Anda di halaman 1dari 29

Kerajaan Kutai diperkirakan berdiri pada abad ke-5 Masehi, ini dibuktikan dengan

ditemukannya 7 buah Yupa (prasasti berupa tiang batu) yang ditulis dengan huruf
pallawa dan bahasa Sansekerta yang berasal dari India yang sudah mengenal
Hindu. Yupa mempunyai 3 fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, tiang pengikat
hewan untuk upacara korban keagamaan, dan lambang kebesaran raja. Dari
tulisan yang tertera pada yupa nama raja Kundungga diperkirakan merupakan
nama asli Indonesia, namun penggantinya seperti Aswawarman, Mulawarman itu
menunjukan nama yang diambil dari nama India dan upacara yang dilakukannya
menujukan kegiatan upacara agama Hindu. Dari sanalah dapat kita simpulkan
bahwa kebudayaan Hindu telah masuk di Kerajaan Kutai.

BAB 2
PEMBAHASAN
A. SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN KUTAI
Kerajaan Kutai diperkirakan berdiri pada abad ke-5 Masehi, ini dibuktikan dengan
ditemukannya 7 buah Yupa (prasasti berupa tiang batu) yang ditulis dengan huruf pallawa dan
bahasa Sansekerta yang berasal dari India yang sudah mengenal Hindu. Yupa mempunyai 3
fungsi utama, yaitu sebagai prasasti, tiang pengikat hewan untuk upacara korban keagamaan,
dan lambang kebesaran raja.

Dari tulisan yang tertera pada yupa nama raja Kundungga diperkirakan merupakan nama
asli Indonesia, namun penggantinya seperti Aswawarman, Mulawarman itu menunjukan nama
yang diambil dari nama India dan upacara yang dilakukannya menujukan kegiatan upacara
agama Hindu. Dari sanalah dapat kita simpulkan bahwa kebudayaan Hindu telah masuk di
Kerajaan Kutai.

Kerajan Kutai Mulawarman (Martadipura) didirikan oleh pembesar kerajaan Campa


(Kamboja) bernama Kudungga, yang selanjutnya menurunkan Raja Asmawarman, Raja
Mulawarman, sampai 27 (dua puluh tujuh) generasi Kerajaan Kutai.
Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)
Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)
Maharaja Marawijaya Warman
Maharaja Gajayana Warman
Maharaja Tungga Warman
Maharaja Jayanaga Warman
Maharaja Nalasinga Warman
Maharaja Nala Parana Tungga
Maharaja Gadingga Warman Dewa
Maharaja Indra Warman Dewa
Maharaja Sangga Warman Dewa
Maharaja Candrawarman
Maharaja Sri Langka Dewa
Maharaja Guna Parana Dewa
Maharaja Wijaya Warman
Maharaja Sri Aji Dewa
Maharaja Mulia Putera
Maharaja Nala Pandita
Maharaja Indra Paruta Dewa
Maharaja Dharma Setia
Sementara itu pada abad XIII di muara Sungai Mahakam berdiri Kerajaan bercorak
Hindu Jawa yaitu Kerajaan Kutai Kertanegara yang didirikan oleh salah seorang pembesar dari
Kerajaan Singasari yang bernama Raden Kusuma yang kemudian bergelar Aji Batara Agung
Dewa Sakti dan beristerikan Putri Karang Melenu sehingga kemudian menurunkan putera
bernama Aji Batara Agung Paduka Nira.
Proses asimilasi (penyatuan) dua kerajaan tersebut telah dimulai pada abad XIII dengan
pelaksanaan kawin politik antara Aji Batara Agung Paduka Nira yang mempersunting Putri Indra
Perwati Dewi yaitu seorang puteri dari Guna Perana Tungga salah satu Dinasti Raja
Mulawarman (Martadipura), tetapi tidak berhasil menyatukan kedua kerajaan tersebut. Baru pada
abad XVI melalui perang besar antara kerajaan Kutai Kertanegara pada masa pemerintahan Aji
Pangeran Sinum Panji Ing dengan Kerajaan Kutai Mulawarman (Martadipura) pada masa
pemerintahan Raja Darma Setia.
Dalam pertempuran tersebut Raja Darma Setia mengalami kekalahan dan gugur di tangan
Raja Kutai Kertanegara Aji Pangeran Sinum Panji, yang kemudian berhasil menyatukan kedua
kerajaan Kutai Tersebut sehingga wilayahnya menjadi sangat luas dan nama kerajaannyapun
berubah menjadi Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martadipura yang kemudian menurunkan
Dinasti Raja-raja Kutai Kertanegara sampai sekarang.

