Anda di halaman 1dari 30

BAB 8

PERENCANAAN PAJAK UNTUK PPH PASAL 22,23,24,25

Perencanaan Pajak untuk Pajak Penghasilan 22

1. Mengoptimalkan kredit pajak yang diperkenankan. Dalam hal ini Wajib Pajak harus jeli untuk
memperoleh informasi. Untuk memperoleh informasi mengenai pembayaran pajak yang
dapat dikreditkan.
2. Mengajukan permohonan pembebasan PPh Pasal 22 Impor apabila perusahaan melakukan
impor. Pengajuan permohonan pembebasan PPh Pasal 22 harus melampirkan :
a. Proyeksi impor setiap bulan selama tahun yang bersangkutan
b. Proyeksi perhitungan laba/rugi tahun yang bersangkutan
c. Proyeksi perhitungan PPh Badan yang terutang dan angsuran PPh Pasal 25, serta PPh
Pasal 22 yang menunjukkan lebih bayar apabila dilakukan pembayaran PPh Pasal 22.
d. Proyeksi neraca pada akhir tahun yang bersangkutan.

Pajak Penghasilan Pasal 22


Pajak Penghasilan Pasal 22 diatur dalam KMK-254/KMK.03/2001 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan PMK NO. 08/PMK.03/2008, pajak ini menyangkut PPh Pasal 22 impor, PPh
Pasal 22 Bendaharawan dan BUMN/BUMD atas pembayaran untuk pembelian dan penyerahan
barang yang dibebankan ke APBN/APBD, PPh Pasal 22 atas kegiatan usaha lain (hasil
penjualan : produksi Pertamina,produksi rokok, semen,otomotif ,baja,kertas, dan lain-lain, PPh
Pasal 22 atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah (PMK No. 253/PMK.3/2008).
Dalam hal impor, tarif PPh Pasal 22 ini bervariasi, tergantung apakah perusahaan punya angka
pengenal impor (API). Atau tidak, dan kalau tidak dikuasai artinya barang tidak bertuan. Kalau
ada API tarifnya 2,5 % dari nilai impor, kalau non API 7,5%, dan untuk barang tidak dikuasai
juga dikenai 7,5% dari harga jual lelang. Persentase tersebut dihitung dari harga barang atau
nilai CIF ditambah BM (Cost Insurance & Freight ditambah Bea Masuk ditambah Bea Masuk
Tambahan, jika ada).
Perencanan Pajak PPh Pasal 22/23/26 dan PPh Final.
Dalam praktek , kewajiban memotong, menyetor, dan melaporakan PPh sesuai dengan
mekanisme withholding tax pada umumnya memiliki kuantitas yang cukup besar. Apalagi sejak
adanya perluasan objek withholding tax sejak tahun 2000.

Tax Planning PPh Pasal 22/23/26 dan PPh Final


Dalam praktik, kewajiban memotong, menyetor dan melaporkan PPh sesuai mekanisme
withholding tax pada umumnya memiliki kuantitas yang cukup besar.Apalagi sejak adanya
perluasan objek withholding tax sejak tahun 2000.

Beberapa hal krusial dalam penanganan PPh Pasal 22/23/26 dan PPh Final :

1. Masalah Pembuatan Kontrak


2. Konflik dalam withholding tax
3. Rekonsiliasi Objek Withholding Tax dengan Laporan Keuangan
4. Klausul Kontrak dengan WPLN

Tax Planning Pajak Penghasilan Pasal 25 Orang Pribadi

Sesuai Per-Menkeu No.225/PMK.03/2008, besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25


untuk wajib pajak orang pribadi pengusaha tertentu (wajib pajak orang pribadi pengusaha
tertentu adalah wajib pajak orang pribadi yang mempunyai tempat usaha tersebar di beberapa
tempat-Ref.Per-Dirjen Pajak No.35/PJ/2009), ditetapkan sebesar 0,75% (dari jumlah peredaran
bruto setiap bulan dari masing-masing tempat usaha tersebut.

Pengajuan SKB PPh Pasal 22

Sesuai dengan keputusan Dirjen Pajak No. 192/PJ/2002, wajib pajak dapat mengajukan
permohonan pembebasan dari pemotongan dan atau pemungutan PPh Pasal 22 oleh pihak lain
kepada Direktur Jenderal Pajak karena :

a. Wajib Pajak yang dalam tahun pajak berjalan dapat menunjukkan tidak akan terutang Pajak
Penghasilan karena mengalami kerugian fiskal.

b. Wajib pajak berhak melakukan kompensasi kerugian fiskal sepanjang kerugian tersebut
jumlahnya lebih besar dari perkiraan penghasilan neto tahun pajak yang bersangkutan.

c. Pajak Penghasilan yang telah dibayar lebih besar dari Pajak Penghasilan yang akan
terutang.

Secara garis besar PPh Pasal 22 Impor (API)

1. PPh Pasal 22 Impor

a. Yang menggunakan Angka Pengenal Impor (API)

- Atas impor kedelai,gandum, dan tepung terigu oleh importer, dikenai tariff sebesar
0,5 % dari nilai impor.

- Selain impor gandum dan tepung terigu oleh importer yang memiliki API tetap dienai
2,5 % dari nilai impor.

b. Yang tidak menggunakan API sebesar 7,5 % dari nilai impor.

c. Yang tidak dikuasai sebesar 7,5% dari harga jual lelang.


2. PPh Pasal 22 Bendaharawan dan BUMN/BUMD

Atas pembayaran untuk pembelian atau penyerahan barang yang dibebankan ke APBN/D,
besarnya PPh Pasal 22 yang harus dipungut adalah sebesar 1,5% dari harga beli yang
dipungut pada saat pembayaran.Pemungutan dilakukan oleh Ditjen Anggaran, Kantor
Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN), atau BUMN/D yang dananya berasal dari
APBN/D.

3. PPh Pasal 22 atas Kegiatan Usaha Lain

4. PPh Pasal 22 atas Penjualan Barang yang Tergolong Sangat Mewah.

Pajak Penghasilan Pasal 23

Tidak jarang terjadi dispute dalam bisnis tentang kewajiban memungut PPh Pasal 23, dima
perusahaan pemilik proyek atau penerima jasa mengharuskan adanya pemungutan atau
pemotongan PPh Pasal 23 dari pihak ketiga, sedangkan pihak pemberi jasa (kontraktor) tidak
bersedia dipotong pajaknya karena tidak ada pasal pemotongannya dalam kontrak perjanjian.
Apabila perusahaan pemilik proyek tidak memotong PPh Pasal 23, dan transaksi ini ditemukan
oleh fiskus pada saat dilakukan pemeriksaan pajak, maka perusahaan pemilik proyek akan
dikenai kewajiban untuk membayar PPh Pasal 23 (withholding tax) yang terutang ditambah
denda keterlambatan penyetoran sebesar 2% sebulan dari pokok pajak.

Pengajuan Surat Keterangan Bebas PPh Pasal 22 dan PPh Pasal 23

Untuk beberapa jenis withholding tax seperti PPh Pasal 22, PPh Pasal 23 dapat diajukan
Permohonan Surat keterangan Bebas (SKB) oleh wajib pajak yang memenuhi criteria dibawah
ini.Permohonan pembebasan dari pemotongan dan atau Pemungutan Pajak Penghasilan tidak
berlaku terhadap pemotongan dan atau pemungutan Pajak Penghasilan yang bersifat final.

Beberapa criteria yang harus dipenuhi oleh wajib pajak adalah :

1. Wajib Pajak yang dalam tahun pajak berjalan dapat membuktikan tidak akan terutang Pajak
Penghasilan karena:
a. Wajib pajak yang mengalami kerugian fiskal berhak melakukan kompensasi kerugian
fiskal.
b. Pajak Penghasilan yang telah dan akan dibayar lebih besar dari pajak penghasilan yang
akan terutang, dapat mengajukan permohonan pembebasan dari pemotongan dan atau
pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain kepada Direktur Jenderal Pajak.
2. Wajib Pajak yang atas penghasilannya hanya dikenakan pajak bersifat final.

