Anda di halaman 1dari 19

mengapa nelayan miskin?

MENGAPA NELAYAN
MISKIN

Disusun Oleh:

Didik Ryan Mahribi

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2011

T
erdapat 6 alasan utama mengapa sektor kelautan dan perikanan memiliki potensi untuk dibangun.
Pertama, Indonesia memiliki sumberdaya laut yang besar baik ditinjau dari kuantitas maupun
diversitas. Kedua, Indonesia memiliki daya saing (competitive advantage) yang tinggi dan sektor
kelautan dan perikanan sebagaimana dicerminkan dari bahan baku yang dimilikinya serta
produksi yang dihasilkannya. Ketiga, industri di sektor kelautan dan perikanan memiliki
keterkaitan (backward and forward linkage) yang kuat dengan industri-industri lainnya.
Keempat, sumberdaya di sektor kelautan dan perikanan merupakan sumberdaya yang selalu
dapat diperbaharui (renewable resource) sehingga bertahan dalam jangka panjang asal diikuti
dengan pengelolaan yang arif. Kelima, investasi di sektor kelautan dan perikanan memiliki
efisiensi yang relative tinggi sebagaimana dicermainkan dalam Incremental Capital Output Ratio
(ICOR) yang rendah dan memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi pula. Keenam, pada
umumnya industri perikanan berbasis sumberdaya lokal dengan input rupiah namun dapat
menghasilkan output dalam bentuk dolar.
Sejalan dengan misi Pembangunan Kelautan dan Perikanan yaitu socialequity, economic growth,
environmental sustainability, peningkatan kecerdasan dan kesehatan bangsa melaui peningkatan
konsumsi ikan, peningkatan peran laut sebagai pemersatu bangsa dan peningkatan budaya bahari
bangsa Indonesia.
Manusia yang memanfaatkan sumberdaya ikan memiliki emosi, strategi, intrik, taktik, tujuan,
visi, kondisi sosial budaya, kondisi ekonomi, pengalaman, keinginan, dan perasaan yang
semuanya secara bersama-sama menentukan sikap mereka dalam memanfaatkan sumberdaya.
Namun demikian komitmen pendayagunaan sumberdaya masih kurang. Hal ini dapat dilihat
dalam kenyataannya bahwa nelayan selaku aktor utama disektor ini masih berada dibawah garis
kemiskinan. Dalam mempersiapkan sektor perikanan menghadapi perdagangan bebas dunia.
Dengan menggunakan Problem Tree Analysis (PTA) akan dicoba menelusuri faktor-faktor yang
menyebabkan kehidupan nelayan masih berada dibawah garis kemiskinan.

Pendekatan Masalah
Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam penangkapan ikan/binatang
air lainnya/tanaman air. Dari status penguasaan kapital, nelayan dapat dibagi menjadi nelayan
tradisional dan nelayan buruh. Nelayan tradisional secara umum merupakan kelompok sosial

yang paling terpuruk tingkat kesejahteraannya, sementara kondisi ini sangat dekat dengan
tekanan ekonomi, pendapatan yang tidak menentu sehingga menyebabkan rendahnya perolehan
rumah tangga dari aktivitas sebagai nelayan. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor baik
positif maupun negatif.

Keterbatasan modal untuk mengembangkan usaha.


Hal ini disebabkan oleh tanggungan keluarga yang tinggi. Selain biaya kehidupan
nelayan yang banyak. Hal ini diperburuk lagi dengan jumlah anak yang mereka miliki dan
sumber pendapatan yang diperoleh dari satu orang. Keterbatasan modal dalam mengembangkan
usahanya dikarenakan tidak dimilikinya akses ke pelayanan kredit. Selain kurangnya informasi
mengenai pengajuan kredit juga dikarenakan ketidakmampuan nelayan dalam memenuhi
persyaratan dan ketentuan yang diajukan oleh pihak pemberi kredit.

Tingkat pendidikan rendah,


Tingkat pendidikan sumberdaya manusia yang rendah merupakan salah satu permasalahan yang
juga dapat menyebabkan nilai tambah mengapa nelayan miskin. Biaya pendidikan yang tinggi,
lokasi sekolah yang jauh dari tempat tinggal merupakan alasan bagi nelayan untuk memilih tidak
bersekolah. Selain itu nelayan merasa tidak memerlukan pendidikan formal karena sebagian
besar waktunya lebih banyak dihabiskan di laut.

