemih (ujung distal). Penilaian urin
yang diperoleh dari kateter sama dengan hasil biakan urin yang diperoleh dari punksi
suprapubik.

Urin Porsi Tengah.


Urin porsi tengah sebagai sampel pemeriksaan urinalisis merupakan teknik pengambilan
yang paling sering dilakukan dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada penderita.
Akan tetapi resiko kontaminasi akibat kesalahan pengambilan cukup besar. Tidak boleh
menggunakan antiseptik untuk persiapan pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan
menyebabkan kultur false-negatif.
Cara pengambilan dan penampungan urine porsi tengah pada wanita :
1. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah vagina dan muara
uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril dibasahi
air atau salin hangat dan sepotong lagi dibiarkan dalam keadaan kering. Jangan
memakai larutan antiseptik untuk membersihkan daerah tersebut. Siapkan pula wadah
steril dan jangan buka tutupnya sebelum pembersihan daerah vagina selesai.
2. Dengan 2 jari pisahkan kedua labia dan bersihkan daerah vagina dengan potongan kasa
steril yang mengandung sabun. Arah pembersihan dari depan ke belakang. Kemudian
buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah.
3. Bilas daerah tersebut dari arah depan ke belakang dengan potongan kasa yang dibasahi
dengan air atau salin hangat. Selama pembilasan tetap pisahkan kedua labia dengan 2
jari dan jangan biarkan labia menyentuh muara uretra. Lakukan pembilasan sekali lagi,
kemudian keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril yang kering. Buang
kasa yang telah dipakai ke tempat sampah.

4. Dengan tetap memisahkan kedua labia, mulailah berkemih. Buang beberapa mililiter
urin yang mula-mula keluar. Kemudian tampung aliran urin selanjutnya ke dalam
wadah steril sampai kurang lebih sepertiga atau setengah wadah terisi.
5. Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan dinding luar
wadah dari urin yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita pada wadah tersebut dan
kirim segera ke laboratorium.

Cara pengambilan dan penampungan urine porsi tengah pada pria :


1. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah penis dan muara
uretra. Satu potong kasa steril dibasahi dengan air sabun, dua potong kasa steril dibasahi
dengan air sabun, dua potong kasa steril dibasahi dengan air atau salin hangat dan
sepotong lagi dibiarkan dalam keadaan kering. Jangan memakai larutan antiseptik untuk
membersihkan daerah tersebut. Siapkan pula wadah steril dan jangan buka tutupnya
sebelum pembersihan selesai.
2. Tarik prepusium ke belakang dengan satu tangan dan bersihkan daerah ujung penis
dengan kasa yang dibasahi air sabun. Buang kasa yang telah dipakai ke tempat sampah.
3. Bilas ujung penis dengan kasa yang dibasahi air atau salin hangat. Ulangi sekali lagi,
lalu keringkan daerah tersebut dengan potongan kasa steril yang kering. Buang kasa
yang telah dipakai ke dalam tempat sampah.
4. Dengan tetap menahan prepusium ke belakang, mulailah berkemih. Buang beberapa
mililiter urin yang keluar, kemudian tampung urin yang keluar berikutnya ke dalam
wadah steril sampai terisi sepertiga sampai setengahnya.
5. Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapat dan bersihkan dinding luar
wadah dari urin yang tertumpah. Tuliskan identitas penderita pada wadah tersebut dan
kirim segera ke laboratorium.

Bahan urin harus segera dikirim ke laboratorium, karena penundaan akan menyebabkan
bakteri yang terdapat dalam urin berkembang biak dan penghitungan koloni yang tumbuh
pada biakan menunjukkan jumlah bakteri sebenarnya yang terdapat dalam urin pada saat
pengambilan. Sampel harus diterima maksimun 1 jam setelah penampungan.2 Sampel harus
sudah diperiksa dalam waktu 2 jam. Setiap sampel yang diterima lebih dari 2 jam setelah

pengambilan tanpa bukti telah disimpan dalam kulkas, seharusnya tidak dikultur dan
sebaiknya dimintakan sampel baru.3 Bila pengiriman terpaksa ditunda, bahan urin harus
disimpan pada suhu 40 C selama tidak lebih dari 24 jam.