3. Surat Keterangan Bebas diberikan kepada :

a. Wajib pajak yang dalam tahun pajak berjalan dapat membuktikan tidak akan tentang
Pajak Penghasilan karena mengalami kerugian fiskal dalam hal :

1) Wajib pajak baru berdiri dan masih dalam tahap investasi


2) Wajib pajak belum sampai pada tahap produksi komersial
3) Wajib pajak mengalami peristiwa yang berada di luar kemampuannya (force majeur).
b. Wajib pajak yang dalam tahun pajak berjalan dapat membuktikan tidak akan terutang
Pajak Penghasilan karena berhak melakukan kompensasi kerugian fiskal dengan
memperhitungkan besarnya kerugian tahun-tahun pajak sebelumnya yang masih dapat
dikompensasikan yang tercantum dalam SPT Pajak Penghasilan atau surat ketetapan
pajak.

c. Wajib pajak yang dapat membuktikan Pajak Penghasilan yang telah dan akan dibayar
lebih besar dari Pajak Penghasilan yang akan terutang.

d. Wajib pajak yang atas penghasilannya hanya dikenakan pajak bersifat final.

Mengangsur atau Menunda Pembayaran Pajak

Wajib pajak diberi hak mengajukan permohonan mengangsur atau menunda pembayaran pajak
untuk semua jenis ketetapan pajak, baik berupa SKP maupun SPT Pasal 19 ayat (1) KUP NO.
28 tahun 2007 mengatur pengenaan sanksi administrasi berupa bunga, dalam hal apa wajib
pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak. Alternatif mana yang lebih
menguntungkan wajib pajak, langsung melunasi, mangangsur, atau menunda pembayaran
pajak.itu tegantung pada wajib pajak.

Rekonsiliasi /Ekualisasi SPT PPh Badan dengan SPT PPh Pasal 23

Rekonsiliasi SPT PPh Badan dengan SPT PPh Pasal 23 berkaitan dengan prosedur
pengecekan yang dilakukan oleh KPP terhadap jumlah biaya sewa,bunga,dividen,royalty, dan
jasa lainnya yang harus dipotong PPh Pasal 23 pada SPT PPh Badan dengan jumlah Dasar
Pengenaan Pajak SPT PPh Pasal 23, apakah jumlahnya telah sama. Jika terdapat material
yang bukan objek PPh Pasal 23, perlu dilakukan pemisahan antara nilai jasa dan materialnya.

BAB 9
PERENCANAAN PAJAK TERHADAP PPN

Tax Planning PPN


PPn adalah pajak tidak langsung yang dikenakan atas konsumsi barang/jasa kena pajak
di dalam daerah pabean.Setiap pembelian dan penjualan barang/jasa dari Pengusaha
Kena Pajak dikenai PPN.

Objek PPN, sebagaimana dijelaskan dalam UU PPN No.8 Tahun 1983 yang telah
diubah terakhir kalinya dengan UU PPN No.42 tahun 2009 (Pasal 4 ayat 1, Pasal16C
dan Pasal 16D) adalah sebagai berikut :

a. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
pengusaha (Pasal 4 ayat 1).
b. Impor Barang Kena Pajak (Pasal 4 ayat 1)
c. Peyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
Pengusaha (Pasal 4 ayat 1)
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean (Pasal 4 ayat 1)
e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean
(Pasal 4 ayat 1)
f. Ekspor Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak (Pasal 4
ayat 1)
g. Kegiatan membangun sendiri di luar kegiatan usaha atau pekerjaannya yang
digunakan untuk tempat tinggal atau tempat usaha (Pasal 16C)
h. Penyerahan aktiva yang menuntut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan,
sepanjang PPN pada saat perolehannya dapat dikreditkan (Pasal 16 D).
Perencanaan PPN

Pembahasan tentang perencanaan PPN ini difokuskan pada bebrapa upaya berikut ini :

a. Memaksimalkan mekanisme pengkreditan PPN


b. Memaksimalkan fasilitas di bidang PPN
c. Sentralisasi pengenaan PPN
d. Memaksimalkan restitusi PPN
e. Membangun sendiri dalam kegiatan usaha
f. PPN atas barang gratis untuk keperluan promosi
g. Penjagaan cash flow
h. Pengendalian PPn
i. Tanggung jawab renteng

a. Memaksimalkan Mekanisme Pengkreditan PPN


Perusahaan sebaiknya memperoleh Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dari
Pengusaha Kena Pajak, supaya pajak masukannya dapat dikreditkan.Perusahaan
perlu mengamati dengan cermat jangan sampai terdapat pajak masukan yang
belum dikreditkan.

b. Memaksimalkan Fasilitas di Bidang PPN

Sejak diberlakukannya UU Nomor 36 Tahun 2008, fasilitas di bidang PPN yang


dikenal dalam ketentuan PPN adalah PPN Tidak Dipungut, PPN Dibebaskan, dan
PPN ditanggung pemerintah. Bagi PKP yang mendapatkan fasilitas PPN Tidak
Dipungut, PPN Masukan yang berhubungan dengan perolehan BKP/JKP tetap
dapat dikreditkan, sedangkan bagi PKP yang mendapatkan fasilitas PPN
dibebaskan, PPN Masukan yang berhubungan dengan perolehan BKP/JKP tidak
dapat dikreditkan.

c. Sentralisasi Tempat PPN

Sebelum mengambil keputusan untuk memilih pemusatan tempat terutang,


sebaiknya perusahaan melakukan penelitian dan mempertimbangkan mana cara
yang lebih menguntungkan , apakah dalam pelaporan pajaknya perusahaan
memakai system sentralisasi atau desentralisasi.

d. Memaksimalkan Restitusi PPN

Sebagai Subjek PPN, salah satu hak bagi PKP adalah mengkreditkan Pajak
Masukan sesuai dengan ketentuan. Dalam mekanisme indirect substraction
method, PKP hanya membayarakan PPN ke kas negara sebesar selisih antara
Pajak Keluaran (PK) dikurangi dengan Pajak Masukan (PM).Penghitungan tersebut
dilakukan setiap bulan.

e. Membangun Sendiri Tidak Dalam Kegiatan Usaha

Membangun sendiri untuk tempat tinggal atau tempat usaha oleh orang pribadi atau
badan dikenai PPN, dengan kondisi :

1. Luas bangunan 200 m persegi atau lebih.

2. Bangunan permanen.

3. Tarif 10 % x 40 % x biaya bangunan (tanpa harga tanah)

4. Disetor tiap bulan, pada tanggal 15 bulan berikutnya sejak pembangunan


dimulai.

f. PPN Atas Barang Gratis untuk Kepentingan Promosi

Kejadian ini sering terjadi dalam praktik, baik pada saat perusahaan baru memulai
kegiatan bisnisnya maupun pada saat perusahaan sudah berjalan dan sebagai
bagian dari impelementasi marketing strategy perusahaan mereka melakukan
kegiatan promosinya untuk meningkatkna omzet penjualan.

g. Penjagaan Terhadap Cash Flow Perusahaan

Salah satu tujuan dilakukannya perencanaan pajak oleh manajemen perusahaan


adalah untuk menjaga kesehatan cash flow. Berikut ini cara-cara yang aman dalam
perencanaan pajak yang perlu diagendakan oleh manajemen perusahaan untuk
diaplikasikan dalam kerangka peningkatan efisiensi pajak dan keuangan
perusahaan:

a. Menyegerakan pengajuan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP) pada


perusahaan yang baru berdiri.

b. Memilih mendirikan perusahaan di lokasi yang mendapat fasilitas perpajakan


PPN.

c. Mengusahakan membeli bahan baku pada saat akan menjalankan proses


produksi (just in time).

d. Mengajukan permohonan sentralisasi PP bagi perusahaan yang mempunyai


kantor cabang.

e. Penanganan faktur pajak dengan baik

h. Pengendalian Pajak Melalui Tax review

Setelah Perencaaan Pajak selesai disusun dan diimplementasikan, masih ada satu
tahap lagi yang harus dilakukan, yaitu pengendalian pajak.Pengendalian pajak
perlu dilakukan untuk mengetahui apakah semua perencanaan pajak telah
dilakasanakan sesuai dengan rencana.Pengendalian pajak dapat dilakukan melalui
penelaahan pajak (tax review).