Pendapatan yang rendah.


Fakor-faktor yang menyebabkan pendapatan nelayan rendah antara lain adalah unit penangkapan
yang terbatas yang dikarenakan penguasaan teknologi yang rendah, skala usaha/modal yang
dimiliki kecil dan masih bersifat tradisional, kemampuan nelayan dalam memanfaatkan peluang
usaha dan mengatasi tantangan lingkungan yang rendah, dikarenakan masyarakat yang masih
bergantung pada musim penangkapan, dalam penentuan fishing ground nelayan yang
mempunyai izin untuk melakukan operasi di tempat tersebut akan memperoleh hasil yang
banyak, tetapi bagi nelayan yang tidak memiliki akses ke lokasi yang produktif maka hasil
tangkapan tersebut tidak maksimal dan biaya operasi tinggi. Eksternalitas teknologi terjadi
karena nelayan cenderung melakukan penangkapan ikan pada lokasi yang sama atau setidaknya
saling berdekatan satu dengan yang lain sehingga terjadi pertemuan antara alat tangkap ikan
yang digunakan yang menjurus pada kerusakan atau perusakan. Faktor lainnya adalah law
enforcement yang tidak berpihak kepada nelayan, diantaranya terjadinya ego sektoral, regulasi
yang tidak mendukung, terbatasnya peran kelembagaan baik pemerintah maupun non
pemerintah, penetapan bahan baku (ikan) yang kurang adil, belum ditetapkannya undang-undang

anti monopoli, pembagian keuntungan yang tidak proporsional dan kebijakan ekonomi secara
mikro yang lebih banyak memberikan kerugian di pihak nelayan dibandingkan memberikan
keuntungan. Fasilitas kredit yang diberikan untuk membantu kelancaran usaha lebih dikenal
dengan kredit produktif yaitu kredit yang diberikan perbankan guna membantu para pengusaha
untuk memperlancar dan meningkatkan kegiatan usahanya yang terdiri dari kredit investasi dan
kredit modal kerja.

Perilaku ekonomi rumah tangga nelayan,


Beberapa alasan yang menjadikan perilaku ekonomi nelayan yang buruk adalah budaya boros,
dimana pendapatan hari ini dihabiskan pada hari yang sama pula, tidak ada kesadaran untuk
memiliki tabungan, dan pola konsumsi yang cenderung tidak teratur.

Tidak ada alternatif livelihood,


Dengan segala bentuk keterbatasannya sehingga nelayan tidak mampu memiliki mata
pencaharian lain, keterbatasan tersebut antara lain tidak memiliki keahlian lain selain menjadi
nelayan, terbatasnya peluang kerja bagi mereka dan kemampuan melihat peluang kerja yang
rendah.

Perencanaan secara regional yang tidak mendukung,


Dalam menetapkan kebijakannya pemerintah hampir tidak memperhatikan adanya perbedaan
mendasar secara demografi dan geografi, sehingga kebijakan tersebut tidak dapat dilaksanakan
dengan baik pada daerah-daerah tertentu dan tidak disosialisasikan seperti dalam kebijakan
mengenai pengelolaan hasil laut ke masyarakat nelayan serta tidak adanya pembinaan mengenai
teknologi manajemen industri. Faktor-faktor penyebab mengapa nelayan miskin walaupun
mereka merupakan aktor utama dalam operasioanal yang diuraikan dengan menggunakan
problem tree analysis dapat diketahui bahwa persoalan yang dihadapi bersifat kompleks selain
disebabkan oleh sifat ikan yang cepat membusuk, produksi yang berfluktuasi, akses terhadap
modal masih kurang, penanganan pasca panen belum sempurna, teknologi masih sederhana,
lokasi terpencar, dan tingkat pendidikan nelayan yang rendah serta ada keterikatan dengan
pelepas uang. Sebagai akibatnya kualitas produk yang dihasilkan rendah dengan demikian harga
jual produk juga menjadi rendah.
Mengapa rakyat indonesia yang miskin banyak dr kaum petani dan nelayan ?

