Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sampai saat ini trauma masih menjadi masalah yang cukup menantang di
banyak tempat di dunia. Diantara banyak jenis kejadian trauma, trauma vaskuler
adalah salah satu bagian yang penting dari masalah tersebut. Sebuah kajian
epidemiologi yang dilakukan di United Kingdom menunjukkan bahwa trauma
vascular memiliki angka 4.4% dari keseluruhan kejadian trauma. Dari 4.4%
tersebut sebanyak 53% diantaranya merupakan kasus trauma tajam dan 47%
sisanya merupakan kasus trauma tumpul. Mengenai angka mortalitasnya pasien
dengan trauma tumpul vaskuler (26%) memiliki angka mortalitas yang lebih
tinggi bila dibandingkan dengan trauma tumpul vaskuler (10%). Tingginya
angka mortalitas dari kedua jenis kasus trauma vaskuler ini menunjukkan bahwa
perlunya penanganan yang tepat dari kasus tersebut.
Secara prinsipnya penanganan dari trauma vaskuler tidak jauh berbeda
dari trauma lainnya yaitu, life saving dan dilanjutkan dengan limb salvage dan
pengembaliam fungsi. Proses pengembalian fungsi ini bergantung daritrauma
penyerta lainnya seperti trauma pada saraf perifer, tulang, serta jaringan lunak
lainnya. Pada kenyataannya kejadian trauma vaskuler bukan suatu trauma
tunggal melainkan sebuah multiple trauma yang kompleks dengan melibatkan
beberapa organ dan sistem.
Mengenai kematian dan kesakitan pada trauma vaskuler dapat
disebabkan oleh trauma vaskuler itu sendiri atau diakibatkan oleh trauma
penyerta lainnya. Pada trauma vaskuler keberhasilan tindakan berhubungan erat
dengan rentang waktu antara lamanya cedera berlangsung dengan tindakan
bedah yang dilakukan.
Perdarahan dan iskemik merupakan dua permasalahan yang kerap terjadi
pada trauma vaskuler. Kedua hal ini sangat mungkin terjadi secara bersamaan.
Jika timbul hipovolemia maka kondisi ini harus segera dikoreksi dengan
penggantian cairan yang cukup dan intervensi segera.
Selain itu apabila terlambat dilakukannya intervensi bedah, waktu
operasi yang lama, dan membutuhkan transfusi masif maka kondisi ini dapat
menyebabkan memburuknya kondisi pasien seperti terjadinya koagulopati
sistemik dan bahaya lainnya seperti hipotermia, hipoksemia, asidosis, dan
hiperkalemia. Atas beberapa pertimbangan ini maka mengetahui lokasi cedera,
etiologi, perencanaan tindakan yang akan dilakukan dan mengetahui
kemungkinan komplikasi paska operasi serta penyebab kematian yang mungkin
timbul adalah hal mutlak yang harus diketahui oleh seorang dokter bedah.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Etiologi
Trauma tembus dapat diakibatkan oleh trauma tajam,senjata api
kecepatan rendah, senjata api kecepatan tinggi. Mekanisme trauma penting
diketahui untuk memperkirakan resiko cedera pembuluh darah. Pada masa
peperangan trauma tembus merupakan penyebab dari 90- 95% cedera pada
pembuluh darah, kebanyakan akibat bom atau serpihan pecahan peluru
berkecepatan tinggi. Pada saat non perang 85 % cedera pembuluh darah perifer
diakibatkan oleh trauma tusuk, walaupun hanya 6% dari seluruh trauma tusuk
menyebabkan cedera pada pembuluh darah. Secara keseluruhan luka tembak
merupakan penyebab terbanyak cedera pembuluh darah perifer, sedangkan luka
tusuk maupun laserasi merupakan 35% dari penyebab.1,3
Trauma tumpul merupakan penyebab 10 15% cedera pembuluh darah
pada masa tidak perang, tetapi kerusakan yang diakibatkannya bisa lebih luas
dan lebih dalam. Sering timbul keterlambatan dalam diagnosa dan
penanganannya, yang berakibat tingginya angka amputasi. Trauma tumpul
biasanya bersamaan dengan trauma orthopedi.1,3