Tax review merupakan pelayananan yang bertujuan untuk menelaah dan meneliti
tingkat kepatuhan wajib pajak secara umum dan memberikan rekomendasi untuk
meminimalkan pajak yang belum diketahui perusahaan.Tax review meliputi seluruh
kewajiban perpajakan wajib pajak termasuk PPN dan PPnBM.

i. Tanggung Jawab Renteng

Pada awalnya ketentuan tanggung jawab renteng ini diatur dalam Pasal 33 UU
KUP No.16 Tahun 2000, kemudian ketentuan ini dihapus dalam UU KUP No.28
tahun 2007, kemudian dihidupkan lagi melalui penambahan pasal 16F kedalam UU
PPN No.42 Tahun 2009, yakni :
Pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak bertanggung
jawab secara renteng atas pembayaran pajak, sepanjang tidak dapat
menunjukkan bukti bahwa pajak telah dibayar.

BAB 11
PERENC AN AAN PAJ AK TERH AD AP PEMERIKSAAN

Pengertian Pemeriksaan
Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, mengolah data
dan/atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan
untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perudang-undangan
perpajakan.

Pengertian Pemeriksa Pajak

Pemeriksa Pajak adalah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak atau
tenaga ahli yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab
untuk untuk melaksanakan pemeriksaan pajak.

Pengertian Pembukuan

Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta,kewajiban,modal,penghasilan
dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan
menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap Tahun Pajak
berakhir.

Pembahasan Akhir Hasil Pemriksaan (Closing Conference)

Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan (Closing Conference) adalah pembahasan yang


dilakukan antara Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak atas temuan selama pemeriksaan, dan hasil
bahasan temuan tersebut baik yang disetujui maupun yang tidak disetujui , dituangkan dalam
Berita Acara Hasil Pemeriksaan yang ditandatangani oleh Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak.

Kertas Kerja Pemeriksaan

Adalah catatan secara rinci dan jelas yang diselenggarakan oleh Pemeriksa Pajak mengenai
prosedur pemeriksaan yang ditempuh , pengujian yang dilakukan, bukti dan keterangan yang
dikumpulkan, dan kesimpulan yang diambil sehubungan dengan pelaksanaan pemeriksaan.

Laporan Pemeriksaan Pajak

Laporan Pemeriksaan Pajak adalah laporan tentang hasil pemeriksaan yang disusun oleh
Pemeriksa Pajak secara ringkas dan jelas serta sesuai dengan ruang lingkup dan tujuan
pemerikasaan.

Bukti Permulaan

Bukti permulaan adalah keadaan dan/atau bukti-bukti, baik berupa keterangan,


tulisan,perbuatan, atau benda-benda yang dapat memberikan petunjuk bahwa suatu tindak
pidana sedang atau telah terjadi yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang dapat menimbulkan
kerugian negara.
Pemeriksaan Bukti Permulaan

Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan pajak untuk mendapatkan bukti permulaan
tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang pemeriksaan.

Tujuan Pemeriksaan

Tujuan Pemeriksaan adalah sebagai berikut :

1. Menguji kepatuhan pemenuhankewajiban perpajakan Wajib Pajak dan untuk tujuan lain
dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2. Tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan


perpajakan.

Pemeriksaan meliputi pemeriksaan yang dilakukan dalam rangka :

a. Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan.

b. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak.

c. Pengukuhan atau pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.

d. Wajib Pajak mengajukan keberatan.

e. Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma penghitungan Penghasilan Neto.

f. Pencocokan data dan atau alat keterangan.

g. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil.

h. Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai.

i. Pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan untuk tujuan lain


huruf a samapai dengan huruf h.

Ruang Lingkup Pemeriksaan

1. Pemeriksaan Sederhana, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak dalam
rangka kerja sama operasi atau konsorsium, untuk seluruh jenis pajak atau jenis-jenis pajak
tertentu,termasuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), baik untuk Masa
Pajak atau tahun berjalan dan/atau Masa Pajak/tahun-tahun sebelumnya, yang dlaksanakan
dengan menerapkan teknik-teknik pemeriksaan dengan bobot kedalaman yang sederhana.

2. Pemeriksaan Lengkap (PL), yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak dalam
rangka kerja sama operasi atau konsorsium, di lapangan dan di kantor Unit Pelaksana
Pemeriksaan Pajak Lengkap,untuk seluruh jenis pajak, termasuk Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan (BPHTB) ,baik untuk tahun berjalan dan/atau tahun-tahun sebelumnya,
yaitu yang dilaksanakan dengan menerapkan teknik-teknik pemeriksaan pada umumnya.

Jenis dan Prioritas Pemeriksaan

Jenis pemeriksaan antara lain :

1. Pemeriksaan Rutin, yaitu pemeriksaan yang bersifat rutin dilakukan terhadap Wajib Pajak
sehubungan dengan pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak yang
bersangkutan.

2. Pemeriksaan Khusus,yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak berkenaan


dengan adanya masalah dan/atau keterangan yang secara khusus berkaitan dengan Wajib
Pajak yang bersangkutan.

3. Pemeriksaan Bukti Permulaan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap wajib pajak untuk
mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang
perpajakan.

4. Pemeriksaan Wajib Pajak lokasi, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap


cabang,perwakilan, pabrik,atau tempat usaha dari Wajib Pajak Domisili, yang lokasinya
berada di luar wilayah kerja Unit Pelaksana Pemeriksaan Wajib Pajak Domisili.

5. Pemeriksaan Tahun berjalan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak yang
dilakukan dalam tahun berjalan untuk jenis-jenis pajak tertentu dan untuk mengumpulkan
data atau keterangan atas kewajiban pajak lainnya.

Prioritas Pemeriksaan

1. Pemeriksaan rutin terhadap SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan yang
menyatakan lebih bayar dan/atau SPT Tahunan PPh Pasal 21 yang menyatakan lebih bayar
dan /atau SPT Masa PPN yang menyatakan permintaan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak.

2. Pemeriksaan Bukti Permulaan.

3. Pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi

4. Pemeriksaan Khusus.

5. Pemeriksaan Rutin selain Pemeriksaan Rutin sebagaimana dimaksud pada angka 1.

6. Pemeriksaan Tahun Berjalan.

Tata Cara Pemeriksaan

Pemeriksaan dilakukan dengan berpedoman pada Norma Pemeriksaan yang berkaitan dengan
Pemeriksaan Pajak, Pemeriksaan, dan Wajib Pajak. Pemeriksaan dilaksanakan oleh Pemeriksa
Pajak yang tergabung dalam Tim Pemeriksa Pajak yang susunannya tediri atas seorang
Supervisor,seorang ketua Tim, dan seorang atau lebih anggota. Dalam pelaksanaan PSK,
seorang Pemeriksa Pajak dapat bertindak sebagai Ketua Tim sekaligus merangkap sebagai
satu-satunya anggota.

Pemeriksaan dilaksanakan pada jam hari kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan jika
dipandang perlu, dapat dilanjutkan di luar jam/hari kerja. Apabila pada saat dilakukan
pemeriksaan Wajib Pajak atau wakil atau kuasa Wajib Pajak tidak ada di tempat, maka
pemeriksaan tetap dapat dilangsungkan sepanjang ada pihak lain yang dapat dan mempunyai
kewenangan untuk berlaku selaku yang mewakili Wajib Pajak,terbatas untuk hal yang menjadi
kewenangannya, dan selanjutnya pemeriksaan ditunda untuk dilanjutkan pada kesempatan
berikutnya.Sebagai upaya pengamanan, maka sebelum pemeriksaan ditunda Pemeriksa Pajak
dapat dapat melakukan penyegelan tempat atau ruangan tertentu yang diduga merupakan
tempat menyimpan dokumen,uang, atau barang yang dapat member petunjuk tentang keadaan
usaha Wajib Pajak.