NO
I

LANGKAH KERJA
PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

II

Urinal
Pengalas
Tissu
Sampiran
Baskom
Sabun

A. TAHAP PRA INTERAKSI


1. Periksa catatan keperawatan
2. Kaji kebutuhan pasien
3. Ekplorasi dan falidasi perasaan pasien
B. TAHAP ORIENTASI
1.
2.
3.
4.

Beri salam dan panggil pasien dengan namanya


Jelaskan pada pasien tentang tujuan dan prosedur tindakan yang akan
dilakukan
Berikan kesempatan kepada pasien atau keluarga untuk bertanya sebelum
tindakan dimulai
Tanya keluhan dan kaji gejala spesifik yang ada pada pasien, lalu pasang
sampiran

C. PROSEDUR PELAKSANAAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Cuci tangan
Jelakan prosedur pada pasien
Pasang sampiran, tutup kelambu atau pintu
Pasang alas urinal dibawah glutea
Lepas pakaian bawah pasien
Pasang urinal dibawah glutea/pinggul atau diantara kedua paha
Anjurkan pasien untuk berkemih
Setelah selesai rapikan alat
Cuci tangan, catat warna dan jumlah produksi urine

D. TAHAP TERMINASI
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tanyakan perasaan pasien setelah dilakukan tindakan


Simpulkan hasil prosedur yang dilakukan
Rapikan peralatan dan cuci tangan
Catat tanggal dan jam defikasi serta karakteristiknya
Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan serta hasilnya
Lakukan observasi

NILAI
1

TEHNIK ASPIRASI SUPRAPUBIK

A. Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Mahasiswa mampu melakukan aspirasi suprapubik secara baik dan benar
B. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah melakukan latihan keterampilan ini, mahasiswa :
1. Dapat melakukan persiapan penderita dengan benar
2. Dapat melakukan persiapan alat/bahan dengan benar
3. Dapat memberikan penjelasan pada penderita atau keluarganya tentang apa yang akan
dilakukan, alat yang dipakai, bagaimana melakukan, apa manfaatnya, serta jaminan
atas aspek keamananan dan kerahasiaan data penderita.
4. Dapat menjelaskan kepada penderita atau keluarganya tentang hak-hak penderita,
misalnya tentang hak penderita untuk menolak tindakan yang akan dilakukan tanpa
kehilangan hak untuk mendapat pelayanan.
5. Dapat melakukan cuci tangan biasa dan asepsis dengan benar
6. Dapat memasang sarung tangan steril dengan benar, dan melepaskannya setelah
pekerjaan selesai.
7. Dapat melakukan teknik aspirasi supra pubik yang benar

Pengertian
Aspirasi supra pubik adalah tehnik pengambilan sampel urin melalui aspirasi kulit
abdomen pada daerah suprapubik. Cara ini dilakukan bila pengambilan sampel urin untuk
pemeriksaan biakan tidak dapat dilakukan secara langsung ataupun melalui kateterisasi.
Indikasi
1. Untuk diagnosis ISK pada anak jika spesimen urin dari kateter steril tidak dapat
dilakukan atau sampel urin dari kateter tidak dapat digunakan karena kontaminasi.
2. Pada pasien dengan trauma uretra luas yang merupakan kontra indikasi pemasangan
kateter via uretra
3. Untuk pemeriksaan urin/unrinalisis dan biakan urin pada neonatus dan anak yang tidak
mampu menampung urin secara pancar tengah.
4. Sumbatan uretra

5. Fimosis
6. Uretritis dan parauretritis
Kontra Indikasi
1. Kandung kencing yang kecil atau yang tidak teraba
2. Sikatriks karena operasi lower abdomen sebelumnya
3. Tumor kandung kencing yang belum diketahu
Acuan
Persiapan :
Bersihkan daerah tempat penusukan sekitar suprapubis. Tutup daerah suprapubis
dengan duk sterile setelah dilakukan desinfeksi pada daerah tersebut dan sekitarnya.
Prosedur :
Tentukan tempat punksi pada 2-3 cm diatas simpisis pubis dewasa yang baring
terlentang. Pastikan kandung kemih berisi penuh. Lakukan tindakan asepsis pada daerah
supra pubis dan lakukan anastesi lokal pada tempat yg telah steril. Lakukan aspirasi
sedalam 3 cm dengan jarum 14 G dengan posisi jarum membentuk sudut 10-200.
Perlahan jarum dimasukkan sambil melakukan aspirasi. Jika urin sudah keluar, tusukan
dihentikan. Bila jumlah urin cukup, jarum dicabut dan tekan tempat tusukan dengan kasa
steril. Masukkan urin dalam botol steril.
Perhatian :
Pada saat tindakan tersebut dilakukan, terpasang urine bag collector untuk mengantisipasi
terjadi miksi spontan
Alat dan Bahan :
-