Mungkinkah karena beras dan gula import lebih murah. sehingga beras dan gula
serta ikan mereka tidak laku karena lebih mahal.
Ataukah ada yang salah mengenai kebijakan orang- orang atas.
Best AnswerAsker's Choice

Sartin answered 5 years ago


Jelas ada yang salah,bukan hanyakebijakan tapi rujukan dalam mengambil
kebijakan suga salah,para penguasa rujukannya adalah "DEMOKRASI"yang lahir dari
Idiologi SEKULER KAPITALIS.Idiologi ini sampai kapan-pun tidak akanmemihak
kepada rakyat kecil,sebab yang menguasai peraturan adalah orang-orang Kapitalis
yang lebih mementingkan diri sendiri dari pada orang lain.
Demokrasi yang diusung adalah hanya tampilan Muka saja yang manis nan manja
sehingga membuat orang terpesona,akan tetapi dibelakangnya adalah berdiri
monster yang siap menerkam anda(orang yang lemah)alias rakyat kecil.
Monster itu adalah Kapitalisme dan Liberalisme.makanya banyak manusia tertipu
dengan tampilan manis Demokrasi itu.Demokrasi hidupnya tidak bisa
mandiri,disandera oleh Tuan Kapit dan Tuan Liber,Demokrasi Dipaksa harus selalu
berpenampilan manis sebagai perangkap publik,setelah Demokrasi dipilih yang
bekerja adalah Tuan-Tuan yang dua tadi.
Source:
Buku'DEMOKRASI TERSANDERA"
Kamis, 19 Agustus 2004 | 14:08 WIB
Nelayan Miskin Dapat Ditekan Hingga 15 Persen

Follow

Berita Terkait
Ini Tip Jusuf Kalla untuk Kurangi Kemiskinan dan Pengangguran
Rusia Diajak Bangun Jalur Kereta
Menteri Fadel Ngotot Tak Mau Lepas Garam Impor
Garamnya Disegel, Sumatraco Terancam Tak Berproduksi
Kualitas Rumput Laut Sulawesi Selatan Kalah Bersaing

Topik
#Kemiskinan
#Departemen Kelautan dan Perikanan
Besar Kecil Normal

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri menyatakan,


dalam kurun waktu empat tahun jumlah nelayan miskin dapat ditekan hingga 15 persen. Hal ini
diungkapkannya kepada wartawan usai seminar nasional pembangunan ekonomi berbasis
sumber daya alam di Jakarta, Kamis (19/8).
Meskipun secara makroekonomi terjadi peningkatan volume produksi dan jasa, nilai ekspor, dan
sumbangan bidang kelautan terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, namun kondisi
sebagian besar nelayan masih terjebak dalam kemiskinan. Sebelumnya, jumlah nelayan miskin
diperkirakan mencapai 70 persen. Saat ini, angka tersebut bisa ditekan menjadi 55 persen.
Untuk itu, menurut Rokhmin, format pembangunan kelautan dan perikanan perlu mengalami
perbaikan agar dapat menjadi tulang punggung pembangunan nasional untuk keluar dari krisis
ekonomi. Untuk mengurangi kemiskinan tersebut, lanjut Rokhmin, langkah yang harus ditempuh
oleh pemerintahan mendatang adalah dengan pemerataan hasil pembangunan. Langkah ini dapat
ditempuh antara lain dengan pola kemitraan yang dapat mengharmoniskan usaha besar dan usaha
kecil.
Usaha terobosan berikutnya antara lain dengan pembentukan unit bisnis perikanan terpadu di
setiap pelabuhan yang memungkinkan nelayan memperoleh barang-barang kebutuhannya dengan
lebih murah. "Semua jurus yang memungkinkan nelayan bisa makmur sudah kami terapkan,
cuma wilayah Indonesia sangat luas sehingga banyak nelayan yang belum tersentuh," tambah
Rokhmin.
Sumbangan subsektor perikanan terhadap PDB pada 1998 hanya 2 persen. Pada 2002 meningkat
hingga 3 persen. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian Badan Pusat Statistik, pertumbuhan
ekonomi subsektor perikanan pada triwulan kedua tahun 2004 juga mengalami pertumbuhan
sebesar 2,88 persen.
Mawar Kusuma - Tempo News Room