Kebijakan Pemeriksaan Yang Akan Datang

Kebijakan pemeriksaan yang akan datang tetap diutamakan pada upaya peningkatan kepatuhan
Wajib Pajak dan diarahkan lebih mendorong akuntabilitas serta tingkat pengawasan

Sistem Kriteria Seleksi

Keterbatasan dana dan sumber daya manusia pada Dirjen Pajak mengakibatkan tidak Seluruh
Surat Pemberitahuan(SPT) dapat diperiksa dalam kurun waktu tertentu. Hal tersebut
melatarbelakangi kebijakan pemeriksaan pajak dalam menciptakan suatu system yang dapat
melakukan seleksi terhadap SPT tertentu yang akan diperiksa sehingga dapat mencapai
sasaran pemeriksaan yang telah ditentukan. Sistem pemilihan SPT untu diperiksa yang
selamaini berlaku dianggap tidak memadai lagi karena kurang memperhatikan aspek objektivitas
dalam pemilihannya sehingga belum dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat Wajib Pajak.
Oleh karenaitu mulai tahun pajak 1998, manajemen pemeriksaan pajak meliputi ruang lingkup
antara lain pemeriksaan berdasarkan criteria tertentu atas dasar penilaianterhadap SPT untuk
diperiksa tersebut berdasarkan dikenal dengan Sistem Kriteria SEleksi SPT untuk Diperiksa
yang untuk selanjutnya akan disebut sebagai Sistem Kriteria Seleksi.

Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

Ada beberapa hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan wajib pajak dalam pemriksaan.
Adapun Hak-hak wajib pajak meliputi :

1. Meminta Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksaan Pajak.

2. Memnita tindasan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak.

3. Menolak untuk diperiksa apabila Pemeriksa tidak dapat menunjukkan Tanda Pengenal
Pemeriksa dan Surat Perintah Pemeriksaan.

4. Meminta penjelasan tentang maksud dan tujuan pemeriksaan.


5. Meminta tanda bukti peminjaman buku-buku, catatan-catatan, serta dokumen-dokumen yang
dipinjam oleh Pemeriksa Pajak.

6. Meminta perincian berkenaan dengan hal-hal yang berbeda antara hasil pemeriksaan
dengan Surat Pemberitahuan(SPT) mengenai koreksi-koreksi yang dilakukan oleh
Pemeriksa Pajak terhadap SPT yang telah disampaikan.

7. Mengajukan pengaduan apabila kerahasiaan usaha Wajib Pajak dibocorkan kepada pihak
lain yang tidak berhak.

8. Memperoleh lembar asli Berita Acara Penyegelan apabila Pemeriksa Pajak melakukan
penyegelan atas tempat atau ruangan tertentu.

Kewajiban Wajib Pajak apabila dilakukan pemeriksaan :

Kewajiban-kewajiban Wajib Pajak apabila dilakukan pemeriksaan adalah sebagai berikut :

1. Memperlihatkan dan meminjamkan buku-buku,catatan-catatan, dan dokumen-dokumen


lainnya yang berkaitan dengan usaha Wajib Pajak yang diperlukan oleh Wajib Pajak.

2. Memberi kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat atau ruangan yang
dipandang perlu oleh pemeriksa dan member bantuan guna kelancaran pemeriksaan.

3. Member keterangan lisan dan/atau tertulis yang diminta pemeriksa.

Penyidikan Pajak

Peyidikan tindak pidana di bidang perpajakan hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai
Negeri sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus
sebagia penyidik tindak pidana di bidang perpajakan.

Penghentian Penyidikan

Penyidikan dihentikan dalam hal berikut ini :

1. Tidak terdapat cukup bukti

2. Peristiwanya bukan merupakan tindak pidana di bidang perpajakan.

3. Peristiwanya telah daluwarsa.

4. Tersangkanya meninggal dunia.

5. Untuk kepentingan penerimaan negara ,atas permintaan Menteri Keuangan, Jaksa Agung
dapat menghentikan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan paling lama dalam
jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat Permintaan, Penghentian penyidikan tindak
pidana di bidang perpajakn hanya dilakukan setelah Wajib Pajak melunasi utang pajak yang
tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya dikembalikan dan ditambah dengan
sanksi administrasi berupa denda sebesar 4(empat )kali jumlah pajak yang tidak atau kurang
dibayar, atau yang tidak seharusnya dikembalikan.

BAB 12
PERENCANAAN PAJAK UNTUK PPH BADAN

Tax Planning Dalam Rangka Mengeffisiensikan PPh Badan


Strategi yang telah diuraikan dalam rangka mengeffisiensikan PPh Badan dengan menerapkan
tax planning yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi perusahaan. Masing-masing
perusahaan mempunyai karakter masalah yang berbeda-beda sesuai nature of business
perusahaan tersebut, sehingga dalam melakukan perencanaan pajak tidak boleh
menggeneralisasi permasalahan, tapi fleksibel mengikuti alurnya dengan focus kepada
pencapaian tujuan yang diinginkan.

1. Memilih Penghitungan Penghasilan dan Biaya (stelsel akrul vs stelsel kas)

Wajib pajak badan dan wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan.Pembukuan
diselenggarakan dengan taat asas dan dengan stelsel akrual(accrual basis) atau stelsel
kas(cash basis).

2. Pemilihan metode penyusutan aktiva tetap dan amortisasi atas aktiva tidak berwujud

Metode penyusutan aktiva tetap diatur dalam PSAK No. 16 . Berbeda dengan akuntansi
komersial yang memperbolehkan perusahaan menggunakan metode garis lurus (straight line
method), metode saldo menurun,method jumlah unit, method penyusutan aset dipilih
berdasarkan ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomis masa depan dari aset, maka untuk
tujuan perpajakan, perusahaan hanya boleh memilih metode garis lurus atau metode saldo
menurun.

3. Memilih metode penilaian persediaan

Sesuai Pasal 10 ayat (6) Undang-undang Nomor 7 tahun 1983 yang diubah terakhir kali
dengan Undang-undang No.36 Tahun 2008 mengenai Pajak Penghasilan, di mana metode
penilaian persediaan yang diperbolehkan berdasarkan ketentuan sebagai berikut :

- Penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan harga perolehan


- Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok hanya boleh dilakukan
dengan cara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang didapat
pertama (FIFO).

Analisis ke dua metode terlihat sebagai berikut :


Rekapitulasi (FIFO)
Unit Jumlah (Rp)
Saldo Awal 500 400.000,00
Pembelian 1.900 3.250.000,00
Jumlah barang yang tersedia untuk dijual 2.400 3.650.000,00
Penjualan 2.000 2.850.000,00
Saldo akhir 400 800.000,00
Rekapitulasi ( rata-rata) Unit Jumlah (Rp)
Saldo Awal 500 400.000,00
Pembelian 1.900 3.250.000,00
Jumlah barang yang tersedia untuk dijual 2.400 3.650.000,00
Penjualan 2.000 2.929.184,00
Saldo akhir 400 720.816,00

Berdasarkan analisis pada table di atas dapat ditarik kesimpulan :

1. Penggunaan metode FIFO akan menghasilkan harga pokok penjualan yang lebih kecil
dibandingkan dengan metode rata-rata. Karena laba kena pajak (profit after tax) nya
adalah lebih besar, maka beban PPh badan akan menjadi lebih besar.

2. Penggunaan metode rata-rata akan menghasilkan hargapokok penjualan atau


pemakaian yang lebih besar dibandingkan dengan method FIFO, sehingga karena laba
kena pajak (profit after tax) nya adalah lebih kecil, maka beban PPh badan akan menjadi
lebih kecil.

3. Dalam situasi di mana terdapat kecenderungan harga barang semakin naik(tingkat inflasi
tinggi), maka metode rata-rata adalah lebih tepat digunakan.

Pakaian seragam untuk karyawan


Cara lainnya untuk mengoptimalkan kesejahteraan karyawan adalah melalui pemberian
dalam bentuk natura dan kenikmatan,seperti pakaian seragam untuk karyawan tertentu,
yang bisa dibiayakan.
Perjalanan Dinas Karyawan
Biaya dalam rangka menjalankan tugas perusahaan, misalnya biaya tiket pesawat, hotel,
transportasi, dan sebagainya merupakan biaya perusahaan dan bukan penghasilan
karyawan, sepanjang jumlahnya tidak mengandung unsur-unsur untuk keperluan pribadi
(Surat Dirjen Pajak No.S-1215/PJ-23/1984 yang ditegaskan dalam Surat Edaran Dirjen
Pajak No. 42/PJ.23/1984).

