Anda di halaman 1dari 26

Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri

(Rachmat Budihardjo)

KONSEP ARSITEKTUR BALI


APLIKASINYA PADA BANGUNAN PURI

Rachmat Budihardjo
Mahasiswa Program Doktor Arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung

ABSTRAK. Arsitektur Bali yang kita kenal sampai dengan saat kini adalah merupakan
arsitektur vernakuler yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya
dalam perkembangan kepariwisataan di Bali. Salah satu dampak kepariwisataan adalah
terjadinya perubahan status sosial yang lebih baik pada sebagian masyarakat (termasuk
keluarga Puri) dan berakibat pada perubahan setting tata ruang dan tata bangunan
(arsitektural) sesuai dengan tingkat perkembangan kebutuhan untuk masa kini dan masa

copyright
yang akan datang. Puri yang pada masa lampau merupakan pusat pemerintahan dan
aktivitas masyarakat di sekitarnya juga sekaligus menjadi tempat tinggal raja beserta
keluarganya eksistensinya sampai dengan saat kini masih ada termasuk komposisi
masyarakat Bali yang dibedakan menurut kasta masih juga bertahan ditengah-tengah
perubahan jaman. Studi mengenai Puri yang ditelusuri sejak awal (masa lampau), saat
sekarang dan upaya menjaga eksistensinya untuk masa yang akan datang tentunya akan
menjadi topik yang urgen dan menarik bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya
terkait dengan bidang sosial, budaya dan arsitektur

Kata Kunci: Arsitektur Bali, Bangunan Puri

ABSTRACT. Balinese architecture that we know nowadays is a vernacular architecture


that grows and develops in the middle of the society in the development of tourism in Bali.
One of the impacts of tourism is the change of social status to be better one on some part
of community (including family of Puri). This change will affect to the changes of setting
layout and building layout (architectural) referring to the development needs for the present
and the future. Puri which in the past was the center of government and community
activities in the surrounding area and also become a place for the royal family, their
existence still remain the same, including the composition of the people of Bali which are
differentiated by caste still survive in the middle of changing times. A study of Puri has
been traced from the beginning (of the past), the present and the efforts to maintain its
existence for the foreseeable future will certainly be an urgent topic and interesting for the
development of science, particularly in relation to social,cultural and architectural.

Keywords: Balinese Architecture, Building of Puri

17
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

KEBUDAYAAN DAN PERMUKIMAN

Mempelajari masalah kebudayaan pada hakekatnya adalah mempelajari hubungan antara


manusia, baik selaku individu maupun kelompok dengan lingkungan alam di sekitarnya.
Manusia, kebudayaan dan lingkungan merupakan tiga faktor yang saling berhubungan
secara integral. Lingkungan tempat manusia hidup selain berupa lingkungan alam juga
berupa lingkungan sosial budaya.

Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan merupakan pola perilaku yang disebut collective ideas and costums,
termasuk di dalamnya adalah sistem pengetahuan, kepercayaan, nilai-nilai dan tata aturan
yang mengatur perilaku sosial dalam masyarakat (Murdock, 1969 : 114). Dalam kaitannya

copyright
dengan cara hidup masyarakat (sosial) disebutkan bahwa kebudayaan menunjuk pada
sistem ide milik bersama, rencana konseptual yang mendasari cara hidup individu.
Kebudayaan menunjuk pada apa yang dipelajari oleh manusia. Aturan-aturan atau ide-ide
yang dimiliki bersama oleh bagian terbesar anggota masyarakat itu membimbing pola-pola
perilaku yang menjadi ciri khas satuan sosialnya (Kessing & Kessing, 1971 : 21).

Wujud kebudayaan dapat dibedakan menjadi tiga bagian besar, yaitu : cultural system
yang berupa sistem nilai, norma-norma dan tata aturan; social system yang berupa
kompleks aktivitas dan physical system yang berupa benda hasil karya manusia
(Koentjaraningrat, 1982 : 186-187). Ke-tiga wujud kebudayaan tersebut merupakan satu
kesatuan sistem yang akan selalu mencari keseimbangan. Dengan demikian lingkungan
permukiman sebagai lingkungan binaan manusia, proses dan komponen penyusunannya
tidak dapat terlepas dari masalah kondisi sosial. Semua unsur kebudayaan dapat
dipandang dari ketiga wujud tersebut.

Masyarakat dan Kebudayaan

Masyarakat adalah kumpulan individu-individu yang terorganisasi, hidup dan bekerjasama,


yang berinteraksi dan berintegrasi dalam suatu wadah untuk mencapai tujuan bersama.
Kebudayaan dan masyarakat merupakan dua konsep, satu dengan yang lain bersifat
saling tergantung. Dengan demikian sukar untuk membicarakan salah satu dari padanya
tanpa menghubungkannya dengan yang lain. Istilah yang tepat untuk menyebutkannya
adalah sosial budaya (Foster, 1973 : 11)

18
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

Ciri-ciri sosial budaya dapat disebutkan : bentuk-bentuk sosial budaya itu dipelajari; sistem
sosial budaya berintegrasi, berfungsi dan bermakna; semua sistem sosial budaya itu terus
menerus mengalami perubahan; setiap kebudayaan memiliki sistem nilai; dan bentuk-
bentuk kebudayaan serta perilaku berpangkal tolak pada orientasi kognitif (Mulyono, 1991 :
13-17)

Permukiman Sebagai Wujud Kebudayaan

Bentuk tatanan fisik lingkungan permukiman (hunian) dapat dipandang sebagai satu
kesatuan sistem yang terdiri dari spatial system, physical system dan stylistic system
(Habraken, 1979 : 37). Spatial system berkaitan dengan organisasi ruang yang mencakup
hubungan ruang, orientasi, pola hubungan ruang dan sebagainya. Physical system

copyright
meliputi penggunaan system konstruksi dan penggunaan material, sedangkan stylistic
system merupakan kesatuan yang mewujudkan bentuk meliputi : bentuk facade, bentuk
pintu, jendela, serta unsur-unsur ragam hias baik di dalam maupun di luar bangunan.

Terbentuknya lingkungan permukiman dimungkinkan karena adanya proses pembentukan


hunian sebagai wadah fungsional yang dilandasi oleh pola aktivitas manusia, serta
pengaruh setting (rona lingkungan) baik yang bersifat fisik maupun non fisik (sosial
budaya) yang secara langsung mempengaruhi pola kegiatan dan proses pewadahannya
(Snyder, 1984 : 39).

Lingkungan permukiman tradisional merupakan suatu tatanan kehidupan dalam batas


tertentu yang terdiri dari susunan ruang dan kelompok hunian yang terbentuk secara
konvensional dengan dilandasi kaidah (tata cara) masyarakat yang telah mentradisi. Hal ini
biasa disebut dengan istilah vernacular, yaitu merupakan perwujudan hasil karya secara
turun temurun dari seluruh lapisan masyarakat dalam batas-batas teritorial tertentu
(Rapoport, 1969 : 72). Bentuk-bentuk rumah merupakan pencerminan nilai sosial budaya
masyarakatnya. Kondisi fisik lingkungan, kondisi sosial ekonomi, penerimaan teknologi,
pemakaian material dan tata aturan yang berkaitan dengan religious merupakan faktor-
faktor ikutan.