Literatur sejarah menyebutkan bahwa sejak abad XIII sampai tahun 1960 yang menjadi
Raja (sultan) Daerah Swapraja (Kerajaan Kutai Kertanegara) berdasarkan tahun
pemerintahannya adalah sebagai berikut:
1. 1300 - 1325 Aji Batara Agung Dewa Sakti
2. 1350 - 1370 Aji Batara Agung Paduka Nira
3. 1370 - 1420 Aji Maharaja Sultan
4. 1420 - 1475 Aji Raja Mandarsyah
5. 1475 - 1525 Aji Pangeran Tumenggung Jaya Baya (Aji Raja Puteri)
6. 1525 - 1600 Aji Raja Mahkota
7. 1600 - 1605 Aji Dilanggar
8. 1605 - 1635 Aji Pangeran Sinum Panji Mendopo
9. 1635 - 1650 Aji Pangeran Dipati Agung
10. 1650 - 1685 Aji Pageran Mejo Kesumo
11. 1685 - 1700 Aji Begi gelar Aji Ratu Agung
12. 1700 - 1730 Aji Pageran Dipati Tua
13. 1730 - 1732 Aji Pangeran Dipati Anum Panji Pendopo
14. 1732 - 1739 Sultan Aji Muhammad Idris
15. 1739 - 1782 Aji Imbut gelar Sultan Muhammad Muslihuddin
16. 1782 - 1850 Sultan Aji Muhammad Salehuddin
17. 1850 - 1899 Sultan Aji Muhammad Sulaiman
18. 1899 - 1915 Sultan Aji Alimuddin
19. 1915 - 1960 Sultan Aji Muhammad Parikesit
20. 1960 - sekarang, Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II
B. PERKEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, BUDAYA, DAN POLITIK
1. Sosial dan budaya
Berdasarkan isi prasasti-prasasti Kutai, dapat diketahui bahwa pada abad ke -4 M di
daerah Kutai terdapat suatu masyarakat Indonesiayang telah banyak menerima pengaruh hindu.
Masyarakat tersebut telah dapat mendirikan suatu kerajaan yang teratur rapi menurut pola
pemerintahan di India. Masyarakat Indonesia menerima unsur-unsur dari luar dan
mengembangkannya sesuai dengan tradisi bangsa Indonesia
Kehidupan budaya masyarakat Kutai sebagai berikut :
Masyarakat Kutai adalah masyarakat yang menjaga akar tradisi budaya nenek moyangnya.
Masyarakat yang sangat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
Menjunjung tingi semangat keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya.
Masyarakat Kutai juga adalah masyarakat yang respon terhadap perubahan dankemajuan budaya.
Hal ini dibuktikan dengan kesediaan masyarakat Kutai yangmenerima dan mengadaptasi budaya
luar (India) ke dalam kehidupan masyarakat. Selain dari itu masyarakat Kutai dikenal sebagai
masyarakat yang menjunjung tinggispirit keagamaan dalam kehidupan kebudayaanya.
Penyebutan Brahmana sebagai pemimpin spiritual dan ritual keagamaan dalam yupa-prasasti
yang mereka tulis menguatkan kesimpulan itu.

2. Kehidupan ekonomi
Kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dapat diketahui dari dua hal berikut ini :
Letak geografis Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan
Kutai menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut
memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat
Kutai, disamping pertanian.
Keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah
memberikan hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
3. Kehidupan Politik
Sejak muncul dan berkembangnya Pengaruh Hindu di Kaltim, terjadi perubahan dalam
tata pemerintahan, yatu dari sistem pemerintahan kepala suku menjadi sistem pemerintahan Raja
atau feodal. Raja-raja yang pernah berkuasa pada kerajaan Kutai adalah sebagai berikut:
Kudungga. Raja ini adalah Founding Father kerajaan Kutai, ada yang unik pada nama raja
pertama ini, karena nama Kudungga merupakan nama Lokal atau nama yang belum dipengaruhi
oleh budaya Hindu. Hal ini kemudian melahirkan persepsi para ahli bahwa pada masa kekuasaan
Raja Kudungga, pengaruh Hindu baru masuk ke Nusantara, kedudukan Kudungga pada awalnya
adalah seorang kepala suku. Dengan masuknya pengaruh Hindu, ia megubah struktur
pemerintahannya menjadi kerajaan dan mengangkat dirinya mejadi raja, sehingga pergantian raja
dilakukan secara turun temurun.
Aswawarman. Prasasti Yupa menyatakan bahwa Raja aswawarman merupakan raja yang
cakap dan kuat. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai diperluas lagi.
Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan upacara Asmawedha. Upacara-upacara ini pernah
dilakukan di India pada masa pemerintahan raja Samudragupta, ketika ingin memperluas
wilayahnya. Dalam upacara itu dilaksanakan pelepasan kuda dengan tujuan untuk menentukan
batas kekuasaan kerajaan Kutai. Dengan kata lain, sampai dimana ditemukan tapak kaki kuda,
maka sampai disitulan batas kerajaan Kutai. Pelepasan kuda-kuda itu diikuti oleh prajurit
kerajaan Kutai.
Mulawarman. Raja ini adalah Putra dari raja Aswawarman, ia membawa Kerajaan Kutai ke
puncak kejayaan. Pada masa kekuasaannya Kutai mengalami masa gemilang. Rakyat hidup
tentram dan sejahtera. Dengan keadaan seperti itulah akhirnya Raja Mulawarman mengadakan
upacara korban emas yang amat banyak.
C. SEJARAH RUNTUHNYA KERAJAAN KUTAI
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas
dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.
Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara
yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di
tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya
menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.Kerajaan.

Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah
menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan
Kutai Kartanegara.

BAB 3
PENUTUPAN
KESIMPULAN
Kerajaan Kutai berada di kalimantan Timur, yaitu di sungai hulu Mahakam. Nama
kerajaan ini disesuaikan dengan nama tempat penemuan prasasti, yaitu didaerah Kutai.
kaltim telah berdiri dan berkembang kerajaan yang mendapatkan pegaruh Hindu adalah beberapa
penemuan berupa batu bertulis atau Prasasti. Tulisan itu ada pada tujuh tiang batu yang disebut
Yupa. Yupa ini berfungsi utuk mengikat hewan Korban. Korban itu merupakan pwersembahan
rakyat kepada para Dewa yang dipujanya.
Kehidupan social dan budayanya pun sangat menjujung tinggi nilai kebudayaan yang ada.
Kehidupan ekonomi masyarakat kutai sangat makmur, dengan bukti bahwa Kerajaan Kutai
berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai menjadi tempat yang
menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan
perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian.
Keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah
memberikan hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Masa keruntuhan Kerajaan Kutai runtuh ketika Raja Dharma Setia tewas ditangan Raja Kutai
Kartanegara. Raja Dhamarmasetia adalah anak dari Raja Mulawarman, cucu dari Raja
Asmawarman, buyut dari Raja Kudungga. Dan Raja Dharma Setia adalah Raja terakhir
diKerajaan Kutai

BAB I
PENDAHULUAN
Setelah kedatangan agama dan kebudayaan Hindu Buddha, terjadi perkembangan
dan
perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam bidang politik.
Sistem pemerintahan masyarakat Indonesia mengalami perubahan dari system kesukuan
menjadi
kerajaan. Pada system kerajaan, kepala pemerintahan tidak dipegang oleh kepala suku
bergelar
datu/datuk atau ratu/raka,tetapi dipegang oleh seorang rajamenggunakan gelar prabu,
raja, atau
maharaja. Dalam system ini, raja dianggap keturunan dewa yang harus disembah oleh
bawahan
dan rakyatnya. Oleh karena itu raja memilki hak untuk menyelenggarakan pemerintahan
secara
mutlak dan turun temurun. System pemerintahan kerajaan digunakan di wilayah
Kalimantan,
Jawa dan Sumatra. Selanjutnya, di daerah tersebut bermunculan kerajaan yang bercorak
Hindu-Buddha.

A. LATAR BELAKANG

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia yang terletak di Muara


Kaman,
Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong) tepatnya di hulu sungai Mahakam. Kerajaan
Kutai diperkirakan muncul pada abad 5 M atau 400 M.Kerajaan ini terletak di Muara
Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong) Nama Kutai diambil dari nama
tempat
ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan
oleh para
ahli karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini.
Keberadaan
kerajaan tersebut ditandai dengan ditemukannya 7 buah prasasti berbentuk yupa.
Berdasarkan
prasasti yang ditemukan, diperkirakan Kerajaan Kutai berdiri pada abad ke-4. Yupa
tersebut
menggunakan huruf Pallawa dan dengan bahasa Sanskerta. Dalam yupa tersebut
dikatakan bahwa
raja pertama bernama Kudungga. Dilihat dari namanya, Kudungga adalah orang
Indonesia asli.
Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman yang disebut sebagai wamsakerta
(pembentuk keluarga). Penggunaan nama warman pada nama raja berikutnya
merupakan bukti
bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu dan menunjukkan telah masuknya
pengaruh
ajaran Hindu dalam kerajaan.
Dinyatakan pula dalam prasasti yupa, Aswawarman memiliki 3 putra. Yang
terkemuka
bernama Mulawarman yang akhirnya diangkat menjadi raja berikutnya. Pada masa

