0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan57 halaman

Laporan PDCA Peningkatan Mutu Puskesmas

Dokumen tersebut merangkum rencana pembentukan pos kesehatan di pesantren untuk meningkatkan kesehatan santri melalui 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut.

Diunggah oleh

Angga Putra Perdana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan57 halaman

Laporan PDCA Peningkatan Mutu Puskesmas

Dokumen tersebut merangkum rencana pembentukan pos kesehatan di pesantren untuk meningkatkan kesehatan santri melalui 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut.

Diunggah oleh

Angga Putra Perdana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Plan Do Check Action

UPAYA PENINGKATAN KEPUASAN PENGGUNA JASA KESEHATAN MELALUI

PENINGKATAN MUTU PELAYANAN PUSKESMAS PAUH

PADANG

OLEH:

Hidayatul Ilma 1210312032


Angga Putra Perdana 1210313039
Tri Bakti Permana 1110312124
Dian Arfan As Bahri 1210313009
Dewi Esti Diantini 1210312084
Nesha Pratiwi 1210313018
Chaliq Akbar 1210312011
Wulan Purnama Sari 1210312111
Nurul Fadila 1210312043
Yohanna Trinanda 1210312101

Preseptor:
Abdiana, SKM, M. Epid

Penguji:
dr. Husna Yetti, PhD

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PERIODE 23 JANUARI 25 MARET
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Plan Do Check and Action (PDCA)


Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Padang

Judul laporan : UPAYA PENINGKATAN KEPUASAN PENGGUNA JASA

KESEHATAN MELALUI PENINGKATAN MUTU

PELAYANAN PUSKESMAS PAUH PADANG

Periode : 23 Januari 25 Maret 2017

Pelaksana : Hidayatul Ilma 1210312032


Angga Putra Perdana 1210313039
Tri Bakti Permana 1110312124
Dian Arfan As Bahri 1210313009
Dewi Esti Diantini 1210312084
Nesha Pratiwi 1210313018
Chaliq Akbar 1210312011
Wulan Purnama Sari 1210312111
Nurul Fadila 1210312043
Yohanna Trinanda 1210312101

Mengetahui/Menyetujui
Preseptor

Abdiana, SKM, M. Epid


HALAMAN PENGESAHAN
1
Plan Do Check and Action (PDCA)
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Padang

Judul laporan : UPAYA PENINGKATAN KEPUASAN PENGGUNA JASA


KESEHATAN MELALUI PENINGKATAN MUTU
PELAYANAN PUSKESMAS PAUH PADANG

Periode : 23 Januari 25 Maret 2017

Pelaksana : Hidayatul Ilma 1210312032


Angga Putra Perdana 1210313039
Tri Bakti Permana 1110312124
Dian Arfan As Bahri 1210313009
Dewi Esti Diantini 1210312084
Nesha Pratiwi 1210313018
Chaliq Akbar 1210312011
Wulan Purnama Sari 1210312111
Nurul Fadila 1210312043
Yohanna Trinanda 1210312101

Mengetahui/Menyetujui
Penguji

dr. Husna Yetti, PhD

2
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbilaalamiin, puji dan syukur kepada Allah SWT penulis

ucapkan atas limpahan ilmu, pikiran, tenaga, dan waktu, sehingga penulis dapat

menyelesaikan proposal PDCA yang berjudul Upaya Peningkatan Kepuasan

Pengguna Jasa Kesehatan Melalui Peningkatan Mutu Pelayanan Puskesmas Pauh

Padang. Makalah PDCA ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan

tahap kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran

Universitas Andalas dan/atau Rumah Sakit DR. M. Djamil Padang.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Abdiana, SKM, M. Epid

selaku preseptor yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah

ini. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada Ibu dr. Dessy Susanti sebagai

Kepala Puskesmas Pauh, beserta seluruh staf puskesmas yang telah meluangkan

waktu untuk membimbing kami selama menyelesaikan laporan ini.

Penulisan PDCA ini sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,

dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun

dari berbagai pihak. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat.

Padang, Februari 2017

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN. i
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR GAMBAR .. vi
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR SINGKATAN viii
BAB 1 PENDAHULUAN . 1
1.1 Latar Belakang.. 1
1.2 Rumusan Masalah. 3
1.3 Tujuan3
1.4 Manfaat . 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .2
2.1 Puskesmas.. 5
2.1.1 Definisi.. 5
2.1.2 Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas 5
2.1.3 Tugas dan Tujuan Penyelenggaraan Puskesmas 5
2.1.4 Peran dan Fungsi Puskesmas 6
2.1.5 Upaya Kesehatan Puskesmas 7
2.2 Pesantren 8
2.3 Pos Kesehatan Pesantren 8
2.3.1 Definisi 8
2.3.2 Tujuan Poskestren. 8
2.3.3 Sasaran .. 9
2.3.4 Ruang Lingkup Kegiatan... 9
2.3.5 Fungsi Poskestren.. 10
2.3.6 Manfaat Poskestren 10
2.3.7 Pengorganisasian... 12
2.3.8 Langkah Pembentukan Poskestren 13
2.3.9 Penyelenggaraan Kegiatan 18
2.3.10 Pelaksana dan Penanggung Jawab. . 20
2.3.11 Pembiayaan. 22
2.3.12 Pencatatan dan Pelaporan. .. 22
2.3.13 Pembinaan dan Pengembangan. . 23
BAB 3 ANALISIS SITUASI. . 28
3.1 Gambaran Umum Puskesmas Ambacang Kuranji 28
3.1.1 Kondisi Geografis Puskesmas Ambacang Kuranji. . 28
3.1.2 Kondisi Demografis Puskesmas Ambacang Kuranji... . 29
3.1.3 Sarana dan Prasarana Puskesmas Ambacang Kuranji . 31
3.1.4 Kondisi Sosial, Budaya, dan Ekonomi Penduduk. 32
3.1.5 Struktur Organisasi Puskesmas Ambacang Kuranji. 34
3.1.6 Visi, Misi, dan Strategi Puskesmas Ambacang Kuranji. .. 35
3.2 Gambaran Umum Pesantren Thawalib Cubadak Aie Padang 36
3.2.1 Kondisi Geografis. 36
3.2.2 Kondisi Demografis.. 37
3.2.3 Sarana dan Prasarana Pesantren Thawalib Cubadak Aie
Padang 37

4
3.2.4 Visi dan Misi Pesantren Thawalib Cubadak Aie Padang .38
3.2.5 Struktur Organisasi.. . 39
BAB 4 PEMBAHASAN.. 40
4.1 Identifikasi Masalah... 40
4.2 Penentuan Prioritas Masalah.. 40
4.3 Analisis Sebab Masalah. 46
4.4 Alternatif Pemecahan Masalah... 49
BAB 5 PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PDCA.... 52
5.1 Plan (Tahap Persiapan). 52
5.2 Do (Tahap Pelaksanaan). 53
5.3 Check (Tahap Evaluasi). 54
5.4 Action (Rencana Berkelanjutan) 54
5.5 Matriks Kegiatan 55
BAB 6 HASIL DAN PEMBAHASAN... 57
6.1 Survei Mawas Diri. 57
6.2 Musyawarah Mawas Diri... 61
6.3 Pelatihan Kader Poskestren 66
6.4 Peresmian Poskestren 72
6.5 Pelantikan Kader . . 74
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN . . 76
7.1 Kesimpulan 76
7.2 Saran.. 77
DAFTAR PUSTAKA. 79

5
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Data Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang ........ 30


Tabel 3.2 Distribusi Jumlah Penduduk Perluas Wilayah . 30
Tabel 3.3 Fasilitas Kesehatan Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang ..... 31
Tabel 3.4 Fasilitas Pendidikan Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang 32
Tabel 3.5 Mata Pencaharian Penduduk .... 32
Tabel 3.6 Tingkat Pendidikan Masyarakat .. 33
Tabel 3.7 Sarana dan Prasarana Pesantren Thawalib Cubadak Aie Padang. 37
Tabel 4.1 Daftar Masalah di Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang .. 40
Tabel 4.2 Penilaian Prioritas Masalah di Wilayah Kerja Puskesmas
Ambacang 42
Tabel 5.1 Matriks Kegiatan . 55
Tabel 6.1 Karakteristik Responden.. 57
Tabel 6.2 Hasil Penilaian Pertanyaan Pengetahuan dan Sikap 57
Tabel 6.3 Hasil Penilaian Pertanyaan Tindakan.. 58
Tabel 6.4 Hasil Penilaian Pertanyaan Tambahan. 58
Tabel 6.5 Hasil Penilaian Pertanyaan Tambahan. 58
Tabel 6.6 Distribusi Pengetahuan Kader Poskestren Sebelum dan
Setelah Pelatihan. 71