Perkembangan Budaya Permukiman

Perkembangan mengandung makna kesejarahan karena di dalamnya menyangkut konsep


tentang waktu. Dengan demikian perkembangan dimaksudkan sebagai suatu kondisi yang

19
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

membandingkan objek dari waktu yang berbeda mulai dari waktu yang lampau, sekarang
dan waktu yang akan datang (kemudian).

Lingkungan permukiman sebagai suatu wujud arsitektur dipandang tidak hanya sebagai
objek material atau wujud fisik kebudayaan saja, tetapi di dalamnya terkandung wujud
immaterial (non fisik) atau wujud ideal masyarakat. Dengan demikian studi dalam bidang
arsitektur haruslah mencakup ke-dua wujud tersebut dan sekaligus juga memahami
keterkaitannya. Wujud fisik dalam arsitektur tidak terpisahkan dari ruang. Wujud fisik hadir
di dalam ruang dan membatasi ruang, sebaliknya ruang tergambarkan dalam wujud fisik
(Habraken, 1979 : 4-5, 16)

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa dalam studi mengenai perkembangan dan
perubahan dari suatu setting permukiman akan mencakup unsur fisik atau material dan

copyright
unsur spatialnya yang dapat dilihat secara total maupun parsial. Hal ini tentunya akan
berkaitan dengan aspek bentuk, organisasi, komposisi, dimensi, proporsi dan sebagainya.

Kebudayaan masyarakat selalu berubah dan berkembang. Perubahan dan perkembangan


yang terajdi dalam dimensi waktu akan berpengaruh terhadap objek (arsitektur) yang
berada dalam satu kesatuan ekologi. Dalam kerangka pandangan seperti itu, dimensi
waktu pada dasarnya menjadi hal yang begitu penting pada setiap perubahan dan
perkembangan yang terjadi pada suatu kondisi yang tertentu (Porphyrios, 1981 : 101-104)

Dalam kaitannya dengan konteks perubahan budaya, lingkungan permukiman yang


merupakan suatu lingkungan binaan (environment), perubahannya tidaklah berlangsung
spontan dan menyeluruh. Perubahan itu sendiri tergantung pada kedudukan elemen
lingkungan tersebut dalam suatu sistem budaya, apakah sebagai core element atau
peripheral element (Rapoport, 1983 : 261-262). Hal ini mengakibatkan keberagaman
karakteristik perubahan lingkungan sesuai dengan tingkat perubahan budaya yang terjadi.
Kekuatan yang paling dominan dalam menentukan perkembangan lingkungan adalah
kekuatan ekonomi, maupun aspek lain tidaklah kecil pengaruhnya terhadap perubahan
tersebut (Aldo Rosi, 1982 : 139-140)

Proses perubahan fisik tersebut dapat berjalan secara organik atau tanpa perencanaan
(melalui proses informal) atau melalui perencanaan (proses formal) dengan tidak menutup
kemungkinan terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Beberapa hal yang dapat
digambarkan dalam proses perubahan lingkungan secara organis (Christopher Alexander,
1987 : 14) antara lain : (1) Terjadinya perubahan sedikit demi sedikit (evolusi); (2) Tidak

20
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

dapat diduga kapan dimulainya dan sampai kapan proses tersebut akan berakhir,
tergantung dari latar belakang proses terjadinya; (3) Proses terjadinya perubahan secara
komprehensif dan berkesinambungan; (4) Perubahan yang terjadi mempunyai keterkaitan
erat dengan emosional (sistem nilai) yang ada dalam populasi masyarakatnya.

Proses perubahan dan perkembangan budaya yang terjadi dalam masyarakat disebabkan
adanya interaksi sosial dengan budaya lain. Singgungan dan benturan nilai-nilai akan
terjadi sehingga akan menyebabkan terjadinya akulturasi kebudayaan (Haviland, 1985 :
263). Perubahan nilai budaya suatu masyarakat sangat ditentukan oleh dua faktor yaitu :
kemantapan dan ketahanan dalam mengatasi pergeseran nilai, kekuatan dan intensitas
pengaruh budaya lain dalam proses interaksi sosial yang terjadi, kondisi tersebut akan
mempegaruhi tingkat perubahan budaya (akulturasi) yang terjadi seperti : substitusi,

copyright
sinkretisme, adisi, orijinasi, dekulturisasi atau bahkan rejeksi atau penolakan budaya yang
datang dari luar lingkungannya.

Mengamati dan mempelajari fenomena perubahan dan perkembangan tentang pola-pola


permukiman merupakan penelusuran hubungan antara manusia dengan lingkungannya
(Man Environmental Studies). Bagaimana dialog tersebut berlangsung, dalam arti
bagaimana lingkungan dimanfaatkan manusia dan bagaimana memanipulasi
lingkungannya merupakan objek yang akan diamati. Untuk dapat mengamati perubahan
lingkungan fisik (Zeisel, 1981 : 89-105) dapat dilakukan dengan pendekatan penelusuran
jejak fisik (observing physical traces) dengan cara mengamati :
a. Hasil / Sisa Pemakaian (Product Use)
Mengamati bagaimana manusia menggunakan lingkungan hunian (permukiman)
dengan mencari jejak / sisa-sisa atau hasil samping dari suatu aktivitas terhadap
lingkungan fisik.
b. Pengolahan (Adapatation For Use)
Menunjukkan adanya perubahan lingkungan oleh pemakai sehingga menjadi sesuai
dengan apa yang diinginkan meliputi : penambahan atau pengurangan bentuk atau
ruang, penambahan yang sifatnya memisahkan, melarang atau mencegah terjadinya
aktivitas dan menghubungkan dua sisi yang dibuat untuk mendekatkan komunikasi
atau sirkulasi.
c. Ungkapan pribadi dan umum (Display Of Self and Public Massages)
Mengamati penggunaan unsur / elemen fisik sebagai bentuk simbol-simbol yang
dipakai untuk membedakan terhadap objek, display of self bersifat personal (personal
identity), sedangkan public massages bersifat pengungkapan identitas kelompok
(collective identity).

21
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

SOSIAL-BUDAYA ORANG BALI

Masyarakat Bali sampai saat kini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : masyarakat Bali
Asli atau Bali Age / Bali Mula, tinggal di daerah pegunungan ; dan masyarakat Bali
Dataran, merupakan bagian terbesar dari suku bangsa Bali secara garis keturunan berasal
dari Majapahit.

Sistem Kekerabatan

Keluarga batih pada masyarakat Bali disebut dengan istilah kuren, terbentuk akibat
perkawinan monogami maupun poligami. Ada dua bentuk keluarga batih, yaitu : keluarga
batih monogami yang mempunyai struktur satu suami, satu istri dan anak-anak; keluarga
batih poligami terdiri dari satu suami, beberapa istri dan anak-anak. Dalam keluarga batih

copyright
tersebut berlaku sistem patrilinial. Pada umumnya apabila terjadi suatu perkawinan maka
pihak wanita akan diajak tinggal bersama-sama dalam keluarga pihak lelaki, apabila terjadi
peristiwa yang sebaliknya dimana pihak lelaki tinggal dalam lingkungan keluarga pihak istri
disebut nyentana.