Mengurai Akar Kemiskinan Nelayan


Dimuat di Media Patriot Indonesia, Edisi 1-15 Desember 2013

Ketertinggalan daerah satelit diakibatkan oleh ketidak pedulian negara dan atau pemerintah
pusat sehingga penduduk di pedesaan dibiarkan dengan permasalahannya sendiri. (K.P.
Clements, dalam Sabian, 2005:44)
Kamis (21/11) ribuan komunitas nelayan, petambak, dan lembaga swadaya masyarakat berunjuk
rasa di Jakarta, Indramayu (Jawa Barat), Jepara (Jawa Tengah), Pangkal Pinang (Bangka
Belitung), Langkat (Sumatera), Bau-Bau (Sulawesi Tenggara) dan Manado (Sulawesi Utara)
dalam rangka peringatan Hari Perikanan Sedunia. Mereka, antara lain, mendesak pemerintah
untuk membuat kebijakan yang berpihak dan menyejahterakan pelaku perikanan di Indonesia.
Sejahtera itu hak! tuntut mereka kepada petinggi Negeri Bahari ini.
Dengan luas laut 5,8 juta kilometer persegi dan garis pantai sepanjang 104.000 kilometer atau
terpanjang kedua di dunia, laut ternyata belum mampu menyejahterakan. Nelayan Indonesia
masih tergolong ke dalam kelompok masyarakat paling miskin dengan pendapatan per kapita per
bulan sekitar 7-10 dollar AS[1]. Kondisi nelayan yang miskin saat ini bukan hanya terletak pada
persoalan teknologi alat tangkap, ketersediaan sumberdaya dan pemerataan wilayah
penangkapan, namun ada faktor lain yang menjadi perangkap dalam kebiasaan yang terpola lama
dalam kehidupan masyarakat nelayan.
Perangkap Pranata Sosial
Masyarakat nelayan berbeda dari masyarakat pada umumnya. Pendapat ini didasarkan pada
realitas sosial bahwa masyarakat nelayan memiliki pola-pola kebudayaan yang berbeda dari
masyarakat lain sebagai hasil dari interaksi mereka dengan lingkungan beserta sumberdaya yang
ada di dalamnya. Pola-pola kebudayaan ini menjadi refrensi perilaku masyarakat nelayan dalam
menjalani kehidupan sehari-hari.
Dua pranata strategis yang dianggap penting untuk memahami kehidupan sosial ekonomi
masyarakat nelayan adalah pranata penangkapan dan pemasaran ikan. Kedua pranata sosial
ekonomi tersebut dipandang bersifat eksploitatif sehingga menjadi sumber potensial timbulnya
kemiskinan struktural di kalangan masyarakat nelayan (lihat Masyhuri, 1999)[2].
Keberadaan kedua pranata tersebut terbentuk karena kebutuhan kontekstual atau pilihan rasional
masyarakat nelayan. Mereka jarang mempersoalkan keberadaan pranata tersebut secara negatif.
Mereka menyadari bahwa sistem pembagian hasil atau pemasaran hasil tangkapan, yang
menempatkan para pemilik perahu atau pedagang perantara (tengkulak) memperoleh keuntungan
yang lebih besar dari kegiatan tersebut, dipandang sebagai kewajaran. Pembagian tersebut
dianggap sesuai dengan kontribusi, biaya, dan risiko ekonomi yang harus ditanggung dalam
proses produksi dan pemasaran hasil tangkapan. Persepsi demikian terbentuk karena faktor
keterpaksaan atau karena tidak ada pilihan lain yang harus dilakukan nelayan. Kalaupun diantara