2.2. Manifestasi Klinis


Cedera pada ekstremitas atas bisa diakibatkan oleh berbagai macam
mekanisme, yang tersering adalah trauma tajam. Sejumlah besar diakibatkan
oleh pecahan kaca, dan juga ada yang diakibatkan oleh luka tembak. Dengan
meningkatnya transportasi dan pergerakan manusia, mengakibatkan tingginya
angka kecelakaan yang disebabkan kecelakaan lalulintas. Selain itu peningkatan
tindakan kateterisasi pembuluh darah juga menyebabkan peningkatan
kejadian cedera pada pembuluh darah.

Di Eropa dan dibeberapa tempat lain didunia, penyebab tersering dari


trauma vaskuler adalah akibat senjata api.1,3

Trauma tumpul juga tidak sedikit menyebabkan trauma, terutama jika


diikuti oleh patah tulang dan dislokasi. Kita harus berhati hati jika terdapat patah
atau dislokasi pada suprakondiler humerus. Cedera yang tak jelas pada tangan
dapat menyebabkan terjadinya volkmanns ischemia kontraktur.1,3
Pasien biasanya datang dengan trauma penyerta lainnya. Jika pada pasien
timbul gangguan vaskuler maka gambaran klinik yang muncul adalah gambaran
perdarahan, atau iskhemik atau gambaran keduanya seperti perdarahan pada
lokasi trauma dan iskhemik pada bagian distalnya. Sering pada pasien dengan
trauma penyerta yang berat lainnya maka gambaran kliniknya sudah bercampur.

Kematian dan kesakitan pada pasien biasanya disebabkan oleh trauma


penyerta lainnya. Penyebab terbanyak dari kesakitan adalah cedera saraf
bersamaan demikian juga cedera pada tulang dan vena. Cedera pada saraf adalah
penyebab terbanyak dari gangguan fungsi ekstremitas atas (35% - 45%).1

Trauma kompleks yang melibatkan arteri dan tulang akan meningkatkan


resiko amputasi. Debakey dan Simeone dalam penelitian yang dilakukan
sebelum perang dunia kedua, dimana belum dikenal repair arteri dan semua
cedera pembuluh darah diligasi, ditemukan angka amputasi 60% pada cedera
kombinasi dan 40% pada cedera isolated. Mc Namara dkk menemukan bahwa
selama perang vietnam angka amputasi pada cedera kombinasi sekitar 10 kali
lipat dibandingkan cedera pembuluh darah saja ( 23% vs 2.5%). Peneliti yang
sama juga menemukan kegagalan anastomosis lebih tinggi pada cedera
kombinasi (33%) dibandingkan dengan cedera pembuluh darah saja(5%). Pada
pusat pusat penanganan trauma diberbagai tempat di dunia saat ini melaporkan
angka amputasi pada cedera kombinasi mencapai 70% dibandingkan 5% pada
cedera isolated.2