Bila perusahaan menginginkan agar travelling allowance tersebut dapat


dibiayakan(deductible) dalam laporan keuangan fiskal perusahaan, maka travelling
allowance tersebut harus dimasukkan dalam SPT PPh Pasal 21(form 1721-A1 atas nama
karyawan yang bersangkutan sebagai unsur tambahan penghasilan yang dekenakan PPh
Pasal 21.
Misalkan PT.XXX membayar biaya perjalanan dinas Tuan Badu dalam tahun 2011 sebesar
Rp 14 juta, yang terdiri dari :
Tiket pesawat 40.000.000
Hotel 50.000.000
Transportasi (Taxi) 20.000.000
Travelling allowance 30.000.000
Total 140.000.000

Untuk biaya tiket pesawat,hotel,dan transportasi(taksi) bisa dibiayakan berdasarkan kwitansi


resmi yang diterima, namun untuk travelling allowance masih harus iertanyakan bagaimana
tax planning yang terbaik bagi perusahaan.

Bonus dan Jasa produksi


Ada beberapa trik yang harus diperhatikan dalam pemberian bonus dan gratifikasi, tantieme
dan jasa produksi kepada komisaris, direksi, atau pegawai sebagai berikut :
1. Dalam pemberian bonus dan gratifikasi , tantiem dan jasa produksi tersebut, bisa
diperlakukan sebagai biaya perusahaan (deductible), bilaman dibebankan dalam biaya
tahun berjalan.
2. Tantieme merupakan bagian keuntungan yang diberikan kepada direksi dan komisaris
dari pemegang saham yang didasarkan pada prosentase tertentu dari laba perusahaan
setelah kena pajak, tidak dapat dibebankan sebagai biaya dalam menghitung
Penghasilan Kena Pajak dan bagi penerimanya merupakan penghasilan dan dikenakan
PPh Pasal 21.
3. Untuk keperluan perencanaan pajak, harus dihindari pembayaran gaji, bonus.gratifikasi
jasa produksi yang melebihi kewajaran kepada pemegang saham yang juga menjadi
komisaris,direksi,atau pegawai karena pembayaran tersebut merupakan dividend an
tidak boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan, sehingga dipotong PPh Pasal 25/26.

Pemberian natura di daerah tertentu dan atau terpencil


Pemberian natura atau kenikmatan di daerah tertentu/terpencil, diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan No. 83/PMK.03/2009 dan Peraturan Dirjen Pajak No. 51?PJ./2009.
1. Pengertian daerah terentu atau terpencil
2. Pemberian natura atau kenikmatan yang boleh dibebankan sebagai
3. Pengeluaran perusahaan dalam bentuk natura di atas bukan merupakan penghasilan
karyawan.

4. Penetapan daerah tertentu diberikan untuk jangka waktu 5 tahun, yang berlaku sejak
tahun pajak diterbitkannya keputusan dan dapat diperpanjang 1 kali. Jangka waktu
perpanjangan adalah 5 tahun.

5. Permohonan keputusan tentang penerapan dearah tertentu/terpencil diajukan kepada


Kantor Wilayah DJP yang membawahi KPP tempat Wajib Pajak yang bersangkutan
terdaftar
BAB 13
MULTINATONAL CORPORATION DAN HUBUNGAN ISTIMEWA
SERTA TRANSFER PRICING

Perusahaan Multinational (Multi National Company-MNC atau Multinational Enterprise-


MNE)

Pengertian Perusahaan Multi National menurut menurut DR. Gunadi ,M.SC,Ak. menyebutkan
bahwa : Perusahaan Multinasional adalah perusahaan yang beroperasi di berbagai negara
dengan membuka cabang , mengorganisasikan anak perusahaan atau melakukan kontrak
keagenan, dan sebagainya .

Sedangkan definisi / Pengertian dari beberapa ahli menyimpulkan bahwa perusahaan


multinasioanl adalah perusahaan yang beroperasi melewati lintas batas antar negara, yang
terikat hubungan istimewa, baik karena penyertaan modal saham, pengendalian manajemen
atau penggunaan teknologi, dapat berupa anak perusahaan ,cabang perusahaan,agen, dan
sebagainya, dengan berbagai tujuan, antara lain untuk memaksimalkan laba setelah pajak
( meminimalkan pajak).

Perencanaan Pajak Perusahaan Multinasional

Sistem pengendalian manajemen perusahaan multinasional pada saat ini merupakan prioritas
untuk dilaksanakan, agar tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu dapat di capai melalui
suatu perencanaan strategi (strategic planning) yang didesain sedemikian rupa agar terdapat
suatu system pengendalian berupa komunikasi informasi yang akan meningkatkan
keharmonisan sasaran yang ingin di capai.

Hubungan Istimewa

Hubungan istimewa terjadi antar induk perusahaan dengan anak perusahaan atau dengan
cabang-cabangnya atau perwakilannya yang berada di dalam negeri maupun yang berada di
luar negeri, di Indonesia diatur dalam Pasal 18 ayat (3), (3a), dan (4) Undang-Undang Pajak
Penghasilan yaitu UU Nomor 36 Tahun 2008

Transfer Pricing (Harga Transfer)

Harga transfer sering juga disebut intracompany pricing intercorporate pricing, interdivisional
pricing, atau internal pricing. Pengertian harga transfer dapat dibedakan menjadi 2, yaitu
pengartian yang bersifat netral dan pengertian yang bersifat peyoratif.

Pengertian netral mengasumsikan bahwa harga transfer adalah murni merupakan strategi dan
taktik bisnis tanpa motif pengurangan beban pajak. Sedangkan pengertian peyoratif
mengasumsikan harga transfer sebagai upaya untuk menghemat beban pajak dengan taktik,
antara lain menggeser laba ke negara yang tarif pajaknya rendah.

Pengertian Harga Transfer secara netral

1. Harga transfer adalah penentuan harga atau imbalan sehubungan dengan penyerahan
barang,jasa,atau pengalihan teknologi antar perusahaan yang mempunyai hubungan
istimewa.(DR.Gunadi)

2. Harga transfer adalah penentuan harga balas jasa suatu transaksi antar unit dalam suatu
perusahaan atau antar perusahaan dalam suatu grup (Sophar .L)

3. A transfer price is a price used to measure the value of goods or services furnished by a
profit center to other responsibility centers within a company (Robert N.Anthony,Glenn
A.Welsch, dan James S.Reece).

4. Harga transfer adalah penentuan dari harga pertukaran pada saat unit-unit bisnis yang
berbeda di dalam suatu perusahaan bertukar produk atau jasa. Produk-produk tersebut
mungkin merupakan produk akhir yang dapat dijual pada pelanggan luar atau produk
menengah yang merupakan komponen produk akhir (Edward Blocher, Kung H.Chen, dan
Thomas W.Lin).

Pengertian Harga Transfer Peyoratif

1. Transfer prices are the amount charged by one segment of an organization for a product
that it supplies to another segment of the same organization in multinational companies,
transfer prices are used to minimize worldwide income taxes and import duties ( Charles
T.Horngren dan Gary L.Sundem).
2. Harga transfer adalah suatu rekayasa manipulasi harga secara sistematis dengan maksud
mengurangi laba artifisial,membuat seolah-olah perusahaan rugi,menghindari pajak atau
bea di suatu negara ( DR.Gunadi,MSc.,Ak)

3. Harga transfer adalah suatu perbuatan pemberian harga faktur (invoice) pada barang-
barang (juga jasa-jasa) yang diserahkan antar bagian/cabang suatu perusahaan multional
( Prof.DR. Rochmat Soemitro, SH).

Penetuan Harga Transfer

Menurut Matz dan Usry (Gunadi, 1994), terdapat empat dasar untuk penentuan harga transfer,
yaitu penentuan harga transfer berdasarkan biaya, penentuan harga transfer berdasarkan
harga transfer, penentuan harga transfer berdasarkan negoisasi, dan penentuan harga transfer
berdasarkan arbitrase.