pemerintahan Mulawarman, Kutai mengalami masa kejayaannya. Hal ini disebabkan


karena
Mulawarman adalah raja yang dermawan, mulia, dan dekat dengan rakyat. Disebutkan
dalam
prasasti yupa, beliau menyedekahkan sapi sebanyak 20.000 ekor kepada kaum brahmana
di
Waprakeswara atau tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Dengan demikian, diketahui
bahwa Mulawarman adalah penganut Hindu-Siwa.
Mulawarman adalah raja terkenal dari Kutai, seperti diungkapkan pada salah satu
yupa
berikut: Sang Maharaja Kudungga yang amat mulia mempunyai putra yang masyur
bernama Aswawarman. (Dia) mempunyai tiga orang putra yang seperti api. Yang
terkemuka
di antara ketiga putranya adalah sang Mulawarman, raja yang besar, yang berbudi baik,
kuat, dan
kuasa, yang telah upacara korban emas amat banyak dan untuk memperingati upacara
korban
itulah tugu ini didirikan.
Mulawarman, menurut yupa tersebut, sering diwujudkan dengan Ansuman, yaitu
Dewa
Matahari. Raja Mulawarman dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. Ia juga memiliki
hubungan
yang baik dengan kaum brahmana yang datang ke Kutai. Diceritakan bahwa
Mulawarman
sangat dermawan. Ia memberikan sedekah berupa minyak dan lampu. Ia juga
memberikan hadiah
20.000 lembu kepada brahmana di suatu tempat yang disebut Waprakeswara (tempat suci
untuk
memuja Dewa Siwa).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Mulawarman menganut Hindu-Siwa.


Dari
besarnya sedekah raja Mulawarman ini memperlihatkan keadaan masyarakat Kutai yang
sangat
makmur. Kemakmuran ini didukung oleh peranan yang besar Kutai dalam pelayaran dan
perdagangan di sekitar Asia Tenggara. Hal ini disebabkan karena letak Kutai yang
strategis, yaitu
berada dalam jalur perdagangan utama CinaIndia.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa raja pertama Kutai yang bernama
Kudungga
diyakini belum dipengaruhi agama Hindusetidaknya terlihat dari namanya yang masih
asli.
Kudungga diperkirakan adalah seorang pemimpin suku setempat yang kemudian
mendirikan
kerajaan pada saat pengaruh Buddha mulai masuk ke Indonesia. Putra Kudungga,Hindu
Aswawarman, kemungkinan adalah raja pertama Kutai yang beragama Hindu.
Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti sehingga diberi gelar Wangsakerta yang
artinya
pembentuk keluarga. Dalam masa pemerintahannya wilayah Kutai makin diperluas. Hal
ini
diketahui dari diadakannya upacara aswamedha, yaitu upacara pelepasan kuda.
Setelah Aswawarman, Kutai diperintah oleh Mulawarman, putra
Aswawarman.Dari prasasti
yang ditemukan diketahui bahwa dalam masa pemerintahan Mulawarman pada abad
ke4 M,
Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hamper seluruh
wilayah
Kalimantan Timur. Pada masa pemerintahannya pula, rakyat Kutai hidup makmur.

B.
1.
2.
3.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara?
Bagaimana kehidupan sosial di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara?
Bagaimana kehidupan agama di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara?

C.

TUJUAN

1.
2.

Memahami kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.


Memahami kehidupan sosial di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.

3.

Memahami kehidupan agama di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.


Agar lebih paham dan jelas tentang Kerajaan Kutai di Indonesai, kita akan

membahas
tentang:Sumber sejarah kerajaan kutai, letak Kerajaan Kutai, kehidupan politik,
kehidupan
agama, kehidupan sosial dan budaya, kehidupan ekonomi dan masa keruntuhan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. SUMBER SEJARAH
Sumber yang menyatakan Bahwa di kaltim telah berdiri dan berkembang krajaan
yang
mendapatkan pegaruh Hindu adalah beberapa penemuan berupa batu bertulis atau
Prasasti.