Keluarga luas di dalam masyarakat Bali disebut dengan istilah pakurenan, yang terbentuk
akibat perkawinan dari seseorang atau sejumlah anak dari satu keluarga inti dan menetap
bersama-sama dengan orang tua mereka. Satu keluarga luas selalu terdiri lebih dari satu
keluarga inti, tetapi selalu merupakan satu kesatuan sosial. Pada masyarakat Bali,
kelompok kekerabatan ini terutama dari golongan kasta Brahmana dan Ksatriya biasanya
tinggal bersama-sama di dalam suatu pekarangan tempat tinggal. Tempat tinggal mereka
pada umumnya memiliki pekarangan yang lebih luas dan besar dari kasta Sudra.

Kelompok kekerabatan yang berbentuk klan kecil disebut dadia. Struktur keluarga pada
masyarakat Bali berbeda-beda di berbagai tempat. Di desa-desa pegunungan, orang-
orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal tidak lagi mendirikan
pemujaan leluhur pada masing-masing tempat tinggalnya. Hal ini berbeda dengan apa
yang dapat dilihat pada orang-orang yang tinggal di daerah dataran. Orang-orang tunggal
dadia yang hidup secara neolokal wajib mendirikan tempat pemujaan yang bernama
Kemulan Taksu pada masing-masing tempat tinggalnya.

22
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

Strata Sosial

Sistem strata sosial pada masyarakat Bali terjadi karena adanya beberapa faktor seperti :
keaslian, senoritas, keturunan dan kekuasaan yang berlangsung sejak masa lampau
(Rivai, 1981 : 60-74). Sifat keaslian sebagai dasar terjadinya pelapisan sosial sering terlihat
dalam masyarakat yang hidup dari bercocok tanam secara menetap. Dalam masyarakat
seperti itu, keturunan penduduk asli sering dianggap sebagai lapisan tertinggi. Pada
masyarakat Bali, penduduk asli pada suatu desa merupakan lapisan tertinggi yang memiliki
sejumlah hak dan kewajiban yang tertuang dalam awig-awig desa / hukum adat yang
membedakannya dengan golongan penduduk pendatang.

Semakin tradisional orientasi suatu komunitas akan semakin tampak jelas dasar senioritas

copyright
sebagai dasar pelapisan sosial. Dalam sistem kehidupan seperti itu, golongan tua-tua desa
merupakan golongan yang menjadi panutan dan pusat orientasi dalam masalah adat dan
yang berperan dalam memutuskannya melalui musyawarah (rapat) yang dihadiri
keseluruhan warga.

Keturunan sebagai dasar pelapisan sosial pada masyarakat Bali, tampak dalam sistem
kasta. Dasar ini merupakan hasil proses akulturasi sistem kasta yang berasal dari ajaran
agama Hindu di India dengan sistem kekerabatan orang Bali asli yang berdasarkan prinsip
patrilinial. Kedudukan orang Bali dalam suatu kasta tertentu dintentukan secara langsung
melalui kasta ayahnya. Sistem pelapisan menurut kasta di Bali dapat dibedakan menjadi :
kasta Brahmana yaitu golongan orang yang mendalami bidang agama; kasta Ksatriya yaitu
golongan orang memegang kekuasaan dalam sistem pemerintahan; kasta Weisya yaitu
golongan pedagang dan kasta Sudra yaitu golongan masyarakat kebanyakan yang
mengabdikan diri pada pekerjaan bidang pertanian, nelayan, peternakan dan sebagainya.
Kasta terakhir merupakan golongan mayoritas dengan populasi lebih dari 90% yang sering
disebut jaba wangsa, sedangkan ketiga golongan kasta yang lainnya merupakan golongan
minoritas sering disebut dengan tri wangsa.

Kekuasaan juga merupakan suatu dasar penting dalam ssstem pelapisan sosial
masyarakat Bali pada masa lalu. Fenomena ini sangat jelas tatkala di Bali berkembang
sistem pemerintahan kerajaan. Dalam sistem tersebut, keluarga raja dan para kerabat
dekatnya dikatagorikan sebagai golongan bengsawan, lapisan tertinggi yang dilengkapi
dengan berbagai ciri khusus yang secara jelas dan tajam membedakannya dari golongan
lain yang berada pada jenjang pelapisan yang lebih rendah.

23
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

Bersumber pada kekuasaan yang sering mempunyai implikasi politik, sosial dan ekonomi,
kaum bangsawan sebagai lapisan tertinggi sering menjadi pusat orientasi dalam berbagai
segi kehidupan masyarakat. Masyarakat banyak (rakyat) sebagai golongan yang
menempati lapisan terbawah dalam banyak segi kehidupannya bersifat tergantung pada
golongan atas. Tanah-tanah sawah milik para bangsawan sebagian besar dikerjakan oleh
rakyat dengan menganut sistem bagi hasil antara pemilik tanah dan pekerja dari hasil
panen yang diperolehnya.

Komunitas Masyarakat Bali

Bentuk komunitas kecil atau kesatuan hidup setempat yang terpenting pada masyarakat
Bali adalah Desa. Dalam pandangan orang Bali, desa memiliki dua pengertian yaitu : desa
adat dan desa dinas. Desa adat merupakan satu kesatuan wilayah tempat para warganya

copyright
secara bersama-sama mengkonsepsikan dan mengaktifkan berbagai kegiatan upacara
dan sosial yang ditata dalam system budaya dan desa dinas merupakan satu kesatuan
wilayah administratif.

Dalam kehidupan masyarakat Bali, ke-dua komunitas ini pada hakekatnya menangani
bidang-bidang tertentu. Desa adat menangani bidang adat dan agama, sedangkan desa
dinas menangani bidang administrasi pemerintahan formal atau kedinasan serta bidang
pembangunan. Pemimpin desa dinas disebut dengan perbekel, sedangkan pimpinan desa
adat disebut bendesa.

Desa adat di Bali memiliki aturan adat istiadat tersendiri yang tertuang dalam awig-awig
desa, yaitu tata aturan hukum yang dipergunakan dan disepakati pada suatu desa tertentu
yang mungkin saja akan berbeda dengan desa yang lain (desa-kala-patra). Aturan-aturan
yang tertera dalam awig-awig desa dijadikan pedoman dalam mengatur segala peri
kehidupan warga desa yang disertai dengan sangsi-sangsi tertentu bagi yang
melanggarnya.

Konsepsi desa adat tertuang dalam tri hita karana, yang berarti tiga syarat mutlak yang
harus dimiliki oleh desa adat yaitu : Kahyangan Tiga, yaitu adanya tiga buah pura yang
menjadi pemujaan warga desa (pura desa / pura bale agung, pura puseh dan pura dalem);
Krama Desa yaitu seluruh warga desa dengan pasangan suami istri (kuren) sebagai warga
inti; dan Palemahan Desa yaitu tanah-tanah milik desa yang merupakan tempat bermukim
(pawongan) dan tempat bekerja yang berupa area persawahan, ladang dan perkebunan.