2.3. Pemeriksaan Diagnostik


Dalam penanganan cedera vaskuler masih terdapat perbedaan pendapat
diantara para ahli yang menangani pasien dengan trauma, seperti ahli vaskuler,
orthopedi, dokter emergensi. Tetapi satu hal yang disepakati bersama adalah
bahwa setiap penderita dengan hard signs akibat cedera vaskuler harus segera
dilakukan eksplorasi bedah. Hard signs terdiri atas hilangnya pulsasi dibagian
distal, perdarahan aktif, hematom yang meluas atau pulsatil, bruit atau thrill atau
iskemia pada bagian distal (tabel 1). Tanda tanda dari distal iskemia juga bisa
timbul akibat sindroma kompartemen, sehingga diperlukan evaluasi lebih lanjut
jika tanda tanda ini muncul. Sensitivitas hard signs pada trauma tusuk
ekstremitas atas sekitar 92-95%, sedangkan spesifisitasnya sekitar 95%. Dari
berbagai kepustakaan didapatkan bahwa hard signs dapat memprediksi cedera
vaskuler pada hampir 100% kasus. Pada keadaan keadaan tertentu seperti derajat
atau lokasi cedera tidak jelas dapat dilakukan pemeriksaan arteriografi dikamar
operasi. Pertimbangan untuk melakukan arteriografi intra operatif adalah untuk
menghemat waktu. Beberapa literatur juga menganjurkan dilakukan
pemeriksaan arteriografi intra operatif jika ditemukan fraktur multipel, atau
cedera di proksimal.1,2,3,4,5

Pendapat yang sedikit berbeda dianjurkan oleh American College of


Surgeon, yang menyatakan bahwa pemeriksaan imaging tetap mesti
dipertimbangkan jika terdapat hardsign. Hal ini disebabkan sebagian besar
hardsign disebabkan oleh cedera non vaskuler. Tetapi jika pemeriksaan imaging
tidak tersedia, harus segera dilakukan eksplorasi luka.6

Penatalaksanaan pasien dengan cedera vaskuler mengalami perobahan


besar semenjak perang korea. Pada masa itu setiap pasien dengan trauma pada
ekstremitas dilakukan eksplorasi untuk menilai cedera vaskulernya, sehingga
angka false negatif sangat tinggi, sehingga akhirnya pasien dengan tanda
tanda soft signs dianjurkan disaring dengan pemeriksaan arteriografi lebih
dahulu.1

Beberapa ahli menyarankan pasien dengan soft signs tidak memerlukan


pemeriksaan arteriografi, cukup hanya dengan melakukan pemeriksaan fisik
serial, dan ternyata cedera pembuluh darah dengan soft signs tidak pernah
menyebabkan penderita kehilangan tungkai. Tanda tanda soft signs yaitu
hematom yang stabil, cedera saraf dekat pembuluh darah, hipotensi yang tak
jelas sebabnya, dan riwayat perdarahan ditempat kejadian. Pasien dengan soft
sign memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan cedera
vaskulernya.1,2,3,4,5

Terdapat perbedaan pendapat didalam menangani kasus trauma tusuk


dengan lokasi luka tusuk pada daerah berdekatan dengan struktur pembuluh
darah besar, dan kondisi dimana pulsasi di distal melemah. Pada kondisi ini
belum ada konsensus, data yang tersedia masih belum banyak, tidak ada
rekomendasi berdasarkan evidence base dan penatalaksanaan tergantung kepada
masing masing institusi. Frykber ER dkk(1991) menemukan bahwa penderita
dengan luka dekat kepembuluh darah besar, dengan pemeriksaan fisik normal,
tanpa tanda tanda hard signs, ternyata angka negartive predictive value 99,3%.1,5

Pulsasi distal yang menurun dalam berbagai kepustakaan ditempatkan


pada tempat yang berbeda beda, tergantung kepada referensi yang dipakai. Ini
adalah keadaan yang abu abu. Beberapa kepustakaan menyarankan
agar dilakukan modalitas pemeriksaan yang diperlukan.1

