Anda di halaman 1dari 6

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN PEMASANGAN INFUS

DI RUANG IGD RST SOEDJONO


MAGELANG

Disusun oleh :
Hidayatus Solihin
2213156

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2016
ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN PEMASANGAN INFUS

DI RUANG IGD RST SOEDJONO


MAGELANG

1. Tindakan yang dilakukan


Pemasangan infus
2. Dasar pemikiran
Pemberian cairan melalui infus dengan memasukan ke dalam vena (pembuluh darah)
atau mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang didasarkan atas status hidrasi
pasien, konsentrasi elektrolit, dan kelainan metabolik yang tidak dapat dipertahankan
secara adekuat melalui oral, memberikan keseimbangan asam basa, memperbaiki
volume komponen darah dan memberikan nutrisi saat sistem pencernaan
diistirahatkan. Selain pemberian infus pada pasien yang mengalami pengeluaran
cairan, juga dapat dilakukan pada pasien yang mengalami syok, intoksikasi berat, pra
dan pasca bedah, sebelum tranfusi darah, atau pasien yang membutuhkan pengobatan
tertentu. Berbagai larutan parenteral telah dikembangkan menurut kebutuhan
fisiologis berbagai kondisi medis. Terapi cairan intravena atau infus merupakan salah
satu aspek terpenting yang menentukan dalam penanganan dan perawatan pasien.
3. Prinsip prinsip tindakan
Prinsip pemasangan terapi intravena (infus) memperhatikan prinsip steril, hal ini yang
paling penting dilakukan tindakan untuk mencegah kontaminasi jarum intravena
(infus).
Indikasi pemasangan infus:

Keadaan emergency (misal pada tindakan RJP), yang memungkinkan pemberian


obat langsung ke dalam Intra Vena.

Pasien yang mendapat terapi obat dalam dosis besar secara terus-menerus melalui
intra vena.

Pasien yang membutuhkan pencegahan gangguan cairan dan elektrolit.

Pasien yang mendapatkan tranfusi darah.

Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada


operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk
persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat).

Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi
(kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah
kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.

Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi kebutuhan


dengan injeksi intramuskuler.

4. Analisa tindakan keperawatan


a. Tahap Pre Interaksi

Persiapan pasien.

Memberitahu dan menjelaskan kepada pasien mengenai tindakan yang


akan dilakukan.

Posisi pasien tidur terlentang.

Cek program terapi cairan pasien.

b. Tahap persiapan alat

Ciran infus dan infus set sesuai kebutuhan.

Wings needle/abocath sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan.

Perlak dan torniquet.

Plester/hypafix.

Bengkok.

Sarung tangan bersih.

Kapas alkohol.

c. Tahap Orientasi

Cuci tangan sebelum ke pasien.

Berikan salam, cek nama dan nomor RM.

Perkenalkan diri, jelaskan prosedur dan tujuan tindakan.

Berikan kesempatan untuk bertanya.

d. Tahap Kerja

Cuci tangan.

Bebaskan lengan klien dari lengan baju.

Letakkan perlak dibawah lengan pasien.

Hubungkan cairan infuse dengan selang infuse sehingga tidak ada


udara didalamnya kencangkan klem sampai infuse tidak menetes dan
pertahankan kesterilannya sampai pemasangan pada tangan disiapkan.

Letakkan tourniquit 5-15 cm diatas tempat tusukan.

Kencangkan torniquet.

Anjurkan klien untuk mengepalkan tangannya palpasi dan pastikan


tekanan yang akan ditusuk.

Disinfektan menggunakan kapas alkohol, arah melingkar dari dalam


keluar lokasi tusukan.

Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah


tusukan.

Pegang abocath 30 derajat pada vena yang akan ditusuk, setelah pasti
masuk lalu tusuk perlahan dengan pasti.

Rendahkan posisi abocath tarik jarum dan dorong masuk selang IV.

Tekan dengan jari ujung selang IV untuk mencegah keluarnya darah.

Buka klem infuse sampai sampai cairan mengalir lancar.

Tutup degan kasa.

Fiksasi menggunakan hypafix.

Atur tetesan infuse sesuai ketentua, pasang stiker yang sudah diberi
tanggal.

e. Tahap Terminasi

Evaluasi tindakan.

Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya.

Akhiri kegiatan dan bereskan alat.

Cuci tangan.

Dokumentasi (Tanggal, jam dan nama terang dan, respon pasien


terhadap prosedur).

5. Bahaya yang mungkin muncul


Bila dalam pemasangan IV cateter salah bisa melukai pasien, vena menjadi pecah atau
membiru, cairan tidak bisa masuk melalui vena, bisa terjadi infeksi jika IV cateter
tidak steril. Akan terjadi flebitis/pembengkakan jika terlalu lama di tancapkan. Maka
berhati-hati dan cermat dalam memasang IV cateter sesuai dengan prosedur karena
juga bisa mengakibatkan hal-hal seperti hematoma, infiltrasi, tromboflebitis/bengkak
(inflasi pada pembuluh vena), emboli udara, perdarahan, dan reaksi alergi.

6. Hasil yang didapat dan maknanya


Hasil yang didapat dari tindakan ini adalah bahwa pasien dapat memenuhi kebutuhan
cairan dan elektrolit melalui botol infuse. Seringnya dalam keadaan sakit pola makan
seseorang berubah menjadi tidak nafsu makan maupun minum. Padahal salah satu hal
yang penting dalam mencapai kesembuhan dari penyakit adalah factor nutrisi. Oleh
karena itu untuk mendapatkan tunjangan nutrisi yang selalu dipertahankan stabil dan
adekuat perlu dipasang infuse supaya pasien tidak dehidrasi dan tidak terjadi
kekurangan volume cairan.
7. Kepustakaan
Dougherty L, Bravery K, Gabriel J, Kayley J, Malster M, Scales K, et al.
Standards for infusion therapy (third edition). Royal College of Nursing; 2010.
Darwis, Aprizal. (2014). Prosedur pemasangan infus. Diakses pada tanggal 15
Februari

2016

dari: http://www.abcmedika.com/2014/04/prosedur-pemasangan-

infus.html
Muchtar, Amrizal. (2015). Pemasangan infus. Diakses pada 16 Februari 2016
dari :https://www.academia.edu/6658158/1_PEMASANGAN_INFUS