6
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang Kuranji.. 29


Gambar 3.2 Peta Wilayah Pondok Pesantren Thawalib Cubadak Aie
Padang 37
Gambar 4.1 Diagram Ischikawa. 48
Gambar 6.1 Pengisian Kuesioner..57
Gambar 6.2 Bak Mandi Sebelum Intervensi.... 59
Gambar 6.3 Lantai Sekolah Sebelum Intervensi..59
Gambar 6.4 Musyawarah Mawas Diri Berlangsung... 61
Gambar 6.5 Presentasi Hasil MMD oleh Dokter Muda ............................ 61
Gambar 6.6 Dokter Muda bersama kader dan lintas sektor terkait ........... 62
Gambar 6.7 Struktur Kepengurusan Poskestren ....................................... 64
Gambar 6.8 Buku Modul Poskestren ........................................................ 65
Gambar 6.9 Materi Kesehatan Lingkungan .............................................. 66
Gambar 6.10 Materi Pencegahan Penyakit Menular .................................. 67
Gambar 6.11 Materi Obat P3K ................................................................... 67
Gambar 6.12 Materi PHBS ......................................................................... 68
Gambar 6.13 Materi Gizi Seimbang ........................................................... 69
Gambar 6.14 Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Mewakili Bapak
Walikota Padang Meresmikan PoskestrenThawalib Cubadak Aie
Padang. 71
Gambar 6.15 Kader Poskestren Thawalib Cubadak Aie. 72
Gambar 6.16 Pemasangan Scarf Ketua Kader oleh Ibu Kepala Bagian
Kesejahteraan Masyarakat Kota
Padang 73
Gambar 6.17 Pemasangan Scarf Sekretaris Kader oleh Ibu Kepala
Puskesmas Ambacang Kuranji Padang. 73
Gambar 6.18 Penandatangan Visi Misi Poskestren Thawalib Cubadak Aie
Padang oleh Ketua Kader.. 73
Gambar 6.19 Sesi Foto Bersama Kader - Kepala & Staf Puskesmas
Dokter Muda FK Unand 74
Gambar 6.20 Penutupan acara (Penampilan Bakat Santri/wati) . 76

7
DAFTAR SINGKATAN

POSKESTREN = Pos Kesehatan Pesantren


SDGs = Sustainable Development Goals
SMD = Survei Mawas Diri
UKM = Upaya Kesehatan Masyarakat
UKP = Upaya Kesehatan Perorangan
UMBM = Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
UU = Undang- Undang

8
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kesehatan merupakan hak asasi yang bersifat fundamental bagi setiap

individu. Hal ini tertuang dalam pasal 28H UUD 1945 yang menyatakan bahwa

setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan

mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh

pelayanan kesehatan.1 Kesehatan merupakan salah satu komponen dalam

mengukur keberhasilan pembangunan bangsa, sehingga harus dipelihara,

diperjuangkan, dan dilindungi dari berbagai ancaman penyakit dan masalah

kesehatan lainnya. Selain itu, upaya pembangunan kesehatan juga dilakukan guna

mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama goal tentang

kesehatan dan kesejahteraan.1,2

Pusat Kesehatan Masyarakat yang disebut Puskesmas adalah fasilitas

pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan

upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan

upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang

setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.4 Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan

tersebut bagi setiap puskesmas wajib untuk melihat sejauh mana puskesmas

mampu menggerakkan semua sumber daya yang ada untuk menghasilkan capaian

program yang diharapkan dan memberi daya ungkit terhadap peningkatan derajat

kesehatan masyarakat. Agar Puskesmas dapat menjalankan fungsinya secara

optimal perlu dikelola dengan baik, baik kinerja pelayanan, proses pelayanan,

maupun sumber daya yang digunakan. Masyarakat menghendaki pelayanan

9
kesehatan yang aman dan bermutu, serta dapat menjawab kebutuhan mereka, oleh

karena itu upaya peningkatan pelayanan, manajemen risiko dan keselamatan

pasien perlu diterapkan dalam pengelolaan puskesmas dalam memberikan

pelayanan kesehatan yang komprehensif kepada masyarakat melalui upaya

pemberdayaan masyarakat dan swasta.4

Permenkes No. 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat

menyatakan bahwa puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyrakat (UKM) dan upaya kesehatan

perorangan (UKP) tingkat pertama, dan lebih mengutamakan upaya promotive

dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-

tingginya di wilayah kerjanya.

Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan Puskemas perlu menjaga kualitasnya.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik termasuk

pelayanan kesehatan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Republik

Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional

(PROPENAS), perlu disusun indeks kepuasan masyarakat sebagai tolok ukur

untuk menilai tingkat kualitas pelayanan. Di samping itu data indeks kepuasan

pengguna jasa kesehatan dapat menjadi bahan penilaian terhadap unsur pelayanan

yang masih perlu perbaikan dan menjadi pendorong setiap unit penyelenggara

pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanannya.6

Kepuasan pengguna jasa kesehatan tidak terlepas dari kualitas pelayanan.

Kualitas pelayanan dapat dilihat dari lima dimensi yaitu dimensi tangible (hal-hal

yang dapat dilihat dari aspek pelayanan), dimensi reliability (kehandalan layanan),

10
dimensi responsiveness (cepat tanggap), dimensi empathy (keramahtamahan), dan

dimensi assurance (jaminan suatu pelayanan yang terbaik).

Puskesmas Pauh merupakan salah satu puskesmas di Kota Padang dengan

wilayah kerja mencakup 9 kelurahan. Penulis melihat masalah pelayanan

kesehatan yang belum terstandar di pukesmas tersebut. Penulis lalu melakukan

survei awal dengan mengadopsi metode yang digunakan oleh ..... untuk

menghitung angka kepuasan pengguna jasa kesehatan Puskesmas Pauh. Dari

sebanyak .... sampel dipilih secara acak kemudian diwawancarai dan ditanyakan

bagaimana harapan dan kenyataannya mengenai pelayan kesehatan di Puskesmas

Pauh. Hasilnya menunjukkan ....% responden ........ kondisi ini memperlihatkan

bahwa angka kepuasan pengguna jasa terhadap pelayanan di Puskesmas

Pauh.........

Berdasarkan uraian diatas, penulis berkeinginan untuk melakukan upaya

untuk meningkatkan kepuasan pengguna pelayanan kesehatan melalui

peningkatan mutu pelayanan Puskesmas Pauh.


1.2.
Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah

dalam PDCA ini sebagai berikut:

1. Apa saja masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pauh?

2. Bagaimana prioritas masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pauh?

3. Bagaimana alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilaksanakan untuk

masalah utama di wilayah kerja Puskesmas Pauh?

4. Bagaimana tingkat kepuasan pengguna jasa kesehatan Puskesmas Pauh?

11
5. Apa tindakan yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan kepuasan

pengguna jasa kesehatan Puskesmas Pauh?

1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum

Meningkatkan kepuasan penguna jasa kesehatan melalui peningkatan mutu

pelayanan Puskesmas Pauh.

1.3.2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pauh.

b. Mengetahui prioritas masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas

Pauh.

c. Mengetahui alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilaksanakan

untuk masalah utama di wilayah kerja Puskesmas Pauh.

d. Mengetahui tingkat kepuasan pengguna jasa kesehatan Puskesmas

Pauh.

e. Mengetahui tindakan yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan

kepuasan pengguna jasa kesehatan Puskesmas Pauh.

1.4. Manfaat

1.4.1. Bagi Penulis

a. Mempelajari masalah-masalah dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan

di Puskesmas Pauh.

1.4.2. Bagi Masyarakat

12
a. Tersedia unit pelayanan kesehatan yang sesuai standar dan

harapanmasyarakat.

1.4.3. Bagi Puskesmas

a. Tercapainya pelayanan Puskesmas Pauh sesuai dengan standar

akreditasi.

b. Mengetahui kinerja pelayanan puskesmas sehingga dapat diketahui

kekurangan dan kelebihan pelayanan di wilayah kerja Puskesmas

Pauh.

c. Meningkatkan pencapaian program kerja di wilayah kerja Puskesmas

Pauh.

13
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Puskesmas

2.1.1 Definisi

Berdasarkan Permenkes RI nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas,

Puskesmas didefinisikan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan

perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan

preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya

di wilayah kerjanya.7

2.1.2 Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas

Prinsip dari penyelenggaraan Puskesmas meliputi paradigma sehat,

pertanggungjawaban wilayah, kemandirian masyarakat, pemerataan, teknologi

tepat guna, serta keterpaduan dan kesinambungan. Dalam penjalanan prinsip

puskesmas ini, dibutuhkan manajemen puskesmas yang baik untuk

mengkoordinasikan penyelenggaraan UKM dan UKP lintas program dan lintas

sektor.7

2.1.3 Tugas dan Tujuan Penyelenggaraan Puskesmas

Tujuan penyelenggaraan puskesmas adalah melaksanakan kebijakan

kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya

14
dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan

tugasnya tersebut, Puskesmas memiliki fungsi sebagai penyelenggara UKM

(Upaya Kesehatan Masyarakat) dan UKP (Upaya Kesehatan Perseorangan).