Tulisan itu ada pada tujuh tiang batu yang disebut Yupa. Yupa ini berfungsi utuk
mengikat hewan
Korban. Korban itu merupakan persembahan rakyat kepada para Dewa yang dipujanya.
Tulisan
yang terdapat pada Yupa tersebut menggunakan huruf pallawa dan berbahasa sansekerta.
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia
tewas
dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji
Mendapa.
Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai
Kartanegara
yang saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun
1365,
yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya
menjadi
kerajaan Islam.
Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar
Pangeran
berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang
disebut
Kesultanan Kutai Kartanegara. Nama Raja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan
sebagai
nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India.Sementara
putranya
yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu.

B. LETAK KERAJAAN KUTAI


Kerajaan kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan ini terletak
ditepi sungai

Mahakam di Muarakaman, Kalimantan Timur, dekat kota Tenggarong. Letak


geografis
Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India.
C.

KEHIDUPAN POLITIK
Dalam kehidupan politik seperti yang dijelaskan dalam yupa bahwa raja terbesar

Kutai
adalah Mulawarman, putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga.
Dalam
yupa juga dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai Dewa Ansuman/Dewa
Matahari dan
dipandang sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja. Hal ini berarti Asmawarman
sudah
menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam
agama Hindu.
Untuk itu para ahli berpendapat Kudungga masih nama Indonesia asli dan masih sebagai
kepala
suku, yang menurunkan raja-raja Kutai. Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang
harmonis
/erat antara Raja Mulawarman dengan kaum Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam
yupa,
bahwaraja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di
dalam
tanah yang suci bernama Waprakeswara. Istilah Waprakeswaratempat suci untuk
memuja Dewa
Siwa di pulau Jawa disebut Baprakewara.
Sejak muncul dan berkembangnya Pengaruh Hindu di Kaltim, terjadi perubahan
dalam

tata pemerintahan, yatu dari sistem pemerintahan kepala suku menjadi sistem
pemerintahan
Raja atau feodal. Raja-raja yang pernah berkuasa pada kerajaan Kutai adalah sebagai
berikut:
1. Kudungga. Raja ini adalah Founding Father kerajaan Kutai, ada yang unik pada nama
raja
pertama ini, karena nama Kudungga merupakan nama Lokal atau nama yang belum
dipengaruhi
oleh budaya Hindu. Hal ini kemudian melahirkan persepsi para ahli bahwa pada masa
kekuasaan
Raja Kudungga, pengaruh Hindubaru masuk ke Nusantara, kedudukan Kudungga pada
awalnya
adalah seorang kepala suku. Dengan masuknya pengaruh Hindu, ia megubah struktur
pemerintahannya menjadi kerajaan dan mengangkat dirinya mejadi raja, sehingga
pergantian
raja dilakukan secara turun temurun.
2. Aswawarman. Prasasti Yupa menyatakan bahwa Raja aswawarman merupakan raja
yang cakap
dan kuat. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai diperluas
lagi.
Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan upacara Asmawedha. Upacara-upacara ini
pernah
dilakukan di India pada masa pemerintahan raja Samudragupta, ketika ingin
memperluas
wilayahnya. Dalam upacara itu dilaksanakan pelepasan kuda dengan tujuan untuk
menentukan
batas kekuasaan kerajaan Kutai. Dengan kata lain, sampai dimana ditemukan tapak
kaki kuda,

maka sampai disitulan batas kerajaan Kutai. Pelepasan kuda-kuda itu diikuti oleh
prajurit kerajaan
Kutai.
3. Mulawarman. Raja ini adalah Putra dari raja Aswawarman, ia membawa Kerajaan Kutai
ke
puncak kejayaan. Pada masa kekuasaannya Kutai mengalami masa gemilang. Rakyat
hidup
tentram dan sejahtera. Dengan keadaan seperti itulah akhirnya Raja Mulawarman
mengadakan
upacara korban emas yang amat banyak.[ps]
4. Raja Marawijaya Warman
5. Raja Gajayana Warman
6. Raja Tungga Warman
7. Raja Jayanaga Warman
8. Raja Nalasinga Warman
9. Raja Nala Parana Tungga
10. Raja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Raja Sangga Warman Dewa
13. Raja Candrawarman
14. Raja Sri Langka Dewa
15. Rraja Guna Parana Dewa
16. Raja Wijaya Warman
17. Raja Sri Aji Dewa
18. Raja Mulia Putera
19. Raja Nala Pandita
20. Raja Indra Paruta Dewa
21. Raja Dharma Setia