Sarung tangan steril

Duk bolong steril

Jarum 14 G untuk dewasa

Jarum suntik steril 10 cc

Anastesi lokal dengan lidokain 1%

Botol steril penampung urin

Baju operasi steril

Deskripsi kegiatan :
Kegiatan
Waktu
1. Pengantar
2 menit
2. Bermain Peran Tanya 30 menit
& Jawab

3. Praktek bermain peran 100 menit


dengan Umpan Balik

4. Curah Pendapat/
Diskusi

Total waktu

15 menit

150 menit

Deskripsi
Pengantar
1. Mengatur posisi duduk mahasiswa
2. Dua orang dosen memberikan contoh bagaimana
cara melakukan aspirasi supra pubis. Mahasiswa
menyimak / mengamati peragaan dengan
menggunakan Penuntun Belajar.
3. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
bertanya dan dosen memberikan penjelasan tentang
aspek-aspek yang penting
1. Mahasiswa dibagi menjadi pasangan-pasangan.
Diperlukan seorang Instruktur untuk mengamati
setiap langkah yang dilakukan oleh setiap
pasangan.
2. Setiap pasangan berpraktek melaku-kan langkahlangkah melakukan aspirasi supra pubis secara
serentak
3. Instruktur berkeliling diantara maha-siswa dan
melakukan supervisi menggunakan ceklis
4. Instruktur memberikan pertanyaan dan umpan
balik kepada setiap pasangan
1. Curah Pendapat/Diskusi : Apa yang dirasakan
mudah? Apa yang sulit? Menanyakan bagaimana
perasaan mahasiswa yang pada saat melakukan
tindakan aspirasi suprapubis. Apa yang dapat
dilakukan oleh dokter agar pasien merasa lebih
nyaman?
2. Instruktur membuat kesimpulan dengan menjawab
pertanyaan terakhir dan memperjelas hal-hal yang
masih belum dimengerti

PENUNTUN PEMBELAJARAN
TEHNIK ASPIRASI SUPRAPUBIS
(digunakan oleh Peserta)
Beri nilai untuk setiap langkah klinik dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
1. Perlu perbaikan: langkah-langkah tidak dilakukan dengan benar dan atau tidak sesuai
urutannya, atau ada langkah yang tidak dilakukan.
2. Mampu: Langkah-langkah dilakukan dengan benar dan sesuai dengan urutannya, tetapi
tidak efisisen
3. Mahir: Langkah-langkah dilakukan dengan benar, sesuai dengan urutan daan efisien.
TS Tidak Sesuai: Langkah tidak perlu dilakukan karena tidak sesuai dengan keadaan.

NO.
1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

PENUNTUN PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN TEHNIK ASPIRASI SUPRAPUBIS
LANGKAH / KEGIATAN
ORIENTASI
Sapalah klien atau keluarganya dengan ramah dan perkenalkan diri anda, serta
tanyakan keadaannya.
Berikan informasi umum pada klien atau keluarganya tentang tindakan aspirasi supra
pubis, tujuan dan manfaat aspirasi suprapubis untuk keadaan klien.
Berikan penjelasan dengan bahasa awam pada klien atau keluarganya tentang:
- jenis alat yang akan dipakai,
- dimana tempat akan dilakukan aspirasi
- bagaimana cara aspirasi suprapubis
- jelaskan kemungkinan risiko dalam tindakan, tetapi beri jaminan bahwa bahaya itu
kemungkinannya sangat kecil, karena anda sudah mahir melakukan dan anda
memakai alat yang tepat dan steril.
Berikan jaminan pada klien atau keluarganya tentang kerahasiaan yang diperlukan
klien
Jelaskan tentang hak-hak klien pada klien atau keluarganya, misalnya tentang hak
untuk menolak tindakan aspirasi suprapubis
Mintalah kesediaan klien untuk dilakukan tindakan aspirasi suprapubis
MELAKUKAN PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
Periksa dan letakkanlah semua alat dan bahan pada tempatnya
MENYIAPKAN PENDERITA
Sebelum tindakan dilakukan, sebaiknya melihat terlebih dahulu darah rutin (trombosit,
PT, PTT, waktu perdarahan)
Sebelum tindakan mintalah pasien untuk minum air yang banyak
Pasien berbaring dengan posisi terlentang,
Pastikan kandung kemih berisi penuh dengan cara melakukan perkusi di daerah supra
pubis atau dengan bantuan USG bila tersedia.
Pasanglah urine bag collector untuk mengantisipasi miksi spontan

KASUS
2
3

13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.