Dalam menjalankan fungsinya, Puskesmas berwenang untuk melaksanakan

perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan dan kebutuhan pelayanan

dan memberikan pelayanan kesehatan dasar yang komprehensif,

berkesinambungan, dan bermutu.7

2.1.4 Peran dan Fungsi Puskesmas

Kesehatan merupakan salah satu komponen dalam mengukur keberhasilan

pembangunan bangsa, sehingga harus dipelihara, diperjuangkan, dan dilindungi

dari berbagai ancaman penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Selain itu, upaya

pembangunan kesehatan juga dilakukan guna mencapai tujuan Sustainable

Development Goals (SDGs), terutama goal tentang kesehatan dan kesejahteraan.

Puskesmas berperan sebagai penyelenggara upaya kesehatan untuk meningkatkan

kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar

memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Puskesmas juga berfungsi sebagai

pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan

keluarga dan masyarakat, serta pusat pelayanan kesehatan strata pertama.1,2,7

2.1.5 Upaya Kesehatan Puskesmas

Upaya kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas merupakan Upaya

Kesehatan Masyarakat (UKM) tingkat pertama dan Upaya Kesehatan

Perseorangan (UKP) tingkat pertama yang dilaksanakan secara terintregasi dan

berkesinambungan. UKM adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan serta mencegah timbulnya masalah kesehatan dengan

15
sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat. UKP adalah kegiatan pelayanan

yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit,

pengurangan penderitaan akibat penyakit, dan memulihkan kesehatan

perseorangan.7,8

Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) terdiri dari Upaya Kesehatan Wajib

dan Upaya Kesehatan Pengembangan. Upaya Kesehatan Wajib merupakan upaya

kesehatan yang dilaksanakan di seluruh Puskesmas di Indonesia, yaitu Promosi

Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana,

Perbaikan Gizi Masyarakat, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular,

serta Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Sedangkan Upaya

Kesehatan Pengembangan ditetapkan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

dengan mempertimbangkan masukan dari masyarakat. Sebagai contoh: Upaya

Kesehatan Sekolah, Upaya Kesehatan Olahraga, Upaya Kesehatan Kerja, Upaya

Kesehatan Gigi dan Mulut, Upaya Kesehatan Jiwa, Upaya Kesehatan Mata,

Kesehatan Usia Lanjut, Pembinaan Pengobatan Tradisional, dan sebagainya.

Upaya Kesehatan Pengembangan dapat pula bersifat upaya inovasi, yakni sesuai

dengan kebutuhan kesehatan disuatu wilayah tersebut.7,8

Puskesmas memiliki prinsip untuk memandirikan masyarakat dengan cara

mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu, keluarga, kelompok, dan

masyarakat. Pemberdayaan ini merupakan salah satu upaya dalam mencapai dan

mempertahankan derajat kesehatan bangsa. Wujud pemberdayaan masyarakat

dibidang kesehatan lazim disebut sebagai Upaya Kesehatan Bersumberdaya

Masyarakat (UKBM). UKBM merupakan salah satu wujud pemberdayaan

masyarakat, yang tumbuh dari masyarakat, dikelola oleh masyarakat dan untuk

16
kepentingan masyarakat dalam upaya menanggulangi permasalahan kesehatan

yang dihadapi dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masyarakat setempat.

Wujud pemberdayaan masyarakat sangat beraneka ragam, antara lain: Posyandu,

Poskesdes, Dana Sehat, Pos Obat Desa, Usaha Kesehatan Sekolah, dan Pos

Kesehatan Pesantren.1,3,4,7

2.2. Mutu Pelayanan Kesehatan

Mutu pelayanan kesehatan adalah derajat kesempurnaan pelayanan

kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan dengan

menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di Rumah Sakit atau Puskesmas

secara wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan

sesuai norma, etika, hukum, dan sosial budaya dengan memperhatikan

keterbatasan dan kemampuan pemerintah, serta masyarakat konsumen. 11 Mutu

pelayanan kesehatan meliputi kinerja yang menunjukkan tingkat kesempurnaan

pelayanan kesehatan, tidak saja yang dapat menimbulkan kepuasan bagi pasien

sesuai dengan kepuasan rata-rata penduduk tapi tetapi juga sesuai dengan standar

dan kode etik profesi yang telah ditetapkan.12 Mutu layanan kesehatan akan selalu

menyangkut dua aspek yaitu pertama aspek teknis dari penyedia layanan

kesehatan itu sendiri dan kedua, aspek kemanusiaan yang timbul sebagai akibat

hubungan yang terjadi antara pemberi layanan kesehatan dan penerima layanan

kesehatan.13

Peningkatan mutu pelayanan adalah derajat memberikan pelayanan secara

efektif dan efisien sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan yang

dilaksanakan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan pasien, memanfaatkan

teknologi tepat guna dan hasil penelitian dalam pengembangan pelayanan

17
kesehatan sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal. 14

Mutu dalam perawatan kesehatan adalah produksi kerja sama antara pasien

dan penyedia layanan kesehatan dalam lingkungan yang mendukung. Faktor

pribadi dari penyedia dan pasien, dan faktor-faktor yang berkaitan dengan

organisasi kesehatan, sistem kesehatan, dan lingkungan yang lebih luas

mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan. Mutu kesehatan dapat ditingkatkan

dengan kepemimpinan visioner yang mendukung, perencanaan yang tepat,

pendidikan dan pelatihan, ketersediaan sumber daya, manajemen sumber daya

secara efektif, karyawan dan proses, serta kolaborasi dan kerja sama antara

penyedia. 15

2.2.1 Indikator Mutu Pelayanan Kesehatan

Indikator adalah karakteristik yang dapat diukur dan dapat dipakai untuk

menentukan keterkaitan dengan standar. Indikator dimaksudkan untuk mengukur

ketercapaian suatu standar pelayanan yang sudah ditetapkan. 16 Indikator terdiri

atas :

1. Indikator Persyaratan Minimal

Indikator ini merujuk pada tercapai atau tidaknya standar masukan, standar

lingkungan, dan standar proses.

2. Indikator Penampilan Minimal

Yaitu tolak ukur yang berhubungan dengan keluaran dari suatu pelayanan

kesehatan.

Pendekatan sistem pelayanan seharusnya juga mengkaji tentang hasil

pelayanan. Hasil pelayanan adalah tindak lanjut dari keluaran yang ada, sehingga

perlu ada indikator (tolak ukur) tentang hasil pelayanan tersebut. Indikator yang

18
dimaksud menunjuk pada hasil minimal yang dicapai berdasarkan standar yang

sudah ditentukan.16

Mutu pelayanan kesehatan dapat dikaji antara lain berdasarkan tingkat

pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat dan tingkat efisiensi

institusi sarana kesehatan. Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk

melakukan penilaian mutu pelayanan kesehatan.11

Indikator mutu pelayanan puskesmas mengacu pada aspek :

1. Manajemen puskesmas

2. Pencapaian program puskesmas

3. Drop out masing-masing program dan

kepuasan pasien

2.3 Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan

Untuk melakukan perbaikan mutu pelayanan kesehatan, perlu diperhatikan

empat tingkat perubahan, yaitu :17

1. Pengalaman pasien dan masyarakat

2. Sistem mikro pelayanan

3. Sistem organisasi pelayanan kesehatan

4. Lingkungan pelayan kesehatan

Di samping harus memiliki tujuan yang jelas dan komprehensif, pelayanan

kesehatan harus berfokus pada pengguna jasa. Pengalaman pasien dan masyarakat

yang menjadi pengguna jasa pelayanan kesehatan harus mendapat perhatian utama

sehingga kebutuhan, harapan, dan nilai pengguna jasa dapat dipenuhi oleh

19
organisasi pelayanan kesehatan. Mekanisme untuk mengenal adanya perubahan

kebutuhan, harapan, dan nilai pengguna jasa perlu ada dalam pengelolaan

organisasi pelayanan kesehatan. Dengan demikian, organisasi pelayanan

kesehatan akan mampu memberikan yang terbaik kepada pasien dan masyarakat17.

Berikut pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam upaya mewujudkan

pelayanan kesehatan yang harus berfokus pada pengguna jasa seperti Total

Quality Management (TQM), Layanan Prima.

a. Total Quality Management (TQM)

Sejak empat dekade yang lalu, Joseph Juran (1974) telah menggambarkan

komponen-komponen dasar pendekatan manajemen kualitas secara komprehensif.

Juran telah mengidentifikasikan elemen-elemen yang diperlukan dalam sebuah

sistem untuk mengukur, meningkatkan, dan merancang proses yang secara

konsisten dapat memberikan hasil yang optimal. Dia menamakan sistem tersebut

sebagai manajemen kualitas secara menyeluruh atau Total Quality management .17,
18,19

Merujuk kepada arti kata dari Total Quality management , total berarti

bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan di seluruh tingkatan dan seluruh bagian atau

departemen dalam organisasi serta pada seluruh waktu (setiap hari). Sementara

itu, istilah quality menggambarkan peningkatan yang berkelanjutan untuk

memenuhi kebutuhan pengguna jasa. Di satu sisi, management merupakan

keseluruhan sistem dan lingkungan yang mendukung budaya peningkatan mutu

secara berkelanjutan tersebut.19,20

Empat prinsip yang dimiliki oleh TQM akan sangat membantu dalam upaya

peningkatan mutu layanan kesehatan.