D. KEHIDUPAN SOSIAL DAN BUDAYA

Kehidupan sosial di Kerajaan Kutai merupakan terjemahan dari prasasti-prasasti yang


ditemukan
oleh para ahli. Diantara terjemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat di Kerajaan Kutai tertata, tertib dan teratur.
2. Masyarakat di Kerajaan Kutai memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya luar
(India), mengikuti pola perubahan zaman dengan tetap memelihara dan melestarikan
budayanya sendiri.
Sementara itu dalam kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju. Hal
ini
dibuktikan melalui upacara penghinduan (pemberkatan memeluk agama Hindu) yang
disebut
Vratyastoma. Vratyastoma dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman karena
Kudungga
masih mempertahankan ciri-ciri keIndonesiaannya, sedangkan yang memimpin upacara
tersebut,
menurut para ahli, dipastikan adalah para pendeta (Brahmana) dari India. Tetapi pada
masa
Mulawarman kemungkinan sekali upacara penghinduan tersebut dipimpin oleh kaum
Brahmana
dari orang Indonesia asli. Adanya kaum Brahmana asli orang Indonesia membuktikan
bahwa
kemampuan intelektualnya tinggi, terutama penguasaan terhadap bahasa Sansekerta yang
pada
dasarnya bukanlah bahasa rakyat India sehari-hari, melainkan lebih merupakan bahasa
resmi
kaum Brahmana untuk masalah keagamaan.
Kehidupan politik kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha membawa perubahan baru
dalam

kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Struktur sosial dari masa Kutai
hingga
Majapahit mengalami perkembangan yang ber-evolusi namun progresif. Dunia
perekonomian
pun mengalami perkembangan: dari yang semula sistem barter hingga sistem nilai tukar
uang.
Dari berbagai peninggalan yang ditemukan diketahui bahwa kehidupan
masyarakatnya Kutai
sudah cukup teratur. Walau tidak secara jelas diungkapkan, diperkirakan masyarakat
Kutai sudah
terbagi dalam pengkastaan meskipun tidak secara tegas. Dari penggunaan bahasa
Sansekerta dan
pemberian hadiah sapi, disimpulkan bahwa dalam masyarakat Kutai terdapat golongan
brahmana,
golongan yang sebagaimana juga di India memegang monopoli penyebaran dan upacara
keagamaan.
Di samping golongan brahmana, terdapat pula kaum ksatria. Golongan ini terdiri
dari kerabat
dekat raja. Di luar kedua golongan ini, sebagian besar masyarakat Kutai masih
menjalankan adat
istiadat dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu telah menjadi agama resmi
kerajaan,
namun masih terdapat kebebasan bagi masyarakat untuk menjalankan kepercayaan
aslinya.
Berdasarkan isi prasasti-prasasti Kutai, dapat diketahui bahwa pada abad ke -4 M
di daerah
Kutai terdapat suatu masyarakat Indonesiayang telah banyak menerima pengaruh hindu.
Masyarakat tersebut telah dapat mendirikan suatu kerajaan yang teratur rapi menurut pola
pemerintahan di India. Masyarakat Indonesia menerima unsur-unsur dari luar dan

mengembangkannya sesuai dengan tradisi bangsa Indonesia


Kehidupan budaya masyarakat Kutai sebagai berikut :

Masyarakat Kutai adalah masyarakat yang menjaga akar tradisi budaya nenek
moyangnya.

Masyarakat yang sangat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.

Menjunjung tingi semangat keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya.

Masyarakat Kutai juga adalah masyarakat yang respon terhadap perubahan


dankemajuan
budaya. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan masyarakat Kutai yangmenerima dan
mengadaptasi
budaya luar (India) ke dalam kehidupan masyarakat.Selain dari itu masyarakat Kutai
dikenal
sebagai masyarakat yang menjunjung tinggispirit keagamaan dalam kehidupan
kebudayaanya.
Penyebutan Brahmana sebagai pemimpin spiritual dan ritual keagamaan dalam yupaprasasti yang
mereka tulismenguatkan kesimpulan itu
Bukti sejarah tentang kerajaan Kutai adalah ditemukannya tujuh prasasti yang
berbentuk
yupa (tiang batu) tulisan yupa itu menggunakan huruf pallawa dan bahasa sansekerta.
Informasi
yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari
abad ke-4.
Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam
menginterpretasikan
sejarah Kerajaan Kutai.
1. Yupa atau Menhir Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang

dibuat oleh para Mulawarman atas kedermawanan raja Mulawarman. Dalam agama
hindu
sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan umat islam. Dari salah satu yupa
tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah
Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan

20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Gambar: Yupa peninggalan kerajaan kutai