mereka ada yang mengeluh, mereka tidak cukup daya untuk mengubah pranata tersebut agar
lebih memihak pada kepentingan nelayan, khususnya nelayan buruh.
Struktur sosial budaya yang tercermin dalam operasional kedua pranata di atas memiliki
kontribusi besar dalam membentuk corak pelapisan sosial ekonomi secara umum dalam
kehidupan masyarakat nelayan. Mereka yang menempati lapisan sosial atas adalah para pemilik
perahu dan pedagang ikan yang sukses; lapisan tengah ditempati juragan atau pemimpin awak
perahu; lapisan terbawah ditempati nelayan buruh. Mereka yang menempati lapisan atas hanya
sebagian kecil dari masyarakat nelayan, sedangkan sebagian besar warga masyarakat nelayan
berada pada lapisan terbawah. Pelapisan sosial ekonomi ini mencerminkan bahwa penguasaaan
alat-alat produksi perikanan, akses modal, dan akses pasar hanya menjadi milik sebagian kecil
masyarakat, yaitu mereka yang berada pada lapisan atas. Keadaan ini sangat potensial untuk
melestarikan kemiskinan dan kesenjangan sosial di masyarakat nelayan dan mewariskannya dari
generasi ke generasi.
Peran Perempuan
Mobilitas vertikal nelayan dapat terjadi berkat dukungan para istri mereka yang memiliki
kecakapan berdagang (lihat Kusnadi, 2001 dan Suadi, 2012)[3]. Keterlibatan istri dalam kegiatan
perdagangan sangat terbuka lebar karena sistem pembagian kerja secara seksual
memungkinkannya dan sesuai dengan situasi geososial masyarakat nelayan. Dalam sistem
pembagian kerja ini, nelayan bertanggung jawab terhadap urusan menangkap ikan (ranah laut),
sedangkan kaum perempuan bertanggung jawab terhadap urusan domestik dan publik (ranah
darat).
Sistem pembagian kerja yang telah memberikan tempat layak bagi istri nelayan dalam mengatasi
persoalan kehidupan di ranah darat, merupakan katup pengaman untuk mengantisipasi pranatapranata sosial ekonomi yang dianggap pihak lain merugikan kehidupan nelayan. Kaum
perempuan terlibat penuh dalam kegiatan pranata-pranata sosial ekonomi yang mereka bentuk
seperti arisan, kegiatan pengajian berdimensi kepentingan ekonomi, dan simpan pinjam serta
jaringan sosial yang bisa mereka manfaatkan untuk menunjang kelangsungan hidup keluarga.
Kaum perempuan di desa-desa nelayan tidak sekedar membantu suami mencari nafkah, tetapi
mereka sangat menentukan kelangsungan hidup keluarga. Dari sisi tanggung jawab sosial
ekonomi keluarga ini, suami dan istri nelayan berposisi sejajar. Kaum perempuan dan pranatapranata sosial yang ada merupakan potensi pembangunan masyarakat nelayan yang bisa
dieksplorasi untuk mengatasi kemiskinan dan kesulitan ekonomi lainnya.
Diversifikasi Sumber Pendapatan

Persoalan lain yang menjadi akar kemiskinan nelayan adalah tingginya ketergantungan terhadap
penangkapan. Faktor-faktor ketergantungan ini sangat beragam. Akan tetapi, jika ketergantungan
itu terjadi di tengah-tengah masih tersedianya pekerjaan lain di luar sektor perikanan, tentu hal
ini mengurangi daya tahan nelayan dalam menghadapi tekanan-tekanan ekonomi yang ada.
Keragaman sumber pendapatan sangat membantu kemampuan nelayan dalam beradaptasi
terhadap kemiskinan. Nelayan terkadang kurang menyadari bahwa kondisi ekosistem perairan
mudah berubah setiap saat, sehingga dapat berpengaruh terhadap pendapatan nelayan.
Disamping itu, rendahnya keterampilan nelayan untuk melakukan diversifikasi usaha
penangkapan dan keterikatan yang kuat terhadap pengoperasian satu jenis alat tangkap turut
memberikan kontribusi terhadap timbulnya kemiskinan nelayan. Karena terikat pada satu jenis
alat tangkap dan untuk menangkap jenis ikan tertentu maka ketika sedang tidak musim jenis ikan
tersebut, nelayan tidak dapat berbuat banyak. Dengan demikian, diversifikasi penangkapan
sangat diperlukan untuk membantu nelayan dalam mengatasi masalah kemiskinan.
Pranata yang terbentuk pada masyarakat pesisir Pandansimo, Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta dapat menjadi model diversifikasi sumber pendapatan. Selain menangkap ikan,
nelayan juga bertani dan beternak sehingga ketika musim paceklik terjadi, mereka tidak
kehilangan sumber pendapatan.
Kepemilikan peralatan penangkapan ikan secara kolektif yang dikelola melalui paguyuban istri
nelayan telah membantu meningkatkan pendapatan nelayan, distribusi pendapatan relatif merata,
sehingga mobilitas vertikal nelayan dapat diraih secara bertahap. Selain itu para perempuan juga
mengolah dan memasarkan hasil tangkapan ikan sehingga nelayan tidak terlalu bergantung
pada tengkulak.
Identifikasi terhadap kasus-kasus di atas sekurang-kurangnya dapat menjadi bahan perumusan
kebijakan pemberdayaan nelayan. Artinya, kebijakan untuk mengangkat kondisi sosial ekonomi
masyarakat nelayan hanya dapat dilakukan jika gagasan tersebut dapat mengakar pada basis
sosial budaya masyarakat nelayan, atau dengan memperhatikan secara saksama karakteristik
budaya yang mendasari pranata penangkapan nelayan. Jika tidak, kebijakan tersebut tidak akan
terlaksana dengan baik, sehingga perubahan sosial budaya yang diharapkan bukanlah sesuatu
yang mudah dilakukan. Selamat Hari Perikanan Sedunia!
Penulis: Andhika Rakhmanda, Ketua Klinik Agromina Bahari (Kelompok Studi Mitra
Masyarakat Tani-Nelayan) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Media Patriot Indonesia, 1 Desember 2013