2.3.1. Modalitas Pemeriksaan


a. Indeks Arterial Pressure
Pemeriksaan indeks arterial pressure dinyatakan abnormal jika kecil
dari 0,9. Ini diukur dengan membandingkan tekanan sistolik ditempat
yang cedera dibandingkan dengan tempat yang normal dengan
menggunakan Doppler, keakuratannya mencapai 95%. Data terakhir
menunjukkan bahwa sensitifitas 72.5%, spesifisitas 100%, positive
predictive value 100%, negative predictive value 96%. Keterbatasan
pemeriksaan ini jika terdapat cedera di proksimal tempat
pemeriksaan, pasien shock atau terdapat luka multipel. Beberapa
pusat pelayanan trauma telah menggunakan kriteria ini untuk
menyingkirkan kemungkinan cedera vaskuler pada penderita
dengan pemeriksaan fisik normal, normal indeks arterial pressure dan
tanpa trauma diproksimalnya dan tanpa luka multipel.1,3,5

b. Pemeriksaan Imaging
Pasien pasien dengan soft signs memerlukan pemeriksaan lanjutan

c. Ultrasonografi Duplex
Pada beberapa penelitian ternyata duplex ultrasonografi memiliki
angka sensitifitas 100% dan spesifisitas 97.3%. Kemungkinan negatif
palsu mungkin terjadipada penderita luka tembak, trauma didaerah
poplitea, atau didaerah subklavikula, atau pada penderita dengan
terpasang splint atau dressing.5 Alat ini sangat bermanfaat ditangan
ahli karena sangat akurat dan tepat karena angka sensitifitas dan
spesifisitasnya mendekati 100%. Keterbatasan alat ini karena sangat
tergantung kepada keahlian operator.1 Beberapa pusat trauma saat ini
telah menggunakan modalitas ini untuk menyingkirkan kemungkinan
seseorang menderita cedera pembuluh darah jika, pemeriksaan fisik
normal dan duplex ultrasonografi normal.

d. Arteriografi
Masih merupakan pemeriksaan baku emas dengan sensitifitas 99%
dan spesifisitas 97%, biasanya tidak dibutuhkan pada cedera arteri
ekstremitas atas, karena sebagian besar pasien mengalami cedera
terbuka. Kadang kadang dibutuhkan pemeriksaan arteriografi intra
operative untuk menentukan lokasi cedera arteri.1,2,3,5
Hampir semua pasien dengan hardsign tidak memerlukan
pemeriksaan arteriografi.5

e. CT Angiografi
Memberikann gambar dengan resolusi tinggi, dan dapat memberikan
gambaran detil kerusakan tulang dan jaringan lunak. Dari beberapa
penelitian ternyata angka sensitivitas dan spesifisitasnya sekitar 99%
dan 87%. Beberapa pusat trauma menyarankan penggunaan
modalitas ini untuk menggantikan pemeriksaan angiografi.

2.4. Penatalaksanaan
Pengobatan secara umum sama seperti pengobatan trauma lainnya.
Dengan fokus utama yaitu live saving baru diikuti dengan limb salvage.

2.4.1. Terapi Bedah Vaskuler


a. Terapi Inisial
Evaluasi dan terapi awal mengikuti guidelines ATLS yang telah
ditetapkan oleh American College of Surgeons. Manajemen untuk
cedera yang mengancam nyawa lebih prioritas dibandingkan dengan
cedera yang mengancam tungkai.1,2,3,4,5,6 Kecuali dalam keadaan
cedera pembuluh darah besar diaorta, dianut prinsip scoop and run.
b. Repair Arteri
Repair arteri, mengikuti urutan akses, eksposure,kontrol dan repair.
Kontrol perdarahan sementara dapat dilakukan dengan menggunakan
penekanan dengan jari jari atau balut tekan. Tidak dianjurkan
melakukan klem pada arteri secara blind karena bisa mencederai
organ disekitarnya seperti saraf. Pasien posisi supine dengan lengan
pada posisi ekstensi dan abduksi 90 derjat.7