1. Penentuan harga transfer berdasarkan biaya (cost basis transfer pricing)

2 Penentuan harga transfer berdasarkan harga pasar (market based transfer pricing)

3. Penentuan harga tansfer berdasarkan negosiasi (the negotiated price)

4. Penentuan harga transfer berdasarkan arbitrase ( arbitration transfer pricing)

Harga Transfer Ganda

Untuk memenuhi disparitas pertanggungjawaban dari dua divisi, dikenal juga harga transfer
ganda. Misalnya, divisi penerima dapat mempertimbangkan penerapan harga transfer
berdasarkan biaya diferensial. Sebaliknya, divisi yang melakukan transfer dapat
mempertimbangkan unsur laba dalam penentuan harga transfer dan memungkinkan
pengukuran kinerja divisi.

Isu-isu Pajak Internasional Dalam Harga Transfer

Penelitian akhir-akhir ini telah menemukan bahwa lebih dari 80% perusahaan-perusahaan
multinasional (MNC) melihat harga transfer sebagai suatu isu pajak internasional utama, dan
lebih dari setengah perusahaan ini mengatakan bahwa isu ini adalah isu yang paling penting.
Sebagian besar negara sekarang menerima perjanjian modal Organization for Economic
Cooperation and Development (OECD), yang menyatakan bahwa harga-harga transfer
sebaiknya disesuaikan dengan menggunakan standar armss-length, artinya pada suatu harga
yang akan dicapai oleh pihak-pihak yang independen. Sementara perjanjian model tersebut
diterima secara luas, namun terdapat perbedaan-perbedaan dalam cara negara
menerapkannya.

Comparable uncontrolled pricing method

Metode ini mengevaluasi kewajaran harga transfer dengan mengacu kepada tingkat harga yang
terjadi antara unit yang independen atau antara perusahaan multinasional dengan unit yang
independen. Secara teoritis metode ini termasuk yang paling baik, namun dalam
pelaksanaannya terdapat beberapa kendala, misalnya perbedaan kuantitas, kualitas, kondisi,
waktu penjualan, merek dagang, pangsa pasar, dan geografis pasar.

Resale Pricing Method

Metode ini diterapkan untuk produk yang ditransfer ke anggota grup lainnya untuk dijual
kembali. Kewajaran harga transfer didekati dengan pengurangan harga penjualan kepada pihak
independen dengan suatu mark up yang wajar (sebanyak laba dan biaya si penjual). Kesulitan
terjadi dalam menentukan mark up.

Cost Plus Pricing Method

Metode ini mendekati kewajaran harga transfer dengan menambahkan mark up yang wajar
pada harga pokok pihak yang mentransfer. Pendekatan ini umumnya dipakai dalam hal
penyerahan barang setengah jadi (semifinished product) atau salah satu anggota grup sebagai
subkontraktor dari yang lainnya.

Other Method

Dalam keadaan tertentu, kombinasi ketiga metode diatas perlu diterapkan, atau mungkin
metode lain, misalnya alokasi laba yang diperoleh grup perusahaan dalam transaksi tertentu,
kalkulasi tingkat keuntungan yang pantas pada investasi Wajib Pajak (Frederick D.S Choi dan
Gerhard G. Mueller, 1985).

Global Method

Suatu pendekatan yang merupakan penyimpangan dari harga pasar wajar adalah metode
global atau unitary taxation. Metode ini merupakan alokasi langsung atas laba dari beberapa
entitas hukum yang merupakan anggota dari satu kesatuan ekonomi (secara terperinci, untuk
unitary taxation-lihat Samonson, ed). Aplikasi metode ini adalah dengan menjumlahkan semua
laba dari tiap anggota grup kemudian mengalokasikannya berdasar beberapa faktor, misalnya
penjualan, upah tenaga, dan modal kerja.

Safe Havens

Pendekatan ini dilakukan dengan menyusup suatu batas toleransi interval harga. Harga transfer
yang berada dalam batas tersebut tanpa evaluasi lebih lanjut langsung dianggap sebagai harga
wajar.

Perusahaan Multinasional dan Aspek Pajaknya.

Perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia dalam arti perusahaan-perusahaan


multinasional Indonesia yang mempunyai unit (anak perusahaan/cabang/perwakilan) di luar
negeri maupun perusahaan-perusahaan multinasional di luar negeri yang mempunyai unit
(anak perusahaan/cabang/perwakilan) di Indonesia pada umumnya akan senantiasa berusaha
dengan instrument harga transfer, mencapai salah tujuannya memaksimalkan keuntungan
dengan berupaya meminimalkan beban pajaknya,terutama pajak pajak penghasilan
badan(corporation income tax).
Transfer Pricing Domestik dan Multinasional

Pada umumnya bedasarkan jangkauan territorial operasi perusahaan, transfer pricing dapat
dikelompokkan dalam transfer pricing domestic dan transfer pricing multinasional.

Transfer pricing domestic adalah harga transfer barang atau jasa antar badan dalam satu grup
perusahaan atau antar divisi dalam suatu perusahaan dalam suatu wilayah kedaulatan negara,
sedangkan transfer pricing multinasional berkenaan dengan transaksi antar divisi dalam suatu
unit hukum atau antar unit hukum dalam satu kesatuan ekonomi yang meliputi berbagai wilayah
kedaulatan negara.

Tujuan Harga Transfer

Dengan globalisasi bisnis, aspek internasional dari harga transfer menjadi suatu perhatian yang
lebih kritis, terutama dengan adanya isu-isu pajak. Tujuan internasioanl yang lain mencakup
meminimalkan beban-beban pajak, pengendalian devisa, dan berkenaan dengan risiko
pengambil alihan oleh pemerintah asing. Fenomena perusahaan multinasional dalam
ekspansinya cenderung mengoperasikan usahanya secara desentralisasi dan melaksanakan
konsep revenue profit atau corporate profit center concept, yang dapat mengukur dan menilai
kinerja dan motivasi setiap divisi/unit yang bersangkutan dalam rangka mencapai tujuan
perusahaan antara lain digunakan sistem harga transfer.

BAB 14

PRAKTEKPRAKTEK TRANSFER PRICING YANG DILAKUKAN


OLEH PERUSAHAAN MULTINASIONAL (MNC) PADA
TRAKSAKSI INTERNASIONAL

Perlakuan Transfer Pricing di Indonesia

Perkembangan dunia usaha semakin cepat, yang sering kali bersifat internasional dan
diperkenalkannya produk dan metode usaha baru yang semula belum dikenal dalam bidang
usaha (misalnya dalam bidang keuangan dan perbankan), maka bentuk dan variasi harga
transfer menjadi tidak terbatas. Namun demikian, dengan pengaturan lebih lanjut tentang
transaksi antar-Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa, diharapkan dapat
meminimalkan atau mengurangi praktik penghindaran pajak atau penyelundupan pajak dengan
menggunakan rekayasa harga transfer.

Tipe dan Metode Harga Transfer


Harga transfer pada perusahaan yang melakukan desentralisasi, umumnya diukur dengan
menggunakan nilai produknya (baik berbentuk barang maupun jasa) pada saat penyerahan
barang atau jasa dari pusat laba (profit centre) ke pusat-pusat pertanggungjawaban
(responsibility centre) lainnya dalam lingkungan perusahaan. Di lain pihak, harga transfer
tersebut dapat dibandingkan dengan harga pasar (market price) apabila terjadi transaksi antara
perusahaan dengan pihak ketiga lainnya yang tidak ada hubungan istimewa.

Harga Transfer dalam Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan

Dalam dunia bisnis yang diwarnai oleh tarif pajak penghasilan yang berbeda-beda antara satu
negara dengan negara lainnya, bagi perusahaan multinasional yang operasionalnya meliputi
beberapa negara sering kali menggunakan pajak penghasilan sebagai salah satu unsur yang
dapat mengoptimalkan laba yang diperolehnya, dengan cara memaksimalkan penghasilannya
di negara yang bertarif pajak rendah dan meminimalkan penghasilannya di negara yang bertarif
pajak tinggi.