Refrensi
[1] Badan Pusat Statistik Indonesia. 2012. Perkembangan Beberapa Indikator Utama SosialEkonomi Indonesia. Februari. Katalog BPS: 3101015. Jakarta.
[2] Masyhuri. 1999. Pemberdayaan Nelayan Tertinggal dalam Mengatasi Krisis Ekonomi:
Telaah terhadap Sebuah Pendekatan. Jakarta: PEP-LIPI, hlm. 15-34.
[3] Kusnadi. 2001. Pangamba Kaum Perempuan Fenomenal: Pelopor dan Penggerak
Perekonomian Masyarakat Nelayan. Bandung: PT Humaniora Utama Press dan Suadi. 2012.
Wanita Nelayan: Antara Peran Domestik dan Produktif. Artikel Kajian Perikanan, 27 September.
Tags: kemiskinan, nelayan, perikanan
This entry was posted on Monday, January 27th, 2014 at 11:20 amand is filed under
Fisheries. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You
can leave a response, or trackback from your own site.

Baca Edisi Cetak Bangka Pos

Nelayan Tukak Sadai Bisa Terancam Miskin


Jumat, 14 Maret 2014 09:43 WIB

- KUB Datangi Distamben, Bupati dan DKP


- Tolak Penambangan di Wilayah Perairan
TOBOALI, BANGKA POS - Perwakilan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan di Desa
Tukak, Kecamatan Tukak Sadai mendatangi kantor Bupati Bangka Selatan, Dinas Keautan dan
Perikanan, dan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bangka Selatan, Kamis (13/3) siang.
Mereka memberikan surat pernyataan menolak adanya aktivitas pertambangan di wilayah Tukak
Sadai.
Perwakilan KUB Nelayan Desa Tukak, Samsudin mengatakan bahwa mereka secara tegas
menolak rencana penambangan yang bakal dilakukan PT Stania Prima Indonesia. Menurutnya,
aktifitas penambangan di sekitar perairan Desa Tukak Sadai dapat mengancam mata pencaharian
masyarakat setempat.
Hampir sekitar 80 persen, masyarakat di Kecamaan Tukak Sadai menggantungkan hidupnya dari
nelayan. Mata pencaharian itu sudah berlangsung turun temurun. Desa Tukak sebagian kecil
daerah di Bangka Belitung, penghasil kepiting rajungan olahan yang hasilnya dinikmati hingga
ke Amerika.
"Masyarakat kita mengandalkan laut sebagai lahan mata pencaharian kita. Nelayan kita banyak
sebagai nelayan kepiting, udang untuk belacan (terasi), ikan selangat, siput gong gong dan
sebagainya. Kalau laut kita nanti ditambang, mata pencaharian kita akan terancam. Kehidupan
kepiting, udang, ikan, siput akan hilang," ujar Samsudin, Kamis (13/3).
Wilayah Desa Tukak tersebut terdiri dari 4 KUB, yakni KUB Mega Bahari, Bina Harapan, Sia
Barokah, dan Nelayan Lestari. Selain KUB, Badan Pemusyawaratan Desa Tukak, juga menolak
keberadaan tambang di wilayah tersebut. (can)
Selengkapnya, Baca Edisi Cetak Bangka Pos, Jumat (14/3/2014)
Berita Terkait: Baca Edisi Cetak Bangka Pos
Siswa MIN Tanya Proses Pembuatan Koran
PT Cheria Wisata Mudahkan Beribadah Haji dan Umroh
UTI Pro Lahirkan 60 Taekwondoin Sabuk Hitam
Lucky Dip Hingga Diskon Menarik