2. Ketopong Sultan Kutai

Ketopong Sultan Kutai Kartanegara


Ketopong atau Mahkota Sultan Kutai Kartanegara terbuat dari emas dengan berat hampir
2 kg,
yang dihiasi dengan batu-batu permata. Bentuk mahkota berunjungan dan bagian muka
berbentumeru bertingkat, dihiasi dengan motif ikal atau spiral yang dikombinasikan
dengan
motif sulur. Hiasan belakang berupa garuda mungkur berhiaskan ukiran motif bunga,
kijang
dan burung.
Ketopong Sultan Kutai Kartanegara
Ketopong dari emas ini telah mulai digunakan semenjak Sultan Aji Muhammad Sulaiman
bertahta ( 1845 - 1899 ). Diperkirakan mahkota ini dibuat pada pertengahan abad ke-19
oleh
pandai emas dari kerajaan Kutai sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh Carl Bock dalam
bukunya
The Head-Hunters of Borneo (1881) bahwa Sultan Sulaiman memiliki 6 hingga 8 pandai
emas

yang dipekerjakan khusus untuk membuat barang-barang emas dan perak bagi Sultan.

Detail Ketopong Sultan KutaiDi Museum Mulawarman Tenggarong hanya dapat dilihat
duplikat dari Ketopong ini. Mahkota asli yang beratnya hampir 2 kg tersebut berada di
Museum
Nasional Jakarta. Pada saat penobatan Sultan H.A.M. Salehuddin II sebagai Sultan Kutai
Kartanegara pada tanggal 22 September 2001, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara
meminjam ketopong ini untuk prosesi penobatan sang Sultan.

3.Pedang Sultan Kutai


Pedang Kerajaan Kutai ini terbuat dari emas padat. Pada gagang pedang terukir
seekor harimau yang sedang siap menerkam, sementara pada ujung sarung pedang
dihiasi dengan seekor buaya. Pedang Sultan Kutai ini dapat dilihat di
Museum Nasional, Jakarta

Gambar pedang sultan kutai


4.Tali Juwita
Tali juwita adalahsimbul dari sungai Mahakam yang mempunyai 7 buah
muara sungai dan 3 buah anak sungai (sungai Kelinjau, Belayan dan Kedang Pahu). Tali Juwita
Berbentuk
3 utas tali masing- masing dibuat dari bahan emas, perak dan perunggu. Berhiasakan 3 buah
bandul yang
berbentuk gelang, 2 buah bertatahkan permata mata kucing dan barjat putih. bandul lainnya
berbentuk
lampion yang berhiaskan 2 buah bandul kecil. Tali juwita berasal dari kata Upavita yakni kalung
yang
diberikan kepada seorang Raja. Benda ini merupakan perlengkapan upacara peobatan Sultan
Kutai
Kartanegara.

5. Arca Singa Noleh


Konon, arca Singa Noleh awal mulanya adalah seekor binatang hidup yang sedang
memakan beras
lempukut yang baru ditumbuk oleh seorang wanita. Wanita tersebut marah dan binatang
tersebut
jatuh, terus menjadi batu bercampur porselein seperti keadaannya sekarang.

E. KEHIDUPAN AGAMA
Agama Hindu di Kerajaan Kutai mulai berkembang pada masa pemerintahan Raja
Aswawarman. Agama Hindu yang berkembang adalah Hindu Syiwa sebagai dewa
tertinggiTetapi di luar golongan brahmana dan ksatria, sebagian besar masyarakat Kutai

masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu
telah menjadi agama resmi kerajaan, masih terdapat kebebasan bagi masyarakatnya untuk
menjalankan kepercayaan aslinya.
Dewa Syiwa diyakini sebagai symbol Brahma yang memiliki kekuatan untuk
meleburkan alam semesta. Perkembangan agama Hindu Syiwa dibuktikan dengan adanya
tempat suci yang bernama Waprakeswara yang digunakan untuk memuja Dewa Syiwa.