Harga transfer dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)

Masalah harga transfer dalam P3B bertitik tolak dari Pasal 9 Model UN yang mengatur tentang
perusahan-perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa, yaitu antara induk perusahaan
yang berdomisili di salah satu negara dengan anak/cabang perusahaan yang berdomisili di
negara lain

Perlakuan Transfer Pricing di Indonesia

Perkembangan dunia usaha semakin cepat, yang seringkali bersifat internasional dan
diperkenalkannya produk dan metode usaha baru yang semula belum dikenal dalam bidang
usaha, maka bentuk dan variasi harga transer menjadi tidak terbatas.Namun demikian, dengan
pengaturan lebih lanjut tentang transaksi antar WP yang mempunyai hubungan istimewa,
diharapkan dapat meminimalkan atau mengurangi praktik penghindaran pajak atau
penyelundupan pajak dengan menggunakan rekayasa harga transfer. Yang terjadi baik antar
WPDN maupun WPLN dengan pihak luar negeri, terutama yang berkedudukan di nagara
dengan beban pajak rendah.WP yang mempunyai hubungan istimewa,UU Perpajakan di
Indonesia mengsnut asas material ( subtansce over form rule).

Dampak Hubungan Istimewa

Hubungan istimewa dapat mengakibatkan kekurangwajaran harga, biaya atau imbalan lain
yang direalisasikan dalam suatu transaksi usaha. Harga transfer tersebut dapat mengakibatkan
terjadinya penggalian penghasilan atau dasar pengenaan pajak dan/atau biaya, dari satu WP
ke WP lainnya, yang dapat direkayasa untuk menekan keseluruhan jumlah pajak terutang atas
WP yang mempunyai hubungan istimewa baik nasional maupun internasional.

Hubungan Istimewa dalam Kasus PPN


Dalam kasus PPN, mekanisme kredit pajak akan secara otomatis menetralisis harga transfer.
Namun pertimbangan waktu pembayaran. Hal ini dapat ditempuh melalui harga transfer dengan
menggeser pajak keluaran ke perusahaan hilir(menunda terutangnya PPN), akibat positif
definitif juga akan diperoleh dalam kasus PPn BM dengan memperkecil harga transfer atas
DPP yang kena PPNBM.

Transfer Pricing Domestik dan Multinasional

Transfer pricing domestik adalah harga transfer barang atau jasa antar badan dalam satu grup
perusahaan atau antar divisi dalam suatu perusahaan dalam suatu wilayah kedaulatan negara,
sedangkan transfer pricing multinasioanl berkenaan dengan transaksi antar divisi dalam suatu
unit hukum atau antau unit hukum dalam satu kesatuan ekonomi yang meliputi berbagai
wilayah.

Kekurangwajaran pembayaran komisi,lisensi,franchise,sewa,royalty, imbalan atas jasa


manajemen, imbalan atas jasa teknik dan imbalan jasa lainnya.

1. Kasus pembayaran lisensi, franchise dan royalty.

PT.A adalah sebuah perusahaan komputer yang memberikan lisensi kepada PT.X(tida ada
hub.istimewa) sebagai distributor tunggal di negara X untuk memasarkan program komputernya
denganmembayar royalty 20% dari penjualan bersih. Selain itu, PT A, juga memasarkan
program komputernya melalui PT B. di negara B ( ada hub. Istimewa) sebagai distributor
tunggal dan membayar royalti 15% dari penjualan bersih.

Perlakuan perpajakan adalah program computer yang dipasarkan PT B dan PT X adalah sama,
maka atas dasar matching transaction method untuk tujuan perpajakan, royalty di PT B juga
harus 20%. Kalau kondisi yang sama tidak diperoleh, maka perlu diadakan penyesuaian.
Pendekatan demikian disebut comparable adjustable method ( metode sebanding yang
disesuaikan). Ilustrasi tersebut dapat juga digunakan untuk menguji kewajaran franchise atau
imbalan lain yang serupa dengan itu.

2. Kasus imbalan atau jasa manajemen, imbalan atas jasa teknik dan imbalan jasa sejenis
lainnya.

Iluustrasi.

PT.A. memiliki 25% saham PT.B. PT A memberikan bantuan teknik kepada PT B dengan
imbalan sebesar RP 500,00 Imbalan jasa sama dengan keadan yang sama atau serupa adalah
Rp 250,00.

Perlakuan perpajakannya yaitu, imbalan jasa yang wajar adalah Rp 250,00

Transfer Pricing dalam UU Pajak


Seperti telah diuraikan pada modul 12 tentang hubungan istimewa , dalam undang-undang
Pajak Penghasilan yaitu UU NO. 36 tahun 2008 pasal 18 disebutkan bahwa ;

1. Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan keputusan mengenai besarnya perbandingan


antara utang dan modal perusahaan untuk keperluan penghitungan pajak berdasarkan undang-
undang ini.

2. Menteri Keuangan berwenang menetapkan saat iperolehnya dividen oleh Wajib Pajak dalam
negeri atas penyertaan modal pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang
menjual sahamnya di bursa efek, dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Besarnya penyertaan modal Wajib Pajak dalam negeri tersebut paling rendah 50%(lima
puluh persen) dari jumlah saham yang disetor; atau
b. Secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya memiliki penyertaan
modal paling rendah 50% ( lima puluh persen ) dari jumlah saham yang disetor :
3. Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan
pengurangan serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung besarnya Penghasilan
Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak lainnya
sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa
dengan menggunakan metode perbandingan harga antara pihak yang independen, metode
harga penjualan kembali, metode biaya plus, atau metode lainnya.

Harga transfer dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)

Masalah harga transfer dalam P3B bertitik tolak dari Pasal 9 Model UN yang mengatur tentang
perusahan-perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa, yaitu antara induk perusahaan
yang berdomisili di salah satu negara dengan anak/cabang perusahaan yang berdomisili di
negara lain.

Advanced Pricing Agreement (APA)

Advanced pricing agreement(APA) adalah persetujuan di antara Internal Revenue Service (IRS)
dan perusahaan dengan menggunakan harga-harga transfer, untuk menetapkan harga transfer
yang disepakati. APA biasanya diperoleh sebelum perusahaan terikat dalam transfer. Maksud
dari program APA adalah memecahkan masalah perselisihan harga transfer dengan cara tepat
dan menghindari proses pengadilan yang mengakibatkan banyak biaya.

Negara-negara yang tegabung dalam OECD seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia,
Selandia Baru, dan Jepang telah mulai menerapkan prosedur APA untuk menyelesaikan
masalah harga transfer karena APA dinilai lebih efektif dalam pelaksanannya. Dua pertiga dari
MNC dalam suatu survey akhir-akhir ini menunjukkan bahwa mereka mengharapkan untuk
menggunakan APA dalam menentukan harga transfer mereka.
Manfaat APA

Wajib Pajak harus mempertimbangkan manfaat penyelenggaraan APA berdasarkan situasi dan
kondisi dari permasalahan Wajib Pajak. Beberapa manfaat dari diselenggarakannya APA adalah
sebagai berikut :

1. Memberikan kepastian kepada Wajib Pajak atas semua penghitungan mengenai harga
transaksi dengan menggunakan metode yang disetujui.

2. Memberikan kepastian terhadap kegiatan Wajib Pajak termasuk kepastian mengenai


kewajiban pajak yang berkaitan dengan harga transfer.

3. Mengurangi biaya dan waktu pada saat diaudit, karena selama periode APA berlaku harga
transaksi yang telah disepakati oleh Wajib Pajak dan otoritas pajak.

4. Dapat mencegah praktik harga transfer yang tidak benar dan semata-mata hanya untuk
menghindari pajak.

Masalah dalam penyelenggaraan APA

Hal yang harus dipertimbangkan dalam penyelenggaraan APA yaitu kemungkinan adanya
potensi kerugian, seperti berikut ini :

1. Pengorbanan waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan APA

2. Wajib Pajak harus mengungkapkan informasi yang mungkin merupakan rahasia perusahaan
kepada otoritas pajak.

BAB 15
PERENCANAAN PAJAK TERHADAP PEMERIKSAAN

Praktek-praktek Tax Evasion berdasarkan transaksi Internasional

Menurut Rolf Eiecke, upaya untuk meminimalkan beban pajak dilakukan melalui skema baik
secara legal (Tax Avoidance ) maupun secara illegal (Tax Evasion).