24
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

Disamping itu ada beberapa wujud lain sebagai sarana pelengkap seperti bale banjar
fungsinya sebagai tempat pertemuan warga desa; bale wantilan yang berfungsi sebagai
tempat untuk aktivitas perayaan ataupun pementasan; bale kul-kul yang berfungsi untuk
penyimpanan kentongan besar yang dibunyikan pada periode tertentu untuk
mengumpulkan warga desa; dan setra (kuburan) yang mutlak diperlukan bagi setiap desa
adat. Penataan masing-masing fungsi bangunan pada setiap desa diatur menurut hasta
kosala-kosali.

Tata letak masing-masing bangunan dalam suatu desa diatur mengikuti tata aturan
hastakosali. Pada umumnya mempunyai pola pempatan agung atau perempatan agung
yang merupakan daerah persimpangan jalan utama desa sebagai pusatnya dengan
diletakkannya bangunan dengan fungsi utama seperti : puri, pasar, lapangan, bale banjar

copyright
dan wantilan dengan prinsip penempatannya berdasarkan sumbu bumi (kaja-kelod) dan
sumbu matahari (kangin-kauh) yang membedakannya menjadi daerah utama-madya-nista.

Dalam kenyataannya ada beberapa macam pola desa yang disesuaikan dengan kondisi
geografis, ekologis dan sistem kemasyarakatan sesuai dengan faham dan pandangan
hidup orang Bali. Desa-Kala-Patra yang memungkinkan terbentuknya corak desa yang
bervariasi sesuai dengan lokasi, waktu serta tata aturan yang berlaku. Secara umum
beberapa variasi pola desa terdiri dari pola linier, pola pempatan agung dan gabungan dari
ke-dua pola tersebut.

Organisasi Sosial

Dalam komunitas masyarakat desa di Bali terdapat tiga bentuk organisasi sosial yang
cukup penting peranannya yaitu : sekeha, subak dan banjar. Ke-tiga bentuk organisasi
tersebut dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukan masyarakat desa. Sekeha merupakan
suatu perkumpulan atau kesatuan sosial yang mempunyai tujuan khusus (tertentu). Dasar
keanggotaannya adalah suka rela. Ikatan suatu sekeha terbina oleh adanya tujuan
bersama dan norma-norma yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Eksistensi
sekeha bisa permanen maupun sementara. Beberapa contoh sekeha diantaranya : sekeha
memula, sekeha manyi, sekeha tera-teruni, sekeha gong, sekeha beleganjur, sekeha
barong, sekeha ngeraabin, sekeha legong dan lain sebagainya.

Subak merupakan organisasi sosial para pemilik ataupun penggarap sawah yang
menerima air dari suatu sistem irigasi. Kegiatannya adalah di bidang pertanian baik
berkaitan dengan bidang ekonomi ataupun spiritual. Pimpinan organiasi subak pada tingkat

25
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

banjar disebut klian subak yang dibantu oleh sinoman sebagai juru bicara (pemberi
informasi), sedangkan pimpinan subak untuk tingkat desa disebut pekaseh dan pada
tingkat kecamatan disebut sedahan agung.

Banjar merupakan kesatuan sosial atas dasar ikatan wilayah dalam suatu desa. Pada
umumnya desa-desa di Bali memiliki banjar adat yang dipimpin oleh klian adat mengurusi
bidang adat dan agama; dan banjar dinas yang dipimpin oleh klian dinas yang mengurusi
bidang administrasi dan pembangunan. Tujuan dari banjar adalah menciptakan suatu
kerjasama diantara anggota masyarakat desa dalam beragam aktivitas kehidupan seperti
upacara keagamaan, perkawinan, kematian, ngaben, piodalan, membangun rumah dan
sebagainya. Keanggotaan banjar bersifat wajib bagi masyarakat yang tinggal dalam
wilayah territorial banjar, terutama adalah bagi mereka yang sudah berumah tangga /
menikah.

copyright
KONSEP ARSITEKTUR BALI

Paham Dasar Agama Hindu

Arsitektur Bali perwujudannya dilandasi dan dilatarbelakangi oleh ajaran agama Hindu
yang meresap ke dalam tatanan kehidupan masyarakat, menyangkut segala aspek
kehidupan seperti filosofi, etika dan ritual. Ke-tiga kerangka dasar agama Hindu adalah :
tatwa (falsafah), tata susila (etika) dan ritual (upacara). Pengaruh agama Hindu
menghasilkan corak budaya, integrasi sosial dan sistem pengendalian masyarakat yang
unik. Moksartam Jagadhita adalah tujuan akhir kehidupan masyarakat Bali. Untuk maksud-
maksud tersebutlah segala aktivitas dilakukan. Segala usaha merupakan tahap-tahap
untuk mendekatkan diri dengan tujuan hidup, misalnya : beryadnya, sembahyang,
termasuk juga usaha dalam bidang sosial ekonomi. Kehidupan bermasyarakat tidaklah
dapat dilepaskan pengaruhnya dari tujuan tersebut, sehingga timbul bentuk kehidupan
rumah tangga (kuren), banjar dan desa seperti sekarang ini.

Salah satu kepercayaan di dalam agama Hindu yang terpenting adalah Panca Sradha,
meliputi lima unsur dasar yang mendasari kepercayaan, yaitu :
a. Widhi Sradha. Suatu kepercayaan akan adanya satu Tuhan Ida Sang Hyang Widhi
berwujud Trimurti, yaitu Dewa Brahma, Whisnu dan Syiwa.
b. Atma Sradha. Suatu kepercayaan akan adanya atma (jiwa) dalam setiap makhluk
hidup

26
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

c. Karmapala Sradha. Suatu kepercayaan akan adanya hukum sebab-akibat dari segala
perbuatan yang dilakukan selama menjalani masa kehidupan di dunia.
d. Punarbhawa Sradha.Suatu kepercayaan akan adanya proses kelahiran kembali
e. Moksa Sradha. Suatu kepercayaan akan adanya kebahagiaan abadi / kekal, yakni
kembalinya atma kepada paramaatma yang berarti kebebasan jiwa dari lingkaran
proses kelahiran kembali.