20
21
Empat prinsip itu adalah :19,20

1) Mengukur mutu sehingga dapat mengelolanya;

2) Melakukan perncanaan secara strategis sehingga dapat berpikir jangka panjang,

tetapi tetap melakukan aksi-aksi jangka pendek;

3) Menghimpun kekuatan otak dan gagasan dari setiap orang di organisasi

sehingga diperoleh manfaat dari sinergi yang sedang dan telah dibangun,

4) Berfokus kepada pasien (customer focused) sehingga dapat memberi mereka

kepuasan

Dengan demikian, terdapat beberapa asumsi mengenai pelaksanaan TQM,

yaitu fokus kepada konsumen, penglibatan secara total seluruh komponen dalam

organisasi layanan kesehatan termasuk dokter, karyawan dan seluruh orang yang

ada dalam struktur yang terdapat di dalamnya, serta pengukuran, dukungan

sistematis, dan peningkatan mutu layanan yang berkelanjutan .19,20

Program TQM tersebut dikatakan berhasil apabila telah terjadi serangkaian

perubahan-perubahan mendasar tentang banyak hal termasuk paradigma berpikir

dan cara pandang. Misalnya, bagaimana melihat pengguna jasa, melihat

komunitas yang dihadapi, melihat karyawan, melihat hubungan yang terjalin, dan

juga perubahan dalam budaya organisasi atau perusahaan dan perubahan dalam

mindset atau cara berpikir .19,20

Oleh karena itu, untuk menjamin agar program peningkatan mutu ini dapat

berhasil dan berjalan sukses, perlu keyakinan mengenai kesiapan dan iklim

budaya organisasi, komunikasi, dan komitmen berbagai pihak, serta perhatian

terhadap pendidikan dan perwujudan dari rencana strategis yang telah disusun

bersama.

22
b. Pelayanan prima

Pelayanan prima diartikan sebagai pelayanan yang terbaik dan melebihi,

melampaui, serta mengungguli pelayanan yang diberikan pihak lain atau


20
pelayanan sebelumnya . Dalam usaha untuk mencapai usaha Indonesia sehat

2010, Departemen Kesehatan menjelaskan bahwa pelayanan prima seharusnya

meliputi aspek-aspek berikut:21

1. Kemudahan akses informasi (aspek kepuasan pengguna)

2. Pelaksanaan peraturan secara tepat, konsisten, dan konsekuen (aspek

proses pelayanan)

3. Pelaksanaan hak dan kewajiban pemberi dan penerima pelayanan (aspek

SDM dan kepuasan pengguna jasa)

4. Penanganan dan pendokumentasian kegiatan pelayanan dilakukan oleh

tenaga yang berwenang/ kompeten (aspek proses dan SDM)

5. Penciptaan pola pelayanan yang sesuai dengan sifat dan jenisnya sebagai

efisiensi dan efektivitas (aspek SDM, dan proses pelayanan)

6. Penetapan tarif sesuai dengan kemampuan masyarakat dengan mekanisme

pungutan yang transparan serta adanya pengendalian dan pengawasan

yang cermat (aspek finansial dan kepuasan pengguna jasa)

7. Tidak ada pembedaan dalam memberikan pelayanan serta pemerataan

distribusi cakupan (aspek kepuasan pengguna jasa)

8. Kebersihan fasilitas pelayanan dan lingkungan (aspek proses pelayanan)

9. Sikap ramah dan sopan petugas serta meningkatkan kinerja secara

kualitatif dan kuantitatif dengan kapasitas optimal (aspek kepuasan penggu

na jasa dan aspek SDM).

23
Menurut Permenkes RI No. 46 tahun 2015 dalam upaya peningkatan mutu p

uskesmas pimpinan Puskesmas menetapkan penanggung jawab manajemen mutu

yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan, memonitor kegiatan

peningkatan mutu dan kinerja Puskesmas dan membudayakan perbaikan kinerja

yang berkesinambungan secara konsisten dengan tata nilai, visi, misi, dan tujuan

Puskesmas. Penanggung jawab manajemen mutu tersebut bertanggung jawab

dalam menyusun pedoman (manual) mutu dan kinerja bersama dengan Pimpinan

Puskesmas yang akan menjadi acuan bagi Pimpinan, Penanggung jawab Upaya

Puskesmas dan pelaksana kegiatan Puskesmas.22

Peningkatan mutu puskesmas (PMP) merupakan salah satu penilaian dalam

akreditasi puskesmas sesuai dengan Permenkes RI No. 46 tahun 2015 tentang

akreditasi puskesmas, klinik pratama, tempat praktik mandiri dokter, dan tempat

praktik mandiri dokter gigi dengan elemen penilaian berupa:22

1. Pimpinan Puskesmas menetapkan Penanggung jawab manajemen mutu.

2. Ada kejelasan tugas, wewenang dan tanggung jawab Penanggung jawab

manajemen mutu.

3. Ada Pedoman Peningkatan Mutu dan Kinerja yang disusun bersama oleh

Penanggung jawab manajemen mutu dengan Kepala Puskesmas dan

Penanggung jawab Upaya Puskesmas.

4. Kebijakan mutu dan tata nilai disusun bersama dan dituangkan dalam

pedoman (manual) mutu/Pedoman Peningkatan Mutu dan Kinerja sesuai

dengan visi, misi dan tujuan Puskesmas.

24
5. Pimpinan Puskesmas, Penanggung jawab Upaya Puskesmas, dan Pelaksana

Kegiatan Puskesmas berkomitmen untuk meningkatkan mutu dan kinerja

secara konsisten dan berkesinambungan

2.4 Kepuasan Pengguna Jasa Pelayanan Kesehatan

2.4.1 Definisi Kepuasan

Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul

setelah membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja

(atau hasil) yang diharapkan. Jika kinerja berada di bawah harapan, pelanggan

tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan, pelanggan puas. Jika kinerja melebihi

harapan, pelanggan amat puas atau senang.23

Definisi lain menyatakan kepuasan pelanggan adalah respon pelanggan

terhadap ketidaksesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja

aktual yang dirasakannya setelah pemakaian. Persepsi pelanggan mengenai mutu

jasa adalah salah satu faktor yang menentukan tingkat kepuasan pelanggan. 24

Terdapat lima hal yang mempengaruhi persepsi pelanggan mengenai mutu jasa,

yaitu:25

1. Tangible, merupakan penampilan fisik dari jasa yang ditawarkan, peralatan,

personil dan fasilitas komunikasi.

2. Reliability, yaitu dimensi yang mengukur kehandalan dari perusahaan dalam

memberikan pelayanan kepada pelanggannya. Dibandingkan dengan empat

dimensi kualitas pelayanan lainnya, dimensi ini sering dipersepsi paling

penting bagi pelanggan dari berbagai industri jasa.

3. Emphaty, yaitu kepedulian terhadap orang lain.

25
4. Assurance, berhubungan dengan kemampuan perusahaan dan perilaku front-

line staf dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan kepada para

pelanggannya.

5. Responsiveness, adalah dimensi kualitas pelayanan yang paling dinamis.

Harapan pelanggan terhadap kecepatan pelayanan hampir dapat dipastikan

akan berubah dengan kecenderungan naik dari waktu ke waktu. Sama

seperti dimensi pelayana lainnya, maka kepuasan terhadap dimensi

responsiviness adalah berdasarkan persepsi dan bukan aktualnya.

2.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan

Faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien yaitu:26

a. Kualitas produk atau jasa, pasien akan merasa puas bila hasil evaluasi

mereka menunjukkan bahwa produk atau jasa yang digunakan berkualitas.

Persepsi pasien terhadap kualitas produk atau jasa dipengaruhi oleh dua hal

yaitu kenyataan kualitas produk atau jasa dan komunikasi perusahaan,

dalam hal ini rumah sakit dalam mengiklankan tempatnya.

b. Kualitas pelayanan, pasien akan merasa puas jika mereka memperoleh

pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan.

c. Faktor emosional, pasien merasa bangga, puas dan kagum terhadap rumah

sakit yang dipandang rumah sakit mahal.

d. Biaya, pasien yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak

perlu membuang waktu untuk mendapatkan jasa pelayanan, maka pasien

cenderung puas terhadap jasa pelayanan tersebut.