Insisi pada tempat yang terkena didisain memanjang sepanjang


pembuluh darah yang terkena dan dapat diperpanjang jika
dibutuhkan. Jika cedera saraf dan tendon tidak memungkinkan untuk
dilakukan repair, dapat dilakukan belakangan.7
Hal yang terpenting adalah memperoleh akses dan eksposure tanpa
menyebabkan cedera pada bagian lainnya. Jika dibutuhkan dapat
dilakukan proksimal kontrol melalui insisi infraclavikular yang bisa
diteruskan sampai kecelah deltopektoral. Kontrol yang lebih
proksimal dapat dilakukan , bahkan jika dibutuhkan dapat dilakukan
reseksi klavikula sepertiga tengah. Dapat juga dilakukan kontrol
endovaskuler jika ditemukan perdarahan aktif saat dilakukan
arteriografi intra operative. Akses ke arteri brachialis dapat dicapai
melalui insisi pada celah medial diantara otot bisep dan trisep.

Distal artery brachialis dicapai pada fossa kubiti dibawah tendon


biseps melalui insisi s lazy. Distal pada lengan bawah dapat dicapai
melalui insisi memanjang diatas perjalanan arteri. Repair wajib
dilakukan jika arkus palmaris tidak bagus atau jika sebelumnya arteri
ulnaris atau radialis sudah pernah cedera. Jika kedua arteri terputus
amaka arteri ulnaris lebih diprioritaskan karena suplainya lebih
dominan.

Proksimal dan distal kontrol harus dilakukan sebelum dilakukan


ekspose arteri. Kateter fogarti sangat berguna, terutama pada cedera
arteri aksilaris bagian proksimal. Sesudah dilakukan kontrol area
yang mengalami kontusio, dilakukan debridement dan semua
jaringan yang non vital dibuang. Dilakukan thrombektomi pada
segmen proksimal dan distal serta dilakukan flushing dengan cairan
salin yang sudah diberikan larutan heparin, Jika tersedia
intraluminar shunting, pada kasus kasus fraktur yang tak stabil dapat
dilakukan pemasangan shunting untuk memperbaiki perfusi pada
bagian distal sementara dilakukan fiksasi pada tulangnya, tetapi pada
cedera vaskuler di ekstremitas atas jarang dilakukan temporary
shunting sebab ada kesululitan teknik, karena ukuran pembuluh
darahnya yang kecil.

Revaskularisasi yang dilakukan pada pasien tergantung traumanya.


Jika celah yang timbul kecil dapat dilakukan repair primer. Jika celah
cukup besar dapat dipakai graft dari vena sefalika atau dari vena
safena. Hindari penggunaan graft sintetik karena resiko infeksi dan
kegagalan yang tinggi.

Semua graft harus ditutup dengan jaringan viabel. Repair vena jarang
dilakukan karena jaringannya kolateralnya yang cukup banyak

Critical ischemia time untuk arteri brachialis adalah sekitar 4 jam.


Walaupun terdapat kolateral yang memberikan makan kedistalnya,
pembuluh darah ini tetap harus direpair dalam 12 jam. Sekitar 25%
yang dilakukan repair sesudah 12 jam, hanya 25% yang fungsinya
pulih lagi.1

Jika terdapat cedera komplek, maka cedera pembuluh darah harus


diperbaiki lebih dahulu dan diperiksa lagi sesudah repair
ortopedi. Semua saraf dan tendon yang ditemukan selama
eksplorasi harus ditandai untuk perbaikan berikutnya. Pada saat
eksplorasi vaskuler , pembuluh darah yang kontusio,hematom
subintimal, dan fraktur intima harus didebridement.