23.
24.
25.

26.

27.
28.
29.

MELAKUKAN PERSIAPAN DIRI


Lakukanlah cuci tangan asepsis
Pasanglah sarung tangan steril pada kedua tangan
Pemeriksa berdiri di samping kanan pasien
MELAKUKAN ASPIRASI SUPRAPUBIS
Bersihkan dan lakukanlah desinfeksi daerah supra pubis dengan betadine.
Tutuplah daerah sekitar suprapubis dengan doek steril sehingga daerah yang terbuka
hanyalah yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan aspirasi suprapubis.
Tentukan titik tempat melakukan punksi yaitu pada garis tengah 2-3 cm diatas simpisis
pubis
Bila perlu dilakukan anastesi lokal di daerah tindakan dengan krim anastesi topikal.
Tunggulah kira-kira 5 menit, agar penderita tidak merasa sakit ketika tindakan aspirasi.
Dengan menggunakan jarum no 14 G dilakukan aspirasi sedalam 3 cm dengan posisi
jarum membentuk sudut 10 20 dari garis tegak lurus.
Sewaktu jarum suntik mencapai jaringan subkutan, plunger spoit ditarik untuk
membuat tekanan negatif
Perlahan-lahan masukkan jarum lebih dalam sambil melakukan aspirasi (jarum masuk
ke dalam kandung kemih ditandai dengan keluarnya urin ke dalam spuit). Bila urin
sudah keluar, tusukan dihentikan.
Setelah jumlah urin cukup, jarum dicabut sambil menekan tempat tusukan dengan kasa
steril.
Bukalah doek yang terpasang
Urin yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam botol steril untuk pemeriksaan
urin.
SETELAH PEMASANGAN SELESAI
Lakukanlah dekontaminasi sarung yangan dengan memasukkan tangan yang masih
bersarung tangan ke dalam baskom berisi larutan khlorin 0,5%, gosokkan kedua tangan
untuk membersihkan bercak-bercak cairan/duh tubuh yang menempel pada sarung
tangan.
Lepaskanlah sarung tangan dan masukkan ke dalam tempat sampah medis
Lakukan cuci tangan asepsis
Lakukanlah perpisahan dengan pasien

BAB 3
PENUTUP

A. Kesimpulan.
Dengan menggunakan prosedur baik dan benar serta pengetahuan tentang pengambilan
spesimen urine, kita dapat mengetahui kandungan dan kelainan yang terdapat dalam urine
sehingga kita dapat lebih cepat mencegah dan menanggulanginya.
Pada proses pengambilan spesimen urine harus mempersiapkan alat-alatnya dengan
lengkap dan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan bila pasien sadar
serta mengetahui dengan baik tentang tata cara pelaksanaannya.
B. Saran
Hal-hal yang penting dilakukan sebelum dan sesudah pengambilan spesimen urine:
1. Cuci tangan dengan baik menggunakan air hangat, kemudian bersihkan dengan sabun
sebelum dan sesudah mengambil sampel urine.
2. Lakukan tata cara pengambilan urine dengan baik dan benar.
3. Gunakan sarung tangan jika menyentuh urine orang lain.
4. Gunakan plastik bening dan bersih untuk membawa sampel ke laboratorium.
5. Spesimen urine harus segera dibawa ke laboratorium

DAFTAR PUSTAKA

Uliyah, Musrifatul dan alimul, Aziz.2008.Keterampilan Dasar Praktik Klinik.Jakarta: penerbit


salemba medika

Kusyati Eni. 2006.Keterampilan dan Prosedur Laboratorium, Cetakan Pertama.Jakarta : EGC.

Murwani Arita. 2009. Keterampilan Dasar Praktek Klinik Keperawatan, Cetakan Kedua.
Yogyakarta : Fitramaya.