Selain itu, menurut Moison, Walter dan White menyebutkan faktor-faktor

yang mempengaruhi kepuasan pasien, yaitu:27

26
a. Karakteristik produk, karakteristik produk rumah sakit meliputi penampilan

bangunan, kebersihan dan tipe kelas kamar yang disediakan beserta

kelengkapannya.

b. Harga, semakin mahal harga perawatan maka pasien mempunyai harapan

yang lebih besar.

c. Pelayanan, meliputi pelayanan keramahan petugas, kecepatan dalam

pelayanan. Puskesmas dianggap baik apabila dalam memberikan pelayanan

lebih memperhatikan kebutuhan pasien maupun orang lain yang berkunjung

di Puskesmas tersebut.

d. Lokasi, meliputi letak Puskesmas, letak kamar dan lingkungannya. Lokasi

merupakan salah satu aspek yang menentukan pertimbangan dalam memilih

fasilitas kesehatan. Umumnya semakin dekat fasilitas kesehatan dengan pusat

perkotaan atau yang mudah dijangkau, mudahnya transportasi dan lingkungan

yang baik akan semakin menjadi pilihan bagi pasien untuk datang ke

pelayanan kesehatan tersebut.

e. Fasilitas, kelengkapan fasilitas Puskesmas turut menentukan penilaian

kepuasan pasien, misalnya fasilitas kesehatan baik sarana dan prasarana,

tempat parkir, ruang tunggu yang nyaman.

f. Image, yaitu citra, reputasi dan kepedulian perawat terhadap lingkungan

g. Desain visual, tata ruang dan dekorasi ikut menentukan kenyamanan suatu

fasilitas kesehatan, oleh karena itu desain dan visual harus diikutsertakan

dalam penyusunan strategi terhadap kepuasan pasien atau konsumen.

h. Suasana, suasana Puskesmas yang tenang, nyaman, sejuk dan indah akan

sangat mempengaruhi kepuasan pasien dalam proses penyembuhannya.

27
Selain itu tidak hanya bagi pasien saja yang menikmati itu akan tetapi orang

lain yang berkunjung ke Puskesmas akan sangat senang dan memberikan

pendapat yang positif sehingga akan terkesan bagi pengunjung Puskesmas

tersebut.

i. Komunikasi, bagaimana keluhan-keluhan dari pasien dengan cepat diterima

oleh perawat.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang dapat

mempengaruhi kepuasan pasien adalah kualitas pelayanan, biaya perawatan,

lokasi, fasilitas, citra, desain visual, suasana dan komunikasi.

2.4.3 Pengukuran Kepuasan Konsumen

Dalam mengukur kepuasan konsumen dapat mengunakan cara sebagai

berikut :23

a. Survei Berkala

Perusahaan dapat menelusuri kepuasan pelanggan secara langsung. Dalam

hal ini para responden dapat diberi pertanyaan tambahan mengukur maksud

pembelian ulang dan kemungkinan atau keinginan merekomendasikan

perusahaan dan merek kepada orang lain.

b. Ghost Shoping

Perusahaan dapat memperkerjakan pembelanja siluman sebagai pembelanja

potensial dan melaporkan tentang hal-hal kuat dan lemah yang dialami

dalam membeli produk perusahaan dan produk pesaing.

c. Lost Customer Analysis

28
Perusahaan dapat memantau angka kehilangan pelanggan dan mengontak

pelanggan yang telah berhenti membeli atau yang sudah beralih ke pemasok

lain untuk mempelajari mengapa ini terjadi.

d. Sistem Keluhan dan Saran

Perusahaan menyediakan beberapa media untuk menerima saran, kritik dan

keluhan untuk kebaikan perusahaan di masa mendatang.

29
BAB 3
ANALISIS SITUASI

3.1. Gambaran Umum Puskesmas Pauh

Puskesmas Pauh terletak di kelurahan Cupak Tangah dengan wilayah kerja

meliputi 9 kelurahan dengan luas 146,2 Km2. Puskesmas Pauh memiliki batas

wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Timur berbatas dengan Kabupaten Solok

2. Sebelah Barat berbatas dengan Wilayah kerja Puskesmas Andalas

(Padang Timur).

3. Sebelah Utara berbatas dengan Wilayah Kerja Puskesmas

Kecamatan Koto Tangah

4. Sebelah Selatan berbatas dengan sebagian Wilayah kerja Puskesmas

Lubuk Kilangan.

Jumlah distribusi sasaran penduduk di Puskesmas Pauh pada tahun 2015

yaitu sebanyak 65.515 penduduk dengan 1.234 bayi, 5.966 balita, 1.344 ibu hamil,

dan 6.346 lansia.

30
Gambar 3.1 Peta Batas-batas Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Tahun 2015
(Sumber : Profil Puskesmas Pauh Tahun 2015)
Keterangan:
Puskesmas pembatu
Puskeskel

3.2 Sarana dan Prasarana

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk makin meningkatkan kualitas

dan pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan. Dalam upaya mencapai tujuan

tersebut penyediaan sarana dan prasarana kesehatan yang bermutu merupakan hal

yang penting.
Wilayah Kerja Puskesmas Pauh sangat luas, oleh karena itu untuk

melayani masyarakat, Puskesmas Pauh memiliki 1 buah Puskesmas induk, dan 5

buah Puskesmas pembantu dan 4 buah Poskeskel yang tersebar di wilayah kerja

Puskesmas Pauh, yaitu :

a. Puskesmas Pembantu Jawa Gadut

b. Puskesmas Pembantu Pisang

c. Puskesmas Pembantu Ulo Gadut


31
d. Puskesmas Pembantu Batu Busuk

e. Puskesmas Pembantu Piai Tangah

f. Poskeskel Limau Manis Selatan

g. Poskeskel Cupak Tangah

h. Poskeskel Kapalo Koto

i. Poskeskel Koto Lua

Untuk kelancaran tugas pelayanan terhadap masyarakat, Puskesmas Pauh

mempunyai 1 kendaraan roda empat (Puskel) dan 7 buah kendaraan roda dua.
Daftar sarana dan tenaga kesehatan lain yang ada di wilayah kerja

Puskesmas Pauh adalah:


1. Rumah Sakit Pemerintah : 1 buah
2. Rumah Sakit Swasta : 1 buah
3. Klinik Bersalin : 5 buah
4. Dokter Praktek Umum : 5 orang
5. Dokter Praktek Spesialis : 3 orang
6. Bidan Praktek Swasta (BPS) : 5 buah
7. Posyandu Balita : 70 buah
8. Posyandu Lansia : 13 buah
9. Praktek Swasta Dokter Gigi : 2 orang

3.3. JumlahPenduduk Wilayah KerjaPuskesmasPauh

Tabel 3.1 Jumlah Prakiraan Penduduk Sasaran Kesehatan Puskesmas Pauh


2015
No Kelurahan Jumlah
Pddk Bayi Balita Bumil Bulin Buteki Lansia
1 Pisang 7.924 141 730 167 154 154 767
2 BinuangKp. 6.026 134 640 146 139 139 583
Dalam
3 PiaiTangah 5.047 119 614 124 126 126 491
4 CupakTangah 7.917 159 804 175 173 173 767
5 Kapalo Koto 7.577 135 667 151 134 134 734
6 Koto Lua 8.362 161 698 168 170 170 810
7 Lambuangbu 3.579 79 354 91 86 86 347
kit
8 Limau M 13.00 191 829 194 179 179 1.260
Selatan 5
9 LimauManis 6.061 115 630 128 122 122 587

32
Jumlah 65.51 1.23 5.966 1.344 1.283 1.283 6.346
5 4
(Sumber:Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2015)

3.4 Kunjungan Neonatus di Wilayah Kerja PuskesmasPauh

Tabel 3.2 Jumlah Persentase Kunjungan Neonatus di Puskesmas Pauh


Per Kelurahan Tahun 2015
No Kelurahan KNI (%) KN lengkap
(%)
1 CupakTangah 96,5 96,0
2 Kapalokoto 103 101
3 Binuang 96,1 95,4
4 Pisang 98,6 94,7
5 PiaiTangah 97,3 97,3
6 LimauManis 98,2 97,3
7 LimauManis Selatan 97,3 96,2
8 Koto Lua 96,8 96,2
9 Lb. Bukit 98,6 94,7
(Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2015)

Target dari kunjungan neonatus baik KNI dan KN lengkap adalah 90%.

Dari grafik di atas, KNI dan KN lengkap di semua kelurahan mencapai target.

Pencapaian KNI adalah 98,06% dan KN lengkap adalah 96,94%.

3.5 Pencapaian Neonatus Komplikasi Ditangani dan Dirujuk di Wilayah


Kerja Puskesmas Pauh
Tabel 3.3 Pencapaian Neonatus Komplikasi Ditangani dan Dirujuk di
Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Tahun 2015
No Kelurahan K. ditangani K. dirujuk (%)
(%)
1 CupakTangah 0,0 0,0
2 Kapalokoto 25,00 15,00
3 Binuang 10,00 5,00
4 Pisang 13,04 4,34
5 PiaiTangah 17,65 0,0
6 LimauManis 18,75 12,5
7 LimauManis Selatan 17,86 3,57
8 Koto Lua 20,83 12,50
9 Lb. Bukit 25,00 16,66
(Sumber:Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2015)

33
Target dari penanganan neonatus komplikasi adalah 80%. Penanganan

neonatus komplikasi ditangani semua kelurahan pada umumnya belum mencapai

target. Pencapaian yang paling tinggi terdapat di Kelurahan Lambung Bukit dan

Kapalo Koto yaitu 25% dan paling rendah adalah di Kelurahan Cupak Tangah

yaitu 0,0%. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemantauan Pembina Wilayah

pada BPS.