Pada masa lalu ada ketentuan bahwa dalam cedera kompleks , fiksasi
tulang dilakukan lebih dahulu, diikuti dengan jaringan lunak lainnya,
dan terakhir baru revaskularisasi. Hal ini dilakukan dengan alasan
perbaikan arteri yang dilakukan lebih dahulu akan rusak kembali saat
dilakukan fiksasi tulang dan perbaikan jaringan lunak lainnya. Pada
masa sekarang hampir semua konsensus menyatakan bahwa
perbaikan pembuluh darah dilakukan lebih dahulu, baru diikuti
dengan perbaikan lainnya. Revaskularisasi yang dilakukan tersebut
bisa dengan memakai shunt sementara , kemudian dilakukan fiksasi
tulang dan jaringan lunak baru diikuti dengan repair pembuluh
darahnya. Pada ekstremitas atas tindakan pemasangan shunt tidak
dianjurkan sebab ukuran pembuluh darahnya terlampau kecil untuk
dilewati shunt.1

Trauma.org menyatakan bahwa dalam setiap trauma kompleks


prioritas pertama adalah melakukan revaskularisasi, tentang
bagaiman revaskularisasi yang akan dilakukan, apakah shunt
sementara atau definitif, tergantung kepada kondisi tulang, jaringan
lunak dan kondisi dari pasien. Definitif revaskularisasi dilakukan
pada kondisi kondisi :

Pasien stabil baik fisiologis maupun hemodinamik

Tulang stabil

Luka bersih dengan jaringan lunak yang hidup mencukupi

Cukup waktu

Tidak ada cedera lain yang lebih membutuhkan penanganan.

Definitif revaskularisasi harus dihindari pada keadaan berikut :

Hemodinamik tidak stabil, koagulopathi, asidosis, hipotermia.

Tulang tidak stabil

Kontaminasi berat atau tidak cukup kulit penutup

Membutuhkan tindakan definitif yang rumit

Tidak tersedia tenaga ahli yang mampu melakukan tindakan tersebut.

Terdapat cedera lain yang lebih urgen.

Pada kondisi tersebut diatas sebaiknya dilakukan pemasangan


shunting temporer. Stabilisasi tulang yang dilakukan adalah splint
atau eksternal fiksasi. Terapi definitif ditunda sampai kondisinya
membaik dan setelah dilakukan revaskularisasi definitif.1

Sama seperti pada trauma vaskuler ditungkai bawah, pada setiap


tindakan repair pembuluh darah harus dipertimbangkan untuk
dilakukan fasiotomi, walaupun insiden kompartemen sindrome
rendah.

c. Endovaskuler
Tindakan ini mulai dilakukan sejak tahun 1991.Merupakan tindakan
alternatif untuk tindakan pembedahan . Untuk ekstremitas atas jika
ditemukan thrombus dapat dilakukan thrombectomy dengan kateter
atau dengan kateter directed lytic therapy, sesudah thrombus keluar
dilakukan angioplasty untuk aposisi intimal flap ke dinding
pembuluh darah. Covered stent dapat dilakukan jika terdapat
transeksi partial, tetapi pemakaiannya sebaiknya hanya pada kasus
yang mengancam jiwa sehingga tidak bisa dilakukan operasi repair
yang membutuhkan waktu lama.8

Penggunaan endovaskuler untuk cedera pada ekstremitas atas masih


terbatas. Lonn dkk menangani 2 kasus dengan cedera pada arteri
brachialis, pada kedua pasien ditemukan cedera pada intima dengan
thrombosis. Pada kedua pasien dilakukan repair angioplasti
tanpa stent. Pengalaman pada arteri radialis dan ulnaris lebih jarang
lagi , terbatas hanya pada penggunaan endovaskuler untuk
embolisasi, pseudo aneurisma dan AV fistula. Saat ini penggunaan
endovaskuler untuk trauma masih belum populer.8
2.4.2. Amputasi

Salah satu pertimbangan yang sulit dalam penanganan trauma vaskuler


adalah kapan dan dimana dilakukan amputasi. Usaha usaha agresif untuk
melakukan revaskularisasi tidak selalu dibenarkan, diperlukan pertimbangan
pertimbangan tertentu sehingga pasien tercegah dari waktu perawatan yang
lama, kehilangan jam kerja yang lama, meningkatnya kejadian sepsis, bahkan
kematian.2
Tidak ada batasan yang tegas dalam melakukan amputasi. Trauma Org
menyatakan bahwa beberapa hal berikut dapat dijadikan pertimbangan dalam
melakukan amputasi.2