Secara illegal (Tax Evasion) meliputi elemen dengan tidak memasukkan SPT atau memasukkan
SPT dengan tidak benar, tidak melakukan pembayaran pajak yang terutang,tidak menyetorkan
pajak yang dipungut, melanggar peraturan perpajakan, melakukan pencucian uang atas pajak
yang digelapkan.

Pada umumnya ,dalam melakukan penghematan pajak secara internasional tersebut, subjek
pajak dapat menjalankan dalam bentuk :

1. Substantive tax planning

2. Formal tax planning


Treaty Shopping

P3B atau tax treaty merupakan kesepakatan untuk membagi hak pemajakan, atau mengurangi
hak pemajakan antara dua negara. Melalui P3B, penduduk negara mitra P3B memiliki
kemungkinan untuk mendapatkan pengurangan tarif atau bahkan tidak dilakukan pemajakan di
negara mitra P3B lainnya. Melalui treaty shopping keuntungan berupa pengurangan tarif pajak
dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berhak.

Controlled Foreign Corporations

Salah satu modus operandi dalam melakukan penundaan pengenaan pajak adalah dengan
melakukan controlled foreign corporation. Hal ini dimungkinkan dengan adanya tax haven
country dan negara-negara yang mengenakan pajak lebih rendah dari pada negara asal.
Rendahnya tarif pajak di tax haven country, dimanfaatkan untuk menunda pengenaan pajak
yang dikombinasikan dengan level pemajakan, sehingga ada beberapa pajak yang akan
ditanggung.

Pengertian Thin Capitalization

Thin Capitalization adalah pembentukan struktur permodalan suatu perusahaan dengan


proporsi utang yang jauh lebih besar dari modal saham. Thin Capitalization terjadi karena
aturan umum perpajakan memperbolehkan mengurangi biaya bunga sebagai unsur
pengurang(deductible expense) dalam menghitung penghasilan kena pajak, sedangkan dividen
bukan merupakan unsur pengurang (non deductible expense).

Pengujian terhadap Thin Capitalization(test yg digunakan)

a. Apakah pinjaman tersebut sesuai dengan armss length principle? Thin Capitalization
biasanya melibatkan para pihak yang ada hubungan istimewa. Tanpa hubungan
istimewa,kreditur( pihak yang memberikan pinjaman) umumnya tidak mau memberikan
pinjaman,jika mengetahui debitur ( pihak yang menerima pinjaman) jumlah modalnya terlalu
kecil.
b. Berapa pinjaman tersebut melebihi rasio utang dengan modal (sebt to equity rasio/DER)
yang telah ditetapkan.
Pengaturan Thin Capitalization

UU PPh di Indonesia sudah mengatur mengenai Thin capitalization, yaitu pada pasal 18
ayat(1). Dalam pasal tersebut diatur, bahwa menteri Keuangan berwenang mengeluarkan
keputusan mengenai besarnya perbandingan antara utang dan modal perusahaan untuk
keperluan penghitungan pajak berdasarkan UU PPh. Untuk pelaksanaannya ,kemudian keluar
Ke Men Keu Nomor 1002/KMK.04/1984.

Kep Men Keu Nomor 1002/KMK.04/1984.


a.Untuk keperluan penghitungan PPh, besarnya perbandingan antara utang dan modal sendiri
(debt equity ratio/DER) ditetapkan setinggi-tingginya3:1.

b. Utang dalam rangka menghitung DER adalah saldo rata-rata pada tiap akhir bulan yang
dihitung dari semua utang, baik utang jangka panjang maupun utang jangka pendek,selain
utang dagang.

c. Modal sendiri dalam menghitung DER adalah jumlah modal yang disetor pada akhir tahun
pajak termasuk laba yang tidak dan/atau belum dibagikan.

d. Dalam hal besarnya perbandingan utang dan modal sendiri melebihi besarnya perbandingan
3:1, maka bungan yang dapat dikurangkan sebagai biaya adalah sebesar bunga atas utang
yang perbandingannya terhadap modal sendirisesuai perbandingan 3:1.

Tax Haven Country

Tax haven country adalah kebijakan pajak suatu negarayang dengan sengaja memberikan
fasilitas pajak berupa penetapan tarif pajak yang rendah atau bahkan tidak mengenakan pajak
sama sekali . Hal ini bertujuan agar penghasilan penduduk negara lain bisa dialihkan ke negara
tersebut.

Untuk memperoleh fasilitas dari negara tax haven tersebut, umumnya perusahaan multinasional
mendirikan cabang perusahaan ( subsidiary) di negara tax haven tersebut, dengan tujuan agar
agar dapat menggeser labanya (profit shifting) dari negara dengan tariff pajak yang tinggi (high
tax countries) ke negara tax haven tersebut, melalui cabangnya sebagai perantara
(intermideary).

Tetapi apabila produk dari negara A tersebut dijual melalui negara tax haven baru ke negara B,
maka labanya akan dapat dikonsentrasikan di negara tax tax haven yang tidak ada pajaknya
atau pajaknya yang rendah.Kecenderungan yang kedua ini lebih dikenal dengan melihat pajak
dari sudut pandang pajak global.

Contoh :

Semula negara A ( negara asal) dengan tariff pajak tinggi menjual langsung 1 juta unit
produknya ke negar B ( negara tujuan) dengan harga jual US $1200 per unit, sdangkan harga
pokok barang yang dijual serta biaya-biaya lainnya adalah US $ 1000 per unit. Marginal Tax
Rate (MTR) negara A adalah 45% sedangkan negara B 30%. Harga jual di negara B US $
1250. Kemudian negara A mengubah strateginya dengan menggunakan negara C( negara tax
haven) sebagai negara perantara dengan harga jual US $ 1.050 per unit. Selanjutnya, negara C
menjualnya ke negara B dengan harga jual yang sama dengan harga penjualan langsung yaitu
sebesar US $ 1.200 per unit

Perhitungan pergeseran laba serta besarnya pajak yang dapat dihemat akibat pergeseran laba
tersebut dapat terlihat berikut ini :

(Dalam jutaan US$)


Penjualan Langsung US$ US$
Negara A :
Harga Jual : 1.200
Harga Pokok biaya-biaya 1.000
Penghasilan neto 200
Pajak : 45% X US $ 50 90
Negara B :
Harga Jual : 1.250
Harga Pokok +biaya-biaya 1.200
Penghasilan neto 50
Pajak : 30% X US $ 50 15
Jumlah penjualan langsung 105
Penjualan Tidak langsung
Negara A :
Harga Jual : 1.100
Harga Pokok + biaya-biaya 1.000
Penghasilan neto 100
Pajak : 45% X US $ 100 45

(Dalam jutaan US$)

Penjualan langsung
Negara C
Harga Jual 1.200
Harga Pokok + biaya-biaya 1.100
Penghasilan neto 100
Pajak : 0 %X US$ 200 0
Negara B :
Harga Jual 1.250
Harga Pokok + biaya-biaya 1.200
Penghasilan neto 50
Pajak : 30 %X US$ 200 15
Jumlah Penjualan Tidak Langsung 60

Penghematan Pajak (Tax Saving) 45

Special Purpose Company


Tax haven country kadang digunakan sebagai media untuk tidak membayar pajak atas suatu
transaksi, melalui penggeseran pembayaran di negara tax haven, dengan pembuatan
perusahaan yang dibentuk untuk maksud tertentu (special purpose company).

Ilustrasi.

PT. ABC dimiliki oleh XYZ LTD Hongkong melalui anak perusahaannya SPV XYZ ltd yang
berada di Caymand Island. Apabila dipandang sudah tidak menguntung-kan lagi, PT ABC dapat
dijual ke persahaan lainnya. Namun yang dijual adalah saham XYZ Ltd Hongkong di SPV YZ
Caymon Island, bukan saham SPV XYZ Ltd di PT. ABC.