Trik Buka Bisnis Bermodal KTP


Penulis: hendra
Editor: asmadi

Share |
HARI NELAYAN NASIONAL

IMI Kritik Langkah Kementerian Kelautan yang


Sibuk Urus Nelayan Raksasa
Minggu, 07 April 2013 , 15:42:00 WIB

Laporan:

RMOL. Ironis, di tengah Hari Nelayan Nasional yang diperingati pada setiap 6 April, nasib
Nelayan Tradisional Indonesia sampai saat ini tidak banyak berubah, bahkan predikat rakyat
miskin masih terus melekat pada nelayan tradisional dari masa ke masa. Padahal, jelas Indonesia
adalah negara yang wilayah lautnya dua per tiga dari luas wilayahnya..
Indonesiaa Maritime Institute (IMI) melihat kemiskinan nelayan tradisional disebabkan berbagai

ILUSTRASI/I
ST

faktor. Faktor yang paling dominan adalah kuranya keberpihakan pemerintah, dalam hal ini
kementerian kelautan dan perikanan (KKP).
"Intervensi KKP pada sistem ekonomi nelayan ibarat terhalang tembok raksasa," kata Direktur
Maritime Campaign IMI, Bama Putra, beberapa saat lalu (Minggu, 7/4).
Berbagai program KKP lanjut Bama sudah dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup nelayan
tradisional yang melibatkan anggaran APBN triliunan rupiah. Sebagai contoh ada program

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), bantuan alat tangkap seperti motor tempel
dan jaring, SPDN dan lain sebagainya.
"Namun hasilnya nihil. Kenapa hal ini terjadi? karena orientasi program itu lebih ke project
oriented daripada pencapaian target yang seharusnya di capai," tegasnya.
Belum lagi kata Bama, saat ini KKP lebih fokus pada perikanan tangkap yang melibatkan kapalkapal besar (bukan nelayan tradisional) dengan menerbitkan permen 12 dan 30 tahun 2012.
Permen ini cenderung memihak pada pengusaha besar yang memiliki kapal diatas 30 GT.
"Sementara nelayan tradisional dibiarkan berjuang sendiri melawan badai lautan," ungkap Bama.
Pada kesempatan ini, Indonesia Maritime Institute (IMI) mendesak Menteri Cicip untuk segera
mengubah pola berfikir dalam menyusun kebijakan terkait nelayan tradisional. Sebab sudah
seharusnya program KKP lebih banyak berpihak kepada nelayan tradisional, dan bukan malah
mengurusi nelayan besar yang relatif sudah mapan.
"Yang justru malah kebanyakan dari mereka merampok negara dengan berbagai modus operandi
seperti illegal license dan sebagainya. Kami mendesak agar pemerintah menghentikan
pemiskinan nelayan tradisional," tandas Bama.
Diketahui berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, pada 2011 ada 7,87 juta jiwa
nelayan miskin dan anggota keluarganya di pesisir. Jumlah tersebut adalah sebesar 25,14 persen
dari total penduduk penduduk miskin nasional yang sebanyak 31,02 juta jiwa. Selain itu, jumlah
nelayan miskin dan anggota keluarganya tersebar setidaknya di 10.600 desa nelayan di berbagai
daerah. [ysa]

Baca juga:
Indonesia, Negeri Maritim yang Penuh Ironi
Menteri Sharif Minta Presiden Penuhi Kuota BBM Nelayan
Kementerian Kelautan Perkuat Hakim Ad Hoc Pengadilan Perikanan
Komunitas Cinta Bangsa Desak Dugaan Kongkalikong Proyek SPDN Diusut
Draf RUU Kelautan Dinilai Masih Sangat Dangkal dan Belum Komprehensif

Komentar Pembaca

Peggy Melati Sukma, Siap Digarap Polisi Sampai Wisnu Ketemu

Kepentingan Peggy sama dengan keluarga Wisnu dan PT Artha Graha. Selain
in ...

Anggun, Tetap Bangga Jadi Orang Indonesia

Anggun Cipta Sasmi sempat diragukan kewarganegaraannya ketika mewakili


Ind ...

Demi Lovato, Bokong Paling Seksi

Nama Demi Lovato masuk di antara 100 seleb wanita terseksi tahun ini
versi ...

Hadiri Premier Film Kekasihnya, Brad Pitt Diserang Pria tak Dikenal

Aktor Brad Pitt mendapat serangan di bagian wajah ketika tengah


memberikan ...