Cedera tulang, Gustilo III C

Transeksi tibia atau nervus iskiadikus

Transeksi 2 dari 3 nervus pada ekstremitas atas

Iskemia lama (> 6-12 jam)

Shock atau ada trauma lain yang mengancam jiwa

Cedera arteri dibawah lutut

Kehilangan jaringan lunak luas

Crush Injury

Multiple fracture

Tua dengan komorbiditas lain

Kontaminasi berat

Pasien menginginkan

Pertimbangan lain diperlukan untuk cedera pada ekstremitas atas, dimana


pertimbangan amputasinya harus dikurangi. Kita harus lebih toleran menerima
kondisi fungsi dan sensasi yang menurun, diskrepansi pada lengan atas, hal ini
karena protese pada ekstremitas atas kurang memuaskan.

Tujuan utama dari pengobatan adalah pasien kembali nyaman dengan


kondisinya dan bekerja kembali seperti sediakala, sehingga salah satu
pertimbangan untuk dilakukan amputasi adalah dengan tujuan waktu perawatan
yang pendek, biaya sedikit, cepat kembali bekerja dan sedikit morbiditi akibat
immobilisasi lama .

2.5. Evaluasi Pasca Operasi


2.5.1. Sindroma Kompartemen
Cedera vaskuler baik pada arteri maupun vena dapat menyebabkan
kompartemen sindrome. Demikian juga setiap prosedur yang dilakukan seperti
embolektomi, thrombektomi, maupun operasi bypass dapat menyebabkan
kompatemen sindrome, hal ini dikenal sebagai post iskemik kompartemen
sindrome yang disebabkan pembengkakan jaringan setelah timbul reperfusion
injuri. Insiden kompartemen syndrome ini berkisar antara 0 21%. Peninggian
tekanan intra kompartemen yang terjadi setelah reperfusi biasanya mulai terlihat
pada hari ketiga dan mencapai puncaknya pada hari ke 5 7. 5

Walaupun insiden kompartemen pada ekstremitas atas rendah


dibandingkan dengan ekstremitas bawah, namun tindakan fasiotomi tetap harus
dipertimbangkan pada setiap repair artery.

Tanda tanda klinik reperfusion injury harus ditangani sesegera mungkin


dan aggresive demikian juga tanda tanda peningkatan tekanan intra
kompartemen.

Kompartemen sindrome diakibatkan peningkatan tekanan intra


kompartemen yang timbul akibat iskemia pada otot dan saraf. Tanda tanda awal
adalah nyeri yang berlebihan yang tidak sebanding dengan cedera yang terjadi.,
dan peningkatan nyeri pada pergerakan pasiv dan palpasi kompartemen. Tanda
tanda lain adalah paralysis, paresthesia, pallor, Pembengkakan pada
kompartemen dan penurunan sensasi. Biasanya pulsasi masih tetap teraba,
karena tekanan sistolik lebih dari 30 mm Hg.

Pada ekstremitas atas. Pada lengan atas terdapat dua kompartemen


anterior dan posterior, pada lengan bawah terdapat tiga kompartemen. Pada
tangan terdapat empat kompartemen.

Pada lengan atas dapat dilakukan dekompressi dengan melakukan dua


insisi yaitu insisi lateral dan insisi medial. Pada lengan bawah dilakukan dua
buah insisi yaitu sisi anterior dan sisi posterior. Insisi pada sisi volar harus
berbentuk huruf S untuk mencegah kontraktur dan dapat diteruskan kedistal
untuk dekompressi carpal tunnel. Lima insisi digunakan untuk melakukan
dekompressi pada tangan yaitu dua pada dorsum, satu diatas carpal tunnel dan
dua pada thenar dan hipothenar.