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Masalah

Proses identifikasi masalah dilakukan melalui kegiatan observasi dan

wawancara dengan pimpinan puskesmas, pemegang program, petugas yang

menjalankan program, dan analisis laporan tahunan Puskesmas Pauh. Proses ini

dilakukan dengan melihat data sekunder berupa laporan tahunan Puskesmas Pauh

pada tahun 2015. Beberapa potensi masalah yang berhasil diidentifikasi di

Puskesmas Pauh adalah :

Tabel 4.1 Daftar Masalah di wilayah kerja Puskesmas Pauh


No. Program Permasalahan Target/ Pencapaia GAP
Indikator n/ Jumlah
Kasus

34
1. Kesehatan Kriteria jamban sehat
75% 43,9% -31,1%
lingkungan
2. Kesehatan Angka rujukan ke klinik
10% 0,03% -9,97%
lingkungan sanitasi
3. KIA Penanganan komplikasi ibu
bersalin -
80% 57,67%
22,33%

4. Penyakit Penemuan suspek TB


100% 40% -60%
menular
5. Pelayanan Pembentukan SOP dan tim
100% 0% -100%
kendali mutu pelayanan

4.2 Penentuan Prioritas Masalah

Berdasarkan proses identifikasi masalah, didapatkan beberapa masalah

yang memerlukan penyelesaian. Akan tetapi, tidak semua masalah dalam program

puskesmas dapat diselesaikan sekaligus, sehingga perlu dilakukan penentuan

prioritas masalah yang merupakan masalah terbesar dan mungkin untuk

diselesaikan. Dalam hal menentukan prioritas masalah, metode yang digunakan

adalah Metode Hanlon. Setelah ditetapkan satu masalah yang menjadi prioritas,

dilanjutkan dengan pembuatan Plan of Action untuk mengatasi masalah tersebut.

Kriteria skoring yang digunakan dalam Metode Hanlon adalah sebagai berikut:

1 Urgensi : Merupakan masalah yang penting untuk dilaksanakan

a Nilai 1 = Tidak penting

b Nilai 2 = Kurang penting

c Nilai 3 = Cukup penting

d Nilai 4 = Penting

e Nilai 5 = Sangat penting

2 Kemungkinan intervensi

35
a Nilai 1 = Tidak mudah

b Nilai 2 = Kurang mudah

c Nilai 3 = Cukup mudah

d Nilai 4 = Mudah

e Nilai 5 = Sangat mudah

3 Biaya

a Nilai 1 = Sangat mahal

b Nilai 2 = Mahal

c Nilai 3 = Cukup mahal

d Nilai 4 = Murah

e Nilai 5 = Sangat murah

4 Kemungkinan meningkatkan mutu

a. Nilai 1 = Sangat rendah

b. Nilai 2 = Rendah

c. Nilai 3 = Sedang

d. Nilai 4 = Tinggi

e. Nilai 5 = Sangat tinggi

Tabel 4.2 Penilaian Prioritas Masalah di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh


No Masalah Urgensi Intervensi Biaya Mutu Total Ranking
1 Kriteria jamban
sehat tidak 2 2 2 3 11 V
tercapai
2 Angka rujukan ke
klinik sanitasi 4 4 5 4 17 II
rendah
3 Komplikasi ibu
4 2 2 4 12 IV
bersalin tinggi
4 Penemuan suspek 5 2 4 2 13 III
36
TB rendah
5 Pembentukan
SOP dan tim
5 4 4 5 18 I
kendali mutu
pelayanan

Keterangan:

1. Kriteria jamban sehat tidak tercapai

Urgensi : 2 (kurang penting)

Penggunaan jamban sehat dalam wilayah kerja puskesmas Pauh belum

mencapai target, dikarenakan belum semua rumah memiliki jamban. Apabila

masyarakat tidak menggunakan jamban sehat sesuai dengan kriterianya, maka

akan memudahkan penularan penyakit seperti diare dan penyakit lainnya.

Penyakit water born di wilayah kerja puskesmas pauh masih tinggi, tetapi tidak

terdapat peningkatan. Ketidaktersediaan jamban sehat bukan merupakan penyabab

utama penyakit ini karena masih banyak faktor lain yang mempengaruhi. Waktu

tidak mendesak karena bukan KLB.

Intervensi : 2 ( kurang mudah)

Intervensi yang dapat dilakukan berupa penyuluhan dan ketersediaan

jamban yang layak untuk masyarakat guna meningkatkan perilaku hidup sehat.

Hal ini kurang mudah dilakukan karena pengadaan jamban sulit, misalnya dari

segi lahan dan kebiasaan penduduk setempat. Selain itu waktu yang diperlukan

dalam intervensi masalah ini cukup lama.

Biaya : 2 (mahal)

Biaya yang dikeluarkan untuk jamban sehat termasuk mahal. Pengadaan

peralatan seperti jamban, septic tank, dan semen membutuhkan biaya yang tidak

sedikit. Selain itu tidak adanya anggaran dana untuk pembuatan jamban sehat.

37
Mutu : 3 (sedang)
Penggunaan jamban sehat dapat menurunkan angka penyakit diare di daerah

puskesmas Pauh. Akan tetapi walaupun sudah tersedia jamban sehat, angka diare

akan tetap ada apabila faktor lain yang mempengaruhi seperti PHBS tidak

diterapkan.

2. Angka rujukan ke klinik sanitasi rendah

Urgensi : 4 (penting)

Angka rujukan ke klinik sanitasi Puskesmas Pauh masih rendah karena

sering terjadi kealpaan petugas kesehatan dalam mengarahkan pasien ke klinik

tersebut. Rujukan ke klinik sanitasi dapat mempengaruhi angka penyakit menular.

Edukasi di klinik sanitasi dapat membuka wawasan warga dalam berperilaku

sehat sehingga mengurangi kejadian penyakit menular terkait sanitasi.

Intervensi : 4 (mudah)

Intervensi yang dapat dilakukan dengan membiasakan mengarahkan

pasien dengan resiko tinggi terkait sanitasi ke klinik sanitasi sebelum mengambil

obat ke apotek.

Biaya : 5 (sangat murah)

Tidak membutuhkan biaya karena intervensi hanya dengan mengarahkan

pasien ke klinik sanitasi.

3. Komplikasi ibu bersalin tinggi

Urgensi : 4 (penting)

Komplikasi ibu bersalin meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas

pada ibu. Komplikasi ibu bersalin seperti perdarahan postpartum, infeksi

postpartum, trauma perineum, rupture uteri, dan lain-lain. Dalam wilayah kerja

38
Puskesmas Pauh, komplikasi ibu bersalin masih tinggi. Dampak terburuk dari

komplikasi ibu bersalin adalah kematian.

Intervensi : 2 ( Kurang mudah)

Intervensi yang dapat dilakukan tergolong kurang mudah karena

komplikasi ibu bersalin terkait dengan riwayat ibu dari awal kehamilan. Intervensi

juga terkait dengan kesiapan puskesmas secara sarana dan prasarana serta sumber

daya manusia dalam menangani kasus komplikasi pada ibu bersalin. Waktu yang

dibutuhkan dalam intervensi lama.

Biaya : 2 (Mahal)

Jumlah dana yang dibutuhkan untuk penanganan angka komplikasi ibu

bersalin yang tinggi mahal karena intervensi yang dilakukan terkait dengan sarana

dan prasarana.

Mutu : 4 (Tinggi)

Penurunan angka komplikasi ibu bersalin akan menurunkan angka

mortalitas dan morbiditas ibu sehingga akan meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat.

4. Penemuan suspek TB rendah

Urgensi : 5 (Sangat penting)

Indonesia merupakan negara dengan penyaki TB nomor dua di dunia

setelah India. Kasus TB yang banyak di Indonesia mengharuskan tindakan

proaktif pada penemuan kasus sehingga penderita bisa diobati dan mencegah

penyebaran penyakit lebih luas.

Intervensi : 2 (kurang mudah)

39
Intervensi yang dapat dilakukan yaitu penyuluhan kepada warga agar

memeriksakan diri jika terdapat gejala dantanda terinfeksi TB. Akan tetapi kurang

mudah dilaksanakan karena cakupan wilayah kerja Puskesmas Pauh yang cukup

luas serta kesadaran masyarakat yang masih rendah.

Biaya : 4 (murah)

Biaya yang dibutuhkan murah yaitu untuk pembuatan pamphlet dan

kebutuhan alat tulis lainnya untuk penyuluhan

Mutu : 2 (rendah)

Paradigma masyarakat terhadap TB sebagai penyakit kutukan yang tak

dapat disembuhkan dan kesadaran masyarakat yang masih rendah untuk

memeriksakan diri membuat intervensi tidak mempengaruhi derajat kesehatan .