Salah satu wujud pengaruh kepercayaan agama Hindu yang begitu meresap dalam
kehidupan masyarakat Bali dapat dilihat pada konsepsi dan aktivitas upacara keagamaan
yang dilakukan oleh kelompok kerabat ataupun komunitas (banjar). Seluruh jenis upacara
keagamaan di Bali dapat digolongkan ke dalam lima macam yang disebut Panca Yadnya,
yaitu :

copyright
a. Manusa Yadnya. Suatu rangkaian upacara untuk memperingati daur hidup mulai dari
masa anak-anak sampai dewasa
b. Pitra Yadnya. Suatu upacara yang ditujukan bagi roh-roh leluhur, meliputi upacara
kematian sampai upacara penyucian roh leluhur
c. Dewa Yadnya. Merupakan upacara pada pura besar maupun pura keluarga
d. Rsi Yadnya. Merupakan upacara yang berhubungan dengan pentahbisan Pedanda
sebagai pemimpin keagamaan
e. Butha Yadnya. Merupakan upacara yang ditujukan bagi bhuta atau kala yaitu roh-roh di
dekitar manusia yang dapat mengganggu dan menghalangi dalam proses kehidupan
manusia

Di dalam ajaran agama Hindu terdapat ajaran bahwasannya manusia hendaknya


menyelaraskan dirinya dengan alam. Pandangan ini menghendaki dua macam
kemenangan dalam proses kehidupan, yaitu kemenangan lahiriah dan batiniah. Alam
semesta terwujud dari lima unsur yang disebut Panca Mahabhuta, yaitu apah (zat cair),
teja (sinar), bayu (udara), pertiwi (zat padat / tanah) dan akasa (ether). Dari sinilah
timbulnya suatu pandangan bahwa Bhuana Agung (makro kosmos) dan Bhuana Alit (mikro
kosmos) mempunyai sumber yang sama, yaitu Panca Mahabhuta. Dalam agama Hindu,
manusia senantiasa diajarkan bagaimana menciptakan balance cosmology (keseimbangan
dan keselarasan terhadap keduanya).

Secara ringkas paham dasar agama Hindu yang begitu meresap dalam kehidupan
masyarakat Bali dapat digambarkan dalam bentuk diagram yang menjelaskan tentang
tujuan kehidupan untuk mencapai Moksha yang diwujudkan dalam beberapa bentuk
kegiatan upacara (yadnya) dan fase-fase kehidupan mulai dari fase Brahmacari (saat

27
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

mencari dan mengembangkan kebenaran / dharma), fase Gryhasta (saat berumah tangga
dan membina keluarga yang dilandasi ajaran kebenaran, fase Wanaprasta (saat untuk
merefleksikan / meditasi terkait dengan segala amal perbuatan yang telah dilakukan) dan
fase Bhiksuka (saat manusia kembali kepada Sang Hyang Widhi).

copyright
Gambar 1. Paham Dasar Agama Hindu
Sumber : Robi Sularto,

Rwa Bhineda

Konsep perpaduan antara dua kekuatan di sekitar manusia. Hal ini yang mendasari
terjadinya pembagian menjadi dua, seperti : baik & buruk, laki-laki & perempuan, siang &
malam, dan sebagainya. Menciptakan keselarasan dengan cara menyatukan antara unsur
purusha (akasa) dan pradhana (pertiwi) dapat mewujudkan bibit kehidupan. Dalam
kaitannya dengan wujud arsitektur adalah tercapainya suatu wujud bawa (benda) maurip
(hidup).

28
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

Tri Hita Karana

Tri Hita Karana memiliki makna tiga unsur sebagai penyebab kebaikan yang terdiri dari
atma (roh/jiwa), prana (tenaga) dan angga (jasad/fisik). Konsepsi Tri Hita Karana
melandasi terwujudnya susunan kosmos yang besar (bhuana agung) sampai yang paling
kecil (bhuana alit). Dalam alam semesta jiwa adalah Paramaatma (Tuhan Yang Maha
Esa), tenaga adalah kekuatan alam dan jasad adalah Panca Maha bhuta. Dalam lingkup
permukiman desa, jiwa adalah parahyangan (pura desa), tenaga adalah pawongan (warga
desa) dan jasad adalah palemahan (wilayah teritorial desa). Pada rumah tinggal, jiwa
adalah sanggah/pamerajan (area suci/pura keluarga), tenaga adalah penghuni (anggota
keluarga) dan jasad adalah pekarangan, sedangkan dalam konteks manusia, jiwa adalah
atman, tenaga adalah sabda bayu idep dan jasad adalah stula sarira (tubuh manusia).

copyright
Tabel 1. Konsep Tri Hita Karana Dalam Susunan Kosmos
UNSUR ATMA (JIWA) PRANA (TENAGA) ANGGA (FISIK)
Alam Semesta Paramaatman Kekuatan yang Unsur-Unsur
(Bhuwana Agung) (Tuhan Yang Maha Esa) menggerakkan alam Panca Mahabhuta
Kahyangan Tiga
Pawongan Palemahan
Desa (Pura Desa, Puseh dan
(warga desa) (wilayah desa)
Dalem)
Parahyangan Pawongan Palemahan
Banjar
(Pura Banjar) (warga banjar) (wilayah banjar)
Rumah Pamerajan / Sanggah Anggota Keluarga Pekarangan Rumah
Manusia Atman Badan / Tubuh
Sabda Bayu Idep
(Bhuwana Alit) (jiwa manusia) Manusia
Sumber : Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, 2008

Tri Angga dan Tri Loka

Tri Angga memiliki arti tiga bagian dalam tubuh manusia yang terdiri dari utama angga
(kepala), madya angga (badan) dan nista angga (kaki). Konsep Tri Angga dalam Bhuana
Agung disebut dengan Tri Loka atau Tri Mandala. Konsepsi Tri Angga berlaku dari yang
besar (makro) sampai yang terkecil (mikro). Bila dianggap secara vertikal, maka aplikasi
konsep tersebut terdiri dari utama berada pada posisi teratas / sakral, madya posisi tengah
dan nista pada posisi terendah/kotor.

29
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

Tabel 2. Konsep Tri Angga / Tri Loka Dalam Susunan Kosmos


UNSUR UTAMA ANGGA MADYA ANGGA NISTA ANGGA
Alam Semesta
Swah Loka Bhuah Loka Bhur Loka
(Bhuwana Agung)
Wilayah Gunung Dataran Laut
Desa
Kahyangan Tiga Permukiman Setra / Kuburan
(Perumahan)
Rumah Tinggal Sanggah/Pamerajan Tegak Umah Tebe
Bangunan Atap Tiang / Dinding Lantai/Bebaturan
Manusia
Kepala Badan Kaki
(Bhuwana Alit)
Masa Yang Akan Datang Masa Sekarang Masa Lalu
Masa / Waktu
(Wartamana) (Nagata) (Atita)
Sumber : Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, 2008

copyright
Gambar 2. Tri Angga Pada Ruang Makro dan Mikro
Sumber : Robi Sularto

30
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

Nawa Sanga / Sanga Mandala

Nawa Sanga / Sanga Mandala menjadi pertimbangan dalam penzoningan kegiatan dan
tata letak bangunan pada arsitektur Bali. Konsep Nawa Sanga adalah merupakan
penggabungan dari konsep orientasi sumbu bumi dan sumbu ritual / sumbu matahari.
Orientasi berdasarkan sumbu bumi membagi tiga zona yang terdiri dari : daerah tinggi /
gunung (utama) disebut dengan Kaja, daratan (madya) dan laut (nista) disebut dengan
Kelod. Sedangkan orientasi sumbu ritual/matahari membagi menjadi tiga zona yang terdiri
dari : arah terbitnya matahari di timur (utama) disebut dengan Kangin, transisi arah timur
barat (madya) dan arah terbenamnya matahari di Barat (nista) disebut dengan Kauh.