2.5.2. Komplikasi
a. Oklusi dan perdarahan adalah dua komplikasi yang sering terjadi dan
memerlukan operasi segera
b. Jika timbul edema yang ditandai dengan nyeri segera lakukan
dekompresi.
c. Kematian otot dan saraf timbul akibat vaskular compromise yang lama.
Dilakukan nekrotomi dan jika luas dapat dilakukan amputasi.
d. Komplikasi yang lain yaitu infeksi yang membutuhkan debridement dan
pemberian antibiotika.
e. Komplikasi lanjut yaitu fistula arteriovenosa dan aneurisma palsu.
Komplikasi ini diatasi dengan operasi.
2.5.3. Algoritma Tatalaksana
BAB III

KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan

Kasus trauma vaskuler pada ekstremitas atas adalah kasus trauma yang
sebetulnya cukup sering terjadi baik akibat trauma tumpul maupun trauma tajam.

Penanganan kasus ini harus lebih hati-hati, karena biasanya jarang yang
hanya melibatkan satu sistem. Biasanya cedera yang terjadi kombinasi dari
beberapa sistem, baik sitem vaskularisasi, sistem muskuloskletal maupun sistem
persyarafan.

Penanganan trauma di ekstremitas atas tetap menganut kaidah yang


berlaku pada ATLS, dimana survei primer dilakukan lebih dahulu baru diikuti
dengan survei sekunder. Hal ini sesuai dengan aturan live saving diikuti
dengan limb salvage.

Ketidak tahuan dari dokter bedah yang merujuk, sehingga pasien dirujuk
atas permintaan sendiri juga memperburuk output. Pada setiap trauma dituntut
kehati hatian yang tinggi dari seorang dokter bedah, sehingga tidak ada trauma
vaskuler yang luput.
DAFTAR PUSTAKA

1. Fields C E, Latifi RI, Ivatury R R: Brachial and Forearm vessel Injuries:


Vascular Trauma Complex and Challenging Injuries,Part II.Surg Clin of North
Am 82:105 114,2002.

2. Frykberg ER: Combined vascular and skeletal trauma: Vascular Trauma :


Trauma.Org:2005: diakses
dari http://www.trauma.org/archive/vascular/vascskeletal.html.

3. Levy RM, Alarcon RH, Frykberg ER: Peripheral Vascular Injuries :


Trauma manual, The Trauma and Acute Care Surgery,3 rd Edition. Lippincott
William & Wilkins 2008.

4. Dueck AD, Kucey DS: The Management of Vascular Injuries in


Extremity Trauma. Current Orthopedics 2003;17:287-291.

5. Manthey DE, Nicks BA: Penetrating Trauma to The Extremity: J Emerg


Med 2008;34:187-193.

6. Management of Complex Extremity Trauma: American College of


Surgeons Committee on Trauma. Ad Hoc Committee On Outcomes 2005.

7. Marrero IC, Chaudhry N :Hand, Upper Extremity Vascular injury :


Treatment. Diakses dari http://emedicine.medscape.com/artcle/1287360-
treatment.
8. Starnes BW, Arthurs ZM: Endovascular Management of Vascular
Trauma. Perspect Vasc Surg Endovasc Ther 2006; 18:114 124.

9. Tiwari A, Haq AI, Myint F, Hamilton G: Acute Compartement


Syndromes. Br J Surg 2002;89397 412.

10. Manthey DE, Nicks BA: Penetrating Trauma to The Extremity.J Emerg
Med;2008:34: 187- 193.

11. Marrero Ian C, Chaudhry Nadeem, Salhab KF: Hand,Upper Extremity


Vascular Injury: diakses dari http://emedicine.medscape.com/article/1287360-
overview.

12. Iriz Erkan,Kolbakir F, Sarac A, et al: Retrospective assesment of Vascular


Injuries: 23 Years of Experience. Ann Thorac Cardiovasc Surg2004;10: 373
378.