Di Kerajaan Kutai, agama Hindu Syiwa menjadi agama resmi, walaupun hanya
berkembang di lingkungan istana. Sedangkan, rakyat Kutai masih pada kepercayaan
kaharingan. Kaharingan adalah kepercayaan suku Dayak di Kalimantan, yang
menyembah Ranying
Hatalla Langit sebagai pencipta alam semesta. Kepercayaan ini memiliki beberapa
persamaan dengan agama Hindu satunya penggunaan sesajen. Oleh karena itu, pada
tanggal 20 April 1980, kaharingan dimasukkan dalam kategori agama Hindu

F. KEHIDUPAN EKONOMI
Kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dapat diketahui dari hal berikut ini :
Letak geografis Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan
India. Kerajaan Kutai menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal
tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian. Kehidupan ekonomi masyarakat Kutai
diperkirakan ditunjang dari sektor pertanian, baik sawah maupun ladang. Selain itu, melihat
letaknya yang strategis, yaitu di sekitar Sungai Mahakam yang menjadi jalur perdagangan Cina
dan India, membuat Kerajaan Kutai menarik untuk disinggahi para pedagang. Dengan begitu,
bidang perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai.
Kehidupan ekonomi masyarakat Kutai meningkat dengan diangkatnya Raja Mulawarman.
Beliau adalah raja yang mulia dan dermawan. Terbukti dengan memberi sedekah kepada
rakyatnya berupa 20.000 ekor sapi yang diletakkan di Waprakeswara. Keterangan tertulis pada

prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan hartanya berupa
minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Diperkirakan bahwa pertanian, baik
sawah maupun ladang, merupakan mata pencarian utama masyarakat Kutai. Melihat
letaknya di sekitar Sungai Mahakam sebagai jalur transportasi laut, diperkirakan
perdagangan masyarakat Kutai berjalan cukup ramai. Bagi pedagang luar yang ingin
berjualan di Kutai, mereka harus memberikan hadiah kepada raja agar diizinkan
berdagang. Pemberian hadiah ini biasanya berupa barang dagangan yang cukup mahal
harganya, dan pemberian ini dianggap sebagai upeti atau pajak kepada pihak Kerajaan.
Melalui hubungan dagang tersebut, baik melalui jalur transportasi sungai-laut maupan
transportasi darat, berkembanglah hubungan agama dan kebudayaan dengan wilayah-

wilayah sekitar. Banyak pendeta yang diundang datang ke Kutai. Banyak pula orang
Kutai yang berkunjung ke daerah asal para pendeta tersebut.

G. MASA KERUNTUHAN
Berdasarkan yupa yang ditemukan,Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang
bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai
Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini
(Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu ibukota di
Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan
dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan
Islam.
Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar
Pangeran berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga
sekarang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara. Nama Raja Kundungga oleh para ahli
sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan
nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah
terpengaruh budaya Hindu.

BAB III

PENUTUPAN
A. KESIMPULAN
Kerajaan Kutai berada di kalimantan Timur, yaitu di sungai hulu Mahakam. Nama
kerajaan ini disesuaikan dengan nama tempat penemuan prasasti, yaitu didaerah Kutai.
Kaltim telah berdiri dan berkembang kerajaan yang mendapatkan pegaruh Hindu adalah
beberapa penemuan berupa batu bertulis atau Prasasti. Tulisan itu ada pada tujuh tiang
batu yang disebut Yupa. Yupa ini berfungsi utuk mengikat hewan Korban. Korban itu
merupakan persembahan rakyat kepada para Dewa yang dipujanya.
Kehidupan social dan budayanya pun sangat menjujung tinggi nilai kebudayaan yang
ada. Kehidupan ekonomi masyarakat kutai sangat makmur, dengan bukti bahwa Kerajaan
Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai menjadi
tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan
bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai,
disamping pertanian.
Keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah
memberikan hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Masa keruntuhan Kerajaan Kutai runtuh ketika Raja Dharma Setia tewas ditangan Raja
Kutai Kartanegara. Raja Dhamarmasetia adalah anak dari Raja Mulawarman, cucu dari
Raja Asmawarman, buyut dari Raja Kudungga. Dan Raja Dharma Setia adalah Raja
terakhir diKerajaan Kutai .

B. SARAN
Kita sebagai masyarakat Indonesia harus mencintai budaya budaya yang ada saat ini.
Peninggalan-peninggalan yang begitu besar di Indonesia membuktikan bahwa Indonesia
adalah
negeri yang kaya akan budaya. Dengan cara merawat,melestarikan dan tidak merusak
budaya yang

ada itu juga merupakan bukti cinta kita terhadapan peninggalan budaya diIndonesia.
Melestarikan
dan mengembangkan Budaya Indonesia adalah hal yang sangat penting bagi kita anak
Indonesia,
supaya Budaya Indonesia tidak hilang dari Indonesia ini.
http://myblogberbagikaryatangan.blogspot.co.id/2015/02/contoh-makalah-tentangkerajaan-kutai.html
http://myschool039.blogspot.co.id/2015/10/makalah-kerajaan-kutai.html