5. Pembentukan SOP dan tim kendali mutu pelayanan

Urgensi : 5 (Sangat penting)

Puskesmas Pauh belum pernah melaksanakan penilaian terhadap mutu

pelayanan kesehatan baik secara subjektif maupun objektif. Penilaian secara

objektif perlu dilakukan agar hasil penilaian lebih konkrit dan dapat dipercaya.

Intervensi: 4 (mudah)

Intervensi terhadap mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas Pauh mudah

untuk dilakukan, yaitu dengan cara mengidentifikasi hal-hal yang memberikan

pengaruh terhadap mutu pelayanan dan mengadakan advokasi dengan pimpinan

uskesmas untuk dibentuknya tim kendali mutu sebagai tim yang bekerja untuk

mengevaluasi kinerja tenaga kesehatan setiap tahunnya.

Biaya: 4 (murah)

40
Biaya yang diperlukan untuk melakukan intervensi ini murah, yaitu dengan

penyuluhan melalui berbagai media dan melakukan pembentukan tim kendali

mutu di Puskesmas Pauh.

Mutu: 5 (sangat tinggi)

Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat membantu pimpinan puskesmas

dalam melakukan penilaian mutu di Pauh dan sebagai acuan dalam penilaian

setiap tahunnya secara objektif.

4.3 Analisis Sebab Masalah

Berdasarkan penilaian prioritas, maka didapatkan prioritas masalah yaitu

belum adanya penilaian mutu pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas

Ambacang yang berfungsi untuk penilaian kinerja Puskesmas. Untuk mengetahui

penyebab dari timbulnya masalah maka dilakukan pengumpulan data primer

melalui survey awal mengenai tingkat kepuasan pasien menggunakan kuisioner

yang dilakukan pada tanggal 7 Desember 2016. Analisis data kepuasan yang

digunakan adalah menurut servqual (Parasuraman dan Zeithm) Importance-

Performance Analysis atau Analisis Tingkat Kepentingan dan Kinerja Pelanggan

berdasarkan rumus :

Tki = x 100%

Keterangan :
Tki : Tingkat kesesuaian (kepuasan)
Xi : Skor Penilaian Persepsi Responden
Yi : Skor Penilaian Harapan Responden

41
Dari hasil tersebut akan didapatkan dua variabel yang diwakilkan dengan huruf X

dan Y. X merupakan tingkat kinerja Puskesmas dan Y merupakan tingkat

kepentingan pengguna jasa pelayanan Puskesmas.

Nilai minimal indikator yang digunakan adalah 90%, jika nilai indikator

90% maka "Puas", sedangkan jika <90% "Kurang Puas".

Hasil yang didapatkan sebagai berikut :

Tabel 4.3 Hasil analisis survey awal penilaian pelaksanaan dan kepentingan
pada atribut kualitas Pelayanan Pasien di Puskesmas Ambacang
No Dimensi Penilaian Pel Penilaian K Tki Interpretasi
aksanaan (X) epentingan (%)
(Y)
1 Reliability/Kehandalan 36 44 3,6 4,4 82% Kurang pua
Prosedur penerimaan s
pasien cepat dan tepat

Pelayanan
28 43 2,8 4,3 65% Kurang pua
pemeriksaan,
s
pengobatan, dan
perawatan cepat dan
tepat

Jadwal pelayanan
puskesmas dijalankan
dengan tepat
38 44 3,8 4,4 86% Kurang pua
Prosedur pelayanan s
tidak berbelit-belit

35 43 3,5 4,2 83% Kurang pua


s

2 Responsiveness/Daya
Tanggap
Kemampuan dokter 38 42 3,8 4,2 90% Puas
dan perawat untuk
cepat tanggap
menyelesaikan
keluhan pasien

Petugas memberikan
informasi yang jelas, 40
mudah dimengerti 44 4,0 4,4 91% Puas

42
Tindakan cepat pada 39
saat membutuhkan
43 3,9 4,3 91% Puas
3 Assurance / Jaminan
kepastian
Kemampuan dan 40 44 4,0 4,4 91% Puas
pengetahuan para
dokter menetapkan
diagnosis penyakit
Keterampilan para 39
dokter, perawat, dan 43 3,9 4,3 90% Puas
petugas lainnya dalam
bekerja

Pelayanan yang sopan 38


Kurang
dan ramah 44 3,8 4,4 86% puas

39
Jaminan keamanan,
pelayanan dan 43 3,9 4,3 90% Puas
kepercayaan terhadap
pelayanan
4 Emphaty / Empati
Memberikan 39 41 3,9 4,1 95% Puas
perhatian secara
khusus kepada setiap
pasien

Perhatian terhadap 36
keluhan pasien dan 45 3,6 4,5 80% Kurang
keluarganya puas

Pelayanan kepada 40
semua pasien tanpa 43 4,0 4,3 93% Puas
memandang status
sosial dan lain-lain
5 Tangibles / Fasilitas
Fisik
Kebersihan, kerapian 30 45 3 4,5 67% Kurang
dan kenyamanan puas
ruangan

Penataan eksterior dan


interior ruangan 39 42 3,9 4,2 93% Puas

Kelengkapan,
kesiapan dan
kebersihan alat-alat
yang dipakai
43
40 43 4 4,3 93% Puas
Kerapian dan
kebersihan
penampilan petugas

42 43 4,2 4,3 98% Puas

Kemudian dilakukan analisis data sekunder melalui wawancara dan diskusi

dengan pimpinan puskesmas didapatkan beberapa sebab dari masalah yang

terjadi, yaitu sebagai berikut;

1 Manusia

a Tenaga Kesehatan

- Petugas Puskesmas belum melakukan penilaian mutu pelayanan

Kesehatan tahun 2017

- Kurangnya pemahaman petugas Puskesmas mengenai indikator mutu

pelayanan Puskesmas

- Pelayanan yang kurang ramah dan kurangnya perhatian petugas

Puskesmas terhadap keluhan yang dirasakan pasien.

2 Metode

- Belum terkareditasinya Puskesmas Pauh

- Prosedur penerimaan pasien yang kurang cepat dan tepat

- Jadwal Puskesmas yang kurang dijalankan dengan tepat

- Prosedur pelayanan yang masih berbelit-belit

- Pelayanan pemeriksaan, pengobatan dan perawatan yang kurang cepat

dan tepat

- Belum terbentuknya tim kendali mutu pelayanan kesehatan Puskesmas

Pauh
44
3 Material

Belum ada data mengenai mutu pelayanan Puskesmas berdasarkan penilaian

kepuasan pengunjung Puskesmas.

4 Lingkungan

Kurangnya kebersihan, kerapian, kenyamanan lingkungan ruangan

Puskesmas Pauh.

45
Dari hasil analisis sebab akibat masalah tersebut, maka dapat disimpulkan dalam diagram Ischikawa (diagram tulang ikan/fishbone) sebagai

berikut:
METODE
MANUSIA
Puskesmas belum terakreditasi
Kurangnya pemahaman petugas Puskesmas mengenai rmutu pelayanan kesehatan Puskesmas
Prosedur
Petugas Puskesmas belum melakukan penilaian mutu pelayanan tahun 2016
penerimaan pasien Prosedur
dan pelayanan pelayanan berbelit-
yang kurang cepat belit
Belum terlaksananya evaluasi mutu pelayanan kesehatan Puskesmas tahun 2016 dan upaya pe
Waktu pelayanan
Tim evaluasi mutu Puskesmas
Pelayanan kurang
pelayanan dijalankan
ramah dan petugas
kesehatan kurang tepat
yang kurang
Puskesmas belum
perhatian terhadap
pasien

Data mengenai mutu pelayanan Puskesmas berdasarkan kepuasan pasien belum ada
Kurangnya kebersihan, kerapian, kenyamanan lingkungan ruangan puskesmas

LINGKUNGAN MATERIAL

Gambar 4.1 Diagram Ischikawa

46
4.4 Alternatif Pemecahan Masalah

4.4.1 Manusia

Masalah : Petugas puskesmas belum melakukan penilaian mutu pelayanan

kesehatan pada tahun 2016

Rencana : Membantu puskesmas melakukan penilaian mutu pelayanan

kesehatan berdasarkan tingkat kepuasan pengunjung Puskesmas

melalui kuisoner tingkat kepuasan pasien

Pelaksana : Dokter muda Puskesmas Ambacang dan pihak Puskesmas Ambacang

Sasaran : Petugas Puskesmas dan pengguna jasa Puskesmas

Waktu : 14-17 Desember 2016

Tempat : Puskesmas Ambacang

Target : Dilakukannya penilaian mutu pelayanan kesehatan Puskesmas

melalui kuisioner Analisis data kepuasan menurut servqual.