Penggabungan konsep sumbu bumi (Kaja-Kelod) dengan konsep sumbu ritual/matahari

copyright
(Kangin-Kauh) inilah yang menghasilkan konsep Sanga Mandala. Konsep tata ruang
Sanga Mandala juga merupakan konsep yang lahir dari sembilan manifestasi Tuhan, yaitu
Dewata Nawa Sanga yang menyebar pada delapan arah mata angin dengan satu pada
bagian tengah yang menjaga keseimbangan alam semesta.

Gambar 3. Konsepsi Nawa Sanga / Sanga Mandala


Sumber : Buku Pameran Arsitektur, PKB 1993

31
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

Konsep Sanga Mandala menjadi pertimbangan dalam tata letak bangunan dan alokasi
kegiatannya, seperti kegiatan utama yang memerlukan ketenangan diletakkan pada
daerah Utama ning Utama, kegiatan yang dianggap kotor diletakkan di daerah Nista ning
Nista, sedangkan kegiatan diantara ke-duanya diletakkan di tengah atau dikenal dengan
daerah Madya ning Madya.

ARSITEKTUR PURI DI BALI

Puri merupakan salah satu wujud permukiman pada arsitektur Bali. Pola permukiman
berkembang setelah datangnya para Arya dari kerajaan Majapahit. Bangunan rumah
tinggal merupakan unit-unit bangunan yang diatur dan dikelompokkan dalam satu
kesatuan banjar, sebagai suatu wujud lingkungan komunitas terkecil yang terdapat pada

copyright
suatu desa di Bali.

Struktur pola menetap atau permukiman (pawongan) adalah merupakan simbolisasi dari
Tribhuana, yaitu halaman luar yang disebut lebuh adalah simbol dari alam bhuta (kekuatan
jahat); halaman tengah yang disebut natah adalah simbol alam dimana manusia berada
dan halaman sakral/dalam yang disebut Kahyangan/Parahyangan adalah simbol dimana
kekuatan baik (dewa-dewa) berada. Ke-tiga wujud alam tersebut merupakan
makrokosmos, sedangkan alam yang diciptakan manusia dan dimana ia berada disebut
mikrokosmos. Tujuan dari perwujudannya adalah terciptanya keselarasan diantara
keduanya. Konsepsi Rwa-Bhinedha diterapkan dengan membedakan bagian luwanan,
merupakan bagian atas yang senantiasa berorientasi ke arah gunung (kaja) dan teben
yang berorientasi kea rah laut (kelod).

Tingkat-tingkatan kasta, status sosial dan peran individu dalam masyarakat merupakan
faktor-faktor yang membedakan wujud rumah di Bali. Perbedaan tersebut dapat dilihat
pada luas pekarangan, susunan ruang, type bangunan, fungsi, bentuk dan material yang
digunakan yang diatur dalam Hasta Kosala Kosali (Gelebet, 1986 : 35-40). Menurut sistem
kasta dapat dibedakan beberapa wujud rumah tinggal, yaitu : Puri, Gria, Jero dan Umah.
Puri adalah tempat tinggal kasta Ksatriya yang memegang kendali dan kekuasaan dalam
pemerintahan (Raja); Gria adalah tempat tinggal kasta Brahmana yang berperan
dalambidang spiritual keagamaan; Jero adalah tempat tinggal kasta Weisya; dan umah
adalah tempat tinggal kasta Sudra.

32
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

Pengertian dan Fungsi Puri

Puri berasal dari akar kata Pur yang berarti benteng yang dibatasi oleh tembok yang tebal
dan tinggi. Puri adalah suatu kumpulan unit-unit bangunan (kompleks) dengan segala
kelengkapannya yang merupakan pusat pemerintahan kerajaan di Bali. Pada jaman
kerajaan di Bali, seorang raja tidak mempunyai kantor secara khusus di luar lingkungan
puri, fungsi puri tidak terbatas hanya sebagai tempat tinggal raja beserta keluarganya saja
melainkan mencakup fungsi-fungsi yang lebih luas lagi seperti pusat pemerintahan, pusat
aktivitas seni budaya, pusat belajar agama (pesantian) dan kadang-kadang pada saat ada
tamu yang berkunjung, puri juga dijadikan sebagai tempat tinggal sementara untuk
menginap bagi tamu-tamu keluarga raja.

copyright
Raja beserta keluarganya yang tinggal di Puri bertugas menjalankan proses pemerintahan
seperti menyusun peraturan dan kebijaksanaan, rapat-rapat penting, menerima tamu dan
sebagainya. Selain itu, puri juga sekaligus merupakan tempat tinggal dengan berbagai
ragam kegiatan rumah tangga diantaranya menyiapkan makanan, menyelenggarakan
upacara adat dan keagamaan; dan lain sebaginya (Buku Pesta Kesenian Bali, 1993)

Pada mulanya keraton-keraton di Bali bernama Pura, seperti yang dapat dilihat pada
jaman keemasan kerajaan di Bali pada abad ke enam belas. Dengan mengambil bentuk
dan wujud keraton seperti keraton Majapahit, nama-nama keratonnya antara lain :
Linggarsa Pura di Samprangan, Suweca Pura di daerah Gelgel dan Semara Pura di
Klungkung.

Istilah Puri yang merujuk pada suatu keraton terjadi setelah beberapa keturunan dinasti Sri
Kresna Kepakisan berkuasa di Klungkung. Maksud perubahan istilah tersebut adalah
untuk membedakan istilah Pura yang difungsikan untuk untuk bangunan suci
(parahyangan) dan puri sebagai istana/keraton.

Tata Letak Puri

Puri pada umumnya menempati lokasi Kaja-Kangin pada suatu sudut persimpangan jalan
yang merupakan pusat aktivitas masyarakat. Pertemuan dua ruas jalan utama tersebut
dinamakan dengan pola Pempatan Agung / Catus Patha. Pada area pusat tersebut selain
puri juga terdapat lapangan dengan pohon beringin; pasar; bale banjar dan wantilan.

33
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

copyright
Tata Bangunan
Gambar 4. Pempatan Agung Sebagai Pusat Desa
Sumber : Eko Budihardjo, 1986

Unit-unit bangunan dalam puri dapat dibedakan menurut pembagian zoning berdasarkan
pembagian Sembilan yang disebut dengan Nawa Sanga / Sanga Mandala. Untuk
pembatas pada masing-masing zona dibuatlah tembok pagar dari bahan batu bata dengan
ukuran yang besar dan tinggi yang disebut dengan penyengker. Masing-masing zona
dihubungkan dengan pintu masuk yang disebut kori. Secara garis besar bagian-bagian puri
dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu : ancak saji merupakan bagian terluar; rangki dan
semanggen pada bagian tengah; dan pamerajan agung pada bagian dalam.