Diputusin Nikita Diego Sakit Hati

Ternyata Niki pernah dikasari oleh Diego. Sayang tak mau diungkap karena N
...

Tentang RMOL | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Kontak Kami | RSS

Home
Kesra

Ribuan Nelayan Bengkulu Dikategorikan Miskin

Posted on 07 May 2014. Hits : 204

Kepala Dinas Kelautan dan Perikan Provinsi Bengkulu, Rinaldi mengatakan sekitar 5 ribu
nelayan di daerah itu masih termasuk ke dalam kategori miskin.
"Jumlah nelayan di Bengkulu saat ini diperkirakan sebanyak 10 ribu jiwa, dan sekitar lima ribu,
atau setengahnya masih tergolong miskin," kata dia di Bengkulu, Rabu.
Nelayan yang dikategorikan miskin tersebut, yakni nelayan yang mencari ikan di pinggir pantai
dengan peralatan tangkap ikan sederhana dan tersebar di sepanjang pesisir pantai di Provinsi
Bengkulu.
"Persoalan kemiskinan di Bengkulu menjadi perhatian pemerintah provinsi, termasuk nelayan,
kami mencoba mengurangi angka kemiskinan dengan program-program tertentu," katanya.
Untuk mengentaskan kemiskinan, khususnya nelayan, Rinaldi mengatakan pihaknya setiap tahun
melalui anggaran daerah serta APBN membantu nelayan dengan memberikan kapal besar
berbobot 30 gross ton (GT).
"Saat ini nelayan yang menggunakan kapal 10 GT saja masih sedikit, mereka hanya
menggunakan kapal yang berukuran kecil, sekitar lima gross ton, dengan kapal besar mereka
bisa menangkap ikan dengan kelompok besar juga," ucapnya.
Untuk tahun 2014, pemerintah setempat memberikan lima buah kapal penangkap ikan berbobot
30 GT untuk nelayan Kota Bengkulu.

"Sekarang masih proses tender, untuk kapal berbobot 30 GT hanya bisa berlabuh di Pelabuhan
Pulau Baai, sehingga bantuan kapal ukuran ini kita khususkan untuk Kota Bengkulu," kata
Rinaldi.
Dengan bantuan tersebut, Pemerintah Provinsi Bengkulu berharap mampu menekan angka
kemiskinan masyarakat pesisir pantai yang berprofesi sebagai nelayan.
"Saya tekankan, bantuan kapal tersebut hanya untuk nelayan miskin, dengan bantuan itu
diharapkan tangkapan ikan mereka menjadi lebih banyak," ujarnya.(ant/ris)

tikFinance
Ekonomi Bisnis
Ekspor Ikan Terus Naik, Nelayan Tetap Miskin
Winda Veronica Silalahi - detikfinance
Jumat, 04/11/2011 17:30 WIB
Halaman 1 dari 2

Jakarta -Kinerja ekspor sektor perikanan terus naik setiap tahun. Kenyataanya
masih banyak nelayan yang miskin dan pelaku usaha perikanan yang gulung tikar.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan
Yugi Prayanto di kantor kementerian kelautan dan perikanan, Jakarta, Jumat

(4/11/2011)
"Semakin tinggi ekspor (perikanan) di Indonesia tapi semakin banyak pengusaha
yang bangkrut dan nelayan masih tetap miskin," katanya.
Ia berharap agar pemerintah melakukan pembatasan izin ekspor perikanan
sehingga industri perikanan di dalam negeri meningkat. Yugi juga mengatakan saat
ini nelayan-nelayan masih membeli BBM yang mahal untuk mengoperasikan
kapalnya.
Dikatakannya masalah yang mendasar di sektor perikanan di Tanah Air adalah
banyak rusaknya terumbu karang di lautan Indonesia. Hasilnya banyak ikan-ikan
yang biasa berkembang biak di Indonesia justri lari ke wilayah lain.
"Kadin mengharapkan ada program penyelamatan laut degan reborn dengan
terumbu karang. Banyak kasus yang terjadi pengeboman, racun, sungai tercemar.
Kadin mengharapkan langkah konkret dari pemerintah," katanya.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan pemerintah sudah
melakukan beberapa upaya. Misalnya bekerjasama dengan negara-negara pemilik
terumbu karang untuk melakukan penyelamatan dan pemulihan kerusakan terumbu
karang.Next