Masalah : - Petugas Puskesmas kurang memahami indikator mutu pelayanan

kesehatan Puskesmas

- Pelayanan kurang ramah dan petugas kurang perhatian terhadap

keluhan pasien

Rencana : Memberikan sosialisasi mengenai mutu pelayanan kesehatan kepada

petugas Puskesmas Ambacang

Pelaksana : Dokter muda Puskesmas Ambacang dan Kepala Puskesmas

Ambacang

Sasaran : Petugas Puskesmas

Waktu : 30 - 31 Desember 2016

Tempat : Puskesmas Ambacang


Target : Peningkatan pemahaman petugas Puskesmas mengenai mutu

pelayanan kesehatan Puskesmas

4.4.2 Metode

Masalah : - Belum adanya akreditasi Puskesmas Ambacang

- Prosedur pelayanan berbelit-belit

- Prosedur penerimaan dan pelayanan pasien yang kurang cepat dan

tepat

- Waktu pelayanan Puskesmas dijalankan kurang tepat

Rencana : Sosialisasi mengenai mutu pelayanan Puskesmas

Pelaksana : Dokter Muda Puskesmas Ambacang dan Kepala Puskesmas

Ambacang

Sasaran : Petugas Puskesmas

Waktu : 19 - 24 Desember 2016

Target : Petugas Puskesmas Ambacang memahami mengenai mutu pelayanan

Puskesmas dan siap menghadapi akreditasi tahun 2017

Masalah : - Tim evaluasi mutu pelayanan Puskesmas belum terbentuk

Rencana : Membentuk tim evaluasi mutu pelayanan Puskesmas Ambacang

Pelaksana : Dokter muda Puskesmas Ambacang dan Kepala Puskesmas

Ambacang

Sasaran : Petugas Puskesmas

Waktu : 9-11 Januari 2017

Tempat : Puskesmas Ambacang


Target : Terbentuknya tim evaluasi mutu pelayanan Puskesmas Ambacang

4.4.3 Material

Masalah : Data mengenai mutu pelayanan kesehatan Puskesmas berdasarkan

kepuasan pengguna jasa pelayanan Puskesmas belum ada

Rencana : Pembuatan laporan evaluasi mutu dan pelayanan Puskesmas

berdasarkan kepuasan pengguna jasa pelayanan Puskesmas tahun

2016

Pelaksana : Dokter Muda Puskesmas Ambacang

Sasaran : Petugas Puskesmas dan Pengunjung Puskesmas

Waktu : 27 Desember 2016

Tempat : Puskesmas Ambacang

Target : Terdapat laporan mengenai tingkat kepuasan pengunjung Puskesmas

Ambacang tahun 2016

4.4.4 Lingkungan

Masalah : Kurangnya kebersihan, kerapian, kenyamanan lingkungan dan

ruangan

Rencana : Mengajukan kepada kepala puskesmas agar diadakannya goro

bersama semua petugas puskesmas setiap satu bulan

Pelaksana : Dokter Muda Puskesmas Ambacang

Sasaran : Petugas Puskesmas

Waktu : 31 Desember 2016

Tempat : Puskesmas Ambacang


Target : Kebersihan, kerapian, kenyamanan lingkungan dan ruangan

puskesmas meningkat
BAB 5

RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM PDCA

5.1. Plan (Tahap Persiapan)

Pada tahap awal dilakukan identifikasi permasalahan dari program-

program yang ada di Puskesmas Pauh pada tanggal 25 Januari - 1 Februari 2017.

Dari masalah-masalah tersebut dilakukan penentuan prioritas (scoring) melalui

diskusi bersama pimpinan puskesmas pada tanggal 1 Februari 2017 dan program

yang memiliki skoring tertinggi dari segi urgensi, intervensi, biaya, dan mutu

adalah pembentukan SOP dan tim kendali mutu pelayanan puskesmas. Hasil

skoring permasalahan tersebut didiskusikan kembali bersama preseptor.

Kemudian pada tanggal 4 6 Februari 2017 dilakukan survei awal kepada pasien

yang berkunjung mengenai tingkat kepuasan pasien dengan menggunakan

kuisoner.

5.2 Do (Tahap Pelaksanaan)

5.2.1 Penyebaran Kuisoner kepada Responden

Pada tahap ini dilakukan penyebaran kuisoner kepada pengunjung yang

dimasukkan ke dalam daftar sampel. Penyebaran kuisoner dilakukan selama 3

hari sampai jumlah sampel terpenuhi. Kuisioner yang disebarkan menggunakan

metode Servqual.
5.2.2 Pengumpulan dan Pengolahan Data

Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data setelah dilakukan survei awal

dan kemudian dilakukan pengolahan data, sehingga dapat dinilai tingkat kepuasan

pasien.

5.2.3 Peningkatan Mutu Pelayanan Puskesmas

Melalui data yang diperoleh mengenai tingkat kepuasan pasien, dapat

dinilai mutu pelayanan puskesmas. Apabila didapatkan mutu pelayanan masih

kurang, maka dilakukan peningkatan mutu pelayanan berdasarkan indikator mana

dari kepuasan pasien yanb belum terpenuhi. Beberapa kegiatan yang akan

dilakukan antara lain:

Memberikan sosialisasi mengenai mutu pelayanan Puskesmas kepada

Petugas Puskesmas.
Membantu Kepala Puskesmas dalam pembentukan tim evaluasi

Puskesmas.

5.3 Check (Tahap Evaluasi)

Pada tahap ini dilakukan evaluasi terhadap data yang terkumpul mengenai

tingkat kepuasan pasien. Indikator keberhasilannya antara lain :

1. Meningkatnya pengetahuan tenaga kesehatan mengenai mutu pelayanan

setelah sosialisasi.

2. Diketahuinya penyebab kurangnya kepuasan pasien dan mencarikan

solusinya.
5.4 Action (Rencana Berkelanjutan)

5.4.1 Evaluasi Kegiatan

Evaluasi dapat dilakukan dengan melakukan penilaian terhadap

pengetahuan petugas Puskesmas mengenai indikator mutu pelayanan Puskesmas

setelah dilakukan intervensi melalui penyuluhan dan sudah terbentuknya tim

evaluasi kinerja Puskesmas.

5.5 Matriks Kegiatan

No Kegiatan Januari 2017 Februari 2017 Maret 2017

I II III IV I II III IV I II III IV

PERSIAPAN

1 Rapat internal dokter


muda dan Kepala
Puskesmas

2 Survei Awal Tingkat


Kepuasan Pengguna
Jasa Pelayanan
Kesehatan Puskesmas
Pauh

PELAKSANAAN

1 Penyebaran
Kuisioner

2 Pengumpulan dan
Pengolahan Data

3 Peningkatan Mutu
Pelayanan Puskesmas
Pauh
Sosialisasi kepada
Petugas
Puskesmas
Ambacang

Pembentukan tim
evaluasi mutu
pelayanana
kesehatan
Puskesmas
Ambacang
EVALUASI

1 Penilaian Mutu
Pelayanan Puskesmas
Pauh

RENCANA BERKELANJUTAN

1 Evaluasi terhadap
pengetahuan petugas
puskesmas mengenai
indikator mutu
pelayanan puskesmas
DAFTAR PUSTAKA

1. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan. Jakarta: Sekretaris Negara; 2009.
2. International NGO Forum on Indonesian Development. Panduan SDGs
untuk Pemerintah Daerah (Kota dan Kabupaten) dan Pemangku
Kepentingan Daerah. 2005.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2013 tentang Pedoman
Penyelenggaraan dan Pembinaan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).
Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2013.
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan
dan Pembinaan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI; 2013
5. Kementrian Agama. Analisis dan Interpretasi Data pada Pondok Pesantren,
Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Quran Tahun Pelajaran 2011-2012.
diakses online di pendis.kemenag.go.id; 2013.
6. Puskesmas Ambacang. Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Tahun
2015. Padang: Puskesmas Ambacang; 2015
7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI; 2014.
8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar
Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2004.
9. Ikhwaluddin A. Perilaku Kesehatan Santri: Studi Deskriptif Perilaku
Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan di Pondok Pesantren Assalafi Al
Fitrah. Surabaya. Jurnal Universitas Airlangga. 2013; 2(2): 1-20.
10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pedoman Umum Pos
Kesehatan Pesantren (Poskestren). Jakarta: DEPKES RI; 2006.
11. Susanto T, Lantin S. Ipteks Bagi Masyarakat (IbM) PHBS Kelompok
Santri Poskestren. Jember: Universitas Jember; 2016 .
12. Pondok Pesantren Thawalib. Data Dasar Pondok Pesantren Thawalib
Padang tahun 2015. Padang: Pondok Pesantren Thawalib; 2015.
13. Sunaryo. Psikologi untuk keperawatan. Egc. Jakarta. 2004
14. Arikunto S,. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Ed Revisi
VI, Penerbit PT Rineka Cipta, Jakarta. 2006.
15. Azwar S. Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007.
16. Maulana DJH. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC. 2009.
17. Anies. Waspada ancaman penyakit menular-solusi pencegahan dari aspek
perilaku dan lingkungan. PT elex media komputindo. Jakarta. 2006
18. Notoadmodjo S. Prinsip-prinsip dasar ilmu kesehatan masyarakat. Jakarta:
Rhineka Cipta. 2005.

Anda mungkin juga menyukai