Pada bagian ancak saji yang merupakan bagian terluar terdapat bangunan bale tegeh atau
bale tajuk, bale penangkilan dan bale gong. Fungsi bale tegeh adalah sebagai tempat
berkumpulnya anggota kerajaan pada waktu diadakan prosesi perarakan dalam suatu
perayaan. Pembatas pada bagian ini berupa dinding transparan (tembus pandang) dengan
pintu masuk berupa candi bentar yang terdapat pada dua sisi. Pada bagian semanggen
terdapat bale semanggen (C2) atau disebut juga bale layon yang berfungsi sebagai tempat
jenasah. Dalam keadaan sehari-hari bagian ini difungsikan untuk menerima tamu-tamu dan
tempat para keluarga raja melakukan pelatihan kesenian. Pada pelataran dapur (C3)

34
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

terdapat beberapa bangunan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan seperti


jineng/gelebeg dan paon.

Pelataran saren/rangki di dalam puri dapat dibedakan menjadi pelataran saren kauh, saren
agung (rangki) dan saren kangin. Sebagai pusatnya adalah pelataran saren agung (B2).
Pelataran ini dibagi menjadi dua bagian yaitu pelataran rangki dan saren agung. Pelataran
rangki berfungsi untuk menerima masyarakat dan keluarga dekat. Bagian ini juga
dihubungkan dengan pintu masuk yang menuju pada bagian jaba tengah pamerajan
agung. Pada bagian saren agung terdapat bale ukiran atau saren agung yang berfungsi
sebagai tempat tinggal raja. Sesuai dengan nama dan fungsinya, maka bangunan ini
sengaja dibuat lebih megah baik dari segi bentuk, bahan dan ornamen bila dibandingkan
dengan bangunan yang lainnya. Pada pelataran saren kauh terdapat beberapa bangunan

copyright
yang berfungsi sebagai tempat tinggal beberapa saudara-saudara raja yang lebih muda
dan pada pelataran saren kangin terdapat beberapa bangunan yang berfungsi sebagai
tempat tinggal beberapa anggota kerajaan yang sudah berusia lanjut. Pada kedua bagian
pelataran ini masing-masing memiliki sanggah/pamerajan yang berfungsi sebagai area
bangunan suci.

Pelataran pamerajan agung dibagi menjadi tiga bagian yaitu : jaba sisi (luar), jaba tengah
dan jeroan. Fungsi pelataran ini adalah untuk area bangunan suci atau area parahyangan.
Pada bagian jaba sisi dipergunakan tembok pembatas yang transparan dengan candi
bentar sebagai pintu masuknya, sedangkan pintu masuk dengan wujud kori agung
diletakkan pada bagian jaba tengah. Pada bagian jaba sisi (A3) terdapat bale kambang
yang dikelilingi kolam, berfungsi untuk tempat meditasi. Pada bagian jaba tengah (A2)
terdapat beberapa bangunan yang berfungsi untuk menempatkan berbagai peralatan dan
sesaji untuk perlengkapan upacara keagamaan. Pada bagian jeroan (A1) terdapat
beberapa bangunan dalam bentuk pelinggih, meru dan padmasana yang merupakan
tipologi bangunan suci.

35
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

copyright Gambar 5. Konsep Nawa Sanga Pada Bangunan Puri


Sumber : Robi Sularto, Eko Budihardjo, 1986

Studi Kasus : Beberapa Objek Puri Di Bali

Untuk studi kasus akan diajukan beberapa objek bangunan puri diantaranya : Puri Agung
Gianyar, Puri Agung Karangasem, Puri Ubud dan Puri Kendran. Pemilihan objek dilakukan
secara acak yang terdiri dua buah Puri Agung yaitu : Puri Agung Gianyar dan Puri Agung
Karangasem yang merupakan dua buah Puri dari keseluruhan delapan buah Puri induk di
Bali yang secara administratif terletak pada masing-masing kabupaten di propinsi Bali.

Sedangkan dua objek Puri yang lain yaitu Puri Ubud dan Puri Kendran secara administratif
saat kini berada di kabupaten Gianyar, namun secara kesejarahan belum tentu
berhubungan secara langsung dengan Puri Agung Gianyar. Secara geografis Puri Ubud
terletak pada pengembangan kawasan kepariwisataan dan Puri Kendran terletak di
kecamatan Tegallalang yang merupakan pengembangan kawasan pertanian. Dengan
adanya beberapa perbedaan ini diduga juga berpengaruh pada perbedaan-perbedaan
fungsi dan perwujudannya secara arsitektural baik sejak awal keberadaannya, saat
sekarang ini maupun eksistensi dan upaya pengembangannya untuk masa yang akan
datang.

36
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

a. Puri Agung Gianyar

copyright Gambar 6. Puri Agung Gianyar


(Sumber : Observasi lapangan)

Puri Agung Gianyar terletak di pusat kota Gianyar yang juga adalah pusat kerajaan pada
zaman dulu. Berdasarkan tata letaknya, Puri Agung Gianyar berada pada area Kaja-
Kangin (Timur Laut) pada persimpangan jalan (Pempatan Agung), disekitarnya saat kini
terdapat beberapa fungsi diantaranya lapangan arah Tenggara, Bencingah pada arah
Barat laut, dan Kantor Pemerintahan pada arah Barat Daya. Kompleks Puri dibagi-bagi
menjadi beberapa bagian pekarangan yang jumlahnya sangat banyak, sehingga
perwujudan berdasarkan konsep Nawa Sanga tidak begitu jelas. Pada masing-masing
pekarangan terdapat beberapa unit bangunan yang ditata sebagian besar dengan orientasi
ke arah Natah.

b. Puri Ubud

Puri Ubud terletak di pusat kota kecamatan Ubud yang juga adalah pusat kerajaan yang
merupakan bagian dari kerajaan Gianyar pada zaman dulu. Berdasarkan tata letaknya,
Puri Ubud berada pada area Kaja-Kangin (Timur Laut) pada persimpangan jalan
(Pempatan Agung), disekitarnya saat kini terdapat beberapa fungsi diantaranya pasar,

37
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

wantilan, fungsi pelayanan pariwisata : homestay, restaurant, art shop, money changer,
bank dan kompleks pertokoan. Kompleks Puri dibagi-bagi menjadi beberapa bagian
pekarangan yang jumlahnya 12 buah, sehingga perwujudan mirip / menyerupai konsep
Nawa Sanga. Pada masing-masing pekarangan terdapat beberapa unit bangunan yang
ditata sebagian besar dengan orientasi ke arah Natah.

copyright
Gambar 7. Puri Ubud
(Sumber : Observasi lapangan)

c. Puri Kendran

Puri Kendran terletak di desa Kendran, kecamatan Tegallalang, kabupaten Gianyar. Pada
lokasi ini sebagian besar areanya berupa sawah dengan irigasi yang baik dan
penduduknya adalah petani. Berdasarkan tata letaknya, Puri Kendran berada pada area
Kaja-Kangin (Timur Laut) pada persimpangan jalan (Pempatan Agung), disekitarnya saat
kini terdapat beberapa fungsi diantaranya lapangan arah Tenggara, Bencingah pada arah
Barat laut, dan Bale Banjar pada arah Barat Daya. Kompleks Puri dibagi-bagi menjadi
beberapa bagian pekarangan yang jumlahnya 10 buah, sehingga perwujudan mendekati
konsep Nawa Sanga. Pada masing-masing pekarangan terdapat beberapa unit bangunan
yang ditata sebagian besar dengan orientasi ke arah Natah.

38
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

copyright Gambar 8. Puri Kendran


(Sumber : Observasi lapangan)

d. Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem terletak di kota Amlapura yang merupakan ibukota kabupaten
Karangasem, juga adalah pusat kerajaan pada zaman dulu. Berdasarkan tata letaknya,
Puri Agung Karangasem tidak berada pada area Kaja-Kangin (Timur Laut) dan tidak
diletakkan pada persimpangan jalan (Pempatan Agung), disekitarnya saat kini terdapat
beberapa fungsi diantaranya lapangan, Puri Gede Karangasem dan lingkungan
permukiman rumah-rumah penduduk. Kompleks Puri dibagi-bagi menjadi beberapa bagian
pekarangan yang jumlahnya sangat banyak, sehingga perwujudan berdasarkan konsep
Nawa Sanga tidak begitu jelas. Pada masing-masing pekarangan terdapat beberapa unit
bangunan yang ditata sebagian besar dengan orientasi ke arah Natah. Pada Puri Agung
Karangasem ditemukan adanya beberapa pengaruh dari luar diantaranya adalah pengaruh
Cina sangat Nampak pada motif-motif ukiran kayu dan beberapa unit bangunan dengan
cina style; dan pengaruh Eropa melalui penggunaan besi cor sebagai tiang penyangga

39
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

bangunan dan beberapa bangunan diantaranya bentuk Kori Agung dan Bale Maskerdam
yang merupakan Bale Kambang.

copyright
Gambar 9. Puri Agung Karangasem
(Sumber : Observasi lapangan)

40
Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri
(Rachmat Budihardjo)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kajian Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya Pada Bangunan Puri
didapatkan beberapa hasil kesimpulan. Pada masyarakat Bali dapat ditemukan adanya
hubungan yang saling berintegrasi dan berinteraksi antara sosial-budaya-agama yang
diejawantahkan pada kehidupan sehari-hari baik dalam konteks relasi manusia dengan
Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam sekitarnya.

Puri adalah merupakan type bangunan tempat tinggal bagi kasta Ksatriya disamping
bangunan hunian yang lain seperti Gria, Jero dan Umah. Fungsinya selain untuk tempat
tinggal raja beserta keluarganya juga sebagai pusat pemerintahan dan pusat aktivitas
masyarakat di sekitarnya. Perwujudan arsitektur Bali pada dasarnya diupayakan secara

copyright
konsisten melalui beberapa konsep diantaranya : Rwa-Bhineda, Tri Hita Karana, Tri
Angga, dan Nawa Sanga yang keseluruhannya diatur dalam Hasta kosala-kosali.

Tidak selamanya dengan mudah ditemukan aplikasi konsepsi arsitektur Bali pada
beberapa contoh kasus bangunan Puri yang dipilih. Studi yang terfokus pada terjadinya
perbedaan-perbedaan dalam penerapan konsep arsitektur Bali pada bangunan Puri
diharapkan dapat mengungkapkan latar belakang dasar pemikiran bagi kelangsungan Puri
baik pada saat kini maupun yang akan datang.

DAFTAR REFERENSI

Abu, Rivai. (1980). Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Bali. Denpasar :
Depdikbud.
Behrend, Timothy Earl. (1982). Keraton and Cosmos in Traditional Java. Thesis,
University of Wisconsin.
Budihardjo, Eko. (1986). Architectural Conservation in Bali. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.
Budihardjo, Sf.Rachmat. (1997). Konservasi Puri-Puri Di Bali. Laporan Hasil Penelitian,
Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Budihardjo, Sf.Rachmat. (1994). Perubahan Fungsi dan Tata Ruang Puri Di Bali (Suatu
Kajian Sejarah Sosial). Thesis Program Pasca Sarjana, Program Studi
Perancangan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Covarubias, Miguel. (1973). Island of Bali. London : KPI Limited.
Dumarcay, Jaques. (1991). The Palaces of Saouth East Asia Architecture and
Costoms. Singapore : Oxford University Press.

41
NALARs Volume 12 No 1 Januari 2013 : 17-42

Dwijendra, Nagakan Ketut Acwin. (2008). Arsitektur Rumah Tradisional Bali. Udayana
University Press dan CV.Bali Media Adhikarsa, Denpasar (Bali).
Dwijendra, Nagakan Ketut Acwin. (2008). Arsitektur Bangunan Suci Hindu Berdasarkan
Asta Kosala-Kosali. Udayana University Press dan CV.Bali Media Adhikarsa,
Denpasar (Bali).
Eisenmen, Fred B. (1981). Bali Sekala and Niskala. Singapore : Periplus Edition.
Geertz, Clifford. (1977). Form and Variation in Balinese Village Structure. American
Anthropologist Vol.61 No.6.
Geertz, Hildred. (1991). State and Society in Bali. Leiden : KITLV.
Gelebet, I Nyoman, et.al. (1986/87). Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar :
Depdikbud.
Gesick, Lorraine. (1989). Pusat, Simbol dan Hirarkhi Kekuasaan. Jakarta : Yayasan
Obor.

copyright
Hobart, Mark. (1976). The Legitimacy of Nature in Balinense Conception of Space.
London : University of London.
Kagami, Haruya. (1988). Balinese Traditional Architecture in Process. Japan : Nippon
Printing.
Laksono, P.M. (1985). Tradisi Dalam Struktur Masyarakat Jawa Kerajaan dan
Pedesaan. Yogyakarta : Gama Press.
Mangunwijaya, YB. (1988). Wasthu Citra. Jakarta : Gramedia.
Ngoerah, I Gusti Ngoerah Gde et.al. (1981). Arsitektur Tradisional Bali. Makassar :
Lembaga Penerbitan Universitas Hasanudin.
Parimin, Ardi Pardiman. (1986). Fundamental Study on Spatial Formation of Island
Village. Japan : Thesis Tokyo University.
Patra, I Made Susila. (1985). Hubungan Seni Bangunan Dengan Hiasan Dalam Rumah
Adat Bali. Jakarta : Balai Pustaka.
Rapoport, Amos. (1969). House Form and Culture. New York : Engelwood Cliffs.
Saliya, Yuswadi. (1975). Spatial Concept in Balinese Traditional Architecture Its
Possible For Further Development . Thesis, Hawaii University.
Sastrowardoyo, Robi Sularto. (1987). Traditional Architecture of Bali. Bali : Makalah Aga
Khan Award.
Tjahyono, Gunawan, et-al. (1998). Indonesian Heritage Architecture. Singapore :
Archipelago Press.
Wiryomartono, A.Bagoes P. (1995). Seni Bangunan dan Seni Bina Kota Di Indonesia.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

42